Chapter 198
Nama yang Dibuang dan Kebangkitan Bencana
"Kaisar...
Siapakah sebenarnya sosok bernama Nyonya Yume itu?"
Setelah
penjelasan mengenai situasi saat ini selesai diberikan kepada teman-teman yang
baru saja berkumpul kembali, Yukinojo-san menggumamkan pertanyaan tersebut.
"Mu,
aa..."
Namun, sang
Kaisar tampak kesulitan untuk menjawab pertanyaan itu.
"Apa maksud
Haruomi soal istri sah? Bukankah istri sah ayahanda adalah ibunda?"
Mendengar
suara mendesak dari Yukinojo-san, sang Kaisar mengerang pelan.
"...... Haa,
kurasa ini memang kutukan bagi keluarga Shogun."
Setelah menghela napas panjang, Kaisar akhirnya mulai angkat
bicara seolah sudah pasrah.
"Dahulu, Naren Natsunori yang menjabat sebagai Shogun
negeri ini memiliki seorang istri sah bernama Nyonya Yume."
"Punya?
Maksudnya itu cerita masa lalu?"
Mina-san mewakili
rasa penasaran kami untuk bertanya, dan sang Kaisar mengangguk pelan.
"Benar. Nama
Nyonya Yume dihapus dari sejarah negeri ini bersama dengan nama keluarga Togo
tempat asalnya, karena sebuah insiden tertentu."
"Dihapus
dari sejarah!?"
Mendengar topik
yang tiba-tiba menjadi berbahaya, kami semua merasa bingung. Jika sebuah
keluarga bangsawan sampai dihapus dari sejarah, bukankah itu berarti telah
terjadi peristiwa yang sangat luar biasa!?
"Dan Shogun
memiliki seorang anak bersama Nyonya Yume. Dialah Haruomi Naren Shun'ou,
kakakmu, Yukinojo."
"Haruomi
adalah... kakakku!?"
Terkejut oleh
kebenaran yang terungkap bertubi-tubi, Yukinojo-san berseru dengan suara
gemetar.
"A-apakah benar Haruomi adalah kakak hamba!?"
"Itu fakta. Nama aslinya, Shun'ou, mengandung unsur
nama musim yang hanya boleh disandang oleh keturunan langsung Shogun,
bukan?"
Memang benar, nama asli Haruomi-san adalah Shun'ou, yang
mengandung kanji untuk musim semi. Tapi aku tidak tahu kalau ada aturan
penamaan seperti itu di negeri ini.
"Haruomi benar-benar kakakku... Ta-tapi, mengapa
Haruomi mengkhianatiku!? Lagipula, istri sah ayah seharusnya adalah ibuku!
Mengapa nama mereka dihapus!?"
Kaisar bergumam bahwa terkadang ada hal-hal yang lebih baik
tidak diketahui, namun ia mulai menceritakan detailnya secara perlahan.
"Itu
karena... keluarga Togo melakukan pemberontakan."
"Pemberontakan!?"
Yukinojo-san
membelalakkan mata mendengar kata pemberontakan yang tak terduga itu. Meski
begitu, pemberontakan adalah hal yang lumrah terjadi di kehidupanku yang
sebelumnya maupun sebelumnya lagi.
Rasanya tidak
sampai membuat nama keluarga harus dihapus selamanya. Apa yang sebenarnya
terjadi hingga berakhir seperti itu?
"M-mana
mungkin!? Selama beberapa ratus tahun terakhir, seharusnya tidak ada konflik
yang menentang keluarga Shogun di negeri ini!"
Beberapa ratus
tahun!? Itu hebat sekali! Biasanya dalam waktu selama itu, pasti akan terjadi
satu atau dua kali pemberontakan.
Malah, tidak aneh
jika sebuah negara sudah runtuh dalam jangka waktu sepanjang itu. Fakta bahwa
hal itu tidak terjadi menunjukkan betapa damainya negeri ini.
"Itu hanya
di permukaan. Kenyataannya, pemberontakan telah terjadi lebih dari satu atau
dua kali."
Sepertinya
dugaanku barusan salah.
"Hal
terpenting bagi negeri ini adalah menstabilkan tanah Amamine menggunakan magic
item. Karena itu, kami ingin meminimalisir segala kejadian yang bisa
mengganggu operasional alat sihir tersebut. Itulah sebabnya dibutuhkan hukuman
berat yang membuat siapa pun tidak akan pernah mau terlibat dalam insiden yang
bisa mengguncang negara."
"Hukuman itu
adalah menghapus nama mereka?"
"Benar. Bagi
keluarga pendekar di negeri ini, maupun bangsawan di negara lain,
mempertahankan garis keturunan adalah hal yang paling utama. Meski gelar
bangsawan mereka dicabut, selama nama keluarga dan darah mereka tetap ada,
suatu saat mereka bisa membangkitkan kembali kejayaan keluarga tersebut."
Namun, sang
Kaisar menjeda kalimatnya.
"Jika
melakukan pemberontakan di negeri ini, hukumannya tidak sesederhana itu. Semua
anggota keluarga akan dieksekusi meski tidak terlibat langsung, dan nama
keluarga mereka akan dihapus dari sejarah negara. Jika pun ada anggota keluarga
yang beruntung bisa bertahan hidup, dia tidak akan pernah diizinkan untuk
membangkitkan kembali keluarganya meski telah melakukan jasa besar sekalipun.
Bagaimanapun, mereka berasal dari keluarga yang sudah dihapus dari sejarah.
Keluarga yang 'tidak ada' tidak mungkin bisa dibangkitkan kembali. Tentu saja,
mendirikan keluarga baru dari nol pun tidak diperbolehkan."
