NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Naze Nigerun Dai? Boku no Shoukanjuu wa Kawaii yo Volume 1 Chapter 21

Chapter 21

Kenyataan


Simbol perdamaian sekaligus pilar pertahanan negara. Sebuah bangunan yang didirikan untuk melindungi lingkaran sihir khusus tertentu—Menara Pelindung.

Di lantai atas menara tersebut, pada hari ini, mereka yang seharusnya tidak saling bermusuhan justru berdiri berhadapan.

"Tak kusangka aku akan diperlihatkan pemandangan keluargaku yang meledak hancur. Kurasa ini pengalaman yang langka, tapi sama sekali tidak menyenangkan."

Berdiri di atas lantai sambil mendongak ke langit-langit adalah seorang pemuda.

Parasnya yang tampak ramah memberikan kesan lembut bagi siapa pun yang melihatnya, namun di saat yang sama, tidak ada sedikit pun emosi yang bisa terbaca dari manik mata hitam pekatnya.

Meskipun ia memiliki atmosfer yang terkesan transenden, tubuh pemuda itu tetaplah manusia biasa, terlalu rapuh untuk berhadapan dengan eksistensi tingkat tinggi.

"Keluarga? Apa yang kau bicarakan... ah. Manusia, kau... seorang Myskella (Tubuh Terkontaminasi), ya."

Sosok yang merendahkan pandangan pada pemuda itu adalah makhluk bersayap putih bersih dengan pilar cahaya di punggungnya.

Meski ia bermanifestasi di dunia ini tanpa sengaja dan hubungannya dengan Dewa Utama melemah karena terisolasi, ia masih mengandung kesucian dan berkah yang melimpah.

"? Aku adalah keluarga Happy. Aku kakaknya dan dia adikku... eh, salah?"

"...Kontaminasi itu bahkan sudah merusak ingatanmu. Pencucian otak ini bukan hal baru yang terjadi kemarin atau hari ini. Sudah sejak lama... kau sudah diperdaya sejak masih kecil, ya. Malang sekali."

Makhluk bersayap itu menatap sang pemuda dengan ekspresi pedih, meratapi jalan hidup yang telah dilaluinya.

Sebuah wadah malang yang dirampas seluruh kebahagiaan dan ketenangan yang seharusnya didapatkan sebagai manusia, dan terus dimanfaatkan hingga hari ini.

Menyaksikan perbuatan keji dan tidak masuk akal oleh pengikut Dewa Jahat secara langsung, ia pun menyipitkan mata dengan rasa amarah sekaligus rasa kewajiban yang kuat.

"Tenanglah, aku akan menyelamatkanmu. O Son of Man, Receive This Blessing Upon Thy Body—"

(Tidak akan kubiarkan!!)

Demi menyelamatkan sang pemuda dari pencucian otak dan kontaminasi, tepat saat makhluk bersayap itu menurunkan ketinggian dan mengulurkan tangannya, lantai, dinding, dan langit-langit bergejolak dalam kekacauan seolah menolak hal tersebut, dan gelombang besar dari darah dan daging yang kental pun muncul.

Amarah terkandung di dalam darah dan daging yang berlumuran kenajisan itu.

Tubuh setengah cair yang dibuat secara terburu-buru demi menghentikan tindakan egois dari eksistensi yang berlawanan itu menyerbu ke pusat ruangan untuk memangsa sang utusan surga yang baik hati.

"Na—cepat sekali...!? Cih! Wahai Kejahatan, wahai Kenajisan, saksikan cahayaku! Ugh, guh! Aaaaaaakh!"

Makhluk bersayap itu sama sekali tidak lengah. Namun, manifestasi ulang musuhnya terlalu cepat.

Ia segera meledakkan bola cahaya yang ia ciptakan untuk menghanguskan darah dan daging yang mendekat, namun kegilaan dan kenajisan yang merangsek tanpa henti dari segala arah bahkan melahap cahaya menyilaukan itu, lalu menekannya hingga hancur.




Namun, harganya sangat mahal. Hawa keberadaan jahat telah menjauh, dan kini tempat itu dipenuhi dengan cahaya hangat dan udara suci.

Di tengah kesunyian itu, sang Malaikat justru semakin waspada sambil mengerahkan seluruh tenaganya untuk memurnikan dan meregenerasi tubuhnya.

"Sial... penyembuhannya lambat sekali... aku terlalu banyak menggunakan tenaga...! Makhluk gila apa itu sebenarnya...!"

