Chapter 174
Aug Sang Hitam Pekat
◆ Aug ◆
"Tunggu,
Kapten!"
Saat aku
memacu kudaku menuju gerombolan Orc, suara para bawahanku terdengar dari
belakang.
"Kami
juga akan bertarung!"
"Dasar
bodoh, apa kalian tidak lihat apa yang ada di depan sana? Kalian bisa mati, tahu!"
Mau ikut
bertarung? Apa mereka sudah gila dan siap mati?
"Kalau
bicara soal itu, Anda juga sama, kan! Jangan berkata hal yang tidak asyik seperti
mau pergi sendirian!"
Meski
tubuh mereka gemetar, para bawahanku berteriak lantang menyatakan akan
bertarung bersamaku.
"Kalian..."
Mendengar
kata-kata teguh mereka, mau tak mau dadaku terasa hangat.
"Ngomong-ngomong,
siapa kakek-kakek misterius di belakang sana?"
Tiba-tiba aku
menyadari keberadaan sekelompok kakek-kakek asing yang berdiri di belakang
mereka.
"Apa yang
kau bicarakan? Bukannya kau sendiri yang memanggil kami?"
"Eh?
Aku?"
Aku yang
memanggil? Apa maksudnya?
"Itu
lho, Anda bilang carilah para pemburu sebagai bantuan untuk mencegat monster
terbang," jawab salah satu bawahanku.
Ah, benar
juga. Aku memang pernah bilang begitu tadi.
"Ah, maaf
ya, Kek. Rencana itu dibatalkan. Semuanya akhirnya diputuskan untuk melarikan
diri."
Namun, para kakek
itu menggelengkan kepala.
"Tidak bisa
begitu. Bagaimanapun, monster-monster itu harus ditahan, kalau tidak desa kami
juga akan diserang. Cucuku yang tadi ikut menjual hasil buruan sudah pergi
memberi tahu desa, jadi aku harus mengulur waktu sampai orang-orang di desa
sempat kabur."
"Lagipula,
kami juga terkesan dengan kata-katamu tadi."
"Benar,
benar. Anak muda... atau sudah bukan anak muda lagi? Yah, pokoknya kau yang
masih cukup muda saja berani mempertaruhkan nyawa. Kami yang sudah tua ini juga
harus mempertaruhkan nyawa demi yang muda."
"Kalian
semua..."
Begitu ya.
Kakek-kakek ini juga sudah memantapkan hati untuk bertarung demi melindungi apa
yang mereka cintai.
Padahal aku tadi
memberikan perintah evakuasi ke warga karena berpikir kalau keadaan mendesak
aku bisa kabur ke luar negeri, jadi aku merasa agak bersalah...
"Lagi pula,
dengan kaki tua kami, kami hanya akan jadi penghambat kalau ikut lari. Lebih baik kami berdiam di atas
tembok dan memanah monster terbang yang datang, kan? Biar urusan monster di bawah kami serahkan pada
kalian."
"Ouh!
Serahkan saja pada kami, Kek!"
Bawahanku yang
terharu menjawab dengan penuh semangat atas tekad para kakek tersebut.
"Hahaha!
Sebenarnya aku sudah lama ingin mencoba memanjat ke atas tembok pertahanan
ini!"
"Padahal
dulu kau masuk ke pos penjagaan cuma kalau habis berulah dan mau dijebloskan ke
sel bawah tanah saja."
Kakek-kakek itu
tampak bersemangat, tapi menurutku itu semangat yang agak dipaksakan.
"Dengarkan
ya, pertempuran ini tujuannya hanya untuk mengulur waktu sampai semua orang
kabur. Kalian tidak perlu bertarung sampai mati."
Aku berhenti
sejenak dan menatap wajah mereka semua satu per satu.
"Kalian akan
menunggang kuda dan maju ke depan para Orc. Setelah itu, berpencarlah ke kiri
dan kanan untuk memancing mereka. Jika berhasil memancing mereka, kaburlah
sambil menjaga jarak agar tidak terlalu dekat tapi tidak terlalu jauh."
"Kami tidak
bisa naik kuda, jadi kami akan menahan mereka di sini sampai akhir."
"Tidak, jika
musuh sudah sangat dekat, kalian segera masuk ke sel bawah tanah di pos
penjagaan dan kunci pintunya. Jika beruntung, kalian bisa selamat."
Setelah
mengatakan itu, aku menyerahkan kunci sel bawah tanah kepada para kakek itu.
"Hoh,
sekarang malah disuruh masuk penjara sendiri, ya?"
"Hahaha! Tak
disangka penjara yang tadinya untuk mengurung malah akan jadi pelindung kita.
