NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Naze Nigerun Dai? Boku no Shoukanjuu wa Kawaii yo Volume 1 Chapter 11

Chapter 11

Belanja Sembari Memperhatikan Langkah


"Halo, namaku Heresy!"

Setelah bimbingan kelas berakhir, guru berkata padaku, "Kalau hanya kurang mahir sih tidak masalah, tapi kalau sama sekali tidak bisa menggunakan sihir, sulit bagiku untuk memberimu nilai.

Tapi jangan khawatir. Akademi ini memiliki dasar untuk membina murid dalam jangka panjang. Agar seorang Pemanggil yang berharga bisa beraksi secara maksimal, ada sistem yang memungkinkanmu mengambil kelas di tingkat yang sama selama beberapa tahun."

Mendengar indikasi tidak langsung kalau aku mungkin tinggal kelas, aku pun meninggalkan ruang kelas karena tidak tahan dengan atmosfer canggung dari teman-teman sekelas yang bingung apakah harus menertawakanku atau pura-pura tidak dengar!

Omong-omong, Leticia sudah pulang sebelum bimbingan berakhir karena ada urusan keluarga!

Sekarang aku sedang berjalan di area akademi dengan niat pergi ke kota! Sembari melangkah dan bimbang apakah aku harus mulai berhemat dari sekarang demi persiapan tinggal kelas, seseorang tiba-tiba menghadangku saat aku memasuki lorong yang sepi!

"Oi, rakyat jelata! Apa lagi yang kamu perbuat kali ini?! Cepat mengaku! Jangan pikir karena kamu punya bakat Pemanggil, kamu tidak akan dijebloskan ke penjara, ya?! Hah?!"

Ah, Wakil Kepala Sekolah! Aku bertemu dengan Wakil Kepala Sekolah! Ini benar-benar sial, aku terlambat melarikan diri!

Sejak kejadian kemarin, aku sudah tahu kalau dia adalah tipe orang yang membuatmu kalah begitu dia mengajakmu bicara, jadi kalau bisa aku ingin menghindarinya! Benar juga, tidak boleh berjalan sambil melamun, ya!

Orang-orang bersenjata yang berdiri di belakang Wakil Kepala Sekolah itu mungkin pengawal keluarga Ostinato? Semangat kerjanya!

"Pria itu... Savant menghilang. Sejak siang tadi. Dia tidak muncul di rapat siang yang sudah dijadwalkan, dan setelah itu kami mencari di seluruh akademi tapi tidak menemukannya. Kenapa pria yang selama ini patuh pada peraturan dan instruksi akademi, serta tidak menunjukkan gerak-gerik mencurigakan secara terang-terangan itu tiba-tiba menghilang? Pasti ada pemicunya. Benar, kan!"

"Haa..."

Entah kenapa hari ini dia jauh lebih bersemangat dibanding kemarin! Kabar kalau Savant-sensei menghilang itu apakah setelah kami bertemu di tempat latihan sihir? Ternyata ada juga ya orang yang benar-benar langsung pulang setelah kejadian seperti itu.

"Aku sudah curiga pada pria itu sejak lama. Dia tidak salah lagi adalah bangsawan yang lahir dan besar di ibu kota. Tapi meski begitu, dia memiliki aura menjijikkan yang sama seperti yang aku rasakan di desamu! Ini sangat tidak wajar. Meski orang lain tidak mau mencoba memahaminya."

"Begitu ya. Benar juga."

"Berhenti menyahut tanpa isi begitu. Kamu mungkin berniat pura-pura tidak terlibat, tapi di mataku kamu sangat mencurigakan. Aku tanya saja, apa dia ada hubungannya dengan orang desa itu?"

"Tidak. Aku bahkan belum pernah mendengar namanya, jadi kurasa bukan."

"Tentu saja! Mana mungkin rakyat jelata yang tinggal di desa seperti itu punya koneksi dengan bangsawan!"

"Eh...?"

Dia yang bertanya tapi setelah dijawab malah menghina, apa otaknya sudah terlalu "kebangsawanan"? Sungguh mulia sekali!

