Interlude
Kisah Tentang Sebuah Kemungkinan — Bagian 4
"Woi,
tunggu sebentar!"
"Ada
apa, Kanade Amakusa?"
"Jangan
bilang 'ada apa' dong!"
"Berisik
sekali ya, diamlah sebentar."
Chocolat
menjawab dengan nada dingin seperti biasanya, sama sekali tidak memedulikan
kemarahanku.
《Saksikan
celana dalam Konagi Yawakaze saat sedang dikenakan. Batas waktu: Sabtu, 11 Mei.》
Segera setelah misi ini diturunkan,
Chocolat langsung menyeret aku ke depan Konagi, lalu tiba-tiba saja dia
mengangkat rok gadis itu.
Celana dalam Konagi terlihat jelas
sepenuhnya... Saking malunya, dia pun langsung lari terbirit-birit. Aku sudah
berusaha mengejarnya dan sujud minta maaf (dogeza) sampai akhirnya dia
bisa sedikit tenang, tapi... aku benar-benar sudah melakukan hal yang sangat
jahat padanya.
"Gimana aku bisa diam?! Kamu sadar
tidak apa yang sudah kamu lakukan?!"
"Hanya
mengangkat rok saja, kan. Kanade Amakusa, buanglah emosi yang tidak perlu itu.
Jika tidak pilih-pilih cara, tidak ada misi yang lebih mudah dari ini."
"Kamu...!"
Aku
benar-benar marah. Kalau
dia mau menghinaku atau melakukan apa pun padaku, aku tidak peduli. Tapi
melakukan hal memalukan seperti itu kepada seorang gadis dan tetap bersikap
tenang, itu tidak bisa dimaafkan.
"......"
"......"
Aku dan
Chocolat saling adu pandang dalam keheningan. Setelah beberapa menit berlalu
dalam ketegangan yang rasanya abadi—
"......Baiklah.
Sepertinya kali ini aku melakukan hal yang berlebihan. Nanti kita pergi minta
maaf kepada Konagi Yawakaze."
Akhirnya
Chocolat mengalah. Meski nada bicaranya yang kaku seperti orang kantoran itu
terasa tidak tulus, tapi karena dia sudah mengucapkan kata maaf, aku tidak bisa
menyudutkannya lebih jauh lagi.
"Kanade
Amakusa."
"Ya?"
Chocolat
memanggilku dengan nada seolah tidak terjadi apa-apa sebelumnya.
"Tadinya
aku berpikir jika melihat pakaian dalam gadis cantik, kamu akan jatuh cinta
dengan mudah. Tapi sepertinya kamu tidak sesederhana itu ya... Aku memutuskan
bahwa terus mengikuti permainan Tuhan ini sangat tidak efisien. Mari
kita beralih ke strategi yang lebih 'langsung'."
Chocolat bergumam seolah bicara pada
dirinya sendiri. Lebih langsung itu maksudnya bagaimana?
"Akan
kukatakan dengan jelas. Menyelesaikan misi-misi itu sama sekali tidak ada
artinya."
"Hah?"
Tiba-tiba
bicara apa sih? Padahal aku sudah bersusah payah menjalankan misi gila ini
karena katanya bisa menghapuskan Absolute Multiple Choice...
"Misi
bukanlah tujuan, melainkan hanyalah sarana. Sarana untuk menumbuhkan suatu
emosi tertentu dalam dirimu selama prosesnya."
"Suatu
emosi?"
"Kanade
Amakusa, saat kamu memiliki perasaan cinta kepada seseorang, pada saat itulah
'kutukan' ini akan terhapus."
"......Hah?"
Aku sama
sekali tidak paham apa yang dibicarakan Chocolat. Jika aku menyukai seseorang,
maka Absolute Multiple Choice akan menghilang? Apa hubungan sebab-akibat
antara kedua hal itu?
Kalaupun
syarat itu memang benar, tetap ada poin yang janggal.
"Tunggu
dulu. Aku kan tidak bisa jatuh cinta justru GARA-GARA si Absolute Multiple
Choice ini."
Urutannya
jelas terbalik. Kalau saja kutukan ini menghilang, aku pasti bisa langsung
jatuh cin—
"Ugh!"
Pada saat
itu, rasa sakit yang hebat menjalar di kepalaku. Ini berbeda
dengan sakit saat mengabaikan Absolute Multiple Choice... apa ini?
"Guuuh!"
Sekali lagi, derau (noise) tajam
menusuk jauh ke dalam otakku, mengguncang ingatanku. Rasanya seperti... ada
sesuatu yang sangat penting yang telah kulupakan—
"Hm?"
Pemikiran itu terputus oleh sensasi
lembut yang menyentuh tubuhku.
"W-Woi,
apa yang kamu lakukan?!"
"Seperti
yang kamu lihat, aku sedang menempelkan dadaku padamu."
Tiba-tiba
saja Chocolat memeluk lenganku dan menempelkan tubuhnya dengan erat.
"Nah,
silakan remas dadaku atau lucuti pakaianku, lakukan apa pun yang kamu suka
padaku."
"K-Kamu...
sebenarnya kenapa sih?"
"Aku
memahami bahwa pria di dunia ini akan merasa bergairah saat melihat wanita yang
biasanya bersikap galak mendadak menunjukkan sisi patuh... bukankah
begitu?"
Tidak,
menurutku itu sih masalah selera masing-masing... lagipula perkembangannya
terlalu cepat, woi!
"Ayo,
kamu boleh melakukan apa saja, jadi cepatlah jatuh cinta kepadaku."
Chocolat
semakin menempelkan tubuhnya sampai batas maksimal.
"T-Tunggu,
tunggu sebentar! Mana mungkin aku bisa jatuh cinta kalau dibilang dengan cara
sekasar itu!"
Aku
melepaskan tangannya dan bergegas menjauh dari Chocolat.
"Padahal
nafsu seksual dan rasa kasih sayang seharusnya terikat erat... Ternyata sulit
juga ya."
"N-Nafsu
seksual apanya sih... Aku tidak begitu paham apa maumu, tapi tolong lebih
hargai dirimu sendiri."
"Menghargai
diri sendiri? Melakukan hal itu sama sekali tidak ada artinya."
"Kenapa?!"
Atas
pertanyaanku, Chocolat menjawab dengan nada seolah sedang membicarakan orang
lain.
"Karena
begitu kamu memiliki perasaan cinta pada seseorang, aku akan menghilang dan
lenyap dari dunia ini."
【① Bersambung ② To Be
Continued...】
Previous Chapter | ToC | End V4



Post a Comment