NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Chitose-kun wa Ramune Bin no Naka (Chiramune) Volume 5 SS Special Story

Chitose-kun wa Ramune Bin no Naka (Chiramune) Volume 5 SS Special Story









Misalnya, Nama yang Pertama Kali Dipanggil

(Bonus Khusus Bundel Komik Volume 1 / Yua)

Malam itu, setelah Pak Kura memintaku menangani masalah Yamazaki-kun, aku segera menelepon Yua.

"Halo?"

"Hah, hah... kamu lagi pakai piyama apa sekarang?"

Klik. Sambungan langsung diputus tanpa ampun.

Aku mengetuk kembali nama Yua yang tertera di layar ponselku.

"Nomor yang Anda tuju sedang—"

"Maaf, maaf! Itu cuma salam pembuka yang keren ala Saku-kun!"

"Chitose Saku dari kelas lima menelepon seorang gadis selarut ini..."

"Jangan langsung ditulis di situs rahasia sekolah dong!"

Setelah menyelesaikan candaan rutin kami, terdengar suara tawa elegan yang halus dari balik ponsel.

"Iya, selamat malam. Jarang sekali kamu menelepon jam segini, ada apa?"

"Maaf ya, aku ingin konsultasi sedikit."

Aku pun menjelaskan situasi Yamazaki-kun yang kudengar dari Pak Kura kepadanya.

"Begitulah ceritanya. Jadi, aku berniat menemuinya besok. Kalau boleh, apa kamu mau menemaniku?"

"Apa... aku tidak apa-apa?"

Suara Yua terdengar agak ragu.

"Aku merasa tidak akan terlalu membantu. Bukankah lebih cocok jika mengajak Yuko-chan atau yang lainnya?"

Yah, jika bicara soal tidak merasa gentar saat menghadapi orang yang baru pertama kali ditemui, itu memang benar.

"Misalnya begini, Yua," kataku.

"Menurutmu, bagaimana sesi wali kelas hari ini?"

"Bagaimana... apanya?"

"Tentang Chitose Saku."

"Oh, begitu maksudmu. Menurutku sih sudah seperti biasanya kamu banget."

"Tapi yah, kurasa ada juga orang yang merasa antipati secara normal."

"Ada yang menganggap suasananya garing, lelucon internalmu tidak lucu, atau kamu sengaja pamer sejak awal."

"Lalu, intinya keberadaan si berengsek tukang main perempuan itu benar-benar merusak pemandangan."

"Oi, bukannya yang terakhir itu keterlaluan?"

Aku spontan memprotes, lalu kami berdua tertawa bersama.

"Tapi ya, karena kamu bisa bicara jujur seperti itulah aku ingin memintamu."

Yuko pasti hanya akan berpikir, "Wah, semuanya tadi seru ya!"

Karena dia memperlakukan siapa pun tanpa mengubah sikap, dia jarang mencurigai perasaan negatif di balik sikap orang lain.

Tentu saja itu adalah sisi baik Yuko. Namun, seandainya Yamazaki-kun tiba-tiba memanggilku "berengsek tukang main perempuan", Yuko pasti akan langsung mengajak duel saat itu juga.

Dalam hal ini, Yua pasti akan mempertimbangkan bagaimana Chitose Saku dipandang oleh orang lain.

Dia akan merespons sambil tetap memikirkan perasaan lawan bicaranya.

Seolah bisa membaca pikiranku, Yua mulai berbicara.

"Fufu, Yuko-chan itu tipe yang bergerak berdasarkan intuisi."

"Pikiran atau ketulusan di balik sikapmu itu sudah dia tangkap secara tidak sadar."

Kata-katanya terasa sedikit menggelitik, jadi aku melanjutkan pembicaraan untuk mengalihkan rasa malu.

"Karena itulah, aku senang kalau kamu mau membantu."

"Iya, serahkan saja padaku."

Suara lembut yang menenangkan terdengar membalas.

Tadinya aku berpikir akan meminta bantuan Nanase jika ditolak, tapi jika Yua mau ikut, itu adalah pilihan terbaik.

"Bagi Yamazaki-kun, ini mungkin hanya campur tangan yang tidak perlu."

Sebagai reaksi dari rasa lega, aku bergumam tanpa sengaja.

"Iya, aku yakin dia akan merasa sangat terganggu."

"Kalau kamu mengatakannya sejelas itu, aku jadi merasa cemas, lho."

"Untuk saat ini saja, kan?"

"...Begitu ya."

"Tidak apa-apa, Saku-kun kan keren."

"Aku tidak bisa memastikan sebelum bertemu langsung, tapi kurasa memperlakukannya dengan santai adalah cara terbaik. Seperti saat itu."

Aku teringat masa-masa saat pertama kali berbicara dengan Yua, dan senyum kecil pun tersungging di bibirku.

"Terima kasih, Yua. Sampai jumpa besok."

"Sama-sama. Selamat tidur, Saku-kun."

"Selamat tidur."

Lalu, kami memutus sambungan telepon.

Aku berpikir, misalnya saja...

Seperti saat nama Uchida-san berubah menjadi Yua-chan, lalu Yua-chan menjadi Yua.

Seperti saat kata 'kamu' berubah menjadi Chitose-kun, lalu Chitose-kun menjadi Saku-kun.

Kuharap, pertemuan ini akan menjadi sesuatu yang seperti itu.


Di Luar Jendela

(Termuat dalam Komik Volume 1 / Yua)

Dalam perjalanan pulang setelah mengunjungi rumah Yamazaki-kun bersama Yua, kami mampir ke sebuah toko buku besar yang kebetulan berada di dekat sana.

Sesuai dugaan, kami diusir mentah-mentah, tapi kurasa itu hal yang wajar.

Meskipun aku punya alasan kuat karena diminta oleh Pak Kura, itu hanyalah pembelaan sepihak dariku.

Bagi dia, aku pasti terlihat seperti si berengsek tukang main perempuan yang datang membawa gadis hanya demi mencari muka.

Apalagi aku sempat memprovokasinya sedikit di akhir demi menggali informasi.

Saat ini dia pasti sedang meradang dan berpikir bahwa orang-orang populer memang sampah.

Karena itulah, aku memutuskan untuk setidaknya membaca light novel yang dia sebutkan tadi.

Ini adalah etiket minimal yang kubutuhkan untuk bisa berbicara jujur dengannya nanti, meski saat ini aku bukan siapa-siapanya.

"Maaf ya, sudah membuatmu menemaniku," ucapku.

Yua menggaruk pipinya dengan ekspresi sedikit bingung.

"Aku sama sekali tidak keberatan. Tapi, aku tidak terlalu ingat judul buku yang disebutkan Yamazaki-kun, jadi mungkin aku tidak akan banyak membantu."

"Iya ya. Aku sendiri cuma ingat samar-samar sekitar setengahnya saja."

"Dia bicara cepat sekali tadi, hebat juga kamu bisa ingat setengahnya?"

"Yah, sejak dia mulai bicara, aku memang sudah berniat membacanya. Jadi di bagian akhir aku cukup konsentrasi mendengarkan."

Judul-judul yang dia sebutkan punya kecenderungan yang sangat berbeda dengan buku yang biasa kubaca, jadi memang berkesan.

Namun, yang bisa kusebutkan di luar kepala paling hanya satu atau dua judul saja.

Ujung-ujungnya, aku harus memeriksa rak pojok light novel satu per satu untuk mencari judul yang terasa familier.

Yua tersenyum tipis.

"Sisi yang seperti itu, benar-benar Saku-kun sekali ya."

"Maksudmu, biarpun terlihat tampan dan pecicilan, sebenarnya aku ini jenius serbabisa yang keren karena bisa mengingat isi percakapan dan mengambil langkah terbaik, begitu?"

"Sisi yang seperti itu juga, benar-benar Saku-kun sekali."

Reaksinya yang seolah bisa melihat tembus isi kepalaku itu terasa menggelitik, jadi aku memilih fokus mengejar judul-judul di punggung buku.

◆◇◆

Akhirnya, dari semua judul yang disebutkan Yamazaki-kun, hanya empat yang ditemukan di toko buku ini.

Meski begitu, karena masing-masing adalah seri yang sudah terbit banyak volume, kantong kertas di tanganku kini terasa berat berisi hampir dua puluh buku.

Sekali aku sudah memantapkan hati, aku tidak berniat menarik kembali ucapanku.

Tapi kalau ditambah enam seri sisanya, pengeluaran ini benar-benar di luar dugaan sampai membuatku pening.

Selagi aku bersusah payah meraba ingatan yang samar, tanpa sadar tirai malam sudah jatuh sepenuhnya di luar sana.

"Yua, aku antar pulang ya."

"Iya, terima kasih. Tapi jujur, sepertinya aku sedikit lelah."

Yah, kupikir itu wajar saja.

"Mau mampir minum teh dulu di sekitar sini?"

"Mau!"

Tadi aku mengatakannya dengan gaya yang agak sedikit sok keren.

Sayangnya, Fukui bukanlah kota yang punya banyak kafe tempat mampir minum teh di setiap sudutnya.

Kami pun membeli minuman untuk berdua di minimarket, lalu duduk beristirahat di tepi sungai dekat sana.

Aku baru menyadari kalau sekarang benar-benar sudah musim semi.

Bunga sakura yang tidak mendapat pencahayaan khusus tampak samar-samar diterangi lampu jalan yang seadanya.

Angin malam yang hingga kemarin masih terasa dingin, kini membelai kulit dengan suhu yang terasa sedikit lebih nyaman.

"Saku-kun," Yua mulai bicara sambil memegang Hojicha Latte hangat dengan kedua tangannya.

"Apa yang kamu pikirkan tentang Yamazaki-kun?"

Aku menyeruput Iced Cafe Latte-ku sebelum menjawab.

"Kurasa dia orang yang murni."

"Murni?"

"Kamu sering melihatku dihujat, jadi kamu pasti paham. Manusia itu tidak selamanya bisa bersikap baik kepada orang lain."

"Hal yang lumrah jika orang yang kita anggap dekat ternyata menjelek-jelekkan kita di belakang."

Kenyataannya, pernah ada rahasia yang hanya kuberitahukan pada satu orang, tapi tiba-tiba sudah tertulis di situs rahasia sekolah.

Itu cukup membuatku patah hati.

"Aku sadar kalau kasusku memang luar biasa banyak, tapi biasanya anak SMA pasti pernah mengalaminya sekali atau dua kali, kan?"

"Yah, mungkin saja begitu," Yua tersenyum getir.

"Yamazaki-kun sepertinya bukan tipe yang pandai berkomunikasi. Mungkin dia baru pertama kali menghadapi masalah semacam itu di usia sekarang."

"Karena itulah dia menjadi seagresif itu terhadap orang lain."

Masalah seperti ini menjadi sulit karena perbedaannya.

Diserang oleh orang yang kita benci atau orang yang jelas-jelas membenci kita, itu masih biasa.

Namun, dikhianati oleh orang yang kita anggap teman itu level sakitnya jauh berbeda.

Tentu saja, semua ini hanyalah spekulasi tanpa bukti karena aku belum bisa mengobrol banyak dengannya.

Yua mulai bicara dengan nada suara yang lembut.

"Padahal kamu dicaci-maki seperti itu oleh orang yang baru pertama kali bertemu, tapi hebat ya kamu masih bisa berpikir sejauh itu."

"Yah, aku sudah terbiasa dihujat. Malah terasa lebih lega kalau dikatai langsung di depan muka."

Lagi pula, aku melanjutkan.

"Biarpun kesan pertamanya buruk, pada akhirnya bisa saja menjadi hubungan yang awet, kan? Seperti seseorang yang kukenal."

"Duh, aku tidak ingin mengingat bagian itu, lho."

Melihatnya menggaruk pipi dengan malu-malu, aku spontan tertawa.

Yua sempat cemberut sebentar, sebelum akhirnya ikut tertawa karena tidak bisa menahannya lagi.

"Seandainya," kataku.

"Seandainya Yamazaki-kun sudah mau masuk sekolah lagi, mari kita buat dia meralat kata-katanya tadi."

"Soal budak seks?"

"Yap. Lalu kita adu kepalan tangan dan berbaikan."

"Fufu, kalau begitu aku juga harus memarahinya dengan benar."

Suara air yang tenang terdengar bergema pelan.

Lalu suara bel sepeda berdenting singkat di suatu tempat.

Bulan bundar yang menggantung di langit kembali menyinari dasar malam dengan lembut hari ini.

Apakah tirai di kamar Yamazaki-kun masih tertutup rapat?

Sayang sekali, pikirku.

Padahal di luar jendela, waktu mengalir dengan begitu tenang seperti ini.

Kantong kertas berisi light novel itu berdesis tertiup angin.

Nah, akan jadi seperti apa akhirnya nanti.


Di Luar Rumah

(Termuat dalam Komik Volume 2 / Yuko)

Dalam perjalanan pulang setelah mengunjungi rumah Kenta bersama Yuko, kami berjalan santai menyusuri area pemukiman yang tenang.

Saluran air yang diterangi cahaya temaram dari rumah-rumah warga mengalir di ujung malam, seolah sedang terlelap dengan tenang.

Bayangan Kenta yang melambai dengan kaku di depan pintu saat kami pulang terlintas di benakku.

Ekspresinya campur aduk; antara cemas dan penuh harap, penyesalan dan semangat, rasa malu yang membuatnya ingin menggali lubang untuk bersembunyi, serta sedikit rasa bangga.

Aku menggulir layar ponsel yang menampilkan sebuah situs web, lalu tanpa sadar tertawa kecil.

Aku sadar cara yang kugunakan sangatlah memaksa, tapi setidaknya dia sudah mau keluar dari kamarnya.

Meski ibunya membungkuk berkali-kali sampai membuatku merasa tidak enak, aku hanyalah orang yang memberikan pemicu.

Jika penyebab dia mengurung diri dianggap sebagai tanggung jawab Kenta, maka keberanian untuk melangkah keluar pun harus diakui sebagai miliknya sendiri.

"...ku, Saku!"

Karena terlalu asyik melamun, ujung almamaterku ditarik dengan kencang.

"Ih! Padahal kita sedang pulang bareng, tapi dari tadi kamu malah main ponsel terus!"

Aku segera menoleh ke samping dan melihat Yuko yang sedang menggembungkan pipinya.

"Maaf, maaf. Apa tadi kamu mengatakan sesuatu?"

"Aku bilang, mumpung sudah di sini, ayo mampir ke taman yang biasa! Sudah tiga kali kutanyakan, tahu!"

Sepertinya aku benar-benar terlalu fokus.

Saat aku hendak memasukkan ponsel ke saku, Yuko sedikit memiringkan kepalanya dengan tatapan penasaran.

"Apa yang kamu lihat? Jarang sekali Saku bersikap begitu saat sedang bersama seseorang."

"Oh, ini cuma riset kecil..."

Aku langsung memperlihatkan layar ponselku padanya.

"Aku sedang memikirkan mana yang kira-kira cocok untuk Kenta."

Layar itu menampilkan situs web JINS, merek kacamata yang juga punya gerai di mal Elpa. Berbagai macam model dan warna bingkai berjajar di sana.

Aku memutuskan bahwa hal pertama yang harus diubah saat menemani Kenta belanja nanti adalah kacamatanya, jadi aku mulai mencari beberapa pilihan.

"Ehh, hal seperti itu kan bisa dipikirkan nanti sambil mencobanya langsung."

"Yah, memang benar sih. Tapi aku kan tidak berkacamata. Kalau tidak punya pengetahuan dasar, aku tidak bisa memberi saran yang tepat untuk Kenta, kan?"

Yuko tertegun sejenak, lalu bahunya berguncang pelan karena menahan tawa.

"Sisi yang seperti itu, benar-benar terasa seperti Saku ya."

Entah kenapa, percakapan dengan Yua seminggu yang lalu tiba-tiba melintas di pikiranku.

'Sisi yang seperti itu, benar-benar Saku-kun sekali ya.'

Rasa menggelitik itu muncul lagi, dan aku pun ikut tertawa.

Yuko yang berkilauan seperti bintang pertama di senja hari, dan Yua yang anggun layaknya selimut lembut di tengah malam.

Sekilas mereka tampak bertolak belakang, tapi terkadang aku merasa mereka mirip seperti saudara.

Karena itulah, agar waktu dan hubungan seperti ini bisa terus berlanjut, aku berniat melontarkan candaan sambil menyelipkan doa kecil di dalamnya. Namun, Yuko bicara lebih dulu.

"Maksudku, biarpun terlihat tampan dan pecicilan, sebenarnya kamu itu pahlawanku yang bersemangat, hangat, dan selalu memikirkan Kentatchi dari lubuk hati meskipun sikapmu suka ketus!"

"...Bisa berhenti menghancurkan pancingan lelucon orang dengan polos begitu tidak?"

"He?"

Benar-benar anak ini, pikirku. Setelah menghela napas dengan suhu yang samar seperti malam di musim semi, aku memasukkan koin ke mesin penjual otomatis di dekat kami.

◆◇◆

Di taman yang berada di jalur perjalananku mengantar Yuko pulang dari SMA Fujishi, kami membuka kaleng kopi.