Setelah menghabiskan waktu yang jauh lebih lama dari biasanya untuk mengembalikan wujud aslinya, sang Malaikat mengepakkan sayapnya untuk melayang dan memaki, mencoba memastikan kondisi tubuhnya.

Kenajisan dan kegilaan yang sangat besar. Pertemuan dengan musuh yang segalanya berada di luar standar.

Kejahatan itu sendiri, yang memiliki kekuatan kontaminasi kuat yang tidak boleh dihadapi sendirian, sengaja bermanifestasi hanya untuk melahap dunia kecil berdimensi rendah ini.

Dari mana musuh mendapatkan kekuatan abnormal itu?

Apa yang membuat individu itu menyimpang jauh dari standar seorang Pion?

Jawaban dari pertanyaan itu ada tepat di bawah kakinya.

"Tubuh Happy... kamu, benar-benar berbahaya ya. Aku tidak ingin merepotkan orang lain, tapi sepertinya ini tidak bisa dihindari."

"Bocah... begitu ya, kau menarik kekuatan dari Myskella yang telah mengumpulkan kenajisan itu...!"

Manusia yang dikuasai oleh kegilaan Dewa Jahat akan bermimpi. Mimpi buruk keputusasaan abadi yang berakar pada penyesalan bawah sadar, masa lalu yang tidak bisa dihindari, atau mungkin dosa asal yang sebenarnya tidak pernah ada.

Keputusasaan dan rasa takut itu menanamkan benih jauh di dalam lubuk hati, dan benih yang tumbuh itu akan memakan kepribadian sang inang sambil terus berkembang, hingga akhirnya bunga kegilaan mekar.

Memanfaatkan anak kecil yang bahkan jati dirinya belum terbentuk sempurna, dan menjadikannya wadah najis adalah perbuatan yang sangat kejam.

Kenajisan yang terus dituangkan ke dalam mental dan jiwa selama kurun waktu yang lama pada akhirnya akan menghancurkan kepekaan aslinya secara total, dan kepribadian serta norma yang ditulis ulang akan memperlihatkan dunia lain yang gila kepada orang tersebut.

Yakin bahwa pemuda di depannya telah diubah menjadi kawah kenajisan, sang Malaikat menggertakkan gigi karena amarah yang besar.

"Jadi di sini adalah ladang peternakannya ya, bajingan...! ...Aku tidak akan pernah membiarkannya. Sebelum monster itu kembali, setidaknya aku harus memurnikan bocah ini...!"

Tadi ia sempat terkena serangan kejutan karena manifestasi ulang musuh yang jauh lebih cepat dari perkiraan, namun karena intensitasnya sangat kuat, jumlah kenajisan yang berhasil dimusnahkan juga sangat besar.

Seberapa pun abnormalnya individu itu, musuh pasti juga sangat kelelahan, dan butuh waktu lama untuk bermanifestasi kembali.

Sekarang adalah satu-satunya kesempatan untuk memurnikan si pemuda. Sang Malaikat memutuskan hal tersebut dan memantapkan tindakannya.

(Tapi...)

Di saat yang sama, ia merasakan duka yang mendalam.

Untuk menyelamatkan manusia yang telah diubah secara mendasar sampai sedalam ini, ia harus memurnikan keberadaannya sekaligus dan menyusunnya kembali menjadi eksistensi suci.

Sebuah kontradiksi di mana sosok yang seharusnya menyayangi, mencintai, dan memberkati manusia, justru harus mencabut nyawa manusia itu sendiri, meski hanya sementara.

(...)

Keraguannya hanya sesaat. Ia membuka matanya yang sempat terpejam, lalu tersenyum selembut mungkin dan berbicara kepada pemuda di kakinya.

"Bocah, kau sudah bertahan dengan baik sampai sekarang. Awalnya kau mungkin akan terkejut... tapi rasa sakitnya hanya sekejap. Kau bisa melupakan semua mimpi burukmu sampai hari ini. Jangan khawatir. Meskipun kau menjadi kosong, mulai sekarang akulah yang akan melindungimu, dan mencintaimu selamanya—Blessing and Affection for the Flame of Rebirth."

Roda yang sempat berhenti mulai berputar kembali, dan sebuah api kecil menyala di dada sang Malaikat.

Api yang terlihat terlalu rapuh untuk melawan kejahatan besar itu, tak diragukan lagi adalah wujud cintanya.

