Chapter 12
Ketakutan: Jade
(Aku,
sebenarnya... apa yang sedang kulakukan...?)
Aku
mematung. Sendirian, di tengah hiruk pikuk ibu kota.
Segala
sesuatu yang tertangkap mataku terasa mencurigakan, tampak seperti jebakan yang
dipasang untuk menjatuhkanku. Faktor yang sempat mendorongku ke ambang kegilaan
itu adalah sebuah ketakutan sederhana.
Di
jalanan yang biasanya kulalui dengan penuh percaya diri dan dagu tegak ini,
kini tak ada lagi satu pun hal yang pasti. Bahkan untuk melangkah satu kaki
saja ke atas jalan beraspal yang halus dan indah ini, aku merasa ragu.
Apakah
kakiku akan tersandung undakan? Apakah aku akan terpeleset dan jatuh
tersungkur? Apakah lantai ini tiba-tiba akan runtuh?
Atau
apakah gumpalan daging akan muncul di bawah kakiku dan menelanku, membuatku
terpaku di dalam tubuh monster itu, mencabik-cabik anggota tubuhku, menyambung
nyawaku secara paksa, lalu membiarkanku hidup selamanya sembari terus disiksa
tanpa henti──.
(Hentikan! Bukan begitu!)
Khayalan yang tak nyata. Imajinasi
yang mengerikan. Wajahnya sendiri yang terdistorsi dalam kepedihan, seolah
dilihat dari sudut pandang orang ketiga. Ingatan palsu yang ditanamkan secara
paksa.
Entah
sejak kapan, dia menggelengkan kepala seakan ingin melarikan diri dari
pemandangan gamblang yang terus muncul di benaknya.
Begitu
dia mengangkat wajah, pemandangan kota yang familier membentang di hadapannya.
Di satu sisi dia merasa lega karena menyadari dirinya berada di dunia nyata,
namun di sisi lain dia merasa muak pada dirinya sendiri yang berpikir demikian.
(Hanya karena
satu kekalahan, kamu melemah sampai berhalusinasi, Jade Glade......!)
Yang
bergejolak adalah amarah.
Itu hanyalah
percikan api yang sangat kecil, namun bagi dirinya yang sekarang, itu adalah
hal yang lebih berharga daripada apa pun.
(Sial! Sial!
Sial!)
Jika dalam
kondisi normal, emosi agresif itulah yang akan pertama kali muncul ke permukaan
menghadapi situasi saat ini. Dia mengejar sosok dirinya yang sudah lama
terlupakan itu, dan dengan sengaja membiarkan emosinya memanas.
Dia
mengepalkan tinju, menggertakkan gigi, dan menghentakkan kaki ke lantai batu.
Bukan hanya hati, dia menggunakan fisiknya untuk membangkitkan emosinya.
(Seandainya
rakyat jelata itu tidak ada! Kalau saja dia tidak ada! Dia! Dia! ......)
Lama-kelamaan
percikan api itu tumbuh besar dan memancarkan cahaya, menjadi panas, panas, dan
semakin panas──
(......Seandainya
aku juga lebih kuat.)
──Namun,
api itu tetap tidak sampai berkobar hebat.
Kehilangan
semangat, mandek, dan perlahan-lahan tenggelam; kondisi mentalnya saat ini
bagaikan kayu apung yang tersangkut di pinggir sungai.
Ini
bukanlah sosok yang bisa diperlihatkan kepada orang-orang yang mengenalnya.
Kenyataannya, sejak kejadian itu, dia tidak pernah menampakkan wajahnya lagi di
akademi.
"Keluarga
Glade dari masa ke masa selalu melampaui tembok yang menghadang. Baik itu faksi
lawan, zaman itu sendiri, maupun individu yang menghalangi jalan. Dan sekarang,
kamu sedang menghadapi situasi yang sama."
Malam
setelah duel itu terjadi. Dia ingat merasakan semacam kehangatan dari kata-kata
ayahnya yang biasanya selalu berbicara dengan nada tegas seolah sedang
memarahi.
