NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Yasagure Shoukan-sha wa Ugokanai Volume 1 Chapter 0

Translated by: Nels-chan

Proofreader by: Nels-chan



Aku selalu menyimpan keraguan.

 

"Ketemu kau! Kenta Maya!!"

 

"……"

 

Begitu menemukanku, bangsa iblis itu langsung datang untuk membunuhku dengan sihir berkekuatan tinggi. Aku menanggapi hal itu dengan tenang, meskipun hatiku sudah benar-benar terpuruk karena kehidupan beberapa bulan terakhir ini.

 

"Takkan kumaafkan! Benar-benar takkan kumaafkan!!"

 

Di wajah bangsa iblis yang menyerangku itu terpancar 'kebencian' yang sangat jelas. Dan di matanya, air mata menggenang.

 

"Hei, siapa orang yang kubunuh sampai kau begitu dendam padaku?"

 

Mendengar pertanyaanku, warna kebencian yang dipancarkan bangsa iblis itu semakin pekat.

 

"Kau telah membunuh...! Kau membunuh sahabatku!! Padahal dia orang baik!! Padahal dia seharusnya segera menikah!! Tapi kau!! KAU!!!!"

 

Ah, begitu ya.

 

"Kalau begitu, aku telah melakukan hal buruk."

 

"!! Mati kau!!"

 

Bangsa iblis yang tersulut emosi oleh perkataanku itu melontarkan sihir ke arahku. Sihir itu mengandung kebencian yang mendalam dan tekad untuk membunuh. Tapi...

 

"Maaf saja, tapi aku pun belum ingin mati."

 

Aku menghindari sihir itu dengan gerakan yang sudah diperkuat secara fisik.

 

"Apa!?"

 

Bangsa iblis itu berseru kaget karena sihirnya berhasil dihindari. Kemudian, pandangannya terhalang oleh kobaran api dari sihirnya sendiri, sehingga ia kehilangan jejakku.

 

"Di, di mana...! Gakh!"

 

Dalam sekejap aku sudah berada di belakang bangsa iblis yang sedang kebingungan mencariku, lalu menebas tubuhnya menjadi dua dengan pedang, bukan dengan sihir.

 

"……"

 

Aku menatap ke bawah ke arah bangsa iblis yang baru saja kutebas. Bangsa iblis itu masih bernapas dan menatapku dengan penuh dendam.

 

"Jangan menatapku seperti itu," kataku.

 

Bangsa iblis itu menguras sisa tenaga terakhirnya dan melontarkan kata-kata dengan suara parau kepadaku.

 

"Padahal kau tidak ada hubungannya sama sekali……"

 

Setelah mengatakan itu, ia pun mengembuskan napas terakhirnya. Kata-kata terakhir dari bangsa iblis itu mengiris hatiku dengan sangat menyakitkan.

 

"……Aku tahu soal itu."

 

Segalanya bermula lebih dari setahun yang lalu. Sesuatu yang kupikir hanya terjadi di novel ringan atau manga, seperti pemanggilan ke dunia lain, benar-benar terjadi padaku. Awalnya aku bingung dengan kenyataan tersebut, namun aku juga merasa bersemangat karena kemampuan fisikku meningkat pesat dibandingkan saat masih di Bumi, dan aku pun terhanyut dalam kehidupan luar biasa yang terbentang di depanku.

 

Pemikiran itu mulai goyah setelah aku bertarung dengan bangsa iblis untuk pertama kalinya. Dari orang-orang yang memanggilku, aku mendengar bahwa bangsa iblis adalah makhluk jahat yang berniat memusnahkan bangsa manusia. Mendengar itu, aku berasumsi bahwa bangsa iblis hanyalah karakter musuh seperti yang ada di dalam video game. Namun, semua itu jungkir balik hanya dalam satu kali pertempuran.

