NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Gakuen ichi Kawai Kouhai no Inochi no onjin ni nattara, Kayoidzuma ni natte Kankei wo sematte kuru V1 Chapter 1

 Penerjemah: Miru-chan

Proffreader: Miru-chan


Chapter 1

 

Sambil memandangi bunga sakura yang berjatuhan terbawa angin, aku—Midou Tomoya—melangkah menyusuri jalan sekolah yang telah sangat kukenal selama setahun terakhir.


Padahal sekitar waktu yang sama tahun lalu, hatiku berdebar penuh harapan sekaligus menyimpan sedikit kegelisahan tentang apakah aku dapat menyesuaikan diri dengan kehidupan baru. Memang, rasa terbiasa itu menakutkan.


“Yo! Tahun ini juga, mohon kerja samanya ya, Tomoya!”


Saat aku menahan kantuk dan menguap kecil, tiba-tiba punggungku dipukul keras bak! dari belakang. Hampir saja aku jatuh tersungkur, tetapi aku berhasil menahan diri tepat waktu, lalu menatap si pelaku dengan tatapan tajam.


“Selamat pagi, Koushirou. Baru masuk semester baru, tapi kamu sudah menyapaku dengan kekerasan begitu? Kamu punya dendam padaku atau apa?”


“Ada dong. Banyak malah! Terutama soal urusan perempuan!”


Sambil berkata begitu, ia melingkarkan tangannya di bahuku. Namanya Tsumori Koushirou.


Teman sekelasku sejak kelas satu, sekaligus sahabat yang tak tergantikan. Bisa dibilang ia adalah sahabat dekatku, meski sejujurnya tipe yang punya masalah di kepalanya.


“Soal perempuan…? Aku ini lajang sama seperti kamu, tahu? Pria malang yang umur sama dengan lamanya hidup tanpa pacar.”


Sungguh menyedihkan harus merendahkan diri sendiri di hari pertama masuk sekolah kelas dua, saat masa-masa baru seharusnya dimulai dengan optimis.


“Hahaha! Tolong, simpan leluconmu. Atau lebih baik, simpan ocehan itu saat kamu tidur, ya? Kamu tahu? Kalau diucapkan saat sadar, itu namanya omong kosong!”


Dengan lengan masih melingkar di bahuku, Koushirou berbicara dengan nada dibuat-buat. Wajah sok tampannya yang berlebihan itu membuatku kesal. Sayang sekali—kalau dia diam saja, dia sebenarnya tampan.


“Kamu merasa sedang berkata cerdas, tapi tidak sama sekali, tahu? Dan bagian mana dari ucapanku tadi yang omong kosong? Tolong jelaskan dengan benar.”


“Aduh, masa sudah begini pun kamu masih pura-pura tidak tahu?”


“Aku tidak pura-pura. Memang tidak merasa ada sesuatu yang patut diketahui.”


Aku menjawab sambil menghela napas. Akan sedikit menyedihkan mengakuinya, tapi teman yang bisa kusebut benar-benar teman bisa dihitung dengan satu tangan.


Penyebab utamanya adalah tatapanku yang buruk sejak kecil. Meski wajahku tidak sampai terlihat seperti penjahat, ketika aku diam saja sering dianggap sedang melotot atau marah. Akibatnya, aku sering diganggu oleh para preman. 


Saat berlatih agar tidak kalah, tubuhku justru makin berotot dan mereka semakin menjauhiku. Lingkaran setan itu terus berlanjut hingga sekarang, bahkan setelah masuk SMA sekalipun. Koushirou adalah pengecualian langka. Dan tentu, ada alasan kenapa aku terperangkap dalam spiral buruk itu.


Saat aku masih SD, ibuku meninggal. Setelah itu, ayahku semakin tenggelam dalam pekerjaannya. Otomatis aku banyak menghabiskan waktu sendirian. Tidak ada tempat untuk mengadu, tidak ada yang bisa kutangisi, dan lambat laun aku pun berhenti bisa melakukannya. Dan inilah hasil akhirnya—aku yang sekarang.


“Haa… makanya orang sekeras batu seperti kamu memang merepotkan. Kasus tidak sadar karena terlalu dekat itu tolong batasi untuk sahabat masa kecil yang tumbuh bersama sejak lahir, oke?”


“Aku dari tadi tidak paham apa yang kamu maksud. Bisa tidak kamu bicara dengan bahasa Jepang yang mudah dimengerti?”


“Makanya aku bilang! Rekor memalukanmu itu bisa langsung berakhir kalau kamu—”


“—Kalian berdua semangat sekali sejak pagi, ya.”


Suara jernih dan tenang memotong ucapan Koushirou.


Saat kami menoleh, di sana berdiri seorang gadis berparas cantik dengan tubuh tinggi semampai, menatap kami dengan wajah lelah bercampur heran.


“Selamat pagi, Mimasaka. Kamu cantik seperti biasa.”


“Fufu. Mulutmu yang tidak pernah berhenti itu juga seperti biasa, ya.”


Kami saling melempar candaan kecil lalu tersenyum.


Namanya Mimasaka Iori.

Di antara lingkaran pertemananku yang sedikit, ia bahkan lebih langka —satu-satunya teman perempuan yang dekat denganku.


Ia memiliki kecantikan dan postur tubuh yang pasti langsung membuatnya menjadi model papan atas jika muncul di majalah fashion. Tubuh yang ditempa lewat basket hingga SMP masih terjaga dan ramping, membuat siapa pun yang melihatnya di jalan pasti akan terpaku. Walau begitu, lekuk tubuhnya tetap feminin di bagian yang perlu—benar-benar seperti karya seni berjalan. Popularitasnya luar biasa, baik di kalangan laki-laki maupun perempuan. 


Tidak hanya teman sekelas, bahkan para senior pun menyukainya. Namun entah mengapa, ia menolak semua pernyataan cinta yang datang. Mungkin standarnya terlalu tinggi, atau mungkin ia punya alasan tertentu sehingga tidak bisa berpacaran.


Aku mengenalnya satu tahun lalu—persis seperti Koushirou. Setelah upacara masuk sekolah, saat kami pindah ke kelas baru, kebetulan tempat duduk kami bersebelahan dan kami mengobrol.


Kupikir hubungan kami hanya akan sebatas itu, tetapi ternyata berlanjut sampai sekarang—di luar dugaan.


“Pokoknya, tahun ini juga tolong kerja sama yang baik ya, Tomoya.”


“Aku juga. Senang bekerja sama denganmu, Mimasaka.”


“Hei, hei, kalian berdua. Tolong jangan membuat dunia kalian sendiri. Ingat, aku juga ada di sini, ya?”


“…Oh, Tsumori juga ada rupanya. Aku tidak sadar.”


Saat Koushirou—yang tanpa sadar tersisih dari percakapan—masuk kembali, Mimasaka langsung memasang wajah murung dan memajukan bibirnya kesal.


“Tidak tidak!? Tadi kau bilang ‘kalian berdua’, kan!? Terus aku hilang ke mana, hah!?”


“Hahaha! Cuma bercanda, cuma bercanda. Jangan sampai marah begitu. Nanti kau nggak laku di mata perempuan, tahu?”


“Diam! Nggak usah ikut campur, sialan!”


Melihat Koushirou yang sampai hampir menghentakkan kaki karena kesal, Mimasaka tertawa keras. Pertengkaran seperti itu sudah sering kulihat sejak tahun lalu, tapi entah kenapa tetap saja lucu setiap kali kulihat. 


Kedua orang ini, jangan-jangan sebenarnya cocok banget?


“...Hei, Mimasaka. Coba lihat wajah Tomoya. Menurutmu dia sedang mikir apa?”


“Itu jelas wajah orang yang sedang memikirkan hal yang salah arah.”


Mereka berdua mengangkat bahu bersamaan sambil menghela napas. 


Entahlah, rasanya aku sedang diremehkan.


“Kuperingatkan, Tomoya. Aku tahu kok kalau kau sedang berpikir ‘Koushirou dan Mimasaka, kompak banget dan cocok sekali!’ kan?”


“...Bagaimana kau bisa tahu?”


Seolah dia bisa mendengar isi hatiku, tepat sekali dia menebak pikiranku. Saat aku masih terkejut, Mimasaka menambah serangan.


“Sudah sering kukatakan, Tomoya itu gampang kelihatan dari wajah kalau sedang memikirkan sesuatu. Kebiasaan itu sebaiknya cepat kau hilangkan.”

“Itu disebut kebiasaan karena memang nggak mudah dihilangkan.”


“Fufu. Benar juga.”


“Kalian memang kompak, kan.”


““Kami tidak kompak!!””


