NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Gakuen ichi Kawai Kouhai no Inochi no onjin ni nattara, Kayoidzuma ni natte Kankei wo sematte kuru V1 Chapter 5

 Penerjemah: Miru-chan

Proffreader: Miru-chan


Chapter 5


“Senpai! Selamat atas kesembuhan total cedera lenganmu!!”


Sepulang sekolah. Ketika aku pulang dari rumah sakit yang kukunjungi seusai kelas, aku langsung disambut Shirasu yang mengenakan pakaian rumahan sambil menyalakan cracker dengan bunyi paaaan!.


"…Terima kasih, Shirasu."


Karena dihujani serpihan kertas tepat di wajah secara meriah, rasa kesal lebih kuat daripada rasa senang. Apalagi ini serangan mendadak di depan pintu masuk, jadi aku tak bisa menahan wajah masam.


"Ahaha… maaf, Senpai. Apa aku terlalu berlebihan?"


"Jangan tanya sambil seolah-olah ragu. Itu lebih dari cukup berlebihan."


Sambil menepuk-nepuk rambutku yang dipenuhi serpihan kertas warna-warni, aku melepas sepatu dan masuk. Kalau biasanya aku pasti marah atau setidaknya mengeluh, tapi hari ini berbeda. Bahkan aku mungkin bisa mengucapkan rasa terima kasih karena dia sudah merayakannya.


Sebab tangan kananku yang dibalut perban akhirnya bebas. Meski sebenarnya rasa sakitnya sudah hilang sejak lama, penyembuhannya terasa sangat terlambat.


"Tapi tapi! Pokoknya, akhirnya kedua tangan Senpai bebas, ya! Bagaimana perasaannya sekarang!? Tolong ceritakan pada kami!"


Shirasu menyodorkan tanganku seperti mikrofon. Dia benar-benar seperti seorang pewawancara. Sementara aku merasa seperti selebritas yang sedang diinterogasi soal skandal.


"Rasanya haru sekaligus lega. Aku tak menyangka kalau tidak bisa memakai satu tangan itu sebegitu merepotkannya."


Ikut menyesuaikan situasi, aku menjawab seolah sedang diwawancarai. Shirasu sempat berkedip kaget, lalu tertawa kecil.


"Kenapa kamu tertawa? Sepertinya aku tidak mengatakan hal aneh."


"Ufufu. Soalnya, aku tak menyangka Senpai akan menjawabnya dengan semangat seperti itu. Apa mungkin sebenarnya Senpai itu orangnya cukup jenaka?"


"Hahaha. Mana mungkin. Aku hanya menyesuaikanmu. Lagipula aku bilang kan? Hari ini aku sedang dalam suasana hati yang bagus. Lengan ini akhirnya sembuh."


"Begitu yaaa. Senpai sedang dalam suasana hati yang baik ini yaaa."


Sambil mengangguk-angguk puas, Shirasu tersenyum lebar. Jelas sekali dia merencanakan sesuatu. Tapi menanyakannya malah akan membuat masalah, jadi lebih baik bersikap tak melihat, tak mendengar, tak berkata apa pun.


"Kalau begitu! Untuk merayakan kesembuhan Senpai, malam ini kita berpesta meriah! Semua persiapan sudah selesai!"


"Itu keputusan sepihak… tapi ya sudahlah."


Seperti biasa, dia bertindak tanpa berdiskusi dulu. Hanya untuk sebuah cedera yang sembuh, ini jelas terlalu berlebihan, tapi kalau semua sudah disiapkan, tak ada gunanya protes.


"Loh? Kukira Senpai akan marah atau mengeluh… suasana hati Senpai terlalu baik, sampai agak menakutkan."


"…Aku ini menurutmu apa, sebenarnya."


Aku hanya bisa menghela napas. Aku tidak setega itu untuk menolak niat baik seseorang.


"Kalau harus kujelaskan dengan singkat… mungkin Tsundere?"


"Kapan aku pernah dere kepadamu? Tapi sebelum aku jelaskan, aku mau ganti baju dulu, jadi tunggu sebentar, ya?"


"Begitulah contohnya, Senpai. Ah… maaf. Karena aku terlalu fokus mempersiapkan perayaan, aku sampai lupa sesuatu yang penting."


Pak! Shirasu menepuk kedua tangannya. Aku sempat ragu apakah harus bertanya atau tidak, dan setelah beberapa detik berpikir, aku memutuskan untuk mengabaikannya dan menuju tangga. Namun sebelum sempat naik, Shirasu buru-buru menarik ujung lengan bajuku.


"Mau ke mana, Senpai? Apa Senpai tidak tertarik mengetahui apa yang aku lupakan?"


Dia bertanya sambil tersenyum. Wajahnya terlihat manis, tapi matanya sama sekali tidak ikut tersenyum. Justru itu yang membuatnya menyeramkan.


"…Boleh aku tahu apa yang kamu lupakan?"


Melawan Shirasu dalam mode seperti ini tidak ada gunanya. Kalau terus diabaikan, dia akan merajuk dan itu lebih merepotkan. Menjadi "istri yang setiap hari datang ke rumah" memang membuat seseorang lebih memahami pola perilakunya.


"Saat menyambut Tuannya yang pulang setelah menyiapkan perayaan, pakaian seperti ini tidak cocok. Seharusnya aku memakai seragam Maid! When in Rome, do as the Romans do!"


"Itu jelas penggunaan pepatah yang salah. Dan justru bagus kamu tidak memakai seragam Maid."


"Eeeeh!? Kenapa? Waktu aku memakainya dulu, Senpai terlihat sangat bersemangat!"


"Jangan memutarbalikkan fakta. Aku memang lebih bersemangat, tapi bukan berarti aku ‘terangsang’."


Seragam Maid Shirasu memang sangat menggemaskan. Kalau ditanya ingin melihat lagi atau tidak, tentu jawabannya: ingin. Namun ada alasan kenapa aku menolak.


"Shirasu itu bukan pelayanku, tapi istri yang setiap hari datang merawatku. Jadi aku lebih suka kamu memakai pakaianmu yang sekarang."


“Se–senpai bodoh! Dasar penipu alami, buaya darat! Kamu tidak mengatakan hal seperti itu dengan enteng kepada gadis lain selain aku, kan!?”


Entah kenapa, dengan wajah memerah sampai telinganya, Shirasu mendekat cepat ke arahku.


“Bagaimana, Senpai!? Jangan-jangan… kamu mengatakannya pada Mimasaka, Onee-san itu, kan!?”


Dengan sikap seolah-olah hendak mencengkram kerahku, Shirasu menuntut penjelasan. Kenapa tiba-tiba nama Mimasaka muncul di sini…?


"Pada Mimasaka? Hahaha! Mana mungkin aku mengatakan hal seperti itu padanya, bahkan sebagai bercandaan."


"Benarkah!? Senpai bisa bersumpah tidak akan pernah mengatakannya di masa lalu, masa kini, maupun masa depan!? Lihat mataku dan bersumpahlah!!”


“Tenang dulu, Shirasu. Baik di masa lalu maupun sekarang, mana mungkin aku mengatakannya pada selain kamu!”


“Lalu di masa depan! Bagaimana dengan masa depan!? Justru masa depan itu yang lebih penting!”