 

Bangsa iblis yang kupikir hanyalah karakter musuh, ternyata bisa berbicara. Karena terkejut, aku menanyakannya kepada ksatria yang mendampingiku dalam pertempuran pertama, dan ksatria itu menjawab dengan wajah heran, "Tentu saja mereka bisa bicara, bukankah itu wajar?"

 

Setelah aku telusuri lebih jauh, ternyata istilah 'bangsa iblis' merujuk pada seluruh manusia yang ahli dalam menggunakan sihir, dan secara ras, mereka sama dengan bangsa manusia. Hanya saja, karena mereka memiliki cadangan mana yang besar dalam tubuh sehingga memunculkan ciri fisik yang berbeda dari bangsa manusia, mereka dikelompokkan dan disebut sebagai 'bangsa iblis'. Baru saat itulah aku mengetahuinya.

 

Pada saat itu, lahirlah sebuah kecurigaan dalam diriku; 'apakah aku sedang ditipu?'. Namun, saat itu aku masihlah seorang remaja yang hanya memiliki kekuatan besar, aku takut untuk menyuarakan pendapat kepada orang dewasa dan tidak bisa mengatakan apa-apa.

 

Sebagai hasilnya, aku tidak bisa lagi berbalik arah.

 

Aku terus mengulangi pertempuran dengan bangsa iblis sesuai perintah negara.

 

Bertempur dengan bangsa iblis berarti membunuh mereka.

 

Bangsa iblis yang memiliki perasaan yang sama meski bentuk fisiknya berbeda, menganggapku sebagai sosok yang harus selalu diincar nyawanya karena aku terus membantai mereka.

 

Akibat membunuh bangsa iblis setiap hari, hatiku benar-benar terkikis habis, dan pada saat aku tidak lagi merasa gentar untuk menyatakan pendapat kepada orang dewasa, segalanya sudah terlambat untuk diperbaiki.

 

"……Kau adalah……"

 

Raja Bangsa Iblis yang sekarat sedang berlutut di depanku.

 

Ia dijuluki sebagai raja terkuat sepanjang sejarah, pria yang memimpin bangsa iblis yang awalnya hanya bertahan, untuk pertama kalinya menyerang negara bangsa manusia dan memperluas wilayahnya.

 

Pria itu, sambil menahan napas terakhirnya, berbicara kepadaku.

 

"Demi apa kau…… membunuhku?"

 

"……Apa kau sedang memohon nyawamu?"

 

Mendengar itu, Raja Bangsa Iblis tertawa mengejek, "Ff".

 

"Jangan meremehkanku…… Aku hanya penasaran…… kenapa kau, seorang asing yang bahkan bukan manusia dari dunia ini…… bisa seserius ini……"

 

"Begitu ya……"

 

Demi apa. Jika ditanya begitu, aku hanya bisa menjawab begini.

 

"Aku sudah tidak bisa menarik diri lagi."

 

Bahkan jika aku bilang ingin menghentikan perang sekarang, pihak bangsa iblis tidak akan memaafkanku.

 

Di sisi lain, aku pun tidak ingin mati.

 

"Lagi pula, mereka bilang jika aku mengalahkanmu, mereka akan mengembalikanku ke dunia asalku. Aku tidak punya pilihan selain bertaruh pada hal itu."

 

Saat aku mengatakannya, Raja Bangsa Iblis menatapku dengan tatapan kasihan.

 

"……Begitu ya…… Sudah cukup, berikan serangan pamungkas padaku."

 

"Ya…… maaf."

 

"……Tidak apa-apa."

 

Aku menebas leher Raja Bangsa Iblis.

 

Sambil tetap pada posisi mengayunkan pedang, aku menatap kepala Raja Bangsa Iblis yang jatuh ke tanah.

 

Sambil memandangnya, aku memanggil sosok yang ada di belakangku.

 

"Sudah selesai."

 

"……Iya. Terima kasih banyak."

 

Aku menatap wanita yang muncul sambil berkata demikian, Mayleen, Putri Raja Bangsa Iblis.

