Chapter
1
Upacara
Penerimaan Siswa Baru
Yo! Namaku Heresy! Berkat monster yang
kupanggil waktu kecil dulu, bakatku sebagai Summoner akhirnya diakui.
Mulai hari ini, aku resmi menjadi murid di Akademi Summoner Kerajaan
Meilleur yang terkenal itu!
Profesi Summoner
adalah impian semua orang! Mereka adalah sosok luar biasa yang membangun dan
melindungi negara! Begitu membayangkan aku bisa menjadi salah satu dari mereka,
rasa antusias dan gugup bercampur aduk sampai-sampai aku ketiduran dan hampir
terlambat di pagi pertama ini!
"...Oleh
karena itu, bagi kalian semua yang memikul masa depan Kerajaan Meilleur, kiprah
kalian di masa depan akan—"
Di upacara
penerimaan, aku mendengarkan pidato berharga dari perwakilan Kepala Sekolah!
Katanya, Kepala Sekolah sendiri sedang tidak ada di tempat karena sibuk bekerja
beberapa tahun terakhir ini. Orang hebat memang merepotkan, ya!
Isi pidatonya
terasa hambar dan aku tidak terlalu paham, tapi murid-murid di sekitarku
mendengarkan dengan serius! Sepertinya mereka sangat bersemangat membayangkan
kehidupan sekolah mulai sekarang!
Kalau aku,
membayangkan kehidupan sekolah mulai hari ini malah membuatku merasa
cemas—mirip seperti saat aku memergoki monster panggilanku berlarian di kampung
halaman tanpa melakukan kamuflase! Selain soal pelajaran, aku juga khawatir
apakah aku bisa bergaul baik dengan para bangsawan!
『Anu... perumpamaan itu bukannya agak
keterlaluan...?』
Ah, maaf,
maaf! Tapi Kakek tukang roti yang pingsan melihat wujudmu waktu itu tidak
bangun-bangun selama dua hari, lho? Itu fakta yang tak terbantahkan, jadi
terimalah kenyataannya!
Selagi asyik
mengobrol dalam pikiran dengan monster panggilanku seperti itu, upacara
penerimaan pun berakhir! Kami kemudian dipandu menuju kelas oleh wali kelas
yang terlihat sudah memasuki usia paruh baya.
Urutan tempat
duduk sudah tertulis di papan tulis depan! Menurut penjelasan sebelumnya,
sepertinya cuma aku rakyat jelata yang masuk kali ini. Tapi karena
jarang-jarang orang seumuran berkumpul seperti ini, aku akan senang kalau bisa
punya teman akrab tanpa memandang status sosial!
Saat aku
sedang memperhatikan papan tulis demi menghafal nama teman sekelas agar proses
mencari teman berjalan lancar, terdengar suara seseorang menarik kursi di
sampingku! Karena aku akan sering berinteraksi dengan orang di sebelahku selama
sekolah, semoga saja dia tipe orang yang asyik!
"Uwah...
sebelahku rakyat jelata, ya. Kuharap ini tidak menjadi masalah yang
merepotkan..."
Ah,
sepertinya tidak mungkin! Setidaknya dia bukan tipe orang yang mudah diajak
bicara! Ahaha!
Gadis yang
menatapku dengan mata setengah tertutup penuh curiga itu memiliki rambut merah
panjang yang tampak dirawat dengan biaya mahal! Sepertinya dia tipe yang
menyebalkan karena langsung cari gara-gara sejak awal... Suasana hatinya sedang
buruk, jadi menurutku lebih baik aku mengabaikannya saja untuk saat ini!
"Salam
kenal ya~"
"...Hei,
setidaknya tatap mataku kalau sedang menyapa."
"Salam
kenal ya~"
"Responsnya
sepuluh kali lipat lebih enteng dari dugaanku..."
Kehebatan
akademi ini adalah tidak masalah meski aku tidak menggunakan bahasa formal
kepada Tuan/Nyonya Bangsawan! Katanya, semua murid di sini diperlakukan dengan
status yang setara, menciptakan lingkungan di mana kami bisa fokus belajar dan
mengasah diri! Hal itu juga dijelaskan dalam pidato perwakilan Kepala Sekolah
yang membosankan tadi!
"Oi
rakyat jelata, apa yang kau lakukan! Jangan mendekati Leticia-ku!"
"Uwah,
dia muncul."
Ah, lihat,
lihat! Seorang bangsawan berambut pirang yang tampak kesal tiba-tiba menyela
pembicaraan! Hari pertama masuk sekolah sudah ramai sekali ya! Aku senang
sekali karena sepertinya kelas ini bakal seru!!
Laki-laki
yang memakai seragam dengan sedikit berantakan agar terlihat keren... maksudku,
bergaya ini, sepertinya kenalan dengan gadis di sebelahku! Karena dia bilang
'punyaku', ada kemungkinan mereka tunangan. Tapi urusan pernikahan bangsawan
itu sama tidak pentingnya dengan hasil ramalan bintang kemarin, jadi aku tidak
usah memikirkannya dalam-dalam!