“Kamu memaksa sekali!? Bahkan di masa depan pun aku tidak berniat mengatakannya! Lagipula, aku dan Mimasaka bukan tipe hubungan yang akan saling mengatakan hal begitu, dan ke depannya juga tidak akan jadi begitu!”


“Kalau begitu, berarti hanya kepada aku saja, kan!? Kalau bohong, siap-siap minum seribu jarum dan melakukan sujud bakar, ya!”


“Seram banget, hei!?”


Padahal tak seorang pun tahu apa yang akan terjadi di masa depan, tapi ucapan Shirasu benar-benar keterlaluan. 


Meski aku tidak mengatakannya pada Mimasaka, setelah lulus SMA pasti akan ada berbagai pertemuan menunggu di masa depan. Janji seperti ini sungguh tidak masuk akal. Hanya satu hal yang benar-benar jelas.


“Aku tidak akan mengatakannya pada selain kamu, dan tidak berniat mengatakan pada orang lain. Ke depannya aku pasti akan bertemu banyak orang, tapi aku rasa aku tidak akan menemukan seseorang yang lebih dari kamu.”


“Itu… maksudnya apa?”


Shirasu yang tadinya menggebrak malah terdiam dan menatapku bingung. Dia sering menyebutku keras kepala dan bebal, padahal Shirasu sendiri jauh lebih keras kepala dan polos.


“Aku bilang, tidak ada gadis yang lebih imut dan lebih cantik daripada kamu. Jangan paksa aku mengucapkan hal memalukan seperti ini.”


“Ba-baik… maaf…”


Shirasu menunduk dengan wajah memerah sampai seolah-olah keluar api. Melihat itu, aku ikut sadar pipiku juga terasa panas.


“Ba-baiklah! Pembicaraan ini sampai di sini! Mengerti!?”


“M-mengerti! Aku tunggu di ruang tamu, jadi cepat ganti baju dan menyusul ya!”


Setelah mengatakan sampai jumpa nanti, Shirasu melesat pergi seperti angin. Aku menunggu sampai pintu tertutup keras batan! baru kemudian jatuh berjongkok di tempat. Kalau ada lubang, aku ingin masuk. Kalau tidak ada, aku ingin menggali satu sekarang juga.


“...Rasanya malu sampai ingin mati.”


Aku benar-benar menyesal sudah mengatakan hal seperti itu. Sekali terucap, kata-kata itu sulit ditarik kembali. Apalagi dari reaksinya tadi, jelas sekali bahwa ‘maaf, tadi cuma bercanda hehe’ tidak akan pernah berhasil. Kalau aku mengatakannya, Shirasu pasti akan murka seperti api menyala.


“Kelamaan senang itu memang tidak baik.”


Setelah ini aku harus bersikap tenang. Dengan tekad itu, aku menaiki tangga menuju kamarku. Namun panas di pipi itu tak kunjung hilang. Aku bertahan hingga Shirasu yang tak sabar akhirnya menyerbu, tapi meski begitu, rasa panas itu tetap tidak padam.


*****


“Nee, Senpai. Akhir pekan nanti, mau pergi berkencan dengan aku?”


Saat aku sedang menikmati roast beef buatan Shirasu, dia tiba-tiba melontarkan topik yang mengandung kata-kata jauh lebih berbahaya dari biasanya.


“Begitu. Maksudmu ingin pergi ke suatu tempat, kan?”


“Bukan begitu! Ini bukan sekadar jalan-jalan, tapi kencan, oke? Jangan mengganti istilahnya!”


Shirasu langsung mengoreksi seakan itu hal yang wajar, tapi apa dia benar-benar paham bahwa jalan-jalan dan kencan itu mirip tapi berbeda? Bahkan untuk sekadar belanja saja, kalau disebut kencan, rasanya akan berbeda. Tepatnya: jadi gugup.


“Ya sudah, kita lewatkan dulu apakah itu jalan-jalan atau kencan. Ada yang ingin kamu lakukan?”


“Sebenarnya aku ingin bilang jangan melewatkan poin penting itu, tapi baiklah, kita lanjutkan dulu pembicaraannya. Intinya, aku punya barang yang ingin kubeli!”


Bam! Shirasu menepuk meja dan condong ke depan seperti seorang putri bangsawan. Kebetulan bajunya tidak berubah sejak saat ia menyambutku. Kupikir dia akan mengganti pakaian menjadi seragam maid, dan ternyata memang awalnya dia berniat begitu, tetapi…


『Ojou-sama, dalam hal seperti ini dinamika itu penting. Meski makanan enak, kalau dimakan terus-menerus ya jadi bosan, kan? Kurang lebih seperti itu maksudnya. 』


…begitu nasihat dari Nanase-san, sang maid. 


Nanase-san ingin mengatakan bahwa ada waktu yang tepat untuk mengenakan pakaian tertentu agar efeknya maksimal. Entah itu benar-benar tersampaikan pada Shirasu atau tidak.


“Setelah belanja, kita nonton film! Kebetulan film baru dari seri anime yang aku tonton setiap tahun sedang tayang! Dan selesai menonton pasti sudah waktunya makan malam, jadi kita makan di luar. Aku akan pesan restoran yang enak!”


“Kamu benar-benar sudah mempersiapkan semuanya, ya. Bahkan sebelum aku mengiyakan, rencana lengkapnya sudah jadi.”


“Tentu saja. Aku ini istri yang mengurus Senpai, kan? Saat Senpai sedang di rumah sakit, aku sambil memasak sambil memikirkan rencananya!”


Ia membusungkan dada dengan bangga. Untuk sesuatu yang dipikirkan ‘sambil memasak’, rencananya sangat rinci dan bahkan ada jadwalnya. Sulit dipercaya itu ide spontan. Dan yang lebih penting lagi—


“…ini benar-benar kencan, kan.”


“Makanya aku sudah bilang berkali-kali! Jadi, ya? Kamu mau berkencan denganku, kan?”


Aku dibuat bingung oleh tatapannya yang serius dengan mata berkaca-kaca. Rasionalitasku berkata menolak adalah keputusan aman, tetapi—


“Tolong kabulkan permintaan egoisku yang pertama dan terakhir ini, ya?”


“…Hm? Pertama dan terakhir?”


Permintaan egois? Rasanya dia sudah membuat banyak sekali, dan sebagian besar sudah kukabulkan. Mengizinkan dia menjadi semacam ‘istri yang mengurusku’ saja sudah contoh paling jelas.


“Jangan memotong pembicaraanku! Maksudku, aku ingin membuat kenangan yang tidak akan terlupakan!”


Bam! Shirasu kembali menepuk meja sambil menyuarakan keinginannya. Padahal bagiku sudah lebih dari cukup kenangan yang kami buat. Bahkan rasanya kalau meminta lebih lagi akan kena karma.


“Soalnya… soalnya… kalau luka Senpai sudah sembuh total, berarti tugasku sudah selesai, kan? Makanya aku ingin bermain sepuasnya dengan Senpai untuk terakhir kalinya. Itu tidak boleh, ya!?”


“…Begitu rupanya?”


