Chapter 159
Ucapan “Selamat Datang Kembali”
◆ Raja ◆
"A-Apakah
itu benar...?"
Aku menatap
pemandangan di depanku dengan perasaan tidak percaya. Sebab, di sana berdiri
sosok putriku dan para pengabdiku yang sebelumnya kulepaskan dengan perasaan
seolah menyayat hati sendiri.
"Benar,
Ayahanda. Saat kami tiba, Tanah Korosi telah musnah."
Mendengar
kata-kata putriku, Megurielna, para pengabdi yang menyertainya mengangguk.
Mereka adalah
abdi setia yang telah melayaniku selama bertahun-tahun. Mereka bukanlah
orang-orang yang akan mengucapkan dusta, apa pun yang terjadi.
"Namun,
bagaimana keajaiban semacam itu bisa terjadi?"
Peristiwa itu
benar-benar tidak bisa disebut selain keajaiban. Aku sama sekali tidak
menyangka kejadian yang begitu menguntungkan ini bisa benar-benar terjadi.
"Penduduk
desa setempat mengatakan bahwa itu berkat sang Dewi."
"Dewi?"
"Benar.
Katanya, saat sang Dewi memanjatkan doa, cahaya menyelimuti sekeliling, dan
sesaat kemudian Tanah Korosi kembali menjadi tanah seperti semula."
Mustahil,
seorang dewi?
Bukannya aku menyangkal keberadaan para dewa,
namun setidaknya keberadaan dewa di dunia fana hanyalah terjadi pada zaman
mitologi.
Dikatakan
bahwa setelah perang panjang melawan Dewa Jahat berakhir, para dewa memindahkan
tempat tinggal mereka ke langit.
Sejak
saat itu, tidak ada lagi kisah yang menyebutkan para dewa menampakkan wujudnya
di dunia ini.
Namun,
jika perkataan Megurielna adalah fakta, memang benar itu hanya bisa dianggap
sebagai mukjizat dewa...
"Faktanya,
kami pun melihat cahaya terang seperti matahari bersinar dari bagian terdalam
Tanah Korosi. Dan saat kami tiba di lokasi yang seharusnya menjadi tempat Kuil
Penyegelan, kuil itu telah runtuh bersama dengan bukit kecil tempatnya berdiri."
"Runtuh,
katamu!? Lalu bagaimana dengan segelnya!?"
Jika segelnya
hancur, Binatang Buas Kuno yang tersegel akan bangkit! Jika hal itu terjadi,
dunia akan hancur!
"Mengenai
hal itu, biarkan saya yang menjelaskan."
Menggantikan
Megurielna, seorang pendeta muda yang diutus dari kuil maju ke depan.
Kalau
tidak salah, pemuda ini adalah cucu dari Pendeta Agung. Wajahnya begitu tenang,
sulit dipercaya bahwa dia adalah kerabat dari kakek tua licik itu.
"Segel
tersebut telah dihancurkan oleh seseorang."
"Apa!?"
Dihancurkan!?
Di tanah terkutuk yang dipenuhi serangga beracun itu!?
"Ka-Kalau
begitu, apakah itu berarti Binatang Buas itu telah terbebas?"
"Tidak.
Meskipun segelnya hancur, seperti yang dikatakan Putri Megurielna, tanah yang
tadinya merupakan Tanah Korosi telah kembali ke bentuk aslinya. Tidak ada
tanda-tanda kebangkitan entitas jahat yang dikatakan menyebarkan racun
mematikan iblis tersebut."
"Bagaimana
mungkin...!?"
Sulit
dipercaya... Maksudmu, meskipun segelnya lepas, Binatang Buas itu tidak
bangkit?
"Baginda,
mengenai Tanah Korosi, sebaiknya kita melakukan penyelidikan ulang."
"U-Umu.
Karena masalah ini sangat krusial, kita juga perlu berdiskusi dengan
negara-negara lain yang berbatasan dengan Tanah Korosi."