Memang benar kata orang, panjang umur itu ada gunanya!"
"Kalau kita
pura-pura mati, para Orc mungkin akan mengira kita mayat yang mati karena usia
tua, kan?"
"Benar
sekali! Mana ada Orc yang mau memakan mayat kakek kerempeng seperti kita!"
"""Wahaha!
Hahaha!"""
Para kakek itu
tertawa riang, lalu dengan ekspresi serius mereka segera menuju ke pos
penjagaan.
"Kalau
begitu, kalian juga berjuanglah, ya?"
"Kalian juga
jangan sampai mati, Kek."
Setelah berpisah
dengan mereka, kami menaiki kuda yang tertambat di belakang pos penjagaan.
"Baiklah,
kalian semua! Mari kita beri mereka pelajaran!"
"""SIAP,
KAPTEN!!"""
Okh, ayo maju,
para Orc!
◆ Bawahan Aug ◆
"Haha, ini
gila."
Begitu keluar
dari kota, kami merasa ngeri melihat pemandangan luar biasa di depan mata. Di
sana terbentang lautan Orc yang memenuhi jarak pandang.
"Si
Berengsek itu... bagaimana bisa dia membasmi Orc sebanyak ini
sendirian..."
Kapten Aug
bergumam lirih melihat pemandangan itu. Membasmi pasukan Orc sebanyak
ini?
Apa yang dia maksud adalah Petualang Rank S itu?
"Kapten!
Penutupan gerbang selesai!"
Seorang
rekan yang turun menggunakan tali dari atas tembok melapor sambil menaiki
kudanya.
"Kerja
bagus. Dengan begini, jalan pulang kita juga sudah tertutup."
"Tapi,
dengan jumlah sebanyak itu, apa kita benar-benar bisa bertahan hidup?"
"Yah,
mustahil sih kalau melihat yang satu itu..."
Aku
mengerti perasaan rekan-rekanku yang gentar melihat gerombolan besar di depan
mata.
Aku pun merasakan
hal yang sama. Sebanyak apa pun tujuannya hanya untuk memancing, rasanya
mustahil bisa selamat melawan jumlah sebanyak itu.
"Kalau
begitu, apa kalian mau lari bersama warga kota sekarang? Mumpung masih sempat,
aku bisa minta para kakek tadi membuka gerbang."
Mendengar
Kapten Aug bilang kami boleh lari, sejujurnya kami merasa sedikit lega. Tapi, setelah sampai di sini, kami tidak
mungkin lari.
"A-apa yang
Anda katakan! Kami adalah unit Aug! Tentu saja kami akan bertarung bersama
Kapten!"
"Benar! Kami
tidak akan membiarkan Kapten bertarung sendirian!"
Benar, itulah
perasaan jujur kami. Waktu itu, meski itu adalah perintah, jauh di dalam hati
kami merasa lega saat disuruh lari meninggalkan Kapten demi menghindari monster
itu.
Kami berpikir
sebagai orang biasa kami tidak akan sanggup melawan monster itu.
Kami berpikir
daripada kami menjadi beban, Kapten akan lebih mudah bertarung sendirian.
Lagipula Kapten adalah mantan Rank A.
Tapi itu adalah
pemikiran yang salah. Kapten juga manusia. Setelah kejadian itu, sosok Kapten
yang kembali berlumuran darah.
Meski nyawanya
selamat, zirah naga kebanggaannya hancur berantakan.
Itu membuat kami
merasa seolah-olah kenyataan bahwa kami telah membuang Kapten dan lari sendiri
sedang ditampar ke wajah kami.
Karena itulah
kami bersumpah. Kali ini kami tidak akan meninggalkan Kapten lagi. Kami bukan untuk dilindungi, tapi
kami akan bertarung bersama Kapten!
"Ya ampun,
kalian keras kepala sekali ya."
Kapten tertawa
seolah merasa heran, tapi Kapten sendiri juga sama keras kepalanya. Padahal
dengan kemampuan Rank A, dia bisa saja lari ke mana pun sendirian.
"Baiklah!
Kalau begitu, ayo berangkat, kalian semua!"
"""SIAP,
KAPTEN AUG!"""
Inilah
keberangkatan sesungguhnya dari Unit Aug!
"""UOOOOOOOOOOH!!"""
Kami memacu kuda
menuju gerombolan Orc. Secara bersamaan, belasan Orc memisahkan diri dari
gerombolan dan menerjang ke arah kami.
"Uwah!?
Apa-apaan mereka!? Orc dengan tubuh bagian bawah kuda!?"
"Yang itu
tubuh bagian bawahnya serigala... tapi kelihatannya dia susah berlari."