"Tapi sekarang itu masalahnya. Savant tidak seperti orang-orang bodoh di desa itu, dia pintar. Savant tidak seperti orang-orang bodoh di desa itu, dia punya status sebagai bangsawan. Orang seperti itu memiliki 'sesuatu' yang aku rasakan di desa tersebut. Ini ancaman besar. Padahal para ksatria bodoh itu sama sekali tidak mau percaya!"

"Tuan Kedel. Mengenai indra keenam Anda tentang Desa Shiawase, kami pun tidak memercayainya."

"Lihat! Semuanya bodoh! Penduduk wilayahku! Orang-orang ibu kota! Bahkan pengawal keluargaku sendiri! Aaaaaa, bodoh bodoh bodoh!!"

Ah, pembuluh darahnya bisa pecah, bisa pecah. Dilihat dari bentuk tubuhnya, dia sepertinya jauh dari kata sehat, jadi kuharap dia berhati-hati agar tidak terlalu marah!

Setelah menghentak-hentakkan kaki dan meluapkan amarahnya sesaat, Wakil Kepala Sekolah tiba-tiba berhenti bergerak seolah mendapat wahyu ilahi dan menjadi tenang! Apa pembuluh darahnya benar-benar pecah?

"...Cari dia."

"Eh?"

"Kamu juga, cari Savant. Ini perintah Kepala Sekolah."

"???"

Eh... apa alurnya memang jadi begini? Apa aku salah dengar?

Meski tidak ada yang bisa dilakukan soal kesan pertamanya yang buruk terhadap desaku, tapi aku merasa kurang baik kalau dia menggunakan hal itu sebagai alasan untuk memaksakan pekerjaan kepada murid!

"Anu... kenapa harus begitu?"

"Ada banyak alasan, tapi kamu tidak perlu tahu semuanya. Ini pekerjaan yang pas untuk membersihkan namamu dan kampung halamanmu dari kecurigaan. Lakukan."

Ya, jujur saja ini merepotkan!

Wakil Kepala Sekolah bilang seolah-olah aku ini tersangka, tapi itu kan tidak punya dasar yang jelas dan cuma masalah perasaan dia saja? Lagipula secara pribadi aku tidak terlalu tertarik dengan keberadaan Savant-sensei, dan aku sama sekali tidak merasakan keuntungan dengan menerima tugas ini!

Bagiku, masalah aku akan tinggal kelas karena tidak bisa memakai sihir jauh lebih darurat. Bagaimana ini?

"Dengar ya, kamu pasti sudah tahu tapi jangan katakan hal ini pada siapa pun. Jika kamu menemukan Savant, jangan lakukan apa-apa, pergilah dari sana dan lapor padaku. Aku juga akan mengerahkan orang untuk mencari, jadi usahamu sendirian mungkin akan sia-sia, tapi teruslah mencari sampai aku bilang berhenti. Mengerti!"

"..."

"Mengerti tidak?!"

"Tuan Kedel. Kerja tanpa upah bagi warga negara tidak diperbolehkan. Selain itu, meski dia rakyat jelata, tidak pantas bicara seperti itu kepada anak yang memikul masa depan negara..."

"Cih...!"

Ah, Wakil Kepala Sekolah dinasihati oleh pengawalnya.

Ngomong-ngomong, kerja tanpa upah itu tidak boleh ya? Kurasa desaku baik-baik saja, tapi di kota yang pernah aku datangi dulu hal itu lumrah terjadi... pasti ingatanku salah!

"...Baiklah, baiklah. Rakyat jelata rendah sepertimu mungkin tidak paham nilai dari hutang budi atau kehormatan. Kamu tidak akan bergerak kalau tidak ditunjukkan imbalan langsung, kan! Kalau begitu, seandainya kamu yang pertama kali menemukan Savant, aku akan memberikan apa pun yang kamu inginkan dengan otoritas Kepala Sekolah! Karena pasti akan sia-sia, coba katakan saja apa maumu! Selama kamu puas dengan itu! Paling-paling juga uang atau barang, kan!"

"Nilai akademik..."

"Hah?"

"Sebenarnya nilai sihirku buruk sekali..."

"Ini baru hari keempat. Apa yang kamu bicarakan...?"

Padahal dia yang bilang katakan apa saja, tapi kenapa dia malah merasa ngeri saat aku jujur soal masalahku?