Russell
menyela di waktu yang tepat. Ini adalah hasil dari hubungan kerja sama kami selama bertahun-tahun. Berkat dia, aku teringat hal yang
paling penting.
"Gawat.
Aku hampir melupakan hal terpenting karena terlalu terkejut."
"Baginda?"
Aku
berdiri dan melangkah menuju Megurielna. Kemudian, aku memeluk Megurielna yang
tampak bingung dengan sangat lembut.
"Syukurlah
kau kembali dengan selamat. Bagiku, itu lebih membahagiakan dari apa pun."
"Ba...
ginda."
Aduh,
apakah aku membuatnya merasa tidak nyaman?
Tapi, biarlah
untuk hari ini, hanya untuk saat ini saja. Untuk saat ini saja, bukan sebagai
raja melainkan sebagai seorang ayah, aku ingin mensyukuri keselamatan putriku.
"Te-Terima
kasih... banyak."
Dan di dalam
pelukanku, Megurielna menggumamkan kata-kata itu dengan suara kecil dan
malu-malu.
Aku sama sekali
tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi hingga berakhir seperti ini.
Meskipun ini
adalah kejadian yang sangat menguntungkan bagi negara kami, selama niat
sebenarnya dari pihak lain belum diketahui, aku tidak bisa merasa tenang
sepenuhnya.
Namun meskipun
begitu, aku tidak bisa menahan diri untuk tidak bersyukur atas hasil yang telah
dilakukan oleh Dewi yang tak dikenal tersebut.
◆
Beberapa waktu
setelah pembebasan Tanah Korosi, pada suatu hari, kami dipanggil oleh Kepala
Serikat dan mendatangi bar Serikat Petualang.
"Ah, kami sudah menunggu Anda, Rex-san!"
Begitu kami
memasuki serikat, staf resepsionis segera menghampiri kami.
"Ada apa
ini? Apa si Giant Killer berbuat ulah lagi?"
"Oi, oi, apa
lagi yang kau lakukan kali ini?"
Melihat
pemandangan itu, para petualang lain berseru menggoda kami.
"Aku
tidak melakukan hal besar kok. Lagipula kami dipanggil mendadak, jadi kami
sendiri juga tidak tahu ada apa."
"Sudah, sudah, tidak apa-apa. Silakan ikut ke ruangan dalam."
Resepsionis itu
mendorong punggungku dan menuntun kami ke bagian dalam serikat.
"Tunggu, apa
kami juga boleh ikut masuk?" tanya Jairo kepada resepsionis dengan
perasaan tidak enak.
"Iya, karena
kali ini berhubungan dengan kalian semua."
"Kami
semua?"
Liliera-san dan
yang lainnya juga memiringkan kepala, penasaran dengan topik pembicaraannya.
"Kepala
Serikat, saya membawa Rex-san dan teman-temannya."
"Ooh,
masuklah!"
Setelah terdengar
izin dari Kepala Serikat di balik pintu, resepsionis membuka pintunya.
"Silakan
semuanya."
"Permisi."
Saat kami masuk
ke ruangan, Kepala Serikat yang sedang membaca dokumen mendongakkan wajahnya.
"Ooh, sudah
lama ya. Nah, duduklah."
Saat kami duduk
di sofa sesuai arahannya, rasanya sangat sempit. Meskipun tanpa Meguri-san dan Norb-san,
duduk berempat di sofa saja sudah terasa sesak.
Untunglah hari
ini Idola-sama tidak datang menyamar menggunakan golem.
"Sepertinya
kurang satu orang ya."
Kalau untuk
anggota biasanya, seharusnya kurang dua orang. Apa yang dimaksud Kepala Serikat
adalah Idola-sama?
"Orang itu
aslinya bukan rekan kami, dia petualang solo."
"Begitu ya,
ya sudahlah tidak apa-apa. Karena orang yang paling ingin kudengar ceritanya
adalah kau, Giant Killer."
"Aku?"
"Iya.
Sebenarnya, beberapa waktu yang lalu, salah satu wilayah berbahaya yaitu Tanah
Korosi telah musnah. Apakah kau tahu sesuatu?"
