NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Saikyou Degarashi Ouji no An’yaku Teii Arasoi V9 Chapter 2

 Penerjemah: Chesky Aseka

Proffreader: Chesky Aseka


Chapter 2

Bala Bantuan Bergabung dalam Pertempuran


Bagian 1

Fine dan Mia dikejar oleh pasukan musuh, menuju ke bagian tengah sisi timur lapisan tengah ibu kota.

Karena di sanalah sebuah fasilitas penting berada. 

“Ke mana kita akan pergi, Nona Fine!?”

“Sedikit lagi sampai!”

“Kejar mereka! Jangan biarkan mereka lolos!” 

Mereka menembus lorong-lorong sempit dan akhirnya keluar ke jalan besar. 

Di sana, Fine menemukan tempat yang dia cari.

Sebuah bangunan yang begitu dikenalnya. Tempat di mana para petualang dari seluruh ibu kota berkumpul dan bernaung. 

Itu kantor cabang ibu kota Guild Petualang. 

Fine dan Mia berlari ke arahnya. 

Namun di belakang mereka, pasukan pengejar sudah semakin dekat. 

Jika mereka langsung masuk ke bangunan itu, para prajurit pasti akan menyerbu masuk pula. 

Fine sempat ragu sejenak, tetapi tiba-tiba seseorang menarik lengannya ke samping. 

“Ahh!”

“Mohon maaf, Nona Fine. Tolong diam sebentar.” 

Yang menariknya ke balik bayangan bangunan adalah wanita resepsionis yang biasanya menangani urusan Silver di guild. 

Beberapa saat kemudian, pasukan musuh tiba. 

“Ke mana mereka!? Cari!” 

Para prajurit itu segera berpencar untuk menyisir daerah sekitar. 

Namun sebelum mereka sempat bergerak jauh, suara berat menghentikan langkah mereka. 

“Berani juga kalian berkeliaran di sini...”

“Jadi, kalian datang untuk menantang kami, hah?” 

Dari berbagai arah, para petualang muncul dengan senjata terhunus. 

Para prajurit itu refleks mundur selangkah. 

“Kami tidak berniat bertarung dengan kalian! Gadis si Putri Camar Biru melarikan diri ke sini! Serahkan dia!”

“Tidak tahu.”

“Dia wanita yang sangat cantik. Kalau dia masuk ke sini, kami pasti sadar.”

“Tidak ada yang melihatnya. Mungkin dia lari ke tempat lain. Sekarang, pergi dari sini.” 

Para petualang pura-pura tidak tahu dan sama sekali tak mau mendengar penjelasan prajurit. 

Salah seorang prajurit muda kehilangan kesabaran, mencabut pedangnya. 

“Jangan seenaknya! Kami tahu dia ada di sini! Jangan besar kepala hanya karena kalian petualang rendahan!”

“Hei, dengar itu? Katanya kita cuma petualang rendahan.”

“Berani meremehkan, ya. Dibilang rendahan oleh prajurit yang mengkhianati kaisarnya sendiri.”

“Kami kira kalian lebih terhormat, tapi rupanya kami salah.” 

Tatapan para petualang menjadi dingin dan menusuk. 

Para prajurit itu tak tahan menghadapi tekanan tersebut; satu demi satu ikut mencabut pedang, maju selangkah. 

“T-Tunggu! Tenangkan diri kalian!”

“Tenang!? Kami bangkit demi Kekaisaran! Tidak pantas kalian menghina kami!”

“Demi Kekaisaran? Hah, jangan bercanda. Demi diri kalian sendiri, bukan?”

“A-Argh!” 

Prajurit itu melompat maju dengan wajah merah padam karena marah. 

Namun, anak panah menancap di tanah tepat di depan kakinya. 

“Apa!?”

“Saranku, jangan bergerak. Pemanah kami bisa menembak mata monster dari jarak jauh. Kalau targetnya kepala manusia, mereka bisa menembak sambil menguap.” 

Para prajurit menoleh ke sekeliling. 

Di atas atap-atap, lebih dari sepuluh petualang telah berdiri dengan busur teracung, semua mengarah pada mereka. 

Jumlah petualang yang bermunculan di jalanan juga semakin banyak. 

Terintimidasi oleh tekanan itu, para prajurit akhirnya menyerah dan meninggalkan tempat tersebut. 

“Mereka mundur.” 

“Sepertinya begitu. Terima kasih banyak.” 

“Tidak masalah, Nona Fine adalah pelanggan tetap kami,” jawab sang resepsionis dengan senyum manis. 

Dia kemudian memandu Fine dan Mia masuk ke dalam guild. 

Di sana, banyak warga yang tampak sedang berlindung. 

“Begitu banyak orang...”

“Mereka hanya sebagian kecil dari para pengungsi. Kami menyebar di berbagai tempat untuk menampung sebanyak mungkin. Tapi karena tak bisa bertindak terlalu terbuka, bantuan kami masih terbatas...” jelas resepsionis itu dengan wajah suram. 

Mereka melakukan hal yang seharusnya menjadi tanggung jawab negara.

Melakukannya demi rakyat.

Fine teringat pada kata-kata seseorang

“Ucapan terima kasih apa pun tak akan cukup. Kami benar-benar berterima kasih atas bantuan kalian.”

“Tidak perlu. Meski kami petualang, kami tetap warga Kekaisaran. Kami tinggal di ibu kota ini, keluarga dan teman-teman kami pun ada di sini. Kami melakukan apa yang bisa dilakukan, itu hal yang wajar.” 

Fiene kembali menyampaikan rasa terima kasih, lalu menatap ke arah para pengungsi di dalam guild. 

Sebagian besar adalah orang tua dan anak-anak. Beberapa petualang tampak menemani anak-anak yang terpisah dari orang tuanya. 

Pemberontakan yang terjadi di tengah festival ini telah menimbulkan luka yang dalam bagi rakyat. Namun, Fine tahu, kerusakan yang terjadi lebih besar dari yang dia bayangkan. 

Memang mudah untuk meminta maaf pada mereka, tapi itu bukan bagiannya Fine. Dia ada di sini melainkan untuk memulihkan keadaan dan mengembalikan kehidupan mereka seperti semula. 

“Maaf, aku ingin meminta sesuatu.”

“Apa itu?”

“Bisa aku meminjam ruang telekomunikasi? Aku ingin berbicara dengan pihak markas pusat guild.” 

Alasan Fine datang ke sini adalah untuk meminta kerja sama para petualang. 

Tapi pada dasarnya, para petualang tidak ikut campur dalam urusan politik atau konflik nasional. 

Baik Lynfia maupun Sieg membantu Al bukan sebagai petualang, melainkan secara pribadi. 

Karena itu, meski Fine meminta mereka membantu Kaisar, tak ada jaminan mereka akan setuju. 

Mungkin beberapa individu akan bersedia, tapi itu takkan cukup. Dia perlu dukungan dari jajaran petinggi Guild Petualang. 

Namun. 

“Tidak perlu. Aku sudah mengurus negosiasi itu.” 

Fine terbelalak ketika melihat siapa yang keluar dari balik ruangan itu. 

“Pangeran Eric...”

“Nampaknya kita memikirkan hal yang sama, Fine.”

“Sepertinya begitu...”

Eric, yang berhasil menembus kepungan bersama beberapa kesatria pengawal, ternyata sudah lebih dulu datang ke markas cabang itu dan memulai perundingan dengan markas pusat. 

“Kamu datang di waktu yang tepat. Para petinggi guild itu keras kepala, tapi aku bisa menanganinya. Kamu, tangani para petualang di lapangan.”

“Maksud Anda?”

“Negosiasi adalah keahlianku. Aku punya hubungan dengan para atasan guild, aku juga tahu beberapa rahasia kecil mereka yang tidak ingin mereka sebarluaskan. Sekarang mereka sedang berunding, tapi sebentar lagi mereka akan memberi wewenang kepada pihak lapangan. Kecuali mereka menuntut Silver ikut turun langsung, aku bisa mengurus bagian itu. Tapi meski begitu, para petualang di sini tidak akan langsung bergerak.”

“...Karena jika pemberontakan berhasil, Pangeran Gordon akan naik takhta.”

“Benar. Menentang calon kaisar berikutnya berarti mereka akan dianggap pengkhianat dan tak bisa lagi hidup di Kekaisaran. Mengusir beberapa pasukan di sekitar markas cabang, mungkin mereka mau. Tapi mereka tak punya alasan kuat untuk bertarung lebih jauh.” 

Tak ada jaminan kemenangan. 

Malah sebaliknya, siapa pun bisa melihat bahwa Gordon sedang unggul. 

Jika mereka tidak bisa mendorong petualang untuk ikut bertarung, maka sia-sia saja petinggi guild membolehkan mereka untuk ikut campur dengan politik Kekaisaran. 

“Negosiasi memang keahlianku, tapi urusan membujuk orang untuk percaya dan ikut bertindak bukanlah ranahku. Kamu lebih cocok untuk itu.”

“...Saya akan melakukan sebisanya.”

“Aku serahkan padamu. Nyawa Ayahanda di ujung tanduk. Kumohon.”


Eric menundukkan kepala setelah berkata demikian. 

Sikap itu membuat Fine merasakan kejanggalan yang kuat. 

Itu bukanlah sosok Eric yang dia kenal. 

Selama berada di istana, Fine telah berinteraksi dengannya berkali-kali, dan tidak pernah sekalipun Eric menunjukkan kehangatan seperti tadi. 

Dia selalu tampak dingin, tidak pernah peduli pada orang lain selain dirinya sendiri. 

Namun Fine segera menyingkirkan rasa aneh itu. 

Sekarang bukan waktunya memedulikan hal semacam itu. 

Yang terpenting hanyalah mendapatkan kerja sama dari para petualang, yang lain tidak penting. 

Dia menatap Eric yang meninggalkan ruangan, lalu mengalihkan pandangannya pada dua orang di sampingnya. 

“Sejujurnya, saya rasa itu akan sulit.”

“Aku juga berpikiran sama.” 

Fine hanya bisa mengangguk setuju pada resepsionis dan Mia. 

Petualang adalah orang-orang yang digerakkan oleh keuntungan, begitulah sifat profesi mereka. 

Hukum mutlak yang mereka anut hanyalah satu. Demi rakyat. 

Tidak seperti orang-orang yang menindas rakyat, Gordon tidak tertarik. 

Dia tidak peduli pada rakyat, tapi juga tidak berniat menyakiti mereka. 

Membujuk petualang akan jauh lebih rumit. 

Meski begitu, Fiee tahu bahwa dia tetap harus mencoba. 

“Bisakah kalian mengumpulkan para petualang? Katakan bahwa Putri Camar Biru ingin berbicara dengan mereka.” 

Dengan perintah itu, Fine memutuskan untuk menghadapi tugas tersulitnya. 

Kemudian dia berdiri di depan kumpulan petualang, Fine menarik napas dalam-dalam. 

Ada sekitar seratus orang di markas cabang ibu kota. Masih banyak petualang yang tersebar di tempat lain, menjaga pos-pos pengungsian.

Tapi yang hadir kali ini adalah petualang inti di markas cabang. Mereka adalah petualang tingkat tinggi yang berpengalaman. 

Jika dia bisa meyakinkan mereka, yang lain pun akan mengikuti. 

Masalahnya, mereka adalah petualang sejati. 

“Para petualang sekalian, terima kasih telah memberi saya kesempatan untuk berbicara. Nama saya Fine von Kleinert, Putri Camar Biru. Kalian mungkin sudah tahu, saat ini ibu kota dilanda pemberontakan. Dalangnya adalah Pangeran Ketiga, Gordon Lakes Ardler, bersama faksi militer radikal.” 

Setelah menjelaskan keadaan terkini, Fine menyapu pandangan ke seluruh ruangan. 

