Penerjemah: Miru-chan
Proffreader: Miru-chan
Prologue
Pertemuan baik dalam fiksi maupun di dunia nyata selalu datang secara tiba-tiba pada saat yang sama sekali tidak terduga.
Misalnya, ketika selesai menaiki tangga panjang yang kutemukan setelah pindah rumah, tiba-tiba aku bertemu seorang wanita cantik. Atau suatu hari, ketika kudengar kedua orang tuaku menghilang setelah meninggalkan utang dalam jumlah besar, seorang gadis sekelas memaksaku untuk tinggal bersama sebagai syarat menanggung utang tersebut, dan sebagainya…
Hal-hal seperti itu membuat orang ingin melontarkan komentar, “Tidak mungkin terjadi di dunia nyata.” Namun justru karena itulah manusia menaruh harapan dan rasa kagum akan pertemuan atau kejadian semacam itu.
Sambil memikirkan hal-hal semacam itu, aku—Midou Tomoya—melangkah pulang ditemani cahaya matahari senja.
Musim menunjukkan akhir bulan Juni. Baru saja aku bergembira karena musim hujan yang lembap akhirnya berakhir, hari-hari dengan panas terik langsung datang menyusul dan membuatku muak.Meskipun matahari sudah terbenam, panas yang terkumpul sepanjang siang tak juga mereda, dan hanya dengan diam saja keringat sudah mengucur.
“Aku ingin cepat pulang dan beristirahat… mandi lalu tidur di kamar ber-AC. Seandainya saja bisa begitu…”
Saat aku mengeluh sendirian dan menghela napas panjang, langkahku tepat berhenti di depan rumah. Rumah dua lantai yang sebenarnya terlalu luas untuk kutinggali sendirian sebagai seorang siswa SMA, sebab keluargaku sedang pergi untuk urusan pekerjaan dalam jangka panjang. Ketika membuka gerbang dan mengambil kunci dari saku untuk dimasukkan ke lubang kunci—lebih cepat dari gerakanku—klik, pintu rumah terbuka, dan…
“Selamat datang, Senpai!”
Di hadapanku berdiri seorang gadis mengenakan seragam yang kukenal, ditambah apron—namanya Shirasu Yuika.
Situasi yang, pada dasarnya, pasti membuat siapa pun mengangkat kedua tangan kegirangan: seorang siswi baru yang sangat imut sampai jadi pembicaraan sejak awal masuk sekolah menungguku pulang di rumah. Namun saat benar-benar menghadapinya, anehnya aku justru merasa sedikit pusing ketimbang senang.
“...Aku pulang, Shirasu.”
“Ah! Senpai memanggilku Shirasu lagi!? Aku sudah meminta Senpai untuk memanggilku dengan nama, bukan? Kenapa Senpai tidak mau memanggilku begitu?”
Shirasu memanyunkan pipinya seperti ikan buntal. Hanya karena tidak memanggil namanya saja, kenapa harus terlihat semarah itu?
“Yang jelas, ini bukan rumahmu, Shirasu. Kalau kamu menyambutku seolah ini hal yang wajar, aku yang bingung.”
“Apa maksudnya yang jelas!? Ini hal yang sangat penting untukku, tahu!?”
Mengabaikan pertanyaanku, Shirasu maju mendekat. Seketika, wangi citrus yang manis dan segar menyeruak masuk lewat hidung dan membuat kepalaku berkunang-kunang.
Bulu mata panjang, mata hijau bak giok, bibir mungil berwarna merah muda. Semua itu berada begitu dekat—tinggal sedikit saja kumendekat, rasanya bisa bersentuhan. Segala sumber daya dalam diriku kuhabiskan hanya untuk menjaga akal sehat.
“Mu-mu…! Kenapa Senpai diam saja? Apa Senpai sebenci itu memanggilku dengan nama?”
“B-bukan… bukan begitu maksudku…”
Saat aku menjawab, Shirasu maju selangkah lagi.
Tolonglah. Apa dia tidak sadar kalau aku ini laki-laki sehat yang berada di puncak masa pubertas?
Seorang siswi SMA yang luar biasa cantik dan imut sampai layak diberi gelar junior super imut mendekat sampai nyaris menempel—itu ibarat membangunkan serigala yang sedang tidur.
“Kalau begitu panggil aku dengan nama! Kalau tidak, malam ini aku tidak akan menyiapkan makan malam untuk Senpai!”
“Oi, oi, Shirasu-san. Hanya karena aku tidak memanggilmu dengan nama, lalu makan malam ditahan… itu sudah termasuk kejam, tahu?”
