NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Nido Tensei shita Shounen wa S-Rank Boukensha Toshite Heion ni Sugosu ~Zense ga Kenja de Eiyuu Datta Boku wa Raise dewa Jimi ni Ikiru~ Volume 10 Chapter 19

Chapter 198

Nama yang Dibuang dan Kebangkitan Bencana


"Kaisar... Siapakah sebenarnya sosok bernama Nyonya Yume itu?"

Setelah penjelasan mengenai situasi saat ini selesai diberikan kepada teman-teman yang baru saja berkumpul kembali, Yukinojo-san menggumamkan pertanyaan tersebut.

"Mu, aa..."

Namun, sang Kaisar tampak kesulitan untuk menjawab pertanyaan itu.

"Apa maksud Haruomi soal istri sah? Bukankah istri sah ayahanda adalah ibunda?"

Mendengar suara mendesak dari Yukinojo-san, sang Kaisar mengerang pelan.

"...... Haa, kurasa ini memang kutukan bagi keluarga Shogun."

Setelah menghela napas panjang, Kaisar akhirnya mulai angkat bicara seolah sudah pasrah.

"Dahulu, Naren Natsunori yang menjabat sebagai Shogun negeri ini memiliki seorang istri sah bernama Nyonya Yume."

"Punya? Maksudnya itu cerita masa lalu?"

Mina-san mewakili rasa penasaran kami untuk bertanya, dan sang Kaisar mengangguk pelan.

"Benar. Nama Nyonya Yume dihapus dari sejarah negeri ini bersama dengan nama keluarga Togo tempat asalnya, karena sebuah insiden tertentu."

"Dihapus dari sejarah!?"

Mendengar topik yang tiba-tiba menjadi berbahaya, kami semua merasa bingung. Jika sebuah keluarga bangsawan sampai dihapus dari sejarah, bukankah itu berarti telah terjadi peristiwa yang sangat luar biasa!?

"Dan Shogun memiliki seorang anak bersama Nyonya Yume. Dialah Haruomi Naren Shun'ou, kakakmu, Yukinojo."

"Haruomi adalah... kakakku!?"

Terkejut oleh kebenaran yang terungkap bertubi-tubi, Yukinojo-san berseru dengan suara gemetar.

"A-apakah benar Haruomi adalah kakak hamba!?"

"Itu fakta. Nama aslinya, Shun'ou, mengandung unsur nama musim yang hanya boleh disandang oleh keturunan langsung Shogun, bukan?"

Memang benar, nama asli Haruomi-san adalah Shun'ou, yang mengandung kanji untuk musim semi. Tapi aku tidak tahu kalau ada aturan penamaan seperti itu di negeri ini.

"Haruomi benar-benar kakakku... Ta-tapi, mengapa Haruomi mengkhianatiku!? Lagipula, istri sah ayah seharusnya adalah ibuku! Mengapa nama mereka dihapus!?"

Kaisar bergumam bahwa terkadang ada hal-hal yang lebih baik tidak diketahui, namun ia mulai menceritakan detailnya secara perlahan.

"Itu karena... keluarga Togo melakukan pemberontakan."

"Pemberontakan!?"

Yukinojo-san membelalakkan mata mendengar kata pemberontakan yang tak terduga itu. Meski begitu, pemberontakan adalah hal yang lumrah terjadi di kehidupanku yang sebelumnya maupun sebelumnya lagi.

Rasanya tidak sampai membuat nama keluarga harus dihapus selamanya. Apa yang sebenarnya terjadi hingga berakhir seperti itu?

"M-mana mungkin!? Selama beberapa ratus tahun terakhir, seharusnya tidak ada konflik yang menentang keluarga Shogun di negeri ini!"

Beberapa ratus tahun!? Itu hebat sekali! Biasanya dalam waktu selama itu, pasti akan terjadi satu atau dua kali pemberontakan.

Malah, tidak aneh jika sebuah negara sudah runtuh dalam jangka waktu sepanjang itu. Fakta bahwa hal itu tidak terjadi menunjukkan betapa damainya negeri ini.

"Itu hanya di permukaan. Kenyataannya, pemberontakan telah terjadi lebih dari satu atau dua kali."

Sepertinya dugaanku barusan salah.

"Hal terpenting bagi negeri ini adalah menstabilkan tanah Amamine menggunakan magic item. Karena itu, kami ingin meminimalisir segala kejadian yang bisa mengganggu operasional alat sihir tersebut. Itulah sebabnya dibutuhkan hukuman berat yang membuat siapa pun tidak akan pernah mau terlibat dalam insiden yang bisa mengguncang negara."

"Hukuman itu adalah menghapus nama mereka?"

"Benar. Bagi keluarga pendekar di negeri ini, maupun bangsawan di negara lain, mempertahankan garis keturunan adalah hal yang paling utama. Meski gelar bangsawan mereka dicabut, selama nama keluarga dan darah mereka tetap ada, suatu saat mereka bisa membangkitkan kembali kejayaan keluarga tersebut."

Namun, sang Kaisar menjeda kalimatnya.

"Jika melakukan pemberontakan di negeri ini, hukumannya tidak sesederhana itu. Semua anggota keluarga akan dieksekusi meski tidak terlibat langsung, dan nama keluarga mereka akan dihapus dari sejarah negara. Jika pun ada anggota keluarga yang beruntung bisa bertahan hidup, dia tidak akan pernah diizinkan untuk membangkitkan kembali keluarganya meski telah melakukan jasa besar sekalipun. Bagaimanapun, mereka berasal dari keluarga yang sudah dihapus dari sejarah. Keluarga yang 'tidak ada' tidak mungkin bisa dibangkitkan kembali. Tentu saja, mendirikan keluarga baru dari nol pun tidak diperbolehkan."