Begitu
ya, bagi bangsawan yang menganggap kelangsungan keluarga sebagai hal
terpenting, ini memang hukuman yang mengerikan.
Jika
kegagalan berarti penghapusan nama keluarga selamanya tanpa harapan untuk
bangkit kembali, tidak akan ada yang berani memberontak kecuali jika mereka
sangat percaya diri akan menang.
Dengan aturan
seperti itu, kemungkinan bangsawan lain untuk membantu pemberontakan menjadi
sangat kecil.
Malah, mereka
mungkin akan berpura-pura membantu hanya untuk mendapatkan informasi dan
melenyapkan keluarga saingan yang dianggap mengganggu.
Jika jumlah
bangsawan berkurang, akan ada jabatan dan wilayah kosong yang bisa mereka ambil
alih.
"Beberapa
saat setelah anak dari Shogun dan Nyonya Yume lahir, tersiar informasi bahwa
keluarga Togo sedang bersiap untuk memberontak. Mendengar hal itu, Shogun
merasa aneh namun memutuskan untuk menyelidikinya terlebih dahulu.
Bagaimanapun, putri dari keluarga Togo telah menjadi istri sah Shogun dan
bahkan telah melahirkan seorang anak. Orang waras mana pun tidak mungkin
melakukan pemberontakan dalam posisi seperti itu."
"Itu
benar sekali."
Semua
orang mengangguk setuju. Jika putri mereka akan menjadi ibu dari Shogun
berikutnya, keluarga itu pasti akan menjadi keluarga paling berpengaruh di
Amamine.
Hal itu berlaku
sama di negara kami. Itulah sebabnya Shogun merasa janggal dengan informasi
pemberontakan tersebut.
"Ja-jadi,
apakah itu berarti pemberontakan benar-benar terjadi hingga keluarga Togo
dihancurkan?"
Terhadap
pertanyaan Yukinojo-san, Kaisar justru menggelengkan kepalanya.
"Tidak,
pemberontakan tidak terjadi. Lebih tepatnya, barang bukti ditemukan sebelum
pemberontakan sempat meletus."
"Barang
bukti?"
"Benar.
Sejumlah besar magic item tempur ditemukan di berbagai gudang dan
reruntuhan di wilayah kekuasaan Togo setelah adanya laporan rahasia."
"Magic
Item!?"
"Ya, jumlah magic
item yang tidak masuk akal untuk dimiliki di masa damai menjadi bukti kuat
bahwa keluarga Togo sedang merencanakan pemberontakan. Sepertinya jumlahnya
sangat banyak, tidak mungkin dikumpulkan hanya untuk hobi. Siapa pun pasti akan
menganggap itu dikumpulkan untuk keperluan perang. Namun, karena ini adalah
negara yang tidak pernah mengalami perang selama ratusan tahun, Shogun dan para
tetua memutuskan bahwa ini tidak lain adalah rencana pemberontakan, dan
akhirnya memutuskan untuk menghapus keluarga Togo."
Selesai berkata
demikian, Kaisar menghela napas panjang. Begitu ya.
Memang wajar jika
seorang penguasa wilayah di sebuah negara kepulauan yang tidak perlu khawatir
akan perang dengan tetangga tiba-tiba memiliki magic item dalam jumlah
besar, dia akan dicurigai.
Terlebih jika
kekuatannya cukup untuk melawan negara, informasi pemberontakan itu hampir
pasti dianggap benar.
Lagipula, di
kehidupanku sebelumnya, ada satu magic item saja sudah bisa menyebabkan
bencana besar yang meruntuhkan negara.
Ah, aku tidak
sedang membicarakan magic item buatanku sendiri, lho!
"Karena
keadaan itulah, nama Nyonya Yume dihapus, dan ibunda Yukinojo menjadi istri sah
yang baru."
"Hal seperti
itu ternyata pernah terjadi..."
Mengetahui fakta
bahwa ada istri sah lain sebelum ibunya, dan kenyataan bahwa orang tersebut
dihapus dari sejarah, membuat Yukinojo-san menunjukkan ekspresi yang sulit
dijelaskan.
"Eh? Tapi
jika melakukan pemberontakan, bukankah orang-orang yang berhubungan juga akan
dieksekusi meski tidak terlibat langsung? Mengapa sosok bernama Haruomi itu
bisa tetap hidup?"
Norb-san yang
tiba-tiba merasa janggal memiringkan kepalanya, mempertanyakan mengapa
Haruomi-san masih hidup.
Benar juga. Jika
mengikuti perkataan Kaisar, Haruomi-san seharusnya sudah tidak bernyawa
sekarang.
"Yah,
kenyataannya, para bawahan juga terus mendesak agar dia dibunuh. Mereka bilang
membiarkannya hidup akan menciptakan preseden buruk. Padahal sebenarnya mereka
hanya ingin memasukkan putri mereka sendiri menjadi istri sah dan menjadi ibu
dari Shogun berikutnya. Namun, sebagai keluarga Shogun yang menjaga kedamaian
negeri ini, mereka tidak boleh menunjukkan kelemahan di depan bawahan. Jika
pemimpin tidak mematuhi aturan, bawahan tidak akan bisa diatur."
"Ah,
menyebalkan sekali," gumam Kaisar sambil menunjukkan ekspresi jijik
terhadap politik kotor para pendekar di negeri ini. Orang ini benar-benar tidak tertarik pada
politik, ya.
"Meski
begitu, Shogun tetaplah seorang ayah. Dia pasti merasa tidak tega membunuh
anaknya sendiri. Dia menguburkan bayi lain yang meninggal di waktu yang sama
sebagai pengganti anaknya, lalu diam-diam melarikan darah dagingnya sendiri.
