Chapter 153
Titik Pusat dan Racun Shomadoku
◆ Rex ◆
"Sepertinya
di sini titik pusat Tanah Pembusukan."
Aku dan Kak
Liliera telah sampai di bagian terdalam dari Tanah Pembusukan.
"Di sini...
pusat dari Tanah Pembusukan?"
"Iya, karena
konsentrasi toksin di sini paling pekat. Tidak salah lagi, ini adalah titik
pusatnya."
"Bentuknya...
agak aneh ya."
Seperti
yang Kak Liliera katakan, pusat dari Tanah Pembusukan ini memiliki bentuk yang
misterius. Jika dilihat dari langit, pusatnya berupa bukit kecil berbentuk oval
memanjang, dan dari sana ada tujuh barisan perbukitan memanjang yang terhubung
ke tujuh arah berbeda.
Lalu,
hanya ada satu barisan bukit yang menjulang jauh lebih tinggi daripada yang
lainnya.
"Bentuknya
tidak terlihat seperti bentukan alami."
Meski
begitu, jika ditanya apakah ada seseorang yang sengaja membentuknya seperti
ini, aku tetap tidak bisa membaca tujuannya.
"Hmm,
sebenarnya ini apa ya... Hm?"
Saat itulah, aku
menemukan keberadaan sesuatu di atas bukit kecil tersebut.
"Itu...
bangunan?"
Benar, itu pasti
bangunan buatan manusia. Mungkinkah itu penyebab dari munculnya Tanah
Pembusukan?
"Ayo kita
periksa, Kak Liliera."
"E-eh,
iya..."
Kami pun terbang
turun menuju bangunan yang berdiri di bukit kecil itu. Namun, pada saat itulah—
"Geho!
Geho!"
"Kak
Liliera!?"
Tiba-tiba Kak
Liliera mengerang kesakitan sambil memuntahkan darah dari mulutnya. Aku segera
menangkap Kak Liliera yang hampir jatuh karena kehilangan kendali atas sihir
terbangnya, lalu memeriksa gejalanya.
Kak Liliera tidak
hanya muntah darah; wajahnya berubah pucat pasi seperti warna tanah, dan
tubuhnya gemetar karena kejang-kejang kecil.
"Ini...
mungkinkah gejala Shomadoku!?"
Begitu mengetahui
penyebab memburuknya kondisi Kak Liliera, aku segera merapalkan sihir penawar.
"Grand
Antidote!"
Cahaya sihir
penawar menyelimuti tubuh Kak Liliera. Seketika kejang di tubuhnya mereda, dan
rona merah kembali ke wajahnya yang tadi pucat.
"Syukurlah,
sepertinya sihirnya bekerja dengan baik."
"...Ugh,
aku... sebenarnya kenapa?"
Gejalanya hilang
dan kesadaran Kak Liliera pun kembali.
"Kakak tidak
apa-apa? Kakak tadi terkena gejala racun Shomadoku."
"Sho...
madoku?"
"Iya, secara
harfiah Shomadoku adalah racun yang membuat tubuh kejang-kejang hebat seperti
baru saja menerima hantaman keras. Awalnya dimulai dengan muntah darah dan
kejang ringan, tapi tak lama kemudian intensitas kejangnya akan meningkat
sampai tubuh seolah melonjak-lonjak. Lalu, dampak dari kejang hebat itu akan
mematahkan tulang di seluruh tubuh, memutus saraf serta pembuluh darah, dan
akhirnya tubuh akan terkoyak berkeping-keping. Itu racun yang mengerikan."
"Menakutkan
sekali!? Racun gila macam apa itu!?"
"Maaf, jujur
saja aku tadi lengah. Shomadoku adalah racun yang berasal dari monster
tertentu, jadi aku tidak menyangka akan bertemu racun berbahaya seperti ini di
tempat seperti ini."
"Berasal
dari monster... jadi ini racun monster?"
"Iya.
Sepertinya selama ini racunnya menyebar dan melemah karena kita berada jauh
dari pusatnya. Itu sebabnya aku telat menyadarinya. Benar-benar maaf ya, Kak
Liliera."
"Ti-tidak
apa-apa, kan kamu yang menolongku. Justru akulah yang harus berterima kasih.
Terima kasih, Rex."
Padahal
dia terkena racun karena kecerobohanku, tapi bukannya marah, Kak Liliera malah
berterima kasih. Aku benar-benar merasa bersalah karena telah membiarkan orang
sebaik ini berada dalam bahaya.
"Tapi kalau
begitu, kita tidak bisa turun sembarangan. Meskipun bisa diobati dengan sihir
penawarmu, kalau harus berkali-kali diobati, nyawa sebanyak apa pun tidak akan
cukup."
"Ah, kalau
itu tidak perlu khawatir. Grand Antidote yang tadi tidak hanya menetralkan
racun, tapi juga memiliki efek untuk membatalkan efek racun selama beberapa
waktu."
"Begitu
ya, jadi tetap si-—tunggu, eh? Membatalkan?"
"Iya, selama
beberapa jam ke depan akan aman."
"..."
Setelah aku
menjawab, entah kenapa Kak Liliera terdiam tanpa kata.
"Eh? Ada
apa, Kak Liliera?"
Apa dia masih
merasa tidak enak badan? Kalau begitu, mungkin lebih baik aku merapalkan sihir
penawar sekali lagi.
"Tunggu,
tunggu sebentar. Rex, dengan sihir tadi kamu menetralkan racun mematikan yang
hampir membunuhku, kan? Tapi sihir itu tidak hanya mengobati gejalanya, bahkan
bisa sampai membatalkan racunnya juga!?"
"Iya, bisa
kok. Meski ada batasan waktunya."
"Tunggu,
tunggu, tunggu!? Bukankah itu aneh!? Menetralkan racun mematikan dan
membatalkan efek racun itu bukannya sihir yang berbeda!? Kenapa kamu bisa
melakukannya sekaligus seolah itu hal sepele!?"
"Yah,
soalnya kalau harus menetralkan racun lagi nanti kan merepotkan. Jadi kupikir
akan lebih praktis jika aku membuat sihir yang menganalisis racunnya saat
penetralan, lalu memberikan efek antibodi sementara."
"Itu sama
sekali tidak praktis! Penyihir biasa tidak bisa membuat sihir luar biasa hanya
dengan alasan 'aku ingin sedikit malas-malasan' seperti itu!"
"Tapi kalau
cuma menetralkan, kita bakal terus-terusan terkena racun lagi, kan? Jika
memikirkan efisiensi, bukankah lebih baik jika bisa membatalkannya?"
"I-itu
memang benar sih, tapi..."
"Singkatnya
memang begitu. Tidak hanya menyelesaikan masalah, tapi menyiapkan langkah
pencegahan agar tidak tersandung pada masalah yang sama di masa depan adalah
cara menggunakan teknik yang efisien."
"Hmm, be...
gitu... ya?"
Iya, iya,
syukurlah kalau Kak Liliera bisa mengerti. Sebenarnya aku ingin membuat efek
pembatalan racunnya permanen, tapi karena ini adalah sihir, mau bagaimana lagi
kalau efeknya bisa habis.
Lagi pula, itulah
alasan mengapa Magic Item diciptakan.
Baiklah, setelah
pulang nanti aku harus membuat Magic Item penawar yang bisa menangkal
Shomadoku. Dengan material yang bisa dikumpulkan di sini, aku pasti bisa
membuatnya.
"Oke, kalau
begitu kali ini ayo kita benar-benar pergi ke bangunan itu!"
"O-ooh...?"



Post a Comment