"Aku
pun pernah menantang dan kalah. Itu terjadi setelah aku menjadi kepala
keluarga, dan lawanku adalah mantan kawan-kawanku sendiri. Sebagai laki-laki
keluarga Glade, aku sudah mengira suatu saat kamu akan menghadapi tembok
penghalang, tapi...... tidak kusangka akan secepat ini di usiamu."
Menerima
kata-kata ayahnya yang dipilih satu per satu seolah ingin menghibur, perasaan
rendah diri justru semakin menumpuk.
Dia
membenci dirinya sendiri karena telah membuat ayahnya memilih kata-kata lembut
seperti seorang ayah yang mengkhawatirkan anaknya—sesuatu yang sangat tidak
cocok bagi beliau. Dia lebih suka ayahnya menyalahkan kegagalannya seperti
biasa.
"Gunakan
segala cara. Prioritaskan kemenangan di atas segalanya. Lawan yang
menghalangimu hari ini adalah sesuatu yang mutlak kamu butuhkan bagi masa
depanmu. Tidak peduli berapa kali kamu kalah. Tidak ada batas waktu. Lakukan saja apa pun yang menurutmu
perlu untuk menang melawan orang itu. Lalu suatu saat, menangkanlah, dan
laporkan hasilnya di sini."
Dan akhirnya,
ayahnya mengakhiri pembicaraan tanpa menyalahkan putranya yang malang ini.
Sejak saat
itu, aku meninggalkan kediaman utama. Aku pindah ke tempat yang hanya diketahui
oleh orang-orang terdekat. Itu hanyalah sebuah keegoisan, sebuah pelarian
kekanak-kanakan karena aku tidak tahu harus menunjukkan wajah seperti apa
kepada orang tuaku setiap hari. Namun, para pengawal dan pelayan tetap
mengikutiku tanpa berkata apa-apa.
Seorang
anggota keluarga Glade kalah oleh rakyat jelata. Aku sempat berpikir fakta itu
akan menjadi masalah besar yang melibatkan faksi, namun anehnya, lingkungan di
sekitarku terasa sunyi senyap.
Seolah-olah
mereka sedang menyuruhku untuk mendinginkan kepala untuk sementara waktu.
(Aku......
harus bagaimana......)
Identitas
diri yang hancur, kemampuan palsu yang membangun sosokku selama ini, dan
kepercayaan diri kosong yang mendasarinya. Semua itu terkelupas, menyisakan
diriku sebagai individu biasa yang sama sekali tidak spesial.
Sebagian
besar hal yang telah kupupuk—atau lebih tepatnya, hal-hal yang tertumpuk secara
otomatis selama ini—telah runtuh. Aku mengumpulkan sisa-sisa yang tertinggal
seperti debu untuk membentuk diriku yang sebenarnya. Jade Glade.
Pria itu
sangat lemah hingga sosok diriku yang dulu mungkin akan menertawakannya—namun
kini, dia bisa melihat kenyataan.
(Menang,
kalah...... dia bukan lawan yang bisa diukur dengan hal semacam itu.)
Aku mengingat
kembali kejadian di tempat pemanggilan hari itu. Sambil menahan kepala yang
terasa sakit seperti mau pecah setiap kali mencoba mengingat, aku menarik
keluar memori yang kuinginkan dari balik sensasi seolah-olah ada benang yang
ditarik hingga putus.
Aku menepis
penolakan naluriah itu dan membangkitkan memori tentang ketakutan dan
keputusasaan.
Hanya pada
napas pertama saja Silver dan monster itu berhadapan secara setara.
Gumpalan
daging yang melayang dan meledak menelan seluruh tempat pemanggilan, dan
setelah itu, yang terjadi bukanlah sebuah pertarungan, melainkan sebuah
tragedi.
Apa yang
dilakukan lawan bukanlah untuk meraih kemenangan dalam duel, melainkan sebuah
tindakan yang hanya bertujuan untuk memberikan rasa sakit pada musuh.