Wajah-wajah yang menatapnya tampak berat. 

Dia tahu benar siapa mereka. Mereka yang hidup bebas, hidup seenaknya, tiap-tiap dari mereka memiliki gaya masing-masing dan bertualang demi keyakinan dan kebanggaan masing-masing. 

Orang-orang yang banyak disebut sebagai pembuat onar, dan memang benar sebagian besar dari mereka adalah keras kepala dan sulit diatur. 

Banyak yang berasal dari lapisan terluar ibu kota, bahkan dari negeri-negeri asing. Masa lalu mereka tak bisa dibilang baik.

Namun Fine mempercayai mereka. 

Karena orang yang paling dia percaya pun mempercayai para petualang. 

“Aku datang untuk meminta bantuan kalian. Sekarang ibu kota berada dalam kekacauan besar. Aku tidak meminta kalian untuk bertempur demi Kaisar. Aku hanya memohon agar kalian membantu menjaga ketertiban. Aku tahu, tindakan itu akan dianggap menentang Pangeran Gordon, dan jika dia berhasil merebut takhta, kalian bisa saja kehilangan segalanya. Tapi, meski begitu... maukah kalian berdiri demi orang-orang yang tinggal di ibu kota ini?” 

Para petualang saling berpandangan, tak seorang pun langsung menjawab. 

Mereka tidak suka kepalsuan. Mereka tidak suka tunduk pada siapa pun. Itulah sebabnya mereka memilih jalan sebagai petualang. 

Bagi mereka, tindakan Gordon memang menjijikkan. 

Tapi... 

“Hei, Nona Fine. Ada sesuatu yang ingin kutanyakan.” 

Yang berbicara adalah seorang pria berambut cokelat dengan wajah keras.

Guy, guru pedang Rita sekaligus teman masa kecil Al. 

 “Tentu, apa itu, Tuan Guy?”


Guy menyilangkan tangan di dada.

“Kami ini orang-orang tanpa pendidikan tinggi. Politik bukan bidang kami. Tapi kami tahu satu hal: pemberontakan itu salah. Hanya saja, bagi kami, siapa pun yang duduk di atas takhta sama saja. Negara tidak ikut campur dengan guild, dan guild tidak ikut campur dengan negara. Bangsawan dan kesatria bertugas melindungi negeri, sementara petualang melindungi rakyat. Itu sudah jadi aturan tak tertulis. Jadi, kalau negara hancur, bukankah itu tanggung jawab kaum bangsawan dan kesatria? Lalu, izinkan aku bertanya, Nona, di mana para bangsawan itu sekarang?” 

Fine terdiam, merasa tersindir. 

Di ibu kota seharusnya ada banyak bangsawan dengan pasukan masing-masing, namun nyaris tak satu pun yang turun bertarung melawan Gordon. 

Memang awalnya mereka lumpuh karena kutukan di arena pertarungan. 

Seandainya bisa keluar dari arena, kondisi mereka pasti pulih. Tapi, sama sekali tidak terlihat gelagat para bangsawan bergerak. 

Pasti Guy dan yang lain tahu apa yang sedang mereka lakukan. 

Karena itulah, Fine tak bisa berkata apa-apa. 

“Aku melihatnya sendiri. Para bangsawan itu datang berduyun-duyun ke tempat pengungsian, menyingkirkan anak-anak dan orang tua demi menyelamatkan diri. Kami semua muak. Jadi kami usir mereka. Kami bukan alat untuk membersihkan kotoran mereka. Kekuatan kami diasah untuk menaklukkan monster, bukan melindungi pengecut. Petualang hanya bertarung demi rakyat. Kalau arah tujuannya sama, kami mau membantu. Tapi kalau mereka yang hanya peduli pada diri sendiri, maaf, tidak akan kami bantu.” 

“...Saya mengakui kebusukan dari bangsawan. Memang benar banyak dari mereka yang tidak memahami makna menjadi bangsawan, dan hanya bisa pamer status. Namun, janganlah menilai semua bangsawan hanya berdasarkan segelintir orang. Di antara mereka, ada juga yang saat ini mempertaruhkan nyawa dalam situasi seperti ini. Setiap orang adalah pribadi yang berbeda. Ada yang baik, ada pula yang jahat. Kumohon, jangan hanya melihat sisi busuknya saja.”

Guy mengangguk perlahan.

“Aku tahu. Aku tahu tidak semua bangsawan seperti itu. Ada yang baik, seperti kamu. Tapi bagaimanapun juga, kami tidak bisa ikut campur. Dari sudut pandang kami, baik Kaisar maupun Pangeran Ketiga sama saja.” 

Dia memalingkan wajah, dan begitu pula yang lain. 

Tak satu pun yang mau menatap Fine lagi. 

Bayangan muram menutupi hatinya. 

Namun saat itu. 

“Sama saja!? Bagaimana bisa kamu berkata begitu, dasar buta!” 

“Mia...”

“H-Hah? Siapa wanita yang berbicara aneh seperti itu...”

“Bicaraku tidak aneh! Justru kalian yang aneh! Kalian menyejajarkan Paduka Kaisar dan Pangeran Gordon dalam situasi seperti ini? Apa kalian bodoh!?”

“B-Bodoh!? Siapa yang kamu bilang bodoh, hah!?”

“Emangnya salah kalau aku bilang kamu bodoh!? Pangeran Ketiga yang memulai pemberontakan di tengah festival yang dihadiri pejabat dan rakyat negara lain, dan Kaisar yang padahal bisa saja melarikan diri tapi tidak melakukannya! Sama sekali tidak sama, sungguh hina jika dibandingkan! Fakta bahwa Pangeran Kedua bisa datang ke sini menunjukkan bahwa Kaisar, jika beliau mau, bisa melarikan diri dengan hanya sedikit pengawal! Kalau beliau tidak melakukannya, itu karena jika beliau menghilang, rakyat akan menderita! Apa itu pun tidak bisa kamu mengerti!?”

Jika Eric bisa datang, Kaisar pun seharusnya bisa datang.

Dia bahkan bisa memaksa melibatkan para petualang.

Para petualang tidak akan menerima bila tentara memasuki markas cabang ibu kota. Jika mereka berlindung di dalam, kekuatan kedua pihak bisa saling bertarung.

Mereka juga bisa pergi ke tempat lain jika mau. Namun, semakin banyak bergerak, semakin meluas pula kobaran perang. Korban di antara rakyat akan semakin banyak. 

“Pangeran Ketiga yang tidak peduli pada rakyat, dan Kaisar yang berusaha menghindarkan kerugian pada rakyat! Perbedaan keduanya jelas sekali! Alasan beliau tak memaksa kalian ikut adalah karena jelas beliau menganggap kalian juga sebagai rakyat yang harus dilindungi!”

“Meski begitu! Itu bukan alasan bagi kami untuk menanggung kerugian dan membantu secara sukarela! Menjaga ketertiban secara aktif berarti berhadapan dengan pasukan! Rencananya mungkin menutup beberapa kawasan untuk mengevakuasi rakyat ke sana, tapi demi itu kita harus melawan pasukan besar! Nyawa kami tak akan pernah cukup!”

“Kalau kamu sayangkan nyawamu, katakan dari awal saja! Pengecut!”

“Ha!?”

Wajah Guy menegang oleh kata-kata Mia.

Petualang lain juga tampak sudah nyaris tak sabar terhadap sikapnya.

Namun Mia, yang melihat mereka, perlahan menunjuk ke arah istana. 

“Di sana... Di dalam istana yang dikuasai militer itu ada seorang pangeran. Kalau kalian punya waktu, silakan hina pangeran yang kalian anggap Pangeran Sisa itu di sana.”

“Al...!? Tidak mungkin! Apa benar!?”

“Iya, benar...”

“Si bodoh itu...!”

Guy bergumam sambil menatap istana.

Dia berpikir bahwa kalau itu memang Al, dia pasti sudah mencium bahaya dan segera melarikan diri. Setidaknya, Al yang Guy kenal bukanlah orang yang sengaja tinggal di tempat berbahaya.

Satu-satunya kemungkinan adalah bila keluarganya terancam. 

Di saat seperti itu saja Al akan berusaha. 

“Bukan hanya Pangeran Arnold! Pangeran Rupert yang baru berusia sepuluh tahun pun, sadar akan bahaya, namun beliau dengan sukarela menjadi umpan! Bukan hanya mereka, banyak orang di istana itu mempertaruhkan nyawa mereka melakukan apa yang bisa mereka lakukan! Kalian mungkin berpikir bahwa mengorbankan diri demi negara adalah kewajaran bagi keluarga kekaisaran, tapi negeri lain tidak seperti ini! Betapa beruntungnya negeri ini!”

Bagi Mia, yang sering melihat keluarga kerajaan dan bangsawan dari Negara Bagian Cornix, bila dibandingkan dengan Kekaisaran Adrasia, sama sekali tidak sebanding.

Menyelamatkan diri adalah prioritas mereka. Di Cornix, mayoritas bangsawan berpikir negara ada untuk mereka. Sosok-sosok seperti bangsawan kekaisaran, atau Fine dan Alois, hampir tak pernah ditemui di sana.

Rakyat pun pasrah. Mereka menganggap keluarga kerajaan dan bangsawan memang demikian adanya.

Mia menolak pandangan itu, lalu memilih bertindak sebagai bandit dermawan untuk menegakkan keadilan. Kalau saja bangsawan dan keluarga kerajaan Negara Bagian memiliki sepersepuluh dari rasa tugas dan tanggung jawab keluarga kekaisaran, Mia takkan perlu memilih melawan.

Karena itu, sikap para petualang sekarang membuatnya muak.

Negara kacau pun akan menyusahkan petualang juga. Namun petualang negeri ini tak panik karena ada anggapan umum bahwa siapa pun yang menduduki takhta, pemerintahan minimal tetap akan berjalan.

Karena selama ini begitu, maka mereka yakin akan terus begitu. Sikap naif semacam itu terlihat jelas di antara para petualang. 

“Aku tegaskan sekali lagi! Jika kalian tidak mendukung Kaisar sekarang juga, kalian akan menyesal nanti!!”

Mia mengatakannya dengan nada pasti.

Gemetar kecil menyebar di antara para petualang.

Itu kesempatan.

Fine, berterima kasih kepada Mia karena mengubah arus pembicaraan, lalu berbicara kepada para petualang. 

“Pangeran Gordon, dalam pemberontakan ini, telah mendapatkan kerja sama dari Persatuan Kerajaan Egret, Negara Bagian Cornix, dan Kerajaan Perlan. Kalau dia naik takhta, dia berniat menumpas para bangsawan daerah yang tidak tunduk dengan bantuan negara-negara itu. Tapi tidak ada yang akan membantu Pangeran Gordon semata-mata karena niat baik. Semua itu pasti akan menjadi perang. Perang akan menyebabkan tanah ini rusak, monster akan bermunculan dalam jumlah besar, rakyat pun menderita. Jika tugas kita adalah membasmi monster, bukankah mencegah ledakan jumlah monster juga merupakan tugas petualang?”

“...”

Para petualang, termasuk Guy, terdiam.

Mereka berpikir, mereka merenung.

Fine menekan agar momentum tidak hilang. 

“Pangeran Gordon tidak peduli pada rakyat. Itu sudah jelas dari pemberontakan ini. Dan Kaisar yang tidak berpihak kepada rakyat pun tak akan menghargai petualang. Disebutnya Kekaisaran jarang dihantui monster karena Kekaisaran memberikan dana kepada guild dan selalu menjamin sejumlah petualang. Jika itu lenyap, petualang akan pergi mencari pekerjaan ke tempat lain. Mereka yang bisa pergi, mungkin tak masalah. Tapi bagaimana dengan yang punya keluarga di Kekaisaran ini? Bila kekurangan tenaga dan tetap menerima misi, tingkat kematian petualang pasti meningkat.”

