NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Chitose-kun wa Ramune Bin no Naka (Chiramune) Volume 7 Chapter 2

Chapter 2

Biru Yang Menjadi Milik Kami


Setiap kali melangkah masuk ke gedung olahraga kedua, aku selalu merasa seperti sedang memasuki markas rahasia.

Mungkin karena dinding yang mengelilinginya berwarna abu-abu kusam yang pekat. Mungkin karena ukurannya hanya sekitar dua pertiga dari gedung olahraga pertama. Atau mungkin, aku terpaku pada kesan sepi yang selalu terpancar darinya setiap kali aku lewat.

Bagaimanapun juga, tempat ini dipenuhi kesunyian dan sensasi terisolasi yang aneh, menjadikannya lokasi yang sangat pas untuk hari seperti ini.

Satu minggu setelah pembagian komite, tepatnya pada jam pelajaran ketujuh—atau lebih tepatnya, waktu istirahat sebelumnya. Aku, Yuko, Yua, Nanase, Haru, Kazuki, Kaito, dan Kenta; Tim Chitose alias anggota pemandu sorak kelas 2-5, telah berkumpul di gedung olahraga kedua.

Hari ini adalah pertemuan pertama komite festival sekolah untuk kelas satu, dua, dan tiga. Karena sepuluh kelas di setiap angkatan dibagi menjadi lima warna untuk festival olahraga, biasanya tim akan terdiri dari dua kelas per angkatan, dengan total enam kelas dalam satu tim lintas angkatan.

Secara otomatis, tim pemandu sorak pun mengikuti aturan itu. Namun, karena tidak ada peminat dari kelas jurusan IPA yang masuk ke tim biru bersama kami, praktis anggota dari kelas dua hanyalah kami anak-anak kelas lima ini.

Mungkin karena kami langsung bergerak begitu waktu istirahat tiba, kami adalah rombongan pertama yang sampai di gedung olahraga kedua. Untuk sementara, kami duduk melingkar di dekat ring basket.

Kaito membuka suara dengan nada yang seolah sudah tidak sabar. "Gawat, aku jadi bersemangat! Festival sekolah adalah satu-satunya kesempatan buat berinteraksi dengan angkatan lain di luar kegiatan klub."

Haru menimpali dengan wajah jemu. "Jangan coba-kali mengganggu adik kelas perempuan yang imut ya."

"Heh, maaf saja ya, Haru. Asal tahu saja, aku ini secara mengejutkan cukup populer di mata senior maupun junior."

"Itu karena sifat aslimu belum ketahuan kalau sama mereka, kan?"

"Kejam amat?!"

Kazuki yang duduk bersila sambil menopang dagu dengan wajah tenang ikut bicara.

"Tapi ya, tanggung jawab anak kelas dua itu cukup besar. Kurasa intensitas interaksi kita memang bakal meningkat."

Yua melanjutkan sambil tertawa kecil. "Ketua dan wakil ketua pemandu soraknya diambil dari kita, kan?"

Inilah alasan kenapa kami datang lebih awal. Untuk mengurangi beban kelas tiga yang harus fokus pada ujian masuk universitas, anak kelas dua biasanya memegang peranan sentral dalam komite festival sekolah.

Dalam hal pemandu sorak, posisi ketua, wakil ketua, hingga penentuan tema penampilan, koreografi tari, dan arah kostum akan dipimpin oleh kami. Kazuki mengangguk dan berkata.

"Untuk sementara, ketuanya Saku saja, bagaimana?"

Karena sudah menduga perkembangan ini, aku menjawab tanpa merasa bingung. "Oke, kalau memang tidak ada yang mau, aku yang ambil."

Di grup ini, hanya aku dan Kenta yang tidak ikut klub olahraga. Sejak awal aku memang sudah berniat untuk membantu sebisa mungkin. Lagipula, akan terasa agak kejam kalau memaksakan posisi ketua pada Kenta.

Sepertinya tidak ada yang keberatan dengan usul itu. Kazuki melanjutkan, seolah sedang mengikuti naskah yang sudah ditentukan.

"Kalau begitu, wakil ketuanya..."

Tanpa sadar, aku melirik ke arah Yuko. Pandangan yang lain pun secara alami tersedot ke arahnya.

Sebab, biasanya gadis itulah yang selalu paling pertama mengajukan diri dalam situasi seperti ini, sama halnya saat pemilihan pengurus kelas. Namun, seolah ingin merusak harmoni yang sudah terprediksi itu—

"—Ya, kalau Chitose yang jadi ketua, aku yang akan jadi wakil ketuanya."

Nanase mengangkat tangannya dengan luwes.

“““Eh...?”””

Tiga suara yang lolos secara bersamaan itu, entah milik siapa saja. Seolah menyadari reaksi tersebut, Nanase menggaruk pipinya sambil tersenyum getir.

Sambil menatap Yuko, dia berkata dengan nada yang sedikit malu-malu. "Maaf, apa kamu tadi berniat mengambilnya?"

Jawaban tenang pun segera datang tanpa jeda. "Tidak kok."

Yuko sedikit memiringkan kepalanya dan tersenyum malu. "Aku sudah kewalahan dengan latihan tari dan drama kelas, pasti nanti malah merepotkan Saku. Kalau Yuzuki yang mengambilnya, kurasa itu lebih baik."

Alis Nanase sedikit terangkat karena terkejut, sebelum akhirnya dia mengangguk paham. "Oke, kalau begitu serahkan padaku."

Dia menjeda kalimatnya sejenak, lalu mengedarkan pandangan ke arah kami semua. "Semuanya setuju, kan?"

Kazuki yang sedari tadi diam memperhatikan interaksi mereka berdua, menyipitkan matanya dengan tatapan yang entah kenapa terasa sedikit pedih. "Yah, kalau Saku dan Yuzuki, tidak ada yang perlu dikhawatirkan."

Mendengar itu, semuanya mengangguk setuju. Keheningan yang alami tiba-tiba menyelimuti kami, dan saat itulah aku menyadarinya.

Jika ini terjadi sebelumnya, Yuko pasti akan langsung mencalonkan diri dan posisi itu akan langsung diputuskan. Nanase pasti tidak akan mengangkat tangan, dan kalaupun dia punya keinginan untuk melakukannya, dia pasti akan memantau reaksi semua orang terlebih dahulu.

Ternyata, kami memang sudah benar-benar berubah. Rasanya segar, anehnya terasa nyaman, tapi di sisi lain ada sedikit rasa kesepian.

◆◇◆

Setelah menunggu beberapa saat, sekitar sepuluh orang Senpai kelas tiga memasuki gedung olahraga kedua. Melihat orang yang berjalan di barisan paling depan, Kaito langsung berdiri dengan semangat.

"Woooooooh, Nishino-senpai juga ikut pemandu sorak!?!?"

Asu-nee melambaikan tangan kecilnya dengan malu-malu sambil mendekat. Tepat di belakangnya adalah Okuno-senpai. Ada banyak wajah yang aku kenali dari acara konsultasi jurusan maupun kamp belajar, sepertinya mereka mengajukan diri karena memang berteman akrab.

Mengikuti Kaito, kami semua pun berdiri. Asu-nee tersenyum seolah merasa geli.

"Halo semuanya, mohon bantuannya ya."

Kami membalas sapaannya secara serempak. Mungkin karena kami pernah menghabiskan waktu bersama saat kamp belajar dan festival musim panas, suasananya terasa jauh lebih akrab dibandingkan saat konsultasi jurusan dulu.

Asu-nee mendekat ke arahku dan berbisik pelan di telingaku. "Kamu tidak terlalu kaget ya."

"Entahlah, aku punya perasaan kalau kita bakal ada di tim warna yang sama."

Begitu aku menjawab, dia sedikit mengerucutkan bibirnya. "Padahal aku sendiri sempat mengalami gejolak batin yang cukup hebat, lho."

"Aku tahu kok. Makanya, sebenarnya aku senang sekali."

Itu bukanlah bualan untuk menutupi rasa malu, melainkan perasaan jujurku. Asu-nee sering mengeluh bahwa "kita tidak bisa berbagi waktu yang sama," dan aku pun memendam rasa sepi yang sama.

Namun, jika kami berdua menjadi anggota pemandu sorak, kami bisa berjuang bersama menuju salah satu acara terbesar dalam kehidupan sekolah. Bagi kami, ini adalah pertama sekaligus terakhir kalinya kami menjadi teman satu tim di sekolah.

Asu-nee tampak puas dengan jawaban itu, dia tersenyum manis lalu menjauh. Melihat itu, Okuno-senpai yang ada di dekatnya menyapa.

"Ketemu lagi ya, Chitose-kun."

Aku sedikit bingung harus merespons apa, jadi aku memutuskan untuk bercanda. "Padahal waktu kamp belajar cara perginya sudah keren banget, tapi sekarang malah jadi begini ya."

Okuno-senpai tertawa geli menanggapi ucapanku. "Jangan bilang begitu dong. Aku juga ingin menikmati sisa kehidupan sekolahku, sama seperti kalian."

Meskipun dia pernah bilang kalau dia sudah menyatakan cinta pada Asu-nee dan ditolak mentah-mentah, sepertinya hubungan mereka tidak menjadi canggung. Nada bicaranya yang santai memancarkan aura kejernihan, seolah dia sudah benar-benar mengikhlaskan semuanya.

Saat sesi konsultasi jurusan dulu kami sempat saling jaga jarak, tapi sekarang aku tidak bisa membenci orang ini. Saat aku memikirkan hal itu, bel tanda masuk berbunyi, dan hampir di saat yang sama anak-anak kelas satu berhamburan masuk.

Ayo, kita mulai persiapan pestanya. Aku merapikan dasiku, meski itu terasa bukan gayaku.

◆◇◆

Tim pemandu sorak terdiri dari sekitar tiga puluh orang gabungan dari kelas satu, dua, dan tiga. Kami memutuskan untuk memulai dengan perkenalan singkat.

Aku dan Nanase berdiri di depan, sementara yang lain duduk dalam tiga baris sesuai tingkatan kelas. Dilihat seperti ini, jumlahnya ternyata cukup banyak juga.

Aku berdeham kecil lalu membuka suara.

"Ehem... perkenalkan, namaku Chitose Saku dari kelas 2-5, dan aku dipercaya menjadi ketua pemandu sorak kali ini. Karena sudah terjun, aku berniat merebut trofi juara, tapi di atas itu semua, aku ingin kita bisa bersenang-senang dan menikmati masa muda bersama. Mohon bantuannya."

Ini bukan pidato kepala sekolah, jadi tidak ada gunanya bicara panjang lebar sejak awal. Begitu aku mengakhirinya dengan singkat, tepuk tangan yang lebih keras dari dugaanku bergemuruh.

"Ooooh!"

"Mantap, Ketua!"

"Mohon bantuannya!"

"Ternyata Chitose-senpai keren banget ya!?"

"Untung aku pilih pemandu sorak!"

Aku hanya bisa tersenyum kecut menanggapi reaksi senior dan junior. Karena mereka adalah orang-orang yang memang berniat masuk pemandu sorak, pada dasarnya mereka semua memang tipe orang yang ceria.

Selanjutnya, Nanase maju selangkah.

"Aku Nanase Yuzuki, wakil ketua. Meski tidak kelihatan, aku ini tipe yang benci kekalahan, jadi kalau sudah mulai, kita harus menang! Aku akan bersikap lembut pada junior, tapi aku akan melatih senior dengan keras tanpa sungkan, jadi bersiaplah ya."

Berbanding terbalik dengan kata-katanya yang tajam, dia menggunakan bahasa tubuh yang ekspresif dan nada bicara yang penuh canda, membuat suasana menjadi semakin hidup.

"Itu malah hadiah buatku!"

"Tolong latih aku dengan keras!"

"Lagipula Nanase-senpai cantik banget!!"

"Tim Biru emang paling oke!"

Setelah itu, perkenalan dilanjutkan satu per satu mulai dari kelas tiga, dua, lalu satu. Pada dasarnya semua orang berbicara dengan cerah dan lugas, para pendengar pun menyambut dengan meriah. Suasananya terasa sangat akrab meskipun ini baru pertemuan pertama.

Bahkan Kenta yang paling terlihat gugup pun tidak masalah, karena interaksinya dengan Kazuki dan Kaito justru memancing tawa. Setelah perkenalan selesai, aku kembali bicara.

"Terima kasih semuanya. Jadi, untuk ke depannya kepemimpinan akan dipegang oleh kelas dua, tapi bolehkah aku meminta satu perwakilan masing-masing dari kelas tiga dan kelas satu? Kalian akan ikut dalam diskusi dan latihan kami, jadi dengan pertimbangan itu, apakah ada yang mau mengajukan diri?"

Sepertinya ini juga sudah menjadi tradisi setiap tahun. Karena sulit untuk mengumpulkan semua orang setiap saat, kelas dua yang akan memegang kemudi sementara perwakilan dari angkatan lain akan mengumpulkan pendapat rekan-rekan mereka untuk dibawa ke kami, atau membagikan apa yang sudah diputuskan dalam diskusi.

Untuk urusan tari misalnya, para perwakilan ini akan menghafal gerakannya lebih dulu. Saat kami mengawasi secara keseluruhan, mereka akan membantu menutupi bagian yang tidak terjangkau atau memimpin latihan mandiri di angkatan masing-masing.

"Saya."

Sepertinya dia sudah memantapkan hati sejak awal. Yang mengangkat tangan paling pertama tanpa ragu adalah Asu-nee.

"Aku yang akan menjadi perwakilan kelas tiga."

Senior lainnya bertepuk tangan pelan seolah itu adalah hal yang sudah sewajarnya. Asu-nee memang punya hubungan baik dengan angkatan kami, jadi kurasa itu pilihan yang tepat.

"Baik, untuk kelas tiga kita serahkan pada Asu... maksudku, Nishino-senpai. Bagaimana dengan kelas satu?"

Berarti orang tersebut akan dilemparkan sendirian ke dalam kumpulan Senpai kelas dua dan tiga. Jujur saja, aku pikir itu akan terasa sangat canggung bagi mereka, tapi—

"—Ya! Saya mau!"

Sebuah suara yang penuh semangat bergema. Gadis yang mengangkat tangan tinggi-tinggi itu adalah gadis yang paling menonjol kecantikannya di antara anak kelas satu.

Mungkin terdengar berlebihan, tapi wajahnya sangat cantik hingga tidak kalah jika disandingkan dengan Nanase. Lengan dan kakinya jenjang, dan meskipun seragamnya yang agak kebesaran membuatnya sulit terlihat, tapi proporsi tubuhnya sangat luar biasa.

Dia pasti sangat populer di angkatannya, pikirku sambil berkata.

"Oh, terima kasih. Ehem, kamu Nozomi-san, kan?"

Begitu aku menyebutkan nama yang kuingat dari perkenalan tadi, dia mengulanginya lagi dengan sopan. "Benar, saya Nozomi Kureha dari kelas 1-5. Mohon bantuannya."

Mungkin mereka sudah mendiskusikannya sebelumnya. Anak-anak kelas satu lainnya bertepuk tangan dengan tatapan hangat.

"Kalau begitu Nishino-senpai, Nozomi-san, bisa tolong maju ke depan sebentar?"

Asu-nee berdiri dengan anggun di samping Nanase, sementara Nozomi-san berdiri dengan tegap di sampingku. Tiba-tiba, aroma segar seperti jeruk nipis menggelitik hidungku.

Nozomi-san menoleh ke arahku, memiringkan kepalanya, dan menunjukkan senyum yang masih menyisakan kesan polos. Sejak masuk SMA aku jarang berinteraksi dengan adik kelas, jadi aku merasa sedikit geli saat mengangguk kecil lalu kembali menghadap yang lain.

"Sekali lagi, inilah susunannya: Ketua Chitose Saku, Wakil Ketua Nanase Yuzuki, perwakilan kelas tiga Nishino-senpai, dan perwakilan kelas satu Nozomi-san. Aku harap kita bisa bekerja sama menuju hari-H. Semuanya, mohon bantuannya!"

““““MOHON BANTUANNYA!!!!!!””””

Di dalam gedung olahraga kedua yang sudah tua itu, suara-suara berwarna biru menari-nari. Sambil menatap wajah-wajah yang belum terbiasa ini, aku tersenyum, merasa bahwa kami akan bisa bekerja sama dengan baik.

◆◇◆

Setelah itu kami saling bertukar kontak dan membuat grup LINE untuk Tim Pemandu Sorak Biru, lalu pertemuan hari ini pun berakhir. Kurasa ini adalah pertemuan pertama yang cukup sukses.

Saat aku melepas kepergian para senior dan junior dari gedung olahraga, Nanase memanggilku.

"Chitose, apakah malam ini kamu luang?"

"Hm, soal urusan itu?"

Mengingat janji untuk memasak, aku pun mengatakannya, tapi aku malah mendapat tatapan jemu darinya.

"Dengar ya, jangan bicara seolah aku ini wanita yang sangat penuntut dong."

"Lho, salah ya?"

"Kalau kamu mau memasak, tentu saja aku akan dengan senang hati menikmatinya. Tapi bukan itu, ini soal rencana ke depan. Bagaimana kalau kita berdua melakukan persiapan ringan?"

"Oh."

Rasa malu karena salah paham yang konyol membuatku menggaruk pipi. Mulai dari sekarang, segalanya tidak akan berjalan jika kami tidak menentukan konten penampilannya terlebih dahulu.

Tentu saja nanti kami akan berdiskusi dengan anak-anak kelas dua lainnya, ditambah Asu-nee dan Nozomi-san, tapi sepertinya dia ingin kami berdua membicarakan arah dasarnya terlebih dahulu. Karena tidak ada keberatan maupun rencana lain, aku mengangguk setuju.

"Oke, tempatnya di mana?"

 "Rumah Chitose."

"Waktunya?"

"Setelah klub selesai."

"Mau makan apa?"

"Sesuatu yang belum pernah kamu masak."

"Ujung-ujungnya kamu tetap menuntut, kan?"

Sambil melangkah menuju pintu keluar gedung olahraga, kami saling melempar percakapan singkat yang efisien. Namun, tiba-tiba aku menyadari ada suara langkah kaki yang mengikuti kami dari belakang.

Saat aku berhenti dan menoleh, Nozomi-san sedang menatap kami dengan wajah yang tampak sangat tertarik. Mungkin dia sedari tadi menunggu waktu yang tepat untuk menyapa.

Jika benar begitu, aku merasa tidak enak, jadi aku pun membuka suara. "Maaf, aku kira kami yang terakhir. Ada pertanyaan?"

Seolah kata-kataku tidak sampai kepadanya, Nozomi-san hanya melamun sambil terus menatap mataku.

"Ehem, Nozomi-san...?"

Begitu aku memanggilnya sekali lagi, dia akhirnya tersentak dan menunjukkan senyum ceria.

"Anu, saya merasa belum menyapa dan berterima kasih dengan benar pada Senpai. Mulai sekarang, mohon bantuannya!"

Terima kasih itu mungkin maksudnya karena aku sudah mengizinkannya menjadi perwakilan kelas satu. Anak yang sangat serius ya, pikirku sambil tersenyum kecut.

"Tidak perlu terlalu kaku begitu."

Nozomi-san berkata sambil meremas roknya pelan dengan kedua tangan.

"Tidak, saya ingin melakukannya dengan benar."

"Begitu ya," Aku mengangguk pelan. "Mohon bantuannya juga. Kami anak kelas dua semuanya belum berpengalaman soal pemandu sorak, jadi kalau ada ide, jangan sungkan untuk mengusulkannya ya."

"Baik!"

Lalu Nozomi-san menatap Nanase dan membungkuk sopan. "Nanase-san, mohon bantuannya juga."

Sepertinya dia sudah terbiasa menghadapi junior di klub basket putri. Nanase merespons dengan nada santai.

"Iya, kalau ada masalah, konsultasi saja kapan pun. Misalnya, kalau ketua kita ini terus-menerus merayumu, atau semacamnya."

"Oi, Wakil Ketua, jangan menanamkan prasangka buruk pada junior yang polos dong."

"Tidak apa-apa kok, meski terlihat begitu, dia itu baik pada perempuan."

"Dia juga baik pada laki-laki, lho!"

Nozomi-san pun tertawa seolah tidak bisa menahannya lagi.

"Kalian semua ternyata sangat akrab ya."

Mendengar kata-katanya yang jujur itu, aku dan Nanase saling pandang tanpa sengaja. Bagi kami ini adalah interaksi biasa, tapi mendapat reaksi seperti itu membuatku sedikit merasa geli.

"Ngomong-ngomong," Nozomi-san memiringkan kepalanya. "Tadi saya tidak sengaja mendengar pembicaraan kalian, apakah Senpai tinggal sendirian?"

Menjelaskan situasi keluarga secara detail mungkin malah akan membuatnya bingung, tapi karena itu bukan hal yang perlu disembunyikan, aku menjawab dengan nada ringan. "Ya, kalau sudah terbiasa ternyata cukup santai, lho."

Nanase menambahkan penjelasannya. "Dan, tempatnya sudah sewajarnya jadi markas kumpul-kumpul teman-temannya."

Sepertinya dia ingin menghindari kesalahpahaman yang aneh di mata adik kelas. Nozomi-san tampak menerima penjelasan itu mentah-mentah.

"Begitu ya! Kalau begitu kapan-kapan saya juga ingin main ke sana!"

"Eh, anu..."

Seharusnya aku bisa menanggapinya sebagai basa-basi belaka, tapi karena banyak hal yang terjadi belakangan ini, aku malah kehilangan kata-kata. Jika itu teman yang sudah akrab, aku biasanya akan membalas dengan candaan seperti "Hm, kalau begitu siapkan pakaian dalam yang imut ya," tapi jika aku membuat adik kelas yang baru kukenal benar-benar merasa risih di hari pertama, itu akan sangat gawat.

Di sisi lain, dia sudah tahu kalau Nanase akan datang ke rumahku, dan karena dia mengatakannya dengan begitu polos, aku takut akan menyakitinya jika menolak dengan terlalu serius.

...Saku-kun dalam bahaya.

Saat aku melirik ke samping untuk meminta bantuan, Nanase mendesah pelan sambil menyipitkan matanya dengan jemu. Lalu dia sedikit mengedikkan bahu dan menjawab sebagai wakilku.

"Dengar ya, Nozomi-san. Di suatu tempat ada seekor Serigala yang sedang lapar. Dia sudah tidak punya tenaga untuk berburu, dan hanya bisa meringkuk di dalam sarangnya. Lalu, seekor Kelinci Putih tersesat dan masuk ke sana. Nah, menurutmu apa yang akan dilakukan oleh si Serigala?"

Nozomi-san menempelkan telunjuknya di bibir dan tampak berpikir sejenak sebelum menjawab. "Mungkin... dia akan memakannya?"

Nanase mengangguk mantap dengan wajah serius. "Kamu adalah kelinci, dan sang Ketua adalah serigala. Paham?"

"Gak paham juga kali!!!"

Saat aku tidak tahan untuk tidak memprotes, Nozomi-san menggoyangkan bahunya karena tertawa geli. "Lalu, apakah Nanase-san juga akan dimakan?"

Mendengar pertanyaan tanpa beban itu, aku kembali kehilangan kata-kata. Dalam hal ini, Nanase memang jauh lebih tenang.

Dia menjulurkan lidahnya sedikit dengan nada suara yang sedikit menggoda dan sensual. "Aku ini serigala liar yang sudah kenyang, jadi aku tidak akan semudah itu dimakan oleh serigala yang tidak becus sepertinya."

Seolah tidak bisa menahannya lagi, Nozomi-san menutup mulutnya dengan tangan. Dia berkata sambil mati-matian menahan tawa.

"Maaf, saya mengerti maksud Nanase-san. Tapi melihat interaksi kalian berdua, saya rasa kekhawatiran semacam itu tidak perlu ada, jadi saya jadi sedikit kelewatan tadi."

Melihatnya membungkuk minta maaf dengan sopan seperti itu malah membuatku merasa tidak enak. Nanase pun menatapku dengan wajah yang sedikit merasa bersalah. Sepertinya dia memang tidak asal bicara tadi.

Mungkin aku terlalu waspada hanya karena dia gadis yang baru pertama kali kutemui. Ke depannya kami akan bekerja sama sebagai anggota inti pemandu sorak. Sangat mungkin jika pertemuan-pertemuan kami nantinya akan dilakukan di rumahku.

Nanase mengangguk mantap dengan senyum dewasa khas seorang Senpai kelas. Benar juga, pikirku sambil membalas anggukannya dan berkata.

"Daripada camilan yang elegan, aku lebih suka junk food yang mengenyangkan sebagai buah tangan. Dengan begitu si serigala akan merasa puas dan tidak akan berbuat jahat."

Nozomi-san membelalakkan matanya sesaat, sebelum akhirnya dia tersenyum lebar seolah sudah merasa lega. "Siap, Senpai!"

Lalu, dia melanjutkan sambil memalingkan wajahnya dengan malu-malu. "Anu, Senpai, Nanase-san... Jika tidak keberatan, saya akan sangat senang jika kalian memanggilku dengan nama depan, Kureha."

Aku dan Nanase saling pandang, lalu tertawa kecil melihat kepolosannya itu. Rasanya menenangkan, seolah membayangkan jika aku punya adik perempuan mungkin akan jadi seperti ini. Agar dia merasa senyaman mungkin di sini, aku pun membuka suara.

"Jangan terlalu kaku ya, Kureha."

Nanase melanjutkan dengan gaya Senpai kelas yang sangat bisa diandalkan. "Kalau ada apa-apa jangan sungkan untuk menghubungi kami ya, Kureha."

Kureha mengepalkan tangan kecilnya di depan dada dan berkata. "Baik, saya akan berusaha sekuat tenaga!"

Dia tersenyum lebar seperti aroma jeruk yang menyegarkan.

◆◇◆

Saat api mulai kukecilkan karena panci tanah liat mulai mengeluarkan suara gemuruh pelan, suara bel pintu yang entah kenapa terdengar lebih santai berbunyi.

"Masuk saja, tidak dikunci!"

Begitu aku berseru, Nanase melongokkan wajahnya dari pintu yang terbuka sedikit. "Halo."

"Yo. Aku sudah mulai memasak, jadi silakan mandi duluan."

Sambil berkata begitu, aku menertawakan diriku sendiri karena betapa santainya aku mengucapkan kalimat semacam itu.

Yah, karena ini setelah kegiatan klub, dia pasti ingin membersihkan keringat, dan kalaupun aku diam saja, dia pasti akan mengatakan hal yang sama. Lagipula, aku sudah tidak lagi merasa panik atau berdebar berlebihan setiap kali hal seperti ini terjadi.

"Makasih."

Nanase meletakkan barang-barangnya di kursi ruang makan, lalu dengan gerakan alami mengambil handuk mandi pribadinya dari dalam lemari. Mengingat benda itu memang sudah menjadi penghuni tetap di sana, kurasa sekarang sudah terlambat untuk merasa heran.

Untuk menyesuaikan waktu matangnya masakan, aku bertanya. "Mau sekalian cuci rambut?"

"Nggak, hari ini cuma mau basuh badan sebentar saja."

Saat Nanase hendak melangkah menuju kamar mandi dengan gerakan yang sudah terbiasa, tiba-tiba dia mendekat seolah-olah ada sesuatu yang menariknya. Dia berdiri di sampingku, lalu mengendus-endus udara.

"Kayaknya aroma masakannya lebih enak dari biasanya."

"Aku menanak nasinya pakai pot tanah liat. Ini pertama kalinya, jadi jangan protes kalau nanti agak gosong, ya."

Begitu aku berkata demikian, wajah Nanase melunak dengan ekspresi yang tampak senang.

"Kalau begitu, satu suapan pertama buatku, ya!"

Dia bergumam riang, lalu kali ini benar-benar menghilang ke arah kamar mandi. Aku pun, seperti biasa, menaikkan volume suara pada Tivoli Audio milikku.

Aku mengeluarkan tomat, selada, bawang bombay, serta bawang putih, lalu menggenggam pisau dapur. Tomat kubuang pangkalnya lalu kupotong kotak-kotak kasar, selada kutumpuk beberapa lembar lalu kuiris memanjang agak tebal, dan bawang bombay kucincang halus.

Untuk bawang putih, aku menggunakan dua siung berukuran kecil. Setelah memotong bagian pangkalnya, aku mememarkannya dengan sisi pisau, lalu mengupas kulitnya.

Aku menuangkan minyak agak banyak ke wajan besi yang sudah panas, memiringkannya, lalu memasukkan bawang putih. Bawang itu kubiarkan dimasak perlahan dengan api kecil, dan begitu aromanya mulai keluar, aku mengangkatnya sebelum gosong lalu mencincangnya kasar.

Selanjutnya aku menumis bawang bombay, dan setelah warnanya mulai berubah kecokelatan, aku menambahkan daging giling campuran sapi dan babi. Terdengar suara pintu kamar mandi yang terbuka.

Tanpa sadar, nasi di dalam pot tanah liat mulai mengeluarkan suara letupan kecil, dan menyadari aroma harum mulai tercium, aku pun mematikan apinya. Jika dibiarkan mengukus seperti ini sebentar, nasinya pasti akan matang dengan sempurna—mungkin.

Setelah daging giling yang kutumis matang, aku menaburkan garam dan lada secukupnya, memasukkan cincangan bawang putih, lalu menambahkan saus sambal manis, saus tomat, dan saus inggris sesuai insting sambil terus mencicipinya. Karena terasa agak terlalu manis, aku menuangkan sedikit sekali kecap asin.

Aku mengambil sesendok, menyesapnya, lalu mematikan api setelah merasa rasanya sudah pas. Terdengar suara tirai yang membatasi ruang tamu dan kamar mandi terbuka.

Nanase keluar dengan wajah yang tampak segar, lalu membuka suara. "Mandinya—maksudku, shower-nya sudah selesai."

Sembari menyiapkan piring datar untuk menyajikan nasi, aku menyahut. "Satu bulan lagi, mungkin bakal kedinginan kalau cuma pakai shower."

"Kalau begitu, nanti aku bawakan garam mandi, ya."

"Kau berniat untuk berlama-lama santai berendam di bak mandi, hah?"

Nanase mendekat, lalu dengan santai meletakkan tangannya pada kursi tinggi (stool) yang diletakkan di dekat dapur. Begitu melihat itu—

"—Ah."

Aku refleks mengeluarkan suara. Nanase yang tadinya hendak menarik kursi itu untuk duduk, mendadak mematung.

"Eh...?"

Sepasang mata yang tampak cemas kini tertuju padaku. Keheningan yang terasa perih dan menyesakkan pun mengalir di antara kami.

Itu adalah kursi yang kusiapkan sebagai bentuk rasa terima kasihku kepada Yua. Bukannya aku memutuskan untuk tidak membiarkan siapa pun duduk di sana, tapi di saat aku melihat Nanase hendak duduk, aku merasa seolah-olah sedang melakukan pengkhianatan.

Untuk sesaat, bayangan wajah sedih Yua terlintas di kepalaku. Tentu saja, Nanase sama sekali tidak berniat buruk.

Ini salahku karena tidak menyimpannya terlebih dahulu. Pada akhirnya, Nanase-lah yang pertama kali memecah keheningan.

Seolah sedang memegang barang yang sangat berharga, dia mengembalikan kursi itu ke tempat asalnya dengan kedua tangan secara perlahan.

"Boleh aku bersantai di sofa saja?"

Dia berbalik seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Sambil menatap punggungnya yang menjauh dengan suara langkah kaki yang sengaja dibuat terdengar riang.

—Maaf, gumamku di dalam hati.


Begitu aku membuka tutup pot tanah liat setelah selesai dikukus, butiran nasi yang berkilau tampak berjejer dengan pulen. Sejujurnya aku cukup khawatir, tapi bagian yang menyentuh dinding pot hanya berwarna sedikit kecokelatan tanpa ada bagian yang gosong.

Sambil mencoba mengenyampingkan kesalahan tadi ke sudut pikiranku, aku membuka suara. "Nanase, mau porsi seberapa banyak?"

"Tentu saja porsi besar!"

Mendengar nada bicaranya yang mirip Haru, aku pun tersenyum kecut dan membalas. "Bukannya kamu sedang memikirkan masalah kalori?"

"Lho, bukannya Chitose tidak suka tipe perempuan yang pura-pura makan sedikit di depan laki-laki?"

"Jawaban yang tepat."

Aku menyajikan nasi ke piring datar, lalu meletakkan tumisan daging giling dan bawang bombay di atasnya. Kusertakan juga selada dan tomat, lalu sebagai penyelesaian, aku menaburkan keju melt yang sudah diparut memanjang.

Aku membawa piring-piring itu, lalu mengambil sup yang sudah kubuat sebelumnya dari lemari es. Setelah menyiapkan dua sendok dan teh gandum, aku pun duduk di kursi ruang makan.

Nanase yang duduk di hadapanku membuka suara dengan penuh semangat. "Nah, Kedai Chitose, apa menu hari ini?"

"Menu hari ini adalah Taco Rice dan sup kacang edamame dingin. Ini adalah pertama kalinya kedua menu ini disajikan kepada pelanggan."

Terdengar suara tepuk tangan yang berlebihan. "Ooooh!"

"Sebagai informasi, aku tidak tahu apakah menu yang terakhir bisa dinikmati lagi atau tidak, jadi silakan dinikmati pelan-pelan sambil dirasakan bumbunya."

"Eh, kenapa?"

"……Ternyata itu jauh lebih merepotkan dari dugaanku."

Aku menggunakan hand mixer yang dulu ditinggalkan Yua di sini, tapi prosesnya memakan banyak waktu. Bayangan saat aku bersusah payah mengeluarkan biji edamame satu per satu terlintas di kepala, membuatku mengedikkan bahu.

"Setidaknya, aku tidak terpikir untuk membuatnya hanya untuk diriku sendiri."

Nanase menutup mulutnya dengan tangan lalu tertawa kecil. Dia menyipitkan mata, lalu berkata dengan nada menggoda.

"Kalau begitu, ini buat aku?"

Aku memalingkan wajah karena malu sambil menjawab dengan suara pelan. "……Waktu liburan musim panas kan kamu sudah membuatkanku Katsudon? Sebagai balasan untuk waktu itu, aku terpikir untuk menantang diri membuat sesuatu yang sepertinya disukai Nanase."

Aku menjeda kalimatku sejenak, lalu tertawa seolah ingin mengalihkan pembicaraan. "Yah, dengan ideku yang terbatas, cuma Taco Rice yang bisa kupikirkan."

Saat aku menatap Nanase, dia tampak terpaku dengan wajah yang seolah-olah tidak percaya. Meski aku memiringkan kepala dengan bingung, dia hanya terus mengerjapkan matanya berulang kali.

"……Nanase?"

Begitu aku memanggil namanya seolah-olah menepuk bahunya, dia akhirnya tersentak dan sudut matanya melunak.

"—Hehe, aku senang sekali."

Dia berkata dengan senyum lebar yang terasa tidak seperti Nanase yang biasanya. Leherku terasa gatal, membuatku refleks menggaruknya.

"Ayo makan, Nanase."

"Iya!"

"Kalau begitu, selamat makan."

"Selamat makan!"

Setelah matanya bergerak ke sana kemari, Nanase akhirnya mengambil sup kacang edamame dingin terlebih dahulu. Sebagai informasi, aku memasukkannya ke dalam gelas kaca karena kupikir akan memberikan suasana yang lebih pas.

Dengan menggunakan sendok kayu, Nanase menyesap sup itu. Mungkin karena dia menganggap serius kata-kataku tadi, bibirnya bergerak seolah-olah sedang merasakan bumbunya secara perlahan di atas lidah, lalu akhirnya menelannya.

Dia menatapku dengan mata yang tampak terkejut. "Bohong, ini tidak seperti masakan buatan Chitose."

"Oi, apa maksudnya itu?"

Nanase menjulurkan lidahnya sedikit dan berkata. "Maaf, maaf, aku tidak bermaksud mengejekmu. Masakan Chitose itu biasanya punya kesan kasar ala masakan laki-laki dalam artian yang baik, tapi yang ini rasanya seperti masakan di restoran mewah."

"Yah, itu karena aku menjadikan beberapa resep 'meniru rasa restoran' sebagai referensi."

"Fufu, makasih ya."

Dia berkata seolah-olah malu, lalu kali ini dia meletakkan tangannya pada piring Taco Rice. Mungkin dia ingin menghargai fakta bahwa aku menanak nasinya dengan pot tanah liat.

Nanase menyingkirkan bahan-bahan di atasnya terlebih dahulu, lalu hanya memakan nasi putihnya saja. "Nasinya sangat pulen dan manis. Bagian yang sedikit kecokelatan ini benar-benar memberikan kesan kalau ini dimasak di pot tanah liat, ya."

Melihat reaksinya, aku pun menyahut dengan bangga. "Bukan cuma menanak nasi pakai pot tanah liat yang baru pertama kali kulakukan. Karena kebetulan stok beras sedang habis, aku mencoba membeli beras 'Ichihomare'."

Aku pun mengikuti cara Nanase dengan hanya memakan nasi putihnya saja. Selama ini aku selalu berada di kubu beras Koshihikari, tapi yang ini rasanya sangat enak dan tidak kalah bersaing.

Selanjutnya, Nanase melahap Taco Rice beserta seluruh isinya. "Enak! Tapi yang ini rasanya seperti rasa Kedai Chitose yang menenangkan."

"Yah, itu karena energiku sudah habis terkuras untuk sup edamame tadi. Untuk Taco Rice, aku cuma melihat bahan dan prosedurnya secara garis besar saja, soal takaran bumbunya aku cuma pakai perasaan."

Begitu aku berkata demikian, bahunya berguncang karena tertawa geli. Setelah merasa lega karena melihat reaksinya yang sangat baik, aku pun mulai memakan Taco Rice milikku.

Untuk percobaan pertama, rasanya tidak buruk. Karena aku bisa makan sayur sekaligus dan cara membuatnya juga mudah, kurasa menu ini akan sering kubuat lagi.

"Bisa juga ditambahkan telur setengah matang, atau pakai mayones dan tabasco."

Saat aku bergumam seperti sedang bicara sendiri, Nanase menyahut dengan nada jemu. "Sama seperti di Kedai No. 8, Chitose memang suka sekali menambahkan topping atau mengubah rasa, ya."

"Bukankah bagus kalau kita bisa menikmati banyak rasa dalam satu waktu?"

"Belakangan ini secara tidak sadar aku mulai terpengaruh dan suka menambahkan bubuk cabai (shichimi) ke sup miso, lho."

"Bagus kalau begitu. Ayo kita lakukan bersama-sama, tonton begitu."

"Sudah kulakukan kok..."

Di tengah obrolan ringan yang kami jalin, tiba-tiba aku menanyakan hal yang mengganjal di pikiranku. "Ngomong-ngomong, bukannya kamu memegang peran utama di drama kelas? Apa tidak apa-apa kalau kamu juga mengambil posisi wakil ketua pemandu sorak?"

Nanase menjawab seolah-olah itu bukan masalah besar. "Kalimat itu ingin kukembalikan sepenuhnya padamu, lho."

"Berbeda denganku, Nanase kan masih harus ikut kegiatan klub."

Apalagi Haru pernah bercerita kalau kualifikasi untuk Winter Cup sudah semakin dekat. Meski aku tidak tahu detailnya, dalam baseball mungkin itu semacam turnamen regional untuk memperebutkan tiket ke turnamen musim semi (Senbatsu).

Jika benar begitu, seharusnya dia tidak punya waktu luang untuk dialokasikan ke kegiatan sekolah. Nanase menghentikan gerakan makannya, lalu bergumam pelan.

"Tidak apa-apa, aku tidak berniat untuk menomorduakan basket, kok. Melihat Umi belakangan ini, aku jadi sedikit terpikir sesuatu."

Melihat nada suara dan tatapan matanya yang tulus itu, aku merasa kekhawatiranku tadi memang tidak perlu. "Begitu ya."