Taman ini terletak di antara Jalan Raya Nasional Rute 8 dan pusat latihan memukul bisbol yang sudah ada sejak lama. Kami terkadang mampir ke sini.

Ada lapangan kecil dan area bermain dengan peralatan standar seperti palang besi, perosotan, dan ayunan. Area bermain itu posisinya lebih tinggi satu meter, dan tangga pendek di perbatasan itulah tempat duduk tetap kami.

Tanganku yang memegang kaleng di sebelah kanan dan sikut kiri Yuko saling bersentuhan, membuat kami berdua sedikit merapatkan lengan.

Di musim ini, setiap kali aku bermimpi di atas tempat tidur, musim seolah melangkah maju dengan cepat. Angin malam yang melewati celah kecil di antara kami berdua terasa jauh lebih lembut daripada angin di tepi sungai saat aku bersama Yua.

"Hei, Saku," ucap Yuko setelah meminum Iced Cafe Latte-nya.

"Bagaimana cara kamu membujuk Kentatchi? Tentu saja aku percaya akhirnya kamu pasti bisa melakukan sesuatu, tapi dia tidak terlihat seperti orang yang akan mendengarkan pembicaraan dengan mudah, kan?"

Aku berpura-pura menyesap kopi hitam dingin sedikit demi sedikit sambil memikirkan bagaimana cara menjawabnya.

Memang benar ada banyak alasan yang saling berkaitan, tapi pemicu yang membuat Kenta mau mendengarkan adalah—

"Cuma sedikit kisah orang hebat yang sudah usang."

Sebisa mungkin, aku tidak ingin berbohong kepada Yuko.

Layaknya jungkat-jungkit yang memudar di taman bermain di belakang kami, aku mencari titik keseimbangan antara kejujuran maksimal yang kupaksakan dengan kelicikan yang ingin kuremas dan kubuang ke tempat sampah.

"Itu... tentang masa lalu Saku?"

Makna yang tersirat di dasarnya ternyata terbongkar dengan mudah.

Selama ini, sudah berkali-kali Yuko memintaku menceritakan masa laluku.

Seperti apa hidup Saku selama ini? Apa pernah ada kesedihan atau penderitaan yang tak tertahankan? Kenapa kamu bisa menjadi sekuat itu?

Sebenarnya dia bertanya dengan kalimat yang jauh lebih hati-hati seolah sedang meraba dasar laci, tapi setiap saat pula aku menghindarinya dengan lelucon garing yang itu-itu saja.

Cerita saat SD, cerita saat SMP, bahkan alasan kenapa aku berhenti bermain bisbol di SMA, akhirnya tidak ada satu pun yang kuceritakan pada Yuko.

Jika kuberitahu anak ini tentang masa SD dan SMP-ku, dia pasti akan menjadikan setiap kejadian itu sebagai drama yang berlebihan, lalu merasa sedih seolah itu terjadi pada dirinya sendiri.

Jika kuberitahu alasan aku berhenti dari klub bisbol, dia pasti akan marah dari lubuk hatinya dan bersikeras bahwa aku sama sekali tidak salah.

—Karena itulah.

Mungkin untuk ke depannya pun, aku akan terus mengangkat sudut bibirku dan terus berpura-pura.

"Aku cuma menceramahi dia panjang lebar soal betapa luar biasanya gadis tiga dimensi. Omong-omong, aku menggunakanmu sebagai contoh konkretnya, jadi maaf ya."

Sedikit warna kesedihan merembes di ekspresi Yuko, lalu dia menyipitkan mata dengan rindu.

"Yah, bersikap seperti itu kepada orang yang baru ditemui memang sudah jadi kebiasaan Saku, sih. Malah aku ingin memuji Kentatchi karena memutuskan untuk mengikutimu~"

Lalu, dia melanjutkan dengan nada riang.

"Lagi pula, biarpun kesan pertamanya sangat buruk, pada akhirnya bisa saja berubah jadi sangat suka, kan? Seperti aku!"

"Hentikan, jangan ingatkan aku pada sejarah kelam itu..."

Saat aku memegang kepala dengan kedua tangan, Yuko tertawa terpingkal-pingkal sambil memegangi perutnya.

"Seandainya saja," dia menyolek pipiku.

"Nanti kalau dia sudah benar-benar membuka hati, aku ingin mengobrol banyak hal dengannya. Hal yang ingin disampaikan, hal yang ingin ditanyakan, bahkan keluhan pun, masih ada jauh lebih banyak lagi, lho."

Siapa yang dimaksud? Aku tidak perlu bertanya.

Karena ini adalah jalan pulang dari rumah Kenta, dan kami sedang membicarakan dia.

"Berjalan pelan-pelan saja tidak apa-apa. Kita masih tujuh belas tahun."

Tahun kedua SMA. Sudah saatnya untuk berhenti diam di tempat, tapi masih terlalu dini untuk terburu-buru mencari jawaban.

Apakah saat ini Kenta juga sedang memandangi malam biru yang indah dengan cahaya bulan ini dari jendela kamarnya?

Cobalah sedikit saja, pikirku.

Keluarlah dari rumah, lalu cobalah bertengkar seperti hari ini, bersemangat saat membicarakan gadis yang disukai, atau patah hati lagi dan merasa depresi.

Sepertinya hal-hal semacam itu disebut dengan masa muda.




Hujan, Hujan, Turunlah, Turunlah

(Festival Novel Melonbooks / Yua)

Shito-shito, picchan, shito-picchan.

Sejak lewat tengah hari, hujan yang tenang terus mengguyur. Padahal baru bulan April, tapi langit mendung khas wilayah Hokuriku terasa seberat musim penghujan, menyelimuti kota pedesaan ini dengan lembap.

Sudah dua minggu berlalu sejak aku diminta oleh wali kelasku, Pak Kura, untuk membawa si penyendiri Kenta Yamazaki kembali ke sekolah.

Di satu sisi, aku dikenal sebagai kasta tertinggi kaum populer di SMA Fujishi. Namun di sisi lain, aku dihujat sebagai si berengsek tukang main perempuan di belakang punggungku. Terlepas dari itu, belakangan ini aku sedang tidak ada jadwal main dan lebih sering menghabiskan waktu sepulang sekolah bersama Kenta.

Hari ini dia sepertinya punya urusan lain, jadi ini adalah waktu luang pertamaku setelah sekian lama. Begitu pelajaran usai, aku segera berkemas dan keluar dari kelas.

Katan, koton. Suara lantai kayu tua di area pintu masuk sekolah bergema pelan.

Aku mengenakan sepatu Stan Smith yang kuambil dari loker, mengikat ulang tali sepatu yang hampir terlepas, lalu menatap ke luar. Hujan yang tadinya tenang perlahan mulai terdengar bising.

Lebih baik segera pulang. Saat aku mulai melangkah, tiba-tiba sebuah suara memanggilku dari belakang.

"Eh, Saku-kun? Hari ini sudah mau pulang?"

Saat menoleh, aku melihat Yua yang menatapku dengan wajah penasaran.

Dia adalah anggota kelompok populer di kelas 2-5 bersamaku. Dia memang tidak punya aura kemewahan yang mencolok, tapi senyum hangat yang merebak di sudut matanya yang lembut itu selalu meninggalkan kesan mendalam. Dari rambut panjangnya yang diikat satu ke samping dan disampirkan di bahu, tercium aroma sampo organik yang harum dan menenangkan.

"Yah, cuacanya juga begini. Kamu sendiri, bagaimana dengan klub tiup?"

"Hari ini libur. Mumpung senggang, aku berencana membeli reed saksofon sebelum pulang."

Yua menyebutkan nama toko alat musik yang berada di dekat sekolah.

"Begitu ya. Kalau begitu kita berpisah di gerbang sekolah hari ini."

Aku dan Yua searah jalan pulangnya, jadi terkadang kami pulang bersama jika waktunya pas. Tapi toko alat musik itu berada di arah yang berlawanan. Melihat barang yang akan dibelinya, dia pun pasti tidak akan memintaku untuk menemaninya.

Yua mengambil sendok sepatu kecil dan mengenakan sepatu pantofelnya dengan hati-hati.

Begitu kami berdua keluar setelah menunggunya selesai, ternyata hujan sudah semakin deras.

"Wah, hujannya hebat. Sepertinya bakal tetap basah walau pakai payung."

Yua mengeluarkan payung lipat dari tas sekolahnya sambil tersenyum pasrah.

"Umu, luar biasa. Fenomena baju tembus pandang karena basah itu penuh dengan romansa pria. Aku jadi menantikan perjalanan pulang kita—maaf, itu cuma bercanda, tolong jangan tekan nadi leherku begitu."

Saat kami sedang bercanda, tiba-tiba mataku menangkap sosok seorang siswi yang tampaknya murid baru. Dia berdiri di bawah emperan bangunan sambil menatap langit dengan wajah kebingungan.

Sepertinya dia lupa membawa payung. Melihatnya berkali-kali memeriksa waktu di ponsel, mungkin dia punya urusan yang mendesak. Dia tampak begitu cemas sampai-sampai wajahnya mengernyit seolah hampir menangis.

Di sampingku, Yua mengembangkan payung lipatnya yang berwarna biru pastel lembut.

Ton, ton. Aku mengetukkan ujung payung plastik di tanganku ke tanah, lalu berjalan mendekati gadis itu dan menyodorkannya. Terkejut dengan tindakan yang tiba-tiba, dia menoleh ke arahku dengan wajah curiga.

"Kalau kamu tidak keberatan, mau pakai ini?"

Begitu aku bicara, gadis itu menatap wajahku lekat-lekat. Ekspresinya kini berubah menjadi campuran antara rasa malu dan tidak enak hati.

"Eh, tapi, saya merasa tidak enak. Lagipula, Kakak Kelas... bagaimana?"

"Jangan dipikirkan. Ini payung rongsokan yang memang biasa kutinggalkan di sekolah. Lagi pula..."

Aku menjeda kalimatku sejenak, lalu melirik ke arah Yua sebelum melanjutkan.

"Kalau kamu membawa payung itu, aku jadi punya alasan untuk berbagi payung dengan pacarku. Anggap saja ini sebagai pancingan, jadi apa kamu mau membantuku?"

Gadis itu memandangi aku dan Yua bergantian, lalu mengembuskan napas kecil. Dia tersenyum sedikit canggung, kemudian menerima payung itu dengan ragu-ragu.

"Kalau... alasannya begitu. Saya pasti akan mengembalikannya nanti. Anu, Kakak Kelas, boleh saya tahu nama Anda?"

"Chitose Saku dari kelas 2-5. Tidak perlu repot-repot dikembalikan, tapi kalau memang perlu, tanya saja 'di mana kakak kelas si tukang main perempuan itu', pasti ada yang memberitahumu."

Aku menyeringai saat mengatakannya. Gadis itu menutup mulutnya sambil tertawa kecil dan membungkuk berkali-kali sambil mengucap "Terima kasih," lalu berlari menuju gerbang sekolah di bawah naungan payung.

Aku melambaikan tangan ke arah punggungnya.

"...Saku-kun, sisi yang seperti itu benar-benar terasa seperti Saku-kun sekali. Padahal aku sudah bilang arah kita berbeda hari ini."

"Karena ada umpan lezat di depanku, aku jadi lupa dan langsung menyambarnya. Kupikir ini kesempatan untuk pulang menempel dengan Yua yang basah kuyup."

Aku meregangkan tubuh, lalu mengambil handuk olahraga dan menaruhnya di atas kepala.

"Nah, mari kita pulang—"

Baru saja aku hendak melangkah, almamaterku ditarik pelan.

"...Kita akan berbagi payung, kan?"

Yua merapat ke arahku dengan lembut, dan sebuah langit biru kecil pun membentang di atas kami berdua.

"Tidak apa-apa? Belanjaanmu?"

"Tidak apa-apa. Itu tidak harus hari ini."

"Sedangkan yang ini harus hari ini, begitu?"

"Kenapa hal seperti itu harus diucapkan, sih?"

Aku menerima payung dari tetangga di sampingku yang kini memalingkan wajah karena enggan bertatapan, lalu aku melangkah setengah tindak lebih dekat lagi.

Dengan langit yang kecil dan lembut ini, saat sampai di rumah nanti mungkin lengan kananku dan lengan kiri Yua akan basah kuyup dan kedinginan.

Sambil mulai berjalan dengan langkah yang lebih kecil dari biasanya, aku berbicara seperti bergumam pada diri sendiri.

"Kuharap besok cerah."

"...Entahlah. Mungkin tidak juga."

Di bawah jarak yang hanya tersisa lima sentimeter, dua siluet yang saling bersandar itu dihiasi oleh pelangi yang hangat.










Bayangan yang Memanjang di Kejauhan

(Pekan Masa Muda Melonbooks / Asuka)

Di tepi sungai saat senja, Kak Asuka tampak melamun menatap aliran air—sebuah pemandangan langka karena dia tidak sedang membaca buku.

Agar tidak merusak suasana yang entah kenapa terasa sulit diusik itu, aku duduk di sisi kanannya dengan jarak sekitar satu meter, sembari menjaga gerak-gerikku seformal mungkin.

Potongan rambut pendek yang sangat cocok dengan profil wajahnya yang tegas dan bening itu tertiup angin. Di sana, aku bisa melihat kabel berwarna biru turquoise menjuntai dari telinganya yang mungil dan indah. Rupanya dia sedang mendengarkan musik.

Sadar akan keberadaanku, Kak Asuka melepas earphone sebelah kiri lalu tersenyum tipis yang menyejukkan.

"Pas sekali, aku baru saja memikirkanmu."

Hanya dengan satu kalimat itu saja, hatiku rasanya ingin melayang.

"Lagi dengerin apa?"

Aku membalas dengan lagak sok keren. Kak Asuka kemudian menggunakan tangan dan pinggulnya yang ramping untuk mengikis jarak satu meter di antara kami, lalu duduk menempel tepat di sampingku.

Lengan yang bersentuhan itu terasa lebih hangat dari yang kukira, sekaligus jauh lebih rapuh dari yang kubayangkan.

Kemudian, dengan gerakan yang sangat alami, dia menyodorkan earphone yang tadi dilepasnya.

Aku menerimanya, lalu memasangnya di telinga kiri.

Kak Asuka suka mendengarkan lagu J-POP lama. Lagu yang mengalir adalah tentang perasaan sedih saat berpisah dengan sahabat, namun tetap mengucapkan selamat tinggal dengan senyuman sambil memercayai pertemuan kembali sepuluh tahun kemudian.

"Hei, apa kamu ingat kejadian sepuluh tahun yang lalu?"

"Waktu itu aku masih kelas rendah di SD. Paling-paling, aku cuma ingat memori saat bermain ke rumah nenek setiap liburan musim panas."

"...Begitu ya."

Kak Asuka tertawa seolah merasa geli, lalu melanjutkan.

"Lalu, bisakah kamu membayangkan dirimu sepuluh tahun ke depan?"

"Mana mungkin. Setidaknya, aku tahu aku tidak bisa menjadi pemain bisbol profesional. Kalau Kakak?"

Kotsun. Kepala mungilnya bersandar di bahuku.

Terpikat oleh aroma sampo yang begitu menenangkan, aku melirik sedikit. Kak Asuka sedang menatap lurus ke arah langit senja yang kian meredup di kejauhan.

"Aku juga tidak tahu. Di mana aku akan berada, atau apa yang akan kulakukan.... Mungkin saja, aku sudah menikah."

Suaranya terdengar seolah akan larut dan menghilang ditelan melodi nostalgia lagu itu.

"Jika itu orang yang Kakak pilih, dia pasti sosok yang luar biasa."

Aku mengucapkan kalimat yang sama sekali tidak puitis.

Kak Asuka tertawa kecil, seolah bisa melihat tembus isi hatiku yang masih bocah dan sempit ini.

"Apakah itu, misalnya, orang sepertimu?"

Mata dan ekspresi yang menatapku dari jarak sedekat itu sudah benar-benar kembali menjadi Kak Asuka yang seperti biasanya.

"...Tadi Kakak menggodaku, ya?"

"Hehe, kira-kira bagaimana, ya?"

"Dasar, ya!"

Saat tanganku hendak mengacak-acak rambutnya, dia menghindar dengan lihai. Kak Asuka mencabut earphone, memungut tasnya, lalu berlari ringan menyusuri jalan di sepanjang tanggul sungai.

"Ayo, kejar aku ke sini~!"

Sambil mengejar bayangannya yang memanjang seperti saat kami masih anak-anak, aku berpikir bahwa aku ingin waktu seperti ini terus berlanjut selamanya.




Cafe Latte yang Biasa, Tea Latte yang Biasa

(Bonus Toranoana Volume 2 / Yua)

Beberapa hari setelah Kenta berkonfrontasi dengan teman-teman lamanya. Memasuki pertengahan liburan Golden Week, aku yang dipanggil oleh Yuko kembali datang ke Elpa tanpa merasa kapok. Katanya sih, karena dia sedang belanja bersama Yua, sekalian saja dia ingin aku melaporkan perkembangan masalah Kenta.