Kekaisaran ramah kepada petualang.

Para kaisar terdahulu tak pernah meremehkan petualang. Mereka mengakui betapa pentingnya petualang yang membasmi monster demi kepentingan pemerintahan dan menghormati prinsip petualang yang melindungi rakyat.

Gordon, bagaimanapun, tak tertarik pada pemerintahan. 

Dia menempatkan perang sebagai prioritas.

Maka tak mustahil dia akan mengabaikan petualang hanya untuk berperang.

Fine menerangkan bahaya itu.

Ada respon. Hanya perlu dorongan lagi. Satu dorongan lagi.

Dan dorongan itu datang dalam bentuk yang tak terduga. 

“Marsekal Kekaisaran Lizelotte. Bisa kamu dengar suara ini? Kalau kamu dengar ini, serahkan Kaisar segera. Kalau tidak, aku akan mengeksekusi Christa.”

Kata-kata itu disiarkan lewat sihir ke seluruh ibu kota.

Sekilas, Fine merasa dingin merayap di punggungnya.

Para petualang di hadapannya seketika menjadi penuh amarah.

Mereka melongok ke arah istana. 

“Berapa umur Putri Christa?”

“Kira-kira 12 tahun.”

“Dan mereka akan mengeksekusinya? …Dasar brengsek.”

“Dasar orang bejat, tak punya rasa kemanusiaan pada keluarga.”

Para petualang mengeluarkan protes terhadap Gordon.

Lalu mereka memberi tahu petugas resepsionis di belakang Fine. 

“Apa kami diperbolehkan untuk aktif menjaga ketertiban publik?”

“Iya. Pangeran Eric tadi telah mendapatkan jaminan dari pimpinan guild. Menjaga keamanan demi melindungi rakyat tidak dianggap sebagai intervensi negara. Namun...”

“Namun?”

“Mereka tidak mengizinkan partisipasi Tuan Silver.”

“Ha! Cuma itu? Petinggi guild memang tidak pernah belajar, ya. Sejak kapan dia mau patuh pada perintah mereka? Kalau emang genting, dia bakal muncul sendiri.”

“Saya setuju. Jadi, boleh saya anggap bahwa markas cabang guild ibu kota akan bergerak melakukan penjagaan ketertiban secara aktif? Semuanya setuju?”

“Ya, kami akan kuasai wilayah tengah sisi timur.”

“Aku juga sudah lama kesal melihat para prajurit yang berjalan seolah jalanan ini milik mereka. Pas banget.”

“Aku cuma nggak suka pangeran itu. Pengen banget nonjok mukanya.”

“Aku setuju. Setelah beres di sekitar sini, bagaimana kalau sekalian kita serbu istananya?” 

Melihat para petualang yang kini berbicara penuh semangat, Fine menghela napas lega.

Mereka memang petualang.

Tipe orang yang kalau tidak suka sesuatu, mereka akan mengatakannya terus terang. Itulah sebabnya mereka memilih hidup sebagai petualang.

Dan Gordon sudah melampaui batas kesabaran mereka. 

“Nona Fine... Apa Al akan baik-baik saja?”

“...Aku tidak tahu. Tapi selama Tuan Al ada di dalam istana, aku yakin beliau tidak akan meninggalkan Putri Christa.”

“Ya, sudah pasti Al akan melakukan itu.” 

Guy menggaruk kepalanya sambil berkata demikian.

Sebagai teman lama Al, dia tahu bahwa Leo dan Elna berada di luar ibu kota.

Karena itu, dia heran mengapa Al nekat bertindak seperti sekarang. 

“...Semoga dia tidak bertindak gegabah.” 

Meski begitu, dalam hati Guy tahu Al pasti akan melakukannya.

Setiap kali orang yang dia sayangi terlibat, Al selalu berubah menjadi jauh lebih berani, atau lebih tepatnya, nekat.

Semoga kamu baik-baik saja.

Gumam Guy yang mendongak dan menatap langit.


Bagian 2

Matahari telah naik tinggi hingga menyilaukan.

William yang memecah barisan mendarat di sebuah alun-alun pada lantai menengah Istana Pedang Kaisar.

Dia menurunkan Christa dengan lembut.

Christa mengambil sedikit jarak darinya. Di tangan gadis itu tergenggam sebuah kantung berisi permata pelangi, sehingga William dengan tenang mengulurkan tangan. 

“Serahkan itu. Yang Mulia Christa.”

“Tidak...”

“Aku tak ingin menakut-nakuti anak-anak.”

“Kamu menjatuhkan Rita tadi...”

“Dia bukan anak kecil. Dia adalah kesatriamu.” 

Dia menunjukkan belas kasihan. Belas kasihan dengan tidak membunuh.

Namun William memperlakukan Rita sebagai seorang kesatria. Itu adalah sebuah penghormatan yang paling minimum.

Christa berbeda dari Rita. 

Pelindung dan yang dilindungi. Tindakan Christa yang berani mengambil kantung berisi permata pelangi layak dipuji. Dia kagum melihat Christa yang layak sebagai keturunan keluarga Ardler.

Tapi itu saja. Christa bukan seorang pejuang. 

“Ayo, cepat serahkan.”

“Kalau kamu tak mau menyerahkannya, mungkin lebih efektif kalau kupotong saja lenganmu?”

“...”

Gordon yang datang belakangan berkata demikian sambil mendekat ke Christa.

William menghentikan langkahnya dengan mengacungkan tombak di depan Gordon. 

“Apa-apaan ini?”

“Aku yang merebut dia dan permata itu. Tentang nasibnya, aku yang menentukannya.”

“Dasar omong kosong. Kamu hanya sekadar sekutu. Ketahuilah tempatmu.”

“Tempat? Kalau soal hadiah untuk yang berjasa dalam pertempuran bagaimana? Tak mungkin kamu bilang orang yang berjuang layak tak diberi imbalan, ‘kan?” 

Gordon mengerutkan alis mendengar argumen William. 

Namun mungkin berpikir tak ada gunanya berdebat, dia mundur satu langkah.

Melihat itu, William mendekat perlahan ke Christa dan tanpa suara merebut kantung di tangannya. 

“Eh...?”

“Kamu sudah berusaha keras, tapi sampai sini saja,” ujar William sambil melemparkan kantung itu ke Gordon.

Gordon menerima dengan ekspresi puas, lalu sebuah suara cempreng yang menyakitkan mengguncang alun-alun. 

“Gordon!!”

“Tch... Apa maumu, Zandra?”

Yang datang ke alun-alun adalah Zandra, yang tampak meledak-ledak marah.

Gordon tak menyembunyikan kejengkelannya saat menghadapi Zandra.

Dan itu malah membuat Zandra makin meledak karena jengkel. 

“Apa maksudmu? Jangan bercanda!! Karena anak buahmu yang tak becus, istana ini berantakan! Kita bahkan tak sempat mencari permata pelangi terakhir!”

“Apa?”

“Ada pengguna ilusi di antara musuh! Dia menyamar jadi aku dan membantu Estmann kabur! Anak buahmu dengan sopan mengikuti yang palsu dan malah menyerang aku sendiri! Anak buah Estmann yang tadinya di lantai atas istana kini mengikuti Estmann dan bergabung ke pihak Kaisar!”

“Apa...!? Bukankah sudah aku serahkan urusan istana padamu!?”

“Kamu mau menyalahkan aku? Kalau ingin menyalahkan, salahkan anak buahmu yang tak becus, yang berusaha menangkapku setelah kutunjukkan jurus terlarang! Di altar Bola Langit, Regu Pertama sedang melancarkan serangannya! Raphael sedang menjaga, tapi kalau lawannya Alida, siapa yang tahu bagaimana hasilnya nanti!” 

Semua sebenarnya berjalan mulus. Seharusnya demikian.

Namun masalah terus muncul di luar lingkarannya.

Gordon tak bisa menyembunyikan rasa frustrasinya. Orang-orang lemah yang tak berguna memang selalu merepotkan. 

“Mereka tak berguna. Termasuk kamu, Zandra.”

“Hah! Daripada mengomel, kenapa tak kerja saja? Karena munculnya diriku yang palsu, tentara tak akan mendengarkan perkataanku. Segera atasi masalah ini, Jenderal.”

“Tch... Kamu pasang itu di altar. Aku akan menguasai bagian dalam istana.” 

Gordon menyerahkan kantung berisi permata langit kepada Zandra dan hendak meneruskan penguasaan istana.

Tapi Zandra menghentikannya. 

“Tunggu! Dasar otak otot!!”

“Apa!? Kamu mau mati?”

“Otakmu isinya cuma otot! Kamu tak merasakan apa-apa saat memegangnya? Ini permata palsu!!” 

Zandra menghentakkan kantung itu ke tanah. Bola yang bergulir keluar memang terlihat persis seperti permata pelangi. Namun sebagai salah satu penyihir terbaik di antara para bangsawan, Zandra cepat menyadarinya.

Itu permata palsu. 

“Aura magisnya mirip dan bentuknya serupa, tapi permata pelangi yang asli bukan begini! Kamu ditipu!”

“Apa...!?”

Mata Gordon melebar saat melihat replika permata yang berguling itu. 

Wajahnya berubah penuh amarah dan dia perlahan mendekat ke Christa. 

“Kamu menipuku, Christa!”

“Jangan! Dia jelas-jelas mencoba melindunginya seolah itu permata asli! Ada sekutu yang menipu kita! Menyerang dia cuma buang-buang waktu!”

“Diam! Kenapa tak bisa kamu mendeteksinya!?”

“Aku bukan orang yang bisa melihat apa yang tak bisa kamu lihat. Sebelum bicara soal tanggung jawab, pikirkan langkah selanjutnya.” 

“Ugh...!”

Gordon gusar, menyusun ulang situasi di kepalanya.

Kini istana sedang kacau. Bola Langit masih pada tahap ketiga. Mereka butuh sedikitnya satu lagi permata pelangi.

Di ibu kota Gordon mungkin masih unggul, tapi bala bantuan untuk Kaisar pasti sudah mendekat dari luar. 

Dia tak bisa memperpanjang konflik.

Namun menguasai bagian dalam istana maupun gerbang timur memakan waktu. 

Banyak jenderal di ibu kota yang sebagian besar mendukung Gordon, tetapi ada juga yang setia pada Kaisar. 

Selain itu, banyak bangsawan membawa pengawal mereka sendiri. Ada yang bersikap netral, ada yang menahan diri untuk mengawasi, atau sengaja tak bergerak agar menghambat langkah Gordon. Mereka menahan kekuatan agar tidak gegabah.

Gordon tak bisa mengerahkan seluruh pasukannya ke Kaisar karena harus menahan hal-hal itu, itulah kelemahannya. 

Apa yang harus dia lakukan?

Apa yang bisa dia lakukan untuk bisa mengubah keadaan dalam sekali dorong?

Saat dia berpikir keras, pandangannya tertumbuk pada Christa. 

“Hah, hah, hah!! Masih ada kesempatan! Bawakan alat penguat suara! Sampaikan ultimatum pada musuh!”

“Apa yang hendak kamu lakukan...?”

“Lizelotte takkan meninggalkan Christa! Jadikan Christa sebagai sandera untuk melumpuhkannya!”

“Bodoh! Tak mungkin Marsekal Kekaisaran akan terguncang oleh itu! Itu hanya akan merugikan! Hentikan!”

“Aku sudah bosan dengar celotehmu! Jangan menghalangiku karena alasan kesatria!”

“Aku hanya menyarankan penilaian bijak sebagai sekutu! Kalau kamu mau melakukannya, kirim utusan! Mengancam di seluruh ibu kota akan membuat kita kehilangan dukungan rakyat dan tentara. Kita justru akan membuat musuh!!”

