NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Nido Tensei shita Shounen wa S-Rank Boukensha Toshite Heion ni Sugosu ~Zense ga Kenja de Eiyuu Datta Boku wa Raise dewa Jimi ni Ikiru~ Volume 8 Special Chapter & After Word

Chapter Special

Rencana Kudeta Mofumofu Beracun Mematikan


Aku adalah Mofumofu, raja dari segala monster. Saat ini, aku sedang berada di sebuah rawa bersama Tuanku. Tentu saja, karena aku yang melangkahkan kaki ke sini, ini bukan sekadar rawa biasa.

Tempat ini adalah rawa tercemar yang dipenuhi oleh racun dan monster. Atau lebih spesifiknya, ini adalah prasmanan monster yang pedas dan lezat. Kalau boleh jujur, aku sedikit kecewa karena tidak ada "pencuci mulut" bersayap di sini.

Namun, karena di sini banyak sekali monster beracun yang jarang bisa kumakan, ini pun boleh juga. Sensasi racun yang membuat sekujur tubuh tersengat ini benar-benar menyenangkan.

Tapi, aku tidak hanya datang ke sini untuk menikmati wisata kuliner, lho. Benar, aku sedang menjalankan sebuah rencana yang sangat besar.

Nama rencananya adalah: "Rencana Pembunuhan Tuan dengan Racun"!

Detailnya adalah sebuah rencana untuk membunuh Tuan dengan racun menggunakan pasukan monster beracun dalam jumlah besar. Kebanyakan makhluk hidup itu lemah terhadap racun.

Tak peduli seberapa kuat Tuan, kekuatan fisik dan ketahanan terhadap racun adalah dua hal yang sangat berbeda.

Dengan kata lain, jika aku bisa memasukkan racun ke dalam tubuhnya, aku punya peluang besar untuk menang.

Fuhahahaha! Tidak seperti aku yang kebal terhadap racun, makhluk hidup lain itu sangat ringkih! Karena itulah, setiap kali melihat monster dengan racun yang kuat, aku terus melakukan perekrutan.

Ada beberapa yang mencoba melawan, tapi monster-monster seperti itu langsung kuhajar dan kusantap dengan nikmat.

Hal ini menjadi peringatan bagi monster di sekitar bahwa "inilah nasib kalian kalau berani melawanku", benar-benar sekali mendayung dua pulau terlampaui.

Tentu saja aku tidak memilih hanya berdasarkan kekuatan racunnya saja.

Jika ada monster yang memiliki jenis racun yang belum dimiliki anak buahku, aku akan memprioritaskan mereka untuk bergabung.

Semakin banyak jenis racun yang berbeda, semakin kecil kemungkinan lawan bisa bertahan.

Begitulah, aku terus mengumpulkan monster-monster hebat, baik dari segi jenis maupun konsentrasi racunnya.

Umu, umu. Dengan monster beracun sebanyak ini, Tuan pun pasti tidak akan berkutik. Kalau begitu... saatnya pemberontakan dimulai!!

Aku memancing Tuan menuju area jebakan di mana para monster sudah menunggu. Sebab, meski mereka monster beracun, menyerang secara terang-terangan adalah tindakan ceroboh. Aku ini tipe yang belajar dari kegagalan di masa lalu, tahu?

Para monster beracun itu sudah bersiaga di area jebakan sesuai perintahku, tapi itu hanyalah umpan.

Rencana intinya adalah serangan mendadak dari para monster yang bersembunyi di dalam rawa.

Begitu Tuan mendekati monster umpan, puluhan monster akan melompat keluar dari balik rawa dan melumuri Tuan dengan racun!!

"※※※※※※※※※!!"

Tepat saat itu, Tuan melepaskan sihir dari jarak jauh. Bodoh! Aku sudah memperhitungkan serangan jarak jauh!

Bahkan jika dia mengalahkan mereka dari jauh, Tuan pasti akan mendekat untuk memanen mayat monster-monster itu.

Justru saat dia lengah karena merasa sudah menang, itulah keuntungan bagi pihakku! Nah, hari ini adalah hari terakhirmu, Tuan!!

Pici-pici!

Namun, Tuan tidak diserang. Sebab, para monster itu tidak menyerang Tuan. Tidak, lebih tepatnya mereka tidak bisa menyerang.

Sihir Tuan bukanlah sihir serangan. Sihir Tuan hanyalah sihir untuk mengubah rawa menjadi tanah kering.

Itu saja. Tapi, sihir sederhana itu justru menghancurkan rencanaku menjadi abu. Singkatnya, monster-monster di dalam rawa itu terkubur hidup-hidup.

