NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Ore no Nounai Sentakushi ga - Gakuen Rabukome o Zenryoku de Jama Shite Iru (Noucome) Volume 3 Epilog

Epilog


Senin pun tiba.

"Aaah, kenyangnyaaa... Aku bahagia sekali~"

Setelah menghabiskan porsi sarapan yang luar biasa banyaknya seperti biasa, Chocolat yang sedang dalam suasana hati sangat baik melangkah bersamaku membuka pintu kelas.

"Yo!"

Seperti biasa, aku menyapa teman-temanku. Saat aku berjalan menuju mejaku, sosok Ouka Ouji yang duduk di belakangku tertangkap pandanganku. Dia sedang menopang dagu, dan tidak biasanya, ekspresinya terlihat sangat melankolis.

"Yo, O-Ouka."

Senyuman sambil menangis dari Ouka kemarin tiba-tiba terbayang di kepalaku, membuatku menyapanya dengan sedikit gugup.

"Ah, Amacchi... Pagi..."

Bukan cuma ekspresinya, suaranya pun terdengar jelas tidak bersemangat dibandingkan biasanya.

"Kenapa? Ada apa?"

"Ahaha, e-nggak ada apa-apa kok..."

Dilihat dari sisi mana pun, itu sama sekali tidak terlihat seperti 'nggak ada apa-apa'.

"Ini bukan kayak kamu banget. Kalau ada sesuatu yang mengganjal di pikiranmu, bilang saja padaku."

"I-iya juga ya... Oke deh, aku bilang saja kalau gitu..."

Dia masih terdengar ragu. Apa sesulit itu untuk mengatakannya?

"Begini... Sebenarnya selama ini aku nggak pernah merasa aneh, tapi sejak pulang ke rumah kemarin, ini terus menggangguku... Entah kenapa, panggilan 'Amacchi' itu rasanya jadi kurang sreg gitu."

Topiknya tiba-tiba melenceng ke arah yang sama sekali tidak terduga.

"Nahaha... Aneh, ya? Padahal sebelumnya aku selalu memanggilmu begitu dan tidak merasa aneh sama sekali..."

Memang sih, kemarin saat dia kembali jadi anak kecil, dia terus-menerus memanggilku 'Kanade, Kanade'. Mungkin itu pengaruhnya?

Setelah itu, Ouka tampak bimbang sejenak, sebelum akhirnya dia membulatkan tekad dan membuka suara.

"Hei, Amacchi... Mulai sekarang... bolehkah aku memanggilmu Kanade-cchi?"

"Hah? Ah, iya... Kalau itu sih aku tidak keberatan."

Lagipula, Ouka memang punya kebiasaan memanggil orang dengan nama depan ditambah imbuhan -cchi atau -tan, bukan nama keluarga. Jadi tidak aneh kalau dia menerapkan hal itu padaku juga.

"Kanade-cchi... Kanade-cchi. Yap, ternyata ini jauh lebih pas!"

Kupikir masalahnya sudah selesai, tapi Ouka masih tampak agak gelisah dan malu-malu.

"Kenapa lagi? Masih ada yang lain?"

"Itu... kayaknya aneh kalau cuma aku yang memanggil pakai nama depan, jadi... kamu boleh panggil aku pakai nama depanku juga."

"Eh? Enggak, kalau itu agak..."

Kemarin saat kami sedang berdua saja sih aku tidak keberatan, tapi kalau mengatakannya di sini, rasanya sangat MEMALUKAN...

"Nggak... boleh ya?"

"Ugh..."

Dia menatapku dalam-dalam dengan mata jernih itu.

"...Ouka."

Begitu aku menggumamkan nama itu, wajah Ouka langsung berseri-seri.

"Sip! Mohon bantuannya ya, Kanade-cchi!"

Dia sudah kembali ke senyum polosnya yang seperti anak-anak. Ya, Ouka—maksudku Ouka, memang jauh lebih cocok dengan wajah seperti ini.

Tiba-tiba, terdengar suara kursi yang digeser dengan kasar. Grak!

"...Yukihira?"

Yukihira berjalan dari kursinya menuju ke arah kami.

"A-ada apa?"

Aku merasa dia sedang menyelimuti dirinya dengan aura negatif yang luar biasa mengerikan, sampai-sampai aku refleks mundur.

"Aku tidak dengar apa-apa ya... Sama sekali tidak dengar, tapi barusan, apa yang kalian bicarakan dengan Ouji-san?"

"E-enggak, cuma sepakat buat saling panggil pakai nama depan..."

Karena terintimidasi oleh tekanan aneh darinya, aku menjawab dengan jujur.

"Aku sudah tahu soal itu."

Bukannya tadi dia bilang tidak dengar?!

"Jadi... Amakusa-kun berniat untuk terus memanggil Ouji-san dengan nama depannya mulai sekarang?"