Sebenarnya
apa-apaan para Orc ini?
"Kapten,
monster tempo hari juga sama, tapi apakah mereka benar-benar Orc!?"
Kami bingung
melihat sosok Orc yang belum pernah kami lihat sebelumnya.
"Entahlah,
aku pun baru pertama kali melihat Orc seperti itu!"
"Bahkan
Kapten pun tidak tahu!?"
Ternyata dunia
ini sangat luas sampai-sampai Kapten yang mantan Rank A pun belum pernah
melihat monster seperti itu.
"Yah,
bagaimanapun juga, lebih baik mereka datang sedikit demi sedikit begini. Mari
kita habisi mereka untuk pembukaan!"
"""DIMENGERTI!!"""
Kapten Aug yang
berada di depan meningkatkan kecepatan menuju Orc berkaki empat itu. Kami pun memacu kuda agar tidak
tertinggal.
"ORA-RA-RA-RA-RA!!"
Lalu,
seekor Orc bertubuh kuda yang memimpin di depan... Orc-Taurus mengayunkan
tombaknya. Kapten Aug menangkis tombak itu dengan pedangnya... tapi...
Sluuut
"""Eh?"""
Tiba-tiba,
tombak Orc-Taurus itu terpotong menjadi dua!
"O-oops!?"
Karena
kehilangan keseimbangan, Orc-Taurus yang tombaknya terpotong itu malah terus
menyeruduk ke arah Kapten.
"Bahaya,
Kapten!"
Kalau begini dia
akan tertabrak tubuh raksasa itu! Kapten dengan panik memutar tubuhnya sambil
mengubah arah kuda, menghindari Orc-Taurus itu dengan selisih yang sangat
tipis.
Di saat itu,
pedang yang masih terhunus menyentuh tubuh si Orc. Dalam posisi tidak seimbang
seperti itu, seharusnya pedang itu akan terlempar ja—
SREEEET!!
Bersamaan dengan suara halus yang sunyi, pedang itu menembus tubuh Orc-Taurus seolah-olah melewati air.
Beberapa detik
kemudian, tubuh bagian atas Orc-taurus beserta separuh lengan bawahnya jatuh
berdebam ke tanah.
“““Ap—!?”””
Tanpa menyadari
tubuh bagian atasnya telah jatuh, bagian bawah yang berupa kuda itu terus
berlari begitu saja.
Maksudku, dia
menebasnya!? Dalam posisi berantakan seperti itu!?
“O-Orc itu
terbelah dua!?”
“Hebat!”
“Benar-benar
satu serangan!”
“Kalian! Jangan
pikirkan serangan pamungkas! Cukup beri luka dan buat mereka naik pitam!
Pokoknya, fokuslah untuk mengacaukan medan perang!”
Mendengar
perintah Kapten, kami bergegas menoleh, dan seketika itu juga kami terkelu
seribu bahasa.
“Oraaa!”
Setiap kali
Kapten mengayunkan pedangnya, para Orc yang datang menyerang tumbang satu demi
satu, terbelah dua dan terhempas ke tanah.
“Katanya tidak
perlu memberi serangan pamungkas... tapi mereka semua sudah mati duluan...”
Kami terperangah
melihat kekuatan Kapten Aug yang sudah seperti dewa perang. Saat Kapten Aug
mengayunkan pedang hitamnya, Orc sekuat apa pun akan terbelah menjadi dua
bersama dengan senjata dan baju zirah mereka.
“Luar
biasa...”
“Benar-benar
seperti badai hitam...”
Melihat
sosok Kapten Aug yang merangsek maju sambil membantai para Orc, kepanikan mulai
menyebar di antara kawanan monster itu.
“Bahaya,
Kapten!”
Tepat
saat itu, sekelompok Orc bersayap menyerang dari atas, mengincar Kapten Aug.
Mereka
merepotkan! Karena bisa terbang bebas di langit, mereka akan langsung melarikan
diri ke atas setiap kali kami mencoba menyerang!
“““Fmuooooo!?”””
Namun,
serangan para Orc terbang itu tidak pernah sampai ke Kapten Aug. Hujan anak panah yang melesat dari
belakang menjatuhkan mereka semua.
“Ini!?”
Saat menoleh ke
belakang, tampak para kakek pemburu sedang menyiapkan busur mereka sambil
melambai ke arah kami.
“Hahaha! Serahkan
babi-babi terbang itu pada kami!”
“Kalian fokus
saja pada musuh yang ada di darat!”
“Terima kasih,
Kek!”
Setelah berterima
kasih pada para pemburu, Kapten Aug menerjang masuk ke barisan utama musuh.