Begitu aku menjawab dengan jujur, dia membalas dengan nada yang sedikit menantang. "Apa kamu tidak puas kalau partner-nya itu aku?"

"Mana mungkin, kamu itu orang yang sangat bisa diandalakan, lebih dari siapa pun."

"Kalau begitu bagus."

Nanase meminum teh gandumnya sedikit, lalu seolah sudah waktunya, dia mulai masuk ke topik utama. "Jadi, bagaimana kita akan menjalankan rencana pemandu sorak ini?"

Sebagai informasi, seperti yang sudah dibicarakan di kelas tadi, sepertinya drama kelas akan dikerjakan oleh Nazuna sembari dia memerintah Atumu dengan semena-mena. Tampaknya dia akan bekerja sama dengan anak klub sastra untuk membuat draf awal naskahnya.

Para pemeran utama seperti aku, Yuko, dan Nanase sudah diundang ke dalam grup LINE, dan tugas kami adalah menjawab jika dimintai pendapat. Sampai naskah itu selesai, sepertinya untuk sementara kami bisa fokus pada kegiatan pemandu sorak untuk festival olahraga.

Aku berpikir sejenak sebelum membuka suara. "Terlepas dari semuanya, yang terpenting adalah konsepnya, kan?"

Sama seperti tim dekorasi yang akan membuat objek raksasa sesuai warna tim, tim pemandu sorak pun harus mengekspresikan warna masing-masing melalui penampilan mereka. Dari yang kudengar dari Guru Kura, untuk tim biru, di masa lalu pernah ada konsep seperti "Langit", "Putri Duyung", "Masa Muda", hingga "Air Mata".

Selama bisa dikaitkan dengan warna tim, sepertinya interpretasinya boleh dilakukan dengan cukup bebas. Nanase mengangguk mantap.

"Untuk saat ini, kita akan berdiskusi antara kami anak kelas dua, Nishino-senpai, dan Kureha, ya."

"Aku akan membuatkan ruang obrolannya seperti grup kelas tadi. Aku rasa lebih baik kita putuskan konsepnya dengan cepat, lalu mengalokasikan waktu lebih banyak untuk pemilihan lagu, koreografi tari, dan kostum."

"Setuju. Ngomong-ngomong, apa Chitose sudah memikirkan sesuatu saat ini?"

Aku berpikir sejenak sebelum menjawab. "Kalau bicara soal biru, yang terlintas pasti hal-hal alami seperti langit dan laut, tapi bagaimana kalau 'Bumi'?"

"Bukankah itu nanti bakal jadi tarian yang sangat megah?"

"Es Gari-gari-kun."

"Tiba-tiba jadi murah begitu."

"Kalau begitu, kolam renang?"

"Yang terlintas cuma menari pakai baju renang, lho...?"

"Fumu."

"Jangan pasang wajah seolah-olah itu layak dipertimbangkan, dong."

Terlepas dari gurauan tadi, aku berpikir. Aku tidak tahu penampilan seperti apa yang dilakukan para senior di masa lalu, tapi jika konsepnya terlalu abstrak, aku merasa pesan yang ingin disampaikan akan sulit sampai ke penonton.

Akan sangat bagus jika kami bisa menemukan sesuatu yang bisa langsung dikaitkan dengan warna biru dalam satu kata, sekaligus mudah untuk diekspresikan lewat tarian. Setelah menghabiskan isi piring Taco Rice-ku, aku berkata.

"Yah, sepertinya akan lebih cepat kalau kita memikirkannya sambil berdiskusi bersama semuanya."

"Benar juga," Nanase pun menghabiskan supnya hingga tetes terakhir.

Dia meletakkan gelasnya dengan suara pelan lalu membuka suara. "Tadi benar-benar enak, terima kasih atas makanannya."

"Sudah kenyang?"

"Iya, hatiku juga kenyang."

"Begitu ya, jadi nutrisinya lari ke sana, ya."

"Dasar bodoh."

Kami berdua membawa piring ke wastafel, lalu Nanase mulai mencuci piring. Aku mengambil kain lap lalu berdiri di sampingnya.

Jabu-jabu, kyu-kyu. Chapu-chapu, shu-shu.

Sembari menerima peralatan makan yang sudah dicuci dengan cekatan dan menyeka airnya, aku membuka suara. "Tapi terlepas dari Asu-nee, aku senang Kureha juga sepertinya junior yang mudah diajak bekerja sama."

Nanase melirik ke arahku sejenak, lalu menjawab dengan nada bercanda. "Sampai-sampai ada orang tertentu yang senyum-senyum sendiri, ya."

"Hentikanlah, bukan begitu maksudku."

"……Maaf, yang tadi itu agak kurang sopan."

"……Ngomong-ngomong, apa Kureha-chan punya pacar, ya?"

"Oi."

Meski aku hanya merespons tanpa niat apa pun, sepertinya dia menanggapinya dengan lebih serius dari dugaanku, jadi aku pun menutupinya dengan candaan. Kami saling pandang, lalu tertawa kecil secara bersamaan.

Jika diingat kembali, dia memang gadis yang sangat cantik hingga tidak kalah jika disandingkan dengan Nanase. Hanya saja, gumamku dalam hati sambil tersenyum kecut.

Bukannya aku tidak bisa melihat gadis lain dengan cara seperti itu, tapi saat ada seseorang yang datang dengan sikap yang begitu tulus, aku hanya bisa menganggapnya seperti seorang adik. Ah, tapi memikirkan hal semacam itu secara sepihak pun rasanya terlalu tidak sopan bagi Kureha.

Nanase yang sudah selesai mencuci piring berkata sembari menyeka tangannya dengan handuk. "Chitose, boleh aku memindahkan mejanya sebentar?"

"Boleh saja, tapi buat apa?"

Tanpa tahu alasannya, kami berdua memegang kedua ujung meja lalu menggesernya ke arah dinding. Nanase kemudian melangkah menuju kamar tidur, lalu kembali sambil mendekap lampu berbentuk bulan sabit yang dulu kuberikan sebagai hadiah ulang tahunnya dengan penuh kasih sayang.

Dia meletakkannya di atas meja yang sudah dipindahkan, mencolokkan kabelnya ke stopkontak, lalu menyalakan lampunya. Saat dia mematikan lampu ruangan, bulan sabit itu pun tampak mengambang dengan temaram di dalam ruang tamu.

Nanase tersenyum kecil sembari mengulurkan tangannya. "Aku tidak akan menyentuh bagian yang macam-macam, jadi boleh pinjam ponselmu?"

"Tidak perlu meminta izin seperti itu, aku tidak khawatir kok."

Sesuai permintaannya, aku menyerahkan ponselku, lalu dia mulai mengoperasikannya dengan cara yang membuat layarnya tetap bisa kulihat secara tidak langsung. Padahal aku bilang tidak khawatir, tapi detail seperti ini memang sangat khas Nanase.

Dia membuka aplikasi musik yang hanya kubuatkan akun gratisnya dan jarang kugunakan, lalu mulai mencari sesuatu. Sepertinya dia sudah menemukan lagu yang dicarinya, karena dia kini menatapku dengan tatapan jenaka dari balik bulu matanya.

"Pangeran, apakah kau paham soal dansa?"

"Menurutmu?"

"Bukankah tidak keren jika ketua dan wakil ketua pemandu sorak melakukan langkah dansa yang kaku?"

"Kamu ini mau memanggilku Pangeran atau Ketua, sih?"

Saat Nanase mengetuk layar ponsel, suara vokalis pria yang terasa sensual mulai mengalir. Pada layar tersebut terpampang tulisan 'Mary Jane'.

Tentu saja aku pun mengerti maksud Nanase. Aku menarik sudut bibirku sedikit lalu membuka suara.

"Apa kau berniat melakukan slow dance dengan lagu oldies saat pemandu sorak nanti?"

"Siapa tahu Putri Salju kita akan mengadakan pesta dansa?"

"Kalau begitu kita harus menyiapkan sepatu kaca sebagai properti, dong."

"Buatlah sepatu kaca yang tidak bisa kupakai, ya."

Ini pasti semacam permainan tangan yang sangat khas Nanase. Sama sekali tidak memiliki arti apa pun, namun hanya memiliki satu arti saja.

Seolah menapaktilas malam yang penuh obrolan kala itu, Nanase berkata.

"Malam ini, maukah kau berdansa denganku?"

"Malam ini, mari kita berdansa."

Oleh karena itu, malam ini aku pun akan kembali ke musim semi itu. Jika kukatakan tidak ada keraguan, itu bohong. Jika kau tahu ada rasa malu, itu akan menjadi kebiasaan.

Bukankah karena mengulangi hal-hal seperti itu, akhirnya menjadi seperti ini?

Seseorang berbisik di telingaku. Berisik sekali, tanpa kau beri tahu pun aku sudah paham. Namun, jika aku hanya terus menghindar, aku tidak akan pernah sampai ke tujuan. Di dalam hal-hal seperti inilah, aku akan mencari hal-hal itu.

Agar suatu saat nanti, aku bisa memberinya sebuah nama────.

Di tengah keremangan yang diterangi oleh bulan sabit, seorang anak laki-laki dan perempuan menjadi seorang pangeran dan ratu palsu. Aku merentangkan tangan kananku dengan gaya yang sengaja dilebih-lebihkan, lalu meletakkan tangan kiriku dengan santai di dekat pinggang.

Nanase menggenggam tangan kananku dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya yang bebas diletakkan dengan lembut di bahuku. Agar tidak menyentuh namun tidak terpisah, kami saling mendekatkan pipi masing-masing. Aku melingkarkan tangan kiriku yang tadi menggantung di pinggang Nanase.

Lalu mulailah langkah pertama.

Langkah yang kami ambil tanpa rencana sebelumnya ternyata saling tumpah tindih dengan cara yang tidak bisa dihindari, menyadarkanku bahwa kami adalah dua jiwa serupa yang tak tergantikan. Dari dada yang saling berselisih dengan rasa pedih, detak jantung Nanase terasa merambat sampai ke arahku.

Celah di antara kedua pipi kami yang seperti sebuah alasan kini terasa begitu panas hingga tidak bisa disembunyikan. Terbuai dalam jarak yang sedemikian dekat hingga suara kedipan mata pun seolah terdengar, namun kami tetap tidak saling bertukar pandang.

Kami melangkah dengan acak, lalu berputar dengan anggun seolah-olah sudah berjanji sebelumnya. Seandainya Putri Salju kami mengadakan pesta dansa sekalipun. Meski tahu akhir bahagia untuk kami berdua tidak akan pernah datang, kami tetap terus memerankannya.

Nanase membisikkan dialognya seolah-olah sedang berada di atas panggung.

"Cermin, oh cermin."

Dia menjauhkan wajahnya sedikit, lalu menatapku dengan mata sayu yang menggoda bak seorang penyihir yang sedang merapalkan mantra.

"Siapakah yang paling cantik di dunia ini?"

Pertanyaan itu seolah ditujukan kepadaku, dan agar aku tidak terperangkap dalam godaan itu, dan agar aku bisa memalingkan wajah, aku kembali mendekatkan pipiku kepadanya.

◆◇◆

Esok harinya, lewat pukul tujuh malam. Kami para anggota pemandu sorak kelas 2-5, bersama Asu-nee dan Kureha, mendatangi gerai rantai lokal khas Fukui, "Orebo Station", yang terletak paling dekat dari sekolah.

Ini adalah toko yang menggabungkan minimarket biasa, toko bento, dan kantin dalam satu tempat.

Di samping area minimarket berjejer berbagai macam lauk-pauk (sozai) dan bento yang dimasak langsung di dalam toko, yang tentu saja bisa dibawa pulang atau dimakan langsung di area makan (eat-in).

Selain itu, kantinnya menyediakan banyak menu paket nasi (teishoku) yang bisa dipesan dengan harga sekitar satu koin (500 yen), jadi aku pun sering menggunakannya jika sedang malas memasak sendiri.

Tadi kami berencana untuk membawa pulang makanan ke taman terdekat jika ada pelanggan lain, namun untungnya area makannya sedang kosong.

Persiapan festival sekolah memang seperti berpacu dengan waktu. Karena semua orang kecuali aku, Kenta, dan Asu-nee adalah anggota klub, kurasa mulai sekarang frekuensi berkumpul di malam hari seperti ini akan meningkat.

Sebagai informasi, Kureha ternyata anggota klub atletik. Aku terkejut saat tahu spesialisasinya adalah lari 100 meter dan dia pernah berkompetisi di Inter-High.

Setelah masing-masing membeli makanan, kami masuk ke area makan. Kelompok laki-laki memilih menu makan di tempat seperti Katsudon atau kari, sementara para perempuan memilih menu prasmanan khas Orebo.

Ini adalah sistem di mana pembeli mendapatkan wadah khusus lalu bebas memilih nasi, nasi goreng, pasta, hingga lauk pauk seperti ayam lobak atau nikujaga yang dijual sebagai sozai di dalam toko. Bisa dibilang, ini seperti membuat bento sesuai selera sendiri.

Kami memesan dua meja kotak untuk empat orang. Kazuki, Kenta, Kaito, dan Haru duduk di salah satu meja, sementara Yuko, Yua, Asu-nee, dan Kureha duduk di meja lainnya. Aku dan Nanase duduk di meja konter yang berada tepat di samping mereka.

Tadi malam, aku sudah memberi tahu semuanya untuk memikirkan konsep penampilannya. Sepertinya sulit untuk mendapatkan ide cemerlang hanya dalam satu malam, tapi daripada dipikirkan sendiri, lebih baik didiskusikan agar ide-ide lebih mudah keluar.

Untuk sementara, kami mulai menyantap makanan masing-masing. Karena duduk di konter membuat punggungku membelakangi meja kotak lainnya, aku segera menghabiskan ramen chashu milikku lalu berbalik menghadap mereka semua.

Sebelum memulai pembicaraan, aku melahap satu suapan besar dashimaki spam onigiri yang kupesan bersama makananku.

Alih-alih terlihat seperti bola nasi, bentuknya lebih mirip sushi raksasa sebesar kepalan tangan gadis remaja, yang sesuai namanya, berisi spam dan telur gulung khas Jepang.

Satu buah saja sudah cukup mengenyangkan, menjadikannya produk legendaris di Orebo yang sering dibeli anak-anak klub olahraga saat pulang latihan.

Setelah mulutku kosong, aku mulai membuka suara. "Kalian boleh lanjut makan, tapi apa ada yang punya ide?"

Yang pertama kali merespons adalah Haru, yang juga sedang melahap dashimaki spam onigiri yang sama. Sekadar informasi, kurasa itu bukan makanan yang cocok dijadikan pendamping menu prasmananmu, Haru.

"Ya, Pocari Sweat!"

"Aku sangat paham apa maksudmu, tapi itu nanti bakal kelihatan seperti iklan banget. Gaya-gaya menari pakai seragam sekolah begitu, kan?"

"Benar juga, sih. Cuma itu yang terpikir olehku."

Selanjutnya, di luar dugaan, Asu-nee perlahan mengangkat tangannya. "Iya, Asu-nee."

"Anu, bagaimana kalau... Burung Biru Kebahagiaan?"

"Ah, ada juga ya ide seperti itu."

"Karena ada dongeng aslinya, kurasa inspirasinya bakal lebih mudah mengalir."

Menurutku itu bukan ide yang buruk. Mungkin karena dia satu-satunya senior, dia sudah memikirkan banyak hal untuk kami.

Nanase yang baru saja selesai makan pun berbalik ke arah Asu-nee dan mengangguk.

"Iya, kurasa itu bisa. Mari kita masukkan ke dalam daftar kandidat. Yang lain bagaimana?"

Berikutnya yang mengangkat tangan adalah Yua. "Bagaimana kalau... Akuarium?"

Aku mengangguk kecil menanggapi kata-katanya. "Bagus. Itu lebih spesifik dan mudah dibayangkan daripada sekadar 'laut'."

"Aku pikir bakal cantik kalau kita buat kostum warna-warni yang berkilauan seperti ikan tropis, lalu tariannya dibuat seolah-olah kita sedang berenang bersama."

"Benar, mari kita masukkan itu juga ke daftar kandidat."

Yua menggaruk pipinya dengan malu-malu. "Aku cuma teringat perumpamaan lucu yang pernah diucapkan Yamazaki-kun di Takokyu dulu, sih."

"Ya, ya, yaaa!" Yuko mengangkat tangannya dengan penuh semangat.

"Something Blue!"

Nanase merespons hal itu. "Heh? Begitu ya."

Aku menggaruk pipi sambil membuka suara. "Aku pernah dengar istilah itu, tapi apa ya artinya?"

Nanase tertawa kecil lalu menjelaskan. "Itu semacam tradisi kuno di pernikahan. Ada istilah Something Four yang konon jika dipakai mempelai wanita akan membawa kebahagiaan. Something Old, Something New, Something Borrowed, dan yang terakhir Something Blue."

"Lalu, konsepnya adalah...?"

Yuko menunjukkan senyum polosnya. "Iya, pernikahan!"

Seketika, suasana menjadi canggung dan aku memalingkan wajah.

Sisi dirinya yang satu ini memang tidak berubah dan membuatku tenang, karena dia pasti mengatakannya murni karena ide itu terlintas begitu saja. Tapi, apa konsep itu tidak terasa terlalu 'berat' setelah apa yang terjadi di antara kita?

Saat aku mencoba memantau situasi untuk memastikan apakah aku saja yang terlalu sadar, ternyata semua orang—kecuali Nanase yang tersenyum kecut—tampak bingung harus bereaksi bagaimana. Yuko mengerjapkan mata dengan bingung sambil mengedarkan pandangannya.

"Lho?"

Setelah terdiam beberapa saat, akhirnya—

"————ghhh."

Sepertinya dia baru menyadari kaitan antara reaksi semua orang dengan apa yang baru saja dia ucapkan. Wajahnya memerah padam dan dia langsung menunduk.

Tak lama, dia perlahan mengangkat wajahnya.

"Maaf ya, Saku."

Dia bergumam pelan dengan tatapan mata seperti anak anjing yang tersesat. Entah kenapa tingkahnya itu terlihat sangat menggemaskan, sehingga aku segera membuka suara untuk mengalihkan suasana.

"Nggak kok, kurasa sudut pandangnya lumayan menarik."

Lalu tanpa sengaja, aku melempar pembicaraan kepada satu-satunya junior yang terbebas dari rasa canggung di tempat ini. "Ehem, apa Kureha punya ide sesuatu?"

Kureha yang sedari tadi tenang mengamati keadaan, menunjuk dirinya sendiri dengan terkejut.

"Eh, aku!?"

Iya, maaf ya punya senpai yang payah begini.

"Aku pikir ide-ide senpai sekalian semuanya keren dan luar biasa, tapi..."

Sekadar info, di malam setelah pertemuan pertama tim pemandu sorak, sepertinya dia mengirimkan pesan salam yang sangat sopan kepada semua orang, termasuk aku dan Nanase.

Dia sangat cepat akrab sampai-sampai sudah memanggil semua orang dengan nama depan, dan bagiku itu sangat membantu karena kami jadi tidak perlu merasa sungkan yang aneh-aneh.

Sepertinya dia memang sudah memikirkannya sebelumnya. Kureha membuka suara tanpa ragu.

"Ide saya masih ada hubungannya dengan laut, bagaimana kalau Bajak Laut?"

““““……Ooh!””””

Tanpa sadar suara kami semua bersahutan. Kureha melanjutkan dengan senyum tanpa beban.

"Soalnya, saya ingin melihat aksi keren dari Senpai-Senpai sekalian!"

"……Bajak laut ya, masuk akal juga."

Nanase-lah yang mengatakan itu setelah berpikir sejenak. "Kalau kita pakai properti seperti pedang, kelihatannya bakal meriah, dan kostumnya pun mudah dibayangkan."

Suara Kureha terdengar riang dan bersemangat. "Iya! Saku-senpai jadi kaptennya, dan Yuzuki-senpai jadi wakil kaptennya!"

Aku mengangguk setuju. "Benar, kalau kita memasukkan unsur aksi panggung (tate), pasti bakal seru."

Kazuki pun sepertinya tertarik. "Saku, kamu masih bisa salto belakang atau backflip, kan?"

"Sudah tidak pernah sejak SD, sih. Tapi kalau latihan, pasti bisa."

Wajah Kureha langsung berseri-seri, dia menyilangkan kedua tangannya di depan dada.

"Pasti keren banget kalau Saku-senpai dan Kazuki senpai melakukannya sambil berpapasan dari kiri dan kanan!"

Kaito berkata sambil memamerkan otot lengannya. "Kalau bajak laut, aku bakal mengayunkan tombak atau kapak raksasa!"

Kureha merespons setiap perkataan dengan sangat serius.

"Kaito-senpai pasti cocok sekali!"

Kenta bergumam pelan sambil membetulkan letak kacamatanya. "……Heh, aku jadi bajak laut ya. Tidak buruk."

"Anu, Kenta-senpai……?"

Sepertinya ada saklar aneh yang menyala di dalam dirinya. Haru menyeringai sambil menautkan tangan di belakang kepala.

"Ah, aku setuju. Daripada disuruh menari seksi atau apa, lebih baik tarian aksi seperti ini, lebih jelas."

Kureha menggaruk pipinya sambil tertawa malu.

"Aku tadi sempat berpikir kalau anak perempuan bakal jadi pihak yang dilindungi, tapi ternyata Haru senpai malah semangat sekali ingin bertarung ya."

Asu-nee tersenyum tipis dan membuka suara.

"Fufu, sepertinya ini akan menjadi petualangan yang indah."

Kureha menghela napas lega.

"Syukurlah. Tadinya saya takut konsep bajak laut bakal terasa terlalu kasar buat Asuka-senpai."

Yua tersenyum hingga matanya menyipit.

"Kureha-chan, terima kasih ya sudah memikirkan ini."

Kureha menundukkan wajahnya dengan malu-malu.

"Tapi aku juga berpikir kalau konsep akuarium milik Yua senpai pasti bakal cantik sekali!"

Lalu secara alami, pandangan semua orang tertuju pada satu orang. Sepertinya dia sudah berhasil mengalihkan perasaannya, dan dengan gaya khas Yuko, dia mengangkat kepalan tangannya tinggi-tinggi.

"Yo-soro!"

Mendengar seruan itu, kami semua pun ikut mengangkat kepalan tangan.

“““““Yo-soro!”””””

Seseorang tiba-tiba tertawa, dan tawa itu menular ke yang lain seperti bunga yang bermekaran. Kureha mengangkat tangannya setengah jalan sambil membelalakkan mata karena terkejut.

"Eh, benar-benar tidak apa-apa!? Yuko Senpai juga setuju?"

"Tentu sajaaa!"

Lalu kami semua secara alami mengambil minuman masing-masing dan berdiri. Nanase berdeham kecil. Seolah ingin mendalami peran sebagai wakil kapten, dia bicara dengan suara rendah yang sengaja dibuat berwibawa.

"Kalau begitu, hadirin sekalian, dengan ini kita resmikan pembentukan kelompok bajak laut kita."

Karena Nanase menatapku, aku menangkap maksudnya dan sengaja memasang ekspresi serius yang dibuat-buat. Dengan nada suara yang dibuat sekeren mungkin, aku mengucapkan kalimat dramatis.

"Arungilah tujuh samudra, dan warnai kelima warna itu dengan warna biru."

Lalu aku mengangkat tinggi-tinggi minuman Royal Sayaka milikku.

"Anak-anak, ayo berlayar————!!"

“““““OOOOHHHHHH——————!!”””””

Suara botol plastik dan kotak karton minuman yang saling beradu terdengar riuh. Itu adalah upacara peluncuran kapal yang sangat khas gaya kami, sebuah tanda dimulainya perang yang penuh nuansa biru. Terasa konyol, riang, namun segar dan jernih.

Meskipun di kapal ini tidak ada rum maupun sampanye, selama ada soda atau Pocari, itu sudah cukup. Bersama teman-teman biasa, senior, dan junior. Hanya sekali ini saja, pikirku.

Tahun depan festival sekolah akan datang lagi, tapi Asu-nee tidak akan ada di sana. Kecuali jika nasib sangat berpihak, Kureha pun tahun depan mungkin akan berada di tim warna yang berbeda.

Dalam pelayaran yang hanya terjadi sekali seumur hidup ini, setidaknya aku tidak ingin meninggalkan penyesalan. Sambil saling menggenggam tangan, kami akan tenggelam semakin dalam ke dalam warna biru.

◆◇◆

Saat keluar dari Orebo, ternyata waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Mengingat kami harus pulang dan membereskan pekerjaan rumah, aku merasa ini beban yang cukup berat bagi mereka yang ikut kegiatan klub.

Aku menoleh ke arah juniorku yang berdiri di sampingku. "Kamu tidak apa-apa? Pasti lelah sekali, kan."

Kureha yang tadinya tampak sedikit lesu, buru-buru tersenyum lebar. "Sama sekali tidak! Begini-begini saya percaya diri dengan stamina saya, kok."

"Syukurlah kalau begitu, tapi jangan terlalu memaksakan diri, ya."

Nanase yang mendengar percakapan itu menyahut. "Chitose, maukah kamu mengantar Kureha pulang?"

"Ah, benar juga."

Mengingat hari sudah selarut ini, aku merasa kurang sreg membiarkan anak perempuan kelas satu pulang sendirian. Kureha melambaikan tangan dengan terkejut.

"Eh, tidak usah, tidak perlu sampai repot-repot begitu."

Nanase tersenyum kecut melihat respons polos itu. "Yah, anggap saja ini bukan kewajiban senior, melainkan hak istimewa."

Dia menjeda kalimatnya sejenak, lalu menatapku dengan tatapan yang sedikit menantang. "Demi seseorang yang ingin terlihat keren di depan juniornya yang imut, biarkanlah dia mengantarmu."

Aku tahu itu hanyalah alasan yang dibuat Nanase demi Kureha. Aku pun mengikuti alur bicaranya.

"Bisa mengantar adik kelas perempuan sampai ke rumahnya adalah impian yang setidaknya pernah dimiliki setiap siswa laki-laki sekali seumur hidup, lho."

Kureha tertawa geli mendengarnya. "Apa itu termasuk Saku-senpai juga?"

Aku membalas dengan nada bercanda. "Iya, mumpung ada kesempatan, aku ingin ikut numpang mewujudkannya."

Kureha menundukkan wajahnya dengan malu-malu sesaat, lalu—

"—Kalau begitu, biar saya yang mewujudkan impian Senpai, ya!"

Dia tertawa lebar dengan sangat ceria. Yuko, Yua, Haru, Asu-nee, dan para lelaki lainnya melihat kejadian itu dengan tatapan hangat. Yah, Kureha memang bisa dibilang MVP hari ini. Tidak ada salahnya memberinya sedikit apresiasi.

Berkat dia, kami bisa melewati kebuntuan yang mungkin akan memakan waktu lama jika dipikirkan sendiri. Mungkin Nanase memikirkan hal yang sama. Nanase yang sedang membuka kunci sepeda cross bike-nya tiba-tiba menoleh ke arahku seolah teringat sesuatu.

"Bagaimana rencana kita selanjutnya?"

"Kita harus segera mematangkan lagu, tarian, dan kostumnya."

Tanpa memutuskan itu, kami tidak bisa memulai latihan kelompok maupun produksi dekorasi. Meski begitu, jika setiap hari kami harus pulang selarut ini setelah kegiatan klub, bebannya pasti akan terlalu berat bagi semua orang.

Saat aku sedang berpikir keras—

"Ya, ya, yaaa!"

Yuko mengangkat tangannya seolah terpikir sesuatu. Dia mengedarkan pandangan ke semua orang sebelum melanjutkan.

"Kalau kalian tidak keberatan, bagaimana kalau akhir pekan ini kita mengadakan kamp latihan menginap di rumahku!?"

““Eh...?””

Suaraku dan Nanase bersahutan.

Memang benar mengumpulkan waktu sekaligus akan lebih efisien, tapi menyerbu rumah seseorang dengan jumlah orang sebanyak ini rasanya sungkan sekali. Nanase menggaruk pipinya dengan perasaan tidak enak dan menatap Yuko.

"Apa tidak merepotkan...?"

"Benar juga."

Aku ingin menawarkan rumahku saja, tapi kalau sekadar berkumpul untuk mengobrol mungkin masih bisa, tapi untuk menginap sebanyak ini rasanya rumahku terlalu sempit.

Yuko menjawab dengan santai.

"Tidak apa-apa! Ayah dan Ibu sedang tidak ada karena pergi kencan wisata!"

Lalu dia melanjutkan dengan sedikit malu-malu. "Lagipula hal seperti ini terkadang terjadi jadi aku sudah terbiasa, tapi kalau akhir pekan sendirian saja rasanya sepi..."

Aku dan Nanase saling pandang. Jika Paman Kotone dan istrinya tidak ada, asalkan kami membersihkan semuanya sebelum pulang, mungkin tidak akan terlalu merepotkan.

Saat aku masih ragu untuk menjawab, Yuko tiba-tiba teringat sesuatu. "Hanya saja, mungkin untuk makanan kita harus menyiapkan sendiri. Terus, sepertinya aku tidak punya kasur lantai sebanyak jumlah orang ini..."

Aku menjawab sambil menggaruk tengkukku.

 "Yah, kalau soal makan dengan jumlah orang sebanyak ini, kita bisa beli ke Texas Hands atau semacamnya..."

Texas Hands adalah rantai piza asal Fukui. Sebagai info, aku bilang "beli ke" dan bukan "pesan", karena jika mengambil sendiri atau makan di tempat, semua produk piza akan didiskon setengah harga meski hanya beli satu loyang.

Sekarang mungkin layanan seperti itu sudah tidak asing, tapi konon Texas Hands-lah yang memulainya pertama kali di tingkat nasional.

"Anu," Yua membuka suara. "Kalau masalahnya cuma soal makan, aku saja yang masak. Karena jumlahnya banyak, mungkin aku tidak bisa membuat sesuatu yang rumit."

Nanase berkata dengan sedikit malu. "Aku juga akan membantu supaya tidak terlalu mengganggu Ucchi."

Aku pun menyambung.

"Soal kasur, di musim seperti ini, kami para lelaki tidur di lantai saja tidak masalah."

Aku melihat ke arah Kazuki dan yang lain, mereka semua mengangguk setuju.

"Apa kegiatan klub kalian semua aman?"

Haru menjawab pertanyaanku. "Aku dan Nana ada latihan hari Sabtu pagi saja, tapi hari Minggunya libur karena ada urusan Misaki-chan."

Melihat reaksi yang lain, sepertinya mereka semua juga tidak ada masalah. Asu-nee dan Kureha pun tampak memiliki ekspresi yang bersemangat. Yah, hal seperti ini memang hanya bisa dirasakan saat festival sekolah.

"Kalau begitu..." Aku menjeda kalimatku sejenak, memastikan wajah semua orang sebelum membuka suara.

"Mari kita lakukan, Kamp Latihan Menginap Kelompok Bajak Laut Biru!"

“““““OOOOHHHH——————!!!!!!”””””

Lalu kami kembali mengangkat kepalan tangan sekali lagi di tengah lautan malam.

◆◇◆

Aku berpisah dengan yang lain di depan Orebo, lalu berjalan santai berdua dengan Kureha menyusuri jalan di tepi sungai. Di jam seperti ini, aku benar-benar menyadari bahwa musim panas telah berakhir. Udara yang menyentuh pipi terasa dingin dan nyaman. Roda sepeda gunung (mountain bike) yang kudorong pun terdengar berputar dengan santai.

Kureha membuka suara dengan perasaan tidak enak. "Maaf ya, seharusnya tadi saya bawa sepeda juga."

"Aku tidak benci berjalan kaki, jadi jangan dipikirkan. Tapi, selama periode persiapan festival sekolah nanti bakal banyak perpindahan tempat, jadi mungkin lebih baik kalau kamu bawa sepeda."

"Baik, ke depannya saya akan berhati-hati!"

"Tidak perlu sampai seserius itu, kok."

Biasanya aku, Yua, dan Asu-nee berangkat sekolah dengan berjalan kaki, sementara Yuko sering diantar jemput mobil oleh Paman Kotone.

Tapi hari ini, entah kenapa mereka semua membawa sepeda. Kureha tadi berpindah dari sekolah ke Orebo dengan dibonceng Kaito, dan si pengemudinya sendiri memasang wajah yang sangat bahagia jadi kurasa tidak ada masalah sama sekali.

Aku merasakan tanda-tanda Kureha menoleh ke arahku dari samping. "Tapi, bisa mengobrol santai dengan Senpai seperti ini adalah sebuah keuntungan bagiku."

Karena kebiasaan bertahun-tahun, sesaat aku sempat ingin mencurigai makna di balik kata-katanya. Namun melihat senyum polosnya itu, aku merasa bersalah karena sudah berpikiran terlalu jauh dan terlalu percaya diri.

Padahal jika diam saja dia terlihat seperti gadis cantik yang sulit didekati, tapi saat berinteraksi langsung ternyata dia punya kepolosan khas adik kelas, mungkin aku saja yang belum terbiasa dengan perbedaan itu.

Aku tersenyum kecut sambil bertanya. "Kenapa Kureha mau masuk pemandu sorak?"

Tanyaku sekadar untuk basa-basi ringan.

"Tentu saja karena ada Senpai sekalian!"

Jawaban yang tidak terduga pun meluncur. "Eh, kami...?" Aku terperangah dan tanpa sadar menunjukkan reaksi yang bodoh.

Kureha melanjutkan seolah itu adalah hal yang lumrah. "Iya! Senpai sekalian kan sangat mencolok di sekolah. Banyak lho anak kelas satu, baik laki-laki maupun perempuan, yang diam-diam jadi penggemar atau mengidolakan kalian."

Aku menggaruk pipi sambil memalingkan wajah. "……Diberitahu hal seperti itu secara langsung membuatku malu."

Tanpa rasa sungkan, Kureha melanjutkan. "Karena itulah, saat rumor kalau Senpai sekalian masuk pemandu sorak tim biru tersebar, tingkat persaingan di kelas kami jadi sangat tinggi."

Sorot matanya yang lurus itu benar-benar membuatku canggung, jadi aku pun mengalihkan pembicaraan. "Ngomong-ngomong, terima kasih untuk yang tadi ya. Kalau konsepnya tidak segera diputuskan, kita tidak akan bisa mulai bergerak, jadi itu sangat membantu."

Wajah Kureha langsung cerah. "Sama-sama! Saya tidak menyangka idenya bakal dipakai, jadi saya senang sekali!"

"Apa kamu tidak merasa sulit karena menjadi satu-satunya anak kelas satu?"

"Sama sekali tidak! Senpai sekalian semuanya akrab dan orangnya baik-baik."

"Begitu ya, syukurlah kalau begitu."

Terlepas dari Asu-nee yang sudah mengenal semuanya, ini adalah pertama kalinya Kureha bertemu dengan yang lain. Meskipun aku sudah mengira sifatnya yang mudah akrab akan membuatnya baik-baik saja, aku tetap merasa sedikit khawatir.

Keheningan yang tenang tiba-tiba menyelimuti, dan suara gemercik air yang lembut pun terdengar. Di sekeliling kami tercium aroma malam bulan September, yang tidak semerbak musim panas namun tidak sekering musim gugur. Tiba-tiba, bayangan juniorku yang diterangi cahaya bulan itu bergoyang.

"Anu, Senpai?"

Aku berhenti saat lengan bajuku ditarik, lalu Kureha yang berdiri tepat di sampingku menatap wajahku dari jarak dekat.

Bulu matanya yang lentik dan panjang mengerjap pelan seperti taburan bintang, dan embusan napas yang keluar bersama kata-katanya menggelitik bibirku dengan lembut.

Kureha mengatupkan bibirnya, lalu menyipitkan matanya seperti bros berbentuk bulan sabit yang indah.

"Saya akan berusaha sekuat tenaga."

Sosoknya saat itu terlihat sangat dewasa, hingga seolah-olah salah mengira dia adalah bunga sakura di malam hari yang baru menunjukkan pesonanya setelah matahari terbenam.

"—Agar bisa menyusul Senpai sekalian, dan agar bisa dianggap sebagai teman."

Aku tidak mampu membalas kata-katanya dengan kalimat seorang senior yang baik.

Kureha menjauhkan wajahnya dan menatap ke depan seolah tidak terjadi apa-apa. "Wah, saya jadi tidak sabar menunggu kamp latihan nanti, Kak!"

Mendengar nada bicaranya kembali seperti semula, aku pun akhirnya tersentak, dan setelah merasa lega aku baru bisa membuka suara. "Iya, masakan buatan Yua itu enak, jadi nantikan saja ya."

"Saya sudah menduga pasti begitu!"

"Lalu," tambahku seolah ingin menekankan. "Bagaimanapun juga, kurasa semua orang sudah menganggap Kureha sebagai teman, kok."

"Terima kasih, saya senang mendengarnya!"

Seorang senior sepertiku, dan seorang adik kelas perempuan. Aku hanya bisa tersenyum getir karena masih belum bisa menangkap jarak antara kami yang terasa jelas namun samar ini.

◆◇◆

Tibalah hari Sabtu siang yang dinanti. Aku sudah berdiri di depan rumah Yuko. Rumahnya memiliki desain modern dengan warna dasar putih, serta aksen hitam dan kayu di beberapa bagian. Ada halaman rumah yang sepertinya cukup luas untuk dipakai latihan tarian ringan bagi sepuluh orang.

Di Fukui yang banyak rumah besarnya pun, rumah ini termasuk yang cukup megah. Meski sudah tak terhitung berapa kali aku mengantarnya sampai ke depan sini sejak tahun lalu, ini adalah pertama kalinya aku masuk ke dalam.

Jika aku terus berdiam diri, rasa ragu pasti akan muncul. Jadi, dengan perasaan seringan mungkin, aku menekan bel pintu itu.

Seketika, seolah memang sudah menunggu, pintu terbuka dan—

"Saku!"

Yuko, yang memakai pakaian kasual yang lebih santai dari biasanya, menghambur keluar dengan ekspresi yang tampak terdesak. Dia berlari kecil mendekatiku.

"Hei, jangan terburu-buru begitu, nanti jatuh lho."

Seolah kata-kataku tidak sampai ke telinganya, dia membuka gerbang, melangkah keluar, lalu segera menutupnya kembali dengan rapat. Sambil mengatur napasnya yang sedikit terengah, dia menggenggam tanganku erat dengan kedua tangannya.

"Maafkan aku."

Dia menatapku dengan mata berkaca-kaca yang seolah-olah akan tumpah kapan saja.

"Aku... aku melupakan janji yang sangat penting."

Aku langsung memahami makna dari kata-katanya yang tiba-tiba itu. Sebab, tadi malam—aku pun mengingat hal yang sama persis.

'——Suatu saat nanti, kalau momen yang istimewa itu datang.'

Kata-kata yang terucap di jalan pulang bulan April lalu kembali terngiang. Memang benar segalanya telah berubah bagi kami, sehingga hari istimewa yang kami bayangkan saat itu mungkin bentuknya menjadi sedikit berbeda sekarang.

Yuko mengatupkan bibirnya rapat, lalu dengan ragu-ragu dia mulai membuka suara.

"Anu, kalau Saku tidak—"

Namun, aku memotong kalimatnya.

"—Terima kasih. Ternyata Yuko juga masih mengingatnya dengan baik."

"Eh...?"

Seandainya Yuko tidak mengucapkannya, aku berniat membiarkannya terkubur saja. Kata-kata yang terjatuh di batas antara siang dan malam yang sentimental, sejujurnya, meski dilupakan di dasar saku selama sepuluh tahun pun tidak akan ada yang merasa keberatan.

Meski begitu, Yuko menyebutnya sebagai janji yang penting. Jika senja itu masih tersisa di hati kami berdua, maka— Aku menyeringai lebar dan berkata.

"Mari kita jadikan dua hari ini sebagai kenangan istimewa untuk semua orang. Untuk sekarang, biarlah kita anggap begitu saja dulu."

