NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Kokou no Denpa Bishoujo To Koi de Tsunagattara Giga Omoi Volume 2 Chapter 1

 Penerjemah: Miru-chan

Proffreader: Miru-chan


Chapter 1

Tidak Bisa Menang dari Strategi Pasti Menang si Junior yang Sempurna

“Masaomi, aku kepikiran sesuatu yang seru.”


“Apa lagi, Keiji? Jangan bilang kamu bikin obat baru dan mau coba-coba lagi ke Hibari?”


“…Kamu itu ya, bisa-bisanya balas dengan muka datar begitu sadis. Bahkan aku pun, yang kejadian itu baru beberapa hari lalu, nggak kepikiran buat bercanda kayak gitu.”


“Anggap saja aku memberi kesempatan berkali-kali pada teman burukku yang keras kepala untuk introspeksi. Sekarang diam dan biarkan aku nancepin paku ke kepalamu tanpa batas.”


Pertengahan September. Waktu istirahat setelah dua minggu berlalu sejak semester baru dimulai. Entah kenapa akhir-akhir ini Bumi sedang sangat bad mood, sampai-sampai jangkrik dan katak kehilangan timing untuk bersuara, sementara sisa-sisa panas akhir musim terus mengamuk tanpa ampun.


Di tengah itu, Masaomi memberi counter yang bagus untuk topik pembuka khas teman buruknya, dan rasanya benar-benar memuaskan.


Balasan setajam itu juga semacam isyarat bahwa ia mulai sedikit demi sedikit mencerna kejadian bulan lalu. Kalau mengingat bagaimana ia menyeret Hibari ke dalam masalah itu, rasanya masih membuat dada mual. Tapi bisa kembali seperti semula sebagai sahabat seperti ini, sungguh membuatnya senang… meski tentu saja ia tidak akan pernah mengatakannya langsung. Namun kalau tidak begitu, jumlah temannya yang sedikit secara fatal akan makin menyedihkan—ya, tapi biarlah hal itu diabaikan untuk saat ini.


“Terus?”


“Aku kepikiran mau mencalonkan diri masuk OSIS.”


“Hobi aneh juga. Buat memastikan aja, itu bukan ajakan supaya aku yang maju, kan?”


Masaomi refleks bersikap waspada. 


Wajar, karena Keiji punya terlalu banyak catatan hitam dalam urusan ‘melibatkan orang lain’. Rasanya Masaomi ingin bilang, minimal sogok aku dulu dengan bagel polos.


“Nggak, yang nyalonin diri itu aku.”


Namun Keiji mengangguk begitu saja, tak seperti dugaan. Dia biasanya benci jadi pusat perhatian, dan sepulang sekolah selalu ngilang cepat dengan alasan sibuk. Tapi Masaomi tahu belakangan ada sedikit perubahan dalam hidup Keiji.


“Nggak apa-apa sih. Adikmu belakangan juga mulai agak ‘bangun’, kan?”


Setelah insiden musim panas saat adiknya, Nagi, mengamuk sebagai “Wind” di Astral Side, lalu dikembalikan oleh “Noble Lark”, ia berubah. Kini ia datang ke dunia ini beberapa kali seminggu.


“…Iya. Kalau sudah bangun, ya bangun… tapi maunya seenaknya sendiri. Nyusahin juga sih, tapi setidaknya aku nggak harus nungguin dia 24 jam kayak dulu. Jadi kupikir, ya sudah, manfaatkan waktu luang.”


Karena itu juga, kebiasaan Keiji untuk langsung pulang secepat kilat sedikit melunak. Dibanding waktu ia menghabiskan semua waktunya untuk menjenguk Nagi, sekarang ia memang bisa dibilang punya waktu luang.


“Terus?”


“Ya sebenarnya aku disuruh sama Nagi. Katanya, ‘berhenti menjadikan aku alasan untuk menghindar dari dunia nyata, dan jadilah dokter yang baik-baik’.”


Walau Nagi yang dulu kabur dari realitas kini tiba-tiba menuntut hal mustahil, Keiji tidak terlihat kesal. Tipe kakak keras kepala yang dibaca sebagai “siscon”—ya sudah, begitu adanya.


Masaomi juga terlalu paham bagaimana rasanya diputarbalikkan oleh adik, jadi dia enggan berkomentar berlebihan.


“Terus?”


“Ya meski soal jadi dokter entah bagaimana nanti, setidaknya aku harus nunjukin kalau aku menjalani kehidupan sekolah yang punya prestise lah.”


Masaomi memang tidak tahu detail hubungan Keiji dan Nagi. Tapi dari lamanya mereka berteman, ia bisa menebak itu cuma cara Keiji menutupi rasa malu. Mungkin itu wujud penebusan dosa—kalau menyebutnya begitu terasa berlebihan, tapi setidaknya demi kebaikan Nagi.


Masaomi tak merasa perlu mengatakan apa-apa lagi. Toh Keiji cukup rajin dan nilai-nilainya bagus. Selain mulutnya jahat dan tampilannya melanggar hampir semua aturan sekolah, ia tidak punya masalah lain… atau justru itu akan jadi masalah fatal saat pemilu OSIS.


“Terus?”


“Jadi aku mau kamu yang kasih pidato dukungan. Kita kan teman?”


“Aku nggak mau.”


“Kalau nggak, aku bakal minta Kasuka yang melakukannya.”


“…Itu ancaman model apa sih…”


Masaomi sempat berpikir, ya mungkin menarik juga lihat itu.


“Eh? Aku? Aku yang nyanyi dan nari gitu?”


Tiba-tiba Kasuka muncul sambil mengayun-ayunkan tubuh seperti melakukan tarian ritual suku entah apa. Saking bersemangatnya, dia menabrak kaki meja tiga kali, jatuh dua kali, dan sekali rok-nya tersingkap.


Saat ia mulai mendekat dengan langkah limbung, Masaomi dan Keiji menangkapnya dengan refleks seperti sudah biasa. Kasuka tersenyum cerah seolah itu hal wajar. 


Astaga lucunya—eh tidak, tunggu. Kalau dia yang kasih pidato dukungan, bukankah itu akan jadi bencana? Minimal, sebagai perempuan, pakailah celana dalam olahraga atau apa kek.


“Kasuka mungkin bisa menarik perhatian sih, terlepas cocok atau nggaknya…”


Jika Masaomi bilang “lakukan”, Kasuka pasti langsung setuju. Walau murid di sekolah sudah terbiasa, rambut putihnya tetap mencolok. Dan gerak-geriknya tidak stabil.


Efek ‘nggak ketebak dia bakal lakukan apa’ mungkin memang kuat. Tapi untuk anak yang bahkan berbicara pun kurang lancar, pidato di aula sekolah… itu berat.


“Kalau demi Keiji, aku bakal berusahaaa banget!”


Ia mengepalkan tangan, menunjukkan tekad penuh. Bahkan ujung rambut dekat pelipis pun ikut terangkat seperti antena. Tapi gesture seperti itu biasanya berakhir kacau, itu sudah hukum alam.


“Aku bukan iblis yang bakal sengaja mendorong Kasuka ke dalam bendungan. Intinya, kalau Masaomi mengangguk, semua beres.”


“Bendungan!? Oke! Aku bakal bikin rencana wisata bendungan! Jadi gini—”


“Bukan itu maksudku.”


Keiji membungkam Kasuka dengan Orix Chop. Kasuka tampak menerima perlakuan tidak masuk akal itu dengan bahagia, tersenyum lebar. Sehari-hari yang biasa. Silakan senang-senang.


“Jadi, kenapa sih kamu ngotot banget supaya aku yang melakukan ini?”


“Soalnya kamu itu kan orang yang lagi naik daun. Sayang banget kalau nggak manfaatin momen ini. Entah itu jadi angin yang mendukung atau malah angin berlawanan, yang penting hal beginian itu soal menarik perhatian.”


“…Kamu pikir aku senang jadi begitu, hah?”


Masaomi bermaksud memasang wajah masam maksimal, tapi ia sendiri tidak yakin berhasil atau tidak. Bagaimanapun, tidak mungkin ia bisa memecahkan wajah tebal si keras kepala ini dengan ekspresi apa pun.


Sejak ia, Masaomi, menjalin hubungan dengan Hibari—si gadis cantik yang namanya terkenal seantero SMA Kedokteran sebagai “gadis yang bahkan dewa pun tidak bisa dekati”—menjadi bahan omongan orang sudah jadi konsekuensi yang tak terelakkan.


Meski begitu, Masaomi tetap merasa heran. Ia tidak pernah mengumumkan, “Ya, kami pacaran!” secara terang-terangan. Lalu kenapa semua orang bisa tahu dengan muka seolah itu hal yang sudah pasti?


Dikelilingi perasaan tidak nyaman seolah semua orang mengawasinya, ia mendadak bisa membayangkan betapa sesaknya Hibari dulu, yang mengalami perlakuan semacam itu jauh lebih lama. Ia teringat pada Hibari yang mungkin saat ini sedang memakai “topeng besi” di kelas 3.


“Oho, lihat nih. Baru disinggung sedikit saja langsung mikir tentang pacarnya. Jadi teman tuh berat ya, harus lihat muka kamu yang mirip gurita rebus tiap hari.”


“Gurita rebus~”


Ih, nyebelin.


Meski sebal, Masaomi cukup paham bahwa ide Keiji pasti punya alasan kuat. Karena lelaki keras kepala ini tidak mungkin tiba-tiba bilang ingin “menarik perhatian” tanpa motif serius. Pasti ini ada hubungannya dengan niatnya memperbaiki hubungan dengan adiknya.


“Kalau alasannya cukup tulus sampai bisa kuprioritaskan di atas pacarku, ya mungkin bisa kupikirkan.”


Tentu saja Masaomi tidak akan mengabulkan itu begitu saja. Mengorbankan waktu manis bersama Hibari demi bantu-bantu? Tidak mungkin—kecuali Keiji meminta dengan sangat sopan sambil menundukkan kepala…


“Tolong, Masaomi. Aku mohon.”


“…Dia beneran nunduk!?“


“Dia nunduk! Keiji serius banget!”


Keiji, yang biasanya sombong, menunduk sampai dahinya hampir menggesek meja. Masaomi sampai melotot begitu lebar seolah matanya menambah satu putih lagi. Kasuka tertawa cekikikan, jelas menikmati pemandangan langka itu.


“Kalau sudah sejauh ini, orang ‘normal’ sih nggak bakal bisa nolak.”


Keiji menggumam itu dengan posisi masih tengkurap.


Benar-benar tidak waras.


“…Semua ini sudah kamu rencanakan, kan. Ya sudahlah.”


Meski Masaomi tahu ini trik, ia juga sadar: Keiji tidak akan menundukkan kepala untuk hal sepele.


Di balik mulut buruk dan gaya yankee, dia menyimpan harga diri keras seperti baja. Jadi Kasuka benar—Keiji benar-benar berniat masuk OSIS.