“Kalian tetaplah
berlari mengikuti pinggiran kawanan sesuai rencana! Dengar, jangan pernah
berhenti! Meskipun kuda kalian tewas dan kalian terjatuh, tetaplah berlari! Jika kalian benar-benar terdesak,
masuklah ke sela-sela musuh! Dalam situasi yang sangat rapat, musuh pasti ragu
untuk menyerang agar tidak mengenai teman sendiri! Bahkan Orc monster itu pun
tidak akan bisa menyerang tempat di mana temannya berada...!”
Belum
sempat Kapten Aug menyelesaikan kalimatnya, Orc monster yang berada di tengah
kawanan itu bergerak.
“Apa!?”
Tanpa
diduga, Orc monster itu mengangkat tinjunya dan menyerang kami—sekaligus
menghantam kawanannya sendiri.
“Lariiiiiii!!”
Kami
bergegas melarikan diri dari jangkauan serangan si Orc monster. Sesaat
kemudian, bumi berguncang hebat diiringi suara yang mirip gempa bumi.
“M-Makhluk macam apa dia!?”
Dari bawah tinju yang dihantamkan Orc monster itu, darah
merah mulai merembes keluar.
“Dia menghabisi
temannya sendiri...”
Menyerang tanpa
memedulikan kawan... apa dia tidak punya rasa setia kawan sama sekali!?
“I-Itu
benar, bagaimana dengan Kapten!?”
“Eh?”
Mendengar
ucapan temanku, aku baru menyadari sesuatu. Kapten Aug seharusnya tadi
menerjang ke tengah-tengah kawanan Orc itu.
Itu
berarti, dia berada tepat di pusat serangan si Orc monster. Di tempat yang
dikelilingi oleh para Orc seperti itu, mustahil ada ruang untuk menghindar
seketika.
“Ka-Kapten!?”
Pandanganku
terasa gelap. Jangan-jangan Kapten ikut tewas karena serangan tadi!?
“Padahal
kali ini aku ingin bertarung bersamanya...”
“Apa kami
gagal lagi melindungi Kapten...?”
“Tidak
mungkin...”
“Bumumummu.”
Aku
merasa mendengar suara tawa dari Orc monster itu. Tidak, dia memang benar-benar
tertawa.
Tertawa
karena telah mengalahkan Kapten Aug yang merupakan musuhnya. Kemenangan yang
diraih dengan mengorbankan kawan-kawannya sendiri.
“Jangan
bercanda, dasar babi sialan!”
“Jangan
tertawa setelah menghabisi Kapten bersama kawanmu sendiri!”
“Masih
berlagak jadi bos kawanan, hah!?”
Amarah
mulai membuncah. Amarah terhadap kekejaman musuh, dan amarah terhadap
ketidakberdayaan kami sendiri!
“Pasti
akan kubunuh!”
“Balaskan
dendam Kapten!”
“Ayo
maju, Oraaaa!”
Kami
merangsek maju ke arah Orc monster itu dengan perasaan nekat.
Untungnya,
gerombolan Orc yang tadinya memenuhi pandangan kini terbelah ke kiri dan ke
kanan, ketakutan karena serangan membabi buta bos mereka yang tidak segan
mengorbankan bawahan.
“Yah, berkat itu
jalannya jadi bersih!”
“Bumo mmo mmo
mmo.”
Orc monster itu
tertawa seolah mengejek kami yang tidak tahu diri, lalu kembali mengangkat
lengannya.
Kemudian, sesuatu
yang berwarna merah dalam jumlah besar mengguyur seperti banjir.
“““Uwoh!?”””
Kami
bergegas menghindar dan mengambil jarak.
“Apa itu serangan
jenis baru!?”
“Bukan, lihat
lengannya!”
“Lengan!?”
Mendengar
teriakan rekan setimku, aku melihat ke arah lengan si Orc monster dan
menyaksikan pemandangan yang aneh.
Ternyata, lengan
Orc monster itu telah putus di tengah-tengah. Dan dari ujung lengannya, darah
mengucur deras dalam jumlah banyak. Rupanya itulah identitas asli dari hujan
merah tadi.
“Bu, bumo!?”
Orc monster itu
sendiri tampak bingung dengan apa yang terjadi pada tubuhnya.
“O-Oi, lihat
itu!?”
Saat aku
mengalihkan pandangan ke tanah untuk melihat apa yang terjadi, di sana
tergeletak tangan si Orc monster... tidak, bukan hanya itu. Di sana berdiri...
“Ah, mengejutkan
sekali.”
Ternyata itu
adalah Kapten Aug.
