Chapter 21
Kenyataan
Simbol
perdamaian sekaligus pilar pertahanan negara. Sebuah bangunan yang didirikan
untuk melindungi lingkaran sihir khusus tertentu—Menara Pelindung.
Di lantai
atas menara tersebut, pada hari ini, mereka yang seharusnya tidak saling
bermusuhan justru berdiri berhadapan.
"Tak
kusangka aku akan diperlihatkan pemandangan keluargaku yang meledak hancur.
Kurasa ini pengalaman yang langka, tapi sama sekali tidak menyenangkan."
Berdiri di
atas lantai sambil mendongak ke langit-langit adalah seorang pemuda.
Parasnya yang
tampak ramah memberikan kesan lembut bagi siapa pun yang melihatnya, namun di
saat yang sama, tidak ada sedikit pun emosi yang bisa terbaca dari manik mata
hitam pekatnya.
Meskipun ia
memiliki atmosfer yang terkesan transenden, tubuh pemuda itu tetaplah manusia
biasa, terlalu rapuh untuk berhadapan dengan eksistensi tingkat tinggi.
"Keluarga?
Apa yang kau bicarakan... ah. Manusia, kau... seorang Myskella (Tubuh
Terkontaminasi), ya."
Sosok yang
merendahkan pandangan pada pemuda itu adalah makhluk bersayap putih bersih
dengan pilar cahaya di punggungnya.
Meski ia
bermanifestasi di dunia ini tanpa sengaja dan hubungannya dengan Dewa Utama
melemah karena terisolasi, ia masih mengandung kesucian dan berkah yang
melimpah.
"? Aku
adalah keluarga Happy. Aku kakaknya dan dia adikku... eh, salah?"
"...Kontaminasi
itu bahkan sudah merusak ingatanmu. Pencucian otak ini bukan hal baru yang
terjadi kemarin atau hari ini. Sudah sejak lama... kau sudah diperdaya sejak
masih kecil, ya. Malang sekali."
Makhluk
bersayap itu menatap sang pemuda dengan ekspresi pedih, meratapi jalan hidup
yang telah dilaluinya.
Sebuah wadah
malang yang dirampas seluruh kebahagiaan dan ketenangan yang seharusnya
didapatkan sebagai manusia, dan terus dimanfaatkan hingga hari ini.
Menyaksikan
perbuatan keji dan tidak masuk akal oleh pengikut Dewa Jahat secara langsung,
ia pun menyipitkan mata dengan rasa amarah sekaligus rasa kewajiban yang kuat.
"Tenanglah, aku akan
menyelamatkanmu. O Son of Man, Receive This Blessing Upon Thy Body—"
(Tidak akan kubiarkan!!)
Demi menyelamatkan sang pemuda dari
pencucian otak dan kontaminasi, tepat saat makhluk bersayap itu menurunkan
ketinggian dan mengulurkan tangannya, lantai, dinding, dan langit-langit
bergejolak dalam kekacauan seolah menolak hal tersebut, dan gelombang besar
dari darah dan daging yang kental pun muncul.
Amarah terkandung di dalam darah dan
daging yang berlumuran kenajisan itu.
Tubuh setengah cair yang dibuat secara
terburu-buru demi menghentikan tindakan egois dari eksistensi yang berlawanan
itu menyerbu ke pusat ruangan untuk memangsa sang utusan surga yang baik hati.
"Na—cepat
sekali...!? Cih! Wahai Kejahatan, wahai Kenajisan, saksikan cahayaku! Ugh, guh!
Aaaaaaakh!"
Makhluk
bersayap itu sama sekali tidak lengah. Namun, manifestasi ulang musuhnya
terlalu cepat.
Ia segera
meledakkan bola cahaya yang ia ciptakan untuk menghanguskan darah dan daging
yang mendekat, namun kegilaan dan kenajisan yang merangsek tanpa henti dari
segala arah bahkan melahap cahaya menyilaukan itu, lalu menekannya hingga
hancur.
