Chapter 6
Kontrak Instan
"Nama
saya Hydra! Panggil saja
Hydra! Mohon bantuannya!"
"Ah,
iya. Salam kenal, ya."
"Saya
sangat bersemangat! Saya akan melakukan apa pun! Mohon kontraknya!"
"Oh, ada
juga ya pola di mana pihak sana yang meminta duluan."
Yo! Namaku
Heresy! Berkat monster yang kupanggil waktu kecil dulu, bakatku sebagai Summoner
akhirnya diakui. Mulai kemarin, aku resmi menjadi murid di Akademi Summoner
Kerajaan Meilleur yang terkenal itu!
Sekarang
aku baru saja selesai mengobrol dengan monster panggilan yang kupanggil tadi!
Memberitahu
tentang diriku, menunjukkan kehebatanku sebagai Summoner... komunikasi
sesaat setelah pemanggilan itu sangat penting untuk mendapatkan kontrak!
Meski
kali ini, kami sudah langsung kontrak, sih! Padahal urusan yang memengaruhi
masa depan masing-masing seperti ini biasanya harus dibicarakan lebih serius
sebelum diputuskan.
Tapi karena
aku hanya bisa membuat janji lisan tanpa paksaan sihir apa pun, rasanya jadi
lebih santai dan menyenangkan! Sama seperti Happy, tidak ada yang mengikat kami
selain rasa percaya!
Omong-omong,
teman-teman sekelas sedang berkumpul di dekat pintu masuk arena pemanggilan,
dan Tuan Putri sepertinya sedang asyik mengobrol dengan Leticia!
Guru
pendampingnya menatap ke arahku sambil menggerakkan mulutnya sedikit... tapi
aku sama sekali tidak dengar. Apa dia sedang mengajakku bicara?
"—Oleh
karena itu, saya bisa bernapas di daratan, dan saya bisa bergerak dengan sihir
tanpa membasahi lantai. Saya akan sangat senang jika Anda memanggil saya kapan
pun Anda mau!"
"Ooh,
hebat ya."
Setelah
perkenalan, aku mengajukan beberapa pertanyaan tentang dirinya.
Ternyata dia
adalah makhluk laut! Tentakel yang terlihat segar dan pakaian yang—menurut
standar manusia—terlihat cukup terbuka itu memang sangat cocok dengan hawa laut
yang sejuk!
Fakta bahwa
dia bisa menggunakan sihir juga sangat membantu, karena itu adalah bidang yang
tidak dikuasai aku dan Happy! Terus, sepertinya dia dua tahun lebih tua dariku!
Tapi merasa
senang karena dipanggil itu agak aneh bagi manusia, ya. Mungkin monster
panggilan punya nilai-nilai mereka sendiri, tapi hidup dalam kondisi tidak tahu
kapan akan dipanggil itu pasti cukup berat...
『Tidak kok, Tuan Heresy. Dipanggil
oleh Anda membuat saya sangat bahagia. Kalau dijelaskan secara sederhana...
rasanya seperti dimensi baru tercipta di dalam asal-usul keberadaan saya
sendiri.』
Ah, iya...
aku paham kok! Terima kasih!
"Oh iya,
sebenarnya aku punya monster panggilan lain yang sudah kontrak denganku, tapi
karena tidak bisa dipanggil di sini, lain kali akan kukenalkan, ya."
"Ah,
jadi ada senior ya. ...Bolehkah saya tahu beliau orang yang seperti
apa...?"
"Tentu. Monster
panggilanku—namanya Happy. Dia gadis yang baik dan penuh perhatian. Umurnya...
bisa dibilang lebih muda dariku? Dia sangat rajin, pintar mengurus rumah dan
ladang, tapi kadang dia agak ceroboh. Meski dia berusaha menyembunyikannya, sebenarnya
dia masih sangat suka bermain, itu yang membuatnya imut. Terus, tubuhnya sangat
lembut. Karena waktu kami pertama bertemu dia lebih kecil dari sekarang, kami
sering tidur di ranjang yang sama. Di kampung halaman dia sangat disayang
orang-orang dewasa, jadi kupikir kau akan cepat akrab dengannya. Sekarang pun dia ada di dekat sini,
jadi mungkin kau sudah bisa merasakan sedikit bayangan tentangnya."
"Begitu
ya... beliau orang yang sangat manis ya! Saya akan berusaha keras agar bisa
diakui oleh keluarga Tuan Heresy!"
"Dia
benar-benar anak baik, jadi tidak perlu merasa terbebani begitu. Malah, aku
sudah menganggapnya seperti adik sendiri."
『Hanya dianggap adik...!?』
Yah,
karena aku sudah bersama Happy sejak kecil, soal hubungan kami itu... siapa
yang bilang duluan, dia yang menang! Lagi pula, ingatanku saat pertama kali bertemu dengannya agak samar!