Fakta bahwa aku sudah melampaui "batas" hingga membuat Wakil Kepala Sekolah pun bingung menunjukkan betapa seriusnya masalah ini, tapi menurutku ini juga kesalahan orang yang meluluskanku dan nenek yang mengaku sebagai penjaga gerbang itu! Sampai jumpa di pengadilan!

"Aku tidak habis pikir bagaimana bisa ada orang yang sudah jadi sampah padahal baru masuk sekolah. Apa kamu ini musuh yang datang untuk menjatuhkan harga diri wilayahku?"

"Soal itu, aku sendiri juga tidak menyangka..."

"............Yah, sudahlah. Sesuai keinginanmu, upahnya boleh nilai akademik. Tapi jangan lupa, ini hanya jika kamu yang pertama kali menemukan Savant. Mulai besok kamu juga harus tetap hadir di kelas. Mengerti?! Harus hadir! Kalau sudah paham, cepat pergi!"

"Baik. Terima kasih atas sarannya."

Ooh...?

Tadinya kupikir aku terlibat masalah merepotkan, tapi ternyata aku malah bisa mendapatkan syarat luar biasa yaitu nilai akademik jika berhasil menemukan Savant-sensei!

Pelajaran Ibu kalau kita harus sedikit menolak sebuah tawaran sekali saja ternyata berguna juga!

Tentu saja aku berniat terus berlatih sihir, tapi kalau hanya dengan mencari orang aku bisa terhindar dari tinggal kelas, tidak ada tawaran yang lebih menguntungkan dari ini!

Memang rasanya tidak realistis mencari satu orang di ibu kota yang luas ini, apalagi menjadi yang pertama menemukannya, tapi kalau dilakukan sambil belanja di kota sih tidak akan membuang waktu dan sepenuhnya menguntungkan!

Demi nilai akademik... ah, bukan-bukan. Demi membantu Wakil Kepala Sekolah dan Savant-sensei yang sedang kesulitan, aku harus berjuang! Melakukan kebaikan tanpa mengharapkan imbalan itu benar-benar mulia dan luar biasa!

Setelah mengantar kepergian Wakil Kepala Sekolah dan para pengawalnya yang pergi sambil marah-marah seperti kemarin, aku segera kembali ke asrama untuk ganti baju lalu pergi ke kota!

Saat pertama kali datang ke ibu kota, aku sempat terintimidasi oleh kerumunan orang di jalan utama, tapi sekarang aku sudah terbiasa dan bisa menikmati belanja... maksudku mencari orang!

Sejauh ini yang aku beli adalah daun teh dan beberapa barang kebutuhan sehari-hari!

Aku sempat bingung apakah harus membeli kasur dan bantal juga, tapi karena barang-barang milik Leticia sangat empuk dan hangat, barang yang dijual di toko jadi terasa kurang menarik!

Meski kurasa kurang sopan menggunakan barang pribadi milik perempuan secara terang-terangan, tapi kalaupun beli baru, nanti kalau kasur yang lama kembali malah akan jadi beban bawaan, apalagi dompetku tidak terlalu tebal...

"Parah sekali. Menghancurkan seluruh pintu masuk toko demi merampok..."

"Oi, serpihannya berserakan, anak-anak jangan mendekat!"

"Beraninya mereka melakukan ini di tempat ramai begini. Apa pelakunya belum tertangkap?"

Saat sedang mencari toko buah untuk membeli oleh-oleh untuk monster panggilanku, aku menemukan sebuah kejadian di sudut area perbelanjaan! Sepertinya sebuah toko yang menjual Magic Tool... peralatan mahal yang digerakkan oleh sihir, baru saja dirampok!

Ibu kota ini punya banyak penjaga dan sering terlihat bangsawan lewat, tapi berani sekali mereka melakukannya. Di mata orang awam sepertiku, rasanya tingkat keberhasilan dan imbalannya tidak sebanding, apa mereka begitu menginginkan alat itu sampai terburu-buru?

Yah, daripada memikirkan kejadian yang sudah lewat dan pelakunya sudah kabur, tidak ada gunanya! Bagiku sekarang, waktu untuk mencari toko buah jauh lebih berharga!

