Prolog
Si Laki-Laki
Ini adalah kisah
tentang romansa palsu.
Kapan tepatnya
momen ketika seseorang jatuh cinta?
Apakah saat
mereka pertama kali menatap sosok "sang pujaan"? Ataukah saat mereka
menyadari sesuatu yang mengejutkan dari orang tersebut untuk pertama kalinya?
Apakah saat orang
itu mengulurkan tangan dengan penuh kebaikan? Ataukah saat orang yang mereka
cintai meninggalkan mereka dan berlari jauh, jauh sekali?
Semua itu bisa
saja menjadi pemicu dari sebuah romansa besar. Namun, tidak, itu bukanlah momen
saat seseorang jatuh cinta.
...Menurutku, hal
itu terjadi saat kau pertama kali memberi nama pada perasaan yang bergejolak di
dalam dirimu. Dan kau menyebutnya sebagai cinta.
Aku mencintainya.
Aku jatuh cinta padanya.
Begitu kau
menyadarinya lewat kata-kata, saat itulah semuanya dimulai, dan tidak ada yang
bisa menghentikannya.
Kita menjalani
hidup dengan memiliki ketertarikan tertentu pada orang lain. Kita semua
merasakannya.
Mungkin kita
ingin menjadi seperti orang-orang itu. Mungkin kita ingin mereka benar-benar
melihat kita—memahami kita dengan cara yang tidak dilakukan orang lain.
Sebuah fantasi.
Seperti pangeran atau putri yang kita impikan saat kita masih kecil.
Namun, apa yang
terjadi jika kekaguman ini tidak lebih dari sekadar itu, dan kita hanya
menyebutnya sebagai cinta?
Tergoda oleh
bunyi kata yang manis itu, kita pun memakai kacamata berwarna merah muda.
Kita hanya
melihat sisi baik mereka, berasumsi bahwa mereka pastilah "orangnya",
dan kita sangat mendambakan mereka.
Sebuah akhir
bahagia yang sempurna seperti di dalam gambar, sebuah akhir yang dengan senang
hati akan kita tinggali selamanya.
Namun, dalam
hampir setiap kasus, kebahagiaan selamanya itu datang dengan tanggal
kedaluwarsa.
Cinta adalah
alasan bagi kita untuk menyakiti orang lain dan lolos begitu saja.
Sang pahlawan
wanita dari drama tragedi menghunuskan pedangnya kepada sang kekasih.
Jurang pemisah
antara perasaannya yang pahit-manis dan kenyataan yang keras terlalu
menyakitkan untuk dia tanggung.
Dia telah lupa
siapa yang sebenarnya bertanggung jawab karena telah membebani orang lain
dengan kekaguman itu sejak awal.
Aku rasa dia
tidak pernah ingin semuanya berakhir seperti ini.
Dia hanya ingin
mengenal lelaki itu lebih jauh, lelaki yang menarik perhatiannya.
Setelah
mengenalnya, kekecewaan pun menyusul. Namun, dia tetap menderita, terjebak
dalam siksaan perasaan yang tak terbendung, konflik, dan rasa sakit.
Dia mulai
membenci dirinya sendiri dan orang yang melakukan ini padanya. Namun, tetap
saja, dia tidak bisa menyerah begitu saja...
Lalu akhirnya,
dia perlahan terangkat dari kubangan lumpur oleh pemikiran bahwa, yah,
begitulah cinta.
Itulah sebabnya
aku pikir lebih baik tidak menyebutnya sebagai cinta sampai semuanya
benar-benar berakhir.
...Dan dari sinilah semuanya dimulai. Kisah tentang romansa yang (mungkin) palsu ini.



Post a Comment