 

"Apa yang akan kau lakukan sekarang?"

 

Menanggapi pertanyaanku, Mayleen menundukkan matanya sejenak untuk berpikir, lalu ia melangkah maju dan mulai merogoh pakaian Raja Bangsa Iblis.

 

"……Apa yang kau lakukan?"

 

Saat aku bertanya, Mayleen bangkit berdiri sambil menggenggam sesuatu dan berbalik ke arahku.

 

Di tangannya, tergenggam sebuah tongkat pendek berkilauan yang bertahtakan permata.

 

"Inilah Bukti Sang Raja. Dengan mendapatkan ini, aku akan menjadi Ratu dan menghentikan invasi ke wilayah bangsa manusia."

 

Melihat sorot matanya, aku bisa merasakan tekadnya untuk benar-benar mewujudkan hal itu.

 

"Begitu ya. Kalau begitu, saat aku kembali ke negara bangsa manusia, aku juga akan menyarankan agar mereka menghentikan perang dengan bangsa iblis."

 

Begitu aku mengatakannya, wajah Mayleen tampak terkejut, lalu ia tersenyum tipis.

 

"Benar juga. Jika kita bisa bekerja sama dan menciptakan dunia tanpa konflik, itu akan sangat luar biasa, ya."

 

"Ya, kau benar."

 

Kami pun saling tertawa.

 

Rasanya ini pertama kalinya aku tertawa sejak datang ke dunia ini dan sejak perang dengan bangsa iblis dimulai.

 

"Kalau begitu, aku harus segera kembali."

 

"Ah…… benar juga, ya."

 

"Ya. Kalau begitu……"

 

"A-anu!"

 

"Eh?"

 

Saat aku membalikkan punggung pada Mayleen untuk kembali ke negara bangsa manusia, Mayleen memanggilku untuk berhenti.

 

Mayleen yang menghentikanku tampak merona merah dan terlihat bimbang sambil berkata "E-eto, itu" seolah sedang memilih kata-kata.

 

Sosoknya itu seketika menenangkan hatiku yang sudah lama terasa hampa.

 

"Ada apa?"

 

Begitu aku mendorongnya untuk bicara, Mayleen akhirnya seolah telah memantapkan tekad dan mulai berbicara dengan penuh semangat.

 

"Su-suatu hari nanti! Jika dunia sudah damai, mari kita bertemu lagi!!"

 

Kepada Mayleen yang berkata demikian dengan wajah memerah, aku benar-benar terpesona.

 

"A-ah. Benar juga. Demi mewujudkan hal itu, mari kita sama-sama berjuang."

 

"I-iya! Mari kita berjuang!"

 

Setelah saling berkata demikian, kami saling tersenyum satu sama lain, lalu kami pun berpisah.

 

Kabar bahwa Raja Negeri Bangsa Iblis telah kutumbangkan segera sampai ke negara yang memanggilku, Lindor Kingdom.

 

Hal yang mengejutkan adalah dibukanya parade kemenangan saat aku kembali ke negara tersebut.

 

Ada banyak orang di sepanjang pinggir jalan, dan semuanya melontarkan kata-kata selamat satu per satu.

 

Bagiku aku hanyalah dijadikan alat perang belaka, namun bagi bangsa manusia, bangsa iblis tampaknya adalah musuh bebuyutan selama bertahun-tahun, sehingga mereka tampak murni merasa senang karena telah mengalahkan mereka.

 

Itu adalah emosi yang sama sekali tidak bisa dimengerti olehku yang seorang asing, namun jika itu adalah perasaan bangsa manusia di dunia ini, maka aneh juga jika aku menyangkalnya.

 

Karena itu, meskipun dalam hati merasa resah, aku memaksakan senyum dan melambaikan tangan untuk menanggapi orang-orang yang berkumpul di pinggir jalan.

 

Situasi berubah drastis setelah aku menyerukan gencatan senjata dan persahabatan dengan Negeri Bangsa Iblis.