Karena mereka monster yang sejak awal tinggal di rawa, mereka tidak akan langsung mati hanya karena terjebak di dalam tanah.

Sebaliknya, dengan kekuatan fisik monster, mereka seharusnya bisa menggali tanah dan keluar. Tapi, itu jika mereka punya waktu untuk melakukannya.

Tentu saja Tuan tidak akan memberikan waktu itu.

"※※※※※※!!"

Dengan kecepatan yang luar biasa, Tuan mengayunkan cakar tipisnya dan menghabisi para monster yang setengah terkubur itu.

Eh?

Tunggu dulu, monster yang itu kan punya napas beracun, mendekatinya saja sudah berbahaya!?

Monster yang di sebelah sana itu, kalau dipotong kantung racunnya akan meledak dan menyeret lawan mati bersamanya—tapi Tuan menghindarinya!?

Selanjutnya, Tuan menusuk dan memusnahkan monster-monster yang bersembunyi di dalam tanah dengan sihir. ...A-Are?

Rencanaku gagal?

Gagal bahkan sebelum sempat menyerang Tuan sama sekali?

"※※※※※※"

Tuan, yang sudah selesai mengumpulkan mayat monster, berjalan mendekatiku.

A-Are?

Jangan-jangan niatku untuk membunuhnya dengan racun sudah ketahuan?

A-Ah, tidak mungkin, kan?

Aku tidak mungkin memikirkan hal kurang ajar seperti itu, lho?

Awawawawawa!

Kemudian, tangan Tuan mencengkeramku.

Corororororo...

Oh... aku mengompol. Begitulah, rencana pemberontakanku kembali berakhir dengan kegagalan...

Setelah dipanggil oleh Mofumofu, aku menemukan sebuah habitat monster di sana.

Dalam jangkauan penglihatan saja ada puluhan, ditambah lagi sihir pencarianku mendeteksi banyak sekali monster di dalam rawa.

"Kerja bagus, Mofumofu."

Aku memulihkan rawa tersebut dengan sihir pemurnian dan mengubahnya kembali menjadi daratan, lalu mulai memburu monster-monster yang sudah tidak bisa melawan itu satu per satu.

"Wah, berkat Mofumofu yang menemukan habitat monster ini, perburuannya jadi terasa sangat mudah."

Apalagi sangat jarang melihat begitu banyak jenis monster berkumpul membentuk kelompok seperti ini.

Sebagian besar monster biasanya hanya berkelompok dengan sesama jenisnya, tapi mungkin monster di Dataran Korosi memiliki ekosistem unik mereka sendiri.

"Kerja bagus ya, Mofumofu."

Aku memberikan pujian kepada Mofumofu yang telah menemukan habitat monster ini sambil mengelus kepalanya.

"Kyufu~nn..."

Tiba-tiba, Mofumofu gemetaran dan mulai mengompol.

"Waduh, apa kamu ketakutan karena ada banyak monster beracun? Kamu sudah berjuang keras."

Aku mengelusnya dengan lembut untuk menenangkannya, namun sepertinya butuh waktu cukup lama sampai Mofumofu bisa benar-benar tenang kembali.


Bonus E-book: Cerita Pendek Tambahan

Obat yang Pahit, Asam, dan Manis

Aku, Liliera, sedang mengambil permintaan tugas hanya berdua saja dengan Rex-san setelah sekian lama.

"Anu, permintaan hari ini adalah mengumpulkan akar rumput Palto, kan?"

"Iya. Itu tanaman herbal yang memiliki efek penurun panas dan pereda batuk," jawab Rex-san.

Omong-omong, mengumpulkan rumput Palto tidaklah sulit asalkan kami bisa menemukan habitatnya. Malah, ini biasanya menjadi pekerjaan bagi petualang pemula.

Alasan kenapa kami, petualang yang kekuatannya sudah melampaui Rank A, melakukan pekerjaan seperti ini adalah karena penyakit menular mulai menyebar di kota terdekat.

Penyakit ini tidak mematikan dan akan sembuh dengan sendirinya jika beristirahat total, tapi selama sakit, orang-orang tidak bisa bekerja.

Jika mereka memaksakan diri keluar dan menularkannya ke orang lain, kota akan dipenuhi oleh orang sakit.

Jika hal itu terjadi, kota akan berada dalam kesulitan besar. Karena itu, setiap kali penyakit menular mulai menyebar setiap tahunnya, Serikat Petualang akan membuka lowongan untuk pengumpulan tanaman herbal guna pengobatan.

