Penerjemah: Miru-chan
Proffreader: Miru-chan
Chapter 6
Setelah mengantar Nanase-san pergi dan masuk ke rumah, aku membaringkan Shirasu di ranjang. Meski merasa sedikit tidak enak karena ia masih memakai pakaian yang sama, apa boleh buat—dia tumbang karena kurang tidur setelah begadang semalaman seperti anak SD yang bersemangat sebelum karyawisata.
“...Huh? Ini… di mana? Jangan-jangan ini rumah Senpai, bukan?”
Shirasu membuka mata dengan bingung. Saat kupapah tadi dia masih setengah tertidur, tapi sepertinya sekarang sudah benar-benar sadar.
“Ya, kalau itu yang kamu maksud, ini memang rumahku. Kenapa? Ada masalah?”
“Ti–tidak mungkin… padahal malam ini aku berencana menginap di hotel dengan pemandangan malam yang indah…! Kupikir kalau suasananya mendukung, Senpai mungkin akan memelukku erat… atau aku bisa tidur sambil dipeluk lagi seperti waktu itu… tapi kenapa…!?”
Dengan wajah sebal, Shirasu menggigit bibirnya. Kalau sedang dalam kondisi normal, mungkin sudah ku-tepuk ringan kepalanya untuk menegurnya.
“Aku sampai sudah meminta Nanase-san mengurus pemesanan hotel dan antar-jemputnya, sudah kupersiapkan semuanya… tapi kenapa kita malah ada di rumah!?”
“Ngomong-ngomong, Nanase-san tidak menyebutkan kata 'hotel' sedikit pun, tahu?”
“Tidak mungkin!? Jadi Nanase-san mengkhianatiku!? Padahal dia bilang, ‘Tenang saja, aku akan memesankan hotel terbaik!’!”
Setelah itu Shirasu menarik selimut sampai menutupi kepalanya seperti siput. Aku bahkan tidak tahu kalau dia merencanakan sesuatu seperti itu di belakangku. Untuk kali ini, aku justru harus berterima kasih pada Nanase-san.
“Uuuh… maaf, Senpai. Karena aku tidak becus, akhirnya kita cuma pulang seperti biasa…”
“Tidak perlu minta maaf. Lagipula, dibanding tiba-tiba dibawa ke hotel, aku lebih suka bisa bicara dengan tenang sama Shirasu seperti ini.”
“Bicara…?”
Perlahan Shirasu mengintip dari balik selimut. Kelucuannya seperti seekor hewan kecil, membuatku tanpa sadar tersenyum dan mengusap kepalanya dengan lembut.
“Ya. Soal hal penting… tentang aku dan Shirasu, dan tentang apa yang akan terjadi mulai sekarang.”
Tubuh Shirasu bergetar kecil. Pupilnya membesar; aku bisa melihat jelas ia sedang tegang. Tapi sejujurnya aku tidak jauh berbeda—jantungku berdebar begitu keras sampai aku takut suaranya terdengar.
“Eeh… jadi maksudnya… itu, ya? Karena cederamu sudah sembuh, jadi kamu ingin mengakhiri hubungan ‘istri yang datang merawat’ itu?”
Nada suara Shirasu kehilangan emosi. Ia langsung menutup kepalanya lagi dengan selimut, seolah menolak mendengar kelanjutannya.
“Sebelum kita masuk ke situ, ada satu hal yang harus aku ceritakan pada Shirasu.”
“...Apa itu?”
“Sebetulnya… ada sebagian ingatanku ketika kecil yang hilang.”
“...Eh? Apa maksudnya itu!?”
Mendengar pengakuanku yang tiba-tiba, Shirasu kembali bangkit sambil menyingkap selimut dengan gerakan cepat, lalu duduk bersimpuh di atas ranjang. Wajar saja dia kaget mendengar aku tidak mengingat sesuatu.
“Senpai, apa kamu mengalami amnesia!?”
“Tidak sampai separah itu. Hanya sebagian kecil, dan aku bahkan tidak pernah memusingkannya sampai baru-baru ini.”
Selama ini aku bahkan tidak pernah menceritakannya kepada siapa pun, apalagi meminta nasihat. Tapi saat aku mengobrol lewat telepon dengan Ayah, beliau hanya berkata, “Ahh, jadi memang begitu.”