"—Lalu ya, dengan gaya 'jangan berani-berani menghina Kenta', Saku-kun membentak anak laki-laki itu."

"Heh, jarang sekali Saku-kun bisa menjadi segegabah itu."

Sudah sejak tadi suasananya seperti ini; Yuko terus menceritakan kejadian hari itu kepada Yua. Mendengar cerita dari sudut pandang orang ketiga memang terasa segar, tapi entah kenapa kedengarannya jadi sangat berlebihan sampai-sampai aku merasa malu sendiri.

Sudah lebih dari satu jam aku tetap berada satu langkah di belakang mereka, mendedikasikan diri sepenuhnya sebagai pembawa barang belanjaan.

"Tapi, Yuko-chan juga hebat ya karena sudah bersiaga dengan baik."

Yua tersenyum lembut.

Mengenai hal itu, aku setuju sepenuhnya. Seandainya Yuko tidak ada di tempat itu waktu itu, mungkin perjalanan pulang kami berdua—sesama laki-laki—akan terasa jauh lebih tidak menyenangkan.

Si subjek pembicaraan, Yuko, menjawab seolah itu bukan masalah besar.

"Masa sih? Kalau Ucchi berada di posisiku, kamu pasti akan melakukan hal yang sama kok."

Yua tetap mempertahankan senyumnya seperti tadi, namun dia menggelengkan kepala perlahan.

"Kurasa tidak akan begitu. Karena hal yang dianggap biasa bagi Yuko-chan, belum tentu menjadi hal yang biasa bagiku."

"Tapi bukankah itu berarti hal yang biasa bagimu juga bukan hal yang biasa bagiku? Kalau kamu mendukung Saku dan Kentatchi dengan caramu sendiri, menurutku itu tetap hal yang sama, lho—"

Yuko yang ceria dan blak-blakan, serta Yua yang anggun dan bersahaja.

Dari luar, mereka berdua mungkin terlihat bertolak belakang, tapi entah bagaimana mereka bisa berteman baik sejak tahun lalu. Pasti karena mereka saling menghargai satu sama lain seperti ini.

Saat aku sedang memikirkan hal itu, tiba-tiba—

—Hei, sepertinya sebentar lagi hujan.

Percakapan orang yang lewat tertangkap oleh telingaku. Benar saja, sejak pagi langit mendung sudah membentang luas, dan ramalan cuaca pun bilang hujan mungkin akan turun sebelum sore.

"Ayo pulang sebelum hujan turun dengan deras. Aku akan antar kalian berdua."

Begitu aku mengatakannya, Yuko menjawab, "Ayo kalau begitu, aku lupa bawa payung."

Kami juga sudah cukup menikmati belanja, dan laporan soal Kenta pun sepertinya sudah tersampaikan secara garis besar.

Tiba-tiba, Yua tersenyum manis dan mulai bicara.

"Ah, aku masih ada tempat yang ingin dikunjungi, jadi kalian bisa pulang duluan. Saku-kun, tolong jaga Yuko-chan ya."

"Eh, kalau begitu kami temani saja?"

Yuko menawarkan dengan nada yang wajar.

"Tidak apa-apa, kok. Ini urusan pribadi. Sampai jumpa di sekolah ya."

"Begitu ya..."

Sambil membawa Yuko yang terlihat berat hati untuk berpisah, kami pun berpisah dengan Yua.

◆◇◆

—Setelah mengantar Yuko sampai ke rumahnya, aku kembali ke Elpa dan masuk ke gerai Starbucks di dalam areanya.

Sesuai dugaan, aku melihat Yua yang sedang duduk di kursi dekat jendela, menatap ke luar dengan tatapan sayu.

"Lagi minum apa?"

Begitu aku menyapanya, dia membuka mata lebar-lebar dengan wajah yang tampak tidak enak hati, lalu mengembuskan napas panjang seolah menyerah. Aku pun duduk di kursi di hadapannya.

"...Starbucks Latte dengan tambahan espresso shot."

"Memangnya kamu tipe orang yang suka memesan kustomisasi begitu?"

"Lagi pengin saja."

Aku meminum minumanku sedikit, lalu melanjutkan.

"Mampir yang 'pribadi' sekali, ya."

"...Sisi yang seperti itu darimu, Saku-kun, menurutku tidak baik, lho."

"Sisi yang seperti itu darimu juga, Yua, menurutku tidak baik."

Aku tidak tahu apakah dia melakukannya karena tidak enak pada Yuko, atau karena dia ingin mencoba berada di tempat di mana dia tidak bisa hadir sebelumnya.

Tapi bagaimanapun itu, aku tidak ingin dia tenggelam dalam perasaan seperti itu sendirian.

Ekspresi Yua sedikit melunak dibarengi tawa kecil.

"Ternyata kamu bisa melihat tembus semuanya, ya."

"Hubungan kita sudah cukup lama, kan. Setidaknya, sudah sampai pada level hafal kesukaan satu sama lain."

Aku menyodorkan cangkir ukuran short di depanku dengan ujung jari, menggesernya ke arahnya.

Yua menerimanya dengan wajah penasaran, lalu menyesapnya.

"Hojicha... Tea Latte. Kenapa?"

"Lagi pengin saja."

Saat aku menirukan ucapannya tadi, tawa kecil yang tidak tertahankan pun tumpah darinya.

"Menyebalkan ya, seperti biasanya."

"Daripada merana sendirian sambil memandangi hujan, dijadikan bahan candaan begini setidaknya masih lebih mending, kan?"

"Ihh!!"

Melihat Yua yang wajahnya memerah sambil meminum Hojicha Tea Latte itu, aku sedikit berpikir bahwa seharusnya tadi aku memesan ukuran grande saja.


Boyfriend Sepulang Sekolah bagi Mereka Berdua

(Bonus Animate Volume 2 / Yuzuki x Haru)

Aku, Nanase Yuzuki, sedang mengobrol santai bersama Haru di ruang klub setelah latihan selesai. Di tanganku ada segelas tapioca milk tea yang tadi dibelikan adik kelas di minimarket dekat sini.

"Terus ya, si Chitose itu..."

Mendengar nama itu tiba-tiba disebut, jantungku sedikit berdegup kencang.

Hari ini pun dia pasti sedang sibuk membimbing Yamazaki agar bisa menjadi kaum populer bersama Yuko.

Aku bahkan belum memberitahu Haru kalau tadi malam aku meneleponnya untuk pertama kali.

Bukannya aku ingin menyembunyikannya, tapi aku merasa malu sendiri kalau ingat betapa senangnya aku saat menyadari ternyata Chitose adalah orang yang sangat mirip denganku, sampai-sampai aku mengoceh terlalu banyak.

"Biru muda pucat seperti langit bulan April," kalau dipikir-pikir lagi, kata-kataku itu memalukan sekali.

"—Terus akhirnya kami taruhan 1 on 1 dan aku menang!!"

Haru membusungkan dadanya dengan bangga.

Katanya sih, dia "memberi sedikit gertakan karena Chitose sedang galau," tapi aku sulit membayangkan sosok Chitose Saku yang seperti itu.

Selama beberapa minggu sejak kami berada di kelas yang sama di tahun kedua ini, aku mulai menyadari bahwa dia mungkin orang yang lebih bersemangat dari dugaanku.

Meski begitu, menurutku dia bukan tipe orang yang akan menunjukkan kelemahan di depan perempuan.

Apa dia sengaja pura-pura menunjukkan kelemahan untuk mengelabuinya ya? Pikirku sambil menggelengkan kepala dalam hati.

Bagaimanapun, ini tentang Haru. Berbeda denganku yang tipe orang yang menyerang perlahan dari luar, Haru punya keteguhan hati yang murni yang bisa berlari lurus menuju pusat hati seseorang.

Haru, yang membuat si Chitose itu tak sengaja ingin menunjukkan kelemahannya. Dan aku, yang hanya bisa menunjukkan bagian terkuatku saja.

Mungkin begitulah jarak antara aku, Haru, dan Chitose saat ini. Sejujurnya aku penasaran apa yang mereka bicarakan setelah taruhan itu selesai, tapi bertanya sampai sejauh itu rasanya tidak sopan.

Chitose mungkin akan menjadi orang yang spesial bagiku, tapi perasaan itu jelas-jelas bukanlah cinta biasa.

"Hei, hei, Yuzuki."

Haru memanggilku yang sedari tadi melamun.

"Boleh aku foto terus kukirim ke Chitose?"

"He? Kenapa?"

Aku menyahut dengan suara yang cukup konyol menanggapi partnerku yang kini menatap dengan pandangan penuh arti.

"Habisnya, dia kan tadi sedang melankolis. Mungkin kalau dikirimkan foto gadis cantik, dia bisa semangat lagi. Dia kan suka perempuan."

"Logika macam apa itu. Kalau begitu, kirim saja foto dirimu sendiri."

"Yah, aku tidak memungkiri kalau Haru-chan ini memang gadis cantik. Tapi Chitose pasti lebih suka tipe gadis seperti Yuzuki, kan?"

Melihat Haru yang menyeringai lebar, aku merasa bukan begitu kenyataannya.

Anak laki-laki yang sangat mirip denganku itu tidak akan tertarik pada gadis yang juga mirip dengannya.

Kami bisa menjadi pemberi pengertian yang baik. Kami bahkan bisa menjadi rekan kriminal untuk menjalani kehidupan SMA yang lancar.

Namun, seseorang selalu jatuh cinta ketika mereka menemukan "sesuatu yang berkilau" yang tidak mereka miliki di dalam diri orang lain.

Karena itulah, Chitose yang mirip denganku tidak akan memilihku, dan aku yang mirip dengan Chitose juga tidak akan memilihnya.

Meski pemikiran ini mungkin terlalu mencampuri urusan orang, menurutku gadis seperti partner di depanku inilah yang paling cocok untuk orang seperti dia.

"Haru..."

Apa pendapatmu tentang Chitose?

Aku hendak melanjutkan kalimat itu, tapi urung.

Entah kenapa, aku merasa lebih baik tidak menanyakannya sekarang.

Aku pun kembali membuka suara.

"Haru tidak ikut masuk foto? Kalau begitu, ayo foto bareng saja."

"Hmm, foto two-shot dua gadis cantik itu rasanya terlalu banyak servis, tapi ya sudahlah."

Haru memberikan ponselnya pada adik kelas di dekat kami sambil berkata "Tolong fotokan ya~". Anggota baru yang menerima ponsel itu langsung melompat kegirangan, "Eh! Foto Kak Aumi dan Kak Nanase? Tolong kirimkan padaku juga ya!". Apa-apaan itu, manis sekali!

Adik kelas itu dengan semangat berkata, "Mumpung lagi bagus, ayo ke luar saja!". Kami pun menurutinya.

"Satu, dua, tiga—"

Cik-cik-cik-cik-cik! Adik kelas itu mengambil foto beruntun dengan sangat banyak.

Haru memilih salah satu, lalu memperlihatkan foto yang sudah diedit dengan aplikasi hingga kami terlihat seperti kucing. Ya, harus kuakui, aku terlihat cantik di sini.

Kalau tiba-tiba dikirimi foto ini, reaksi apa yang akan diberikan Chitose? Kurasa dia tidak akan tersipu, mungkin dia hanya akan mengirimkan satu atau dua kata pujian yang cerdik.

Lewat ponsel Haru, kami mengirim pesan LINE disertai teks "Hadiah Miaw". Tak butuh waktu lama, pesan itu langsung dibaca dan ada balasan masuk.

Sebenarnya aku lebih suka adik kelas baru yang masih polos...

""Apa-apaan itu, menyebalkan!""

—Tuh, kan.

Chitose yang menghindar seperti ini memang tidak akan memilihku, dan aku pun tidak akan memilih orang seperti Chitose.


Mungkin, Orang yang Disukai Temanku

(Pekan Masa Muda Melonbooks / Haru)

"Chitooose! Apa-apaan, kamu baru mau pulang?"

Saat aku hendak keluar dari gerbang sekolah, sebuah suara sangat ceria yang kukenal memanggil dari belakang. Bahuku ditepuk keras, dan saat aku menoleh, sosok yang kubayangkan sudah berdiri di sana.

Meskipun dia ace klub basket putri, Haru setingkat lebih pendek dariku. Dia menatapku sambil menyeringai lebar dari arah dadaku. Kuncir kuda pendek yang menjadi ciri khasnya bergoyang, dan sialnya, jantungku sedikit berdegup kencang.

"Yo. Kamu sendiri, bagaimana dengan klub?"

"Ah, Misaki-chan bilang karena kemarin dia memaksa ada pertandingan latihan, jadi hari ini diliburkan seharian~"

Misaki-chan yang dimaksud adalah Ibu Guru Misaki, pembina klub basket putri.

Beberapa hari lalu, pertandingan latihan yang kutonton itu dilakukan di masa tenang menjelang ujian yang seharusnya semua kegiatan klub libur. Hari ini mungkin dianggap sebagai hari libur pengganti.

"Makanya, Chitose lapar tidak? Ayo makan, makan!"

"Kenapa meski klub libur kamu tetap lapar. Lagipula, masa seorang gadis bilangnya 'makan'..."

Haru tiba-tiba berpose genit yang dibuat-buat.

"Chi-to-se-sa-yang Haru ingin makan sesuatu yang enak, lho"

"—Bfuh!"

Sial, aku langsung tersedak.

"Oke, oke. Aku temani, jadi hentikan akting itu. Mau berapa kali pun, itu selalu berhasil buatku geli."

Sambil berkata begitu aku mulai berjalan, dan Haru mengikutiku sambil menuntun sepeda cross bike Gios birunya.

"Terus makan apa? Ramen Hachiban atau katsu-don?"

"Ehh, padahal ini kencan dengan gadis cantik tapi pilihannya cuma itu?"

"Habisnya kan ini Haru..."

"Saku-san ja-hat"

"Uhyahyahya! Berhenti, tolong jangan menusuk-nusuk punggungku begitu!"

Saat kami sedang bercanda begitu, Haru seolah teringat sesuatu.

"Ah, aku ingin pergi ke sana. Kafe yang ada egg benedict-nya, yang tempo hari kamu datangi bersama Yuzuki."

Itu adalah tempat di mana Nanase Yuzuki, teman sekelas sekaligus rekan Haru di klub basket, berkonsultasi padaku karena merasa diincar oleh penguntit.

"Oh, ya sudah kalau begitu."

Mendengar itu, Haru menaiki sepedanya dan menunjuk ban belakang. Aku meletakkan kedua tanganku di bahu Haru, lalu berdiri di pijakan yang ada. Aroma deodoran yang segar seperti laut dari tengkuknya tertinggal di belakang saat sepeda melaju kencang, terbawa angin entah ke mana.

◆◇◆

Sesampainya di kafe, dua porsi egg benedict tersaji di meja. Keduanya rasa bacon & onion.

"Dengar ya Haru. Egg benedict itu pertama-tama harus dibelah dua tepat di tengah..."

"Itu kan cuma pengetahuan yang kamu dapat dari Yuzuki."

"Kok tahu?"

Haru memotongnya sesuai instruksiku, memakan satu suap, lalu pipinya melunak, "Enak~".

"Ini rasanya seperti... Egg McMuffin versi mewah ya."

"Kamu ini aku, ya?"

Aku tertawa karena dia punya kesan yang sama denganku saat pertama kali memakannya. Saat aku mulai menyantap bagianku, Haru bergumam pelan.

"Terima kasih ya, Chitose."

Kata-katanya terdengar agak kesepian, jadi aku membalasnya dengan candaan.

"Aku tidak ingat pernah bilang mau mentraktirmu, lho."

Haru tersenyum dengan sangat lembut, kecil, dan terasa rapuh.

"Dasar bodoh. Maksudku, terima kasih sudah menolong Yuzuki."

"Aku tidak melakukan apa-apa. Nanase sendiri yang memutuskan untuk melangkah maju."

Seolah tidak mendengar kata-kataku, Haru melanjutkan.

"Anak itu, dia tidak pernah menunjukkan kelemahannya padaku. Makanya, aku yang menyuruhnya untuk coba berkonsultasi pada Chitose."

Ini fakta yang baru kuketahui. Tentu saja, aku tidak tahu apakah Nanase berkonsultasi padaku karena disuruh atau atas keinginannya sendiri. Tapi yang lebih mengejutkan adalah kenyataan bahwa Haru memilihku sebagai orang tempat dia menitipkan rekannya yang berharga.

"Kalau menurutku, orang yang paling dipercayai Nanase itu kamu, Haru."

"Memercayai dan menitipkan hati itu hal yang berbeda, Chitose. Aku merasa, jika kepadamu, dia mungkin bisa menitipkan hal-hal yang berharga baginya."

Aku tidak tahu harus merespons apa pada kata-kata Haru yang tidak seperti biasanya ini, jadi aku bungkam.

Menyadari hal itu, dia melanjutkan seolah bicara pada diri sendiri.

"Aku tidak ingin kalah dari Yuzuki. Tapi, aku juga tidak ingin melihat Yuzuki kalah. Jika aku ingin menang melawan orang yang benar-benar tidak ingin kulihat kalah, apa yang harus kulakukan ya?"