Namun, di sini muncul satu masalah. Permintaan tetap seperti pengumpulan tanaman herbal bisa diambil sembari mengerjakan permintaan lain, jadi semua orang menerimanya dengan senang hati.

Masalahnya, jika semua orang pergi ke tempat yang sama, habitat tanaman itu akan ludes dalam sekejap.

Terlebih lagi, bagian yang dibutuhkan dari rumput Palto adalah akarnya. Jika diambil secara berlebihan, ada kemungkinan tanaman itu tidak akan tersedia lagi saat wabah berikutnya datang.

Karena itulah, habitat tanaman herbal yang dekat dengan kota diserahkan kepada petualang Rank rendah, sementara petualang Rank tinggi seperti kami diminta untuk sekalian mengumpulkannya jika menemukan habitat baru di tempat yang jauh dari kota.

Yah, ini juga merupakan strategi pihak Serikat yang berharap bisa menemukan habitat baru, sih.

Begitulah ceritanya sampai aku dan Rex-san mencari habitat rumput Palto setelah menyelesaikan urusan kami, dan beruntungnya, kami berhasil menemukan habitat berskala menengah.

"Tapi, tanaman ini sangat pahit, ya."

Aku juga pernah jatuh sakit saat kecil dan meminum sari rumput Palto. Rasanya benar-benar pahit. Kalau bisa, aku tidak mau meminumnya lagi.

"Ah, ada buah Marubio."

Rex-san yang sedang mengumpulkan rumput Palto bersamaku tersenyum saat melihat buah yang tumbuh di sebuah pohon kecil.

"Buah Marubio?"

"Iya, yang ini."

Rex-san memperlihatkan buah jeruk berukuran kecil.

"Apa ini juga bisa menjadi obat?"

"Iya, buah Marubio sangat kaya akan nutrisi dan sangat pas dikonsumsi saat kehilangan nafsu makan karena sakit."

Benar juga, saat sedang sakit parah, rasanya memang tidak ingin makan apa-apa.

"Heh, ternyata ada buah yang praktis seperti ini, ya."

Aku segera memetik satu buah Marubio dan mencoba menggigitnya.

"Ah—"

Entah kenapa Rex-san mengeluarkan suara panik. Tepat saat aku hendak bertanya ada apa, seluruh mulutku seketika didominasi oleh rasa asam yang luar biasa.

"Aseeemmm—!?"

Apa-apaan ini!? Asamnya benar-benar keterlaluan!?

"Ah~ buah Marubio itu memang sangat asam sekali."

"Ka-katakan... sebelum aku memakannya dong!"

Aku berusaha sekuat tenaga meludahkan sisa buah Marubio di mulutku, tapi rasa asamnya seolah tidak mau hilang. A-Air—!!

"Tolong tunggu sebentar. Nah, minumlah ini."

"Ngh, guk..."

Begitu meminum cairan di dalam gelas yang diberikan Rex-san, kali ini rasa manis yang sangat segar menyebar di mulutku.

"Manis..."

Tekstur jeruk yang lembut menyebar di dalam mulut. Rasanya tidak terlalu manis, melainkan sangat menyegarkan.

"Apa ini? Enak sekali!?"

"Ini perasan buah Marubio tadi."

"Eeh!? Yang ini!?"

Bohong, kan!? Padahal yang kumakan tadi asamnya minta ampun!?

"Buah Marubio jika dipanaskan, komponen asamnya akan terurai dan berubah menjadi manis."

"Luar biasa... hanya dengan dipanaskan rasanya bisa berubah total begini."

Iya, kalau rasanya seperti ini, aku bahkan ingin meminumnya meski sedang tidak sakit.

"Buah Marubio tidak hanya kaya nutrisi, tapi juga punya efek penurun panas dan pereda batuk."

"Heh, buah ini sudah seperti obat saja, ya."

...Hm? Tunggu sebentar.

Efek penurun panas dan pereda batuk?

Itu artinya... kita tidak butuh rumput Palto lagi, kan?

Kalau ada buah ini, orang-orang tidak perlu meminum sari rumput Palto yang pahit itu. Jadi lebih baik membawa ini pulang ke kota...

Aku memutuskan untuk mengusulkan ide membawa buah ini pulang kepada Rex-san.

"Anu, Rex-sa—"

"Tapi aku kaget juga melihat ada pohon Marubio di tempat seperti ini. Apalagi sampai berbuah, benar-benar mengejutkan."

"Eh? Maksudnya?"

Mengejutkan karena ada buahnya?

