Penerjemah: Chesky Aseka
Proffreader: Chesky Aseka
Chapter 3
Melintasi Ibu Kota Kekaisaran
Bagian 1
Gerbang utara ibu kota kekaisaran. Tak jauh dari sana, berdiri sosok Marie.
Awalnya, Marie menerima tugas sebagai pengawal Mitsuba. Namun kini, bersama beberapa pengawal lainnya, dia berpura-pura menjadi seorang tokoh penting untuk menarik perhatian musuh.
Tapi penyamaran itu akhirnya terbongkar, dan setelah menyingkirkan para prajurit musuh yang mengejarnya, Marie berhasil mencapai gerbang utara.
Dia tahu, jika Leo datang, pasti dari arah utara.
“Seharusnya aku berlatih lebih giat lagi...”
Dia sudah bertarung berkali-kali. Lengan kirinya terluka, dan genggaman tangan kanannya—yang memegang belati—nyaris kehilangan tenaga.
Meski begitu, Marie tetap datang ke tempat ini.
Karena inilah titik terpenting.
Bergabung kembali dengan Mitsuba dan yang lain setelah berpisah hampir mustahil. Jadi, satu-satunya pilihan terbaik sekarang adalah membuka gerbang.
Meskipun Bola Langit telah dihancurkan, tanpa gerbang yang terbuka, pasukan tidak bisa masuk. Penguasaan gerbang utara adalah prioritas tertinggi.
Namun, musuh mereka bukanlah orang bodoh. Begitu gerbang timur jatuh, setiap gerbang lainnya segera diperkuat dengan pasukan penjaga.
Sekilas, ada puluhan prajurit di sana.
Prajurit yang terlatih. Dan di sisi ini, hanya Marie seorang diri.
Jumlahnya tak sebanding, tapi menyerah bukanlah pilihannya.
Seharusnya, posisinya mengharuskannya tetap di sisi Mitsuba untuk melindunginya. Namun Marie memilih meninggalkannya karena percaya ada hal yang lebih penting yang bisa dia lakukan di sini.
Masih ada pengawal lain di sisi Mitsuba, termasuk Alois yang mampu memimpin mereka. Karena itu, Marie datang ke tempat ini. Di dalam istana, maupun di luar, setiap orang tengah melakukan yang terbaik yang mereka bisa lakukan.
Hanya dirinya yang tak boleh berdiam diri.
Dengan tekad bulat, Marie melangkah menuju mekanisme pembuka gerbang.
Dia bergerak dari satu titik buta ke titik buta lain, berusaha tidak terlihat. Ada puluhan musuh yang harus dia hadapi, mustahil dia bisa menang jika bertarung langsung. Dia harus memanfaatkan celah sekecil apa pun.
Asalkan gerbang berhasil dibuka, sisanya hanya soal bertahan.
Namun, ibu kota masih dilindungi Bola Langit. Tanpa itu hancur, membuka gerbang pun tak akan berarti.
Jadi Marie menahan napas di dekat pasukan musuh, menghapus keberadaannya, menunggu waktu yang tepat.
Karena dia percaya, waktu itu pasti datang.
Dan akhirnya, saat itu tiba.
Sebuah pancaran cahaya besar melesat dari luar kota, dan penghalang raksasa itu runtuh berkeping-keping.
Para penjaga di gerbang utara sontak panik.
Kesempatan itu datang.
Marie segera melompat maju menuju mekanisme pengendali gerbang, tanpa suara menjatuhkan dua prajurit yang tengah terguncang. Dia menekan tuas penggerak.
Gerbang utara mulai terbuka perlahan dengan suara berat logam bergesekan.
“Gerbangnya terbuka!?”
“Apa yang terjadi!?”
“Hentikan segera!!”
Meski sempat kebingungan, para prajurit menyadari gerbang telah terbuka.
Melihat dua rekannya tergeletak, mereka pun menyadari Marie dan langsung bergegas untuk menyingkirkannya.
Namun, Marie dengan tenang melemparkan belati ke arah mereka, menumbangkan prajurit yang mencoba mendekat.
“Siapa lagi?”
Dia memutar pisau itu di tangannya, menantang mereka. Itu hanya untuk mengulur waktu. Tapi itu cukup untuk membuat langkah para prajurit terhenti.
Mereka tahu, jika ingin menghentikan mekanisme gerbang, mereka harus maju. Tapi itu berarti mereka menjadi sasaran empuk. Tak ada yang ingin mati sia-sia, jadi kaki mereka terhenti.
“Jangan takut! Dia cuma seorang diri! Serang dia bersama-sama!!”
Melihat semangat pasukannya melemah, sang kapten mengeluarkan komando keras.
Marie langsung melemparkan belati ke arah kapten itu, tapi dia berhasil menepisnya pada detik terakhir.
“Tak diragukan lagi kamu terlatih, tapi selama kami tetap tenang, kamu tak bisa menang!”
Dia mengangkat pedangnya dan memberi aba-aba serangan. Terinspirasi oleh keberanian kapten mereka, para prajurit membentuk formasi dan menyerbu.
Marie dengan tenang menangkis mereka satu per satu dengan belati, tapi salah satu prajurit berhasil menerobos, mendekatinya dalam jarak dekat.
Saat pedang lawan menyambar, Marie menghindar dan membalas dengan belati yang menggores leher prajurit itu. Namun, celah kecil itu cukup untuk membuat prajurit lain menyerbu beruntun.
Dia harus menahan mereka lebih lama.
Hanya itu yang ada di pikirannya. Dia terus bertarung, menangkis, menyerang, menghindar—meski luka kecil terus bertambah di tubuhnya.
Tapi Marie tak bergeser satu langkah pun dari depan mekanisme gerbang.
“Kenapa lama sekali!? Lawanmu cuma satu wanita!!”
Akhirnya, sang kapten yang kehilangan kesabaran maju sendiri.
Marie bersiap melawan, tapi dia sadar tidak ada lagi belati yang tersisa.
Terpaksa, dia memungut pedang yang jatuh dan menangkis serangan sang kapten.
“Menyerahlah, maka nyawamu akan kuampuni, pelayan!”
“Kalau aku berniat menyerah... Aku tak akan datang ke sini sejak awal...”
Tubuh Marie penuh luka dan darah, namun dia tetap menekan kapten itu mundur.
Melihat kemampuan wanita itu, sang kapten sempat tertegun, lalu bertanya dengan nada terhormat.
“Kalau begitu, sebutkan nama tuanmu.”
“Tuanku adalah Tuan Leonard. Kalianlah yang sebaiknya mulai memikirkan untuk menyerah...”
Di atas langit istana, seekor griffon hitam melintas. Marie melihatnya dan tersenyum tipis. Dia menghujamkan pedang itu ke tuas gerbang dengan sekuat tenaga. Dengan begitu, meski mereka ingin menutupnya nanti, gerbang itu takkan mudah ditutup kembali.
“Brengsek!”
Dia tak lagi punya kekuatan untuk mengayunkan pedang. Itulah usaha terakhir Marie.
Sekarang, dia hanya bisa menjatuhkan tubuh di atas mekanisme itu untuk melindunginya. Itu pun sudah cukup.
Marie memejamkan mata.
Alasan dia dulu menerima pekerjaan di bawah Leo hanyalah karena butuh uang. Awalnya, dia hanyalah pelayan pribadi biasa. Namun perlahan, kemampuannya diakui, dan dia mulai diberi tanggung jawab yang lebih besar.
Pada waktu itu, Marie pun telah sepenuhnya terpikat oleh Leo.
Dia sungguh percaya, bahwa pria itu mampu menjadikan Kekaisaran ini negeri yang lebih baik.
Banyak orang mengira bahwa calon kaisar berikutnya pasti salah satu dari Eric, Gordon, atau Zandra. Namun.
Marie yakin, orang yang seharusnya menjadi kaisar adalah Leo.
Dan bila hari ini berakhir dengan selamat, banyak orang akan sampai pada kesimpulan yang sama.
Pangeran yang menyelamatkan ibu kota. Ketenarannya pasti tak kalah dari Eric.
Bila dia bisa sedikit saja berperan dalam hal itu, maka itu sudah cukup baginya. Marie menatap pedang sang kapten dengan tenang.
Bilamana pedang itu menembus tubuhnya, dia akan menjatuhkan diri menutupi mekanisme gerbang, dan tidak akan melepaskannya sampai akhir.
Itu sudah dia rencanakan di kepalanya.
Namun, pedang itu tak pernah sampai padanya.
“Tak kusangka, Nona Marie sudah tiba lebih dulu dariku. Memang pantas disebut pelayan pribadi Tuan Leo.”
“...Tuan Guy?”
“Aku kira aku datang tepat waktu, tapi rupanya agak telat sedikit,” ujarnya sambil tersenyum, dan menaruh pedangnya di bahu dengan santai.
Begitu para petualang memutuskan untuk ikut bertempur, Guy langsung menuju gerbang utara. Dia mendengar dari Fine bahwa Leo akan datang membawa bala bantuan dari arah utara.
Bagaimanapun caranya mereka datang, gerbang yang sudah terbuka pasti akan mempermudah segalanya. Namun ketika dia tiba, ternyata gerbang itu sudah terbuka.