Rasanya ingin melemparkan komentar “Ini pasangan komedi, ya?”, tapi Mimasaka pasti akan marah besar, jadi kutahan kata-kataku. 


Tidak lama kemudian, kami akhirnya sampai di gerbang sekolah. Kami masuk ke gedung sekolah dan berganti sepatu di loker. Di sana terlihat beberapa siswa baru dengan seragam yang masih tampak baru. Mereka baru saja menjalani upacara masuk beberapa hari lalu, jadi masih tampak canggung. 


Terlintas dalam pikiranku bahwa setahun lalu aku juga seperti itu.


“Oh iya! Ngomongin hal lain, kau tahu nggak? Katanya tahun ini ada satu murid baru yang luar biasa.”


“Murid luar biasa? Cara bicaramu lebay begitu, jangan-jangan anak seorang artis terkenal masuk sekolah kita?”


“Memang itu luar biasa, tapi sayangnya bukan. Lagipula kalau memang begitu, pasti sudah jadi bahan pembicaraan sejak upacara masuk.”


“Haa… sudahlah, bilang saja cepat. Walaupun aku yakin pasti tidak seberapa hebat, soalnya ini cerita dari Tsumori.”


Bam, Mimasaka menutup pintu loker sambil melirik Koushirou dengan mata malas. Memang benar, dari dulu tidak pernah ada hal besar yang benar-benar besar dari cerita semacam ini. Tapi tetap saja, kami tergoda untuk mendengar, karena Koushirou itu jago bikin orang penasaran. Dia cocok jadi demonstrator penjualan; mungkin bisa menjual barang apa pun dalam sekejap.


“Jangan kaget, ya? Ternyata di antara murid baru tahun ini ada putri dari perusahaan besar, keluarga Shirasu!”


“...Dan itu?”


“Ada apa?”


Reaksi aku dan Mimasaka yang datar mungkin sudah sewajarnya. Memang harusnya kami bereaksi bagaimana?


“Kalian jangan-jangan tidak tahu keluarga Shirasu!? Itu perusahaan besar yang terkenal, bukan hanya di Jepang tapi juga dunia!”


“Aku tahu Shirasu. Mereka menjalankan banyak bidang—perbankan, properti, taman hiburan, pembangunan infrastruktur, dan lain-lain.”


“Dan mereka terkenal sebagai perusahaan super ramah karyawan, jadi nomor satu tempat kerja impian. Kau meremehkan kami sampai segitunya, ya?”


“Kalian tahu semua itu tapi tidak tahu putri direktur mereka!? Akhir-akhir ini malah putrinya yang lebih terkenal daripada perusahaannya, tahu!?”


Suaranya meninggi seolah-olah membicarakan fenomena besar. Apa sih yang bikin dia semangat begitu?


“Mimasaka, kau tahu?”


“Tentu saja tidak. Aku tahu keluarga Shirasu, tapi soal putrinya aku sama sekali tidak tahu. Sama seperti Tomoya, aku juga tidak mengikuti gosip dunia luar.”

Mimasaka mengangkat bahu sambil tersenyum kecut. Aku pun sama; aku cuma tahu perusahaannya, tidak lebih. Apalagi soal putrinya—itu di luar jangkauanku.


“Aduh, payah sekali kalian. Padahal tahun lalu dia viral besar-besaran!”


“...Mimasaka, ayo ke kelas.”


“Aku setuju. Dengar cerita Tsumori lebih lama lagi hanya buang-buang waktu.”


“Tunggu dulu! Ceritaku belum selesai—ah!”


Koushirou tiba-tiba menghentikan perkataannya, seperti baru menyadari sesuatu. Kami mengikuti arah pandangannya, dan di sana terlihat seorang gadis yang tampak seperti peri yang keluar dari dalam cerita dongeng.


Hidungnya mancung dan garis wajahnya sangat rapi. Wajahnya imut seperti boneka porselen. Mata hijau zamrud yang berkilau, rambut berwarna emas halus seperti pasir yang berkilau terkena sinar matahari dari jendela. Gadis dengan kecantikan yang tidak seperti manusia itu sedang berbincang santai dengan seorang teman sekelas. Pemandangan biasa di sekolah mana pun. Tapi perpaduan antara yang biasa dan yang tidak biasa membuat otakku sedikit bingung.


“...Hei, Koushirou. Jangan-jangan dia yang kau maksud?”


“Tepat sekali. Itu dia, putri perusahaan Shirasu—Shirasu Yuika. Gimana? Luar biasa, kan?”


Ingin rasanya kuhantam wajah Koushirou yang sedang memasang ekspresi bangga itu, tapi kali ini aku harus mengakuinya. Dalam hidupku yang baru enam belas tahun ini, gadis itu jelas berada di level berbeda. Kata “cantik” atau “menawan” rasanya tidak cukup. Ada semacam aura yang menyelimuti dirinya. Kalau harus kugambarkan, mungkin seperti dewi yang turun ke dunia. Kedengarannya berlebihan, tapi memang seberkesan itu.


“Meski menyebalkan, aku setuju dengan Koushirou. Pantas saja jadi bahan pembicaraan. Mengakui bahwa kau benar rasanya pahit sekali.”


“Aku juga sependapat. Dari sudut pandang sesama perempuan pun dia memang luar biasa. Sungguh membuat kesal.”


“Kalian berdua punya dendam apa ke aku, sih?”


Padahal dia dipuji, tapi entah kenapa wajah Koushirou malah sedih. Padahal pola cerita biasanya justru berakhir mengecewakan orang, dan sekarang dia malah merusaknya.


Sambil memikirkan hal itu, aku kembali memandangi putri Shirasu. Wajah sampingnya yang tersenyum lembut saat berbincang terlihat seperti lukisan di museum. Tapi anehnya, ada rasa familiar pada rambut emasnya yang berkilau dan senyum lembut itu. Rasanya pernah kulihat. Bukan baru-baru ini, tapi sudah cukup lama. 


Meski begitu, mustahil. Gadis secantik itu tidak mungkin terlupakan kalau pernah kulihat.


“Ada apa, Tomoya? Jangan-jangan kau terpikat sama putri Shirasu?”


“Bukan begitu. Rasanya aku pernah melihatnya. Tapi sudah lama sekali.”


“Ayolah, kamu bercanda kan? Mana ada kejadian semudah itu, seperti cerita manga.”


“...Benar juga.”

Aku menggeleng dan menepis pikiranku. Pasti cuma perasaan. Sekadar kebetulan. 


Aku menghela napas dan mengalihkan pandangan dari gadis itu.


“Eh, Tomoya. Mau ke mana?”


“Ke kelas, lah. Masa aku terus bengong di sini?”


Mengatakan bahwa aku tidak tertarik pada Putri Shirasu tentu saja akan menjadi kebohongan, tetapi dunia tempatku hidup sebagai warga biasa jelas berada di dimensi yang berbeda darinya. Terlebih lagi, orang seperti aku yang kerap dihindari orang lain, rasanya mustahil bisa punya hubungan dengannya kecuali kalau aku terlahir kembali. Sekalipun dia adalah adik kelas di sekolah yang sama.


“Fufu. Memang benar, kalau kau sampai terlambat karena terpukau melihat murid baru, kau bakal jadi bahan tertawaan sampai lulus nanti. Ayo pergi, Tomoya.”


“Hei, tahun ajaran baru bahkan belum berjalan tiga hari, tahu? Tidak terlalu keras, kan? Hatiku ini sudah hancur lebur, lho?”


Kami bertiga—aku, Mimasaka, dan Koushirou yang sedang mengeluh—tertawa sambil berjalan menuju kelas. Tepat sebelum masuk, aku menoleh karena merasa penasaran, dan pada saat itulah mata kami bertemu. Putri Shirasu tersenyum manis kepadaku.


“...Ini berbahaya.”


Daya tarik seorang dewi kadang dapat menjerumuskan manusia. Sama seperti bunga indah yang memiliki duri, senyuman yang begitu memesona pun menyimpan daya sihir yang tak kalah berbahaya. Itu benar-benar berbahaya. 


Begitulah kesimpulanku, dan aku bertekad dalam hati untuk tidak terlibat apa pun dengannya.


*****


“...Sungguh hari yang melelahkan.”


Begitu tiba di rumah, tanpa mengganti seragam, aku langsung menjatuhkan diri ke sofa ruang tamu dan menatap langit-langit. Namun kelelahan ini bukan karena pelajaran. Justru karena aku baru menjadi siswa kelas dua, pelajaran selama sekitar seminggu masih cukup ringan. Hal yang berat baru akan dimulai nanti. 


Lalu kenapa aku bisa selelah ini? Penyebabnya tak lain dan tak bukan adalah sahabatku yang teramat kukasihi.


