NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Nido Tensei shita Shounen wa S-Rank Boukensha Toshite Heion ni Sugosu ~Zense ga Kenja de Eiyuu Datta Boku wa Raise dewa Jimi ni Ikiru~ Volume 8 Chapter 22

Chapter 159

Ucapan “Selamat Datang Kembali”


Raja

"A-Apakah itu benar...?"

Aku menatap pemandangan di depanku dengan perasaan tidak percaya. Sebab, di sana berdiri sosok putriku dan para pengabdiku yang sebelumnya kulepaskan dengan perasaan seolah menyayat hati sendiri.

"Benar, Ayahanda. Saat kami tiba, Tanah Korosi telah musnah."

Mendengar kata-kata putriku, Megurielna, para pengabdi yang menyertainya mengangguk.

Mereka adalah abdi setia yang telah melayaniku selama bertahun-tahun. Mereka bukanlah orang-orang yang akan mengucapkan dusta, apa pun yang terjadi.

"Namun, bagaimana keajaiban semacam itu bisa terjadi?"

Peristiwa itu benar-benar tidak bisa disebut selain keajaiban. Aku sama sekali tidak menyangka kejadian yang begitu menguntungkan ini bisa benar-benar terjadi.

"Penduduk desa setempat mengatakan bahwa itu berkat sang Dewi."

"Dewi?"

"Benar. Katanya, saat sang Dewi memanjatkan doa, cahaya menyelimuti sekeliling, dan sesaat kemudian Tanah Korosi kembali menjadi tanah seperti semula."

Mustahil, seorang dewi?

 Bukannya aku menyangkal keberadaan para dewa, namun setidaknya keberadaan dewa di dunia fana hanyalah terjadi pada zaman mitologi.

Dikatakan bahwa setelah perang panjang melawan Dewa Jahat berakhir, para dewa memindahkan tempat tinggal mereka ke langit.

Sejak saat itu, tidak ada lagi kisah yang menyebutkan para dewa menampakkan wujudnya di dunia ini.

Namun, jika perkataan Megurielna adalah fakta, memang benar itu hanya bisa dianggap sebagai mukjizat dewa...

"Faktanya, kami pun melihat cahaya terang seperti matahari bersinar dari bagian terdalam Tanah Korosi. Dan saat kami tiba di lokasi yang seharusnya menjadi tempat Kuil Penyegelan, kuil itu telah runtuh bersama dengan bukit kecil tempatnya berdiri."

"Runtuh, katamu!? Lalu bagaimana dengan segelnya!?"

Jika segelnya hancur, Binatang Buas Kuno yang tersegel akan bangkit! Jika hal itu terjadi, dunia akan hancur!

"Mengenai hal itu, biarkan saya yang menjelaskan."

Menggantikan Megurielna, seorang pendeta muda yang diutus dari kuil maju ke depan.

Kalau tidak salah, pemuda ini adalah cucu dari Pendeta Agung. Wajahnya begitu tenang, sulit dipercaya bahwa dia adalah kerabat dari kakek tua licik itu.

"Segel tersebut telah dihancurkan oleh seseorang."

"Apa!?"

Dihancurkan!? Di tanah terkutuk yang dipenuhi serangga beracun itu!?

"Ka-Kalau begitu, apakah itu berarti Binatang Buas itu telah terbebas?"

"Tidak. Meskipun segelnya hancur, seperti yang dikatakan Putri Megurielna, tanah yang tadinya merupakan Tanah Korosi telah kembali ke bentuk aslinya. Tidak ada tanda-tanda kebangkitan entitas jahat yang dikatakan menyebarkan racun mematikan iblis tersebut."

"Bagaimana mungkin...!?"

Sulit dipercaya... Maksudmu, meskipun segelnya lepas, Binatang Buas itu tidak bangkit?

"Baginda, mengenai Tanah Korosi, sebaiknya kita melakukan penyelidikan ulang."