“Kalau aku mengirim utusan hanya akan memperpanjang konflik ini! Aku tak mau bernegosiasi! Kalau kamu menolak, baiklah! Aku akan melempar Christa keluar dari istana supaya dia sadar akan kesalahannya! Kalau Lizelotte murka lalu menyerang, saat itulah aku akan memenggal kepalanya!” 

Gordon berkata begitu sambil menarik lengan Christa, menuju pinggir alun-alun.

Walau mereka berada di lantai menengah istana, ini adalah salah satu bangunan tertinggi di ibu kota. Jatuh dari sini dipastikan tak akan selamat.

William memutar wajah saat menyaksikan kebodohan Gordon, lalu memalingkan pandang ke Zandra.

“Putri Zandra. Kalau kamu tidak menghentikannya, yang menantimu hanyalah kehancuran.”

“Benar juga. Gordon, kamu boleh mengancamnya, tapi jangan melemparnya. Serahkan saja Christa padaku.”

“Apa?”

“Aku akan memakainya sebagai bahan eksperimen tubuh manusia. Kalau kamu bilang akan menyerahkannya pada Zandra, bahkan Lizelotte pun tak akan bisa tetap tenang.” 

Melihat Zandra yang tertawa seolah tengah menikmati keadaan, William merasa kepalanya pening.

Dia tak dapat memahami bagaimana bisa seseorang tetap bersikap tenang dan bahkan berkata bahwa mengancam orang lain “tidak apa-apa” dalam situasi seperti ini. 

Sebaliknya, Gordon hanya menjawab bahwa dia akan mempertimbangkannya.

William menatap langit. Langit yang begitu cerah dan jernih itu membuatnya berpikir, andai saja dia bisa terbang tanpa memikirkan apa pun, betapa menyenangkannya hal itu. 

Namun, dia tak bisa terus melarikan diri dari kenyataan.

Dia segera menenangkan diri dan kembali berbicara. 

“Pikirkan lagi, Gordon. Kamu tidak akan bisa memaksakan kehendakmu sesuka hati. Berhentilah mengejar harapan kosong dan hadapilah kenyataan. Tidak ada langkah ajaib yang bisa membalikkan keadaan. Gunakan seluruh kekuatan yang tersisa dan tumpas sang Kaisar. Kalau aku juga ikut turun tangan, peluang kemenanganmu akan meningkat pesat. Asal Kaisar terbunuh, tak peduli berapa banyak bala bantuan datang, itu tak jadi masalah. Kita bisa tinggalkan ibu kota ini, menjadikan wilayah utara sebagai pangkalan, dan menaklukkan seluruh wilayah Kekaisaran dari sana.” 

“Hmph! Dari nada bicaramu saja sudah jelas. Kau hanya ingin membuatku bergantung pada Egret, bukan?”

“Dan kalaupun itu benar, apa bedanya? Bahkan jika rencanamu berhasil, para bangsawan tidak akan tunduk padamu. Untuk menundukkan mereka dalam waktu singkat, kamu membutuhkan kekuatan negaraku juga, bukan? Pada akhirnya kamu tetap harus bergantung pada negeriku. Jadi untuk apa aku perlu bersekongkol diam-diam?” 

“Siapa yang tahu. Begitu pemberontakan ini berakhir dan Kekaisaran mulai goyah, kamu pasti berencana mengkhianati kami, bukan?” 

Mendengar kata-kata Zandra, William mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya menancap ke telapak.

Dia ingin menjawab “Lakukan sesukamu”, tapi itu bukan pilihan yang diperbolehkan. 

Sejak memutuskan berdiri di pihak Gordon, kemenangan Gordon adalah satu-satunya jalan yang bisa dia terima. Nasib Persatuan Kerajaan berada di pundaknya. 

Jika Gordon gagal membunuh Kaisar...

Maka kemarahan dari Kekaisaran terkuat di benua ini akan tertuju pada mereka. 

Sekalipun Persatuan Kerajaan Egret, Negara Bagian Cornix, dan Kerajaan Perlan bersatu, tidak ada jaminan mereka bisa menang.

Bagaimanapun juga, meski telah melemah, Kekaisaran tetaplah Kekaisaran.

Jika Kaisar bertahan hidup, masa kekacauan akan segera berakhir, dan celah untuk menyerang pun tertutup. 

Lagi pula, William sejak awal tidak menaruh kepercayaan pada Cornix maupun Perlan. Tiga negara itu memang membentuk aliansi atas nama dukungan terhadap Gordon, tetapi dalam sejarah pun jarang ada aliansi yang setipis ini kepercayaannya. 

Sekutu yang bisa mengkhianatimu kapan saja. Dengan beban seperti itu, mereka tidak mungkin bisa melawan Kekaisaran Adrasia yang begitu tangguh. 

Itulah sebabnya, keadaan sekarang adalah satu-satunya kesempatan yang tak boleh disia-siakan. 

“Silakan saja mencurigai niatku! Tapi dengarkan ini baik-baik. Rencanamu akan membuat pihak-pihak yang selama ini netral berbalik menjadi musuh! Kalau itu terjadi, membunuh Kaisar akan jauh lebih sulit!”

“Kalau mereka ingin jadi musuh, biarkan saja! Aku akan menghancurkan mereka semua!”

“Sudah cukup! Kalau kamu benar-benar bisa menghancurkan musuh di depan matamu dengan mudah, kamu tak perlu memakai sandera! Kamu tidak sekuat yang kamu kira! Jangan menambah musuh, perbanyaklah sekutu!”

“Hmph, tampaknya kita tak akan pernah sepakat. Aku akan bertindak sesuai kehendakku. Kalau kamu tak suka, pulang saja ke negerimu.” 

Sambil berkata begitu, Gordon mengambil alat sihir yang diserahkan bawahannya, lalu memperkuat suaranya agar terdengar di seluruh ibu kota. 

“Marsekal Kekaisaran Lizelotte. Bisa kamu dengar suara ini? Kalau kamu dengar ini, serahkan Kaisar segera. Kalau tidak, aku akan mengeksekusi Christa.”

Sebagai seorang Kesatria Naga, William peka terhadap aliran udara.

Dia merasakan angin tiba-tiba berbalik arah, berhembus ke sisi yang berlawanan, dan berbisik pelan. 

“Angin kini berhembus melawan kita...”

Arah angin telah berubah.

Dia tahu, membalikkan angin yang sudah terlanjur berlawanan ini akan sangat sulit.

Namun, meski begitu, William tidak boleh menyerah.


Bagian 3

“Aku menemukannya.”

Aku, yang sedang mencari permata pelangi di kamar Zandra, menemukan cekungan di bawah ranjang, dan dari sana aku berhasil menemukan permata itu.

Begitu kugenggam, terasa jelas bedanya. Jika dibandingkan dengan yang palsu, kedalamannya berbeda. Ini jelas permata asli. 

“Lumayan susah juga.”

Kukitari sekeliling kamar. 

Karena kubuka dan membiarkannya keluar begitu saja saat mencari, kamar itu berantakan tak karuan. 

Pakaian dan kosmetik berserakan di mana-mana. Sekilas jelas terlihat ada orang yang masuk.

Terlalu merepotkan untuk merapikannya sekarang, biarlah tetap seperti ini. 

Meski begitu.

“Syukurlah yang menemukannya aku. Kamar ini menyeramkan juga.”

Aku mengucapkan itu, lalu kulihat sebuah kotak yang sengaja dibiarkan tak tersentuh. 

Kotak itu memancarkan suasana yang benar-benar mengerikan, jelas ada kutukan yang terpaut padanya.

Bukan cuma itu. Ada beberapa benda serupa. Entah apa yang terjadi kalau kubuka salah satunya. 

“Ada juga alat sihir semacam ini.”

Kucermati sebuah perangkat berbentuk bola. 

Sekilas hanya bola biasa, tapi ada energi sihir di dalamnya. Sepertinya prototipe alat sihir. Mungkin sesuatu untuk dilemparkan ke musuh. 

Saat mencari, bermunculan benda-benda semacam itu satu demi satu. Sekilas aku hampir salah sangka mengira ini gudang persenjataan. 

Sambil menyelipkan beberapa ke dalam saku, kusiapkan gerbang teleportasi.

“Nah, istana ini sudah tak lagi berguna.”

Kuputuskan untuk membiarkan mereka terus mencari sesuatu yang sebenarnya tak ada. 

Dengan pikiran seperti itu, aku melangkah menuju gerbang teleportasi. 

Namun tepat saat aku membatin demikian.

Sebuah suara bergema di seluruh ibu kota.

“Marsekal Kekaisaran Lizelotte. Bisa kamu dengar suara ini? Kalau kamu dengar ini, serahkan Kaisar segera. Kalau tidak, aku akan mengeksekusi Christa.”

Kakiku yang hendak melangkah ke gerbang terpaku.

Betapa bodohnya isi ancaman itu bukan urusan utama. Yang jelas, jika kata-kata itu disiarkan, berarti Christa tertangkap.

“Aku tak percaya Kak Trau bakal ceroboh sampai ketahuan Gordon...”

Meski berpikir begitu, pada kenyataannya Christa memang tertangkap, pasti ada sesuatu yang terjadi.

Aku mengubah tujuan teleportasi. 

Kalau dia ditangkap, aku tak bisa tinggal diam. Lagipula, Zandra ada di sisi Gordon.

Tak pantas jika menjadikan seseorang umpan lalu bilang aku tidak peduli padanya ketika tertangkap. 

Sambil berpikir demikian, aku menoleh ke utara. 

Lalu kusematkan senyum tipis, mengenakan topi, dan berkedok sebagai prajurit sebelum melangkah ke dalam gerbang teleportasi.


* * *


Berkat Jenderal Estmann, lantai atas istana berhasil direbut kembali.

Para jenderal di dalam istana kini mati-matian mencoba merebutnya lagi, karena bila gagal, mereka akan dicap tidak berguna.

Sementara itu, Alida tampaknya masih terus menyerang altar. Meski tidak berhasil menembus pertahanan tebal di sana, berkat itu salah satu kekuatan utama musuh, Raphael, berhasil ditahan di tempatnya. 

Sambil terus memantau situasi di istana, aku menuju ke alun-alun.

Di sana, ada empat orang penting yang berkumpul. 

Gordon, Zandra, Christa, dan Pangeran Naga dari Egret, William. 

“Percuma menunggu musuh bergerak! Kita harus segera membunuh Kaisar sekarang juga!”

“Berisik! Kalau kita bergerak sekarang, apa gunanya menjadikan Christa sandera!?”

“Aku sudah bilang dari awal, itu memang tidak ada gunanya! Orang luar justru lebih tahu betapa mengerikannya Marsekal Kekaisaran Lizelotte! Sekalipun dia sangat mencintai adiknya, Putri Christa, dia bukan orang yang akan mengabaikan tugasnya!”

“Kamu tidak akan mengerti! Tapi aku tahu! Lizelotte sangat memanjakan Christa! Ada hal-hal yang hanya bisa dipahami oleh keluarga sedarah! Diamlah kamu!”

“Keukh...! Kalau begitu, biarkan pasukan Kesatria Naga-ku bertindak sendiri!”

“Apa!? Kamu mau mati konyol, hah!?”

“Kalau masih ada jalan untuk membalikkan keadaan, maka itu satu-satunya cara! Dengan menjadikan Putri Christa sandera, kamu justru membuat pihak netral beralih ke pihak musuh. Reputasimu juga sudah hancur. Selama langit masih diselimuti Bola Langit itu, satu-satunya pilihan kita adalah membunuh Kaisar! Sekalipun itu mustahil, kita harus mencobanya!” 