Namun,
harganya sangat mahal. Hawa keberadaan jahat telah menjauh, dan kini tempat itu
dipenuhi dengan cahaya hangat dan udara suci.
Di
tengah kesunyian itu, sang Malaikat justru semakin waspada sambil mengerahkan
seluruh tenaganya untuk memurnikan dan meregenerasi tubuhnya.
"Sial...
penyembuhannya lambat sekali... aku terlalu banyak menggunakan tenaga...!
Makhluk gila apa itu sebenarnya...!"
Setelah
menghabiskan waktu yang jauh lebih lama dari biasanya untuk mengembalikan wujud
aslinya, sang Malaikat mengepakkan sayapnya untuk melayang dan memaki, mencoba
memastikan kondisi tubuhnya.
Kenajisan
dan kegilaan yang sangat besar. Pertemuan dengan musuh yang segalanya berada di
luar standar.
Kejahatan
itu sendiri, yang memiliki kekuatan kontaminasi kuat yang tidak boleh dihadapi
sendirian, sengaja bermanifestasi hanya untuk melahap dunia kecil berdimensi
rendah ini.
Dari mana
musuh mendapatkan kekuatan abnormal itu?
Apa yang
membuat individu itu menyimpang jauh dari standar seorang Pion?
Jawaban dari
pertanyaan itu ada tepat di bawah kakinya.
"Tubuh Happy... kamu, benar-benar
berbahaya ya. Aku tidak ingin merepotkan orang lain, tapi sepertinya ini tidak
bisa dihindari."
"Bocah... begitu ya, kau menarik
kekuatan dari Myskella yang telah mengumpulkan kenajisan itu...!"
Manusia yang dikuasai oleh kegilaan
Dewa Jahat akan bermimpi. Mimpi buruk keputusasaan abadi yang berakar pada
penyesalan bawah sadar, masa lalu yang tidak bisa dihindari, atau mungkin dosa
asal yang sebenarnya tidak pernah ada.
Keputusasaan dan rasa takut itu
menanamkan benih jauh di dalam lubuk hati, dan benih yang tumbuh itu akan
memakan kepribadian sang inang sambil terus berkembang, hingga akhirnya bunga
kegilaan mekar.
Memanfaatkan anak kecil yang bahkan
jati dirinya belum terbentuk sempurna, dan menjadikannya wadah najis adalah
perbuatan yang sangat kejam.
Kenajisan yang terus dituangkan ke
dalam mental dan jiwa selama kurun waktu yang lama pada akhirnya akan
menghancurkan kepekaan aslinya secara total, dan kepribadian serta norma yang
ditulis ulang akan memperlihatkan dunia lain yang gila kepada orang tersebut.
Yakin bahwa pemuda di depannya telah
diubah menjadi kawah kenajisan, sang Malaikat menggertakkan gigi karena amarah
yang besar.
"Jadi di sini adalah ladang
peternakannya ya, bajingan...! ...Aku tidak akan pernah membiarkannya. Sebelum monster
itu kembali, setidaknya aku harus memurnikan bocah ini...!"
Tadi ia sempat terkena serangan kejutan
karena manifestasi ulang musuh yang jauh lebih cepat dari perkiraan, namun
karena intensitasnya sangat kuat, jumlah kenajisan yang berhasil dimusnahkan
juga sangat besar.
Seberapa pun abnormalnya individu itu,
musuh pasti juga sangat kelelahan, dan butuh waktu lama untuk bermanifestasi
kembali.
Sekarang
adalah satu-satunya kesempatan untuk memurnikan si pemuda. Sang Malaikat
memutuskan hal tersebut dan memantapkan tindakannya.
(Tapi...)
Di saat yang
sama, ia merasakan duka yang mendalam.