"U-Umu. Karena masalah ini sangat krusial, kita juga perlu berdiskusi dengan negara-negara lain yang berbatasan dengan Tanah Korosi."

Russell menyela di waktu yang tepat. Ini adalah hasil dari hubungan kerja sama kami selama bertahun-tahun. Berkat dia, aku teringat hal yang paling penting.

"Gawat. Aku hampir melupakan hal terpenting karena terlalu terkejut."

"Baginda?"

Aku berdiri dan melangkah menuju Megurielna. Kemudian, aku memeluk Megurielna yang tampak bingung dengan sangat lembut.

"Syukurlah kau kembali dengan selamat. Bagiku, itu lebih membahagiakan dari apa pun."

"Ba... ginda."

Aduh, apakah aku membuatnya merasa tidak nyaman?

Tapi, biarlah untuk hari ini, hanya untuk saat ini saja. Untuk saat ini saja, bukan sebagai raja melainkan sebagai seorang ayah, aku ingin mensyukuri keselamatan putriku.

"Te-Terima kasih... banyak."

Dan di dalam pelukanku, Megurielna menggumamkan kata-kata itu dengan suara kecil dan malu-malu.

Aku sama sekali tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi hingga berakhir seperti ini.

Meskipun ini adalah kejadian yang sangat menguntungkan bagi negara kami, selama niat sebenarnya dari pihak lain belum diketahui, aku tidak bisa merasa tenang sepenuhnya.

Namun meskipun begitu, aku tidak bisa menahan diri untuk tidak bersyukur atas hasil yang telah dilakukan oleh Dewi yang tak dikenal tersebut.

Beberapa waktu setelah pembebasan Tanah Korosi, pada suatu hari, kami dipanggil oleh Kepala Serikat dan mendatangi bar Serikat Petualang.

"Ah, kami sudah menunggu Anda, Rex-san!"

Begitu kami memasuki serikat, staf resepsionis segera menghampiri kami.

"Ada apa ini? Apa si Giant Killer berbuat ulah lagi?"

"Oi, oi, apa lagi yang kau lakukan kali ini?"

Melihat pemandangan itu, para petualang lain berseru menggoda kami.

"Aku tidak melakukan hal besar kok. Lagipula kami dipanggil mendadak, jadi kami sendiri juga tidak tahu ada apa."

"Sudah, sudah, tidak apa-apa. Silakan ikut ke ruangan dalam."

Resepsionis itu mendorong punggungku dan menuntun kami ke bagian dalam serikat.

"Tunggu, apa kami juga boleh ikut masuk?" tanya Jairo kepada resepsionis dengan perasaan tidak enak.

"Iya, karena kali ini berhubungan dengan kalian semua."

"Kami semua?"

Liliera-san dan yang lainnya juga memiringkan kepala, penasaran dengan topik pembicaraannya.

"Kepala Serikat, saya membawa Rex-san dan teman-temannya."

"Ooh, masuklah!"

Setelah terdengar izin dari Kepala Serikat di balik pintu, resepsionis membuka pintunya.

"Silakan semuanya."

"Permisi."

Saat kami masuk ke ruangan, Kepala Serikat yang sedang membaca dokumen mendongakkan wajahnya.

"Ooh, sudah lama ya. Nah, duduklah."

Saat kami duduk di sofa sesuai arahannya, rasanya sangat sempit. Meskipun tanpa Meguri-san dan Norb-san, duduk berempat di sofa saja sudah terasa sesak.

Untunglah hari ini Idola-sama tidak datang menyamar menggunakan golem.

"Sepertinya kurang satu orang ya."

Kalau untuk anggota biasanya, seharusnya kurang dua orang. Apa yang dimaksud Kepala Serikat adalah Idola-sama?

"Orang itu aslinya bukan rekan kami, dia petualang solo."

"Begitu ya, ya sudahlah tidak apa-apa. Karena orang yang paling ingin kudengar ceritanya adalah kau, Giant Killer."

