NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Nido Tensei shita Shounen wa S-Rank Boukensha Toshite Heion ni Sugosu ~Zense ga Kenja de Eiyuu Datta Boku wa Raise dewa Jimi ni Ikiru~ Volume 7 Chapter 25

Chapter 137

Selamat Tinggal, Negeri Naga


Setelah meninggalkan kota Tatsutron, kami mendaratkan Golden Dragon di daerah berbatu dengan jarak pandang buruk di dekat Puncak Naga.

Saat kami sedang bersembunyi, Ririera-san dan yang lainnya datang dari arah kota Tatsutron. Dari langit, terlihat juga sosok Ryune-san yang menunggangi Silver Dragon.

"Kalian semua, kerja bagus."

"Rex-san juga, kerja bagus. Tadi kamu terlihat keren sekali, lho, Kaisar Naga-sama."

Ririera-san menyeringai nakal, menggodaku yang tadi berpura-pura menjadi Kaisar Naga.

"Tolong jangan menggoda begitu. Itu kan cuma akting."

Ya, setelah pertandingan berakhir, kami yang bingung memikirkan langkah selanjutnya akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa sebaiknya Kaisar Naga sendiri yang menyerahkan takhta kepada Ryune-san.

Dan dengan membuat seolah-olah Kaisar Naga memiliki misi yang sangat luar biasa, tidak akan terasa aneh jika Kaisar Naga tidak pernah menampakkan diri lagi di masa depan.

Sip, dengan ini identitas peserta misterius Tiran akan tetap menjadi misteri selamanya!

"Dengan ini semua masalah sudah selesai... kan?"

"Iya! Karena Master Rex sudah menangkap hampir semua kubu anti-Kaisar Naga di ibukota, aku rasa tidak akan ada yang menghalangi jalanku untuk naik takhta!"

Tiba-tiba, Ryune-san menundukkan pandangannya.

"Ada apa, Ryune-san?"

"Ah, tidak, itu... Aku dengar dari pihak pendukung Kaisar Naga bahwa posisi-posisi penting di ibukota dikuasai oleh kubu lawan. Aku khawatir, apakah negara ini akan baik-baik saja setelah aku naik takhta nanti..."

Ah, aku mengerti. Ryune-san takut kekuatan negara akan menurun sementara karena dia menyingkirkan kubu anti-Kaisar Naga.

"Memang, jika para bangsawan korup memonopoli jabatan, mereka pasti memonopoli cara kerjanya juga. Sekalipun orang jujur yang menggantikannya, butuh waktu bagi mereka untuk terbiasa. Terutama putusnya hubungan diplomasi dengan negara lain itu yang merepotkan."

Secara mengejutkan, Meguri-san menjabarkan masalahnya dengan kata-kata.

"Meguri-san tahu banyak ya."

"Karena aku pencuri, informasi itu penting. Banyak bangsawan yang berhubungan erat dengan dunia bawah."

Begitu ya. Alasan dia yang berprofesi sebagai pencuri tahu banyak soal bangsawan adalah karena dia paham sisi gelap mereka.

Soal dunia bawah, di kehidupan sebelumnya pun aku tidak terlalu banyak berurusan, sih.

"Selain itu, meskipun aku naik takhta, aku tidak tahu apakah para penguasa wilayah di luar ibukota akan langsung tunduk. Paling buruk, ada kemungkinan para penguasa dari kubu anti-Kaisar Naga akan mengibarkan bendera pemberontakan."

"Hmm, aku rasa kalau ada Silver Dragon, hal itu bisa diatasi, tapi..."

"Jika kamu diracun atau dibunuh secara diam-diam di tempat yang tidak ada Silver Dragon, tidak ada yang bisa dilakukan."

"Ah, benar juga."

Meguri-san menunjukkan masalah dalam mengandalkan naga setelah mendengar perkataan Mina-san.

"Hiiiii... Se-sepertinya memang lebih baik kalau Putri Naga yang duduk di takhta..."

