NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Naze Nigerun Dai? Boku no Shoukanjuu wa Kawaii yo Volume 1 Chapter 23

Chapter 23

Apa yang Diinginkan Seseorang


"Hah, hah... setidaknya cuci otak pada bocah itu... ingin sekali aku... melepaskannya...!"

"Eh, aku dicuci otak?"

Begitukah...?

Bukan.

Halo, namaku Heresy! Entah kenapa, setelah kami diserang oleh sosok bersayap yang dipanggil oleh Savant-sensei menggunakan buku yang ada di desa, kami pun dibantu oleh kenalan atau mungkin kerabat Happy—yaitu 'Botai' dan 'Kogai'—dan entah bagaimana akhirnya berhasil melumpuhkan lawan!

Sekarang, kami semua sedang mengepung lawan yang anggota tubuhnya sudah tertanam dan tertahan di pilar daging!

Bahkan setelah bantuan datang, dia mengamuk dengan luar biasa hebat. Hanya untuk mencoba menghadapinya dengan tenang saja sudah perjuangan berat!

Dimensi kekuatannya benar-benar berbeda, ya!

Kupikir akhirnya kami bisa mulai bicara, tapi aku terkejut karena hal pertama yang dia katakan adalah soal cuci otak.

Tapi kalau dipikir-pikir, bukankah wajar kalau kepribadianku dan Happy mirip karena kami tinggal bersama?

"Botai-san dan Kogai-san kenal dengan sosok bersayap ini... kan? Hubungan kalian apa?"

Prajurit dari gerombolan yang selalu mencari masalah. Mereka muncul entah sejak kapan, dan mencoba merebut tempat kami sesuka hati. Karena kami saling tidak cocok, sulit untuk menahan diri, jadi ini merepotkan.

Apa kami melakukan sesuatu yang mengganggu mereka, ya? Mereka selalu marah-marah tidak jelas padahal kami cuma sedang jalan-jalan santai di luar, lucu sekali, kan?

"Wah, itu sulit juga ya."

Yang berbicara dengan nada datar itu Botai-san, dan yang nadanya terdengar santai itu Kogai-san!

Kalau merangkum penjelasan mereka, rasanya seperti preman desa yang sedang mencari-cari masalah, ya? Ternyata tipe seperti itu ada di dunia mana pun!

"Heh, membunuhku? Tidak usah banyak bicara, cepat lakukan saja...! Hei bocah, lihat baik-baik. Lihat apa yang akan mereka lakukan sekarang, dan akan jadi apa aku nanti...!"

"Lho... mungkinkah kata-kata Botai-san dan yang lain tidak tersampaikan dengan benar kepada sosok bersayap ini?"

Begitulah. Karena tidak bisa berkomunikasi, situasinya jadi buntu.

Prasangka buruknya yang berlebihan itu juga merepotkan.

"Eeeh...?"

Kalau sama sekali tidak bisa bicara sih masih mending, tapi kalau tersampaikannya sebagai konten yang berbeda jauh begini, tamatlah sudah! Maaf saja, tapi aku jadi ingin sedikit tertawa!

Mungkin kalau aku menengahi dan bicara dengan sabar, aku bisa menjadi penerjemahnya, tapi karena sekarang tidak ada waktu, mungkin lain kali saja!

Entah kenapa seluruh menara ini berderit, dan aku sangat khawatir karena mendengar suara air yang deras dari bawah! Jangan-jangan lantai bawah tanah sudah kebanjiran?

Musuh? Kalau begitu kami juga akan membantu.

"Tidak, teman-temanku ada di bawah. Setelah ini selesai, aku akan pergi melihat keadaan. Botai-san, biasanya apa yang kalian lakukan setelah melumpuhkan lawan yang menyerang seperti ini?"

Untuk sementara akan kami bawa pulang ke tempat kami, lalu dikembalikan setelah mereka melemah. Kalau mereka langsung menyerang lagi, itu merepotkan.

Padahal kami sudah sangat perhatian, tapi pihak sana tetap tidak peduli, itu menjengkelkan ya. Yah, mereka toh bakal bertambah lagi jadi tidak masalah sih, tapi bisakah mereka memberi sedikit respek pada sesama penghuni dimensi yang sama?

Ah, aku mengerti itu. Dulu aku juga kesulitan karena orang-orang bangsawan tidak mau mendengarkan perkataanku.