“““Kapten Aug-saaaaaaan!!”””
Hebatnya, Kapten Aug
sama sekali tidak terluka.
“Ba-Bagaimana
caranya selamat dari serangan itu...”
“Lihat,
pedang Kapten Aug!”
“Pedang?
...Apa-apaan itu!? Pedangnya
memanjang!?”
Ya, entah
bagaimana, pedang Kapten Aug telah memanjang hingga berkali-kali lipat dari
ukuran aslinya.
“T-Tidak,
itu bukan pedang sungguhan. Hitam... kegelapan?”
Saat
mendekati Kapten Aug, aku menyadari bahwa itu bukanlah mata pedang sungguhan,
melainkan gumpalan kegelapan yang terpancar dari pedangnya.
“Mungkinkah itu
sejenis sihir penguat?”
“Sihir
penguat? Tapi Kapten Aug seharusnya tidak bisa menggunakan sihir, kan?”
Namun
kenyataannya, pedang Kapten Aug kini diselimuti oleh kegelapan misterius. Tidak salah lagi, itulah yang
memotong lengan si Orc monster tadi.
“Hebat sekali,
Kapten! Pedang apa itu!?”
“Hah? Pedang?
Owaa!? Apa-apaan ini!?”
Mendengar
ucapan rekanku, Kapten sendiri justru berteriak kaget saat melihat pedangnya.
“Eh?
Bukankah itu sihir milik Kapten?”
“T-Tidak,
aku tidak bisa pakai sihir. Ah...
mungkin ini karena pedang ini... ya?”
“Pedang? Jangan-jangan ini Magic Item!?”
“Eh? Ah, tidak, kurasa bukan itu. Yah, memang memakai
material yang agak spesial sih.”
“Material
spesial!? Memangnya material seperti apa!?”
“I-Itu rahasia.
Daripada itu, sekarang kita sedang bertempur! Fokuslah pada pertarungan!”
Be-Benar juga!
Kami sedang di tengah pertarungan melawan Orc monster itu! Kapten turun dari kudanya,
memasang kuda-kuda dengan pedangnya, dan berbalik menghadap si Orc monster.
“Dengar
kalian, aku tidak terlalu paham tapi sekarang adalah kesempatan kita! Dengan
pedang ini, aku bisa melukai monster itu. Karena itu, tolong kalian tahan Orc
lainnya agar aku bisa berkonsentrasi penuh dalam pertarungan!”
“““Dimengerti!!”””
Menerima
perintah Kapten, kami pun bergerak. Dalam pertarungan yang tadinya terasa sangat putus asa ini, kini mulai
terlihat secercah harapan!
Dengan begini,
kami mungkin bisa bertahan hidup!
Dan yang
terpenting, kali ini kami benar-benar bisa berguna bagi Kapten Aug!
“Ora ora,
dasar para Orc! Jangan mengganggu pertarungan Kapten!”
“Lawan kalian
adalah kami!”
“Tidak akan
kubiarkan siapa pun menghalangi Kapten!”
Melihat semangat
kami, para Orc mulai gentar. Kapten, sisanya kami serahkan padamu!
“Bumoooooo!”
Raungan
si Orc monster bergema di medan perang. Sepertinya dia baru menyadari kalau
lengannya telah terpotong.
Dengan
mata yang berkobar karena rasa sakit dan amarah, dia mengayunkan sisa lengannya
sambil menerjang ke arah Kapten Aug.
“Ups!”
Kapten Aug
menghindar tipis dari serangan itu dan bergerak mendekat. Sambil menghindari
serangan musuh, dia menebas lengan si Orc monster dengan kegelapan yang
memanjang dari pedangnya.
“Bumuoooo!?”
Lengan
yang tertebas itu menjadi semakin pendek, dan jeritan si Orc monster pun
membahana di udara.
“Haha! Mana
mungkin aku kena serangan yang sama berulang kali!”
Setiap kali
Kapten Aug mengayunkan pedangnya, percikan darah merah menari-nari di udara
bagaikan bunga yang mekar.
“Bumoooooon!”
Sebagai ganti
lengannya yang sudah memendek, Orc monster itu mengangkat lengannya yang masih
utuh.
“Heh, serangan
yang sama tidak akan mempan! Entah kenapa sejak tadi tubuhku terasa sangat
ringan!”
Sambil membuat
zirah hitamnya berkilauan, Kapten Aug menghindari serangan Orc monster itu
dengan kecepatan yang luar biasa. Namun, ternyata itu hanyalah pengalihan.
Tiba-tiba, Orc
monster itu menghujamkan kakinya ke tanah, lalu mengeruk tanah dalam jumlah
besar layaknya sekop dan melemparkannya ke arah Kapten Aug.