Sepertinya ada hal penting yang kulupakan, tapi mengingat wajah Shirasu yang bukan hanya serius tapi juga penuh kesedihan, aku memilih diam.


“Lagi pula kalau dipikir-pikir, di rumah kita memang banyak menghabiskan waktu bersama, tapi kita tidak pernah pergi ke mana-mana, kan? Kita belum pernah benar-benar jalan-jalan keluar, kan!?”


“Ah… kalau dipikir lagi memang begitu.”


Walaupun tanpa pergi ke luar rumah kami sudah punya banyak kenangan: penampilan seragam maid, mandi bersama, tidur satu futon… pengalaman pekat yang tidak akan kulupakan seumur hidup. Tapi tampaknya baginya itu belum cukup.


“Aku tentu suka menghabiskan waktu santai di rumah bersama Senpai, kok! Tapi sesekali bersenang-senang di bawah matahari itu juga bagus, menurutku!”


“Dan yang sebenarnya?”


“Beri aku hadiah karena sudah merawat Senpai dengan sungguh-sungguh!”


“Jujur begitu bagus. Harusnya dari tadi bilang begitu.”


Memang sudah kuduga. 


Meski begitu, tanpa basa-basi pun aku tahu bahwa itu hanya salah satu dari beberapa alasan yang sama-sama tulus.


“Baiklah. Kalau begitu, akhir pekan ini kita berkencan.”


“Seperti peribahasa ‘ada waktunya memberi hadiah dan teguran’, kan? Jadi sesekali Senpai memberiku hadiah—tunggu. Senpai. Barusan bilang apa?”


“Kamu tidak dengar? Aku bilang kita kencan. Atau jangan-jangan kamu cuma bercanda?”


“Aku mau! Aku mau! Aku mau kencan dengan Senpai! Jangan bilang ‘tadi cuma bohong’ atau ‘cuma jebakan’, itu tidak akan kuizinkan! Tidak boleh ditarik kembali!”


Shirasu melompat-lompat kegirangan seperti atlet yang baru mendapat medali emas pertamanya. Buah dadanya yang mantap ikut bergoyang, dan entah kenapa aku jadi ingin melihatnya terus.


“Akhirnya Senpai mau menunjukkan sisi manisnya! Wah… perjuanganku menekan terus selama beberapa minggu ini terbayar!”


“Kamu juga perlu belajar kapan harus mundur, tahu?”


“Kalau orang lain, mungkin benar pepatah ‘kalau didorong dan gagal, cobalah menarik’. Aku pun akan begitu. Tapi kalau Senpai, itu tidak bisa! Kalau didorong dan gagal, ya tinggal kudorong sampai jatuh! Itu adalah strategi tak terkalahkan melawan Midou Tomoya!”


“...Itu juga hasil meniru dari Nanase-san sang maid, kan?”


Saat aku menatapnya dengan mata menyipit, Shirasu menjawab dengan semangat, “Exactly!”


Sungguh, wanita itu tidak mengajarkan hal yang benar-benar berguna. Kalau dia adalah maid yang melayani putri keluarga Shirasu, aku ingin dia setidaknya mengajarkan hal yang lebih wajar.


“Ah, hal kecil begitu jangan dipikirkan! Lebih penting kita detailkan rencana kencannya!”


“Baik, baik! Apa pun tentang rencana kencan, kita akan pikirkan bersama, jadi duduk dulu. Kita bahas setelah makan.”


“Kencan dengan Senpai♪ Kencan dengan Senpai♪ Ehehe… bajunya apa ya? Harus konsultasi dengan Nanase-san!”


Apa itu benar-benar ide bagus? Aku refleks mengangkat bahu. Jangan-jangan bukan hanya soal pakaian, Nanase-san akan memberi saran tentang pakaian dalam khusus juga. Tidak—bukan jangan-jangan, pasti. Meskipun, tentu saja, tidak akan ada situasi di mana Shirasu menampilkan itu padaku. Seribu persen tidak.


“Ngomong-ngomong, Shirasu. Barang yang ingin kamu beli itu apa? Baju musim panas?”


“Baju musim panas? Memang aku ingin itu juga, tapi kali ini yang ingin kubeli berbeda. Tepatnya—”


“Tepatnya?”


“—pakaian dalam baru! Lebih jelasnya, pakaian dalam khusus untuk memikat Senpai!”


Tak perlu dikatakan lagi bahwa aku kehilangan kata-kata. Kenapa mengajakku membeli barang seperti itu?


*****


“Wahhh—senang sekali cuacanya cerah, ya, Senpai!”


“...Iya, benar.”


Di bawah langit cerah tanpa satu pun awan, Shirasu meregangkan tubuh dengan wajah senang, seperti kucing yang berjemur.


Hari ini Shirasu mengenakan blouse putih dengan bagian bahu dan dada terbuka lebar, dilapisi cardigan tipis, dipadukan dengan rok mini dan stoking setinggi paha. Kesopanan dan daya tariknya tercampur dalam keseimbangan yang nyaris mustahil.


“Ada apa, Senpai? Kelihatannya lesu sekali?”


Berbanding terbalik dengan semangat Shirasu yang meledak sejak pagi, suasana hatiku justru turun drastis.


“Ah, aku tahu! Senpai pasti tidak bisa tidur karena terlalu bersemangat menunggu kencan ini, kan!? Karena kurang tidur makanya lesu, ya!?”


“Jangan samakan aku dengan anak SD yang tidak bisa tidur sebelum piknik.”


“Kalau aku sih… karena terlalu bersemangat hari ini, aku sama sekali tidak tidur!”


“Itu bukan sesuatu yang perlu dibanggakan.”


Hampir saja aku mengucapkan “itu menggemaskan,” tapi untung aku berhasil menahan diri. Menyenggol Shirasu yang sedang bersemangat hari ini sangat berbahaya.


“Memangnya kamu baik-baik saja tidak tidur? Jangan sampai pingsan saat menonton film nanti.”


“Tentu saja aman! Sebelum berangkat, Nanase-san memberiku minuman berenergi, jadi aku sudah meminumnya!”


“Itu bukan berarti aman, tahu?”


Ini benar-benar pertanda buruk. Setelah begadang, minum kafein dalam jumlah banyak untuk meminjam tenaga hari berikutnya jelas tidak baik untuk tubuh. Sekarang dia mungkin tidak merasa mengantuk karena adrenalin, tetapi begitu lengah sedikit saja, kelelahan itu pasti menyerang sekaligus. Kalau sampai harus menggendongnya pulang, itu akan jadi bencana.


“Senpai ini meremehkanku terlalu jauh, deh? Masa kamu pikir aku akan melakukan kesalahan fatal seperti tertidur saat kencan?”


“…un.”


“Kenapa kamu mengalihkan pandangan!? Meski aku agak payah, bukan berarti aku akan melakukan tindakan gila seperti terlelap pulas di tengah kencan!”


‘Percayalah pada aku, dong~’ kata Shirasu sambil mencengkeram lenganku dan menarik-nariknya. 


Aku ingin sekali percaya, sungguh, tapi dia tidak sadar bahwa setiap kali dia ribut begitu, dia sedang menghabiskan sedikit tenaga yang ia punya.


“Benar juga. Shirasu itu bukan anak ceroboh, jadi tidak akan tidur di tengah jalan, kan?”