Dia mengubah nama 'Shun'ou' (Burung Bulbul Musim Semi/Raja) yang diberikan
sebagai calon Shogun berikutnya menjadi 'Haruomi'."
"Itulah
sebabnya Haruomi berkata bahwa dia bukanlah bawahanku..."
Yukinojo-san
kembali tertunduk saat menyadari makna sebenarnya di balik kata-kata yang
diucapkan Haruomi-san kepadanya.
"Tapi
mengapa Anda bisa tahu sedetail itu? Bukankah itu kejadian yang seharusnya
dihapus dari sejarah?"
Ya, itu benar.
Mengapa orang yang tinggal di tempat terpencil seperti ini bisa tahu urusan
internal sedalam itu?
"Ah, itu
mudah saja. Karena aku mendengarnya langsung dari si Shogun itu."
"Langsung
dari ayahanda!?"
"Ya.
Dia adalah raja praktis di negeri ini. Dia tidak bisa mengeluh kepada sembarang
orang. Tapi kepadaku, Kaisar yang merupakan simbol negara namun terpisah dari
urusan politik, dia bisa mencurahkan isi hatinya dengan tenang. Dia sering
datang kemari dengan alasan tugas Shogun padahal hanya untuk mengeluh
padaku."
Begitu ya, pantas
saja dia tahu karena diberitahu langsung oleh pelakunya.
"Tapi dari
mana Haruomi mendengar cerita itu? Shogun bilang dia sudah memerintahkan tutup
mulut soal masalah itu, dan bayi itu pun dikirim melalui banyak tangan di desa
ini sebelum akhirnya dititipkan ke keluarga yang jauh hubungannya. Seharusnya
dia tidak mungkin sadar kalau dia adalah anak Shogun. Yah, mulut manusia memang
tidak bisa dikunci. Mungkin ada seseorang yang menyadari Haruomi masih hidup
dan terus mengikutinya dengan penuh dendam."
Lalu Kaisar
berkata bahwa kemungkinan besar para Majin memanfaatkan informasi
tersebut.
"Baiklah,
cerita soal Haruomi selesai sampai di sini. Bagi kita, poin utamanya justru
dimulai dari sekarang."
"...... Soal magic item itu, ya."
"Benar. Haruomi dan para Majin menuju Gunung
Amatsukami dengan membawa satu kunci lainnya. Kunci itu akan terbuka
pengunciannya jika pendaftar sebelumnya meninggal, sehingga bisa membuat
kontrak dengan pemilik baru. Dengan
kata lain, sekarang setelah Shogun wafat, Haruomi pun bisa melakukan
kontrak."
"Ada
kemungkinan para Majin yang akan melakukan kontrak, kan?"
"Tidak perlu
khawatir soal itu. Itu adalah magic item dari zaman di mana keberadaan Majin
adalah hal yang lumrah. Alat itu sudah diatur agar hanya bisa digunakan oleh
manusia agar tidak disalahgunakan."
Begitu
ya, setidaknya situasi terburuk bisa dihindari. Namun, mungkin itulah alasan mengapa para Majin
bekerja sama dengan Haruomi-san.
Karena mereka
tidak bisa mengoperasikannya sendiri, mereka ingin mengendalikan magic item
pelindung negara tersebut melalui Haruomi-san.
"Alat sihir
itu bergerak dengan memanfaatkan dua energi, yaitu energi vulkanik Gunung
Amatsukami dan energi dari aliran nadi bumi (Spirit Vein). Tempat itu
adalah lokasi paling berbahaya di negeri ini karena merupakan titik temu gunung
berapi aktif dan nadi bumi, namun sekaligus merupakan lokasi paling ideal untuk
mengamankan energi."
"Begitu ya,
jadi Anda memanfaatkan energi bencana untuk menekan bencana lainnya."
"Begitulah.
Sebaliknya, itu juga berarti dibutuhkan kekuatan yang luar biasa besar untuk
melindungi satu negara dari berbagai bencana."
Wah, pemikiran
yang menarik. Jika itu aku, mungkin aku akan berpikir untuk menyelesaikan
penyebabnya atau langsung melenyapkan bencana itu sendiri.
Mungkin
leluhur Kaisar adalah seorang teknisi yang mementingkan daur ulang energi.
Dengan
harapan agar anak cucunya di masa depan bisa memanfaatkan magic item ini
untuk perkembangan negara.
"Tapi
yah, akhir-akhir ini magic item itu mulai tidak stabil. Perawatan rutin
memang dilakukan, tapi tetap saja ada material yang tidak bisa didapatkan di
negeri ini, dan ada bagian yang tidak bisa diperbaiki selama alat itu menyala.
Ditambah lagi dengan banyaknya monster yang berkeliaran di sekitar desa
baru-baru ini, perawatan pun menjadi terhambat. Apalagi sekarang kunci itu telah direbut oleh Majin,
apa pun bisa terjadi kapan saja."
Kaisar
berkata dengan kesal sambil menggaruk kepalanya.
"Mungkin usia magic item itu sudah hampir habis.
Selama ini kami telah melakukan apa
yang kami bisa, tapi benda mati pun suatu saat akan rusak. Tapi setidaknya
sebelum semuanya terlambat, aku ingin melakukan pemeliharaan sekali lagi untuk
menenangkan bencana laut. Dan aku ingin meloloskan sebanyak mungkin rakyat
Amamine ke luar negeri."
Kaisar menatap
kami dengan pandangan serius. Begitu ya, keinginan Kaisar ternyata adalah
evakuasi rakyatnya. Tapi itu adalah hal yang sangat berat.