William berkata demikian, lalu meninggalkan Gordon dan Zandra menuju pasukan Kesatria Naga yang sudah menunggu. 

Sungguh menyedihkan.

Justru karena dia melihat situasi dengan jelas, dia jadi berbenturan dengan Gordon.

Gordon percaya bahwa dengan menjadikan Christa sandera, Kak Lize pasti akan bertindak. Sementara William berpikir sebaliknya, bahwa Kak Lize tidak akan pernah bergerak karena alasan pribadi.

Itulah perbedaan mendasar di antara mereka. 

Gordon terlalu berpikir dangkal. Dia percaya pada keyakinannya sendiri tanpa dasar, memilih percaya pada apa yang ingin dia percayai. 

Aku teringat pada perkataan Kevin, ayahnya Sonia.

“Paduka Kaisar tidak sebodoh itu sampai mengangkat anak bodoh yang hanya bisa menyerbu seperti babi hutan menjadi jenderal.”

Benar. Gordon diangkat menjadi jenderal oleh Ayahanda. Kalau sejak awal dia seceroboh ini, tidak mungkin Ayahanda akan mempercayakannya posisi itu.

Berarti, pasti ada sesuatu di balik semua ini. Tapi sekarang, itu bukan hal yang penting. 

Apa pun alasannya, bagaimanapun latar belakangnya, kenyataannya Gordon telah memberontak dan menjadikan adik kandungnya sendiri sebagai sandera.

Tak peduli seberapa terhormat dia dulunya, kalau sekarang dia terus melakukan kebodohan, maka dia tetaplah orang bodoh. 

Menolak mendengar pendapat orang lain, menutup telinga dari kebenaran, dan hanya mengikuti jalan yang dia yakini sendiri—Gordon yang sekarang hanyalah bencana.

Dan kalau dia adalah bencana, maka bencana itu harus disingkirkan. 

“Lapor!! Kami berhasil menangkap Pangeran Ketujuh, Arnold!!”

“Lalu kenapa!? Arnold tidak penting! Menangkap dia tidak akan mengubah apa pun! Apa yang bisa dilakukan Pangeran Sisa itu!? Jangan buang-buang waktu! Segera kuasai bagian atas istana!!” 

Begitu memastikan William sudah cukup jauh dari Gordon dan Zandra, aku—yang menyamar sebagai prajurit—mendekat ke arah mereka.

Aku mengubah nada suaraku, menyesuaikan gerak tubuh dan sikapku, sehingga mereka tidak mengenaliku.

Saat itu, aku melemparkan alat sihir yang kuambil dari kamar Zandra sambil berkata, “Sayang sekali. Padahal aku hanya berniat menahan kalian sebentar saja.”

“Apa itu!?”

“Guh! Uhuk! Ada apa...!?”

“Itu asap terkutuk! Asap itu akna melumpuhkanmu!” 

Zandra langsung menyadarinya, mungkin karena dia sendiri yang menciptakan alat itu.

Dia segera menjauh, menghindari asap yang keluar dari bola sihir itu. 

Sementara itu Gordon yang terkena langsung masih terjebak di dalamnya. 

Aku memanfaatkan kesempatan itu untuk menarik tangan Christa dan membawanya ke tepi alun-alun. 

“Kamu...! Jangan remehkan aku!!”

“Ah, aku hanya melakukan apa yang bisa dilakukan orang yang katanya tidak bisa melakukan apa-apa. Apa dengan ini aku bisa mendapat sedikit pengakuan, Kakak?” 

Aku melepas topi dan menyingkap wajahku.

Melihat itu, Gordon langsung mendesis dengan suara yang sarat kebencian. 

“Arnold!! Aku tidak akan memaafkanmu!!”

“Kakak Al!”

“Kamu tidak terluka, Christa?”

“Aku baik-baik saja... Tapi aku khawatir pada Rita...”

“Begitu ya... Maafkan aku juga, aku sudah membuat Rita ikut menderita. Dan kamu juga, Pangeran William. Lebih baik kamu jangan bergerak dulu.” 

Aku mengeluarkan sebuah kantong dan memperlihatkan isi kantung itu kepada mereka.

Zandra langsung mengerutkan alis. 

“Kak Zandra pasti tahu ini apa. Ini permata yang asli. Dan kalian membutuhkannya, bukan? Kalau begitu, tolong jangan bertindak gegabah. Kalau aku sampai terpeleset sedikit saja, benda ini bisa jatuh dari sini. Meski permata pelangi adalah permata yang kuat, dari ketinggian ini, permata ini pasti akan pecah berkeping-keping.” 

“Aku bisa menebas kepalamu lebih dulu sebelum itu terjadi.”

“Kenapa tidak coba saja?” 

Pandangan kami saling bertemu, tegang dan tajam.


Namun William perlahan mendekati Gordon dan berbisik pelan. 

“Jangan bodoh. Sekarang belu, saatnya.”

“Aku tahu! Arnold... Kamu memberi Christa permata yang palsu?”

“Tepat sekali. Sejak awal, yang asli ada padaku. Termasuk satu yang terakhir tersembunyi di dalam istana, totalnya ada tiga permata, semuanya sudah di tanganku sekarang.”

“Tiga!? Kenapa kamu yang memegang semuanya!?”

“Karena aku mencarinya. Aku pikir, kalau pun Kanselir yang menyembunyikannya, pasti di tempat yang bisa membuat orang kesal setengah mati. Maka aku menebak kamar Kak Zandra. Dan ternyata benar. Oh ya, alat sihir yang tadi itu juga aku pinjam dari sana.” 

“Jadi kamu berani mengacaukan kamarku... Dasar kurang ajar! Kamu tidak akan lolos dari ini!”

“Yang kurang ajar itu kalian. Apa yang kalian pikirkan sampai tega menjadikan adik kandung sendiri sebagai sandera? Tapi terus terang, aku kira Kak Trau akan bisa kabur. Dari keadaan sekarang, sepertinya Pangeran William ikut campur, ya?” 

Pangeran Naga dari Persatuan Kerajaan Egret.

Aku memang sudah mendengar kabarnya, tapi ternyata dia cukup tajam juga. 

Aku sedikit menaikkan penilaianku terhadapnya, lalu mengelus kepalanya Christa yang memanyunkan bibir, jelas-jelas tidak senang. 

“Maaf ya, aku sudah membohongimu.”

“Kakak, kamu benar-benar jahat...”

“Kasar banget. Tapi ya, katanya untuk menipu musuh, kamu harus mulai dengan menipu rekanmu dulu. Jadi maafkan aku.” 

Sambil berkata begitu, aku memasukkan kembali permata pelangi ke dalam kantung.

Melihatku seperti itu, Zandra melangkah maju selangkah.

“Arnold. Kamu benar-benar makin besar kepala, ya? Kamu kira kamu bisa menahan kami dengan menjadikan permata pelangi sebagai sandera? Kalau kamu menjatuhkannya, aku akan membunuhmu di tempat.”

“Aku tahu kok. Karena itu aku datang untuk bernegosiasi. Aku akan menyerahkan permata pelangi dengan syarat aku dan Christa dibiarkan pergi dengan selamat. Bagaimana?”

“Negosiasi yang lumayan. Tapi, kamu tahu, negosiasi itu hanya bisa berjalan kalau posisi kedua pihak setara. Sementara kami tidak masalah meski tanpa permata pelangi. Artinya, rencanamu gagal.”

“Begitu ya? Kalau begitu, sepertinya kalian tidak perlu permata ini.”

“Apa!?”

“Jangan bilang!” 

Aku melepaskan pegangan pada kantong di tanganku.

Mata Gordon dan Zandra membelalak lebar, tubuh mereka secara refleks maju selangkah.

Namun aku segera menangkap kantong itu kembali dan menjulurkan lidah sedikit, mengejek mereka. 

“Hanya bercanda. Ternyata kalian memang masih membutuhkannya, kan? Jangan berbohong begitu, Kak Zandra.”

“Sial...! Aku tidak akan memaafkanmu...!”

“Seram sekali. Baiklah, ayo kita mulai negosiasinya. Aku tidak mau mati konyol.” 

Aku berkata sambil tersenyum lebar. 

“Baiklah, mari kita dengar tuntutanmu, Pangeran Arnold.”

“Seperti yang diharapkan dari Pangeran Naga. Kamu tahu bagaimana berbicara.” 

William, sambil menahan amarah Gordon dan Zandra yang sudah di ambang ledak, duduk untuk berunding denganku.

Aku pun mengutarakan syaratku. 

“Hanya satu. Biarkan pihak Kaisar mundur dari ibu kota. Hentikan dulu Bola Langit itu sementara, dan izinkan kami keluar dari kota.”

“Jangan main-main denganku!!” 

Gordon langsung meledak.

Wajar saja. Setelah menekan lawan sejauh ini, aku malah meminta mereka melepaskannya.

Permata pelangi adalah kunci untuk membunuh Kaisar, namun jika mereka membiarkan Kaisar lolos demi mendapatkannya, berarti tujuan dan cara mereka sudah terbalik. 

Namun.

“Tidak mungkin kami mengizinkan semuanya pergi. Kami tidak punya jaminan kamu akan menepati janjimu.”

“Tentu saja. Aku hanya mencoba peruntungan. Kalau begitu, sejauh mana yang bisa kalian lepaskan?” 

Aku bertanya dengan nada ringan pada William.

Dalam negosiasi, ada satu prinsip dasar. Jangan pernah menyebutkan langsung apa yang benar-benar kamu inginkan. Buat lawan yang menawarkannya.

Karena itu, aku mulai dengan permintaan yang jelas mustahil, agar kendali berpindah ke mereka.

Kalau mereka tidak menyebutkan batas kompromi, waktu akan terus berjalan.

Dan itu pun bisa jadi keuntunganku. 

“...Setidaknya kamu harus tetap di sini. Kamu menjadikan kakak dan adikmu sebagai umpan, bukan? Jangan bilang kamu takut menjadi sandera sendiri.”

“Menusuk sekali. Tapi baiklah, itu bisa diterima. Jadi aku tinggal di sini, sementara yang lain diizinkan melarikan diri dari ibu kota. Bagaimana?”

“Permintaan itu juga tidak bisa diterima.”

“Yah, kalau semuanya ditolak, ini bukan negosiasi namanya.”

“Sebaliknya, justru di situlah letak inti dari negosiasi.” 

Dengan dua bom waktu di sisinya yang bisa menyerangku kapan saja—Gordon dan Zandra—William tetap berbicara dengan tenang.

Biasanya, orang akan kehilangan fokus dan membuat kesalahan dalam tekanan seperti ini.

Namun, pangeran yang juga Kesatria Naga di medan perang ini punya keteguhan yang luar biasa. 

“Baiklah, mari kita pastikan satu hal. Sampai batas mana kalian mau berkompromi?”

“Kalau hanya Kaisar dan Kanselir, kami akan mengizinkannya.”

“Jangan bercanda. Setelah dua orang itu keluar, kalian pasti akan memperkuat Bola Langit dan membasmi para bangsawan yang tersisa. Lalu, saat Ayahanda kehilangan para penasihatnya, kalian akan membunuhnya, bukan?”

“Sayangnya, kami juga ingin menang.” 

William tersenyum kecil.

Aku pun tersenyum balik.

Sayang sekali, kalau saja dia tidak berpihak pada Gordon, mungkin aku bisa memanfaatkannya untuk menarik Persatuan Kerajaan keluar dari koalisi. 

Ketika aku berpikir demikian, Gordon yang sudah kehilangan kesabaran menggertakkan giginya dan berteriak, “Arnold! Kalau kamu masih ingin hidup, serahkan permata pelangi itu sekarang juga...!”

“Justru karena aku ingin hidup, aku tidak akan menyerahkannya.”