“Kapten!”
“A-Aku tidak
apa-apa! Cuma... begini saja! Cuma... tanah!”
“Bukan itu
Kapten! Kakinya datang!”
“Eh?”
Serangan lengan tadi adalah pancingan. Begitu pula dengan serangan tanah yang
dilemparkan. Tujuan utama makhluk itu adalah...
“Dia berniat
menutupi pandangan Kapten dengan tanah itu!”
Di saat Kapten
tidak bisa melihat sekeliling karena terhalang tumpukan tanah, kaki si Orc
monster menghantam tepat dari atas.
“““Kaptennnnnnn!!”””
Gawat! Tidak
kusangka monster itu bisa berpikir sejauh itu! Kalau begitu, Kapten tidak bisa
melihat serangan, tidak bisa menghindar, bahkan tidak bisa membalas dengan
pedangnya!
“Bumumut!”
Orc monster itu
tertawa, yakin bahwa kali ini dia benar-benar telah membunuh sang Kapten.
“Ah,
tidak mungkin. Kapten...”
Kali ini
semuanya benar-benar berakhir.
““““Bumooooooo!””””
Melihat
Kapten Aug tumbang, para Orc di sekitar bersorak merayakan kemenangan. Mereka
bersukacita karena merasa tidak ada lagi yang bisa mengalahkan bos mereka.
“Bumoo!”
Para Orc
yang kegirangan mulai menyerbu ke arah kami. Apa kami harus mundur? Tapi
kalaupun kabur, sudah jelas kami akan terkejar oleh Orc monster itu dan para
Orc terbang. Namun, meskipun begitu...
“Sial,
mana bisa aku menyerah!”
“Benar!
Mana sudi aku mati sebelum memberi pelajaran pada monster itu!”
“Jangan
remehkan manusia!”
“““Uwoooooo!!”””
Kami
merjang maju ke arah Orc monster itu dengan tekad bulat untuk mati.
“Bumo mmo
mmo.”
Orc
monster itu mengejek kami yang dianggapnya sebagai orang bodoh yang tidak tahu
diri, lalu dia mengangkat kaki yang tadinya menginjak Kapten Aug.
Seolah
ingin berkata bahwa dia akan membuat kami mati dengan cara yang sama seperti
Kapten. Jangan bercanda!
“Ah,
kaget aku. Tiba-tiba gelap gulita, aku sempat bingung ada apa.”
“““Eh?”””
“Bumo?”
Di
telinga kami yang sudah siap melakukan serangan bunuh diri terakhir, terdengar
suara yang sangat santai dan kurang tegang.
Saat kami
melihat ke arah sumber suara, di sana berdirilah Kapten Aug—yang seharusnya
sudah hancur terinjak—dengan tubuh yang diselimuti kegelapan.
“Eh? Kapten?
Kenapa bisa?”
“Bumo? Bumo mmo?
Bumumummu?”
Orc monster itu
pun mengeluarkan suara kebingungan seolah berkata, "Eh? Bagaimana
bisa?", sambil melihat bergantian antara telapak kakinya dan sosok Kapten Aug.
“Ah, ada celah!”
Dengan suasana
yang sangat santai, Kapten Aug melesat maju. Dia menebas kaki tumpuan si Orc
monster yang sedang berdiri dengan satu kaki itu secara horizontal menggunakan
pedang hitamnya yang memanjang.
“Bu,
bumomoooooo!!”
Karena kaki
tumpuannya terputus, tubuh raksasa Orc monster itu jatuh menghantam tanah.
““““““Bumoooooo!?””””””
Akibatnya, banyak
sekali Orc di sekitarnya yang ikut tertindih di bawah tubuh bos mereka.
“Bumoooooo!”
Rasa sakit karena
kehilangan lengan dan kaki membuat Orc monster itu mengamuk membabi buta.
Akibatnya, lebih
banyak lagi Orc yang tewas mengenaskan di tangan—bukan, di bawah tubuh kawan
mereka sendiri.
“Haha, ini bagus.
Oke kalian, biarkan kawanan itu diurus oleh si Orc monster. Kita kejar para Orc yang mencoba
melarikan diri!”
“““M-Mengerti!”””
Meski
sama sekali tidak paham situasinya, yang jelas Kapten Aug selamat dan Orc
monster itu sudah lumpuh lebih dari separuh.
Dengan
satu kaki dan satu lengan yang hilang, mustahil baginya untuk mengejar penduduk
kota.
Kalau
begitu, prioritas utama adalah seperti yang dikatakan Kapten: jangan biarkan
para Orc yang kabur berkumpul kembali di tempat lain.
