Translated by: Nels-chan
Proofreader by: Nels-chan
Aku selalu
menyimpan keraguan.
"Ketemu kau!
Kenta Maya!!"
"……"
Begitu
menemukanku, bangsa iblis itu langsung datang untuk membunuhku dengan sihir
berkekuatan tinggi. Aku menanggapi hal itu dengan tenang, meskipun hatiku sudah
benar-benar terpuruk karena kehidupan beberapa bulan terakhir ini.
"Takkan
kumaafkan! Benar-benar takkan kumaafkan!!"
Di wajah bangsa
iblis yang menyerangku itu terpancar 'kebencian' yang sangat jelas. Dan di
matanya, air mata menggenang.
"Hei, siapa
orang yang kubunuh sampai kau begitu dendam padaku?"
Mendengar
pertanyaanku, warna kebencian yang dipancarkan bangsa iblis itu semakin pekat.
"Kau telah
membunuh...! Kau membunuh sahabatku!! Padahal dia orang baik!! Padahal dia
seharusnya segera menikah!! Tapi kau!! KAU!!!!"
Ah, begitu ya.
"Kalau
begitu, aku telah melakukan hal buruk."
"!! Mati
kau!!"
Bangsa iblis yang
tersulut emosi oleh perkataanku itu melontarkan sihir ke arahku. Sihir itu
mengandung kebencian yang mendalam dan tekad untuk membunuh. Tapi...
"Maaf saja,
tapi aku pun belum ingin mati."
Aku menghindari
sihir itu dengan gerakan yang sudah diperkuat secara fisik.
"Apa!?"
Bangsa iblis itu
berseru kaget karena sihirnya berhasil dihindari. Kemudian, pandangannya
terhalang oleh kobaran api dari sihirnya sendiri, sehingga ia kehilangan
jejakku.
"Di, di
mana...! Gakh!"
Dalam sekejap aku
sudah berada di belakang bangsa iblis yang sedang kebingungan mencariku, lalu
menebas tubuhnya menjadi dua dengan pedang, bukan dengan sihir.
"……"
Aku menatap ke
bawah ke arah bangsa iblis yang baru saja kutebas. Bangsa iblis itu masih
bernapas dan menatapku dengan penuh dendam.
"Jangan
menatapku seperti itu," kataku.
Bangsa iblis itu
menguras sisa tenaga terakhirnya dan melontarkan kata-kata dengan suara parau
kepadaku.
"Padahal kau
tidak ada hubungannya sama sekali……"
Setelah
mengatakan itu, ia pun mengembuskan napas terakhirnya. Kata-kata terakhir dari
bangsa iblis itu mengiris hatiku dengan sangat menyakitkan.
"……Aku tahu
soal itu."
Segalanya bermula
lebih dari setahun yang lalu. Sesuatu yang kupikir hanya terjadi di novel
ringan atau manga, seperti pemanggilan ke dunia lain, benar-benar terjadi
padaku. Awalnya aku bingung dengan kenyataan tersebut, namun aku juga merasa
bersemangat karena kemampuan fisikku meningkat pesat dibandingkan saat masih di
Bumi, dan aku pun terhanyut dalam kehidupan luar biasa yang terbentang di
depanku.
Pemikiran itu
mulai goyah setelah aku bertarung dengan bangsa iblis untuk pertama kalinya.
Dari orang-orang yang memanggilku, aku mendengar bahwa bangsa iblis adalah
makhluk jahat yang berniat memusnahkan bangsa manusia. Mendengar itu, aku
berasumsi bahwa bangsa iblis hanyalah karakter musuh seperti yang ada di dalam
video game. Namun, semua itu jungkir balik hanya dalam satu kali pertempuran.
Bangsa iblis yang
kupikir hanyalah karakter musuh, ternyata bisa berbicara. Karena terkejut, aku
menanyakannya kepada ksatria yang mendampingiku dalam pertempuran pertama, dan
ksatria itu menjawab dengan wajah heran, "Tentu saja mereka bisa bicara, bukankah
itu wajar?"
Setelah aku
telusuri lebih jauh, ternyata istilah 'bangsa iblis' merujuk pada seluruh
manusia yang ahli dalam menggunakan sihir, dan secara ras, mereka sama dengan
bangsa manusia. Hanya saja, karena mereka memiliki cadangan mana yang besar
dalam tubuh sehingga memunculkan ciri fisik yang berbeda dari bangsa manusia,
mereka dikelompokkan dan disebut sebagai 'bangsa iblis'. Baru saat itulah aku
mengetahuinya.