Ngomong-ngomong
Hydra, sejak tadi jawabanmu sudah seperti orang yang datang wawancara kerja.
Apa kau gugup? Hubungan Summoner dan monster panggilan itu bukan
hubungan majikan dan pelayan, lho...
"Terus,
kalau ini pertanyaan yang tidak sopan tolong bilang ya. Tentakel itu... kaki?
Boleh tidak kalau aku menyentuhnya sedikit?"
"Ini
tentakel! Tidak apa-apa kok! Silakan!"
"Kalau
begitu sedikit saja... ooh."
Saat aku
mencoba menopang tentakel Hydra yang menjulur dari bawah, rasanya... menarik!
Terasa empuk, kenyal, dan halus, tapi ada berat massa yang mantap.
Benar-benar
sensasi sentuhan yang misterius! Meskipun punya kekuatan yang bisa mengalahkan
manusia hanya dengan satu helai, ada rasa aman yang membuatku ingin merebahkan
seluruh tubuhku di sana!
Aku agak
terganggu karena Hydra terus menggumamkan kata terima kasih pelan saat
kusentuh, tapi aku senang karena kami sepertinya sudah cukup akrab sampai dia
mengizinkanku menyentuhnya!
Saat aku
merasa puas dengan komunikasi yang lancar ini, Hydra menarik napas dalam-dalam
untuk menenangkan diri, lalu mendekatiku dengan wajah penuh tekad! Ekspresinya
berubah-ubah, imut sekali ya!
"Anu...
bolehkah saya bertanya satu hal lagi...!"
"Hm?
Tentu. Tanya apa saja. Aku bisa mengajarimu tentang bangsawan yang harus
diabaikan biar tidak repot, atau bangsawan yang suka mencuri selimut!"
"Itu...
menurut Tuan Heresy, bagaimana... wujud saya...?"
"Wujud...?"
Penampilan
Hydra... kalau menurut manusia mungkin pakaiannya agak berani, tapi selain itu,
menurutku bentuk tubuhnya sudah sempurna dan tidak ada celah untuk dikritik!
Soal pakaian pun itu pasti karena perbedaan budaya, jadi tidak ada yang perlu
kukatakan dari sudut pandang manusia!
"Tentakel
ini... bagaimana menurut Anda? Tolong berpikirlah dengan tenang dan dingin.
Apakah tidak... menjijikkan?"
"…?
Maksudmu, jika aku mengesampingkan kesan pertama?"
"Apakah
tidak buruk rupa? Apakah Anda tidak benci...?"
"..."
...
???????????
Padahal
tentakelnya menapak di lantai dengan benar, tumbuh dari posisi yang wajar,
tidak tertutup tumor, tidak berlumuran darah, dan tidak menyemburkan cairan
daging saat bergerak?
Mungkin
pertanyaannya muncul karena dia khawatir soal perbedaan nilai dengan makhluk
darat, tapi jika dibandingkan secara keseluruhan termasuk tentakelnya,
bentuknya jauh lebih mirip manusia daripada Happy yang sedang menyamar.
Untuk
memastikan, aku mencoba mengelus tentakel Hydra lagi... yap, karena ototnya
tidak menempel di tanganku seperti Happy, Hydra lebih mudah dielus!
"Permukaannya
licin dan terlihat cantik, sensasinya juga lembut dan nyaman. Kalau kau ada di
sini, mungkin aku tidak masalah meski bantal dan selimutku tidak kembali."
"Dzh...!
B-benarkah...!?"
"Iya.
Mau melakukan apa pun sepertinya kau bisa lebih lihai dari orang lain. Ditambah
lagi kau sangat imut begini, aku sangat bersyukur bisa kontrak denganmu."
"I-imut...!?"
Kulitnya juga
putih dan halus ya! Apakah pola makan makhluk air itu bagus untuk kecantikan?
Kalau bisa diterapkan ke manusia, mungkin aku bisa berbisnis dan untung besar!
"GAAH! GYAAH!"
"Ti-tidak
boleh! Berhenti!"
"Hm...?"
Saat
aku sedang mencari peluang bisnis baru berbasis hasil laut, terdengar suara
keributan antara seorang teman sekelas dan monster panggilan burungnya!
Si
burung sepertinya berteriak sambil mengepakkan sayap ke arah sini, sementara
gadis pemiliknya berusaha menghentikannya! Aku punya firasat buruk... bukankah
kepakan sayap burung itu tadi adalah gerakan awal serangan?
"GIGII, GI... GAAA!"
Ah, benar dugaanku. Sesuatu seperti
gelombang kejut yang sulit dilihat terbang ke arah Hydra. Apa ini tidak apa-apa
ya? Soal Hydra-nya sih oke, tapi soal posisi gadis pemiliknya dan lain-lain.
"Hydra,
apa itu bisa ditahan?"
"Imu...
imut..."