Rasa sakit yang membakar tubuh, maupun penderitaan, setidaknya biarlah berakhir dalam sekejap.

Api yang membawa doa semacam itu jatuh menuju sang pemuda sambil memancarkan cahaya yang gemilang.

Beberapa saat kemudian.

Di depan pandangan sang Malaikat yang bersiap menerima hasil dari tindakannya sendiri, kejadian luar biasa kembali terjadi.

(Jangan... sentuh... Heresy...!!)

Retakan ruang untuk kesekian kalinya. Daging kental yang dimuntahkan keluar.

Yang muncul untuk melindungi sang pemuda dari api yang dilepaskan adalah tubuh Pion yang bentuknya hancur dan mengeluarkan rintihan lemah.

Benar-benar menjadi dinding daging, pengikut Dewa Jahat itu menerima api suci tersebut, lalu ia terbakar hingga bagian tengahnya berlubang, berubah menjadi hitam, dan jatuh ke lantai.

"A...!? Serius, apa yang terjadi sebenarnya...!"

Seharusnya tidak ada cukup waktu untuk melakukan interupsi. Namun kenyataannya, musuh berhasil menyusun tubuhnya meski tidak sempurna dan melakukan intervensi ke dunia ini.

Sang Malaikat refleks berteriak melihat kenyataan itu dan bersiap sambil mengepakkan sayapnya lebar-lebar.

 (Heresy... san... aman...)

"...Sepertinya kau tidak punya tenaga sebesar tadi ya. Kau cuma keluar sambil menghentikan proses regenerasimu."

Tubuh Pion itu hancur sejak saat ia bermanifestasi, dan sekarang ia terbaring di lantai dengan tubuh yang melepuh terbakar.

Meski terus menggeliat dan mencoba menjulurkan organ yang menyerupai lengan ke arah si pemuda, hanya itu yang bisa ia lakukan.

Mengabaikan suara yang dikeluarkan oleh wajah manusia yang meleleh itu, saat sang Malaikat kembali menjatuhkan api ke arah si pemuda, musuh melompat sambil mencabik-cabik tubuhnya sendiri untuk melindunginya, lalu tubuhnya terbakar mengeras hingga tak bergerak lagi seperti buih yang membeku.

"Happy, kamu tidak apa-apa? ...Happy?"

Si pemuda berlari mendekat ke arah benda yang seharusnya sudah menjadi bangkai itu dan menumpukan kedua tangannya.

Sosok pemuda yang berbicara kepada daging yang telah menjadi arang dan darah yang mengerak di lantai itu, benar-benar terlihat seperti anak kecil yang kehilangan sesuatu yang sangat berharga.

Sang Malaikat merasa pedih melihat hal itu, namun ia merasa heran dengan serangkaian tindakan Pion yang rela mengorbankan dirinya demi melindungi si pemuda.

Ia mungkin menemukan nilai yang tidak sedikit pada manusia yang ia cuci otaknya dan manfaatkan itu, tapi menguras tenaga berulang kali demi seorang Myskella yang hanyalah wadah tambahan adalah tindakan yang terbalik.

Jika ingin mencegah pemurnian, ia cukup menelan dan menyatukannya saja.

"Aku tidak tahu kenapa kau begitu terpaku padanya, tapi sepertinya bocah itu sangat penting bagimu. Tapi dengar, dia bukanlah mainanmu...! Cara menggunakan nyawa adalah keputusan orang yang memilikinya!"

Pemuda yang kepribadian aslinya dirampas, bahkan dunia yang ia lihat dan arti hidupnya telah dibelokkan. Kontradiksi musuh yang baru sekarang mencoba melindunginya.

Sang Malaikat yang berteriak pada ketidakadilan dan keegoisan di depan matanya, kembali turun dan berdiri di samping pemuda itu. Ia merasa anak malang ini harus diberkati.

"Bocah, kau bisa melihatku? Bisakah kau menyambut tangan ini?"

Sang Malaikat berbicara pada pemuda itu dan mengulurkan tangannya.

"...Pasti berat ya. Kau tidak perlu menderita lagi. Tidak perlu bertahan lagi. Sebagai anak manusia, kau seharusnya diberkati selamanya dalam cinta dan kenikmatan."

Tanpa peduli tangannya akan kotor oleh darah yang menempel di lantai, sang Malaikat berlutut tepat di samping si pemuda dan memegang tangannya.