“Upahnya apa?”


“Semua jenis kekuasaan yang bisa kupakai, akan kupakai buatmu.”


Orang seperti ini boleh masuk OSIS?


Masaomi mulai ragu. Namun Keiji menganggap diamnya sebagai persetujuan. Ia berdiri dan, tanpa bercanda, mengangguk bak elang yang yakin akan buruannya.


“Kalau begitu, kontrak selesai.”


Ia bilang detail soal pidato dan kegiatan kampanye akan ia kirim nanti, lalu pergi untuk langsung mendaftar sebagai kandidat. Dengan kata lain, ia sudah bersiap dari awal dengan asumsi Masaomi akan menyetujui.


“Keiji… dia berusaha berubah ya. Dia berjuang. Apa dia mendengar suaraku waktu itu…?”


Kasuka berkata sambil melihat punggung Keiji yang pergi, rambut panjangnya bergoyang seperti sapu. Masaomi ikut memandang, memikirkan perubahan sahabatnya itu.


Insiden musim panas lalu, soal adiknya, pasti membuat Keiji berpikir banyak. Tapi bukan berarti kepribadiannya akan berubah total seperti tanaman baru yang tumbuh dalam semalam. Dan bahkan dengan dukungan “orang terkenal” seperti Masaomi, tidak mungkin siswa yang sebelumnya benar-benar anonim mendadak dipercaya begitu saja. Terlebih lagi… tampangnya itu.


Tapi Keiji itu tipe yang sangat keras kepala. Kalau sudah punya tujuan, ia tidak akan pilih-pilih cara dan tidak akan ikut pertandingan tanpa peluang menang. Pasti ia punya rencana lain, dan Masaomi serta Kasuka akan terseret entah bagaimana.


“Tapi Masaomi, kamu beneran bisa pidato nggak?”


“Entahlah. Tapi ya, karena sudah menerima, paling nggak aku bakal gebukin genderang buat si keras kepala itu.”


Kalau dibilang ia tidak penasaran dengan hasil akhirnya, itu jelas bohong.



Hibari membuka mata lebar-lebar, berkedip-kedip. Hanya melihat ekspresinya—seolah burung hibari benar-benar merasuki dirinya—sudah cukup membuat informasi ini terasa sangat berharga.


"Jadi itu sebabnya Orito-kun mencalonkan diri ke OSIS. Terlepas dari perasaan pribadiku yang… cukup rumit terhadapnya… memang tidak cocok, ya."


Komentarnya yang blak-blakan itu sangat wajar.


Bagi Hibari, Orito adalah orang yang—setelah membuat serangkaian rencana busuk—benar-benar menyerahkan obat gila itu padanya. Walau Hibari sendiri saat itu memilih dengan kehendaknya, tetap saja itu bukan sesuatu yang bisa dimaafkan begitu saja. Lagipula, siapa pun akan merasa aneh mendengar kabar bahwa orang sekelas dia ikut pemilihan OSIS.


Masaomi pun tidak berniat menyangkal perasaan Hibari. Dia hanya menilai Keiji apa adanya—menghitung sisi plus dan minusnya dengan datar.


Keesokan hari setelah Keiji menyatakan tekadnya. Saat istirahat siang di atap sekolah. Di samping menara tangki air—tempat favorit mereka yang perlahan menjadi “spot rahasia” bagi keduanya—mereka bertemu. Ini adalah salah satu dari sedikit momen ketika Hibari bisa menunjukkan wajah aslinya.


Menurut Keiji, kalau mereka sering bolak-balik ke tempat tersembunyi seperti ini, sudah pasti ada saja yang memperhatikan secara diam-diam, lalu gosip akan tersebar dengan sendirinya──


Tapi kedua orang ini, tentu saja, tidak memikirkan sejauh itu.


"Dibilang nggak cocok itu masih mending. Rambut cokelat panjang, pakai anting pula. Kayak pelanggaran aturan sekolah yang berjalan. Dia nyalon OSIS itu rasanya kayak lihat orang pakai kostum Santa Claus super niat di tengah musim panas."


"Tapi kamu tetap bantu dia, kan Masaomi-kun?"


"Yah, kelihatannya memang serius. Setengahnya sih karena aku menganggap ini lucu juga."


"Fufu, kamu nggak jujur. Aku tadinya nggak tertarik sama sekali sama pemilihan OSIS, tapi kalau kamu bakal pidato dukungan, aku siapkan tombak dan akan menunggu hari itu datang."


Berbeda dengan Masaomi yang makan plain bagel dengan wajah datar, Hibari menyantap bekal warna-warni dengan senyum lembut.


Wajah “android baja” yang ia tunjukkan sebelum sampai ke atap benar-benar disimpan rapi—dia hanya memperlihatkan sisi seperti ini kepada Masaomi. Dan soal “tombak yang diasah”, semoga itu tidak digunakan untuk apa pun yang menakutkan.


Ini dia yang aku suka, pikir Masaomi. Sampai-sampai dia merasa sanggup melakukan pidato apa pun sekarang.


Waktu, berhentilah. Kau begitu indah.


Benar-benar penyakit “Hibari-itis” stadium akhir—dan musim panas yang panas itu sepertinya belum usai untuknya.


"Bantu sih bantu, tapi dia baru ngumumin pencalonan kemarin, kampanye mulai pagi ini, lalu minggu depan langsung pidato dan pemungutan suara. Ya… seberapa banyak yang bisa dikerjakan dalam waktu sesingkat itu, kan?"


Jadwal kampanye dari Keiji yang masuk ke ponselnya memang sangat padat dan serba buru-buru.


"Salam pagi di gerbang sekolah, pasang manifesto, cukup niat untuk waktu yang sesingkat ini."


Katanya, setelah sekolah selesai dia akan ikut kegiatan relawan bersih-bersih sekolah. Rajin juga orangnya.


"Kalau yang disebut salam pagi itu adalah menatap semua siswa dengan mata tajam sambil teriak keras-keras sampai senior maupun junior ketakutan, ya mungkin benar itu 'salam pagi'. Kalau suara kayak begitu bisa nambah suara dukungan… itu udah masuk ranah politik yang menakutkan."


"Memang, kalau dia menyapa dari perut dengan suara sekeras itu, agak ngeri juga."


"Ada juga calon siswi kelas satu yang suaranya khas. Dia bagi-bagi kartu nama buatannya sendiri satu per satu di gerbang, lalu tersenyum sambil menatap mata setiap orang. Kayak bagi-bagi tisu promosi di jalanan—rasanya susah untuk nggak mengambilnya. Itu yang disebut salam pagi."


"Oh? Jadi aku nggak punya pesona begitu, ya? Senang ya dapat senyum manis dari adik kelas yang imut?"


"Bukan begitu, Hibari-san?"


Masaomi buru-buru menambal ucapannya saat Hibari menatapnya dengan mata sipit. Dia tahu Hibari tidak benar-benar marah—tapi jelas sedang menggoda.


"Soalnya gadis itu diminta tanda tangan satu orang, lalu nambah, jadi dua, tiga… makin banyak yang minta. Dia tetap meladeni semuanya walau kelihatan kewalahan. Sampai akhirnya antreannya lumayan panjang. Hampir kayak selebriti."


"Oh, antrean itu. Kupikir mereka seserius itu membaca manifesto, ternyata yang dicari adalah adik kelas yang lucu dan penuh pesona, ya."


Nada bicaranya jelas mengandung ‘kamu juga, kan?’


Masaomi merasa dirinya jelas-jelas menggali kubur sendiri.


"Yah, manifesto itu… Keiji aja nulisnya 'boleh cat rambut dan pakai aksesoris'. Jujur kurang berdampak. Kayak nggak bakal dilirik kalau dia nggak pakai trik tambahan semacam acara tanda tangan."


"Aku sih nggak mau jabat tangan dengan Orito-kun. Nanti aku dicampuri obat lagi."


Citra Keiji di kepala Hibari sudah rusak parah.


Ya, wajar saja—semuanya salahnya sendiri.


"Lagian dia cuma pengin dengan bangga mewarnai rambutnya. Itu tujuan utamanya."


Hibari mengangguk kuat-kuat. Topik berhasil dialihkan.


"Kalau kamu jadi Hibari, mau bikin manifesto apa? Aturan sekolah apa yang ingin kamu ubah?"


"Tidak banyak sih… tapi, benar juga. Mungkin aku ingin supaya warna pita seragam bisa dipilih sendiri."


Di sekolah kedokteran ini, warna dasi dan pita seragam berbeda menurut angkatan. Kelas satu merah, kelas dua biru, kelas tiga hijau—dan tiap angkatan wajib memakai warna yang sudah ditentukan. Artinya, angkatan Masaomi harus memakai warna biru, dan tahun depan siswa baru akan memakai hijau. Begitulah aturannya.


"Memang ya, permintaan soal seragam selalu banyak?"


"Setidaknya aku mengerti kenapa manifesto Orito-kun lumayan didukung. Sekolah kita lumayan kaku soalnya. Jepit rambut masih suka dimaafkan, tapi untuk anak-anak yang suka berdandan, mungkin terasa kurang bebas. Rambut diwarnai pun, zaman sekarang harusnya diperbolehkan, kan?"


Ketika Hibari—yang di Astral Side bebas mengibaskan rambut perak-biru yang memesona—mengatakan itu, ucapannya terasa sangat berbobot. Bahkan Hibari yang punya rambut seindah itu merasa tak masalah dengan pewarnaan rambut, apalagi para siswa yang ingin sedikit saja mendekati ideal mereka.


Masaomi sendiri? Tidak terpengaruh sama sekali, tentu saja.


"Kaku-kaku begitu, tapi soal gosip tentang hubungan kita, penyebarannya cepat banget, ya."


"Justru karena kaku, mereka lapar gosip. Tapi memang merepotkan. Aku bisa merasakan tatapan orang dari mana-mana. Tatapan penasaran, tatapan iri… kadang sampai terasa seperti sedang difoto diam-diam. Aku sih sudah terbiasa dan pasrah, tapi kamu, Masaomi-kun, pasti nggak nyaman?"


Membuat Hibari sampai mengatakan “aku sudah terbiasa difoto diam-diam” adalah hal yang membuat Masaomi merasa bersalah. Namun Masaomi juga tidak terlalu peka soal itu. Jika perlindungan “dinding baja” Hibari harus melindungi dirinya dari hal-hal seperti ini, ia sadar betul—menjadi gadis cantik yang menonjol itu benar-benar penuh beban.


"Sejak musim semi tahun lalu sih, belum pernah ada laki-laki biasa dan tak berbahaya seperti aku jadi pusat perhatian begini. Tapi ya… dibandingkan kebahagiaan bisa jadi pacar Hibari, ini bukan apa-apa. Aku tahan."


"──Satu poin, ya."


"Satu poin apa?"