"Lho, kan kamu Putri Naganya, Ryune."

"Iya sih, tapi..."

Ryune-san yang ketakutan mendengar percakapan Meguri-san dan yang lain tampak pucat dan mencoba menyerahkan posisi Putri Naga kepada Ririera-san, namun Ririera-san menolaknya dengan senyum yang lebar.

Lagipula, bukankah tidak boleh menyerahkannya begitu saja, Ryune-san?

"Master Rex! Apa ada cara bagus supaya tidak terjadi pemberontakan atau pembunuhan diam-diam!?"

"Um... kalau begitu, ini kalung penawar racun dan... ah benar juga, aku akan memberikan hak komando atas para Golem yang kutinggalkan untuk menjaga keamanan di Tatsutron dan ibukota kepada Ryune-san. Mereka bisa terus bekerja tanpa istirahat, jadi bisa digunakan sebagai pengawal darurat sampai negara stabil."

"Solusinya keluar begitu saja!? Maksudku, apa tidak apa-apa, Master Rex!? Item sihir penawar racun dan Golem yang patuh pada manusia itu kan item sihir yang sangat mahal!?"

"Tidak, tidak, itu bukan sesuatu yang hebat kok. Kalau melawan monster kuat, mereka hanya bisa mengulur waktu saja. Kalung penawar racun itu juga tidak mempan terhadap racun mematikan yang sudah diracik khusus, jadi itu hanya untuk penenang saja."

Ya, aku sempat bingung mau dikemanakan Golem sebanyak itu, jadi kalau Ryune-san mau mengambilnya, itu pas sekali. Item sihir penawar racun juga bisa kubuat dengan cepat kalau aku mau.

"Bukan begitu, item sihir itu sendiri saja sudah langka... Pasukan Golem itu adalah harta karun tingkat tinggi yang bisa membuat rakyat jelata langsung naik pangkat jadi Count, tau!?"

Ahaha, berlebihan sekali. Golem level ini biasa digunakan sebagai sistem keamanan di negara-negara kecil di zamanku dulu. Memang di zaman sekarang beberapa item sihir dan sihir sepertinya sudah hilang, tapi aku rasa di negara besar hal ini tidak terlalu langka.

"Ini, kalau memakai cincin ini, kamu bisa memberi perintah pada para Golem."

Aku menyerahkan item sihir komando cadangan dan kalung penawar racun kepada Ryune-san.

"Hawawa... menerima benda luar biasa seperti ini... aku benar-benar berhutang budi banyak pada Master Rex."

Ryune-san mengucapkan terima kasih dengan mata yang berkaca-kaca.

"Tidak, aku hanya mengembalikan prinsip teknik Seni Tombak Langit Aliran Kaisar Naga yang kuterima dari guruku. Ini hanyalah bonus."

"Bo-bonusnya terlalu raksasa... Ta-tapi bagaimanapun juga, aku benar-benar berterima kasih pada Master Rex. Jika suatu saat Master Rex mengunjungi negara ini lagi, kami akan menyambutmu sebagai tamu kehormatan negara!"

"Wah, kalau itu aku mau menolak saja."

"Ditolak mentah-mentah!?"

Menjadi tamu negara itu pasti hanya akan berakhir dengan urusan yang merepotkan. Aku lebih suka menjadi orang biasa saja.

Kemudian Ryune-san saling bertukar kata perpisahan dengan yang lainnya.

"Putri Naga-sama, aku juga sangat berterima kasih atas bantuannya."

"Sudah kubilang, Putri Naganya itu kamu."

"Bagi Jairo-san dan yang lain, kalian adalah rekan yang melihat neraka bersamaku saat latihan, itu benar-benar menjadi penguat hatiku!"

"Oh! Kami juga senang bisa latihan bersamamu!"

"Atau lebih tepatnya, kami dianggap korban yang terseret ya."

"Malah kita yang menyeretnya juga sih."

"Yah, bagaimanapun juga, syukurlah kita semua bisa bertahan hidup. Ya, dari pertandingan, dan pertandingan, dan pertandingan itu."