“Tidak menyangka Koushirou bisa sebegitu terobsesi...”


Dengan helaan napas berat, aku memegangi kepala. 


Di waktu istirahat, waktu makan siang, bahkan sepulang sekolah. Setiap ada kesempatan, dia terus menceritakan hal-hal tentang Putri Shirasu meski aku sama sekali tidak bertanya. Baru kali ini aku benar-benar merasakan arti kata ‘merepotkan’.


“Menyeramkannya, bukan hanya Koushirou yang begitu heboh. Jangan -jangan nanti fanclub-nya benar-benar terbentuk.”


Tentu saja tidak resmi. Tapi suasana di sekolah seharian ini membuatku sadar bahwa hal seperti itu bukan sesuatu yang mustahil.


Dewi tercantik di dunia. 

Anak ajaib yang dianugerahi dua atau tiga bakat dari langit.


Ucapan mereka berlebihan sampai rasanya ingin kutertawakan, namun semua itu diarahkan kepada gadis bernama Shirasu-san itu.


Menurut Koushirou, alasan Shirasu Yuika dikenal oleh publik adalah karena sebuah acara variety show investigasi yang tayang tahun lalu. Isinya adalah acara di mana seorang tamu kembali ke almamaternya setelah sekian lama untuk membandingkan masa kini dan masa lalu, serta menemui guru yang pernah berjasa. Kebetulan sekolah menengah tempat Shirasu-san dulu bersekolah dipilih sebagai lokasi liputannya.

Sekolah itu adalah sekolah putri swasta berasrama penuh. Katanya, itu tempat berkumpulnya para gadis kalangan atas dari seluruh Jepang, mulai dari TK hingga universitas semuanya bisa ditempuh secara berjenjang. 


Sungguh ‘taman suci’ yang sempurna. Bahkan pelajarannya mencakup koto, upacara minum teh, dan ikebana. Namun itu bukan inti masalahnya. Yang membuat Nona Shirasu dikenal seluruh negeri bukanlah karena ia diwawancarai. Dalam acara itu, seorang siswi yang diwawancarai ditanya, “Siapa gadis tercantik di sekolah ini?” dan dia menjawab, “Shirasu Yuika”—dan wajah Yuika hanya muncul beberapa detik di kamera.


Hanya itu. Tapi kecantikan yang tak masuk akal untuk ukuran siswi SMP membuat pemirsa terkejut, dan cuplikan itu pun tersebar luas di internet. Bahkan informasi pribadinya sampai bocor dan menimbulkan kegemparan.


“Beginilah sisi menakutkan SNS…”


Aku bergumam seolah itu bukan urusanku, namun dalam hati merasakan simpati kepada gadis itu. Di era informasi yang sangat maju seperti sekarang, SNS memang sangat praktis, tetapi juga penuh bahaya. Tak kusangka aku akan melihat contoh ekstremnya secara langsung.


“Mengganti sekolah adalah langkah yang berani. Meski, setelah kejadian seperti itu, melanjutkan sekolah di sana pasti tidak mungkin…”


Meski begitu, rasanya justru lebih berbahaya meninggalkan ‘taman suci’ tanpa noda dan turun ke dunia nyata yang penuh kekacauan. Namun itu urusan keluarga Shirasu, bukan urusanku sebagai orang luar.


“Yah, memang tidak ada hubungannya denganku.”


Setelah menyimpulkan demikian, aku berdiri dan menuju kamar untuk mengganti seragam. Kekhawatiran soal Putri Shirasu jelas tidak sebanding dengan pentingnya memikirkan makan malamku sendiri.


Waktu baru lewat pukul 17. Dari sekarang pun masih cukup untuk ke supermarket dan membeli bahan. Lagipula aku hanya perlu memasak untuk satu orang; tidak butuh waktu lama.


“Kapan ya Ayah akan pulang?”


Ibuku sudah meninggal karena sakit saat aku masih kecil. 


Sejak aku masuk SMA, Ayah semakin sering bepergian ke luar negeri untuk pekerjaan. Karena itu, dia hanya pulang beberapa kali saat Obon dan akhir tahun. Itupun hanya dua atau tiga hari, membuat rumah kami seperti hotel baginya. Tapi berkat itu aku bisa hidup sendiri dengan nyaman di rumah besar kami. Ketika kuceritakan hal itu kepada sahabatku—


『Aku iri banget sama kau, Tomoya. Kalau orang tua tidak ada di rumah, nanti kalau kau punya pacar bisa bebas bawa ke rumah, kan? Dan bisa bebas melakukan hal-hal nakal juga, kan?』


—aku mendapat komentar yang “mengesankan” seperti itu, jadi kuberikan satu tebasan tangan ke kepalanya sebagai balasan. 


Saat itu Mimasaka yang ada di dekat kami juga langsung memberi pukulan siku ke ulu hatinya. Tolonglah, ucapkan hal seperti itu kalau aku sudah punya pacar.


“Hari ini masak apa ya? Kemarin makan ikan, jadi sekarang daging saja? Di freezer masih ada ayam, tapi kalau ada promo, mungkin lebih baik beli daging babi dan bikin shougayaki.”

Kalau beli salad siap saji, itu sudah cukup sebagai pendamping dan zat gizi. Ditambah sup miso bawang daun, sempurna. Lalu untuk mengobati luka mental hari ini, aku akan membeli dessert. Tidak ada kekurangannya.


Saat sedang memikirkan menu sambil masuk ke supermarket, smartphone di sakuku tiba-tiba bergetar.


“Halo? Ada apa, Ayah?”


『Maaf mendadak, Tomoya. Kau sedang tidak sibuk, kan?』


Yang menelepon adalah Ayah, yang sekarang sedang tugas ke luar negeri. Jarang sekali. Biasanya dia cukup mengirim pesan.


“Aku baru akan mulai berbelanja, tapi tidak masalah. Ada urusan mendesak?”


Untungnya aku baru saja masuk ke toko, jadi bahkan belum mengambil keranjang. Aku keluar sebentar dan melanjutkan pembicaraan. Jika sampai ayah menelepon langsung, pasti ada alasan yang tidak bisa ditunda.


『Ah… yah, begitulah. Bisa dibilang begitu.』


“Apa-apaan sih, ngomongnya gak jelas. Ah! Jangan-jangan… jangan bilang mau menikah lagi!?”


Itu perkembangan yang sering terlihat di manga atau light novel. 


Orang tua tiba-tiba menikah lagi dan punya anak perempuan. Dan ternyata si anak perempuan itu adalah teman sekelas yang cantik. Lalu orang tua sibuk dengan bulan madu atau pekerjaan sehingga jarang pulang. Dan dimulailah kehidupan serumah penuh degup jantung yang harus dirahasiakan. Pikiran bodoh seperti itu melintas di kepalaku dalam sekejap.


『Hahaha! Sayang sekali, Ayah ini sudah memutuskan untuk mencintai Ibu seumur hidup. Ayah tidak pernah terpikir untuk menikah lagi!』


Ayah tertawa lepas, dan aku hanya bisa tersenyum pahit. 


Sudah lebih dari sepuluh tahun sejak Ibu meninggal, tapi rasa cintanya tidak pernah pudar. Aku sampai kagum sendiri.


“Kalau bukan itu, lalu apa? Jangan-jangan… Ayah dipecat dari pekerjaan?”


『Tomoya. Menurutmu, Ayah ini orang seperti apa?』


“Hmm… seorang ayah yang sayang anak dan gila kerja?”


『…Ayah tambah uang jajanmu deh. Tapi bukan itu! Ada sesuatu yang harus Ayah laporkan padamu!』


Jangan bertele-tele kenapa. 


Jujur saja, ini merepotkan. Di dunia bisnis, kabarnya menyampaikan inti pembicaraan sejak awal adalah hal yang wajar. Dengan cara begini, Ayah benar-benar bisa bekerja dengan lancar?


“Haah… kalau bukan soal menikah lagi atau kena pecat, laporan apa? Cepat bilang. Kalau kelamaan, makan malamku nanti keburu—”


Hilang, itu yang hendak kukatakan. Tapi tepat saat itu, sosok seorang gadis berambut emas muncul dalam pandanganku.


“Itu… Shirasu Yuika?”

『Hm? Ada apa, Tomoya?』


Dengan ponsel di tangan, dia berjalan sambil menunduk. Seperti peri kecil yang tersesat. Dari semua informasi yang Koushirou ceritakan, tentu saja tidak ada tentang tempat tinggalnya. 


Apa dia tinggal dekat sini? Tapi di sekitar sini tidak ada rumah yang memungkinkan seorang siswi SMA —apalagi putri seorang presiden perusahaan besar— untuk tinggal sendiri.