Begitu ya, bagi bangsawan yang menganggap kelangsungan keluarga sebagai hal terpenting, ini memang hukuman yang mengerikan.

Jika kegagalan berarti penghapusan nama keluarga selamanya tanpa harapan untuk bangkit kembali, tidak akan ada yang berani memberontak kecuali jika mereka sangat percaya diri akan menang.

Dengan aturan seperti itu, kemungkinan bangsawan lain untuk membantu pemberontakan menjadi sangat kecil.

Malah, mereka mungkin akan berpura-pura membantu hanya untuk mendapatkan informasi dan melenyapkan keluarga saingan yang dianggap mengganggu.

Jika jumlah bangsawan berkurang, akan ada jabatan dan wilayah kosong yang bisa mereka ambil alih.

"Beberapa saat setelah anak dari Shogun dan Nyonya Yume lahir, tersiar informasi bahwa keluarga Togo sedang bersiap untuk memberontak. Mendengar hal itu, Shogun merasa aneh namun memutuskan untuk menyelidikinya terlebih dahulu. Bagaimanapun, putri dari keluarga Togo telah menjadi istri sah Shogun dan bahkan telah melahirkan seorang anak. Orang waras mana pun tidak mungkin melakukan pemberontakan dalam posisi seperti itu."

"Itu benar sekali."

Semua orang mengangguk setuju. Jika putri mereka akan menjadi ibu dari Shogun berikutnya, keluarga itu pasti akan menjadi keluarga paling berpengaruh di Amamine.

Hal itu berlaku sama di negara kami. Itulah sebabnya Shogun merasa janggal dengan informasi pemberontakan tersebut.

"Ja-jadi, apakah itu berarti pemberontakan benar-benar terjadi hingga keluarga Togo dihancurkan?"

Terhadap pertanyaan Yukinojo-san, Kaisar justru menggelengkan kepalanya.

"Tidak, pemberontakan tidak terjadi. Lebih tepatnya, barang bukti ditemukan sebelum pemberontakan sempat meletus."

"Barang bukti?"

"Benar. Sejumlah besar magic item tempur ditemukan di berbagai gudang dan reruntuhan di wilayah kekuasaan Togo setelah adanya laporan rahasia."

"Magic Item!?"

"Ya, jumlah magic item yang tidak masuk akal untuk dimiliki di masa damai menjadi bukti kuat bahwa keluarga Togo sedang merencanakan pemberontakan. Sepertinya jumlahnya sangat banyak, tidak mungkin dikumpulkan hanya untuk hobi. Siapa pun pasti akan menganggap itu dikumpulkan untuk keperluan perang. Namun, karena ini adalah negara yang tidak pernah mengalami perang selama ratusan tahun, Shogun dan para tetua memutuskan bahwa ini tidak lain adalah rencana pemberontakan, dan akhirnya memutuskan untuk menghapus keluarga Togo."

Selesai berkata demikian, Kaisar menghela napas panjang. Begitu ya.

Memang wajar jika seorang penguasa wilayah di sebuah negara kepulauan yang tidak perlu khawatir akan perang dengan tetangga tiba-tiba memiliki magic item dalam jumlah besar, dia akan dicurigai.

Terlebih jika kekuatannya cukup untuk melawan negara, informasi pemberontakan itu hampir pasti dianggap benar.

Lagipula, di kehidupanku sebelumnya, ada satu magic item saja sudah bisa menyebabkan bencana besar yang meruntuhkan negara.

Ah, aku tidak sedang membicarakan magic item buatanku sendiri, lho!

"Karena keadaan itulah, nama Nyonya Yume dihapus, dan ibunda Yukinojo menjadi istri sah yang baru."

"Hal seperti itu ternyata pernah terjadi..."

Mengetahui fakta bahwa ada istri sah lain sebelum ibunya, dan kenyataan bahwa orang tersebut dihapus dari sejarah, membuat Yukinojo-san menunjukkan ekspresi yang sulit dijelaskan.

"Eh? Tapi jika melakukan pemberontakan, bukankah orang-orang yang berhubungan juga akan dieksekusi meski tidak terlibat langsung? Mengapa sosok bernama Haruomi itu bisa tetap hidup?"

Norb-san yang tiba-tiba merasa janggal memiringkan kepalanya, mempertanyakan mengapa Haruomi-san masih hidup.

Benar juga. Jika mengikuti perkataan Kaisar, Haruomi-san seharusnya sudah tidak bernyawa sekarang.

"Yah, kenyataannya, para bawahan juga terus mendesak agar dia dibunuh. Mereka bilang membiarkannya hidup akan menciptakan preseden buruk. Padahal sebenarnya mereka hanya ingin memasukkan putri mereka sendiri menjadi istri sah dan menjadi ibu dari Shogun berikutnya. Namun, sebagai keluarga Shogun yang menjaga kedamaian negeri ini, mereka tidak boleh menunjukkan kelemahan di depan bawahan. Jika pemimpin tidak mematuhi aturan, bawahan tidak akan bisa diatur."

"Ah, menyebalkan sekali," gumam Kaisar sambil menunjukkan ekspresi jijik terhadap politik kotor para pendekar di negeri ini. Orang ini benar-benar tidak tertarik pada politik, ya.

