NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Naze Nigerun Dai? Boku no Shoukanjuu wa Kawaii yo Volume 1 Chapter 18

Chapter 18

Tekad: Jade


"Jadi... begitu rupanya..."

Lawan yang kuhadapi dan mengalahkanku hari itu. Lawan yang suatu saat harus kulampaui. Aku memang bersumpah untuk melakukan pertandingan ulang, tapi aku tidak pernah menyangka itu akan terjadi hari ini.

Merenungi diri, menempa kemampuan, dan bertarung secara jantan di tempat yang lebih layak. Harapan-harapan itu kini dikhianati dalam bentuk yang paling buruk.

Wajah yang muncul berkali-kali dalam mimpiku. Senyum yang entah mengapa terasa mengerikan.

Saat menatap manik mata hitam pekat yang tidak memantulkan apa pun itu, aku bahkan tidak tahu apakah aku benar-benar sedang berhadapan dengan orang ini atau tidak.

Menyadari segalanya, aku pun membuka mulut secara alami. Bukan untuk berbicara padanya, melainkan kata-kata untuk meyakinkan diriku sendiri.

"Aku... selama ini melarikan diri. Bahkan sampai di saat seperti ini."

"Hee, dari apa?"

"Dari kenyataan."

Aku berusaha untuk tidak memikirkannya.

Mengapa aku mengenali kegilaan yang menurut pengikut sekte sesat adalah milik Dewa Jahat?

Apakah hanya kebetulan jika pergerakan sekte sesat menjadi aktif sejak rakyat jelata ini muncul?

Apakah mimpi buruk mengerikan yang kulihat saat duel kemarin benar-benar hanya ilusi yang diciptakan oleh hatiku yang lemah?

Pada hari upacara penerimaan siswa baru, aku merasakan sesuatu yang mirip takdir setelah mendengar cerita ayahku.

Bertemu dengan musuh bebuyutan di mana kami bisa mengeluarkan seluruh kemampuan tanpa memikirkan kedudukan, berbenturan dengan segenap tenaga, dan menjadikan kekalahan sekalipun sebagai pelajaran.

Meski sempat kalah dan kehilangan semangat tempur, setelahnya aku dengan jelas menetapkan dia sebagai tujuanku.

Aku adalah seseorang yang memikul nama keluarga Grade, seseorang yang harus kuat dan mulia. Dan untuk itu, ada dinding yang harus kulampaui.

Keinginan agar musuh bebuyutanku itu bukanlah musuh kemanusiaan telah membuatku memalingkan mata dari kenyataan yang terpampang jelas.

"Yah, aku tidak terlalu mengerti, tapi di sini sudah cukup orang, jadi bukankah lebih baik kamu pergi membantu yang lain? Misalnya, membantu melawan Golem yang ada di gedung utama."

"Tidak, tidak perlu. Berhenti berpura-pura tidak melihat dengan alasan yang dibuat-buat sudah berakhir. Hari ini, aku akan menghadapimu di sini."

"Menghadapi...? Kamu? Menghadapiku?"

Cara bicaranya seolah meragukan waras-ku. Tapi aku mengerti maksudnya. Karena seseorang yang kalah telak tanpa bisa berbuat apa-apa, mencoba menantang duel ulang hanya dalam hitungan hari.

Namun, saat itu aku lengah. Aku sombong. Dan aku tidak punya tekad. Tekad untuk mengerahkan segalanya, meski harus merangkak sekalipun demi meraih kemenangan.

"Hari itu, aku kehilangan segalanya. Dengan bertemu sekte sesat, aku merasa telah bangkit kembali dengan menatap ke depan, mengganti tujuanku, dan menyempitkan pandanganku. Aku percaya bahwa aku masih punya waktu tersisa, dan jika aku menyelesaikan masalah satu per satu dengan pasti, suatu saat aku akan meraih sesuatu."

"......"

"Tapi aku salah. Setelah berhadapan seperti ini, aku sadar. Sampai sekarang pun, aku masih terpenjara di hari itu."

Meski hanya sekadar formalitas, aku merasa telah bangkit dan mulai melangkah.

Namun kenyataannya, jiwa yang terabaikan dalam masa lalu yang penuh kekalahan itu tertinggal di tempatnya, hanya bisa menunggu dengan ketakutan sampai kegelapan sirna dengan sendirinya.

Inti jiwaku yang malang dan lemah. Meski diberkati dengan bakat, lingkungan, dan segalanya, Jade Grade tetaplah seorang manusia biasa.

"Aku sudah memutuskan. Pinjamkan kekuatanmu, Silver."

Aku memejamkan mata dan mengulurkan tangan. Dari lingkaran sihir yang memancarkan cahaya, muncullah naga perak yang mengembuskan napas dalam untuk berkonsentrasi, menatap tajam musuh di depannya dengan semangat tempur yang membara.

Rekanku yang selama ini menguasai berbagai medan perang dari angkasa luas itu kini tidak membentangkan sayap untuk pamer keberadaan, melainkan hanya merendahkan posisi tubuhnya dengan tenang.

Dia juga merasakan hal yang sama; menerima kekalahan, sempat putus asa, dan bersumpah untuk bertanding ulang.