“Baik. Kami akan mundur dari sini. Jadi serahkan saja pada Pangeran William.”

“Hahaha, jangan bercanda. Wajahmu saja sudah jelas berniat menembakku dengan sihir dari jauh, Kak Zandra.” 

Aku menanggapi tawaran komprominya dengan tawa.

Zandra mengklik lidah dan menatapku tajam. Memang, niatnya seperti itu, benar-benar mudah ditebak. 

“Gordon, Zandra. Kalian mundur dulu. Aku yang akan bernegosiasi dengannya.”

“Negosiasi, negosiasi! Kenapa kita harus membiarkan diri kita dipermainkan oleh Arnold!? Kenapa tidak langsung habisi saja dia!?”

“Karena aku yang memegang permata pelangi, tentu saja.”

“Omong kosong! Kamu tak punya kekuatan apa-apa, hanya memegang batu itu! Kamu pikir pantas bernegosiasi denganku!? Jangan bercanda! Dasar pangeran tak berguna, kamu hanya kekosongan yang ditinggalkan Leonard! Kamu tidak bisa apa-apa sendiri, hanya bisa jadi bahan tertawaan orang! Jangan besar kepala, sampah sepertimu!!” 

Dengan itu, Gordon mencabut pedangnya.

Christa mencengkeram lenganku erat-erat.

Namun aku tetap diam, menatap Gordon lurus tanpa gentar. 

“Lalu apa? Kamu mau membunuhku? Setelah itu bagaimana? Tanpa permata pelangi, akan sulit bagimu untuk membunuh Ayahanda. Sebelum itu, sang Pahlawan atau Elna pasti tiba di sini. Saat itu terjadi, pihak yang akan terdesak adalah kalian.”

“Gordon, apa yang dikatakan Pangeran Arnold benar. Sarungkan pedangmu.”

“Aku tidak menerima perintah dari siapa pun! Negosiasi itu pekerjaan pengecut! Akal-akalan dari orang lemah yang ingin menghambat orang kuat! Kamu tidak bisa apa pun selain menunda waktu! Kamu orang bodoh yang tidak punya apa-apa, Arnold! Katakan, bisakah kamu menyangkalnya!?”

“Tidak. Aku tidak menyangkalnya. Tapi kalau itu upaya untuk memprovokasiku, percuma saja. Kamu ingin aku marah dan menantangmu duel, begitu? Jangan konyol. Aku sudah lebih dari separuh hidupku dijadikan bahan olok-olok oleh seluruh Kekaisaran. Apa lagi yang bisa kamu katakan untuk melukai harga diriku?”

“Dasar...! Jijik rasanya berpikir bahwa makhluk sepertimu satu darah denganku! Kamu mencoreng nama keluarga kekaisaran, dasar memalukan!”

“Aku masih lebih baik daripada seorang pemberontak.”

Aku menjaga ketenanganku. Karena aku tahu pasti, keunggulan mutlak ada di pihakku.

Itu pula yang membuat Gordon geram. Tapi sekadar menggonggong takkan mengubah apa pun.

Seharusnya dia menyerahkan situasi ini pada William, namun bahkan itu pun tak bisa dia lakukan. Dia tak mampu mengendalikan diri, tak bisa mempercayakan urusan sulit pada orang lain.

Benar-benar reaksi yang khas dari Gordon, orang yang meyakini bahwa kekuatannya sendiri adalah segalanya, dan selalu ingin menyelesaikan segala sesuatu dengan tangannya sendiri. 

“Tutup mulutmu! Aku bisa menebas lehermu di sini dan sekarang juga!”

“Coba saja kalau bisa. Meski aku yakin Pangeran William akan menghentikanmu.”

“Jadi ujung-ujungnya kamu tetap bergantung pada orang lain! Dasar menyedihkan! Kamu dan Rupert sama saja! Bagaimana bisa orang sepertimu memiliki darah yang sama denganku!? Pengecut, lemah, tak punya keberanian untuk melawan! Untuk apa keberadaan kalian!? Keluarga kekaisaran adalah kaum yang terlahir sebagai penguasa! Mengapa makhluk lemah seperti kalian bisa ada!?” 

“Begitu ya... Jadi Rupert melarikan diri.”

“Benar! Rupert melarikan diri! Padahal dia punya kekuatan untuk menolong Christa, tapi malah lari ketakutan! Tak ada pengecut yang lebih menyedihkan darinya!”

“Kamu takkan pernah mengerti... Apa yang dirasakan Rupert saat dia memilih untuk lari.” 

Betapa beratnya perasaan seseorang yang mampu menolong tapi memilih untuk tidak melakukannya.

Mundur jauh lebih sulit daripada maju. Kalau memikirkan hinaan yang akan datang kemudian, jelas lebih mudah untuk melawan saja.

Karena bagi kebanyakan orang, keberanian itu berarti menghadapi musuh. Sementara melarikan diri dianggap sebagai tindakan pengecut, tindakan hina. Itulah anggapan umum.

Tapi aku tahu, Rupert tak melarikan diri karena takut.

Dia melarikan diri karena berani. Karena aku yang memintanya begitu. 

“Aku tidak peduli! Aku tak ingin tahu bagaimana perasaan pengecut seperti itu! Aku tak peduli pada makhluk tak berguna sepertimu! Aku adalah yang terkuat, sang penguasa sejati! Aku berbeda dari kalian para lemah!”

“Hmph... Merasa diri istimewa dan berbeda dari orang lain, ya? Sudah bosan aku mendengarnya. Apa karena garis keturunanmu unggul? Apa karena kamu lebih berbakat dari orang lain? Kalau semua itu cukup untuk menentukan segalanya, maka benua ini pasti sudah dikuasai para petualang peringkat SS.”

“Diam! Mereka bukan sosok yang pantas memimpin manusia! Aku punya kedudukan dan kekuatan yang membuatku sampai di sini! Aku berbeda dari kebanyakan orang! Akulah yang tertinggi! Buktinya, banyak pasukan yang mengikutiku! Itulah bentuk yang benar! Kaum lemah hanya perlu tunduk pada yang kuat! Kamu juga, pikirkan baik-baik dan tunduklah padaku!”

“Logika yang menggelikan. Tak ada gunanya bicara lebih jauh. Kita takkan pernah saling mengerti. Aku tidak akan mengakui orang yang tak mampu mengakui orang lain sebagai kaisar. Dan bukan hanya aku, banyak orang yang berpikir sama sepertiku.”

“Kalau begitu, aku akan menghancurkanmu! Yang lemah takkan pernah menang melawan yang kuat!”

“Begitu ya... Hanya memastikan saja, jadi aku dan Rupert ini termasuk lemah, kan?”

“Benar! Kamu lemah!”

“Kalau begitu, kalau kami berhasil menang di sini, berarti teorimu runtuh. Aku jadi penasaran, dalih apa yang akan kamu pakai nanti untuk mempertahankan rasa unggulmu itu?”

“Apa!?” 

Aku melangkah mundur.

Kami memang berdiri di tepi alun-alun, dan kini tak ada lagi ruang untuk mundur.

Di belakangku hanya ada jurang yang menganga. 

Christa menatap dengan wajah pucat lalu meraih lenganku erat-erat.

Kepada gadis itu, aku berkata pelan.

“Christa, apa kamu percaya padaku?”

“...Aku selalu percaya pada Kakak.”

“Begitu ya... Kak Gordon, tidak, Gordon. Kamu bilang aku tak punya apa-apa. Benar, aku tak punya kekuatan, aku hanyalah Pangeran Sisa yang tak berharga. Aku mungkin terlihat sebagai orang tanpa apa pun. Tapi menurutku, kamulah yang sebenarnya tak memiliki apa pun. Karena kamu tak punya satu hal yang paling kuat di dunia ini.”

“Tak ada yang lebih kuat dari kekuatan individu!”

“Keliru. Ada yang lebih kuat. Manusia tak bisa hidup sendirian. Setiap orang punya kelebihan dan kekurangan, punya watak yang berbeda-beda. Dari situlah lahir yang disebut kepribadian. Kekurangan seseorang dilengkapi oleh orang lain. Karena itu manusia membangun masyarakat, menciptakan negara, dan bersatu. Dan kekuatan yang membuat semua itu mungkin adalah ikatan.

“Dan dengan itu, aku akan menolakmu. Memang, aku tidak punya apa-apa... Tapi aku punya sesuatu yang tak bisa dikalahkan siapa pun. Ingat baik-baik, Gordon. Sahabat masa kecilku adalah yang terkuat, dan adik kembarku adalah yang terbaik.”

Begitu ucapku sambil melompat ke belakang.

Tubuhku sempat melayang sesaat di udara, lalu mulai jatuh.

Di saat bersamaan, terdengar gemuruh dahsyat dari luar.

Seluruh Bola Langit diterpa arus cahaya, dan dalam sekejap, kubah itu pecah seperti kaca yang dihancurkan. 

Di balik pecahan cahaya itu.

Berpijar sinar matahari di langit tinggi, dan di antara cahaya itu, seekor griffon hitam meluncur menukik tajam ke arah kami. 

“Maaf, tapi aku sudah memutuskan untuk menyerahkan masalah pada adikku.”

Aku tersenyum kecil sambil mengulurkan tangan kanan ke arah Leo yang mendekat dengan kecepatan luar biasa.


Bagian 4

Alois dan rombongannya berhasil lolos dari kejaran pasukan kavaleri Gordon, lalu mulai mencari kesempatan untuk menerobos lapisan pertama kepungan musuh. Namun, mereka mendadak menghentikan pergerakan begitu mendengar suara Gordon menggema di seluruh kota. 

“Kak Christa...”

Rupert menatap ke arah istana dengan pandangan kosong. 

Namun Alois segera menegurnya.

“Yang Mulia! Hanya berdiri di sini dan menatap tidak akan menyelamatkan siapa pun! Sekarang kita harus melakukan apa yang masih bisa kita lakukan!”

“Tapi... Karena aku meninggalkannya...”

“Anda tidak meninggalkannya, Yang Mulia! Anda hanya menjalankan tugas Anda sebagai anggota keluarga kekaisaran! Bahkan Putri Christa pun pasti melakukan hal yang sama! Anda tahu, menolongnya saat itu hanya akan memperburuk keadaan! Jika Anda masih ragu akan keputusan itu, biarkan saya yang menjaminnya, Anda tidak salah!” 

“...Alois...”

“Kita serahkan urusan Putri Christa pada Grau dan Pangeran Arnold yang masih di dalam istana. Keduanya bukan orang biasa. Mereka pasti bisa menanganinya dengan baik.”

“Tapi... Lawan mereka Kak Gordon. Kita tidak tahu apa yang akan dia lakukan...”

“Mereka berdua jauh lebih tidak terduga dibandingkan dengan Pangeran Gordon, jangan khawatir.” 

Dengan kata-kata itu, Alois perlahan menuntun pikiran Rupert menjauh dari istana.

Lalu dia menatap ke depan, ke arah barisan kepungan musuh pertama.

Mereka harus menembusnya. Apa pun yang terjadi, Rupert harus dibawa menemui Kaisar.

Itu satu-satunya hal yang memenuhi kepala Alois saat ini. 

Dan yang menopang tekadnya hanyalah satu kemungkinan kecil, “mungkin saja”.

Jika Christa benar-benar ditangkap, mustahil pelaku membiarkan permata pelangi lolos. Trau pasti telah mempertaruhkan segalanya untuk melindunginya.

Jika bahkan Trau tak sanggup menjaganya, berarti keadaan di dalam sudah sangat genting. 

Namun, Bola Langit sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda diperkuat. Seandainya batu permata keempat benar-benar asli, mereka tak perlu repot-repot menahan sandera. Dengan kubah tak tertembus dari luar, mereka tinggal menunggu waktu untuk menghabisi lawan perlahan. 