Tapi sekarang setelah aku mulai terbiasa dengan kelas, situasinya berubah total... tidak, mungkin tidak terlalu berubah.

Bahkan Leticia yang paling sering bicara denganku pun mungkin cuma mendengarkan setengah dari perkataanku.

"...Kalau begitu, maaf kalau mendadak, tapi bolehkah kalian membawa sosok bersayap ini pulang ke tempat asal kalian? Aku merasa tidak enak membiarkannya menunggu dalam posisi seperti ini."

Tentu saja boleh. Tapi, mungkin sebaiknya jangan lakukan itu dalam kondisi sekarang?

Prajurit itu keberadaannya terikat dengan dunia ini. Penyebabnya adalah buku yang ada di punggungnya.

"Buku? Ah, itu ya."

Saat aku mengikuti arah yang ditunjuk oleh Botai-san dengan menjulurkan pipa dagingnya, aku menemukan buku yang dibawa Savant-sensei tadi menempel di punggung sosok bersayap itu!

Padahal saat bertarung tadi bukunya tergeletak di atas lingkaran sihir, tapi sekarang malah ada di punggung monster panggilan. Apa itu semacam benda terkutuk?

Mungkin rasanya seperti monster panggilannya sudah kalah jadi ingin dipulangkan, tapi karena ini monster yang berbeda dari yang dibayangkan, jadi tidak bisa dikembalikan?

Bukankah ini situasi buntu? Benda terkutuk ya?

Mungkin saja, tapi kalau peringkat wanita itu diturunkan, atau diputuskan hubungannya dari Dewa Utama, mungkin bukunya bisa dilepas.

Kalau sedang buru-buru, kami bisa saja mewarnai dan menghancurkannya untuk merenggut paksa buku itu, tapi lingkungan di sekitar sini mungkin akan ikut berubah. Apa tidak apa-apa?

"Sepertinya akan apa-apa (bermasalah)."

Ya, aku sangat berterima kasih atas tawarannya, tapi untuk saat ini aku tolak dulu! Sebenarnya aku tidak ingin mengakuinya, tapi buku itu sepertinya berasal dari kampung halamanku, jadi aku ingin memikirkan apakah ada yang bisa kulakukan di sini dulu!

Saat aku berkeliling ke sisi pilar daging dan mengamati situasi yang menyedihkan ini, aku bisa melihat buku yang terbuka itu terjepit di antara pilar daging dan si sosok bersayap, terlihat seperti bantal penyangga agar dia tidak bungkuk!

Buku itu menutupi pangkal sayapnya, memberikan kesan seperti item fashion!

"Hmm, bagaimana ya caranya agar bisa membebaskannya."

"Bocah... meski tubuhmu jadi begitu, kau tetap berusaha menolongku... anak yang baik. Tapi jangan khawatir. Aku ini abadi... yah, mungkin tidak begitu juga sih, tapi aku tidak akan memperlihatkan cara mati yang memalukan. Dengar bocah, mungkin kau belum bisa melihatnya, tapi dunia ini memiliki warna yang cerah. Ada niat baik dari orang-orang yang mengharapkan kebahagiaan. Selama manusia membutuhkan Tuhan, perasaan itu akan mendukungku. Aku akan tetap menjadi diriku sendiri."

"? Ah, iya."

Menarik juga ya melihat percakapan ini berlangsung dalam keadaan yang tidak nyambung begini! Entah kenapa ekspresi wajahnya jadi penuh dengan aura keibuan!

"Selama manusia membutuhkan Tuhan, ya. ...Ah, benar juga. Aku punya barang yang pas. Happy, bisa keluarkan itu? Yang kita beli di kota tempo hari."

Eh... barang yang kita beli karena ditipu itu...?

"He? Tidak, tidak, itu belanjaan yang bagus kok! Harganya sangat miring!"

Ah... be-begitu ya...

"Bisa berhenti menelan kata-kata dengan suasana seolah ingin memprotes sesuatu?"

Ya, yang dikeluarkan Happy dari ruang penyimpanan dengan tatapan seolah melihat sesuatu yang patut dikasihani adalah sabit pemotong rumput yang kubeli dengan harga sangat murah dari toko senjata di kota!

Sebuah produk unik dengan bilah patah yang berbentuk persegi panjang tanggung!