"Terima kasih atas kunjungannya—"

"Cepat, jangan buang-buang waktu!"

"Oi, minggir! Menghalangi saja!"

"Ups."

Dalam perjalanan menuju jalan sebelah, saat melewati depan toko senjata yang cukup besar, beberapa orang membawa barang besar keluar dengan tergesa-gesa! Y

ang mereka dekap erat dengan kedua tangan itu apakah Grimoire kosong? Kurasa kurang sopan memperhatikan barang bawaan orang lain secara terang-terangan, tapi karena jumlahnya banyak sekali, mataku jadi refleks melirik ke sana!

Grimoire kosong itu semacam senjata bagi Pemanggil! Karena itu adalah metode yang cukup kuno, aku pun tidak tahu detail cara pakainya, dan tentu saja tidak ada satu pun teman sekelasku yang menggunakannya, tapi aku terkejut benda seperti itu bisa laku keras begitu! Pasti harganya didiskon habis karena cuci gudang.

Setelah melihat orang-orang berpakaian hitam itu lari dengan gesit, aku memutuskan untuk masuk ke dalam toko senjata tersebut sekalian menutupkan pintunya yang dibiarkan terbuka!

Selain karena penasaran dengan kemampuan penjualan pelayan yang bisa menghabiskan stok Grimoire sebanyak itu, aku juga berpikir setelah melihat perampokan tadi, mungkin sebaiknya aku punya senjata untuk melindungi diri!

"Selamat data—ng."

Mungkin karena stoknya baru saja habis terjual, pelayan toko senjata itu menyambutku dengan suasana hati yang baik!

Alisnya yang menurun membuatnya terlihat agak mengantuk, dia adalah seorang gadis yang usianya mungkin sebaya denganku!

Di dekat pintu masuk banyak diletakkan pedang latihan, dan agak di dalam aku bisa melihat berbagai macam senjata tajam yang dipajang!

Apakah meletakkan pedang latihan di tempat yang paling mudah dijangkau itu untuk tujuan keamanan? Ataukah di ibu kota ini pedang latihan lebih banyak peminatnya daripada pedang sungguhan?

Daripada senjata sungguhan seperti itu, aku lebih terbiasa menggunakan alat tani seperti cangkul atau arit rumput, jadi kalau untuk perlindungan diri yang bisa langsung dipakai, aku lebih suka yang bentuknya mirip!

Tak disangka alat seperti itu pun bisa digunakan untuk membasmi monster kecil, seperti anjing yang punya tiga sayap dan tiga lengan itu.

"Banyak juga pelindungnya. ...Helm paling murah saja harganya segini ya."

Di sisi dinding berjejer berbagai macam pelindung, tapi harganya mahal sekali. Tidak, mungkin itu harga pasaran, tapi tetap saja bukan sesuatu yang bisa dibeli dengan santai oleh petani desa!

Aku paham pentingnya pelindung bagi seorang Pemanggil, tapi karena pekerjaanku bukan untuk bertarung, prioritasnya jadi rendah!

Kalau harus memakai pelindung, mungkin Hydra harus lebih dulu daripada aku! Dia sih tidak peduli, tapi kalau tidak menutupi bagian bahu atau perutnya sedikit lagi, anak kecil bisa kaget melihatnya!

Aku pun... sebaiknya memakai sesuatu juga...?

Ah, Happy tidak apa-apa! Memang tingkat keterbukaan pakaianmu paling tinggi, tapi kamu sudah bukan di level itu lagi, maksudku, bukan itu yang harus kamu khawatirkan...

"Hmm? Kalau tidak ada keperluan silakan pergi ya—?"

Saat aku sedang melihat-lihat label harga sambil berjalan di dalam toko, pelayan itu menegurku, mungkin karena dia mengira aku tidak berniat membeli! Mengingat mereka menjual senjata mahal, waspada terhadap orang mencurigakan itu penting! Padahal aku ini pelanggan biasa, lho!

"Aku cuma sedikit terkesima dengan koleksinya. Cangkul atau arit diletakkan di mana ya?"

"Cangkul...? Kalau arit ada beberapa. Jarang laku jadi cuma sedikit. Sini, sini."

