NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Naze Nigerun Dai? Boku no Shoukanjuu wa Kawaii yo Volume 1 Chapter 5

Chapter 5

Kesetiaan: Hydra


I-Iblis...!? Ada iblis muncul!

Hii...!? Apa-apaan ini... menjijikkan... J-jangan mendekat...!

"Bukan..."

Keluarkan monster panggilan! Para penyihir, bersiap menyerang! Tekan dia dengan jumlah pasukan!

Monster tentakel itu kabur! Cari dia! Musnahkan kaki tangan iblis itu!

"Bukan... aku..."

Laut dalam. Kegelapan. Aku menutup telingaku seolah ingin melarikan diri dari ingatan masa lalu yang menyerang di saat-saat tak terduga. Aku menutupi seluruh tubuhku dengan tentakel dan meringkuk.

Perubahan itu dimulai beberapa tahun yang lalu. Tubuh ini, yang terus berubah menjadi sosok yang sama sekali berbeda dari makhluk laut di sekitarnya, suatu hari tiba-tiba berhenti tumbuh dan aku pun "selesai" sebagai satu individu makhluk hidup.

Dan sejak saat itu, sesekali aku mulai mendengar suara-suara.

Seseorang, jawablah suaraku—Summon

Wahai kau yang kuat dan berani menyebut namamu, datanglah kepadaku—Summon

Aku akan senang kalau yang datang itu gadis yang manis—Summon

Setiap kali mendengar suara-suara itu, sebuah lingkaran cahaya pasti muncul di depanku. Sebuah lingkaran sihir yang berpendar redup, memberiku firasat bahwa ia terhubung dengan suatu tempat yang sangat jauh.

Meski isi suara itu tidak memanggilku secara pribadi, aku bisa merasakan bahwa di suatu tempat, ada seseorang yang sedang kesulitan. Perasaan yang sangat misterius.

"Kalau aku menyentuh ini... mungkinkah aku bisa punya teman...?"

Meski aku mencari ke seluruh penjuru lautan terdekat, aku tidak menemukan satu pun makhluk yang memiliki wujud yang sama denganku. Di saat ikan-ikan ketakutan dan lari dariku, aku merasa sendirian.

Jika aku menjawab panggilan ini, setidaknya jika aku pergi ke tempat di mana ada seseorang yang bisa kuajak berkomunikasi, mungkinkah aku akan mendapatkan teman? Begitulah pikirku.

Lalu suatu ketika, aku menyentuh lingkaran sihir itu. Dengan mengumpulkan keberanian, atau mungkin lebih tepatnya, karena ingin lari dari kesepian. Setelah beberapa saat, tempat di mana tubuhku berpindah adalah—daratan.

Di sana sedang dilakukan ritual untuk mengundang keberadaan yang disebut "Monster Panggilan". Yang memanggilku adalah makhluk bernama manusia, dan orang itu langsung menjerit ketakutan begitu melihat wujudku, lalu lari terbirit-birit.

Sesaat kemudian, banyak manusia datang dan menyerangku dengan berbagai cara.

Saat aku mencoba memanggil air untuk kembali ke tempat asalku, kekuatanku dihalangi oleh kekuatan misterius.

Selebihnya aku tidak ingat lagi. Aku hanya ingat bagaimana aku sampai di laut dengan nyawa yang nyaris melayang, lalu menangis sambil melindungi tubuhku yang penuh luka.

Aku sedih. Karena ditolak. Karena kenyataan bahwa bagi makhluk daratan, wujudku adalah sesuatu yang asing dan mengerikan.

Setelah itu, untuk beberapa lama aku menghabiskan waktu di laut dalam sambil mengabaikan suara pemanggilan maupun lingkaran sihir.

Namun, di dalam kegelapan yang hampa, aku tidak bisa menang dalam melawan kesepian.

Jika dipikir kembali, mungkin tubuh yang berubah menjadi besar dan kuat ini memang secara insting mendambakan untuk dipanggil.

Kata "Monster Panggilan" berkali-kali diucapkan oleh para manusia. Jika diriku yang sekarang memang keberadaan seperti itu, lantas mengapa aku harus memiliki wujud yang seburuk ini?