“Ah, tidak. Maaf. Bukan apa-apa. Bisa langsung ke intinya?”


Aku menjawab seadanya sambil tetap memperhatikan Shirasu, entah kenapa aku merasa perlu mengikuti langkahnya. Bukan, sama sekali bukan karena ingin tahu di mana dia tinggal atau karena ada niat kotor. Ada firasat buruk. Semacam perasaan bahwa sesuatu yang tidak baik akan terjadi jika dia dibiarkan begitu saja.


『Sebelum Ayah bicara, janji satu hal. Setelah mendengar ini, kamu pasti kaget, bingung, dan mungkin marah. Tapi jangan sampai kamu membenci Ayah, ya?』


“Dengan ngomong begitu saja rasanya aku jadi ingin membencimu, tahu?”


Nada bicara yang ragu-ragu, dan cara bicara seperti itu jelas bukan pertanda baik. Dan entah kenapa aku merasa ini adalah sesuatu yang efeknya tidak sementara, tapi berkepanjangan. 


Sambil memikirkan itu, aku mempercepat langkah karena Shirasu hampir menghilang dari pandangan.


『Se-sebenarnya begini, Tomoya. Ayah… waktu sedang minum-minum, Ayah kebablasan dan membuat janji dengan seseorang.』


Dengan suara hati-hati tapi terselip tawa gugup, Ayah akhirnya mulai berbicara. 


Akhirnya, pikirku. Tapi pikiranku tetap tertuju pada Shirasu yang berjalan di depan.


Di depan sana ada persimpangan yang mengarah ke jalan besar. Jika dia terus berjalan sambil menatap ponsel dan tidak sadar lampu merah, bisa saja terjadi kecelakaan—meski dalam kenyataannya hal seperti itu jarang terjadi. Mungkin hanya kekhawatiranku saja. Baiklah, lebih baik aku dengar Ayah dulu. 


Baru saja aku memutuskan itu, tiba-tiba—


“—Eh!?!”


Di tengah menyeberang, mungkin dia menerima pesan. Shirasu berhenti di tengah jalan dan memekik seperti bukan seorang gadis bangsawan. Apa pun yang tertulis di layar ponselnya pasti mengejutkannya. Tapi itu tidak penting sekarang. Aku segera berlari ke arahnya.


『Ooiiii, Tomoya-kuuun? Suara anginnya kencang sekali. Kamu dengar Ayah, kan? Ini penting sekali, lhooo?』


“Maaf, Ayah! Aku telepon lagi nanti!”


Aku memutus sambungan tanpa menunggu jawaban dan berlari sekuat tenaga. Lampu penyeberangan mulai berkedip, tapi Shirasu hanya berdiri terpaku. Kalau mau syok, setidaknya menyeberang sampai tuntas dulu, keluhku dalam hati.


Beruntung tidak ada kendaraan. Aku pasti bisa menggapainya. Atau begitulah yang kupikirkan, sampai—


“—Eh?”


Sebuah mobil muncul dari titik buta dan berbelok ke kiri.


Dunia seakan melambat. Shirasu kaku, tak bisa bergerak. Mobil itu memang tidak cepat, tapi lampu rem tidak menyala.


“Bahaya!!”


Hal terburuk selalu datang saat lengah. 


Tolong sempat, doaku sambil menjejak aspal dan melompat ke arahnya. Kupeluk tubuh mungil Shirasu agar tidak terluka, lalu kami terjatuh sambil meluncur di tanah. Suara rem melengking memecah keheningan kawasan perumahan yang biasanya tenang.


Gadis yang belum pernah bicara denganku, bahkan namanya baru kuketahui hari ini. Aku tidak punya kewajiban apa pun untuk peduli padanya—apalagi mempertaruhkan nyawa. Tapi entah mengapa, begitu saja, begitu alami, tubuhku bergerak. Seolah naluriku berbisik: kau harus melindungi anak ini.


“A-a-aku… masih hidup…? Aku masih hidup?”


“Tenang saja, ini bukan surga.”


Setelah melepaskannya dari pelukanku, aku berdiri. Tapi Shirasu terduduk lemas, mungkin kakinya tak bisa menopang tubuh karena syok. Dia tak bisa terus berada di sana, jadi aku meraih tangannya dan memaksanya berdiri.


Saat itu, sakit menusuk terasa di lengan kananku, membuatku meringis.


“A-anda… Anda tidak apa-apa!? Luka? Ada yang terluka!?”

Seorang pria muda bersetelan rapi bergegas turun dari mobil. Wajahnya pucat, tubuhnya gemetar karena ketakutan. Dia pasti mengira telah menabrak seseorang.


“Ya, saya… hanya lecet. Tidak tertabrak, jadi saya baik-baik saja. Maaf sudah merepotkan.”


“Tidak, maaf! Ini semua karena kelalaian saya… Anda benar-benar tidak terluka kan!?”


“Ya. Dia baik-baik saja, jadi jangan terlalu khawatir. Benar begitu, Shirasu?”


“Eh? Ah, iya. Berkat beliau, saya sama sekali tidak terluka.”


Setelah aku menepuk bahunya pelan, Shirasu akhirnya kembali sadar. Sekilas, tidak terlihat ada luka yang mencolok. Kulitnya yang seputih pualam pun untungnya tidak tergores. Aku menghela napas lega.


“Begitu ya… sungguh melegakan tidak ada yang terluka. Kalau begitu saya pamit. Sekali lagi, saya benar-benar minta maaf.”


Setelah membungkuk dalam-dalam, pria itu kembali ke mobil dan melaju pergi. Kerumunan yang sempat terbentuk pun bubar, dan suasana tenang kembali. Rasanya ingin mengatakan beres sudah, tapi tentu tidak sesederhana itu. Walaupun dia putri dari keluarga konglomerat, ada hal yang tetap harus kukatakan.


“Um…”


“Serius… apa yang kamu pikirkan, melamun di tengah jalan seperti itu? Itu hampir membuatmu mati, tahu?”


Meski Shirasu terlihat sangat menyesal, aku tetap memarahinya dengan tenang. Memarahi seseorang yang baru saja selamat dari kecelakaan memang terdengar kejam, tapi kalau salah sedikit saja insiden besar pasti terjadi. Tidak mungkin dibiarkan begitu saja.


“Kamu tahu kan kalau berjalan sambil main ponsel itu berbahaya? Apalagi berdiri diam di tengah jalan…”


“Ma-maaf…”


Shirasu menunduk, bahunya merosot, suaranya lirih dan bergetar—bahkan terdengar seperti hendak menangis. Melihatnya seperti anak anjing yang dibuang, rasa bersalah muncul dalam diriku. 


Mungkin sebaiknya aku mengajaknya ke tempat yang lebih tenang sebelum menegur.


“Ah… maaf. Aku terlalu keras. Kamu nggak apa-apa? Ada yang sakit?”


“T-tidak… berkat Anda semuanya baik-baik saja. Terima kasih sudah menyelamatkan saya…”


Dengan bahu yang masih bergetar, ia memaksa mengucapkan terima kasih. Kalau dipikir lagi, hampir saja tadi dia tewas, dan tiba-tiba ada laki-laki yang melompat dan memeluknya. Wajar kalau dia ketakutan.


“Yah… yang penting Shirasu selamat.”


Dalam hati kutambahkan: Kalau sampai dia terluka, satu sekolah pasti geger. Sambil berpikir begitu, aku mengusap lembut kepalanya yang sedang tertunduk.


“Aku mengerti kamu ingin melihat ponselmu. Tapi lain kali lebih hati-hati, ya? Tidak selalu aku bisa menolongmu tepat waktu.”


“Baik… saya akan berhati-hati. T-tapi… boleh saya bertanya satu hal?”

“Hmm? Apa?”


“Bagaimana Anda tahu kalau nama saya adalah Shirasu?”


Keringat dingin langsung mengucur. 


Sial. Karena Koushirou banyak bercerita, aku memanggilnya dengan nama tanpa sadar. Padahal tentu saja Shirasu tidak mengenaliku. Hanya sempat bertemu pandang sebentar, pasti dia tidak hafal wajahku.


“Ah… itu, aku juga sekolah di SMA Yamatozaka. Aku dengar tentang Shirasu dari teman sekelas.”


“Begitu ya. Jadi maksudnya Anda adalah—”


“Aku Midou Tomoya, kelas 2-1 di SMA Yamatozaka. Salam kenal.”


“Saya Shirasu Yuika, kelas 1-4 SMA Yamatozaka. Sekali lagi, terima kasih banyak sudah menolong saya, Senpai.”


Ia mengulurkan tangan, dan saat aku menyambutnya dengan tangan kanan—Ugghh! Rasa sakit menusuk tiba-tiba menyerang, membuatku tak sengaja mengerang.