"Meski begitu, Shogun tetaplah seorang ayah. Dia pasti merasa tidak tega membunuh anaknya sendiri. Dia menguburkan bayi lain yang meninggal di waktu yang sama sebagai pengganti anaknya, lalu diam-diam melarikan darah dagingnya sendiri. Dia mengubah nama 'Shun'ou' (Burung Bulbul Musim Semi/Raja) yang diberikan sebagai calon Shogun berikutnya menjadi 'Haruomi'."

"Itulah sebabnya Haruomi berkata bahwa dia bukanlah bawahanku..."

Yukinojo-san kembali tertunduk saat menyadari makna sebenarnya di balik kata-kata yang diucapkan Haruomi-san kepadanya.

"Tapi mengapa Anda bisa tahu sedetail itu? Bukankah itu kejadian yang seharusnya dihapus dari sejarah?"

Ya, itu benar. Mengapa orang yang tinggal di tempat terpencil seperti ini bisa tahu urusan internal sedalam itu?

"Ah, itu mudah saja. Karena aku mendengarnya langsung dari si Shogun itu."

"Langsung dari ayahanda!?"

"Ya. Dia adalah raja praktis di negeri ini. Dia tidak bisa mengeluh kepada sembarang orang. Tapi kepadaku, Kaisar yang merupakan simbol negara namun terpisah dari urusan politik, dia bisa mencurahkan isi hatinya dengan tenang. Dia sering datang kemari dengan alasan tugas Shogun padahal hanya untuk mengeluh padaku."

Begitu ya, pantas saja dia tahu karena diberitahu langsung oleh pelakunya.

"Tapi dari mana Haruomi mendengar cerita itu? Shogun bilang dia sudah memerintahkan tutup mulut soal masalah itu, dan bayi itu pun dikirim melalui banyak tangan di desa ini sebelum akhirnya dititipkan ke keluarga yang jauh hubungannya. Seharusnya dia tidak mungkin sadar kalau dia adalah anak Shogun. Yah, mulut manusia memang tidak bisa dikunci. Mungkin ada seseorang yang menyadari Haruomi masih hidup dan terus mengikutinya dengan penuh dendam."

Lalu Kaisar berkata bahwa kemungkinan besar para Majin memanfaatkan informasi tersebut.

"Baiklah, cerita soal Haruomi selesai sampai di sini. Bagi kita, poin utamanya justru dimulai dari sekarang."

"...... Soal magic item itu, ya."

"Benar. Haruomi dan para Majin menuju Gunung Amatsukami dengan membawa satu kunci lainnya. Kunci itu akan terbuka pengunciannya jika pendaftar sebelumnya meninggal, sehingga bisa membuat kontrak dengan pemilik baru. Dengan kata lain, sekarang setelah Shogun wafat, Haruomi pun bisa melakukan kontrak."

"Ada kemungkinan para Majin yang akan melakukan kontrak, kan?"

"Tidak perlu khawatir soal itu. Itu adalah magic item dari zaman di mana keberadaan Majin adalah hal yang lumrah. Alat itu sudah diatur agar hanya bisa digunakan oleh manusia agar tidak disalahgunakan."

Begitu ya, setidaknya situasi terburuk bisa dihindari. Namun, mungkin itulah alasan mengapa para Majin bekerja sama dengan Haruomi-san.

Karena mereka tidak bisa mengoperasikannya sendiri, mereka ingin mengendalikan magic item pelindung negara tersebut melalui Haruomi-san.

"Alat sihir itu bergerak dengan memanfaatkan dua energi, yaitu energi vulkanik Gunung Amatsukami dan energi dari aliran nadi bumi (Spirit Vein). Tempat itu adalah lokasi paling berbahaya di negeri ini karena merupakan titik temu gunung berapi aktif dan nadi bumi, namun sekaligus merupakan lokasi paling ideal untuk mengamankan energi."

"Begitu ya, jadi Anda memanfaatkan energi bencana untuk menekan bencana lainnya."

"Begitulah. Sebaliknya, itu juga berarti dibutuhkan kekuatan yang luar biasa besar untuk melindungi satu negara dari berbagai bencana."

Wah, pemikiran yang menarik. Jika itu aku, mungkin aku akan berpikir untuk menyelesaikan penyebabnya atau langsung melenyapkan bencana itu sendiri.

Mungkin leluhur Kaisar adalah seorang teknisi yang mementingkan daur ulang energi.

Dengan harapan agar anak cucunya di masa depan bisa memanfaatkan magic item ini untuk perkembangan negara.

"Tapi yah, akhir-akhir ini magic item itu mulai tidak stabil. Perawatan rutin memang dilakukan, tapi tetap saja ada material yang tidak bisa didapatkan di negeri ini, dan ada bagian yang tidak bisa diperbaiki selama alat itu menyala. Ditambah lagi dengan banyaknya monster yang berkeliaran di sekitar desa baru-baru ini, perawatan pun menjadi terhambat. Apalagi sekarang kunci itu telah direbut oleh Majin, apa pun bisa terjadi kapan saja."

Kaisar berkata dengan kesal sambil menggaruk kepalanya.

"Mungkin usia magic item itu sudah hampir habis. Selama ini kami telah melakukan apa yang kami bisa, tapi benda mati pun suatu saat akan rusak. Tapi setidaknya sebelum semuanya terlambat, aku ingin melakukan pemeliharaan sekali lagi untuk menenangkan bencana laut. Dan aku ingin meloloskan sebanyak mungkin rakyat Amamine ke luar negeri."