"Kalau kamu mengucapkannya langsung begitu, rasanya seperti menerima berkah dari titik penopang keberadaan. Terima kasih. Kalau boleh, aku ingin dapat poin tambahan kalau kamu sedikit malu atau tersipu."


Sepertinya semacam “menambah bantalan” tapi dalam versi Astral Side. Hibari sendiri mengatakan itu sambil terlihat malu-malu—yang tentu saja, bagi Masaomi, justru merupakan poin plus paling besar.


Saat itu juga ia berniat melatih otot wajah agar bisa membalasnya suatu saat. Masaomi bukan siapa-siapa yang sengaja naik daun, dan toh gosip orang hanya bertahan sebentar. Selama muncul topik sensasional baru, semua orang pasti akan lupa soal Masaomi.


Hibari mungkin tidak, tapi Masaomi jelas bukan pusat perhatian jangka panjang. Karena itu, urusan orang lain bisa diabaikan dulu—ia harus menjalankan misi rahasia hari ini.


"Ngomong-ngomong, Hibari."


"Kenapa? Tiba-tiba menatap jepit rambutku begitu."


"Jika satu permohonanku bisa terkabul sekarang, aku ingin… tamagoyaki-mu yang terlihat sangat enak itu."


"Kenapa mendadak begitu?"


Meski nada suaranya terdengar bingung, Hibari tetap langsung menyuapkan sepotong padanya dengan sumpit.


Kena.


Masaomi tersenyum dalam hati. Wajah datarnya—bahkan saat jantungnya berdebar kencang—tidak membocorkan apa pun. Kebiasaan yang sangat menguntungkan.


Begitu ia menggigitnya, rasa manis lembut langsung menyebar di mulut.


Ah, rupanya Hibari adalah tipe tamagoyaki manis—sesuatu yang Masaomi sangat syukuri karena ia juga begitu.


"Ah… enak banget. Terlalu enak. Rasanya aku bahagia pernah hidup. Terima kasih, pacarku. Terima kasih juga untuk orang tuamu."


"Berlebihan sekali. Tapi aku senang. Kamu boleh memujinya lebih banyak lagi. Kalau begitu, besok aku buat lebih banyak, ya?"


Sungguh keberuntungan besar. Tapi tujuan utama belum tercapai. Masaomi perlahan melepaskan gigitannya, menatap mata Hibari, dan mengeluarkan serangan pamungkasnya.


"Ciuman tidak langsung. Digabung sama ‘aaan~’ jadi keuntungan dua lapis. Itu sebenarnya target utamaku."


"………………"


"Kalau cuma berdua, kamu itu lumayan punya banyak celah, ya. Meski aku juga suka sisi itu darimu."


"Jangan ucapkan hal yang memalukan dengan sengaja… maksudku, yang terakhir itu… berapa kali pun kamu bilang… sudah ah!"


Hibari menatap sumpit itu lama, lalu memalingkan wajahnya dengan puit! Cuping telinganya merah—bahkan lebih merah daripada tomat kecil di bekalnya. Dia pasti baru sadar bahwa dia harus makan bekalnya dengan sumpit itu.


Makhluk apakah ini, kok bisa seimut ini? Sangat bisa didukung.


Ini dia, ini! Inilah yang ingin kulihat!


Masaomi tepuk tangan dalam hati, merayakan misi yang sukses besar.


──Keinginan terselubung untuk suatu hari nanti bukan ciuman tidak langsung lagi… untuk sementara disimpan dulu.


"Masaomi-kun juga malu sedikit kek. Aku yang terus-terusan digoda… ingat ya nanti!"


Dengan hmpf kecil dan nafas keras, Hibari melayangkan protes.


Balasan dendam? Sudah pasti bakal banyak. Tapi tidak masalah. Seekor semi yang tampaknya tertinggal oleh musim mulai berteriak min-min di dekat mereka. Mungkin dia ingin protes, “pikirkan nasibku yang sama sekali tidak dilirik betina.”


『Mengganggu waktu istirahat siang kalian. Mohon maaf.』


Di antara momen manis mereka, siaran sekolah menyelip masuk ke telinga. Suara itu sampai terdengar di atap mungkin karena ada jendela yang terbuka.


『Perkenalkan, saya Saeki Kanae, kandidat wakil ketua angkatan satu. Dengan izin sekolah, saya diberi kesempatan untuk melakukan pidato kampanye melalui siaran ini. Kepada teman-teman seangkatan, serta para senior, mohon maaf telah mengganggu waktu santai kalian di jam makan siang ini.』


Ah, suara ini, Masaomi langsung yakin. Gadis junior yang tadi ia ceritakan pada Hibari, yang punya aura cucian mulus itu.


Saat berhadapan langsung, senyum lembutnya lebih menonjol, tapi lewat mikrofon seperti ini, warna suaranya terdengar makin jelas. 


Bagaikan instrumen yang dimainkan profesional—indah, jernih, mengalun lembut. Dengarannya enak, artikulasinya jelas, tempo bicaranya pas. Kalau dibilang dia ingin jadi penyiar atau seiyuu pun Masaomi pasti mengangguk. Kalau membuat orang ingin mendengarkan adalah sebuah bakat, maka kemampuan bicara junior ini jelas-jelas bakat. Hanya dengan suaranya, dia sudah punya daya tarik yang mengumpulkan perhatian. Dan kalau dia memilih siaran sebagai sarana kampanyenya karena sadar itu adalah kelebihannya… ya, itu strategi yang cukup licik—dengan cara yang bagus.


──Lihat tuh. Yang kurang dari kamu itu bagian kayak gitu, wahai tipe pria keras kepala rambut panjang berantakan dengan anting.


『Meski saya masih baru, baru sekitar setengah tahun di sekolah kedokteran ini, saya ingin membuat kehidupan sekolah menjadi lebih menyenangkan dan lebih baik, dari sudut pandang siswa kelas satu. Jika ada permintaan untuk sekolah, jangan ragu menyampaikannya.』


──Hmmm, bikin ngantuk.


Suara lembut itu, di waktu setelah makan siang, memperkuat rasa kantuk Masaomi secara signifikan. Efek menenangkannya mungkin bisa digabung dengan pelajaran klasik yang diajarkan guru tua untuk jadi metode penyembuhan insomnia. Atau jangan-jangan dia sudah debut sebagai VTuber. Tidak heran kalau diam-diam sudah punya penggemar di sekolah.


"…n."


Suara manis yang melonggar. Bersamaan dengan itu, tubuh Hibari mulai miring—plop menimpa paha Masaomi. Aroma rambutnya yang manis menyapu hidung. Kelembutan tubuhnya terasa bahkan melalui seragam. Wajah yang benar-benar santai itu. Seakan berkata, “Jangan terpikat sama juniormu, temani aku.”


Dalam sekejap, dominasi suara junior tadi runtuh, dan Hibari langsung menjadi pusat dunia Masaomi. Keberadaan yang begitu hangat—selalu bikin terbiasa tapi tak pernah benar-benar terbiasa.


Masaomi merasa mungkin ia sedang sedikit tersenyum. Sepertinya Hibari mulai menyelam ke Astral Side. Dia menutup rapat tutup bekal yang belum habis ia makan lalu meletakkannya di samping—benar-benar terencana.


‘Oke, aku bakal jatuh nih.’


Begitulah pikir Masaomi, karena terlalu jelas bahwa Hibari sengaja membiarkan dirinya jatuh ke pangkuan. Apakah siaran sekolah ini tidak tabrakan dengan gelombang empati Hibari?


Tentu saja tidak. Gelombang Hibari hanya bisa diterima oleh orang tertentu. Dan menjadi salah satu orang yang bisa menerimanya—itu menghubungkan langsung ke harga diri Masaomi.


Hubungan itu ingin ia perkuat, percepat—semakin erat semakin baik.


"Walau sinyal ini berat sih, kalau lengah langsung masuk mode lambat… tapi ya, ini juga keuntungan. Andai hari-hari seperti ini bisa terus berlanjut."


Dengan cekatan ia mengubah posisi agar kepala Hibari tidak terjatuh. Ia menyibakkan helai rambut lembut itu, memastikan tidak mengganggu napas Hibari.


Jika Guardian sedang membantu, Masaomi merasa Hibari sedikit tersenyum. Mungkin cuma perasaan—atau karena Hibari terlihat terlalu nyaman sampai membuat Masaomi berpikir begitu.


──Fakta bahwa dia langsung lengah karena aku ada di dekatnya… mungkin itu juga tidak sepenuhnya bagus.


Kalau suatu hari nanti, seperti tahun lalu, terjadi sesuatu dan Masaomi tidak bisa berada di dekat Hibari lagi—apakah Hibari yang menggantungkan dirinya pada Masaomi akan tetap kuat bertahan di Material Side?


Ia memikirkan hal itu, sekalian saat mengurusnya seperti ini. Tentu saja ia berharap kekhawatiran itu tidak pernah terjadi. Tapi ia tahu—betapa rapuhnya keseharian yang damai, lembut, dan sedikit menggigit ini.


"Misalnya… kalau dia punya teman lain yang bisa berbagi Astral Side, aku bakal lebih tenang sih."


"n… uu… tomyo?"


Masaomi: Satu bait puisi dari jiwaku… lucu. Ya ampun lucu. Super lucu. (kelebihan suku kata)


Ucapan aneh Hibari—yang terdengar seperti suara tidur campur kebingungan—menggilas habis semua kekhawatiran tadi.


Kelucuan adalah keadilan.


Maka Hibari = keadilan.


Oke. Oke. Tidak perlu mikir ribet. Masaomi khawatir orang lain bakal jijik melihat dia tersenyum selebar itu. Tapi ia tetap menatap leher seputih salju dan kaki indah yang terjulur itu.

Waktu mencair begitu cepat. Aroma yang menusuk jantung cintanya setiap detik, kehangatan tubuh yang bersentuhan melalui seragam,

napas lembut yang seolah mempercayai keberadaannya.


『Jika aku terpilih menjadi wakil ketua angkatan satu, aku ingin menyediakan tempat istirahat khusus untuk tidur siang—』


Pidato junior itu rupanya masih berlangsung. Tapi tidak peduli seindah apa pun pidatonya…waktu bahagia seperti ini jelas tidak akan pernah kalah.


"Calon wakil ketua OSIS kelas satu, Saeki-san itu beneran imut banget ya. Terus yang wah-wow itu juga, bikin aku hawawa."


"Dasar laki-laki mesum. Tapi ya, suaranya emang bagus banget sih. Akhir-akhir ini aku jadi selalu nunggu waktu istirahat siang."


"Wajahnya kandidat terkuat di angkatan. Nantinya dia bakal jadi ketua OSIS tercantik dan menuntunku menuju masa depan!"


"Dia itu adik kelas, tahu? Kamu niat sekolah sampai berapa tahun di SMA ini?"


Suara-suara dari “ruangan acara” terdengar bergemuruh sampai keluar. 