"Tenanglah, Norb. Tidak apa-apa, kamu masih hidup kok."

Entah kenapa, aku merasakan beban yang aneh dalam perkataan Norb-san.

"Semuanya, terima kasih banyak! Meski berat untuk berpisah, kabarnya tertangkapnya kubu anti-Kaisar Naga mulai mengganggu urusan pemerintahan. Karena itu, demi menstabilkan ibukota, aku harus pergi!"

Sepertinya setelah Ryune-san mendeklarasikan diri sebagai penerus sah Putri Naga, orang-orang dari kubu pendukung Kaisar Naga langsung menghubunginya. Yah, karena Kaisar Naga yang tadinya mau mereka jadikan simbol malah terbang entah kemana, mereka tidak punya pilihan lain.

"Berjuanglah, Ryune-san."

"Iya! Mengambil kembali takhta adalah harapan leluhurku turun-temurun! Aku akan berusaha sekuat tenaga! Terima kasih banyak!"

Sambil berkali-kali mengucapkan terima kasih kepada kami, Ryune-san menunggangi Silver Dragon, lalu mengucapkan salam perpisahan sekali lagi sebelum terbang menuju ibukota.

Kami mengantar kepergian mereka sampai sosok satu orang dan satu naga itu tidak terlihat lagi, lalu sekarang giliranku berbalik ke arah Golden Dragon.

"Sudah waktunya kita berpisah juga, Golden Dragon."

"Grrrr..."

Golden Dragon menundukkan kepalanya seolah merasa kehilangan.

"Aku bukan Kaisar Naga yang asli. Aku rasa kita harus berpisah demi saat kamu bertemu dengan Kaisar Naga yang asli suatu hari nanti."

"Kalimat macam apa itu, mirip kata-kata putus sepasang kekasih."

"Apalagi seperti alasan sepihak dari laki-lakinya."

Maaf teman-teman di belakang, tolong jangan menyela begitu.

"...Agar kamu bisa bertemu dengan tuan yang benar-benar harus kamu layani, aku rasa kita harus membatalkan kontrak Dragon Knight ini."

"Ah, dia meralat kalimatnya."

"Grrr..."

Golden Dragon sempat menunduk sejenak, namun seolah menguatkan hati, dia langsung membentangkan sayapnya lebar-lebar, mengangkat kepalanya ke langit, dan meraung.

"Groooooooonnn!!"

Lalu dia terbang ke angkasa luas, berputar di atas langit berkali-kali seolah enggan berpisah, sebelum akhirnya kembali ke Puncak Naga.

"Fuh, dengan ini semua urusan di negara ini sudah selesai. Sisanya tinggal pulang saja."

Tepat saat aku berpikir begitu.

"...Ngomong-ngomong, bagaimana dengan uang hadiah kemenangan Tiran?"

"Eh?"

Meguri-san bergumam pelan, dan aku menyadari bahwa aku belum menerima hadiah untuk Tiran.

"Kalau dipikir-pikir..."

"400 keping emas..."

Benar juga, aku tidak terpikir soal mengambil uang hadiahnya...

"Tapi yah, aku kan sudah punya banyak uang, jadi tidak perlu mengambil uang hadiahnya sekarang pun..."

"Mubazir! Ayo kita pergi ambil sekarang juga!"

Meguri-san mendesakku bahwa uang itu harus diambil.

"Aduh, Kaisar Naga yang menghilang karena misi agung lalu kembali cuma untuk ambil hadiah itu agak..."

"Uang lebih penting daripada misi."

Uwah, tatapan matanya tajam sekali...

"Kalau begitu bagaimana kalau menyuruh Golem ksatria hitam itu untuk mengambilnya? Golem itu kan sudah dikenali penduduk kota sebagai bawahan Kaisar Naga?"

"Diterima! Ide bagus!"

Syukurlah, dengan begini aku tidak perlu merusak suasana hati Meguri-san.