Kaisar menatap kami dengan pandangan serius. Begitu ya, keinginan Kaisar ternyata adalah evakuasi rakyatnya. Tapi itu adalah hal yang sangat berat.

Orang-orang yang kehilangan negaranya akan menghadapi kesulitan luar biasa untuk mendapatkan kampung halaman baru. Tapi mungkin itulah kenyataan yang harus dihadapi negeri ini sekarang.

"Aku mohon, rebut kembali kunci magic item itu. Aku ingin melakukan pemeliharaan sekali lagi sebelum alat itu dihancurkan oleh para Majin."

"Kami mengerti! Serahkan saja pada kami!"

Saat aku menjawab, teman-teman yang lain pun mengangguk dengan mantap.

"Rasanya tidak enak kalau berhenti di sini begitu saja," ucap Mina.

"Benar, jika dibiarkan begini, banyak orang yang akan terancam bahaya. Sebagai pelayan Tuhan, aku tidak bisa membiarkannya," tambah Liliera.

"Kami menerima permintaan dari paman Tetua Utama, jadi kami akan membantu," ujar Norb.

"Iya, lagipula kalau Rex-san bergerak, aku juga akan bergerak meski tanpa permintaan," sambung Meguri.

"Kyu-kyu!"

Mofumofu juga seolah berkata 'serahkan padaku!'. Dia menjadi semakin bisa diandalkan padahal baru sebentar tidak bertemu. Baiklah, mari kita segera berangkat!

Aku pun berdiri, namun di tengah semua itu, hanya Yukinojo-san yang masih tertunduk diam. Alasannya... tidak perlu ditanya lagi.

Orang yang melindunginya sampai akhir saat diserang musuh ternyata adalah musuhnya sendiri. Terlebih lagi, Haruomi-san adalah kakak kandungnya.

Ditambah lagi dengan kenyataan bahwa keluarga aslinya dihancurkan karena pemberontakan, wajar jika Yukinojo-san menjadi bingung harus berbuat apa.

Kaisar pun sepertinya memahami perasaan itu, tangannya tampak bimbang di udara, tidak tahu bagaimana cara menghiburnya. Yang lain pun merasa sungkan untuk menegurnya setelah mendengar semua cerita tadi.

"Hei, ada apa denganmu Yukinojo! Jika kau tidak ikut, kau tidak akan bisa melakukan kontrak dengan magic item itu. Kau ingin menjadi Shogun, kan!"

Namun, hanya Mina-san yang berbicara seperti biasa sambil menepuk-nepuk punggung Yukinojo-san.

"Tidak, mungkin sebaiknya hamba tidak ikut."

"Apa yang kau katakan! Jika kau tidak pergi, alat itu akan menjadi milik Haruomi-san!"

"...... Bukankah itu lebih baik?"

"Hah? Apa yang kau bicarakan!"

Sambil tetap tertunduk, Yukinojo-san mengeluarkan kata-kata yang menyesakkan.

"Seharusnya Haruomi yang menjadi Shogun berikutnya. Aku hanyalah orang yang merebut posisi itu darinya."

"Itu tidak bisa dihindari, kan? Karena keluarga aslinya telah melakukan pemberontakan."

"Tapi itu bukan kesalahan Haruomi! Malah Haruomi yang masih kecil saat itu adalah korbannya!"

Seolah hal itulah yang paling menusuk hatinya, Yukinojo-san berseru dengan keras.

"Lagipula aku tidak bisa melakukan apa-apa dalam perjalanan ini! Aku hanya dilindungi layaknya seorang putri! Keinginanku untuk menjadi Shogun pun hanyalah karena aku merasa itu adalah tugasku sebagai anak Shogun! Aku hanya ingin menjadi Shogun tanpa pemikiran yang matang! ...... Orang sepertiku, yang telah merebut segalanya dari kakakku, tidak pantas menjadi Shogun dengan wajah tanpa dosa......"

Rasa bersalah, itulah wujud asli dari keputusasaan yang melanda Yukinojo-san.

Bahwa yang merenggut keluarga kakaknya adalah ayah kandungnya sendiri, dan yang merenggut segalanya dari kakaknya yang tidak berdosa adalah dirinya sendiri.

"Daripada orang sepertiku, mungkin negeri ini akan menjadi lebih baik jika Haruomi yang menjadi Shogun."

Begitulah, Yukinojo-san tertawa sinis pada dirinya sendiri.

"MEMANGNYA... KENAPA KALAU BEGITU!!!!!!!!!"

Terhadap Yukinojo-san yang seperti itu, Mina-san memukul punggungnya dengan sekuat tenaga.

"Ugwaaa!?"

Dapaan! Terdengar suara hantaman yang keras, dan Yukinojo-san pun terpental jatuh ke tanah.

"Apa-apaan dengan 'negeri ini akan lebih baik jika Haruomi menjadi Shogun'!! Jangan bicara sembarangan! Kau lupa sesuatu, ya?"

"A-apa maksudmu?"

"Bukankah Haruomi-san sendiri yang mengatakannya padamu? Bahwa dia akan menghancurkan negeri ini. Bahwa dia akan menghancurkan segala sesuatu yang telah merebut segalanya darinya. Itu artinya, orang itu berencana untuk mengacaukan negara ini! Apa kau pikir rakyat bisa bahagia jika dipimpin oleh orang seperti itu!?"

"Ugh."

Alasan yang sangat masuk akal itu membuat Yukinojo-san dan Kaisar membelalakkan mata. Liliera-san juga tampak sedikit terkejut, tapi Norb-san dan Meguri-san justru terlihat sedikit senang atau mungkin sedang menikmati tontonan ini?