"Jade...
pertunangan kita seharusnya sudah dibatalkan. Tolong berhenti bicara seperti
itu."
"Leticia,
aku masih belum bisa menerima hal itu. Kita pasti bisa mengulanginya lagi
seperti dulu."
"Itu
hanya pertunangan yang ditentukan oleh orang tua dan dibatalkan oleh orang tua
juga, kan? Dari awal sampai akhir tidak ada kehendak kita di dalamnya."
"Tidak,
kau salah. Perasaanku padamu itu nyata. Kumohon pikirkanlah kembali. Kau juga
harus bicara pada orang tuamu..."
"Inilah
kenapa ini merepotkan... haah."
Ya... ya.
Maaf nih memotong pembicaraan kalian yang sedang seru, tapi bisa tidak berhenti
bicara sambil menjadikanku sebagai pembatas tengah? Aku juga ingin menggunakan
waktu sebelum pengumuman kelas berakhir ini untuk mengobrol dengan orang di
dekatku, tahu?
Sepertinya
Tuan Bangsawan belagu bernama Jade ini masih menyimpan rasa cinta pada mantan
tunangannya, Nona Bangsawan bernama Leticia yang duduk di sebelahku. Dan dia tidak suka melihatku berada
di samping gadis itu!
Kalau
begitu, tinggal cari alasan apa pun dan usulkan pada guru untuk pindah tempat
duduk saja! Tolong lakukan secepat mungkin, ya!
"...Ah,
benar juga. Hmm... bagaimana menurutmu, Heresy? Bukankah sebaiknya dia segera kembali ke kursinya?"
"Hah?"
"Leticia,
tidak perlu memanggil nama orang lemah seperti ini. Oi rakyat jelata, bukankah
sudah kukatakan untuk menjauh dari Leticia! Dia bukan wanita yang boleh diajak
bicara oleh orang berstatus rendah sepertimu!"
Ah, aku kena
imbasnya!
Bangsawan
belagu ini memang gila, tapi gadis di sebelahku ini juga cukup gila! Pertanyaan
yang bakal bikin aku dipelototi entah aku setuju atau tidak ini, orang yang
punya akal sehat tidak akan menanyakannya padaku!
Yah, karena
secara teknis di dalam akademi semua murid itu setara, mungkin ini tidak akan
langsung jadi masalah besar. Tapi kalau aku tiba-tiba berhenti sekolah, ini
salahmu ya!
"...Anu,
kalau ada perselisihan, bukankah sebaiknya diselesaikan lewat duel secara
jantan layaknya seorang Summoner?"
"Duel
layaknya Summoner... maksudmu duel menggunakan monster panggilan? Kau ternyata tipe orang yang tidak ragu
melakukan kekerasan, ya."
"Hou.
Boleh juga, akan kuterima tantangan itu. Kalau aku menang, kau jangan pernah
mendekati Leticia lagi. Begitu, kan?"
"Eh?
Bukan, bukan, maksudku kalian berdua saja yang duel..."
"Fufu.
Monster panggilan yang diwariskan turun-temurun di keluarga Grade memiliki
banyak pengalaman tempur dan tidak bisa diremehkan. Kalau begitu, karena aku ada urusan setelah pulang
sekolah, aku serahkan dia padamu ya."
Ah, lihat!
Bangsawan di sebelahku tersenyum padaku! Manis sekali! Bisa melihat senyuman
wanita cantik begini, aku benar-benar beruntung di awal masuk sekolah!
...Dasar
cewek sialan!
Kenapa jadi
aku yang harus duel dengan bangsawan yang baru pertama kali kutemui ini? Apa
aku kalah hanya karena tidak mengabaikan sapaannya sepenuhnya? Mana ada hal
tidak masuk akal seperti ini?
Aku bukan
tipe orang yang mudah membenci orang lain, tapi sepertinya aku bakal bisa
membenci gadis di sebelahku ini! Aku menemukan sisi baru dari diriku di hari
pertama sekolah! Terima kasih atas pertemuannya! Akademi Summoner memang
yang terbaik!!
『Jangan-jangan, suatu saat nanti kamu juga bakal membenciku...?』
"Sama sekali tidak? Bagiku, kau itu...
bagaimana ya, kusebut wanita yang luar biasa menurut standar manusia, kecuali
kalau soal penampilan luar, sih. Aku hanya ingin kamu lebih jago menyamar,
soalnya orang yang tidak suka hal horor bisa jantungan kalau melihatmu!"
"Duel
ini, aku, Jade dari keluarga Grade selaku penerus berikutnya, akan menerimanya.
Aku akan menyuruh orang rumah menyiapkan arena pemanggilan, kita selesaikan
sepulang sekolah nanti. Akan kuajari kau secara langsung supaya tidak berani
meremehkanku lagi...!"
"Aduh,
takutnya. Aku akan mendukungmu dari kejauhan, ya."