Sembari tetap menaruh dagu di atas meja kasir, dia melambaikan tangan memanggilku. Saat aku mendekat, memang benar ada arit yang disandarkan di tempat yang tidak mencolok di samping lorong! Buatannya sangat bagus, tapi... bukankah mata pisaunya terlalu besar?

Aku mencoba mengangkatnya sedikit, tapi ternyata berat sekali! Beratnya seolah bisa memotong pohon kecil alih-alih rumput dengan mengandalkan kekuatan saja, dan rasanya sulit untuk dikendalikan!

"Ini agak berlebihan ya. ...Hmm, kalau yang ini..."

Saat aku melihat ke dalam kotak kayu di samping sabit besar itu, aku menemukan sebuah arit yang bagian logamnya patah di tengah, tercampur dengan pedang-pedang panjang yang buatannya jelas kasar! Dilihat dari mana pun ini barang cacat, tapi mata pisaunya sudah diasah dan beratnya justru terasa pas! Dan sepertinya murah!

"Ah, itu barang yang dipatahkan oleh si bodoh itu, lalu aku pasangkan mata pisau saja. Aku mencampurnya dengan produk massal supaya tidak ketahuan manajer toko, tapi karena tetap tidak laku, aku pikir mau menempanya ulang."

Dari cerita pelayan yang menghela napas sambil telungkup di meja kasir itu, terbayang perjuangan masa lalunya! Aku tidak tahu urusan toko ini dan tidak terlalu tertarik, tapi aku harap dia tetap kuat menjalani hidup!

"Tapi kalau manajer lihat aku menempa ulang itu, dia pasti ingat si bodoh itu lagi dan jadi kesal, kan? Daripada aku kena imbas kemarahannya, kalau kamu tertarik, mau membelinya tidak? Murah kok, itu."

"Hmm? Tidak ada label harganya, berapa?"

"Itu harganya... .................Sembilan ribu Yule."

Ah, benar-benar murah.

Pelayan itu mengamatiku dari ujung kepala sampai ujung kaki sebelum menawarkan harga sembilan ribu Yule! Itu adalah harga yang pas, campuran antara keinginan untuk menjual setinggi mungkin dan keinginan kuat agar barang itu tidak tersisa di toko!

Meskipun itu dua kali lebih mahal dari alat tani yang kugunakan di rumah, tapi mengingat barang ini akan lebih awet dan aku bisa pamer ke kenalan kalau ini "alat buatan ibu kota", rasanya jadi sangat menarik!

Padahal tadi aku sempat berpikir soal berhemat, tapi memang sudah sifat manusia kalau dibilang barang ini hanya bisa didapat sekarang karena akan segera ditempa ulang, jadi ingin membelinya!

Lagipula... mungkin bisa lebih murah lagi?

"Aku mau sih, tapi apa uangku cukup ya... ah, cuma ada delapan ribu Yule. Sayang sekali."

"............Kalau begitu sepuluh ribu Yule saja."

"Ternyata ada sembilan ribu Yule. Sepertinya aku salah hitung."

Matanya tajam juga ya! Sepertinya menawar harga itu mustahil! Aku tidak berniat menyusahkan pelayan ini, jadi sebaiknya aku beli saja dengan harga yang dia minta!

Karena tidak ada uang pas, aku menyerahkan uang kertas sepuluh ribu Yule. Setelah pelayan itu melemparkan uang kembalian dengan tatapan seolah melihat sesuatu yang tidak bisa dipercaya, dia membawa arit yang ujungnya patah itu ke bagian dalam toko dan memolesnya sampai berkilau!

"Nih, bagian logam sampai ujungnya sudah aku bungkus rapi. Wah, nostalgia sekali. Saat menempa ini aku harus kerja terus-menerus dan capek sekali, jadi sambil membentuknya aku terus memukulnya sambil meluapkan emosi, 'Aku tidak butuh tuhan yang tidak bisa memberiku hari libur!'. Tapi pengerjaan akhirnya tidak main-main kok, meski bentuknya begini, kurasa ini bisa membantai monster juga. Kalau sudah tumpul, bawa ke sini biar aku asah."

"Ya. Kalau begitu nanti aku minta tolong ya."

