NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Chitose-kun wa Ramune Bin no Naka (Chiramune) Volume 2 Prolog

Prolog

Si Laki-Laki


Ini adalah kisah tentang romansa palsu.

Kapan tepatnya momen ketika seseorang jatuh cinta?

Apakah saat mereka pertama kali menatap sosok "sang pujaan"? Ataukah saat mereka menyadari sesuatu yang mengejutkan dari orang tersebut untuk pertama kalinya?

Apakah saat orang itu mengulurkan tangan dengan penuh kebaikan? Ataukah saat orang yang mereka cintai meninggalkan mereka dan berlari jauh, jauh sekali?

Semua itu bisa saja menjadi pemicu dari sebuah romansa besar. Namun, tidak, itu bukanlah momen saat seseorang jatuh cinta.

...Menurutku, hal itu terjadi saat kau pertama kali memberi nama pada perasaan yang bergejolak di dalam dirimu. Dan kau menyebutnya sebagai cinta.

Aku mencintainya. Aku jatuh cinta padanya.

Begitu kau menyadarinya lewat kata-kata, saat itulah semuanya dimulai, dan tidak ada yang bisa menghentikannya.

Kita menjalani hidup dengan memiliki ketertarikan tertentu pada orang lain. Kita semua merasakannya.

Mungkin kita ingin menjadi seperti orang-orang itu. Mungkin kita ingin mereka benar-benar melihat kita—memahami kita dengan cara yang tidak dilakukan orang lain.

Sebuah fantasi. Seperti pangeran atau putri yang kita impikan saat kita masih kecil.

Namun, apa yang terjadi jika kekaguman ini tidak lebih dari sekadar itu, dan kita hanya menyebutnya sebagai cinta?

Tergoda oleh bunyi kata yang manis itu, kita pun memakai kacamata berwarna merah muda.

Kita hanya melihat sisi baik mereka, berasumsi bahwa mereka pastilah "orangnya", dan kita sangat mendambakan mereka.

Sebuah akhir bahagia yang sempurna seperti di dalam gambar, sebuah akhir yang dengan senang hati akan kita tinggali selamanya.

Namun, dalam hampir setiap kasus, kebahagiaan selamanya itu datang dengan tanggal kedaluwarsa.

Cinta adalah alasan bagi kita untuk menyakiti orang lain dan lolos begitu saja.

Sang pahlawan wanita dari drama tragedi menghunuskan pedangnya kepada sang kekasih.

Jurang pemisah antara perasaannya yang pahit-manis dan kenyataan yang keras terlalu menyakitkan untuk dia tanggung.

Dia telah lupa siapa yang sebenarnya bertanggung jawab karena telah membebani orang lain dengan kekaguman itu sejak awal.

Aku rasa dia tidak pernah ingin semuanya berakhir seperti ini.

Dia hanya ingin mengenal lelaki itu lebih jauh, lelaki yang menarik perhatiannya.

Setelah mengenalnya, kekecewaan pun menyusul. Namun, dia tetap menderita, terjebak dalam siksaan perasaan yang tak terbendung, konflik, dan rasa sakit.

Dia mulai membenci dirinya sendiri dan orang yang melakukan ini padanya. Namun, tetap saja, dia tidak bisa menyerah begitu saja...

Lalu akhirnya, dia perlahan terangkat dari kubangan lumpur oleh pemikiran bahwa, yah, begitulah cinta.

Itulah sebabnya aku pikir lebih baik tidak menyebutnya sebagai cinta sampai semuanya benar-benar berakhir.

...Dan dari sinilah semuanya dimulai. Kisah tentang romansa yang (mungkin) palsu ini.




Illustrasi | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close