Yang kulihat
adalah sosok monster panggilanku yang dikerumuni oleh gumpalan daging yang tak
terhitung jumlahnya, menerima kekerasan yang tak terkira hingga bentuknya
berubah secara mengerikan.
"Mohon
bantuannya ya, Silver!"
Saat aku
terpaku tak berdaya tidak mampu menerima pemandangan di depan mataku, sudut
pandangku beralih dan sosok diriku di masa kecil muncul.
"Tapi,
aku juga kuat, lho! Kalau sampai terluka, baik Silver atau siapa pun, aku yang
akan melindungi kalian! Janji ya!"
Janji yang
diucapkan hari itu. Janji yang diucapkan dengan polos, tanpa tanggung jawab,
dan dengan keyakinan penuh bahwa aku benar-benar bisa melakukannya.
"Pembohong."
Silver, yang
sedang melihat masa laluku bersamaku, mengucapkan kata-kata yang penuh dengan
dendam dan kecaman. Aku yang berjanji untuk melindungi, namun hanya bisa diam
menonton monster panggilanku menderita tanpa bisa melakukan apa pun.
Bahkan
saat aku mengatur napas yang tersenggal, Silver terus terbagi dan terhisap ke
dalam gumpalan daging.
Aku harus
menolongnya. Aku harus menepati janji. Begitu pikirku.
Aku
mencambuk kakiku yang gemetar dan berlari di atas lantai daging. Aku yang hanya
berpikir untuk lari secepat mungkin tidak menyadari ada gumpalan daging lain
yang jatuh dari atas.
Bersamaan
dengan benturan keras, aku pun terhisap masuk, terjebak dalam ruang di mana aku
bahkan tidak tahu ke arah mana aku menghadap.
Kebebasan
fisikku direnggut, kulitku dikelupas, tulangku dipatahkan, tubuhku ditusuk,
dicabik-cabik, disambung kembali, dan aku terus dibiarkan hidup tanpa diizinkan
menjadi gila──.
(Guh......
bukan! Itu halusinasi, jangan tertipu......!)
Aku tahu. Itu
tidak mungkin terjadi. Ingatan ini adalah halusinasi yang diciptakan oleh
ketakutanku sendiri, bukan kenyataan.
Kudengar
setelahnya, Silver pun melihat halusinasi yang serupa. Meskipun itu terjadi di
bawah serangan mental yang keji, dia tampak sangat terpukul karena tidak bisa
menolongku. Silver tidak pernah memberi tahu sampai akhir, apa yang terjadi
padaku di dalam mimpi buruk yang dia lihat.
Aku tidak
merasa menantangnya adalah sebuah kesalahan. Hasilnya, aku bisa menyampaikan
bahaya monster itu kepada Leticia, dan tubuhku tidak mengalami cacat apa pun.
Jika rakyat
jelata itu adalah tembok yang harus kulampaui, maka bisa dibilang bertemu
dengannya adalah sebuah keberuntungan.
Aku
juga tidak menerima semacam kutukan, jadi aku bisa segera mengambil tindakan.
Namun......
(Tidak
ada apa-apa. Aku...... telah kehilangan segalanya.)
Ada
rasa kewajiban bahwa aku harus bangkit kembali. Namun, dari lubuk hatiku sendiri, tidak ada keinginan
untuk menundukkan rakyat jelata itu.
Bukan hanya
karena ketakutan sederhana terhadap lawan, melainkan karena kekecewaan terhadap
diriku sendiri yang telah berhenti melangkah dan tidak bisa lagi merasakan
semangat.
Hal yang
paling fatal adalah, meskipun aku memahaminya, hatiku tetap tidak bergeming.
Tidak ada rasa tidak sabar, tidak ada rasa sesal, tidak ada apa-apa; hanya
perasaan hampa seolah ada lubang di dadaku.
──Apakah Jade
Glade telah patah?
Mungkin
itulah yang paling dikhawatirkan oleh orang-orang di keluargaku saat ini. Meski
menyadari hal itu, aku tetap tidak bisa memberikan jawaban atas pertanyaan
tersebut.