Meski tawarannya bagus, tapi aku tidak berniat berburu monster dengan ini, apalagi pemakaian sungguhannya mungkin baru saat aku pulang ke kampung halaman nanti, jadi aku mungkin tidak akan membawa arit ini ke sini lagi!

Lebih dari itu, si pelayan yang mengumpat pada berbagai macam tuhan itu bahaya sekali! Kalau didengar bangsawan jahat bisa-bisa dihukum pancung, jadi berhati-hatilah! Karena ada orang-orang yang hidup dari hal itu juga!

"Wah, terima kasih ya. Buku aneh itu juga laku, hari ini hari yang baik untuk menghabiskan stok. Nihihi."

Diantar oleh wajah bahagia si pelayan yang imut, aku pun keluar toko dengan wajah bahagia juga! Meski kantongku jadi agak tipis karena membeli alat yang mungkin tidak akan kupakai selama beberapa tahun, tapi tidak sampai membuatku tidak bisa makan besok, jadi bukan masalah mendesak kan!

"Di sini kurasa tidak apa-apa. Sini, Happy."

Hadir—

Setelah itu, sembari mencari Savant-sensei ala kadarnya, aku tiba di toko buah. Meski tidak menemukan orang yang dicari, aku berhasil membeli banyak buah yang terlihat lezat! Karena bawaanku jadi banyak ditambah arit tadi, aku memutuskan memanggil Happy di gang sepi yang jauh dari pusat kota untuk menitipkannya!

Setelah aku memanggilnya sambil bersembunyi di balik tumpukan kotak kayu, gumpalan daging yang sudah kukenal jatuh dari retakan ruang! Ini pertama kalinya aku meminta Happy menampakkan diri di tengah kota ibu kota, tapi rasanya memang tenang kalau dia ada di sampingku!

"Maaf ya, bisa titip bawa arit ini? Kurasa untuk sementara tidak akan kupakai."

Baiklah. Akan kusimpan di sini ya. ...Tapi, aku sempat ragu ingin mengatakannya atau tidak... tapi sepertinya kalau untuk arit rumput, arit yang ada di gudang rumah kita lebih mudah digunakan...

"..."

Lagi pula... mata pisau ini, bukankah dibuat dari logam yang berbeda dengan alat-alat di desa kita...? Apa kita bisa memperbaikinya sendiri...?

Ah—! Aku tidak dengar, tidak dengar!

Ini alat buatan ibu kota! Itu saja sudah membuatnya bernilai tinggi! Barang berharga yang tidak bisa didapat di pedesaan seperti desa kita! Pasti tajam dan awet, jadi tidak apa-apa!

Lihat ini! Mata pisau unik berbentuk kotak yang patah pendek ini! Benar-benar indah! Punya nilai sebagai barang seni juga! Kalau dibawa pulang dan dijual di kota sebelah, pasti bakal untung besar!

Ah. Benar juga ya...

Jangan berhenti bicara seolah-olah kamu menyadari sesuatu dong? Aku jadi kelihatan seperti orang aneh yang heboh sendiri.

Dulu Happy juga sering bermain heboh bersamaku, tapi belakangan ini dia jadi jauh lebih kalem ya! Ada kemungkinan aku yang kurang berkembang sih!

"...Ehem. Kalau begitu urusan penyimpanan kutitipkan pada Happy, dan sekalian mengurangi bawaan, ayo makan buahnya sekarang saja. ...Ah, benar juga. Bagaimana kalau Hydra kupanggil juga sekalian perkenalan? Apa di sini terlalu sempit?"

Happy, Hydra, dan aku... kalau kami saling berhimpitan, apa mungkin kami semua muat? Apa dindingnya bakal tertekan sampai hancur?

Memang tidak ada orang lewat, tapi kalau menutupi jalan kan tidak enak... aku kembali saja ya.

"Maaf ya. Bagian buah untuk Happy akan kuberikan, jadi makanlah sesukamu di sana."

Wah—! Terima kasih banyak! Aku suka sekali buah...!

Melihat Happy yang belakangan ini dicurigai sok dewasa ternyata bisa bergembira dengan polos seperti ini, aku pun ikut senang!

