NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Ore no Nounai Sentakushi ga - Gakuen Rabukome o Zenryoku de Jama Shite Iru (Noucome) Volume 3 Prolog

Prolog, atau Kisah Tentang Sebuah Kemungkinan

"Kanade-saaaan!"

"Amakusa-kun."

"Amacchi~!"

Tiga suara memanggilku secara bersamaan dari tiga arah berbeda.

Di sini adalah taman hiburan air, "Aqua Galaxy". Yah, gampangnya sih, ini kolam renang yang guuuede banget.

Karena lokasinya begini, sudah sewajarnya kalau orang-orang di sekitar sini semuanya pakai baju renang. Aku pun mengalihkan pandanganku ke arah tiga gadis yang baru saja memanggilku.

Ada Chocolat, yang kontras antara kulit putih mulus dan bikini cokelatnya terlihat sangat menyilaukan.

Lalu Yukihira, yang meski wajahnya datar tanpa ekspresi, entah kenapa memancarkan aura frustrasi sambil sesekali melirik ke arah dada dua gadis lainnya.

Terakhir, Uuoji, yang tanpa ragu memamerkan tubuh sintal yang sama sekali tidak sinkron dengan tingkah kekanak-kanakannya.

Sekali lagi aku membatin. Mereka ini benar-benar punya visual yang dapet skor sempurna.

Biasanya, kalimatku bakal berlanjut jadi, 'Andai saja tingkah mereka nggak aneh-aneh,' tapi hari ini pengecualian. Kenapa? Karena aku sudah mengambil sebuah pilihan.

"Kanade-san, aku mau makan es serut di sebelah sana!"

"Amakusa-kun, aku mau kita mengobrol sebentar di bangku ini."

"Amacchi, ayo berenang bareng aku di sana!"

Chocolat yang ini sepertinya tidak akan mengatakan hal bodoh, Yukihira tidak akan menyemburkan kata-kata pedas, dan Uuoji pun tidak akan melakukan kejahilan bocah.

"Tunggu dulu, jangan bicara barengan begitu dong..."

Saat aku masih bimbang harus menerima ajakan yang mana, mereka bertiga tiba-tiba memangkas jarak secara drastis dari arah masing-masing. Lalu, mereka menempelkan tubuh mereka dengan sangat erat ke tubuhku.

"Eh, hei! Kalian terlalu dekat... Kena! Ada yang kena, nih!"

Dada berukuran melimpah milik Chocolat dan Uuoji, serta milik Yukihira yang ukurannya agak 'menyedihkan', menekan tubuhku dari tiga arah sekaligus.

"Memang sengaja aku tempelkan, kok!"

 "…Aku sengaja menekannya, tahu."

"Sengaja aku nempelinnya, lho!"

A-apa-apaan ini... SURGA DUNIA BANGET!

Sejujurnya, aku ingin menikmati sensasi itu selamanya. Namun, mungkin karena merasa tidak akan ada ujungnya kalau begini terus, mereka bertiga sedikit menjauhkan tubuh dariku dan kembali melontarkan ajakan mereka.

"Ayo makan es serut."

"Kamu mau mengobrol denganku, 'kan?"

"Ayo cepat berenang!"

Bahkan setelah enam 'gumpalan' itu menjauh, sensasinya masih tertinggal jelas di kulitku... Apakah ini surga? Di sini surga, ya?

Sekarang aku hanya bisa berdoa semoga 'itu' tadi hanyalah semacam metafora, tapi...

"Hmm?"

Tiba-tiba, aku merasakan ada sesuatu di atas kepalaku, lalu aku mendongak.

Entah bagaimana logikanya, benda yang tadinya melayang diam di udara itu terjatuh, seolah-olah pandanganku adalah tombol pemicunya.

"Waduh!"

Secara refleks, aku menangkap benda itu.

"Apaan nih... jam tangan?"

Sekilas, benda itu terlihat seperti jam tangan biasa. Satu-satunya hal yang aneh adalah bunyi pip, pip, pip yang janggal dari benda itu—

"...Jangan-jangan."

Firasat terburuk melintas di benakku, dan aku langsung membalikkan jam tersebut.

Layar kristal cairnya tidak menampilkan waktu sekarang, melainkan sebuah hitung mundur misterius: tujuh, enam, lima...

Seketika itu juga, wajahku langsung pucat pasi.

G-gimana nih? Harus gimana?!

Di tengah kepanikanku, hitung mundurnya terus berjalan. Empat, tiga, dua—

"Ka-kalian bertiga, lariii—!"

Seketika, pandanganku tertutup oleh kilatan cahaya yang sangat terang, dan kesadaranku pun terputus di sana.



Illustrasi | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close