Untuk
menyelamatkan manusia yang telah diubah secara mendasar sampai sedalam ini, ia
harus memurnikan keberadaannya sekaligus dan menyusunnya kembali menjadi
eksistensi suci.
Sebuah
kontradiksi di mana sosok yang seharusnya menyayangi, mencintai, dan memberkati
manusia, justru harus mencabut nyawa manusia itu sendiri, meski hanya
sementara.
(...)
Keraguannya
hanya sesaat. Ia membuka matanya yang sempat terpejam, lalu tersenyum selembut
mungkin dan berbicara kepada pemuda di kakinya.
"Bocah,
kau sudah bertahan dengan baik sampai sekarang. Awalnya kau mungkin akan
terkejut... tapi rasa sakitnya hanya sekejap. Kau bisa melupakan semua mimpi
burukmu sampai hari ini. Jangan khawatir. Meskipun kau menjadi kosong, mulai
sekarang akulah yang akan melindungimu, dan mencintaimu selamanya—Blessing and
Affection for the Flame of Rebirth."
Roda yang
sempat berhenti mulai berputar kembali, dan sebuah api kecil menyala di dada
sang Malaikat.
Api yang
terlihat terlalu rapuh untuk melawan kejahatan besar itu, tak diragukan lagi
adalah wujud cintanya.
Rasa sakit
yang membakar tubuh, maupun penderitaan, setidaknya biarlah berakhir dalam
sekejap.
Api yang
membawa doa semacam itu jatuh menuju sang pemuda sambil memancarkan cahaya yang
gemilang.
Beberapa saat
kemudian.
Di depan
pandangan sang Malaikat yang bersiap menerima hasil dari tindakannya sendiri,
kejadian luar biasa kembali terjadi.
(Jangan... sentuh... Heresy...!!)
Retakan ruang
untuk kesekian kalinya. Daging kental yang dimuntahkan keluar.
Yang
muncul untuk melindungi sang pemuda dari api yang dilepaskan adalah tubuh Pion
yang bentuknya hancur dan mengeluarkan rintihan lemah.
Benar-benar
menjadi dinding daging, pengikut Dewa Jahat itu menerima api suci tersebut,
lalu ia terbakar hingga bagian tengahnya berlubang, berubah menjadi hitam, dan
jatuh ke lantai.
"A...!?
Serius, apa yang terjadi sebenarnya...!"
Seharusnya
tidak ada cukup waktu untuk melakukan interupsi. Namun kenyataannya, musuh
berhasil menyusun tubuhnya meski tidak sempurna dan melakukan intervensi ke
dunia ini.
Sang
Malaikat refleks berteriak melihat kenyataan itu dan bersiap sambil mengepakkan
sayapnya lebar-lebar.
(Heresy... san... aman...)
"...Sepertinya
kau tidak punya tenaga sebesar tadi ya. Kau cuma keluar sambil menghentikan
proses regenerasimu."
Tubuh
Pion itu hancur sejak saat ia bermanifestasi, dan sekarang ia terbaring di
lantai dengan tubuh yang melepuh terbakar.
Meski
terus menggeliat dan mencoba menjulurkan organ yang menyerupai lengan ke arah
si pemuda, hanya itu yang bisa ia lakukan.
Mengabaikan
suara yang dikeluarkan oleh wajah manusia yang meleleh itu, saat sang Malaikat
kembali menjatuhkan api ke arah si pemuda, musuh melompat sambil mencabik-cabik
tubuhnya sendiri untuk melindunginya, lalu tubuhnya terbakar mengeras hingga
tak bergerak lagi seperti buih yang membeku.
"Happy,
kamu tidak apa-apa? ...Happy?"
Si pemuda
berlari mendekat ke arah benda yang seharusnya sudah menjadi bangkai itu dan
menumpukan kedua tangannya.
Sosok pemuda
yang berbicara kepada daging yang telah menjadi arang dan darah yang mengerak
di lantai itu, benar-benar terlihat seperti anak kecil yang kehilangan sesuatu
yang sangat berharga.