“Aduh! Senpai tuh selalu begitu! Selalu memperlakukanku seperti anak kecil atau adik perempuan!”


Ketika aku menepuk kepalanya, Shirasu mengembungkan pipi sambil menghentak-hentakkan kaki seperti anak kecil yang ngambek.


“Sesekali lihat aku sebagai perempuan, dong! Atau lebih tepatnya, lihat aku seperti itu sekarang!”


Dia memakiniku dengan “Senpai bodoh”, tapi menurutku dia yang bercanda. Memang benar Shirasu itu lebih muda, adik kelasku, dan sering sekali bertingkah manja seperti anak kecil. Tapi bukan berarti aku tidak melihatnya sebagai perempuan. Justru kebalikannya.


“Ya, ya. Dari semua perempuan yang pernah kutemui, Shirasu itu yang paling lucu. Bisa kencan sama kamu saja bikin jantungku deg-degan dan rasanya bahagia sekali.”


“Ehehe… benarkah? Aku yang paling lucu? Kalau begitu bilang saja begitu dari awal~”


Dengan wajah meleleh penuh senyum, Shirasu langsung memelukku. Lenganku yang baru sembuh terjepit di antara dadanya, dan meski tertutup pakaian, aku masih bisa merasakan ukurannya… dan kehangatannya.


Tapi tetap saja—gadis ini terlalu gampang luluh. Masa depanmu nanti jadi mengkhawatirkan, tahu. Kalau sedikit saja dipuji sudah begini, kamu akan mudah tertipu laki-laki tidak benar.


“...Kamu sering dapat pengakuan cinta, kan? Bukannya sudah terbiasa dipanggil lucu?”


“Kamu ini tidak mengerti, ya, Senpai. Dibandingkan dipanggil ‘lucu’ oleh banyak orang, dipanggil ‘lucu’ oleh satu orang yang spesial itu jauh lebih membahagiakan. Ratusan kali lipat lebih bahagia, tahu?”


Sambil berkata begitu, Shirasu memelukku lebih erat. Aroma rambut emasnya hari ini berbeda dari biasanya—campuran raspberry dan floral yang manis dan menggoda. Sesuatu yang sangat penting dalam diriku terasa ikut tergerus.


“...Be-begitu, ya?”


“Begitulah! Dan soal pengakuan cinta pun sama. Memang menyenangkan, tapi tetap saja, pengakuan dari orang spesial itu jauh lebih berarti.”


Shirasu menatapku dari bawah dengan senyum menggoda. Jantungku berdetak keras. Wajah seperti itu benar-benar tidak adil. Aku akhirnya menjatuhkan tebasan tangan ringan di kepalanya.


“Aduh!? Apa-apaan sih, Senpai!?”


“Kalau kita terus ngobrol, jadwalnya kacau!”


Karena jadwal film sudah ditentukan, kalau kita santai-santai seperti ini, kita bisa terlambat. Belanja sih tidak begitu penting, tapi film itu agenda utama hari ini. Walaupun bagiku, kalau dibatalkan pun tidak masalah…


“Kalau dipikir-pikir, benar juga! Kalau kelamaan, nanti tidak ada waktu buat Senpai memilihkan pakaian dalamku!”


“Kau mau aku yang pilih!? Bukannya itu harusnya kau pilih sendiri!?”


Katanya tadi “pakaian dalam khusus”... masa itu dipilih lelaki? Agak aneh.


“Mendingan minta Nanase-san saja yang pilih. Dia punya pengalaman, kan?”


“Awalnya aku juga berpikir begitu. Tapi Nanase-san bilang: ‘Bukan. Salah besar, Ojou-sama. Itu harus dipilihkan oleh Senpai.’ Begitu katanya!”


Maid itu benar-benar tidak pernah memberi saran yang normal. Dan Shirasu menelannya mentah-mentah pula. Aku sudah lelah untuk mengoreksinya.


“Karena ini pakaian dalam khusus untuk Senpai, tentu Senpai yang harus memilih! Pilihkan yang Senpai ingin aku pakai, ya?”


“...Apa?”


“Entah itu model imut, seksi, atau… ya… ya… yang agak nakal pun… b-boleh, kok…”


“Bagian itu harusnya kamu ucapkan tanpa malu, dong!”


Kuprotes spontan melihat pipinya memerah sampai telinga.


“Nah, sudah cukup menggoda Senpai-nya. Sebenarnya, akhir-akhir ini bra-ku mulai terasa sempit,” katanya sambil mengangkat dadanya dengan kedua tangan dan menggoyangkannya sedikit.


Aku terbelalak.


“...Apa?”


“Jadi sekalian saja aku ingin membeli yang baru semuanya. Dan aku ingin Senpai membantuku memilih!”


Aku menelan ludah. Payudara sebesar itu ternyata masih berkembang? Dunia ini benar-benar tidak adil…


“...Senpai. Kamu menatapnya terlalu lama.”


“!? M-maaf! Tidak sengaja!”


Dia melirikku tajam.


“Dasar mesum diam-diam. Kalau kamu mau lihat, nanti akan kutunjukkan banyak-banyak, kok. Di dalam ruang ganti~”


“...Halo polisi? Ada seseorang yang—”


“Senpai!? Itu harusnya kamu merah bukan melapor! Jangan telepon polisi dong!?”


Mengabaikan Shirasu yang kembali ribut, aku berjalan menuju pusat perbelanjaan—tujuan kami hari ini.


*****


Karena hari ini hari libur, pusat perbelanjaan dipenuhi oleh banyak orang—mulai dari pasangan, keluarga, hingga orang dari segala usia dan jenis kelamin. Dengan jumlah manusia sebanyak ini, tidak heran kalau aku bertemu satu atau dua orang yang kukenal.


“Karena tiket filmnya juga sudah kita tukar, sekarang saatnya masuk ke babak utama.”


Kami tiba di depan toko khusus pakaian dalam, dan Shirasu menunjukkan wajah penuh tekad, layaknya seorang prajurit yang hendak maju ke pertempuran. Pelanggan yang terlihat dari luar semuanya perempuan, dan yang dipajang adalah aneka jenis pakaian dalam berwarna-warni. Bahkan sebelum masuk pun suasananya sudah terasa tidak cocok untukku. Jangankan masuk, berdiri di depannya saja sudah membuatku merasa aneh.


“Baiklah, aku menunggu di depan toko. Kamu masuk sendiri!”


“Tidak boleh! Masuklah bersamaku! Kalau tidak, akan aku sebarkan ke seluruh sekolah bahwa aku dan Senpai tinggal serumah di bawah satu atap! Masih mau begitu?”


Jurus lari adalah solusi terbaik tidak bisa digunakan. Bahkan lebih buruk lagi, Shirasu mengancam dengan pilihan ultimatum, membuat kepalaku berputar.


“Tolong bersiaplah, Senpai. Aku bukan menyuruh Senpai membeli pakaian dalam, kok. Hanya memilihkan saja, bukan begitu?”


“Itu justru yang membuatnya super sulit!”


“Jangan banyak alasan. Ayo. Tidak apa-apa kalau kehidupan SMA-mu berakhir di sini?”


