Chapter Special
Rencana Kudeta Mofumofu Beracun Mematikan
Aku
adalah Mofumofu, raja dari segala monster. Saat ini, aku sedang berada di
sebuah rawa bersama Tuanku. Tentu
saja, karena aku yang melangkahkan kaki ke sini, ini bukan sekadar rawa biasa.
Tempat ini adalah
rawa tercemar yang dipenuhi oleh racun dan monster. Atau lebih spesifiknya, ini
adalah prasmanan monster yang pedas dan lezat. Kalau boleh jujur, aku sedikit
kecewa karena tidak ada "pencuci mulut" bersayap di sini.
Namun, karena di
sini banyak sekali monster beracun yang jarang bisa kumakan, ini pun boleh
juga. Sensasi racun yang membuat sekujur tubuh tersengat ini benar-benar
menyenangkan.
Tapi, aku tidak
hanya datang ke sini untuk menikmati wisata kuliner, lho. Benar, aku sedang
menjalankan sebuah rencana yang sangat besar.
Nama rencananya
adalah: "Rencana Pembunuhan Tuan dengan Racun"!
Detailnya adalah
sebuah rencana untuk membunuh Tuan dengan racun menggunakan pasukan monster
beracun dalam jumlah besar. Kebanyakan makhluk hidup itu lemah terhadap racun.
Tak peduli
seberapa kuat Tuan, kekuatan fisik dan ketahanan terhadap racun adalah dua hal
yang sangat berbeda.
Dengan kata lain,
jika aku bisa memasukkan racun ke dalam tubuhnya, aku punya peluang besar untuk
menang.
Fuhahahaha! Tidak
seperti aku yang kebal terhadap racun, makhluk hidup lain itu sangat ringkih!
Karena itulah, setiap kali melihat monster dengan racun yang kuat, aku terus
melakukan perekrutan.
Ada beberapa yang
mencoba melawan, tapi monster-monster seperti itu langsung kuhajar dan kusantap
dengan nikmat.
Hal ini menjadi
peringatan bagi monster di sekitar bahwa "inilah nasib kalian kalau berani
melawanku", benar-benar sekali mendayung dua pulau terlampaui.
Tentu saja aku
tidak memilih hanya berdasarkan kekuatan racunnya saja.
Jika ada monster
yang memiliki jenis racun yang belum dimiliki anak buahku, aku akan
memprioritaskan mereka untuk bergabung.
Semakin banyak
jenis racun yang berbeda, semakin kecil kemungkinan lawan bisa bertahan.
Begitulah,
aku terus mengumpulkan monster-monster hebat, baik dari segi jenis maupun
konsentrasi racunnya.
Umu, umu.
Dengan monster beracun sebanyak ini, Tuan pun pasti tidak akan berkutik. Kalau
begitu... saatnya pemberontakan dimulai!!
◆
Aku
memancing Tuan menuju area jebakan di mana para monster sudah menunggu. Sebab,
meski mereka monster beracun, menyerang secara terang-terangan adalah tindakan
ceroboh. Aku ini tipe yang
belajar dari kegagalan di masa lalu, tahu?
Para monster
beracun itu sudah bersiaga di area jebakan sesuai perintahku, tapi itu hanyalah
umpan.
Rencana intinya
adalah serangan mendadak dari para monster yang bersembunyi di dalam rawa.
Begitu Tuan
mendekati monster umpan, puluhan monster akan melompat keluar dari balik rawa
dan melumuri Tuan dengan racun!!
"※※※※※※※※※!!"
Tepat saat itu,
Tuan melepaskan sihir dari jarak jauh. Bodoh! Aku sudah memperhitungkan
serangan jarak jauh!
Bahkan jika dia
mengalahkan mereka dari jauh, Tuan pasti akan mendekat untuk memanen mayat
monster-monster itu.