“Itu karena… ingatan itu bukan sesuatu yang penting bagimu?”
Dengan alis mengerut dan suara yang terdengar sedih, Shirasu bertanya begitu. Aku mengusap kepalanya dengan lembut dan melanjutkan.
“Itu ingatan masa kecil. Hilang sedikit juga tidak mengganggu… yah, sebenarnya aku tidak mau mengingatnya lagi, itu alasan yang sebenarnya.”
“Tidak mau mengingat…?”
“Yang kulupakan itu adalah ingatan sekitar saat Ibu meninggal.”
Begitu aku mengatakan itu, wajah Shirasu langsung pucat. Seolah baru menyadari bahwa ia telah menginjak ranjau yang tidak seharusnya. Saat ia hampir terengah dalam kepanikan, aku memeluknya perlahan untuk menenangkannya.
“Waktu itu aku masih SD… Ibu meninggal. Aku sangat menyayangi Ibu. Tapi tiba-tiba Ayah bilang, ‘Kamu tidak akan bisa bertemu Ibumu lagi,’ dan aku tidak bisa menerimanya. Aku menangis setiap hari.”
Kemungkinan besar itulah penyebab hilangnya ingatan itu—jenis amnesia retrograde. Stres besar akibat kehilangan Ibu membuat pikiranku memblokir ingatan demi melindungi diri. Ayah bilang bahwa untuk beberapa waktu, aku bahkan lupa kalau aku pernah punya Ibu. Tapi seiring waktu dan pertumbuhanku, ingatan itu kembali dengan sendirinya.
“Maaf, Senpai… gara-gara aku, kamu jadi mengingat hal yang menyakitkan…”
Aku mengusap punggungnya yang kecil dan rapuh, mencoba menenangkannya.
“Tidak, jangan minta maaf. Justru berkatmu aku jadi bisa mengingat hal penting lainnya.”
“Ha… hal penting… apa itu?”
“Seorang gadis yang satu tahun lebih muda di sekolah dasar. Dia pindah sekolah saat aku kelas tiga.”
Di dalam pelukanku, Shirasu tersentak. Ia menatap wajahku dari bawah dengan ekspresi seperti anak kecil yang berharap menemukan mainan yang hilang.
“Anak itu berambut pirang. Kalau terkena sinar matahari, rambutnya berkilau… sangat indah. Mirip Shirasu.”
“Se… Senpai… itu berarti… jangan-jangan… aku—”
“Untuk bilang ‘sudah lama tidak bertemu’ rasanya terlalu terlambat, ya.”
Sebelum aku sempat berkata “Maaf sudah membuatmu menunggu”, Shirasu—atau tepatnya, Yuika-chan—memelukku erat.
“Hehehe… akhirnya Senpai mengingatku.”
“Tidak terpikir sedikit pun kalau gadis itu adalah Shirasu. Tapi ini… bukan kebetulan, kan?”
“Ya, bahwa aku menjadi tunangan Senpai itu… yaaah, sama sekali, mungkin, sepertinya, barangkali, maybe… kebetulan saja.”
Ucapan Shirasu sungguh tidak bisa dipercaya, sampai aku tertawa kecil. Tapi kalau ini memang rencana dia sejak awal, dia tidak akan sengaja hampir tertabrak mobil.
“Kalau semuanya memang rencanaku, Senpai tidak akan sampai cedera.”
“Yah, benar juga. Kalau sampai direncanakan sedetail itu, aku mungkin tidak bisa tidur nyenyak lagi.”
“Bayangkan saja, tiba-tiba aku dapat pesan dari Papa… ‘Apa kamu ingat Midou Tomoya-kun? Dia sudah menjadi tunanganmu!’ Kira-kira bagaimana reaksiku!”
“Ya tentu saja terkejut. Aku juga bereaksi sama waktu Ayah bilang seperti itu.”
“Itu reaksi yang normal. Tapi kalau tunanganmu itu adalah cinta pertamamu? Anak laki-laki pertama yang kamu sukai, yang tiba-tiba menghilang hampir sepuluh tahun lalu… bagaimana perasaanmu?”
Shirasu menatapku dengan mata yang sedikit basah. Untuk pertama kalinya, aku tidak bisa menjawab balik dengan candaan. Entah karena ia tahu perasaanku, atau justru sengaja menyudutkanku, Shirasu tersenyum kecil lalu menyandarkan kepalanya ke dadaku.