“Kenapa para petualang ikut campur!?”
“Karena Guild Petualang sudah memberi izin. Katanya, selama itu demi menjaga ketertiban, tidak ada masalah. Artinya, kalian dianggap tak beda dengan perusuh.”
“Kamu bilang kami ini perusuh!? Dasar petualang rendahan, jangan menghina kami!!”
Marah besar mendengar ucapan Guy, sang kapten mencoba menebasnya.
Kapten itu menebas sekuat tenaga. Namun Guy menepis serangan itu dengan mudah, lalu menebas sisi perut lawannya.
“Kalian orang-orang militer suka meremehkan petualang seperti kami, tapi dari sudut pandang kami, justru kalianlah yang rendahan. Kalian mungkin berlatih tiap hari demi menghadapi perang, tapi bagi kami, setiap hari adalah perang. Pengalaman kita berbeda, paham?”
Sambil berkata begitu, Guy melirik sekilas kapten yang jatuh sambil memegangi luka di perutnya, lalu menatap para prajurit yang tersisa. Meski jumlah mereka sudah berkurang berkat Marie, masih cukup banyak dari mereka yang tersisa.
Kalau mereka menyerang serentak, itu akan merepotkan, pikir Guy. Namun tepat di saat itu...
Sebuah hembusan angin hitam melintas di antara barisan musuh.
Dan dalam sekejap, para prajurit itu tumbang satu demi satu, darah menyembur dari leher mereka.
Baru ketika sosok berjubah hitam itu berdiri tegak, menegakkan punggungnya dengan sopan, Guy menyadari siapa dia. Seorang pelayang yang sudah dia kenal sejak kecil.
“Saya berterima kasih atas bantuan Anda, Tuan Guy. Berkat Anda, pekerjaan membuka gerbang menjadi jauh lebih mudah.”
“Yo, Sebas. Kalau mau berterima kasih, ucapkan pada Nona Marie. Aku baru datang, kok.”
“Begitu ya. Terima kasih, Nona Marie. Dalam situasi di mana tiap detik sangat berharga, bantuan Anda sungguh berarti.”
Begitu Sebas berkata demikian.
Pasukan berkuda mulai melintas cepat melalui gerbang utara. Tak seorang pun memperlambat laju mereka, karena setiap detik bisa menentukan segalanya.
“Kalau Sebas ada di sini, berarti Al sendirian, ya?”
“Bisa jadi. Yang jelas, pengawalnya tidak banyak.”
“Dasar orang itu, benar-benar bikin repot.”
Guy mendesah, lalu berjalan mendekati Marie yang masih berdiri di depan mekanisme gerbang.
“Aku harus pergi ke suatu tempat. Nona Marie, apa kamu akan baik-baik saja sendirian?”
“Aku tidak apa-apa. Terima kasih atas perhatiannya.”
“Kalau begitu, segera mengungsi ke tempat aman. Di pusat kota nanti, pasukan militer dan petualang akan saling bentrok, jangan mendekat ke sana.”
Setelah memberi peringatan itu, Guy bangkit berdiri lagi.
“Lalu bagaimana denganmu, Sebas?”
“Saya akan terus menyingkirkan musuh sambil menuju ke Tuan Al. Kalau Anda juga mau bergabung, itu akan sangat membantu.”
“Ya, akan aku coba untuk mencarinya. Tapi apa aku bisa menemukannya?”
Ibu kota Kekaisaran begitu luas. Guy sama sekali tak tahu di mana Al berada sekarang.
Namun pada saat dia berkata begitu...
“Kepada seluruh pasukan di ibu kota! Tangkap Pangeran Ketujuh Arnold hidup atau mati! Rampas tiga permata pelangi yang dia miliki!! Siapa yang berhasil menangkapnya akan mendapatkan hadiah sesuai yang kalian mau! Tangkaplah Pangeran Sisa itu!!”
Suara Gordon bergema ke seluruh penjuru ibu kota. Mendengar itu, Guy langsung mengerti situasinya.
“Jadi dia tokoh utamanya kali ini, ya? Jarang-jarang.”
“Menandakan betapa gentingnya keadaan ini.”
“Baiklah, ayo bergerak. Di tempat paling ribut, pasti dia di sana.”
“Tuan Guy!”
Marie memanggilnya sebelum dia sempat berlari pergi.
“Aku berterima kasih atas bantuanmu. Dan... Kalau kamu bertemu dengan Tuan Arnold, tolong sampaikan padanya bahwa rencananya sungguh luar biasa.”
“Rencana?”
“Menempatkan kekuatan militer di luar kota, lalu menjadikannya bala bantuan, itu semua ide Tuan Arnold. Situasi yang terjadi sekarang ini, semuanya sudah diperhitungkan olehnya.”
“Hahaha! Memang seperti itu Al orangnya. Kalau begitu, mungkin tak lama lagi orang-orang akan mengakui bahwa kebanggaanku ini bukan sekadar omong kosong.”
“Kebanggaan...?”
“Ya. Pangeran Ketujuh Arnold itu teman masa kecilku, tahu? Hebat, kan? Aku punya teman sekeren itu!”
Dengan tawa lepas dan senyum lebar, Guy pun berlari pergi. Sebas pun telah lenyap dari pandangan.
Sendirian, Marie mengangguk kecil menanggapi kata-kata Guy.
“Sepertinya penilaianku memang salah.”
Bahkan sejak masa ketika Leo belum diakui siapa pun, Marie sudah percaya padanya. Namun dia tak pernah benar-benar menilai Al sebagaimana mestinya.
Dan hari ini, banyak orang akan menyadari hal yang sama, bahwa mereka tak mampu melihat siapa yang sesungguhnya memiliki nilai sejati.
Hanya sedikit yang mampu mengenalinya lebih awal. Tak ada gunanya menyesali hal itu sekarang.
Dengan pikiran itu, Marie perlahan meninggalkan tempat tersebut.
Bagian 2
Ibu kota Kekaisaran begitu luas.
Jika aku terus menyesuaikan langkah dengan Christa, kami tidak akan pernah sampai di gerbang istana.
Aku sempat berpikir untuk mencari kuda di suatu tempat, tapi sebelum sempat melakukannya, beberapa prajurit melihat kami dan berteriak.
“Di sana!! Pangeran Sisa itu!!”
“Wah, ketahuan juga.”
Musuh dari belakang sudah sepenuhnya ditahan oleh Elna.
Namun, musuh yang datang dari samping tak bisa dia tangani sekaligus.
Aku sempat berpikir ini bisa jadi masalah, ketika dari arah berlawanan muncul sekelompok prajurit lain.
“Lindungi Yang Mulia!!”
“Buka jalan!!”
Entah karena terpengaruh oleh kata-kata Elna atau karena kesetiaan mereka sendiri, para prajurit yang tidak ikut dalam pemberontakan berdiri menghadang, melindungi aku dan Christa.
Saat mereka menahan serangan musuh, kami segera bergerak maju.
Sambil terus melewati bentrokan kecil antar kelompok yang tersebar di sepanjang jalan, kami perlahan-lahan mendekati gerbang timur.
Ayahanda mungkin sudah keluar dari ibu kota sekarang. Tapi Kak Lize, dengan sifatnya yang keras, tidak akan mundur dari kota ini.
Kemungkinan besar, dia justru melihat kesempatan ini sebagai waktu yang tepat untuk menyerang.
Kalau mempertimbangkan semuanya, menuju gerbang timur adalah pilihan paling aman.
Masalahnya, ada terlalu banyak musuh di jalan menuju ke sana.
“Hahahaha!! Pangeran tak berguna akhirnya muncul juga!!”
“Agh.”
Saat kami menyusuri jalan utama, sekelompok besar prajurit telah memblokir arah kami.
Jumlah mereka, sekilas, mencapai lima sampai enam ratus orang.
Orang yang tertawa tampak seperti seorang jenderal berusia empat puluhan.
Mungkin karena dijanjikan imbalan sebesar apa pun yang dia mau, pikirannya kini dikuasai oleh ambisi.
Terus terang saja, tawanya membuatku jijik.
“Jadilah batu loncatan untuk kejayaanku, Pangeran Sisa!”
“Maaf, tapi aku tidak tertarik.”
Saat aku menjawab begitu, seorang prajurit yang terluka datang dari arah utara menunggang kuda.
Dia turun di hadapan sang jenderal dan melapor dengan tergesa-gesa.
“Lapor! Gerbang utara telah ditembus!!”
“Apa!? Gerbang utara ditembus!? Apa yang dilakukan para penjaga!? Seharusnya mereka memastikan tak ada yang keluar masuk!”
“T-Tapi, pasukan penjaga tidak memberikan perlawanan sama sekali...”
“Bodoh! Dasar ceroboh!!”
Dia memang memarahi anak buahnya, tapi aku tahu penjaga itu pasti bukan sekadar lengah.
Mereka hanya kalah karena kekurangan tenaga. Bagaimanapun juga, pasukan kuat memang sengaja kutempatkan di luar ibu kota.
Dan ketika suara derap kuda mulai terdengar, aku pun menyeringai.
“Aku ingin lewat sini. Bisa bukakan jalannya untukku, Kolonel?”