Justru saat dia
lengah karena merasa sudah menang, itulah keuntungan bagi pihakku! Nah, hari
ini adalah hari terakhirmu, Tuan!!
Pici-pici!
Namun, Tuan tidak
diserang. Sebab, para
monster itu tidak menyerang Tuan. Tidak, lebih tepatnya mereka tidak bisa
menyerang.
Sihir
Tuan bukanlah sihir serangan. Sihir Tuan hanyalah sihir untuk mengubah rawa
menjadi tanah kering.
Itu saja.
Tapi, sihir sederhana itu justru menghancurkan rencanaku menjadi abu.
Singkatnya, monster-monster di dalam rawa itu terkubur hidup-hidup.
Karena
mereka monster yang sejak awal tinggal di rawa, mereka tidak akan langsung mati
hanya karena terjebak di dalam tanah.
Sebaliknya,
dengan kekuatan fisik monster, mereka seharusnya bisa menggali tanah dan
keluar. Tapi, itu jika mereka punya waktu untuk melakukannya.
Tentu
saja Tuan tidak akan memberikan waktu itu.
"※※※※※※!!"
Dengan
kecepatan yang luar biasa, Tuan mengayunkan cakar tipisnya dan menghabisi para
monster yang setengah terkubur itu.
Eh?
Tunggu
dulu, monster yang itu kan punya napas beracun, mendekatinya saja sudah
berbahaya!?
Monster
yang di sebelah sana itu, kalau dipotong kantung racunnya akan meledak dan
menyeret lawan mati bersamanya—tapi Tuan menghindarinya!?
Selanjutnya,
Tuan menusuk dan memusnahkan monster-monster yang bersembunyi di dalam tanah
dengan sihir. ...A-Are?
Rencanaku
gagal?
Gagal
bahkan sebelum sempat menyerang Tuan sama sekali?
"※※※※※※"
Tuan,
yang sudah selesai mengumpulkan mayat monster, berjalan mendekatiku.
A-Are?
Jangan-jangan
niatku untuk membunuhnya dengan racun sudah ketahuan?
A-Ah,
tidak mungkin, kan?
Aku tidak
mungkin memikirkan hal kurang ajar seperti itu, lho?
Awawawawawa!
Kemudian, tangan
Tuan mencengkeramku.
Corororororo...
Oh... aku
mengompol. Begitulah, rencana pemberontakanku kembali berakhir dengan
kegagalan...
◆
Setelah dipanggil
oleh Mofumofu, aku menemukan sebuah habitat monster di sana.
Dalam jangkauan
penglihatan saja ada puluhan, ditambah lagi sihir pencarianku mendeteksi banyak
sekali monster di dalam rawa.
"Kerja
bagus, Mofumofu."
Aku memulihkan
rawa tersebut dengan sihir pemurnian dan mengubahnya kembali menjadi daratan,
lalu mulai memburu monster-monster yang sudah tidak bisa melawan itu satu per
satu.
"Wah, berkat
Mofumofu yang menemukan habitat monster ini, perburuannya jadi terasa sangat
mudah."
Apalagi sangat
jarang melihat begitu banyak jenis monster berkumpul membentuk kelompok seperti
ini.
Sebagian besar
monster biasanya hanya berkelompok dengan sesama jenisnya, tapi mungkin monster
di Dataran Korosi memiliki ekosistem unik mereka sendiri.
"Kerja bagus
ya, Mofumofu."
Aku memberikan
pujian kepada Mofumofu yang telah menemukan habitat monster ini sambil mengelus
kepalanya.
"Kyufu~nn..."
Tiba-tiba,
Mofumofu gemetaran dan mulai mengompol.
"Waduh, apa
kamu ketakutan karena ada banyak monster beracun? Kamu sudah berjuang
keras."
Aku mengelusnya
dengan lembut untuk menenangkannya, namun sepertinya butuh waktu cukup lama
sampai Mofumofu bisa benar-benar tenang kembali.