“…Dasar licik!”


Benar-benar dilema: mengorbankan masa depan atau menelan rasa malu sesaat. 


Aku hanya bisa menggeram gughh sambil akhirnya memilih opsi kurang menyenangkan: masuk ke toko bersama Shirasu.


“Kalau begitu, Senpai. Tolong pilihkan pakaian dalam yang ingin Senpai lihat aku pakai. Aku akan membelinya.”


“…Untuk berjaga-jaga, ini bukan satu setel saja, kan?”


“Boleh pilih dua. Untuk sehari-hari dan untuk momen spesial.”


“Haa… baik, Ojou-sama.”


Dengan tanpa ragu menaikkan tingkat kesulitannya, aku menarik napas panjang lalu mengikuti Shirasu melihat-lihat isi toko.


Merah, biru, hijau, ungu, hitam, putih—ke mana pun mata memandang, deretan pakaian dalam terpampang di depan mata. Dari bra, celana dalam, sampai camisole. Kalau mau dibilang positif, ini seperti taman firdaus. Kalau negatif—tempat ujian bagi kewarasan.


“Senpai ingin aku memakai pakaian dalam seperti apa?”


Shirasu mengaitkan lenganku dengan senyum nakal bak iblis kecil. Aku merasakan sedikit kesal, tetapi mencoba menahannya dengan mengambil napas dalam-dalam. Sampai sejauh ini, aku juga harus pasrah.


“Terakhir, konfirmasi lagi. Apa pun yang kupilih, kamu akan membelinya, kan?”


“Iya. Aku juga akan mencobanya, jadi pilih yang membuat Senpai merasa ‘ini dia!’.”


“…Baiklah.”


Jangan pikirkan akibatnya. Bahkan kalau pilihanku nanti membuat Shirasu ilfeel, tak apa.


Pertama soal warna. Sesuai sifat dan namanya, ‘putih’ terasa cocok. Lalu, untuk kesan manis dan ceria, ‘merah muda’. ‘Merah’ juga menggoda mengingat betapa bersemangatnya dia ketika terpancing, tetapi itu mungkin lebih cocok nanti setelah dia lebih dewasa.


Soal desain, apa pun sebenarnya akan cocok untuk Shirasu. Dan jujur saja, aku tidak ingin terlalu lama memperhatikan detailnya—pandangan orang sekitar membuatku tidak nyaman. Jadi tanpa banyak pertimbangan, aku mengambil dua set yang langsung menarik perhatianku dan menyerahkannya padanya.


“Hoo… jadi ini selera Senpai! Mau aku tebak yang mana yang Senpai pilih sebagai pakaian dalam untuk situasi khusus?”


“Bukankah sudah jelas. Dan tidak usah begitu—kalau mau mencoba, cepat sana. Aku menunggu di luar.”


“Apa yang Anda bicarakan, Senpai? Tentu saja Senpai ikut. Aku harus memastikan apakah cocok atau tidak.”


“Haa!? Itu benar-benar… tidak masuk akal—!?”


Tepat ketika aku hendak mengatakan “tidak masuk akal”, aku melihat seorang gadis yang kukenal keluar dari toko tiga blok di depan.


“......? Ada apa, Senpai?”


“Ssst! Diam. Jangan bicara keras-keras, nanti dia dengar.”


Refleks, aku menutup mulut Shirasu. Dengan hiruk pikuk keramaian dan musik keras dari dalam toko, suaraku mungkin tidak terdengar. Tapi dia bisa melihatku—dan terutama Shirasu. Dia selalu menonjol, baik maupun buruk.


“Apakah itu seseorang yang Senpai kenal?”


“Kira-kira begitu.”


“Kalau aku terlihat bersama Senpai, itu akan jadi masalah?”


“……Ya, kira-kira begitu.”


Lebih tepatnya: masalah besar kalau dia melihat aku bersama Shirasu di toko pakaian dalam wanita. Dan apalagi kalau orang itu adalah Mimasaka. Tidak terbayang apa yang akan ia katakan.


“Senpai, cepat ke sini. Kalau masuk lagi ke toko, kita aman.”


“Ti–tidak… Bisa saja Mimasaka masuk ke toko ini juga…”


“Tidak usah banyak alasan! Justru di sini kita lebih berisiko!”


Benar juga. Setelah sedikit ragu, aku membiarkan Shirasu menarik tanganku kembali masuk ke dalam. 


Entah bagaimana, dia menyeretku hingga ke bagian belakang toko. Lalu tanpa sempat bereaksi, aku ‘dipaksa’ masuk ke ruang pas.


“??????”


Aku kebingungan dan panik karena tidak memahami situasinya. Sementara itu, Shirasu sama sekali tidak peduli, menarik napas, kemudian melepas kardigannya dan menggantungkannya.


“U-umm… Kenapa kamu melepas bajumu?”


“Karena aku mau mencoba pakaian dalam. Masih ada alasan lain?”


Sambil berbicara, Shirasu langsung melepas blusnya tanpa ragu, memperlihatkan kulit putih seperti salju yang belum ternodai. 


Aku buru-buru membalikkan badan dan mencoba membuka pintu untuk kabur, tetapi Shirasu langsung menggenggam lenganku erat-erat.


“Tidak boleh. Kalau Senpai keluar sekarang, Anda bisa bertemu Mimasaka! Lebih aman tinggal di sini!”


“T-tapi tetap saja…!”


Berduaan dengan Shirasu di ruang sempit seperti ini jelas tidak baik. 


Kalau hanya berdiri, masih bisa ditoleransi. Tapi dia mau ganti pakaian dalam di sini—itu berbahaya. Terutama untuk kewarasanku.


“Tidak apa-apa. Aku punya rencana.”


Begitu Shirasu mengatakan itu, terdengar suaranya yang kecil dan menggemaskan, “nsho,” bersamaan dengan suara gasak dari sesuatu yang bergerak. Belum sempat aku bertanya apa yang sedang ia lakukan, pandanganku tiba-tiba menjadi gelap, disertai rasa hangat yang menutupi wajahku.


“Shi–Shirasu?”


“Sekarang Senpai tidak bisa melihat apa pun, jadi tidak masalah kalau aku ganti pakaian langsung di sini, bukan?”


Ingin sekali aku menjawab tidak masalah dari mana!?, tetapi begitu aku menyadari bahwa benda yang ia tutupkan ke kepalaku adalah blus yang barusan ia pakai, seluruh pikiranku langsung membeku.


“Kalau begitu, Senpai. Tolong tahan sebentar saja, ya.”


“U-uh… ya…”


Bisikan manis dan menggoda terdengar tepat di telingaku, dan aku hanya bisa mengangguk seperti boneka mainan dengan pegas rusak.


Setelah itu dimulailah waktu yang bisa disebut sebagai neraka. Suara kaca-kaca ketika sesuatu dilepaskan lalu dipasangkan. Suara gesekan kain. Suara pakaian yang jatuh lembut ke lantai. Dan di antara semua itu, sesekali terdengar helaan napas Shirasu yang begitu nyata. Jantungku berdetak semakin cepat, napasku secara alami menjadi tidak beraturan.


“Nsho! Oooh… ini lumayan…! Senpai, maaf menunggu.”