Yuko mengatupkan bibirnya rapat seolah sedang menahan malu, lalu menyipitkan matanya dengan penuh kasih sayang.

"Iya, dimengerti."

Dia mengucapkannya dengan suara yang lembut, lalu seolah tidak bisa menahan perasaannya lagi, wajahnya melunak.

"—Sampai suatu saat nanti, aku bisa menjadi bagian dari hari-harimu yang biasa."

Dia tersenyum malu-malu sambil tertawa kecil.

◆◇◆

Saat dibimbing oleh Yuko masuk ke ruang tamu, aku langsung terkesima dengan luasnya. Aku tadinya mengira rumahku sudah terlalu mewah untuk ditinggali sendirian, tapi tempat ini sepertinya dua kali lipat lebih luas.

Berbeda drastis dengan tampilan luar yang serbaputih, interiornya memiliki suasana tenang dengan nuansa kayu. Area bersantai yang berisi sofa dan televisi dibuat satu tingkat lebih rendah dari lantai di sekitarnya.

Aku sempat merasa agak minder melihat set audio yang tampak sangat mahal, namun saat mendengar lagu J-POP populer yang sudah akrab di telinga mengalir dari sana, bahuku sedikit rileks.

Tok tok tok. Kot kot kot.

Tiba-tiba, aku menyadari suara yang sudah sangat akrab di telingaku sepanjang musim panas ini. Aku pun mengalihkan pandanganku. Kalau tidak salah, tipe dapur ini disebut island kitchen.

Yua, yang berdiri di area dapur independen yang tampak seperti pulau terapung di ujung ruang tamu, menyapa. "Selamat siang, Saku-kun."

Melihat sosoknya yang memakai celemek, aku membalas. "Ouh, kamu cepat juga ya datangnya. Apa kamu sedang menyiapkan makan siang?"

"Aku pikir mungkin ada yang belum makan, meski kita tidak benar-benar memutuskannya, jadi aku bersiap-siap saja. Lagipula Yuzuki-chan dan Haru-chan pasti lapar setelah latihan klub."

"Kebetulan aku punya firasat ini bakal terjadi, jadi perutku sudah kosong dan siap tempur."

"Fufu," Yua tertawa sedikit malu. "Kotone-san memintaku, 'Aku tidak butuh uang sepeser pun, jadi tolong habiskan saja bahan makanan yang tersisa!'. Jadi, makan siangnya cuma pasta ala Jepang seadanya."

Yuko menanggapi kata-kata itu. "Duh, Ibu memang selalu berlebihan kalau beli stok pasta."

Aku tersenyum kecut. "Tenang saja. Dengan personel yang ada hari ini, meski kamu merebus pasta sebanyak apa pun, pasti bakal ludes."

Saat kami bertiga saling pandang dan tertawa, bel pintu berbunyi. "Iyaaa, sebentar."

Yuko berlari kecil menuju pintu depan, dan tak lama kemudian dia kembali bersama Asu-nee. Dia memakai gaun terusan putih yang sama seperti saat kami pergi ke Tokyo, lengkap dengan tas botol kulit retro. Padahal itu baru beberapa bulan yang lalu, tapi rasanya sudah sangat nostalgik.

Asu-nee menatapku dan Yua, lalu membuka suara dengan sedikit malu. "Halo, permisi..."

Aku merasa kata-kata itu bukan sekadar ditujukan untuk rumah Yuko, melainkan untuk lingkaran pertemanan kelas 2-5 ini. Aku pun tersenyum tipis. Karena hampir setiap kali bertemu Asu-nee kami selalu berdua saja, suasana ini memang terasa agak aneh.

Karena dia tampak gelisah dan celingukan, aku mengambil tas botolnya dan meletakkannya di sudut ruang tamu bersama tas ranselku. "Kantong plastik itu isinya apa?"

Mendengar pertanyaanku, Asu-nee mengangkat kantong plastik yang dibawanya. "Oh iya. Hiiragi-san, ini bukan sesuatu yang mewah, tapi ini oleh-oleh untuk dimakan bersama."

Wajah Yuko langsung berseri-seri. "Wah, asyik! Isinya apa!?"

Mungkin karena malu melihat reaksi Yuko yang lebih heboh dari dugaannya, Asu-nee menggaruk pipinya dengan perasaan tidak enak. "Anu, ada Papico, Chupet, lalu Choco Monaka Jumbo... pokoknya bermacam-macam es krim."

"Ah, itu kan kesukaan Kaito! Nanti saat istirahat kita makan bareng-bareng, ya!"

Yuko menerima kantong plastik itu dengan senyum lebar, lalu melangkah riang menuju lemari es. Aku berkata kepada Asu-nee yang masih berdiri mematung.

"Sambil menunggu yang lain kumpul, bagaimana kalau duduk dulu?"

Mendengar itu, dia melirik ke arah Yua sebentar sebelum menjawab. "Benar juga, sepertinya tidak ada hal yang bisa kubantu di sana."

Saat kami duduk di sofa dengan sedikit jarak di antara kami, Asu-nee bertanya dengan gelisah. "Kalian memang selalu berkumpul seperti ini?"

Aku menahan tawa sambil menggeleng kecil. "Kalau maksudmu di rumah Yuko, ini juga pertama kalinya bagiku. Sepertinya cuma Yua yang pernah ke sini, tapi dia bilang tidak pernah menginap."

Pipi Asu-nee melunak dengan gembira. "Begitu ya! Aku... aku tidak tahu apakah aku boleh menyebut kalian sebagai 'teman', tapi..."

Melihatnya melirik Yuko dan Yua dengan malu-malu, aku tersenyum kecut. Aku paham perasaannya, tapi tetap saja aku ingin mengomentarinya. "Yah, tentu saja sebut teman saja tidak apa-apa."

Mungkin masih merasa sungkan, Asu-nee melanjutkan dengan nada bicara yang agak ragu. "Ini pertama kalinya aku menginap di rumah teman."

Melihatnya begitu bersemangat seperti ini, aku merasa sangat senang telah mengajaknya bergabung ke tim pemandu sorak. Aku menggodanya.

"Nanti malam kita semua bakal perang bantal, lho."

"Aku tidak mau, soalnya kamu kasar kalau di atas tempat tidur."

"Berhenti mengatakan hal-hal yang memicu kesalahpahaman."

Di tengah percakapan itu, sepertinya ada orang lain yang datang. Yang masuk bersama Yuko adalah Kureha. Dia memakai hoodie lengan pendek ukuran besar (oversize) yang dipadukan dengan rok lipit pendek.

Kureha menatap orang-orang yang ada di ruang tamu, lalu menatap Yuko yang berdiri di sampingnya. "Semuanya, mohon bantuannya untuk dua hari ini!"

Dia membungkuk dengan enerjik dan sopan. Aku, Yua, dan Asu-nee pun menjawab secara bergantian.

"Ouh, mohon bantuannya juga."

"Mohon bantuannya ya, Kureha-chan."

"Saya juga, mohon bantuannya, Nozomi-san."

Kureha mengangkat kepalanya, lalu menyeringai jenaka. Dia mengangkat kotak yang dibawanya. "Saya juga bawa oleh-oleh!"

Wajah Yuko tampak ceria. "Ah, Mister Donut!"

Berdasarkan info yang pernah kulihat entah di mana, Fukui konon adalah prefektur dengan jumlah gerai Mister Donut terbanyak per 100.000 penduduk di Jepang. Terlepas dari benar atau tidaknya hal itu, donat memang sudah menjadi pilihan oleh-oleh standar sejak dulu.

Baik di acara kumpul keluarga atau perayaan klub, pemandangan piza Texas Hands dan donat Mister Donut berjejer di atas meja adalah hal yang sangat lumrah. Saat aku sedang melamunkan hal itu, Kureha melanjutkan.

"Yuko Senpai suka yang mana?"

"Coconut Chocolate!"

"Sudah saya belikan!"

"Kalau Kureha sendiri?"

"Tentu saja cuma Donut Pop! Soalnya saya serakah, jadi mau semuanya!"

Mereka berdua tertawa bersama. Setelah selesai berbasa-basi dan meletakkan barang-barangnya, Kureha menghampiri kami. Dia berdiri di dekatku sambil memasang wajah yang tampak sangat serius.

Asu-nee dan aku saling pandang, lalu aku menegurnya. "Meski aku yang mengatakannya, tapi duduk saja, jangan sungkan."

Kureha menjawab dengan wajah yang tetap serius. "Antara di sebelah Senpai atau di sebelah Asuka-senpai, ini adalah pilihan yang sangat sulit."

Mendengar itu, aku kembali menatap Asu-nee, dan kali ini kami benar-benar tertawa geli. Ternyata hal sesepele itu yang dia pikirkan. Asu-nee pun ikut tertawa sampai bahunya berguncang.

Aku menepuk permukaan sofa di sampingku. "Kalau mau, kami bisa bergeser sedikit? Masalah selesai kalau kamu duduk di tengah, kan."

Dia langsung menjulurkan telapak tangannya ke arahku dengan tegas. "Tidak, itu terasa seperti lari dari pilihan, jadi tidak apa-apa!"

"Berlebihan sekali."

Setelah berpikir keras selama beberapa saat—

"Sudah kuputuskan, aku mau di sebelah Senpai saja!"

Bafun, dia langsung duduk dengan penuh tenaga. Rok lipit pendeknya sempat terangkat sedikit, membuatku buru-buru memalingkan wajah.

"Kureha, kamu bawa baju ganti, kan?"

"Eh? Kenapa memangnya?"

"Kamu tidak akan bisa memikirkan koreografi tarian dengan rok seperti itu."

Kureha sempat melongo, lalu buru-buru menekan roknya erat-erat. Dengan mata yang menunjukkan rasa bersalah alih-alih rasa malu, dia membuka suara.

"Apa jangan-jangan, saya baru saja mengotori mata Senpai?"

"Bukan mengotori mata, sih, lagipula aku hampir tidak melihat apa-apa jadi jangan cubit pinggangku Asu-nee sakittt——"

Saat aku menoleh ke arah Asu-nee, dia sedang membuang muka dengan ketus. "Eh, tunggu? Bukannya tadi itu peringatan yang benar dari seorang senior?"

"Kamu memang punya sisi yang seperti itu, ya."

"Apa kamu merajuk karena tidak dipilih untuk duduk di sampingmu?"

"Aku tidak merajuk."

Kureha yang mengamati interaksi kami dengan penuh minat buru-buru menyahut. "Tunggu sebentar, Asuka-senpai, bukan begitu maksudnya!"

Kali ini giliran Asu-nee yang panik. "Ah, maaf ya Nozomi-san. Itu cuma bercanda, kok, jangan dimasukkan ke hati."

Karena mereka jarang punya kesempatan mengobrol di tempat yang ramai, tanpa sadar mereka membawa gaya interaksi sehari-hari ke sini.

Memang benar jika mendengar percakapan tadi, tidak heran jika Kureha menganggap Asu-nee marah karena ulahnya. Aku pun harus mawas diri, pikirku dalam hati.

Di tengah pemikiran itu, Kureha menatapku dengan mata yang kali ini tampak menunjukkan rasa malu alih-alih rasa bersalah.

"Soalnya Asuka-senpai terlalu cantik, kalau saya duduk di sampingnya saya pasti bakal gugup dan tidak bisa bicara apa-apa... Jadi lebih baik di sebelah Senpai saja."

Begitu ya, jadi itu alasannya memilih duduk di sampingku.

……Hm? Tunggu sebentar, apa maksudmu itu, oi junior!"

Saat aku melontarkan protes itu, kedua orang di sampingku saling pandang dan tertawa geli. Asu-nee berkata sambil bahunya berguncang karena tertawa.

"Terima kasih. Tapi, kata 'cantik' itu sepertinya lebih cocok untuk orang seperti Nozomi-san, kan?"

"Tidak, tidak, tidak mungkin. Menurut saya Asuka-senpai memang dilahirkan hanya untuk memakai gaun terusan putih ini!"

Saat aku sedang merengut karena merasa ditinggalkan dalam percakapan di atasku, Asu-nee menoleh padaku. "Nozomi-san bilang dia merasa lebih tenang di sampingmu."

Mendengar itu, Kureha tersenyum lebar. "Iya! Aku ingin terus berada di samping Senpai selamanya!"

"Nggak senang juga, tuh!"

Sambil menimpali mereka berdua, di dalam hati aku merasa lega. Kureha yang saat pertemuan pertama kupikir terlalu serius, ternyata bisa mencair dengan sangat cepat. Bukannya karena aku senior atau ketua pemandu sorak, tapi setidaknya aku ingin acara ini menjadi kenangan tak terlupakan bagi semua orang yang berpartisipasi.

Kureha yang sedang asyik mengobrol dengan Asu-nee tiba-tiba menoleh padaku. Apa mungkin dia mengira aku benar-benar tersinggung? Tapi, dia menumpukan kedua tangannya di sofa, mengangkat pinggulnya, dan merapat padaku. Dalam jarak yang sedemikian dekat hingga kami bisa merasakan suhu tubuh masing-masing, Kureha berkata.

"Sama seperti Asuka-senpai yang menjadi sosok 'senior' bagi Senpai, Senpai adalah sosok 'senior' bagiku."

Mendengar nada suaranya yang terasa sangat tulus itu, aku menanggapinya dengan candaan agar dia tidak perlu merasa sungkan. "Yah, terima kasih. Sayangnya aku tidak secantik Asu-nee."

"Ah, Senpai malah bercanda ya. Kalau begitu aku juga punya cara lain."

Lalu, keheningan menyelimuti sesaat—

"—Hei, Saku-nii?"

Kureha mengucapkannya dengan nada suara yang sangat sensual hingga membuat bulu kuduk berdiri.

Aku menatap Asu-nee, dan Asu-nee menatapku. Seolah tidak terpengaruh sama sekali, Kureha melanjutkan dengan suara yang lembut.

"Jangan perlakukan aku seperti anak kecil begitu."

Melihat matanya yang menyipit sayu dan bibirnya yang sedikit terbuka, aku tanpa sadar kehilangan kata-kata. Saat aku bingung harus bereaksi bagaimana, Kureha kembali ke nada bicara aslinya.

"Bercandaaa. Habisnya aku iri melihat hubungan kalian berdua, jadi aku mencoba menirunya."

Aku dan Asu-nee saling pandang lalu menggaruk pipi.

"Tolong jangan panggil begitu."

Sungguh, entah saat di jalan pulang waktu itu atau sekarang, aku masih belum terbiasa dengan sisi Kureha yang satu ini. Meskipun tampilannya terlihat dewasa padahal jiwanya masih khas adik kelas, terkadang dia bisa terlihat sangat menggoda hingga membuat jantung berdebar.

Mungkin itu hanya candaan belaka seperti yang dia katakan, atau mungkin itu adalah gejolak masa puber antara masa kanak-kanak dan dewasa. Bagaimanapun juga, menjahili senior seperti ini memang sudah jadi tugas seorang junior, ya.

◆◇◆

Setelah itu Kazuki, Kaito, dan Kenta datang secara berturut-turut, dan terakhir anggota klub basket putri pun tiba. Nanase membuka suara sambil mengangkat satu tangannya sedikit di depan wajah.

"Maaf, latihan klub agak molor gara-gara seseorang."

Mendengar itu, Haru membalas dengan ketus. "Itu kan karena Nana memancingku di detik-detik terakhir."

Yah, mereka pasti sedang bersemangat bertanding seperti biasanya. Nanase menyerahkan kantong plastik dengan perasaan tidak enak.

"Ini, Yuko. Karena cuma sempat mampir ke minimarket, isinya cuma bermacam-macam camilan seadanya."

Yuko menerimanya dengan senang. "Terima kasih! Lagipula aku baru sadar belum menyiapkan apa-apa, jadi ini sangat membantu."

Tanpa memedulikan interaksi mereka berdua, Haru langsung menghampiri Yua. Mungkin dia melihat pasta yang sudah hampir matang, wajahnya langsung cerah.

"Yuzuki, pilihan yang tepat!"

Nanase menyahut dengan senyum percaya diri. "Tentu saja. Aku sudah yakin Ucchi pasti menyiapkan sesuatu."

"Hampir saja, perutku lapar sekali sampai hampir mampir makan gyudon di jalan tadi."

"Tapi datang ke sini dengan ekspektasi seperti itu, apa tidak masalah bagi seorang gadis?"

"Sudah telat kalau dibahas sekarang. Ucchi, aku mau porsi besar!"

Yua mengangguk sambil tersenyum menanggapi permintaan Haru. "Iya, makan yang banyak ya."

Lalu kami semua bekerja sama menyiapkan piring, sumpit, sendok, dan minuman. Kami mengelilingi meja rendah besar di depan sofa dan duduk langsung di atas karpet.

Aku tiba-tiba teringat kamp latihan klub baseball dulu, dan rasa rindu pun muncul.

Aneh memang, meski ini adalah orang-orang yang kulihat setiap hari, hanya dengan ide “menginap bersama” saja suasana langsung terasa mendebarkan.

Menurutku suasana kamp latihan itu sedikit berbeda dengan acara sekolah yang melibatkan banyak orang seperti belajar musim panas atau darmawisata. Duduk di meja yang sama dengan teman dekat, makan makanan yang sama, berlatih bersama, dan tidur bersama. Meski ini adalah kelanjutan dari hari-hari biasa, namun terasa lebih dekat, dan justru karena itulah terkadang terasa sedikit canggung...

Ada yang menjadi sangat heboh, ada yang mencoba bersikap biasa saja namun malah terlihat jaga imej, ada pula yang benar-benar menjadi dirinya sendiri secara alami.

Campuran suasana seperti inilah kenikmatan utama dari sebuah kamp latihan. Yah, meski suasananya jauh lebih indah dibandingkan dengan wajah-wajah kusam rekan setimku dulu.

Aku berdeham kecil lalu membuka suara.

"Kalau begitu, mari kita bersyukur atas berkah alam dan masakan Yua-chan. Mari kita isi perut dulu."

Semua orang menangkupkan tangan dan mengikuti.

“““““Selamat makan!”””””

Pasta yang dibuat Yua adalah pasta ala Jepang yang berisi daging babi, daun oba, cincangan plum kering (umeboshi), dan irisan tipis bawang bombay.

Aku menggulung pastanya banyak-banyak lalu mencicipi sesuap. Dasar bumbunya pasti mentsuyu. Mungkin dia juga memakai sedikit kaldu putih (shirodashi).

Terlepas dari fakta bahwa masakannya memang selalu enak, perpaduan antara rasa gurih dan segarnya terasa sangat pas, tipe rasa yang pasti disukai baik laki-laki maupun perempuan. Karena ini Yua, dia pasti sudah memikirkan hal itu. Sisi dirinya yang satu ini memang hebat, pikirku sambil tersenyum kecut.

Yuko, Haru, dan Nanase yang pernah memakan masakan Yua pun berkomentar secara bergantian.

"Ucchi, nanti ajarkan resep ini ke ibuku ya!"

"Hei, apa ada tambahan lagi!?"

"Memang tidak diragukan."

Berikutnya yang merespons adalah Asu-nee. Dia merasakannya perlahan, dan entah kenapa sesaat matanya menyipit sendu, sebelum kemudian dia tersenyum cerah.

"Uchida-san, ini benar-benar enak."

Yua menjawab dengan malu.

"Maaf ya, karena jumlahnya banyak aku tidak bisa membuat sesuatu yang terlalu rumit."

Biasanya dia akan menyertakan salad dan sup, jadi sepertinya bagi dia sendiri ini masih kurang memuaskan. Asu-nee bergumam pelan sambil sedikit menunduk.

"Kalau begini saja dibilang tidak rumit, aku jadi merasa payah..."

Kaito berteriak seolah ingin menenggelamkan gumaman itu.

"UUUOOOOOOOOOOOOOO!!!!"

Dia melanjutkan dengan wajah yang tampak terharu sekaligus memelas. "Ini pertama kalinya aku makan masakan perempuan selain Ibuku."

Kenta yang berada di sampingnya bahkan tampak hampir menangis. "Aku senang aku masih hidup..."

Yua tersenyum dengan canggung.

"Kalian berdua berlebihan, tahu."

Aku merasa penasaran dan ikut bicara.

"Terlepas dari Kenta, apa Kaito juga benar-benar belum pernah?"

Padahal dia sudah berteman dengan Yua selama satu tahun. Kupikir setidaknya ada kesempatan baginya untuk makan masakannya...

Kaito melotot ke arahku, seolah-olah aku adalah musuh bebuyutan orang tuanya. Dia mengerutkan kening dalam-dalam dan mencibirkan bibirnya.

"Haah? Beraninya kamu bicara begitu, hah!?"

"Apa ini? Kecemburuan dari pria yang tidak populer, ya?"

Mendengar kata-kataku, Kazuki tertawa kecil. "Saku, bagaimana kalau Kaito minta satu suap bekal yang dibuatkan Ucchi untukmu?"

"Jangan bercanda, itu bekalku. Tidak akan kuberikan padamu!"

"Kalau saat kami ke rumahmu, lalu Kaito minta satu suap lauk pauk yang sudah disiapkan Ucchi di sana?"

"Jangan bercanda, itu makan malamku. Tidak akan kuberikan padamu!"

"Nah, lihat kan? Begitulah maksudnya."

Ah, aku akhirnya paham. Sambil menggaruk pipi, aku menatap Kaito. "Ini kesempatan yang mungkin tidak akan datang dua kali, makanlah yang banyak hari ini."

"Berisik, tahu!!!"

Kureha, yang sepertinya sudah gatal ingin menyela sejak tadi, akhirnya membuka suara. "Yua-san, ini pasta terenak yang pernah kumakan seumur hidup!"

"Ahaha, terima kasih, Kureha-chan. Kalau ada kesempatan, kapan-kapan akan kubuatkan yang lebih autentik, ya."

"Benarkah!? Janji, ya!"

Ngomong-ngomong, Kureha memiringkan kepalanya penasaran.

"Apa Yua-san dan Saku-senpai pacaran?"

““——ghhh!?””

Pffft. Aku hebat karena tidak sampai menyemburkan pasta dari hidungku. Yua buru-buru melambaikan kedua tangannya dengan panik.

"K-Kami tidak pacaran!"

Kureha membalas dengan wajah polos. "Tapi, Yua senpai membuatkan bekal dan lauk sehari-hari. Saku-senpai tinggal sendirian, kan?"

Yah, kalau dipikir-pikir memang benar. Junior yang tidak tahu apa-apa dan hanya mendengar percakapan tadi pasti akan salah paham.

Kureha melanjutkan seolah baru teringat sesuatu. "Lalu, aku juga pernah melihat kalian berdua pulang sekolah bersama."

Dia memang sudah tahu tentang kami sejak awal, jadi tidak heran jika dia pernah melihat momen seperti itu. Karena Yua tampak bingung bagaimana menjelaskannya, aku menjawab sebagai gantinya.

"Itu karena gaya hidupku terlalu berantakan, jadi Yua yang tidak tega melihatnya akhirnya mengulurkan tangan. Kalau kami pulang bareng, biasanya itu untuk belanja bahan makanan."

Sepertinya Kureha langsung percaya dengan penjelasan itu. "Begitu ya, Yua-san memang benar-benar baik seperti namanya!"

Lalu, dia melanjutkan lagi.

"Apa Saku-senpai dan Yuzuki-senpai sudah putus?"

Pertanyaannya benar-benar polos tapi menusuk, aku hanya bisa tersenyum kecut. Setidaknya untuk yang satu ini aku sudah punya jawaban siap pakai, jadi aku tidak terlalu panik. Rupanya gosip saat kami pura-pura pacaran dulu sudah sampai ke telinga anak kelas satu, ya.

Nanase melirikku dan mengangguk kecil. Seolah berkata, serahkan saja urusan penjelasan padanya. Setelah aku mengangguk balik, Nanase menundukkan mata dengan ekspresi yang sedikit sedih.

"Sebenarnya aku tidak ingin Kureha tahu soal ini... Dia ini mantan pacar yang mencampakkanku dengan cara yang kejam."

"Benarkah!?"

"Bukan begitu, dasar mantan pacar!"

Saat aku langsung memprotes, Kureha menatap Nanase dengan bingung. "Maaf, maaf."

Sambil menutupi mulutnya dan tertawa kecil, sang mantan pacar melanjutkan. "Waktu itu aku sedang dikuntit orang yang menyebalkan. Jadi, aku meminta Chitose pura-pura jadi pacar sekaligus pengawal, begitu."

Kureha menunduk dengan perasaan sedikit bersalah.

"Begitu ya, orang secantik Nanase senpai pasti memang mengalami hal seperti itu. Maaf sudah mengingatkan hal yang tidak menyenangkan."

Dia membungkukkan kepalanya. Nanase tersenyum tipis.

"Tidak apa-apa, itu justru termasuk kenangan yang indah."

Kureha yang merasa lega segera mengganti topik pembicaraan.

"Ngomong-ngomong, aku pernah menonton pertandingan Saku-senpai, Haru-senpai, dan Yuzuki-senpai, lho!"

“““Serius...!?”””

Suaraku, Haru, dan Nanase berbarengan.

"Iya! Seperti yang kubilang pada Saku-senpai, aku ini penggemar kalian!"

Kali ini aku benar-benar terkejut.

"Pertandinganku di stadion prefektur bulan Juli lalu, kan? Kalau Haru dan yang lain?"

"Pertandingan latihan di aula olahraga sekolah kita bulan Mei dan Juli."

Keduanya adalah pertandingan yang aku datangi. Penontonnya lumayan banyak, dan saat pertandingan pertama, aku juga sibuk mencari sepatu basket Nanase. Terlebih lagi karena aku fokus pada pertandingan, aku sama sekali tidak ingat pernah melihat Kureha.

Yah, lagipula aku memang tidak pintar mengingat wajah orang, pikirku sambil tersenyum kecut. Buktinya, aku bahkan tidak ingat pada Azuma yang pernah bertanding melawanku di turnamen tingkat prefektur saat SMP.

Haru berucap dengan nada nostalgik. "Yang bulan Mei itu saat Nana sedang keren-kerennya, ya."

Kureha bertanya dengan heran. "Nana...?"

"Ah maaf, itu nama panggilan di lapangan basket. Aku Umi dan Yuzuki itu Nana. Itu aturan main klub basket putri supaya taktik dan instruksi tidak ketahuan lawan, tapi kalau sudah sekali diingat lawan ya jadi tidak berguna lagi, sih. Sekarang cuma jadi semacam tradisi."

"Tapi, itu terdengar keren!"

"Yah, tapi sembilan puluh persen penggunaan nama itu di luar pertandingan biasanya untuk mengajak berkelahi."

"Hubungan Umi senpai dan Nana senpai sangat luar biasa. Rasanya benar-benar khas olahraga tim."

Haru menjawab dengan santai. "Terima kasih! Kalau begitu, giliran kami yang nanti pergi menonton turnamenmu, Kureha."

"Benarkah!? Aku sangat menghormati Haru-senpai dan Nanase senpai sebagai sesama gadis atlet, jadi aku bakal semangat sekali!"

"Tentu saja! Kami akan berteriak sekuat tenaga untuk mendukungmu."

Kureha tampak sangat senang hingga bibirnya membentuk lengkungan lebar, namun tiba-tiba dia menunduk lesu. "Aduh, maafkan aku! Karena terlalu bersemangat di depan Senpai sekalian, aku jadi bicara terlalu banyak sendirian..."

Saat aku mengedarkan pandangan, semua orang menatap gadis junior ini dengan tatapan hangat. Meminjam kata-kata Kureha, sangat aneh jika tidak merasa senang di kamp latihan menginap pertama bersama para senior yang dikagumi.

Aku pun dulu pernah menjadi junior seperti itu. Melihat wajah polos senior yang biasanya galak saat latihan, atau melihat senior yang biasanya keren di pertandingan ternyata bisa heboh juga, atau melihat manajer senior perempuan yang biasanya bekerja dengan tenang ternyata lebih cerewet dari dugaanku...

Antara junior, senior, dan senior di atasnya lagi. Misalnya seperti warna biru muda, biru, dan biru tua, mereka membentuk gradasi dengan suhu yang berbeda-beda.

Pasti hubungan senior-junior di masa sekolah akan berbeda dengan saat kuliah atau bekerja nanti.

Tepat saat aku sedang merenungkan perasaan itu dan berniat menenangkannya—

"—Hei, Kureha?"

Yuko, yang sedari tadi tenang mengamati, akhirnya bicara.

"Hal yang ingin kamu tanyakan, hal yang ingin kamu sampaikan, bicarakanlah lebih banyak lagi, ya?"

Nada suaranya seperti sebuah doa, sebuah janji, sekaligus penuh kasih sayang.

"Biarkan kami mengenalmu, dan biarkan kamu mengenal kami. Bahkan setelah festival sekolah berakhir—"

Seolah sedang memasukkan kenangan ke dalam kapsul waktu dari kaleng—

"—Bahkan setelah kita lulus nanti, mari kita tetap jadi teman yang bisa berkumpul bersama."

Yuko tersenyum dengan tulus.

Kureha memejamkan mata seolah sedang meresapi kata-kata itu, lalu wajahnya mekar dalam senyum lebar.

◆◇◆

Setelah makan siang selesai, aku dan Nanase segera membereskan cucian piring. Meja makan dan kursi digeser ke sudut, lalu kami semua duduk melingkar di lantai. Akhirnya, kamp latihan yang sesungguhnya dimulai.

Ada tiga hal besar yang ingin diputuskan dalam dua hari ini: tarian, lagu untuk sesi pertunjukan, dan juga kostum. Pertama-tama, kami memutuskan untuk mendiskusikan arah besarnya bersama-sama. Aku berdiri di tengah lingkaran sambil mengangkat kantong plastik raksasa.

"Karena tadi ada usul untuk memasukkan unsur aksi panggung (tate), aku sudah mampir ke toko serba 100 yen untuk mencari properti yang pas."

Zabaa. Saat aku menumpahkannya, berbagai macam pedang mainan, katana, pisau, busur, tombak, sabit besar, kapak, pistol, hingga perisai berhamburan keluar. Masing-masing sudah kusiapkan beberapa set.

Untuk dipakai saat hari H memang terlihat murahan, tapi ini akan sangat membantu untuk membayangkan koreografinya.

“““Ooooh!”””

Yang pertama bereaksi adalah para lelaki. Aku mengambil sebilah katana. "Heh, sejak dulu aku selalu memilih katana sebagai senjata tokoh utama."

Kaito berdiri dengan penuh semangat. "Kalau secara karakter, aku pasti kapak! Kapak!"

Sambil menaikkan posisi kacamatanya, Kenta menyeringai tipis. "Boleh aku minta satu sabit besar?"

Kazuki berkata dengan wajah yang sok keren. "Aku pilih pistol ganda."

Setelah membagikan senjata yang mereka inginkan, aku berkata. "Untuk menangkap imejnya, bagaimana kalau kita coba simulasi pertarungan ringan?"

Para lelaki mengangguk setuju. Mengabaikan para gadis yang menatap kami dengan tatapan dingin, kami mengambil sepatu dan keluar dari ruang tamu.

Di luar terdapat dek kayu (wood deck) yang cukup luas, dan seluruh halaman ditutupi rumput hijau yang rapi. Para gadis pun terpaksa ikut keluar. Mereka berenam duduk berjejer di pinggiran dek kayu.

Tepat saat aku selesai mengikat tali sepatu Stan Smith-ku—

"—Ada celah!!!"

Kaito menyerang dari belakang. Sambil menahan ayunan kapak dengan sarung katana, aku berteriak. "Kurang ajar, itu melanggar kode etik samurai, tahu!"

Kaito menyeringai licik. "Sayang sekali, aku ini bajak laut."

"Padahal namamu Kaito (laut), tapi bisa juga ya bicara begitu."

Aku melompat mundur untuk memperbaiki posisi lalu mencabut katana. Aku membuang sarungnya, lalu memasang kuda-kuda miring dengan gagang pedang tepat di depan wajah.

"Lancang sekali kau, bajingan. Akan kujadikan kau tumbal bagi pedang Sakuzuki Chitose Sakura-ku ini."

Pffft. Aku bisa mendengar suara Yua yang tertawa geli.

Kaito mengangkat alisnya tinggi-tinggi dengan gaya berandalan dan menjulurkan lidah. Sambil memanggul kapak di bahu kanan, jempol kirinya menunjuk ke tanah.

"Hyah-haaa! Dendam bertahun-tahun akan kubalaskan di sini!"

Di sampingnya, Kenta yang sedari tadi menunduk diam, kini memperbaiki posisi genggaman sabit besarnya. Kacamatanya berkilat misterius saat dia bergumam tenang.

"Apakah kalian mendengarnya? Suara belalang sembah pemotong dewa yang membisikkan perintah untuk menebas leher kalian."

Kazuki memutar kedua pistolnya di tangan lalu memasukkannya ke saku. Dia membiarkan tangannya tergantung lemas dan tersenyum sinis.

"Mari kita mulai pesta dansa di siang hari ini. Akan kubuat kalian menari dengan indah."

Dam dam dam. Yua memukul-mukul dek kayu dengan kepalan tangannya.

Aku merasakan jiwa kekanak-kanakanku bergejolak saat mengumumkan.

"Sudahkah kalian siap? Berikan rasa syukur pada keluarga, dan kata-kata manis pada kekasih. Dan untuk orang yang kalian cintai... ucapkanlah selamat tinggal."

Kaito memasang kuda-kuda kapaknya lagi.

"Sayang sekali, prinsipku adalah tidak pernah memikirkan kekalahan."

Kenta mengayunkan sabit besarnya hingga berkilat.

"Aku sudah terbiasa sendirian."

Kazuki tersenyum tipis.

"Semua orang yang bicara begitu di depanku berakhir dengan lubang angin di dahi mereka."

Di sudut mataku, Yua sedang terbatuk-batuk saking gelinya sambil berpegangan pada Yuko di sampingnya.

Aku menuangkan seluruh haus darahku ke dalam pedang, lalu berseru.

"Mari, bertanding secara jantan!"

““““MAJUUUU!!!!””””

Zan!

Tepat saat kami mempertaruhkan kebanggaan pada senjata masing-masing dan melangkah untuk menentukan hidup dan mati————.

“““““DASAARR LAKII-LAKIIII!!!!!!!!!!””””””

““““Iya, maaf!!!!””””

Ngomong-ngomong, setelah itu kami dimarahi habis-habisan.

◆◇◆

Setelah menenangkan diri, kami mencoba berbagai gerakan yang terlintas di kepala sambil bertukar senjata. Setelah mulai mendapatkan gambaran kasar, Nanase membuka suara.

"Sepertinya kita harus membatasi jenis senjatanya."

Aku mengangguk setuju.

"Benar. Memang lebih meriah kalau macam-macam, tapi kalau dilihat secara keseluruhan malah jadi tidak kompak."

"Senjata kecil seperti pisau atau pistol juga sepertinya kurang cocok. Memang lebih baik pedang atau tombak, benda panjang lebih mudah terlihat dari jauh."

Haru, yang sejak tadi ikut bergabung dengan kelompok laki-laki, menambahkan.

"Lalu, meski ini aksi panggung, kalau cuma tawuran berantakan ya tidak jadi tarian. Misalnya kita berpasangan laki-laki dan perempuan, lalu gerakannya disamakan per pasangan."

Mendengar itu, Kureha mengangkat tangannya tinggi-tinggi dan menatapku.

"Aku mau berpasangan dengan Senpai!"

"Kalau alasannya karena kamu gugup sampai tidak bisa menari jika pasangannya Kazuki, aku akan menebasmu."

"Duh, mana mungkin begitu..."

"Nada bicaramu datar sekali."

Nanase menutupi mulutnya sambil tertawa kecil.

"Boleh saja, kan? Meski pasangan lainnya baru akan diputuskan saat latihan bersama, tapi kita memang butuh contoh untuk tarian berpasangan. Tadinya aku yang mau melakukannya, tapi apa Kureha mau mencoba?"

"Mau!"

Aku sengaja memancingnya dengan nada provokatif.

"Apa kamu sanggup menjadi rekanku?"

"Aku akan berusaha keras supaya bisa mengimbangi Senpai!"

"Baiklah, kalau begitu akan kuwariskan pedang Sakuzuki Chitose Sakura ini padamu."

"Ah, kalau itu tidak usah saja."

Aku tertawa melihat Kureha yang tampak sedikit ilfeel. Yah, karena ini kegiatan gabungan angkatan, berpasangan dengan adik kelas juga bukan ide buruk.

"Semuanya, mau istirahat sebentar?"

Yua melongokkan kepalanya dari ruang tamu. Di atas nampan yang dibawanya sudah berjejer gelas teh jelai (mugicha) dingin dengan es batu.

Yuko menyusul keluar ke dek kayu. "

Ayo makan es krim yang dibelikan Nishino-senpai! Kaito, ada Choco Monaka Jumbo juga lho."

"Serius!?"

Asu-nee tertawa sampai bahunya berguncang. "Aku beli agak banyak, jadi makanlah sepuasnya."

Kami pun masing-masing mengambil teh jelai dan es krim. Para gadis duduk di dek kayu, sementara para lelaki duduk langsung di atas rumput. Setelah menenggak habis teh jelai, aku berbaring santai.

Di langit tampak awan kumulonimbus yang terasa seperti bulan Agustus. Aroma rumput yang terawat dan bau tanah terasa sangat nyaman.

Kalau diingat-ingat, kamp latihan klub olahraga dulu juga rasanya seperti ini.

Teh jelai dingin dibuat di ember plastik raksasa, lalu kami menyiduknya langsung dengan gelas untuk diminum. Saat aku sedang terhanyut dalam memori nostalgik itu—

"Kaaaa-kaaaak."

Kureha berjongkok di sampingku dan melongokkan wajahnya. Melihatnya dari bawah seperti ini, aku kembali menyadari betapa wajahnya memang sangat cantik dan proporsional.

Ngomong-ngomong, para gadis sudah berganti pakaian yang lebih santai agar mudah bergerak. Memang bagus Kureha mengikuti mereka, tapi—

"Lho? Kenapa Senpai memalingkan wajah?"

Masalahnya, dia keluar dengan memakai sports bra warna lavender yang mengekspos bagian perutnya, ditambah celana pendek yang sangat mini.

Bentuk dadanya yang sepertinya hampir seukuran milik Nanase terlihat dengan sangat jelas, dan karena terlalu banyak kulit yang terekspos, aku benar-benar bingung harus melihat ke mana.

Meski dia sudah memakai hoodie tipis karena disarankan oleh Yua, ritsleting depannya dibuka lebar sehingga tidak ada gunanya sama sekali.

Ngomong-ngomong, sepertinya rangsangan ini terlalu kuat bagi Kenta dan Kaito, karena setelah beberapa lama pun mereka masih belum berani menatap wajahnya.

Aku tahu ada wanita yang pergi ke gym atau lari dengan gaya seperti ini, dan biasanya aku tidak merasakan apa-apa. Tapi saat pelakunya adalah gadis yang dekat denganku, aku baru sadar kalau urusannya jadi berbeda.

"Apanya yang kenapa, pakaianmu itu lho..."

Kureha memiringkan kepala dengan polos.




"Kakak, apa jangan-jangan Kakak sedang salah tingkah melihatku?"

"Lebih tepatnya aku sedang bingung, tahu."

Seandainya ini Nanase, yah, aku pasti tetap akan grogi, tapi setidaknya aku masih bisa menerimanya.

Justru karena Kureha biasanya hanya terlihat sebagai junior yang polos, perbedaan drastis ini membuatku bingung. Ada rasa bersalah yang tak terlukiskan karena aku sempat melihatnya sebagai "seorang wanita".

Orang yang bersangkutan justru menjawab dengan santai.

"Aku kan anak klub atletik, jadi aku tidak terlalu keberatan dengan pakaian begini."

"Oalah," akhirnya aku sedikit paham. "Benar juga, kalau di pertandingan atletik, pakaian perempuan memang seperti itu ya."

"Iya! Malahan bawahannya jauh lebih pendek lagi lho."