Bonus E-book:
Cerita Pendek Tambahan
Obat yang Pahit,
Asam, dan Manis
Aku, Liliera, sedang mengambil permintaan tugas hanya berdua
saja dengan Rex-san setelah sekian lama.
"Anu,
permintaan hari ini adalah mengumpulkan akar rumput Palto, kan?"
"Iya. Itu
tanaman herbal yang memiliki efek penurun panas dan pereda batuk," jawab
Rex-san.
Omong-omong,
mengumpulkan rumput Palto tidaklah sulit asalkan kami bisa menemukan
habitatnya. Malah, ini biasanya menjadi pekerjaan bagi petualang pemula.
Alasan kenapa
kami, petualang yang kekuatannya sudah melampaui Rank A, melakukan pekerjaan
seperti ini adalah karena penyakit menular mulai menyebar di kota terdekat.
Penyakit ini
tidak mematikan dan akan sembuh dengan sendirinya jika beristirahat total, tapi
selama sakit, orang-orang tidak bisa bekerja.
Jika mereka
memaksakan diri keluar dan menularkannya ke orang lain, kota akan dipenuhi oleh
orang sakit.
Jika hal itu
terjadi, kota akan berada dalam kesulitan besar. Karena itu, setiap kali
penyakit menular mulai menyebar setiap tahunnya, Serikat Petualang akan membuka
lowongan untuk pengumpulan tanaman herbal guna pengobatan.
Namun, di sini
muncul satu masalah. Permintaan tetap seperti pengumpulan tanaman herbal bisa
diambil sembari mengerjakan permintaan lain, jadi semua orang menerimanya
dengan senang hati.
Masalahnya, jika
semua orang pergi ke tempat yang sama, habitat tanaman itu akan ludes dalam
sekejap.
Terlebih lagi,
bagian yang dibutuhkan dari rumput Palto adalah akarnya. Jika diambil secara
berlebihan, ada kemungkinan tanaman itu tidak akan tersedia lagi saat wabah
berikutnya datang.
Karena itulah,
habitat tanaman herbal yang dekat dengan kota diserahkan kepada petualang Rank
rendah, sementara petualang Rank tinggi seperti kami diminta untuk sekalian
mengumpulkannya jika menemukan habitat baru di tempat yang jauh dari kota.
Yah, ini juga
merupakan strategi pihak Serikat yang berharap bisa menemukan habitat baru,
sih.
Begitulah
ceritanya sampai aku dan Rex-san mencari habitat rumput Palto setelah
menyelesaikan urusan kami, dan beruntungnya, kami berhasil menemukan habitat
berskala menengah.
"Tapi,
tanaman ini sangat pahit, ya."
Aku juga pernah
jatuh sakit saat kecil dan meminum sari rumput Palto. Rasanya benar-benar
pahit. Kalau bisa, aku tidak mau meminumnya lagi.
"Ah, ada
buah Marubio."
Rex-san yang
sedang mengumpulkan rumput Palto bersamaku tersenyum saat melihat buah yang
tumbuh di sebuah pohon kecil.
"Buah
Marubio?"
"Iya, yang
ini."
Rex-san
memperlihatkan buah jeruk berukuran kecil.
"Apa ini
juga bisa menjadi obat?"
"Iya, buah
Marubio sangat kaya akan nutrisi dan sangat pas dikonsumsi saat kehilangan
nafsu makan karena sakit."
Benar juga, saat
sedang sakit parah, rasanya memang tidak ingin makan apa-apa.
"Heh,
ternyata ada buah yang praktis seperti ini, ya."
Aku segera
memetik satu buah Marubio dan mencoba menggigitnya.
"Ah—"
Entah kenapa
Rex-san mengeluarkan suara panik. Tepat saat aku hendak bertanya ada apa,
seluruh mulutku seketika didominasi oleh rasa asam yang luar biasa.
"Aseeemmm—!?"