Yang ia rasakan adalah kehangatan darah dan—dinginnya tangan tersebut. Dalam waktu singkat ini, si pemuda mendapatkan luka robek besar di telapak tangannya, dan mengeluarkan banyak darah dari sana.

"Ha... hei bocah, luka ini kenapa! Maaf, jangan-jangan karena dampak pertempuran tadi..."

"Eh? Ah, ini luka yang kubuat sendiri barusan. Tulang Happy sering memiliki potongan yang tajam, jadi aku meminjamnya. Aku ingin mencoba apa yang baru saja diajarkan Leticia padaku."

"Jangan bicara bodoh...! Tunggu, luka seperti itu akan segera kusembuhkan. Aku mempercayaimu. Aku akan menerima segalanya tentangmu. Jadi bocah, kau juga harus menerimaku—"

"Sympathy."

Seketika, dunia tempat mereka berada kehilangan warnanya dan berganti menjadi dunia lain. Yang terbentang di depan mata sang Malaikat adalah dunia yang jernih tanpa noda sedikit pun.

Di sampingnya, si pemuda masih berdiri, melihat ke sekeliling seolah terkejut dengan efek sihir yang baru pertama kali ia gunakan.

Sebuah sihir yang sangat primitif yang bermanifestasi dengan mengalirkan mana kepada lawan yang telah menerima diri sendiri—Sympathy.

Sihir yang seharusnya tidak mungkin bisa mencampuri eksistensi tingkat tinggi, kini justru menunjukkan kekuatan paksa yang membuat keduanya bertemu di dalam dunia mental sang pengguna.

"Ini...!? Bocah, ini duniamu... kah...?"

"Eh, apa ini? Ternyata sihirnya seperti ini ya? Karena aku dengar ini sihir untuk mengetahui kondisi monster panggilan, aku pikir kalau aku tahu kelemahan musuh setidaknya aku bisa sedikit membantu... tapi sepertinya berbeda dengan apa yang dikatakan Sensei."

Sambil si pemuda menoleh ke sana kemari melihat dunia putih transparan itu, sang Malaikat yang berdiri terpaku di sampingnya tidak bisa menyembunyikan keguncangannya melihat kondisi ruang ini.

Biasanya, mental manusia yang telah berubah menjadi Myskella akan mengalami deformasi yang menyedihkan akibat kenajisan dan kegilaan.

Namun, di dalam ruang yang ia lihat sekarang, tidak ada jejak pengaruh itu, bahkan tidak ada satu pun niat jahat atau kegelapan.

Sang Malaikat memegang tangan pemuda yang berdarah itu, dan meski ia mengerutkan dahi, ia memberkati dan mengobati luka tersebut.

Apakah pemuda ini berhasil menepis kenajisan dan kegilaan dengan kemurnian ini?

Atau—apakah setelah kontaminasi dan pencucian otak, ia bahkan kehilangan hati yang bisa hancur?

(Beraninya... kau... menyentuh... Heresy...!!)

Jeritan yang merobek ruang. Manifestasi dari amarah dan kegelisahan.

Bersama dengan suara seperti kaca yang pecah, dunia mental pemuda itu hancur berantakan, dan gumpalan daging berbentuk pengait yang mencuat dari belakang menembus perut sang Malaikat.

"Ugh... buh,"

Sang Malaikat yang tubuhnya terangkat akibat benturan tusukan itu, mencoba memahami situasi dengan pandangan yang mengabur.

Dinding putih. Lantai putih. Dan cahaya serta kegelapan yang bercampur. Ia mengikuti masing-masing dengan matanya, dan menyadari bahwa ia telah kembali ke tempat ia dipanggil—Menara Pelindung.

Selama itu pun sang Malaikat meronta-ronta mencoba melepaskan gumpalan daging di perutnya, namun pipa-pipa daging tak terhitung jumlahnya yang masuk dari lubang itu mulai berakar sambil mencabik-cabik bagian dalam tubuhnya, dan mulai mengalirkan kenajisan secara langsung ke dalam tubuhnya.

"Akh, aaaaaaaaaakh!! Guh, Sparkling Light for the Burnt Life—!"

Hanya dengan sisa kekuatannya, ia sudah tidak mungkin bisa membalikkan keadaan ini.

Sang Malaikat mengikis peringkatnya secara besar-besaran untuk mengubahnya menjadi kekuatan sementara, dan dengan kilau nyawanya, ia menghanguskan pipa daging dan kenajisan yang masuk ke dalam dirinya.