“Tidak. Itu tidak kejam sama sekali. Karena yang memegang penuh hidup-matinya perut Senpai itu adalah aku!”
Sambil membusungkan dada, ia menyombongkan sesuatu yang cukup gila. Tetapi bagiku, isi ucapannya kalah penting dibandingkan sesuatu yang lebih mencolok—dua bukit di dadanya yang tampak bergoyang sedikit meski tertutup pakaian.
Pertumbuhan yang tak masuk akal untuk seorang siswi tahun pertama SMA, dengan pinggang ramping bak willow. Bahkan gravure idol pun bisa kalah. Tuhan sungguh tidak adil.
Yang paling memikat adalah rambut pirangnya—warisan dari ibunya—yang berkilau seperti permata yang dipoles dengan sangat teliti.
“Ngomong-ngomong, makan malam hari ini adalah yakiniku kesukaan Senpai! Aku membelikan daging yang sangat enak! Senpai tidak mau memakannya?”
Tanpa tahu pergolakan batinku, Shirasu terus menekanku.
Yakiniku? Hidangan yang mewah.
Tinggal sendirian membuatku jarang punya kesempatan dan uang untuk makan itu, jadi jujur saja aku terguncang.
Terlalu cepat berubah sikap? Hei, yang penting perut dulu.
“Haa… baiklah. Kalau aku memanggilmu dengan nama, kamu akan memberiku makan?”
“Tentu saja! Oh, tapi tidak hanya sekali, ya? Mulai sekarang, setiap hari, terus-menerus, panggil aku dengan nama—dengan penuh keakraban!”
“Ini restoran dengan terlalu banyak permintaan, apa? Minimal batasi saat di rumah saja. Kalau aku memanggilmu dengan nama di sekolah, apa kata orang nanti…”
“Aku tidak mempermasalahkannya. Lagipula, Senpai, memangnya ada yang akan bilang apa hanya karena Senpai memanggilku dengan nama?”
Melihatnya memiringkan kepala dengan polos, aku menghela napas panjang dalam hati.
Ia tumbuh sebagai gadis manis yang diperlakukan bak bunga,ditambah lagi ia dulu bersekolah di sekolah khusus putri berasrama penuh—benar-benar putri rumahan. Karena itu, ia tidak sadar sama sekali bagaimana dirinya dipandang oleh sekitar—khususnya para laki-laki.
Wajar, tapi kalau semua perhatian itu diarahkan padaku, masalahnya jadi lain.
“Haa… dasar tuan putri…”
“Eh… Senpai… kecewa padaku? Bagian mana dari percakapan ini yang membuat Senpai kecewa? Jelaskan!”
Saat aku sengaja mengangkat bahu, Shirasu langsung mendekat dengan protes. Apa dia tidak mengenal konsep ruang pribadi?
“Itulah yang membuatku kecewa. Tapi…”
“Tapi… apa?”
Saat kupotong ucapannya dan menatapnya, entah kenapa mata Shirasu tampak berair—seperti anak anjing yang memohon agar tidak ditinggalkan. Terlalu imut sampai naluri ingin melindungiku terpancing, dan aku hampir memeluknya erat. Kalau kulakukan, hidupku selesai. Jadi aku menahan diri dan layak mendapat pujian.
“Itu semua… adalah bagian dari menggemaskannya dirimu, Shirasu… maksudku, Yuika.”
Kalimat lanjutan yang nyaris keluar—kalau salah langkah, kamu bisa bikin orang beneran jatuh cinta—kutanam dalam-dalam dulu.
“M-menggemaskan… Senpai, jangan begitu saja mengatakan hal seperti itu pada perempuan, ya?”
“Hahaha. Aku tidak mau mendengar itu dari Shirasu.”
“Ah! Senpai memanggilku Shirasu lagi!? Aku serius, aku akan meniadakan makan malam! Benar, lho!?”
“Jangan ngambek hanya karena soal nama.”
Setelah menepuk kepala Shirasu pelan, aku melepas sepatu dan masuk ke dalam rumah. Meski ini rumahku sendiri yang sangat kukenal, entah kenapa rasanya seperti masuk ke dunia lain.
Melihat Shirasu tampak ingin mengambil tasku, aku sengaja berpura-pura tidak melihatnya dan langsung menuju kamarku.
Bagaimana semua ini bisa terjadi?
Sambil menjatuhkan badan terlentang ke atas tempat tidur, aku menatap tangan kananku—yang dua bulan lalu sempat harus dibalut perban—dan mengingat kembali kejadian pada hari yang menjadi awal dari semuanya.



Post a Comment