Kepala Serikat
bertanya padaku seolah sedang menyelidiki. Begitu ya, ternyata panggilan kali
ini adalah soal Tanah Korosi. Tapi, tidak ada bukti apa pun bahwa kami terlibat
dalam masalah itu.
Jadi, kalau aku
berpura-pura tidak tahu, seharusnya aku bisa mengelabuhinya. Kalau aku
bertindak terlalu mencolok, semuanya akan sia-sia. Aku kan ingin hidup dengan
tenang tanpa menarik perhatian.
"Tidak, aku
tidak tahu apa-apa."
Namun, Kepala
Serikat mengerutkan alisnya dengan curiga.
"Hou,
benarkah? Aku punya informasi bahwa kalian terlihat terbang ke arah Tanah
Korosi, lho."
"Bukankah
itu cuma kebetulan saja searah? Kami hanya sedang memburu monster di sekitar sana kok."
"Begitu
ya. Jadi secara kebetulan kalian membasmi monster beracun berbahaya dalam
jumlah besar di sekitarnya, lalu kebetulan pergi ke Serikat Petualang di kota
dekat Tanah Korosi untuk menjual hasil buruannya?"
"..."
“““...”””
Ruangan itu
seketika menjadi hening mendengar kata-kata Kepala Serikat.
"Hmm,
kebetulan yang luar biasa ya."
"Hahaha,
benar juga... kebetulan apanya! Kalau cuma satu atau dua ekor sih mungkin saja,
tapi tidak mungkin serikat bisa tertipu kalau kau membawa puluhan ekor
begitu!"
Aduh, gawat.
Karena malas membedah bangkainya sendiri, keputusanku membawanya ke serikat
malah jadi bumerang.
"Informasi
itu masuk tepat saat aku akan menyelidiki kasus Tanah Korosi atas perintah
atasan. Kau tahu, keterkejutanku sudah bukan di level kaget lagi."
"Ahahahaha."
Baiklah, mari
tertawa untuk mengalihkan pembicaraan.
"Ya
sudahlah. Aku memanggilmu bukan untuk memarahi kalian kok. Aku hanya ingin tahu
apakah kalian memang terlibat atau tidak."
"Aduh, kami
benar-benar hanya memburu monster kok."
"Jadi kau
mau aku menganggapnya begitu, ya?"
Kepala Serikat
menghela napas panjang yang dibuat-buat.
"Baiklah,
baiklah. Aku akan menganggap masalah ini diselesaikan oleh peringkat S antah
berantah, dan aku akan merahasiakan siapa pelakunya."
Ooh,
seperti yang diharapkan dari Kepala Serikat, dia memang pengertian.
"Astaga,
inilah repotnya peringkat S. Lagipula kalian pasti menyelesaikan masalah dengan
cara yang tidak bisa diberitahukan pada orang lain, kan?"
"Entahlah,
apa maksud Anda ya?"
Melihat nada
bicara Kepala Serikat, sepertinya petualang peringkat S lainnya juga punya
banyak kartu as rahasia.
"Hei Kepala
Serikat, apakah peringkat S memang punya banyak hal yang harus
dirahasiakan?" tanya Jairo yang penasaran.
"Hm? Oh,
mereka itu kan bagaimanapun juga peringkat S. Tentu saja mereka punya banyak
kartu as yang tidak bisa diberitahukan pada orang lain. Misalnya, lokasi
reruntuhan kuno yang belum ditemukan dan dipenuhi magic item yang hanya
diketahui oleh mereka sendiri."
"Ooh!"
"Atau
mewarisi rahasia lost magic atau cara pembuatan ramuan yang diturunkan
turun-temurun dari nenek moyang mereka."
"Heh~."
Mendengar
kata-kata Kepala Serikat, Jairo dan Mina tampak sangat tertarik.
"Bagi
petualang, teknik dan informasi yang menonjol adalah sumber penghidupan. Tentu saja ada informasi yang tidak ingin
mereka beritahukan bahkan kepada pihak Serikat sekalipun."