"...Besok
ada pelajaran pertama untuk memanggil dan mengikat kontrak dengan partner di
dalam akademi, kan? Daripada pakai monster panggilan yang sekarang—yang mungkin
saja warisan keluarga—bukankah lebih terasa seperti adu kemampuan asli kalau
kita duel pakai monster yang baru kita panggil sendiri?"
Sangat
disayangkan, sepertinya duel ini tidak bisa dihindari. Jadi, setidaknya aku
mencoba menggiring situasi agar aku tidak perlu memperlihatkan monster
panggilanku yang sekarang!
Monster
panggilanku memang benar-benar aku sendiri yang memanggilnya, tapi di mata
lawan, mana dia tahu soal itu! Kalau dia bangsawan dengan harga diri tinggi,
harusnya dia ingin menang karena kemampuannya sendiri, kan?
"Tidak
bisa. Aku tidak bisa menunggu sampai besok. Aku tidak akan membiarkan pengaruh
rakyat jelata meracuni Leticia meski hanya sehari."
"...Kalau
begitu, mau tukar tempat duduk sekarang?"
"Hah?
Hei, kau—"
"Jangan
meremehkanku. Aku tidak
butuh belas kasihan rakyat jelata. Kita baru akan tukar kursi setelah aku
menang duel melawanmu! Tunggulah, Leticia. Mulai besok, aku yang akan berada di sisimu dan
melindungimu...!"
"Kenapa
jadi aku yang kena imbasnya lagi?"
Enak
saja dia mau menonton dengan tenang setelah melempar masalah padaku! Prinsip
ibuku adalah: kalau harus mati, seret orang sebanyak-banyaknya bersamamu!
Setelah
mendeklarasikan duel, Tuan Bangsawan belagu itu kembali ke kursinya dan mulai
berdiskusi dengan antek-antek sekelasnya. Kalau aku terus memperhatikannya, aku
bisa kena masalah lagi, jadi lebih baik kuabaikan saja!
Sambil
mengabaikan gerutuan dari kursi sebelah, wali kelas yang sedari tadi menulis di
pojok kelas akhirnya naik ke podium dan memulai pengumuman akhir.
Isinya...
hambar! Salam penutup yang sudah bisa ditebak! Selesai!
Nah,
sekarang sudah jam pulang sekolah. Saat aku mencoba mengabaikan duel dan pulang
ke asrama, Nona Bangsawan di sebelahku tiba-tiba menggandeng lenganku dengan
erat dan menyeretku ke arah berlawanan!
Kalau
dia sebegitu tidak sudi mantan tunangannya duduk di sebelahnya, harusnya dia
jangan memancing keributan denganku sejak awal! Tolong hati-hati lain kali, ya!
Gadis
yang ternyata tipe yang terlihat lebih kurus saat berpakaian ini membawaku ke
arena pemanggilan yang agak jauh dari gedung sekolah. Di sana, hanya ada si
Tuan Bangsawan belagu sendirian!
Aku
tidak tahu kenapa dia tidak membawa orang rumah yang katanya menyiapkan arena
atau antek-anteknya, tapi itu cukup jantan juga.
"Jade...
di mana orang-orang rumahmu?"
"Aku
hanya ingin kau yang menyaksikannya. Momen di mana aku meraih kemenangan
pertamaku setelah masuk ke akademi ini."
"Eh...?"
Jade-kun,
menurutku sikapmu yang mengejar estetika diri itu luar biasa, tapi kalau sampai
membuat lawanmu kebingungan begitu, bukannya malah jadi bumerang? Tapi aku
tidak benci gaya seperti itu, sih!
Meski
situasinya berbeda dari bayanganku, kalau penonton duel ini cuma mereka berdua,
mungkin tidak apa-apa kalau monster panggilanku keluar dengan terang-terangan.
Dia berani
menantangku pasti karena percaya diri dengan latihan fisik dan mentalnya, jadi
mungkin dia tidak akan kaget melihat dia!
"Rakyat
jelata, kuberi kau giliran pertama. Panggillah
monstermu. ...Muncullah! Silver!"
Saat Jade-kun mengarahkan tangannya ke
depan, cahaya memancar dari lingkaran sihir di lantai, dan siluet seperti kadal
besar muncul dari sana!
Jenis naga? Sepertinya naga!
Yang muncul adalah naga terbang
berwarna perak! Sayap dan cakarnya terawat dengan baik, sisiknya yang terpoles
juga berkilau sangat keren! Sejujurnya, aku agak berat harus bertarung melawan
lawan yang dirawat dengan penuh kasih sayang begini!
『Kita juga tidak boleh kalah. Mari kita
tunjukkan pada mereka...!』
Ooh, kau
bersemangat sekali! Sebagai Summoner, aku sangat terbantu, tapi lawan
sepertinya kuat jadi jangan lengah, ya! Semangat!
『Siap! Aku akan berusaha! Bolehkah aku
bermanifestasi sekarang?』
Iya. Kalau
begitu, mari kita mulai!
"Kemarilah, Happy!"



Post a Comment