Senyumnya terlihat seperti anak kecil yang sedang tersesat.

"Aku... tidak punya jawaban cerdas untuk pertanyaan itu. Tapi bagi seorang atlet, bukankah kita tidak akan membenci lawan yang sudah mengalahkan kita dengan segenap kemampuan?"

Haru menepuk kedua pipinya dengan keras seolah sudah merasa lega.

"Benar juga. Ujung-ujungnya anak klub olahraga memang harus beradu langsung untuk menentukan siapa yang menang. Kalau suatu saat nanti aku menantangmu bertarung, jangan kabur dan terima tantanganku ya?"

"Hah, saat itu tiba, aku akan membalasmu habis-habisan."

"...Begitulah kata si penyebut dirinya sendiri manusia super serbabisa yang memalukan karena kalah taruhan 1 on 1 melawan seorang gadis."

"Oi, ayo ke luar sebentar, Bocah. Akan kubuktikan sekarang siapa yang lebih hebat."

◆◇◆

Tepi sungai sudah sepenuhnya berwarna jingga senja. Suara roda sepeda yang berputar dan suara gagak yang terbang tumpang tindih seperti musik latar. Dua bayangan yang memanjang berjalan pelan, menjaga jarak yang ambigu—tidak terlalu dekat tapi juga tidak menjauh.

"Apa barusan aku mengatakan sesuatu yang tidak seperti diriku?"

Haru tertawa malu.

"Menurutku itu sangat mirip dirimu. Lurus dan bersemangat."

"Kalau si 'Tuan Suami' yang bilang begitu, rasanya aneh ya."

"Apa maksudnya?"

"Karena orang yang paling lurus dan bersemangat menurutku adalah kamu."

Setelah mengatakannya, dia memalingkan wajah.

Melihatnya bersikap begitu terasa lucu, tapi juga membuatku malu, jadi aku ikut memalingkan wajah. Namun karena diam saja terasa canggung, aku mulai bicara dengan hati-hati.

"Hei Haru, egg benedict saja tidak cukup, kan?"

"Sejujurnya, aku juga berpikir begitu."

"Mau cari makan lagi?"

"Ramen Hachiban atau katsu-don?"

"Ujung-ujungnya itu lagi?"

"Yah, ujung-ujungnya kita kan memang begitu?"

Kami berdua tertawa terpingkal-pingkal.

"Bonceng aku ya, Haru."

"Naiklah, seperti biasanya."

Aku meletakkan tanganku di bahu Haru, menitipkan sedikit beban padaku padanya.

Sama seperti jalan pulang yang warnanya tercampur antara putih, hitam, dan jingga ini, aku berpikir bahwa aku ingin keseharian yang ambigu namun indah ini terus berlanjut sedikit lebih lama lagi.


Biru dan Biru Rahasia

(Bonus Gamers Volume 2 / Yuko)

"Dewa, apakah ada yang bisa kulakukan untuk membantu Kak Nanase? Aku akan melakukan apa saja."

Kenta mengatakannya dengan ekspresi yang sangat serius. Sepertinya dia ingin membalas budi pada Yuzuki yang sudah banyak membantunya dalam proses keluar dari status non-populer.

Aku mengangguk tanda mengerti, lalu dengan wajah khidmat aku memanggil Yuko.

"Begitulah ceritanya, Yuko-chan. Tolong carikan satu celana dalam wanita yang sangat seksi dan imut untuk anak ini~"

Wajah Yuko dipenuhi tanda tanya, tapi...

"A-aku tidak terlalu mengerti maksudnya, tapi kalau Saku yang minta, siaaap!"

Dia mengangkat tangannya dengan semangat lalu berdiri.

Kenta hanya bisa ternganga tanpa memahami sedikit pun apa yang akan diperintahkan kepadanya.

◆◇◆

—Kami sampai di toko pakaian dalam wanita di dalam Elpa. Di depan toko, berdiri manekin-manekin yang mengenakan pakaian dalam yang sangat mencolok.

"Mustahil, mustahil, mustahiiil!!"

Sepanjang jalan tadi, aku sudah menjelaskan rencana untuk menyiapkan foto seksi palsu guna memancing penguntit Yuzuki agar kita bisa memastikan identitasnya, dan aku meminta Kenta untuk menjadi modelnya. Sejak saat itu Kenta terus bersikap seperti ini. Sekarang pun dia sedang berusaha keras menahan diri agar tidak ditarik masuk ke dalam toko oleh Yuko.

"Katanya mau melakukan apa saja? Sebenarnya aku juga tidak tega memberikan peran ini, tapi pantatku, Kazuki, dan Kaito itu terlalu keras, benar-benar 'pantat laki-laki'. Sedangkan pantatmu yang putih, kurus, dan tidak berotot itu sangat pas untuk jadi samaran. Sabar ya!"

"Bohong! Dewa pasti dari awal memang sudah merencanakan ini dan mengarahkan pembicaraannya!"

"Ma-sa sih?"

Saat kami berdua sedang berdebat di depan toko, Yuko menggembungkan pipinya.

"Hei, kalian! Kita tidak punya banyak waktu, jadi ayo cepat. Kentatchi, serahkan padaku, aku tidak akan membuatmu terlihat buruk kok."

Aku merasa tidak bertanggung jawab karena tidak yakin bagaimana situasi ini bisa berakhir tidak buruk, tapi aku tetap melambaikan tangan dengan santai pada mereka berdua yang hendak masuk ke toko. Kenta menatapku dengan penuh dendam, tapi karena tempo hari dia juga menjebakku di laboratorium biologi, anggap saja kita impas.

Tapi ya, toko pakaian dalam wanita itu memang membuat canggung hanya dengan melihatnya dari luar. Rasanya seperti area terlarang bagi laki-laki. Sebaiknya aku cari cara untuk membunuh waktu di sekitar sini saja.

Saat aku sedang berpikir begitu, Yuko tiba-tiba berbalik dan menarik tanganku.

"Kenapa diam saja, Saku juga ikut!"

"—He? Tidak, mustahil, mustahiiil!!"

Sama seperti Kenta tadi, aku pun mengeluarkan suara payah saat ikut diseret masuk ke dalam.

"Hei Saku, Yuzuki itu imejnya warna apa ya?"

Tanya Yuko sambil dengan cekatan memilih beberapa potong celana dalam. Aku dan Kenta yang bingung harus melihat ke mana akhirnya malah saling menatap lekat-lekat satu sama lain. Apa-apaan kami ini.

Sesaat, aku teringat percakapanku dengan Yuzuki waktu itu. Aku hampir menjawab "biru muda pucat seperti langit bulan April", tapi aku menahan diri dan menjawab dengan ragu, "Ah, mungkin... nuansa biru?"

"Benar juga ya, menurutku juga imejnya begitu. Kentatchi, sini sebentar."

Karena celana dalam tentu tidak bisa dicoba, Yuko mulai mengukur pinggul Kenta dengan pita pengukur yang dipinjam dari pelayan toko.

"Meskipun laki-laki, pantatmu kecil ya. Sepertinya ukuran L muat."

Si subjek utama hanya berdiri sambil bersedekap dengan jantan, memejamkan mata rapat-rapat seolah sudah menyerah pada segalanya. Yuko berjongkok, menempelkan celana dalam yang dipegangnya ke arah depan dan belakang Kenta sambil mulai bicara.

"Omong-omong, Saku suka warna biru?"

Melihat ekspresinya yang penuh arti, dia pasti sedang membicarakan pakaian dalam yang akan dipilih ini.

Biasanya ini pertanyaan yang sulit dijawab, tapi karena saat ini aku dikelilingi oleh berbagai pakaian dalam yang mencolok, aku merasa sudah tidak peduli lagi.

"Yah, biru muda, biru tua, atau hijau kebiruan... aku suka semua warna dalam spektrum itu."

"Antara seksi dan imut?"

"Hmm, aku suka gap seperti gadis tipe imut yang ternyata seksi, atau gadis tipe seksi yang ternyata imut. Itu sangat menarik."

"Suka yang banyak motif dan hiasan? Atau yang simpel?"

"Sama saja. Gadis yang terlihat polos tapi ternyata pakaian dalamnya mewah, atau gadis yang terlihat glamor tapi ternyata pakaian dalamnya polos. Hal-hal seperti itu membuatku sangat bahagia."

"Hmm, hmm, siaaap!"

Sebenarnya apa yang sedang kubicarakan dengan serius begini?

Yuko mengangguk berkali-kali seolah sudah paham, lalu berdiri.

"Aku beli yang ini ya. Saku dan Kentatchi boleh keluar duluan—"

Aku sempat berpikir, kalau akhirnya membeli yang sedang dipegangnya itu, apa perlu menanyakan seleraku tadi? Tapi aku dan Kenta segera lari tunggang langgang meninggalkan tempat itu.

—Sepuluh menit kemudian, Yuko keluar dengan senyum lebar yang sangat ceria. Di tangannya, dua tas belanja bergoyang beriringan.








Kalau Bisa Selamanya, Kapan-Kapan Lagi

(Bonus Animate Volume 3 / Yuko x Yua)

Setelah selesai menyantap masakan yang dibuat oleh Yuko dan Yua yang tiba-tiba datang berkunjung, kami menikmati obrolan santai sejenak sambil memegang secangkir kopi.

Yuko memegang mug dengan kedua tangannya, lalu meniupnya perlahan sebelum bicara.

"Rasanya kalau makan bareng-bareng begini, aku jadi ingin mengadakan acara menginap bersama, ya—"

Baru saja aku hendak menimpali, "Kalau begitu ayo tidur berjejer bertiga...", Yua langsung melirik tajam ke arahku sehingga aku buru-buru menelan kembali kata-kataku.

Sebagai gantinya, aku melemparkan pertanyaan balik.

"Kalian tidak pernah melakukan hal seperti itu?"

Keduanya saling berpandangan dengan ekspresi sedikit bingung.

"Kalau dipikir-pikir," Yua mulai angkat bicara.

"Aku belum pernah menginap berdua saja dengan Yuko-chan, ya."

"Benar juga~. Padahal waktu SD atau SMP dulu aku sering melakukannya dengan teman-teman."

Yah, begitu masuk SMA, hari Sabtu dan Minggu pun biasanya terisi dengan kegiatan klub, jadi mungkin memang begitu keadaannya.

Yuko dengan mata berbinar-binar berkata.

"Ucchi, kapan-kapan menginaplah di rumahku!"

"Mungkin sesekali boleh juga ya, hal seperti itu."

Yua pun tersenyum lembut.

"Apa yang biasanya dilakukan anak perempuan di acara seperti itu?" tanyaku.

Yuko memiringkan kepalanya sambil berpikir.

Omong-omong, jika Kazuki atau Kaito menginap di sini, biasanya kami hanya bermalas-malasan sambil membicarakan hal-hal bodoh.

"Misalnya kalau Ucchi datang," Yuko mulai mengutarakan idenya.

"Bak mandi di rumahku besar, jadi kita bisa mandi bareng—"

"Hm, coba jelaskan lebih detail."

"—Saku-kun?"

Seketika Yua memberikan tatapan sedingin es.

Seandainya dia duduk di sampingku sekarang, aku pasti sudah dicubit dengan keras.

Yuko melanjutkan.

"Kita bisa saling mencoba produk perawatan kulit masing-masing, atau aku mengajari Ucchi cara menata rambut. Terus saling memperlihatkan album kelulusan!"

"A-aku agak kurang percaya diri kalau soal album kelulusan," Yua tersenyum getir sambil menggaruk pipinya.

"Lalu pesta piyama itu wajib! Makan camil sambil mengobrol ala gadis!"

Membayangkan mereka berdua berbisik-bisik rahasia sambil mengenakan piyama membuatku merasa hangat.

Saat baru masuk sekolah dulu, Yuko dan Yua hampir tidak pernah bertegur sapa, tapi sekarang siapa pun bisa melihat kalau mereka adalah sahabat sejati yang tak tergantikan.

"Apa saja yang kalian bicarakan kalau sedang berdua?"

Yua menjawab pertanyaanku.

"Hmm, biasa saja. Tentang pelajaran, kegiatan klub, baju, kosmetik, atau... tentang Saku-kun yang berbuat ulah lagi?"

"Memangnya aku topik yang se-rutin itu sampai masuk ke dalam daftar?"

Begitu aku memprotes, mereka berdua saling berpandangan dan tertawa kecil.

Rasanya menyenangkan ya, pikirku.

Orang sering bilang persahabatan perempuan itu rapuh atau menakutkan, tapi Yuko dan Yua terlihat seperti kakak beradik yang akur.

Bukan hubungan yang kasar dan kaku seperti antar laki-laki, tapi mereka saling memikirkan, menghargai, dan membuka hati satu sama lain.

Terasa bulat, lembut, dan hangat.

"Tapi ya," ucap Yuko.

"Kalau kita menginap nanti, aku... ingin membicarakan tentang orang yang disukai."

Tumben sekali bicaranya tersendat-sendat. Dia melirik ke samping seolah sedang menunggu reaksi.

Yua menanggapi dengan senyuman lembut yang tidak berubah.

"Bukankah itu sama saja seperti biasanya?"

"Bukan soal aku, tapi..."

Yua menepuk-nepuk punggung Yuko dengan pelan.

"Dengar, Saku-kun sedang memasang telinga lebar-lebar, jadi lanjutannya kapan-kapan saja, ya?"

Entah kenapa, aku langsung memasang wajah cengengesan dan bicara dengan nada yang sengaja dibuat ringan.

"Yah, digantung di sini?! Tolonglah, setidaknya kirimkan foto kalian pakai piyama nanti!"

"Silakan puas-puaskan saja dengan foto Mizushino-kun atau Asano-kun."

"Balasanmu kasar sekali!"

Seketika Yuko pun kembali tersenyum.

"Benar! Melihat Ucchi pakai piyama itu kan hak istimewaku."

""Iya kan~!""

Melihat mereka berdua yang bersorak heboh, kata-kata egois seperti "Semoga selamanya tetap begini" muncul di benakku, namun segera kuremas dan kusimpan dalam-dalam di saku.


Sesekali Ingin Melepas Dasi

(Bonus Gamers Volume 3 / Haru)

"Hei, kamu itu..."

Beberapa hari setelah kami bermain lempar tangkap bola di jam istirahat siang, Haru tiba-tiba bicara di waktu sepulang sekolah.

Biasanya dia akan langsung lari menuju tempat latihan klub, tapi kali ini dia malah menelungkupkan wajahnya di atas meja dengan lesu.

Meski merasa aneh, aku hanya memberinya isyarat lewat mata agar dia melanjutkan kalimatnya.

"Dulu, kamu pernah bilang kalau pita tidak cocok untukku, kan?"

Karena belum menangkap maksud sebenarnya, aku menjawab seadanya.

"Aku bilang kamu lebih cocok pakai dasi daripada pita. Nuansanya sedikit berbeda."

"Sama saja, tahu."

Entah ada hubungannya dengan percakapan ini atau dia memang sudah curi start ganti baju untuk latihan klub, dasi yang sudah dilepasnya terjuntai lemas di samping meja.

Karena posisinya yang membungkuk, bagian belakang kemejanya tertarik, memperlihatkan tengkuknya yang indah.

Haru menatap mataku lekat-lekat seolah sedang mencari sesuatu, lalu bergumam.

"Kenapa?"

"Kenapa, ya..."

Aku mendadak kehilangan kata-kata.

Sepertinya suasana saat ini tidak tepat untuk melontarkan candaan seperti biasanya.

Maka, aku mencari kata-kata yang sejujur mungkin.

"Anggap saja itu caraku menutupi rasa malu."

Haru tetap menelungkup, namun memiringkan kepalanya sedikit untuk meminta penjelasan lebih lanjut.

"Maksudku, aku merasa itu sudah jadi semacam aturan di antara kita, hal-hal semacam itu."

"Hubungan seperti teman laki-laki?"

"Yah, kalau harus dijelaskan dalam satu kata, mungkin begitu. Lagipula, Haru juga tidak pernah bilang kalau aku keren atau semacamnya, kan?"

Aku sengaja mengatakannya sambil menyisakan celah untuk diprotes.

Sesuai dugaan, Haru tertawa kecil.

"Itu sih berarti kamu berasumsi kalau sebenarnya aku menganggapmu keren."

"Memangnya salah?"

"Yah, tidak salah sih."

Setelah mengatakannya dengan mata yang tampak sayu seolah sedang demam, Haru langsung membenamkan wajahnya ke dalam lipatan lengannya seakan baru saja melakukan kesalahan besar.

Reaksinya sedikit di luar dugaan, tapi melihatnya begitu membuatku tertawa kecil.

"Tuh kan, pasti jadi begini."

Aku terus bicara sambil memperhatikan telinganya yang memerah.

"Kalau secantik Haru, pakai pita pun sudah pasti cocok. Apa perlu diucapkan dengan kata-kata?"

"—Ukh. Tunggu, berhenti, cukup pembicaraan ini!"

Haru langsung menegakkan tubuhnya dan mengarahkan telapak tangan ke arahku.