Ugh... kalau ditegaskan oleh orang lain begini, rasanya jadi canggung...

"Yah... begitulah."

"Kau benar-benar sampah manusia, ya."

"KENAPA?!"

"Saking sampahnya, levelmu ini sudah harus dikebiri saja."

"Sebenarnya aku ini salah apa?!"

"Habisnya... Chocolat, Yuragi, lalu Ouka... semuanya kau panggil nama depan, tapi kenapa... kenapa cuma aku yang kau panggil Yukihira?"

"Hah? Apa?"

Lagi-lagi, kebiasaan Yukihira menggumam yang tidak terdengar itu muncul.

"Maaf, bisa kau ulangi lagi, Yukihira?"

Urat di pelipis Yukihira berkedut... Apa dia marah? Rasanya tidak ada yang aneh dengan kata-kataku tadi...

"Apa aku salah bicara, Yukihira?"

Pelipis Yukihira berdenyut lebih kencang lagi.

"...Tidak, tidak ada apa-apa. Hanya saja, setiap kali kau menyebut namaku, rasanya rasa mualku naik sampai ke tenggorokan."

"Itu namanya penolakan total terhadap keberadaanku!"

Perkataan dan tindakan Yukihira memang selalu kacau, tapi hari ini benar-benar tidak masuk akal.

"Sejujurnya, dipanggil olehmu itu adalah puncak rasa tidak nyaman bagiku, tapi... itu... kalau caramu memanggil sedikit berbeda, mungkin amarahku akan sedikit berkurang."

Cara memanggil yang berbeda... artinya dia tidak suka dipanggil 'Yukihira'?

"Ooh, ternyata begitu."

Aku menepukkan telapak tanganku.

"Yukihira-san."

"............"

"Memang sih, ada banyak orang yang tidak suka kalau dipanggil tanpa sebutan kehormatan. Maaf, maaf. Tapi kalau itu mengganggumu, bilang dong dari tadi. Ah, apa aku juga sebaiknya berhenti memanggilmu 'kamu'?"

Aura kemarahan Yukihira tiba-tiba menghilang... tapi dia sama sekali tidak terlihat senang. Ekspresinya malah datar seperti topeng Noh.

"Lho? Masih salah ya, Yukihira-san?"

"...Aku benar-benar berpikir kalau otakmu itu sudah busuk."

Wah, kata-katanya pedas sekali.

"...Begini saja, sekarang aku akan memanggil Amakusa-kun dengan sebutan yang berbeda dari biasanya, jadi kau harus melakukan hal yang sama padaku."

Kenapa dia harus pakai cara yang berbelit-belit begini sih? Kalau ada keinginan, bilang saja terus terang.

"Oke, aku mulai ya. Ka... Ka..."

"Ka?"

"Maksudku, Ka... Ka... Ka..."

"Ka?"

"...Kama-kusa-kun."

"KENAPA JADI KAYAK BANCI BEGITU?!"

Yukihira menundukkan kepalanya seolah sedang menyesali sesuatu.

Tapi, apa maksudnya ini? Rasanya seperti teka-teki. Yukihira memanggilku 'Kamakusa' (Kama = Banci), lalu aku harus memanggilnya dengan cara yang sama. Ah... jangan-jangan.

Sebuah jawaban muncul di benakku.

"...Nabe-hira?" [T/N: Plesetan dari Onabe, istilah untuk wanita yang berperan sebagai pria, sebagai lawan kata Okama/Kama]

Seketika itu juga, Yukihira menunjukkan ekspresi melongo yang belum pernah kulihat sebelumnya.

Lho, kupikir ini soal plesetan banci dan lawan katanya... salah ya?

"...Sudahlah."

"Eh, kok sudahlah..."

"Panggil saja 'Yukihira' seperti biasa..."

Yukihira berjalan kembali ke bangkunya sambil memancarkan aura yang sangat-sangat berbahaya.

"He-hei..."

Saat aku sedang bingung harus bilang apa, seseorang menepuk pundakku.

"...Amakusa-kun."

Aku menoleh dan mendapati sang Ketua Kelas (si kacamata cantik) di sana.

"Ah, Ketua Kelas, ada apa?"

"Maaf ya, aku tidak bermaksud menguping, tapi karena aku ada di dekat sini, percakapan kalian terdengar olehku."

"O-oh... Kalau begitu, menurutmu kenapa Yukihira marah?"

Ketua Kelas menghela napas panjang lalu membuka mulutnya.

"Anu, bolehkah aku bicara sepatah kata saja?"

"Ya?"

"Amakusa-kun, kurasa sebaiknya kamu mati saja sekali."

"KENAPA?!"

A-ada apa ini... Padahal Ketua Kelas biasanya baik kepada siapa pun, tapi kenapa dia bicara begitu...