“Aku… waktu SD, sempat mengalami perundungan.”
“...Shirasu.”
Kali ini aku tidak panik seperti tadi. Alasannya sederhana: sebagian ingatan itu perlahan kembali.
“Anak-anak… terutama usia SD… kadang takut pada orang yang terlihat berbeda, kan? Warna rambut, warna mata. Meskipun itu bawaan lahir, tetap saja mereka bersikap menjauh atau bahkan memusuhi…”
“Setiap orang punya keunikannya masing-masing. Kedengarannya sederhana, tapi untuk anak-anak itu hal yang sulit dipahami.”
“Benar…” gumam Shirasu lirih, tampak sedikit sedih sebelum melanjutkan ceritanya.
“Rambut dan mataku ini… warnanya sama seperti milik Mama yang sangat kusayangi. Papa dan yang lainnya juga sering memujiku, bilang kalau aku cantik karena sama seperti Mama… dan aku sangat senang mendengarnya.”
Namun begitu ia masuk SD, rambut indah itu justru dianggap aneh, membuatnya menjadi sasaran empuk untuk dirundung.
“Aku masih ingat dengan jelas. Mereka bilang aku menjijikkan, anak iblis… hampir setiap hari. Karena itu aku terus memakai topi.”
“Shirasu…”
“Aku tidak tahan, jadi aku bertanya pada Mama, ‘Kenapa rambutku tidak hitam?’ Lalu Mama menatapku dengan wajah yang sangat sedih, dan berkata, ‘Maaf ya…’”
Hal yang tadinya membuat bahagia bisa berubah menjadi siksaan bila setiap hari dihina. Bukan salah Shirasu, bukan pula salah ibunya. Itu akibat ketidaktahuan anak-anak… dan kelalaian orang dewasa yang tak menjelaskan bahwa itu hanyalah bagian dari kepribadian.
“Tapi suatu hari… saat aku sedang meringkuk di taman karena topiku dirampas, ada seorang anak laki-laki yang datang dan memujiku. Katanya rambutku ‘seperti permata, sangat indah’. Dia bilang dia suka karena rambutku berkilau.”
“…………”
Aku bisa merasakan wajahku—bahkan seluruh tubuhku—memanas karena malu. Saat menyadari bahwa mimpi yang kulihat belum lama ini ternyata bukanlah mimpi, rasanya aku ingin menghilang saja dari dunia.
“Tidak lama setelah itu, aku tahu kalau anak laki-laki itu tinggal di dekat rumah kami dan usianya setahun lebih tua…”
“Dan tanpa sadar, kita mulai sering bermain bersama di taman.”
Keesokan harinya, aku melihat gadis itu bermain sendirian di ayunan di taman dan akhirnya kami bermain bersama. Meskipun hanya sebentar sampai matahari terbenam, melihat senyumnya membuatku bahagia waktu itu.
“Sekolah tetaplah menyiksa… tapi sepulang sekolah aku bisa bertemu dia. Waktu itu saja sudah sangat membahagiakan, sampai aku merasa ingin terus bersamanya. Fufu… anak kecil memang sederhana, ya.”
“Yah… memang begitu biasanya anak-anak.”
Aku pun dulu ingin selalu bersama Ibu.
“Makanya waktu dia tiba-tiba menghilang, aku bingung. Papa dan Mama bilang mereka tidak tahu. Aku sedih… kenapa dia pergi tanpa mengatakan apa pun? Sedikit marah juga.”
“Maaf…”
“Kalau suatu hari kami bertemu lagi, aku ingin mengucapkan terima kasih dengan benar. Itu yang membuatku terus berusaha. Meskipun begitu… saat akhirnya bertemu, dia tidak mengingatku. Itu menyakitkan, tahu?”
Shirasu mengembungkan pipinya kesal. Dan aku memang tidak bisa membantah. Tapi biarkan aku memberi satu pembelaan diri.
“Yah… sekalipun aku tidak kehilangan ingatan, mungkin aku tetap tidak mengenalimu.”
Kalau tiba-tiba ada gadis datang dan berkata “Aku anak SD yang dulu kamu tolong!”, bukannya tersentuh, aku pasti kebingungan.