Sekarang aku, Masaomi, dan Keiji sedang duduk di kursi lipat sempit yang dijejerkan di balik panggung gedung olahraga. Jam pelajaran keenam hari ini dipakai untuk pidato kampanye sebelum pemungutan suara OSIS, jadi para kandidat kelas dua dan para pemberi pidato dukungan sudah disiapkan untuk menunggu di ruang tunggu dadakan ini.


Kalau kegiatan kampanye sudah berjalan seminggu penuh, kupikir orang-orang bakal mulai bosan. Tapi untuk calon wakil ketua OSIS kelas satu, Saeki Kanae, bukannya rumor memudar—malah semakin sering jadi topik di mana-mana. 


Masaomi sendiri tidak tahu, tapi kabarnya dia bahkan membuat akun khusus kampanye di media sosial dan aktif berinteraksi dengan para pengikutnya. Sungguh tanpa celah.


"Syukurlah dia bukan lawan langsungmu, ya, Keiji."


"Ya, benar juga."


Kalau mereka mencalonkan diri untuk posisi yang sama, si gangster rambut panjang bertindik ini pasti tersingkir dalam satu detik.


Memang tidak selevel Hibari (ini penting), tapi Kanae jelas imut. Setiap pagi dia berdiri di depan gerbang sekolah, memberi salam dengan senyum lembut dan suara indah yang bisa menenangkan hati. 


Untuk para laki-laki yang tidak terbiasa dekat dengan perempuan, cukup itu saja sudah membuat mereka langsung jadi simpatisan. Ditambah lagi siaran sekolah setiap hari selama seminggu belakangan ini—suara yang familiar pasti menumbuhkan kedekatan. Strateginya untuk mengumpulkan suara benar-benar matang. Sementara itu, Masaomi sendiri tidak paham sama sekali kenapa harus bersusah payah untuk masuk OSIS, baik itu Kanae maupun Keiji. 


Sebagai informasi, sistem OSIS SMA Afiliasi Kedokteran ini agak unik. Ketua OSIS tidak dipilih melalui voting, melainkan otomatis naik jabatan dari wakil ketua OSIS kelas dua ketika naik ke kelas tiga, dan menjabat selama satu tahun penuh.


Contohnya, wakil ketua OSIS kelas dua saat ini dulunya adalah wakil ketua OSIS kelas satu, lalu naik jabatan saat memasuki bulan April. Tentu saja dia sekarang maju kembali sebagai kandidat wakil ketua kelas dua. Keiji mencalonkan diri sebagai pengurus umum kelas dua, yang jelas jalurnya berbeda dari wakil ketua. Kecuali sang wakil ketua mengundurkan diri karena alasan tertentu, Keiji hanya mungkin menjabat sebagai sekretaris atau bendahara.


Intinya, kalau menjadi wakil ketua OSIS kelas satu, selama tidak terjadi masalah besar, ia hampir pasti akan menjadi ketua OSIS pada akhirnya. Dalam arti itu, merencanakan untuk menjadi wakil ketua OSIS sejak kelas satu adalah jalan terbaik menuju kursi ketua OSIS. “Calon ketua OSIS tercantik”—komentar tadi tidak sepenuhnya salah. (Meskipun Masaomi tetap tidak mengerti, kenapa sejauh itu…)


"Baiklah, mari kita lihat kemampuan calon rekan masa depan kita."


Keiji tampaknya benar-benar yakin kalau dirinya bakal terpilih. Kanae menunggu di sisi panggung yang berseberangan sebagai kandidat kelas satu. Urutannya adalah: calon kelas satu, lalu kelas dua, kemudian pidato penutup oleh pengurus OSIS saat ini (termasuk kakak kelas tiga).


『Selanjutnya, calon wakil ketua OSIS kelas satu, Saeki Kanae-san, dipersilakan naik ke panggung.』


Mengikuti arahan pembawa acara dari OSIS, Kanae melangkah keluar dari balik panggung. Dengan langkah yang tenang, rambut ash-blonde yang mengalir seperti angin sejuk memantulkan cahaya lampu panggung, berkilau seperti serpihan bintang. Pita yang menyatukan gaya rambut half-up-nya berwarna navy, sama seperti gradasi pelangi yang ia miliki—menimbulkan kesan malam yang sunyi. Hanya dengan berjalan, seorang gadis itu membuat panggung gedung olahraga berubah seolah menjadi teater langit yang penuh cahaya.


—Benar-benar cantik, persis seperti kesan dari siaran sekolah.

Mungkin ia punya keluarga keturunan luar negeri; bahkan dari jauh saja kecantikannya tampak tidak biasa bagi orang Jepang. Kalau Masaomi tidak mengenal Hibari, ia pasti langsung menyerahkan gelar “gadis tercantik di sekolah” padanya tanpa pikir panjang.


Biasanya berdiri di depan seluruh siswa akan membuat seseorang gugup, tapi pandangan Kanae menembus seluruh aula olahraga dengan tenang. Tanpa sedikit pun gentar, ia berdiri tegak. Meski baru enam bulan masuk sekolah ini, pembawaannya begitu percaya diri hingga seluruh ruangan menghembuskan kekaguman—entah itu helaan napas atau suara terpesona. Siswa-siswa yang tadinya hanya ingin cepat pulang atau ke klub, seketika tertarik pada Kanae. Bahkan dari tempat Masaomi duduk pun terasa.


Saat Kanae menarik napas pelan di depan mikrofon, ekspektasi para siswa mencapai puncaknya.


『Teman-teman semua, ayo tidur siang bareng di sekolah!』


Kalimat pembuka yang di luar dugaan membuat seluruh aula terpaku. Dan sejak itu, situasi sudah sepenuhnya menjadi panggung milik Kanae.


『Perkenalkan sekali lagi, halo semuanya. Aku Saeki Kanae, calon wakil ketua OSIS kelas satu. Namaku memakai kanji ‘奏’ yang berarti memainkan alat musik—dibaca ‘Kanae’. Mungkin banyak dari kalian sudah tahu.』


Menurut ingatan samar Masaomi, ia pernah mengatakan di siaran sekolah bahwa ayahnya salah baca kanji itu sebagai ‘mengabulkan mimpi’. Kalau Masaomi saja ingat, para siswa lain pasti juga ingat.


Dikenal banyak orang itu sendiri sudah merupakan keuntungan besar. Kalau seseorang ingin memilih, wajar mereka cenderung memilih nama yang mereka kenal. Strategi “penanaman nama” lewat siaran sekolah benar-benar sukses.


『Selama siaran istirahat siang, aku menerima banyak reaksi. Teman sekelasku bilang suaraku khas, dan menyarankan aku jadi streamer saja, bukan OSIS. Misalnya cosplay… lucu, ya?

──Ah, bukan aku yang pakai, lho? aku bagian memotret. Kalian berharap aku yang pakai, ya?』


Ia bercanda sambil tersenyum penuh kelihaian. Pesona itu memang senjata terkuat.


『Jika suatu saat OSIS punya kanal video sendiri, mungkin aku bisa menunjukkan hal-hal itu di sana. Tapi kali ini, waktunya untuk menyampaikan apa yang ingin kulakukan di OSIS. Jadi, aku ingin menyampaikan satu hal saja──Mungkin kalian sudah sadar, tapi izinkan aku mengatakannya lagi.』


Bahkan dari balik panggung pun bisa dirasakan betapa seluruh aula fokus padanya. Beberapa siswa bahkan benar-benar merespons seperti sedang menonton idola.


『Teman-teman, ayo tidur siang bareng di sekolah!』


Aula kembali gempar.


『Akhir-akhir ini, kalian bisa tidur cukup? Kalau aku begadang, aku tidak bisa fokus di kelas. Aku kadang membaca jurnal akademik sebagai hobi, dan banyak penelitian bilang kurang tidur meningkatkan berbagai risiko. Bahkan berat badan lebih mudah naik… mengerikan, kan?』


Ia memeluk tubuhnya dan pura-pura gemetar. Bukan hanya siswa laki-laki—para siswi pun ikut menanggapi dengan, “iyaaa benar juga…”

Yang mereka respon bukan soal programnya, tapi karena “Kanae yang mengatakannya.”


『Karena itu, aku ingin memperkenalkan sistem tidur siang di sekolah. Kalau tidur saat pelajaran jelas akan dimarahi, tapi kalau ada sistem resmi, kita bisa tidur siang tanpa rasa bersalah. Sudah ada sekolah lain yang menerapkannya, jadi aku rasa ini cukup realistis. ‘Siesta time’. Gimana? Lucu kan?』


Bahkan nama programnya sudah dipikirkan. Cara bicaranya yang manis dan sedikit kekanak-kanakan, aksennya yang imut—semuanya diperhitungkan.


『──Ngomong-ngomong, ini sebenarnya obrolan yang nggak ada hubungannya, tapi aku ini… pokoknya suka banget tidur! Itu saja yang ingin kusampaikan sebagai penutup pidato. Terima kasih banyak sudah mendengarkan!』


Untuk ukuran pidato pemilihan OSIS SMA saja, tepuk tangan yang pecah setelah itu benar-benar seperti halilintar. Jadi cuma karena dia pengin tidur, ya!?—bahkan reaksi protes semacam itu pun, menurut Masaomi, sudah masuk dalam perhitungannya.


Dengan ekspresi puas seolah telah menuntaskan semuanya, Kanae turun dari podium dan kembali ke kursi yang diletakkan di atas panggung. Seorang siswi yang bertugas memberi pidato dukungan naik menggantikannya, tapi jujur saja, Masaomi hampir tidak terpaku sama sekali.


“Naa, Keiji—”


Saat hendak berbicara, Masaomi tiba-tiba merasa tatapannya beradu dengan tatapan Kanae yang baru saja duduk. Hanya sekejap, tapi… terasa nyata.


Detik berikutnya, pidato dukungan sudah selesai entah sejak kapan, dan Kanae bersama siswi pendukungnya menghilang ke balik panggung. Wajar saja. Pidato masih panjang dan giliran Keiji juga masih menunggu.


“Hm? Kenapa, Masaomi?”


“...Ah, nggak. Anak tadi, Saeki-san. Entah kenapa… dia kayak lagi memaksa diri?”


“Hah? Padahal dia tadi sempurna banget, kan.”


“Ya, itu dia. Kayak… terlalu sempurna.”


Seluruh aula pasti sekarang sedang membayangkan lagi senyumnya yang lembut bagaikan cahaya, pesona warnanya yang seperti vitral kaca gereja, dan pidatonya yang punya daya tarik aneh tapi kuat. Tutup mata sedikit saja, bayangannya lengket di pelupuk mata, lengkap dengan suara manisnya yang terngiang-ngiang.


“Ya, walau kita nggak harus bersaing langsung sama dia, tapi setelah dia, sih… apa pun yang datang setelah itu pasti langsung nggak berbekas.”