"Anu... Apa aku melakukan kesalahan yang seburuk itu?"

Ketua Kelas tidak menjawab pertanyaanku, melainkan hanya bergumam pelan.

"Kasihan Yukihira-san..."

...Suasananya benar-benar tidak memungkinkan bagiku untuk bilang 'akulah yang kasihan di sini'.

"Ke-Ketua Kelas, kalau begitu apa yang seharusnya kulakukan?"

"Yah, itu agak... aku tidak bisa mengatakannya secara langsung."

Ketua Kelas mengalihkan pandangannya ke arah Yukihira yang ada di mejanya.

Tiba-tiba, Chocolat berlari kecil mendekati Yukihira.

"Furano-san, apa jangan-jangan kamu ingin dipanggil pakai nama depan juga oleh Kanade-san?"

"---?!"

Wajah Yukihira langsung berubah pucat karena terkejut.

"Soalnya tadi Ouka-san dan Kanade-san bicara soal saling panggil nama depan, kan?"

"T-tunggu sebentar, Chocolat-chan..."

Ketua Kelas mencoba menghampiri dan menghentikannya dengan panik, tapi Chocolat tetap melanjutkan bicaranya.

"Kamu tidak mau jadi satu-satunya yang dikucilkan, kan--- Hoe?"

Tanpa sadar, Yukihira sudah berdiri dan mencengkeram kepala Chocolat dengan sangat kuat.

"S-sakit..."

"...Chocolat-san, kalau kau terus bicara omong kosong begitu, aku tidak akan memberimu camilan lagi selamanya."

"I-itu penyiksaan yang kejam sekali...!"

Chocolat gemetar dengan ekspresi seolah dunia akan kiamat.

"..."

Setelah melepaskan Chocolat yang sudah diam, Yukihira melotot ke arahku tanpa suara, lalu duduk kembali.

"Uuuh, sebenarnya aku benci mencampuri urusan orang lain... tapi karena Chocolat-chan sudah mengatakannya, ya sudahlah."

Ketua Kelas bergumam pelan sambil menarik-narik ujung lenganku.

"Amakusa-kun. Panggillah Yukihira-san dengan nama depannya."

"Hah? Tapi..."

"Kalau tidak begitu, situasi ini tidak akan beres."

Padahal orangnya sendiri sudah membantah dengan keras begitu, bukannya malah bakal jadi bumerang kalau aku melakukannya?

"Amakusa-kun, pokoknya percaya saja padaku kali ini."

Aku tidak mengerti apa yang terjadi, tapi kalau Ketua Kelas sudah sampai bicara begitu, aku tidak punya pilihan lain.

Aku berjalan menuju meja Yukihira dan menyapanya.

"Anu..."

"Ada apa?"

Ugh... tatapannya dingin sekali. Sepertinya lebih baik aku tidak pakai basa-basi yang aneh.

"Furano."

"---?!"

Seketika itu juga, Yukihira tampak sangat kaget. Ugh... dilihat dari sisi mana pun, ini bukan reaksi yang positif, kan?

"T-ternyata kamu memang tidak suka ya. Maaf... aku tidak akan mengatakannya lagi."

"T-tidak mungkin aku tidak suka... t-tapi aku belum ada persiapan mental sama sekali... Kalau setiap saat dipanggil nama depan begitu, aku bisa mati karena terlalu malu..."

Dia sepertinya menggumamkan sesuatu, tapi seperti biasa, volumenya terlalu kecil sehingga aku tidak bisa mendengarnya sama sekali.

Setelah terdiam cukup lama, Yukihira akhirnya membuka suara seolah telah mengambil keputusan besar.

"---boleh kok."

"Hah?"

Suaranya memang lebih keras dari sebelumnya, tapi masih belum cukup jelas untuk kudengar. Yukihira sepertinya menyadari hal itu, dia mengambil napas pendek, lalu berbicara lagi.

"Ku................................................bilang kau boleh memanggilku dengan nama depan."

Jedanya lama sekali sampai aku tidak bisa langsung paham, tapi dia baru saja bilang 'nama depan', kan?

"Begitu ya... Kalau begitu, Furano."

"---?!"

Kenapa dia bereaksi begitu lagi sih?!

"N-nggak bisa... aku masih belum siap secara mental..."

...Suaranya hilang lagi. Sejujurnya, aku sudah tidak paham lagi.

"E-eeto... Jadi intinya aku boleh panggil Furano, kan? Hei, jawab dong, Furano. Halo? Furano-sa--- GUEEEKH!"

Seketika itu juga, sebuah serangan tangan pisau dari Yukihira mendarat telak di leherku.

"Geho, goho...! A-apa-apaan sih?!"

"..."

Tanpa menjawab pertanyaanku, Yukihira hanya berdiri diam membisu.

