Epilog 2
Keistimewaanmu
Aku
mengambil langkah mundur. Tapi aku juga mencoba untuk mendekat.
Aku rasa
aku tidak berbohong malam itu, saat aku berharap bisa berada di sisimu hanya
sebagai teman biasa. Saat aku
menyadari bahwa akulah satu-satunya yang kau miliki pada saat itu...
Saat pertama kali
aku melihat air matamu. Saat aku memiliki wajah tidurmu hanya untuk diriku
sendiri.
Saat aku
menyadari bahwa aku tidak bisa memilikimu untuk diriku sendiri selamanya. —Aku
ingin menjadi orang yang ada di sampingmu.
Betapa putus
asanya aku mengharapkan hal itu. Aku ingat saat aku melewati pintu ruang kelas
yang remang oleh senja itu.
Sejak saat aku
memilihmu dan mengejarmu, aku merasa yakin. Kau tidak bisa menutup kembali rasa
cinta yang sudah mulai bergulir maju.
Hei, Ibu. Aku
tidak akan memaafkanmu, dan aku tidak akan mengatakan bahwa aku memahami apa
yang kau lakukan. Aku sama sekali tidak sepertimu.
Tapi aku mulai
sedikit memahami rasa tidak puas itu. Tentang membenci kenormalan, tentang
keinginan untuk berjuang dan meraih sesuatu yang lebih.
Jadi,
persis seperti yang dikatakan gadis yang mendorongku untuk bertindak... Suatu
hari nanti, aku ingin menghadapimu dengan semua perasaan yang telah kukunci di
dalam hatiku.
Agar kau
selalu menatapku, dan hanya aku seorang. Agar aku selalu ada di dalam hatimu.
Agar kita tidak
perlu melepaskan tangan satu sama lain. Pada malam-malam saat kau tidak bisa
melihat rembulan, aku ingin menjadi dekapan lembutmu.
—Jika suatu hari nanti aku bisa menjadi sosok istimewa bagimu... aku tidak akan meminta apa pun lagi.



Post a Comment