“Ada apa, Senpai!? Apa lengan Anda sakit!?”


Baru saja tenang, Shirasu kembali panik dan hampir menangis lagi. Ini benar-benar merepotkan.


“T-tidak apa-apa. Cuma terbentur cukup keras, nanti juga hilang. Kamu tidak perlu khawatir.”


“Tapi… penyebabnya karena saya… jadi tanggung jawabnya juga pada saya…”

“Aku bilang tidak apa-apa, jadi jangan dipikirkan. Aku menolongmu bukan karena ingin mendapatkan imbalan.”


Bukan berarti aku mempertaruhkan nyawa demi “kesempatan mendekat.” Aku tidak sepicik itu.


“Jadi anggap saja ini luka kehormatan. Shirasu tidak perlu merasa bersalah.”


“…Baiklah.”


Meski aku berusaha terdengar ceria, Shirasu tetap tampak tidak puas, tapi ia mengangguk pelan.


“Bagus. Kalau begitu, selesai sampai di sini, ya? Aku mau belanja di supermarket dulu. Kamu juga hati-hati pulang.”


“…Baik. Senpai juga hati-hati.”


“Kalau begitu sampai besok di sekolah. Yah, kita beda kelas sih, jadi belum tentu ketemu. Kalau pun bertemu, kamu boleh pura-pura tidak melihatku!”


“Ah, tunggu sebentar! Tolong beri saya kontak Anda!”


Seruan penuh keputusasaan itu terdengar di belakangku, tapi aku benar-benar tidak mau terlibat masalah lebih jauh. Jadi aku pura-pura tidak dengar dan langsung berlari pulang ke arah supermarket.


“Nanti saya panggil, ya! Jangan lari lagi!”


Sebuah kalimat yang sangat tidak menyenangkan terdengar dari belakang, tapi aku tetap menutup telinga dan berlari tanpa menoleh.


Sesampainya di supermarket, aku teringat satu hal yang kulupakan. 

Dengan perasaan takut, kubuka ponsel di saku.


Seperti yang kuduga, deretan panggilan tak terjawab memenuhi layar.

Aku menghela napas berat sebelum menelepon balik.


“…Halo.”


『‘Halo’ apanya!? Memutus sambungan tiba-tiba itu keterlaluan! Apa yang terjadi, Tomoya!?』


Teriakan pertama Ayah langsung membuat telingaku berdenging. Wajar saja ia marah dan panik. Kalau aku jadi dia, mungkin aku akan melakukan hal yang sama.


“Tadi ada adik kelasku. Hampir tertabrak mobil, dan aku menolongnya.”


『A-apa!? A-apa kamu tidak terluka!? Ada yang sakit!? Kamu benar-benar sempat menolongnya!?』


“Tenanglah. Tidak apa-apa. Mobilnya tidak menabrak, dan dia selamat tanpa luka. Tidak terbentur juga. Ya, meski sekarang lengan kananku sakit banget sih…”


『Dasar bodoh! Cepat pergi ke rumah sakit! Kalau tulangmu retak bagaimana!?』


“Baiklah. Aku akan pergi. Tapi sebelumnya ceritakan dulu hal penting yang mau Ayah bilang. Ada apa sebenarnya?”


Aku senang Ayah khawatir, tapi bagiku pembicaraan tadi justru lebih penting.


『Dengar dulu! Ayah bilang, pikirkan dirimu dulu! Kalau kamu mati duluan, bagaimana Ayah bisa menatap wajah Ibumu!?』

Kata-kata yang licik itu hampir membuatku membalas, tapi kutahan. Bagaimanapun, Ayah adalah orang yang membesarkanku sendirian setelah Ibu tiada. Kalau itu alasannya, aku tidak bisa membantah.


“…Baik. Tapi setelah aku pulang dari rumah sakit, Ayah harus ceritakan semuanya. Janji.”


『Tentu! Ah, dan kirim hasil pemeriksaannya ke Ayah, ya? Mengerti?』


“Iya, iya. Baiklah. Sampai nanti. Semangat kerjanya.”


『Baik! Ayah tunggu kabarnya!』


Setelah menutup telepon, aku kembali menghela napas. Tidak bisa dibilang beres, tapi sedikit lega. Dan justru setelah lega, rasa sakit di lenganku semakin menjadi. Bahkan aku mulai merasa mual. Katanya kalau tulang patah bisa terasa seperti ini—dan mungkin memang benar aku retak tulang.


Aku tidak mau mengakhiri hari dengan “ramalan buruk yang menjadi kenyataan.”


“…Masih sempat ke rumah sakit, kan?”


Saat rasa cemas muncul, tidak hanya sakit, tapi juga kekuatanku mulai hilang. Aku pun membatalkan urusan belanja dan buru-buru menuju rumah sakit langganan.


*****


“Semoga lekas sembuh——”


Sambil mendengarkan ucapan penjaga resepsionis itu dari belakang, aku meninggalkan rumah sakit dengan perasaan murung.

Kesimpulannya, tulang lengan kananku ternyata tidak patah. 


Menurut hasil diagnosis, kondisinya merupakan perpanjangan dari memar yang cukup parah, tetapi meskipun tidak patah, aku tetap diberi tahu bahwa lenganku harus digerakkan seminimal mungkin untuk sementara waktu. Alhasil, meski tidak sampai menggunakan gips, lenganku tetap digantung dengan perban sehingga membuatku sangat tidak leluasa. Terlebih lagi karena itu adalah lengan dominanku.


Menurut dokter, waktu yang diperlukan hingga sembuh total adalah lebih dari satu minggu tetapi kurang dari satu bulan. Pendapat yang terlalu serampangan itu membuatku memegangi kepala. 


Dokter yang sudah merawatku sejak kecil memang sudah hampir berusia delapan puluh tahun, tetapi aku sampai ingin curiga apakah beliau sudah mulai pikun.


“Untuk sementara, sepertinya aku harus mengandalkan makanan beku atau memesan makanan, ya…”


Tidak ada pilihan lain. Aku harus menjelaskan kondisi ini kepada Ayah dan memohon pengertiannya bahwa biaya makan keluarga akan meningkat sampai lukaku sembuh. Dengan keadaan seperti ini, tentu beliau tidak akan melarang.


Sambil memikirkan hal itu, aku pun pulang ke rumah. Namun, di depan pintu masuk rumahku, berdiri seorang anak perempuan berseragam sekolah yang kukenal, sambil membawa sebuah koper besar. Aku menggosok mata dan memastikan ulang, tetapi sepertinya itu bukanlah halusinasi.


Apakah mataku yang bermasalah, atau otakku salah memproses informasi yang diterima secara visual? Kalau begitu, aku harus kembali ke rumah sakit dan menjalani pemeriksaan lagi—

“Ah…!”


Gadis itu tampaknya menyadari keberadaanku, lalu mendekat dengan langkah-langkah kecil. Seperti seekor anjing setia yang menunggu kepulangan majikannya di stasiun.


“...Apa yang kau lakukan di sini, Shirasu?”


Yang menunggu di sana adalah Shirasu Yuika. 


Baru beberapa jam kami berpisah, dan kini sudah bertemu lagi. Bukan di sekolah, melainkan di depan rumahku sendiri. Aku tidak cukup optimis untuk menyebut ini sebagai kebetulan.


“Itu barang bawaan apa? Jangan-jangan kau kabur dari rumah?”


Ketika aku bertanya setengah bercanda, Shirasu berpikir sejenak, lalu menjulurkan lidahnya sambil bergurau.


“Ehm… aku datang, nih!”


Mendengar pernyataan itu, aku hanya bisa melongo. Gambaran tentang gadis bernama Shirasu Yuika yang selama ini kubentuk berdasarkan cerita dari Koushirou runtuh seketika.


“Baik, sekarang juga putar badan dan pulang ke rumah.”


“Ini cuma bercanda! Aku bercanda, jadi tunggu dulu! Tolong dengar dulu penjelasanku!”


Sambil menghindari Shirasu yang hendak memegangi lenganku, aku menekan pelipis dan bertanya kepadanya,


“...Bagaimana kau tahu alamat rumahku? Dari siapa kau dengar?”


“Tenang dulu, Senpai. Atau jangan-jangan Anda tidak mendengarkan?”


“Mendengarkan apa—tunggu, jangan bilang!?”


Pada saat aku menyadari sesuatu, ponselku bergetar seolah-olah seseorang sengaja menunggu momen yang tepat.


“Ini telepon dari Ayah. Boleh aku angkat?”


“Tentu saja. Silakan.”


Didorong dengan senyum ceria Shirasu, aku mengangkat telepon itu.