“Serahkan pada saya, Yang Mulia.”
Suara derap itu semakin keras dari belakang.
Aku tak perlu menoleh untuk tahu siapa yang datang.
Mereka pasti menembus gerbang utara dan langsung menuju ke arahku.
Saat pasukan kavaleri melewati sisiku, Lars yang memimpin pasukan, menjawab sambil terus memacu kudanya.
Derap kuda bergemuruh saat mereka menyerbu pasukan yang menghadang di depan.
Musuh tak sanggup menahan serbuan kavaleri itu dan tercerai-berai bagaikan dedaunan ditiup badai.
Bendera yang dikibarkan pasukan kavaleri itu menampilkan lambang perisai dengan tanda silang.
Simbol para kesatria yang, demi keyakinan mereka, pernah mengangkat senjata melawan tuannya sendiri.
Satu-satunya ordo kesatria yang tersisa di pasukan Kekaisaran.
“Kerja bagus, Narberitter. Maaf, selalu merepotkan kalian.”
Aku menyampaikan kata-kata itu setelah mereka menumpas musuh dalam sekejap.
Mereka menjawab dengan hormat.
“Bukan masalah, Yang Mulia.”
Kolonel Lars, sang komandan Narberitter, maju membawa seekor kuda dan menuntunnya padaku.
“Baik sekali kamu, tahu aja aku capek berlari.”
“Saya menduganya, jadi saya memilihkan kuda yang terbaik untuk Anda.”
Aku dan Lars bertukar tawa.
Aku naik ke atas kuda, lalu menarik Christa agar duduk di depanku.
“Baiklah, mari kita pergi. Lindungi kami.”
“Siap.”
Dengan pengawalan Narberitter, kami bergegas menuju gerbang timur.
Namun, Christa tampak gelisah, matanya mencari-cari seseorang di antara barisan.
“Ada apa, Christa?”
“Kakak Al... Di mana Sieg?”
“Dia akan datang nanti.”
Aku mengelus kepala Christa.
Mengingat sifat Sieg, mungkin saat ini dia sedang dipaksa bekerja keras oleh Lynfia.
Christa tampak kesal karena Sieg tidak bersama kami, tapi mengingat mereka tidak tahu persis di mana aku berada, tentu pasukan kami harus berpencar.
Kebetulan saja Narberitter berada di dekatku.
Begitu lokasi kami diketahui, semua kekuatan pasti akan berkumpul.
Tapi hal yang sama juga berlaku untuk musuh. Untuk membalikkan keadaan, Gordon dan para pengikutnya tak punya pilihan selain menargetkanku.
“Pertempuran kali ini akan berat, Kolonel.”
“Itu justru yang kami harapkan. Kami pun punya kehormatan kami sendiri. Sekalipun kami disebut pemberontak, kami berjuang demi kebenaran. Tapi mereka berbeda, mereka bahkan tidak layak untuk disebut pemberontak. Sudah sepatutnya kami ajarkan pada mereka arti sebenarnya menjadi pemberontak.”
Lars tersenyum tegas dan penuh keyakinan.
Mereka memang mantan kesatria. Mereka sekumpulan kesatria yang mengkhianati tuannya bukan karena ambisi, tapi karena sang tuan menyimpang dari jalan yang benar.
Di situlah letak kebanggaan mereka.
Maka, pemberontakan kali ini adalah sesuatu yang tak bisa mereka maafkan.
“Pasukan di depan! Berjumlah sekitar 1.000 hingga 1.500!”
“Wah, tampaknya kita lagi populer.”
“Pesonaku memang sulit dibendung.”
“Benar juga. Bersiap untuk menyerbu! Lindungi Yang Mulia dan tembus barisan musuh!!”
Narberitter segera membentuk formasi melingkar mengelilingi aku dan Christa, lalu menyerbu maju.
Lars memimpin di barisan depan, menebas jalan bagi kami untuk menerobos.
Musuh kali ini pasti di bawah komando jenderal yang terampil.
“Sepertinya lawan kali ini bukan orang sembarangan,” gumamku.
Dua orang jenderal musuh tiba-tiba meloncat keluar dari barisan dan mengincar kepalaku.
Prajurit Narberitter berusaha menangkis serangan itu, tapi mereka hanya mampu menahan sebagian, dan kehilangan keseimbangan.
Mereka pastinya tipe jenderal yang naik pangkat lewat prestasi di medan perang. Jenis lawan yang paling merepotkan.
Mereka orang-orang kuat, dan karena itu pula mereka tidak pernah lengah dalam pertempuran.
Namun.
“Pangeran Arnold!!”
“Akan kudapatkan kepalamu!!”
“Jangan sombong. Yang terampil bukan cuma kalian.”
Dua bilah pedang yang mengincar leherku terpental disapu oleh dua tombak panjang.
Dalam sekejap, kedua jenderal itu—bersama pasukan di sekelilingnya—terhempas jauh.
Akhirnya dia datang juga.
“Maharaja Sieg, dengan penuh gaya, aku datang!”
“Sieg!!”
“Aduh!! Jangan tarik-tarik, sakit!!”
Sieg mendarat dengan gaya di kepala kuda yang kutunggangi, tapi langsung menjerit kesakitan ketika Christa menarik telinganya dari belakang.
Benar-benar tak tahu waktu, pikirku sambil menghela napas. Saat itu, dari samping terdengar suara seseorang yang lebih tenang dan berpengalaman.
“Serahkan yang ini padaku. Silakan terus maju, Tuan Al.”
“Seperti biasa, Lynfia. Kamu datang di waktu yang tepat.”
Berbeda dari Sieg yang selalu berisik, Lynfia muncul dengan tenang, mengayunkan tombaknya dan membuat musuh-musuh di depan kami pingsan seketika, membuka jalan agar kami bisa lewat.
Kalau tidak salah, Lynfia biasanya memanggilku “Tuan Arnold”. Aku sempat berpikir dia sulit diajak akrab, tapi rupanya sekarang dia memanggilku “Tuan Al”. Aku ingin jahil dan menanyakan sejak kapan dia mengubah cara memanggilku, tapi sayangnya, tidak ada waktu untuk itu.
“Di depan sana adalah wilayah tengah ibu kota. Para petualang sedang bertempur melawan pasukan musuh. Kalau kita memanfaatkan kekacauan itu, seharusnya kalian bisa menembus keluar.”
“Informasi yang bagus. Terima kasih.”
Jadi para petualang akhirnya ikut bergerak juga.
Yah, mereka memang selalu bertindak sesuka hati.
Suka atau tidak suka, itu saja dasar keputusan mereka.
Sepertinya kali ini mereka memutuskan bahwa mereka tidak suka dengan Gordon.
Sambil memikirkan hal itu, aku menyadari Lynfia menatapku lekat-lekat.
“Ada apa?”
“Tidak, saya hanya lega melihat Anda tidak terluka.”
Dia tersenyum tipis setelah berkata begitu.
Rupanya, dia benar-benar mengkhawatirkanku.
“Aku juga lega! Kamu masih semangat! Hei!”
Christa memeluk Sieg dengan senang hati, tapi Sieg berteriak.
Dia separuh bercanda, separuh kesakitan, tapi Christa tidak peduli.
Lynfia akhirnya menariknya keluar dari pelukan Christa.
“Ah... Sieg-nya...”
“Selamatkan aku, Nona Lynfia...”
“Berhenti main-main dan kerja.”
“Kok jahat!? Waaah!!”
Lynfia melempar Sieg langsung ke arah jenderal musuh.
Jenderal itu jelas tak menyangka serangan semacam itu hingga terlambat untuk bereaksi. Sieg memanfaatkan momen itu, memutar tubuhnya di udara dan mendarat di atas bahu sang jenderal.
“Apa...!?”
“Jangan remehkan beruang. Mereka itu imut tapi berbahaya.”
Sieg menghantam wajah jenderal itu dengan gagang tombaknya.
Jenderal tersebut terlempar oleh kekuatan pukulan Sieg.
Menggunakan kesempatan itu, aku berlari menembus barisan musuh bersama separuh pasukan Narberitter.
Sementara sisa pasukan tetap tinggal bersama Lynfia untuk menahan musuh.
Dengan kemampuan mereka, seharusnya bagian itu bisa segera diselesaikan.
Masalah sesungguhnya baru dimulai dari sini.
“Kalau bisa menembus mereka dengan mudah, aku akan sangat berterima kasih.”
“Sayangnya, sepertinya tidak akan semudah itu.”
Aku hanya bisa mengangkat bahu pada jawaban Lars.
Kini, semua perhatian musuh tertuju padaku. Dan mereka tentu tidak akan membiarkanku lewat begitu saja.
Sejak awal, jumlah mereka jauh lebih banyak dari pihak kami.
Kalau kami bergerak terlalu lambat, kami bisa saja terkepung oleh jumlah yang luar biasa besar.
Namun, jika kami terlalu cepat menembus garis musuh, itu juga jadi masalah.
Aku butuh mereka tetap sibuk denganku sedikit lebih lama agar pasukan bantuan bisa membantu dengan leluasa.
Menyeringai, aku memacu kudaku lebih cepat.