"Bukan begitu. Kemarin junior di klub basket ada yang bilang aku keren seperti cowok tampan, jadi aku cuma berpikir, apa aku memang sejantan itu? Ternyata aku salah orang untuk bertanya."

"Yah, kalimat terakhir itu tidak perlu diucapkan. Mau kubuat kamu mati karena malu dengan pujian-pujianku?"

Mendengar ucapanku, Haru berdiri lalu meregangkan tubuhnya kuat-kuat.

Kemejanya menjadi ketat, mempertegas lekukan dadanya yang meski tidak bisa dibilang besar, tapi jelas-jelas tidak rata.

Karena pembicaraan tadi, aku menjadi sedikit canggung dan memalingkan wajah.

Memang benar bahwa kemampuan untuk berteman seperti sesama laki-laki adalah daya tarik Haru, tapi jika ditanya apakah aku tidak melihatnya sebagai seorang gadis, jawabannya adalah sama sekali tidak.

"Hei, hei, Chitose."

Suara Haru sudah kembali normal seperti biasanya.

"Aku juga ingin mencoba bagian memukulnya. Yang bunyi kakiin itu."

"Kalau begitu, mau ke batting center?"

"Mau! Hari Sabtu besok aku hanya latihan pagi, bagaimana kalau setelah itu?"

"Akan kulatih kamu dengan keras, lho."

"Boleh saja!"

Haru mengacungkan jempolnya dengan senyum lebar.

Kami pun membawa barang bawaan kami dan keluar dari kelas.

Gadis yang berjalan di sampingku itu menyangkutkan dasinya di ujung jari, lalu memutar-mutarnya dengan lihai.

"Kalau kita memukul bola sekuat tenaga, rasanya bakal lega ya?" gumam Haru pelan.

"Tentu saja. Sebagian besar masalah bakal ikut terbang bersama bolanya dan tidak jadi masalah lagi."

"Bagus kalau begitu."

Sepertinya dia memutarnya terlalu bersemangat, karena dasi itu terlepas dari jari Haru.

Aku menangkapnya di udara, lalu menyampirkannya kembali ke leher rampingnya.

Kamu memang lebih cocok pakai dasi. Gumamku dalam hati.


Ingin Menangkap tapi Tidak Bisa, Selalu Hanya Menjadi Penonton

(Bonus Toranoana Volume 3 / Yuko)

Pada hari Sabtu di akhir pekan setelah kasus penguntit Nanase selesai, aku pergi ke game center bersama Yuko. Katanya, karena selama dua minggu terakhir aku sama sekali tidak mempedulikannya demi menjadi pacar palsu Nanase, aku harus memberikan kompensasi untuk itu.

"Lihat Saku, aku hebat kan?!"

Di depanku, Yuko sedang asyik bermain gim dansa.

Dia memang tampak lihai melangkah ke sana kemari, tapi maaf, mataku hanya tertuju pada dada ukuran E-nya yang berguncang hebat di balik blus off-shoulder tipisnya itu.

"Hehehe, skor tinggi~♪"

Aku menyodorkan botol jus jeruk pada Yuko yang baru selesai bermain.

Saat dia menerimanya dengan senang dan meminumnya dengan lahap, butiran keringat mengalir di sepanjang leher menuju dadanya.

Hmm, pemandangan yang indah, benar-benar indah.

"Hei, hei, berikutnya main itu yuk."

Yuko menunjuk ke mesin crane game.

"Nostalgia ya, waktu kecil dulu aku cukup jago main ini."

"Kalau begitu, ayo tanding siapa yang bisa dapat duluan!"

"Boleh juga."

Kami berdua menukarkan uang seribu yen, dan Yuko mencoba lebih dulu.

Di balik kaca, berbagai macam boneka binatang menatap ke arah kami.

"Hmm, yaat, hup!"

"Itu sih cuma asal-asalan. Instingmu benar-benar buruk ya."

Meskipun semangatnya tinggi, penjepit yang digerakkan Yuko hanya mencengkeram udara di tempat yang sama sekali tidak tepat.

"Menyebalkan! Kalau begitu Saku ambilkan itu untukku, boneka anjingnya."

"Sini dua ratus yen."

Begitu aku menengadahkan tangan, dia langsung menepuknya.

"Bukan begitu! Aku ingin Saku menghadiahkan boneka yang didapat sendiri!"

"Kenapa?"

"Habisnya~ Yuzuki pamer kalau dia diambilkan ikan mas koki kemarin."

Melihatnya menggembungkan pipi, aku hanya bisa tersenyum getir menyadari alasannya.

"Iya, iya, siap dilaksanakan."

Menirukan gaya bicara Yuko, aku memasukkan dua koin seratus yen.

Melihat boneka itu mengenakan semacam syal atau bandana di lehernya, sepertinya bagus jika aku mengaitkannya di sana.

Aku menggerakkan mesin itu ke samping, fokus pada salah satu dari empat lengan penjepit yang posisinya paling pas.

"Saku stop, stop, di situ! Ahh..."

"Bisa diam sebentar tidak, ya?"

Berikutnya aku bergeser ke posisi yang memudahkan untuk memperkirakan kedalamannya, lalu menekan tombol panah atas.

"Sekarang, sekarang, sekarang! Ahh, sayang sekali."

"Akan kubungkam mulutmu itu, ya."

"Silakan dinikmati"

Ini bukan waktunya memejamkan mata sambil memajukan bibir, tahu!

"Eh, aaarghhh!"

Sepertinya waktunya habis karena aku terdistraksi, dan penjepit itu hanya mencengkeram kekosongan di tempat yang asal-asalan.

"Sayang sekali, kamu payah ya~♪"

Yuko menautkan tangan di belakang kepala sambil menjulurkan lidahnya.

"Baiklah, Saku-kun menerima tantanganmu!"

Aku menyingsingkan lengan bajuku kuat-kuat.

◆◇◆

Setelah melewati berbagai gangguan dari Yuko, akhirnya aku berhasil mendapatkan boneka anjing itu setelah menghabiskan seluruh uang seribu yen hasil tukar tadi. Rasanya aku baru saja melewati pertarungan sia-sia yang luar biasa panjang.

Padahal tadi dia terus mengganggu, tapi begitu penjepitnya mengait ke boneka, Yuko malah bersorak, "Ayo, sedikit lagi! Semangat!".

"Sudah puas?" tanyaku.

Sambil memeluk boneka anjing berwajah agak konyol itu, dia tersenyum lebar dengan sangat bahagia.

"Iya! Akan kujaga baik-baik."

"Semoga panjang umur ya, Shibamaro."

"Apa-apaan, namanya tidak imut sama sekali!"

Setelah berkata begitu, Yuko mengangkat Shibamaro ke depan wajahnya.

Sambil menggerak-gerakkan kaki depan boneka itu, dia bicara dengan suara aneh yang sengaja dibuat-buat.

"Apa perasaanmu sudah sedikit membaik, Nyah?"

"Shibamaro, ternyata kamu kucing ya?"

"...Apa perasaanmu sudah sedikit membaik, Wan?"

Meskipun kami terus bercanda, hatiku terasa hangat.

Apa-apaan, ternyata alasan "kompensasi" itu cuma kedok saja ya.

"Berkatmu, sih."

"Belakangan ini dahimu terus berkerut, Wan."

"Memangnya wajahku menakutkan?"

Kok-kok, Shibamaro mengangguk.

"Maaf sudah membuatmu khawatir. Ayo kapan-kapan kita jalan-jalan lagi begini."

"Wan-wan!"

Boneka itu menyalak senang sambil menerjang wajahku.

"Hei, tunggu!"

"Heh-heh-heh-heh-heh."

"Jangan kegirangan begitu!"

Setelah puas bercanda, Yuko menyeringai.

"Aku dapat ciuman Saku~!"

"Ciuman tidak langsung lewat Shibamaro itu tidak dihitung."

"Kalau begitu aku akan menciumnya banyak-banyak!"

Yuko mendekap Shibamaro ke pipinya erat-erat.

Ah, pikirku.

Seandainya saja bisa terus begini selamanya.

Meskipun ini hanyalah bentuk kemanjaan atau kelemahan seseorang.

Cha-charin, aku menambahkan dua koin seratus yen lagi.

Setidaknya agar Shibamaro tidak menyalak sendirian karena kesepian.


Sampo dan Topi

(Bonus BOOK WALKER Volume 3 / Yuzuki)

Di dalam kereta Shinkansen saat perjalanan pulang dari Tokyo, aku mengirim pesan LINE kepada Nanase.

Aku merasa sudah seharusnya melaporkan hasil akhirnya kepada orang yang sudah mendorong punggungku dua malam lalu.

Sesampainya di Fukui dan berpisah dengan Kak Asuka, aku benar-benar dipaksa mentraktir Pak Kura di Ramen Hachiban sebelum kami bubar. Pak tua itu malah memesan Yasai Koku-uma Ramen ditambah gyoza, dia benar-benar seorang guru bukan sih?

Keluar dari stasiun, tepat saat aku menghirup napas dalam-dalam udara kampung halaman yang segar setelah semua beban di dada terangkat, ponselku bergetar.

Di layar terpampang nama Nanase.

"Halo, ada apa?"

Begitu aku menjawab, suara yang terdengar sangat serius menyahut.

Jangan bicara, jalan terus ke kiri.

Apa-apaan ini? Saat aku mengedarkan pandangan ke sekitar, kalimat bernada ancaman kembali menyusul.

Ups, jangan berisik. Kalau kamu sayang nyawamu, ikuti saja instruksinya dengan patuh.

Oh, begitu ya, pikirku.

Intinya, ini cuma candaan seperti biasanya.

Melihat gaya khas Nanase ini, aku malah merasa lega dan bahuku yang tadinya tegang kini menjadi rileks.

Mungkin terdengar berlebihan karena aku hanya pergi ke Tokyo selama dua hari satu malam, tapi bagaimanapun juga aku terus menjaga kewaspadaanku. Interaksi yang sudah sangat mendarah daging ini membuatku benar-benar merasa telah kembali ke "rumah".

Aku menyahut dengan suara yang sengaja dibuat memelas.

"A-aku akan ikuti perintahmu. Tolong, biarkan aku hidup."

Itu tergantung kelakuanmu. Bertindaklah dengan sopan, anggun, hati-hati, dan waspada, layaknya seorang putri bangsawan yang akan memulai debutnya di lingkungan sosial.

Sambil menahan tawa mendengar kalimatnya yang hiperbolis, aku mulai berjalan ke arah yang diperintahkan. Setelah berjalan beberapa saat dengan ponsel masih menempel di telinga, Nanase kembali memberi instruksi.

Belok kanan di sana. Temukan aku tanpa ketahuan orang sekitar, lalu serahkan "barang"-nya.

Setelah berkata begitu, sambungan telepon terputus.

Aku memasukkan ponsel ke saku belakang, berbelok ke kanan, lalu berjalan menyusuri gedung komersial Happiring yang berdinding kaca... dan ternyata aku tidak perlu repot-repot mencarinya.

Meskipun mengenakan topi, hoodie, dan celana pendek yang simpel bergaya tomboi, gadis cantik yang berdiri di sana tetap terlihat mencolok dari kerumunan sambil meniup permen karet hingga menggembung.

Begitu aku mendekat, balon permen karetnya pecah.

Nanase menggerakkan lidahnya dengan lihai untuk membersihkan sisa permen karet di bibirnya, lalu mulai bicara.

"Hai."

"Jangan-jangan kamu sengaja datang menjemputku?"

"Mana mungkin, aku kebetulan saja sedang belanja di depan stasiun. Terlepas dari itu..."

Dia menengadahkan tangan seolah sedang menagih sesuatu.

"Berikan 'barang'-nya."

"Kamu masih mau melanjutkan akting itu? Aku tidak baru saja melakukan transaksi mencurigakan, tahu."

"Bukan itu."

Nanase tersenyum manis sambil memiringkan kepalanya.

"Tentu saja kamu membelikan setidaknya satu oleh-oleh untukku, kan?"

"...Gimana kalau Satsuki-gase saja?"

Saat aku menyebutkan nama kue khas Fukui, dia membalasnya dengan desahan panjang yang dilebih-lebihkan.

Kalau dipikir-pikir lagi, terlepas dari teman-teman lain yang belum tahu situasinya, aku memang seharusnya membelikan setidaknya satu oleh-oleh untuk Nanase. Harusnya aku tidak usah repot-repot membelikan Tokyo Banana yang bahkan tidak diminta oleh ayahnya Kak Asuka.

Saat aku sedang berpikir begitu, Nanase menatapku lekat-lekat dari jarak dekat.

"Hmm."

"Apa?"

Pertanyaanku tidak dijawab, dan wajahnya yang sempurna itu justru semakin mendekat.

Melewati pipi kiri dan bibirku yang mendadak kaku, suara napas yang seolah sedang memastikan sesuatu menggelitik telingaku.

—Hmm.

Sekali lagi, suara cueknya membelai daun telingaku.

"Padahal aku berniat menghiburmu kalau saja kamu dicampakkan dengan tragis setelah mencoba menyelinap ke kamar kakak kelas idamanmu itu. Ternyata kamu malah memasang wajah segar seolah sudah 'selesai' melakukan sesuatu ya."

"Mau aku protes dari bagian mana dulu?"

"...Dariku?"

"Siang-siang begini mesum sekali!"

Nanase melepas topinya dan memutar-mutarnya di ujung jari. Saat dia menggelengkan kepala pelan, rambut hitamnya yang indah berkilau menyebar layaknya gaun beledu.

Kemudian, dia memakaikan topi di tangannya itu ke kepalaku.

Seketika, aroma sampo yang manis tercium dan menyelimutiku dalam sekejap.

"Ternyata tidak terlalu cocok, ya. Tidak terlihat seperti anak bisbol."

Ucap Nanase dengan suara yang sedikit lebih lemah dari biasanya.

"Ada apa tiba-tiba?"

"Hmm... menimpa?"

"Menimpa apa?"

"Mungkin... memori."

"Topi ini tidak mengeluarkan gelombang elektromagnetik aneh, kan?"

Mendengar kata-kataku, Nanase tertawa lepas.

"Entahlah."

Dia mengambil kembali topinya dengan lihai, memakainya lagi, lalu mulai melangkah pergi. Aku segera mengejarnya.

"Nanase, mau minum kopi dulu sebelum pulang?"

"Setuju. Tapi kamu yang traktir sebagai ganti oleh-oleh, ya."

"Padahal aku baru saja mentraktir Pak Kura di Ramen Hachiban..."

Sambil bertukar percakapan ringan seperti itu, kami mulai berjalan. Dan tiba-tiba, aku merasa aroma sampo Nanase masih tertinggal di rambutku.




Blue Moon yang Ingin Kulihat Bersamamu

(Festival Novel Melonbooks / Asuka)

"Tiga puluh menit! ...Atau mungkin tolong tunggu sebentar lagi di taman itu!"

Aku, Nishino Asuka, berkata sambil menekan rambut mencuat bekas tidur yang melompat konyol dengan tanganku.

Di bawah jendela, kamu yang baru saja menyanyikan lagu senam radio tadi, menatap ke arah sini dengan ekspresi yang sangat lembut dan sedikit jahil, persis seperti wajah seorang anak laki-laki.

——Jika kamu merasa ingin kawin lari, sentuh telinga kirimu sebagai tandanya.

Itu adalah kalimat yang tak bisa disebut janji, sebuah ucapan yang terdengar seperti gurauan.

Kalimat sok keren yang sangat khas dirimu.

Memori berharga yang terhubung dengan hari musim panas yang jauh itu.

Ternyata kamu masih mengingatnya dengan baik, kamu menyadarinya... Kak Saku.

Jika aku lengah sedikit saja, rasanya aku akan menangis tersedu-sedu, jadi aku buru-buru menutup jendela.

Biasanya aku bukan tipe orang yang mudah bangun tidur dengan segar, namun rentetan kejadian tak terduga ini membuatku terjaga melampaui batas. Aku bernapas perlahan untuk menenangkan kepalaku yang terasa panas membara.

Syuu, fuu, haa.

Tunggu, eeeh?!

Begitu aku menjadi tenang, berbagai macam emosi—terutama rasa malu—langsung menyerbu.

Aku buru-buru melihat ke cermin. Rambutku ternyata lebih berantakan dari dugaanku.

Karena belakangan ini aku terlalu banyak pikiran dan tidak bisa tidur nyenyak, warna kulitku juga tidak terlihat bagus. Terlebih lagi, di balik piyama ini aku sedang tidak memakai bra—.

Begitu menyadarinya, aku tidak bisa berdiri tegak lagi. Aku memegangi kepala dan merosot duduk dengan lemas.

Tadi itu cuma sekejap, jadi harusnya tidak apa-apa, kan?

Pachin. Aku menepuk kedua pipiku untuk mengubah suasana hati.

Aku harus segera bersiap, aku tidak punya waktu untuk bersantai.

Aku keluar dari kamar dengan perlahan, lalu menuruni tangga dengan langkah yang sangat berhati-hati.

Kamar tidur Ayah dan Ibu ada di lantai dua, jadi jika aku menggunakan wastafel di bawah tanpa menimbulkan suara gaduh, mereka tidak akan terbangun.