“H-halo…”


『Tomoya. Ayah sudah bilang untuk menghubungi setelah kamu ke rumah sakit, kan? Bagaimana keadaan lenganmu?』


“Aku berniat menelepon setelah sampai di rumah. Lenganku tidak patah, jadi aman. Tapi yang ingin kutanyakan, Ayah tidak asing dengan nama Shirasu, kan?”


『Tentu saja! Soalnya Ayah dan Shirasu-san itu rekan kerja sekaligus teman minum. Tapi kenapa kamu menanyakan soal beliau? Jangan-jangan gadis yang kamu selamatkan waktu kecelakaan itu putri Shirasu-san?』


“Tebakan Ayah cepat sekali. Benar, memang dia. Tapi... entah bagaimana, sekarang putri keluarga Shirasu itu sedang berada di depan rumah kita?”


『Oh… itu di luar dugaan. Jadi tunanganmu sudah datang, ya. Ternyata dia gadis yang cukup berani juga.』


Ayah bersiul kagum. Walaupun terdengar seperti urusan orang lain, aku justru makin pusing karena satu kata yang diucapkan barusan tidak bisa kuabaikan.


Apakah aku salah dengar? Tidak, sepertinya tidak mungkin salah dengar. Walaupun Ayah itu terkadang bertindak seperti badai yang mengambil bentuk manusia, dia tidak mungkin mengucapkan lima huruf yang terasa begitu kuno itu.


“Ayah, aku mungkin salah dengar. Tapi tadi Ayah bilang… tunangan? Ayah bilang tunangan, kan!?”


『Itu memang hal penting, tetapi kamu tidak perlu mengulanginya. Kamu tidak salah dengar. Ayah memang bilang tunangan.』


Ayah tertawa terbahak-bahak entah karena apa. Aku benar-benar merasa sakit kepala dan sedikit pusing. Kalau saja Shirasu yang memasang wajah polos tidak berdiri di depanku, mungkin aku sudah berteriak. Sambil menekan pelipis, aku menarik napas dalam-dalam.


“…Ayah akan menjelaskan, kan? Apa maksud semua ini?”


『Benar juga… mungkin harus dimulai dari bagaimana Ayah pertama kali bertemu dengan Shirasu-san, ya? Ayah sudah mengenalnya lebih dari sepuluh tahun, tapi—』


“Itu tidak perlu. Maaf, tapi aku tidak butuh kisah pertemuan Ayah dan Shirasu-san sekarang. Yang ingin kudengar hanya bagian tentang tunangan itu.”


『Kalau tidak salah sekitar setengah tahun yang lalu. Ayah bertemu Shirasu-san secara kebetulan di tempat kerja, lalu kami makan bersama. Karena sudah lama tidak bertemu, minuman juga jadi mengalir lancar…』


“...Lalu?”


『Ayah mendengar bahwa putri Shirasu-san—Yuika-chan—mengalami masalah besar di sekolah dan juga harus mengikuti ujian masuk SMA di luar.Karena itu dianggap sebagai kesempatan yang tepat, beliau berniat menunjukkan dunia luar padanya, tetapi kemudian beliau menghadapi satu masalah besar.』


Masalah itu adalah: sekolah mana yang harus dipilih untuk putrinya.

Masalah yang terlalu biasa hingga aku merasa kecewa, dan Ayah sendiri mengaku hanya bisa tersenyum kecut saat mendengarnya. Namun, Shirasu-san sangat serius memikirkannya. Alasannya adalah—


『Karena wajah dan namanya sudah dikenal, apakah benar-benar aman mengirimnya ke lingkungan baru? Apakah dia bisa beradaptasi tanpa teman maupun orang yang bisa melindunginya? Beliau sampai memikirkannya sampai membuat Ayah yang mendengarnya ikut bingung. Jadi Ayah mengusulkan, “Bagaimana kalau memilih SMA Yamatozaka, tempat anakku bersekolah?”』


“Kenapa bisa jadi begitu!?”


Meski aku tahu percuma, aku tetap berteriak. 


Tidak ada hubungan logisnya. Mengapa SMA Yamatozaka tiba-tiba muncul sebagai pilihan? Memang, sekolah itu memiliki nilai akademik yang cukup tinggi dan tingkat kelulusan yang bagus. Tapi apakah cocok untuk seorang gadis kelas atas sepertinya? Itu lain cerita.


“U-umm… maaf memotong ketika kalian sedang asyik berbicara. Senpai, boleh aku mengatakan sesuatu?”


Shirasu, yang sejak tadi diam, mengangkat tangan kecilnya dengan ragu. Aku segera menyesal dalam hati. Semua ini gara-gara cerita Ayah yang terlalu panjang.

“Ah! Maaf, Shirasu. Ada apa?”


“Tidak, bukan masalah yang besar… hanya saja, kupikir sebaiknya kita masuk rumah dulu.”


Ketika Shirasu tertawa kecil dan mengatakannya, aku baru menyadari keadaan sekitar. Orang-orang yang lewat maupun para tetangga mulai melirik ke arah kami. 


Berdiri di depan pintu sambil berbicara cukup keras saja sudah menarik perhatian, apalagi jika ada seorang gadis membawa koper besar di sebelahku. Orang bisa saja salah paham dan mengira aku menyeret pulang seorang gadis kabur dari rumah. Jika rumor seperti itu menyebar, aku tidak akan bisa terus tinggal di kota ini.


“...Untuk sekarang, masuk dulu saja, ya? Kunci… tch, susah diambil.”


Biasanya kunciku ada di saku kanan celana. Tapi karena tangan kananku tidak bisa digunakan, aku harus mengambilnya dengan tangan kiri. Sesulit yang kubayangkan—bahkan lebih sulit. Aku memutar tubuh dan mencoba meraih, tetapi tetap tidak sampai.


“Kuncinya ada di saku, ya? Biar aku ambilkan.”


Sambil mengatakan itu, Shirasu bergerak ke belakangku dan meraih saku celanaku seolah-olah sedang memelukku.


“Eh—!? S-Shirasu-san!?”


“Tolong jangan bergerak, Senpai. Sedikit lagi…”


Bisikan di telingaku membuat tubuhku tersentak. Shirasu mengeluarkan suara “muu” seperti sedang ngambek, lalu menekan tubuhnya lebih erat ke punggungku.


“!?!?!?”


Suara teriakan yang tidak sempat menjadi teriakan meluncur dari tenggorokanku. 


Apa yang dipikirkan gadis ini? Apakah dia sadar apa yang sedang dilakukannya? Gadis seusianya memeluk seorang laki-laki begitu dekat—itu terlalu ceroboh. 


Karena dia dari sekolah khusus perempuan, mungkin dia tidak memahami jarak yang seharusnya dijaga dengan lawan jenis. Kalau bukan aku, sudah pasti ada laki-laki yang salah paham dan jatuh cinta saat itu juga.


Meski begitu, ini bukan saatnya menganalisis. Aku harus segera menyuruhnya melepaskan diri, tetapi tidak bisa—semata-mata karena sesuatu yang lembut menekan punggungku. Dari seragam saja aku bisa tahu ukurannya besar, tapi tak kusangka sensasinya bisa terasa sedemikian jelas meski terhalang kain. Buah ranum ini terlalu berbahaya.


Belum lagi rambut pirangnya yang halus dan mengalir lembut seperti sutra, memancarkan aroma manis seperti bunga sakura yang sedang mekar. Aroma itu menyusup lewat hidung, naik ke kepala, dan menggerogoti kewarasanku.


“Hmm… Ah, dapat!”


Dengan ekspresi seperti menemukan harta karun yang sudah lama hilang, Shirasu mengeluarkan kunci dari sakuku. Aku benar-benar terselamatkan. Kalau dia menggeledah celanaku beberapa detik lebih lama, aku tidak tahu apa yang akan terjadi.


“T-terima kasih. Sangat membantu.”


“Ehehe. Senang bisa membantu.”


Melihat senyum polos Shirasu, niat-niat kotor yang sempat muncul dalam diriku lenyap begitu saja. Aku menggeleng, mengusir pikiran tidak baik itu, lalu membuka pintu dengan kunci yang diterimanya.


“Untuk sekarang, kita masuk dulu ya. Aku akan melanjutkan ngobrol dengan Ayah, jadi Shirasu bisa beristirahat di ruang tamu di depan sana.”


“Baik. Kalau begitu… permisi.”


Setelah membungkuk sopan, Shirasu masuk dan menyeret kopernya menuju ruang tamu.


“Hah… maaf menunggu, Ayah. Lanjutkan ceritanya.”