Sang Malaikat
merasa pedih melihat hal itu, namun ia merasa heran dengan serangkaian tindakan
Pion yang rela mengorbankan dirinya demi melindungi si pemuda.
Ia mungkin
menemukan nilai yang tidak sedikit pada manusia yang ia cuci otaknya dan
manfaatkan itu, tapi menguras tenaga berulang kali demi seorang Myskella yang
hanyalah wadah tambahan adalah tindakan yang terbalik.
Jika ingin
mencegah pemurnian, ia cukup menelan dan menyatukannya saja.
"Aku
tidak tahu kenapa kau begitu terpaku padanya, tapi sepertinya bocah itu sangat
penting bagimu. Tapi dengar, dia bukanlah mainanmu...! Cara menggunakan nyawa
adalah keputusan orang yang memilikinya!"
Pemuda yang
kepribadian aslinya dirampas, bahkan dunia yang ia lihat dan arti hidupnya
telah dibelokkan. Kontradiksi musuh yang baru sekarang mencoba melindunginya.
Sang Malaikat
yang berteriak pada ketidakadilan dan keegoisan di depan matanya, kembali turun
dan berdiri di samping pemuda itu. Ia merasa anak malang ini harus diberkati.
"Bocah,
kau bisa melihatku? Bisakah kau menyambut tangan ini?"
Sang Malaikat
berbicara pada pemuda itu dan mengulurkan tangannya.
"...Pasti
berat ya. Kau tidak perlu menderita lagi. Tidak perlu bertahan lagi. Sebagai
anak manusia, kau seharusnya diberkati selamanya dalam cinta dan
kenikmatan."
Tanpa peduli
tangannya akan kotor oleh darah yang menempel di lantai, sang Malaikat berlutut
tepat di samping si pemuda dan memegang tangannya.
Yang ia
rasakan adalah kehangatan darah dan—dinginnya tangan tersebut. Dalam waktu
singkat ini, si pemuda mendapatkan luka robek besar di telapak tangannya, dan
mengeluarkan banyak darah dari sana.
"Ha...
hei bocah, luka ini kenapa! Maaf, jangan-jangan karena dampak pertempuran
tadi..."
"Eh? Ah,
ini luka yang kubuat sendiri barusan. Tulang Happy sering memiliki potongan
yang tajam, jadi aku meminjamnya. Aku ingin mencoba apa yang baru saja
diajarkan Leticia padaku."
"Jangan
bicara bodoh...! Tunggu, luka seperti itu akan segera kusembuhkan. Aku
mempercayaimu. Aku akan menerima segalanya tentangmu. Jadi bocah, kau juga
harus menerimaku—"
"Sympathy."
Seketika,
dunia tempat mereka berada kehilangan warnanya dan berganti menjadi dunia lain.
Yang terbentang di depan mata sang Malaikat adalah dunia yang jernih tanpa noda
sedikit pun.
Di
sampingnya, si pemuda masih berdiri, melihat ke sekeliling seolah terkejut
dengan efek sihir yang baru pertama kali ia gunakan.
Sebuah sihir
yang sangat primitif yang bermanifestasi dengan mengalirkan mana kepada lawan
yang telah menerima diri sendiri—Sympathy.
Sihir yang
seharusnya tidak mungkin bisa mencampuri eksistensi tingkat tinggi, kini justru
menunjukkan kekuatan paksa yang membuat keduanya bertemu di dalam dunia mental
sang pengguna.
"Ini...!?
Bocah, ini duniamu... kah...?"
"Eh, apa
ini? Ternyata sihirnya seperti ini ya? Karena aku dengar ini sihir untuk
mengetahui kondisi monster panggilan, aku pikir kalau aku tahu kelemahan musuh
setidaknya aku bisa sedikit membantu... tapi sepertinya berbeda dengan apa yang
dikatakan Sensei."