Shirasu mengangkat kain yang menutup kepalaku, membebaskanku dari kegelapan yang terasa seperti berlangsung selamanya. Aku menoleh perlahan—dan di sana berdiri Shirasu, mengenakan pakaian dalam yang kupilih sebagai ‘pakaian khusus untuk momen penting’.


Penampilannya yang hanya memakai pakaian dalam di bagian atas tubuh menciptakan kontras yang terlarang, membuatku merasa seolah ada pintu aneh yang hampir terbuka di dalam pikiranku.


“Bagaimana menurutmu, Senpai? Cocok—”


“Aku pikir… itu sangat bagus.”


Aku menjawab bahkan sebelum ia selesai bicara.


Pakaian dalam yang kupilih sebagai ‘pakaian untuk momen penting’ adalah yang berwarna merah muda. Bahan merah muda pucat dihiasi aplikasi daun hijau muda dan kelopak mawar putih. Ada benang berkilau yang membuatnya memantulkan cahaya halus.


“Eh? Benarkah langsung dijawab begitu? Padahal setelah ini masih ada garter belt, lho. Tidak apa?”


Shirasu tampak cukup terkejut, tetapi aku hanya mengangguk.


Apakah ini pengaruh pakaian dalamnya? Bentuk dan ukuran buah yang begitu memesona itu tampak semakin jelas, dan garis belahan yang memikat terbentuk begitu indah. Kalau ia memasang garter belt dan mendekatiku seperti itu, aku ragu bisa menolak seperti biasanya.


“Menurutku… itu sangat cocok dengan kulit Shirasu yang cantik. Sejujurnya, Shirasu yang sekarang… rasanya tidak ingin kulihat oleh siapa pun kecuali aku.”


“Jadi… itu berarti… Senpai ingin memiliki aku sepenuhnya, begitu maksudnya?”


“…Yah, kurang lebih begitu.”


Bahkan aku sendiri heran kenapa bisa mengatakan hal seperti itu, tetapi karena itu memang perasaanku yang sebenarnya, aku tak bisa berbuat apa-apa. Kalau ada laki-laki yang tidak ingin menyimpan gadis menggemaskan seperti putri ini di sisinya, aku ingin sekali bertemu dengannya.


“…Senpai itu benar-benar curang, ya.”


Dengan suara yang terdengar sedikit merajuk, Shirasu memeluk pinggangku erat-erat.


“Padahal Senpai ini pelupa dan ceroboh… tapi kenapa di saat-saat penting justru mengatakan hal-hal yang membuatku senang. Benar-benar curang.”


“…Maaf. Itu salahku. Aku minta maaf, jadi bisakah kamu lepaskan dulu?”


Kalau memeluk dari belakang sih masih mending, tapi dari depan jelas bahaya. Begitu menunduk sedikit saja, aku akan langsung melihat belahan di antara dua bukit lembut yang membuat tangan ini ingin bergerak tanpa berpikir. Ditambah lagi ini ruang yang sempit dan tertutup, jadi emosiku makin kacau.


“…Tidak mau.”


Dengan suara kecil, Shirasu justru mempererat pelukannya. Aku hendak mengatakan “jangan manja,” namun Shirasu lebih dulu melanjutkan ucapannya.


“Kalau aku melepasnya… Senpai pasti akan pergi ke mana-mana lagi. Senpai akan meninggalkanku sendirian. Jadi aku tidak akan melepaskan.”


Suara Shirasu terdengar seolah akan menangis, membuatku bingung harus berbuat apa. Naluri dalam diriku terus berteriak agar aku membalas pelukannya, tetapi aku bertahan habis-habisan dengan sisa-sisa akal sehat.


“…Kalau Senpai benar-benar ingin aku melepaskannya, bolehkah aku meminta satu janji?”


Shirasu memecah keheningan dan bertanya.


“A-apa?”


“Janji… bahwa Senpai tidak akan pergi dari sisiku. Bahwa Senpai tidak akan pergi ke mana pun.”


Ucapannya yang mendadak dengan suara lembut dan basah membuat jantungku meledak seketika. Aku hampir saja mengeluarkan suara aneh, tetapi untungnya masih bisa kutahan.


Karena ini tempat umum, sebuah ruang ganti yang hanya dipisahkan satu dinding tipis dari orang lain, aku masih memiliki selembar tipis kewarasan. Kalau ini di rumah, mungkin aku sudah mundur dan melarikan diri untuk menjaga jarak.


“Jangan menghilang dari hadapanku secara tiba-tiba. Kalau Senpai berjanji, aku akan melepasnya.”


Aku tidak sebodoh itu untuk menafsirkan kata-kata Shirasu secara harfiah. Dan akhir-akhir ini aku baru benar-benar mengerti kenapa Shirasu mengatakan hal seperti ini.


“...Aku tidak akan menghilang. Aku janji. Jadi, bisakah kamu melepaskannya? Dan… akan sangat membantu kalau kamu juga memakai pakaianmu kembali.”


“Kata-kata itu… jangan dilupakan ya? Kalau bohong, akan kuikat tangan dan kaki Senpai, lalu akan kuminumkan seribu jarum.”


“Jangan mengucapkan hal berbahaya dengan wajah semanis itu.”


Kalau Shirasu sampai punya sifat yandere, aku benar-benar tidak akan bisa menangani situasinya. 


Sambil memikirkan hal itu, aku menjauhkan tubuh Shirasu dan mengecek apakah ada orang di balik tirai. Oke, tidak ada siapa-siapa. Termasuk pegawai. Sepertinya aku bisa kabur.


“Karena kamu sudah selesai mencoba pakaian, aku akan menunggu di luar toko. Setelah selesai membayar, hubungi aku.”


“Baik! Masih ada satu set lagi sebenarnya, tapi komentar soal itu akan aku dengar di rumah nanti!”


“Tolong perlakukan aku dengan lembut.”


Tanpa melihat pun aku tahu itu pasti cocok untuknya, pikirku dalam hati, lalu aku melarikan diri dari toko dengan hati-hati agar tidak dilihat siapa pun.


******


“Kalau menonton film itu, tentunya harus pakai popcorn dan cola, kan!”


Setelah (entah bagaimana) selesai berbelanja dan tiba di bioskop sebelum pemutaran film, rasa pusing langsung menyergap melihat ramainya manusia. Terutama di bagian penjualan makanan—antriannya sudah seperti barisan panjang rombongan bangsawan. Namun Shirasu tetap saja langsung bergabung dalam antrean tanpa ragu.


“Pastikan kita beli ukuran yang bisa kita habiskan berdua, ya? Jangan sampai kamu beli dua ukuran jumbo atau semacamnya.”


“Eh!? Bukannya justru kita beli dua rasa yang berbeda lalu saling berbagi!? Aku ingin sekali mencoba itu!”


“Kan ada yang setengah-setengah. Belilah itu. Dengan begitu kamu bisa menikmati dua rasa sekaligus.”


“Itu benar juga! Dengan ini aku bisa saling suap-suapan dengan Senpai! Baiklah, ayo kita antre!”


Aku ditarik tangannya dan ikut mengantre. 