“Muu… kenapa begitu?”
“Itu jelas. Karena Shirasu berubah menjadi jauh lebih cantik sejak SD.”
Dalam waktu yang tidak lama, ia tumbuh dewasa—posturnya menjadi lebih dewasa, wajahnya memikat, dan ia berubah menjadi gadis cantik yang cukup untuk membuat siapa pun terpesona hanya dengan satu pandangan. Meski warna rambut dan matanya masih memberi sedikit jejak masa kecil, tidak mungkin aku langsung sadar kalau ia datang untuk ‘membalas budi’.
“Senpai… akhir-akhir ini Senpai jadi playboy ya. Tidak mungkin Senpai mengatakan gadis lain itu cantik juga, kan?”
“Aku hanya mengatakannya kepada orang yang benar-benar aku pikir cantik. Dan aku juga tidak akan memeluk gadis lain sembarangan seperti ini.”
“Kalau begitu… ini berarti aku satu-satunya, ya?”
“...Jangan membuatku mengatakannya, dasar bodoh.”
“Ehehe. Aku senang sekali, Senpai.”
Seperti anak kucing yang manja, Shirasu menggesekkan kepalanya ke dadaku. Tentu saja aku tidak akan mengatakannya, tapi setiap kali ia seperti ini, naluri untuk melindunginya selalu muncul.
“Senpai… kalau boleh… aku ingin… melanjutkan ini. Apa… boleh?”
“……!? K-khh!?”
Dengan tatapan serius, ia menatapku. Dari suasananya… “melanjutkan” yang ia maksud… apa itu yang kupikirkan? Sebagai tunangan, mungkin wajar? Tidak, tapi rasanya ada banyak tahapan yang dilewati—
“Memang cedera Senpai sudah sembuh… tapi bolehkah aku tetap menjadi ‘istri yang datang merawat’? Aku tidak ingin hubungan kita berakhir begini.”
Ah. Ternyata soal itu. Aku menghela napas dalam hati. Ada perasaan lega, ada sedikit kecewa, ada perasaan bingung—campur aduk.
“Tidak… boleh, ya?”
“...Boleh. Aku juga… merasa rumah lebih ramai dan menyenangkan kalau Shirasu ada.”
Selama ini, tinggal sendirian di rumah besar yang hampa tanpa orang tua tidak pernah terasa sepi atau menyakitkan.
Tapi sejak Shirasu mulai datang, suasananya berubah total. Seperti gambar hitam-putih yang tiba-tiba diwarnai cerah. Meskipun aku ingin ia berhenti mencoba menggoda dengan trik yang diajarkan Nanase-san atau menyerbu kamar mandi atau mencoba tidur bersamaku—itu tetap membuat suasana hidup. Dan jika semua itu hilang… aku merasa ngeri membayangkannya.
Tentu saja, aku tidak akan mengatakannya padanya—itu memalukan.
“Ehehe… terima kasih, Senpai! Walau aku masih banyak kekurangan, mulai sekarang… mohon bimbingannya!”
“Ya. Kuharap kau bisa memperlakukanku dengan lembut.”
Ini bahkan sudah lewat tahap pengakuan, benar-benar seperti lamaran. Tapi kalau kau tanya apakah ada pilihan lain selain mengiyakan, jawabannya jelas: tidak. Sejak awal aku sudah kalah.
“Omong-omong, Senpai… bagaimana dengan malam ini?”
“Hm? Maksudmu malam ini?”
“Aduh… jangan buat aku mengatakannya. Ini malam pertama, Senpai. Malam pertama. Malam istimewa ketika sepasang kekasih yang telah terikat takdir… berbagi ‘yang pertama’ bersama. Kita akan melakukan sesuatu yang spesial, kan?”
Sambil berbicara, Shirasu menatapku dengan penuh harapan. Sementara itu, aku mendongak ke langit dan dalam hati mengklikkan lidahku pada Nanase-san, yang sekarang ini pasti sedang memasang senyum lebar sambil memberikan acungan jempol.
“Nanase-san bilang begini: ‘Kalau hari ini kamu akhirnya terikat dengan senpai yang kamu suka, malamnya harus benar-benar minta dipeluk, ya.’ Itu berarti… ya, begitu kan maksudnya?”
