NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Nido Tensei shita Shounen wa S-Rank Boukensha Toshite Heion ni Sugosu ~Zense ga Kenja de Eiyuu Datta Boku wa Raise dewa Jimi ni Ikiru~ Volume 8 Chapter 13

Chapter 150

Lahirnya Sang Dewi Cahaya!


"Aku pulangg—"

Setelah menyerahkan golem kepada Nona Idra, aku kembali ke penginapan kota tempat teman-teman menunggu bersama Nona Idra yang sedang mengoperasikan tubuh barunya itu.

Eh? Kalian bingung kenapa aku bisa kembali ke kota secepat itu? Tenang saja, aku sudah memasang Penanda Transfer di dekat kota ini. Dengan begitu, aku bisa berpindah kapan saja menggunakan Gerbang Transfer dari kediamanku di ibu kota.

"Selamat datang kembali, Kak!"

"Ara? Siapa orang itu?"

Liliera-san memiringkan kepalanya saat melihat golem Nona Idra.

Ah, awalnya semua orang memang melihat proses pembuatan golem dengan penuh minat, tapi di tengah jalan mereka mulai bosan dan pergi berburu monster atau jalan-jalan di kota.

Hanya Mina-san yang bertahan paling lama, tapi dia pun akhirnya lari keluar sambil berseru, "Gawat, kalau aku melihat ini terus, kurasa ada sesuatu dalam diriku yang akan hancur!"

"Ah, dia adalah A—"

Belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, Nona Idra sudah melangkah maju memotong perkataanku.

"Saya Dora. Saya petualang pemula, tapi saya memiliki sedikit hubungan dengan Rex, dan karena itulah dia mengajak saya ikut berpetualang."

"Hubungan dengan Rex-san...?"

Mendengar penjelasan Nona Idra, Liliera-san menatapku dengan mata menyelidik.

"Jangan-jangan kamu berulah lagi?"

"Eh? Apa maksudnya dengan 'lagi'!?"

"Yah, kalau dibilang 'lagi' memang benar sih," sahut Mina-san.

Apanya yang benar, Mina-san!?

"Anu, A... Dora, apa maksudmu..."

Saat aku berbisik menanyakan niatnya, Nona Idra balas berbisik padaku.

"Tubuh ini kan untuk penyamaran, jadi mari kita rahasiakan sampai mereka menyadarinya sendiri. Ini kesempatan bagus untuk menguji apakah kenalan saya pun akan sadar atau tidak."

"Yah, kalau itu maumu..."

Hmm, tapi bagiku dia terlihat seperti sedang menikmati permainan "kapan rahasiaku terbongkar". Di kehidupanku yang dulu juga ada kenalanku yang suka jahil, jadi entah kenapa aku bisa merasakannya dari atmosfer ini.

Tapi yah, dibanding kejahilan kenalanku di masa lalu, ini benar-benar tidak berbahaya, jadi biarkan saja lah.

"Jadi, aku ingin mengajak Dora ikut dalam pembasmian monster kali ini, boleh kan?"

"Panggil nama langsung..."

"Eh?"

"Tidak, bukan apa-apa."

Ada apa ya? Tatapan Liliera-san terasa tajam sekali... Ah! Jangan-jangan dia sedang mewaspadai kemampuan Nona Idra sebagai anggota baru!? Benar juga, Liliera-san adalah petualang peringkat A. Dia pasti bisa melihat dari gerak-gerik Nona Idra yang seorang putri bahwa Dora adalah amatir dalam bertarung.

"Aku sih setuju saja! Salam kenal ya, Dora!"

"Yah, kalau Rex yang mengajak, aku tidak keberatan."

Jairo-kun dan yang lainnya sepertinya tidak masalah. Liliera-san pun...

"Terserah, kalau Rex-san memang ingin begitu, aku tidak punya alasan untuk menolak."

Ada apa ya? Kenapa kata-kata Liliera-san terasa agak ketus... Tapi ya sudahlah, kalau semua tidak keberatan, itu sudah cukup!

"Kalau begitu, ayo berangkat semuanya!"

""""Oooooh!""""

"Lho? Aneh ya."