Meski ia berhasil membebaskan tubuhnya yang tertusuk dan terjatuh ke lantai, ia tidak bisa memberikan tenaga pada tangan dan kakinya untuk berdiri, dan hanya bisa berlutut sambil memegangi perutnya yang berlubang.

"Hah... hah...! Apa... apa yang... terjadi."

Dengan kesadaran yang mulai kabur di atas lantai yang ternoda darah, yang dilihat oleh sang Malaikat adalah sosok Pion yang sekarang menjadi jauh lebih besar dan mendekati bentuk tak tentu, sedang mendekap si pemuda.

Garis luar tubuh yang batasnya mulai samar. Lubang daging yang menunggu sebuah koneksi.

Mata yang berdenyut di permukaan tubuh, dan tumor daging tak terhitung jumlahnya yang terus menyusut dan membelah diri. Nyawa tak tentu yang melampaui konsep kehidupan dan menyebar ke seluruh ruang.

(Heresy, kamu tidak apa-apa? Apa dia menyakitimu?)

"Iya, aku tidak apa-apa. Aku tidak terlalu mengerti, tapi sepertinya dia mengobatiku? Happy, itu tubuhmu saat mulai bertambah banyak di awal-awal dulu, kan? Waktu itu sama sekali tidak mau berhenti sampai aku tertawa ya."

"Begitu, ya... makhluk ini, mewarisi sifat dari 'Kelompok'... ugh, dan dia telah dilahirkan... ya..."

Ada banyak misteri mengenai pengikut Dewa Jahat. Sejak kapan mereka ada, dan apa tujuannya. Apa yang ada di bagian terdalam sarang yang dijaga oleh pasukan skala besar. Mengapa spesies tingkat tinggi lebih sering meninggalkan kelompoknya sendirian.

Di antara semua itu, banyak informasi yang dibagikan mengenai kelas prajurit tingkat rendah Pion yang frekuensi pertempurannya sangat menonjol, namun bahkan bagi sang Malaikat yang telah lama bertarung di garis depan, ini adalah pertama kalinya ia bertemu dengan individu seperti ini.

Perbuatan tabu yang melampaui batas kelas prajurit, melampaui batas hukum alam, dan bahkan memberikan nyawa pada ketiadaan, adalah otoritas terlarang yang dimiliki oleh spesies tingkat tertinggi dari kejahatan.

"Hah... aku mengerti, kau kuat. Kau benar-benar gila. Aku... sepertinya akan mati di sini."

Sang Malaikat memaksakan tubuhnya yang sekarat untuk tegak, dan malah tersenyum dengan raut wajah yang segar. Dirinya yang sudah tidak sanggup lagi mengobati tubuhnya sendiri. Musuh yang memiliki kekuatan yang menyimpang sebagai seorang Pion.

Di tengah situasi yang sudah dipastikan ini, sang Malaikat menyalakan cahaya di tangannya dengan satu tujuan. Cahaya yang mulia dan indah, yang dihasilkan dari membakar sisa nyawanya yang tinggal sedikit hingga batas maksimal.

"Bocah, tenanglah. Aku tidak akan membiarkan ini berakhir dengan menyedihkan."

Mata mereka bertemu, dan sang Malaikat tersenyum lembut. Ia tidak lagi membutuhkan perlindungan untuk membentengi dirinya. Tidak butuh tenaga sisa untuk pengobatan. Yang ia butuhkan hanyalah satu serangan terakhir yang mengerahkan segalanya.

Pemuda yang mendapatkan kontaminasi hingga kehilangan hatinya, dan menjadi boneka Dewa Jahat.

Kepada anak manusia yang terjebak dalam kegilaan sehingga tidak bisa mengenali dunia dengan benar sampai sekarang, ia ingin memperlihatkan cahaya yang asli meski hanya sesaat.

Menunjukkan bahwa ada cara hidup lain yang berbeda dari saat ini di mana ia dicuci otaknya oleh kejahatan.

Meskipun ia tidak bisa mendapatkan kembali kewarasannya di tempat ini sekarang, asalkan ini bisa menjadi pemicu bagi si pemuda untuk menyadari kebenaran suatu saat nanti, itu sudah cukup.

Ini adalah harga diri sebagai malaikat yang lahir untuk mencintai dan membimbing manusia.