“Kak Al... Senyum Kakak sekarang kelihatan jahat sekali.”
“Masa? Tidak kok,” jawabku, tersenyum lembut sambil mengelus kepalanya.
Bagian 3
Bagian timur lapisan tengah telah berubah menjadi lautan kekacauan ketika para petualang dan pasukan musuh saling bentrok.
Sihir dan anak panah beterbangan ke segala arah, dentingan pedang yang saling beradu bergema tanpa henti di udara.
Di tengah kekacauan itu, kami terjebak.
“Kita tidak bisa menerobosnya.”
“Tinggalkan kuda! Semua turun!”
Lars memutuskan bahwa mustahil untuk menembus wilayah ini dengan berkuda, dan memilih untuk meninggalkan tunggangan kami.
Keputusan yang bijak.
Situasi pertempuran tampak menguntungkan bagi para petualang. Kekacauan dalam rantai komando membuat kekuatan dan penilaian individu menjadi penentu utama. Dan hal itu adalah sesuatu yang menjadi keahlian mereka.
Para petualang terbiasa menghadapi gerakan monster yang tak bisa diprediksi, terbiasa berpikir dan bertindak cepat.
Bagi mereka, prajurit yang panik dan kehilangan formasi bukanlah lawan yang sulit.
Namun, keunggulan mereka tidak berubah menjadi dominasi penuh hanya karena satu hal, jumlah musuh yang terlalu banyak.
Kemungkinan besar, memang banyak pasukan yang sudah ditempatkan di lapisan tengah sejak awal.
Saat aku berpikir demikian, sebuah teriakan tajam memecah udara.
“Sihir!!”
Dari tepi medan tempur, rentetan sihir dilontarkan ke arah kami yang sedang bergerak.
Anggota pasukan Narberitter menangkis dengan pedang atau mengubah arah lintasannya, tapi gelombang ledakan tak bisa mereka cegah.
Salah satu sihir meledak di dekatku dan Christa. Aku segera meraih tubuhnya dan menahannya, namun ledakan itu tetap menghantamku, membuatku terlempar ke belakang.
“Yang Mulia!?”
“Agh... Aku tak apa-apa. Tapi bersiaplah... Mereka datang!!”
Dari arah pandanganku, Zandra muncul bersama pasukan penyihirnya, langkahnya penuh amarah.
Dia benar-benar tampak seperti sosok penyihir menyeramkan.
Para petualang yang peka terhadap bahaya spontan menyingkir dan memberinya jalan.
Mereka pastinya berpikir bahwa terlalu berbahaya untuk menghadapinya.
“Salam sejahtera, Kak Zandra.”
“Menurutmu aku terlihat sejahtera?”
“Oh? Jangan bilang Kakak marah?”
“Tentu saja aku marah. Aku ingin membunuhmu saat ini juga.”
“Yah, yah, aku minta maaf sudah mengacak-acak kamarmu. Dan tenang saja, aku tidak akan memberitahu siapa pun tentang koleksi pakaian dalam mencolokmu yang, anehnya, tidak ada pria yang mau melihatnya.”
Dalam sekejap, bola api raksasa melesat ke arahku.
Lars berhasil menangkisnya dengan dua pedangnya, tapi keringat dingin mengalir di pelipisnya.
“Yang Mulia, tolong jangan terlalu memancingnya... Aku mungkin tak bisa menahan serangan berikutnya.”
“Itu bisa jadi masalah... Ayo kabur!”
Aku berbalik dan berlari secepat mungkin.
Sihir-sihir terus menghujani dari belakang, tapi pasukan Narberitter berusaha mati-matian menangkisnya.
Aku terpisah dari Christa, namun karena ada beberapa anggota Narberitter bersamanya, aku yakin dia akan selamat.
Masalahnya justru nyawaku sendiri.
“Hoo! Itu tadi hampir saja!!”
“Serangannya makin akurat, Yang Mulia!!”
Suara Lars terdengar tegang.
Di medan perang, jumlah penyihir berarti kekuatan tembakan.
Dan sekarang seluruh kekuatan itu tertuju padaku, jelas ini berbahaya.
Saat berpikir demikian, sebuah bilah angin melesat ke arah leherku.
Aku berguling untuk menghindar, sayangnya aku berguling di arah yang salah.
“Pangeran Sisa! Kepalanya jadi milikku!!”
“Cih!”
Tak hanya aku terpisah dari pasukan Narberitter, aku juga malah berakhir di depan pasukan lawan.
Aku berusaha menghindari pedang itu, tapi aku takkan sempat.
Namun sebelum pedang lawan menebasku, tubuhnya mendadak terpental ke samping oleh sebuah tendangan keras.
“Maaf, tapi dia teman masa kecilku. Jangan terlalu kasar dengannya.”
“Oi, Guy! Pas banget kamu datang!”
“‘Pas banget’ apanya! Kamu datang sambil menyeret pasukan musuh di belakangmu! Kamu ga bisa datang dengan lebih tenang!?”
Pria yang menendang musuh itu adalah Guy.
Sambil berbicara denganku, dia menebas dan menendang musuh di sekitarnya tanpa henti. Aku berdiri dan menempelkan punggungku pada punggungnya.
“Maaf, Guy, tapi tolong lindungi aku sebentar. Kakakku benar-benar murka.”
“Apa yang kamu lakukan kali ini?”
“Seharusnya aku tidak menyinggung pakaian dalamnya. Aku bilang tidak ada pria yang mau melihatnya juga sedikit berlebihan.”
“Itu jelas-jelas salahmu sendiri.”
“Masa iya?”
“Jadi, apa warnanya?”
“Ada tiga macam...”
Belum sempat aku lanjutkan, sihir lain melesat.
Guy menangkisnya, tapi kekuatan benturannya cukup untuk membuat lengannya bergetar.
“Sial! Dia benar-benar marah besar!”
“Sepertinya sekarang kamu juga masuk daftar eksekusinya. Lihat, dia menatapmu dengan tatapan membunuh.”
“Hebat, aku kena imbasnya! Sungguh menyenangkan!”
“Itu akibat rasa ingin tahumu yang berlebihan.”
“Wajar dong! Siapa pun akan penasaran kalau dengar soal pakaian dalam wanita cantik! Dan menurutku kamu benar-benar cantik, Putri Zandra! Sulit dipercaya belum ada pria yang menaklukkanmu!”
“Cerewet! Matilah!!”
Wajah Zandra memerah sampai ke telinga, dan dia menghujani kami dengan sihir tanpa henti.
Namun karena terbakar amarah, akurasi serangannya menurun drastis, dia hanya mengandalkan kuantitas, bukan ketepatan.
Syukurlah, karena kalau dia membidik dengan benar, kami sudah jadi abu sejak tadi.
“Tch, ini gawat. Hei! Petualang! Tolong bantu kami sedikit!!”
Lars dan pasukan Narberitter terhambat oleh hujan sihir dari bawahannya Zandra.
Aku tidak bisa percaya pada Guy seorang diri untuk melindungiku, aku pun berteriak meminta bantuan para petualang di sekitar.
Namun.
“Tidak bisa, Yang Mulia! Aku penggemar Putri Zandra, wanita tercantik di ibu kota!”
“Aku juga, aku juga!”
“Selama ini kukira Putri Camar Biru sudah tak tertandingi, tapi sekarang Putri Zandra jauh lebih memesona! Bahkan wajah marahnya menawan!”
“Tch, dasar pria yang tidak bisa diandalkan.”
Para petualang, yang enggan melawan Zandra, justru berlomba-lomba memujinya.
Mereka tak sadar bahwa pujian mereka justru memperbesar amarahnya.
“Cukup!! Lenyaplah kalian semua!!”
Dengan itu, Zandra mulai menyiapkan sihir tingkat tinggi.
Dia benar-benar berniat untuk melenyapkan semuanya sekaligus.
Setidaknya, biarlah itu terjadi di tempat tanpa korban lain.
Namun sebelum sempat bergerak, suara nyaring bergema dari atap bangunan tertinggi di sekitar kami.
“Tidak akan kubiarkan hal itu terjadi!”
“Mohon bantuannya, Mia.”
Aku mendongak dan melihat Mia dan Fine di atas sana.
Mia menarik busurnya dengan maksimal.
Jelas dia juga tengah menyiapkan serangan yang besar.
“Bantuan yang luar biasa, Fine, Mia.”
Mengucapkan itu, aku mulai berlari, sengaja mengabaikan Zandra.
Dia segera menyadari peningkatan energi sihir dari arah Mia dan, mau tak mau, mengalihkan sasarannya dariku ke arah gadis itu.
Lalu, “Kalau soal kekuatan sihir, aku siap meladeninya!!”
“Jangan sombong, dasar bocah!!”
Sihir besar milik Zandra dan panah sihir bertenaga penuh milik Mia bertabrakan di udara.
Dalam sekejap, cahaya putih menyelimuti seluruh medan tempur disusul ledakan dahsyat di udara.
Ledakan itu menghentikan seluruh pertempuran untuk sesaat.
Keheningan melanda setelah gelombang kejut berlalu.
Tak seorang pun mampu segera bangkit dari dampak ledakan itu.
Namun di tengah keheningan itu, ada satu orang yang justru menerjang tanpa ragu.