Pada saat itu,
lahirlah sebuah kecurigaan dalam diriku; 'apakah aku sedang ditipu?'. Namun,
saat itu aku masihlah seorang remaja yang hanya memiliki kekuatan besar, aku
takut untuk menyuarakan pendapat kepada orang dewasa dan tidak bisa mengatakan
apa-apa.
Sebagai hasilnya,
aku tidak bisa lagi berbalik arah.
Aku terus
mengulangi pertempuran dengan bangsa iblis sesuai perintah negara.
Bertempur
dengan bangsa iblis berarti membunuh mereka.
Bangsa
iblis yang memiliki perasaan yang sama meski bentuk fisiknya berbeda,
menganggapku sebagai sosok yang harus selalu diincar nyawanya karena aku terus
membantai mereka.
Akibat
membunuh bangsa iblis setiap hari, hatiku benar-benar terkikis habis, dan pada
saat aku tidak lagi merasa gentar untuk menyatakan pendapat kepada orang
dewasa, segalanya sudah terlambat untuk diperbaiki.
"……Kau
adalah……"
Raja
Bangsa Iblis yang sekarat sedang berlutut di depanku.
Ia
dijuluki sebagai raja terkuat sepanjang sejarah, pria yang memimpin bangsa
iblis yang awalnya hanya bertahan, untuk pertama kalinya menyerang negara
bangsa manusia dan memperluas wilayahnya.
Pria itu, sambil
menahan napas terakhirnya, berbicara kepadaku.
"Demi apa
kau…… membunuhku?"
"……Apa kau
sedang memohon nyawamu?"
Mendengar
itu, Raja Bangsa Iblis tertawa mengejek, "Ff".
"Jangan
meremehkanku…… Aku hanya penasaran…… kenapa kau, seorang asing yang bahkan
bukan manusia dari dunia ini…… bisa seserius ini……"
"Begitu
ya……"
Demi apa. Jika
ditanya begitu, aku hanya bisa menjawab begini.
"Aku sudah
tidak bisa menarik diri lagi."
Bahkan jika aku
bilang ingin menghentikan perang sekarang, pihak bangsa iblis tidak akan
memaafkanku.
Di sisi lain, aku
pun tidak ingin mati.
"Lagi pula,
mereka bilang jika aku mengalahkanmu, mereka akan mengembalikanku ke dunia
asalku. Aku tidak punya pilihan selain bertaruh pada hal itu."
Saat aku
mengatakannya, Raja Bangsa Iblis menatapku dengan tatapan kasihan.
"……Begitu
ya…… Sudah cukup, berikan serangan pamungkas padaku."
"Ya……
maaf."
"……Tidak
apa-apa."
Aku menebas leher
Raja Bangsa Iblis.
Sambil tetap pada
posisi mengayunkan pedang, aku menatap kepala Raja Bangsa Iblis yang jatuh ke
tanah.
Sambil
memandangnya, aku memanggil sosok yang ada di belakangku.
"Sudah
selesai."
"……Iya.
Terima kasih banyak."
Aku menatap
wanita yang muncul sambil berkata demikian, Mayleen, Putri Raja Bangsa Iblis.
"Apa yang
akan kau lakukan sekarang?"
Menanggapi
pertanyaanku, Mayleen menundukkan matanya sejenak untuk berpikir, lalu ia
melangkah maju dan mulai merogoh pakaian Raja Bangsa Iblis.
"……Apa yang
kau lakukan?"
Saat aku
bertanya, Mayleen bangkit berdiri sambil menggenggam sesuatu dan berbalik ke
arahku.
Di tangannya,
tergenggam sebuah tongkat pendek berkilauan yang bertahtakan permata.
"Inilah
Bukti Sang Raja. Dengan mendapatkan ini, aku akan menjadi Ratu dan menghentikan
invasi ke wilayah bangsa manusia."
Melihat sorot
matanya, aku bisa merasakan tekadnya untuk benar-benar mewujudkan hal itu.
"Begitu ya.
Kalau begitu, saat aku kembali ke negara bangsa manusia, aku juga akan menyarankan
agar mereka menghentikan perang dengan bangsa iblis."
Begitu aku
mengatakannya, wajah Mayleen tampak terkejut, lalu ia tersenyum tipis.
"Benar juga.
Jika kita bisa bekerja sama dan menciptakan dunia tanpa konflik, itu akan
sangat luar biasa, ya."
"Ya, kau
benar."
Kami pun saling
tertawa.
Rasanya ini
pertama kalinya aku tertawa sejak datang ke dunia ini dan sejak perang dengan
bangsa iblis dimulai.
"Kalau
begitu, aku harus segera kembali."