"""..."""
Lalu, semua orang
mengalihkan pandangan ke arahku.
"""Pantas
saja."""
"Eh? Kenapa
kalian semua melihatku? Aku ini petualang biasa, beda dengan Rodi-san dan yang
lainnya tahu?"
Sungguh tidak
sopan menyamakan aku yang hanya beruntung bisa jadi peringkat S dengan
petualang peringkat S asli.
"Ah benar
juga, orang-orang yang bisa mencapai puncak itu biasanya memang tidak sadar
dengan keanehan mereka sendiri."
"""Setuju."""
"Kenapa
kalian malah setuju di situ!?"
Lagipula, Kepala
Serikat jangan bicara yang tidak-tidak dong!
"Bagaimanapun,
bagi Serikat, selama hal itu sudah terkonfirmasi maka tidak masalah. Selama
kami tahu 'siapa' yang menyelesaikan masalahnya."
"Ternyata
cukup santai juga ya."
"Meskipun
tidak diakui secara terang-terangan, negara juga mengandalkan kekuatan
peringkat S. Daripada memberikan gangguan yang tidak perlu dan membuat
petualang peringkat S berpaling, pihak negara tidak akan ikut campur lebih jauh
lagi."
Begitu ya, aku
pernah mendengar hal serupa di zamanku dulu. Saat negara tidak bisa menggunakan
kekuatan militer resmi seperti ksatria, mereka akan meminta bantuan pihak luar
yang memiliki kekuatan seperti petualang.
"Tapi kalau
begitu, kalian tidak akan mendapatkan hadiah karena membebaskan Tanah Korosi,
lho."
"Eh? Serius?
Tunggu, memangnya ada hadiahnya?"
Ah, ini pertama
kalinya aku mendengarnya. Ternyata ada hadiahnya ya.
"Tentu saja.
Masalah Tanah Korosi bukan hanya masalah negara ini, tapi juga negara-negara
tetangga. Lahan yang mereka kembangkan menjadi tidak bisa dihuni karena racun.
Tentu saja mereka rela mengeluarkan uang demi menyelesaikan masalah itu."
"Kalau
begitu, hadiahnya pasti dalam jumlah yang lumayan besar ya," kata Mina
sambil menatapku.
"Benar. Jika
mengumpulkan semua hadiah dari berbagai negara, 10.000 koin emas sudah pasti
ada di tangan."
"""10.000
koin emas!?"""
Liliera-san dan
yang lainnya membelalakkan mata mendengar ucapan Kepala Serikat.
"... Awalnya
kupikir begitu, tapi entah kenapa rasanya jumlah itu tidak terlalu luar biasa
ya."
"Ah,
aku juga berpikir begitu. Rasanya
kalau kita berusaha, kita bisa menghasilkannya sendiri."
"Kalau terus
berada di dekat Rex, rasa sensasi keuangan kita soal hadiah jadi kacau
ya."
"Benar juga.
Kalau kita memburu naga dengan santai saja, 1.000 koin emas bisa didapat dengan
mudah."
"Oi kalian,
akal sehat kalian itu sudah jelas-jelas aneh tahu," potong Kepala Serikat
dengan suara lelah mendengar percakapan mereka.
"Yah,
sudahlah. Giant Killer, kau tidak apa-apa dengan keputusan ini? Jika kau
maju dan mengakuinya, kau bahkan bisa menjadi bangsawan di negara mana pun yang
kau suka, lho."
"Ah, soal itu tidak perlu. Aku lebih suka hidup tenang
dan tidak mencolok."
"... Begitu ya."
Mendengar jawabanku, Kepala Serikat terdiam seolah
pembicaraan sudah berakhir. Bangsawan adalah hal yang paling tidak ingin
kujalani.
"Kalau begitu kami permisi dulu."
"Ooh."
Setelah
pembicaraan selesai, kami pun keluar dari serikat.
"Nah,
sekarang apa yang harus kita lakukan ya. Karena Norb dan yang lain tidak ada,
kita harus menambah rekan kalau mau mengambil pesanan."