"Aku?"

"Iya. Sebenarnya, beberapa waktu yang lalu, salah satu wilayah berbahaya yaitu Tanah Korosi telah musnah. Apakah kau tahu sesuatu?"

Kepala Serikat bertanya padaku seolah sedang menyelidiki. Begitu ya, ternyata panggilan kali ini adalah soal Tanah Korosi. Tapi, tidak ada bukti apa pun bahwa kami terlibat dalam masalah itu.

Jadi, kalau aku berpura-pura tidak tahu, seharusnya aku bisa mengelabuhinya. Kalau aku bertindak terlalu mencolok, semuanya akan sia-sia. Aku kan ingin hidup dengan tenang tanpa menarik perhatian.

"Tidak, aku tidak tahu apa-apa."

Namun, Kepala Serikat mengerutkan alisnya dengan curiga.

"Hou, benarkah? Aku punya informasi bahwa kalian terlihat terbang ke arah Tanah Korosi, lho."

"Bukankah itu cuma kebetulan saja searah? Kami hanya sedang memburu monster di sekitar sana kok."

"Begitu ya. Jadi secara kebetulan kalian membasmi monster beracun berbahaya dalam jumlah besar di sekitarnya, lalu kebetulan pergi ke Serikat Petualang di kota dekat Tanah Korosi untuk menjual hasil buruannya?"

"..."

“““...”””

Ruangan itu seketika menjadi hening mendengar kata-kata Kepala Serikat.

"Hmm, kebetulan yang luar biasa ya."

"Hahaha, benar juga... kebetulan apanya! Kalau cuma satu atau dua ekor sih mungkin saja, tapi tidak mungkin serikat bisa tertipu kalau kau membawa puluhan ekor begitu!"

Aduh, gawat. Karena malas membedah bangkainya sendiri, keputusanku membawanya ke serikat malah jadi bumerang.

"Informasi itu masuk tepat saat aku akan menyelidiki kasus Tanah Korosi atas perintah atasan. Kau tahu, keterkejutanku sudah bukan di level kaget lagi."

"Ahahahaha."

Baiklah, mari tertawa untuk mengalihkan pembicaraan.

"Ya sudahlah. Aku memanggilmu bukan untuk memarahi kalian kok. Aku hanya ingin tahu apakah kalian memang terlibat atau tidak."

"Aduh, kami benar-benar hanya memburu monster kok."

"Jadi kau mau aku menganggapnya begitu, ya?"

Kepala Serikat menghela napas panjang yang dibuat-buat.

"Baiklah, baiklah. Aku akan menganggap masalah ini diselesaikan oleh peringkat S antah berantah, dan aku akan merahasiakan siapa pelakunya."

Ooh, seperti yang diharapkan dari Kepala Serikat, dia memang pengertian.

"Astaga, inilah repotnya peringkat S. Lagipula kalian pasti menyelesaikan masalah dengan cara yang tidak bisa diberitahukan pada orang lain, kan?"

"Entahlah, apa maksud Anda ya?"

Melihat nada bicara Kepala Serikat, sepertinya petualang peringkat S lainnya juga punya banyak kartu as rahasia.

"Hei Kepala Serikat, apakah peringkat S memang punya banyak hal yang harus dirahasiakan?" tanya Jairo yang penasaran.

"Hm? Oh, mereka itu kan bagaimanapun juga peringkat S. Tentu saja mereka punya banyak kartu as yang tidak bisa diberitahukan pada orang lain. Misalnya, lokasi reruntuhan kuno yang belum ditemukan dan dipenuhi magic item yang hanya diketahui oleh mereka sendiri."

"Ooh!"

"Atau mewarisi rahasia lost magic atau cara pembuatan ramuan yang diturunkan turun-temurun dari nenek moyang mereka."

"Heh~."

Mendengar kata-kata Kepala Serikat, Jairo dan Mina tampak sangat tertarik.