Orang-orang yang
kehilangan negaranya akan menghadapi kesulitan luar biasa untuk mendapatkan
kampung halaman baru. Tapi mungkin itulah kenyataan yang harus dihadapi negeri
ini sekarang.
"Aku mohon,
rebut kembali kunci magic item itu. Aku ingin melakukan pemeliharaan
sekali lagi sebelum alat itu dihancurkan oleh para Majin."
"Kami
mengerti! Serahkan saja pada kami!"
Saat aku
menjawab, teman-teman yang lain pun mengangguk dengan mantap.
"Rasanya
tidak enak kalau berhenti di sini begitu saja," ucap Mina.
"Benar, jika
dibiarkan begini, banyak orang yang akan terancam bahaya. Sebagai pelayan
Tuhan, aku tidak bisa membiarkannya," tambah Liliera.
"Kami
menerima permintaan dari paman Tetua Utama, jadi kami akan membantu," ujar
Norb.
"Iya,
lagipula kalau Rex-san bergerak, aku juga akan bergerak meski tanpa
permintaan," sambung Meguri.
"Kyu-kyu!"
Mofumofu juga
seolah berkata 'serahkan padaku!'. Dia menjadi semakin bisa diandalkan padahal
baru sebentar tidak bertemu. Baiklah, mari kita segera berangkat!
Aku pun berdiri,
namun di tengah semua itu, hanya Yukinojo-san yang masih tertunduk diam.
Alasannya... tidak perlu ditanya lagi.
Orang yang
melindunginya sampai akhir saat diserang musuh ternyata adalah musuhnya
sendiri. Terlebih lagi, Haruomi-san adalah kakak kandungnya.
Ditambah lagi
dengan kenyataan bahwa keluarga aslinya dihancurkan karena pemberontakan, wajar
jika Yukinojo-san menjadi bingung harus berbuat apa.
Kaisar pun
sepertinya memahami perasaan itu, tangannya tampak bimbang di udara, tidak tahu
bagaimana cara menghiburnya. Yang lain pun merasa sungkan untuk menegurnya
setelah mendengar semua cerita tadi.
"Hei, ada
apa denganmu Yukinojo! Jika kau tidak ikut, kau tidak akan bisa melakukan
kontrak dengan magic item itu. Kau ingin menjadi Shogun, kan!"
Namun, hanya
Mina-san yang berbicara seperti biasa sambil menepuk-nepuk punggung
Yukinojo-san.
"Tidak,
mungkin sebaiknya hamba tidak ikut."
"Apa yang
kau katakan! Jika kau tidak pergi, alat itu akan menjadi milik
Haruomi-san!"
"...... Bukankah itu lebih baik?"
"Hah? Apa
yang kau bicarakan!"
Sambil tetap
tertunduk, Yukinojo-san mengeluarkan kata-kata yang menyesakkan.
"Seharusnya
Haruomi yang menjadi Shogun berikutnya. Aku hanyalah orang yang merebut posisi itu
darinya."
"Itu tidak
bisa dihindari, kan? Karena keluarga aslinya telah melakukan
pemberontakan."
"Tapi itu
bukan kesalahan Haruomi! Malah Haruomi yang masih kecil saat itu adalah
korbannya!"
Seolah hal itulah
yang paling menusuk hatinya, Yukinojo-san berseru dengan keras.
"Lagipula
aku tidak bisa melakukan apa-apa dalam perjalanan ini! Aku hanya dilindungi
layaknya seorang putri! Keinginanku untuk menjadi Shogun pun hanyalah karena
aku merasa itu adalah tugasku sebagai anak Shogun! Aku hanya ingin menjadi
Shogun tanpa pemikiran yang matang! ...... Orang sepertiku, yang telah merebut
segalanya dari kakakku, tidak pantas menjadi Shogun dengan wajah tanpa
dosa......"
Rasa bersalah, itulah wujud asli dari keputusasaan yang
melanda Yukinojo-san.
Bahwa yang merenggut keluarga kakaknya adalah ayah
kandungnya sendiri, dan yang merenggut segalanya dari kakaknya yang tidak
berdosa adalah dirinya sendiri.
"Daripada orang sepertiku, mungkin negeri ini akan
menjadi lebih baik jika Haruomi yang menjadi Shogun."
Begitulah,
Yukinojo-san tertawa sinis pada dirinya sendiri.
"MEMANGNYA... KENAPA KALAU BEGITU!!!!!!!!!"
Terhadap Yukinojo-san yang seperti itu, Mina-san memukul
punggungnya dengan sekuat tenaga.
"Ugwaaa!?"
Dapaan! Terdengar suara hantaman yang keras, dan
Yukinojo-san pun terpental jatuh ke tanah.
"Apa-apaan
dengan 'negeri ini akan lebih baik jika Haruomi menjadi Shogun'!! Jangan bicara
sembarangan! Kau lupa sesuatu, ya?"
"A-apa
maksudmu?"
"Bukankah
Haruomi-san sendiri yang mengatakannya padamu? Bahwa dia akan menghancurkan
negeri ini. Bahwa dia akan menghancurkan segala sesuatu yang telah merebut
segalanya darinya. Itu artinya, orang itu berencana untuk mengacaukan negara
ini! Apa kau pikir rakyat bisa bahagia jika dipimpin oleh orang seperti
itu!?"
"Ugh."
Alasan yang
sangat masuk akal itu membuat Yukinojo-san dan Kaisar membelalakkan mata. Liliera-san
juga tampak sedikit terkejut, tapi Norb-san dan Meguri-san justru terlihat
sedikit senang atau mungkin sedang menikmati tontonan ini?
"Dengar, ya?