Kami tiba di Tanah Korosi menggunakan sihir terbang, tapi aku merasakan ada yang janggal dengan pemandangan di bawah.

"Ada apa, Rex?"

Nona Idra yang berada di dekapanku bertanya sambil memiringkan kepala. Karena Nona Idra belum bisa terbang, aku membawanya sambil terbang. Sebenarnya tubuh golem-nya sudah dilengkapi fungsi terbang, tapi karena itu butuh latihan, kali ini aku yang membawanya. Nanti aku harus mengajarinya cara terbang.

"Sepertinya Tanah Korosinya meluas..."

"Serius?"

"Iya, ini bukan perasaanku saja. Lahan yang kemarin sudah kusucihkan sekarang terkontaminasi lagi. Buktinya, lubang tempat aku menggali Giant Poison Centipede sudah hilang."

"Kalau dibilang begitu, memang benar lubangnya sudah tidak ada."

Hmm, aku memang dengar kalau Tanah Korosi itu mengikis lahan sekitarnya, tapi ini di luar dugaanku. Karena ada desa di dekat sini, lebih baik aku melakukan penyucian sedikit.

"Semuanya, rencana pembasmian monster hari ini agak kuubah sedikit. Kita akan berburu monster sambil menyucikan Tanah Korosi."

"Kurasa itu ide bagus. Mencegah perluasan wilayah berbahaya juga sangat dianjurkan di Hutan Monster," kata Liliera-san yang dulu aktif di Hutan Monster, sepertinya dia paham maksudku.

"Terima kasih, Liliera-san."

"Bukan masalah."

"Kami juga setuju! Kalau Kakak merasa itu harus dilakukan, pasti ada alasannya, kan?"

"Kamu ini, sesekali berpikirlah sendiri," tegur Mina-san.

"Urusan sulit begitu kuserahkan padamu saja!"

"Haaah..."

Mina-san sabar sekali ya.

"Aku juga tidak keberatan. Sebagai pendatang baru, aku akan mengikuti instruksi Rex."

"Terima kasih semuanya. Kalau begitu, pertama-tama mari kita bagi menjadi dua tim. Kita akan berpencar menyucikan Tanah Korosi."

"Eh? Tunggu dulu, kami kan tidak bisa sihir penyucian!? Kalau pun ada yang bisa itu cuma Norub, tapi dia kan tidak ikut kali ini..."

"Ah, tidak apa-apa. Kalau cuma sihir penyucian, Dora bisa menggunakannya kok."

"Eh!?"

Mendengar itu, Nona Idra menatapku dengan wajah terkejut seolah berkata "Aku bisa!?".

"Tenang saja, sama seperti Flame Inferno, cukup teriakkan nama mantranya dan sihirnya akan aktif sendiri," bisikku pada Nona Idra.

"Be-begitu ya?"

"Iya, katakan saja High Area Purification, maka sihirnya akan aktif."

"Ba-baiklah."

"Untuk pembagian tim, aku dan..."

"Dan aku," Liliera-san mengangkat tangan. "Jairo dan yang lainnya sudah satu tim dari awal, peran mereka juga garis depan dan belakang. Untuk kerja sama tim, lebih baik mereka yang sudah terbiasa satu sama lain."

"Tapi bukannya kekuatannya jadi timpang kalau dibandingkan tim Kakak?"

"Makanya ada Mofumofu. Kalau dia ikut dengan kalian, keseimbangannya tidak akan terlalu buruk, kan?"

"Kyu?"

Mofumofu yang sedang didekap Liliera-san memiringkan kepala seolah bertanya, "Ada apa?".

"Ara, Mofumofu-chan mau ikut dengan kami?"

"Kyu? Kyuu!"

Begitu dipanggil Nona Idra, Mofumofu dengan senang hati melompat ke arahnya. Meski ini tubuh golem, apa dia tahu kalau isinya adalah Nona Idra?

"Dua lawan empat, memang terasa seimbang. Bagaimana cara kita berkomunikasi saat ingin menyudahi ini?"

"Ah, kalau begitu bawa magic item komunikasi ini. Sesama pemegang alat ini bisa saling berbicara."