"Dengar, ya? Memang tidak bisa dihindari kalau ada takdir kelam di antara kau dan Haruomi-san. Tapi itu adalah perbuatan orang tua kalian. Itu tidak ada hubungannya secara langsung dengan kalian! Dan Haruomi-san menyimpan dendam akan hal itu dan mencoba membalas dendam dengan melibatkan seluruh rakyat negeri ini! Buktinya pengawalmu dan orang-orang di istana sudah diserang!"

"I-itu, tapi..."

"Tidak ada tapi-tapian! Orang itu sedang melakukan hal buruk sekarang! Dan jika dia mendapatkan magic item itu, korbannya akan semakin banyak! Jadi aku akan mengatakannya sekarang. Bukan sebagai anak Shogun, bukan sebagai adik yang merebut segalanya dari Shun'ou, kau sendiri ingin melakukan apa? Apa kau hanya ingin membuang segalanya dan menonton negaramu hancur? Hanya diam melihat banyak orang mati? Apakah Shogun yang kau katakan ingin kau capai itu adalah raja yang membiarkan hal semacam itu terjadi?"

Mina-san terus mendesak Yukinojo-san seolah tidak ingin mendengar keluh kesahnya.

"Jawablah, Kouki! Sebagai seorang pria biasa, tunjukkanlah semangat pejuang Amamine yang kau yakini itu!"

Entah mengapa, di sana Mina-san memanggil Yukinojo-san dengan nama yang berbeda.

"!?"

Namun, sepertinya Yukinojo-san merasakan sesuatu saat dipanggil dengan nama itu. Matanya terbuka lebar.

"Aku... aku..."

Yukinojo-san mengangkat wajahnya seolah ingin menghapus keraguannya.

"Sosok prajurit ideal bagiku adalah... Ayahanda yang telah mencurahkan segenap hatinya untuk rakyat negeri ini. Sosok Naren Natsunori."

Secara perlahan namun dengan mata yang penuh tekad, dia berdiri.

"Mina, aku bukanlah Kouki. Aku adalah putra Shogun Naren Natsunori, Naren Yukinojo. Dan aku tidak bisa membiarkan kekejaman Haruomi, kakakku! Sebagai Shogun berikutnya, tugasku adalah melindungi rakyat negeri ini!"

Lebih dari sekadar kasih sayang saudara atau rasa bersalah, Yukinojo-san dengan jelas menyatakan bahwa ia akan menunaikan tugas yang telah ia warisi.

"Begitu ya, kalau begitu tidak apa-apa, kan? Jika itu adalah keputusan atas keinginanmu sendiri."

"Umu, tapi kau sungguh keras, ya. Sampai-sampai aku tidak punya waktu untuk bersedih."

Seolah beban di hatinya telah terangkat, Yukinojo-san tersenyum.

"Seperti yang diharapkan dari Mina yang memarahi dan menghajar pemimpin anak nakal di desa. Kau tidak peduli dengan urusan lawan bicaramu."

"Benar, saat Jairo-kun sedang putus asa karena kehilangan ayahnya, dia juga dihajar seperti itu oleh Mina," tambah Meguri sambil tertawa.

"Berkat itu, Jairo tidak bisa berkutik di depan Mina."

Apakah Mina-san memang sudah memiliki sifat seperti kakak perempuan yang tegas sejak dulu?

"Baiklah! Kalau begitu, setelah kita menghajar para Majin dan merebut kembali kunci magic item itu, kita akan menangkap Haruomi-san dan memarahinya habis-habisan!"

"Umu! Aku akan membuat Haruomi menebus dosanya! Setelah itu, aku akan menghadapinya sebagai seorang adik."

"Iya, berjuanglah."

Mata Mina-san tampak lembut saat menatap Yukinojo-san yang telah membulatkan tekadnya kembali, dan ia membisikkan kata-kata yang seolah mendorong semangatnya.


Shun'ou

"Ooh, inikah alat sihir yang mengendalikan negeri ini!"

Sambil menatap alat sihir raksasa yang bersemayam di depanku, tanpa sadar aku menyunggingkan senyum.

Kami berada di dalam sebuah gua di kaki Gunung Amatsukami. Ini adalah jantung pertahanan negeri ini yang dilindungi oleh penghalang (barrier).

"Berkat kunci ini, akhirnya aku bisa sampai ke sini."

Majin yang datang bersamaku mendekati alat sihir tersebut sambil memegang kunci. Namun, tepat saat ia mencoba menyentuh alat tersebut, tangan sang Majin terpental dengan keras.

"Gwaaaa!?"

Lengan sang Majin tercabik-cabik, dan darah segar mengalir deras dari lukanya.

"Cih, ternyata bukan hanya di pintu masuk, bahkan alat sihir itu sendiri pun dipasang pengamanan sehebat ini!"

Majin itu menatap tajam ke arah alat sihir dengan penuh kebencian sambil menuangkan ramuan penyembuh ke lengannya. Lalu, ia melemparkan kunci yang dipegangnya kepadaku.

"Sepertinya memang kekuatanmu yang dibutuhkan."

"Umu."

Aku menggenggam kunci itu dan sekali lagi menatap ke arah alat sihir raksasa tersebut.

"Ah, akhirnya aku sampai di sini."

Sambil mencengkeram kunci itu erat-erat, aku teringat kembali pada hari pertama kali aku bertemu dengan sang Majin. Aku tumbuh sebagai anak dari seorang samurai miskin.