Aku menerimanya dari Happy dan mencoba mengayunkannya. Seperti dugaanku, gerakannya luwes dan mudah digunakan!

Mungkin sebagai sabit pemotong rumput ini agak sulit dipakai karena jumlah rumput yang bisa dipotong sekaligus itu sedikit, tapi karena aku membelinya dengan tujuan untuk perlindungan diri, aku sama sekali tidak ditipu kok!

"Ini, katanya penjaga toko senjata itu menempa ini sambil menyangkal keberadaan Tuhan, jadi ayo kita coba. Sepertinya ada dendam yang cukup mendalam yang tertanam di dalamnya. Katanya dia kerja lembur terus-menerus sih."

"...Begini ya, bocah. Aku senang kau memikirkanku. Tapi, di dunia di mana kepercayaan pada Tuhan begitu kuat ini, mana mungkin ada manusia yang menyangkal-Nya...!? Ada...?"

"Ada lho. Aku juga terkejut."

Sosok bersayap itu menatap tajam ke arah sabit pemotong rumput, dan dia tampak bingung karena bisa merasakan perasaan mendalam dari si pembuatnya!

Aku juga dulu begitu, jadi aku paham perasaannya!

Pelayan toko senjata itu sepertinya punya kemampuan yang bagus dan teknik penjualannya juga meyakinkan, tapi karena pemikirannya terlalu ekstrem dan ucapannya sembrono, aku khawatir dia akan dilenyapkan oleh orang-orang gereja!

Jika menyangkal akar dari pemberkatan, mungkin bisa menjadikannya sosok yang bukan siapa-siapa. Karena dia sudah menjauh cukup jauh, mungkin kutukan selevel itu bisa menyangkalnya.

Peralatan yang dibuat di dunia ini memang yang terbaik ya. Memang campur tangan yang alami itu yang nomor satu!

"Aku kurang mengerti, tapi syukurlah kalau ini layak dicoba. Kalau begitu, ini. Happy."

Eh... saya yang melakukannya...?

"Habisnya, aku tidak sampai, lalu Botai-san dan Kogai-san tidak punya tangan, kan? Happy kan sering memotong rumput di kampung halaman, jadi kamu orang yang paling tepat."

Soal memotong rumput itu kan karena cara Heresy-san memegang sabit sangat berbahaya, makanya saya yang dipaksa melakukannya...?

"..."

Waktu Heresy-san masih kecil, gara-gara kamu main ayun-ayun sabit sembarangan, Ibu jadi menyuruh saya yang mengerjakannya, kan...?

"..."

Setelah membuatku bungkam dengan argumen yang benar, Happy mengaduk tubuh dagingnya yang lunak untuk membuat bagian yang penuh dengan lengan, lalu menggunakan tangan-tangan itu untuk menerima sabit dariku!

Aku agak khawatir melihat sosok bersayap itu memasang ekspresi hampa seolah sudah siap mati saat melihat Happy mulai memanjat pilar daging.

Tapi karena dalam kondisi sekarang pembicaraan kami tidak akan nyambung, ayo abaikan saja dan lanjut bekerja!

Selain khawatir soal lantai bawah, aku juga harus membersihkan lingkaran sihir besar itu sebelum ketahuan seseorang, kalau tidak bisa gawat!

"Kau mau memenggal leherku dengan senjata itu, ya. Hah, lakukan saja. Aku tidak akan memohon ampun. Aku tidak akan mengotori saat-saat terakhirku. Sayang sekali kau tidak bisa melihat wajahku yang mengenaskan."

"Happy, semangat ya. Pelan-pelan saja, selipkan bilahnya di antara celah buku dan punggungnya... tidak, sebenarnya aku ingin kamu cepat-cepat sih..."

Baik. Mengikuti lekukan... dengan hati-hati...

"Hei, apa yang kau lakukan di belakang... hei! Sayapku teriris! Apa yang kau lakukan!?"

Eh... yang sebelah sini ya...?

"Jangan melakukan hal-hal kecil di belakangku! Kalau mau bunuh, cepat sekalian... eh, hei, jangan potong bajuku! Bocah itu melihatnya, tahu! Sudah, cepat bunuh... kubilang bajuku robek! Jangan mempermainkanku! Malaikat juga punya harga diri... aaah—!?"



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close