"Lancar sekali kamu mengeluarkan magic item ya."

"Yah, ini cuma bisa untuk jarak pendek sih."

"Tetap saja itu luar biasa..."

Nah, persiapan sudah selesai, mari kita mulai Operasi Penyucian!

"Tapi aku jadi agak gugup," kata Nona Idra yang mulai tegang menghadapi petualangan sesungguhnya.

"Tenang saja! Ada kami kok, kalau kamu gagal sedikit, kami akan membantumu!"

"Benar, benar. Si bodoh ini saja sudah jadi peringkat C tapi masih sering melakukan kesalahan konyol."

"Ber-berisik kamu!"

"Fufu, kalian berdua akrab sekali ya."

"" Ka-kami tidak akrab kok!""

Haha, Jairo-kun dan yang lainnya sepertinya sudah mulai akrab.

"Tapi hati-hati ya. Ini namanya Tanah Korosi, tempat yang sangat berbahaya di mana monster beracun berkeliaran di mana-mana."

"Ara, benarkah!?"

"Begitulah. Tapi selama ada kami, kamu tidak perlu tak..."

"Ah!?" Mina-san tiba-tiba bersuara.

"Ada apa, Mina-san?"

"Anu... Apa tidak apa-apa membawa anak ini ke sini? Bukankah wilayah berbahaya hanya boleh dimasuki oleh petualang peringkat tinggi saja...? Ditambah lagi, peringkat kami juga kan..."

"""Ah!"""

"Eh?"

Benar juga. Secara aturan, tempat ini terlalu berbahaya sehingga petualang peringkat rendah tidak diizinkan masuk. Tapi menurutku, selama penanganan racunnya benar, tempat ini tidak seseram itu.

"Liliera-san, Anda tahu minimal peringkat berapa untuk masuk ke Tanah Korosi?"

"Hmm, kalau tidak salah peringkat A. Karena ada risiko monster beracun dari Tanah Korosi keluar, mereka ingin monster-monster itu diburu sebanyak mungkin, jadi peringkatnya ditetapkan A. Tapi kalau mau masuk ke bagian yang lebih dalam, dokumen Guild menyarankan peringkat S."

Peringkat A ya. Berarti Liliera-san aman.

"Hei Mina, kita kan..."

"Peringkat C."

Benar, menurut aturan Guild, Jairo-kun dan yang lainnya tidak diizinkan masuk ke Tanah Korosi.

"A-anu, jangan-jangan aku tidak boleh ikut?"

Nona Idra tampak bingung apakah dia boleh ikut atau tidak, tapi kekhawatiran itu tidak perlu. Aku punya solusinya!

"Tidak apa-apa kok. Yang dilarang itu kan masuk ke dalam Tanah Korosi. Tapi kalau kita menggunakan sihir penyucian dan mengembalikannya menjadi tanah biasa, berarti itu sudah di luar Tanah Korosi, kan!"

""""Argumen yang sangat sesat!""""

Eh? Bukannya masalah wilayah itu memang diselesaikan seperti ini ya?

Di kehidupan sebelum-sebelumnya, masalah batas wilayah antar negara sering diselesaikan begini.

"Batas negaraku dan negaramu adalah di balik gunung ini kan?"

Begitu pihak lawan mengangguk, sang raja tinggal memindahkan seluruh gunung itu dengan sihir lalu berkata, "Kalau begitu, sekarang ini wilayahku!". Raja-raja seperti itu dulu ada banyak. Malah ada yang lebih parah sampai mengubah garis pantai.


Mina

"Kalau begitu mari kita mulai dari sekitar sini."

Setelah berpisah dengan Rex dan yang lainnya, kami pindah ke tempat yang pas dan memutuskan untuk menyucikan Tanah Korosi... Tapi, apa benar boleh menyerahkan ini pada Dora?

"Kalau begitu, kami serahkan padamu ya, Dora."

"I-iya. Serahkan padaku!"

Hmm, gadis yang dibawa Rex ini entah kenapa terasa sangat amatir.

Kami pun dulunya amatir, tapi setidaknya kami sudah menerima latihan tempur dari Kakek dan paman di Guild desa, serta sudah terbiasa berburu.