Aku kosong,
benar-benar kosong. Diriku yang sekarang. Bahkan perasaan cinta yang kupupuk
sejak kecil pun tidak mampu mengisi kekosongan itu.
"Perampokan!
Pria berbaju hitam! Seseorang, tolong!"
Kilatan
cahaya dan suara ledakan. Diikuti suara teriakan minta tolong, debu tertiup ke
arah kakiku, menginterupsi pikiranku. Jika kata-kata yang terdengar itu benar,
maka sebuah kejahatan yang tidak boleh dibiarkan tengah terjadi. Terlebih
lagi, jaraknya sangat dekat.
(Dekat......! ......Tapi, kalaupun aku
pergi......)
Gambaran negatif mendominasi otakku.
Aku yang lengah, melupakan esensi sebagai bangsawan, dan menanggung kekalahan
sebagai seorang Pemanggil. Jika aku menambah rasa malu lebih dari ini, mungkin
kali ini aku benar-benar tidak akan bisa lagi menjadi anggota keluarga Glade.
Untungnya, sekarang aku memakai pakaian
yang tidak mencolok. Tidak
akan ada yang menyadarinya. Tidak apa-apa jika aku baru bertindak secara
terang-terangan setelah kondisiku pulih. Alasan-alasan untuk melarikan diri seperti itu bermunculan di benakku──.
"Baik
Silver atau siapa pun, aku yang akan melindungi kalian! Janji ya!"
(......Benar,
aku...... sudah berjanji......)
Janji untuk
melindungi keluarga. Janji untuk melindungi rakyat.
Janji yang
pernah kupatahkan itu, kali ini akan kutepati. Aku ingin melakukannya. Atas
kemauanku sendiri.
Di dunia
hampa tempat aku kehilangan arah karena hatiku hancur, aku berhasil menemukan
sebuah penanda kecil. Aku bisa merasakan pusat tubuhku yang mendingin mulai
memanas sedikit demi sedikit.
(Ayo pergi.
Aku pun seharusnya bisa, setidaknya menjadi perisai bagi seseorang.)
Bukan untuk
mencari sesuatu yang telah hilang dari diriku──bukan.
Hanya
untuk melindungi rakyat, Jade Glade pun mulai berlari.
◆
"Jangan
bergerak. Berikutnya akan kubakar matamu."
"Hah......
hah......! Sial, kenapa bocah penyihir bisa bergerak selincah ini......!"
Dalam
perjalanan menuju lokasi ledakan, aku menemukan seorang pria berpakaian hitam
yang sedang berlari membelah kerumunan sambil melepaskan diri dari pengejar.
Aku
membuntutinya sambil berhati-hati agar tidak membahayakan pejalan kaki, dan
akhirnya melepaskan sihir saat dia memasuki gang yang sepi. Meski sempat
ditangkis beberapa kali oleh Magic Tool, aku berhasil menekannya dengan jumlah
mana.
Aku
tidak menggunakan teknik pemanggilan, namun lawan sepertinya adalah orang yang
cukup ahli juga.
"Sepertinya kamu sudah mencuri
cukup banyak ya. Apalagi semuanya adalah barang yang mengumpulkan mana......
apa tujuanmu?"
"Hentikan! Jangan sentuh
persembahan untuk Dewa Jahat dengan tangan kotormu itu!"
"Dewa Jahat......? Kamu, pengikut aliran sesat? Ternyata
kalian masih beraktivitas......"
Sebuah
organisasi penyembah Dewa Jahat yang mulai menjadi pembicaraan seiring dengan
meredanya perang besar melawan negara tetangga, Slava, dan stabilnya kehidupan
masyarakat sedikit demi sedikit.
Namun seiring
berjalannya waktu, organisasi itu melemah dengan cepat setelah para petinggi
yang mengaku sebagai pendeta ditangkap, dan beberapa tahun belakangan ini
kabarnya sudah jarang terdengar. Aku mengira mereka sudah membubarkan diri atau
lenyap secara alami, tapi......
"Bodoh.
Bukan 'masih'. Kami baru saja dimulai. Dan, sebentar lagi akan berakhir."