Dengan pipi yang memerah, Shirasu menimpakan berat tubuhnya padaku, mendorongku hingga terbaring dan kemudian duduk di atas perutku. Tempat tidur berderit pelan.
Malam yang tenang. Cahaya bulan yang jernih mengalir masuk melalui jendela, dan tirai kesunyian turun di kamar tidur tempat hanya kami berdua berada. Suara detak jantung terdengar sangat keras dan mengganggu. Aku tak tahu apakah itu bunyiku atau bunyi jantung Shirasu.
“Shi,Shirasu-san…? Apa kamu sungguh-sungguh mengatakan semua ini?”
“Ya, aku sungguh-sungguh. Malam ini aku ingin dipeluk oleh Senpai. Boleh, bukan?”
Dengan wajah yang meleleh seperti sedang mabuk rasa, Shirasu perlahan menurunkan tubuhnya.
Aroma, kehangatan, dan kelembutannya memenuhi seluruh inderaku. Bahkan rasanya seperti kelima indraku lebih peka dari biasanya, menangkap setiap detail dengan sangat jelas, sangat nyata.
“Ka-kalau Shirasu tidak keberatan, aku juga…”
“Benarkah? Aku senang sekali Senpai memasuki masa-masa manis seperti ini. Kalau begitu, malam ini kita tidur dalam satu futon, ya!”
“O-Oh… ya, benar juga.”
“Ehehe… akhirnya aku bisa tidur sambil memeluk Senpai sebagai bantal peluk. Senpai juga boleh menjadikan aku sebagai bantal peluk, tahu?”
“O-Oh? Hmm, bantal peluk?”
Entah kenapa, ada rasa tidak selaras yang mengganjal. Seperti ada sesuatu yang salah kaprah—seolah-olah pemahaman kami berdua sedang meleset jauh.
“Oh, tapi kita harus bilang pada Burung Bangau-nya untuk tidak datang, ya. Soalnya untuk kita yang masih SMA, punya anak itu terlalu cepat.”
“……Hah? Burung bangau? Anak? Tunggu sebentar. Shirasu, apa sebenarnya yang sedang kamu bicarakan?”
Aku mulai berdebar, tapi dalam arti yang berbeda. Satu hal yang jelas: ucapan “tolong peluk aku” yang tadi ia katakan benar-benar bermakna harfiah, bukan kiasan.
“Eh? Senpai tidak tahu? Kalau laki-laki dan perempuan yang saling mencintai tidur bersama, Burung Bangau akan datang dan membawa bayi.”
“…Shirasu. Siapa yang memberitahumu hal itu?”
Tidak kusangka, sudah SMA tapi masih percaya bayi dibawa burung bangau. Memang imut dan polos, sangat Shirasu sekali… tapi kalau keluarga mengirimnya sebagai calon tunangan, setidaknya ajari dulu hal-hal dasar. Kalau bukan aku, situasinya bisa gawat.
“Nanase-san, tentu saja… kenapa memangnya?”
Melihat Shirasu memiringkan kepala dengan polos, aku menahan desahan napas panjang lalu memegangi kepala.
Sepertinya aku harus benar-benar duduk berhadapan dengan maid tidak berguna itu dan bicara serius.
“Senpai… apa aku bilang sesuatu yang aneh? Kalau iya, tolong beri tahu aku. Aku akan belajar sungguh-sungguh!”
“Ah… iya, benar juga. Hmm, harus mulai dari mana ya…”
Aku bangkit dan mendudukkan Shirasu dengan manis di sampingku.
Demi bisa membangun hubungan yang sehat dengan nona kecil ini ke depannya, aku memutar otak habis-habisan untuk mencari cara penjelasan yang paling tepat.
Afterword
Salam kenal, atau mungkin sudah lama tidak berjumpa—aku Amane Megumi.
Terima kasih banyak karena telah mengambil dan membaca “Ketika Aku Menjadi Penyelamat Hidup Juniorku yang Tercantik di Sekolah, Ia Pun Menjadi Istri Pulang-Pergi dan Mulai Mendesakku untuk Menjalin Hubungan.”