Ada satu alasan yang masuk akal kenapa mereka tidak melakukannya.

Permata pelangi yang berhasil direbut ternyata palsu. 

Begitu menyimpulkan hal itu, Alois makin yakin bahwa dia harus membawa Rupert ke hadapan Kaisar secepat mungkin.

Dalam situasi ini, permata pelangi yang asli berada di tangan Rupert, atau bisa jadi di tangan Arnold. 

Apa pun kebenarannya, posisi mereka sudah cukup mencurigakan. Jika sekarang mereka diam di tempat, mereka bisa saja dikepung dari segala arah. 

Maka Alois memalingkan punggung dari istana.

Apa yang Alois bisa lakukan sekarang hanyalah melindungi Rupert.


* * *


Begitu mendengar kata-kata Gordon, Kaisar Johannes menggenggam pedangnya begitu erat hingga darah menetes dari telapak tangannya. 

“Gordon...! Jadi kamu sudah membuang harga dirimu sebagai seorang pejuan juga, hah!?”

“Mohon tenangkan diri Anda, Paduka.”

“Aku tenang! Jangan khawatir! Aku tidak bermaksud memerintahkan serangan apa pun!”

“Itu melegakan, setidaknya. Tapi bagaimana dengan Marsekal?” 

“Pertanyaan yang bodoh, Kanselir.” 

Lize hanya memandangi istana di kejauhan, diam seperti batu. 

Melihat ketenangan Lize yang nyaris tak berperasaan itu, Franz justru merasa tidak enak.

Jika seseorang seperti Johannes meluapkan amarahnya, maka arah tindakannya masih bisa ditebak. Namun jika yang marah adalah orang seperti Lize, yang tidak menampakkan emosi sedikit pun, justru itulah yang paling berbahaya.

Dia bagaikan langit yang hening sebelum badai datang, seperti busur yang ditarik penuh dan tinggal menunggu lepasnya tali. 

Tak lama kemudian, Lize menerima teropong dari salah satu bawahannya dan mulai mengamati istana. 

“Bagaimana, Lize? Ada perubahan?” 

“Ya, ada. Sepertinya adikku yang merepotkan baru saja muncul.” 

Dia tersenyum tipis, lalu menyerahkan teropong itu pada Johannes. 

“Jangan bilang...” gumam Johannes seraya menatap melalui lensa.

Dan benar saja, di ujung alun-alun, tampak Arnold berdiri bersama Christa. 

“Anak itu…! Apa yang dia pikirkan!?”

“Perhatikan tangannya.”

“Tangan? Hah!? Itu permata pelangi! Dia membawa benda itu tepat di depan musuh...”

Bisa dibilang itu sandera dalam bentuk lain. Kalau dia mengancam akan menghancurkannya, justru pihak Gordon yang akan panik.”

“Kalau sampai batu itu hancur, negara kita sendiri yang akan celaka...”

Namun Lize mengabaikan gumamam Franz.

Sekarang bukan waktunya memikirkan soal kehilangan benda. 

Tiba-tiba Johannes mengerang dan berteriak.

“Bodoh! Jangan mundur lagi! Kamu akan jatuh! Arnold, kembali ke dalam!!”

“Percuma saja. Suara Ayahanda takkan bisa mencapainya. Lagipula, Al tidak akan mencoba hal yang tidak punya peluang berhasil.”

“Tapi... Bagaimana dia akan lolos dari sana...? Kalau dia melompat, dia akan mati...”

“Aku tidak tahu dengan pasti. Tapi aku yakin Al selalu melihat dunia dengan cara yang tak bisa dipahami orang lain. Barangkali sekarang pun begitu.” 

Dan pada saat Lize selesai berbicara. 

Al melompat dari istana, membawa Christa di pelukannya. 

“Arnold!! Christa!!” 

Johannes berteriak tanpa pikir panjang. 

Tetapi suaranya tenggelam oleh gemuruh dari luar Bola Langit. 

Kubah penghalang yang melingkupi istana meledak dan berhamburan seperti kaca pecah.

Dari celah langit yang terbuka, seekor griffon hitam raksasa turun menembus langit. Melihat itu, Lize menyeringai kecil dan segera memberi perintah.

“Semua pasukan, bersiap untuk bertempur! Bala bantuan telah tiba, sekaranglah saatnya menyerang!” 

“Lizelotte...” 

“Ayahanda, mohon ajak pengawal terdekat untuk keluar dari ibu kota.” 

“...Baiklah. Hati-hati.”

“Tenang saja. Aku hanya akan menjemput adik-adikku.” 

Dengan itu, Lize melompat ke pelana kudanya.


* * *


Waktu sedikit mundur ke beberapa saat sebelumnya, di sisi utara ibu kota kekaisaran. 

Ketika rombongan Leo akhirnya tiba di tempat dari mana ibu kota sudah tampak jelas, Leo dan Elna segera bertukar pandang, seolah saling memahami tanpa perlu sepatah kata pun. 

“Elna, aku serahkan padamu.”

“Serahkan saja padaku!” 

Menyelimuti ibu kota tampak sebuah kubah besar bercahaya. 

Hanya dengan melihatnya, keduanya sudah tahu bahwa situasi sedang tidak biasa. 

Leo langsung menarik kendali griffon-nya dan menukik tajam ke atas, lalu melesat menuju ibu kota dengan kecepatan yang mencengangkan. 

Para Kesatria Griffon lain yang mengikuti hanya bisa tertegun. Mereka bertanya-tanya dari mana Leo masih punya tenaga sebesar itu setelah memimpin perjalanan panjang yang begitu keras. Namun Leticia segera menegur dengan suara lantang. 

“Kejar dia! Jangan sampai tertinggal!” 

Seraya berkata demikian, Leticia menunggangi griffon-nya sendiri dan bergegas menyusul Leo.

Para kesatria lain, merasa malu jika tertinggal jauh dari pemimpin mereka, segera mengikuti di belakang, mempercepat laju tunggangan mereka. 

Meski tak secepat para penunggang griffon, pasukan kavaleri Narberitter juga meningkatkan kecepatan menuju ibu kota. Di antara mereka, Wyn menghela napas panjang. 

“Kalau kubah itu dihancurkan, permata pelangi juga bakal rusak... Itu benda sekelas Pusaka Nasional, dan jumlahnya paling tidak ada tiga. Setidaknya mereka bisa berpikir dua kali dulu.” 

“Tidak banyak yang bisa dilakukan. Lagi pula, ini Nona Elna yang kita bicarakan,” komentar Sebas terhadap Wyn.

Sementara mereka berbincang, jauh di atas langit, Elna mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi. 

“Dengarkanlah seruanku, dan turunlah! Wahai pedang bintang yang bersinar gemilang! Sang Pahlawan kini membutuhkanmu!!” 

Dari langit turun seberkas cahaya putih. 

Elna meraih cahaya itu, dan dalam genggamannya ia berubah menjadi sebilah rapier ramping berkilau perak. 

“Ayo! Aurora!” 

Dengan seruan itu, Elna mengangkat Pedang Suci-nya tinggi-tinggi di atas kepala. 

Lalu. 

“Aku tidak peduli apa pun itu, mekanisme pertahanan kota atau apa pun! Tapi jangan berani-berani menghalangiku!!” 

Pedang Suci itu menebas ke bawah. Dalam sekejap, arus cahaya raksasa membubung, menelan seluruh kubah penghalang yang menyelimuti ibu kota. 

Begitu melihat hasilnya, Elna segera menghilangkan Pedang Suci-nya dan menukik dengan kecepatan penuh menuju ibu kota. 

Di belakangnya, para kesatria di bawah komandonya—juga para kesatria pengawal kekaisaran—mengikuti tanpa ragu. 

“Regu Kesatria Keempat dan Kelima, bertahanlah di luar ibu kota! Jika kubah sudah hancur, Paduka pasti akan keluar. Lindungi beliau! Regu Ketiga, ikut denganku!” 

Setelah memberikan perintah dengan cepat, Elna kembali mempercepat lajunya. 

Dia ingin sampai secepat mungkin. 

Namun... 

“Sepertinya kali ini aku harus rela membiarkan Leo duluan...” 

Dalam pandangannya, Leo sudah menukik tajam ke arah istana.


* * *


Leo melayang tinggi di atas ibu kota, bersiap untuk menukik bahkan sebelum Elna menghancurkan Bola Langit itu. 

“Kita bisa turun sekarang, Noir?”

Griffon hitam itu menanggapi dengan pekikan nyaring, seolah menjawab, tentu saja.

Terdorong oleh suara gagah itu, Leo menarik napas dalam-dalam, lalu menukik lurus ke arah ibu kota. 

Tak lama kemudian, Elna telah menghantam Bola Langit. Dari udara, istana kini terlihat jelas. 

Kubah itu, yang semula tampak seperti sangkar raksasa untuk menahan Kaisar, kini terbuka. Melihat keadaan itu, Leo langsung mengarahkan Noir turun menuju istana. 

Namun, di mata Leo, tampak sosok Al yang melompat dari istana. Di sisinya ada Christa.

Leo, tanpa sempat berpikir, memberi perintah pada Noir untuk menambah kecepatan.

Namun, Noir sudah menukik secepat yang dia bisa. Dengan seseorang di punggungnya, itu sudah bisa disebut kecepatan maksimum.

Meski begitu, Noir masih mempercepat terbangnya. Dia berhenti menahan diri demi Leo.

Karena dia tahu, itulah yang diinginkan Leo. 

Layaknya meteor yang jatuh, Noir dan Leo menukik tajam ke bawah, langsung menuju ke arah Al dan Christa.

Begitu mereka sejajar dengan keduanya, Leo mengatur kecepatan dan mengulurkan tangan ke arah tangan Al yang terulur.

Namun, angin kencang membuatnya sulit untuk meraih tangan itu. 

“Sial!” 

Leo, dengan wajah tegang, mencoba sekali lagi mengulurkan tangannya. Pada saat itu, pandangannya dan pandangan Al bertemu sejenak.

Hanya dengan itu, keduanya secara naluriah menarik tangan mereka, lalu pada saat yang sama kembali mengulurkannya.

Keduanya saling menggenggam erat. Leo menarik Al dan Christa ke arahnya.


Begitu dua orang itu berada di belakangnya, Leo segera menarik kendali. Tanah sudah begitu dekat.

Dalam jarak yang nyaris mustahil, mereka berhasil menanjak ke langit, menggambar lintasan seperti huruf U. 

Dan kemudian... 

“Halo, Leo. Lama sekali. Kupikir kamu sedang tidur siang di suatu tempat.”

“Halo, Kak. Padahal aku sudah melaju secepat mungkin, tahu? Tapi sungguh, aku tidak senang melihatmu menambah daftar permainan berbahaya. Apalagi kalau kamu mengajak Christa.” 

Percakapan pertama mereka setelah beberapa hari justru terdengar ringan.

Sambil tertawa kecil, keduanya bertukar kata-kata tak berarti, seolah tak ada yang terjadi. 

“Kak Leo!”

“Halo, Christa. Kamu ketakutan, ya?”

“Ya... Memang agak menakutkan, tapi ternyata jatuh itu lumayan seru juga.”

“Aduh. Kalau bagimu itu menyenangkan, bagiku rasanya jantungku mau copot.”

Leo menanggapi jawaban Christa dengan senyum kecut.

Lalu perlahan, dia mengalihkan pandangannya ke arah ibu kota.

Dari ketinggian, dia bisa melihat pertempuran pecah di berbagai penjuru kota. 

“Keadaan yang parah sekali...”

“Maaf. Andai saja aku bisa menanganinya dengan lebih baik...”