Aku ingin protes kenapa ia begitu natural mengajak suap-suapan begitu, tetapi membayangkan saling menyuapi dengan Shirasu… yah, sepertinya tidak buruk. Dan saat aku sedang memikirkannya, masalah muncul.


“Hah? Jangan-jangan Tomoya Nii-chan!?”


Tiba-tiba seseorang memanggil namaku. 


Saat menoleh, kulihat seorang anak laki-laki usia sekolah dasar. Di sampingnya ada Mimasaka—orang yang tadi sempat kulihat dan membuatku kabur. Kebetulan anak laki-laki itu adalah adiknya, yang beberapa kali bermain gim bersamaku.


“...Gegege.”


Begitu melihat sosok mereka, Shirasu yang tadi ceria langsung bersembunyi di belakang punggungku dengan cepat seperti zebra yang bersembunyi dari singa di sabana.


Mimasaka mengenakan kemeja dan celana pendek—gaya yang kasual. Tetapi kancing bagian dadanya terbuka lebar sehingga lekuk dadanya yang tidak kalah dengan Shirasu hampir terlihat. Ditambah lagi kaki jenjang yang terlatih saat bermain basket masih terlihat indah meski ia sudah pensiun beberapa tahun. Dan ia memamerkannya tanpa ragu.


Kalau Shirasu adalah gadis anggun nan sopan, maka Mimasaka adalah gadis ceria bergaya gyaru. Mereka benar-benar berlawanan.


“Tidak disangka kita bertemu di sini, Tomoya. Kamu ke sini untuk menonton film yang baru tayang kemarin?”


Mimasaka sempat melirik Shirasu sekilas, lalu berbicara padaku seolah Shirasu tak ada di sana.


“Kira-kira begitu. Aku menontonnya setiap tahun, jadi ini semacam tradisi bagiku.”


“Hahaha! Sama dong. Aku juga selalu ingin menontonnya. Film detektif cilik itu memang bikin ketagihan. Shirasu-san juga begitu?”


Mimasaka berbicara lembut kepada Shirasu yang bersembunyi di belakangku, seperti seorang tante yang menenangkan keponakan kecilnya.


“Y-ya… aku juga menontonnya setiap tahun.”


“Hee, begitu ya. Jadi kamu yang mengajak Tomoya? Tapi tetap saja, kalian berdua memang sangat akrab. Hampir seperti kakak-adik.”


“B-bukan begitu! Aku dan Senpai bukan kakak-adik!”


Sambil memeluk lenganku erat-erat, Shirasu dengan lantang membantah. Serangan mendadak itu membuat jantungku berdegup kencang, dan sekaligus membuatku merasa ngeri karena Shirasu ada di sini.


“Itu cuma perumpamaan. Tapi sepertinya hubungan kalian juga bukan sekadar senior dan junior, kan…?”


Seperti dugaan, melihat bagaimana Shirasu menempel padaku, Mimasaka menatap kami dengan mata menyipit curiga. Melakukan adegan yang hampir seperti perselisihan cinta di tengah keramaian seperti ini sungguh menyiksa kondisi mentalku.


“Yah, tidak akan kutanya sekarang. Lagi pula filmnya juga sebentar lagi mulai. Tapi… hubunganmu dengan Shirasu-san, jelaskan suatu saat nanti ya?”


“Suatu saat nanti… kalau aku sedang ingin.”


Sambil mengusap kepala Shirasu yang menggeram seperti anjing kecil yang mengancam, aku menjawab. Dia tidak akan dimakan, jadi setidaknya jangan terlalu defensif begitu.


“Nee-chan! Kayaknya kita sudah boleh masuk! Ayo cepat! Kita jangan ganggu Tomoya Nii-chan dan Kakaknya lagi!”


“Benar juga. Tidak baik mengganggu kakak-adik yang akur begini. Kalau begitu Tomoya, Shirasu-san, sampai ketemu di sekolah.”


Sambil melambaikan tangan, Mimasaka pergi bersama adiknya, bergabung dengan arus orang yang menuju pintu masuk.


“Kita juga harus segera beli dan masuk ke dalam… Tapi, bisa kamu lepaskan dulu, Shirasu?”


“Senpai itu milikku. Tidak akan kubiarkan siapa pun mengambilnya!”


Shirasu mengumumkan deklarasi perang kepada Mimasaka yang sudah tak terlihat lagi. Dengan nada dan pipi yang menggembung seperti itu, tingkat “imut”-nya hampir membludak. Tapi ada satu hal yang harus kuluruskan.


“Aku bukan barang milikmu, oke?”


“Jangan pedulikan hal yang terlalu detail begitu!”


“Baik, baik. Jangan merajuk begitu.”


“Aku tidak merajuk! Dan jangan perlakukan aku seperti anak kecil!”


Sambil berkata begitu, Shirasu menghentak-hentakkan kakinya. Sifat kekanak-kanakan itulah yang membuatnya menggemaskan, tapi kalau kukatakan itu, dia pasti tambah ngambek. Jadi aku hanya tersenyum pahit dan kembali mengusap kepalanya.


Akibatnya, Shirasu malah makin memerah sambil menggembungkan pipinya, dan untuk memperbaiki suasana hatinya, aku terpaksa membeli popcorn ukuran paling besar.


******


“Nnn… Senpai… aku tidak bisa makan lagi…”


Bersandar lemah di bahuku, Shirasu menggumam dalam tidur dengan wajah bahagia.


Setelah menonton film, kami pergi ke restoran mewah—benar-benar tidak cocok untuk anak SMA—yang sudah dipesan Shirasu sebelumnya. Kami menikmati daging luar biasa lembut yang langsung meleleh di lidah, dan semuanya berjalan baik sampai perut kenyang membuat tubuhnya rileks, lalu kantuk yang sejak tadi ia tahan langsung menyerang seketika. Akibatnya, Shirasu sekarang tidak bisa bergerak sama sekali.


“Aku tidak mau… Aku belum mau pulang… Aku mau tetap bersama Senpai…”


Padahal pulang adalah satu-satunya pilihan, tapi Shirasu tetap melawan sambil terkantuk-kantuk. Karena lukanya sudah sembuh, masa “istri yang merawat suami” pun berakhir. 


Kesempatan untuk berkencan seperti ini mungkin tidak akan terjadi lagi. Itu kalau keputusan Ayahku benar-benar hanya omong kosong belaka. Bagaimanapun, aku tidak bisa menggendong Shirasu naik kereta, dan naik taksi pun sulit karena rumahnya jauh sementara aku tak punya uang cukup.


Aku sempat berpikir untuk mengambil uang dari dompet Shirasu, tapi memakai uangnya tanpa izin membuatku tidak enak hati. Saat aku kebingungan, bantuan datang dari arah tak terduga—


“Terima kasih banyak, Nanase-san. Berkat Anda, aku sangat terbantu.”


“Tidak apa-apa kok. Ini semua juga bagian dari tugas seorang maid.”


Ia tak lain dan tak bukan adalah biang keladi dari semua “saran” yang ditanamkan ke kepala Shirasu selama ini—yang pada akhirnya mengikis akal sehatku sedikit demi sedikit. Maid pribadi Shirasu: Nanase-san.


“Yuika-chan sudah memintaku sebelumnya. Katanya, kalau dia sampai kelelahan dan tertidur, aku harus menjemputnya.”