Sampai sekarang aku lebih sering menulis kisah dengan heroine seangkatan, tetapi seperti yang tertulis pada judul, kali ini heroine utamanya adalah seorang adik kelas! Sifatnya yang enerjik, licik dalam cara yang lucu, namun tetap menyerang dengan pendekatan yang penuh gairah adalah ciri khas… seperti biasanya (?).
Menulis Shirasu Yuika—si heroine yang datang sebagai “istri pulang-pergi” dan terus menekan sang tokoh utama—sungguh sangat menyenangkan. Yang paling kusukai tentu saja bagaimana ia memanggil “Senpai!”—terlalu imut sampai-sampai aku sendiri ikut meleleh saat menulisnya (haha). Meski begitu, awalnya aku sempat kesulitan. Apa itu sosok “junior ideal yang super imut”!? Merenungkan hal itu kini menjadi salah satu kenangan yang manis.
Nah, sekarang tentang ilustrasi.
Untuk ilustrasi kali ini, aku bekerja sama dengan Tomo--sensei. Sejak lama aku ingin sekali beliau menggambar karyaku, jadi aku sungguh senang karena impian itu akhirnya terwujud!
Tidak hanya Yuika, beliau juga memberikan berbagai pilihan desain untuk karakter Mimasaka Iori. Memilih yang terbaik saja sudah sangat memusingkan. Hal yang sama terjadi dengan ilustrasi sampul—semuanya begitu bagus sampai aku dan editor sulit menentukan yang final. Ada banyak ilustrasi versi lain—seperti versi dengan dada terbuka—yang tidak dapat dipublikasikan, dan aku merasa sayang karena kalian tidak bisa melihatnya. Sebagai penulis, rasanya seperti hak istimewa, tapi aku sempat terpikir, seandainya suatu hari bisa membuat konten “proses pembuatan sampul” pasti akan menarik… tentu saja dengan izin Tomo--sensei.
Ngomong-ngomong (atau lebih penting dari itu?), apakah kalian sudah membeli bonus-bonusnya?
Tapestry dan acrylic stand sih sudah biasa. Tapi kali ini, mereka bahkan membuat sarung bantal dakimakura! Katanya, editor yang mengurus hal itu melakukannya diam-diam tanpa memberi tahu atasannya karena sadar ini sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya. Saat mendengarnya, aku sampai tertawa (memang begitu ya).
Halaman sudah hampir habis, jadi izinkan aku menyampaikan ucapan terima kasih.
Kepada semua pembaca yang membeli buku ini, serta semua pihak yang terlibat dalam proses penerbitannya—terima kasih banyak!
Dan seperti biasa, izinkan aku meminta satu hal terakhir.
Jika kalian ingin mendukung karya ini, bantu kami dengan:
— memposting laporan pembelian,
— membagikan kesan setelah membaca di media sosial,
— menulis ulasan,
— atau bahkan mengirimkan surat ke penerbit.
Kalau itu terjadi, apa manfaatnya?
Tenaga dan dukungan untuk karya ini (dan untukku sebagai penulis) akan meningkat, dan peluang untuk bisa menghadirkan volume 2 pun semakin besar.
Dengan tulus aku berharap dapat bertemu kalian lagi di volume kedua.
Amane Megumi
Tentang Penulis
Amane Megumi (あまね めぐみ)
Karya ini berawal dari obrolan santai bersama editor:
“Situasi di mana seorang gadis lebih muda datang setiap hari sebagai istri pulang-pergi itu memang bikin gemas, ya?”
Dari situlah heroine pertama dalam sejarah tulisanku yang merupakan adik kelas—dan berambut pirang—lahir.
Untuk catatan: rambut pirang adalah “fetish” dari editor O, sementara big breasts adalah fetish-ku.
Tomo--sensei menggambar heroine yang sangat imut! Seragam, pakaian kasual, maid, bahkan bunny suit—semuanya lengkap! Silakan nikmati ilustrasi dan ceritanya bersama-sama!
Ilustrator
Tomo-
Halo! Aku Tomo-!
Kali ini adalah kisah rom-com sekolah yang disukai semua orang!
Sangat cocok untukmu yang saat ini sedang “kehabisan suplai istri pulang-pergi”!
Karena ada banyak gadis imut yang tampil dalam karya ini, aku sangat menantikan kesempatan untuk mendandani mereka dengan berbagai macam kostum…!
Previous Chapter | ToC |




Post a Comment