Aku bangkit duduk. Benar, jika aku menganggapnya sebagai seragam atletik, meski tidak bisa dibilang mudah, setidaknya jadi sedikit lebih gampang untuk diterima. Meski begitu, aku tetap berusaha menjaga pandangan agar tidak terlalu menatap tubuhnya.

"Lalu, ada apa?"

"Ini, ini bagian untuk Kakak."

"Dingin!"

Sesuatu yang dingin menempel di pipiku. Ternyata itu adalah belahan es mambo Chupet. Kureha berkata sambil tersenyum lebar.

"Ayo bagi dua es Papico milik Kakak denganku."

"Iya, iya."

Aku membelah Papico milikku menjadi dua dan memberikan salah satunya. Mungkin karena sudah didiamkan agak lama, setetes air embun jatuh ke arah dada Kureha. Aku buru-buru memalingkan wajah.

"Kak, terima kasih untuk yang tadi."

Mendengar nada bicaranya yang serius, aku menyahut. "Terima kasih untuk apa?"

Kureha memasang senyum penuh rasa bersalah.

"Soal tarian berpasangan. Aku sudah bersikap egois dengan meminta itu."

"Jangan dipikirkan. Seperti yang Nanase bilang, lagipula saat latihan bersama nanti memang harus ada yang memberikan contoh, kan."

"Apa Kakak tidak apa-apa kalau pasangannya bukan Kak Nanase atau yang lainnya?"

"Kamu masih mau membahas soal bahan candaan 'mantan pacar' tadi, ya?"

"Mana ada, ini murni rasa penasaran!"

Tiba-tiba, perasaan jujurku meluncur begitu saja dalam bentuk kata-kata.

"Tidak juga. Malah mungkin aku terbantu karena kamu yang mengajukan diri."

Jika aku menari dengan siapa pun selain dia, aku pasti akan merasakan semacam suasana hati yang rumit. Aku tahu hari untuk membuat keputusan itu akan tiba, tapi setidaknya aku ingin menikmati festival sekolah ini dengan polos. Dalam artian itu, berpasangan dengan junior terasa jauh lebih santai.

Aku menyeringai dan berkata dengan nada provokatif.

"Ngomong-ngomong, aku ini orangnya tidak mau kalah. Karena kita sudah melakukannya, kita harus jadi pasangan yang paling mencolok saat hari H nanti."

Kureha melepaskan mulutnya dari es Papico dan berkata dengan gembira.

"Sip! Aku akan menemanimu sampai akhir, ya!"

"Lho, kok tiba-tiba posisinya jadi terbalik begini!?"

◆◇◆

Setelah istirahat selesai, kami kembali ke ruang tamu dan berkumpul di sekitar meja rendah untuk memutuskan musik terlebih dahulu.

Karena arah tarian sudah mulai terlihat, kami menyimpulkan bahwa akan lebih cepat jika kami memikirkan koreografi spesifik yang disesuaikan dengan lagu yang akan diputar.

Sesi pertunjukan ditetapkan maksimal tujuh menit. Melebihi waktu tersebut akan berakibat pada pengurangan poin, tapi karena kami hanya perlu memutar sumber suara yang pas dengan durasi itu, kami tidak perlu terlalu khawatir saat tampil nanti.

Ngomong-ngomong, tidak ada batasan jumlah lagu. Jadi pada dasarnya setiap tim akan memilih beberapa musik yang sesuai dengan imej mereka, lalu menyambungkannya melalui proses pengeditan.

Saat aku sedang memikirkan hal itu, Asu-nee membuka pembicaraan.

"Kalau temanya bajak laut, sepertinya musiknya cukup mudah untuk dibayangkan, ya?"

Melihat semua orang mengangguk setuju, dia melanjutkan.

"Misalnya lagu seperti 'He's a Pirate' atau 'We Are!' itu kan sudah sangat standar."

Yang pertama adalah lagu latar dari film bajak laut yang sangat hit, dan yang kedua adalah lagu tema pertama dari anime bajak laut nasional.

Kami bukan generasi yang merasakannya secara real-time, tapi siapa pun pasti langsung tahu jika mendengarnya. Jujur saja, lagu yang sama langsung terlintas di kepalaku.

Haru bertanya dengan sedikit malu-malu.

"Maaf, lagu yang pertama tadi itu yang seperti apa ya?"

Aku tahu karena sudah merisetnya sebelumnya, tapi mungkin sedikit orang yang ingat judul lagunya. Aku mewakili Asu-nee untuk menyenandungkannya.

"Itu lho, yang bunyinya De-de-den-den, de-de-den-den, de-de-den-den, de-de-den."

"Paham."

Melihat interaksi itu, Kenta berseru dengan gembira.

"Kalau dari band BUMP yang sering didengarkan 'Tuhan', lagu 'Sailing Day' juga menjadi lagu tema film layar lebar anime bajak laut, kan!"

Aku dan Asu-nee spontan saling pandang.

"Hee, benarkah?"

"Kalau dipikir-pikir, liriknya memang sangat cocok."

Yuko mengangkat tangannya dengan penuh semangat.

"Aku, aku, aku! Lagu 'Yo Ho'!"

““Ah!””

Suaraku dan Asu-nee berbarengan. Benar, kalau bicara soal bajak laut, tidak ada yang lebih pas daripada itu. Berikutnya, Yua mengangkat tangannya pelan.

"Bukan soal bajak laut sih, tapi bagaimana kalau 'The Imperial March' sebelum pertarungan dimulai?"

Itu adalah lagu latar film fiksi ilmiah yang memiliki popularitas universal, dikenal juga sebagai lagu tema karakter antagonis yang ikonik. Mungkin sangat cocok untuk membangun suasana tegang.

"Menarik, boleh juga tuh," kataku, lalu Haru kembali menyela.

"Maaf, kalau yang itu nadanya gimana?"

"Itu yang Den-den-den, den-de-den, den-de-den."

"Sangat paham."

Yua tersenyum malu-malu. "Tapi, apa itu tidak terlalu pasaran ya?"

Tidak, aku menggelengkan kepala.

"Untuk acara sekolah seperti ini, daripada memilih lagu yang terlalu idealis atau aneh, lebih baik pakai lagu yang semua orang tahu agar suasananya lebih meriah. Panggung klub tiup saat festival di luar sekolah juga begitu, kan?"

"Benar juga, mereka biasanya memainkan lagu-lagu hit tahun ini."

Nanase, yang sedari tadi sibuk mencoret-coretkan penanya, berhenti dan bicara.

"Aku sudah mencoba memikirkan garis besar alur pertunjukannya..."

Dia menggeser camilan di atas meja ke pinggir, lalu membentangkan buku catatannya di tengah.

"Secara garis besar alurnya adalah: 'Keberangkatan', 'Pelayaran', 'Bertemu Musuh', 'Pertempuran', 'Tarian Kemenangan', dan 'Perjamuan'. Bagaimana?"

Keheningan sesaat menyelimuti saat kami semua meresapi ide tersebut, lalu Kureha adalah yang pertama berseru.

"Bukankah itu sempurna! Kak Yuzuki memang luar biasa!"

Melihat Nanase yang tampak tersipu karena reaksi jujur itu, Kazuki membuka suara.

"Kita bisa membuat dinamika dan momen puncaknya, dan yang terpenting, alur ceritanya mudah dipahami penonton. Sepertinya bagus."

Aku pun menimpali.

"Bagian 'Keberangkatan-Pelayaran' dan 'Bertemu Musuh-Pertempuran' bisa dijadikan satu alur, jadi praktisnya ada empat bagian, ya. Secara durasi pun pembagiannya terasa pas."

Kaito menggaruk kepalanya yang berantakan seolah sedang bingung.

"Boleh tanya sebentar? Meski temanya ada musuh, tapi yang menari kan cuma kita dari Tim Biru? Kalau cuma aksi panggung biasa mungkin kita tinggal tawuran saja, tapi bagaimana cara mengekspresikan mana lawan dan mana kawan?"

Nanase menjawab dengan agak bingung.

"Hmm, itu dia masalahnya. Kita bisa saja berekspresi seolah sedang mengayunkan pedang ke arah musuh imajiner, tapi memang akan lebih meriah jika ada aksi saling serang secara nyata."

Sambil mengunyah Pocky dengan santai, Haru angkat bicara.

"Kenapa tidak dibagi saja jadi peran musuh dan peran kawan?"

Mendengar itu, Yuko memiringkan kepalanya.

"Tapi kalau begitu, pihak yang kalah tidak bisa ikut 'Tarian Kemenangan' dong?"

"Ah, benar juga."

"Anu," Asu-nee mengangkat tangannya dengan sopan.

"Bagaimana kalau alurnya bukan 'Tarian Kemenangan', tapi 'Tarian Perdamaian'?"

““““Ooooh!””””

Nanase tampak berpikir sejenak lalu bicara.

"Ide bagus. Misalnya, awalnya kita bagi menjadi dua kelompok bajak laut yang dipimpin oleh sang ketua, Chitose, dan aku sebagai wakil ketua. Setelah pertempuran, kita berdamai. Terakhir, kita semua menari bersama."

Yua menimpali seolah baru saja mendapat ide.

"Itu juga bisa diekspresikan melalui kostum. Setelah berdamai, kita semua memakai aksesori kecil yang seragam, atau semacamnya."

Karena semua orang mengangguk setuju, aku menyimpulkan pembicaraan.

"Jadi, kita bagi menjadi Kelompok Bajak Laut Chitose dan Kelompok Bajak Laut Nanase untuk bagian 'Keberangkatan-Pelayaran'. Ini bisa diekspresikan hanya dengan memisahkan posisi kedua tim. Lalu kedua pihak saling berhadapan untuk 'Bertemu Musuh-Pertempuran'. Kemudian kita semua melakukan 'Tarian Perdamaian' dan masuk ke bagian 'Perjamuan'."

““““Setuju!””””

Asu-nee menyelipkan rambut ke belakang telinga dengan jari kelingkingnya lalu bicara.

"Kalau begitu, arah tarian dan musiknya sudah mulai terlihat, ya? Bagian 'Keberangkatan menuju Pelayaran' butuh nuansa mendebarkan seolah petualangan akan segera dimulai."

Aku menjawabnya. "Kalau dari lagu-lagu yang tadi disebutkan, pilihannya ada 'We Are!', 'Sailing Day', atau 'Yo Ho'."

Nanase mencatat di bukunya sambil berkata, "Bagian 'Bertemu Musuh hingga Pertempuran' harus berubah dari suasana mencekam dan berat menjadi lagu yang intens. Untuk bagian awal, 'He's a Pirate' atau 'The Imperial March' sepertinya cocok. Kalau mau memasukkan tarian berpasangan, momennya adalah di sini dan di 'Tarian Perdamaian' berikutnya."

Asu-nee tersenyum kecil.

"Kalau alurnya begitu, suasananya mungkin akan jadi seperti perang sungguhan. Jadi sebaliknya, mungkin kita bisa menempatkan 'We Are!' atau 'Sailing Day' di bagian ini agar suasananya lebih mirip manga pertarungan."

““Benar juga.””

Sambil menyetujui, tiba-tiba muncul sebuah pertanyaan di kepalaku.

"Tapi, kalau kita memasukkan tarian berpasangan di bagian pertempuran juga, secara praktis kita pasti ingin kombinasinya sama dengan saat 'Tarian Perdamaian' nanti, kan?"

Nanase mengerutkan dahi, berpikir sejenak sebelum menjawab.

"Iya, itu akan membuat latihan jadi lebih efisien."

"Artinya laki-laki dan perempuan akan melakukan aksi panggung saling serang, apa secara visual itu akan terlihat bagus?"

"Daripada sesama laki-laki, bukankah melihat sesama perempuan saling menebas juga terasa menyeramkan?"

"Yah, benar sih..."

"Tapi kalau begitu, akan terasa tidak natural jika antarkapten—yaitu aku dan Chitose—tidak bertarung. Apalagi kostum kami akan dibuat berbeda agar mudah dikenali."

"Anu!"

Yang menyela percakapan kami adalah Kureha, yang sedari tadi menyimak dengan wajah riang.

"Ini cuma usul jalan tengah, tapi bagaimana kalau kita memakai sistem tag match!?"

""Menarik.""

"Misalnya, pasangan Kakak dan aku melawan pasangan Kak Yuzuki dan orang lain. Bukankah masalahnya jadi selesai?"

Aku dan Nanase saling pandang, lalu aku bicara.

"Karena jumlah orang yang terlibat bertambah, tariannya mungkin akan jadi sedikit rumit, tapi..."

"Sebagai gantinya, kalau berhasil dilakukan dengan baik, itu akan terlihat sangat keren."

"Tentu saja, para gadis juga akan memegang senjata, kan?"

"Aduh, zaman sekarang mana ada tren wanita yang hanya ingin dilindungi?"

"Benar juga."

Aku menoleh ke arah Kureha. "Bagus, usulmu diterima!"

"Sip! Nanti beri aku hadiah, ya!"

"Lalu, lalu," Kureha melanjutkan. "Untuk 'Tarian Perdamaian', aku ingin temponya sedikit berubah menjadi lagu yang santai dan memberikan kesan dewasa!"

"Aku, aku, aku!"

Kali ini Yuko mengangkat tangannya tinggi-tinggi.

"Boleh aku beri usul juga untuk bagian 'Perjamuan'!?"

Lalu dia menatap wajah semua orang, dan mulai berbicara dengan penuh semangat.

"——————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————"

Setelah mendengar semuanya sampai akhir—

"Menarik juga."

Kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutku secara alami.

Aku perlu memastikan apakah penampilan seperti ini akan mendapat izin sebagai pertunjukan tim pemandu sorak, tapi secara pribadi, menurutku ini ide yang sangat bagus. Jika tidak hati-hati, bisa jadi ini akan menjadi sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya.

Saat aku menoleh ke arah Nanase, dia bergumam dengan sedikit malu.

"……Sejujurnya, aku ingin mencobanya."

Asu-nee juga tampak jauh lebih bersemangat dari dugaanku.

"Mungkin aku akan coba berkonsultasi setelah pulang nanti."

Yua mungkin sudah mendengar hal ini sebelumnya dari Yuko. Dia hanya tersenyum lembut sambil mengamati jalannya situasi. Sementara itu, Kureha tampak sangat bersemangat.

"Aku benar-benar ingin melihat itu!"

Haru tertawa kecil. "Yah, pasti bakal berhasil, kok."

Kazuki, Kaito, dan juga Kenta mengangguk dengan wajah yang menunjukkan bahwa ini akan menjadi sesuatu yang menarik. Aku berdeham kecil, lalu mengepalkan tinju ke depan.

"Kalau begitu, mari kita buat perjamuan yang luar biasa meriah!"

"""""OOOOHHHH!!!!!"""""

Kami pun saling membenturkan kepalan tangan dengan pelan satu sama lain.

◆◇◆

Setelah itu, kami mendiskusikan arah kostum secara singkat. Karena setiap orang sudah memiliki gambaran umum tentang bajak laut, tidak butuh waktu lama untuk memutuskannya. Terlebih lagi, Yua mengambil peran sebagai pemimpin dalam pembuatan kostum, yang sangat membantu.

"Kalau begitu, aku akan merangkum pola dasar dan langkah-langkah pembuatannya. Bagian yang sulit bisa kita cari di internet atau konsultasi dengan anak-anak klub tata busana, jadi pasti akan berhasil."

Berbeda dengan pementasan drama kelas, di tim pemandu sorak semua orang harus berlatih pertunjukan, jadi kami tidak menetapkan penanggung jawab kostum khusus. Kami berbagi konsep dan poin-poin penting yang harus diperhatikan, lalu masing-masing akan membuatnya sendiri.

Meski begitu, para lelaki yang tidak bisa menjahit tampaknya akan banyak mengandalkan orang tua atau para gadis. Seolah bisa membaca apa yang sedang kupikirkan, Yua menatapku.

"Ah, soal punya Saku-kun……"

Belum sempat dia menyelesaikan kalimatnya, suara Kureha menyahut.

"Kalau tidak keberatan, bagaimana kalau aku saja yang membuatkan kostum Kakak!?"

Dia pasti ingat kalau aku tinggal sendirian. Kalau cuma memasang kancing yang lepas sih aku bisa, tapi jika harus membuat kostum, aku jelas tidak percaya diri. Awalnya aku memang berniat meminta bantuan Yua, dan sepertinya tadi dia juga hendak menawarkan hal itu.

Aku menjawab sambil menggaruk pipi. "Kureha, apa kamu bisa menjahit?"

"Aku tidak bilang sangat jago, tapi kalau ada pola dan langkah-langkahnya, kurasa membuat kostum festival olahraga saja sih bisa. Tapi……"

Kureha menjeda kalimatnya dan melirik ke arah Yua. Dia pasti sadar kalau tadi sudah memotong pembicaraan Yua. Dengan perasaan sungkan, dia melanjutkan dengan malu-malu.

"Tapi kalau Yua-san yang melakukannya, aku yakin hasilnya pasti akan jauh lebih bagus……"

Yua menunjukkan senyum lembut yang tulus. "Tadinya memang begitu, tapi bolehkah aku menyerahkannya pada Kureha-chan? Soalnya, sepertinya aku juga akan membuatkan bagian untuk Yuko-chan."

Mendengar itu, Yuko tidak merasa malu dan justru tersenyum lebar. "Ehehee. Mohon bantuannya ya, Ucchi."

Yua menatap Kureha dan melanjutkan. "Kureha-chan, kalau ada hal yang tidak kamu mengerti, jangan sungkan untuk bertanya padaku kapan saja, ya."

"Kalau begitu," kataku sambil mengangkat satu tangan. "Meski agak memalukan sebagai senior, aku boleh minta tolong padamu, Kureha?"

Kureha mencondongkan tubuhnya ke arahku. "Siap, dengan senang hati!"

Dia menepukkan kedua telapak tangannya.

◆◇◆

Dari sini, kami akhirnya mulai masuk ke koreografi tarian yang sesungguhnya. Pertama-tama, kami memilih lagu sementara dan membelinya secara daring. Kenta, dengan laptop yang dibawanya, segera memotong dan menyambungkan bagian-bagian yang diperlukan. Durasinya tampak pas.

Selagi Kenta sibuk mengedit, aku, Kazuki, dan Kaito pergi ke toko bangunan di sebelah pusat perbelanjaan untuk membeli tongkat kayu yang cukup panjang sebagai pengganti pedang untuk semua orang. Sebab, mainan dari toko serba 100 yen pasti akan langsung hancur jika dipakai untuk aksi panggung yang serius.

Setelah kembali ke rumah Yuko, kami keluar lagi ke halaman. Aku, Kazuki, Kaito, Nanase, Haru, dan Kureha—kelompok anak klub olahraga—turun ke halaman sambil membawa tongkat. Anggota yang lain duduk di dek kayu untuk membantu mencari referensi dari film atau video YouTube.

Ngomong-ngomong, hal pertama yang kami tonton adalah penampilan dari klub pemandu sorak SMA Perdagangan Hokuriku, "JETS". JETS adalah tim yang menjadi model untuk film dan drama CheerDance. Jangankan di tingkat nasional, mereka pernah meraih prestasi luar biasa dengan menjuarai kejuaraan pemandu sorak seluruh Amerika sebanyak lima kali berturut-turut. Hampir tidak ada orang di Fukui yang tidak mengenal mereka.

Konon, guru pembina mereka adalah alumni SMA Fujigaya dan pernah menjadi anggota tim pemandu sorak saat festival olahraga. Kenangan menyenangkan saat itulah yang mendasari berdirinya JETS, membuatku merasakan kedekatan yang aneh.

Jujur saja, level mereka terlalu tinggi untuk ditiru, tapi kami sudah mendapatkan gambaran yang cukup tentang bagaimana melakukan gerakan yang terkoordinasi dengan banyak orang.

Sambil memutar musik, kami semua mulai mengeluarkan ide. Kecuali kemampuan meniru gerakan atau wotagei milik Kenta, tidak ada dari kami yang benar-benar punya pengalaman menari. Jadi, aku sudah bersiap jika proses ini akan berjalan sulit. Ada kemungkinan besar koreografi ini tidak akan selesai dalam dua hari ini.

Namun saat dimulai, aku terkejut karena prosesnya berjalan jauh lebih lancar dari dugaanku. Bukannya bermaksud membanggakan diri, tapi peran kelompok anak klub olahraga sangat besar di sini. Tanpa melihat referensi apa pun, ide-ide mengalir begitu saja.

"Cara mengayunkan pedang begini keren juga, kan?"

"Kalau begitu, bagaimana kalau aku menghindarinya seperti ini?"

"Gerakan kakinya bukankah lebih elegan jika seperti ini?"

"Bagaimana kalau sekalian berputar sambil jongkok dan menebas kakinya?"

"Jangan bicara hal yang berbahaya begitu dengan santai, dong. Kalau begitu, aku akan melompat menghindar."

"Melompat ke atas memang bagus, tapi kalau melompat melewati lawan sepertinya lebih mencolok!"

Begitulah ide-ide muncul satu demi satu. Setelah benar-benar mulai memikirkannya, aku menyadari bahwa ini sangat menyenangkan.

Rasanya seperti mendiskusikan secara serius hal-hal yang pernah dikhayalkan setiap anak laki-laki saat masih kecil.

Dukungan dari kelompok yang ada di dek kayu juga sangat menguatkan. Asu-nee mencari gerakan dari film, Yuko dari idol dan grup vokal-tari, Yua dari video sesama siswa SMA, dan Kenta mencari gerakan atau koreografi yang bisa dipakai dari anime. Kami kemudian mempraktikkannya, mengombinasikannya……

Tanpa terasa, saat matahari mulai terbenam, hampir semua bagian kecuali 'Tarian Perdamaian' dan 'Perjamuan' sudah terbentuk. Aku mengusap keringat dengan handuk olahraga. "Ternyata bisa juga ya."

Kaito menimpali. "Iya, tapi ini bukannya jadi keren banget!?"

Sambil meminum teh jelai yang disiapkan Yua, Kazuki berkata. "Meski tingkat kesulitannya agak tinggi, sih."

Kenta langsung memprotes. "Agak tinggi katamu!?"

Yua memiringkan kepalanya dengan bingung. "……Sepertinya bakal cukup sulit untuk menghafalnya."

Asu-nee juga tampak hampir kewalahan. "Kanan, kiri, kanan, kanan, bawah……?"

Yuko mengepalkan kedua tangannya di depan dada. "Aku tidak terlalu paham, tapi tadi itu keren sekali!"

Haru tertawa kecut sambil menggaruk pelipisnya. "Apa jangan-jangan kita terlalu berlebihan?"

Nanase juga memasang wajah merasa bersalah. "Tadi kita memang sempat tidak bisa menahan diri."

Memang benar, rasanya tarian ini jadi terlalu berat karena dirancang oleh orang-orang klub olahraga dengan standar klub olahraga juga. Jika Kenta, Yua, Asu-nee, dan Yuko saja merasa kesulitan untuk mengikuti, maka anggota tim pemandu sorak lainnya pasti akan melontarkan keluhan yang sama saat latihan bersama nanti.

Aku memandang semua orang dan bertanya.

"Kalau memang terasa terlalu berat untuk dilakukan, apa sebaiknya kita buat lebih mudah saja?"

Tepat saat aku mengucapkan hal itu————

"Tetap mau!"

"""Akan kami lakukan!"""

Suara Yuko, Yua, Asu-nee, dan Kenta bergema. Kureha menyahut seolah ingin memberikan dukungan pada mereka.

"Aku akan membantu kalian dengan sekuat tenaga!"

Kami semua saling pandang dan menyeringai lebar.

"Ayo, Chitose, buat gerakannya lebih elegan lagi."

"Tuan, pegangan di pinggangnya kurang kuat tuh—"

"Saku! Tatap mata Kureha dengan benar!"

 "Kalau kamu malu-malu begitu, semuanya jadi berantakan."

"Saku-kun, jangan sampai membuat Kureha-chan malu ya."

"KALIAN PASTI CUMA SEDANG MENIKMATI INI, KAN!!!!!"

Begitulah, kami sedang memikirkan koreografi untuk 'Tarian Perdamaian'. Karena ide 'Perjamuan' yang diusulkan Yuko bukan sesuatu yang bisa diselesaikan hari ini atau besok, bisa dibilang tujuan kamp latihan ini sudah tercapai jika bagian ini sudah matang.

Meski begitu, aku merasa ada yang aneh. Aku paham kalau aku dan Kureha harus menjadi model karena ini adalah bagian tarian berpasangan, tapi penonton di pinggir lapangan ini berisik sekali sejak tadi.

Terutama para gadis, mereka memanfaatkan sifat Kureha yang polos untuk mengajukan berbagai permintaan yang tidak masuk akal satu demi satu.

Nanase berkata. "Oke, sekarang adegan angkat gaya putri (bridal carry)."

Sebelum aku sempat memprotes, Kureha sudah melingkarkan tangannya di leherku. "Kakak, tangkap aku ya?"

Dia melompat tanpa keraguan sedikit pun, jadi aku tidak punya pilihan selain menangkapnya. Paha yang kenyal dan lembut terasa menekan lengan kiriku. Kureha memelukku erat, membuat dadanya yang sudah menonjol karena sports bra itu semakin terasa menekanku.

Meski aku sudah berusaha keras untuk tidak menganggapnya sebagai lawan jenis karena dia junior, namun bersentuhan sedekat ini mau tidak mau membuatku menyadari bahwa dia adalah seorang wanita. Kureha menatapku dengan mata yang sedikit berkaca-kaca.

"Kakak, apa aku berat?"

Aku berusaha tetap tenang dan membalasnya dengan gurauan, sambil menahan diri agar tidak terpengaruh oleh embusan napasnya di leherku. "Bahkan kalau ada lima orang Kureha pun aku masih sanggup."

Kureha menyipitkan matanya dengan jenaka. "Fufu, kalau begitu berikanlah perhatian untuk lima orang itu kepadaku saja."

Sambil berkata begitu, dia melepaskan tangan yang melingkar di leherku, lalu membiarkan kepalanya terkulai lemas seolah-olah sedang menjadikan lengan kananku sebagai bantal. Leher dan dadanya yang berkeringat dan halus semakin terekspos, membuatku spontan memalingkan wajah.

"Hei, ini bukan tempat tidur gantung yang nyaman, tahu."

"Hehehe, bantal lengan Kakak."

"Ini malah terlihat seperti pembunuh yang sedang membuang mayat."

Tiba-tiba aku menyadari Nanase, Haru, Yua, dan Asu-nee menatap kami dengan tatapan dingin.

"Gaya putri sepertinya tidak cocok."

"……Rasa terhina di masa lalu tiba-tiba muncul kembali."

"Maksudku, melihat ini saja sudah membuat kami malu."

"Benar."

"KALAU BEGITU KENAPA TADI KALIAN MENYURUH KAMI MELAKUKANNYA!"

Aku memprotes sambil menurunkan Kureha dengan hati-hati. Di lenganku, sisa hangat dari suhu tubuhnya masih terasa membekas.

Nanase membuka suara, kali ini mengesampingkan candaannya. "Sudah mulai terlihat bentuknya, kan?"

Suara Kureha terdengar riang. "Iya!"

Nanase berkata dengan nada sedikit tidak enak. "Aku tahu kalian berdua sudah lelah, tapi bolehkah kalian menari sekali lagi dari awal sampai akhir?"

Aku mengangguk pelan. "Tentu."

Kureha yang sepertinya masih punya banyak tenaga menyahut. "Siap! Dengan senang hati!"

Sejujurnya, dia benar-benar junior yang hebat. Aku tahu dia punya prestasi bagus di klubnya, dan selain atletis, dia juga sangat cepat dalam menangkap gerakan.

Terlebih lagi, kepribadiannya sangat jujur. Meski kami para senior mencoba berbagai macam koreografi, dia tetap mengikuti tanpa menunjukkan wajah kesal sedikit pun. Ditambah lagi dia sangat ramah. Padahal kami baru bertemu sekitar seminggu, dia sudah benar-benar menyatu dengan semua orang yang sudah lama menghabiskan waktu bersama.

Nanase mengoperasikan laptop, dan lagu dansa yang syahdu mulai mengalun.

"Kakak, mohon bantuannya."

Aku meraih tangannya yang terulur, dan di saat yang sama kami mulai melangkah. Gerakan ini terasa jauh lebih halus dibandingkan saat aku menari dengan Nanase malam itu, seolah-olah kami adalah bayangan yang saling mengikuti. Hingga akhirnya kami merentangkan tangan, dan Kureha berputar masuk ke dalam dekapanku. Punggungnya yang ramping terasa hangat, dan dari tengkuknya tercium aroma yang entah kenapa terasa memikat.

Lalu dia berputar dengan anggun, dan Kureha menyandarkan tubuhnya padaku. Sambil melingkarkan tangan di pinggangnya untuk menahannya, di suatu tempat di dalam hatiku————

Aku sedang mencari alasan dari rasa sesak yang terus menghantuiku.

"Kakak, tataplah aku dengan benar."

Merasakan lembutnya dadanya yang menempel seolah menunjukkan rasa kesepian, tiba-tiba sebuah jawaban yang sangat kecil dan memalukan terjatuh di benakku. Ah, begitu ya. Saat aku sedang menari dengan gadis junior ini pun—

Aku terus mengejar bayang-bayang seseorang.

Bahkan hal itu mungkin hanya sebuah alasan yang terdengar beradab untuk menutupi perasaan burukku.

Seandainya orang yang ada di depanku ini adalah salah satu dari mereka. Seandainya orang yang menari dengan salah satu dari mereka adalah pria lain.

Meraih tangan, mendekatkan pipi, saling menatap, dan bertukar kehangatan itu adalah———— Sungguh, aku benar-benar benci diriku sendiri yang memikirkan hal seperti itu.

Padahal wajah siapa pun itu, aku masih belum bisa melihatnya dengan jelas.

Karena itulah aku menatap mata juniorku dan tersenyum seperti seorang senior yang baik. Sebab hanya saat melakukan itulah, rasanya aku bisa menunda sesuatu, seperti bulan September yang tidak memiliki warna.

Seharusnya aku tidak usah mengalah saja. Aku benar-benar benci diriku sendiri yang berpikir seperti itu.

Padahal seharusnya aku adalah rekannya. Kenapa yang berdiri berdampingan dengannya bukan aku.

Seharusnya aku mengucapkannya seperti gadis itu. Tapi aku tidak bisa mengucapkannya seperti dia.

Sebenarnya, aku ingin sekali membuatkannya untukmu. Di kamarmu, sambil kamu duduk di kursiku.

Saat koreografi tarian berpasangan sudah matang, suasana di sekitar sudah sepenuhnya berwarna senja. Pada akhirnya kami memperbaiki banyak detail koreografi kecil setelah itu, membuat aku dan Kureha berakhir berbaring berdampingan di atas rumput. Di langit, entah sejak kapan sudah muncul awan sisik yang tampak seperti permen kapas rasa jeruk. Saat aku sedang menatapnya dengan mulut ternganga, perutku tiba-tiba berbunyi keras.

Puku. Kureha yang ada di sampingku tertawa geli. Tiba-tiba semuanya terasa lucu, dan tanpa mengatakan apa-apa kami berdua tertawa kecil sampai bahu kami berguncang. Setelah beberapa saat—

"Kerja bagus, Saku. Kerja bagus, Kureha."

Sebutul Pocari diletakkan di samping pipiku. Yuko yang berjongkok di dekat kepalaku menatap kami sambil tersenyum.

Rambutnya yang terasa jauh lebih pendek dari yang biasa kubayangkan bergoyang lembut ditiup angin senja, pemandangan yang belum biasa kulihat itu membuat jantungku berdebar sesaat.

Kureha yang bangkit lebih dulu berkata.

"Kak Yuko juga, kerja bagus!"

Yuko tersenyum tipis dan membuka suara.

"Tarian berpasanganmu dengan Saku tadi sangat serasi dan terlihat indah."

"Benarkah!? Aku senang sekali mendengarnya langsung dari Kak Yuko!"

Aku pun bangun dan menenggak habis Pocari itu. Yuko melanjutkan sambil menopang dagu di atas lututnya.

"Hehe, aku jadi sedikit iri."

Kureha membalas dengan nada bercanda.

"Meski Kak Yuko yang memintanya, aku tidak akan mau bertukar karena kami sudah berlatih sekeras ini!"

Dengan nada bicara yang sangat alami, Yuko berkata.

"Iya, aku titip Saku ya. Karena dia orang yang suka memaksakan diri, tolong perhatikan dia."

Kureha membelalakkan matanya sedikit terkejut, lalu seolah menyadari sesuatu dia berkata. "Dimengerti! Jika dia terlihat sedang menanggung beban sendirian, aku akan merampasnya dengan paksa!"

Aku tersenyum kecut sambil mengaruk pipi.

"Tolonglah, jangan bicara begitu di depan junior."

Yuko menyipitkan matanya dengan lembut.

"Karena ada di depan junior, aku jadi semakin khawatir."

"Duh, payah deh……"

Kureha memperhatikan interaksi kami dengan tatapan penuh minat. Tak lama kemudian, Nanase mendekat dan menatapku.

"Bagaimana kalau kita istirahat sebentar sambil makan malam lebih awal?"

"Ide bagus, perutku rasanya sudah menempel ke punggung."

Yua yang mendengar percakapan itu dari belakang membuka suara dengan nada tidak enak.

"Karena jumlah orangnya banyak, apa tidak apa-apa kalau cuma makan kari?"

"Tentu saja, itu kan menu standar kamp latihan, justru itu yang kuharapkan."

"Lalu, ada sesuatu yang ingin kubicarakan……"

Sambil berkata begitu, dia berjalan mendekat dan membisikkannya pelan ke telingaku.

"Anu."

Embusan napas dari bisikannya mengenai telingaku, membuat bahuku spontan bergetar.

"Bahan-bahannya ada yang kurang. Sebenarnya aku ingin pergi membelinya sendiri, tapi sepertinya nasi tidak akan cukup jika hanya mengandalkan penanak nasi saja, jadi aku berniat menanak nasi dengan periuk tanah juga. Karena aku harus mengawasinya……"

Halah, ternyata cuma soal itu. Aku merasa lega dan menjawabnya.

"Boleh, aku akan segera pergi ke Erpa. Bisa tuliskan daftar barang yang dibutuhkan?"

"Iya, maaf ya. Karena semua orang pasti lelah, aku jadi tidak enak meminta tolong pada yang lain."

Tanpa perlu berpikir, Yua pasti tahu kalau orang yang paling banyak bergerak tadi adalah aku dan Kureha.

'——Mulai sekarang, apa boleh aku menjadi sedikit lebih egois?'

Aku teringat kata-kata yang akhirnya dia ucapkan di senja hari itu.

Sebenarnya aneh jika dia menganggap wajar untuk menangani semuanya mulai dari belanja sampai memasak sendirian, tapi tetap saja.

Jika bagi Yua ini adalah sebuah keegoisan kecil, dan dia merasa boleh meminta tolong padaku—

Perubahan yang terjadi setelah melewati satu musim panas itu terasa hangat di hatiku.

Kureha sepertinya mendengar percakapan kami. Dia memiringkan kepalanya dengan polos.

"Kakak mau pergi ke Erpa?"

Aku tersenyum dan menjawabnya.

"Ouh, sepertinya Yua akan membuatkan kari yang enak. Jadi aku mau pergi belanja bahan-bahan."

Kureha mengepalkan kedua tangannya di depan dada.

"Kalau begitu aku akan ikut menemanimu!"

"Jumlahnya tidak sebanyak itu sampai butuh bantuan, kok. Kalau melihat situasi sekarang, kita sepertinya akan lanjut latihan nanti malam, jadi lebih baik kamu istirahat dulu sekarang."

"Justru karena itulah aku akan mengikuti Kakak!"

"Kenapa memangnya?"

"Aku tidak akan bisa beristirahat dengan tenang jika ditinggal sendirian di tengah orang-orang hebat yang kukagumi ini. Aku lebih merasa santai jika membantu Kakak."

"Kamu benar-benar punya nyali ya, oi."

Yuko dan Nanase yang memperhatikan interaksi kami hanya bisa menyipitkan mata sambil tersenyum kecil.

Yua memiringkan kepalanya sedikit sambil tersenyum.

"Kalau begitu, mohon bantuannya juga ya, Kureha-chan."

"Siap! Dengan senang hati!"


Setelah selesai mengumpulkan bahan makanan di lantai satu Erpa, ternyata jumlahnya lumayan banyak. Karena kami juga membeli tambahan teh, air, dan minuman olahraga, sepertinya keputusan untuk datang berdua tadi memang benar.

Aku bicara sambil menenteng kantong kresek di kedua tanganku. "Terima kasih sudah menemaniku ya, Kureha."

Kureha, yang juga menenteng kantong kresek di satu tangannya, menjawab. "Sama-sama! Tadi aku senang sekali membayangkan apakah Kakak dan Yua-san selalu belanja seperti ini."

"Kalau bersama Yua, mungkin semuanya bakal muat dalam dua kantong saja. Tadi aku malah kebablasan beli barang-barang yang tidak perlu."

"Benar juga ya~"

Sambil bertukar obrolan ringan seperti itu, kami pun tenggelam dalam kebisingan khas Erpa di akhir pekan. Di sekitar kami, hilir mudik ayah dan ibu yang menggandeng anak kecil, rombongan anak SMA, pasangan yang tampil modis, hingga kakek dan nenek yang tersenyum ramah.

Udara di sana dipenuhi aroma yang hanya bisa disebut sebagai "bau Erpa"—campuran antara aroma custard manis dari Beard Papa, saus Gindaco, aroma McDonald's dan Mister Donut, serta bau lantai mal yang berkilauan.

Tiba-tiba terdengar suara perut yang menggemaskan, aku pun menoleh ke samping. Kureha menekan perutnya dengan tangan yang bebas sambil berkata malu-malu. "……Anu, Kak. Mau makan sesuatu buat mengganjal perut?"

Kali ini giliran aku yang tertawa. "Jangan bilang-bilang Yua, ya. Nanti aku dimarahi karena jajan sebelum makan malam."

"Iya, ini rahasia kita berdua saja!"

"Mau makan apa?"

"Taiyaki!"

"Selera yang klasik ya. Kalau begitu ke Sakura Chaya?"

"Itu dia! Meski terlihat begini, aku ini anak kesayangan nenek, jadi dulu sering beli di sana untuk oleh-oleh setiap kali berkunjung."

Sakura Chaya adalah kedai yang menjual camilan cepat saji khas Jepang seperti okonomiyaki, taiyaki, dan dango. Di sana, selera orang biasanya terbagi antara tim Gindaco yang garing atau tim Sakura Chaya yang lembut dan lumer.

Aku memilih taiyaki isi krim, sementara Kureha memilih isi kacang merah (azuki), lalu kami keluar dari Erpa. Ngomong-ngomong, saat aku berniat membayar semuanya, dia menolak mentah-mentah dan akhirnya malah menjejalkan koin ke dalam sakuku.

Aku menggantung kantong kresek di stang sepeda gunungku, lalu berjalan di jalan setapak sawah yang tenang sambil menuntun sepeda dengan satu tangan. Saat aku menggigit taiyaki itu, rasa krimnya terasa sangat menenangkan.

Langit yang mulai memasuki twilight time tampak sedikit keunguan, bening bagaikan batu kecubung. Bulir-bulir padi yang sudah matang tampak menunduk dengan sopan seolah menyapa "selamat malam". Truk kecil dengan kontainer plastik kuning di bak belakangnya melaju pulang dengan santai.

Ini adalah malam Minggu yang sangat tenang, namun entah kenapa terasa menggembirakan.

"Kak, buka mulutnya. Aaa~"

Di sampingku, Kureha yang sedang menuntun sepeda cross bike merah merek Trek, menyodorkan taiyaki-nya dengan terampil. Rasanya agak memalukan diperlakukan begitu oleh junior, tapi karena kedua tanganku sedang repot, aku pun menggigitnya sedikit. Rasa manis kacang merah yang nostalgis perlahan menyebar.