Seorang gadis yang bisa menandingi Hibari dalam kecantikan, tingkah laku anggun sampai bunga pun bisa cemburu, dan suara semanis burung kenari—ya sudah, ini mah kemenangan yang sudah ditakdirkan. Manifes? Semua kandidat isinya mirip-mirip juga. Kebanyakan siswa pasti berpikiran sama. Tapi Masaomi entah kenapa nggak bisa menghilangkan rasa ganjil dari “kesempurnaan” itu. Bukan cuma karena dia mungkin menghitung strateginya, tapi lebih seperti… dia sedang memaksakan sesuatu, memakai topeng—rasanya mirip dengan aura yang pernah Masaomi rasakan dari Hibari.


Karena Masaomi makin dekat dengan Hibari, sensitivitas semacam itu jadi meningkat… atau mungkin dia cuma terlihat seperti anak introvert yang suka curiga. Siapa yang tahu.


Lagi pula, ini cuma semacam nyari-nyari alasan untuk menjatuhkan orang populer. Dan bahkan jika benar pun, itu bukan urusan Masaomi. Semua orang pakai topeng dalam kadar tertentu, apalagi saat pidato pemilihan.


“Yah… dengan venue yang sudah sepanas ini, gimana caranya kita nyelipin gaya ‘keras’ kita ke dalamnya, ya…”


Betul. Masaomi benar-benar lagi nggak dalam posisi buat khawatir soal orang lain.



Hasil pemilihan OSIS pun keluar: Saeki Kanae terpilih sebagai Wakil Ketua OSIS kelas 1.


Dengan dukungan 96% suara. Sebuah kemenangan telak tanpa cela.


Sudah hampir satu bulan sejak pertarungan terakhir melawan “Wind” di Kota Medis Farance. Di wilayah Farance—kampung halaman Hibari, sang Noble Lark—kegiatan para Selphy, para perusuh dunia kacau yang kehilangan pemimpinnya, berangsur menyusut. 


Bisa dibilang, situasi mereka kini terkendali berkat ketakutan besar yang lahir dari reputasi “gadis perang gila yang mengirim Wind kembali ke asalnya dengan cara paling berbahaya.” Tambahan-tambahan rumor yang lebay itu bahkan ikut membantu menciptakan stabilitas. Dan gadis perang berserk tersebut kini, bukannya mencari pertarungan baru… atau tepatnya, karena memenuhi panggilan rekan-rekannya, tengah menapakkan kaki di Kota Suci Musik, Musa.


“F-Fuuka Shitensen peringkat tiga!?”


“Yang katanya pernah mencabik-cabik Wind pakai tombak di Farance itu!?”


“Dia tuh perempuan gila yang setiap kali nusuk orang pakai tombaknya, senyum tipis, lalu mendesah kayak lagi kesurupan itu!”


“Ah, nggak buruk sih kalau gitu. Hei, boleh nggak aku minta ditus—Gyaaaaaa♡”


…Benar-benar, mereka ngomong apa sih.


Hibari mendesah panjang sambil menusukkan tombak panjangnya ke salah satu Selphy yang merayap mendekat seperti predator kelaparan. Mereka memperlakukannya seolah-olah dia ini maniak perang, menakutinya, bahkan ada yang mendekat dengan tatapan penuh nafsu. Jika itu membuat musuh gentar, dia sih tidak keberatan memakai gelar apa saja. Tapi kalau sampai sesama Mesian, para Saudara Penyelamat, ikut menjauh darinya, itu sudah keterlaluan.


Hibari mengepakkan sayap putihnya seolah menepis pandangan berlebihan itu, dan dalam sekejap sang Noble Lark menendang bersih para Selphy. Dari cahaya tombaknya sampai bulu-bulu hias di perlengkapannya, semuanya menunjukkan kondisi prima. Setelah puas mengamuk bersama Guardian-nya, sang General, akhirnya tibalah momen kemenangannya di medan Spiritual.


Rekan-rekan Mesian yang memanggilnya sudah selesai menancapkan pasak dan mengamankan titik mereka. Setelah menerima ucapan terima kasih yang entah tulus atau sekadar basa-basi, Hibari bersiap kembali ke Material Side.


Saat itu—


『Kereeen! Luar biasa! Kamu benar-benar menendang habis mereka sendirian! Pantas saja kamu disebut Fuuka Shitensen!』


Sebuah suara cerah yang benar-benar ceroboh bergema, membuat Noble Lark memasang siaga penuh. Suaranya terdengar tepat di telinga, namun Hibari tidak bisa menangkap sumbernya. Tentu saja dia tidak lengah. Para Mesian lain juga celingukan, tidak tahu dari mana suara itu datang.


“Noble Lark, musuh baru?”


“Sepertinya Selphy, tapi… untuk apa muncul sekarang?”


Kalau memang mau bertarung, mestinya muncul sebelum pasak dipasang. Menantang Noble Lark yang sudah dilindungi oleh titik perlindungan adalah keputusan bodoh.


“Bisa sembunyi dari radar-ku, siapa pun itu pasti Diver kelas berat, kan?”


『Ah, nggak kok. Bukan begitu. Aku cuma jago petak umpet. Hey, ayo datang ke “Grand Theatre Senja Kuning”. Kita bicara berdua di sana, ya? Soalnya kalau ada yang nguping… aku malu~』


Jadi dia sudah menyaksikan semuanya sejak tadi, lalu sengaja memilih waktu yang pas untuk bicara.


—Dan dia tahu aku Fuuka Shitensen. Menarik juga.


“Ini mencurigakan banget. Jelas-jelas perangkap. Kamu tetap mau datang?”


“Tentu saja. Perangkap ya tinggal kuhancurkan saja, kan?”


“…Kamu terlalu suka pertengkaran, makanya sampai dijuluki gadis perang berserk…”


“Bukan urusanmu. Tugasku di sini sudah selesai. Aku pergi dulu, ya.”


『Senangnyaa~ Oke, ikut aku, ya─』


Mengabaikan para Mesian yang ternganga, Noble Lark mengepakkan sayap dan terbang menuju bangunan yang disebut Grand Theatre Senja Kuning—mengikuti arah suara misterius itu.


Dia terbang menembus batas area perlindungan titiknya dan masuk ke zona netral. Untuk bisa memanggil suaranya sejauh ini…kemampuan orang itu bukan main. Katanya jago petak umpet, tapi apa benar cuma itu?


“Karena ini kota musik, ini semacam bangunan hasil transfer struktur panggung? Tapi buat panggung, bentuknya kaku banget…”


Yang terbentang di depannya bukan seperti teater, melainkan seperti kuil raksasa. Deretan pilar batu menjulang bagai para raksasa penyangga langit. Pilar-pilarnya dari marmer putih dengan pahatan spiral halus di bagian atas. Namun sebagian besar atapnya hilang, sehingga bangunannya terbuka ke langit. Di dalamnya ada ruang sangat luas dengan lantai penuh pola geometris dari batu persegi panjang.


Hibari mendarat di serambi luar dan melangkah masuk perlahan. Lantaran bangunannya terbuka, pandangan dari udara maupun tanah cukup leluasa. Tapi jumlah pilar yang banyak membuat banyak sekali titik buta.


—Yah, kalau terpaksa, kupanggil saja General buat numpakin tempat ini.


‘Tubuh asli’-nya di Material Side pasti bakal protes habis-habisan kalau dengar ide barbar ini. 


Saat Hibari berjalan menyusuri pilar-pilar itu, salah satu bayangan tampak bergerak di sudut pandangnya.


“Nggak usah setegang itu dong〜 Di sini cuma ada aku kok. Aku nggak mau bertarung, nggak pasang pasak juga〜”


“Kalau begitu, kamu sebenarnya mau──”


Saat ia mengejar bayangan itu dengan tatapannya—


“──Pure… Cure?”


“Bener banget〜!”


Suaranya tanpa sadar lolos dari mulut Hibari. Dan sosok itu menyambutnya dengan tepuk tangan meriah. Dua cahaya matahari saling bersilangan seperti lampu sorot, menerangi sosok yang muncul itu—Seorang malaikat.


“『Dengan kelembutan malaikat, aku membawa penyembuhan suci! Pure Angel』”


Dia mengenakan kostum super frilly bernuansa pink dan hati, persis tokoh dari anime Minggu pagi untuk anak perempuan—entah musim yang mana. Ada halo kecil di atas kepala dan sepasang sayap mungil di punggung, seperti tempelan tambahan saja.

Hibari—Noble Lark—ingat pernah menonton seri itu waktu masih kelas rendah SD. Seingatnya, di episode terakhir sang tokoh berubah satu tahap lagi dan warnanya jadi oranye. Mungkin dia bahkan pernah minta mainan henshin-nya ke orang tuanya.


Di Astral Side, bentuk seseorang mencerminkan ideal di dalam dirinya. Jadi Diver yang punya ideal seperti ini sebenarnya tidak aneh… Tidak aneh, tapi tetap saja.


“『Dengan penyembuhanku, semua orang jadi jujur dan manis, yaaa〜♪』”


—Ini sebenarnya apa yang sedang kulihat, sih.


Orang itu sedang memasang pose pose sempurna dengan gerakan yang jelas-jelas meniru mentah-mentah koreografi aslinya.


Di tangannya tergenggam sebuah morning star yang berduri dan terlihat sangat garang—sama sekali tidak cocok dengan tokoh utama dari anime untuk anak perempuan. Ia menggunakan “pemberian berkah (versi fisik)” untuk mengusir Dademon (Dada・Demon) dari surga dan memaksa—atau lebih tepatnya, membenahi—mereka menjadi malaikat yang taat. Kalau tidak salah, itu memang musim yang cukup penuh kekerasan. Memasuki paruh kedua musimnya, mungkin karena banjir keluhan dari BPO dan PTA, senjatanya diganti menjadi nunchaku. Tapi tetap saja, ia menghajar semuanya dengan “pemberian berkah (super fisik)”. Sepertinya staf produksi memang punya obsesi tersendiri.


Kalau aku bisa mengingatnya dengan begitu jelas hanya dari melihat sosoknya, berarti Selphy dari Zaman Kekacauan ini benar-benar sedang mengenakan wujud ideal yang sangat mendekati aslinya. Noble Lark tidak terlalu paham soal pengisi suara, tapi kalau didengarkan baik-baik, kualitas suara anime-nya juga terdengar sangat mirip.


“Memang paling bagus ya, Pure Angel. Ahh… benar-benar yang terbaik. Sampai bikin ngelamun sendiri.”


“Kalau cuma mau main-main Pure Cure, aku sudah lulus dari fase itu. Jadi lakukan sendiri.”


“Ah jangan gitu dong. Lagian dunia ini sendiri kan semacam permainan peran juga? Kamu juga bisa kok menjadi Pure Valkyrie. Dengan tombak itu kamu pasti bisa memberikan berkah!”


Pure Angel gadungan itu sempat benar-benar masuk ke dalam perannya sebelum mengajakku, tapi aku menolak dengan baik-baik. Sejauh yang diingat oleh Hibari, di musim yang ia tonton dulu tidak ada Pure Valkyrie. Memberikan berkah pakai tombak? Apa pula itu.