"Benar,
rasanya berbahaya kalau tidak ada pencuri dan pendeta."
"Lain
ceritanya kalau kita bisa melakukan semuanya sendirian seperti Kakak."
"Tidak
juga kok. Meskipun bisa melakukan banyak hal sendirian, keberadaan rekan tetap
penting. Karena kemampuan satu orang itu ada batasnya."
Benar.
Meskipun aku bisa menggunakan pedang, sihir, dan sihir pemulihan sendirian,
mustahil untuk melakukan semuanya secara bersamaan.
Aku
benar-benar merasakannya saat bertarung melawan Venom Beet. Berkat Liliera-san
yang menahan serangan Majin, aku bisa memasang penghalang tepat waktu.
"Liliera-san,
terima kasih banyak atas bantuanmu tadi."
"Eh? A-Apa,
mendadak sekali!? Yah... bukannya aku merasa tidak senang sih."
"Ada apa?
Apa terjadi sesuatu pada Kak Liliera?"
"Iya, aku
dibantu oleh Liliera-san saat situasi berbahaya."
"Hee,
hebat juga Kak Liliera!"
"Ti-Tidak
sehebat itu kok."
"Tapi Rex
sampai berterima kasih begitu, kan? Aku jadi penasaran. Sepertinya ada kejadian
lain selain mengalahkan Majin ya?"
"Iya, iya,
aku juga penasaran."
"Benar. Saya
juga penasaran."
"Tuh kan,
Meguri dan Norb juga penasaran."
"Ka-Kan
kubilang tidak sehebat itu... eh?"
Kami
menoleh ke arah suara yang tiba-tiba terdengar itu. Di sana berdirilah
Meguri-san dan Norb-san.
""""Meguri!?
dan Norb-san!?"""
"Ah,
ternyata aku hanya tambahan ya," kata Norb-san dengan wajah sedih, tapi
aku tidak menganggapmu tambahan kok!
"Kalian,
bagaimana dengan pekerjaan kalian?"
"Iya, urusan
di sana sudah beres. Tugas pengawalan Idola-sama juga sudah tidak diperlukan
lagi kecuali saat darurat, berkat golem pengganti yang dibuat Rex."
"Syukurlah
kalau begitu."
"Tapi
gara-gara itu, aku habis diserbu pertanyaan oleh Baginda Raja dan Ibu soal dari
mana aku mendapatkan benda itu..." kata Meguri-san dengan wajah yang
sangat lelah.
Golem yang dimaksud Meguri-san adalah golem
kedua yang kubuat setelah kembali dari Tanah Korosi.
"Tunggu,
bukankah kalau memberitahu soal golem itu, fungsinya sebagai pengganti
jadi ketahuan?"
"Idola-sama
yang memberitahu Baginda dan Ibu. Beliau bilang karena sudah ada benda ini, aku
tidak perlu lagi menjadi bayangan yang berbahaya. Yah, lagipula kita memang
butuh tempat untuk menyembunyikan benda itu saat tidak digunakan. Karena itu,
perlu bagi Baginda dan Ibu, yang merupakan atasanku sebagai bayangan, untuk
mengetahuinya."
Ah, benar juga.
Kalau dipikir-pikir, aku tidak memikirkan tempat penyimpanannya ya. Seharusnya
kuberikan bersama dengan kantong sihir sebagai paket.
"Tapi aku
benar-benar ingin dia berhenti bilang kalau membelinya lewat koneksiku.
Walaupun aku bersyukur dia tidak terus terang bilang kalau membelinya dari
Rex."
Ah, ternyata dia
merahasiakan soal aku dengan benar ya.
"Lalu kau
bilang apa agar mereka percaya?"
"Aku
menjelaskan kalau aku membeli magic item yang ditemukan petualang dari
reruntuhan. Karena itu bukan senjata atau pelindung, petualang itu kesulitan
menjualnya dengan cepat, jadi aku bernegosiasi untuk membelinya dengan murah.