"Tapi Golem itu kan tidak bisa bicara?"

Tiba-tiba Jairo-kun bergumam teringat sesuatu, dan kepala Meguri-san langsung berputar menatapku.

"Ambil uangnya..."

"Tidak tidak tidak, makanya Kaisar Naga tidak bisa mengambilnya sendiri."

"Uang! Penting!"

Setelah keributan ini-itu, aku akhirnya membongkar satu Golem untuk dijadikan zirah biasa, dan pergi diam-diam untuk mengambil uang hadiahnya. Duh, memalukan sekali.

"Ngomong-ngomong, waktu aku pergi ambil hadiah, Walikota sedang mencari Ririera-san dengan wajah yang sangat panik, lho?"

"Ah, jangan dipedulikan. Bukan masalah besar kok."

"Padahal dia terlihat sangat nekat mencari..."

"Rex-san, kami ini pengelana yang tidak punya tempat tinggal tetap. Kenalan hari ini yang berangkat esok hari, itulah yang namanya petualang."

Wah, apa-apaan itu, keren sekali! Mirip kalimat keren Pendekar Pedang Raigard saat berpisah dengan para pahlawan wanita dalam cerita! Bagus juga, kapan-kapan aku mau coba pakai ah.

Akhirnya, alasan Walikota mencari Ririera-san tetap tidak jelas, tapi ya sudahlah.

"Ririera benci ikut ritual Putri Naga jadi dia mangkir."

"Ssst, biarkan saja dia."

Sepertinya Meguri-san dan yang lain membisikkan sesuatu, tapi apa ya? Ya sudahlah, nanti tanya saja kalau ingat di jalan pulang.

"...Nah, kalau begitu mari kita pulang ke ibukota."

"Okeeey!"

"Meskipun kita terseret insiden besar yang tak terduga, kalau dipikir-pikir tidak ada pertarungan dengan musuh yang berbahaya, ternyata berakhir dengan cukup damai ya."

"Eh, yang berpikir begitu cuma Abang saja, tau?"

"Benar, kami sampai keringat dingin karena harus bertarung dengan iblis!"

"Lagipula sebelumnya kita bertarung dengan naga."

"Kalau aku malah bertanding melawan Rex-san. Aku benar-benar mengira akan mati."

"Disalahpahami sebagai Putri Naga... syukurlah akhirnya kesalahpahamannya bisa lurus..."

Sepertinya semua orang kelelahan. Bagaimana kalau setelah pulang nanti aku masakkan masakan dengan ramuan spesial?

"Tapi setelah selesai, tidak ada bahaya nyawa dan latihannya pas sekali, kan?"

"KAK—"

"REX—"

"KAMI PALING MERASA TERANCAM NYAWA WAKTU LATIHAN DENGAN REX-SAN, TAU!"

Ahaha, latihan selevel itu saja mereka semua sudah berlebihan.

Demikianlah, kami menyelesaikan latihan di Negeri Naga Dragonia dan memutuskan untuk pulang ke rumah kami yang tercinta.

Dan beberapa minggu kemudian, informasi bahwa seorang Ratu yang sah telah naik takhta di Dragonia tersebar ke seluruh dunia dan mengejutkan banyak orang.

Terlebih lagi, kabarnya sang Ratu membawa ksatria-ksatria kuat dari entah mana untuk mendirikan Pasukan Ksatria Kaisar Naga yang baru, dan dalam sekejap berhasil mengatasi kekacauan pasca kenaikan takhta.

Ngomong-ngomong, bisa mendirikan ksatria sehebat itu segera setelah naik takhta, memang benar-benar penerus sah Putri Naga ya.

Pasti dia menemukan orang-orang berbakat yang selama ini terpendam di masyarakat. Dengan ini, Dragonia Suci akan aman untuk sementara waktu!


Golden Dragon

Manusia-manusia itu sudah pergi. Si Perak juga pergi bersama gadis manusia yang menjalin kontrak dengannya. ............ Itu artinya...

AKU BEBASSSSSS!!