“Dengar
kalian! Seperti yang kukatakan tadi, tidak perlu memberi serangan pamungkas!
Tapi kali ini, incar kaki mereka supaya tidak bisa kabur! Sisanya, si Orc monster itu yang akan membantu
kita!”
“Hahaha!
Benar-benar hebat Kapten Aug, sampai-sampai menjadikan musuh sebagai sekutu!”
“Jangan-jangan ini juga sudah direncanakan? Sengaja
memancing serangan Orc monster itu?”
“Eh?
Tidak, bukan begitu...”
“Luar biasa! Berarti tadi sengaja membiarkan diri terkena
serangan karena yakin bisa menahannya, ya!”
“Ti-Tidak,
buk...”
“Uwoooo!
Benar-benar Kapten Aug! Hebat sekali!”
“Luar
biasa mantan petualang Rank A. Berarti perlengkapan itu adalah kartu as yang
disimpan untuk saat-saat darurat seperti ini.”
“Begitu
rupanya, zirah naga itu hanyalah cadangan, dan zirah kegelapan misterius inilah
kartu as Kapten Aug yang sebenarnya!”
“E-Eeeh...
i-iya. Begitulah... sepertinya...”
Melihat
teori kami, Kapten Aug akhirnya menyerah untuk mengelak dan mengakui hal itu.
“Begitu rupanya,
Kapten! Tapi jahat sekali merahasiakannya dari kami! Kami benar-benar ketakutan setengah mati
mengira Kapten sudah tewas!”
“Maaf, maaf.
Karena ini kartu as rahasiaku, aku tidak ingin menggunakannya sembarangan.
I-Ini perlengkapan spesial! Aku belum pernah menggunakannya dengan serius, jadi
aku tidak tahu takarannya!”
“““Ooooh!”””
“Se-Sekarang
kalian! Jangan biarkan para Orc itu lolos!”
“““Siap!!”””
Kami
terus menyerang para Orc yang melarikan diri dengan pedang, tombak, dan
sesekali tembakan dukungan dari belakang. Selama mobilitas mereka dilumpuhkan,
si Orc monster akan menghabisi mereka dengan sendirinya. Bisa memikirkan
strategi medan perang sejauh ini... Kapten Aug benar-benar ahli taktik yang
luar biasa!
“Hebat
sekali pedang Kapten Aug, para Orc itu terbelah seperti mentega!?”
“Iya, dan zirah itu juga. Bukan sekadar pelindung, dia bisa
lari lebih cepat dari kuda pasti karena zirah itu.”
“Di mana dia mendapatkan barang seperti itu...”
“Pasti di dasar dungeon atau reruntuhan yang sangat
berbahaya. Perlengkapan itu adalah bukti nyata bahwa Kapten dulunya petualang
kelas atas.”
“Kapten
kita memang benar-benar hebat!”
“Kalau begitu
kita tidak boleh kalah! Mari kurangi beban Kapten sebanyak mungkin!”
“Tentu saja! Kita
harus bertarung dengan gagah sebagai bawahan Aug si Hitam Legam!”
“Hitam Legam...?
Apa itu?”
Mendengar ucapan
rekan kami, kami semua memiringkan kepala.
“Sosok Kapten
itu! Sosoknya yang menyelimuti diri dengan kegelapan dan menumbangkan para Orc
dengan kekuatan absolut! Nama 'Aug si Hitam Legam' sangat cocok untuknya, kan!?”
“Benar
juga...”
“Omong-omong,
kudengar petualang kelas atas biasanya punya julukan sendiri. Seperti Risou si
Taring Ganda dari Rank S, Rody si Badai Cerah, Santa Foca, Ramiez si Penyihir
Langit, dan orang yang baru masuk Rank S yang dijuluki si Pemangsa Raksasa...”
“Berarti
Kapten juga selevel dengan mereka! Mengingat dia baru saja mengalahkan monster
sebesar itu!”
Rekan
kami menunjuk ke arah tubuh raksasa si Orc monster yang sedang meronta-ronta
karena kehilangan tangan dan kaki.
“Pasukan Aug
si Hitam Legam... tidak buruk juga.”
“Ya,
Pasukan Aug si Hitam Legam!”
“Ayo,
Pasukan Aug si Hitam Legam! Habisi
semua Orc itu!”
““Ooooh!””
◆Aug◆
Uwooo!?
Apa yang sebenarnya terjadi!?
Tadi aku sangat kaget melihat tangan raksasa si Orc monster
jatuh menimpaku, jadi aku refleks mengayunkan pedang di tanganku.