Apa-apaan ini!?
Asamnya benar-benar keterlaluan!?
"Ah~ buah
Marubio itu memang sangat asam sekali."
"Ka-katakan...
sebelum aku memakannya dong!"
Aku berusaha
sekuat tenaga meludahkan sisa buah Marubio di mulutku, tapi rasa asamnya seolah
tidak mau hilang. A-Air—!!
"Tolong tunggu sebentar. Nah, minumlah ini."
"Ngh, guk..."
Begitu meminum cairan di dalam gelas yang diberikan Rex-san,
kali ini rasa manis yang sangat segar menyebar di mulutku.
"Manis..."
Tekstur
jeruk yang lembut menyebar di dalam mulut. Rasanya tidak terlalu manis, melainkan sangat
menyegarkan.
"Apa ini?
Enak sekali!?"
"Ini perasan
buah Marubio tadi."
"Eeh!?
Yang ini!?"
Bohong,
kan!? Padahal yang kumakan
tadi asamnya minta ampun!?
"Buah
Marubio jika dipanaskan, komponen asamnya akan terurai dan berubah menjadi
manis."
"Luar
biasa... hanya dengan dipanaskan rasanya bisa berubah total begini."
Iya, kalau
rasanya seperti ini, aku bahkan ingin meminumnya meski sedang tidak sakit.
"Buah
Marubio tidak hanya kaya nutrisi, tapi juga punya efek penurun panas dan pereda
batuk."
"Heh, buah
ini sudah seperti obat saja, ya."
...Hm? Tunggu
sebentar.
Efek penurun
panas dan pereda batuk?
Itu artinya...
kita tidak butuh rumput Palto lagi, kan?
Kalau ada buah
ini, orang-orang tidak perlu meminum sari rumput Palto yang pahit itu. Jadi
lebih baik membawa ini pulang ke kota...
Aku memutuskan
untuk mengusulkan ide membawa buah ini pulang kepada Rex-san.
"Anu,
Rex-sa—"
"Tapi aku
kaget juga melihat ada pohon Marubio di tempat seperti ini. Apalagi sampai
berbuah, benar-benar mengejutkan."
"Eh?
Maksudnya?"
Mengejutkan
karena ada buahnya?
"Begini,
pohon Marubio adalah pohon yang tumbuh di daerah yang lebih hangat. Jadi aku
merasa jarang sekali menemukannya di sekitar sini."
Begitu ya, pantas
saja buah sepraktis ini tidak pernah terlihat di pasar.
"Jika
iklimnya tidak cocok, pohon ini jarang sekali berbuah. Jadi kita benar-benar sedang
beruntung."
Oalah,
jadi karena faktor keberuntungan, ya. Kalau begitu, mustahil mengumpulkan
jumlah yang cukup untuk seluruh penduduk kota. Sayang sekali.
"Padahal
aku ingin mengambil cukup banyak untuk stok kita sendiri, tapi tidak ada
jaminan tahun depan akan berbuah lagi, ya."
"Ah,
kalau soal itu, aku menanamnya kok di rumah kaca yang kubangun di halaman
mansion."
Ah, ternyata ada
di rumah—eh, apa?
"Tunggu,
maksudnya 'ada' itu bagaimana!? Bukankah tadi katamu ini langka!?"
"Aku membawa
bibitnya dari rumah kaca di rumah orang tuaku. Hanya saja, aku berpikir kalau
melihatnya berbuah di alam liar itu jarang terjadi."
"Ternyata
begitu..."
Meski begitu, aku
harus bersyukur karena setidaknya aku tidak perlu lagi meminum sari tanaman
herbal yang pahit.
Sebagai catatan tambahan, beberapa hari kemudian setelah mengetahui harga pasar buah Marubio, aku jadi tidak sanggup meminum sari buah ini lagi dalam arti yang berbeda.