Sudah berapa lama ya, pikirku mencoba merunut memori masa kecil. Karena biasanya aku jarang makan makanan manis, apalagi sejak tinggal sendiri, aku hampir tidak pernah menyentuh kacang merah.

Kalau diingat-ingat, saat masih kecil aku sering makan roti isi kacang merah isi lima sebagai camilan. Saat musim panas, di kulkas selalu tersedia es mambo kacang merah kesukaan Ayah, dan saat tahun baru Ibu sering membuat zenzai (sup kacang merah) dengan sisa moci. Setiap kali ke rumah Nenek, aku sering membeli karinto manju di toko kue dekat Erpa sebagai buah tangan.

Padahal rasanya seharusnya sudah menyatu dalam keseharian, tapi ada rasa yang perlahan terlupakan jika tidak disadari. Entah kenapa, aku merasa sedikit sedih.

"Kureha, kamu tipe yang makan dari bagian ekor ya?"

Mendengar pertanyaanku, Kureha menyipitkan mata dengan jahil. "Soalnya kalau ekornya dimakan duluan, dia tidak akan bisa lari dariku, kan?"

"Jangan bicara hal mengerikan hanya gara-gara sepotong taiyaki, dong."

"Nih," kataku sambil menyodorkan taiyaki isi krim milikku sebagai gantinya. Kureha menatap taiyaki itu lalu menatap wajahku.

"Katakan 'aaa' dengan benar, dong."

"Iya, iya, aaaa."

Melihatnya menggigit dengan wajah puas, aku hanya bisa tersenyum kecut dan membuka suara. "Maaf soal yang tadi, ya."

Dia pasti langsung tahu apa yang kumaksud. Kureha menjawab sambil menunduk lesu. "Padahal aku sangat menikmati tarian berpasangan dengan Kakak, tapi Kakak malah tampak melamun terus sejak pertengahan tadi. Aku merasa kesepian."

Mendengar suaranya yang jarang-jarang terdengar sedih itu, rasa bersalah muncul di hatiku. "Mau gigit taiyaki lagi?"

"…………"

Kureha memberikan tatapan memohon hanya dengan matanya. "Iya, iya. Aaa~"

"Aaaa~"

Melihatnya mengunyah taiyaki dengan gembira, aku merasa lega dan berkata. "Tadi aku sedang memikirkan sesuatu, atau lebih tepatnya, sedang menghadapi sesuatu."

"Menghadapi apa?"

Aku menghabiskan gigitan terakhir taiyakiku, lalu meremas kertas pembungkusnya. "Mungkin, menghadapi betapa memalukannya diriku sendiri."

Aku tahu seharusnya aku tidak membicarakan hal seperti ini kepada seorang gadis junior. Namun entah kenapa, jika di depan Kureha, aku bisa sedikit lebih rileks. Mungkin karena dia adalah sosok dekat yang berada di luar lingkaran masalah yang terus mengganjal di hatiku.

Kali ini sepertinya dia tidak mengerti apa yang kukatakan. Kureha memiringkan kepalanya dengan bingung, lalu tiba-tiba berhenti, menurunkan standar sepedanya, dan berkata dengan lembut seolah sedang melakukan bridal carry pada hatiku.

"——Kakak, Kakak boleh lari kepadaku, lho?"

"Eh……?"

Mendengar kalimat yang seolah-olah bisa membaca isi hatiku itu, aku spontan mengeluarkan suara bodoh. Kureha melanjutkan seolah itu bukan masalah besar.

"Tadi kan aku juga sudah dititipi oleh Kak Yuko. Kalau Kakak sedang menanggung sesuatu sendirian dan merasa bingung, setidaknya aku bisa mendengarkan ceritanya! Begitu maksudku!"

Aku merasa lega dan menurunkan standar sepeda gunungku. "Ah, jadi begitu maksudnya."

"Yah, meski mungkin aku tidak bisa banyak membantu, sih."

"Niatmu saja sudah membuatku senang, terima kasih ya."

Kureha menunduk dan menggaruk pipinya dengan malu. "Sudah pernah kukatakan sebelumnya, aku ingin menjadi bagian dari kelompok kalian."

"Aku juga sudah bilang, kan? Semua orang sudah menganggapmu sebagai teman sejak lama."

"Benarkah? Kalau begitu……"

Sambil berkata begitu, dia tertawa "hehe" dan menyodorkan jari kelingkingnya.

"Janji, ya? Jangan kucilkan aku, ya?"

"Aku janji. Aku tidak akan mengucilkan Kureha."

Aku menjawab tanpa ragu, lalu menautkan jari kelingkingku ke jarinya.

◆◇◆

Saat kembali ke rumah Yuko, aroma tumisan bawang bombay yang harum sudah memenuhi ruang tamu. Di dapur, Yua dan Nanase sedang berdiri berdampingan. Sesuai kesepakatan sebelumnya, sepertinya mereka membantu sebisa mungkin. Yua bagian kari dan nasi, sementara Nanase bagian salad.

Aku dan Kureha mendekat sambil menenteng kantong kresek. Yua mengangkat wajah dan menatap kami. "Kureha-chan, Saku-kun, terima kasih ya."

"Ouh."

"Beres, Kak!"

Wortel, kentang, tambahan bawang bombay, dan daging babi. Sepertinya hari ini menunya adalah kari rumahan yang simpel. Alasan memilih daging babi mungkin karena harganya terjangkau untuk jumlah orang sebanyak ini, dan juga karena itu adalah jenis yang paling kusukai dan sering ia buatkan untukku.

Kalau makan di luar aku biasanya memilih daging sapi, tapi jika di rumah, entah kenapa daging babi terasa lebih menenangkan. Aku menyerahkan separuh kubis kepada Nanase sambil berkata.

"Ngomong-ngomong, aku orangnya cerewet soal irisan kubis, lho?"

Kedua gadis di dapur itu saling pandang dan tertawa. Sambil menumis bawang, Yua tersenyum lebar. "Tuh kan, aku sudah yakin Saku-kun pasti akan bilang begitu."

Nanase mengangkat bahu seolah lelah menghadapi sikapku. "Padahal waktu itu kamu tidak komplain sama sekali."

Dia pasti bicara soal waktu dia membuatkan Katsudon. "Tentu saja aku juga tahu waktu dan tempat, tahu."

"Ngomong-ngomong, bagaimana irisan kubis waktu itu?"

"Aku terkejut karena ternyata lebih halus dari dugaanku, tapi masih butuh satu langkah lagi untuk mencapai standar kelulusanku."

"Dasar, laki-laki yang teliti."

Yua berkata dengan nada jenaka. "Kalau pelan-pelan pasti bisa, kok."

Nanase mengangguk pelan dan mulai mengupas daun kubis. "Aku akan mencobanya dengan lebih hati-hati. Aku tidak mau dibilang 'masih terlalu tebal' oleh seseorang."

"Umu, teruslah berlatih."

"Sudahlah, Chitose, pergi sana ke sana."

"Siaaap~"

Mendengar itu, aku melihat ke ruang tamu. Semuanya tampak sedang bersantai dengan cara masing-masing. Yuko dan Kaito duduk berdampingan di meja makan sambil melihat ke arah tablet. Kureha langsung berlari menghampiri mereka.

"Kak Yuko~ Kak Kaito~ sedang lihat apa!? Ikutan dong!"

Padahal tadi dia bilang grogi lah apa lah, tapi sepertinya dia bakal baik-baik saja meski dibiarkan sendiri. Kenta tampak sudah diajari koreografi oleh Kazuki di area yang kosong. Asu-nee dan Haru duduk berdampingan di sofa sambil mengobrol.

Karena itu kombinasi yang jarang, aku pun menghampiri mereka. Aku memanggil mereka dari belakang saat mereka sedang asyik mengobrol. "Boleh gabung?"

Asu-nee menoleh, melihat wajahku, dan langsung tertawa geli "ku-pu-pu" seolah tidak bisa menahannya lagi. "Eh? Kenapa?" tanyaku.

Dia memegang mulutnya sambil bahunya berguncang kecil. "Tidak, maaf, selamat datang kembali."

Haru menyeringai provokatif. "Kebetulan sekali, kami baru saja asyik membicarakan kejelekanmu, mau dengar?"

"Maaf, tidak berminat."

Aku duduk di samping mereka dan melanjutkan. "Kamu tidak membisikkan hal-hal yang tidak perlu ke Asu-nee, kan?"

"Entahlah? Aku cuma menceritakan tentangmu yang kuketahui, kok."

"Apa, kalau cuma itu sih aku tenang."

"Dari mana sih kepercayaan diri itu berasal……"

Asu-nee yang sudah mulai tenang membuka suara. "Aku cuma sedang mendengarkan bagaimana dirimu saat di sekolah."

Haru menyeringai dan menimpali. "Dan juga, bagaimana dirimu saat sedang bersama Kak Nishino."

"……Sepertinya lebih baik aku ke tempat Kenta dan Kazuki saja."

"Sudahlah, sudahlah," Asu-nee tersenyum. "Tapi jujur saja, hebat ya kalian benar-benar mengejar target turnamen nasional. Sampai aku mulai memikirkan masa depan, aku melewati masa-masa itu begitu saja tanpa menemukan target seperti itu. Aomi-san yang menjalani masa SMA-nya dengan kekuatan penuh terlihat sangat berkilau."

Haru buru-buru melambaikan tangan. "Tidak, tidak. Justru aku sangat menghormati Kak Nishino yang berani mengambil keputusan untuk pergi ke Tokyo demi mengejar mimpi."

Dia menjeda kalimatnya, lalu entah kenapa melirikku sekilas sebelum segera memalingkan wajah dan melanjutkan. "Anu, pasti ada banyak hal yang harus ditinggalkan, kan? Daerah asal yang sudah biasa ditinggali, keluarga, lalu…… teman. Apa hal-hal seperti itu tidak menakutkan?"

"Menakutkan, kok. Sangat menakutkan," jawab Asu-nee tanpa ragu. "Terkadang aku bimbang di antara perasaan 'ini sudah benar' dan perasaan 'mungkin ada jalan lain'."

Itu adalah kata-kata yang sedikit mengejutkan bagiku. Karena di mataku, dia hanya terlihat seperti orang yang mengejar mimpinya dengan lurus tanpa ragu. Asu-nee tersenyum lembut dan bertanya.

"Aomi-san sendiri, apa yang akan kamu lakukan setelah lulus SMA?"

Mendengar pertanyaan itu, Haru menunduk dan mengepalkan tangannya kuat-kuat. "Aku pun…… sedang bimbang."

"Begitu ya," kata Asu-nee. "Saat konsultasi masa depan dulu, kamu kan cuma sekadar ingin tetap main basket di universitas. Apa kamu sudah menemukan mimpi baru?"

Haru mengangguk dengan ragu. "Iya. Tapi, sebanyak apa pun aku mencoba merengkuh semuanya, pasti ada hal-hal yang harus dikorbankan, entah itu soal jarak atau waktu……"

Aku tidak tahu wajah itu, pikirku. Padahal dulu kami selalu menempel seperti belahan jiwa————

Tanpa kusadari, di tempat yang tidak kuketahui, Haru dan Asu-nee mulai berubah menjadi gadis yang tidak kukenal.

'Jangan kucilkan aku, ya.'

Kata-kata Kureha di senja tadi terngiang kembali. Sekarang aku sedikit mengerti perasaan itu. Asu-nee berkata dengan lembut, seolah sedang menyodorkan sapu tangan.

"Rasanya tidak tertahankan ya, hal seperti itu."

"Iya, rasanya benar-benar tidak tertahankan."

Nada suara Haru terdengar lebih dewasa dari biasanya. Entah kenapa, aku hanya bisa menatap mereka berdua seolah-olah aku tertinggal sendirian.

◆◇◆

Kari buatan Yua dan salad buatan Nanase sudah jadi, kami pun kembali berkumpul di meja rendah.

"""""Selamat makan!"""""

Semuanya menangkupkan tangan dan segera mengambil sendok atau sumpit masing-masing. Salad yang dibuat Nanase adalah green salad sederhana berisi selada, irisan kubis, potongan tomat, dan mentimun. Akhirnya, memang menu seperti inilah yang paling cocok mendampingi kari.

Aku menyemprotkan sedikit mayones, dan karena tidak ada saus shiso, aku menggantinya dengan saus bawang cuka hitam. Tiba-tiba aku menyadari Nanase sedang memperhatikan reaksiku, aku pun tersenyum kecut. Aku segera memakan irisan kubisnya dan menyeringai.

"Umu, kamu lulus dengan nilai sempurna."

Mendengar itu, Nanase melakukan selebrasi kecil dengan tangannya. "YESS!"

Selanjutnya aku menyendok kari dan memakannya. Rasa gurih yang dalam seolah sudah didiamkan semalaman langsung memenuhi mulutku. Ini adalah kari rumahan ala Yua yang rasanya sangat akrab dan menenangkan. Padahal ada sepuluh orang, tapi dia tetap menyajikan telur mata sapi di atasnya. Di samping piringku, sudah tersedia bubuk cabai shichimi seolah itu hal yang wajar.

Nanase berkata dengan terkejut. "Lho, tadi kamu cuma pakai bumbu instan blok biasa kan? Kenapa rasanya bisa sedalam ini!?"

Yua menjawab dengan alami tanpa bermaksud rendah hati. "Aku memasukkan berbagai macam bahan rahasia dari yang ada di dapur, tapi mungkin yang paling membuat perbedaan adalah saus tiram. Menambahkan sedikit saja sudah membuat rasanya jauh berbeda."

Nanase mengangguk paham. "Begitu ya, aku bahkan belum pernah pakai saus tiram sebelumnya, jadi tidak terpikir sampai ke sana."

Sepertinya satu potong taiyaki tadi tidak cukup untuk mengganjal perut Kureha, dia makan dengan sangat lahap. "Makan kari ramai-ramai begini benar-benar terasa seperti sedang kamp latihan ya!"

Yua tersenyum lembut. "Masih ada tambahannya kok, jadi makanlah yang banyak."

Kaito yang sudah menghabiskan separuh piring karinya membuka suara. "Tapi, bukankah hasil kamp latihan ini sudah cukup terlihat? Meski bagian 'Perjamuan' masih tersisa, tapi hal-hal besar yang harus diputuskan sudah hampir beres."

Kazuki menimpali. "Kalau begini, minggu depan kita sudah bisa mengumpulkan anggota lain untuk mulai latihan bersama."

Aku mengangguk setuju. "Iya, ini semua berkat usul Yuko."

Yuko memiringkan kepalanya sambil tersenyum lebar. "Sama sekali bukan, justru gara-gara ini akhir pekanku jadi sangat meriah."

Namun, Kenta menatapku dengan wajah kurang percaya diri. "Tapi sebelum itu, kita sendiri harus sudah menguasai tariannya, kan……?"

"Yah, kalau memang mentok, sepertinya kita yang sudah hafal saja yang akan memberikan contoh."

"Aku tidak mau!"

Secara mengejutkan, Asu-nee yang berseru. Sambil memasang pose menantang yang imut, dia melanjutkan. "Aku juga tidak terlalu jago olahraga, tapi ayo kita berjuang bersama, Yamazaki-kun!"

Kenta yang sepertinya termotivasi oleh kata-kata itu ikut memasang pose menantang. "Iya! Karena ini kesempatan langka, aku ingin kita semua menari bersama!"

Mungkin karena sudah mulai akrab dengan Asu-nee tadi, Haru menyeringai provokatif. "Baik Kak Nishino maupun Yamazaki, aku akan melatih kalian dengan keras sampai kalian sempurna."

""M-Mohon bantuannya pelan-pelan saja ya……""

Suara Asu-nee dan Kenta yang tumpang tindih dengan lemah itu terasa lucu, membuat kami semua tertawa terbahak-bahak.

◆◇◆

Selesai makan malam, kami pindah ke taman yang biasa aku dan Yuko singgahi. Meski halaman rumahnya luas, tetap saja berbahaya jika semua orang mengayunkan tongkat di sana. Jam segini sudah tidak ada orang sama sekali, jadi tempat ini sangat pas untuk latihan kelompok besar.

Kami mengulas kembali seluruh koreografi secara sekilas. Setelah itu, kami mulai meningkatkan presisi setiap bagian mulai dari 'Keberangkatan-Pelayaran'. Setelah berlatih sekitar tiga puluh menit.

Suara Nanase yang berdiri di atas tangga pendek tempat aku dan Yuko biasa duduk, terdengar bergema.

"Satu, dua, satu, dua, Kak Nishino terlambat!"

"Maaf!"

"Satu, dua, satu, dua, Ucchi buat gerakannya lebih bertenaga!"

"Iya!"

"Satu, dua, satu, dua, Yamazaki jangan jelalatan!"

"I-Iya!"

Bagian yang sedang dilatih sekarang adalah tarian pedang. Kami berbaris dan berjalan maju sambil mengayunkan pedang dengan gerakan yang sama.

Formatnya adalah Nanase mengawasi secara keseluruhan dari atas, sementara aku berkeliling memberikan saran kepada setiap orang. Perkembangan secara keseluruhan menurutku sudah cukup lumayan, tapi……

"Oke, istirahat dulu! Silakan minum dan istirahat sejenak."

Fuuu. Semua orang mengembuskan napas panjang secara serentak. Nanase menatapku dan memberi isyarat memanggil.

"Maaf, Chitose, bisa ke sini sebentar?"

"Ouh."

Aku sudah bisa membayangkan apa yang ingin dia bicarakan, jadi aku segera menaiki tangga. Nanase, yang aura wakil kaptennya lebih menonjol daripada wakil ketua pemandu sorak, membuka suara.

"Bagaimana kalau kita bagi jadi dua tim?"

"Sepertinya memang lebih baik begitu."

"Aku dan Mizushino akan menangani Kaito, Yuko, dan Yamazaki. Apa kamu dan Kureha bisa menangani Haru, Ucchi, dan Kak Nishino?"

"……Begitu ya, pembagiannya terasa pas."

Meski sudah kuduga, tingkat kemajuan setiap orang dalam menghafal gerakan memang bervariasi. Yang langsung hafal adalah aku, Nanase, Kazuki, dan Kureha.

Kaito dan Haru tidak punya masalah dengan gerakan dasar, tapi detailnya masih agak kasar. Yuko sedikit tertinggal dari mereka berdua, tapi dia mengalami kemajuan yang stabil.

Dan seperti yang mereka khawatirkan sendiri, yang paling kesulitan adalah Yua, Kenta, dan Asu-nee. Kami turun dari tangga, lalu Nanase bicara kepada semua orang.

"Mulai sekarang kita akan bagi jadi dua tim: tim Mizushino dan tim Chitose-Kureha. Timku terdiri dari Yuko, Kaito, dan Yamazaki. Tim Chitose terdiri dari Haru, Ucchi, dan Kak Nishino."

Mendengar itu, Haru dan Kaito berseru.

"Aku juga di tim yang diajari!?"

"Aku juga!?"

Nanase menjawab dengan tatapan lelah.

"Kalian berdua itu cuma menari mengandalkan kemampuan fisik dan suasana saja, makanya gerakannya jadi berantakan."

""Ugh……""

Aku menyeringai ke arah Haru. "Aku akan melatihmu dengan sangat keras sampai gerakanmu sempurna."

"K-Kehinaan macam apa ini……"

Maaf ya, kataku sambil membatin. Saat aku melirik Nanase, sepertinya dia memikirkan hal yang sama karena dia menjulurkan lidahnya sedikit. Memang benar kalau gerakan Haru dan Kaito agak kasar, tapi jika diberitahu dengan hati-hati, mereka pasti bisa segera memperbaikinya.

Selain itu, sebenarnya lebih efisien jika Kenta ditukar dengan Haru, sehingga tiga orang yang lambat kemajuannya dikumpulkan di satu tim. Tim yang sudah bisa menari kan bisa langsung lanjut ke koreografi berikutnya.

Alasan Nanase tidak melakukan itu pasti karena pertimbangannya.

Dengan memasukkan Haru dan Kaito yang atletis ke dalam tim yang perlu diajari, dan membagi Yua, Kenta, serta Asu-nee ke dua tim berbeda, dia berusaha agar mereka tidak merasa terbebani atau merasa telah menghambat tim. Aku rasa kebaikan hati Nanase yang tersirat seperti ini sangat luar biasa.

◆◇◆

Kami pun mulai berlatih kembali dengan dua tim. Aku menepuk tangan untuk memberi irama sambil berseru.

"Satu, dua, satu, dua, Haru, kalau waktunya berhenti ya berhenti dengan benar!"

"Oke!"

"Satu, dua, satu, dua, Yua, buka kakinya lebih lebar lagi!"

"Iya……!"

"Satu, dua, satu, dua, Asu-nee, karena terlalu fokus mengikuti, gerakanmu jadi terlalu kecil!"

"Siap!"

Setelah beberapa kali mencoba, arah perbaikannya mulai terlihat. "Oke, istirahat dulu."

Mendengar instruksiku, Yua dan Asu-nee langsung memegang lutut dan mengatur napas yang tersengal.

Mengesampingkan Haru, bagi mereka berdua yang bukan anggota klub olahraga, menggerakkan tubuh selama ini saja sudah merupakan beban besar, apalagi ditambah dengan mengayunkan tongkat yang dianggap sebagai pedang.

Sambil menatap mereka, aku bertanya. "Mau istirahat sebentar?"

""Tidak apa-apa!""

Suara tegas Yua dan Asu-nee yang tumpah tindih itu membuatku tersenyum. Aku kembali serius dan bicara.

"Pertama, Haru-san."

Begitu namanya dipanggil, Haru memasang wajah kesal.

"Apaan sih?"

Aku berdeham kecil dan bicara seperti seorang guru. "Dengarkan baik-baik, ini bukan pertarungan hidup dan mati."

"……Maksudnya?"

"Hanya karena gerakanmu berhenti, bukan berarti lawan akan memanfaatkan celah itu untuk menebasmu."

"……Ah, paham!"

Haru menepukkan tinju kanannya ke telapak tangan kirinya, sementara Yua, Asu-nee, dan Kureha hanya bisa memiringkan kepala dengan bingung. Dasar, pikirku sambil menggaruk pipi.

Misalnya, saat aku melakukan ayunan latihan (suburi), aku selalu membayangkan pelempar bola lawan. Haru pun, saat latihan menembak bola sendirian, pasti membayangkan pertahanan tim lawan. Mungkin karena kebiasaan itulah, secara tidak sadar dia selalu membayangkan adanya lawan tanding.

Sulit dijelaskan, tapi dia seolah terus bergerak tanpa memberikan celah sedikit pun agar semua koreografinya tersambung dengan mulus. Aku mengambil tongkat dan memberikan contoh.

"Gerakanmu bagus jika dilihat satu per satu, tapi karena ini tarian, kamu harus berhenti tepat pada waktunya dan menyelaraskannya dengan yang lain, kalau tidak kalian akan terlihat tidak serempak."

"Paham." Kalau untuk Haru, penjelasan ini sudah cukup. Aku berdeham lagi dengan sengaja.

"Berikutnya, Yua-chan."

"Iya……" Yua menatapku dengan cemas.

"Buanglah rasa malumu."

Sepertinya dia sadar akan hal itu, karena dia langsung menunduk dengan wajah memerah malu.

"Maaf, mungkin karena aku belum terbiasa, atau karena ini gerakan yang jarang kulakukan."

"Tidak apa-apa, Saku-kun justru bakal kaget kalau kamu yang bukan anggota klub kendo ternyata sudah terbiasa menebas orang."

Gurauanku itu membuat Yua cemberut.

"……Ih, Saku!"

Aku melanjutkan dengan serius.

"Hal seperti ini justru akan terasa sangat memalukan jika dilakukan sambil malu-malu. Contohnya di klub tiup saat sedang melakukan marching band atau saat tampil di panggung festival luar sekolah, kalian juga melakukan semacam koreografi, kan? Ini sama saja dengan itu."

"……Kalau dipikir-pikir, benar juga."

"Apalagi tema kita adalah bajak laut. Saat harus membuka kaki ya buka dengan lebar, saat menebas ya tebaslah tanpa ragu. Malah justru lebih pas jika terlihat sedikit liar."

Yua menggenggam tongkatnya erat dan mengangguk. "Paham, aku akan mencobanya."

Aku berdeham lagi.

"Terakhir, Asu-nee."

"……Iya."

"Gerakan tangan dan kakimu tidak sinkron."

"Kejam sekali!?"

Aku tertawa kecil dan melanjutkan.

"Kureha, bisa berikan contoh?"

"Siap! Dengan senang hati!"

Kureha memasang kuda-kuda dengan tongkatnya.

"Siap ya? Satu, dua, satu, dua."

Sesuai suaraku, dia melangkah dengan ringan dan mengayunkan pedangnya dengan elegan. Asu-nee memperhatikan gerakan itu dengan tatapan serius. Setelah satu bagian selesai, aku bicara.

"Terima kasih, Kureha. Asu-nee, itulah contoh yang bagus." Sambil berkata begitu, aku sendiri memasang kuda-kuda dengan tongkat.

"Dalam kasus Asu-nee, kamu terlalu berusaha mengayunkan pedang hanya dengan tangan. Itulah kenapa langkah kakimu terlambat satu tempo." Aku mempraktikkannya langsung di depannya.

"Mengayunkan pedang dan melangkah maju itu harus dilakukan bersamaan. Dengan begitu, berat badanmu akan ikut tersalurkan dan ayunanmu jadi lebih ringan."

"Oalah, pantas saja aku sering terlambat." Asu-nee memasang kuda-kuda dan mengayunkan tongkatnya seperti yang kukatakan.

Pishit!

Dibandingkan sebelumnya, suara ayunannya terdengar jauh lebih tajam. Asu-nee menatapku dengan wajah cerah. Aku menyeringai dan berkata.

"Kalau kamu sudah bisa menyambungkannya dalam tarian, itu sudah sempurna."

Asu-nee mengangguk senang dan mulai mengayunkan pedangnya agar tidak melupakan sensasi tadi. "Oke, ayo kita coba sekali lagi dari awal!"

Haru, Yua, Asu-nee, dan Kureha berseru serempak.

""""OOOOOHHHH!!!!""""

Aku melirik ke arah tim Nanase, sepertinya di sana juga berjalan lancar. Kenta juga sedang berjuang menghafal koreografi di bawah bimbingan Kazuki. Tiba-tiba mataku bertemu dengan Nanase, dan dia memberiku kedipan mata yang keren.

Rasanya tidak buruk juga, pikirku. Menari bersama teman-teman di sudut taman pada malam hari yang sepi. Keringat yang bercucuran, tatapan yang saling bertemu, suara penuh kekesalan, hingga tawa bahagia—semuanya meresap ke dalam memori seperti rintik hujan.

Mungkin bagi sebagian orang, ini hanyalah salah satu acara sekolah yang akan berlalu begitu saja entah mereka berjuang atau tidak. Tapi bagi kami, kami benar-benar serius hingga mungkin orang dewasa akan tertawa melihatnya. Tentu saja kami ingin menang, tapi lebih dari itu————

Kami yang sudah melewati musim panas ini menyadari betapa berharganya waktu yang dihabiskan bersama-sama seperti ini.

Entah ada yang menginginkannya, atau tak ada satu pun yang mengharapkannya. Segalanya pasti akan berakhir. Suatu saat, waktu untuk melepaskan genggaman itu akan tiba.

Mungkin karena itulah, selagi masih bisa bersama, kami mencoba memotret sebanyak mungkin momen yang tak terlupakan, lalu diam-diam membawanya pulang ke masa depan.

"Menyenangkan ya, Kak!"

Kureha yang berdiri di sampingku berseru riang.

"Iya, menyenangkan sekali."

Aku mengucapkannya seolah sedang berdoa dari lubuk hati yang paling dalam.

◆◇◆

Karena besok masih ada kegiatan, kami menyudahi latihan di jam yang wajar. Seperti yang Kaito katakan, bisa memulai latihan di hari pertama saja sudah merupakan pencapaian luar biasa.

Yua, Asu-nee, dan Kenta yang tadinya kukhawatirkan pun mulai menangkap intinya di paruh kedua latihan. Kurasa segalanya akan baik-baik saja.

Dalam perjalanan pulang yang singkat dari taman, saat aku berjalan di belakang yang lain, tiba-tiba Yuko menyejajarkan langkahnya di sampingku. Dia mengipasi wajahku dengan tangannya sambil membuka suara.

"Kerja bagus, Pak Ketua."

"Hentikan, itu menggelitik."

Saat aku menjawab sambil tertawa kecut, Yuko melanjutkan. "Berkat Saku dan Yuzuki, semuanya berjalan sangat lancar ya."

"Bukan karena kami melakukan sesuatu yang spesial, kok. Ini semua berkat kerja sama semuanya."

Mendengar itu, dia menggelengkan kepalanya pelan. Yuko tersenyum dengan raut sedikit malu.

"Kalau aku yang jadi wakil ketua seperti biasanya, pasti tidak akan berjalan setangkas ini. Justru karena ada Yuzuki, Saku jadi tidak perlu memikul semuanya sendirian."

Dia menatapku, menjulurkan lidah sedikit, lalu menundukkan kepala. "Maaf ya, selama ini aku sudah banyak merepotkanmu."

"Kamu berlebihan. Aku tidak pernah merasa direpotkan."

"Fufu," suara lembutnya menyahut. "Aku tahu Saku akan bilang begitu, tapi aku tetap ingin minta maaf dengan benar."

"Begitu ya."

"Iya."

Profil wajah Yuko yang menatap ke depan itu terlihat dewasa, seperti gadis yang tidak kukenal.

"Hei, Saku?"

"Hmm?"

"Aku sangat bahagia saat ini."

"Aku juga."

"Terima kasih ya, Saku."

"Terima kasih juga, Yuko."

"Lalu..."

"Terima kasih, Yua—begitu kan?"

"Aneh deh, pikiran kita bisa sama."

"Soalnya kita melepas musim panas ini bersama-sama."

Kami berdua tertawa kecil sambil menatap punggung teman-teman yang lain. Yuko bergumam seolah menutup pembicaraan.

"Biarkan aku tetap di sisimu sebentar lagi ya, Saku."

Aku menelan kata-kata yang hampir terucap, lalu tanpa sadar menarik sudut kiri bibirku dan mengangguk kecil. Sebenarnya, aku juga ingin menyampaikannya.

Aku ingin kamu tetap di sisiku sebentar lagi, Yuko.

◆◇◆

Begitu sampai di rumah Yuko dan masuk ke ruang tamu, aku terkejut mendapati diriku merasa sangat lega. Mungkin karena kami telah menghabiskan waktu yang padat di sini, meski baru setengah hari, rasanya sudah seperti pulang ke rumah sendiri.

Yuko memandang ke arah semua orang. "Aku sudah menyiapkan air hangat, jadi ayo mandi bergantian!"

Mendengar itu, aku dan Kazuki saling pandang sambil menggaruk pipi. "Laki-laki mandi terakhir pakai shower saja tidak apa-apa."

Bahkan Kaito pun menyahut dengan wajah canggung.

"Benar."

Kenta juga mengangkat tangannya dengan cepat.

"S-Setuju!"

Yuko memiringkan kepalanya dengan bingung.

"Kenapa? Kalian kan lelah, lebih baik berendam air hangat supaya rileks."

Nanase-lah yang memberikan bantuan dengan tawa kecil. "Yah, kalau mereka bilang begitu, biarkan saja sesuka mereka. Laki-laki itu punya 'urusan' mereka sendiri, tahu."

Lalu dia menatap ke arah kami dengan tatapan provokatif. Aku mengabaikan tatapan itu dan menambahkan.

"Lalu, kalau bisa, gadis yang mandi paling terakhir tolong cabut sumbat airnya ya."

"""SETUJU SEKALI!!!"""

Kami berempat saling pandang dan memasang senyum memelas. Bukannya apa-apa, tapi berendam di air bekas semua gadis di sini itu... bukan lelucon.

Yuko segera beralih seolah tak mau ambil pusing. "Baiklah, kalau begitu siapa yang duluan? Kamar mandinya cukup luas, jadi kurasa dua orang bisa masuk bersamaan."

Nanase menimpali. "Meski bukan sistem estafet, bagaimana kalau seseorang mandi dulu, dan saat dia mulai berendam, orang berikutnya baru masuk?"

"Iya! Kurasa itu ide bagus!"

Asu-nee yang mendengar percakapan itu dari dekat berkata. "Bagaimana kalau Hiragi-san yang masuk duluan? Yang lain pasti merasa sungkan kalau tidak begitu."

Yuko buru-buru melambaikan tangan. "Eh—aku belakangan saja tidak apa-apa, kok!"

Asu-nee tertawa kecil. "Nah, karena perdebatan ini pasti akan berputar-putar terus kalau tidak diputuskan, jadi... silakan?"

Yua, Nanase, Haru, dan Kureha mengangguk setuju. "Begitu ya, kalau begitu..."

Yuko memandang semuanya dan berseru riang. "Dimengerti~!"

◆◇◆

Hiragi-san sudah menuju kamar mandi, dan semua orang sedang bersantai sesuka hati. Di sisi lain, aku, Nishino Asuka, sejak tadi merasa gelisah di dalam hati.

Aku sudah menyampaikannya pada Saku-kun, tapi ini adalah pertama kalinya aku menginap di rumah teman. Terlebih lagi, orang-orang di sini adalah mereka yang selama ini hanya bisa kupandang dari kejauhan karena sosok mereka yang berkilau.

Seandainya aku lahir setahun lebih lambat. Seandainya aku adalah salah satu dari kalian. Entah sudah berapa kali aku mendambakan hal itu.

Bisa masuk ke dalam lingkaran itu, berada di level yang sama, dan berjalan menuju tujuan yang sama... ini tak diragukan lagi adalah momen pertama dan terakhir yang selama ini kuinginkan.

Aku memandang sekeliling ruang tamu dengan perasaan berdebar, seperti gadis yang kegirangan saat perjalanan sekolah pertamanya. Malam menginap bersama orang banyak ini terasa seperti permainan pancing hadiah yang pernah kudatangi bersama Saku-nii.

Ada banyak tali yang tergantung di depanku, dan aku hanya boleh menarik satu per satu. Aku tak tahu tali itu tersambung ke mana, atau hadiah apa yang akan kudapatkan.

Jika aku memilih sesuatu, mungkin aku akan melewatkan momen lain yang lebih indah. Tapi aku juga merasa, apa pun yang kupilih akan menjadi harta karun yang tak terlupakan seumur hidup.

Bagaimana aku harus menghabiskan malam ini? Dengan siapa aku harus mengobrol? Bercerita dengan Yamazaki-kun tentang sulitnya koreografi terdengar bagus. Aku juga ingin mendengar cerita Mizushino-kun atau Asano-kun tentang sosok Saku-kun saat bersama sesama lelaki.

Aku ingin bertanya pada Uchida-san soal memasak, dan aku juga ingin sekali mengobrol santai dengan Nanase-san. Aku pun harus minta maaf pada Nozomi-san karena sudah merepotkannya saat latihan tadi.

Namun, pada akhirnya... aku menatap ke arah halaman.

—Saat aku menoleh kembali ke waktu ini suatu saat nanti, aku ingin ada sebanyak mungkin dirimu di sana.

Aku sadar kalau Saku-kun langsung keluar rumah begitu Hiragi-san pergi mandi. Dengan satu tangan menenteng tas pemukul bisbol.

Padahal ini sedang kamp latihan, tapi sepertinya dia tetap berniat melakukan rutinitas ayunan latihannya (suburi). Siang hari dia menari lebih banyak dari siapa pun bersama Nozomi-san, lalu malam harinya mengajari kami... padahal dia pasti lelah, tapi dia benar-benar orang yang sangat keras pada diri sendiri.

Saat aku mengambil sepatu dari koridor dan keluar ke dek kayu...

"Haru, bagaimana kelihatannya?"

"Rasanya kurang cantik."

"Kalau begini?"

"Rasanya kekuatannya tidak tersalurkan dengan baik."

"Benar juga ya, berarti harusnya begini."

"Nah, itu dia! Itu gaya favoritku darimu."

Saku-kun yang sedang melakukan ayunan dan Aomi-san sedang bercakap-cakap dengan nada yang sangat akrab. Tiba-tiba, hatiku yang tadi sempat kegirangan terasa sedikit teriris, seperti luka tipis akibat sayatan kertas di ujung jari.

Dirimu, bisbol, dan Aomi-san. Bagiku, itu adalah kombinasi yang menyimpan kenangan sedikit pahit.

Sejak bertemu kembali tepat setahun yang lalu, aku mencoba segala cara untuk membantu Saku-nii yang entah kenapa telah berubah. Kami telah membicarakan banyak hal. Tak lama, aku menyadari bahwa luka terbesarnya adalah berhenti dari klub bisbol.

Namun pada akhirnya, yang bisa kulakukan hanyalah memberikan plester. Kamu tetap teguh menyembunyikan luka itu dariku dan tak pernah membiarkanku melihatnya—

Sedangkan gadis di depanku inilah yang sanggup merobek plester itu dengan paksa, lalu mengobatinya dengan benar. Saku-kun yang menyadari keberadaanku menyapa.

"Oh, Asu-nee."

Aomi-san yang duduk bersila di dek kayu menyeringai lebar sambil menepuk lantai di sampingnya.

"Kak Nishino, mau ikut melampiaskan kekesalan bersama?"

Mungkin maksudnya adalah membalas dendam karena dikritik saat latihan tadi.

"Fufu, itu cara yang manis untuk menghabiskan malam kamp latihan."

Aku mencoba bersikap seperti seorang senior. Tapi jujur, aku sama sekali tidak paham dengan percakapan mereka tadi. Di mataku, Saku-kun hanya terlihat mengayunkan pemukul dengan gaya yang sama, dan aku pun tidak mengerti istilah-istilah yang diucapkan Aomi-san.

—Padahal kedua orang ini bisa saling memahami hanya dengan itu saja.

Kamu yang biasanya selalu bersikap sinis, menerima kata-kata Aomi-san apa adanya, dan di sana hanya ada kepercayaan yang tulus. Kurasa, aku ingin menjadi seperti itu. Tatapan yang kamu berikan pada Aomi-san adalah tatapan yang suatu saat ingin kuterima darimu.

"Asu-nee, kalau ada bagian yang aneh, katakan saja ya."

"Kak Nishino, jangan sungkan untuk mengkritik kami dengan keras!"

"Baiklah, biarkan kakakmu ini yang mengawasi."

Aku merasa tertinggal sendirian dalam kekosongan. Kata-kataku terasa mengambang dan terekspos di bawah langit malam bulan September.

—Bishut, bishut.

Suara ayunan yang kering dan mantap bergema seolah menyayat kesuraman itu. "Keren ya," akhirnya aku bisa tersenyum secara alami. Apalagi karena aku baru saja berlatih menari tadi.

Mungkin kami memikirkan hal yang serupa. Aomi-san yang sedang menopang dagu di atas kakinya yang bersila bergumam seperti bicara pada diri sendiri. "Tapi tetap saja, bisbol itu olahraga yang luar biasa ya."

Saku-kun sepertinya tidak mendengar karena terlalu fokus. Aku mengangguk setuju dan membuka suara. "Aku saja merasa lenganku pegal sekali hanya karena mengayunkan tongkat tipis tadi."

Aomi-san tertawa kecil. "Sama, besok pasti otot-ototku bakal sakit semua."

"Bahkan Aomi-san pun begitu?"

"Otot yang dipakai benar-benar berbeda dengan basket. Bakal terasa sangat berat, sepertinya."

Melihat nada bicaranya yang entah kenapa terdengar senang, kami berdua saling pandang dan tertawa. Setelah tawa kami mereda, Aomi-san bergumam pelan.

"Si bodoh itu... kalau sedang bersama Kak Nishino, wajahnya jadi seperti anak kecil ya."

Aku memiringkan kepala. "Kurasa itu lebih pas untuk saat dia sedang berolahraga dengan Aomi-san, bukan?"