 

Para anggota kerajaan Lindor Kingdom memberikan penilaian yang sangat tinggi atasku karena telah menumbangkan Raja Bangsa Iblis, namun tak lama setelah itu, mereka mulai mendiskusikan rencana untuk menyerbu Negeri Bangsa Iblis.

 

Aku berusaha sebisa mungkin mencegah penyerangan ke Negeri Bangsa Iblis yang akan dipimpin oleh Mayleen sebagai ratu, dengan menyampaikan bahwa justru pada kesempatan inilah bangsa manusia dan bangsa iblis harus saling bergandengan tangan, dan rantai balas dendam harus diakhiri sekarang juga.

 

Sejak hari itu, keluarga kerajaan tidak lagi menemuiku.

 

Aku mulai merasa terancam karena mereka terang-terangan mengabaikanku, dan berpikir bahwa besok aku harus menemui mereka meskipun harus dengan cara paksa.

 

Keesokan harinya setelah aku berpikir demikian.

 

"……Nngh……"

 

Saat aku terbangun, leher dan kedua pergelangan tanganku sudah terbelenggu di atas panggung eksekusi.

 

"……! A-apa-apaan ini!?"

 

Di tengah kebingunganku menghadapi situasi yang sangat tidak wajar ini, saat aku mulai menggerakkan tangan dan kepalaku untuk melepaskan belenggu, sebuah suara yang menjijikkan terdengar dari atas kepalaku.

 

"Fuhahaha! Beraninya kau menentangku, bocah kurang ajar! Kau sudah tidak berguna lagi, aku tidak butuh anjing penjaga yang menggigit majikannya sendiri!"

 

Yang berteriak begitu adalah raja negara ini.

 

Di belakangnya ada sang ratu yang menatapku seolah sedang melihat barang kotor, serta pangeran dan para putri yang meremehkanku dengan wajah mengejek.

 

Tidak berguna lagi?

 

Berarti aku sudah tidak dibutuhkan lagi.

 

Lalu, apa-apaan ini?

 

"Jika sudah tidak ada gunanya lagi, bukankah sebaiknya kalian kembalikan saja aku ke dunia asalku?"

 

Begitu aku mengatakannya, para anggota kerajaan di sana memasang wajah bengong sejenak, lalu mereka semua tertawa serentak.

 

"Fuhahaha! Ini sangat lucu! Tak kusangka kau masih memercayai omong kosong seperti itu!"

 

"Ternyata orang dari dunia lain itu benar-benar bodoh, ya!"

 

"……Hah?"

 

Omong kosong? Memercayai?

 

Jangan-jangan…… jangan-jangan……

 

"Aku tidak tahu cara untuk mengembalikanmu ke dunia asalmu. Alat itu jika diaktifkan akan memanggil manusia dari dunia lain secara otomatis. Aku tidak tahu prinsip detailnya."

 

"……"

 

Mendengar kata-kata sang raja, hatiku sepenuhnya dipenuhi oleh keputusasaan.

 

Tidak tahu cara mengembalikannya……

 

Itulah keraguan yang paling tidak ingin aku jadikan kenyataan.

 

Meskipun aku telah dibohongi dan dijadikan alat perang, aku sangat berharap setidaknya bagian itu benar adanya.

 

Ternyata itu pun bohong.

 

"Hmph. Akhirnya kau menyerah juga, ya."

 

Melihatku yang terdiam karena keputusasaan yang teramat sangat, raja mengalihkan pandangannya dariku ke arah rakyat.

 

"Dengarkan semuanya! Orang ini adalah kriminal besar yang bersekongkol dengan pihak Negeri Bangsa Iblis dan mencoba untuk memusnahkan negara bangsa manusia! Orang asing ini! Tidak hanya Negeri Bangsa Iblis, dia juga berniat menguasai negara bangsa manusia! Apakah kalian bisa menerima hal semacam itu!?"