『Kufufu. Baru bertemu sebentar saja sudah dekat begitu, Tomoya memang laki-laki sejati! Kau jatuh cinta pada pandangan pertama pada Yuika-chan, ya? Ayah pernah melihat fotonya, dan dia memang seperti malaikat. Tak heran Shirasu-san jadi terlalu protektif.』


Aku hanya bisa menghela napas kepada Ayah yang berbicara sesuka hati. Tidak kusangka Ayah bisa seceroboh dan seabsurd ini.


『Nah, setelah itu sambil minum kami mengobrol lebih jauh, dan Shirasu-san bilang, “Kalau Tomoya-kun, aku bisa mempercayakan Yuika kepadanya.” Lagipula, kan? Meski tatapanmu agak galak, selebihnya kau seperti pria ideal.』


Aku tidak bisa disebut pria ideal hanya karena bisa memasak dan mencuci. Dan kepercayaan ayah Shirasu itu terasa menakutkan.


『Pokoknya begitu, Tomoya. Ayo akur dengan Yuika-chan, ya? 

Kalau mau, kalian bisa langsung mulai tinggal bersama di rumah kita!』


“Apa yang Ayah katakan, dasar orang tua tidak berguna.”


『Jangan malu! Jangan malu! Tapi ingat satu hal, ya? Meskipun Yuika-chan sangat imut, jangan memaksanya, mengerti? Kalau nanti kalian melakukannya, pastikan pakai kond—』


“Apa yang Ayah kira tentang putranya sendiri!?”


Sebelum Ayah mengatakan hal yang lebih memalukan, aku langsung memotongnya. Kalau Ayah pulang, aku tidak akan membiarkannya lolos. Akan kulaporkan semuanya pada Ibu di surga. Biar beliau marahi Ayah dalam mimpi.


『Baiklah, apa pun itu, jaga Yuika-chan baik-baik ya, Tomoya.』


“Haa… tidak masalah sih jika diminta begitu, tapi… apa kedua orang tua Shirasu benar-benar setuju dengan semua ini?”


『Tentu saja! Lagipula, kalau ayahnya Yuika-chan, Tomoya pasti sudah pernah bertemu beberapa kali, kan?』


Aku sempat berpikir itu tidak masuk akal, tapi memang pernah ada beberapa kali orang dari relasi bisnis ayah datang ke rumah dan makan bersama kami. Jadi orang itu ternyata ayahnya Shirasu.


『Waktu aku menceritakan tentangmu, orang tua Yuika-chan jadi sangat tenang. Lalu mereka bilang, ‘kalau begitu, kenapa tidak sekalian dijadikan tunangan saja?’ 』


“...Jadi begitu alurnya.”


『Apa-apaan itu? Harusnya kamu lebih senang dong! Anak 

secantik Yuika-chan dijadikan tunanganmu, tahu? Senang kan?』


“Bukan soal senang atau tidak senang… kenapa bisa jadi pembicaraan seperti itu!?”


Kepalaku terasa sakit, bahkan mulai pusing. 


Jangan-jangan ayah Shirasu itu memang sejenis dengan ayahku. Benar juga pepatah yang mengatakan bahwa sesama jenis akan saling tertarik.


『Yah, itu semacam suasana iseng di meja minum! Mereka merasa tidak enak hanya menerima bantuan darimu. Lalu seseorang bilang, kalau begitu sebagai imbalannya, bagaimana kalau dijadikan tunangan saja? Ya sudah, jadinya begitu!』


“Jangan putuskan hal seperti itu hanya karena suasana minum…!”


Mungkin terdengar berlebihan, tetapi tunangan berarti menikah dan menghabiskan hidup bersama. Membiarkan orang tua memutuskan itu begitu saja ketika mabuk jelas bukan hal yang benar. Tapi sayangnya aku tidak punya hak menolak.


『Ajarilah Yuika-chan banyak hal ya! Sampai sini dulu!』


“Tunggu!? Hei, pembicaraannya belum selesai! Jangan putuskan tunangan seenaknya begitu, aku benar-benar tidak setuju!”


Kata-kataku tidak sampai pada ayah, dan telepon pun terputus. 


Tunangan… berat sekali untuk seseorang sepertiku yang bahkan belum pernah punya pacar. Meskipun, sebagai remaja laki-laki normal, ini seperti mimpi. Apalagi jika tunangannya adalah Shirasu Yuika.


“Haa… sekarang aku harus bagaimana?”

Sambil menghela napas, aku mulai memikirkan langkah selanjutnya. Meski begitu, dengan pembicaraan sejauh ini tanpa sepengetahuanku, ada sangat sedikit yang bisa kulakukan.


“Maaf. Aku membuatmu menunggu… eh, apa yang sedang kamu lakukan!?”


Begitu kubuka pintu ruang keluarga dengan perasaan murung, yang kulihat adalah Shirasu mengenakan apron di atas seragam sekolahnya, sedang memasak di dapur.


Ia memotong sayuran dengan ritme rapi ton-ton lalu memasukkannya ke dalam panci. Jadi begini rasanya hidup sebagai pengantin baru—bukan, bukan itu! Aku menggeleng keras mengusir pikiran aneh itu dan menghampiri Shirasu.


“Maaf, aku meminjam dapurnya tanpa izin. Karena aku tidak ada kerjaan, kupikir aku bisa menyiapkan makan malam.”


Saat kulihat jam, waktu sudah hampir lewat pukul 18.00. Dengan satu tangan tidak bisa dipakai dan tadinya aku berniat memesan makanan, tawaran itu sebenarnya sangat membantu—tapi bukan itu intinya.


“Aku memakai sisa daging ayam di kulkas, tidak apa-apa, kan?”


“A-ah… tidak apa. Bukan itu maksudku! Yang ingin kutanyakan bukan soal itu…!”


“Alasan aku datang ke rumah senpai?”


“Benar. Ayahku baru saja mengatakan sesuatu yang konyol. Shirasu pasti mendengar hal yang sama, bukan? Bahwa aku dan… yah… kita dijadikan tunangan.”


“Apakah itu bahasa Kyoto untuk ochazuke?”

“Bukan, itu bubu-zuke.”


Tak kusangka Shirasu akan melontarkan candaan. Bisa langsung menanggapinya saja sudah merupakan sebuah keajaiban. Mendengar jawabanku, Shirasu tersenyum puas.


“Tenang saja. Yang sedang kumasak ini bukan bubu-zuke. Lagipula aku tidak akan berkata ‘bagaimana kalau Anda makan dulu?’ seperti orang Kyoto.”


Bahasa Kyoto yang kacau pun terdengar lucu dan menghangatkan hati saat Shirasu yang mengucapkannya. 


Tidak, aku tidak boleh larut dalam ritmenya. Tetap fokus!


“Kenapa aku harus disuruh pulang di rumahku sendiri? Jangan menumpuk candaannya. Pembicaraan tidak akan maju.”


“Senpai itu lucu ya. Seperti drum yang langsung berbunyi setiap dipukul. Boleh aku menggodamu lebih banyak lagi?”


Kepalaku sakit. 


Jadi begini aslinya anak perempuan dari keluarga kaya besar? Kalau benar begitu, sebutan dewi atau malaikat yang diberikan orang-orang selama ini akan runtuh seketika.


“…Setidaknya jawab dulu pertanyaanku.”


“Fufu. Aku hanya bercanda. Soal tunangan itu, jawabannya adalah ‘ya’. Aku juga terkejut saat tiba-tiba dapat pesan dari ayah.”


“Begitu, ya…”


Aku tidak ingin bicara buruk tentang orang tua orang lain, tapi 

memutuskan pasangan hidup putrinya hanya karena sedang mabuk jelas tidak waras.


“Aku sampai hampir tertabrak mobil karena kaget, lho.”


“Jadi itu alasan kamu berhenti di tengah-tengah zebra cross!?”


“Aku datang ke rumah senpai untuk mengucapkan terima kasih karena telah menyelamatkan nyawaku, dan juga meminta maaf karena membuatmu terluka.”


Aku ingin mengatakan, “Sudah, pulang saja,” tapi kata-katanya dan sorot matanya yang serius membuatku tidak bisa melakukannya.


“Senpai mengalami cedera parah karena aku bermain ponsel sambil berjalan. Lalu senpai juga menyelamatkan nyawaku… mana mungkin aku tidak melakukan apa-apa.”


Sebenarnya ini bukan cedera parah, tapi karena tanganku terbalut dan disangga, apa pun yang kukatakan tidak akan dipercaya.


“Bukan soal itu harus kamu pikirkan. Justru karena aku tidak ingin kamu khawatir maka aku pergi dari tempat itu…”


“Bagaimana mungkin aku tidak khawatir!? Nyawaku diselamatkan, tahu!”