“Tidak, ini sudah cukup. Asal kalian berdua selamat, itu saja sudah cukup bagiku.” 

Ucapnya sambil menarik pedang dari sarungnya.

Dari arah istana, pasukan Kesatria Naga terbang menuju ke arah mereka. 

“Maaf mengganggumu di saat kamu pasti lelah, tapi bisakah urusan sisanya kuserahkan padamu?”

“Tentu. Mulai dari sini, giliran kami yang bertindak.” 

Mengatakan itu, Leo mengangkat pedangnya.


Bagian 5

“Aku tak menyangka kamu akan kembali secepat ini.”

William muncul di hadapan Leo, menunggang naga, dan mengatakan itu dengan jujur. 

Wajahnya—meski rencana mereka telah berantakan total—tampak cerah entah kenapa. 

“Pangeran William. Aku bilang ini padamu. Serahkan dirimu sekarang juga.”

“Apa kalian sudah merasa menang...? Pasukan Kesatria Naga-ku masih utuh! Jika kami bisa merebut permata milik Pangeran Arnold itu, dan membentangkan kembali Bola Langit, kami masih bisa bertarung! Bahkan Sang Pahlawan pun tak bisa menggunakan Pedang Suci penuh tenaga dua kali!!”

“Sementara kami sibuk melawan kalian, Ayahanda akan mundur ke zona aman. Kalian tak akan memperoleh kemenangan.”

“Mungkin sekarang begitu! Tapi kalau kami menguasai ibu kota, kami bisa bekerjasama dengan kerajaanku dan terus bertempur! Mereka yang berdiri sampai akhir... adalah pemenangnya! Demi kemenangan negeriku... Aku akan bertarung sampai akhir!!” 

Dengan itu William melancarkan serangan ke arah Leo.

Karena kami menunggang bersama, Leo tak dapat melakukan pertempuran udara berkecepatan tinggi. 

Namun di antara Leo dan William, seekor grifon putih membelah jarak. 

“Tidak akan kubiarkan!”

“Santa Leticia...!” 

Serangan William terhalang, jadi dia mundur sejenak. 

Leticia melangkah maju seolah melindungi Leo, memegang tongkatnya. 

“Aku senang kamu selamat, Santa Leticia.”

“Aku tak menyangka akan mendapat ucapan selamat darimu, Pangeran William.”

“Ya, tentu saja. Untuk menjebakmu, Persatuan Kerajaan kami ikut ambil bagian. Semua pasti menginginkan kematianmu. Namun kalau begitu, itu berarti kami mengakui kekalahan. Karena Persatuan Kerajaan tak mampu menundukkanmu, kami mengandalkan tipu muslihat kotor. Jika kamu mati, kami takkan pernah bisa membuktikan bahwa Kesatria Naga lebih unggul daripada Kesatria Grifon dari Perlan. Kepercayaan yang hilang tak akan lagi kembali. Kalau rencana itu berhasil, tipu muslihat akan dinilai lebih tinggi daripada keberanian Kesatria Naga. Kupikir aku bisa menenangkan diriku sendiri dengan alasan itu, namun sekarang kamu muncul di sini dan, jujur, aku merasa lega.” 

“Kalau memang begitu, serahkanlah dirimu dan perbaiki kesalahan ini sekarang juga. Pemberontakan ini tak ada alasan yang benar. Terlibat di dalamnya hanya akan mencemarkan kehormatan Persatuan Kerajaan.”

“Perdebatan semacam itu sudah berkali-kali terjadi sampai membuat bosan. Persatuan Kerajaan Egret menginginkan wilayah, bukan sekadar kehormatan. Sebagai keluarga kerajaan, aku harus mengikuti kebijakan negaraku. Semua ini karena kelemahanku sendiri yang tak bisa menyingkirkanmu lebih cepat.” 

William mengangkat tombaknya. 

Kali ini pasti mereka akan menyerang habis-habisan. 

Sekilas kulihat ke sekitar, ada para Kesatria Griffon lain yang sudah datang. Jumlah mereka lebih sedikit dibanding Kesatria Naga, namun griffon itu sendiri—dari segi kemampuan—lebih kuat dan unggul dibanding wyvern. Keunggulan wyvern hanyalah pada kemampuan berkembang biak dan kemudahan pelatihan. 

Untuk penggunaan militer, wyvern mungkin lebih praktis, sehingga mereka mengandalkan jumlah untuk menutupi kekurangan kualitas. 

Namun selisih jumlah sejauh ini masih bisa dibalikkan oleh Kesatria Griffon. 

Satu hal yang mengusikku hanyalah Leticia yang tampak kelelahan. 

Wajar saja, dia diculik lalu segera diselamatkan, tentu membuatnya lelah. 

“Leo... Bawa mereka berdua ke tempat aman. Kami akan menahan waktu.”

“Leticia...” 

Leo menatap Leticia penuh kekhawatiran. 

Aku hanya menyungging senyum kecil melihatnya. 

“Kami tak butuh pengawalan. Aku dan Christa akan perlahan menuju tempat Ayahanda.”

“Hah?”

“Leo, lindungi Leticia. Saat ini menghadapi Pangeran Naga terlalu berat baginya.”

“Jangan remehkan aku. Aku baik-baik saja. Tak perlu khawatir.”

“Aku tak bisa begitu saja. Kamu adik ipar baruku yang berharga.”

“Eh!? Aku lebih tua darimu!!”

“Sial, sayang sekali. Aku kan kakaknya Leo.” 

Aku terkikik lalu berdiri. 

Leticia memerah, bersikeras kalau dia lebih tua, tapi kukecualikan itu dengan sopan. 

Lalu. 

“Leo, lindungi Leticia. Kalau kamu sudah berjanji untuk menjaganya, maka apa pun yang terjadi kamu harus menepatinya. Kata melindungi dari seorang pria bukan sesuatu yang bisa diucapkan sembarangan.”

“Kakak...”

“Tenang saja. Aku punya kesatriaku sendiri.” 

Kukatakan itu sambil melompat dari griffon Leo. 

Tingginya bukan main, walau tidak setinggi sebelumnya, namun jika jatuh nyawaku tak akan tersisa. Tiga Kesatria Naga menukik mendekat, hendak menyerang kami.

Kemudian...

“Aku serahkan padamu, Elna!” 

Kesatria Naga yang mendekat itu tersapu seketika dan terlempar menabrak tembok istana. 

Arus anging membungkus tubuhku dan Christa, lalu perlahan menurunkan kami ke tanah. 

“Kalau begini agak kurang seru... Kurang tinggi.”

“Hahaha! Kalau begitu lain kali kita terjun dari tempat yang lebih tinggi.” 

Kulambaikan tangan di kepala Christa, menepuknya. 

Di belakangku terdengar suara pendaratan. 

Cukup untuk kuketahui siapa itu. 

“Terima kasih atas usahamu, Kesatria Elna.”

“Maaf karena datang terlambat, Yang Mulia. Regu Ketiga Kesatria Pengawal datang memenuhi panggilan Yang Mulia.” 

Begitu Elna mengatakan itu.

Pasukannya mendarat satu per satu di sekelilingku.

Mereka semua penuh semangat. Sungguh dapat diandalkan. 

Saat aku memikirkan itu, Gordon memberi perintah melalui alat pengeras suara kepada semua prajurit. 

“Kepada seluruh pasukan di ibu kota! Tangkap Pangeran Ketujuh Arnold hidup atau mati! Rampas tiga permata pelangi yang dia miliki!! Siapa yang berhasil menangkapnya akan mendapatkan hadiah sesuai yang kalian mau! Tangkaplah Pangeran Sisa itu!!” 

“Aduh, ngeri juga. Dia marah besar.”

“Tenang... Kami semua akan melindungimu, Al.”

“Aku mengandalkan kalian.” 

Sambil bercakap-cakap dengan Elna, pasukan keluar dari istana satu demi satu. 

Mereka sepertinya akan mengerahkan semua kekuatan yang bisa dimobilisasi. 

Kerja keras yang berat hanya untukku sendiri. 

“Jumlahnya lumayan banyak. Jariku tidak akan cukup untuk menghitungnya.”

“Prajurit biasa tak termasuk. Kalau capek, tidur saja dulu, Mark.”

“Jangan bercanda. Tidur di sini nanti kita diinjak.” 

Mark, bawahannya Elna, mengangkat bahu.

Aku tertawa kecil mendengar percakapan itu, dan Mark pun mencabut pedangnya. 

“Entah sudah berapa kali aku harus menolong Anda, Yang Mulia?”

“Entahlah. Sudah terlalu sering sampai aku lupa.”

“Kalau begitu, mulai sekarang tolong dihitung.”

“Tidak bisa. Jariku tidak akan cukup untuk menghitungnya.” 

Aku meniru kata-katanya barusan, membuat Mark mendesah pelan, seolah tak tahu harus bagaimana lagi. 

“Benar-benar orang yang merepotkan.”

“Sudahlah, menyerah saja. Al memang seperti itu orangnya.” 

Elna berkata demikian, lalu perlahan mengangkat pedangnya tinggi-tinggi.

Dia menggunakan sihir yang membuat suaranya bergema ke seluruh ibu kota kekaisaran. 

“Wahai para kesatria dan para prajurit yang ada di ibu kota! Dengarkan suaraku, Elna von Armsberg! Kalian telah bertahan dengan luar biasa sampai sejauh ini. Kalian telah melindungi kota ini dengan segenap tenaga. Keringat dan darah yang kalian curahkan semuanya pantas untuk dipuji!

“Namun, waktu untuk beristirahat belum tiba! Jika masih tersisa sedikit saja kebanggaan yang kalian titipkan pada pedang yang kalian persembahkan untuk Paduka Kaisar, jika masih tersisa rasa hormat saat pertama kali kalian mengenakan seragam militer itu, maka bangkitlah! Berdirilah dengan kehormatan kalian!

“Sang Pangeran yang harus kita lindungi tengah menuju ke sisi Kaisar! Lindungi beliau! Dengan seluruh kebanggaan kalian! Sekaranglah saatnya membuktikan siapa sejatinya para pelindung Kekaisaran!! Jika kalian merasa lelah dan putus asa, ingatlah ini!! Di punggung setiap prajurit yang membela Kekaisaran... Armsberg bersama kalian!!!!” 

Itu adalah seruan tempur.

Kata-kata yang membakar semangat kesatria dan prajurit yang kelelahan.

Ucapan penuh keberanian yang membuat semua merasa masih bisa bertarung. 

Dan sesaat kemudian, dari seluruh penjuru ibu kota terdengar pekik sorak menggema.

Amsberg bersama mereka. Itu saja sudah cukup untuk memberi keyakinan bahwa segalanya akan baik-baik saja. 

“Cepatlah, Al. Semua orang akan melindungimu.”

“Ya, terima kasih. Kamu juga hati-hati, ya? Kamu pasti kelelahan setelah memakai Pedang Suci itu.”

“Pertanyaan bodoh. Aku sedang dalam kondisi terbaikku. Sekarang siapa pun yang datang, aku tak akan kalah. Jadi jangan khawatirkan belakangmu, teruslah berlari! Tak satu pun prajurit dari istana akan lolos!” 

Mengatakan itu, Elna menubruk ke arah para prajurit yang mengalir keluar dari istana.

Siapa pun yang berhadapan langsung dengannya langsung terpental jauh. 

“Kelihatannya dia memang sedang dalam performa terbaik.”

“Elna kuat! Aku jadi tenang!”

“Benar. Kalau begitu, seperti katanya, kita tak perlu memikirkan apa yang di belakang kita. Kamu masih sanggup berlari, Christa?”

“Bisa...!”

Mendengar jawabannya, aku menggenggam tangan Christa dan mulai berlari.

Begitulah kami mulai melintasi ibu kota kekaisaran.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close