Hore! Akhirnya aku mendapatkan kebebasan yang sesungguhnya! Tadinya kukira aku akan diperbudak sampai manusia itu mati karena usia, tapi entah kenapa manusia itu (aku tidak mengerti bahasa manusia jadi mungkin saja) mengucapkan selamat tinggal dan pergi.

Ini dia. Hari ini adalah hari perayaan. Biasanya aku malas pergi jauh, tapi hari ini adalah hari yang membahagiakan. Mari berburu mangsa yang lumayan enak untuk makan besar. Nah, kalau begitu mari kita jalan-jalan sebentar.

"..."

"..."

Entah kenapa aku bertatapan mata dengan si Perak. Lho? Aneh ya? Kenapa aku bertatapan dengan si Perak yang seharusnya sudah pergi?

"Kalau begitu mari kita pergi, si Emas."

Eh? Kemana?

"Negeri para ksatria di mana naga dan manusia saling bergandengan tangan akan bangkit kembali. Jika Raja para naga, si Emas, tidak ada di sana, ceritanya tidak akan jalan."

Eh? Eh? Aku tidak pernah dengar soal itu.

"Lagipula, kita kan sudah menjalin ikatan janji abadi... kan."

Si Perak berkata begitu sambil merona, tapi aku tidak ingat pernah menjalin janji seperti itu? Serius, aku benar-benar tidak ingat?

"Ayo! Ini adalah awal baru kita, si Emas!"

He-hei, berhenti! Jangan gigit leherku! Jangan tarik paksa! Aku ini bebas! Aku sudah jadi naga bebas!

"Selamat ya—"

"Wah, ini benar-benar kabar gembira."

 "Masa depan kaum naga kita sangat cerah ya."

"Benar benar, Puncak Naga ini biar aku yang jaga baik-baik, serahkan sisanya padaku!"

Hei kalian! Jangan bicara dengan nada datar yang sama sekali tidak tulus begitu! Lalu Naga Hitam! Beraninya kamu memanfaatkan situasi dan menganggap ini wilayahmu sendiri! Puncak Naga ini adalah wilayahku, tau!

"Kalau begitu mari kita pergi. Tenang saja. Di sarang para manusia, aku sudah menyuruh mereka menyiapkan sarang yang nyaman untuk kita tinggali."

Aaaargh! Ternyata kamu pergi sendirian tadi demi menyiapkan itu ya!? Lagipula aku tidak mau tinggal di tempat yang bau manusia! Tidak mauuu!

"Mari menuju sarang cinta kita!"

Hentikaaaann! Jangan tarik leherkuuuuuuu!!


Para Bangsawan Kubu Kaisar Naga

"Cepat mengaku! Di mana Perdana Menteri yang asli!"

"Kan sudah kubilang aku ini Perdana Menterinya!"

"Jangan berbohong!"

Percakapan antara Perdana Menteri yang asli dan interogator terus berulang entah sudah berapa kali.

"Hei, sampai kapan hal ini akan terus berulang ya..."

Sambil melihat percakapan di depan mata, rekan kerjanya menghela napas.

"Entahlah. Tapi, utusan Kaisar Naga-sama bilang bahwa pria itu adalah pemeran pengganti. Jadi kita tidak punya pilihan selain memperlakukannya sebagai pemeran pengganti."

"Benar juga ya."

Demikianlah, sampai Putri Naga yang membawa Silver Dragon datang ke ibukota... tidak, tepatnya sampai semua orang menyadari hal yang mereka lupakan karena banyaknya keributan, seperti laporan mengejutkan bahwa Kaisar Naga tidak akan kembali, atau Putri Naga yang akan menggantikan takhta, hingga kedatangan Golden Dragon, perlakuan terhadap Perdana Menteri tetap terlupakan begitu saja.

"Makanya sudah kubilang aku ini Perdana Menteri yang asliiiii!"

"Makanya aku bilang katakan yang sejujurnyaaaaa!"

Ya, semangat ya kalian berdua.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close