Aku punya kepercayaan diri kalau aku adalah orang nomor satu di dunia yang paling tahu selera Happy, tapi apakah Hydra akan suka dengan pilihanku hari ini? Ayo segera panggil!

"I-Ini, apa Tuan Heresy memilihkan ini untukku...!? Kalau begitu aku suka semuanya! Terima kasih banyak! Aku akan menikmatinya!"

Begitu kupanggil, Hydra yang merangkak keluar dari genangan air hitam langsung membungkuk tegak lurus sambil kegirangan begitu melihat buah-buah itu. Apa-apaan gaya ala anak buah preman itu?

"Aku juga memilihkan beberapa yang langka, jadi aku ingin kamu mencobanya. Sebenarnya aku ingin berkeliling toko bersama Hydra sambil belanja sambil diskusi, tapi..."

"Uu... itu... tetap tidak boleh. Aku sangat senang Tuan berkata begitu, tapi tubuhku sangat mencolok bahkan dari jauh, aku takut orang-orang akan ketakutan, atau menyerangku... itu akan merepotkan Tuan. Kalau terjadi sesuatu pada Tuan Heresy gara-gara aku, aku tidak akan bisa hidup lagi..."

"Kamu terlalu khawatir ya."

Ya, tadinya kupikir impian lamaku untuk jalan-jalan di kota bersama monster panggilan akan terwujud, makanya aku mengajak Hydra di asrama tadi, tapi dia menolaknya dengan sangat tegas!

Aku sudah mencoba menarik tentakelnya yang paling kecil pun dia tidak bergeming sedikit pun, jadi aku menyerah!

Meski menurutku akan baik-baik saja karena ada aku dan Happy seandainya hal yang dia khawatirkan terjadi, tapi kalau dia sampai membungkuk minta maaf begitu, aku tidak punya pilihan selain menghargai keinginannya!

"Nah, pokoknya ayo makan buahnya dulu. Ayo, buka mulutmu."

"Mugu...? Mugu-mugu... rasa asam yang samar ini enak sekali... aku suka."




"Hmm, hmm. Kalau yang ini?"

"Amu... tekstur renyahnya menyenangkan... aku suka."

"Begitu ya. Kalau yang satu ini?"

"Ngu... sensasi saat menelannya bulat-bulat sangat nyaman di tenggorokan... aku suka."

"Ooh, begitu."

Meskipun aku kagum dengan kesopanannya yang selalu menatap wajahku setiap kali memberikan kesan, tapi apa tidak apa-apa menelan buah yang masih ada kulit kerasnya bulat-bulat begitu?

Organ pencernaan dan kemampuan fisiknya sepertinya jauh lebih tangguh daripada manusia, bikin iri saja!

Kalau begini, sepertinya buah hitam dari hutan di kampung halaman pun bisa dia makan sekaligus dengan kulitnya.

Buah yang tampilannya paling buruk dan konon bisa bikin adiksi bagi sebagian orang, tapi kandungan gizinya tinggi dan rasanya luar biasa itu!

Aku memang membawa beberapa dari desa, tapi jumlahnya terbatas, jadi nanti kalau Happy sedang ada juga, ayo kita makan bersama-sama, ya!

Sambil memperhatikan Hydra yang terus melahap buah-buahan dan berpikir apakah aku bisa membudidayakan buah itu di ibu kota, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki dan obrolan orang-orang dari jalan utama!

"Budak dagangan kabur? Kelompok dagang bodoh mana itu?"

"Katanya dari kelompok Pardi. Kabarnya kandangnya dihancurkan dari luar."

"Jangan-jangan itu dicuri, bukan kabur."

Berdasarkan obrolan yang terdengar, sepertinya ada budak yang menghilang di suatu tempat di kota! Entah itu melarikan diri atau dicuri, yang jelas sesuatu yang buruk sedang terjadi!

Tadi aku juga melihat toko yang baru saja dirampok, mungkinkah ibu kota ini tempat yang lebih berbahaya dari yang kubayangkan? Bahkan ada bangsawan yang mencuri kasur dari rakyat jelata!

"......Anu, apakah budak itu barang berharga sampai harus dicuri? Aku juga pernah hampir diperlakukan seperti itu dulu......"