Sambil si
pemuda menoleh ke sana kemari melihat dunia putih transparan itu, sang Malaikat
yang berdiri terpaku di sampingnya tidak bisa menyembunyikan keguncangannya
melihat kondisi ruang ini.
Biasanya,
mental manusia yang telah berubah menjadi Myskella akan mengalami deformasi
yang menyedihkan akibat kenajisan dan kegilaan.
Namun, di
dalam ruang yang ia lihat sekarang, tidak ada jejak pengaruh itu, bahkan tidak
ada satu pun niat jahat atau kegelapan.
Sang Malaikat
memegang tangan pemuda yang berdarah itu, dan meski ia mengerutkan dahi, ia
memberkati dan mengobati luka tersebut.
Apakah pemuda
ini berhasil menepis kenajisan dan kegilaan dengan kemurnian ini?
Atau—apakah
setelah kontaminasi dan pencucian otak, ia bahkan kehilangan hati yang bisa
hancur?
(Beraninya... kau... menyentuh...
Heresy...!!)
Jeritan yang merobek ruang. Manifestasi
dari amarah dan kegelisahan.
Bersama dengan suara seperti kaca yang
pecah, dunia mental pemuda itu hancur berantakan, dan gumpalan daging berbentuk
pengait yang mencuat dari belakang menembus perut sang Malaikat.
"Ugh... buh,"
Sang Malaikat yang tubuhnya terangkat
akibat benturan tusukan itu, mencoba memahami situasi dengan pandangan yang
mengabur.
Dinding putih. Lantai putih. Dan cahaya
serta kegelapan yang bercampur. Ia mengikuti masing-masing dengan matanya, dan
menyadari bahwa ia telah kembali ke tempat ia dipanggil—Menara Pelindung.
Selama itu pun sang Malaikat
meronta-ronta mencoba melepaskan gumpalan daging di perutnya, namun pipa-pipa
daging tak terhitung jumlahnya yang masuk dari lubang itu mulai berakar sambil
mencabik-cabik bagian dalam tubuhnya, dan mulai mengalirkan kenajisan secara
langsung ke dalam tubuhnya.
"Akh, aaaaaaaaaakh!! Guh,
Sparkling Light for the Burnt Life—!"
Hanya dengan
sisa kekuatannya, ia sudah tidak mungkin bisa membalikkan keadaan ini.
Sang Malaikat
mengikis peringkatnya secara besar-besaran untuk mengubahnya menjadi kekuatan
sementara, dan dengan kilau nyawanya, ia menghanguskan pipa daging dan
kenajisan yang masuk ke dalam dirinya.
Meski ia
berhasil membebaskan tubuhnya yang tertusuk dan terjatuh ke lantai, ia tidak
bisa memberikan tenaga pada tangan dan kakinya untuk berdiri, dan hanya bisa
berlutut sambil memegangi perutnya yang berlubang.
"Hah...
hah...! Apa... apa yang... terjadi."
Dengan
kesadaran yang mulai kabur di atas lantai yang ternoda darah, yang dilihat oleh
sang Malaikat adalah sosok Pion yang sekarang menjadi jauh lebih besar dan
mendekati bentuk tak tentu, sedang mendekap si pemuda.
Garis luar
tubuh yang batasnya mulai samar. Lubang daging yang menunggu sebuah koneksi.
Mata yang
berdenyut di permukaan tubuh, dan tumor daging tak terhitung jumlahnya yang
terus menyusut dan membelah diri. Nyawa tak tentu yang melampaui konsep kehidupan dan menyebar ke seluruh
ruang.
(Heresy,
kamu tidak apa-apa? Apa dia menyakitimu?)
"Iya,
aku tidak apa-apa. Aku tidak terlalu mengerti, tapi sepertinya dia mengobatiku?