Tapi dari gadis ini, aku tidak merasakan aura orang yang biasa beraktivitas di alam liar.

Jangan-jangan, dia ini putri bangsawan dari suatu tempat yang sedang dalam perlindungan penyamaran?

Kalau itu Rex yang peringkat S, hal itu mungkin saja terjadi, tapi kalau benar begitu, tidak mungkin dia dibawa ke tempat berbahaya seperti ini, kan...

...Tapi kalau dipikir-pikir, tempat ini benar-benar sangat berbahaya.

"Kalau begitu, aku mulai! High Area Purification!"

Tiba-tiba, tubuh Dora bersinar dengan sangat terang.

"Kyaaa!?"

"Uwaa!?"

Lho? Tunggu sebentar! Tadi aku sama sekali tidak merasakan adanya pengumpulan kekuatan sihir sebelum mantra itu aktif!? Ditambah lagi, tanpa rapalan!? Jangan-jangan gadis ini juga murid Rex!?

Tidak, meskipun begitu, seharusnya ada pergerakan kekuatan sihir sebelum aktif. Berarti anak ini jangan-jangan...!?

Selagi aku berpikir begitu, cahayanya perlahan mulai meredup. Saat pandanganku kembali normal, tempat yang tadinya merupakan rawa beracun telah berubah menjadi tanah biasa yang bisa ditemukan di mana saja.

Yah, meskipun aku ragu apakah tanah yang di atasnya ada monster yang terkubur separuh badan itu bisa dibilang "biasa".

"Ara, benar-benar jadi tanah biasa!"

Dan pelakunya sendiri malah ikut terkejut.

"Hei, ini..."

"Iya, pasti ulah Rex... Mungkin tubuh orang itu adalah golem yang dia bicarakan kemarin."

Kalau bukan begitu, tidak mungkin dia bisa menggunakan sihir sehebat ini tanpa ancang-ancang kekuatan sihir.

"Berarti!? Di dalamnya jangan-jangan Tuan Putr—"

"Sst! Tubuh itu adalah golem penyamaran, jadi jangan sebut nama itu. Kalau Rex tidak mengatakan apa-apa, berarti kita harus diam."

Aku segera membungkam mulut Jairo yang hampir berteriak karena terkejut.

"Be-begitu ya. Ngomong-ngomong, bagaimana soal gaya bicara? Apa aku harus pakai bahasa formal?"

"Karena ini penyamaran, dan Rex juga bersikap biasa saja, kurasa bahasa biasa juga tidak apa-apa. Penampilan golem itu tidak jauh beda dengan kita, kalau kita bicara pakai bahasa formal malah bakal dicurigai."

"O-oh begitu. Syukurlah kalau begitu!"

Sepertinya Jairo lebih mengkhawatirkan soal gaya bicara daripada kenyataan bahwa isi Dora adalah Nona Idra. Yah, bagi Nona Idra, mungkin lebih baik begini daripada diperlakukan dengan canggung.

"Kalian berdua, bagaimana tadi?" tanya Nona Idra pada kami.

"Ouh! Hebat sekali, Dora!"

"Iya, aku terkejut."

Benar-benar terkejut, tahu.


Petani Tertentu

"A-aku baru saja melihat hal yang luar biasa..."

Kami adalah penduduk Desa Irunaga. Desa kami dekat dengan Tanah Korosi, jadi setiap tahun kami rutin memantau seberapa jauh rawa-rawa itu meluas mendekati desa.

Kalau rawa itu terlalu dekat, monster-monster berbahaya akan meninggalkan rawa dan menyerang desa.

Sebelum desa tenggelam dalam rawa, kami harus meninggalkannya. Tugas kami sebagai pengawas adalah menentukan kapan saat yang tepat untuk itu.

Meski begitu, tidak ada yang mau melakukan pekerjaan berbahaya ini. "Aku tidak mau", "Aku juga tidak mau", setelah saling lempar tanggung jawab, akhirnya diputuskan untuk berjaga secara bergiliran.

Melihat rawa terkutuk yang perlahan mendekati desa itu membuat hatiku terasa sangat berat, tapi kali ini suasananya berbeda.