Ataukah, ada seseorang yang mau menerimaku meski dengan wujud seperti ini?

Seseorang yang mau melihatku sebagai satu individu dan memperlakukanku tanpa membeda-bedakan.

Mendambakan sosok yang entah ada atau tidak itu, aku kembali menyentuh lingkaran sihir setelahnya.

Berkali-kali aku menjawab panggilan, namun di setiap tempat aku berpindah, aku selalu disambut dengan jeritan, makian, dan hunjaman senjata.

Baik oleh manusia muda, maupun yang dewasa. Aku bahkan ditolak oleh mereka yang memanggilku dengan suara lembut, hingga perlahan aku mulai memahami bahwa aku bukan hanya buruk rupa, tapi telah menjadi monster yang menakutkan.

Permisiii, apa ada yang bisa dengar suaraku~

Cukup. Mari berhenti menakuti orang lain. Biarlah kali ini menjadi yang terakhir.

Aku berpindah ke laut yang jauh, dan saat aku sedang terombang-ambing di dalam air sambil memikirkan cara untuk mati, suara itu kembali jatuh menyapaku. Suara yang lembut. Suara yang memikat hati.

Rasanya sangat hangat, sesuatu yang belum pernah kurasakan sebelumnya.

Jika aku ditolak oleh orang ini, aku rasa aku bisa merelakan segalanya tanpa penyesalan sedikit pun. Aku sangat bersyukur karena bisa mendapatkan harapan terakhir sekaligus yang terbesar dalam hidupku.

"E-eh, anu... lingkaran sihir! Aku harus cepat menyentuh lingkaran sihir... Ah!"

Jika seperti biasanya, lingkaran sihir seharusnya muncul di dekatku.

Namun, meski aku mengedarkan pandangan ke sekeliling untuk mencari lingkaran yang berpendar redup itu, aku tidak bisa menemukan apa pun yang kubayangkan.

Selagi aku panik, perasaan terhubung dengan pemilik suara itu mulai menipis. Pasti ada orang lain yang sudah menjawab panggilan itu, dan pemanggilan telah selesai dilakukan.

"Mana mungkin..."

Aku melewatkan kesempatan yang mungkin hanya datang sekali seumur hidup, dan seseorang telah merebutnya dariku.

Pikiranku menjadi kosong. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Meski aku menjulurkan tentakel ke sekeliling untuk mencari sisa-sisa kehangatan itu, hanya dinginnya air laut yang merambat ke tubuhku.

Apakah itu tadi hanya mimpi? Ataukah hanya fantasi yang menguntungkan bagi diriku sendiri?

Meskipun itu hanya kejadian di dalam delusiku, kehangatan yang meluluhkan hati itu akan menjadi racun manis yang akan segera membunuhku.

Pengalaman manis yang sempat kurasakan sekali itu adalah zat berbahaya yang cukup untuk membuat segala hal yang kualami sebelumnya terasa pudar.

"...Dingin."

Air yang seharusnya tidak terasa dingin, kini terasa dingin. Aku tidak bisa lagi hidup dalam kesendirian. Namun, mendengarkan suara tadi sekali lagi pun adalah hal yang mustahil.

"Meski hanya suaranya, aku ingin mendengarnya sekali lagi..."

Aku merelakan segalanya, merentangkan seluruh tubuhku sambil telentang, dan memejamkan mata. Harapan yang terucap lirih itu menghilang menjadi buih di dasar laut yang dalam tanpa didengar oleh siapa pun.

Permisiii, ada yang tidak mengenalku di sana? Apa bisa dengar suaraku~?

"He...?"

Terdengar. Aku mendengar suaranya sekali lagi. Kenapa? Bagaimana bisa?

Seharusnya pemanggilan sudah selesai. Jangan-jangan dia gagal dalam mengikat kontrak? Pemilik suara ini? Rasanya sangat sulit dipercaya.

Jika itu aku, apa pun syarat yang diberikan, aku tidak akan pernah menolaknya. Monster panggilan yang dipanggil sebelumnya pasti tidak memiliki tekad yang cukup. Tekad untuk mengorbankan segalanya demi bisa diterima oleh pasangannya.