Namun, aku bukanlah anak kandung, melainkan dibesarkan sebagai anak yang tidak jelas asal-usulnya yang dibawa entah dari mana.

Tentu saja tidak ada anggota keluarga yang menyambut hangat anak seperti itu. Ibu tiri dan kakak tiriku memperlakukanku dengan sangat kasar.

Ayah tiri, meski merasa memiliki kewajiban untuk membesarkanku, tidak pernah mencoba memperbaiki perilaku ibu tiri dan yang lainnya.

Mengapa hanya aku yang mengalami hal seperti ini? Sambil menjalani kehidupan layaknya seorang pelayan, hari-hariku dipenuhi oleh rasa depresi.

Saat itulah, seorang pria yang mengaku tahu siapa ayah kandungku datang mengunjungiku.

Sosok asli pria itu adalah seorang Majin yang menyamar menjadi manusia.

Aku terkejut, karena Majin yang seharusnya hanya ada dalam cerita dongeng ternyata benar-benar ada.

Dan sang Majin menceritakan segalanya kepadaku.

"Kau adalah putra dari Shogun negeri ini. Namun, karena kalah dalam persaingan politik, keluargamu hancur dan hanya kau yang tersisa."

Lebih lanjut, sang Majin berkata bahwa aku memiliki seorang adik beda ibu. Dan sosok itu hidup dengan nyaman sambil mendapatkan segala sesuatu yang seharusnya menjadi milikku.

Tidak bisa dimaafkan. Itulah yang kupikirkan.

Aku yang tidak mendapatkan pendidikan yang layak bahkan tidak mengerti arti dari kata persaingan politik, namun aku bisa memahami bahwa diriku ditindas sementara adik kandungku mendapatkan segalanya.

"Jika kau menginginkan balas dendam, aku akan membantumu. Ambillah kembali... tidak, rebutlah kembali apa yang seharusnya menjadi milikmu."

Aku tidak tahu seberapa besar kata-kata sang Majin bisa dipercaya.

Bagaimanapun, mereka adalah musuh kami umat manusia. Aku tidak yakin dia memberitahuku kebenaran karena niat baik. Pasti ada maksud tersembunyi.

Namun meski begitu, kata-kata sang Majin adalah harapan bagiku.

Karena saat ini, aku tidak punya apa-apa. Tidak ada uang, tidak ada makanan, tidak ada kasih sayang yang hangat.

Yang ada hanyalah tatapan hina yang menganggapku sebagai beban.

"Berikan aku kekuatan. Aku tidak peduli apa yang kalian rencanakan. Aku akan mengambil kembali segala yang telah dirampas dariku, dan merebut segalanya dari mereka yang telah merampasnya dariku!"

Sang Majin menyeringai lebar.

"Begitu lebih baik. Kau tidak perlu mempercayai kami. Kita hanya perlu saling memanfaatkan satu sama lain."

Dengan begitu, aku membuang negaraku dan bekerja sama dengan para Majin.

Lalu, keluarga tiriku dibakar habis bersama rumah mereka oleh sang Majin, dan aku pun diadopsi oleh seorang samurai berkedudukan tinggi melalui koneksi sang Majin.

Di rumah itulah, aku mendapatkan pendidikan sebagai samurai yang selama ini dilarang untuk kupelajari. Itu adalah hari-hari yang berat dan menyakitkan.

Karena aku harus mempelajari pendidikan yang seharusnya dipelajari sejak kecil oleh anak bangsawan lain, padahal saat itu aku sudah hampir dewasa.

Namun, aku bertahan dengan gigi terkatup. Segalanya demi membalas dendam pada keluarga Shogun.

Dan demi memberikan keputusasaan pada Yukinojo yang telah menyingkirkanku dan mendapatkan segalanya!

Dan demi mendapatkan kunci, aku masuk mengabdi ke istana melalui koneksi sang Majin.

Katanya, segala sesuatunya berjalan lancar karena sang Majin telah menyamar menjadi manusia menggunakan alat sihir penyamaran untuk mengumpulkan koneksi dan kelemahan orang-orang demi hari ini.

Dalam arti tertentu, aku pun menjadi salah satu dari koneksi tersebut, namun bagaimanapun juga, kami saling memanfaatkan. Akan kumanfaatkan dia semaksimal mungkin.

Dengan mata-mata yang menyusup ke istana terlebih dahulu dan alat sihir yang disiapkan oleh Majin, pembunuhan Shogun menjadi sangat mudah.

Namun, karena tidak mengetahui wujud asli kuncinya, aku memfokuskan tujuanku pada Yukinojo, putra Shogun.

Dengan menjadi pengawalnya, aku mendapatkan kepercayaan Yukinojo sambil menunggu saat ia mencapai usia dewasa, saat di mana kunci itu kemungkinan besar akan diserahkan.

Aku juga melaporkan kehidupan sehari-hari Yukinojo kepada Shogun sambil dengan sabar mencari informasi apakah kunci itu sudah diberikan atau belum.

Sejujurnya, peran menjadi perantara antara pria yang membuangku dan pria yang merenggut segalanya dariku membuat isi perutku serasa mendidih.

Aku terus menahan diri sambil berpikir ingin membunuh mereka berdua saat itu juga.

Beruntung atau tidak, karena kesabaranku yang terus berlanjut, Shogun sepertinya mulai mempercayaiku. Berkat itu, saat ia menanyakan soal Yukinojo, jumlah pengawal di sekitarnya pun berkurang drastis.