Happy, itu tubuhmu saat mulai bertambah banyak di awal-awal dulu, kan? Waktu
itu sama sekali tidak mau berhenti sampai aku tertawa ya."
"Begitu,
ya... makhluk ini, mewarisi sifat dari 'Kelompok'... ugh, dan dia telah
dilahirkan... ya..."
Ada banyak
misteri mengenai pengikut Dewa Jahat. Sejak kapan mereka ada, dan apa
tujuannya. Apa yang ada di bagian terdalam sarang yang dijaga oleh pasukan
skala besar. Mengapa spesies tingkat tinggi lebih sering meninggalkan
kelompoknya sendirian.
Di antara
semua itu, banyak informasi yang dibagikan mengenai kelas prajurit tingkat
rendah Pion yang frekuensi pertempurannya sangat menonjol, namun bahkan bagi
sang Malaikat yang telah lama bertarung di garis depan, ini adalah pertama
kalinya ia bertemu dengan individu seperti ini.
Perbuatan
tabu yang melampaui batas kelas prajurit, melampaui batas hukum alam, dan
bahkan memberikan nyawa pada ketiadaan, adalah otoritas terlarang yang dimiliki
oleh spesies tingkat tertinggi dari kejahatan.
"Hah...
aku mengerti, kau kuat. Kau benar-benar gila. Aku... sepertinya akan mati di
sini."
Sang Malaikat
memaksakan tubuhnya yang sekarat untuk tegak, dan malah tersenyum dengan raut
wajah yang segar. Dirinya yang sudah tidak sanggup lagi mengobati tubuhnya
sendiri. Musuh yang memiliki kekuatan yang menyimpang sebagai seorang Pion.
Di tengah
situasi yang sudah dipastikan ini, sang Malaikat menyalakan cahaya di tangannya
dengan satu tujuan. Cahaya yang mulia dan indah, yang dihasilkan dari membakar
sisa nyawanya yang tinggal sedikit hingga batas maksimal.
"Bocah,
tenanglah. Aku tidak akan membiarkan ini berakhir dengan menyedihkan."
Mata mereka
bertemu, dan sang Malaikat tersenyum lembut. Ia tidak lagi membutuhkan
perlindungan untuk membentengi dirinya. Tidak butuh tenaga sisa untuk
pengobatan. Yang ia butuhkan hanyalah satu serangan terakhir yang mengerahkan
segalanya.
Pemuda yang
mendapatkan kontaminasi hingga kehilangan hatinya, dan menjadi boneka Dewa
Jahat.
Kepada anak
manusia yang terjebak dalam kegilaan sehingga tidak bisa mengenali dunia dengan
benar sampai sekarang, ia ingin memperlihatkan cahaya yang asli meski hanya
sesaat.
Menunjukkan
bahwa ada cara hidup lain yang berbeda dari saat ini di mana ia dicuci otaknya
oleh kejahatan.
Meskipun ia
tidak bisa mendapatkan kembali kewarasannya di tempat ini sekarang, asalkan ini
bisa menjadi pemicu bagi si pemuda untuk menyadari kebenaran suatu saat nanti,
itu sudah cukup.
Ini adalah
harga diri sebagai malaikat yang lahir untuk mencintai dan membimbing manusia.
"Lihatlah
baik-baik. Dan rasakanlah. Jika kau sedikit saja mulai meragukan kegilaan yang
menyelimutimu... maka kematianku ini tidak akan sia-sia."
Tubuhnya
menjadi panas seolah-olah mendidih. Hal-hal penting di dalam dirinya mulai hancur.
Dengan
rasa kehilangan yang kuat sebagai bayarannya, kekuatan besar merembes ke
seluruh tubuhnya. Sang Malaikat mempersembahkan kekuatan yang melampaui batas,
dan membakar cahaya pada roda-roda yang tadinya sudah membusuk dan tumbang.