“Ngomong-ngomong, boleh aku tahu tag unikmu?”


“Aku Suonare. Senang berkenalan ya.”


Sempat terpikir hal sepele: kenapa bukan “Pure Angel”. Tapi aku langsung menanyakan inti persoalan.


“Kenapa kamu memanggilku?”


“Eh? Ya karena aku ingin ngobrol, kan tadi sudah kubilang?”


Dengan warna pelangi merah muda yang tidak nyata berkelip-kelip di mata, ia memiringkan kepala seolah tak mengerti kenapa aku perlu menanyakannya.


“Aku tuh dari dulu ingin banget ngobrol sama kamu. Ya ampun, kamu cantik banget. Levelnya bisa nyamai Pure Angel. Memang benar-benar malaikat, ya—si Fuuka Shitensen… Noble Lark, kan?”


“Aku tidak paham maksudmu. Yang malaikat itu kamu, bukan?”


“Ya memang aku malaikat sih. Tapi bukan itu maksudnya. Lebih kayak… wujud? Atau konsep?”


Ia melempar sembarangan morning star kesayangannya, lalu membuat bentuk kotak dengan jarinya seperti sedang melihatku lewat bingkai kamera. Kalau maksudnya memuji kecantikan, aku masih bisa mentolerirnya.


“Haaah~ indah sekali. Motif terbaik. Inilah yang namanya this is it. Dunia ini terlalu penuh kekerasan, tahu? Bahkan Pure Angel pun capek kalau harus memberi berkah terus. Kalau ada sosok cantik yang kusukai, kurasa aku boleh dong cuma ingin disembuhkan oleh kehadirannya. Tanpa pasak, tanpa pertarungan, oke?”


Konsep itu benar-benar membalik seluruh ide dasar dari Pure Cure yang penuh kekerasan itu. Anak-anak pasti akan mengirimkan keluhan bertubi-tubi.


“Haaah, terima kasih ya. Sudah dapat banyak bahan untuk ‘screenshot dalam otak’.”


“...Boleh aku pulang sekarang?”


“Jangan dingin begitu,” kata Suonare sambil manyun. Tapi dia tidak berusaha menahanku.


“Yah, setidaknya ini cukup membuat mentalku stabil untuk sementara. Makasih ya.”


Aku tidak tahu harus merespons apa.


Noble Lark terus terang sangat kecewa. Pada akhirnya, ia sama sekali tidak tahu apa kemampuan Suonare. Kalau dia memang meniru Pure Angel, mestinya kemampuannya adalah “memberi berkah (fisik)”... tapi kok rasanya tidak sesuai? Nanti akan kucek ulang.


Begitu kesadaranku mulai kembali pada realitas, penglihatan mulai dipenuhi noise, kemudian perlahan mengabur. Teknik yang kupelajari dari Guardian-ku—keseimbangan antara ideal dan realitas. Cara yang kupahami sejak insiden di Farance.


Saat Noble Lark mulai melakukan dive out, hanya suara ceria Suonare yang terdengar.


“Kalau begitu, sampai ketemu lagi ya, malaikat! Kata kuncinya adalah—Angel・Physical・Critical! Sampai minggu depan, jangan lupa nonton lagi ya!”


Kalau boleh, aku berharap “minggu depan” itu tidak pernah datang, sungguh.



Ruang OSIS SMA Afiliasi Kedokteran berada di lantai dua gedung kelas khusus, tepat di seberang ruang guru, setelah melewati koridor penghubung dari gedung kelas biasa.


Tidak ada siswa yang dengan suka rela mendekati ruang guru, dan Masaomi pun tidak terkecuali—hampir tidak punya kenangan pernah datang ke area itu. Semakin dekat ia berjalan, semakin ia merasakan ketegangan aneh. Ia jadi sedikit paham maksud ayahnya yang pernah berkata, “Kalau ada mobil polisi lewat, setir mobil terasa lebih berat.”


Di udara hening setelah jam pelajaran, ada semacam aroma disiplin yang merembes keluar dan menempel di sekitar sini. Jendela-jendela yang berjajar dengan jarak tak beraturan menyaring cahaya jingga matahari senja. Masaomi menatap papan nama ruang kelas yang mengambang samar dalam cahaya itu, lalu bergumam dengan wajah tak percaya.


“Yah, tapi… ruang OSIS, ya.”


Benar-benar tidak disangka Keiji beneran terpilih—gumaman yang berisi perasaan semacam itu. Meski cuma pengurus kecil tanpa jabatan penting, tetap saja aneh bahwa laki-laki kayak dia bisa benar-benar jadi pengurus OSIS. Sang guru kehidupan, En Shuukaku, pasti akan pucat kalau melihat ini. Ada, dulu, orang yang mirip begitu.

Mungkin, tentu saja, ini hasil dari pidato dukungan Masaomi yang sangat mencolok—masuk kategori “kandidat lelucon”. Tapi terpilih ya tetap terpilih. Mau tidak mau, Keiji harus kuberi selamat.


“Eh, Masaomi? Ngapain kau di sini.—Muka apa yang kau bawa ke sini, hah.”


Begitu membuka pintu ruang OSIS seenaknya, Keiji sudah duduk di kursi dekat pintu.


“Mau lihat, lah. Pengen tahu kayak apa sahabatku yang paling brengsek bekerja dengan serius.—Dan ternyata kau beneran di sini.”


“Jelas lah.” 


Keiji yang sekarang berambut cepak coklat, menyipitkan mata ke arah tumpukan berkas entah apa yang terbuka di atas meja. Bagian rambutnya yang dulu neon seperti batang lampu kini warnanya mirip float matcha di atas café au lait. Masaomi hampir tertawa melihatnya.


“Rasanya kepala aku nggak tenang sama sekali. Dasar kau, bisa-bisanya ngelakuin hal segila itu dengan muka datar. Kau itu waras nggak sih.”


Ya, ini memang hasil “aksi panggung”.


Sebenarnya, Masaomi menyembunyikan hair clipper di sakunya dan membawanya ke tempat pidato dukungan. Sekali kesempatan muncul, ia langsung menggunduli rambut panjang Keiji. Ia menarik garis tengah terlebih dahulu, jadi bahkan kalau berhenti di situ pun jadinya mohawk terbalik. Keiji pun cepat sadar ia tidak bisa mundur lagi.


Melihat Keiji tak melawan, Masaomi membabat rambutnya seolah sedang panen padi di awal musim gugur.


Jujur saja, itu sangat menyenangkan.


『Saat rambutnya kembali sepanjang dulu, aturan baru tentang aksesori rambut pasti sudah diberlakukan di sekolah ini. Saksikanlah dokumentasi real-time perkembangan jati diri seorang yankee!』


Di luar kadar “penyiaran sinyal aneh” itu, Masaomi sebenarnya adalah tipe yang mungkin dibenci sebagian laki-laki karena berhasil dapat pacar cantik. Tapi celah kegilaan yang ia tunjukkan dengan wajah datar justru kena di hati penonton, membuat aksi itu jauh lebih disukai dari perkiraannya.


Tentu Masaomi punya alasan. Dari suasana panggung pidato saja, ia sudah tahu bahwa Keiji dengan rambut coklat panjang dan pidato hambar tidak akan menang. Ia pun nekat mengambil risiko. Andai semuanya bisa selesai tanpa harus “menarik pedang”, itu lebih baik—begitu katanya, tapi sebenarnya itu cuma aksi putus asa.


Tentu saja, Masaomi tidak meminta izin Keiji sebelumnya. Mana mungkin Keiji akan memberi izin. Tapi setelah ia memelototi Masaomi sebentar, Keiji melihat hasilnya dan menyadari ada peluang menang yang nyata—meskipun harus menukar separuh kewarasannya. Lalu ia memasang senyum kaku seperti idola yang memberi fanservice dan menunjukkan tanda V.


Ya, Keiji juga sedang putus asa. Berantakan di panggung setelahnya memang luar biasa merepotkan, dan sedikit mengganggu jalannya acara. Tapi suasana dan momentum sudah cukup untuk meraih suara “lelucon”, yang bertiup seperti angin dewa—dan hasilnya, Keiji resmi masuk OSIS.


“Eh, Orito. Ngebawa pahlawan kemenangan ke mari buat pesta kemenangan, ya? Bagus, bagus! Muda memang harus semangat! Gahaha!”


Suara menggelegar datang dari pojok ruangan, dari kursi paling atas.


“Ah, nggak, Ketua. Ini orang bukan tipe yang ngelakuin hal-hal wajar. Dia setan, tahu. Setelah minta jiwamu, dia narik bulu pantatmu sebagai pajak. Ya kan, Masaomi.”


“Jadi sepuluh persen jiwamu itu bulu pantat, gitu?”


“Nahhahahaha! Kalian ini seru sekali! Pantas saja bisa bikin kekacauan sedahsyat itu. Jangan lupa bayar ‘uang sahabat’ ke setan supaya dia nggak kabur!”


“Ketua, tolong berhenti pamer kalau nggak punya teman.”


“Bukan gitu! Aku jadi ketua karena punya banyak pengikut! Serius! Beneran!”


Sepertinya laki-laki bersuara besar itu dipanggil “ketua” oleh Keiji.


Saat Masaomi menoleh, dia langsung bangkit tegap, seperti berkata, ‘Lihat aku!’


“Namaku! Betul sekali! Aku—SOU! FU-RU-O-YA SOU! Haaai!”


“Haaai apaan,” Masaomi hampir aja refleks ngegas seperti ke Keiji.


Jangan lupa, dia tetap senior. Dan ritme plus nadanya benar-benar mirip lagu unit rock terkenal itu.


“Katanya itu materi andalannya. Cara paling efektif menanamkan nama Sou ke kepala orang,” bisik Keiji dengan wajah lelah.

Baru beberapa hari jadi pengurus OSIS, tapi dari perlakuannya saja sudah jelas: kepribadian sang ketua sangat… kuat.


Tinggi badannya hampir sama dengan Keiji, tubuhnya atletis bahkan terlihat dari balik seragam, kakinya panjang seperti di komik, dan—jujur saja—termasuk kategori laki-laki super tampan.


Masaomi seharusnya pernah melihatnya saat rapat umum sekolah, tapi otaknya memang tidak fokus pada hal-hal yang tidak menarik baginya—atau bahasa Inggris. Melihat giginya yang putih seperti iklan pasta gigi, Masaomi langsung yakin: ia tidak akan pernah melupakan nama orang ini lagi. Rasanya bakal muncul dalam mimpi. Mimpi buruk, tepatnya.


“OSIS tahun ini ramai sekali! Banyak orang unik! Sayang tinggal setengah tahun sebelum turun jabatan! Gahaha!”


“Bagus ya, Keiji. Kamu dapat pujian dari ketua kaum ‘unik’.”