Sambil berkata begitu, Shirasu keluar dari dapur dan mendekat dengan gerakan cepat. Aromanya hampir membuatku goyah, tapi karena dia masih memegang pisau, justru itu membuatku tetap sadar.


“T-tidak perlu dilebih-lebihkan. Lagipula kita sudah saling memperkenalkan diri di tempat kejadian, jadi tidak perlu sampai datang menyerbu ke rumahku, kan?”


“Jadi senpai lebih suka kalau aku menyerbunya ke sekolah, bukan ke rumah?”


“…Tolong jangan lakukan itu.”


Jika Shirasu tiba-tiba muncul di kelas dan memanggil namaku, hari itu pasti akan menjadi hari kematianku. Dan penyebabnya tak lain adalah sahabatku sendiri.


“Haa… baiklah, kembali ke topik. Kamu dapat alamat rumahku dari siapa?”


“Dari ayah. Setelah kecelakaan itu, ayah mengirim pesan: ‘Di rumah itu tinggal tunangan Yuika, pergilah untuk memberi salam.’”


Menurut Shirasu, saat itulah untuk pertama kalinya ia mengetahui bahwa nama tunangannya adalah “Midou Tomoya”, dan bahwa orang itu ternyata sama dengan diriku yang menyelamatkannya dari kecelakaan itu. Lalu ia segera pulang, mengemasi barang-barangnya, dan datang ke sini hanya bermodalkan alamat yang diberikan. Benar-benar makhluk berhantu kemampuan bertindak luar biasa.


“Shirasu, apa kamu benar-benar tidak keberatan? Tunangan yang diputuskan begitu saja oleh para pemabuk karena suasana dan dorongan sesaat, apa itu tidak membuatmu kesal?”


“Tentu saja, kalau ditanya apakah aku setuju atau tidak, jawabannya tidak setuju. Tapi itu dan hal ini adalah dua hal yang berbeda.”


“...Beda bagaimana?”


“Tentu saja berbeda karena aku harus membalas budi kepada senpai!”


Shirasu melangkah lebih dekat lagi dengan gerakan yakin. Dua buah “buah segar” yang montok menekan tubuhku, membuat jantungku berdetak keras. Namun ia tampak sama sekali tidak menyadarinya, bahkan mengembungkan pipinya seolah merajuk.


“Bisakah Anda membiarkan saya bertanggung jawab? Tidak, tolong biarkan saya bertanggung jawab!”


“Ta–tanggung jawab apa… Shirasu, kamu sadar tidak dengan apa yang sedang kamu katakan?”


Bahwa ia menerima perjodohan itu sebagai bentuk penebusan karena aku menyelamatkan nyawanya dan membuatku terluka… semoga bukan itu yang ia maksud.


“Sampai cedera senpai sembuh, aku akan mengurus segala kebutuhanmu. Tidak, tolong biarkan aku melakukannya!”


“...Hm? Mengurus?”


“Ya, mengurus! Ah, atau jangan-jangan senpai mengira aku akan bilang ‘Kalau begitu aku akan bertanggung jawab dengan menjadi istrimu!’ Begitu, kan? Begitu, kan!?”


“Tidak, ti-ti-tidak! Aku sama sekali tidak, bahkan sedikit pun, seujung kuku pun tidak memikirkan hal itu!”


Aku mati-matian menyangkal, tetapi Shirasu menyeringai lebar. Senyumnya benar-benar seperti malaikat yang berubah pekerjaan menjadi iblis kecil. Tidak kusangka ia bisa menunjukkan ekspresi seperti ini. Shirasu Yuika… gadis yang mengerikan.


“Nishishi. Senpai, ternyata kamu punya sisi manis yang tidak terlihat dari penampilanmu. Kalau aku jadi istrimu, kamu akan senang?”


“Guh…”


Tidak kusangka aku benar-benar akan mengeluarkan suara seperti karakter komik. Koushirou pernah menggambarkan Shirasu sebagai “gadis yang punya wujud seperti kesucian itu sendiri”, tetapi sepertinya itu hanya satu sisi dirinya. Bahkan ada kemungkinan itu hanyalah topeng.


“Bagaimana, senpai? Kalau kamu menjawab dengan jujur, aku akan memberimu banyak ‘servis’, lho.”


Jelas sekali dia sedang kelewatan dan menikmati menggodaku. Lebih parah lagi, alih-alih marah, aku malah merasa sikap kekanak-kanakan itu lucu. Tapi aku juga tidak mau hanya jadi korban. Sekali-sekali harus membalas.


“Benar, tepat sekali. Aku pikir aku akan bahagia kalau Shirasu menjadi istriku! Puas?”


“Ya… ya… a-aku puas desyu.”


Wajah Shirasu memerah sampai ke telinga, seakan-akan terdengar suara ceret mendidih pshhuuu. 


Menggodaku dulu, tapi ternyata mentalnya serapuh itu. Tingkat kelucuannya sebagai makhluk hidup terlalu tinggi.


“Tidak, bukan waktunya puas! Senpai! Bahkan bercanda pun ada batasannya! Jangan bilang hal seperti itu sembarangan kepada orang lain! Mengerti!?”


“O–ouu… baiklah. Akan kuusahakan tidak mengatakannya.”


Aku terkejut dengan betapa cepat ia berubah menjadi galak. Kalau aku bilang padanya bahwa aku tidak punya siapa pun untuk mengatakannya, aku penasaran apa reaksinya. Tapi tidak perlu sengaja menginjak ranjau yang terlihat jelas.

“Ehem! Jadi begitulah! Senpai yang bahkan kesulitan membuka pintu jangan banyak protes dan biarkan aku merawatmu sampai sembuh!”


Dengan tekanan terakhir “Mengerti?”, aku akhirnya mengangguk dengan pasrah. Perdebatan tidak akan berguna. Apa pun yang kukatakan, tekad Shirasu tidak akan berubah.


“Bagus! Kalau begitu, hingga makan malam siap, silakan duduk santai di sofa! Sudah hampir selesai!”


“Baik. Maaf merepotkanmu, Shirasu.”


“Tidak, tidak. Seharusnya aku yang berkata begitu. Sampai cedera senpai sembuh, aku akan melayanimu sepenuh hati!”


Shirasu berkata sambil memberi salam hormat dengan wajah ceria, namun pilihan katanya sangat bermasalah. Aku mulai curiga ada dalang di balik layar yang mengendalikannya.


“...Jangan bilang ‘melayani’ ke orang lain, mengerti?”


“......? Maksudnya apa? Aku tidak akan mengatakannya kepada siapa pun selain senpai.”


“Itu juga masalah besar, sebenarnya…”


Dengan kepala miring dan tatapan polos “Memangnya tidak wajar?”, ia membuatku ingin memegangi kepala untuk entah ke berapa kalinya hari ini. Lagipula tingkat rasa suka atau kepercayaan Shirasu kepadaku terlalu tinggi. Bahkan tanpa membahas soal membalas budi, ia menerima perjodohan ini terlalu mudah. 


Mungkinkah rasa familiar yang kurasakan saat pertama kali melihatnya bukan sekadar perasaan? Mungkin kami pernah bertemu sewaktu aku masih kecil—misalnya saat ibu masih hidup? 

Tidak, tidak mungkin. Aku menggeleng, mengusir pikiran konyol itu.


“Oh iya, Shirasu. Terakhir, boleh tanya sesuatu?”


“Tentu! Apa pun yang senpai tanyakan akan kujawab!”


Sejenak terlintas di kepalaku pertanyaan konyol seperti ukuran tiga lingkar atau warna pakaian dalamnya. Dan menakutkannya… dia terlihat seperti orang yang akan menjawabnya dengan polos. Bahkan mungkin pakaian dalam juga—tidak, hentikan. Aku batuk kecil untuk mengusir pikiran itu.


“Apa isi koper besar yang kamu bawa tadi?”


Apron bermotif yang ia kenakan bukan milik rumahku, jadi kemungkinan itu barang pribadinya. Dan dari caranya bicara tentang ‘mengurusku’, aku menduga di dalamnya terdapat banyak perlengkapan rumah tangga. Pasti bukan perlengkapan menginap seperti piyama… bukan, kan?


“Fufu. Sudah jelas, kan? Itu adalah perlengkapan yang diperlukan untuk tinggal di sini dan melayanimu mulai hari ini. Tentu saja baju ganti juga ada!”


“...Baiklah. Dimengerti. Kalau begitu, pulanglah sekarang juga.”



Hormatku,

Kepada Ibu yang berada di surga.

Karena ayah yang Ibu cintai itu, aku sekarang berada dalam situasi paling gawat dalam hidupku.

Apa yang harus kulakukan? Tolong beri tahu aku.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close