Sebagai gantinya, aku harus mendengarkan keluh kesahnya yang menyebalkan tentang sulitnya menjadi orang tua yang tidak bisa bersikap sebagaimana mestinya, itu benar-benar sebuah siksaan.

Namun, itu semua sebanding. Suatu hari, Shogun akhirnya keceplosan bicara. Bahwa ia telah memberikan apa yang dibutuhkan untuk penobatan Shogun kepada putranya.

Dengan begitu, ia merasa tenang kapan pun ajalnya tiba. Akhirnya, aku mendengar kata-kata yang kunantikan. Malam itu juga, aku membunuh sang Shogun.

Aku melimpahkan kesalahan pembunuhan itu kepada Tetua Utama, dan mendesak Yukinojo untuk melarikan diri. Yukinojo yang sangat mempercayaiku langsung saja percaya.

Sejujurnya, itu sangat menyenangkan. Itulah saat di mana semua kebencianku selama ini terbayar lunas.

Dalam hati aku menertawakan kebodohan Yukinojo sambil membiarkan bawahanku yang menyamar sebagai pengejar membunuh para pengawal Yukinojo.

Di tengah jalan memang ada gangguan dari orang-orang aneh, tapi jika melihat hasilnya, ini adalah pencapaian yang luar biasa.

Dengan alat sihir pemindah, aku bisa menarik para Majin ke dalam desa dan berhasil merebut kunci alat sihir tersebut. Jika boleh berharap lebih, aku hanya menyesal karena tidak bisa membunuh Yukinojo di tempat itu.

"Nah, alat sihir! Akuilah aku sebagai Shogun!"

Sambil mengacungkan kunci itu, aku menyentuh alat sihir tersebut.

"Ooh!?"

Seketika itu juga, alat sihir dan kuncinya bersinar redup sambil saling terhubung dengan garis cahaya. Lebih lanjut, cahaya dari kunci tersebut mulai menyelimuti tubuhku.

"I-ini apa?"

"Jangan khawatir. Alat sihir dan kuncinya sedang terhubung (linking) dan mendaftarkanmu sebagai pemiliknya."

"Akhirnya, akhirnya aku menjadi pemilik dari alat sihir ini!"

Setelah cahaya menyelimuti seluruh tubuhku, cahaya pada kunci dan alat sihir tersebut mulai memudar, dan garis cahaya yang menghubungkan keduanya pun terputus.

"Sepertinya pendaftaran telah selesai."

"Ooh, dengan ini aku telah menjadi raja yang sesungguhnya di negeri ini!"

"Nah, cobalah operasikan alat sihir itu. Hmm, alat sihir yang memiliki sistem pendaftaran pengguna sekuat ini, serta fakta bahwa tidak ada sakelar atau tuas, pasti digerakkan oleh pikiran penggunanya. Sentuhlah permata besar itu dan konsentrasikan pikiranmu."

"Ba-baiklah. Akan kucoba."

Sesuai dengan perkataan sang Majin, aku menyentuh permata yang ada di permukaan alat sihir itu dan mengonsentrasikan pikiranku.

"Wahai orang-orang bodoh, akan kutunjukkan pada kalian siapa raja yang sebenarnya! Alat sihir, lemahkanlah kekuatanmu! Berikan ketakutan bencana kepada orang-orang bodoh itu!"

Saat aku memikirkannya, cahaya yang terpancar dari alat sihir itu mulai melemah. Dan secara bersamaan, getaran pelan mulai bergema dari bawah kaki kami. Getaran itu pun perlahan-lahan menjadi semakin besar.

"U-uwoo!?"

"Sepertinya dengan berhentinya kekuatan alat sihir ini, bencana yang selama ini disegel telah bangkit kembali."

Berhasil! Alat sihir itu menuruti perintahku!

"Fuhahahaha! Akhirnya! Akhirnya saat ini tiba juga!"

Aku tidak bisa menahan tawa yang meluap dari dalam dadaku, dan aku berteriak ke arah langit.

"Menyesallah kalian karena telah membuangku, Shogun! Terimalah pembalasan dariku karena telah merampas segalanya, Yukinojo! Wahai kalian semua yang tidak menyelamatkanku! Aku akan merampas segalanya dari kalian! Rasakanlah siapa Shogun yang sebenarnya!! Hahahahaha!!"

Tepat saat Yukinojo-san mendapatkan kembali semangatnya dan kami hendak berangkat keluar, terdengar suara ledakan yang dahsyat bersamaan dengan semburan api merah yang membubung dari Gunung Amatsukami.

"Gunung Amatsukami meletus!?"

"Hieeeee!!"

Orang-orang desa berteriak ketakutan karena letusan yang tiba-tiba itu.

"Gawat... Gunung Amatsukami benar-benar meletus..."

"Ba-bagaimana bisa. Padahal energi vulkanik Gunung Amatsukami dikonsumsi dengan mengoperasikan alat sihir itu..."

"Apakah kita sudah terlambat..."

Kaisar dan para pendeta jatuh terduduk dengan keputusasaan yang terpancar di wajah mereka.

"Sudah berakhir, jika Gunung Amatsukami sudah meletus, meskipun kita menyalakan kembali alat sihirnya..."

Para pendeta yang mengetahui situasinya mulai gemetar sambil memegang kepala mereka, menganggap semuanya sudah berakhir.

"Belum, masih belum! Masih sempat!"

Ya, masih belum. Terlalu dini untuk menyerah!