Kata Penutup
Idra: "Terima kasih sudah membeli buku
Reinkarnasi Kedua kali lipat volume 8 ini—!"
Penulis: "Waduh!? (Dialog pembukaku
dicuri!)"
Mofumofu: "Biku-biku!? (Dialog pembukaku juga
dicuri bagian 2!)"
Idra: "Halo! Aku Idra, kakaknya
Megurielna!"
Ibu Meguri: "Aku ibunya."
Raja: "Aku ayahnya."
Bertiga: "Terima kasih sudah menjaga
putri/adik kami."
Penulis: "Ah, ini tipe adegan di mana nanti
putri mereka bakal merasa malu lalu bertengkar dengan orang tuanya."
Mofumofu: "Ngomong-omong, aslinya Idra tidak
tahu kalau Meguri adalah adiknya, tapi karena ini Kata Pengantar, kita abaikan
saja bagian itu."
Idra: "Karena itulah, masalah di negara
kami berkurang satu lagi! Horeee!"
Mofumofu: "Semangat sekali putri yang satu
ini."
Idra: "Kan ini Kata Pengantar! Lagipula kalau di istana aku harus menjaga
tata krama!"
Penulis: "Apa aku tidak salah ya memberikan golem
yang bisa bergerak bebas kepada putri ini..."
Mofumofu: "Dia pasti bakal jadi hakim jalanan
yang suka mengamuk. Eh, malah sudah kejadian."
Ibu Meguri: "Bicara serius, kali ini
benar-benar rentetan perkembangan yang sangat menguntungkan bagi kerajaan
kami."
Raja: "Umu. Golem yang bisa
menjadi pengganti anggota keluarga kerajaan, penyelesaian masalah Dataran
Korosi (yang dulunya Hutan Magic Beast), lalu ramuan yang bisa menetralkan
racun monster. Tak terhitung banyaknya."
Mofumofu: "Tanpa disadari, ini adalah
pencapaian yang paling menguntungkan negara dibandingkan sebelumnya, ya."
Idra: "Hum-hum~ besok enaknya ngapain ya
pakai golem."
Mofumofu: "(Mengabaikan ucapan Idra)
Omong-omong, apakah dengan ini Meguri sudah benar-benar bebas?"
Ibu
Meguri:
"Tidak, meskipun secara publik Megurielna tidak terlibat, dia tetap
terikat pada negara. Jika diperlukan, kami akan meminta bantuannya. Hal yang
sama berlaku bagi cucu Imam Besar Hidinos."
Raja: "Umu. Meskipun statusnya tidak
resmi, Megurielna tetaplah anggota keluarga kerajaan. Tapi ya, membiarkannya
bebas justru jauh lebih menguntungkan bagi negara (menatap jauh)."
Idra: "Kembali ke topik, selayaknya Kata
Pengantar, apakah ada hal yang sulit selama mengerjakan volume 8 ini?"
Penulis: "Hatiku hampir patah karena banyak
sekali poin koreksi dari editor soal kontradiksi detail pada pengaturan
ceritanya."
Mofumofu: "Itu pasti karena cara penjelasanmu
yang membingungkan."
Penulis: "Revisi itu merepotkan."
Mofumofu: "Semua penulis juga merasakan hal
yang sama."
Penulis: "Lalu, meski mereka karakter kunci,
karena jatah tampil Meguri dan Norb sedikit, aku jadi terburu-buru menyiapkan
adegan untuk menambah kemunculan mereka. Aku akan menyiapkan momen utama bagi Meguri
dan yang lain di kesempatan berbeda."
Mofumofu: "Jatah tampilku juga
bertambah lho—!"
Penulis: "Kenapa juga aku malah menulis
sampai dua episode tentang aksimu, ya."
Mofumofu: "Soalnya aku kan karakter
populer."
Penulis: "Tidak, kalau soal
popularitas, Jairo lebih..."
Jairo: "Apa aku akan jadi tokoh
utama di bab selanjutnya!?"