"...Aku pulang."

"Hah? Pulang? Eh, hei, tunggu!"

Tanpa memedulikan panggilanku, Yukihira meninggalkan kursinya dan keluar dari kelas begitu saja.

"K-Ketua Kelas, apa aku salah lagi?"

Aku menatap Ketua Kelas dengan pandangan meminta tolong.

"Ahaha... Yah, sebenarnya kali ini aku rasa kamu tidak salah sama sekali, Amakusa-kun... Hanya saja Yukihira-san memang cukup merepotkan ya."

Ketua Kelas tersenyum getir sambil menggaruk pipinya dengan jari telunjuk.

"Yah, terlepas dari itu... Amakusa-kun, kamu bukannya sengaja melakukannya, tapi benar-benar tidak sadar, ya?"

"Eh? Apanya?"

"Kasihan Yukihira-san..."

Entah kenapa, ucapan Ketua Kelas tadi terulang lagi.

Bagiku, semua ini benar-benar tidak masuk akal---

"Maaf ya, aku mau mengganggu sebentar."

Tiba-tiba, terdengar suara yang asing bagiku.

Secara refleks aku menoleh ke arah sumber suara, dan terlihat seorang siswi baru saja membuka pintu depan kelas dan masuk.

"Woi, itu kan...", "Gawat, si 'itu' datang!", "Senior bilang, 'siapa pun yang punya pacar jangan pernah mendekatinya'!", "Wah, bahaya buatku dong!", "A-aku aman kan..."

Ya, bagi siapa pun yang bersekolah di sini, dia adalah selebritas yang namanya pasti dikenal.

Salah satu dari anggota 'Reject 5', siswi kelas tiga, Hisoka Himero, berdiri dengan angkuh sambil menumpukan kedua tangannya di meja guru.

"Halo halo, wahai para penghuni kelas 2-1. Maaf ya sudah mengganggu waktu pagi kalian yang berharga."

Dia berbicara dengan nada yang sangat teatrikal sambil mengedarkan pandangan ke seluruh kelas.

Rambut panjang bergelombang, mata sayu yang terlihat dari sela-sela poninya, dan seragam yang dipakai dengan sangat berantakan hingga mencapai level 'terbuka maksimal'. Seluruh tubuhnya memancarkan aura keseksian yang meluap-luap.

"Oh."

Kak Himero menghentikan gerakan lehernya saat mata kami bertemu.

Lalu, dia turun dari podium guru dan berjalan dengan tenang ke arahku.

"Permisi sebentar ya."

Belum sempat aku bereaksi, dia tiba-tiba mulai meraba-raba tubuhku.

"Tu-tunggu... A-apa yang Kakak lakukan?!"

Aku sudah mendengar banyak rumor buruk tentang orang ini, tapi---

"Uwoh... K-Kakak meraba bagian mana itu!"

Mendapat perlawanan dariku, Kak Himero menghentikan sentuhan fisiknya sejenak, lalu mendekatkan wajahnya ke telingaku.

"Fufufu, tubuhmu lumayan bagus juga ya--- Kanade Amakusa-kun."

"Ugh..."

Bersamaan dengan hembusan napas yang manis, saat namaku dipanggil, rasanya ada aliran listrik yang merambat di punggungku.

"Aduh, reaksimu imut sekali ya. Bagaimana kalau kau mau, aku bisa memberikan sesuatu yang lebih terasa enak lagi---"

BRAK! SREEEET!

Seolah memotong perkataan Kak Himero, dua jenis suara keras bergema.

Saat aku menoleh, itu adalah suara Ouka yang berdiri dengan kecepatan luar biasa, dan suara jendela yang dibuka dengan paksa... Dan orang yang berdiri di koridor luar jendela itu adalah---

"Yukihira?"

Lho, bukannya tadi dia pulang karena marah?

Yah, mengesampingkan pertanyaan itu, Yukihira sedang menatap Kak Himero dengan tatapan penuh permusuhan, dan anehnya Ouka pun ikut menggembungkan pipinya sambil melotot kecil. Ada apa dengan mereka berdua?

Orang yang menjadi sasaran tatapan itu sama sekali tidak peduli. Malahan, dengan nada bicara penuh kasih sayang seolah sedang ditujukan kepada kekasih, dia berkata:

"Ah, reaksi yang luar biasa. Ouka Ouji-kun yang hampir mekar, dan Furano Yukihira-kun... ditambah lagi, Chocolat-kun yang masih di tahap kuncup---"

Setelah memberikan jeda sejenak... wanita yang dijuluki 'Love Crusher', Hisoka Himero, tersenyum dengan sangat menggoda.

"Kalau kalian terus lambat begitu, dia akan kuambil saja ya."

Bersambung To Be Continued...



Previous Chapter | ToC | End V3

0

Post a Comment

close