NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Chitose-kun wa Ramune Bin no Naka (Chiramune) Volume 3 Prolog

Prolog

Bulan di Hari Itu


Dalam perjalanan pulang, aku menatap rembulan.

Ukurannya begitu besar, cantik, terang, dan terasa lembut. Rasanya seperti aku bisa menjangkaunya hanya dengan mengulurkan tangan, meski sebenarnya ia sangat, sangat jauh.

Apakah bulan selalu menjadi bulan sejak ia tercipta? Tiba-tiba saja pikiran itu terlintas di benakku.

Pasti melelahkan menjadi dirinya. Maksudku, ia harus bersembunyi dalam kegelapan, muncul dan tersenyum sebagai bulan sabit, lalu akhirnya kembali ke bentuk bulat yang utuh.

Ia harus tetap hadir dan bersinar esok hari, bahkan saat sedang merasa sedih sekalipun.

Aku penasaran, apakah ia pernah berharap untuk tetap menjadi bulan purnama selamanya setelah semua kerja keras yang ia lakukan untuk mencapai bentuk itu?

Ia tidak bersinar dengan kekuatannya sendiri. Aku teringat ucapan guruku di sekolah dulu.

Bulan hanya memantulkan cahaya dari matahari.

Jika itu benar, berarti bulan harus mengubah bentuknya setiap hari meski ia tidak menginginkannya.

Sementara itu, orang-orang di bawah sana terus menatap dan memberikan komentar sesuka hati.

"Oh, itu bulan purnama," atau "Lihat, itu bulan sabit." Ada juga yang berkata, "Malam ini tidak ada bulan, rasanya agak menyedihkan."

—Apakah bulan memimpikan matahari? Matahari bisa bersinar terang dan kuat sendirian tanpa bergantung pada siapa pun.

Ia memberikan energi kepada manusia, hewan, hingga tumbuh-tumbuhan.

Hal itu memang keren, tapi kurasa aku lebih menyukai bulan.

Kehadirannya menenangkan kegelisahanku. Ia menerangi jalan pulang saat aku berjalan di kegelapan.

Ia harus berurusan dengan cahaya orang lain dan menanggung segala jenis harapan; bahkan orang-orang berdoa kepadanya.

Namun di saat yang sama, ia tetap mengawasi kita semua sambil berakting seolah ia tidak punya beban di dunia ini.

Sosok seperti itulah yang aku inginkan.

Saat pikiran itu melintas, aku meremas tangan kiriku yang terasa lebih hangat dari biasanya.

Aku tahu aku tidak bisa menjadi bulan yang melayang tinggi di angkasa. Hal itu sudah menjadi ketetapan yang mutlak sejak awal.

Jadi, aku puas meski hanya bisa menjadi tiruan yang meyakinkan saja.

Tiruan yang cukup meyakinkan agar aku bisa berdiri di sampingnya tanpa merasa terlalu malu.

—Hei. Bisakah aku menjadi sesuatu yang menyerupai bulan bagimu?




Illustrasi | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close