"Aku
tidak berniat meladeni igauan orang gila. Bicara saja sana menghadap dinding di
dalam penjara."
"Kamu
benar-benar tidak mengerti apa-apa ya. Beberapa hari yang lalu, Dewa Jahat telah menampakkan diri sekali di dunia
ini. Dunia ini akan segera berakhir."
"Beberapa
hari yang lalu......"
Ucapan kosong
seorang fanatik. Kata-kata yang seharusnya tidak layak didengar atau
diperhatikan.
Namun, untuk
mengabaikannya begitu saja, rasanya ada sesuatu yang janggal dan mengganjal di
hati. Atau mungkin, ada sesuatu yang terlintas di pikiranku.
Pria perampok
itu melanjutkan bicaranya.
"Hari
itu, Dewa Jahat menyebarkan kegilaan dan ketakutan untuk memberi tahu kami.
Justru karena kami selalu memanjatkan doa setiap harilah kami bisa merasakan
kehadirannya. Bahwa kegiatan sekte yang kami jalankan sambil bersabar selama
ini adalah benar, dan beliau memerintahkan kami untuk mempersembahkan tumbal
agar beliau bisa bermanifestasi sekarang juga!"
"Lalu,
dengan merampok? Dewa Jahat yang kalian bicarakan itu ternyata memerintahkan
hal-hal yang sepele ya."
"Diam.
Apa kamu tidak paham bahwa hukum di dunia yang akan musnah ini tidak memiliki
nilai sedikit pun? Kami tidak akan bersembunyi lagi.
Tidak akan bersabar lagi. Persiapan ritual sudah hampir selesai."
Apakah itu fakta, atau dia hanya sangat
memercayai khayalannya sendiri? Dari sikap pria yang sama sekali tidak mencoba
menyembunyikan informasi mereka, terasa kepercayaan diri bahwa tujuan mereka
telah tercapai dan masa depan sudah pasti.
Kasus-kasus di mana orang-orang
berpegang teguh pada keselamatan yang tidak nyata, tertipu oleh tulisan
asal-asalan dalam buku kuno, lalu merapalkan kutukan atau memanggil keberadaan
sial memang masih terjadi sedikit belakangan ini.
Kisah omong kosong bahwa dunia akan
hancur memang tidak layak dipercayai, namun jika itu termasuk dalam kasus-kasus
tersebut, maka diperlukan kewaspadaan yang tinggi.
(Aku perlu membongkar realitas aliran
sesat ini. Aku akan membawa masalah ini pulang ke rumah, lalu menanggapinya
secara organisir......)
Ada rasa enggan untuk kembali ke rumah
hanya dalam beberapa hari setelah pergi, namun situasinya tidak memungkinkan
untuk memikirkan hal itu. Sebagai pedang yang melindungi rakyat, aku harus
menjalankan peran sebagai bangsawan.
Tepat saat
aku berpikir demikian.
『──Haa............ Baiklah......
Kutaruh di sini...... Tapi ini......』
"Guh......!?
Perasaan apa ini......!?"
Sebuah
guncangan seolah kepalaku dipukul. Sensasi kulit yang meremang dan tekanan
berat seolah jantungku diremas. Serta lonceng peringatan dari naluriku.
Sebuah
firasat pasti bahwa sesuatu yang asing bagi dunia ini, sesuatu yang fatal yang
tidak boleh dibiarkan bermanifestasi di permukaan tanah, telah turun ke tengah
kota.
"......Ha. ......Hahaha...... Dewa
Jahat......! Dewa Jahat
telah bermanifestasi kembali! Lihat, Dewa Jahat menegaskan bahwa tindakanku
adalah benar!"
"Hawa
ini...... apakah ini...... Dewa
Jahat......?"
"......Kamu
juga merasakan kegilaan ini? Di dalam kitab suci tertulis bahwa hanya mereka
yang memiliki iman kuat dan selalu memanjatkan doa setiap hari seperti kami
yang bisa merasakan hawa Dewa Jahat yang turun......"
"Iman?