"Begini, pohon Marubio adalah pohon yang tumbuh di daerah yang lebih hangat. Jadi aku merasa jarang sekali menemukannya di sekitar sini."

Begitu ya, pantas saja buah sepraktis ini tidak pernah terlihat di pasar.

"Jika iklimnya tidak cocok, pohon ini jarang sekali berbuah. Jadi kita benar-benar sedang beruntung."

Oalah, jadi karena faktor keberuntungan, ya. Kalau begitu, mustahil mengumpulkan jumlah yang cukup untuk seluruh penduduk kota. Sayang sekali.

"Padahal aku ingin mengambil cukup banyak untuk stok kita sendiri, tapi tidak ada jaminan tahun depan akan berbuah lagi, ya."

"Ah, kalau soal itu, aku menanamnya kok di rumah kaca yang kubangun di halaman mansion."

Ah, ternyata ada di rumah—eh, apa?

"Tunggu, maksudnya 'ada' itu bagaimana!? Bukankah tadi katamu ini langka!?"

"Aku membawa bibitnya dari rumah kaca di rumah orang tuaku. Hanya saja, aku berpikir kalau melihatnya berbuah di alam liar itu jarang terjadi."

"Ternyata begitu..."

Meski begitu, aku harus bersyukur karena setidaknya aku tidak perlu lagi meminum sari tanaman herbal yang pahit.

Sebagai catatan tambahan, beberapa hari kemudian setelah mengetahui harga pasar buah Marubio, aku jadi tidak sanggup meminum sari buah ini lagi dalam arti yang berbeda.





Kata Penutup

Idra: "Terima kasih sudah membeli buku Reinkarnasi Kedua kali lipat volume 8 ini—!"

Penulis: "Waduh!? (Dialog pembukaku dicuri!)"

Mofumofu: "Biku-biku!? (Dialog pembukaku juga dicuri bagian 2!)"

Idra: "Halo! Aku Idra, kakaknya Megurielna!"

Ibu Meguri: "Aku ibunya."

Raja: "Aku ayahnya."

Bertiga: "Terima kasih sudah menjaga putri/adik kami."

Penulis: "Ah, ini tipe adegan di mana nanti putri mereka bakal merasa malu lalu bertengkar dengan orang tuanya."

Mofumofu: "Ngomong-omong, aslinya Idra tidak tahu kalau Meguri adalah adiknya, tapi karena ini Kata Pengantar, kita abaikan saja bagian itu."

Idra: "Karena itulah, masalah di negara kami berkurang satu lagi! Horeee!"

Mofumofu: "Semangat sekali putri yang satu ini."

Idra: "Kan ini Kata Pengantar! Lagipula kalau di istana aku harus menjaga tata krama!"

Penulis: "Apa aku tidak salah ya memberikan golem yang bisa bergerak bebas kepada putri ini..."

Mofumofu: "Dia pasti bakal jadi hakim jalanan yang suka mengamuk. Eh, malah sudah kejadian."

Ibu Meguri: "Bicara serius, kali ini benar-benar rentetan perkembangan yang sangat menguntungkan bagi kerajaan kami."

Raja: "Umu. Golem yang bisa menjadi pengganti anggota keluarga kerajaan, penyelesaian masalah Dataran Korosi (yang dulunya Hutan Magic Beast), lalu ramuan yang bisa menetralkan racun monster. Tak terhitung banyaknya."

Mofumofu: "Tanpa disadari, ini adalah pencapaian yang paling menguntungkan negara dibandingkan sebelumnya, ya."

Idra: "Hum-hum~ besok enaknya ngapain ya pakai golem."

Mofumofu: "(Mengabaikan ucapan Idra) Omong-omong, apakah dengan ini Meguri sudah benar-benar bebas?"

Ibu Meguri: "Tidak, meskipun secara publik Megurielna tidak terlibat, dia tetap terikat pada negara. Jika diperlukan, kami akan meminta bantuannya. Hal yang sama berlaku bagi cucu Imam Besar Hidinos."

Raja: "Umu. Meskipun statusnya tidak resmi, Megurielna tetaplah anggota keluarga kerajaan. Tapi ya, membiarkannya bebas justru jauh lebih menguntungkan bagi negara (menatap jauh)."

Idra: "Kembali ke topik, selayaknya Kata Pengantar, apakah ada hal yang sulit selama mengerjakan volume 8 ini?"

Penulis: "Hatiku hampir patah karena banyak sekali poin koreksi dari editor soal kontradiksi detail pada pengaturan ceritanya."

Mofumofu: "Itu pasti karena cara penjelasanmu yang membingungkan."