Memang tidak bisa dihindari kalau ada takdir kelam di antara kau dan
Haruomi-san. Tapi itu adalah perbuatan orang tua kalian. Itu tidak ada
hubungannya secara langsung dengan kalian! Dan Haruomi-san menyimpan dendam
akan hal itu dan mencoba membalas dendam dengan melibatkan seluruh rakyat
negeri ini! Buktinya
pengawalmu dan orang-orang di istana sudah diserang!"
"I-itu,
tapi..."
"Tidak
ada tapi-tapian! Orang itu sedang melakukan hal buruk sekarang! Dan jika dia
mendapatkan magic item itu, korbannya akan semakin banyak! Jadi aku akan
mengatakannya sekarang. Bukan sebagai anak Shogun, bukan sebagai adik yang
merebut segalanya dari Shun'ou, kau sendiri ingin melakukan apa? Apa kau
hanya ingin membuang segalanya dan menonton negaramu hancur? Hanya diam melihat
banyak orang mati? Apakah Shogun yang kau katakan ingin kau capai itu adalah
raja yang membiarkan hal semacam itu terjadi?"
Mina-san terus mendesak Yukinojo-san seolah tidak ingin
mendengar keluh kesahnya.
"Jawablah, Kouki! Sebagai seorang pria biasa,
tunjukkanlah semangat pejuang Amamine yang kau yakini itu!"
Entah mengapa, di sana Mina-san memanggil Yukinojo-san
dengan nama yang berbeda.
"!?"
Namun, sepertinya Yukinojo-san merasakan sesuatu saat
dipanggil dengan nama itu. Matanya terbuka lebar.
"Aku... aku..."
Yukinojo-san mengangkat wajahnya seolah ingin menghapus
keraguannya.
"Sosok prajurit ideal bagiku adalah... Ayahanda yang
telah mencurahkan segenap hatinya untuk rakyat negeri ini. Sosok Naren
Natsunori."
Secara perlahan namun dengan mata yang penuh tekad, dia
berdiri.
"Mina, aku
bukanlah Kouki. Aku adalah putra Shogun Naren Natsunori, Naren Yukinojo. Dan
aku tidak bisa membiarkan kekejaman Haruomi, kakakku! Sebagai Shogun
berikutnya, tugasku adalah melindungi rakyat negeri ini!"
Lebih dari
sekadar kasih sayang saudara atau rasa bersalah, Yukinojo-san dengan jelas
menyatakan bahwa ia akan menunaikan tugas yang telah ia warisi.
"Begitu
ya, kalau begitu tidak apa-apa, kan? Jika itu adalah keputusan atas keinginanmu sendiri."
"Umu, tapi
kau sungguh keras, ya. Sampai-sampai aku tidak punya waktu untuk
bersedih."
Seolah beban di
hatinya telah terangkat, Yukinojo-san tersenyum.
"Seperti
yang diharapkan dari Mina yang memarahi dan menghajar pemimpin anak nakal di
desa. Kau tidak peduli dengan urusan lawan bicaramu."
"Benar, saat
Jairo-kun sedang putus asa karena kehilangan ayahnya, dia juga dihajar seperti
itu oleh Mina," tambah Meguri sambil tertawa.
"Berkat itu,
Jairo tidak bisa berkutik di depan Mina."
Apakah Mina-san
memang sudah memiliki sifat seperti kakak perempuan yang tegas sejak dulu?
"Baiklah!
Kalau begitu, setelah kita menghajar para Majin dan merebut kembali
kunci magic item itu, kita akan menangkap Haruomi-san dan memarahinya
habis-habisan!"
"Umu! Aku
akan membuat Haruomi menebus dosanya! Setelah itu, aku akan menghadapinya
sebagai seorang adik."
"Iya,
berjuanglah."
Mata Mina-san
tampak lembut saat menatap Yukinojo-san yang telah membulatkan tekadnya
kembali, dan ia membisikkan kata-kata yang seolah mendorong semangatnya.
◆ Shun'ou ◆
"Ooh, inikah alat sihir yang mengendalikan negeri
ini!"
Sambil menatap alat sihir raksasa yang bersemayam di
depanku, tanpa sadar aku menyunggingkan senyum.
Kami berada di dalam sebuah gua di kaki Gunung Amatsukami.
Ini adalah jantung pertahanan negeri ini yang dilindungi oleh penghalang (barrier).
"Berkat
kunci ini, akhirnya aku bisa sampai ke sini."
Majin yang datang bersamaku mendekati
alat sihir tersebut sambil memegang kunci. Namun, tepat saat ia mencoba
menyentuh alat tersebut, tangan sang Majin terpental dengan keras.
"Gwaaaa!?"
Lengan
sang Majin tercabik-cabik, dan darah segar mengalir deras dari lukanya.
"Cih,
ternyata bukan hanya di pintu masuk, bahkan alat sihir itu sendiri pun dipasang
pengamanan sehebat ini!"
Majin itu menatap tajam ke arah alat sihir
dengan penuh kebencian sambil menuangkan ramuan penyembuh ke lengannya. Lalu,
ia melemparkan kunci yang dipegangnya kepadaku.
"Sepertinya
memang kekuatanmu yang dibutuhkan."
"Umu."
Aku menggenggam
kunci itu dan sekali lagi menatap ke arah alat sihir raksasa tersebut.
"Ah,
akhirnya aku sampai di sini."
Sambil
mencengkeram kunci itu erat-erat, aku teringat kembali pada hari pertama kali
aku bertemu dengan sang Majin. Aku tumbuh sebagai anak dari seorang
samurai miskin.
Namun, aku
bukanlah anak kandung, melainkan dibesarkan sebagai anak yang tidak jelas
asal-usulnya yang dibawa entah dari mana.