“Arnolddddddd!!!!”
“Kamu masih sehat rupanya...!”
Gordon berlari ke arahku, padahal sebelumnya dia terkena alat sihir pelumpuh yang ada di kamar Zandra. Rupanya, efeknya sudah hilang.
Tak ada cara untuk menghindar kali ini.
Jadi aku hanya menarik napas dan melemparkan kantong berisi permata pelangi ke arahnya.
Mungkin dia sama sekali tak menyangka aku akan melempar benda itu.
Gordon terkejut, berhenti sejenak, lalu secara refleks menangkap kantong itu.
“Dasar bodoh! Kamu begitu takut mati sampai rela menyerahkan permata ini!?”
“Bodoh? Aku rasa kata itu lebih cocok untukmu.”
Aku tersenyum miring dan memperagakan gerakan membuka kantong di tanganku.
Gordon sempat memasang ekspresi bingung, lalu mencoba mengeluarkan isi kantong tersebut.
“H-Hah!?”
Di dalamnya terdapat tiga permata.
Satu adalah permata yang kucari dengan susah payah, sementara dua lainnya adalah alat sihir berbentuk bola yang kutemukan di kamar Zandra.
“Hebat juga bisa sampai ke sini. Tapi sayang sekali, untuk mengaktifkan Bola Langit, dibutuhkan tiga permata yang asli. Satu permata saja tidak akan cukup.”
“Omong kosong! Kamu yang membawa permata pelangi itu!”
“Aku memang membawa satu permata. Tapi kamu percaya begitu saja tanpa memastikannya sendiri. Karenamu aku bisa mengulur waktu. Sekarang sisa dua permatanya pasti sudah sampai di tangan Ayahanda.”
“Tidak mungkin! Kalau bukan kamu, lalu siapa!?”
“Siapa, ya? Mungkin seseorang yang tak sempat kamu perhatikan.”
Aku terkekeh pelan.
Dan dari belakangku terdengar suara penuh nada keheranan.
“Mengarahkan seluruh perhatian musuh di ibu kota pada dirimu sendiri, kamu sadar betapa berbahayanya itu?”
“Kalau aku menjadikan kakak dan adikku sebagai umpan, tapi menolak menjadi umpan sendiri, bukankah itu tidak adil? Lagi pula, kalau mereka bersembunyi di istana, Kakak juga akan kesulitan bergerak. Nah, bagaimana? Sudah kuusahakan agar mereka keluar, kan?”
“Kerja bagus. Kamu telah melakukannya dengan baik, seperti yang diharapkan dari adikku.”
Sosok yang berjalan keluar dengan langkah mantap itu adalah Kak Lize.
Di belakangnya adalah bawahan langsung Kak Lize.
“Sudah waktunya menurunkan tirai ini, Gordon!!”
“Ghh...!”
Dan dengan itu, pertempuran di lapisan tengah ibu kota berubah dari kekacauan antara petualang dan pasukan pemberontak menjadi pertempuran penentu antara pasukan Kekaisaran yang dipimpin oleh Kak Lize dan pasukan pemberontak di bawah komando Gordon.
Bagian 4
Di langit ibu kota, para Kesatria Griffon dan para Kesatria Naga saling bertarung sengit di udara.
Keadaan sedikit mengarah pada keunggulan Kesatria Griffon.
Salah satu alasannya, istana hampir sepenuhnya terkunci karena Elna. Untuk memecah kepungan itu, mereka terus mengirimkan Kesatria Naga sebagai kekuatan udara. Beberapa dari mereka memang berhasil kabur, tapi setiap kali mereka dikirim, Elna selalu memanfaatkan celah sekecil apa pun untuk menjatuhkan mereka. Akibatnya, jumlah Kesatria Naga terus berkurang.
Alasan lainnya adalah karena Leo berhasil bertarung seimbang seorang diri melawan Pangeran Naga William.
“Tak kusangka, hanya beberapa hari menunggangi griffon dan kamu sudah bisa mengimbangiku! Kamu ini pangeran yang tangguh!!”
Sambil berkata begitu, William mencoba mengambil posisi di belakang Leo. Namun Leo dengan lihai mengendalikan Noir dan justru berbalik mengambil posisi di belakang William.
Secara kemampuan, griffon memang unggul dibandingkan wyvern. Akan tetapi, naga merah yang ditunggangi William adalah individu langka di antara rasnya, memiliki kemampuan yang hampir menyaingi griffon.
Karena itu, perbedaan di antara mereka hampir tidak berarti. Dan justru karena itu pula, William merasa harus menghabisi Leo di sini dan sekarang.
Kalau dia membiarkan Leo terus berkembang, Leo bisa menjadi lawan yang tak terhentikan suatu hari nanti.
Namun meskipun telah bertarung dengan kekuatan penuh, William masih belum mampu menjatuhkan Leo.
“Kalau begitu, bagaimana dengan ini!!”
William tiba-tiba menukik tajam dari atas dan menyerang Leo dari bawah.
Leo tidak sempat menanggapinya dengan tepat. Serangan itu belum pernah dia lihat, dan dengan kecepatan makhluk terbang yang melebihi kuda, wajar saja dia tak sempat mengantisipasinya.
William merasa yakin kali ini serangannya akan mengenainya. Momen yang seharusnya memberinya hasil.
Namun, tepat sebelum tombaknya menusuk, Leo berhasil menangkisnya di detik terakhir.
“Ugh!”
William mendecakkan lidah. Lagi-lagi.
Berkali-kali, William mengungguli Leo dalam hal gerakan. Dalam pertempuran udara, keunggulan ada di pihaknya, perbedaannya jelas.
Namun Leo tak berusaha memaksakan diri untuk mengejar.
Tugasnya hanyalah menahan laju William yang kuat ini. Dengan begitu, para Kesatria Griffon lainnya bisa bergerak lebih bebas.
Kalah dalam kecepatan tidak masalah pikirnya.
Selama dia tidak tertembus di momen terakhir, dengan fokus penuh pada pertahanan, Leo mampu menangkis semua serangan William.
Tentu saja, kalau hanya itu, William tidak akan sampai dibuat sesulit ini.
Begitu serangannya kembali ditepis, William bermaksud menjauh untuk menyeimbangkan posisi. Tapi kali ini, Leo justru menanjak dari bawah dan menyerang.
Gerakannya sama persis seperti yang dilakukan William sebelumnya.
Dia menanjak cepat, lalu bergeser ke samping tepat sebelum kontak untuk menghindari serangan lawan.
Melihat itu, Leo tersenyum lebar.
“Begitu rupanya. Jadi begitu caramu menghindar.”
Dan dalam senyum itu, William melihat bayangan Al, sang kakak yang tadi melompat dari istana sambil tersenyum.
Jenis senyum mereka berbeda.
Tapi sama-sama mengandung sesuatu yang membuat bulu kuduk berdiri. Kengerian yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
“Pantas saja mereka disebut Pangeran Kembar Hitam...”
Hanya sekilas lihat lalu langsung bisa meniru gerakan itu sudah luar biasa. Tapi menggunakan teknik lawan untuk mempelajari cara menghindar dalam pertempuran hidup dan mati? Itu di luar nalar William.
Jika dia membiarkan serangan itu dibalas sempurna, dialah yang akan berada dalam bahaya.
Pangeran Kembar Hitam Kekaisaran. Tak ada yang meragukan kemampuan mereka. Tapi yang paling menakutkan dari keduanya adalah mentalitas mereka.
Sang kakak menipu semua orang lalu melompat dari istana sambil tertawa. Sang adik belajar dari musuhnya di tengah pertarungan. Mereka bukan manusia normal. Ini bukan sekadar keberanian.
Menahan rasa ngeri, William menggenggam tombaknya lebih erat.
Pikiran untuk membantu pasukan di darat pun lenyap.
Yang ada hanya satu hal, mengalahkan Leo di sini dan sekarang. Karena dia sudah mulai menyerap tekniknya.
“Pangeran Leonard, kamu kuat. Aku akui itu.”
“Sebuah kehormatan bagiku, Pangeran William.”
“Seandainya kita bertemu bukan di medan perang. Mungkin kita bisa saling menghormati.”
“Masih belum terlambat. Setiap kesalahan bisa diperbaiki.”
“Mustahil. Bisakah kamu memaafkan Persatuan Kerajaan atas semua kehancuran ini? Mustahil tanpa syarat. Kami sudah terlalu jauh.”
“Menyerah sebelum mencoba bukanlah sikap yang baik. Sekarang ini, Kekaisaran dikepung banyak musuh. Jika Persatuan Kerajaan bisa menjadi sekutu, itu akan sangat berarti.”
“Kalian kakak beradik sama saja, pandai berbicara. Tapi... Rakyat yang menjadi korban tidak akan puas hanya dengan itu. Mereka akan menuntut balasan yang setimpal. Entah kepala ayahku, atau kakakku. Kalau cukup dengan kepalaku, akan kuserahkan dengan senang hati... Tapi sayangnya, kepalaku tidak cukup berharga. Maka aku tidak akan berhenti. Aku akan menebasmu, menebas Santa Leticia, dan juga Kaisar kalian. Itu satu-satunya hal yang bisa kulakukan sekarang.”