"L-lingkaran sihir! Di mana lingkaran sihirnya... itu...?"

Yang kutemukan adalah distorsi ruang. Di dalam kegelapan di mana cahaya tak terjangkau, terdapat pintu kegelapan yang satu tingkat lebih gelap lagi.

Itu adalah hubungan kecil yang hanya bisa kusadari karena aku mengejar kehangatan tanpa mengandalkan penglihatan.

Aku mendekat dengan segenap tenaga dan menyentuhnya, lalu perasaan yang sudah kukenal bahwa aku terhubung dengan suatu tempat yang jauh langsung menyelimuti tubuhku.

Jika sama dengan pemanggilan sebelumnya, maka setelah menunggu beberapa saat, perpindahan akan dimulai.

"Y-yess...!"

Harapan, kegembiraan, dan juga ketegangan. Apakah penampilanku sudah rapi?

Aku merapikan poni, menarik pelindung dada sempit yang merupakan salah satu dari sedikit pakaianku, lalu menggunakan sihir penghalau air dan sihir pengering untuk bersiap pindah ke daratan.

Hal yang paling dihindari manusia adalah tentakel-tentakel ini. Aku harus menyimpan bagian yang besar, mengurangi jumlahnya, dan sebisa mungkin hanya memperlihatkan yang pendek dan tipis di luar.

Aku harus memberikan kesan pertama yang baik meski hanya sedikit. Pertama-tama, aku akan menyembunyikan tentakel yang panjang mulai dari urutan—

"Eh...?"

Seketika, pandanganku berubah, cahaya yang kuat menyilaukan mataku. Di saat aku refleks menutupi mata dengan tentakel, seluruh tubuhku terhempas ke lantai yang keras dan kering, dan aku menyadari bahwa aku sudah berada di daratan.

"Eh, eh!? Cepat banget...!"

Gawat. Gawat. Aku terpanggil dalam kondisi banyak tentakel yang masih menjulur keluar.

Sambil memucat, aku mati-matian menyimpan tentakel-tentakelku, dan aku melihat pemuda yang sepertinya memanggilku sedang memunggungiku.

Apakah dia tidak sengaja melihat ke arah lain, ataukah dia memalingkan muka karena tidak sanggup melihat sosokku yang buruk ini?

"Anu! Bukan begitu! Ini kalau disembunyikan bisa jadi lebih sedikit lagi...!"

Sambil mempermalukan diri sendiri karena malah memberi alasan sebelum menyapa karena panik, aku entah bagaimana berhasil mengurangi jumlah tentakel dan menyembunyikan sisanya di balik punggung. Rasanya ingin tertawa saja.

Pemuda itu berbalik menghadapku dan mengamatiku dalam diam. Napas yang kutarik sekali saja terasa berlipat-lipat lebih lama, perasaan yang sama seperti sedang menunggu vonis hukuman. Akhirnya pemuda itu membuka mulut dan—

"Horeee!"

"!?"

Reaksi manusia yang baru pertama kali kulihat. Ekspresi yang cerah dan lembut tanpa ada rasa jijik atau niat jahat sedikit pun.

Sampai sekarang, tidak ada satu pun orang yang menatapku dengan mata seperti itu setelah melihat wujudku.

Di saat tubuhku terkejut karena pengalaman pertama ini, hatiku dipenuhi oleh luapan kegembiraan.

Pemuda yang mendekat itu berhenti melangkah karena terhalang oleh tentakelku. Gawat, tidak sopan kalau aku tidak menatap matanya.

"Namaku Heresy! Aku yang memanggilmu! Maaf ya sudah memanggilmu tiba-tiba!"

"A... iya..."

Dia mengulurkan tangan, dan secara refleks aku menjabatnya—terasa hangat. Tubuhku menghangat, dan hatiku berdebar penuh kerinduan.

Di saat suhu tubuhnya berpindah padaku, duniaku yang tadinya pudar seketika berubah warna menjadi sangat cerah. Sebuah perasaan nyaman yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

Agar ikatan ini tidak akan pernah terputus lagi, aku mendekap tangannya erat-erat dengan kedua tanganku.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close