“Eh, bentar, Masaomi? Kenapa aku yang jadi unik—”


“Maaf, Orito. Ketua kita ini agak repot soal pemahaman, jadi aku terjemahin: barusan dia bilang kau yang unik.”


“Eh Orito? Aku tuh bukan orang unik sih—”


“OSIS pasti berat ya. Yah, semangat ya, Keiji. Aku pulang dulu sebelum tertular bakteri ‘orang unik’.”


“Eh, Masaomi? Kita ketemu pertama kali kan? Beneran pertama kali kan?? Kenapa udah begini pembawaannya!? —”


“Sebenernya pengen aku usir sambil lempar garam sih, dasar iblis pemangkas rambut… Tapi serius, kau tuh ke sini ngapain…”


Tentu saja, Masaomi hanya datang untuk mengganggu.


Sebenarnya ia ingin menanyakan alasan Keiji masuk OSIS itu sendiri, tapi kalau berlama-lama dan sampai ketua ini ingat wajahnya, bakal merepotkan. Tujuannya sudah tercapai lewat pidato dukungan. Masaomi ingin hubungan dengan OSIS berakhir di sini saja.


“Aku ini, ketua OSIS loh!?Ayo semuanya bersama-sama,fu-ru-o-ya—”


Masaomi memilih mengabaikan jiwa berbahaya itu sepenuhnya. Amit-amit.



“Kusunoki-senpai?”


“Woë?”


Begitu Masaomi keluar dari ruang OSIS, seorang perempuan berkilauan tiba-tiba menyapanya. Ia sampai memekik aneh tanpa sengaja, karena sosok yang menyapanya itu benar-benar di luar dugaan.


“Ah… Saeki Kanade—bukan, Saeki Kanae-san?”


“Aduh, masa sih salah sebut nama perempuan? Itu dosa besar, lho! … Hehe, tapi ternyata Senpai benar-benar mengingat namaku. Suatu kehormatan, nih.”


Yang menyapa Masaomi adalah seorang siswi yang terpilih sebagai wakil ketua OSIS tingkat satu, bernama Saeki Kanae. Kalau meminjam kata-kata para siswa yang mendukungnya, dia adalah “kandidat wajah terbaik angkatan satu.” Saking berkilauan sampai-sampai terasa bisa membakar mata.


“L-lagian, waktu pidato kampanye, itu… kamu kan luar biasa banget. Katanya menang telak, ‘kan. Itu…”


“Aku cuma berkata apa yang ingin kukatakan, jadi sebenarnya aku malu banget. Padahal aku cukup deg-degan, lho.”


Kanae menyipitkan mata biru navy-nya sambil tertawa kecil. Sebuah senyuman yang begitu sempurna sampai rasanya bisa dipercaya kalau ada yang bilang dialah asal-usul kata “shukujo”—wanita anggun. Di luar itu, suara yang saat di panggung terdengar jelas dan tegas, saat bertatapan langsung malah terdengar sedikit lembut dan menggoda.


“Ngomong-ngomong, kenapa kamu tahu namaku?”


“Aduh, masa lupa~? Kita kan naik panggung bareng waktu pidato calon!”


Ia menggenggam kedua tangan Masaomi erat-erat sambil menatap ke atas dengan mata jernih bening yang benar-benar mematikan. Hentikan, mata polosmu itu senjata mematikan, pikir Masaomi sambil sedikit mengalihkan pandangannya, lalu melepaskan tangannya dengan halus agar tidak dianggap kasar. Sensasi sentuhan itu berbeda dari tangan dingin Hibari, meninggalkan rasa geli aneh di kulitnya.


Saat ia kembali menghadap—dengan gerakan sekaku robot—Kanae masih tersenyum manis tanpa terlihat jengkel sedikit pun. Luar biasa, cara perempuan ini mempersingkat jarak dengan orang baru. Inilah yang disebut jurus pasti menang dari perempuan berkilau: Saeki Kanae, benar-benar menakutkan.


Padahal meski bilang “bareng,” mereka jelas menunggu di sayap panggung yang berbeda. Tidak ada alasan bagi Kanae, yang jauh lebih menonjol, untuk repot-repot mengingat tipe laki-laki figuran macam Masaomi.


“Ah, jangan-jangan Senpai belum sadar betapa hebatnya diri sendiri, ya? Seperti pemeran pendukung kelas berat gitu, lho.”


Dilihat dari kejauhan saja dia sudah tampak sangat cantik, dan setelah berada begitu dekat, Masaomi makin sadar betapa sempurnanya wajahnya. Rambut ash-blonde, garis wajah terukir jelas, tapi senjata terkuatnya tetap—


“Pidato dukungan Senpai… atau lebih tepatnya, aksi memotong rambut itu, luar biasa loh♪ Bisa jadi legenda, beneran.”


Ekspresi wajahnya yang berubah-ubah begitu manis.Benar-benar daya tarik tanpa celah.Tak heran banyak laki-laki ingin mendukungnya. 


Bagi Masaomi, standar kecantikan tertinggi tentu saja Hibari, tapi membandingkan Hibari yang dingin dengan Kanae yang penuh senyum itu saja sudah salah kaprah. Dua makhluk berbeda galaksi.


Tentu saja Masaomi tetap Oshi Hibari sejati—dan bukan, bukan alasan untuk membenarkan pegangan tangan tadi. Itu murni serangan dadakan tanpa perlawanan! Ia membela diri dalam hati.


—Tapi, perempuan ini terlalu ideal…


Periang dengan orang baru, sedikit agresif tapi tidak berlebihan, dan memang cantik. Ia tersenyum sambil mendengarkan cerita laki-laki membosankan macam dirinya. Begitu “sempurna” sampai terasa seperti tokoh buatan: idol, atau malaikat.


“Perilaku sedrastis dan segila itu sih cuma mungkin dilakukan kalau di Astral Side.”


—Dan Masaomi langsung tersadar setelah mendengar istilah yang tak boleh ia abaikan. Tadi… dia bilang Astral Side!?


“Lagipula, Senpai itu sedang jadi topik hangat akhir-akhir ini, ‘kan? Jadi aku sudah tahu Senpai bahkan sebelum pidato kampanye. Soalnya Senpai pacarnya Hibari-senpai.”


Masaomi menahan suara aneh yang bergemuruh di tenggorokannya. Rumor tentang si gadis eksentrik nan mencolok, Sasuga Hibari, yang tiba-tiba berkencan dengan laki-laki sekelas tak dikenal—ternyata sudah menyebar sampai para junior. Masaomi gemetar. Pajak ketenaran? Aku tidak mau membayarnya!


Tapi lebih penting dari itu adalah… kata-kata aneh tadi.


“Yah, soal rumor sih memang tidak bisa dihindari… tapi, tadi kamu bilang Astral Side?”


“Kepikiran ya? Iya kan? … Aku sudah menduganya kok.”


Meski untuk sesaat seolah Kanae berubah menjadi tanpa ekspresi—begitulah rasa Masaomi—namun dalam satu kali kedipan saja senyum itu sudah kembali lagi, jadi mungkin itu hanya perasaannya saja. Dia memang perempuan yang ekspresinya gampang berubah. Sebelum Masaomi sempat bertanya apa maksud dari “seperti yang kuduga” itu,


“Kalau begitu, keluarkan ponselnya, Kusunoki-senpai!”


“Eh, ah, iya.”


“Instagram… eh bukan, buka LINE ya, Kusunoki-senpai!”


“Eh, ah, iya.”


“Ayo kita ngobrol soal Astral Side, dunia spiritual itu. Di hari libur, berdua, santai-santai. Aku masukin jadwalnya ya!”


“Eh, ah, iya… iya?”


Masaomi, yang kembali dijadikan teman dengan mudah oleh gencarnya serangan Kanae, akhirnya hendak mengatakan, bukankah itu agak tidak boleh?—namun ia menahan diri.


Keinginannya sendiri: ia ingin menambah orang yang bisa menjadi teman dan memahami Hibari. Dan sekarang ada seorang junior yang sepertinya mengetahui soal dunia Astral Side—bukankah ini justru kandidat yang tepat?


Soal bertemu berdua di hari libur… tentu saja ia harus terlebih dahulu meminta izin dengan sangat, sangat sopan, hati-hati, merendah, dan penuh penghormatan.


“Ah, buruk. Rapat OSIS mau mulai. Aku pamit duluan. Maaf ya, aku yang manggil tapi malah pergi dulu! Terima kasih sudah meluangkan waktu. Nanti aku chat lagi!”


Tanpa mengurangi sedikit pun energi ledakan yang mirip meriam, percakapan itu pun—kelihatannya—selesai. Rambutnya yang setengah diikat sampai terangkat ringan tertiup waktu ia membungkuk begitu cepat. Atau lebih tepatnya, kalau percakapan berlanjut, Masaomi yakin dirinya bakal didesak terus oleh junior yang sangat agresif itu dan entah dipaksa janji apa. Jadi ia justru bersyukur percakapan dipotong.


Kanae mengangkat wajahnya, lalu sambil memegang gagang pintu ruang OSIS, menoleh:


“Aku sangat tertarik pada Kusunoki-senpai. Bukan cuma soal Astral Side, tapi aku ingin kita bisa akrab. —Tolong sampaikan salamku pada Hibari-senpai juga.”


Karena terkejut, bahkan setelah Kanae lenyap masuk ke ruang OSIS, Masaomi masih terpaku menatap ikon LINE-nya—ikon yang entah gambar patung apa. Ia rasa ia terhenti begitu saja selama dua menit penuh. Tertarik pada Kusunoki Masaomi. Saeki Kanae, yang menang telak dalam pemilihan OSIS itu. Ini hal yang membuatnya tidak bisa tenang dalam banyak arti.


“Hei, Kusunoki, kau juga punya urusan di OSIS? Baik Orito maupun kau, apakah kalian masuk masa muda yang tiba-tiba memuncak?”


Kalau bukan karena dipanggil oleh Midou Satayoshi—wali kelas sekaligus pembina OSIS (mengaku 32 tahun, masih lajang)—yang baru saja keluar dari ruang guru, Masaomi mungkin sudah resmi jadi orang mencurigakan.


“Yah, soal memuncak aku nggak tahu sih… Sensei, pernah nggak ngerasain masa jadi populer? Soalnya aku kan udah punya pacar, tapi tadi rasanya kayak junior itu nempelinnya semacam cap? Nggak mungkin sih. Iya, nggak mungkin. Lihat Sensei, aku jadi tenang. Salah paham. Maaf.”


“Aaah?”


Ia ditatap dengan intimidasi.


“Ngomong apa kau dengan muka serius begitu. Junior yang kau maksud itu Saeki? Perempuan gratisan yang bisa ditemui kapan aja itu nggak ada di dunia ini. Semua wanita di dunia ini adalah bisnis cinta. Kontraknya adalah uang. Uang tak mengkhianati. Ingat itu.”


Sepertinya ia menyaksikan semuanya. Benarlah, area dekat ruang guru adalah gerbang iblis. Masaomi harus berhati-hati ke depannya.