Cahaya
yang mengandung kemauan kuat itu akhirnya menghasilkan panas, dan roda ganda
yang mulai berputar sambil berkobar hebat itu menjadi matahari yang menerangi
kegelapan dan mengusir kejahatan.
Matahari
yang lahir dengan cara itu berdenyut sambil merangkul kekuatan yang terus
bertambah secara eksponensial di dalamnya, dan mempercepat putarannya bukan
untuk fungsi aslinya yaitu pemurnian, melainkan hanya untuk menyinari seorang
pemuda saja.
Kekuatan
yang dipadatkan secara paksa di pusat bola cahaya itu akhirnya membengkak
hingga mencapai ranah yang tidak bisa dicapai oleh hukum dunia ini, dan saat
seberkas cahaya yang meluap karena tidak terbendung lagi sudah memiliki panas
yang cukup untuk menghanguskan permukaan planet, roda itu mulai hancur untuk
melepaskan panas intinya—
"Ah,
mereka datang juga. Maaf ya, tiba-tiba memanggil kalian."
—Ia
tertembus oleh sorot mata bermassa yang tiba-tiba diarahkan dari dimensi lain,
lalu ditelan oleh organ dalam dan cairan tubuh yang tercurah dari langit
seperti air terjun, hingga kehilangan seluruh kekuatannya dan lenyap.
(Maaf,
kami agak terlambat.)
Hawa
keberadaan musuh baru. Kejahatan yang sangat besar hingga membuat ruang
bergelombang.
Saat
sang Malaikat refleks mengalihkan pandangannya ke langit-langit, di sana telah
lahir rawa berbuih berbentuk lingkaran yang tadinya tidak ada.
Muncul
dari rawa najis itu seolah melewati gerbang, adalah gumpalan daging bulat
raksasa yang melayang di udara. Pengikut Dewa Jahat.
Itu
adalah musuh dunia yang terus berdenyut, dan secara berkala melahirkan anak
dalam jumlah besar dari celah daging yang terus mengalirkan cairan tubuh najis.
Sebuah
senjata strategis yang akan mengubah benua yang muncul menjadi tanah mati dalam
sekejap mata.
Dikenal dengan sebutan Womb (Rahim).
Kenajisan itu sendiri yang seharusnya tidak pernah dikerahkan ke tempat seperti
ini, bermanifestasi hanya untuk menodai satu malaikat yang sekarat.
(Kami
sudah datang. Apa kamu terluka?)
Bala bantuan
tidak hanya itu. Di sampingnya, yang mencuat dari lantai hingga menembus langit
adalah pilar raksasa yang disebut Caretaker (Pengasuh). Tubuh bergelombang yang
hanya dipenuhi oleh bola mata berbagai ukuran itu memberikan rasa penolakan
yang kuat bagi siapa pun yang melihatnya, sekaligus menjadi panji keputusasaan
yang memberitahukan bahwa tempat ini adalah wilayah Dewa Jahat.
Menara
komando yang mengamati medan perang dari ketinggian dan menginstruksikan
penghancuran serta kontaminasi yang efisien kepada para prajurit di garis depan
itu, menggemakan suara tidak menyenangkan dari gesekan bola-bola matanya sambil
mengikuti sosok si pemuda dengan tatapan tak terhitung jumlahnya.
"Maaf
ya, padahal kalian juga sudah datang saat pelajaran pemanggilan kemarin. Karena
Happy bilang dia lawan yang berbahaya, aku jadi sedikit khawatir. Ah, benar
juga. Aku belum sempat menyiapkan oleh-oleh, tapi kalau boleh, kapan-kapan
bagaimana kalau kita makan bersama sebagai tanda terima kasih?"
Pemuda yang berbicara kepada eksistensi yang mampu menghancurkan dunia dengan mudah itu, menampakkan senyum yang tidak bisa ditahan di hadapan krisis sejarah manusia yang ia ciptakan sendiri.



Post a Comment