Sambil berkata demikian, William mengangkat tombaknya.
Leo menanggapi dengan mengangkat pedangnya.
“Kalau begitu, aku akan menghentikanmu. Aku tak akan membiarkanmu. Tak akan kubiarkan siapa pun melakukan sesukanya di langit Kekaisaran ini!”
Keheningan yang berlangsung sekejap.
Kemudian keduanya melesat lurus saling berhadapan.
Benturan itu terulang berkali-kali.
Pertempuran di langit ibu kota belum juga menunjukkan tanda-tanda akan berakhir.
* * *
“Yang Mulia! Sedikit lagi!”
“Ya...!”
Alois dan Rupert memaksa diri menerobos barisan pengepungan pertama dan kini hampir mencapai gerbang timur.
Yang tersisa di sisinya hanyalah para kesatria bawahan Alois.
Mitsuba dan yang lain menunggu di belakang bersama para kesatria pengawal istana.
Kenapa mereka harus berpisah menjadi dua kelompok?
Karena Lize telah menyerbu langsung ke jantung pengepungan musuh. Perhatian mereka sepenuhnya teralihkan ke sana.
Melihat kesempatan itu, Alois menilai bahwa mereka harus bergerak cepat dalam jumlah kecil. Dia menitipkan Mitsuba dan yang lain di sebuah rumah sekitar, memberi perintah kepada para pengawal agar menyusul bila garis musuh berhasil dipecah, dan kemudian memimpin sekelompok kecil pasukan untuk menembus barisan lawan.
Seperti yang dia perkirakan, karena musuh terpaku pada Lize, mereka tidak sempat bereaksi terhadap gerakan Alois.
Mereka pun berhasil menembus barisan musuh dengan mudah dan berlari menuju gerbang timur, tempat di mana sang Kaisar seharusnya berada.
“Berhenti! Siapa kalian!”
“Aku Alois von Zimmel! Aku membawa Pangeran Rupert!”
Alois menjawab lantang ketika para kesatria menahan mereka.
Dari balik pasukan itu, terdengar suara.
“Benarkah!? Rupert! Kamu selamat!?”
“Ayahanda...”
Kaisar Johannes segera berlari mendekat begitu melihat sosok Rupert.
Dia memeriksa tubuh putranya, memastikan tidak ada luka, lalu memeluknya erat.
“Syukurlah kamu selamat sampai di sini! Anak yang luar biasa!”
Begitu mendengar kata-kata itu, air mata menetes dari mata Rupert.
Banyak orang mungkin mengira itu tangis lega, namun bukan demikian.
Rupert perlahan melepaskan diri dari pelukan Johannes dan berlutut di hadapannya.
“Maafkan aku... Aku pengecut...”
“Ada apa? Apa yang terjadi?”
“Dalam perjalanan ke sini... Aku meninggalkan Kak Christa dan Kak Trau...”
“Paduka! Ada alasannya untuk itu!”
Alois segera menyela dengan cemas, tetapi Johannes mengangkat tangannya, menghentikan penjelasan itu.
Dia menepuk kepala Rupert dengan lembut.
“Jangan gunakan kata ‘meninggalkan’. Melihat air matamu saja aku tahu betapa beratnya hal itu bagimu.”
“Aku... dijadikan umpan... Kak Arnold memintaku berpura-pura membawa permata pelangi yang asli... dan memerintahkan agar aku kabur tidak peduli apa pun yang terjadi... Tapi... Apa gunanya aku jika hanya bisa melarikan diri? Aku keluarga kekaisaran... Aku tidak bisa berbuat apa-apa...”
Negara sedang berada dalam krisis. Dia tidak memberikan kontribusi berarti, tak bisa menyelamatkan keluarganya maupun rakyatnya.
Mengapa dirinya begitu lemah? Mengapa dia begitu pengecut?
Andai saja dia lebih kuat. Penyesalan itu berputar-putar di kepalanya tanpa henti.
Namun mendengar kata-kata Rupert, ekspresi Johannes perlahan berubah. Dia menatap kantung kecil di pinggang Rupert, lalu mengulurkan tangan, membukanya, dan melihat isinya.
Di dalamnya ada dua permata.
Johannes menarik napas dalam, kemudian berdiri tegak.
“Rupert, sepertinya aku harus menilai ulang dirimu.”
“Ya...”
Rupert yakin bahwa dia akan dihukum.
Memang pantas, pikirnya.
Seseorang yang meninggalkan saudara kandungnya pantas menerima hukuman.
Itulah yang dipikirkan Rupert.
“Tadi aku berbicara sebagai seorang ayah. Tapi sekarang aku berbicara sebagai Kaisar. Izinkan aku mengatakannya: ‘Kerja bagus, Pangeran Rupert.’ Permata ini... adalah permata yang asli.”
“E-Eh...?”
“Arnold memberimu permata yang asli. Menipu musuh dimulai dari menipu rekan, memang ciri khasnya. Dia percaya kamu akan berhasil meloloskan diri. Meski pahit, meski menyesakkan, dia yakin kamu akan menuntaskan peranmu. Dan kamu benar-benar melakukannya. Luar biasa.”
Johannes menunduk, lalu membantu Rupert berdiri.
Dia menggenggam bahunya dengan kuat.
“Jangan merendahkan dirimu! Berbanggalah! Kamu telah menunaikan tanggung jawab seorang keluarga kekaisaran sejati! Kamu telah menuntaskan kepercayaan kakakmu! Kamu memang putraku!”
“Aku...”
“Tidak perlu berkata apa pun! Itu sudah cukup! Alois! Terima kasih karena telah melindungi putraku! Setelah ini berakhir, kalian berdua akan menerima penghargaan! Kalian pantas mendapatkannya!”
Alois menundukkan kepala dalam-dalam.
“Paduka, jika permata pelangi ada di sini, kita harus segera bergerak. Selagi Pangeran Arnold menahan musuh, kita harus meninggalkan ibu kota.”
“Benar juga... Arnold juga layak diberi penghargaan, meski aku tahu dia pasti menolaknya.”
“Paduka, di luar pengepungan ada Nyonya Mitsuba dan Nyonya Gianna bersama para kesatria pengawal. Mohon kirimkan bala bantuan ke sana.”
“Apa? Mereka juga selamat? Hebat sekali, Alois. Benar-benar luar biasa.”
Johannes berjanji akan mengirim pasukan untuk membantu mereka.
Mendengar itu, Alois melanjutkan dengan satu permintaan lagi.
“Satu hal lagi, Paduka... Izinkan saya meminjam beberapa ekor kuda.”
“Kuda? Untuk apa?”
“Aku akan pergi menyusul Pangeran Arnold dan Putri Christa.”
“Mereka tidak apa-apa. Lizelotte juga sedang menuju ke sana.”
“Saya tahu. Saya takkan menjadi tambahan kekuatan yang berarti. Tapi saya harus pergi. Karena saya adalah kesatria Pangeran Rupert.”
Alois berdiri.
Kemudian dia menatap Rupert, “Saya akan pergi menggantikanmu, Yang Mulia.”
“Alois... Baiklah! Tolong jaga kakakku!”
“Baik. Saya mengerti.”
Dengan senyum cerah, Alois menaiki kuda yang telah disiapkan.
Kemudian Alois berangkat sebelum celah pengepungan yang dibuka oleh Lize menutup.
Ketika melihatnya pergi, Johannes tersenyum pada Rupert.
“Kamu punya kesatria yang baik.”
“Ya!”
Dengan itu, rombongan Kaisar pun meninggalkan ibu kota melalui gerbang timur.
Bagian 5
“Kakak Lize!!”
Begitu melihat Lize datang, Christa refleks berteriak memanggilnya.
Namun, suaranya tak mampu menembus hiruk-pikuk medan perang.
“Yang Mulia! Kita harus segera mundur. Mohon ikut saya!”
Lars, yang telah meninggalkan upayanya untuk bergabung dengan Al, kini kembali ke sisi Christa. Dia sangat paham betapa berbahayanya bagi Christa untuk tetap berada di tempat ini dalam situasi sekarang. Karena itu, dia segera menyarankan untuk mundur.
“Tapi Kak Al...”
“Marsekal Lizelotte ada di sisinya! Mereka pasti bisa mundur dengan selamat! Justru kita yang dalam bahaya sekarang!”
“...Baiklah. Kita mundur.”
“Lewat sini, Yang Mulia!”
Dengan perintah itu, Lars dan beberapa bawahannya mulai bergerak untuk mengeluarkan Christa dari medan perang.
Pertempuran telah menjadi kacau; sebagian besar pasukan Narberitter sudah tercerai-berai.
Mereka mungkin bisa berkumpul kembali bila diberi waktu, tapi itu terlalu berisiko.
Karena bila musuh memutuskan bahwa melawan Lize secara langsung terlalu berbahaya, maka target berikutnya yang pasti mereka incar adalah Christa.
Dan dugaan itu ternyata benar.
“Itu dia! Itu Putri Christa! Tangkap dia!”
“Sial! Mereka datang lebih cepat dari yang kuduga! Ayo, Yang Mulia!!”
Yang memimpin barisan musuh adalah seorang jenderal petarung.