"Bagi petualang, teknik dan informasi yang menonjol adalah sumber penghidupan. Tentu saja ada informasi yang tidak ingin mereka beritahukan bahkan kepada pihak Serikat sekalipun."

"""..."""

Lalu, semua orang mengalihkan pandangan ke arahku.

"""Pantas saja."""

"Eh? Kenapa kalian semua melihatku? Aku ini petualang biasa, beda dengan Rodi-san dan yang lainnya tahu?"

Sungguh tidak sopan menyamakan aku yang hanya beruntung bisa jadi peringkat S dengan petualang peringkat S asli.

"Ah benar juga, orang-orang yang bisa mencapai puncak itu biasanya memang tidak sadar dengan keanehan mereka sendiri."

"""Setuju."""

"Kenapa kalian malah setuju di situ!?"

Lagipula, Kepala Serikat jangan bicara yang tidak-tidak dong!

"Bagaimanapun, bagi Serikat, selama hal itu sudah terkonfirmasi maka tidak masalah. Selama kami tahu 'siapa' yang menyelesaikan masalahnya."

"Ternyata cukup santai juga ya."

"Meskipun tidak diakui secara terang-terangan, negara juga mengandalkan kekuatan peringkat S. Daripada memberikan gangguan yang tidak perlu dan membuat petualang peringkat S berpaling, pihak negara tidak akan ikut campur lebih jauh lagi."

Begitu ya, aku pernah mendengar hal serupa di zamanku dulu. Saat negara tidak bisa menggunakan kekuatan militer resmi seperti ksatria, mereka akan meminta bantuan pihak luar yang memiliki kekuatan seperti petualang.

"Tapi kalau begitu, kalian tidak akan mendapatkan hadiah karena membebaskan Tanah Korosi, lho."

"Eh? Serius? Tunggu, memangnya ada hadiahnya?"

Ah, ini pertama kalinya aku mendengarnya. Ternyata ada hadiahnya ya.

"Tentu saja. Masalah Tanah Korosi bukan hanya masalah negara ini, tapi juga negara-negara tetangga. Lahan yang mereka kembangkan menjadi tidak bisa dihuni karena racun. Tentu saja mereka rela mengeluarkan uang demi menyelesaikan masalah itu."

"Kalau begitu, hadiahnya pasti dalam jumlah yang lumayan besar ya," kata Mina sambil menatapku.

"Benar. Jika mengumpulkan semua hadiah dari berbagai negara, 10.000 koin emas sudah pasti ada di tangan."

"""10.000 koin emas!?"""

Liliera-san dan yang lainnya membelalakkan mata mendengar ucapan Kepala Serikat.

"... Awalnya kupikir begitu, tapi entah kenapa rasanya jumlah itu tidak terlalu luar biasa ya."

"Ah, aku juga berpikir begitu. Rasanya kalau kita berusaha, kita bisa menghasilkannya sendiri."

"Kalau terus berada di dekat Rex, rasa sensasi keuangan kita soal hadiah jadi kacau ya."

"Benar juga. Kalau kita memburu naga dengan santai saja, 1.000 koin emas bisa didapat dengan mudah."

"Oi kalian, akal sehat kalian itu sudah jelas-jelas aneh tahu," potong Kepala Serikat dengan suara lelah mendengar percakapan mereka.

"Yah, sudahlah. Giant Killer, kau tidak apa-apa dengan keputusan ini? Jika kau maju dan mengakuinya, kau bahkan bisa menjadi bangsawan di negara mana pun yang kau suka, lho."

"Ah, soal itu tidak perlu. Aku lebih suka hidup tenang dan tidak mencolok."

"... Begitu ya."

Mendengar jawabanku, Kepala Serikat terdiam seolah pembicaraan sudah berakhir. Bangsawan adalah hal yang paling tidak ingin kujalani.

"Kalau begitu kami permisi dulu."

"Ooh."

Setelah pembicaraan selesai, kami pun keluar dari serikat.