Aku mencuci wajahku dengan saksama, lalu memakai masker wajah sebagai upaya terakhir. Di kemasannya tertulis banyak kata-kata promosi yang memikat seperti kelembapan tinggi, kulit transparan, hingga kulit putih berseri. Saat ini, aku akan memercayai kata-kata itu!

Di cermin di depanku, terpantul sosok diriku yang terlihat konyol seperti hantu bertopeng noh yang sama sekali tidak boleh diperlihatkan kepada orang lain.

Aku menyikat gigi lebih lama dari biasanya, lalu memasukkan losion dan krim contoh yang dikemas kecil-kecil ke dalam kantong kosmetik agar tidak memakan tempat.

Setelah melepas masker, aku memakai riasan seperti biasa, lalu membubuhkan sedikit perona pipi yang biasanya jarang kugunakan.

Setelah merapikan rambut dengan teliti, aku kembali menyelinap ke kamarku.

Saat aku mengeluarkan tas boston kulit dari lemari, tiba-tiba aku tersadar.

Eh, jangan-jangan aku akan menginap bersama Kak Saku?

—Ukh.

Jika ini adalah komik, pasti sudah ada efek suara kaaaa dengan wajah memerah dan keringat yang mengalir di pipi. Mungkin asap akan mengepul dari kepalaku dan mataku berubah menjadi pusaran berputar.

Aku melanjutkan persiapan sambil berusaha tidak berpikir terlalu dalam, namun tanganku berhenti tepat saat hendak membuka sebuah laci.

...Anu, itu, soal pakaian dalam, bagaimana ya.

Bukan, ini bukan begitu. Aku tidak sedang membayangkan hal yang aneh-aneh.

Berbagai alasan yang entah ditujukan untuk siapa muncul satu per satu di kepalaku.

Setelah waktu yang terasa agak terlalu lama untuk disebut sejenak berlalu, aku memantapkan hati dan mengeluarkan tas belanja yang tersimpan di bagian paling dalam lemari seolah sedang disembunyikan.

Di dalamnya ada dua set pakaian dalam biru yang masih baru.

Warna ink blue yang menyerupai tulisan pena tinta pada surat lama, dan warna blue moon yang menyerupai langit malam yang kita lihat berdua pada musim panas itu.

Sebenarnya aku berniat mengenakannya pada hari yang biasa-biasa saja suatu saat nanti.

Misalnya saat aku menemukan novel yang menarik, atau saat aku bisa menyapa kucing liar yang biasa kutemui di tepi sungai. Pokoknya alasan sepele yang bisa membuat tertawa.

Aku mengambilnya dengan ragu-ragu, lalu ───────.

Terakhir adalah soal baju apa yang akan kupakai, namun untuk hal ini aku bisa memutuskannya dengan cepat.

Setelah selesai bersiap, aku menulis surat singkat untuk orang tuaku di atas kertas pesan yang sama seperti yang pernah kuberikan padanya dulu, lalu meletakkannya di atas meja makan.

Aku mengenakan sepatu di pintu depan, mengatur ekspresi wajahku, lalu membuka pintu.

Sosok polos yang tampak terkantuk-kantuk di bangku taman tertangkap oleh mataku. Rasanya sangat nostalgia dan aku merasa dia begitu berharga saat aku melangkah mendekat.

Namun, tak peduli seberapa banyak dirimu yang sekarang adalah Kak Saku, dan seberapa banyak diriku yang sekarang adalah kamu.

Kak Asuka berkata.

"...Ka-Kamu."

Mari kita mulai petualangannya.








Pembohong Adalah Awal Musim Panas

(Bonus Toranoana Volume 4 / Yuko x Haru)

Sore hari setelah aku diperintahkan oleh Pak Kura untuk membersihkan kolam renang, aku, Aumi Haru, hendak melangkah menuju klub dengan perasaan yang sedikit lebih berat dari biasanya, sebelum sebuah suara menghentikanku dari belakang.

"Haru~!"

Mendengar suara yang terdengar ceria itu, aku menoleh dan melihat Yuko yang mendekat sambil tersenyum lebar.

"Mau latihan sekarang? Boleh minta waktunya sebentar?"

Hee, jarang sekali.

Sama seperti Ucchi, kami memang sering mengobrol atau main bersama Chitose dan yang lainnya, tapi kalau bicara secara personal begini, rasanya hampir tidak pernah.

"Yo, ada apa?"

Begitu aku bertanya, Yuko melangkah maju satu tindak lagi. Aroma parfum yang manis dan mewah—namun tidak menusuk hidung—tercium samar tertiup angin.

Sepertinya hal-hal seperti ini tidak akan pernah cocok denganku selamanya, pikirku sambil hampir saja mengembuskan napas panjang.

"Anu, kalau kamu tidak keberatan, bagaimana kalau besok tugas membersihkan kolam renangnya tukar denganku?"

"Hah?"

Mendengar tawaran yang sama sekali tak terduga itu, aku merespons dengan suara yang terdengar konyol.

"Habisnya, Haru kan baru jadi kapten baru, pasti lagi sibuk-sibuknya di klub, kan? Kalau aku sih, bisa bolos klub dengan santai sambil bilang 'hari ini aku pulang ya~'. Terlebih lagi, kalau bareng Saku, aku sama sekali tidak keberatan, kok!"

Mendengar ucapannya yang begitu blak-blakan, aku tertawa kecil dalam hati.

Aku sadar kalau aku ini tipe orang yang suka bicara apa adanya, tapi sepertinya aku masih kalah kalau dibandingkan dengan Yuko.

Menurutku ini adalah tawaran yang sangat menguntungkan.

Dengan begitu aku bisa pergi latihan, dan Pak Kura pun sejujurnya tidak akan peduli siapa yang membersihkan asalkan kolamnya bersih. Tidak akan ada orang yang merasa dirugikan.

"Ah, itu..."

Meskipun begitu, aku malah membuang muka dan bergumam ragu.

"Aku sangat menghargai niatmu, tapi ini kan hukuman karena aku ketiduran di kelas. Rasanya tidak enak kalau malah melempar semuanya padamu, ya kan?"

Doubt, aku memprotes kata-kataku sendiri yang baru saja keluar.

Sayangnya, aku bukan tipe orang yang se-formal dan se-serius itu.

Lalu kenapa?

Kalau ditanya begitu sekarang, aku hanya bisa menjawab: "entahlah".

Tidak, serius, kenapa ya?

Tanpa memedulikan kegalauanku, Yuko sepertinya langsung menerima alasan itu dan menggaruk pipinya dengan lesu.

"Hmm, benar juga ya. Yahh, padahal kupikir membersihkan kolam bersama Saku itu punya kesan spesial dan bakal menyenangkan, sayang sekali."

Berusaha mengusir rasa bersalah kecil karena telah membuat wajahnya mendung akibat perasaanku yang ambigu, aku pun menyeringai lebar.

"Maaf ya, Yuko."

"Enggak apa-apa kok! Kalau begitu, semangat latihannya! Sampai jumpa besok~!"

Sambil melihat punggungnya yang menjauh dengan rok yang melambai-lambai indah, aku mengacak-acak rambutku dengan kasar.

Sial, apa yang sebenarnya kulakukan?

Rambut panjang yang halus dan indah, tangan dan kaki yang ramping nan lembut, dada yang besar, serta kebaikan hangat yang dia sebarkan tanpa syarat.

Gadis seperti itu, sudah pasti akan disukai oleh siapa pun, pikirku.

Dia benar-benar kebalikan dariku.

Nah, sekarang..., aku menepuk tas enamelku dan mengalihkan pikiranku sepenuhnya ke urusan klub.

Karena jika tidak, aku bisa-bisa menyadari kenyataan bahwa sebenarnya aku sedikit menantikan hari esok, dan justru itulah alasan kenapa aku merasa bersalah sekarang.




Jarak Antara Senior dan Junior

(Bonus Gamers Volume 4 / Asuka x Haru)

Suatu Minggu siang.

Aku, Nishino Asuka, datang ke restoran Europe-ken untuk makan siang yang sedikit terlambat bersama keluarga.

Saat turun dari mobil Ayah, terdengar suara riuh dari lapangan di sebelah restoran.

Aku menoleh ke sana karena mengira ada pertandingan bisbol amatir, dan seketika itu juga, jantungku berdegup kencang.

Eh, bohong, kan? Kenapa?

Kak Saku... sedang bermain bisbol.

Dia bersama teman-teman sekelasnya.

"Apakah itu... Chitose-kun?"

Mungkin karena merasa aneh melihatku tak kunjung masuk ke restoran, Ayah mendekat dari belakang dan bertanya.

"Maaf, aku tidak mau makan siang. Kalau sudah selesai, kalian pulang duluan saja tidak apa-apa."

"Ya ampun, apa kamu tidak bisa menunggu sebentar saja? Kalau begitu, mumpung di sini, aku juga ingin menyapanya."

"Tidak, tidak usah. Jangan ke sana sama sekali."

"...... Begitu ya."

Sosok Ayah yang bahunya merosot dengan berlebihan itu terlihat sedikit lucu, tapi aku sama sekali tidak punya waktu untuk memedulikannya.

Perasaan pertama yang muncul adalah debaran yang membuatku ingin berlari menghampirinya. Namun, perasaan berikutnya yang menyerang adalah kesepian yang membuatku ingin melarikan diri dari sini.

Aku tahu dia bukannya sengaja merahasiakannya dariku.

Dia pasti berencana mengundangku ke sebuah pertandingan setelah persiapannya matang, lalu menunjukkan wajah kerennya yang biasanya.

Namun, kenyataan itu justru membuat dadaku terasa sangat sesak.

——Ternyata, yang bisa menyalakan api di hatimu bukanlah aku, ya.

Bahkan, sampai kapan pun aku tetaplah seorang senior. Aku baru saja melewatkan kesempatan untuk memberikan bantuan kecil, tidak seperti gadis-gadis yang ada di sana sekarang.

Jika aku melompat ke dalam lingkaran itu, apakah kamu akan terkejut? Apakah kamu akan menggaruk pipi dengan senyum yang sedikit bingung, atau justru tersipu malu dengan jujur?

Melakukan hal itu mungkin hanya akan membuatku depresi karena dipaksa menyadari jarak satu tahun usia di antara kita.

Tak peduli seberapa keras aku berjuang, aku tetap tidak akan pernah bisa menjadi teman sekelasmu.

Siapa yang berhasil melempar bola straight tepat ke tengah hatimu?

Apakah Hiiragi-san? Uchida-san? Nanase-san? Atau....

Ah, setiap gadis punya kemungkinan yang terlalu besar sampai-sampai aku merasa kesal sendiri.

——Meski begitu, aku melangkah maju.

Karena aku sudah memutuskan untuk menghadapi sembilan bulan yang tersisa dengan seluruh keberadaan seorang Nishino Asuka.

◆◇◆

Setelah menyaksikan latihan mereka sampai hari gelap, aku keluar dari lapangan bersamaan dengan teman-teman sekelasnya yang mulai bubar.

Tepat saat aku ingin berjalan pulang dengan santai sambil meresapi sisa kehangatan yang menyenangkan sekaligus rasa sepi yang kian bertambah, langkah kaki yang ringan mendekat dari belakang.

"Senior Nishino."

Saat berbalik, gadis dengan kuncir kuda pendeklah yang memanggil namaku.

Sudah kuduga, gumamku dalam hati.

Aumi-san mengusap keringat di dahinya dengan kasar menggunakan ujung bajunya.

"Tentang apa yang Senior katakan waktu itu...."

Mendengar itu, aku memasang senyum sedingin mungkin.

"Apakah jawabannya ada di dalam dirimu sendiri?"

"Sepertinya begitu. Hanya saja, aku merasa harus menyampaikan hal ini kepada Senior."

Hal-hal seperti inilah yang menyebalkan, aku rasanya ingin mengembuskan napas panjang.

Kata-kata yang lugas, perasaan yang jujur, dan senyum lebar yang panas serta menyilaukan yang kini diarahkan padaku.

Benar-benar tipe yang sulit kuhadapi.

Aku sempat berpikir untuk membalas kata-katanya, tapi jika aku membuka mulut sekarang, aku merasa akan sedikit membenci diriku sendiri, jadi aku hanya diam sambil menyipitkan mata.

Setelah menundukkan kepala sebagai salam pamit, Aumi-san berlari kembali menuju lapangan tempat kamu berada.

Matahari yang menerangi bulan—kenyataan yang tersusun rapi layaknya dongeng itu membuatku merasa kesal.

Namun, aku punya ceritaku sendiri.

Sambil menatap langit malam yang berwarna biru tua, aku meremas rokku erat-erat.

Seandainya ini adalah sebuah drama masa muda.

——Aku ingin menjadi orang yang menuliskan halaman terakhirnya.


1 on 1 Milik Kita

(Bonus Animate Volume 4 / Yuzuki)

"Jangan..."

Aku, Nanase Yuzuki, melakukan steal pada bola milik Umi yang sedang diperebutkan dengan Todo Mai, lalu berkata sambil berpapasan dengannya.

"...meremehkanku."

Aku melepaskan tembakan three-point dengan seluruh konsentrasi yang telah kupertajam hingga batas maksimal.

Sesaat setelah bola terlepas dari ujung jari, aku yakin bola itu akan masuk.

Benar saja, bola itu mengikuti jalur yang kubayangkan di dalam kepala dan melewati jaring dengan tenang.

Sejak menerima usul Umi, aku terus mendedikasikan diri di balik layar. Namun, biar begini, aku juga seorang atlet yang terbiasa bermandikan keringat.

Sejujurnya, aku sudah hampir meledak sejak tadi.

Aku merasa sangat marah pada rekan setim yang tidak tegas, pada situasi di mana partnerku harus memikul peran yang menyebalkan, dan pada Todo Mai yang meremehkan Umi seolah dia tidak setanding.

Terlebih lagi, aku marah pada sikap mereka yang sama sekali tidak melirik ke arah sini, dan fakta bahwa kesempatan untuk membangkitkan pria yang kucintai justru direbut oleh rivalku.

Namun yang paling membuatku muak adalah sosok wanita payah bernama Nanase Yuzuki yang membiarkan situasi ini terjadi.

"Begitu ya, ternyata kamu juga ada di sini. Siapa namamu?"

Todo Mai mengangkat sudut bibirnya seolah baru menyadari keberadaanku sekarang.

Meskipun aku merespons dengan dingin, dalam sekejap, bayangan pertandingan kemarin melintas di benakku.

Benar-benar, semuanya sama saja, aku mengembuskan napas pendek.

Aku ini bukan penonton yang duduk di pinggir panggung, tahu.

Chitose, sejak kemarin kamu terlalu banyak melihat Umi.

Umi, kamu terlalu berlebihan masuk ke mode gadis jatuh cinta.

Todo Mai, aku akan menghancurkanmu.

Aku menatap papan skor dengan tajam, lalu beralih menatap partnerku dan catwalk di sana.

——Aku telah menyalakan api merah di hatiku.

Aku punya caraku sendiri.

Aku tidak akan bersikap sok pahlawan yang jujur dan berdarah panas.

Tapi, jangan lupa bahwa di sini juga ada wanita yang sedang bertarung.

Jika tidak, aku akan melahap kalian semua sampai ke tulang-tulangnya.

◆◇◆

Pada akhirnya, kemenangan yang sudah hampir kami raih justru lepas dari jari kami di detik-detik terakhir.

Yah, sudahlah. Masa depan tim sudah terlihat jelas.

Mungkin ungkapan "kalah dalam pertandingan tapi menang dalam pertarungan" digunakan untuk situasi seperti ini.

Setelah bersenang-senang sebentar dengan yang lain, Umi mendekat ke arahku.

"Ini mungkin tidak terlalu megah untuk sebuah pistol tanda start."

Dia menunjukkan telapak tangannya ke arahku.

"Tapi, bolehkah aku menganggap pertandingan kita telah dimulai?"

Pachin. Aku menepukkan tanganku ke tangannya.

"Kamu bicara begitu setelah melakukan false start, ya?"

Padahal kamu sudah curi-curi kesempatan mengajak Chitose pulang bareng.

Melihat Umi yang cengengesan, aku bergumam dalam hati.

Terlepas dari urusan klub atau basket, setelah Senior Nishino, kini muncul lagi satu rival yang sangat merepotkan, dan aku justru baru saja memberinya bantuan.

Aku ini memang tipe yang tidak pernah kapok.

Meski begitu, permainan Umi di akhir pertandingan tadi benar-benar luar biasa sampai membuatku kagum.

Aku sangat mengerti kenapa Todo Mai—dan juga pria itu—sampai terpesona melihatnya.

——Ternyata, hanya ada satu Matahari (Rival) yang benar-benar aku akui.

Kekuatanmu bukanlah refleks atau kecepatan yang luar biasa.

Kekuatanmu adalah gairah membara yang mampu menerangi hati semua orang.

Aku tidak ingin kalah darimu.

Meskipun kamu adalah orang yang mengajariku keindahan dari berjuang mati-matian.

Meskipun kamu adalah orang yang menolong pria yang telah menolongku.