Penulis: "Revisi itu merepotkan."

Mofumofu: "Semua penulis juga merasakan hal yang sama."

Penulis: "Lalu, meski mereka karakter kunci, karena jatah tampil Meguri dan Norb sedikit, aku jadi terburu-buru menyiapkan adegan untuk menambah kemunculan mereka. Aku akan menyiapkan momen utama bagi Meguri dan yang lain di kesempatan berbeda."

Mofumofu: "Jatah tampilku juga bertambah lho—!"

Penulis: "Kenapa juga aku malah menulis sampai dua episode tentang aksimu, ya."

Mofumofu: "Soalnya aku kan karakter populer."

Penulis: "Tidak, kalau soal popularitas, Jairo lebih..."

Jairo: "Apa aku akan jadi tokoh utama di bab selanjutnya!?"

Mofumofu: "Aku merasa baru saja melihat ilusi yang sangat berisik..."

Penulis: "Yah, itu tergantung popularitas nantinya. Kalau pihak Earth Star menerima banyak surat atau email yang meminta episode khusus untuk karakter lain, mungkin aku akan menulis cerita di mana mereka jadi tokoh utamanya."

Mofumofu: "Si berisik itu memang punya aura tokoh utama yang kuat, sih."

Ibu Meguri: "Bagi negara, orang seperti dia yang aktif di garis depan sangatlah membantu. Fakta bahwa kita memiliki petualang hebat akan membuat rakyat senang."

Raja: "Dia menjadi pahlawan yang bisa diandalkan, kebanggaan rakyat, dan menjadi harapan bahwa rakyat biasa pun bisa meraih kejayaan jika memiliki kemampuan. (Tapi kalau dia sampai membuat semua putri bangsawan jatuh cinta padanya, itu bakal merepotkan dengan cara yang berbeda, sih)."

Idra: "Ngomong-omong, meskipun Rex banyak beraksi, namanya tidak terlalu dikenal, ya? Kenapa begitu?"

Penulis: "Dalam kasus Rex, dia sendiri sudah bilang ke Serikat Petualang kalau dia tidak mau menonjol. Serikat memang tidak punya kewajiban untuk melindungi petualang secara berlebihan, tapi untuk petualang Rank S, memberikan perlakuan khusus lebih menguntungkan. Selain itu, aksinya terlalu di luar nalar, jadi meskipun orang sekitar menyebarkannya, banyak yang tidak percaya. Kalau mata-mata melaporkan aksinya, mereka mungkin cuma bakal ditepuk bahunya dengan tatapan iba lalu disuruh ambil cuti liburan karena dianggap stres."

Mofumofu: "Saking kuatnya sampai aksinya tidak dipercayai itu menyedihka—eh, dia sama sekali tidak sedih."

Penulis: "Tentu saja mereka yang melihatnya langsung tidak punya pilihan selain percaya. Dengan begitu, yang tersisa hanyalah fenomena bahwa masalahnya telah selesai."

Ibu Meguri: "Hal seperti ini sangat merepotkan saat membuat laporan karena faktanya sulit dikonfirmasi."

Mofumofu: "Ngomong-omong, di volume ini akhirnya sang pahlawan wanita berhenti jadi manusia, ya. Dia bisa menang solo melawan Iblis."

Penulis: "Masih manusia, kok! Tapi kalau soal kekuatan, dia memang sudah berada di level yang bisa menang melawan Iblis zaman sekarang, asal tidak lengah."

Idra: "Bagaimana dengan Meguri!? Apa Meguri juga bisa menang solo!?"

Penulis: "Tergantung kekuatan Iblisnya, tapi bagi Meguri dan yang lain, menang solo itu sulit karena kurangnya pengalaman tempur nyata. Liliera itu tipe yang merangkak dari bawah sambil bersusah payah menaikkan Rank-nya, sedangkan Meguri dan yang lain sudah terbiasa dengan metode pelatihan curang ala Rex sejak awal, jadi kemampuan adaptasi mereka terhadap situasi tak terduga masih kalah."

Mofumofu: "Tapi ya, hampir semua masalah bisa mereka hancurkan berkat pendidikan curang si Rex itu, sih."

Penulis: "Baiklah, sepertinya sudah waktunya untuk berpisah."

Mofumofu: "Sampai jumpa di volume 9!!"

Semuanya: "Terima kasih atas kerja kerasnya—!"

Idra: "Nah, ayo kita pergi membasmi monster dan penjahat—!"

Mofumofu: "Jangan pergu woy—!"



Previous Chapter | ToC | End

0

Post a Comment

close