Bukan, ini......"
Ini
kemungkinan besar adalah──pengalaman.
Aku tahu. Aku
pernah berhadapan dengan pemilik kegilaan ini. Itulah sebabnya aku bisa
merasakan hawanya.
Hal itu
diperkuat oleh serpihan ingatan yang samar. Bagian dari ingatan yang disegel
atau dipotong oleh naluri untuk mencegah kehancuran mental.
Kata-kata
pria aliran sesat itu bahwa manusia lain tidak merasakan hawa ini kemungkinan
besar adalah fakta. Jika semua orang menyadarinya, ibu kota pasti sudah berada
di tengah keputusasaan dan kekacauan.
Namun, hal
itu tidak terjadi. Hanya terdengar kebisingan dari kejauhan akibat perampokan
tadi, sementara kota masih tetap tenang.
"Yah,
sudahlah. Kalau begitu kamu juga pasti paham! Bahwa Dewa Jahat telah berada di
dekat sini! Bahwa beliau akan menghancurkan dunia yang buntu ini! Oh Dewa
Jahat, aku ada di sini!"
Dengan mulut
yang terdistorsi lebar, pria itu berteriak dengan ekspresi kegirangan.
Di saat aku
sedang bimbang apakah harus membiarkannya terus bicara untuk mendapatkan
informasi atau mendiamkannya agar tidak meresahkan penduduk sekitar, perubahan
itu segera datang.
"Aku
tidak bisa membiarkan beliau menunggu lebih lama lagi! Ritual harus segera
dilaksanakan secepat mungkin untuk menyambut Dewa Jahat secara resmi ke dunia
i...... A...... Hi! Gak......!"
"? Oi,
ada apa!"
"Apa,
ini......? Bukan, hal semacam ini...... bukan! Jangan datang...... jangan
datanggggggg!!"
Tiba-tiba
pria itu ketakutan akan sesuatu. Sambil membenturkan kepalanya ke dinding di
belakangnya, dia mencakar lehernya, dadanya, dan tanah. Dia memasukkan kedua
tangannya yang berlumuran darah ke dalam mulutnya sendiri.
Kemudian,
sembari seluruh tubuhnya kejang-kejang, dia berulang kali melakukan gerakan
seolah ingin mengeluarkan benda asing dari dalam mulutnya, hingga akhirnya
matanya memutih dan dia jatuh lemas.
Aku segera
memeriksa kondisinya, namun dia masih bernapas; sepertinya dia hanya pingsan.
"Apakah
dia terlalu banyak menerima pengaruh Dewa Jahat......?"
Para pengikut
aliran sesat yang telah memanjatkan doa selama bertahun-tahun pasti telah
mempertajam kepekaan mereka terhadap kejahatan dan kegilaan.
Apakah pria
ini benar-benar merasakan hawa itu dengan sangat kuat hingga mentalnya tidak
sanggup menahan dan menjadi gila?
Sadar-sadar,
hawa sial itu telah lenyap, dan udara yang terasa berat serta mandek pun
kembali normal. Sensasi seolah waktu yang terhenti mulai bergerak kembali
secara perlahan.
"Aliran sesat...... ya."
Aku
menatap langit yang bersih dan indah, yang terasa sangat tidak selaras dengan
situasi ini.
Sejauh mana
perkataan pria itu benar? Apakah pengikut lain akan memicu kejadian serupa?
(Untuk
memastikannya, aku tidak bisa membiarkan mereka bebas begitu saja. Pertama-tama
aku akan melapor ke rumah, lalu melakukan interogasi pada pria ini meski harus
sedikit memaksa......)
Aku menyusun
hal-hal yang harus dilakukan beserta urutannya di dalam otak. Tidak ada waktu
barang sekejap pun untuk hanya mematung.
Aku
memejamkan mata, membuang napas, lalu menatap lurus ke depan sekali lagi.
Perasaan hampa dan tidak berdaya yang tadi mendominasi hatiku telah lenyap sepenuhnya, dan di dalam dadaku kini telah menyala api yang pasti.



Post a Comment