Tentu saja tidak
ada anggota keluarga yang menyambut hangat anak seperti itu. Ibu tiri dan kakak
tiriku memperlakukanku dengan sangat kasar.
Ayah tiri, meski
merasa memiliki kewajiban untuk membesarkanku, tidak pernah mencoba memperbaiki
perilaku ibu tiri dan yang lainnya.
Mengapa
hanya aku yang mengalami hal seperti ini? Sambil menjalani kehidupan layaknya
seorang pelayan, hari-hariku dipenuhi oleh rasa depresi.
Saat
itulah, seorang pria yang mengaku tahu siapa ayah kandungku datang
mengunjungiku.
Sosok
asli pria itu adalah seorang Majin yang menyamar menjadi manusia.
Aku
terkejut, karena Majin yang seharusnya hanya ada dalam cerita dongeng
ternyata benar-benar ada.
Dan sang Majin
menceritakan segalanya kepadaku.
"Kau adalah
putra dari Shogun negeri ini. Namun, karena kalah dalam persaingan politik,
keluargamu hancur dan hanya kau yang tersisa."
Lebih lanjut,
sang Majin berkata bahwa aku memiliki seorang adik beda ibu. Dan sosok
itu hidup dengan nyaman sambil mendapatkan segala sesuatu yang seharusnya
menjadi milikku.
Tidak bisa
dimaafkan. Itulah yang kupikirkan.
Aku yang tidak
mendapatkan pendidikan yang layak bahkan tidak mengerti arti dari kata
persaingan politik, namun aku bisa memahami bahwa diriku ditindas sementara
adik kandungku mendapatkan segalanya.
"Jika kau
menginginkan balas dendam, aku akan membantumu. Ambillah kembali... tidak,
rebutlah kembali apa yang seharusnya menjadi milikmu."
Aku tidak tahu
seberapa besar kata-kata sang Majin bisa dipercaya.
Bagaimanapun,
mereka adalah musuh kami umat manusia. Aku tidak yakin dia memberitahuku
kebenaran karena niat baik. Pasti ada maksud tersembunyi.
Namun meski
begitu, kata-kata sang Majin adalah harapan bagiku.
Karena saat ini,
aku tidak punya apa-apa. Tidak ada uang, tidak ada makanan, tidak ada kasih
sayang yang hangat.
Yang ada hanyalah
tatapan hina yang menganggapku sebagai beban.
"Berikan aku
kekuatan. Aku tidak peduli apa yang kalian rencanakan. Aku akan mengambil
kembali segala yang telah dirampas dariku, dan merebut segalanya dari mereka
yang telah merampasnya dariku!"
Sang Majin
menyeringai lebar.
"Begitu
lebih baik. Kau tidak perlu mempercayai kami. Kita hanya perlu saling memanfaatkan satu sama
lain."
Dengan
begitu, aku membuang negaraku dan bekerja sama dengan para Majin.
Lalu,
keluarga tiriku dibakar habis bersama rumah mereka oleh sang Majin, dan
aku pun diadopsi oleh seorang samurai berkedudukan tinggi melalui koneksi sang Majin.
Di rumah
itulah, aku mendapatkan pendidikan sebagai samurai yang selama ini dilarang
untuk kupelajari. Itu adalah hari-hari yang berat dan menyakitkan.
Karena
aku harus mempelajari pendidikan yang seharusnya dipelajari sejak kecil oleh
anak bangsawan lain, padahal saat itu aku sudah hampir dewasa.
Namun,
aku bertahan dengan gigi terkatup. Segalanya demi membalas dendam pada
keluarga Shogun.
Dan demi memberikan keputusasaan pada Yukinojo yang telah
menyingkirkanku dan mendapatkan segalanya!
Dan demi
mendapatkan kunci, aku masuk mengabdi ke istana melalui koneksi sang Majin.
Katanya, segala
sesuatunya berjalan lancar karena sang Majin telah menyamar menjadi
manusia menggunakan alat sihir penyamaran untuk mengumpulkan koneksi dan
kelemahan orang-orang demi hari ini.
Dalam arti
tertentu, aku pun menjadi salah satu dari koneksi tersebut, namun bagaimanapun
juga, kami saling memanfaatkan. Akan kumanfaatkan dia semaksimal mungkin.
Dengan mata-mata
yang menyusup ke istana terlebih dahulu dan alat sihir yang disiapkan oleh Majin,
pembunuhan Shogun menjadi sangat mudah.
Namun, karena
tidak mengetahui wujud asli kuncinya, aku memfokuskan tujuanku pada Yukinojo,
putra Shogun.
Dengan menjadi
pengawalnya, aku mendapatkan kepercayaan Yukinojo sambil menunggu saat ia
mencapai usia dewasa, saat di mana kunci itu kemungkinan besar akan diserahkan.
Aku juga
melaporkan kehidupan sehari-hari Yukinojo kepada Shogun sambil dengan sabar
mencari informasi apakah kunci itu sudah diberikan atau belum.
Sejujurnya, peran
menjadi perantara antara pria yang membuangku dan pria yang merenggut segalanya
dariku membuat isi perutku serasa mendidih.
Aku terus menahan
diri sambil berpikir ingin membunuh mereka berdua saat itu juga.
Beruntung atau
tidak, karena kesabaranku yang terus berlanjut, Shogun sepertinya mulai
mempercayaiku. Berkat itu, saat ia menanyakan soal Yukinojo, jumlah pengawal di
sekitarnya pun berkurang drastis.
Sebagai gantinya,
aku harus mendengarkan keluh kesahnya yang menyebalkan tentang sulitnya menjadi
orang tua yang tidak bisa bersikap sebagaimana mestinya, itu benar-benar sebuah
siksaan.