"Nah, sekarang apa yang harus kita lakukan ya. Karena Norb dan yang lain tidak ada, kita harus menambah rekan kalau mau mengambil pesanan."

"Benar, rasanya berbahaya kalau tidak ada pencuri dan pendeta."

"Lain ceritanya kalau kita bisa melakukan semuanya sendirian seperti Kakak."

"Tidak juga kok. Meskipun bisa melakukan banyak hal sendirian, keberadaan rekan tetap penting. Karena kemampuan satu orang itu ada batasnya."

Benar. Meskipun aku bisa menggunakan pedang, sihir, dan sihir pemulihan sendirian, mustahil untuk melakukan semuanya secara bersamaan.

Aku benar-benar merasakannya saat bertarung melawan Venom Beet. Berkat Liliera-san yang menahan serangan Majin, aku bisa memasang penghalang tepat waktu.

"Liliera-san, terima kasih banyak atas bantuanmu tadi."

"Eh? A-Apa, mendadak sekali!? Yah... bukannya aku merasa tidak senang sih."

"Ada apa? Apa terjadi sesuatu pada Kak Liliera?"

"Iya, aku dibantu oleh Liliera-san saat situasi berbahaya."

"Hee, hebat juga Kak Liliera!"

"Ti-Tidak sehebat itu kok."

"Tapi Rex sampai berterima kasih begitu, kan? Aku jadi penasaran. Sepertinya ada kejadian lain selain mengalahkan Majin ya?"

"Iya, iya, aku juga penasaran."

"Benar. Saya juga penasaran."

"Tuh kan, Meguri dan Norb juga penasaran."

"Ka-Kan kubilang tidak sehebat itu... eh?"

Kami menoleh ke arah suara yang tiba-tiba terdengar itu. Di sana berdirilah Meguri-san dan Norb-san.

""""Meguri!? dan Norb-san!?"""

"Ah, ternyata aku hanya tambahan ya," kata Norb-san dengan wajah sedih, tapi aku tidak menganggapmu tambahan kok!

"Kalian, bagaimana dengan pekerjaan kalian?"

"Iya, urusan di sana sudah beres. Tugas pengawalan Idola-sama juga sudah tidak diperlukan lagi kecuali saat darurat, berkat golem pengganti yang dibuat Rex."

"Syukurlah kalau begitu."

"Tapi gara-gara itu, aku habis diserbu pertanyaan oleh Baginda Raja dan Ibu soal dari mana aku mendapatkan benda itu..." kata Meguri-san dengan wajah yang sangat lelah.

Golem yang dimaksud Meguri-san adalah golem kedua yang kubuat setelah kembali dari Tanah Korosi.

"Tunggu, bukankah kalau memberitahu soal golem itu, fungsinya sebagai pengganti jadi ketahuan?"

"Idola-sama yang memberitahu Baginda dan Ibu. Beliau bilang karena sudah ada benda ini, aku tidak perlu lagi menjadi bayangan yang berbahaya. Yah, lagipula kita memang butuh tempat untuk menyembunyikan benda itu saat tidak digunakan. Karena itu, perlu bagi Baginda dan Ibu, yang merupakan atasanku sebagai bayangan, untuk mengetahuinya."

Ah, benar juga. Kalau dipikir-pikir, aku tidak memikirkan tempat penyimpanannya ya. Seharusnya kuberikan bersama dengan kantong sihir sebagai paket.

"Tapi aku benar-benar ingin dia berhenti bilang kalau membelinya lewat koneksiku. Walaupun aku bersyukur dia tidak terus terang bilang kalau membelinya dari Rex."

Ah, ternyata dia merahasiakan soal aku dengan benar ya.

"Lalu kau bilang apa agar mereka percaya?"

"Aku menjelaskan kalau aku membeli magic item yang ditemukan petualang dari reruntuhan. Karena itu bukan senjata atau pelindung, petualang itu kesulitan menjualnya dengan cepat, jadi aku bernegosiasi untuk membelinya dengan murah. Kenyataannya, bangsawan mana pun pasti berpikir itu sangat berguna untuk pencegahan pembunuhan."