Kenyataannya, bangsawan mana pun pasti berpikir itu sangat berguna untuk
pencegahan pembunuhan."
"Masuk akal
juga. Aku dengar memang banyak magic item dari reruntuhan yang tidak
terpikirkan kegunaannya, jadi sering dibeli dengan harga murah. Tapi bagaimana
kau menjelaskan soal kemiripannya dengan Idola-sama?"
"Aku bilang
kalau Idola-sama menyentuhnya, benda itu akan berubah wujud menjadi persis
seperti Idola-sama, dan entah bagaimana mereka percaya."
Meguri-san pasti
sudah berjuang keras untuk meyakinkan mereka ya.
"Omong-omong,
meskipun dibilang disembunyikan, di mana kau menaruh golem sebesar itu?
Di dalam lemari?" tanya Jairo.
"Kalau
ditaruh di sana, pelayan yang mau menaruh baju ganti bisa pingsan,"
Meguri-san menghela napas kecil menjawab pertanyaan Jairo. Eh, apa kami boleh
mendengar rahasia ini?
"Kamar
Idola-sama dan kamarku sebagai bayangan bersebelahan, jadi diputuskan untuk
menyembunyikannya di kamarku. Para pelayan dilarang masuk ke sana."
Begitu ya,
menyimpan golem bayangan di dalam kamar bayangan. Bisa dibilang itu tempat
persembunyian yang tepat.
"Dan ini
dari Idola-sama."
Mengatakan itu,
Meguri-san mengeluarkan sebuah kantong kulit dari kantong sihir dan
meletakkannya di atas meja.
"Ini
apa?"
"Hadiah
untuk golem. Pertama, 5.000 koin emas."
Saat dibuka,
sejumlah besar koin emas terlihat di dalamnya.
"""""Ooooohh!"""""
"Selanjutnya,
bongkahan... permata."
Dug! Bongkahan besar permata biru, permata
hijau, dan permata merah diletakkan di meja.
""Hieee!?""
Liliera-san dan
Mina memekik pelan melihatnya.
"Be-Besar...
bukankah ini terlalu besar!?"
"Aku belum
pernah melihat bongkahan sebesar ini!? Sebenarnya berapa nilainya!?"
"Ini adalah
batu permata mentah yang ditambang dari tambang milik negara. Ini adalah barang
yang dipersembahkan kepada keluarga kerajaan sebagai pemilik tambang, dan
nilainya tidak terukur. Hanya saja karena terlalu besar, nilainya terlalu
tinggi dan sulit digunakan. Jika dipecah menjadi ukuran yang mudah dipakai,
nilainya akan turun, jadi mereka agak kesulitan mencari kegunaannya."
"Lalu kenapa
kau membawa barang seperti itu ke sini?"
"Karena
nilai golem buatan Rex setara dengan pusaka negara, maka barang yang
diberikan haruslah setara dengan pusaka negara agar seimbang. Jika dibayar
dengan uang tunai, negara kami tidak akan sanggup membayarnya."
Eh? Padahal itu
bukan golem yang berperforma sangat tinggi lho.
"Selain itu,
meskipun kami tidak tahu kegunaannya, mungkin Rex bisa menemukan kegunaan yang
bagus sebagai bahan magic item atau semacamnya."
Ah, benar juga.
Bongkahan permata besar memang sangat berguna sebagai bahan magic item.
Dalam artian itu, nilainya lebih tinggi daripada sekadar digunakan sebagai
perhiasan.
"Aku
mengerti. Kalau begitu, aku akan menggunakannya sebagai bahan magic item
tanpa ragu!"
""Serius!?""
"Lalu ada
juga mithril dari tambang negara dan bahan monster langka yang
dipersembahkan bangsawan kepada keluarga kerajaan."
Meguri-san
meletakkan lebih banyak bahan lagi di atas meja.
"Bukankah
ini terlalu banyak? Nilainya benar-benar tidak sampai sejauh ini lho."
"... Ini
bukan hanya hadiah dari Idola-sama, tapi juga hadiah dari keluarga
kerajaan."