Namun, itu semua
sebanding. Suatu hari, Shogun akhirnya keceplosan bicara. Bahwa ia telah
memberikan apa yang dibutuhkan untuk penobatan Shogun kepada putranya.
Dengan begitu, ia
merasa tenang kapan pun ajalnya tiba. Akhirnya, aku mendengar kata-kata yang
kunantikan. Malam itu juga, aku membunuh sang Shogun.
Aku melimpahkan
kesalahan pembunuhan itu kepada Tetua Utama, dan mendesak Yukinojo untuk
melarikan diri. Yukinojo yang sangat mempercayaiku langsung saja percaya.
Sejujurnya, itu
sangat menyenangkan. Itulah saat di mana semua kebencianku selama ini terbayar
lunas.
Dalam hati aku
menertawakan kebodohan Yukinojo sambil membiarkan bawahanku yang menyamar
sebagai pengejar membunuh para pengawal Yukinojo.
Di tengah jalan
memang ada gangguan dari orang-orang aneh, tapi jika melihat hasilnya, ini
adalah pencapaian yang luar biasa.
Dengan alat sihir
pemindah, aku bisa menarik para Majin ke dalam desa dan berhasil merebut
kunci alat sihir tersebut. Jika boleh berharap lebih, aku hanya menyesal karena
tidak bisa membunuh Yukinojo di tempat itu.
"Nah, alat
sihir! Akuilah aku sebagai Shogun!"
Sambil
mengacungkan kunci itu, aku menyentuh alat sihir tersebut.
"Ooh!?"
Seketika itu
juga, alat sihir dan kuncinya bersinar redup sambil saling terhubung dengan
garis cahaya. Lebih lanjut, cahaya dari kunci tersebut mulai menyelimuti
tubuhku.
"I-ini
apa?"
"Jangan
khawatir. Alat sihir dan kuncinya sedang terhubung (linking) dan
mendaftarkanmu sebagai pemiliknya."
"Akhirnya,
akhirnya aku menjadi pemilik dari alat sihir ini!"
Setelah cahaya
menyelimuti seluruh tubuhku, cahaya pada kunci dan alat sihir tersebut mulai
memudar, dan garis cahaya yang menghubungkan keduanya pun terputus.
"Sepertinya
pendaftaran telah selesai."
"Ooh, dengan
ini aku telah menjadi raja yang sesungguhnya di negeri ini!"
"Nah,
cobalah operasikan alat sihir itu. Hmm, alat sihir yang memiliki sistem
pendaftaran pengguna sekuat ini, serta fakta bahwa tidak ada sakelar atau tuas,
pasti digerakkan oleh pikiran penggunanya. Sentuhlah permata besar itu dan
konsentrasikan pikiranmu."
"Ba-baiklah.
Akan kucoba."
Sesuai dengan
perkataan sang Majin, aku menyentuh permata yang ada di permukaan alat
sihir itu dan mengonsentrasikan pikiranku.
"Wahai
orang-orang bodoh, akan kutunjukkan pada kalian siapa raja yang sebenarnya!
Alat sihir, lemahkanlah kekuatanmu! Berikan ketakutan bencana kepada
orang-orang bodoh itu!"
Saat aku
memikirkannya, cahaya yang terpancar dari alat sihir itu mulai melemah. Dan
secara bersamaan, getaran pelan mulai bergema dari bawah kaki kami. Getaran itu
pun perlahan-lahan menjadi semakin besar.
"U-uwoo!?"
"Sepertinya
dengan berhentinya kekuatan alat sihir ini, bencana yang selama ini disegel
telah bangkit kembali."
Berhasil! Alat
sihir itu menuruti perintahku!
"Fuhahahaha!
Akhirnya! Akhirnya saat ini tiba juga!"
Aku tidak bisa
menahan tawa yang meluap dari dalam dadaku, dan aku berteriak ke arah langit.
"Menyesallah
kalian karena telah membuangku, Shogun! Terimalah pembalasan dariku karena
telah merampas segalanya, Yukinojo! Wahai kalian semua yang tidak
menyelamatkanku! Aku akan merampas segalanya dari kalian! Rasakanlah siapa
Shogun yang sebenarnya!! Hahahahaha!!"
◆
Tepat saat
Yukinojo-san mendapatkan kembali semangatnya dan kami hendak berangkat keluar,
terdengar suara ledakan yang dahsyat bersamaan dengan semburan api merah yang
membubung dari Gunung Amatsukami.
"Gunung
Amatsukami meletus!?"
"Hieeeee!!"
Orang-orang desa
berteriak ketakutan karena letusan yang tiba-tiba itu.
"Gawat... Gunung Amatsukami benar-benar
meletus..."
"Ba-bagaimana bisa. Padahal energi vulkanik Gunung
Amatsukami dikonsumsi dengan mengoperasikan alat sihir itu..."
"Apakah kita sudah terlambat..."
Kaisar dan para pendeta jatuh terduduk dengan keputusasaan
yang terpancar di wajah mereka.
"Sudah
berakhir, jika Gunung Amatsukami sudah meletus, meskipun kita menyalakan
kembali alat sihirnya..."
Para pendeta yang
mengetahui situasinya mulai gemetar sambil memegang kepala mereka, menganggap
semuanya sudah berakhir.
"Belum,
masih belum! Masih sempat!"
Ya, masih
belum. Terlalu dini untuk menyerah!