"Masuk akal juga. Aku dengar memang banyak magic item dari reruntuhan yang tidak terpikirkan kegunaannya, jadi sering dibeli dengan harga murah. Tapi bagaimana kau menjelaskan soal kemiripannya dengan Idola-sama?"

"Aku bilang kalau Idola-sama menyentuhnya, benda itu akan berubah wujud menjadi persis seperti Idola-sama, dan entah bagaimana mereka percaya."

Meguri-san pasti sudah berjuang keras untuk meyakinkan mereka ya.

"Omong-omong, meskipun dibilang disembunyikan, di mana kau menaruh golem sebesar itu? Di dalam lemari?" tanya Jairo.

"Kalau ditaruh di sana, pelayan yang mau menaruh baju ganti bisa pingsan," Meguri-san menghela napas kecil menjawab pertanyaan Jairo. Eh, apa kami boleh mendengar rahasia ini?

"Kamar Idola-sama dan kamarku sebagai bayangan bersebelahan, jadi diputuskan untuk menyembunyikannya di kamarku. Para pelayan dilarang masuk ke sana."

Begitu ya, menyimpan golem bayangan di dalam kamar bayangan. Bisa dibilang itu tempat persembunyian yang tepat.

"Dan ini dari Idola-sama."

Mengatakan itu, Meguri-san mengeluarkan sebuah kantong kulit dari kantong sihir dan meletakkannya di atas meja.

"Ini apa?"

"Hadiah untuk golem. Pertama, 5.000 koin emas."

Saat dibuka, sejumlah besar koin emas terlihat di dalamnya.

"""""Ooooohh!"""""

"Selanjutnya, bongkahan... permata."

Dug! Bongkahan besar permata biru, permata hijau, dan permata merah diletakkan di meja.

""Hieee!?""

Liliera-san dan Mina memekik pelan melihatnya.

"Be-Besar... bukankah ini terlalu besar!?"

"Aku belum pernah melihat bongkahan sebesar ini!? Sebenarnya berapa nilainya!?"

"Ini adalah batu permata mentah yang ditambang dari tambang milik negara. Ini adalah barang yang dipersembahkan kepada keluarga kerajaan sebagai pemilik tambang, dan nilainya tidak terukur. Hanya saja karena terlalu besar, nilainya terlalu tinggi dan sulit digunakan. Jika dipecah menjadi ukuran yang mudah dipakai, nilainya akan turun, jadi mereka agak kesulitan mencari kegunaannya."

"Lalu kenapa kau membawa barang seperti itu ke sini?"

"Karena nilai golem buatan Rex setara dengan pusaka negara, maka barang yang diberikan haruslah setara dengan pusaka negara agar seimbang. Jika dibayar dengan uang tunai, negara kami tidak akan sanggup membayarnya."

Eh? Padahal itu bukan golem yang berperforma sangat tinggi lho.

"Selain itu, meskipun kami tidak tahu kegunaannya, mungkin Rex bisa menemukan kegunaan yang bagus sebagai bahan magic item atau semacamnya."

Ah, benar juga. Bongkahan permata besar memang sangat berguna sebagai bahan magic item. Dalam artian itu, nilainya lebih tinggi daripada sekadar digunakan sebagai perhiasan.

"Aku mengerti. Kalau begitu, aku akan menggunakannya sebagai bahan magic item tanpa ragu!"

""Serius!?""

"Lalu ada juga mithril dari tambang negara dan bahan monster langka yang dipersembahkan bangsawan kepada keluarga kerajaan."

Meguri-san meletakkan lebih banyak bahan lagi di atas meja.

"Bukankah ini terlalu banyak? Nilainya benar-benar tidak sampai sejauh ini lho."