Lars maju untuk menghadangnya, sementara anak buahnya membawa Christa pergi secepat mungkin.
Christa berusaha berlari tanpa menjadi beban.
Namun, tiba-tiba sesuatu melilit kakinya.
“Kyah!”
Dua menjerit tidak sengaja dan terjatuh.
Saat menoleh ke arah kakinya, dari tanah muncul akar-akar pohon yang melilit erat kaki kanannya.
“Penyihir!”
Seorang anggota Narberitter segera menemukan pelakunya, seorang penyihir dengan tangan di tanah.
Penyihir dari pasukan Zandra.
Mereka menebas akar itu dan membantu Christa berdiri, tapi akar-akar baru bermunculan dari berbagai arah, menargetkan Christa lagi.
Para kesatria hanya bisa menebas akar-akar itu tanpa sempat bergerak maju.
“Yang Mulia! Bisakah Anda berlari!?”
“A-Aku akan coba...”
Christa menjawab dengan wajah menahan sakit.
Sebenarnya, kaki kanannya terasa nyeri hebat.
Dia terkilir ketika akar itu menariknya jatuh.
Namun, dia tidak boleh mengeluh sekarang. Dia menahan rasa sakit dan memaksa diri untuk berlari, menyeret kaki kanannya yang terluka.
Tapi menghadapi penyihir yang bisa mengendalikan akar sesuka hati, kecepatan itu tidak cukup.
Satu akar besar melilit tubuh Christa dan menariknya dengan paksa.
Dia mencoba memberontak, tapi dia hanya bisa menahan secara terbatas.
Tubuhnya terangkat ke udara sejenak.
Berbahaya! pikir Christa, lalu dia mengulurkan tangan ke depan tanpa tahu siapa yang bisa menolongnya.
Namun para Narberitter sudah kewalahan dengan akar-akar dan musuh yang mendekat.
Tak seorang pun sempat meraih tangannya.
Atau begitulah yang dia kira. Tiba-tiba, dari samping, sebuah tangan kecil menangkap tangannya.
“Uooohhhh!!! Semangat pantang menyerahhh!!!”
“Rita!?”
Yang muncul adalah Rita, dengan luka-luka di sekujur tubuhnya.
Tak mau membiarkan Christa dibawa pergi, Rita menggenggam erat lengan Christa dengan kedua tangannya, menahan sekuat tenaga.
“Bertahanlah, Ku-chan!! Rita juga berjuang!!”
“Iya!!”
Dua anak kecil melawan bersama.
Melihat itu, penyihir memutuskan bahwa satu akar tidak cukup dan berusaha memunculkan lebih banyak akar dari tanah.
Namun karena itu, dia gagal menyadari sosok seorang pria yang tiba-tiba muncul di sisinya.
“Apa yang... kamu lakukan di sini, haaaa!!!”
“Hah!?”
Yang berdiri di sana adalah Trau.
Dengan pedang di tangannya, dia menancapkan bilahnya ke tubuh penyihir itu, lalu menendangnya hingga terlempar jauh.
Namun setelah itu, tubuh Trau ikut goyah.
“Aduh, dunia rasanya ini berputar...”
“Sudah kukatakan jangan berteriak! Yang Mulia Traugott! Anda belum punya cukup darah!”
Yang menegurnya adalah Wendy.
Dengan sihir ilusi miliknya, Wendy membawa Trau dan Rita menembus medan perang tanpa menarik perhatian musuh hingga tiba di sisi Christa.
Bersama mereka ada juga Reiffeisen bersaudara yang mengawal.
Kedua bersaudara itu, sambil memegangi Trau yang sempoyongan, tetap melindungi Christa.
“Yang Mulia, mohon tetap sadar!”
“Dunianya berputar...”
“Itu salah Anda sendiri! Saya sudah bilang jangan memaksakan diri setelah Anda hampir mati!”
“Loli elf marah padaku...”
Nada suaranya terdengar murung, tapi wajah Trau justru memancarkan senyum puas.
Wendy segera menghampiri Christa yang sudah terbebas dari akar dan menunduk di hadapannya, meletakkan tangan di kaki sang putri.
Cahaya lembut menyelimuti luka Christa.
“Sihir ini hanya untuk meredakan rasa sakit.”
“Terima kasih, Wendy. Jadi, kamu yang menolong Rita dan Kak Trau?”
“Hanya pertolongan darurat. Sejujurnya aku ingin mereka tetap beristirahat, tapi keduanya keras kepala... Mereka benar-benar gila.”
“Rita baik-baik saja! Nggak sakit! Soalnya Rita ini kesatria!”
“Lagi-lagi bicara begitu...”
Wendy hanya bisa menghela napas, lalu membantu Cgrista berdiri.
Dia mencoba menyiapkan sihir ilusi untuk menutupi pergerakan mereka, namun sihir itu gagal terbentuk.
“Sihirku...”
“Tidak apa-apa, Wendy. Jangan memaksakan diri.”
“Yang Mulia Christa! Kita mundur tanpa ilusi!”
Christa mengangguk pada Reiffeisen bersaudara.
Namun situasi mereka belum banyak berubah.
Trau nyaris tak bisa bergerak, dan kedua pengawal bersaudara itu harus menopangnya dari kanan dan kiri, membatasi gerak mereka.
Satu-satunya pasukan yang masih bisa bertarung dengan baik hanyalah beberapa kesatria Narberitter yang tersisa sejak tadi.
“Ketemu!! Putri Christa ada di sana!!”
Mereka mungkin berada di pinggiran medan perang.
Beberapa kavaleri menemukan Christa dan masuk ke tengah pertempuran.
Reiffeisen bersaudara bersiap melindungi Christa, namun seorang kesatria muncul dari samping dan memotong barisan mereka.
Kesatria itu menebas kepala penunggang yang berada paling depan, membuat yang lain terbelalak tak percaya.
Segera setelahnya, para kesatria yang datang bersamanya menerjang para kavaleri lainnya dan menghancurkan mereka.
“Apakah Anda baik-baik saja, Yang Mulia Christa?”
“Alois...”
“Ya. Alois von Zimmel. Atas perintah Pangeran Rupert, saya datang untuk menjemput Anda. Silakan naik. Kita harus segera pergi dari sini.”
Alois tersenyum lembut dari atas kudanya dan mengulurkan tangan.
Para kesatria yang bersamanya juga bersiap mengangkat Trau, Rita, dan yang lain ke atas kuda untuk segera mundur.
Christa ragu-ragu meraih tangan Alois.
Alois menarik Christa ke atas kuda dan mendudukkannya di belakang punggungnya.
“Saya sebenarnya tidak boleh mengatakan hal seperti ini, tapi saya lega usaha ini tidak sia-sia. Saya keluar setelah diberi izin oleh Pangeran Rupert.”
“Apa Rupert baik-baik saja...?”
“Ya, beliau baik-baik saja. Bahkan sudah bergabung kembali dengan Paduka Kaisar.”
“Syukurlah... Terima kasih sudah melindungi adikku.”
“Itu sudah menjadi kewajiban saya.”
Alois menoleh dan memberikan senyum tanpa pamrih pada Christa.
Setelah memastikan semua orang siap, dia mengangkat suara.
“Kita keluar dari medan tempur! Ada yang terluka! Ayo kita berangkat ke Guild Petualang! Itu tempat paling aman yang terdekat!”
Mungkin saja ada seseorang di sana yang bisa menggunakan sihir penyembuh.
Mempertimbangkan kemungkinan itu, Alois memilih guild sebagai tujuan.
Kalau mereka langsung pergi menemui Kaisar, dia pasti akan dipuji dan diberi penghargaan.
Namun Alois sama sekali tidak tertarik pada gelar maupun prestasi.
Kejadian itu disaksikan dari atas atap rumah terdekat oleh seseorang.
“Hampir saja orang tua ini merebut kesempatan para pemuda untuk bersinar. Nyaris saja.”
Sebas berkata sambil tersenyum kecil, menatap kepergian Alois dan rombongannya.
Jika Alois dan Trau tidak muncul, Sebas bermaksud turun tangan sendiri untuk menyelamatkan Christa.
Namun karena mereka berhasil tiba tepat waktu, dia kembali menjalankan tugas-tugasnya di balik layar.
Di sekitarnya tergeletak beberapa mayat.
Ada yang berpakaian seperti tentara, ada yang seperti petualang. Tapi semuanya memiliki luka tebas tipis dan rapi di leher.
“Kurasa para pembunuh yang bersembunyi hampir semuanya sudah dibereskan.”
Setelah pertempuran di gerbang selesai, Sebas berpisah dari pasukan bantuan dan bergerak sendiri untuk membasmi para pembunuh yang mengacau di medan tempur.
Kini setelah tugas itu tampaknya selesai, dia memutar lehernya hingga terdengar bunyi retakan kecil.
“Baiklah... Sepertinya sudah saatnya aku kembali menjadi kepala pelayan seperti biasa.”
Dengan senyum damai, Sebas menghilang dari tempat itu dalam sekejap.
Bagian 6
Meninggalkan medan tempur tidak semudah yang dibayangkan.
“Tidak akan kubiarkan kamu kabur! Arnold!”