"Tidak
bisa, Gunung Amatsukami sudah telanjur meletus. Dalam keadaan begini, menyalakan kembali alat
sihir pun sudah tidak akan sempat. Mungkin jika alat sihir itu masih dalam
kondisi prima, tapi dengan alat sihir yang sudah aus seperti sekarang, tidak
mungkin bisa menghentikan kekuatan gunung berapi yang sedang meletus. Menghisap energi saat tenang
berbeda jauh dengan menekan energi yang sedang mengamuk."
"Tidak! Ini
baru saja meletus! Jadi kita hanya perlu menghentikannya!"
"Hah!?"
Keadaannya sangat
mendesak. Aku menunda penjelasan dan mulai memfokuskan kekuatan sihirku, lalu
merapalkan sihir secara bertubi-tubi.
"Stream
Control!"
Pertama-tama,
dengan sihir pengendali aliran udara, aku mengumpulkan abu vulkanik dan
bebatuan yang membubung ke langit ke satu titik dan menurunkannya perlahan ke
tanah.
"Volcanic
Funnel!"
Selanjutnya,
dengan corong yang kubuat dari kekuatan sihir, aku mengarahkan aliran magma di
dalam gunung berapi agar magma di dalam Gunung Amatsukami tidak keluar lagi,
sehingga menghentikan letusannya.
"O-ooh!?"
"Blizzard
Cocytus!"
Lebih lanjut,
dengan sihir suhu beku area luas, aku membekukan magma yang mengalir keluar dan
magma di kawah secara instan untuk mencegah aliran magma, awan panas, serta
kebakaran hutan secara bersamaan.
"Na-nana!?"
"Weather
Control!"
Kemudian, dengan
sihir pengendali cuaca, aku menenangkan badai dan membuat cuaca menjadi stabil.
"Haaaaaaaa!?"
"Ground
Calm!"
Terakhir, dengan
mengendalikan bumi, aku menenangkan gempa yang terjadi di sekitarnya.
"Ge-gempanya
mereda!?"
"A-apa yang
sedang terjadi!?"
Baiklah, dengan
ini tindakan darurat telah selesai! Setelah semua penanganan selesai, aku
memberi tahu orang-orang desa yang masih terduduk lemas bahwa tindakan darurat
telah dilakukan.
"Untuk
sementara, saya sudah menghentikan letusan gunung berapinya. Namun, ini
hanyalah tindakan sementara, jadi kita perlu segera merebut kembali magic
item pelindung lingkungan itu dari tangan para Majin."
"Ya,
ya..."
"Be-benar
juga, sepertinya untuk sementara ini akan aman, jadi mari kita segera merebut
kembali reruntuhan itu!" ucap Mina.
"...... Nn, akan menghajar para Majin,"
tambah Norb.
"I-iya!
Benar! Tidak apa-apa. Karena
ada Rex-san bersama kita!" seru Yukinojo.
"......
Tu-tunggu sebentar, sebenarnya apa yang terjadi? Ba-bagaimana kau bisa
menghentikan bencana itu...?"
"Sudah,
tidak apa-apa. Lebih baik kita pergi melakukan apa yang harus dilakukan
sekarang!" Mina-san menenangkan Yukinojo-san yang ingin menanyakan
detailnya.
Ya, saat ini
menyelesaikan masalah ini adalah prioritas utama. Lagipula, ini hanyalah sihir
penenang bencana sementara yang biasa digunakan dalam keadaan darurat. Bukan
sihir yang bisa menyelesaikan masalah secara permanen.
"Ka-kami
mengandalkan kalian semua..."
"Iya,
serahkan pada kami! Ayo semuanya!"
"OOOOOOH!!"
"O-oooh?"
Begitulah, kami
berangkat menuju panggung pertarungan penentuan melawan para Majin.
"......
Sejujurnya, kali ini aku benar-benar ketakutan setelah sekian lama."
"Iya, aku merasa sudah terbiasa dengan keanehan Rex,
tapi tidak menyangka dia bisa menghentikan bencana alam semudah itu..."
Ada apa, ya?
Sepertinya ekspresi semua orang agak aneh?
Mungkin mereka tegang karena harus bertarung untuk
melindungi negeri ini dari krisis besar.
Tapi tenang saja.
Kalian semua sudah pasti menjadi semakin kuat. Apa pun cara licik yang
digunakan para Majin, kalian sudah memiliki kekuatan yang cukup untuk
mengatasinya!
◆ Kaisar ◆
Kami hanya bisa terpana melihat punggung keturunan Shogun
itu yang menuju ke Gunung Amatsukami, tempat alat sihir itu berada.
"Sebenarnya siapa bocah itu!?"
Bukan hanya Gunung Amatsukami yang meletus, bahkan badai dan
gempa pun berhasil ditenangkan.
Meskipun aku telah melihat pemandangan itu dengan mata
kepalaku sendiri, aku masih sulit untuk mempercayainya.
Meskipun ia bilang itu hanyalah sementara, apakah manusia
benar-benar bisa melakukan hal semacam itu...?
"Jangan-jangan, mereka semua adalah penjelmaan dari
dewa-dewa yang melindungi Amamine..."
Mendengar kata-kata Saburo yang berada di sampingku,
meskipun aku sempat berpikir 'mana mungkin', namun aku tidak bisa membantahnya.
Karena bagaimanapun juga, mustahil bagi manusia biasa untuk
bisa menghentikan letusan gunung berapi, melenyapkan asap letusan yang
membubung ke langit, bahkan menenangkan amarah bumi.
"......"
Aku tidak tahu siapa bocah itu, tidak, siapa para pemuda itu sebenarnya. Namun, sambil menatap ke arah mereka pergi, kami secara alami melakukan sikap berdoa kepada para dewa dan mempersembahkan rasa syukur yang mendalam.



Post a Comment