Tidak, justru karena itulah.

Layaknya seorang atlet, aku ingin bertarung secara adil dan menang telak darimu.

Karena itu, sekarang aku akan tersenyum menantang dan berkata:

"Mari bermain adil, aku sudah mencium Chitose, lho."

Nah, majulah dari mana pun kamu mau.








Bulan Sebelum Larut Malam dan Matahari Sebelum Fajar

Aku menghirup napas perlahan, dan rasa nyeri yang menusuk di pangkal hidung memberitahuku bahwa musim dingin sudah dekat.

Tanpa sadar aku sedikit mengernyit dan menundukkan pandangan. Aku berpikir dengan cukup dingin, kuharap ekspresi ini terlihat seperti kesedihan atau penderitaan—pokoknya sesuatu yang pas untuk membuat laki-laki di depanku ini merasa ragu—saat aku membuka mulut.

"Maaf, aku tidak bisa berpacaran denganmu."

Aku mengatakannya dengan tenang, namun tegas.

"Yuzuki, sekarang kamu tidak punya pacar, kan? Apa memang aku tidak cukup baik?"

Mau cukup baik atau tidak juga bukan itu masalahnya, pikirku.

Dia adalah pemain inti kelas satu klub bola voli putra yang bertubuh tinggi seperti Kaito dan memiliki wajah yang cukup tampan.

Aku pernah melihatnya saat kegiatan klub, dan namanya terkadang muncul dalam obrolan anak-anak klub basket putri sebagai "cowok keren", jadi aku memang mengenalnya.

Tapi, jangankan bertukar pesan LINE, kami bahkan seharusnya belum pernah bicara secara pribadi sebelumnya.

Lagi pula, sejak kapan dia mulai memanggil nama depanku begitu saja?

Biasanya kalau mau memulai percintaan, bukankah estetika yang benar adalah mencoba menelepon sekali saja di malam hari sepulang sekolah dengan berpura-pura tenang padahal hati sangat gugup?

Meski memprotes dalam hati, kepalaku tetap tenang mengamati situasi secara objektif.

Aku sudah terbiasa dengan hal-hal seperti ini.

Aku sedikit penasaran kemungkinan apa yang dia lihat sebelum dia merasa "cukup baik", tapi aku tidak ingin menjadi begitu jahat sampai menanyakannya.

Lagipula, jika dia menjawab, "Kupikir dengan tampangku ini aku punya peluang," aku akan merasa sedikit terluka karena dianggap sebagai wanita yang dangkal.

Aku menunjukkan senyum malu-malu yang tampak agak ragu dan canggung.

"Yah, aku memang tidak punya pacar, sih... tapi, sepertinya aku sudah punya 'partner' yang sangat kucintai?"

Laki-laki itu berseru, "Begitu yaaaa!", lalu mengacak-acak rambutnya sebelum menengadah ke langit.

"Boleh aku tanya siapa?"

"Maaf, aku harus segera kembali latihan. Lagipula, lihat, tatapan dari luar sana sudah mulai berisik."

Ini adalah depan gedung klub di samping Aula Olahraga Kedua.

Sejujurnya, meskipun hari ini adalah hari latihan mandiri karena ada rapat guru, memanggil seseorang di tengah kegiatan klub untuk menyatakan cinta itu rasanya kurang etis bagi sesama atlet. Dan lagi, para senior klub basket putri, untuk apa kalian mengintip dari pintu Aula Olahraga Pertama di sebelah sana?

Yah, aku sudah menduga hal ini sejak kalian dengan semangat mendorong punggungku saat aku hendak menolak dengan alasan "masih latihan, nanti saja".

"Benar juga, maaf, maaf. Kalau begitu, kalau kamu berubah pikiran, katakan saja kapan pun. Kalau saat itu aku belum punya pacar—atau bahkan kalau sudah punya pun, aku akan langsung memutuskannya demi kamu!"

Dengan kalimat yang jujur sampai terasa menyegarkan itu, dia sedikit menaikkan kesan baiknya di detik terakhir sebelum berlari pergi.

Aku mengembuskan napas panjang, lalu melangkah menuju Aula Olahraga Pertama. Seketika itu juga, beberapa kepala yang mengintip langsung menghilang dengan cepat.

Benar-benar deh, mentang-mentang tidak ada Ibu Guru Misaki.

Aku menggosokkan alas sepatu basketku pada kain pel di depan pintu sebelum masuk ke dalam.

Di aula olahraga tempat banyak klub olahraga baru saja menyelesaikan turnamen pemula, atmosfernya terasa agak santai dan kendur. Namun, suara cit, cit yang tajam membelah udara saat seorang gadis dengan kuncir kuda kecil melompat lincah.

Astaga, dia bergerak sangat aktif padahal itu cuma latihan dasar yang membosankan.

Sepertinya dia sama sekali tidak tertarik dengan urusan cinta orang lain, ya.

Bagus, itulah partner yang kucintai.

Aku tidak berbohong... jadi segini saja boleh, kan?

Aku tidak boleh kalah. Aku menyemangati diri sendiri sambil mengencangkan kembali tali sepatu basketku.

"Bola laki-laki" kesayangan kami ada di sini.

Musim gugur kelas satu SMA.

──Aku, Nanase Yuzuki, masih belum mengenal cinta.

◆◇◆

Setelah berkeringat selama sekitar satu jam, latihan mandiri pun berakhir.

Karena jadwal khusus sekolah hari ini hanya sampai jam pelajaran kelima, waktu baru saja menunjukkan lewat pukul setengah empat sore.

Setelah membereskan bola dan pengatur waktu serta selesai mengepel, kami anak kelas satu masuk ke ruang klub. Di sana, para senior kelas dua yang sudah selesai berganti pakaian sedang asyik mengobrol.

Akhirnya, aku mulai terbiasa dengan ruang tanpa kakak kelas tiga ini.

Padahal mereka seharusnya sudah membersihkan tempat ini sebagai tanda perpisahan saat pensiun, tapi setelah beberapa bulan, sekarang tempat ini sudah agak chagachaga (berantakan). Sebenarnya aku merasa ini kurang pantas untuk klub yang isinya perempuan semua, tapi mungkin semua klub olahraga memang seperti ini.

Saat aku melepas kaos latihan dan mengusap tubuhku yang sedikit berkeringat, seseorang tiba-tiba menempel di punggungku.

Embusan napas tipis menggelitik telinga kiriku.

"Hyaa!"

Aku buru-buru melompat menjauh, dan kulihat Kei-san, sang kapten, sedang menatapku sambil menyeringai.

"Apa-apaan sih, Kak."

Aku bicara sambil menutupi braku seadanya menggunakan handuk olahraga di tangan.

Sesama perempuan, aku memang tidak se-polos itu sampai merasa malu dilihat sekarang, tapi aku tetap ingin menjaga kesopanan untuk tidak berkeliaran di ruang klub hanya dengan pakaian dalam.

"Apa-apaan apanya? Kamu kan sudah tahu~"

Kei-san melangkah maju lagi, memasang ekspresi penuh arti sambil menyentuh pinggangku dengan ujung jarinya.

"Tunggu, hentikan, Kak."

Karena terasa sangat geli, aku menggeliat. Melihat reaksiku, dia tampak puas dan mengangkat sudut bibirnya.

Dengan tinggi badan di atas 170 cm dan sudah dipercaya menjadi Power Forward sejak kelas satu, aku sangat menghormati Kei-san sebagai pemain.

Dia bukan tipe pemain yang sangat jago basket, tapi dengan ketekunan yang tidak pernah menyerah sampai akhir, aku sudah tidak tahu berapa kali tembakan three-point-ku yang meleset berhasil dia masukkan kembali ke dalam ring.

Meskipun dia sangat tegas selama pertandingan atau latihan, dia tidak kaku dalam memaksakan disiplin atau hierarki senioritas, sehingga dia dicintai oleh semua anggota klub.

Tidak heran jika dia terpilih secara aklamasi sebagai kapten berikutnya saat anak kelas tiga pensiun.

Hanya saja, menurutku dia terlalu menyukai topik pembicaraan semacam ini.

Aah, padahal kalau diam dia terlihat seperti wanita cantik yang gagah, tapi apa-apaan wajah konyol itu?

Kei-san memberikan jeda sejenak untuk membangun suasana sebelum bertanya.

"Cowok tadi bilang apa saja?"

Dia pasti sudah tahu kalau tadi itu adalah pernyataan cinta, jadi dia ingin tahu isinya secara mendetail.

Menurutku itu agak tidak sopan, tapi aku sudah belajar bahwa dalam situasi seperti ini, berpura-pura tidak tahu pun tidak akan mempan.

"Hmm, dia bilang dia suka celah antara penampilanku di sekolah dan saat latihan, atau dia tertarik karena meskipun aku cantik tapi aku tidak sombong atau jaim, ya semacam itulah."

Karena itu, aku terbiasa menceritakan garis besar kejadiannya tanpa merusak kesan atau posisi laki-laki yang menyatakan cintanya.

"Waa, masa muda banget! Tapi, meskipun dia bilang begitu, bagian 'cantik'-nya harusnya kamu hapus dong!"

"Aku merasa merendah secara berlebihan untuk sebuah fakta itu malah terdengar menyebalkan."

Saat aku tersenyum bercanda, Kei-san memegangi kepalanya dengan berlebihan.

"Aku ingin memperdengarkan ini pada cowok segar tadi!"

Mendengar teriakan itu, rekan tim lain yang sejak tadi diam mendengarkan langsung tertawa terbahak-bahak.

Kei-san melanjutkan.

"Lagi pula ya. Rasanya jarang ada gadis yang lebih jaim atau sombong daripada Yuzuki."

Ya, soal itu aku cukup sadar dan setuju.

"Padahal ini klub olahraga sepulang latihan, tapi kok baunya wangi banget. Terus bra-nya, padahal masih kelas satu tapi pakainya yang seksi begini."

"Kei-san, kalau Kakak menyentuhnya, aku akan menjatuhkan dan menguliti Kakak tanpa ampun, lho?"

Aku melirik tangannya yang terulur ke arah dadaku sambil tersenyum manis.

"Senyummu menyeramkan! Astaga, cowok-cowok yang mendekati Nana satu per satu itu apa mereka tahu bagian seperti ini juga, bukan cuma luarnya saja?"

"Menurutku tidak mungkin karena aku tidak memperlihatkannya. Di depan anak-anak perempuan di kelas pun aku selalu 'jual mahal', ini adalah mode khusus sesama teman."

Lebih tepatnya, ini adalah mode di mana Nanase Yuzuki, yang terpilih menjadi pemain inti sejak kelas satu dengan tampang seperti ini, tidak dijauhi oleh senior atau teman sebayanya.

Aku sama sekali tidak berniat mengatakan hal dongeng seperti "diriku yang sebenarnya ada di tempat lain". Aku sudah berada di dunia atlet sejak SD, jadi aku merasa cocok-cocok saja dengan atmosfer seperti ini.

Hanya saja, jika ditanya apakah ada niat terselubung atau tidak, aku mungkin akan kesulitan menjawabnya.

"Hmm?"

Kei-san menatapku seolah sedang memastikan kenyamanan sepatu basket baru.

Merasa sedikit tidak nyaman, aku bicara untuk mengalihkan suasana.

"Ngomong-ngomong, bolehkah aku memakai baju sekarang?"

"Tidak boleh!"

"Maaf, seseorang tolong usir orang mencurigakan ini."

Mengabaikan Kei-san yang memanyunkan bibirnya tidak puas, aku melepas celana pendek latihan yang longgar dan mengambil tisu basah dari tas enamel. Aku menyeka tubuhku dengan saksama, menggunakan semprotan deodoran tanpa aroma, dan menyemprotkan parfum favoritku satu kali di pinggang.

Aku sempat ragu sejenak, tapi akhirnya aku langsung memakai kemeja di atas bra karena toh aku akan memakai kardigan juga.

"Nana."

Kei-san yang duduk di bangku sambil menopang dagu dengan tangan di atas kakinya yang jenjang, menatapku dari bawah.

"Memangnya kamu sama sekali tidak berpikir ingin punya pacar?"

Aku menjawab sambil mengancingkan kemeja.

"Tidak, aku sedang menunggu pangeran berkuda putih, kok."

"Wah, cara menghindarnya khas Nana sekali. Lalu, pangeran seperti apa yang kamu inginkan?"

Sepertinya interogasi Kei-san masih akan berlanjut.

Hanya karena aku punya pengalaman buruk saat SMP, bukan berarti aku menderita fobia laki-laki.

Sama seperti ada kue stroberi yang enak dan yang tidak enak, jika ada laki-laki brengsek seperti itu, aku yakin laki-laki terbaik pasti ada di suatu tempat.

Sayangnya, sampai sekarang aku belum pernah bertemu dengan orang yang bisa mencuri seluruh hatiku.

Jadi, jujur saja aku tidak tahu tipe ideal seperti apa yang kusukai.

Tentu saja, lebih baik jika wajahnya tampan. Aku ingin dia lebih tinggi dariku, dan lebih baik atletis daripada lembek.

Tapi bukankah kebanyakan gadis juga menginginkan hal yang sama?

Lagi pula, kalau kriterianya cuma itu, timbul pertanyaan kenapa aku menolak laki-laki tadi.

Meskipun terdengar sombong, orang-orang yang menyatakan cinta padaku secara terang-terangan biasanya sudah memenuhi syarat-syarat dasar tersebut.

Begitulah, kalau boleh jujur....

"Ah, mustahil bagi Kak Kei."

Sebuah suara yang lugas dan sedikit lancang memotong pemikiranku.

"Yuzuki itu tipe yang kalau menginginkan sesuatu, dia sudah memilikinya dari awal, atau dia akan pergi merebutnya sendiri. Jangan harap ada sisi kewanitaan yang ingin bergantung atau dilindungi laki-laki."

Orang yang tertawa sambil melambaikan tangan di depan wajahnya itu, sudah pasti adalah Haru.

"Hmm? Apa maksudmu?"

Sebenarnya ucapannya tidak salah—malah cukup tepat sasaran—tapi secara refleks aku membalasnya seperti itu.

"Cinta itu kan soal tertarik pada orang yang punya sesuatu yang tidak kita miliki? Apalagi dengan kepribadian Yuzuki, tidak cukup kalau orang itu cuma punya apa yang tidak dia punya. Kamu pasti mengkhayal tentang seseorang yang punya semua yang kamu miliki, dan di atas itu, dia juga punya sesuatu yang tidak kamu miliki, kan?"

Hal seperti itu... mungkin ada benarnya, sedikit.

Justru karena aku percaya diri dengan kemampuanku, jika benar-benar ada orang seperti itu, aku mungkin akan merasa terpikat.

Yah, sejujurnya, bukan berarti tidak ada laki-laki yang sedikit menarik perhatianku sejak masuk SMA.

Tapi itu karena dia adalah orang pertama yang membuatku merasa "mungkin kami mirip".

Rasanya lebih dekat dengan perasaan menemukan seseorang yang bisa memahamiku, justru karena itulah aku bisa memastikan kalau itu tidak akan pernah berkembang menjadi perasaan cinta.

Rasanya kesal harus setuju dengan kata-katanya, tapi jika dua orang seperti Nanase Yuzuki bersandingan, yang tercipta hanyalah ketenangan yang terlalu teratur tanpa ada satu riak pun yang muncul.

"Misalnya ya," Haru melanjutkan karena merasa di atas angin.

"Laki-laki yang sama sekali tidak peduli menjaga bentuk tubuh, tidak peduli gaya rambut atau baju. Tapi, dia punya hati yang paling lurus dan kebaikan tanpa niat terselubung daripada siapa pun. Apakah kamu akan jatuh cinta pada laki-laki seperti itu?"

"Ukh, kalau itu... eh, tunggu sebentar. Apa-apaan? Apa ini maksudnya aku tidak punya hati yang lurus dan kebaikan tanpa niat terselubung?"

"Syukurlah, setidaknya kamu masih punya sedikit kesadaran diri."

"Oke, ayo kita kembali ke aula sekarang juga, Umi Haru."

Interaksi yang entah sejak kapan menjadi rutinitas itu membuat suasana ruang klub menjadi ramai.

Setelah Haru ikut tertawa sejenak, dia meletakkan tangannya di bahuku.

"Lagi pula, kamu..."

"Kamu tidak akan suka pada laki-laki yang menyukai dirimu, kan?"

Astaga, aku hanya bisa mengangkat bahu.

Padahal belum ada satu tahun sejak kami mengakui satu sama lain sebagai partner sekaligus rival, tapi kami sudah saling memahami sampai ke tingkat yang menyebalkan.

Apa yang Haru katakan itu benar.

Aku pasti tidak akan bisa menyukai laki-laki yang bertekuk lutut begitu saja padaku.

Kupikir aku terus mencari "bulan yang jauh" yang berada di tempat yang jauh lebih tinggi, yang membuat Nanase Yuzuki ingin menjulurkan tangannya dengan sungguh-sungguh.

...Yah, terlepas dari itu, aku tidak akan membiarkan pembicaraan ini berakhir begitu saja dengan perasaan enak baginya.