Mofumofu: "Aku merasa baru saja melihat ilusi
yang sangat berisik..."
Penulis: "Yah, itu tergantung popularitas
nantinya. Kalau pihak Earth Star menerima banyak surat atau email yang meminta
episode khusus untuk karakter lain, mungkin aku akan menulis cerita di mana
mereka jadi tokoh utamanya."
Mofumofu: "Si berisik itu memang punya aura
tokoh utama yang kuat, sih."
Ibu Meguri: "Bagi negara, orang seperti dia
yang aktif di garis depan sangatlah membantu. Fakta bahwa kita memiliki
petualang hebat akan membuat rakyat senang."
Raja: "Dia menjadi pahlawan yang bisa
diandalkan, kebanggaan rakyat, dan menjadi harapan bahwa rakyat biasa pun bisa
meraih kejayaan jika memiliki kemampuan. (Tapi kalau dia sampai membuat semua
putri bangsawan jatuh cinta padanya, itu bakal merepotkan dengan cara yang
berbeda, sih)."
Idra: "Ngomong-omong, meskipun Rex banyak
beraksi, namanya tidak terlalu dikenal, ya? Kenapa begitu?"
Penulis: "Dalam kasus Rex, dia sendiri sudah
bilang ke Serikat Petualang kalau dia tidak mau menonjol. Serikat memang tidak
punya kewajiban untuk melindungi petualang secara berlebihan, tapi untuk
petualang Rank S, memberikan perlakuan khusus lebih menguntungkan. Selain itu,
aksinya terlalu di luar nalar, jadi meskipun orang sekitar menyebarkannya,
banyak yang tidak percaya. Kalau mata-mata melaporkan aksinya, mereka mungkin
cuma bakal ditepuk bahunya dengan tatapan iba lalu disuruh ambil cuti liburan
karena dianggap stres."
Mofumofu: "Saking kuatnya sampai aksinya
tidak dipercayai itu menyedihka—eh, dia sama sekali tidak sedih."
Penulis: "Tentu saja mereka yang melihatnya
langsung tidak punya pilihan selain percaya. Dengan begitu, yang tersisa
hanyalah fenomena bahwa masalahnya telah selesai."
Ibu Meguri: "Hal seperti ini sangat merepotkan
saat membuat laporan karena faktanya sulit dikonfirmasi."
Mofumofu: "Ngomong-omong, di volume ini
akhirnya sang pahlawan wanita berhenti jadi manusia, ya. Dia bisa menang solo
melawan Iblis."
Penulis: "Masih manusia, kok! Tapi kalau
soal kekuatan, dia memang sudah berada di level yang bisa menang melawan Iblis
zaman sekarang, asal tidak lengah."
Idra: "Bagaimana dengan Meguri!? Apa
Meguri juga bisa menang solo!?"
Penulis: "Tergantung kekuatan Iblisnya, tapi
bagi Meguri dan yang lain, menang solo itu sulit karena kurangnya pengalaman
tempur nyata. Liliera itu tipe yang merangkak dari bawah sambil bersusah payah
menaikkan Rank-nya, sedangkan Meguri dan yang lain sudah terbiasa dengan metode
pelatihan curang ala Rex sejak awal, jadi kemampuan adaptasi mereka terhadap
situasi tak terduga masih kalah."
Mofumofu: "Tapi ya, hampir semua masalah bisa
mereka hancurkan berkat pendidikan curang si Rex itu, sih."
Penulis: "Baiklah, sepertinya sudah waktunya
untuk berpisah."
Mofumofu: "Sampai jumpa di volume 9!!"
Semuanya: "Terima kasih atas kerja
kerasnya—!"
Idra: "Nah, ayo kita pergi membasmi
monster dan penjahat—!"
Mofumofu: "Jangan pergu woy—!"
Previous Chapter | ToC | End



Post a Comment