"Tidak bisa, Gunung Amatsukami sudah telanjur meletus. Dalam keadaan begini, menyalakan kembali alat sihir pun sudah tidak akan sempat. Mungkin jika alat sihir itu masih dalam kondisi prima, tapi dengan alat sihir yang sudah aus seperti sekarang, tidak mungkin bisa menghentikan kekuatan gunung berapi yang sedang meletus. Menghisap energi saat tenang berbeda jauh dengan menekan energi yang sedang mengamuk."

"Tidak! Ini baru saja meletus! Jadi kita hanya perlu menghentikannya!"

"Hah!?"

Keadaannya sangat mendesak. Aku menunda penjelasan dan mulai memfokuskan kekuatan sihirku, lalu merapalkan sihir secara bertubi-tubi.

"Stream Control!"

Pertama-tama, dengan sihir pengendali aliran udara, aku mengumpulkan abu vulkanik dan bebatuan yang membubung ke langit ke satu titik dan menurunkannya perlahan ke tanah.

"Volcanic Funnel!"

Selanjutnya, dengan corong yang kubuat dari kekuatan sihir, aku mengarahkan aliran magma di dalam gunung berapi agar magma di dalam Gunung Amatsukami tidak keluar lagi, sehingga menghentikan letusannya.

"O-ooh!?"

"Blizzard Cocytus!"

Lebih lanjut, dengan sihir suhu beku area luas, aku membekukan magma yang mengalir keluar dan magma di kawah secara instan untuk mencegah aliran magma, awan panas, serta kebakaran hutan secara bersamaan.

"Na-nana!?"

"Weather Control!"

Kemudian, dengan sihir pengendali cuaca, aku menenangkan badai dan membuat cuaca menjadi stabil.

"Haaaaaaaa!?"

"Ground Calm!"

Terakhir, dengan mengendalikan bumi, aku menenangkan gempa yang terjadi di sekitarnya.

"Ge-gempanya mereda!?"

"A-apa yang sedang terjadi!?"

Baiklah, dengan ini tindakan darurat telah selesai! Setelah semua penanganan selesai, aku memberi tahu orang-orang desa yang masih terduduk lemas bahwa tindakan darurat telah dilakukan.

"Untuk sementara, saya sudah menghentikan letusan gunung berapinya. Namun, ini hanyalah tindakan sementara, jadi kita perlu segera merebut kembali magic item pelindung lingkungan itu dari tangan para Majin."

"Ya, ya..."

"Be-benar juga, sepertinya untuk sementara ini akan aman, jadi mari kita segera merebut kembali reruntuhan itu!" ucap Mina.

"...... Nn, akan menghajar para Majin," tambah Norb.

"I-iya! Benar! Tidak apa-apa. Karena ada Rex-san bersama kita!" seru Yukinojo.

"...... Tu-tunggu sebentar, sebenarnya apa yang terjadi? Ba-bagaimana kau bisa menghentikan bencana itu...?"

"Sudah, tidak apa-apa. Lebih baik kita pergi melakukan apa yang harus dilakukan sekarang!" Mina-san menenangkan Yukinojo-san yang ingin menanyakan detailnya.

Ya, saat ini menyelesaikan masalah ini adalah prioritas utama. Lagipula, ini hanyalah sihir penenang bencana sementara yang biasa digunakan dalam keadaan darurat. Bukan sihir yang bisa menyelesaikan masalah secara permanen.

"Ka-kami mengandalkan kalian semua..."

"Iya, serahkan pada kami! Ayo semuanya!"

"OOOOOOH!!"

"O-oooh?"

Begitulah, kami berangkat menuju panggung pertarungan penentuan melawan para Majin.

"...... Sejujurnya, kali ini aku benar-benar ketakutan setelah sekian lama."

"Iya, aku merasa sudah terbiasa dengan keanehan Rex, tapi tidak menyangka dia bisa menghentikan bencana alam semudah itu..."

Ada apa, ya?

Sepertinya ekspresi semua orang agak aneh?

Mungkin mereka tegang karena harus bertarung untuk melindungi negeri ini dari krisis besar.

Tapi tenang saja. Kalian semua sudah pasti menjadi semakin kuat. Apa pun cara licik yang digunakan para Majin, kalian sudah memiliki kekuatan yang cukup untuk mengatasinya!


Kaisar

Kami hanya bisa terpana melihat punggung keturunan Shogun itu yang menuju ke Gunung Amatsukami, tempat alat sihir itu berada.

"Sebenarnya siapa bocah itu!?"

Bukan hanya Gunung Amatsukami yang meletus, bahkan badai dan gempa pun berhasil ditenangkan.

Meskipun aku telah melihat pemandangan itu dengan mata kepalaku sendiri, aku masih sulit untuk mempercayainya.

Meskipun ia bilang itu hanyalah sementara, apakah manusia benar-benar bisa melakukan hal semacam itu...?

"Jangan-jangan, mereka semua adalah penjelmaan dari dewa-dewa yang melindungi Amamine..."

Mendengar kata-kata Saburo yang berada di sampingku, meskipun aku sempat berpikir 'mana mungkin', namun aku tidak bisa membantahnya.

Karena bagaimanapun juga, mustahil bagi manusia biasa untuk bisa menghentikan letusan gunung berapi, melenyapkan asap letusan yang membubung ke langit, bahkan menenangkan amarah bumi.

"......"

Aku tidak tahu siapa bocah itu, tidak, siapa para pemuda itu sebenarnya. Namun, sambil menatap ke arah mereka pergi, kami secara alami melakukan sikap berdoa kepada para dewa dan mempersembahkan rasa syukur yang mendalam.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close