"Ah…… benar
juga, ya."
"Ya. Kalau
begitu……"
"A-anu!"
"Eh?"
Saat aku
membalikkan punggung pada Mayleen untuk kembali ke negara bangsa manusia,
Mayleen memanggilku untuk berhenti.
Mayleen yang
menghentikanku tampak merona merah dan terlihat bimbang sambil berkata
"E-eto, itu" seolah sedang memilih kata-kata.
Sosoknya itu
seketika menenangkan hatiku yang sudah lama terasa hampa.
"Ada
apa?"
Begitu aku
mendorongnya untuk bicara, Mayleen akhirnya seolah telah memantapkan tekad dan
mulai berbicara dengan penuh semangat.
"Su-suatu
hari nanti! Jika dunia sudah damai, mari kita bertemu lagi!!"
Kepada Mayleen
yang berkata demikian dengan wajah memerah, aku benar-benar terpesona.
"A-ah. Benar
juga. Demi mewujudkan hal itu, mari kita sama-sama berjuang."
"I-iya! Mari
kita berjuang!"
Setelah saling
berkata demikian, kami saling tersenyum satu sama lain, lalu kami pun berpisah.
Kabar bahwa Raja
Negeri Bangsa Iblis telah kutumbangkan segera sampai ke negara yang
memanggilku, Lindor Kingdom.
Hal yang
mengejutkan adalah dibukanya parade kemenangan saat aku kembali ke negara
tersebut.
Ada banyak orang
di sepanjang pinggir jalan, dan semuanya melontarkan kata-kata selamat satu per
satu.
Bagiku aku
hanyalah dijadikan alat perang belaka, namun bagi bangsa manusia, bangsa iblis
tampaknya adalah musuh bebuyutan selama bertahun-tahun, sehingga mereka tampak
murni merasa senang karena telah mengalahkan mereka.
Itu adalah emosi
yang sama sekali tidak bisa dimengerti olehku yang seorang asing, namun jika
itu adalah perasaan bangsa manusia di dunia ini, maka aneh juga jika aku
menyangkalnya.
Karena itu,
meskipun dalam hati merasa resah, aku memaksakan senyum dan melambaikan tangan
untuk menanggapi orang-orang yang berkumpul di pinggir jalan.
Situasi berubah
drastis setelah aku menyerukan gencatan senjata dan persahabatan dengan Negeri
Bangsa Iblis.
Para anggota
kerajaan Lindor Kingdom memberikan penilaian yang sangat tinggi atasku karena
telah menumbangkan Raja Bangsa Iblis, namun tak lama setelah itu, mereka mulai
mendiskusikan rencana untuk menyerbu Negeri Bangsa Iblis.
Aku berusaha
sebisa mungkin mencegah penyerangan ke Negeri Bangsa Iblis yang akan dipimpin
oleh Mayleen sebagai ratu, dengan menyampaikan bahwa justru pada kesempatan
inilah bangsa manusia dan bangsa iblis harus saling bergandengan tangan, dan
rantai balas dendam harus diakhiri sekarang juga.
Sejak hari itu,
keluarga kerajaan tidak lagi menemuiku.
Aku mulai merasa
terancam karena mereka terang-terangan mengabaikanku, dan berpikir bahwa besok
aku harus menemui mereka meskipun harus dengan cara paksa.
Keesokan harinya
setelah aku berpikir demikian.
"……Nngh……"
Saat aku
terbangun, leher dan kedua pergelangan tanganku sudah terbelenggu di atas
panggung eksekusi.
"……!
A-apa-apaan ini!?"
Di tengah
kebingunganku menghadapi situasi yang sangat tidak wajar ini, saat aku mulai
menggerakkan tangan dan kepalaku untuk melepaskan belenggu, sebuah suara yang
menjijikkan terdengar dari atas kepalaku.
"Fuhahaha!
Beraninya kau menentangku, bocah kurang ajar! Kau sudah tidak berguna lagi, aku
tidak butuh anjing penjaga yang menggigit majikannya sendiri!"
Yang
berteriak begitu adalah raja negara ini.
Di
belakangnya ada sang ratu yang menatapku seolah sedang melihat barang kotor,
serta pangeran dan para putri yang meremehkanku dengan wajah mengejek.
Tidak
berguna lagi?
Berarti
aku sudah tidak dibutuhkan lagi.
Lalu,
apa-apaan ini?
"Jika
sudah tidak ada gunanya lagi, bukankah sebaiknya kalian kembalikan saja aku ke
dunia asalku?"
Begitu
aku mengatakannya, para anggota kerajaan di sana memasang wajah bengong
sejenak, lalu mereka semua tertawa serentak.