Aomi-san memasang senyum yang tampak seperti sebuah kepasrahan. "Tatapan yang dia berikan padaku adalah tatapan untuk seorang rekan setim. Tapi saat menatap Kak Nishino, tatapannya adalah tatapan untuk orang yang ia kagumi."

"Begitu kah?" aku menggelengkan kepala. "Tatapan yang dia berikan padaku... pastilah tatapan yang merindukan masa lalu."

Aomi-san mengembuskan napas pendek.

"Kita berdua sama-sama tidak berjalan sesuai keinginan ya."

"Benar juga, ya."

Mungkin dia merasa sungkan padaku. Aomi-san berdiri dan membalikkan badannya untuk kembali ke dalam. Namun setelah melangkah satu kali, dia menoleh kembali seolah baru teringat sesuatu dan menyeringai lebar.

"Aku ini tipe yang tidak akan gentar meski lawanku adalah senior, lho."

Aku menyipitkan mata melihat senyumnya yang berkilau itu, lalu menjawab.

"Aku ini sangat ahli dalam bersikap seperti seorang senpai di depan kouhai."




Begini-begini, aku ini orangnya cukup pantang menyerah.

Hiragi-san, Uchida-san, Nanase-san. Di sekeliling Saku-kun memang ada gadis-gadis yang luar biasa, tapi di antara mereka semua...

Aku tidak mau dibuat menangis untuk kedua kalinya oleh Aomi-san, gadis yang telah berhasil mengembalikan bisbol ke dalam hidup Saku-kun.

◆◇◆

Setelah mengantar Aomi-san kembali ke ruang tamu, aku mengambil tongkat—ah tidak, kalau disebut tongkat rasanya kurang mantap, jadi aku mengambil "pedang" itu lalu berdiri. Aku mengenakan sepatu, lalu mengambil jarak sedikit untuk berdiri berjajar di sampingmu.

Sama seperti gadis itu, aku pun...

Saku-kun sepertinya baru menyadari keberadaanku. Dia menghentikan ayunan latihannya. Lalu, dia tersenyum lembut dan membuka suara.

"Asu-nee, jangan terlalu memaksakan diri. Nanti malah berpengaruh ke fisikmu besok."

"Iya, sebentar lagi saja. Aku sadar kalau aku ini yang paling tertinggal."

"Begitu ya. Tapi secukupnya saja, oke?"

Lalu, Saku-kun mulai mengayunkan pemukul bisbolnya, sementara aku mulai mengayunkan pedangku.

——Hyuut, pishit.

——Bishut, bishut.

Suara ayunanku terdengar sangat payah jika dibandingkan denganmu. Telapak tanganku sudah memerah dan rasanya kulitnya hampir mengelupas, sebenarnya lenganku pun sudah menjerit kesakitan.

Namun, rasa lelah ini pun terasa menyenangkan sekarang. Meski di mata Saku-kun ini mungkin hanya seperti main-main belaka.

Tapi dengan begini, aku merasa bisa menyentuh dunia tempatmu berjuang selama ini, dan mungkin juga dunia tempatmu akan berjuang di masa depan. Dan yang terpenting...

Tiba-tiba, pemandangan menyedihkan di Taman Timur waktu itu terlintas kembali di ingatanku. Saku-nii yang sedang berlatih bisbol, dan semua orang yang mendukungnya.

——Kali ini, aku pun benar-benar berada di dalam lingkaran itu.

Zant! Aku melangkahkan kaki sekuat tenaga, mengayunkan pedang dengan seluruh kemampuan yang kupunya saat ini.

——Pishut!

Rasanya aku berhasil mendekat sedikit saja ke arahmu. Tanpa sadar aku menoleh ke arah Saku-kun, dan ternyata...

"Ayunan yang bagus."

Dia mengucapkannya dengan singkat, lalu tersenyum lebar hingga matanya menyipit. Setelah itu, kami melanjutkan ayunan latihan dalam keheningan untuk beberapa saat.

——Pishut, bishut, pishut, bishut.

Suaramu dan suaraku. Saling bertumpuk, bergema, lalu terserap ke dalam langit malam.

Seolah sedang bergandengan tangan, seolah sedang menyentuh bahu, seolah sedang memeluk pinggang. Meski aku tidak bisa menjadi pasanganmu, tapi rasanya kami seperti sedang menarikan tarian berpasangan yang rahasia.

Aku yakin, selama ini aku selalu memimpikan momen seperti ini.

"Asu-nee."

Saku-kun memanggilku.

"Terima kasih sudah mau ikut tim pemandu sorak. Aku tidak pernah menyangka hari di mana aku bisa menghabiskan malam seperti ini bersamamu akan tiba, jadi aku merasa sangat senang."

Kalimat yang tidak biasa ia ucapkan tanpa hiasan kata-kata itu justru meresap hingga ke lubuk hatiku. Padahal akulah yang ingin menyampaikan terima kasih.

Namun, sebelum aku sempat menemukan kata-kata yang pas atau ungkapan yang jujur...

"Aaa— Kakak-kakak curang! Aku mau ikut gabung juga dong!"

Nozomi-san melompat keluar dengan ceria dari ruang tamu. Sayang sekali, pasangan resminya sudah datang.

Aku hanya bisa tersenyum kecut sambil membatin. Saat Nozomi-san memanggil Saku-nii dengan sebutan "Kak Saku" sebagai lelucon tadi, aku diserang rasa cemas yang tak terlukiskan.

Sama seperti aku yang memanggilmu hanya dengan sebutan "Kamu", dan sama seperti hanya kamu yang memanggilku "Asu-nee". Aku sempat salah sangka dan berpikir bahwa hanya akulah satu-satunya orang yang berhak memanggil Saku-nii karena kami menghabiskan musim panas di masa kecil bersama.

'Kak, aku ingin berpasangan denganmu!'

Seandainya aku bisa menyampaikannya seperti gadis junior yang polos ini. Apakah hubungan antara aku dan kamu bisa berubah bentuk sedikit saja?

Tapi, pada akhirnya kami berdua hanyalah dua orang yang selalu menempuh jalan memutar. Cukuplah bagi kami untuk terus menumpuk kata demi kata, merangkainya sedikit demi sedikit sambil menelusuri tiap maknanya.

Karena aku yakin, kisah ini akan terus berlanjut seperti itu di masa depan.

◆◇◆

Aku, Aomi Haru, segera menanggalkan kaus dan celana pendek yang sudah basah kuyup oleh keringat di ruang ganti. Aku melepas ikat rambut, memasangnya di pergelangan tangan, lalu menggelengkan kepala dengan asal.

Setelah itu aku melepas bra, merasa sedikit sebal melihat ukurannya yang "sederhana", lalu membungkusnya dengan kaus. Tiba-tiba mataku menangkap tumpukan baju ganti yang tertata rapi seperti pajangan di toko, kontras sekali dengan bajuku yang teronggok berantakan seperti kulit yang terkelupas.

Sifat asli seseorang memang kelihatan di tempat seperti ini ya, pikirku sambil tersenyum kecut. Aku melepas celana dalam, mengambil handuk yang kubawa, lalu membuka pintu kamar mandi.

"Yo."

Yuzuki sedang bersantai merentangkan kakinya sambil berendam di bak mandi. Aku sudah cukup sering melihatnya telanjang saat kamp latihan atau semacamnya. Hubungan kami juga sudah bukan tipe yang harus malu-malu lagi sekarang.

Aku menyahut dengan santai. "Yo juga."

Akhirnya diputuskan kalau setelah Yuko, giliran Ucchi, lalu Yuzuki, baru kemudian aku yang mandi. Sesuai informasi, kamar mandinya memang cukup besar, bahkan untuk berdua pun sama sekali tidak terasa sempit.

Lampunya dimatikan, dan sebagai gantinya ada beberapa lilin aroma yang apinya menari-nari ditiup angin. Aroma harum dari sabun mandi cair tercium di seluruh ruangan.

Suasananya berbeda sekali dari bayanganku, membuatku spontan tertawa kecil. "Bukankah ini terasa agak terlalu mewah?"

"Sepertinya Yuko menyiapkannya mumpung kita berkumpul. Aku juga sering melakukan ini di rumah."

"Bagi Yuzuki mungkin biasa, tapi aku merasa agak salah tempat di ruangan begini."

"Daripada itu, lucu juga kalau membayangkan para laki-laki yang akan masuk ke sini nanti."

"Benar juga," sahutku. Kami saling pandang dan tertawa terbahak-bahak.

Aku menyangkutkan kepala shower di pengait yang tinggi, lalu memutar tuasnya sambil tetap berdiri. Air dingin yang keluar sebelum berubah menjadi hangat membasahi seluruh tubuhku. Aku mendongak sambil menggigil sedikit "Hiee".

Di musim yang suhunya masih tinggi begini, mengguyur tubuh setelah bergerak maksimal rasanya sangat nikmat. Saat aku mulai diselimuti air shower yang perlahan menghangat...

"Fisikmu masih sebagus biasanya ya."

Yuzuki mengatakannya dengan nada santai.




Aku mengangkat sudut bibirku sedikit, membalas tatapannya.

"Kalau mau cari ribut, bisa tunggu sampai aku selesai mandi tidak?"

Aku memutar tubuh, membelakangi kepala pancuran dan menatap Yuzuki.

Sebenarnya ini sudah terlambat karena aku sudah sering merasa minder sampai muak, tapi proporsi tubuhnya benar-benar sempurna sampai terlihat seperti lelucon.

"Bukan, bukan itu maksudku."

Yuzuki tertawa kecil.

"Maksudku, tubuhmu sudah mulai terbentuk, ya."

"Ooh," balasku sambil berbalik lagi ke arah pancuran. Aku meminjam sampo milik Yuko dan mulai menggosok rambutku.

"Soalnya aku sedang memacu diri untuk Winter Cup."

"Jadwalnya mundur sekitar satu bulan, kan?"

"Itu artinya kita punya waktu untuk bersiap dengan matang, 'kan?"

Biasanya babak penyisihan sudah dimulai sekitar waktu ini, tapi sepertinya tahun ini jadwal pertandingannya diundur.

Tapi itu tidak masalah, aku hanya perlu bersiap untuk pertarungan yang akan datang.

Aku membilas sampo, lalu dengan agak sungkan mengambil sedikit kondisioner yang kelihatannya lebih mahal dari yang biasa kupakai, kemudian mengusapkannya ke rambut.

"Ngomong-ngomong Yuzuki, kenapa kamu jadi wakil ketua?"

Dia adalah wakil kapten yang jauh lebih berjiwa kapten daripada sang kapten sendiri, jadi aku tidak meragukan bakatnya.

Jika dia menjadi wakil ketua, dia pasti bisa membantu Chitose dengan baik.

Hanya saja, itu masalah lain lagi—.

Yuzuki punya kecenderungan untuk menghindari berdiri di panggung utama.

Bahkan saat menjadi wakil kapten tim basket putri, dia menerimanya dengan terpaksa karena rekomendasi mutlak dari hampir semua anggota, termasuk aku.

Karena itulah, aku merasa heran.

Perubahan suasana hati macam apa yang membuatnya mencalonkan diri sebagai wakil ketua atas kemauannya sendiri?

Yuzuki menyandarkan kepalanya di pinggiran bak mandi, menatap langit-langit dengan pandangan kosong sambil menjawab.

"Kenapa, ya?"

Nada suaranya terdengar tidak biasa bagi seorang partner sepertiku; dia tidak sedang menghindar, melainkan seperti sedang bertanya pada dirinya sendiri.

Plung, suara air bergema dan Yuzuki membuka mulutnya.

"Justru kamu sendiri, Haru, kenapa kamu bisa begitu saja masuk tim pemandu sorak?"

Maksudnya adalah, sampai-sampai aku harus memotong waktu latihan basketku.

Karena alasanku sudah jelas, aku menjawabnya dengan tegas.

"Itu supaya aku bisa menjadi lebih kuat."

"Begitu, ya."

Yuzuki melirikku sekilas, lalu melanjutkan dengan gumaman pelan.

"Entah secara sadar atau tidak, sepertinya aku juga mulai terpengaruh."

Rasanya tidak sopan jika aku sengaja bertanya siapa yang memengaruhinya.

"Kalau begitu, Nana juga pasti akan jadi lebih kuat."

Aku mengikat rambutku seadanya dengan karet rambut, lalu mulai menyabuni tubuh.

Mungkin karena tadi aku terlalu bersemangat mengayunkan tongkat, entah kenapa lenganku terasa berat.

Tiba-tiba, aku teringat percakapanku dengan Senior Nishino.

Mungkin aku sedang mabuk oleh perasaan gembira yang biasa menyertai malam perkemahan, sampai-sampai di akhir percakapan aku tidak sengaja keceplosan mengatakan hal yang tidak perlu.

Bagi aku yang sudah terbiasa melihat Yuzuki saja, Senior Nishino adalah orang yang sangat cantik sampai bisa membuat wajahku memerah jika melihatnya dari dekat.

Lagipula, aku tidak pernah dengar kalau dia itu teman masa kecil Chitose.

Mana mungkin hal seperti itu terjadi?

...Jangan-jangan, dia itu cinta pertamanya, ya?

Memikirkan hal seperti itu dengan serius hanya akan membuatku depresi, jadi aku mengguyur tengkuk dan bahuku dengan pancuran untuk membilas busa sabun.

"Yuzuki, geser sedikit."

Saat aku mengatakannya, partnerku itu memasang wajah tidak puas.

"Eeeh, padahal aku sedang menikmati waktu santai."

"Kamu itu mandinya selalu lama."

"Karena Haru mandinya secepat kilat, kupikir aku bisa mengambil jatah waktumu sedikit."

Sambil menggerutu, dia menarik kakinya seolah tidak punya pilihan lain.

Aku masuk ke dalam bak mandi berhadapan dengan Yuzuki, berhati-hati agar rambutku yang masih memakai kondisioner tidak terkena air.

Sampai beberapa waktu lalu, aku biasanya langsung membilasnya bersama sabun, tapi Yuko memberitahuku kalau sebaiknya didiamkan lebih lama agar meresap lebih efektif. Katanya akan lebih bagus lagi kalau dibungkus handuk hangat, tapi karena hari ini handuknya sudah kupakai untuk mandi, jadi tidak kulakukan.

"Aaah, nyamannyaaa..."

"Kamu terdengar seperti bapak-bapak."

Tanpa sadar aku meregangkan kakiku, lalu tidak sengaja menyenggol bokong atau mungkin paha partnerku.

"Hei!"

"Maaf, maaf."

Terlepas dari pemandian umum di tempat perkemahan, sudah berapa lama ya aku tidak masuk ke bak mandi rumah seperti ini bersama seseorang?

Tiba-tiba perasaan rindu membuncah, dan aku pun membuka suara.

"Hei, waktu kecil dulu, kamu pernah tidak membawa handuk ke bak mandi lalu membuat ubur-ubur?"

"Apa ini topik yang pantas dibicarakan di tengah suasana romantis dengan cahaya lilin begini?"

Tapi, Yuzuki menjawab sambil menyunggingkan senyum di sudut bibirnya.

"Pernah, pernah. Tekstur yang tidak bisa dijelaskan itu, aku masih ingat sampai sekarang."

"Kalau ditenggelamkan, akan keluar gelembung-gelembung blubuk-blubuk, kan?"

"Lalu, membuat tanduk saat memakai sampo juga sudah jadi tradisi."

"Membayangkan Yuzuki melakukannya saja sudah membuatku tertawa."

Partnerku menatap nyala lilin dengan pandangan kosong.

Biasanya aku sama sekali tidak menyadarinya, tapi profil wajah dan kulit yang terekspos dalam temaram cahaya seperti ini terlihat begitu seksi sampai membuatku merinding.

Aku merasa kesal karena sempat terpana tanpa sengaja, jadi aku membuat pistol air dengan kedua tanganku dan membidik Yuzuki.

Mungkin karena sudah terlalu lama tidak melakukannya, bidikanku meleset jauh.

Yuzuki menghela napas seolah tidak percaya.

"Payah sekali. Jangan sampai mematikan api lilinnya, dong."

Sambil berkata begitu, dia membuat pistol air dengan kedua tangannya dan mengarahkannya padaku.

"Begini caranya."

Byur! Air yang meluncur deras itu langsung menghantam hidungku.

"Pffft—!"

Kurang ajar, ternyata akurasinya bukan cuma hebat saat melakukan shooting basket saja, tapi dalam permainan konyol begini juga.

Kalau sudah begini, akan kusiram langsung pakai gayung...

Saat memikirkan itu, tiba-tiba aku merasa lucu sendiri dan tertawa terbahak-bahak.

Sepertinya partnerku juga merasakan hal yang sama, karena permukaan air hangat itu ikut berguncang pelan.

Setelah puas tertawa, aku berkata.

"Kira-kira, sejak kapan ya kita berhenti melakukan hal-hal seperti ini?"

Yuzuki menyipitkan matanya dengan tatapan yang entah kenapa terasa pilu.

"Mungkin saat kita sudah tidak bisa lagi menjadi anak-anak?"

"Tumben bicaramu terdengar mendalam."

"Hei."

Kalau begitu, aku menghela napas pendek.

"Lalu kita yang baru saja serius bermain pedang-pedangan tadi itu apa, dong?"

Sambil menatap air yang diciduk dengan kedua tangannya, Yuzuki menjawab.

"Mungkin karena kita masih ingin menjadi anak-anak, setidaknya untuk sedikit lebih lama lagi."

Suara itu, entah mengapa, memiliki gema seperti sebuah doa.

Begitu ya, aku tertawa kecil.

September di tahun kedua.

Kehidupan SMA entah bagaimana sudah melewati titik tengahnya.

Bukan hanya Senior Nishino, tapi waktu yang bisa dihabiskan untuk melakukan hal-hal konyol bersama teman-teman yang lain mungkin tidak selama yang kubayangkan.

Pasti semua orang menyadari kesepian itu di suatu tempat di hati mereka, dan itulah sebabnya mereka menjadi lebih ceria dari yang seharusnya.

Seolah baru teringat sesuatu, Yuzuki membuka suara.

"Haru, bagaimana menurutmu tentang Kureha?"

"Bagaimana apanya..."

Aku mencoba mengingat sosok Kureha sejauh ini.

"Padahal dia sangat cantik, tapi dia jujur, serius, perhatian, serba bisa, dan kemampuan atletiknya luar biasa. Kalau bisa, aku malah ingin menariknya masuk ke klub basket kita."

Yuzuki tersenyum tipis.

"Benar juga, aku setuju."

"Kenapa tiba-tiba tanya begitu...?"

"Entahlah," partnerku membuang muka. "Mungkin semacam rasa benci pada diri sendiri yang sepele."

Mendengar kata-kata itu, yang terlintas di benakku adalah tarian berpasangan Chitose dan Kureha.

Padahal kami sendiri yang mendorong mereka hanya untuk iseng, tapi saat melihat wajah bahagia junior itu saat didekap olehnya, rasa sakit yang tumpul menusuk hatiku.

...Rasa terhina dari waktu itu mendadak muncul kembali.

Aku mencoba membohongi diriku dengan kata-kata itu, tapi bukan.

Saat aku jatuh pingsan di gedung olahraga waktu itu, membayangkan Chitose mendekapku seperti itu membuatku malu, tapi juga senang, dan tiba-tiba saja merasa sedih.

Jangan memeluk gadis lain seperti itu, dong.

Aku merasa memalukan.

Kalau Yuzuki atau yang lain mungkin masih mending, tapi merasa cemburu buta bahkan pada junior yang manis, betapa menyedihkannya aku ini.

Bahkan saat mereka menari di bagian akhir tadi.

Chitose dan Kureha tampak sangat serasi seolah-olah mereka adalah partner yang sudah bersama bertahun-tahun. Mereka tampak keren, elegan, dan cantik, sampai aku berpikir kenapa bukan aku yang menari di sana.

Kalau begitu, aku tidak akan meminta hal mewah seperti "hanya melihatku saja". Asalkan aku bisa melihatmu saja, itu sudah cukup bagiku.

Padahal baru saja aku memikirkan hal itu.

Ah, sudahlah, aku tidak mau terus-menerus merasa galau.

Tanpa sadar aku hampir membenamkan diri ke dalam air, tapi tepat sebelum melakukannya, aku tersadar bahwa ini bukan rumahku dan rambutku masih memakai kondisioner.

Tiba-tiba, aku menatap wajah Yuzuki.

Apakah wanita cantik di depanku ini tidak pernah merasa bimbang atau menyedihkan seperti ini?

Sebenarnya dia adalah orang yang paling ingin kudengarkan ceritanya, tapi juga orang yang paling tidak bisa kubagi perasaanku dengannya.

Meskipun perasaan masing-masing sudah saling terbaca, kami tetap tidak akan mengungkapkannya dengan kata-kata yang jelas.

Karena jika diucapkan, kami akan menjadi terlalu akrab.

Sama seperti area inside basket adalah wilayahku dan outside adalah wilayah Nana.

Kami pasti akan kehilangan keinginan untuk menang atau kalah satu sama lain.

Tanpa memedulikan perasaanku, Yuzuki berkata dengan suara tenang.

"Senior Nishino dan Kureha pasti sudah menunggu, sebaiknya kita segera keluar."

"Benar juga."

Lalu aku mengguyur kepalaku dengan pancuran air yang paling dingin.

"Hei!"

Air itu mengenai Yuzuki yang sedang mengantre di belakangku, dan dia langsung menepuk punggungku dengan keras.

◆◇◆

Setelah menyelesaikan perawatan kulit sederhana dengan cepat, aku kembali ke ruang tamu. Kaito menyambutku seolah sudah tidak sabar.

"Ooh, mandimu lama juga ya untuk ukuran Haru."

"Jangan bicara seolah-olah kamu tahu jadwal mandiku."

"Tanpa perlu dengar pun, aku sudah bisa mengira-ngira."

Yah, sebenarnya dia benar.

Di dekat Kaito berdiri Chitose dan Mizushino yang sepertinya baru selesai latihan ayunan pedang, serta Kureha.

Sepertinya mereka berempat sedang merundingkan sesuatu.

Padahal aku sudah memakai kondisioner dengan teliti, tapi karena tadi mengeringkan rambutnya asal-asalan, rambutku yang masih agak lembap itu kuseka kasar dengan handuk mandi.

"Jadi, ada perlu apa?"

Kaito menyeringai dan menjawab.

"Kami berencana pergi makan camilan malam ke 8-Ban sebentar dengan rombongan ini, tapi Saku bilang kalau kami tidak menunggumu, kamu pasti akan mengomel nanti."

Mendengar itu, aku melirik jam di ruang tamu.

Dilihat dari sisi mana pun, ini bukan jam yang pantas bagi seorang gadis untuk pergi makan ramen dengan riang gembira.

Bukannya aku takut malam hari itu berbahaya, tapi seperti yang dikatakan Yuzuki, ini masalah kepantasan.

Lagipula, aku sudah makan kari buatan Ucchi porsi besar dan bahkan sempat tambah sedikit, lho.

Aku menatap Chitose dengan pandangan menyelidik.

"Kamu ini, menurutmu wanita seumuran kami ini apa, sih?"

"Kenapa? Kamu tidak mau ikut?"

"Ya ikut, lah!"

"Sudah kuduga."

Sambil saling melontarkan percakapan tanpa perasaan, di dalam hati aku merasa sangat senang.

Bahkan jika mereka berempat pergi sendiri pun—ya, kalau itu terjadi aku pasti akan protes, tapi setidaknya aku tidak punya hak untuk marah.

Di saat aku tidak ada, kamu memikirkan tentang diriku.

Hanya itu saja sudah cukup bagiku saat ini.

"Ngomong-ngomong," aku menatap juniorku. "Kamu juga ikut?"

Wajah Kureha langsung cerah.

"Iya! Izinkan saya ikut mendampingi!"

"Bukannya aku mau sok menasihati, tapi apa tidak apa-apa makan ramen jam segini?"

"Saya rasa dengan begini Kak Asuka juga bisa mandi dengan tenang, dan yang terpenting, menyelinap keluar bersama di malam perkemahan bukankah itu terasa seperti masa muda?!"

"Ada benarnya juga," aku tertawa kecil.

Ngomong-ngomong, saat perkemahan musim panas tim basket putri tahun lalu, aku memaksa Yuzuki yang sebenarnya malas untuk pergi makan ramen di dekat sana, dan setelahnya kami diomeli habis-habisan oleh Misaki-chan.

Omong-omong, alasannya bukan karena "merusak kedisiplinan klub", tapi "kenapa dia tidak diajak juga".

Waktu itu, aku tidak pernah membayangkan kalau aku akan merasa senang atau sedih karena hal-hal di luar basket seperti ini.

Lapangan adalah tempat hidupku, dan rekan setim adalah seluruh duniaku.

Lalu, Kureha memiringkan kepalanya dan menatapku.

"Apa tidak apa-apa kalau kita tidak menunggu Kak Yuzuki?"

"Kalau diajak, dia pasti cuma akan bilang 'Kamu waras?' dengan wajah heran. Aku sudah pernah mengalaminya."

"Kedengarannya mirip sekali!"

Sambil mengawasi juniorku yang tampak asyik bercanda di kelilingi para senior, aku merasa rindu.

Dulu aku juga pernah menjadi gadis yang polos.

Karena kupikir memiliki rekan dengan tujuan yang sama untuk mencapai puncak saja sudah cukup, aku sering menatap dingin teman-teman sekelasku yang sedang kasmaran...

Maaf ya untuk waktu itu, aku membatin dalam hati tanpa ditujukan pada siapa pun.

Setidaknya di malam seperti ini.

Biarkan aku menjadi diriku yang dulu, yang masih "hijau" sebelum mulai berwarna.

◆◇◆

Meskipun belum bisa disebut tengah malam, 8-Ban pada jam segini memang sepi.

Aku memesan Yasai Tantanmen setelah sekian lama, Mizushino memesan Yasai Ramen Shio, Kaito memesan Yasai Chashuemen Miso, dan Chitose seperti biasa memesan Karamamen porsi satu orang dengan ekstra daun bawang. Melihat itu, Kureha ikut memesan menu yang sama.

Mungkin karena tidak ada antrean pesanan lain, makanan kami sampai dalam sekejap.

Chitose berkata pada Kureha.

"Dengar ya, cara makan yang ahli adalah dengan menuangkan cuka dan minyak cabai yang banyak."

"Baik!"

Melihat reaksi juniorku yang begitu patuh, aku angkat bicara dengan heran.

"Kalau kamu menirunya mentah-mentah, kamu bisa tersedak, Kureha."

"Tidak apa-apa, saya suka makanan pedas!"

"Tapi tetap saja," Kaito membuka suara. "Makan ramen di luar jam begini rasanya ada sensasi berdosa, ya."

Mizushino tersenyum tipis dan menyambung.

"Tiba-tiba terasa kalau kita sedang menghabiskan malam yang tidak biasa."

Chitose yang sedang mengaduk Karamamen-nya berkata.

"Bagus juga ya, hal-hal seperti ini."

Anak-anak lelaki itu pun sepertinya sedang dalam suasana hati yang sentimental, tidak seperti biasanya.

Tapi yah, aku mengerti.

Rasanya berbeda dengan saat datang bersama Yuzuki sepulang latihan.

Di waktu yang berbeda, dengan anggota yang sedikit berbeda, memisahkan diri dari lingkaran semua orang untuk makan ramen.

Kenapa hanya hal sesederhana itu bisa terasa begitu spesial?

Aku menyipitkan mata melihat Chitose yang sedang menyantap Karamamen dengan lahap.

Yuko tidak ada, Ucchi tidak ada, Yuzuki tidak ada, Senior Nishino pun tidak ada.

Jadi saat ini, akulah satu-satunya yang menatapmu dengan perasaan penuh kasih sayang seperti ini.

Rasakan itu, dasar bodoh.

Tapi, akhirnya aku yang merasa kasmaran begini ini sebenarnya apa, sih?

Saat aku sedang memikirkan itu, Kureha tiba-tiba tersedak, uhuk uhuk.

Aku tertawa kecil dan menyodorkan air minum.

"Tuh kan, sudah kubilang."

Kureha meminum air itu sampai habis sebelum menjawab.

"Saya kaget, sepertinya saya terlalu meremehkan kekuatan cukanya."

Aku pun dulu begitu saat pertama kali mencicipinya sedikit.

Kalau tidak salah itu sekitar bulan Mei, ya.

Rasanya sudah seperti masa lalu yang sangat jauh.

"Ngomong-ngomong," Kaito berkata seolah baru teringat sesuatu.

"Kureha, apa kamu tidak punya pacar?"

PLAK. DUAK. TAK.

"──Kenapa?!"

Chitose, Mizushino, dan aku masing-masing memberikan serangan balasan secara berurutan.

"Gunakan tahapan, dong."

"Laki-laki yang terlalu agresif itu dibenci, lho."

"Astaga, tidak punya kepekaan sedikit pun."

"──Bukannya malam perkemahan itu identik dengan obrolan cinta?!"

Mendengar suara menyedihkannya itu, aku menghela napas.

Aku terkejut saat mendengar Kaito menyatakan cinta pada Yuko.

Meskipun begitu, bahkan aku pun tahu kalau dia tidak berniat memanfaatkan kelemahan Yuko untuk benar-benar memacarinya.

Dia memang bodoh, tapi dia bukan pria semacam itu.

Aku tidak tahu detail masalahnya, tapi aku yakin itu adalah cara Kaito sendiri untuk mencoba menghentikan air mata wanita yang disukainya.

Jadi yang barusan pun, bukannya dia mencoba mendekati juniorku karena baru ditolak Yuko, tapi sepertinya dia memang hanya berniat mengobrol soal cinta seperti yang dia katakan.

Meskipun begitu, apa tidak bisa dia memulainya dengan cara yang sedikit lebih baik?

Kureha buru-buru melambaikan kedua tangannya.

"Tidak, tidak, saya tidak punya pacar!"

Karena sudah diprotes habis-habisan, Kaito malah bicara blak-blakan.

"Tapi Kureha pasti populer, kan!"

"Eh, bagaimana ya..."

Kureha menggaruk pipinya dengan bingung.

"Kalau sekadar ditembak, sesekali memang ada."

Mizushino berkata dengan nada menggoda.

"Berarti itu frekuensinya cukup sering, ya?"

Aku menyambung dengan nada heran.

"Tentu saja. Dia ini kan seperti versi Yuzuki yang semua sifat buruk dan keangkuhannya sudah dibuang bersih."

"Tunggu dulu, Kak Haru! Nanti Kak Yuzuki bisa marah, lho!"

Sambil tersenyum melihat reaksi juniorku, kupikir sesekali hal seperti ini tidak buruk juga.

Dulu saat Kak Kei masih ada, kami sering mendengar cerita asmara di ruang klub, tapi belakangan ini kami lebih sering serius membahas evaluasi latihan atau pertandingan.

Lagipula, kami baru saja melewati banyak hal musim panas ini dan baru bisa bernapas lega, jadi suasananya tidak terlalu mendukung untuk percakapan ringan seperti itu.

Maaf saja buat Kureha yang digoda, tapi pembicaraan cinta tentang junior yang manis memang pas untuk memeriahkan malam perkemahan.

Kalau dipikir-pikir, mungkin dulu Kak Kei mencoba mengakrabkan diri dengan cara santai seperti itu.

...Eh, tapi kalau orang itu sih, mungkin memang murni karena rasa penasaran yang rendah saja.

Kaito yang semakin bersemangat kembali bertanya.

"Kureha tidak kepikiran ingin punya pacar?"

Kureha menjawab seolah-olah dia mencondongkan tubuhnya ke depan.

"Tentu saja saya sedang membuka lowongan besar-besaran!"

Mizushino memasang ekspresi jahil.

"Heh? Tapi sepertinya kamu sudah membuat banyak pria menangis, ya?"

"Kak Kazuki, bicaranya itu, lho!"

"Mungkin kriteriamu cukup tinggi? Tipe idealmu seperti apa?"

Cukup menyerang juga ya, aku tertawa kecil.

Karena Chitose selalu asal bicara, aku jadi sering lupa kalau Mizushino pun tipe orang yang suka menggoda seperti ini.

Kureha berpikir sejenak, lalu menundukkan pandangannya.

"Anu," katanya dengan malu-malu.

"Seseorang yang bisa dengan lembut menyodorkan payung di hari hujan."

Kazuki tersenyum kecil.

"Lulus. Jawaban yang cukup cerdas."

Chitose sepertinya tidak terlalu berniat ikut campur dalam topik ini, dia hanya mengawasi Kureha dengan tatapan mata yang entah kenapa terasa tenang.

Aku tidak benci sisi dirimu yang seperti itu, tapi tanpa banyolanmu yang seperti biasanya, rasanya ada yang kurang.

Aku pun mengambil alih peran Chitose dan bertanya.

"Kalau begitu, Kureha, di antara tiga pria ini, wajah siapa yang paling kamu sukai?"

"Eeeh?!"

Kureha tampak sangat terkejut.

"Anu, apa tidak boleh kalau saya memilih Kak Haru saja?"

"Heeh, jadi Kureha menganggapku sebagai laki-laki, ya?"

"Sudah, ah! Jangan bicara yang aneh-aneh!"

Aku sengaja menambahkan kata "wajah" saat bertanya tentang "tipe ideal", karena aku tahu kalau pertanyaannya terlalu umum, itu bisa menimbulkan banyak makna dan sulit dijawab.

Aku jarang sekali berada di pihak yang menggoda dalam percakapan seperti ini, jadi aku sempat berpikir sejenak.

...Eh, tapi tidak apa-apa, kan? Tidak malah jadi makin sulit dijawab, kan?

Kureha sempat berpikir serius lagi, lalu tiba-tiba mendongak.

Ia sempat melirik Kazuki seolah tanpa sadar, namun buru-buru membuang muka.

Kemudian ia berbalik menatap Chitose, lalu berkata.

"Karena Kakak adalah pasangan dansaku, jadi kuanggap begitu saja, ya."

Kureha tertawa lepas hingga wajahnya tampak berseri.

Namun, kalimat itu langsung disambar oleh komentar pedas yang datang tanpa jeda.

"Oi, ketahuan ya kalau kamu tadi melihat ke arah Kazuki duluan."

"Duh, mana ada hal seperti itu~."

"Makanya, berhenti bicara dengan nada datar begitu."

Terakhir, Kaito mengeluarkan suara yang terdengar mengenaskan.

"──Hei, masukkan aku juga ke dalam pilihan dong!"

Kami saling bertukar pandang lalu tertawa terbahak-bahak.

Bisa menemukan cara untuk mengakhiri pembicaraan dengan pas meski baru sebentar mengenal kami, dia benar-benar junior yang hebat.

Setelah itu, kami menghabiskan sisa ramen dengan cepat dan keluar dari 8-Ban.

Angin yang terasa lebih dingin dari bayanganku terasa sangat nyaman di tubuh yang masih hangat sehabis mandi.

──Ti-ti-ti-ti-ti-ti-ti-ti.

──Hi-ri-ri-ri, hi-lu-lu-lu.

Di sekitar kami, suara serangga yang menandakan datangnya musim gugur mulai bergema pelan.

Di jalanan desa yang tak dilewati satu pun mobil, kami mengayuh sepeda dengan santai.

Bulir-bulir padi bergoyang tertiup angin, mengeluarkan suara berdesis layaknya ombak kecil.

Rasanya seolah kami sedang menaiki perahu kecil yang mengarungi malam.

Kureha mengayuh di sampingku.

Kring, kring, kring, kring.

Suara putaran roda yang tumpang tindih itu membuatku merasa seolah kami sedang diantarkan menuju musim berikutnya.

◆◇◆

Saat aku, Nanase Yuzuki, selesai merawat kulit serta rambut dan kembali ke ruang tamu, sosok Haru dan yang lainnya sudah tidak ada. Yuko, Ucchi, Senior Nishino, dan Yamazaki sedang duduk di sofa sambil asyik mengobrol dan menikmati camilan.

Pemandangan yang khas sekali dengan suasana perkemahan, pikirku sambil tersenyum kecil.

Aku pun mendekati mereka dan membuka suara.

"Senior Nishino, maaf aku baru selesai. Tidak kusangka ternyata memakan waktu lama."

Senior Nishino menoleh dan menunjukkan senyuman yang entah mengapa terlihat sedikit lebih kekanak-kanakan dari biasanya.

"Tidak apa-apa kok, tidak terasa lama karena aku asyik mengobrol dengan yang lain."

"Omong-omong, ke mana anak-anak itu?"

"Hm, mereka semua pergi ke 8-Ban."

"……Apa mereka waras?"

Aku tidak terkejut jika itu Chitose, Mizushino, Kaito, atau bahkan Haru, tapi itu artinya Kureha juga ikut pergi bersama mereka.

Padahal dia sudah makan kari cukup banyak, tapi tetap bisa menjaga bentuk tubuh seperti itu benar-benar tidak adil.

Senior Nishino bangkit berdiri lalu berkata.

"Kalau begitu Hiiragi-san, giliranku untuk mandi ya."

"Siap! Karena Kureha sedang pergi, silakan nikmati mandinya dengan santai!"

"Iya, terima kasih."

Aku duduk di sofa, bertukar tempat dengannya.

"Eh, Yamazaki tidak ikut pergi?"

Mendengar pertanyaanku, Yamazaki hanya bisa tersenyum kecut.

"Padahal aku sudah susah payah diet, kalau aku terus-terusan mengikuti para dewa itu, aku bisa gemuk lagi."

Aku mengangguk dalam-dalam sambil merentangkan tangan dengan dramatis.

"……Oh, kawan senasibku."

"Tiba-tiba kenapa?!"

Kalau dipikir-pikir, biasanya kami selalu berkumpul ramai-ramai, jadi kesempatan untuk mengobrol berdua seperti ini terasa sangat langka.

Inilah salah satu kenikmatan dari perkemahan, pikirku sambil tersenyum dan menggoda dirinya.

"Yamazaki, kamu sudah tumbuh besar ya."

Yamazaki sepertinya menangkap kata-kataku dengan makna yang berbeda, lalu menjawab dengan bangga.

"Yah, begitulah. Aku terus latihan beban, dan belakangan ini aku mulai memperhatikan asupan protein juga."

"Bukan itu maksudku."

Aku menjeda kalimatku sejenak, lalu melanjutkan dengan nada menggoda.

"Berada di bawah satu atap dengan empat gadis cantik di malam selarut ini, kamu tidak boleh diremehkan ya."

Sepertinya dia baru menyadari maksudku, wajah Yamazaki langsung memerah padam dan ia membuang muka.

"T-tunggu, berhentilah, Nanase-san! Sedari tadi aku sudah berusaha mati-matian agar tidak memikirkan hal itu!"

Reaksinya sangat menarik, membuatku ingin menjahilinya lebih jauh.

"Yuko, Ucchi, dan aku juga. Kami semua baru selesai mandi dan hanya memakai piyama, lho?"

Yamazaki menutup telinganya dengan kedua tangan, lalu berteriak sambil memejamkan mata rapat-rapat.

"Aaaaaah! Aku tidak dengar, tidak dengar! Jugemu Jugemu Goko no Surikire Kaijarisuigyo no Suigyomatsu……"

Sebagai informasi, Yuko memakai kaus Gelato Pique dengan hoodie lengan panjang, celana pendek bergaris, dan bando di kepalanya.

Ucchi memakai setelan piyama satin biru dengan motif bintang putih, lengkap dengan bando Gelato Pique juga.

Sedangkan aku memakai all-in-one Gelato Pique dan hoodie.

Semuanya memakai pakaian yang sama seperti saat sesi belajar musim panas waktu itu.

Sebenarnya memakai celana yang sependek ini di depan umum adalah hal biasa, tapi karena ini piyama, potongannya lebih longgar dan entah mengapa memberikan kesan bahwa kami sedang memperlihatkan sisi asli kami.

Bahkan bagiku yang sesama perempuan saja, saat pertama kali menginap bersama Yuko dan Ucchi, aku sempat merasa sedikit berdebar melihat aura mereka yang terlihat tanpa pertahanan seperti itu.