“Haa...”
Apalagi kalau ada kakak perempuan yang sekeras kepala itu.
Zandra terus mengejarku, sama sekali tak peduli pada situasi secara keseluruhan.
Sementara itu, Kak Lize dan Gordon saling bertarung, dan pasukan pemberontak sudah berada di posisi sangat terdesak oleh anak buah Kak Lize.
Kupikir mereka tak akan punya waktu untuk mengurusi diriku. Namun, Zandra menerobos barisan, menebas para prajurit yang menghalangi, lalu muncul begitu saja.
Dari sana permainan kejar-kejaran pun dimulai.
Tak mau terseret dalam pertempuran kacau prajurit, aku naik ke atap rumah warga, tapi Zandra terus menembakkan sihir, memaksaku melompat dari atap ke atap.
“Keras kepala sekali, Kak Zandra!”
“Diam!”
“Sungguh... Sejak ketahuan kalau permata pelangi itu palsu, aku ini tidak punya nilai strategis lagi. Mengejarku hanya buang-buang waktu!”
“Itu belum tentu! Aku masih bisa menggunakanmu sebagai sandera untuk Leonard dan Elna!”
“Kedua orang itu tidak akan berhenti hanya karena aku disandera. Mereka justru akan makin ngamuk. Jadi sebaiknya jangan.”
“Berisik! Aku tidak butuh pendapatmu!”
Dengan teriakan itu, Zandra kembali menembakkan sihir ke arahku.
Dia tidak membidik leherku, juga tidak semena-mena mengejarku karena marah. Dia memang ingin menangkapku hidup-hidup.
Mungkinkah dia mengejarku karena dorongan amarahnya?
Tetapi, di situasi seperti ini, memusatkan perhatian pada diriku jelas langkah yang buruk.
Meskipun Elna dan Leo berhasil dihentikan, keadaan tidak akan berubah. Dan Kak Lize tidak akan berhenti apa pun yang terjadi, bahkan jika seseorang dijadikan sandera.
Arus pertempuran sudah berbalik. Tak ada lagi kekuatan yang cukup di pihak pemberontak untuk mengubahnya.
Seharusnya begitu. Namun di udara, Leo dan William masih saling bertarung.
Dengan kemampuan analisis William, seharusnya dia sudah menyadari keganjilan di bawah. Bisa saja pertarungan dengan Leo begitu sengit sampai dia tak sempat memikirkan hal lain, tapi sulit membayangkan dia akan mengabaikan situasi genting seperti ini demi duel pribadi.
Selama ini pun dia terlihat bertarung demi Persatuan Kerajaan, bukan demi diri sendiri.
Kalau begitu.
“Apa mereka punya langkah lain untuk membalikkan keadaan dari sini?”
Aku bergumam sembari melompat dari satu atap ke atap lainnya.
Sulit membayangkan orang-orang yang tersisa di sini mampu melakukannya...
“Berhenti!”
Zandra mulai kesal karena aku tak pernah berhenti bergerak.
Daerah ini adalah tempat yang dulu sering kupakai bermain waktu kecil, dan tampilan kotanya tidak banyak berubah.
Gerakan yang tertanam sejak kecil memang tidak mudah hilang, sampai dewasa.
Dulu aku sering berpindah-pindah di atap seperti ini dan dimarahi para orang dewasa. Dan untuk kabur dari mereka, aku kembali naik ke atap. Itu terus berulang.
Aku ingat pernah jahil bersama Guy lalu kabur lewat sini.
Kami mencuri roti dari toko, dikejar pemiliknya, dan ketika kulihat Elna mengejar dari belakang dengan wajah seperti iblis, kami berdua sempat merasa ajal sudah dekat. Aku ingat sekali.
Jika dibandingkan itu, Zandra masih tergolong jinak.
“Tidak ada habisnya! Berhentilah dan terimalah nasibmu, Arnold!”
“Tidak bisa dong. Demi keselamatan jiwa ini, aku harus tetap kabur.”
“Oh begitu... Kalau begitu, akan kupaksa kamu berhenti!!”
Berkata demikian, Zandra menghancurkan bangunan di depan arah lariku dengan sihir.
Jalurku terputus.
Benar-benar penuh kekuatan...
“Kalau begitu aku tinggal masuk ke gang kecil.”
“Itu justru yang kuinginkan! Apa kamu lupa? Aku punya banyak anak buah dari kalangan pembunuh! Mereka sudah tersebar di seluruh ibu kota! Masuk gang sedikit saja, kamu pasti tertangkap!”
“Itu kalau mereka masih ada.”
“Tidak percaya rupanya... Baiklah! Keluarlah beberapa orang!!”
Zandra memberi tanda.
Aku mengawasi sekitar sekejap, tidak ada siapa pun yang bergerak.
“Hah...? Apa-apaan ini!? Cepat keluar!”
Suara Zandra hanya menggema tanpa jawaban.
Aku memandangnya dengan tatapan iba.
Wajah Zandra pun langsung mengerut.
“Apa!? Apa maksud tatapanmu itu!? Tidak mungkin! Kenapa tidak ada yang muncul!? Di mana para pembunuhku!?”
Seolah menjawab teriakannya, seorang pria muncul.
Namun tubuhnya penuh darah.
“Gunther! Apa yang terjadi!?”
“Maafkan saya...”
Sambil meminta ampun, dia mengusap darah yang menetes dari kepalanya.
Kulihat lebih jelas, dan aku sadar dia adalah pembunuh yang pernah menyerangku dulu.
Justru karena kejadian itu, Lynfia datang menolongku, dan semuanya mengalir sampai sekarang.
Dalam arti tertentu, dia itu semacam penyelamatku.
Saat aku memikirkan itu, Gunther bergumam lirih.
“Dewa Kematian sialan...”
“Ah, saya ini cuma kepala pelayan biasa.”
Tanpa suara sedikit pun, Sebas sudah berdiri tepat di belakangku.
Jadi itu yang dikerjakannya selama ini, mengurus para pembunuh rupanya.
“Kamu terlambat.”
“Mohon maaf. Saya ini punya sifat suka ikut campur. Kalau melihat para junior yang kurang terlatih, saya langsung ingin memberi mereka pelajaran.”
“Hah, begitu. Lalu apakah para junior itu berhasil bertahan dari siksaanmu?”
“Anak-anak muda zaman sekarang memang lemah. Tapi tenanglah. Saya sudah memberikan contoh yang baik untuk mereka.”
Contoh yang baik sebagai pembunuh, ya?
Menyuruh mereka belajar dari proses mereka sendiri terbunuh itu terdengar benar-benar kejam.
Melihat Gunther yang berlumuran darah di samping Zandra, sepertinya dia termasuk yang paling cekatan.
Soalnya dia masih hidup.
“Sebastian... Jangan bilang... kamu yang membantai para pembunuhku...?”
“Ah, jadi mereka itu para pembunuh pribadi milik Yang Mulia Zandra? Untuk melayani keluarga kekaisaran, mereka terlalu mentah. Cepat atau lambat hanya akan menjadi beban Anda, jadi saya menanganinya terlebih dahulu. Pria di samping Anda ini masih punya sedikit potensi, tetapi untuk saat ini tidak bisa diharapkan.”
Begitu Sebas selesai berbicara, Gunther terhuyung-huyung, lalu roboh di tempat.
Sepertinya dia sudah kehilangan terlalu banyak darah.
Serangan Sebas selalu diarahkan ke titik-titik vital.
Jika mengalami itu berkali-kali, tentu darahnya akan habis.
“...Jangan bercanda! Dengan kekuatan sebesar itu, kenapa kamu malah jadi kepala pelayan Arnold!?”
“Apa gunanya pertanyaan itu? Kalau tidak segera ditangani, orang ini akan mati.”
“Tidak penting! Biar saja!”
“Saya tidak akan menjawab alasan saya mengabdi pada Tuan Arnold, tapi saya bisa menjelaskan mengapa saya tidak akan mengabdi pada Anda. Karena sifat Anda yang seperti itu.”
Tanpa bisa ditahan, aku meledak tertawa.
Wajah Zandra memerah padam, tapi aku tak peduli dan turun dari atap, lalu berjalan masuk ke gang kecil.
“Berhenti! Arnold!”
“Kalau mau mengejarku silakan saja. Tapi tolong hati-hati. Gang seperti ini adalah medan tempur utama para pembunuh.”
Aku meninggalkan tempat itu bersama Sebas.
Kami masuk ke sebuah penginapan kosong. Aku menjatuhkan diri ke kursi.
“Capeknya...”
“Terima kasih atas kerja keras Anda. Sepertinya kali ini Anda cukup beraksi.”
“Kami tukar peran dari biasanya. Aku benar-benar serius tadi.”
“Lalu, apa rencana Anda? Kali ini juga akan menahan kekuatan Anda sepenuhnya?”
“Tidak. William tidak mundur. Masih ada sesuatu. Kalau begitu, kita harus bersiap.”
“Kalau begitu seperti biasa.”
“Ya. Seperti biasa. Mulai dari sini, barulah waktu untuk bergerak dalam bayangan.”
Sambil berkata begitu, aku mengambil topeng perak dan mengenakannya.



Post a Comment