"Lihatlah baik-baik. Dan rasakanlah. Jika kau sedikit saja mulai meragukan kegilaan yang menyelimutimu... maka kematianku ini tidak akan sia-sia."

Tubuhnya menjadi panas seolah-olah mendidih. Hal-hal penting di dalam dirinya mulai hancur.

Dengan rasa kehilangan yang kuat sebagai bayarannya, kekuatan besar merembes ke seluruh tubuhnya. Sang Malaikat mempersembahkan kekuatan yang melampaui batas, dan membakar cahaya pada roda-roda yang tadinya sudah membusuk dan tumbang.

Cahaya yang mengandung kemauan kuat itu akhirnya menghasilkan panas, dan roda ganda yang mulai berputar sambil berkobar hebat itu menjadi matahari yang menerangi kegelapan dan mengusir kejahatan.

Matahari yang lahir dengan cara itu berdenyut sambil merangkul kekuatan yang terus bertambah secara eksponensial di dalamnya, dan mempercepat putarannya bukan untuk fungsi aslinya yaitu pemurnian, melainkan hanya untuk menyinari seorang pemuda saja.

Kekuatan yang dipadatkan secara paksa di pusat bola cahaya itu akhirnya membengkak hingga mencapai ranah yang tidak bisa dicapai oleh hukum dunia ini, dan saat seberkas cahaya yang meluap karena tidak terbendung lagi sudah memiliki panas yang cukup untuk menghanguskan permukaan planet, roda itu mulai hancur untuk melepaskan panas intinya—

"Ah, mereka datang juga. Maaf ya, tiba-tiba memanggil kalian."

—Ia tertembus oleh sorot mata bermassa yang tiba-tiba diarahkan dari dimensi lain, lalu ditelan oleh organ dalam dan cairan tubuh yang tercurah dari langit seperti air terjun, hingga kehilangan seluruh kekuatannya dan lenyap.

(Maaf, kami agak terlambat.)

Hawa keberadaan musuh baru. Kejahatan yang sangat besar hingga membuat ruang bergelombang.

Saat sang Malaikat refleks mengalihkan pandangannya ke langit-langit, di sana telah lahir rawa berbuih berbentuk lingkaran yang tadinya tidak ada.

Muncul dari rawa najis itu seolah melewati gerbang, adalah gumpalan daging bulat raksasa yang melayang di udara. Pengikut Dewa Jahat.

Itu adalah musuh dunia yang terus berdenyut, dan secara berkala melahirkan anak dalam jumlah besar dari celah daging yang terus mengalirkan cairan tubuh najis.

Sebuah senjata strategis yang akan mengubah benua yang muncul menjadi tanah mati dalam sekejap mata.

Dikenal dengan sebutan Womb (Rahim). Kenajisan itu sendiri yang seharusnya tidak pernah dikerahkan ke tempat seperti ini, bermanifestasi hanya untuk menodai satu malaikat yang sekarat.

(Kami sudah datang. Apa kamu terluka?)

Bala bantuan tidak hanya itu. Di sampingnya, yang mencuat dari lantai hingga menembus langit adalah pilar raksasa yang disebut Caretaker (Pengasuh). Tubuh bergelombang yang hanya dipenuhi oleh bola mata berbagai ukuran itu memberikan rasa penolakan yang kuat bagi siapa pun yang melihatnya, sekaligus menjadi panji keputusasaan yang memberitahukan bahwa tempat ini adalah wilayah Dewa Jahat.

Menara komando yang mengamati medan perang dari ketinggian dan menginstruksikan penghancuran serta kontaminasi yang efisien kepada para prajurit di garis depan itu, menggemakan suara tidak menyenangkan dari gesekan bola-bola matanya sambil mengikuti sosok si pemuda dengan tatapan tak terhitung jumlahnya.

"Maaf ya, padahal kalian juga sudah datang saat pelajaran pemanggilan kemarin. Karena Happy bilang dia lawan yang berbahaya, aku jadi sedikit khawatir. Ah, benar juga. Aku belum sempat menyiapkan oleh-oleh, tapi kalau boleh, kapan-kapan bagaimana kalau kita makan bersama sebagai tanda terima kasih?"

Pemuda yang berbicara kepada eksistensi yang mampu menghancurkan dunia dengan mudah itu, menampakkan senyum yang tidak bisa ditahan di hadapan krisis sejarah manusia yang ia ciptakan sendiri.






Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close