 

……Apa-apaan itu?

 

Mendengar pidato sang raja kepada rakyat, meskipun aku sedang dalam keputusasaan, dalam hati aku tetap mencemoohnya.

 

Mana mungkin ada orang yang percaya dengan klaim semacam itu……

 

"Betapa teganya orang itu!"

 

……Eh?

 

"Aku benar-benar tertipu! Dasar orang asing!"

 

Eh?

 

"Orang asing!" "Orang asing!" "Orang asing!"

 

……

 

Terdengar suara orang-orang yang beberapa hari lalu masih tersenyum dan melambaikan tangan padaku.

 

Haha.

 

Begitu ya.

 

Kalian percaya pada kata-kata seperti itu.

 

Kalian menyalahkan aku yang sudah mempertaruhkan nyawa demi kedamaian kalian, dan menyebutku orang asing.

 

Begitu ya.

 

……Begitu ya.

 

"Akh!"

 

Tepat saat aku berpikir demikian, rasa sakit tumpul menjalar di kepalaku.

 

Saat aku melirik, di sana tergeletak sebuah batu sebesar kepalan tangan pria dewasa.

 

Ada darah yang menempel.

 

Dan, diawali dengan lemparan pertama itu, batu-batu mulai dilemparkan ke arahku.

 

Sebagian besar meleset, namun tindakan melemparkan batu kepadaku itu sendiri, membuatku……

 

"Ha, hahaha……"

 

Perasaan hitam pekat lahir dalam diriku.

 

Di dunia ini, aku adalah orang asing.

 

Dibenci oleh bangsa iblis, dan dilempari batu oleh bangsa manusia.

 

Padahal sampai sekarang aku sudah berjuang mati-matian.

 

Padahal.

 

Padahal!!

 

"Akh! Aaaaaaaaaaakh!!"

 

Aku melepaskan kekuatan sihir untuk melepaskan belenggu.

 

Saat itu, suara raja yang mengejek kembali terdengar.

 

"Hah! Apa kau pikir aku tidak melakukan persiapan apa pun? Belenggu itu adalah belenggu penyegel sihir yang digunakan di Negeri Bangsa Iblis. Selama kau mengenakannya, kau tidak akan bisa menggunakan sihir!"

 

Raja tertawa terbahak-bahak setelah mengatakan itu.

 

Begitu ya.

 

Pantas saja mana sulit terkumpul.

 

Kalau begitu……

 

"AAAAAAAAAAAAAAAAAAKH!!"

 

"Ternyata orang dari dunia lain memang bodoh. Kau tidak mengerti perkataanku— piki…… hah?"

 

Perkataan raja terhenti saat mendengar suara retakan dari alat belenggu itu.

 

Raja memang bilang begitu. Bahwa ini digunakan di Negeri Bangsa Iblis untuk membelenggu bangsa iblis.

 

Memang benar, ini pasti bisa membelenggu bangsa iblis.

 

Namun, sepertinya mereka lupa.

 

Entah ini berkah karena datang ke dunia lain, aku memiliki kemampuan fisik yang melampaui bangsa manusia dan bisa menggunakan kekuatan sihir yang melampaui bangsa iblis.

 

Apa yang terjadi jika aku terus melepaskan kekuatan sihir yang melampaui bangsa iblis?

 

"Ja-ja-ja-ja-jangan-jangan!"

 

Di sisi raja yang sedang mengeluarkan kata-kata penuh keterkejutan, aku merasa lega dalam arti tertentu.

 

Sebab, aku tidak perlu merasa bersalah atas apa yang akan terjadi setelah ini.

 

Habisnya, keluarga kerajaan negara ini semuanya sampah, dan manusia di dunia ini bukan hanya tertipu, tapi juga menyebutku orang asing, bahkan sampai melemparkan batu padaku.

 

Sama sekali tidak ada alasan untuk menahan diri, kan?