"Fuhahaha!
Ini sangat lucu! Tak kusangka kau masih memercayai omong kosong seperti
itu!"
"Ternyata
orang dari dunia lain itu benar-benar bodoh, ya!"
"……Hah?"
Omong kosong?
Memercayai?
Jangan-jangan……
jangan-jangan……
"Aku tidak
tahu cara untuk mengembalikanmu ke dunia asalmu. Alat itu jika diaktifkan akan
memanggil manusia dari dunia lain secara otomatis. Aku tidak tahu prinsip
detailnya."
"……"
Mendengar
kata-kata sang raja, hatiku sepenuhnya dipenuhi oleh keputusasaan.
Tidak tahu cara
mengembalikannya……
Itulah keraguan
yang paling tidak ingin aku jadikan kenyataan.
Meskipun aku
telah dibohongi dan dijadikan alat perang, aku sangat berharap setidaknya
bagian itu benar adanya.
Ternyata itu pun
bohong.
"Hmph.
Akhirnya kau menyerah juga, ya."
Melihatku yang
terdiam karena keputusasaan yang teramat sangat, raja mengalihkan pandangannya
dariku ke arah rakyat.
"Dengarkan
semuanya! Orang ini adalah kriminal besar yang bersekongkol dengan pihak Negeri
Bangsa Iblis dan mencoba untuk memusnahkan negara bangsa manusia! Orang asing ini! Tidak hanya
Negeri Bangsa Iblis, dia juga berniat menguasai negara bangsa manusia! Apakah kalian bisa menerima hal semacam
itu!?"
……Apa-apaan itu?
Mendengar pidato
sang raja kepada rakyat, meskipun aku sedang dalam keputusasaan, dalam hati aku
tetap mencemoohnya.
Mana mungkin ada
orang yang percaya dengan klaim semacam itu……
"Betapa
teganya orang itu!"
……Eh?
"Aku
benar-benar tertipu! Dasar orang asing!"
Eh?
"Orang asing!" "Orang asing!"
"Orang asing!"
……
Terdengar suara orang-orang yang beberapa hari lalu masih
tersenyum dan melambaikan tangan padaku.
Haha.
Begitu ya.
Kalian percaya
pada kata-kata seperti itu.
Kalian
menyalahkan aku yang sudah mempertaruhkan nyawa demi kedamaian kalian, dan
menyebutku orang asing.
Begitu
ya.
……Begitu
ya.
"Akh!"
Tepat saat aku
berpikir demikian, rasa sakit tumpul menjalar di kepalaku.
Saat aku melirik,
di sana tergeletak sebuah batu sebesar kepalan tangan pria dewasa.
Ada darah yang
menempel.
Dan, diawali
dengan lemparan pertama itu, batu-batu mulai dilemparkan ke arahku.
Sebagian besar
meleset, namun tindakan melemparkan batu kepadaku itu sendiri, membuatku……
"Ha,
hahaha……"
Perasaan hitam
pekat lahir dalam diriku.
Di dunia ini, aku
adalah orang asing.
Dibenci oleh
bangsa iblis, dan dilempari batu oleh bangsa manusia.
Padahal sampai
sekarang aku sudah berjuang mati-matian.
Padahal.
Padahal!!
"Akh!
Aaaaaaaaaaakh!!"
Aku melepaskan
kekuatan sihir untuk melepaskan belenggu.
Saat itu, suara
raja yang mengejek kembali terdengar.
"Hah! Apa
kau pikir aku tidak melakukan persiapan apa pun? Belenggu itu adalah belenggu
penyegel sihir yang digunakan di Negeri Bangsa Iblis. Selama kau mengenakannya,
kau tidak akan bisa menggunakan sihir!"
Raja tertawa
terbahak-bahak setelah mengatakan itu.
Begitu ya.
Pantas saja mana
sulit terkumpul.
Kalau begitu……
"AAAAAAAAAAAAAAAAAAKH!!"
"Ternyata
orang dari dunia lain memang bodoh. Kau tidak mengerti perkataanku— piki……
hah?"
Perkataan raja
terhenti saat mendengar suara retakan dari alat belenggu itu.
Raja memang
bilang begitu. Bahwa ini digunakan di Negeri Bangsa Iblis untuk membelenggu
bangsa iblis.
Memang
benar, ini pasti bisa membelenggu bangsa iblis.
Namun,
sepertinya mereka lupa.
Entah ini
berkah karena datang ke dunia lain, aku memiliki kemampuan fisik yang melampaui
bangsa manusia dan bisa menggunakan kekuatan sihir yang melampaui bangsa iblis.