Aku terkejut waktu seorang wanita cantik berbalut seragam maid klasik keluar dari mobil mewah berwarna hitam ketika aku kebingungan di tepi jalan. Rasanya sebanding dengan saat Ayah bilang, “Kau punya tunangan sekarang.”


“Begitu ya… jadi seperti itu ceritanya. Tapi tunggu sebentar. ‘Kalau sampai kelelahan dan tertidur’ berarti… jangan-jangan—?”


“Ara ara, ternyata kamu cukup peka juga ya. Seperti yang kamu pikirkan, aku seharian menunggu berdua di dekat kalian. Gara-gara itu, aku hampir saja memuntahkan gula saking banyaknya momen manis kalian.”


Sambil tertawa kecil, Nanase-san mengendalikan setir. Dengan kata lain, dia mengawasi kami untuk berjaga-jaga. Seorang wanita secantik ini mengenakan seragam maid di tempat umum seharusnya sangat mencolok, tapi aku sama sekali tidak menyadarinya.


“…Nanase-san ini jangan-jangan ninja?”


“Kenapa justru begitu arahnya? Aku ini hanya maid biasa, tahu? Menyembunyikan keberadaan di tengah keramaian itu bukan hal sulit.”


“Tidak ada maid yang seperti itu…”


Hal begitu seharusnya hanya ada di manga dan anime.


“Fufu. Aku bercanda kok. Walaupun maid, kalau ke luar rumah tentu aku ganti pakaian. Apalagi hari ini adalah kencan yang sudah lama dinantikan Yuika-chan.”


Nanase-san berkata demikian dengan suara yang tulus namun mengandung rasa haru.


“…Atau lebih tepatnya, ‘Yuika-chan’, ya.”


Tidak ingin suasana menjadi sentimental, aku sengaja mengalihkan pembicaraan.


“Yah, soalnya aku sudah mengenal Yuika-chan sejak dia masih di taman kanak-kanak. Bagiku, sebelum menjadi tuan yang harus kulayani, dia itu lebih seperti adik kecil yang lucu. Tapi tentu saja aku tahu waktu dan tempat, jadi tenang saja.”


“Aku tidak terlalu mengkhawatirkannya sih… tapi aku cukup terkejut mendengar hubungan Shirasu dan Nanase-san ternyata sudah selama itu.”


“Fufu. Karena begitu, Midou-kun, sebagai perlakuan khusus, aku berikan hak istimewa untuk memanggilku Onee-chan. Bagaimana? Senang, kan?”


“Dengan hormat, aku menolak.”


Beginilah kakak dari adik itu. Tingkah Shirasu yang suka menggodaku rupanya menurun dari orang ini. Yah, aku mendapat satu lagi informasi tentang Shirasu. Tapi serius, apa-apaan dengan ‘Onee-chan’? Jangan-jangan dia bermaksud kakak tiri—tidak mungkin, kan?


“Arara. Aku ditolak, ya. Sayang sekali, pusing deh, sampai jumpa minggu depan,” ujarnya sambil berceloteh seenaknya sebelum tertawa lepas, “Ahahaha.”


Tingkah Nanase-san itu membuatku curiga apakah dia sedang mabuk karena minum alkohol.


“Baiklah, bercandanya cukup. Midou-kun, aku titip Yuika-chan. Aku tidak akan mengatakan hal-hal seperti ‘kamu harus membuatnya bahagia’ yang terasa seperti mengikat masa depanmu… tapi aku hanya berharap kamu tidak membuatnya menangis.”


“...Apa maksudnya?”


“Maksudku ya seperti yang kukatakan. Yah, soal detailnya, lebih baik kamu dengar langsung dari Yuika-chan. Tapi kalau begitu, kamu harus menyiapkan jawabanmu sendiri… bisa?”


Sekilas, lewat kaca spion, mata kami saling bertemu. Sikapnya yang tadi ceria menghilang seketika, berganti tatapan serius.


Aku menoleh pada Shirasu yang tertidur pulas di sampingku, dengan wajah penuh rasa aman seolah dunia ini tidak memiliki masalah apa pun, dan tanpa sadar aku tersenyum kecil.


“Tidak apa-apa. Aku… sudah menyiapkan jawabannya.”


“Wah. Jawaban itu agak di luar dugaan Onee-san, lho? Melihat Midou-kun yang selama ini, kupikir kamu pasti akan gelagapan.”


“Aku tahu… kalau terus begini saja tidak akan baik.”


Selama beberapa minggu ini aku bersama Shirasu. Aku tidak sebegitu tumpul sampai tidak menyadari perasaannya. Atau lebih tepatnya… aku berpura-pura tidak melihatnya.


“Begitu ya! Cukup dengan itu saja, Onee-san merasa tenang! Tolong jaga Yuika-chan, ya.”


“...Baik.”


Jawabanku dan saat Nanase-san menginjak rem untuk menghentikan mobil hampir bersamaan. Perjalanan yang tenang dan nyaman itu berakhir. Dengan sedikit rasa bersalah, aku menepuk-nepuk bahu Shirasu untuk membangunkan putri tidur itu.


“Umyu… Onii-chan?”


“Siapa juga Onii-chan. Bangun, Shirasu. Kita sudah sampai.”


“Nnh… aku nggak bisa jalan. Onii-chan, gendong aku, ya… peluk yang kencang…”


“Haa… baiklah. Khusus hari ini saja.”


Shirasu mengulurkan kedua tangannya ke depan, meminta digendong. 


Astaga. Di akhir-akhir dia malah mengeluarkan semua jurus manjanya. Dan pada titik ketika hal itu terasa sangat menggemaskan bagiku—itulah tanda kekalahanku.


“Selamat ya, Ojou-sama.”


“Iya… terima kasih, Nanase-san.”


Shirasu memelukku erat dari belakang, seakan takut terjatuh. Aku tidak tahu ekspresi seperti apa yang ia miliki sekarang.


“Fufu. Kalau begitu Midou-kun, soal itu aku serahkan padamu. Kalau ada apa-apa, hubungi aku.”


“Baik… meski sebenarnya… aku tidak punya kontak Nanase-san.”


“Ah… soal itu, ya begitulah. Kamu tinggal sentuh-sentuh sedikit ponsel Yuika-chan, langsung bisa menghubungiku.”


“Itu namanya terlalu melanggar aturan, bukan?”


Lagipula, teleponnya pasti terkunci. Tanpa membuka kunci, mana mungkin aku bisa menghubungi siapa pun.


“Tidak apa-apa. Midou-kun pasti bisa menebak kode sandi ponsel Yuika-chan dengan cepat. Tapi yah… kurasa kamu tidak akan sampai membuka kuncinya lalu menghubungiku.”


“…………”


“Kalau begitu, aku pamit dulu. Adiós!”


Dengan Shirasu di punggungku, aku menyaksikan mobil Nanase-san meluncur pergi. Entah kenapa, aku merasa dia bisa membaca semua yang ada dalam diriku.


“Senpai… ayo cepat masuk ke rumah…”


“...Iya.”


Meskipun sudah pulang, hari ini belum berakhir.


Sebenarnya… baru akan dimulai sekarang.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close