Ah, dia
sedang gumam "sangat imut"! Lucu sekali! Karena Hydra sepertinya
sedang sibuk sendiri, bolehkah aku minta Happy yang menanganinya? Orang-orang
ibu kota sepertinya takut hal horor, jadi tolong gunakan cara yang tidak
mencolok ya!
『Cara yang tidak mencolok... mungkin
begini?』
"Hah...?
Apa..."
"Apa-apaan...
itu...!"
Saat Happy
melakukan intervensi dengan suara yang berat, sebuah gerbang tak kasat mata
yang bergelombang muncul di antara Hydra dan si burung!
Seketika
gelombang kejut yang dilepaskan si burung melewati gerbang itu, gelombang
tersebut langsung mewujud menjadi daging, lalu meledak karena tekanan dari
dalam dan menguap bahkan sebelum sempat mengeluarkan suara tangisan... maaf,
apa ini sudah benar disebut cara yang tidak mencolok?
『Maaf, tadinya kupikir bisa
meniadakannya... tapi tenaga yang masuk lebih kecil dari dugaanku, jadi
sepertinya malah tertimpa oleh kekuatanku.』
Ah, aku
paham. Karena monster panggilan Jade-kun yang kulawan kemarin sangat kuat, aku
jadi mengira itu adalah standarnya dan jadi terlalu waspada, ya!
Tidak
apa-apa, tidak apa-apa! Hasilnya tidak ada yang terluka, jadi tidak perlu
dipikirkan! Terima kasih!
"Tadi
itu... sihir pertahanan...? Mengerikan sekali..."
"Rakyat
jelata itu, jangan-jangan dia anggota sekte sesat..."
"Cepat
lapor penjaga..."
Di kejauhan
teman-teman sekelas agak gaduh, tapi tadi kan kami sepenuhnya korban.
Lagipula
bukankah lebih gawat lagi kalau monster panggilan menyerang tanpa izin di depan
anggota keluarga kerajaan?
Aku khawatir
orang tua gadis itu akan dipanggil nanti!
"Dzh...
Luar biasa!"
"Savant-sensei...?"
Saat
aku sedang membenarkan tindakan kami di dalam kepala, guru pendamping itu
berteriak keras memotong pembicaraan murid-murid! Matanya tampak melirik ke
sana kemari, apa ada sesuatu yang tidak beres baginya?
"Fenomena
tadi itu... itu... adalah teknik pertahanan dari monster panggilan! Makhluk itu
adalah spesies yang tercatat dalam buku kuno benua Utara, mereka tinggal di
rawa-rawa dan menggunakan teknik khusus seperti tadi! Mereka adalah monster
panggilan yang tenang, tidak pandai bertarung, dan punya banyak organ yang sama
dengan manusia, jadi mereka adalah jenis yang langka namun aman!"
"Be-begitukah...?
Monster mengerikan tadi...?"
"Serangan
tadi, tidak terlihat seperti monster itu menahan serangan, tapi..."
"Kau
pasti salah lihat. Kalau
orang sekaliber Savant-sensei yang bilang, sudah pasti benar."
"Benar
juga. Kita harus segera mengejar ketertinggalan ilmu pengetahuan kita."
Ooh,
penjelasannya diterima dengan mudah. Padahal kemarin satu pun perkataanku tidak
didengar.
Mungkin ini
yang namanya perbedaan status sosial ya. Isinya sih melenceng setengah dari apa
yang dikatakan Hydra sendiri, tapi karena situasinya menguntungkan, aku diam
saja deh!
"Rakyat
jelata itu juga bersih. Orang yang bakatnya mekar belakangan terkadang punya
kekuatan sihir yang langka. Metode pemanggilan yang aneh pun tidak mengherankan
jika dilihat dari sudut pandang sihir kuno."
"...Hmph,
ternyata rakyat jelata tetaplah rakyat jelata. Ternyata dia bukan
siapa-siapa."
"Berani-beraninya
rakyat jelata rendahan mencoba menarik perhatian dengan gaya aneh di depan Tuan
Putri. Benar-benar dangkal."
"Monster
panggilan yang menjijikkan itu sepertinya juga cuma menang tampang. Monster
yang tidak berguna dalam pertarungan tidak ada gunanya."
Entah kenapa
sepertinya mereka sudah maklum! Ternyata diam saja bisa menyelesaikan semua
masalah. Pasti kemarin diam adalah jawaban yang paling benar!
"Hydra,
kalau nanti kau diganggu bangsawan dan merasa kesulitan, jangan jawab apa-apa
dan bicaralah padaku, ya. Kau mungkin tidak percaya, tapi kemarin aku cuma
menjawab salam saja tapi selimutku langsung diambil... Hydra?"
"Imu...
imut..."
Ah, dia masih gumam "imut-imut"! Lucu sekali!



Post a Comment