Apa yang
terjadi jika aku terus melepaskan kekuatan sihir yang melampaui bangsa iblis?
"Ja-ja-ja-ja-jangan-jangan!"
Di sisi raja yang
sedang mengeluarkan kata-kata penuh keterkejutan, aku merasa lega dalam arti
tertentu.
Sebab, aku tidak
perlu merasa bersalah atas apa yang akan terjadi setelah ini.
Habisnya,
keluarga kerajaan negara ini semuanya sampah, dan manusia di dunia ini bukan
hanya tertipu, tapi juga menyebutku orang asing, bahkan sampai melemparkan batu
padaku.
Sama sekali tidak
ada alasan untuk menahan diri, kan?
"AAAAAAAAAAAAKH!!!!"
Aku melepaskan
kekuatan sihir sampai batas maksimal yang bisa kugunakan.
Sampai sekarang,
aku tidak pernah melepaskan kekuatan sihir dengan keluaran sebesar ini.
Meski begitu, aku
sudah bisa mendominasi bangsa iblis.
Jika belenggu
yang menyerap kekuatan sihir sebanyak ini hancur, apa yang akan terjadi dengan
kekuatan sihir yang terkumpul itu?
Apakah akan
menguap begitu saja?
Mana mungkin.
"Negara
seperti ini! Dunia seperti ini lebih baik hancur sajaaaaaaaaa!!"
Aku berteriak
mengeluarkan isi hatiku yang selama ini ingin kuteriakkan, sambil melepaskan
kekuatan sihir dengan mengerahkan seluruh tenagaku.
Seketika, alat
sihir yang membelenggu tubuhku hancur, dan kekuatan sihir yang tadinya
terkumpul langsung meledak keluar sekaligus.
Itu seperti
gelombang kejut tanpa warna.
Kekuatan sihir
yang dilepaskan meledak dengan hebat, melumat segala sesuatu di sekitarnya, dan
dalam radius beberapa ratus meter dariku berubah menjadi tumpukan puing.
Aku yang
sudah terlepas dari belenggu berdiri dan memandang ke sekeliling.
Di sana,
baik anggota kerajaan yang tadi menertawakanku maupun rakyat yang menyebutku
orang asing dan melemparkan batu, semuanya sudah tidak ada.
Melihat hal itu,
aku merasa sedikit kecewa.
"Gawat. Aku
jadi melewatkan suara teriakan kematian raja itu."
Dengan ledakan
sebesar ini, kemungkinan mereka semua sudah terhempas sebelum menyadari apa
yang terjadi.
Aku menyesal
tidak bisa melihat ekspresi keputusasaannya.
"Yah,
sudahlah. Lalu, apa yang harus kulakukan sekarang?"
Setelah
dimanfaatkan, dibenci, dan direndahkan oleh manusia di dunia ini, aku
kehilangan makna untuk terus hidup di sini.
Namun, mati di
tempat seperti ini pun rasanya terlalu konyol.
"Harus
bagaimana ya."
Sambil berkata
demikian, aku berteleportasi dari ibu kota Lindor Kingdom yang telah berubah
menjadi tumpukan puing.
Aku tidak pernah
memberi tahu siapa pun di dunia ini bahwa aku bisa menggunakan sihir
teleportasi.
Yah, awalnya itu
hanya semacam perlawanan kecil, tapi sekarang ternyata itu adalah keputusan
yang sangat tepat.
Setelah itu, aku
menjadi buronan di seluruh dunia.
Menjadi buronan
dengan status "hidup atau mati", aku menyusup ke Negeri Bangsa Iblis
untuk melarikan diri dari para pemburu hadiah.
Di sana, aku
mengetahui bahwa telah terjadi kudeta di Negeri Bangsa Iblis dan Mayleen telah
digulingkan.
"……Dunia
ini, baik bangsa iblis maupun bangsa manusia, isinya hanya sampah semua."
Saat mendengar
kabar Mayleen digulingkan, pemandangan hari itu kembali terbayang di benakku.
Hari itu saat
kami berjanji untuk pasti bertemu kembali jika suatu saat dunia sudah damai.
Janji hari itu
hancur berantakan dengan mudahnya, seperti selembar kertas murah.
Ah, benar-benar,
dunia ini sangatlah brengsek.
Fakta bahwa
beberapa hari setelah ini, sebelum aku bertemu kembali dengan Mayleen, aku
sempat berpikir serius untuk menghancurkan dunia ini, belum pernah kuceritakan
pada siapa pun.
Previous Chapter | ToC Next Chapter



Post a Comment