Dengan kehendakku sendiri, dengan kehendak kami bersama, kami harus menghadapi dan membuka jalan.

Jika tidak bisa menang atas musuh ini dan menghapus masa lalu, maka tidak ada yang bisa diubah. Jika tidak menghentikan sekte sesat di sini, rakyat tidak bisa dilindungi. Dunia tidak bisa diselamatkan. Janji tidak bisa ditepati.

"Aku tidak akan lari lagi. Tidak akan lengah lagi...! Aku akan menantangmu dengan segenap tenaga, dan melampauimu! Majulah, Heresy!"

Pedang terhunus. Dan sihir penguatan. Manik mata Silver, yang biasanya protes jika aku membantu kemampuannya tanpa izin, kini tetap diam sambil menatap lurus ke depan.

Meski aku melakukan persiapan tempur dengan terang-terangan di depan matanya, lawanku tetap berdiri dengan pose santai.

Melihat sikap tenangnya itu, aku merasa cemas dan hendak melakukan gertakan dengan sihir—saat itulah monster tentakel maju ke depan seolah ingin memperingatkan inisiatifku.

"Saya mengerti perasaan ingin mencoba sesuatu, merasa hancur, namun tetap ingin menggapainya. Menantang pertarungan yang nekat, sebenarnya bukan untuk mengalahkan lawan, tapi untuk meyakinkan diri sendiri... benar begitu, kan?"

Meski dia mengucapkan kata-kata manusia, wujudnya yang menggerakkan tentakel tak terhitung jumlahnya sambil mengeluarkan suara air yang becek saat berpindah benar-benar sebuah anomali.

Penampilan yang mengingatkan pada hubungan erat dengan Dewa Jahat. Struktur tubuh yang sama sekali tidak normal.

Aku tidak mengenalinya, tapi itu pastilah salah satu monster panggilan yang dikontrak oleh lawan.

"Heresy-san, serahkan bagian ini pada saya. Orang itu mirip dengan saya sebelum saya bertemu dengan Anda. Itulah yang saya rasakan."

"Begitu ya? Kalau begitu aku serahkan padamu. Sepertinya dia sedikit salah paham, jadi tolong sadarkan dia ya. Aku akan pergi duluan untuk menyampaikan hal ini."

Salah paham.

Kata-kata yang ditujukan bagi penantang yang sesumbar bisa menang jika tidak lengah dan mengerahkan seluruh tenaga.

Dari nada bicaranya yang bukan bermaksud menghina atau mengejek melainkan hanya menyatakan fakta, aku tahu bahwa musuh masih belum menganggapku sebagai ancaman.

Aku harus menang. Aku harus menunjukkan kemampuanku. Saat aku mencoba mengejar punggung musuh bebuyutanku yang berjalan pergi menuju pintu di ujung sana, pandanganku terhalang oleh tentakel yang menjulur untuk mencegahnya.

"Saya mengerti perasaan Anda. Karena saya pun dulu begitu."

Monster panggilan aneh yang tertinggal di tempat itu berbicara padaku.

Bagian yang dianggap tubuh utamanya berbentuk manusia, tapi panjang total termasuk tentakelnya sudah cukup disebut sebagai monster panggilan ukuran besar.

Karena dia ditugaskan untuk mengulur waktu, dia pasti dibekali kemampuan yang sesuai, dan sepertinya aku tidak bisa melewatinya begitu saja.

"Ragu, menderita, namun tetap mencarinya, dan mengulanginya lagi. Dalam kasus saya, itu bukanlah tindakan yang salah. Karena pada akhirnya saya diselamatkan. Karena saya telah diselamatkan oleh beliau. Tapi, pada akhirnya itu hanyalah keberuntungan semata, dan sekarang saat memikirkan masa depan alternatif di mana saya bertaruh pada kemungkinan yang sangat kecil, saya menjadi takut."

Monster panggilan musuh itu mengeluarkan tentakel dari dalam yang menyerupai pohon besar, dan tentakel dalam jumlah masif yang terus bertambah itu memenuhi lantai sambil mengangkat tinggi tubuh utama yang berbentuk manusia.

Sebuah posisi provokatif yang merendahkan sang naga penguasa langit.

"Heresy-san adalah orang yang baik, tapi beliau pasti tidak akan lunak. Mungkin saja, senior yang kita temui tadi pun tidak pandai menahan diri. Anda tidak boleh berputus asa, sebaiknya berhentilah sejenak dan tarik napas. ...Meski saya bilang begitu, tidak mudah untuk merapikan perasaan, kan? Anda pasti ingin mencoba kekuatan Anda yang sekarang, kan? Karena itu—"

Tentakel menghantam lantai. Tubuh utama yang berbentuk manusia mengangkat tangan, memanggil pusaran hitam.

"—biarlah saya menjadi dinding bagi Anda. Saya tidak tahu apakah bisa menahan semuanya, tapi saya akan berusaha agar bisa menjalankan peran saya dengan baik."

Aliran deras mengalir dari pusaran hitam, menutupi pandangan dengan air dan tentakel dalam jumlah besar.

Pemandangan itu secara ajaib terlihat seperti sebuah dinding raksasa yang kokoh.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close