Sejujurnya, mungkin ini sedikit terlalu merangsang bagi laki-laki.

Aku tertawa kecil lalu berkata.

"Cuma bercanda kok, kamu boleh melihat ke arah sini."

Mendengar itu, Yamazaki langsung berdiri tegak.

Ia membetulkan letak kacamatanya dan berkata dengan suara yang dibuat-buat serius.

"Tidak, hamba adalah pria yang hidup di jalan pedang."

Setelah mengatakan itu, ia mengambil tongkat latihannya dan berjalan cepat menuju halaman rumah.

Gawat, sepertinya aku keterlaluan.

Yuko yang melihat interaksi itu menggembungkan pipinya.

"Duh, jangan terlalu menggoda Kentacchi-kun!"

"Maaf, maaf."

Sepertinya aku juga sedang terlalu bersemangat.

Tentu saja aku tidak akan pernah melontarkan candaan seperti ini kepada laki-laki lain di sekolah.

Tapi karena aku sudah menganggap Yamazaki sebagai bagian dari keluarga, tanpa sadar aku menggodanya dengan cara yang sama seperti saat aku menggoda Chitose dan yang lainnya.

Aku harus minta maaf padanya nanti, pikirku sambil menggaruk pipi.

Ucchi yang sedari tadi mengawasi kami tersenyum lembut.

"Tidak apa-apa kok, Yuzuki-chan. Mungkin dia memang merasa malu, tapi kurasa dia juga berpikir mumpung ada kesempatan, dia ingin berlatih sedikit lagi."

"Begitu ya," kataku sambil mencoba mengalihkan suasana.

"Kalau begitu, mari kita mengadakan pesta perempuan sampai mereka kembali."

Wajah Yuko langsung berbinar ceria.

"Stok camilan masih banyak kok! Mister Donut juga ada!"

"Makan jam segini sebenarnya tidak baik, sih……"

Meski berkata begitu, tanganku tetap mengambil satu buah Chocolate Fashion.

Ucchi bangkit dari sofa dengan anggun.

"Yuzuki-chan mau minum apa? Ada kopi, teh, houjicha, susu hangat, lalu Yuko-chan bilang kita boleh minum Welch's juga."

"Maaf ya, jadi merepotkanmu terus. Sepertinya aku ingin minum Welch's, sudah lama tidak merasakannya."

"Siap, siap, siaaap!"

Yuko mengangkat tangannya dengan penuh semangat.

"Biar aku yang menyiapkannya!"

Yuko yang pergi ke dapur dengan langkah riang kembali ke sofa membawa tiga gelas wine berisi Welch's rasa anggur.

Ia menatanya di atas tiga tatakan gelas yang berjejer, lalu berjalan ke arah pintu dan mematikan lampu utama ruang tamu.

Cahaya dari lampu lantai dan lampu temaram lainnya mulai menerangi kami dengan lembut.

Yuko yang kembali ke sofa berkata dengan nada senang.

"Ibuku selalu minum wine dengan suasana seperti ini."

Aku tersenyum tipis.

"Bagus juga ya, suasananya jadi tenang."

Ucchi menimpali.

"Jadi rumah Yuko-chan suasananya seperti ini kalau malam ya."

Kami semua saling berlagak dewasa dengan memegang batang gelas wine tersebut.

Meskipun masih terlalu dini untuk memenuhi janji sepuluh tahun yang kami buat saat perjalanan dulu, kurasa keceriaan kecil seperti ini boleh-alih dimaafkan.

Ini adalah malam di mana permainan rumah-rumahan dengan gelas wine dan jus anggur terasa begitu pas.

Yuko berdeham kecil lalu berseru ceria.

"Yo-ho!"

""Yo-ho!""

──Ting, ting, ting.

Gelas-gelas yang bersentuhan pelan itu seolah sedang bernyanyi.

Aku mencoba membasahi bibirku dengan gaya yang sedikit sok keren, tapi tentu saja tidak ada rasa sepat ataupun asam, yang ada hanyalah rasa manis khas usia tujuh belas tahun yang sangat mirip dengan kami saat ini.

Yuko tiba-tiba berdiri dan mengoperasikan pemutar musik, lalu suara tenang dari gitar akustik dan harmonika mulai mengalir.

Sebuah lagu yang terasa pilu dan penuh melankoli.

"Ini lagu siapa?"

Saat aku bertanya, Yuko berbalik dan menjawab.

"Aku memutarnya secara acak, tapi katanya ini lagu Inoue Yosui yang berjudul Itsunomanika Shoujo wa. Maaf, apa lagunya terlalu suram?"

"Tidak, aku ingin mendengarkannya."

Sambil meresapi liriknya, tiba-tiba aku merasa sentimental.

Yuko, Ucchi, Haru, dan Senior Nishino.

Melihat gadis-gadis di sekitarku yang semakin terlihat dewasa setiap musim berganti, terkadang aku merasa cemas.

Jangan-jangan hanya aku yang tertinggal di bulan Mei, tanpa bisa melangkah maju sedikit pun.

Jangan-jangan aku hanya terus menjadi Nanase Yuzuki yang lamban, tanpa bisa menjadi anak-anak maupun orang dewasa sepenuhnya.

Apakah itu benar atau salah, aku sendiri pun tidak tahu.

Melihat wajah gadis yang duduk di dekatku, seolah-olah aku lupa mengunci pintu hatiku, aku melontarkan kata-kata yang seharusnya tidak kuucapkan.

"Ucchi, apa belakangan ini kamu memasak di rumah anak itu?"

Ucchi memiringkan kepalanya dengan ekspresi bingung.

"Eh, maksudmu di rumah Saku-kun? Terakhir kali aku pergi belanja bahan makanan bersamanya itu saat akhir liburan musim panas, jadi waktu itu."

Padahal aku sudah tahu jawabannya tanpa perlu bertanya, padahal aku tahu kalau memastikan hal itu hanya akan membuatku semakin sakit hati.

Benar saja, aku yang merasa terluka ini memang bodoh.

──Ah.

Aku teringat wajah Chitose yang dipenuhi kegelisahan, rasa bersalah, dan kepiluan yang akhirnya berubah menjadi rasa tidak enak hati.

Kelanjutan dari kalimat yang pasti ia telan kembali adalah ini:

Karena itu adalah kursi milik Yuua.

Aku segera berpaling dan berpura-pura tidak menyadarinya, karena aku sendiri tidak tahu seperti apa raut wajahku saat itu.

Berbeda denganku yang kekanak-kanakan dengan menyiapkan handuk mandi sendiri seolah sedang membangun sarang, Ucchi bukanlah tipe gadis yang melakukan hal semacam itu.

Jika begitu, itu adalah────.

Tempat tinggal yang khusus diberikan oleh pria itu untuk gadis ini.

Untuk sesaat, aku merasa seolah kenyataan pahit itu dihantamkan kepadaku.

Di bawah kakiku yang merasa sudah sedikit lebih dekat karena mencalonkan diri sebagai wakil ketua, aku mendengar suara tangga yang ditarik paksa hingga aku terjatuh.

Jika aku berpikir dengan tenang, ada banyak alasan yang bisa kutebak.

Karena Ucchi memang memasak di sana setiap hari, wajar saja jika Chitose menyediakan setidaknya satu kursi untuknya, atau mungkin itu adalah bentuk terima kasih karena sudah menjembatani hubungannya dengan Yuko, mungkin kenyataannya memang seperti itu.

Namun, aku menggigit bibirku pelan.

Seandainya itu adalah hati Chitose.

Antara aku yang hanya datang mendesak, dan dia yang kehadirannya memang diinginkan.

Rasanya, aku ingin menangis sedikit.

"Yuzuki-chan……?"

Suara Ucchi yang terdengar cemas akhirnya menyadarkanku.

Aku buru-buru memaksakan senyum untuk menutupi perasaanku.

"Maaf, maaf. Aku cuma teringat betapa enaknya pasta dan kari tadi, sampai-sampai aku tidak sengaja menanyakan hal aneh."

"Begitu ya," Ucchi tampak lega dan tersenyum lembut.

"Anu, itu, sebenarnya... aku juga ada satu hal yang ingin kutanyakan……"

Entah mengapa, tiba-tiba ia menunduk dengan gelisah.

Aku memiringkan kepala melihat tingkahnya itu.

"Tentu saja, ada apa?"

Sangat jarang bagi Ucchi untuk menunjukkan sikap seperti ini kepadaku.

Apa mungkin ada bagian sulit dalam koreografi tim pemandu sorak?

"Anu, begini!"

Ucchi mendongak seolah telah memantapkan tekad.

Bibirnya bergerak-gerak ragu, tangannya berkali-kali bertautan di atas paha, lalu ia bergumam dengan suara yang hampir menghilang.

"……Bisa tolong ajarkan aku cara membuat Katsudon milik Yuzuki-chan?"

"…………"

Untuk sesaat, aku tidak mengerti apa yang dia katakan.

Keheningan menyelimuti kami selama beberapa saat, sampai akhirnya aku memahami situasinya.

"──Pffft."

Aku tidak tahan lagi dan akhirnya tertawa terbahak-bahak.

"Jangan tertawa dong?!"

Sambil merasa bersalah pada Ucchi yang pipinya memerah karena malu, rasa lucu ini terus membuncah dan tidak bisa berhenti.

Padahal aku sudah mengira dia akan mengatakan sesuatu yang sangat serius, ternyata malah cara membuat Katsudon.

Apalagi, itu datang dari seorang Ucchi, ditujukan kepadaku.

Setelah tawa-ku mereda, aku menyeka air mata dengan dramatis.

Ucchi yang melihat itu cemberut dan bergumam dengan nada merajuk.

"Jahat sekali, padahal aku sudah sangat bingung apakah harus mengatakannya atau tidak."

Sambil berusaha mati-matian menahan tawa yang hampir meledak lagi, aku berkata.

"Maaf, maaf, habisnya ini benar-benar di luar dugaanku. Tapi, kenapa tiba-tiba?"

Ucchi menggaruk pipinya dengan malu-malu.

"Yuzuki-chan pernah membuatkan Katsudon untuk Saku-kun, kan? Dia memujinya habis-habisan dan bilang kalau itu sangat enak, jadi aku merasa agak sulit untuk membuatnya sendiri……. Tapi, Saku-kun sangat suka Katsudon, jadi aku merasa tidak enak kalau terus-terusan mendiamkannya seperti ini."

Ia menjeda kalimatnya sejenak, lalu melanjutkan sambil melambaikan tangan dengan panik.

"Tentu saja kalau kamu keberatan tidak apa-apa kok! Kalau begitu, saat Saku-kun ingin makan, aku tinggal minta tolong padamu untuk membuatkannya saja."

Melihat Ucchi yang menawarkan saran dengan penuh rasa sungkan itu, aku pun tersadar.

Aku jadi mengerti kenapa dia sempat ragu.

Itu adalah resep yang kutemukan setelah memikirkan banyak hal demi Chitose.

Aku mengepalkan kedua tanganku kuat-kuat, berusaha menahan dorongan emosi yang meluap-luap.

Namun, aku tetap tidak bisa menahannya lagi.

"Ucchi!"

Aku langsung memeluknya dengan erat.

"Eh, eh……?"

"Apa-apaan itu, kamu manis sekali! Ternyata kamu ini benar-benar seorang Yamato Nadeshiko, ya?"

"T-tunggu, Yuzuki-chan, wajahmu terlalu dekat."

"Hmm, baunya harum sekali."

"Jangan mengendus leherku dong?!"




Setelah selesai bercanda, ia akhirnya melepaskan pelukannya dan mulai bicara.

"Tentu saja boleh. Lagi pula, aku sudah sering sekali diajari trik memasak dan bumbu rahasia oleh Ucchi, jadi kalau aku menolak sekarang, bukankah aku jadi gadis yang sangat jahat?"

Sudut mata Ucchi menurun, tampak lega.

"Benarkah? Terima kasih, Yuzuki-chan."

Sambil berkata begitu, ia menggaruk pipinya dengan sedikit canggung.

"Terlepas dari bisa atau tidaknya, aku sempat terpikir untuk menciptakan resep Katsudon lezat versiku sendiri. Tapi, rasanya seperti aku sengaja menginjak-injak kenangan berharga kalian berdua."

"Ucchi……"

"Makanya, kupikir akan lebih baik jika aku mempelajari resep milik Yuzuki-chan. Dengan begitu, Saku-kun juga bisa terus mengingatnya setiap kali dia makan."

Hatiku terasa hangat mendengar perhatiannya itu.

Sungguh, orang ini.

Seberapa lembut sebenarnya hati gadis ini?

Dia memang merendah, tapi aku tahu jika Ucchi mau, dia bisa dengan mudah membuat Katsudon yang jauh lebih enak dariku.

Namun jika dia melakukannya, mau tidak mau pikiran Chitose pasti akan terlintas, "bagaimana jika dibandingkan dengan Katsudon milikku".

Demi aku, dan juga pasti demi Chitose, Ucchi rela merendahkan diri demi menginginkan solusi yang paling damai.

Aku jadi merasa payah karena sempat merasa cemburu tadi.

Pantas saja Chitose sampai ingin menghadiahi kursi untuknya.

Haaah, aku menghela napas panjang di dalam hati.

Aku kalah. Untuk hari ini, aku benar-benar kalah telak.

Setelah perasaan itu lepas, aku tertawa lepas.

"Kalau sudah pulang ke rumah, aku akan merangkum resepnya dan mengirimkannya padamu!"

"Sip!"

Resep itu memang kubuat dengan memikirkan Chitose, melewati banyak kegagalan hingga akhirnya selesai.

Tapi, jika gadis selembut ini bersedia meneruskan kenangan kami, tidak ada hal yang lebih membahagiakan dari itu.

Lagipula, aku berpikir.

Hanya dengan kata-kata Chitose yang tersampaikan kepada Ucchi saja, aku sudah merasa sangat terpenuhi.

◆◇◆

Sambil mengobrol bertiga untuk beberapa saat, tiba-tiba aku teringat sesuatu.

"Ngomong-ngomong, Yuko. Setelah tarian berpasangan tadi selesai, apa yang kamu bicarakan dengan Kureha?"

"Eh, mmm...?"

Sepertinya bagi Yuko sendiri, itu bukan percakapan yang terlalu ia sadari.

Ia menaruh jari di dagu, mengernyitkan dahi seolah mencoba mengingat-ingat.

Lalu, ia menepuk lututnya.

"Ooh iya, aku bilang, tolong titip Saku, ya!"

"Eh……?"

Kata-kata yang di luar dugaan itu membuatku sedikit bingung.

Ini kan Yuko.

Kukira dia setidaknya akan bilang, "Istri sah Saku itu aku lho!", atau setidaknya candaan lucu seperti "Aku sebal, tau!".

Yuko melanjutkan dengan nada bicara yang biasa saja.

"Begini, Saku kan ketua pemandu sorak, 'kan? Ditambah lagi kalau berpasangan dengan junior, aku takut dia bakal berjuang terlalu keras sendirian lagi. Karena Kureha anak yang sigap, aku minta tolong padanya untuk memperhatikannya!"

Dada bagian dalamku terasa sedikit nyeri.

Tiba-tiba rasa kesepian karena tertinggal datang menghampiri, dan aku kembali keceplosan menanyakan hal yang tidak perlu.

"Anu, boleh aku tanya sesuatu yang agak sulit ditanyakan?"

"Tentu sajaaa!"

"Tarian berpasangan Saku dan Kureha... apa kamu tidak merasa sedih saat melihatnya?"

Yuko memiringkan kepalanya dengan bingung.

"Kenapa?"

"Maksudku, kenapa... itu..."

Aku mendadak kehilangan kata-kata.

Saat aku menatap Ucchi seolah meminta bantuan, entah kenapa ia malah menunduk dengan canggung.

Yuko melanjutkan dengan nada suara yang sangat alami.

"Dia bisa langsung disukai oleh junior yang manis dan hebat begitu, Saku memang luar biasa, ya. Tarian mereka sangat kompak, keduanya terlihat sangat cantik, aku sampai terpana melihatnya."

Ia menjeda kalimatnya sejenak, lalu menyipitkan mata dengan penuh kasih sayang.

"Aku jadi berpikir, ingin juga bisa menari seperti itu bersama Saku."

Ia tersenyum dengan sangat tulus.

"──!"

Tanpa sadar aku menahan napas.

Benar juga, padahal aku seharusnya sudah sangat menyadari hal itu, tapi kenapa aku bisa lupa?

Yuko bukan lagi gadis lugu yang dulu kukenal.

Setelah melewati satu musim panas, ia telah meninggalkanku dan tumbuh dewasa tanpa kusadari.

Tanpa rasa kesal, tanpa menyembunyikan atau menutup-nutupi, Yuko yang bisa mengutarakan perasaannya kepada Chitose dengan jujur itu terlihat sangat cantik hingga aku ingin memalingkan wajah.

Dibandingkan dengannya, aku sendiri...

Saat itu, meski hanya sekejap, aku sempat terpikir.

Harusnya aku tidak mengalah saja tadi.

Seharusnya aku tidak usah berlagak seperti senior yang memberikan panggung pada juniornya. Harusnya aku bilang saja, "Mana mungkin ketua dan wakil ketua tidak berpasangan," begitu.

Karena aku kembali mengulang peran Nanase Yuzuki yang membosankan.

Aku ingin menjadi gadis yang bisa bilang kalau Saku itu keren.

Percakapanku dengan Yuko malam itu kembali terngiang.

Begitu ya, kamu memilih untuk menempuh jalan itu.

Lalu, aku...?

Padahal aku sudah berkali-kali memantapkan hati, tapi tetap saja goyah saat diperlihatkan kenyataan sejelas ini.

Selama Nanase Yuzuki tetap berusaha menjadi Nanase Yuzuki, aku akan selamanya mengulangi penyesalan yang sama.

Harusnya waktu itu aku merebut bibirnya saja, bukan hanya pipinya.

Harusnya aku tidak perlu memberikan bantuan kepada Senior Nishino maupun Haru.

Harusnya aku menyelinap dan menyatakan perasaanku di kamar saat ada Ucchi dan Haru.

Harusnya saat Yuko bertanya, aku mengumumkan perang saja kalau aku juga suka Saku.

Pilihan yang mungkin bagi siapa pun terlihat benar dan membuat kagum—pilihan yang Nanase Yuzuki percayai sebagai hal yang indah—belum tentu merupakan hal yang benar dan indah bagiku.

Misalnya seperti Ucchi. Pasti ada jenis cinta yang memilih mundur satu langkah, hanya untuk menyokong kebahagiaannya.

Misalnya seperti Yuko. Pasti ada jenis cinta yang menatap lurus, hanya untuk memikirkannya dengan sepenuh hati.

Tapi Nanase Yuzuki, hanya bisa terdiam.

Dia tidak akan membuang segalanya demi mengabulkan cintaku.

Tak kusangka, aku akan merasa terpukul dua kali dalam satu malam.

Teman-temanku yang berharga. Saingan cintaku yang tangguh.

Padahal aku takkan pernah bisa menjadi seperti mereka, tapi aku tetap mendambakannya.

Karena selama aku tetap menjadi Nanase Yuzuki, kamu pun hanya akan tetap menjadi Chitose Saku.

◆◇◆

Aku, Uchida Yuua, hanya bisa terdiam malu mendengarkan percakapan mereka berdua.

Kata-kata Yuzuki-chan terngiang kembali.

Tarian berpasangan Saku dan Kureha... apa kamu tidak merasa sedih saat melihatnya?

Hei, sebenarnya aku merasa sedikit sedih lho, Yuko-chan.

Mungkin sejak malam itu, atau bahkan mungkin sejak jam wali kelas waktu itu, aku terus memalingkan wajah dari perasaanku kepada Saku-kun.

Aku takut mengakui kalau ini adalah cinta. Dengan berbagai kata seperti "orang berharga", "keluarga kedua", atau "orang yang ingin kudampingi", aku terus membohongi diriku sendiri.

──Mulai sekarang, apa aku boleh menjadi sedikit lebih egois?

Alasan aku mengatakannya hari itu, pasti karena aku sudah punya firasat.

Jika aku menyadari kalau aku menyukaimu sebagai seorang laki-laki, Jika aku menginginkan posisi spesial darimu sebagai seorang perempuan,

──Aku pasti akan menjadi egois.

Misalnya, merasa iri pada Yuko-chan yang selalu ada di sisimu.

Misalnya, merasa tidak suka saat Yuzuki-chan keluar masuk rumahmu.

Misalnya, merasa kalau Haru-chan itu curang karena bisa berlatih bersamamu.

Misalnya, berharap agar kamu tidak menunjukkan wajah polosmu di depan Senior Nishino.

Tapi anehnya, perasaan gelap semacam itu tidak muncul kepada mereka semua.

Tentu saja, ada kalanya aku merasa kesepian atau sedih melihat hubunganmu dengan gadis lain, tapi setidaknya itu bukan emosi negatif yang kutujukan langsung kepada seseorang.

Kurasa, aku merasa lega karena diriku tidak seperti itu. Mungkin karena rasa aman setelah Saku-kun menghadiahi kursi itu juga sangat berpengaruh.

Tapi tadi, saat kalian berdua menari. Bukan, lebih tepatnya saat aku melihatnya dan teringat kalau aku sudah menyerahkan tugas membuat kostum Saku-kun kepada Kureha-chan,

──Padahal itu adalah tempat dan tugasku.

Aku benar-benar merasa menyesal. Padahal Kureha-chan sudah sangat memperhatikanku, dan akulah yang memintanya waktu itu.

Kira-kira, aku berpikir begini. Aku menganggap sudah sewajarnya akulah yang membuatkan bagian Saku-kun, dan secara tidak sadar aku sudah membayangkan diriku sedang bekerja di atas kursi itu. Itulah sebabnya rasa cemas mendadak muncul ketika peran itu diserahkan kepada gadis lain.

Saat teringat wajah Kureha-chan yang dengan polosnya bilang kalau masakanku enak, aku merasa sangat berdosa.

Aku sangat paham kalau Saku-kun menyayanginya sebagai junior, dan aku pun merasakan hal yang sama, begitu juga yang lainnya.

Tapi seperti halnya Yuko-chan, Yuzuki-chan, Haru-chan, dan Senior Nishino yang memiliki tempat tinggalnya masing-masing di hatimu────.

Setidaknya, aku ingin tempatku tetap menjadi milikku sendiri.

Duh, aku jadi gadis yang menyebalkan ya, sekarang. Aku tidak bisa sekuat Yuko-chan. Padahal aku sudah memutuskan untuk menjadi lebih egois, tapi bukan egois yang semacam ini yang kumaksud.

Saat aku sedang merenung sedih,

"Terima kasih untuk mandinya."

Senior Nishino kembali ke ruang tamu. Piyamanya berupa setelan satin yang halus. Mirip dengan milikku, tapi yang dipakai Senior Nishino memiliki desain polos yang simpel dengan lengan panjang dan celana panjang.

Meskipun tertutup, justru karena itulah terpancar aura dewasa darinya. Seperti biasa, dia adalah orang yang sangat cantik sampai membuatku merasa rendah diri. Aku yang memakai piyama lengan pendek dan celana pendek bermotif bintang, ditambah bando yang kembaran dengan Yuko-chan, merasa sangat kekanak-kanakan.

"Uchida-san, boleh aku duduk di sebelahmu?"

Senior Nishino mendekat sambil menyipitkan matanya dengan anggun. Aku yang sempat terpana segera menjawab dengan gugup.

"I-iya, tentu saja."

Saat Senior Nishino duduk, tercium aroma lembut seperti lavender. Berbeda dengan sampo atau kondisioner yang dipinjam dari Yuko-chan, mungkin ini aroma parfum atau krim tubuh.

Duduk di sebelah Senior Nishino membuatku merasa sedikit tidak nyaman, seolah aku sedang mengganggu posisi tetap Saku-kun.

Pertama kali aku melihat mereka berdua adalah saat akhir September tahun lalu. Waktu itu aku belum akrab dengan semua orang seperti sekarang.

Itu adalah masa di mana Chitose-kun yang telah berjuang mati-matian di sudut lapangan akhirnya berhenti dari klub bisbol, dan tiba-tiba berhenti menyapaku.

Padahal aku sudah memperlakukannya dengan dingin selama semester pertama, tapi saat itu aku merasa sangat kesepian dan khawatir. Namun karena aku tahu tidak ada yang bisa kulakukan, aku berpura-pura tidak melihat perasaan melankolis yang tak berujung itu.

Hingga suatu hari, aku melihat Senior Nishino dan Chitose-kun duduk bersisian di bantaran sungai.

Wajahmu terlihat sangat tenang, seperti sedang bergantung dan bermanja-manja padanya. Aku ingat aku sempat tertawa mengejek diri sendiri saat membayangkan jika yang duduk di sana adalah aku.

Dan sejak malam kamu menemukanku hingga satu tahun ini.

Aku sudah berkali-kali memalingkan wajah dan melewati Saku-kun serta Senior Nishino yang sedang mengobrol di bantaran sungai.

Karena hubunganmu dengan wanita cantik itu terlihat persis seperti sosok "Normal" yang kuimpikan.

Tentu saja, aku tahu perasaan yang dimiliki Saku-kun lebih mirip ke arah kekaguman.

Tapi kamu, saat ada hal yang membahagiakan, menyedihkan, menyakitkan, saat bingung, atau bahkan hanya saat ingin mengobrol dengan seseorang, kamu pasti selalu mencari sosok Senior Nishino lebih dulu.

Persis seperti anak kecil yang berlari menghampiri ibunya yang sedang menyiapkan makan malam di rumah. Waktu itu, aku sangat ingin menjadi sosok yang seperti keluarga bagi Saku-kun.

Aku teringat saat kamu memperkenalkan Senior Nishino padaku. Kira-kira saat itu musim gugur sudah mulai dalam.

Waktu itu klubku sedang libur, dan kami pulang berdua. Sambil mengobrol santai menyusuri bantaran sungai, tiba-tiba sosok Senior Nishino yang sedang membaca buku di dekat pintu air terlihat.

Hampir bersamaan, atau mungkin sedikit lebih cepat dariku, aku yakin Saku-kun juga menyadarinya. Entah kenapa, tiba-tiba aku sangat berharap kamu tidak pergi ke sana. Tanpa bisa menemukan kalimat yang pas, aku hanya bisa berucap untuk menahanmu,

Saku-kun, ngomong-ngomong ya!

"Aku ingin kamu melihatku sekarang," kata-kata itu tertinggal begitu saja.

──Tap.

Saku-kun langsung berlari pergi. Aku terpaku diam, menatap punggungmu yang menjauh. Tak lama kemudian, Saku-kun kembali sambil menuntun tangan Senior Nishino, lalu berkata dengan polos.

Akan kuperkenalkan, Yuua. Ini Senior Nishino Asuka kelas tiga. Aku sering minta nasihat padanya di sini.

Pasti kamu, pikirku. Sama sekali tidak bermaksud buruk. Kamu hanya ingin memperkenalkan senior yang kamu kagumi karena merasa itu hal yang baik, kan?

Asuka-nee, ini Uchida Yuua teman sekelasku. Dia sangat perhatian, aku banyak dibantu olehnya.

Begitu ya, bagimu aku adalah... Hanya teman sekelas yang akrab. Hanya orang yang suka menolong. ……Aku tahu aku sedang menjadi rendah diri. Saku-kun hanya memperkenalkan kami secara adil.

Tapi waktu itu, aku sangat ingin lebih mengenalmu, ingin diakui. Meski bukan sebagai gadis yang disukai, setidaknya izinkan aku berdiri di sampingmu. Aku merasa kewalahan menghadapi perasaan baru yang lahir dalam diriku, merasa senang sekaligus cemas dalam waktu bersamaan.

Senior Nishino berkata dengan tenang.

Salam kenal, aku Nishino Asuka. Aku sering mendengar cerita tentang Uchida-san yang anggun dan sigap darinya.

Nada suaranya sangat dewasa, aku mencoba menekan kegugupanku dan membalasnya.

Salam kenal, aku Uchida Yuua. Anu, nasibku dengan Saku-kun sedikit mirip, jadi kami sering belanja barang kebutuhan sehari-hari bersama, atau kadang aku memasak di rumahnya……

Betapa menyedihkannya aku, pikirku. Padahal Senior Nishino sudah sangat memperhatikanku, tapi aku malah merangkai kata-kata demi diriku sendiri. "Aku bukan sekadar teman sekelas bagi Saku-kun," seolah-olah aku sedang membela diri.

Senior Nishino tersenyum sangat cantik, lalu berkata,

Hubungan yang aneh tapi indah ya, seperti keluarga kedua.

Ia dengan lembut memberikan kata-kata yang sangat kuinginkan. Hanya dengan itu saja, semuanya tersampaikan. Alasan kenapa Saku-kun mencari Senior Nishino. Proses saat kamu yang sempat terpuruk bisa kembali bangkit sedikit demi sedikit. Pasti di tempat inilah lukamu disembuhkan, satu per satu, seperti ditempeli plester luka.

Aku tersadar dari lamunan dan melirik orang yang duduk di sebelahku. Aku pasti sempat melamun cukup lama, tapi ia tidak mendesakku untuk bicara, ia hanya menatap ke luar dengan tenang.

Seolah sedang mendengarkan suara malam ini, pikirku. Saku-kun juga pasti selalu duduk di sampingnya seperti ini. Menatap profil wajah cantik dengan tahi lalat yang mistis ini, menghirup aroma yang seolah menghentikan jarum jam dan memberikan ketenangan ini.

Tiba-tiba Senior Nishino menoleh. Karena aku sedang menatapnya dengan terpana, mata kami pun bertemu. Sebelum aku sempat tersenyum malu karena tertangkap basah, Senior Nishino tersenyum tipis yang terasa rapuh.

"Boleh kita mengobrol?"

"I-iya," jawabku sambil sedikit memutar tubuh menghadapnya. "Maaf, saya tadi sempat terpana melihat Kakak."

Senior Nishino tertawa kecil hingga bahunya bergetar.

"Ditembak sejujur itu membuatku malu, lho."

Aku menunduk malu dan berkata, "Habisnya, profil wajah Kakak sangat cantik, jadi tanpa sadar..."

Senior Nishino menatapku lekat.

"Uchida-san juga punya rambut yang indah. Boleh aku menyentuhnya?"

"Anu, iya, boleh."

Ujung jarinya yang halus bagaikan porselen terulur dan menyisir rambutku.




Sentuhan lembut itu dan wajah Senior Nishino yang kini terasa lebih dekat membuatku sedikit gugup. Rasanya seperti anak kecil yang sedang dielus kepalanya dengan penuh kasih sayang. Aroma lavender yang menguar dari dadanya memenuhi indra penciumanku, membuat kepalaku sedikit pening.

Jemari Senior Nishino menyentuh daun telingaku dengan perlahan.

"Ngh..."

Tanpa sadar suara aneh lolos dari bibirku, membuat tangannya langsung menjauh dengan cepat.

"M-maaf. Tanpa sadar aku malah keasyikan mengelusmu."

Melihat kepanikan yang sangat tidak mirip dengan Senior Nishino itu, aku malah tertawa kecil, melupakan rasa maluku sendiri.

"Tidak apa-apa. Tadi cuma sedikit geli saja."

Sambil melambaikan tangan, aku menjawabnya, dan ia pun tersenyum lega. Senior Nishino kemudian memainkan ujung rambutnya sendiri.

"Mungkin suatu saat nanti aku akan memanjangkannya lagi."

"Dulu rambut Kakak panjang?"

Saat aku bertanya, ia menyipitkan mata dengan sorot nostalgia.

"Iya, waktu aku masih menjadi 'gadis kecil'."

Potongan rambut pendeknya yang sekarang memang terlihat misterius, dewasa, dan sangat keren, tapi aku yakin Senior Nishino dengan rambut panjang pasti terlihat seperti gadis cantik yang keluar dari negeri dongeng.

Tiba-tiba, aku bertanya.

"Kenapa Kakak memotongnya?"

Senior Nishino menjawab tanpa ragu sedikit pun.

"Apa hubungan antara aku dan Saku-kun?"

"Eh, kalian... teman masa kecil, kan?"

"Kalau liburan musim panas yang hanya tujuh hari bisa disebut begitu, ya."

Pilihan katanya entah mengapa terasa mirip dengan Saku-kun. Aku tidak bisa memberikan jawaban yang cerdas, tapi aku merasa sedikit sedih saat menyadari bahwa mereka berdua pasti sudah sering melakukan percakapan puitis seperti dalam novel ini.

"Dulu aku memanggilnya Saku-nii. Waktu aku memakai gaun putih kesukaanku, dia malah bilang kalau tahun depan aku harus menyiapkan kaus, celana pendek, dan sandal jepit saja."

Pemandangan itu sangat mudah dibayangkan hingga aku tertawa kecil.

"Ternyata dia memang begitu dari dulu, ya."

Senior Nishino tersenyum tipis dan melanjutkan.

"Makanya, aku yang masih kecil saat itu berpikir kalau potongan rambut seperti inilah yang lebih cocok untuk berjalan di samping Saku-nii. Jadi, aku memotong pendek rambutku tepat di akhir musim panas."

Rasanya mirip dengan Yuko-chan yang sekarang, pikirku. Bisa-bisanya pria itu membuat dua gadis secantik ini memotong rambut mereka.

Senior Nishino tertawa malu.

"Tapi akhirnya, setelah itu kami malah tidak bisa bertemu lagi di liburan musim panas."

Kira-kira saat itulah, pikirku. Senior Nishino pasti tumbuh sedikit lebih dewasa pada saat itu.

"Mungkin aku juga akan memotong rambutku lagi."

Tanpa sadar, aku menggumamkan hal itu. Jika aku melakukannya, apakah aku bisa keluar dari perasaan bimbang ini?

Senior Nishino memiringkan kepalanya dengan bingung.

"Uchida-san, saat pertama kali kita bertemu, rambutmu lebih pendek dari sekarang, kan?"

Ingatan tentang perkenalan diriku yang kekanak-kanakan tadi kembali muncul, membuatku membuang muka karena malu sambil menjawab.

"Iya, waktu itu aku baru saja mulai memanjangkan rambut."

"Kalau begitu..."

Senior Nishino sekali lagi menyisir rambutku dengan jemarinya. Ia berbicara dengan suara yang terdengar seperti sedang menulis surat di tengah malam.

"Doa, harapan, kekaguman, atau mungkin tatapan seseorang. Kamu pasti menyisir rambutmu sambil menyematkan hal-hal indah seperti itu di dalamnya, kan?"

"Eh...?"

Sambil membiarkan rambutku mengalir lembut di atas jemarinya, ia melanjutkan.

"Seorang gadis yang mengubah gaya rambutnya... bukankah itu berarti dia sedang melakukan hal tersebut?"

Senior Nishino menyipitkan matanya dengan penuh kasih sayang.

Begitu ya, pikirku. Yuko-chan, juga Senior Nishino saat masih kecil, mereka memotong rambut bukan untuk membuang sesuatu, melainkan untuk menyematkan perasaan yang positif dan indah.

Sama seperti aku setahun yang lalu, yang mulai memanjangkan rambut sebagai bentuk harapan. Aku menyisir rambutku yang sudah cukup panjang dengan jemari, bertekad untuk menjaganya baik-baik.

"Terima kasih, Senior Nishino."

Maaf ya, Saku-kun.

Aku tersenyum kecut sambil membatin hal itu. Hanya untuk malam ini, izinkan aku mengganggu tempatmu yang nyaman ini sedikit lebih lama.

Senior Nishino menggelengkan kepalanya pelan.

"Justru aku yang harus berterima kasih. Aku merasa harus menyampaikan terima kasih kepadamu suatu saat nanti."

Kini giliranku yang memiringkan kepala dengan bingung.

"Eh, berterima kasih padaku...?"

"Iya, terima kasih."

Sambil berkata begitu, Senior Nishino mengedarkan pandangan ke ruang tamu. Tanpa sadar, Yuko-chan dan Yuzuki-chan sudah pindah ke area teras kayu, sepertinya sedang menonton latihan Yamazaki-kun.

Setelah memastikan hal itu, Senior Nishino membuka suara.

"Pertama, soal festival tempo hari."

"Ah...!"

Akhirnya aku mengerti arah pembicaraannya.

Malam sebelum festival, saat Saku-kun memutuskan untuk bicara serius dengan Yuko-chan. Aku menanyakan nomor telepon Senior Nishino dari senior di klub musik tiup untuk meneleponnya.

Sebab, saat mereka bertiga berhasil berbaikan dan kembali bersama, Saku-kun pasti akan merasa kesepian jika Senior Nishino tidak ada di sana. Dan aku merasa Senior Nishino pun pasti ingin berada di sana.

Kamu, yang melakukan sejauh ini demi Saku-kun... apakah tidak apa-apa jika kamu melakukannya demi dia?

──Aku melakukan ini demi diriku sendiri.

Aku teringat percakapan kami di telepon waktu itu. Aku tersenyum tipis. Kini aku yakin sekali lagi bahwa keputusan itu tidak salah.

Jika aku menghindari untuk menghubunginya hanya demi diriku sendiri, mungkin aku tidak akan pernah bisa menemukan isi hatimu. Dan malam yang aneh ini, di mana aku bisa mengobrol seperti ini dengan Senior Nishino, pasti tidak akan pernah terjadi.

Aku menjawab sambil tertawa kecil.

"Tidak apa-apa kok. Lagipula aku sudah ditraktir es serut Blue Hawaii."

Senior Nishino sedikit membelalakkan matanya, lalu berkata seolah baru menyadari sesuatu.

"Ternyata kamu bukan hanya orang yang lembut, tapi juga orang yang kuat, ya."

Ia melanjutkan dengan senyum yang tampak sedikit kesepian.

"Jika Uchida-san tidak mengajakku, aku rasa aku masih akan berkeliaran sendirian di musim panas itu. Keputusan untuk masuk ke tim pemandu sorak pun pasti tidak akan pernah kubuat..."

"Kalau begitu, aku senang sudah mengajak Kakak," jawabku sambil tersenyum. "Mari kita berjuang bersama besok!"

"Iya! Soal itu, aku dan Uchida-san masih harus banyak belajar."

Kami berdua saling berpandangan dan tertawa kecil. Setelah tawa kami mereda, Senior Nishino berkata dengan suara yang tenang.

"Lalu, ada satu hal lagi. Aku tahu mungkin bukan kapasitas kusebagai orang luar untuk menyampaikan ini kepadamu, tapi tolong dengarkan ini sebagai kata-kata tanpa maksud terselubung."

"Iya...?"

Kali ini aku benar-benar tidak punya gambaran, jadi aku hanya diam menunggu kelanjutannya. Senior Nishino perlahan memejamkan mata.

"Terima kasih sudah berada di sampingnya pada malam itu."

Ia mengatakannya seolah sedang menapak tilas musim panas yang telah berlalu. Aku langsung tahu kapan waktu yang dimaksud oleh Senior Nishino.

Hari di mana segalanya berubah secara tiba-tiba, malam di mana bulan tidak terlihat. Ah, begitu ya. Orang ini pun sangat mencintai dan menghargai bulan September yang berhasil kita capai setelah melewati Agustus itu.

Aku mengeluarkan kejujuran yang kaku dari dalam hatiku.

"Sebenarnya, aku selalu iri pada Senior Nishino. Tentang tempat spesial yang hanya milik kalian berdua di bantaran sungai itu."

"Eh...?"

Senior Nishino menatapku dengan terkejut. Aku menunduk malu dan mengusap sofa dengan lembut.

"Karena di sinilah tempat di sampingnya yang selalu ingin diduduki oleh Saku-kun."

Senior Nishino tersenyum kecil.

"Kamu mengatakan hal yang aneh, ya. Saat berangkat sekolah, di jalan pulang, di hari libur, bahkan setelah sampai di rumah sekalipun... bukankah Uchida-san yang selalu berada di samping Saku-kun?"