"Dari keluarga kerajaan?"
"Iya. Magic item yang bisa menjamin keselamatan
anggota keluarga kerajaan bukan hanya memiliki nilai materiil, tapi juga
bermanfaat bagi kelangsungan keluarga kerajaan. Jika diberikan barang seperti
itu, merupakan etika bangsawan kelas atas untuk memberikan imbalan melebihi
nilai aslinya. Jika tidak, keluarga kerajaan akan diremehkan karena dianggap
pelit. Singkatnya... ini soal gengsi!"
"""""Gengsi."""""
Ah, aku bisa
memahaminya. Kalau diingat-ingat, di kehidupanku yang dulu pun terkadang
hadiahnya terasa sangat mewah. Ternyata ada alasan seperti itu ya.
"Baiklah.
Kalau begitu aku akan menerimanya dengan senang hati."
Aku pun menerima
tumpukan hadiah itu dari Meguri-san.
"Omong-omong, urusan Norb sudah selesai?"
"Iya, urusan saya juga sudah beres. Mungkin masih ada
beberapa hari saya harus dipanggil ke Gereja, tapi saya akan segera bisa
bergabung dalam petualangan seperti biasanya."
"Ayo! Kalau begitu kita bisa berpetualang bersama
lagi!"
Jairo kembali bersemangat setelah mengetahui Meguri-san dan Norb-san
bisa berpetualang lagi.
"Yah, memang benar sih, rasanya repot kalau tidak ada
formasi ini. Petualang biasa
kan tidak bisa terbang di langit dengan sihir."
"Benar!
Rasanya tidak pas kalau bukan kita berempat!"
"Ara,
benarkah? Padahal kalau cuma kami berdua, kami mungkin bisa masuk ke party
Rex, lho?" goda Mina.
"Eh?"
Jairo mematung mendengar kata-kata Mina.
"Aaaahhh!
Benar juga! Sialaaaaann!"
"Jahat
sekali, Jairo-kun!" Norb-san memprotes dengan wajah kesal karena Jairo
benar-benar menyesal.
"Be-Bercanda
kok, Norb."
"Benarkah~?"
"Benar,
benar! Sungguh!"
"Pffft,
kukuku."
Meguri-san
tertawa geli mendengar percakapan mereka berdua.
"Meguri-san?"
"Iya, memang
paling bagus kalau kita berempat. Sungguh..."
"... Benar
juga ya," Norb-san yang tadi mengerubungi Jairo pun mengangguk setuju
dengan ucapan Meguri-san.
"Jadi, mohon
bantuannya lagi semuanya. Juga Rex dan yang lain."
"O-Ooh!
Mohon bantuannya!"
"... Iya,
mohon bantuannya ya."
"Mohon
bantuannya."
"Aku tidak
terlalu paham, tapi mohon bantuannya ya."
"Aku juga
mohon bantuannya."
"Kyu
kyuu?"
Demikianlah, party
Dragon Slayers milik Jairo dan teman-temannya kembali terbentuk.
"Baaiiiklah!
Kalau begitu untuk merayakan terbentuknya kembali party Jairo-kun, ayo
kita buat perlengkapan baru menggunakan bahan dari Venom Beet!"
"""LAKUKAN
ITU DI LUAR IBU KOTA SANA!!!"""
Padahal aku ingin
merayakan dengan membuatkan perlengkapan baru untuk mereka, tapi entah kenapa
Jairo dan yang lainnya menolak dengan sekuat tenaga. Ternyata mereka rendah
hati sekali ya.
"Ah benar
juga, aku lupa mengatakan hal yang penting."
Mina mengatakan
itu sambil menatap ke arah Jairo.
"Hm? Oh,
iya."
Sepertinya Jairo
juga menyadari apa yang ingin dikatakan Mina, lalu dia mengangguk dan menatap
Meguri-san serta Norb-san. Kemudian, dia mengucapkannya dengan nada suara yang
lembut.
""Selamat datang kembali, Meguri, Norb.""



Post a Comment