 

"AAAAAAAAAAAAKH!!!!"

 

Aku melepaskan kekuatan sihir sampai batas maksimal yang bisa kugunakan.

 

Sampai sekarang, aku tidak pernah melepaskan kekuatan sihir dengan keluaran sebesar ini.

 

Meski begitu, aku sudah bisa mendominasi bangsa iblis.

 

Jika belenggu yang menyerap kekuatan sihir sebanyak ini hancur, apa yang akan terjadi dengan kekuatan sihir yang terkumpul itu?

 

Apakah akan menguap begitu saja?

 

Mana mungkin.

 

"Negara seperti ini! Dunia seperti ini lebih baik hancur sajaaaaaaaaa!!"

 

Aku berteriak mengeluarkan isi hatiku yang selama ini ingin kuteriakkan, sambil melepaskan kekuatan sihir dengan mengerahkan seluruh tenagaku.

 

Seketika, alat sihir yang membelenggu tubuhku hancur, dan kekuatan sihir yang tadinya terkumpul langsung meledak keluar sekaligus.

 

Itu seperti gelombang kejut tanpa warna.

 

Kekuatan sihir yang dilepaskan meledak dengan hebat, melumat segala sesuatu di sekitarnya, dan dalam radius beberapa ratus meter dariku berubah menjadi tumpukan puing.

 

Aku yang sudah terlepas dari belenggu berdiri dan memandang ke sekeliling.




Di sana, baik anggota kerajaan yang tadi menertawakanku maupun rakyat yang menyebutku orang asing dan melemparkan batu, semuanya sudah tidak ada.

 

Melihat hal itu, aku merasa sedikit kecewa.

 

"Gawat. Aku jadi melewatkan suara teriakan kematian raja itu."

 

Dengan ledakan sebesar ini, kemungkinan mereka semua sudah terhempas sebelum menyadari apa yang terjadi.

 

Aku menyesal tidak bisa melihat ekspresi keputusasaannya.

 

"Yah, sudahlah. Lalu, apa yang harus kulakukan sekarang?"

 

Setelah dimanfaatkan, dibenci, dan direndahkan oleh manusia di dunia ini, aku kehilangan makna untuk terus hidup di sini.

 

Namun, mati di tempat seperti ini pun rasanya terlalu konyol.

 

"Harus bagaimana ya."

 

Sambil berkata demikian, aku berteleportasi dari ibu kota Lindor Kingdom yang telah berubah menjadi tumpukan puing.

 

Aku tidak pernah memberi tahu siapa pun di dunia ini bahwa aku bisa menggunakan sihir teleportasi.

 

Yah, awalnya itu hanya semacam perlawanan kecil, tapi sekarang ternyata itu adalah keputusan yang sangat tepat.

 

Setelah itu, aku menjadi buronan di seluruh dunia.

 

Menjadi buronan dengan status "hidup atau mati", aku menyusup ke Negeri Bangsa Iblis untuk melarikan diri dari para pemburu hadiah.

 

Di sana, aku mengetahui bahwa telah terjadi kudeta di Negeri Bangsa Iblis dan Mayleen telah digulingkan.

 

"……Dunia ini, baik bangsa iblis maupun bangsa manusia, isinya hanya sampah semua."

 

Saat mendengar kabar Mayleen digulingkan, pemandangan hari itu kembali terbayang di benakku.

 

Hari itu saat kami berjanji untuk pasti bertemu kembali jika suatu saat dunia sudah damai.

 

Janji hari itu hancur berantakan dengan mudahnya, seperti selembar kertas murah.

 

Ah, benar-benar, dunia ini sangatlah brengsek.

 

Fakta bahwa beberapa hari setelah ini, sebelum aku bertemu kembali dengan Mayleen, aku sempat berpikir serius untuk menghancurkan dunia ini, belum pernah kuceritakan pada siapa pun.




Previous Chapter | ToC Next Chapter

0

Post a Comment

close