Aku mengangkat sudut bibirku dengan nakal.

"Bicara soal laki-laki di depan anak kecil yang masuk SMA tapi cuma punya bra olahraga... rasanya kurang pas, ya?"

"Haaa? Hoo? Kamu baru saja mengatakan hal yang tidak boleh dikatakan ya. Hari ini akan kubuat semuanya jelas, ayo tanding 1 on 1, Nana!!"

Tentu saja, bra itu bukan jenis yang dibelikan ibu untuk anak SD, tapi merek olahraga terkenal.

Aku juga punya beberapa, tapi kalau cuma punya itu saja, rasanya tidak pantas sebagai siswi SMA.

"Boleh saja. Kalau aku menang, aku akan menyeretmu paksa ke toko pakaian dalam dan mengajarimu dasar-dasar memilih pakaian dalam dari nol, Umi."

"...Kebalik."

Haru bergumam pelan sambil memalingkan wajah.

"Kalau aku menang... ajari aku."

"Tiba-tiba jadi imut begini, sih."

Pada saat itu, Kei-san yang sejak tadi diam menonton seolah tidak tahan lagi dan tertawa terbahak-bahak.

"Luar biasa, kalian memang kombinasi yang hebat."

Sambil memegangi perutnya, dia berdiri.

"Nana itu cerdas. Dia bisa melihat niat terselubung atau kerendahan hati orang lain. Karena itulah dia selalu menarik diri dan menghadapinya dengan tenang. Sama persis dengan gaya bermain basketnya."

Tapi ya, dia melanjutkan.

"Pasti suatu saat nanti, meskipun kamu menjadi penuh niat terselubung atau menjadi rendah, tetap akan muncul laki-laki yang ingin kamu taklukkan."

Kei-san tersenyum dengan ekspresi yang terlihat dewasa.

"Yah, ini cuma instingku, sih."

Aku tidak tahu apakah yang dia maksud adalah laki-laki dalam arti harfiah, atau laki-laki sebagai "goal".

Tapi entah kenapa, aku merasa suatu hari nanti aku akan mengingat kembali kata-katanya.

"Jadilah wanita yang lebih hebat lagi, Nana, Umi. Agar tahun depan kami bisa menyerahkan tim ini pada kalian dengan tenang."

Seolah ingin mengakhiri pembicaraan, Kei-san memutar tubuhnya dan berjalan menuju pintu. Namun, dua tangan langsung mencengkeram tengkuk lehernya dengan kuat.

Aku berkata dengan senyum lebar.

"Kakak pikir setelah membuat keributan begini, Kakak boleh pergi begitu saja dengan gaya keren?"

Haru membuka mulutnya dengan menantang.

"Lagi pula, tim baru ini belum mencapai apa pun, untuk apa memikirkan soal pensiun sekarang. Tahun depan kita akan menghancurkan Ashikou dengan tim ini dan berdiri di puncak, kan? Pertama-tama, jadilah wasit 1 on 1. Ada hal yang ingin kucoba, dan setelah selesai, Kakak jadi lawan latihan. Aku ingin menambah pola kombinasi dengan Nana, jadi mohon bantuannya."

Wah, ternyata latihannya jauh lebih berat dari dugaanku, tapi ya sudahlah.

Kei-san mengeluarkan suara memelas sambil meronta-ronta.

"Wasit?! Lawan latihan?! Aku ini senior dan kapten, lho! Lagipula aku sudah ganti baju!!"

"Kuliti dia, Umi."

"Siap, Nana."

"Hei, jangan melepas bajuku seperti sedang bilang 'lepaskan'! A-aku ada janji kencan setelah ini—"

""Tidak mungkin ada.""

Kalau boleh jujur, pikirku.

Jika suatu hari nanti di masa depan yang jauh, hari di mana aku benar-benar jatuh cinta itu tiba──.

Kuharap pangeran itu sama sekali tidak mirip dengan Nanase Yuzuki. Dia sangat berdarah panas, kikuk, berjuang mati-matian, dan lurus... seperti partner kecilku ini. Hanya berandai-andai saja, sih.

◆◇◆

Tambahan satu jam lagi.

Kei-san, Nana, dan aku, Aumi Haru, benar-benar bertarung sengit bertiga sebelum akhirnya latihan selesai.

Anak kelas satu dan senior lainnya sepertinya sudah pulang duluan karena tidak sanggup meladeni kami.

Setelah berganti pakaian dengan cepat, Kei-san dan aku keluar dari ruang klub lebih dulu.

"Kei-san, mau tunggu Yuzuki lalu makan bareng?"

"Tidak mau, aku menolak! Kalau aku bersama kalian, ujung-ujungnya kita pasti bakal berakhir tanding di Taman Higashi untuk menentukan siapa yang benar!"

"...Aku tidak bisa menjamin itu tidak akan terjadi, sih."

Saat aku menjawab dengan wajah serius, aku merasa mendengar suara "pshuu" seperti jiwa yang keluar dari tubuhnya.

Lalu Kei-san tersenyum dengan wajah tanpa beban.

"Kalian memang hebat ya, Umi dan Nana."

"Begitukah?"

"Aku tidak pernah punya partner yang bisa kupanggil begitu, jadi jujur saja aku iri. Tentu saja teman-temanku sekarang luar biasa, tapi ini rasanya sedikit berbeda, kamu mengerti kan?"

Yah, kurasa aku mengerti.

Itu adalah perasaan yang baru pertama kali aku rasakan sejak berada di tim yang sama dengan Nana.

Saat aku mengangguk diam, Kei-san melanjutkan dengan suara yang lembut.

"Tetaplah seperti itu. Mungkin di masa depan, akan datang saat di mana kalian harus bertarung sungguhan demi sesuatu yang tidak bisa kalian serahkan satu sama lain. Tapi, tidak perlu berpikir macam-macam. Tetaplah menjadi Umi dan Nana seperti hari ini, dan bertarunglah sampai kalian berdua puas."

"Sesuatu yang tidak bisa diserahkan..."

Asal tahu saja, aku ini orang yang tidak mau kalah. Soal basket tentu saja, dan soal apa pun aku tidak berniat menyerah pada Nana.

Tapi jika hal itu adalah sesuatu yang bagi gadis itu adalah satu-satunya bulan miliknya....

Ah, percuma saja memikirkan hal itu sekarang.

Tadi aku hampir saja melamunkan hal puitis seperti apakah saatnya bulan dan matahari akan bertumpang tindih.

"Yah, itu cuma instingku saja, sih."

Kei-san berkata dengan nada jahil, lalu pergi sambil melambaikan tangan sebagai salam pamit.

Aku juga sudah tidak peduli dengan hal-hal sulit, dan langsung duduk di tangga pendek di depan aula olahraga.

Langit entah sejak kapan sudah berubah warna menjadi ungu kemerahan di bagian bawahnya.

Belakangan ini biasanya saat keluar setelah klub berakhir hari sudah gelap gulita, jadi rasanya agak segar.

Hasil 1 on 1?

Tentu saja Aumi Haru-chan yang menang telak.

Karena ini adalah pintu masuk untuk menyelesaikan masalah bra olahraga yang belakangan ini cukup mengganggu pikiran kewanitaanku, aku bermain dengan sangat tajam seperti di liga final pertandingan resmi.

Yah, aku tahu alasannya terdengar memalukan bagi diriku sendiri.

Tapi hal-hal seperti itu kan butuh alasan atau alasan pembenar, atau semacam jalan keluar untuk menjelaskan kalau orang lain menyadarinya agar tidak malu?

Di klub olahraga perempuan, masalah pakaian dalam itu kan biasanya sudah saling tahu satu sama lain, dan citraku sudah terlanjur melekat dengan bra olahraga itu. Jadi kalau tiba-tiba diganti, pasti bakal ditanya "Kenapa?".

Mungkin Yuzuki yang sangat memahamiku sengaja memberikan usulan itu karena dia menyadari konflik masa remajaku yang datang jauh lebih lambat daripada orang lain.

...Tidak, tidak mungkin.

Tadi itu benar-benar selisih tipis. Dasar itu orang, dia memasukkan banyak tembakan three-point yang mengerikan. Kalau tadi aku kalah, aku pasti akan menyesal setengah mati sampai di rumah karena tidak menerima tawaran pertamanya dengan jujur!

Benar, apa pun yang terjadi nanti, aku tidak akan menyerah.

"Maaf membuatmu menunggu."

Selagi aku berpikir begitu, Yuzuki keluar dari ruang klub.

Kupikir perbedaan waktu ini mungkin yang disebut dengan "kekuatan wanita". Begitu memikirkannya, aku tiba-tiba merasa sedih pada diriku sendiri yang tadi begitu emosional soal menang kalah.

"Haru, mau makan sesuatu sebelum pulang?"

Tepat saat kami mulai berjalan berdampingan.

"Eh?"

Yuzuki menunjuk ke arah Gerbang Timur di depan kami.

Di sana ada Kaito dan... Chitose.

Refleks aku ingin berbalik jalan, tapi sepertinya mereka juga menyadari kami. Kaito melambaikan tangannya dengan semangat.

"Haru! Yuzuki!"

...Astaga, tidak perlu berteriak sekeras itu juga terdengar, tahu.

Setelah bertukar pandang dengan Yuzuki, kami menghampiri mereka. Kaito melanjutkan.

"Lelah ya? Klub basket baru selesai? Bukannya hari ini latihan mandiri?"

Aku menjawab dengan senyum samar untuk menutupi perasaanku yang tidak tenang.

"Yah, latihan mandiri tim sudah selesai sejam yang lalu, sih..."

"Ah, hal yang biasa itu ya."

Karena klub basket putra sering latihan di aula yang sama di waktu yang sama, fakta bahwa aku dan Yuzuki sering bertanding itu sudah rahasia umum.

"Kaito, apa maksudmu dengan hal yang biasa?"

Chitose yang mendengarkan di samping bereaksi.

"Ah, Haru dan Yuzuki itu sering sekali bentrok dan tanding 1 on 1 setelah latihan."

Chitose memasang senyum yang entah kenapa terasa menyebalkan.

"Heh? Kalau Haru sih aku tidak heran, tapi kalau Nanase itu mengejutkan."

Pertandingan di bulan Juli hari itu.

Sebagai sesama atlet yang hatinya benar-benar tersulut, aku mencari kesempatan untuk terus mengajaknya bicara karena ingin memahaminya lebih dalam. Tanpa sadar, laki-laki ini mulai memanggilku "Haru".

Jujur saja, saat itu aku merasa sedikit senang.

Yah, semacam perasaan penggemar yang mendapatkan tanda tangan dengan namanya tertulis dari pemain yang dihormatinya, mungkin?

Lalu ketika liburan musim panas berakhir, dia sudah bukan seorang atlet lagi.

"Hoho? Apa maksud perkataanmu itu?"

Selagi aku berpikir macam-macam, Yuzuki merespons.

Aku sudah cukup terbiasa, tapi mode "jual mahal" miliknya ini tetap saja membuatku merinding.

"Maksudku, ternyata Nanase juga punya 'lawan' seperti itu."

"Tapi, orang yang ingin menjadi 'lawan' seperti itu jauh lebih banyak, lho."

──Apakah kamu... apakah kamu tidak punya lawan seperti itu?

"Mungkin saja. Apa kebebasan untuk mencalonkan diri terjamin?"

"Jika laki-laki itu tampan, aku akan mempertimbangkannya."

──Menyebalkan. Menyebalkan menyebalkan menyebalkan menyebalkan menyebalkan menyebalkan menyebalkan menyebalkan menyebalkan.

"Lalu, apa yang kamu dan Kaito lakukan?"

Percakapan antara Yuzuki dan Chitose berlanjut.

"Ah, Kaito bilang dia ingin pergi karaoke. Kazuki juga bilang akan menyelesaikan latihan mandirinya lebih awal, jadi kami sedang menunggunya. Kalau mau, Nanase dan Haru ikut juga?"

"Hmm, sesekali menikmati hal-hal berbau masa muda seperti itu juga..."

"──Aku tidak ikut."

Saat aku menyadarinya, mulutku sudah bergerak.

Dan lagi, suaraku terdengar cukup keras.

Habisnya, entah kenapa aku merasa sangat kesal.

Bukan karena dia mengabaikanku dan bicara seolah sangat memahami Yuzuki, atau karena aku menyadari Yuzuki tidak terlalu menganggap buruk Chitose, atau karena aku merasa Chitose yang menyadari hal itu menarik garis dengan sangat rapi... Mungkin, pasti, bukan itu semua.

──Kembalikan dirimu yang hari itu. Aku memikirkan hal yang sangat egois itu.

Aku tahu, aku mengerti, kalau bisa aku juga ingin mendengarkanmu.

Tentang apa yang terjadi.

Tapi tidak mungkin, kan?

Aku bukan rekan timmu, bukan partnermu, bukan teman yang bisa diajak bicara dari hati ke hati, dan tentu saja bukan kekasihmu.

Jika aku adalah salah satu dari mereka, apakah kamu akan menceritakan semuanya padaku? Apakah kamu akan mengeluh padaku? Apakah kamu akan menangis di depanku?

Apa-apaan karaoke itu, jangan bercanda.

Kalau kamu memegang mikrofon sebagai ganti pemukul bisbol, kamu benar-benar cuma jadi cowok menyebalkan yang suka cengengesan.

"Maaf, maaf."

Yuzuki menggantikanku bicara karena aku tidak bisa mengeluarkan kata-kata lagi.

"Ngomong-ngomong, hari ini aku dan Haru sudah janji mau pergi makan menu terbatas di Hachiban."

"Daripada kencan sepulang sekolah dengan cowok tampan begini, kalian lebih pilih ramen?"

Kalimat Chitose yang entah dia hanya menyesuaikan suasana atau memang cuma sekadar candaan ringan itu membuatku kesal lagi.

Dirimu yang sekarang ini sama sekali bukan laki-laki tampan.

"Anak muda, kembalilah setelah kamu menjadi laki-laki yang bisa bersaing dengan Hachiban."

"Maksudmu aku harus merebut jiwa warga Prefektur Fukui? Itu tantangan yang sulit."

Lalu Yuzuki menarik tanganku untuk berpamitan pada mereka berdua. Sebelum benar-benar pergi, aku melirik ke belakang sebentar.

Aku yang sekarang tidak bisa menjangkau perasaan yang tersembunyi di balik senyum tipis Chitose.

◆◇◆

"Maaf, Yuzuki."

Ucapku sambil menendang daun kering di jalan pulang dengan ujung kaki.

Kasa, kasa, pari, pari.

Daun momiji yang merah seperti matahari terinjak-injak oleh banyak orang.

"Tidak apa-apa, aku memang benar-benar sedang ingin makan Hachiban. Nih, makan ini supaya kamu tenang."

Sesuatu yang ditekan ke dadaku yang kecil adalah permen ramune.

Aku membuka tutup botolnya dan langsung menuangkannya banyak-banyak ke dalam mulut, lalu mengunyahnya dengan keras.

Yuzuki mengangkat bahu dengan ekspresi heran di sampingku.

Rasa manis yang terasa nostalgia itu akhirnya mendinginkan kepalaku.

"Yuzuki, kamu sebenarnya cukup menyukai Chitose, kan?"

"Yah, begitulah. Tapi kurasa tidak sedalam dirimu."

"Aku tidak..."

"Bicara seperti itu setelah kehilangan kendali di depan laki-laki itu sama sekali tidak meyakinkan."

"Laki-laki... itu Chitose, tahu."

"Dia kan laki-laki."

Begitukah? pikirku.

Laki-laki atau perempuan, aku tidak pernah memikirkannya.

Aku merasa dia sangat keren, dan aku benar-benar hampir jatuh cinta padanya.

Tapi itu hanya sebatas sebagai sesama atlet.

"Dia itu seperti Todo Mai dari Ashikou," ucapku.

"Seseorang yang ingin kukejar dan kuseberangi suatu hari nanti."

Kali ini Nana benar-benar mengembuskan napas panjang yang sangat berat.

"Kalau begitu, itu sih hampir sama saja dengan suka."

Hening sejenak, lalu kami berdua tertawa bersamaan.

Kalau dibilang begitu, mungkin benar juga.

Memang benar aku suka Todo Mai, aku suka Chitose Saku, dan juga....

"Terima kasih, Nana."

"Sama-sama, Umi."

Bagi anak kecil yang bahkan belum lulus dari bra olahraga, hal-hal sulit seperti itu aku belum paham.

Tapi jika suatu hari nanti, momen saat aku ingin mempersembahkan seluruh hati ini tiba──.

Kuharap orang itu sama sekali tidak mirip denganku.

Dia selalu menarik diri satu langkah untuk menjaga semua orang sambil terkadang mendorong punggung mereka, dan dia menanggung semua kesedihan, penderitaan, bahkan kelemahannya sendirian sambil tersenyum tenang... seperti partnerku yang gagah ini.

Hanya berandai-andai saja, sih.

Musim gugur kelas satu SMA.

──Aku, Aumi Haru, masih belum mengenal cinta.




Previous Chapter | ToC | End V5 SS

0

Post a Comment

close