"Begitukah? Karena sekarang kita sudah terikat kontrak jadi harusnya aman, tapi kalau nanti bertemu orang seperti itu lagi, beri tahu aku ya. Aku yang akan bicara baik-baik dengan mereka."

"Baik...... aku akan mengikutimu seumur hidup......"

Kalau bicara soal budak, biasanya pilihannya antara budak kriminal atau budak perang.

Tapi Hydra bukan tipe anak yang akan melakukan kejahatan, dan aku belum pernah mendengar ada negara yang berperang dengan makhluk laut. Jadi aku tidak mengerti bagaimana kronologi dia sampai hampir dijadikan budak.

Apa mungkin di negara lain ada syarat yang berbeda?

"Budak itu adalah sebutan untuk orang yang menjadi milik orang lain. Bisa karena berbuat jahat, tertangkap saat perang, atau memang terlahir sebagai anak budak. Belakangan ini perang skala besar sudah jarang terjadi, jadi jumlahnya berkurang. Dalam artian itu, mungkin memang berharga."

"Perang......"

Meski begitu, di dekat perbatasan masih sering terjadi pertikaian kecil, jadi pasokannya masih ada sedikit. Di desa halamanku dulu juga ada budak yang masih muda...... tapi sekarang sudah tidak ada.

"Meski dibilang perang, kabarnya situasinya sudah jauh lebih tenang sejak generasi sebelum ibuku. Mungkin ini hanya sementara, tapi sampai invasi besar berikutnya dimulai, kurasa tentara dan keluarga militer sedang menganggur."

"Begitu ya. Benar juga, dalam situasi seperti itu, orang yang pekerjaannya bertarung mungkin akan merasa bosan."

"Kurasa mereka bukannya benci kedamaian, sih."

Fakta bahwa mereka berhasil meraih kedamaian meski sementara itu adalah prestasi, jadi kurasa tidak ada salahnya jika mereka beristirahat dengan tenang!

Tapi bagi bangsawan dari keluarga militer, mungkin sulit jika mereka tidak punya prestasi perang karena bisa diremehkan oleh faksi lain?

Mungkin orang-orang seperti itulah yang sebenarnya secara aktif mencoba memicu konflik! Bagi penduduk perbatasan, itu benar-benar mengganggu, jadi tolong hentikan ya!

"Omong-omong, pekerjaan bertarung itu termasuk Pemanggil juga, lho. Di Meilleur, teknik pemanggilan lebih diprioritaskan daripada sihir biasa, dan ekspektasi terhadap kita sebagai bintang yang bisa membalikkan keadaan di medan perang itu sangat besar."

"Ah, jadi Pemanggil itu pekerjaan yang seperti itu ya."

"Katanya kalau melihat cahaya pemanggilan di medan perang yang sulit, semua orang akan bersorak 'Itu cahaya kemenangan!'. Aku sering sekali diceramahi oleh nenek yang mengaku-ngaku penjaga gerbang itu, jadi aku sampai hafal cerita-cerita tentang perang."

Yah, anekdot keren seperti itu sudah jadi cerita lama. Sekarang, karena pertikaian kecil semakin banyak, Pemanggil malah sering dikerahkan untuk pembukaan lahan atau konstruksi!

Pada dasarnya Pemanggil hanya ada di sekitar ibu kota atau kota-kota besar utama, jadi bangunan yang rumit tidak bisa dibangun di pedesaan!

Di desa, aku sempat kesal karena banyak orang tua yang bicaranya panjang lebar dengan pengetahuan yang berat sebelah, tapi kalau bisa menjawab pertanyaan dari monster panggilanku seperti ini, kurasa itu bukan pengalaman yang buruk juga!

Kalau pulang nanti, aku akan menyampaikan terima kasih bersama dengan oleh-oleh!

"Kalau begitu, Heresy-san juga akan pergi ke medan perang setelah lulus nanti ya! Kalau saat itu tiba, aku akan berjuang keras untuk membunuh musuh!"

"Kamu mengatakan hal yang mengerikan dengan senyum yang manis sekali, ya."

Semangatnya memang bisa diandalkan, tapi tempat yang akan kita tuju setelah lulus nanti bukanlah medan perang, melainkan desa terpencil yang dingin di perbatasan......



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close