Saat kami datang memantau rawa, muncul sekelompok anak muda yang membawa makhluk bulat berwarna putih mendekati rawa.

Karena mereka memakai pedang dan zirah, aku langsung tahu kalau mereka adalah petualang, tapi kami berniat segera menghentikan mereka.

Soalnya, monster di rawa itu sangat kuat, dan petugas pemerintah bilang hanya mereka yang punya izin khusus yang boleh masuk.

Tapi anak-anak muda itu sama sekali tidak terlihat seperti orang-orang hebat seperti itu.

Aku berniat menghentikan mereka karena kupikir mereka tidak tahu apa-apa, tapi tiba-tiba salah satu dari mereka bersinar terang seperti matahari.

Kami refleks menutup mata karena silau, tapi saat kami membukanya, hal luar biasa telah terjadi.

Tanah Korosi itu lenyap, dan lahan itu berubah menjadi tanah biasa. Kami hanya bisa melongo tidak percaya.

Tidak berhenti di situ, anak-anak muda itu mulai membasmi monster-monster Tanah Korosi dengan kecepatan seperti sedang memotong rumput liar.

Bahkan makhluk bulat putih yang bersama mereka sanggup mengalahkan monster yang berkali-kali lipat lebih besar dari dirinya.

Setelah membasmi semua monster, mereka menuju ke bagian dalam Tanah Korosi, lalu setelah ada kilatan cahaya lagi, rawa itu berubah menjadi tanah biasa. Aku sudah tidak mengerti lagi apa yang terjadi...

"Hei, jangan-jangan, orang itu adalah Sang Dewi?"

Saat kami masih terpana, Yozak yang ikut bersamaku mengatakan hal konyol.

"Bicara apa kamu, Yozak. Mana mungkin hal seperti itu terjadi."

"Tapi lihat saja, bisa bersinar terang begitu dan mengubah rawa beracun jadi tanah biasa, itu bukan hal yang bisa dilakukan manusia biasa."

Aku menatap teman-teman lainnya, tapi sepertinya mereka juga menganggap kata-kata Yozak serius. Mata mereka terpaku pada gadis yang bersinar itu.

"Mana mungkin... tapi tetap saja..."

Kalau dipikir secara normal, mana ada Dewi yang turun begitu saja.

Tapi hal seperti ini pun mustahil dilakukan oleh para pendeta tinggi di gereja.

Para pendeta itu bilang mereka hanya bisa menahan laju perluasan rawa, tapi tidak bisa mengembalikannya seperti semula.

"Jadi benar-benar... Sang Dewi?"

"Dia mengalahkan monster mengerikan dengan begitu mudah dan mengembalikan rawa yang dibenci ini jadi seperti semula. Selain Sang Dewi, memangnya mereka itu siapa lagi?"

"Ja-jadi, mereka berniat mengembalikan seluruh rawa ini seperti semula?"

"Pasti begitu! Untuk menolong kita yang kesulitan, Sang Dewi datang membantu kita!"

"Pasti makhluk putih itu adalah Binatang Suci yang melayani Sang Dewi!"

"Anak mu... bukan, maksudku, tuan-tuan itu pasti Utusan Dewa yang melayani Sang Dewi juga!?"

"Dewi..."

"Dewi!!"

““““Sang Dewi!!””””

Tanpa sadar, kami semua bersujud dalam-dalam ke arah Sang Dewi dan rombongannya. Oh Sang Dewi, selamatkanlah kami!


Mina

"Hatchi!"

Saat sedang membasmi monster, Nona Idra tiba-tiba bersin.

"Oh? Kamu flu, Dora?" tanya Jairo.

"Entah kenapa tiba-tiba hidungku terasa gatal."

Tapi tunggu dulu, apa tubuh golem bisa kena flu?

"Hahaha, jangan-jangan ada yang sedang membicarakan Dora?"

"Kira-kira siapa yang membicarakanku ya?"

Kami membicarakan hal bodoh seperti itu, tanpa menyadari kalau beberapa hari kemudian, rumor luar biasa tentang "Dewi Cahaya yang bersinar terang telah turun di Tanah Korosi" mulai menyebar luas...



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close