Itu tindakan insting yang sia-sia di depan tubuh raksasa
seperti itu, tapi kali ini justru berhasil.
Entah bagaimana, kegelapan hitam menyebar dari pedangku dan
memotong tangan si Orc monster. Berkat itu, aku tidak jadi gepeng tertindih tangan raksasa itu.
Ini semua
berkat pedang yang dibuatkan Tuan Goldov. Yah, meski aku tidak tahu kenapa ada
benda hitam keluar dari pedang biasa.
...Hah,
jangan-jangan ini adalah racun mematikan dari Great Demon Beast Venom Beat!?
Apa ini
aman!?
Kalau
dipikir-pikir, saat menyerahkan perlengkapan ini, sikap Tuan Goldov memang agak
aneh. Apa jangan-jangan dia terkena racun dari materialnya!?
Ta-Tapi
Lex bilang dia sudah melakukan detoksifikasi dengan benar, jadi seharusnya
tidak apa-apa, kan? Lagipula, aku tidak mungkin melepas perlengkapan ini di
tengah pertempuran.
Aku
percaya padamu, Lex!
Meski
merasa ngeri, aku tetap bertarung melawan Orc monster itu sambil memercayai Lex
dan Tuan Goldov. Mengejutkannya, ketajaman pedang ini benar-benar gila.
Pedang
ini memotong lengan yang diayunkan si Orc monster dengan sangat mudah. Oke, kalau begini aku bisa menang! Tubuhku
juga terasa sangat ringan!
Tapi kemudian
pandanganku tertutup karena serangan pengalih perhatian tanah dari si Orc
monster.
Gawat! Saat aku
berpikir begitu, tiba-tiba sekelilingku menjadi gelap gulita.
Apa?
Apa yang terjadi?
Uwooo, tubuhku
tidak bisa digerakkan!?
Apa ini
benar-benar racun Venom Beat?
Namun tak lama
kemudian, sekeliling kembali terang dan tubuhku bisa digerakkan lagi.
Dan entah kenapa
si Orc monster sedang berdiri satu kaki, jadi aku manfaatkan saja kesempatan
itu untuk menebas kakinya.
Dan lagi-lagi,
satu tebasan langsung memotong kaki yang setebal batang pohon itu menjadi dua.
Sebenarnya ada
apa dengan pedang ini?
Tanpa kusadari,
bukan cuma pedang, dari zirahnya pun keluar asap hitam. Apa perlengkapan ini
benar-benar aman? Aku jadi takut sendiri.
Bagaimanapun,
karena si Orc monster mengamuk kesakitan, formasi musuh jadi berantakan. Aku
berniat memanfaatkan ini untuk mengurangi jumlah Orc, tapi...
“Jangan-jangan
ini juga sudah direncanakan? Sengaja memancing serangan Orc monster
itu?”
Tiba-tiba para bawahanku salah paham dan mengira aku sengaja
memancing serangan musuh dengan perhitungan matang. Bukan begitu tahu!
Aku sendiri tidak tahu kalau perlengkapan ini punya
kemampuan seperti ini, dan aku tadi mengira pertarungan ini bakal jauh lebih
berbahaya!
Tapi aku tidak bisa menjawab dengan jujur. Soalnya para
bawahanku menatapku dengan mata yang sangat berbinar-binar!
Lagipula, di situasi seperti ini, mana mungkin aku bilang,
"Sebenarnya aku tidak berpikir sedalam itu, lho. Ini juga keluar asap
hitam yang tidak jelas, dan aku sendiri merasa ngeri memakainya tapi karena
tidak punya pilihan lain ya kupakai saja."
Kalau aku jujur di tengah medan perang begitu, moral pasukan
pasti langsung anjlok, dan mereka pasti bakal menjauhiku karena memakai
perlengkapan yang tidak jelas keamanannya!
Jadi dengan terpaksa, aku berpura-pura bahwa semuanya
berjalan sesuai rencana.
Penjelasan
detailnya nanti saja setelah perang selesai. Lebih tepatnya, setelah aku
menanyakan detail perlengkapan ini kepada Tuan Goldov!
Lalu nanti aku
akan mengarang cerita kalau sebenarnya Tuan Goldov yang melarangku
membocorkannya agar ceritanya nyambung! Uwahahaha! Dengan begitu aku tidak berbohong,
kan! Iya, kan!
“Ayo,
Pasukan Aug si Hitam Legam! Habisi
semua Orc itu!”
““Ooooh!””
“Hah!? Hitam
Legam? Apa-apaan itu!?”
“Legenda
Kapten Aug dimulai sekarang!”
Jangan seenaknya memulai legenda aneh begitu, dong!!



Post a Comment