Aku menggaruk pipi dengan bingung.

"Itu... hanya karena keadaan, atau mungkin aku saja yang terlalu mendesak..."

Senior Nishino berkata dengan nada sedikit menggoda.

"Kamu tahu? Selain Nozomi-san, dari semua orang, hanya aku satu-satunya yang belum pernah masuk ke rumah Saku-kun."

"Ah..."

"Makanya bantaran sungai itu menjadi tempat kami. Lebih tepatnya, aku hanya punya bantaran sungai itu sebagai tempatku."

Tanpa sadar aku tersentak. Ternyata Senior Nishino memendam kesepian seperti itu selama ini.

"Aku iri pada Uchida-san yang bisa berada di samping Saku-kun setiap hari, mendukungnya sebagai hal yang wajar."

Kurasa, setiap orang memang selalu menginginkan apa yang tidak mereka miliki. Tiket kecil yang terasa biasa bagi kita, bisa terlihat seperti tiket masuk menuju tempat yang tak ternilai bagi orang lain. Karena itulah, agar tidak kehilangan tempat kita sendiri, mungkin kita mencoba menghargai waktu yang ada saat ini.

Dengan hati yang tenang, aku membuka suara.

"Boleh aku juga menyampaikan satu terima kasih?"

"Eh...?"

Aku menangkupkan kedua tangan di atas lutut dengan sopan.

"Terima kasih sudah berada di samping Chitose-kun pada musim gugur itu."

Aku mengatakannya seolah merindukan musim yang jauh. Senior Nishino sempat membuka mulutnya sedikit sebelum mengatupkannya kembali, lalu ia tertawa lepas seolah tidak bisa menahannya lagi.

Ia berkata sambil mengguncangkan bahunya karena merasa lucu.

"Jangan-jangan, kita ini ternyata mirip, ya?"

"Aku juga baru saja memikirkan hal yang sama."

"Seandainya kita satu angkatan, apa kita bisa berteman?"

"Meskipun beda angkatan, kurasa kita bisa berteman."

"Maukah kamu mengajariku memasak?"

"Tentu, asal Kakak mau merekomendasikan novel yang bagus untukku."

"Harusnya kamu tanya pada Saku-kun saja, Yuua-san."

"Memangnya Kakak mau diajari memasak oleh Saku-kun, Asuka-senpai?"

Kami bertukar panggilan yang terasa asing bagi satu sama lain, lalu tertawa bersama. Rasanya seperti gelembung-gelembung yang mengapung dari dasar laut menuju langit berbintang.

Musim gugur tahun lalu dan musim panas tahun ini terhubung, lalu perlahan membuka lembaran musim berikutnya. Apakah suatu saat nanti aku akan teringat malam ini? Saat Senior Nishino berubah menjadi Asuka-senpai bagiku.

◆◇◆

Saat aku, Chitose Saku, kembali dari 8-Ban dan masuk ke ruang tamu, Yuko, Yuua, Yuzuki, Asuka-nee, dan Kenta sedang duduk di sofa sambil asyik mengobrol.

Gadis-gadis itu sudah memakai piyama yang terlihat tanpa pertahanan, membuatku, Kazuki, dan Kaito refleks membuang muka. Yuua juga menggerai rambutnya yang biasanya selalu diikat. Kenta, yang dengan santai bergabung dalam lingkaran itu, terlihat sangat jantan.

Untuk sementara, Kureha yang menjadi penutup barisan perempuan langsung melesat menuju kamar mandi.

"Kakak, selanjutnya giliranmu!"

Dalam sekejap ia sudah kembali. Aku hanya bisa melongo.

"Hebat juga, kamu lebih cepat daripada Haru."

"Tentu saja! Aku tidak mau menyia-nyiakan waktu malam bersama kalian semua!"

"Tekad yang bagus."

"Omong-omong, aku sudah mencabut sumbat bak mandinya! Karena aku membayangkan pemandangan yang berbahaya, aku juga sudah meniup lilin aromaterapinya untuk berjaga-jaga!"

"""Kerja bagus!"""

Setelah itu, kami empat pria yang tersisa melakukan janken, lalu mandi dengan cepat mulai dari Kenta, Kaito, lalu Kazuki.

Saat giliranku terakhir selesai, waktu sudah hampir menunjukkan tengah malam. Jika memikirkan latihan besok, seharusnya acara ini segera dibubarkan.

Tapi, aku melihat wajah mereka semua. Seolah merasa berat untuk berpisah, seolah ingin memperpanjang malam ini bagaimanapun caranya, tidak ada satu pun yang berhenti mengobrol.

Yuko bergumam pelan.

"Rasanya aku tidak ingin tidur selamanya."

Yuzuki tertawa kecil.

"Aku mengerti, ini memang malam yang seperti itu."

Haru juga menyeringai tipis dan menimpali.

"Mau lanjut sampai pagi?"

Yuua menunjukkan ekspresi yang sangat tenang.

"Hari yang panjang, ya."

Asuka-nee menyipitkan mata sambil tersenyum.

"Benar-benar."

Kami empat pria juga saling bertukar pandang dengan senyum canggung yang sedikit sentimental. Padahal seseorang harus bilang 'ayo tidur', tapi meski kami ini kelompok bajak laut, tidak ada yang mau menjadi pihak yang menyebalkan.

Seolah-olah mereka percaya jika mereka tidak tidur, maka malam ini tidak akan pernah berakhir. Seolah mereka berharap bisa terus mengapung di lautan bersama-sama selamanya. Keheningan yang sangat damai pun mengalir.

Stagnasi yang terasa seperti kantuk ini benar-benar mencerminkan diri kami yang sekarang. Karena merasa sangat terpenuhi, kami tidak ingin berharap lebih.

Dan yang mendorong punggung para senior payah itu adalah...

"Kalau begitu, sekalian saja kita semua tidur bersama-sama!"

Itu adalah suara si gadis junior yang bisa diandalkan. Melihat kami yang saling bertukar pandang dengan bingung, Kureha melanjutkan.

"Kita gelar saja kasurnya di sini!"

Memang awalnya para pria direncanakan untuk tidur berjejer di ruang tamu. Aku dengar kasur untuk para gadis sudah disiapkan di kamar Yuko. Jadi memindahkannya ke sini bukan masalah besar.

Meski begitu, aku menatap Nanase.

"Tapi, kan..."

Dia juga tersenyum kecut.

"Iya, kan..."

"Eh, kenapa?" tanya Kureha dengan polos. "Bukankah bedanya hanya antara duduk atau masuk ke dalam kasur?"

Yuzuki menjawab dengan nada bicara yang jengah.

"Dengar ya, Kureha. Perbedaan terbesarnya adalah antara bangun atau tidur."

Kureha sama sekali tidak goyah dan membalas.

"Jadi maksud Kak Yuzuki, Kakak takut akan 'dimakan' kalau tidur di depan para senior?"

Tiba-tiba, Yuzuki menatapku. Tak lama kemudian ia menyipitkan mata dengan sinis.

"Tidak mungkin, dia tidak punya nyali untuk itu."

Ia menyunggingkan senyum seolah sedang meremehkanku.

"Oi, kenapa kamu menatapku begitu?"

Haru ikut menimpali.

"Dia kan tipe pria yang langsung malu cuma karena dipijat."

"Mau aku tekan titik saraf kakimu sekuat tenaga?"

Asuka-nee berkata dengan nada nostalgia.

"Dia memang pengecut, kok."

"Aku ini punya moral, tahu?"

Yuua mencoba membesarkan hatiku.

"Tidak apa-apa, Saku-kun kan cuma orang yang terlalu lembut."

"Kenapa cara menghiburmu itu malah yang paling menusuk hati?!"

Terakhir, Yuko bertanya pada Kureha dengan suara lembut.

"Kureha, kamu benar-benar tidak merasa cemas?"

"Iya! Sama sekali tidak!"

"Kalau begitu, maukah kita semua menginap bersama?"

"Tentu saja!"

Melihat interaksi itu, aku hanya bisa menghela napas pasrah. Aku, Kazuki, Kaito, maupun Kenta, bukanlah tipe pria yang akan berbuat macam-macam hanya karena tidur di ruangan yang sama. Sebenarnya yang paling harus merasa cemas adalah Kureha sebagai anggota baru, tapi dia malah sesantai ini.

Saat aku melihat gadis-gadis lain untuk meminta pertimbangan, mereka semua mengangguk setuju.

"...Ayo bawa kasurnya."

Begitu aku bergumam, semua orang langsung berdiri seolah-olah sudah menunggu kata-kata itu.

◆◇◆

Para gadis bekerja sama mengeluarkan kasur dari kamar Yuko, sementara para pria membawanya ke ruang tamu. Kami menggeser meja makan ke sudut dan menggelar lima kasur secara berjajar. Karena Yuko awalnya berencana tidur di ranjangnya sendiri, kasurnya kurang satu, jadi ia akan berbagi dengan Yuua.

Para pria mendapatkan selimut dan akan tidur di sekitar sofa. Kami menyandarkan meja rendah ke dinding untuk menciptakan ruang; perbedaan tinggi lantai membuat pembatas yang cukup pas dengan area para gadis.

Saat Yuko kembali ke ruang tamu membawa sebuah boneka, aku langsung berkomentar.

"Oh, itu Shibamaro."

Mendengar itu, ia menjawab dengan suara ceria.

"Iya! Aku selalu menaruhnya di sampingku saat tidur."

Aku tersenyum secara alami. Asuka-nee yang kebetulan ada di dekat situ memiringkan kepala.

"Shibamaro...?"

Sambil memeluk boneka anjing Shiba yang mengenakan syal atau bandana di lehernya, Yuko menyipitkan mata dengan bahagia.

"Benar! Ini boneka yang didapatkan Saku dari mesin capit di game center. Aku selalu menaruhnya di samping bantal, jadi aku merasa tidak tenang kalau ini tidak ada."

Melihat Yuko menggaruk pipi dengan malu, entah kenapa Asuka-nee sedikit menunduk. Tak lama ia mengangkat wajahnya dengan senyum lembut, lalu mereka berdua berjalan menuju kasur sambil mengobrol.

Sebagai catatan, para pria sama sekali tidak masuk atau mengintip ke dalam kamar Yuko karena merasa tidak enak hati. Terlepas dari siapa orangnya nanti, sebelum saat 'istimewa' itu tiba dan ia mengundang orang yang 'istimewa', rasanya tidak sopan jika kami lancang melangkah masuk ke sana.

Saat memikirkan itu, tiba-tiba bagian dalam dadaku terasa menciut kesepian. Ketika kucari alasan dari melankoli yang tiba-tiba ini, jawabannya muncul dengan sangat mudah.

Terlepas dari siapa orangnya nanti.

Begitu ya, pikirku. Aku akan membuang jauh-jauh rasa muak pada diriku sendiri yang munafik ini ke tempat sampah. Mengulangi rasa benci pada diri sendiri yang dangkal hanya akan menjadi pelarian yang manja.

Aku mencoba berhadapan jujur dengan hatiku. Jika seandainya aku menerima perasaan Yuko, mungkin aku akan melangkah masuk ke kamar itu sebagai orang istimewa di hari yang istimewa. Tapi, hal itu tidak terjadi, atau tidak bisa terjadi.

Jadi suatu saat nanti, orang yang akan melewati pintu itu sebagai satu-satunya sosok istimewa, mungkin adalah seseorang yang bahkan tidak kukenal wajahnya. Suara yang sangat kusukai itu, senyumannya, hati, tubuh, masa lalu, masa depan, serta seluruh cintanya────.

Mungkin akan tiba harinya di mana Yuko menyerahkan segalanya kepada pria lain.

Hanya membayangkannya saja sudah membuat dadaku terasa sesak seolah mau pecah. Jika perasaan ini tidak bisa disebut cinta, lalu apa lagi yang bisa disebut cinta?

Meski begitu, aku menunduk dan sedikit menggigit bibir agar tidak ada yang menyadari. Saat membayangkan 'suatu saat nanti' bagi Yuua, Nanase, Haru, dan Asuka-nee, aku merasakan kepedihan, rasa sakit, dan ketakutan yang sama hingga rasanya ingin menangis.

Tiba-tiba, aku mendongak. Nanase dan Kazuki sedang asyik mengobrol. Mendadak, kata-kata yang pernah kudengar di gedung olahraga dulu terngiang kembali.

Bukankah sebaiknya kamu menyiapkan tekad untuk memilih sesuatu dan membuang sesuatu suatu saat nanti?

Meski enggan mengakuinya, apa yang kamu katakan itu benar. Kazuki, apa yang akan kamu pilih dan apa yang akan kamu buang? Atau jangan-jangan, kamu sudah memilih dan membuang sesuatu?

Saat mataku bertemu dengan Nanase, ia mengakhiri obrolannya dan berjalan mendekat ke arahku. Kazuki menatap punggung gadis itu dengan sorot mata yang entah mengapa terasa lembut.

Nanase bertanya.

"Chitose, besok mau bangun jam berapa?"

"Karena sudah jam segini, bagaimana kalau jam sembilan saja?"

Cinta palsu ini, apakah suatu saat nanti akan berubah menjadi cinta yang nyata?

"Bener juga. Pokoknya, yang bangun duluan bebas deh mau ngapain aja."

"Yuzuki mah tipe orang yang bakal bangun tepat waktu kalau lagi begini."

Akankah tiba harinya Nanase dan Chitose kembali menjadi Yuzuki dan Saku?

"Jangan bilang begitu, dong. Nanti aku malah malu kalau ternyata aku tidur mendengkur."

Andai saja September tidak pernah berakhir.

Andai saja pepohonan tidak perlu berubah warna.

Andai saja malam pertama ini tidak perlu membawa pagi kedua.

Huaaa... Suara seseorang yang menguap bergema.

Tertular suara itu, yang lain ikut mengucek kelopak mata yang mulai berat, dan rasa kantuk pun datang beruntun.

Sudah waktunya mengucapkan selamat tidur.

◆◇◆

Kami kembali ke ruang tamu setelah selesai menyikat gigi bergantian. Pemandangan lantai yang penuh sesak oleh bentangan kasur benar-benar terasa seperti malam perkemahan sekolah. Para gadis dengan antusias merayap masuk ke balik selimut.

Berdasarkan hasil janken, Kazuki dan Kenta tidur di sofa, sedangkan aku dan Kaito di atas ambal. Aku merebahkan kepala di atas bantal sofa dan menarik selimut. Mungkin selimut ini sudah dijemur siang tadi. Ada aroma matahari yang hangat dan lembut di sana.

Yuko, yang berdiri di tengah ruang tamu, angkat bicara.

"Ngomong-ngomong, ada yang tidak bisa tidur kalau ada musik?"

"Enggak kok," "Boleh saja," "Malah lebih tenang begitu," jawaban-jawaban pendek terdengar saling bersahutan.

"Kalau begitu, aku pasang pengatur waktu, ya."

Dari pengeras suara, mengalun lagu BLUE FRIDAY milik Haruka Kumoi. Kemudian, bagaikan lilin di tengah malam, Yuko berkata.

"Lampu kecilnya akan tetap kunyalaan, ya."

Ada saat-saat di mana aku benar-benar tersadar kalau aku sedang menginap di rumah orang lain. Misalnya, aroma saat pertama kali melangkah masuk ke teras, jam mulai makan malam, menu makanan, jenis saus selada, kebiasaan di kamar mandi, wangi sampo, suhu AC, hingga musik yang lewat di telinga.

Dan juga, lampu saat akan tidur.

Aku biasanya mematikan semua lampu hingga gelap total, tapi sepertinya bagi sebagian orang, mereka merasa tidak tenang jika tidak menyalakan setidaknya lampu tidur kecil.

──Sebab, saat terbangun sendirian, aku akan merasa benar-benar kesepian.

Aku tidak tahu bagaimana kebiasaan Yuko yang biasanya. Mungkin ini bentuk perhatiannya pada tamu yang barangkali harus ke kamar mandi di tengah malam, atau mungkin dia memang selalu tidur dengan lampu kecil menyala. Bagaimanapun juga, ini tidak buruk. Lampu itu seperti mercusuar yang menjadi penunjuk jalan di tengah malam.

Tiba-tiba, Kaito yang berbaring agak jauh dariku berbisik pelan, suara yang tidak akan sampai ke telinga para gadis.

"Saku."

"Hm?"

"Yuko itu emang manis banget, ya."

"……Setuju."

Tidak ada kelanjutannya. Kaito berbalik memunggungiku. Aku melipat tangan di belakang kepala, menatap langit-langit dengan kosong.

Meski berada di satu ruangan yang sama, aku tidak bisa melihat ekspresi Yuko, Yuua, Nanase, Haru, Asuka-nee, Kazuki, Kaito, Kenta, maupun Kureha. Mungkin sebagian besar sudah memejamkan mata, atau mungkin mereka semua sedang memikirkan seseorang—entah itu laki-laki atau perempuan.

Sesekali, suara napas halus atau gesekan kain terdengar, terasa begitu hangat sekaligus mendebarkan.

"Saku, kamu sudah tidur?"

Tiba-tiba Yuko memanggil namaku. Rasanya aneh dan sedikit malu, jadi aku membalasnya dengan candaan seperti biasa.

"Aku sudah tidur, tahu."

"Fufu, aneh banget. Ada Saku di sini."

"Ya jelaslah aku ada di sini."

"Iya, kamu benar-benar ada."

Yuko yang aku tahu, dan Yuko yang tidak aku tahu. Bagaikan hari kemarin dan hari ini, bolak-balik silih berganti.

Nanase membuka suara dengan nada jengah.

"Jangan bermesraan."

Kazuki menghela napas dengan sengaja.

"Anak-anak harusnya sudah waktu bobo dari tadi."

Kenta jarang-jarang ikut menimpali.

"Mimpi buruk sana, sampai mengigau."

Kaito menggumam pelan tanpa berbalik badan.

"Tolong jagain dia yang bener, ya."

Yuua tertawa kecut dengan canggung.

"Lagian Yuko-chan, kamu terlalu dekat."

Haru terdengar bersemangat.

"Aduh, kalian berisik banget sih, aku jadi tidak bisa tidur."

Fufu... Suara Asuka-nee terdengar lembut.

"Mungkin dia masih ingin menikmati sisa-sisa perjamuan ini, selamanya."

Kureha menyambung dengan nada jenaka.

"Belum ada yang selesai kok, semuanya baru saja dimulai."

Kikiki, kukuku... Malam itu tertawa bagaikan ayunan bayi. Terkantuk-kantuk dalam lelap, bernyanyi dengan pelan. Di hari seperti ini, siapa pun pasti ingin tetap terjaga sampai menjadi orang terakhir yang menutup mata.

Aku ingin jatuh terlelap dengan tenang setelah memastikan tidak ada lagi hal yang akan terjadi, dan tidak melewatkan kata-kata sekecil apa pun. Sebab, jika aku melewatkan satu saja kedipan mata seseorang yang tampak berat untuk berpisah, atau bisikan manja, atau gerakan tubuh saat berbalik, rasanya aku akan menyesal.

Tapi, semakin aku melawan, pandanganku semakin mengabur.

Tik, tok, tik, tok.

Suara detak jarum jam terdengar jelas, ritme teraturnya perlahan-lahan mengundang kantuk. Akhirnya, sebagai ganti ucapan selamat tidur, suara napas halus seseorang terdengar. Satu per satu mulai bersahutan.

Syuuu... syuuu... syuuu...

Kelopak mataku pun mulai terasa berat. Di ujung kesadaran yang kian menipis meski coba kuraih, aku berpikir. Mengapa kita tidak bisa tetap seperti ini saja?

Melupakan laki-laki atau perempuan, dan tidur berjajar di satu ruangan yang sama. Seolah seseorang mengambil alih kelanjutan mimpi orang lain, dan kita semua melihat mimpi yang sama. Seolah kita menghitung domba bersama-sama.

Hanya terus mengapung di malam ini.

──Seandainya saja aku bisa terus menjadi remaja tujuh belas tahun yang tenggelam dalam warna biru ini.

◆◇◆

Aku terbangun karena merasa seolah ada seseorang yang menyentuhku. Saat kubuka mata sedikit, suasana masih diselimuti kesunyian yang menyerupai malam. Aku melihat ke arah jam, jarumnya tepat menunjuk angka lima.

Jarang sekali, pikirku. Aku tipe yang sekali tidur akan lelap sampai pagi, jadi sudah lama sekali aku tidak bangun di jam seperti ini. Mungkin karena aku terlalu bersemangat saat perkemahan ini.

Mau tidur lagi ah, pikirku sambil membalikkan badan yang tadinya menyamping menjadi telentang, dan saat itulah—

"Kakak?"

Seorang gadis yang berjongkok di dekat kepalaku berbisik pelan.

"──!"

Aku nyaris berteriak namun berhasil menahannya. Aku mengucek mata berkali-kali sampai kesadaranku pulih sepenuhnya, lalu berbisik kecil agar tidak membangunkan yang lain.

"Kureha……?"

Junior itu tampak lega, lalu menyunggingkan senyum bahagia di bibirnya.

"Iya, ini Kureha."

Aku akhirnya duduk dan melanjutkan.

"Bi... bikin kaget saja."

Kureha menggaruk pipi dengan rasa bersalah.

"Maaf, aku tidak berniat membangunkan Kakak, tapi..."

Ia menundukkan kepala sedikit lalu melanjutkan.

"Habisnya Kakak tidurnya kelihatan enak banget, jadi aku malah iseng menusuk-nusuk pipi Kakak."

Aku tertawa kecut.

"Kamu bangun pagi banget, ya?"

Kureha menjawab dengan canggung.

"……Enggak juga sih. Sebenarnya dari tadi aku cuma setengah tidur. Mungkin karena aku terlalu semangat bisa tidur bareng orang-orang yang kukagumi, jadi aku tidak bisa tidur nyenyak. Makanya, aku pikir kalau melihat wajah Kakak, aku bisa merasa tenang."

"Pagi-pagi begini gombalanmu mantap juga ya."

Sambil berkata begitu, aku meregangkan tubuh. Rumah yang asing, para senior yang tidak biasa. Jika dia terus terjaga tanpa bisa mencari pengalihan suasana, wajar saja kalau dia merasa kesepian.

Kureha memainkan jari-jarinya dengan gugup, terdengar sedikit sedih.

"Maaf ya, Kak. Aku akan kembali ke kasurku, Kakak tidurlah lagi."

"Enggak."

Aku melakukan peregangan ringan pada lengan dan bahu.

"Kalau kamu mau, bagaimana kalau kita jalan-jalan sebentar? Saat seperti ini, lebih baik menghirup udara luar."

Mata Kureha membelalak terkejut.

"Eh, maksudnya Kakak mau menemaniku……?"

Aku mengangguk santai.

"Ganti baju sana, hati-hati jangan sampai membangunkan yang lain. Masa mau jalan-jalan pakai piyama."

"……Siap!"

Meski suaranya ditahan, ia menjawab dengan ceria lalu menyelinap keluar dari ruang tamu dengan perlahan. Aku menghela napas sambil tersenyum kecut. Rasa kaget tadi membuat otakku terjaga sepenuhnya.

Lagipula, melihat wajahnya yang seperti sudah lama menantikan seseorang untuk bangun tadi, aku tidak tega meninggalkannya sendirian dan lanjut tidur. Aku pun pernah mengalami hal yang sama.

Itu terjadi waktu SD, kalau tidak salah saat pertama kali ikut perkemahan klub bisbol. Tempatnya kalau tidak salah di Otaiko Hills, fasilitas penginapan umum. Malam itu kami tidur di satu ruangan besar yang menghubungkan dua kamar bergaya Jepang.

Di saat semua orang sudah lelap, hanya aku yang tidak bisa tidur. Aku mencoba berdehem agak keras, atau menyibakkan selimut dengan bising saat ke kamar mandi—melakukan hal-hal yang masih dalam batas wajar agar tidak dituduh sengaja membangunkan orang, tapi tetap saja aku berharap ada seseorang yang bangun.

Mungkin Kureha yang menusuk pipiku tadi juga menyimpan harapan kecil yang sama. Sudahlah, aku melipat selimutku dengan tenang. Hal seperti ini memang bagian dari cerita sebuah perkemahan.

◆◇◆

Setelah menunggu Kureha kembali, kami keluar rumah dengan sangat hati-hati agar tidak membangunkan yang lain.

Meski kegelapan mulai menipis, di luar masih cukup gelap. Bintang-bintang masih berkedip di langit.

Memakai kaus dan celana pendek sebenarnya tidak sampai membuat menggigil, tapi udara jam segini terasa lebih dingin dari yang kukira. Kureha di sampingku masih memakai rok lipit pendek, tapi dia mengenakan jaket nilon Adidas yang kedodoran.

Di depan rumah, aku meregangkan tubuh dan menghirup napas dalam-dalam. Udara pagi sebelum hari dimulai memenuhi paru-paruku. Terasa murni, jernih, dan tanpa campuran. Tidak ada satu pun orang terlihat di sekitar.

Hanya suara motor pengantar koran yang terdengar sesekali dari kejauhan, memberikan firasat bahwa fajar tidak lama lagi akan tiba. Aku tidak ingin melakukan ini setiap hari, tapi bangun sepagi ini terasa sangat menyegarkan. Saat kami mulai berjalan tanpa tujuan...

"Kak, boleh mampir sebentar ke taman tempat kita latihan kemarin?" tanya Kureha yang berjalan di sampingku.

"Oh, boleh saja..."

Lagipula kami memang tidak punya tujuan pasti. Aku membeli kopi kaleng di mesin penjual otomatis terdekat lalu masuk ke taman. Kureha yang sudah menunggu di dalam berkata dengan riang.

"Padahal baru lewat satu malam, tapi rasanya seperti sudah lama sekali."

"Itu karena kamu tidak tidur semalaman, kan?"

"Ih! Jangan terlalu jujur begitu dong, Kak!"

Meski aku membalasnya dengan candaan, aku sedikit mengerti perasaannya.

Bersenang-senang bersama, bercanda, rasanya seperti satu hari yang memadatkan seluruh liburan musim panas. Aku merasa sedikit lega karena saat terbangun, aku tidak langsung tersentak dari mimpi.

Mungkin karena wajah pertama yang kulihat adalah wajah Kureha. Ah, aku sedang berada di hari esok yang merupakan kelanjutan dari kemarin. Mungkin sosok junior yang tidak seperti biasanya ini yang memberitahuku hal itu.

Saat aku sedang melamun, tiba-tiba Kureha berlari kecil sambil membuat jaket nilonnya berbunyi srak-srak.

"Kak, sini, sini!"

Aku mengikuti isyarat tangannya dan berhenti di tangga pendek yang menghubungkan lapangan dengan area bermain. Ia duduk di sana.

"Kak, duduk di sini."

Ia menepuk-nepuk tempat di sampingnya. Itu adalah posisi tetapku setiap kali mampir bersama Yuko. Aku nyaris bilang 'bukannya lebih baik di bangku saja'. Tapi Kureha mendahuluiku.

"Kakak selalu duduk di sini bareng Kak Yuko, kan? Aku merasa hal itu keren, jadi aku ingin mencoba merasakan suasananya sedikit."

Ia menggaruk pipi dengan malu-malu. Aku merasa lega entah kenapa.

"Oalah, kamu dengar dari Yuko, ya?"

"Iya! Dia bilang, 'Aku selalu ngobrol sama Saku di sini lho'."

Kalau aku menolak padahal sudah tahu soal itu, rasanya aku bakal jadi senior yang jahat, jadi aku hanya tertawa kecut.

Lagipula, kalau orang lain mungkin aku bakal segan, tapi dia kan cuma juniorku. Akhir-akhir ini aku memang terlalu waspada pada hal-hal seperti ini, pikirku mengejek diri sendiri.

Aku duduk di samping Kureha, lalu menyodorkan kopi hitam dingin dan kafe latte.

"Mau yang mana?"

Kureha berpikir sejenak.

"Kalau Kakak sendiri mau yang mana?"

"Karena masih pagi, aku lebih ingin yang kopi hitam sih."

"Kalau begitu aku pilih kopi hitam!"

"Oi."

Aku memberikan kopi hitam itu sambil refleks mencelanya.

Cring.

Kureha dengan santai memasukkan tangan ke kantong celanaku. Dari suaranya, itu pasti uang koin seharga kopi tadi. Aku berkata dengan jengah.

"Sekali-kali ditraktir dengan tenang itu tidak akan membuatmu dikutuk, tahu."

Kureha menyipitkan mata dengan jahil.

"Hehe, kantong Kakak hangat."

"Jangan mengusap pahaku, geli tahu."

Ia menarik tangannya, membuka kaleng dengan bunyi pssh, lalu menatapku.

"Tos!"

"Ini masih pagi buta, tahu."

Meski begitu, aku membenturkan kalengku ke kalengnya. Saat meminum kafe latte, rasa manisnya terasa sangat nikmat. Aku baru sadar kalau aku cukup haus. Mungkin karena kami asyik mengobrol lalu langsung tidur.

Jika di rumah sendiri, aku pasti menaruh air di samping bantal, atau langsung berkumur dan membuka kulkas setelah bangun.

Tapi saat menginap di rumah orang, aku sering melupakan rutinitas harian yang biasa itu.

Mungkin karena aku terlalu tegang agar tidak membangunkan yang lain, tapi kalau ini di hotel atau penginapan, aku pasti akan bersikap seperti biasa. Aneh juga.

Mungkin karena aku tidak ingin sembarangan mengusik ruang pribadi orang lain. Apa otakku masih setengah tidur, ya? Aku memikirkan hal-hal yang sebenarnya tidak perlu dipikirkan terlalu dalam.

Yuko kemarin bilang, "Silakan minum apa saja yang ada di kulkas." Mengingat kepribadian Kotone-san, itu pasti tulus. Tapi tetap saja rasanya tidak enak untuk membuka kulkas sesuka hati. Bahkan Yuua yang bertugas memasak pun selalu meminta izin pada Yuko setiap kali akan menggunakan bahan makanan.

Di sisi lain, aku menganggap hotel atau penginapan sebagai tempat umum, bukan milik seseorang secara pribadi, jadi aku bisa bersikap biasa saja. Rasanya mirip seperti kami, pikirku. Tempat umum dan tempat pribadi seseorang.

Kita saling membuat batasan agar tidak melangkah terlalu jauh. Sama seperti tim pemandu sorak yang merupakan tempat bagi semua orang, dan tangga ini yang merupakan tempat pribadiku bersama Yuko.

Sambil sedikit meringis saat meminum kopi hitamnya, Kureha bertanya.

"Kak, biasanya Kakak ngobrolin apa saja sama Kak Yuko di sini?"

Aku menyipitkan mata, menjawab dengan samar.

"Macam-macam hal, sungguh."

"Sejak kapan?"

"Hampir satu setengah tahun, mungkin."

"Lama juga, ya."

"Tapi rasanya juga singkat."

Kureha tertawa seolah merasa jengah.

"Kalian semua benar-benar baik dan akrab satu sama lain, ya."

Aku membalasnya dengan santai.

"Sekarang kamu pun sudah jadi bagian dari kami, Kureha."

Mendengar ucapan itu yang meluncur begitu saja dari mulutku...

"──Bukan."

Suara Kureha terdengar tegas, seolah memutus kalimatku.

"Aku tidak bisa dan tidak akan masuk ke dalam lingkaran kalian."

Mendapat penolakan mendadak seperti itu, aku terdiam karena bingung harus bereaksi apa. Seolah menyadari hal itu, ekspresi Kureha kembali melunak. Ia menaruh tangannya di tangga, mengangkat bokongnya sedikit, lalu merapat ke arahku. Di jarak di mana sikut kami bersentuhan...

"Aku ingin tetap menjadi junior kalian semua saja."

Ia menatapku sambil tersenyum lebar. Begitu ya, kataku.

"Jalan sebentar, yuk."

"Iya, aku mau jalan-jalan."

Kami berdiri, lalu aku membuang kaleng kosong yang sudah diremukkan ke tempat sampah. Pagi hari yang disambut bersama seorang gadis junior. Saat-saat rahasia ketika semua orang masih terlelap.

Hanya sisa-sisa bintang sebelum fajar yang mengawasi kami.

Lho, Chitose, Kureha……?

Aku dan Kureha berjalan menyusuri jalan setapak di antara sawah. Perlahan-lahan kegelapan malam mulai memudar. Langit berubah dari warna hitam pekat menjadi biru tua, dihiasi awan sirus yang menandakan musim gugur.

Lampu depan mobil-mobil yang melaju terburu-buru di jalan raya mulai bertambah, pertanda kota mulai terbangun di berbagai sudut. Deretan pegunungan di kejauhan mulai terlihat jelas, seolah menjadi garis pemisah antara kemarin dan hari ini. Udara yang tadinya dingin kini mulai terasa akrab di kulit, aroma tanah dan bulir padi tercium semakin kuat.

Kureha yang berjalan di sampingku membuka suara dengan nada santai.

"Ngomong-ngomong, Kak. Semalam Kakak sedang memikirkan sesuatu, ya?"

Aku memiringkan kepala karena tidak merasa punya pikiran khusus, lalu ia melanjutkan kata-katanya.

"Itu lho, tepat setelah kita semua selesai memindahkan kasur. Kakak kelihatan sedang murung, atau lebih tepatnya... wajah Kakak seolah sedang menanggung sesuatu yang berat."

Mendengar itu, aku akhirnya tersentak.

Itu pasti saat aku mulai menghubung-hubungkan kamar Yuko dengan masalah cinta dan pemikiran rumit lainnya. Aku terkejut menyadari betapa telitinya dia memperhatikan, sekaligus merasa sedikit malu pada diri sendiri.

Rasanya payah sekali sampai bisa terbaca dengan mudah oleh seorang junior. Aku pun memutuskan untuk bicara jujur.

"Gimana ya... singkatnya, baik dalam arti bagus maupun buruk, semuanya sedang stagnan."

"Stagnan...?"

Aku menggaruk kepala dengan keras sebelum melanjutkan.

"Musim panas ini, banyak hal yang sudah mencapai titik penyelesaian. Bagus memang karena semuanya berakhir di tempat yang seharusnya, tapi justru karena itu aku jadi tidak bisa mengambil langkah selanjutnya."

Apa sih yang sedang kubicarakan dengan juniorku ini? Tapi kata-kata Kureha memang membuatku tersadar.

Benar, bulan September ini terasa begitu tenang dan penuh, namun karena itulah rasanya sedikit menyesakkan. Aku ingin tetap seperti ini, tapi apakah boleh terus seperti ini? Sepertinya aku terus memikirkan hal itu.

Kureha memiringkan kepala, lalu menatapku lekat-lekat dengan sorot mata yang serius.

"Apa Kakak ingin keluar dari stagnasi itu? Dari kemurungan itu?"

Aku menatap langit yang jauh sambil mengepalkan tangan, lalu bergumam pelan.

"Sebenarnya aku tidak ingin keluar, tapi sepertinya aku memang harus keluar."

Sejak awal aku sudah tahu. September hanyalah September. Jika aku terlalu nyaman menetap di celah antara musim panas dan musim gugur ini, aku merasa tidak akan pernah bisa keluar lagi darinya.

"Hei, Kakak?"

Tiba-tiba, jari kelingking Kureha bertaut dengan jari kelingkingku, lembut seolah sebuah janji.

"Keinginan Kakak adalah keinginanku juga."

Setelah berkata begitu, ia melepas tautan jari kami, lalu melangkah satu, dua, tiga langkah ke depan sebelum akhirnya berbalik.

"Makanya, hal-hal seperti itu, semuanya..."

Sambil membelakangi langit timur, ia mengangkat jari telunjuknya tinggi-tinggi.

"Akan kutiup sampai terbang semuanya!"

Ia tertawa lebar dengan sangat ceria.

Pada saat itu juga.

──Tik, mentari merah menyala mulai terbit.

Pepohonan, sawah, saluran air, gedung-gedung, menara listrik, hingga awan-awan. Seolah sedang melukis ulang malam, segalanya mulai diwarnai dengan warna merah tua yang pekat.

Jarum jam yang tadinya terkantuk-kantuk kini terbangun dengan bunyi klik. Musim berubah, kami pun berubah. Apakah yang akan datang berikutnya adalah musim gugur yang semestinya, atau musim panas yang kembali lagi, atau mungkin...

Rasanya seperti sihir, aku benar-benar terpana melihat pemandangan itu.

Dan di tengah-tengahnya, berdirilah seorang gadis junior yang terlihat sangat cantik dalam balutan cahaya itu.

Saat keinginan seseorang terkabul, keinginan orang lain akan tertinggal.

Kureha telah membawa pagi datang.

Entah kenapa, aku berpikir demikian.

◆◇◆

Kami kembali ke rumah Yuko, lalu masing-masing masuk ke dalam kasur dan selimut untuk tidur lelap sekali lagi. Sepertinya Kureha akhirnya bisa bermimpi.

Saat terbangun karena aroma sup miso, aku melihatnya sedang tidur meringkuk dengan napas yang teratur dan lucu di bawah pengawasan Yuko dan yang lainnya.

Setelah menunggu Kureha bangun, kami menyantap bola nasi dan sup miso buatan Yuua. Ukuran bola nasinya agak berantakan namun sangat menggugah selera, ternyata Haru juga ikut membantu membuatnya.

Pagi harinya, kami mengulang materi latihan kemarin di taman. Kami sempat kembali ke rumah Yuko untuk makan siang Soba Parut, lalu lanjut berlatih sekuat tenaga di sore hari.

Begitu matahari mulai terbenam, semua orang termasuk Yuua, Asuka-nee, dan Kenta sudah hampir sempurna menguasai seluruh koreografinya.

Setelah selesai melakukan tarian terakhir secara penuh, aku menatap Nanase.

"Gimana? Sudah mantap, kan?"

Nanase mengangguk mantap dengan penuh percaya diri.

"Iya. Ayo kita incar juara satu."

Mendengar itu, Kenta langsung ambruk dengan lutut lemas.

"A-aku pikir aku bakal mati..."

Yuua tertawa kecut sambil membiarkan lengannya terkulai lemas.

"Sepertinya hari ini aku benar-benar tidak sanggup memasak makan malam."

Asuka-nee menimpali sambil mengibas-ngibaskan tangannya.

"Aku bahkan tidak sanggup memegang buku novel."

Bahkan Kazuki pun tampak berkeringat di dahinya.

"Tapi syukurlah, semuanya beres juga."

Kaito mengusap hidungnya sambil nyengir.

"Kalau kita semua melakukannya bersama, pasti suasananya bakal pecah!"

Haru yang sedang meneguk Pocari Sweat membuka suara.

"Yah, meskipun masih ada 'bagian itu' dari perjamuan yang tersisa, sih."

Yuko mengangkat kedua kepalan tangannya di depan dada.

"Pasti bisa, kok! Kita kan tim hebat!"

Secara alami, pandangan semua orang tertuju pada si junior.

Kureha menjawab ekspektasi itu dengan meninju udara sekuat tenaga.

"Kalau begitu, semuanya bareng-bareng, ya!"

Ia berteriak bagaikan aba-aba keberangkatan kapal, atau suara tembakan pistol di garis start.

"Yousoro!"

"""""YOUSORO!!!!!"""""

Meski sudah kelelahan setengah mati, suara-suara ceria itu tetap menggema di seluruh taman. Cahaya matahari senja yang hangat menyinari mereka semua layaknya lampu panggung.

Sambil saling mengadu ranting pohon yang kami anggap sebagai pedang, aku berpikir. Memang benar, saat-saat yang kami lalui sekarang mungkin hanyalah genangan air hangat yang nyaman seperti senja ini. Mungkin kami hanya sedang berdiri diam bersama-sama sambil merendam ujung kaki kami.

Meski begitu, aku mulai merilekskan bahuku.

Jika mengingat bulan Agustus di mana semua orang tidak bisa lagi menjadi diri mereka sendiri────.

Aku merasa, bulan September di mana semua orang bisa tetap menjadi diri mereka sendiri, adalah hal yang boleh dimaafkan.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close