"... Ini bukan hanya hadiah dari Idola-sama, tapi juga hadiah dari keluarga kerajaan."

"Dari keluarga kerajaan?"

"Iya. Magic item yang bisa menjamin keselamatan anggota keluarga kerajaan bukan hanya memiliki nilai materiil, tapi juga bermanfaat bagi kelangsungan keluarga kerajaan. Jika diberikan barang seperti itu, merupakan etika bangsawan kelas atas untuk memberikan imbalan melebihi nilai aslinya. Jika tidak, keluarga kerajaan akan diremehkan karena dianggap pelit. Singkatnya... ini soal gengsi!"

"""""Gengsi."""""

Ah, aku bisa memahaminya. Kalau diingat-ingat, di kehidupanku yang dulu pun terkadang hadiahnya terasa sangat mewah. Ternyata ada alasan seperti itu ya.

"Baiklah. Kalau begitu aku akan menerimanya dengan senang hati."

Aku pun menerima tumpukan hadiah itu dari Meguri-san.

"Omong-omong, urusan Norb sudah selesai?"

"Iya, urusan saya juga sudah beres. Mungkin masih ada beberapa hari saya harus dipanggil ke Gereja, tapi saya akan segera bisa bergabung dalam petualangan seperti biasanya."

"Ayo! Kalau begitu kita bisa berpetualang bersama lagi!"

Jairo kembali bersemangat setelah mengetahui Meguri-san dan Norb-san bisa berpetualang lagi.

"Yah, memang benar sih, rasanya repot kalau tidak ada formasi ini. Petualang biasa kan tidak bisa terbang di langit dengan sihir."

"Benar! Rasanya tidak pas kalau bukan kita berempat!"

"Ara, benarkah? Padahal kalau cuma kami berdua, kami mungkin bisa masuk ke party Rex, lho?" goda Mina.

"Eh?" Jairo mematung mendengar kata-kata Mina.

"Aaaahhh! Benar juga! Sialaaaaann!"

"Jahat sekali, Jairo-kun!" Norb-san memprotes dengan wajah kesal karena Jairo benar-benar menyesal.

"Be-Bercanda kok, Norb."

"Benarkah~?"

"Benar, benar! Sungguh!"

"Pffft, kukuku."

Meguri-san tertawa geli mendengar percakapan mereka berdua.

"Meguri-san?"

"Iya, memang paling bagus kalau kita berempat. Sungguh..."

"... Benar juga ya," Norb-san yang tadi mengerubungi Jairo pun mengangguk setuju dengan ucapan Meguri-san.

"Jadi, mohon bantuannya lagi semuanya. Juga Rex dan yang lain."

"O-Ooh! Mohon bantuannya!"

"... Iya, mohon bantuannya ya."

"Mohon bantuannya."

"Aku tidak terlalu paham, tapi mohon bantuannya ya."

"Aku juga mohon bantuannya."

"Kyu kyuu?"

Demikianlah, party Dragon Slayers milik Jairo dan teman-temannya kembali terbentuk.

"Baaiiiklah! Kalau begitu untuk merayakan terbentuknya kembali party Jairo-kun, ayo kita buat perlengkapan baru menggunakan bahan dari Venom Beet!"

"""LAKUKAN ITU DI LUAR IBU KOTA SANA!!!"""

Padahal aku ingin merayakan dengan membuatkan perlengkapan baru untuk mereka, tapi entah kenapa Jairo dan yang lainnya menolak dengan sekuat tenaga. Ternyata mereka rendah hati sekali ya.

"Ah benar juga, aku lupa mengatakan hal yang penting."

Mina mengatakan itu sambil menatap ke arah Jairo.

"Hm? Oh, iya."

Sepertinya Jairo juga menyadari apa yang ingin dikatakan Mina, lalu dia mengangguk dan menatap Meguri-san serta Norb-san. Kemudian, dia mengucapkannya dengan nada suara yang lembut.

""Selamat datang kembali, Meguri, Norb.""



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close