“Aku nggak ngerti filsafat cinta Sensei yang suram itu, tapi setidaknya pacar bukan bisnis, menurutku.”


“Aaah?”


Ia kembali diintimidasi.


“Anak yang bahkan belum hidup separuh hidupnya berani-beraninya memamerkan masa populer kepada lelaki 32 tahun yang tak punya pacar—ayo kubenamkan.”


“Sensei barusan loncat dua tingkat dari bahaya normal!”


“Hmph, berani-beraninya mempermainkanku untuk merapikan emosimu, dasar bocah.”


Pria 32 tahun tanpa pacar ini ternyata cukup tajam. Punggungnya yang melangkah masuk ke ruang OSIS tampak lebih besar daripada biasanya. Namun, kembali lagi—dia tertarik pada Masaomi.


Adakah perempuan lain selain Hibari yang aneh seperti itu? Ia mencubit pipinya sendiri, tapi tetap saja tak menemukan jawabannya.



“Hmmm……………………”


Hibari menyentuh penjepit rambut berbentuk sayap itu, dan tentu saja mood-nya sedang sangat buruk.


Keesokan harinya saat jam istirahat siang, gadis cool tersebut menatap bawahannya yang fault itu dengan mata setengah terbuka yang dingin bak es. 


Di atap sekolah seperti biasa. Anginnya lembut, cuaca pun tidak buruk. Tapi suasananya tiba-tiba terasa menusuk.


Wajar saja. Kalau Hibari tiba-tiba bilang, “Di hari libur aku ketemu berdua sama junior laki-laki tampan. Mohon izin ya,” Masaomi pasti akan sangat super tidak senang. Jadi menghadapi rintangan setinggi tebing ini sudah masuk dalam perhitungannya.Tinggal menaklukkannya —itu saja. Semua masih dalam batas teori. Bahkan En Shuukaku pasti akan bilang begitu: teori, teori.


──Tapi, bagaimana caranya? Dengan Hibari yang auranya seperti mengeluarkan efek bunyi “bussuuuuu” langsung ke dalam telinga melalui koneksi nirkabel ini… bagaimana caranya sang Guardian, Masaomi, bisa menaklukkannya? Terlihat mustahil, tapi dalam dokumenter romansa, hal seperti ini mungkin saja cukup standar.


“Aku memang tidak mau dianggap sebagai pacar yang picik dan sempit pandangan, tapi tetap saja ini… tidak menyenangkan.”


“Aku sangat paham. Maksudku, kalau Hibari bilang benar-benar nggak mau, tentu saja aku akan menolaknya. Dan kupikir, menjelaskan semuanya secara jujur begini adalah bentuk ketulusan paling maksimal yang bisa kuberikan.”


“Aku tidak bilang ‘benar-benar’, tapi… levelnya sampai membuatku ingin menuliskan makian di buku harianku.”


Wajah datarnya yang biasanya anggun lenyap entah ke mana. Tapi Hibari yang sedang menunjukkan emosi pun tetap menggemaskan meski sedang merengut. Soal ketulusan, itu untuk nanti—di dalam hati Masaomi, sedang berlangsung parade festival wah lucunya pacarku yang sangat meriah. Ia juga jadi penasaran apakah di buku harian itu ada komentar manis-manis tentang dirinya atau tidak.


“……Sekarang kamu lagi senyum-senyum dalam hati, kan? Aku mulai ngerti, soalnya. Kamu itu punya ‘wajah serius yang sebenarnya mikir hal-hal tidak bermoral’.”


“Seperti yang diharapkan dari pacar terbaik. Hanya Hibari yang bisa ngerti aku.”


“Dan lihat, Kamu begitu lagi… licik. Masaomi-kun itu tipe laki-laki yang mempermainkan hati perempuan dengan cara halus, ya. Aku serius, tahu?”


“Laki-laki paling datar sedunia sampai bisa dapat penilaian seperti itu… Tapi perasaanku menganggapmu lucu itu juga serius, lho.”


Hibari berusaha keras mengembalikan wajah tegasnya yang hampir mencair. Mungkin ini sebabnya Masaomi sering dituduh menggoda hati orang. Jelas-jelas ketulusannya masih kurang.


“Tapi kamu juga penasaran kan? Soal dia tahu tentang Astral Side. Dalam pidatonya dia bilang suka tidur, tapi nggak pernah ada gosip dia sampai ketiduran di mana-mana. Dan dia kayaknya tahu tentangmu sejak awal.”


“Aku sendiri pertama kali tahu soal… Saeki-san, ya? Itu pada pemilihan kemarin. Aku cuma tahu dia junior yang jadi wakil ketua. Tidak lebih. Dia… cantik, ya?”


Masaomi mengakui Hibari memang terkenal. Kalau Kanae hobi fotografi, tentu gadis cantik sekelas Hibari cocok sebagai model. Kalau dia tahu Hibari karena itu, masuk akal. Tapi kenapa nada bicaranya sedikit penuh tekanan waktu bilang “cantik”? Apakah itu relevan?


Hibari tampak berpikir sejenak, lalu berkata,


“Nee, Masaomi-kun.”


“Hm?”


“Saeki-san bilang, ‘Anda kan orang yang menjalin hubungan dengan Hibari-senpai,’ begitu kan?”


“Tidak yakin kata per kata, tapi kira-kira seperti itu.”


“……Berarti inti utamanya aku dan Astral Side? Dia… pernah bertemu denganku di suatu tempat…?”


Ia langsung memasang wajah serius dan diam. Masaomi juga merasa ada semacam kejanggalan saat berbicara dengan Kanae, tapi tidak bisa menjelaskannya. Jadi ia menunggu petunjuk dari Hibari bagaikan wahyu dari langit.


“Jadi itu maksudnya tertarik, ya… hmm. Baiklah.”


“Hah?”


“Aku izinkan kalian berdua pergi di hari libur berikutnya.”


Hibari mengatakan itu dengan wajah super serius. Perkembangan mendadak yang membuat sang bawahan setia Masaomi panik. Tapi bukankah itu tujuan awalnya? Meski begitu, kenapa ini terdengar seperti jebakan? Apakah nanti akan ada hukuman di Astral Side? Semacam “Hukuman Tusukan Guardian”?


“Tapi dengan syarat.”


Pose yang cocok dengan huruf 凜 terpampang pada dirinya. Apakah ini hukuman neraka? Eksekusi bagi bawahannya? Atau mungkin──


“Masaomi-kun, meskipun dia junior yang lucu… selingkuh itu tidak boleh, ya?”


“Mustahil aku selingkuh.”


“Mustahil pun tetap saja tidak boleh.”


Hibari mendengus hmmph dengan hidung—gestur yang akhir-akhir ini sering ia tunjukkan,


“Dia sampai membawa-bawa Astral Side segala. Itu jelas ada maksud.”


Sebuah maksud yang, kalau salah arah sedikit saja, mungkin akan menjadi maksud cinta, dan itu jelas masalah yang cukup berat—begitulah nada Hibari mengatakannya.


“Aku merasa dia sengaja berusaha menarik perhatian Masaomi-kun. Apa itu sindiran untukku, ya?”


“Aku juga sepakat kalau rasanya tidak semua sikapnya itu tulus sih, tapi…”


Yang mereka hadapi adalah seorang gadis cantik kelas satu yang juga wakil ketua OSIS. Rambut setengah-up yang berkilau, tubuh ideal, suara bagus, dan punya daya tarik imut—dia itu benar-benar seperti kartu SSR yang super kuat. Masaomi, yang cuma karakter common, jelas tidak mungkin membuat gadis seperti itu jatuh hati. Menurutnya, Kanae hanya tipe yang ramah pada semua orang, mudah dekat dengan siapa pun, dan karena itu jaraknya ke Masaomi pun sama seperti kepada orang lain. Tapi bagi Hibari, itu tidak terdengar begitu sederhana.


“Makanya, aku tidak bisa bilang aku tidak tertarik sama dia──bukan dalam arti romantis, maksudku.”


Bukan hanya soal Astral Side. Tapi lebih dari itu, ini hanya dugaan sepihak Masaomi, namun…


“Entah kenapa ada kesan bahwa dia itu seperti… nggak bisa dibiarkan begitu saja. Kayak dia sedang memaksakan diri, dan itu sedikit mengingatkanku pada Hibari.”


‘Gadis sempurna yang disukai semua orang’ itu justru terlihat terlalu dibuat-buat, terlalu sengaja. Dan karena Masaomi selalu melihat kehidupan sehari-hari dengan sedikit sinis, ia jadi menafsirkannya begitu.


“Makanya kupikir, sebenarnya dia tipe orang yang cocok buat jadi teman kamu, Hibari.”


Dalam hal ‘bersikap dibuat-buat terhadap orang lain’, keduanya terdengar cocok.


Hibari menghela napas. Napas yang mengandung nada: Yah, memang dia itu begini orangnya… mau bagaimana lagi.


“Kamu itu terlalu datar dan lurus, itu juga masalah. Menilai bahwa ‘kalau kupisahkan perasaan cintanya ke Masaomi, kepribadiannya cocok dengan pacarku’, itu bukan cara berpikir orang normal. Biasanya, dia akan merasa ‘aku nggak suka ya nggak suka’, titik.”


Oh… jadi itu tidak normal──begitu dibilang, Masaomi langsung kehilangan kepercayaan diri.


“Jadi… kamu nggak suka dia ya.”


“Jelas aku nggak suka. Tapi aku tetap kasih izin kalian pergi. Hanya karena aku penasaran dengan ketulusannya saja. Itu saja.”


Masaomi mau tak mau berpikir: Padahal kamu juga sering membagi hal-hal dengan cara tidak normal, tapi ia tidak mengatakannya. Toh mereka memang bukan pasangan ‘normal’ sejak awal. Tidak normal adalah hal yang normal bagi Masaomi dan Hibari.


“Aku tegaskan lagi, selingkuh itu…”


“Nggak boleh. Aku tahu.”

“Aku percaya… kok?”


“Itu bentuk tanya, ya…?”


“Hari ini aku bikin tamagoyaki lebih banyak. Dan sekarang aku jadi pengin melemparkannya.”


“Membuang itu dosa besar.”


“Mungkin aku harus meninjau kembali seleksi ‘Guardian’ ini.”


“Tolong jangan, hamba ini telah bersumpah mengabdi pada Hibari-sama seumur hidup.”


Kata demi kata seperti permainan tarik-ulur untuk mengelola mood Hibari. Alis Hibari yang tadi makin naik karena kesal, perlahan turun dan berubah jadi sedikit bentuk ‘ハ’.


“Seumur hidup mengabdi… hmm… fufu.”


Masaomi sedikit merinding. Mungkin barusan ia menginjak sesuatu yang berbahaya. Sebagai tambahan, hukuman ‘Tusukan Guardian’ di Astral Side benar-benar dilaksanakan.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close