NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Chitose-kun wa Ramune Bin no Naka (Chiramune) Volume 6.5 Chapter 2

Chapter 2

Pada Akhirnya, Bunga-Bunga Mekar dari Air Mata



Radio yang berputar di tengah malam yang sunyi itu bagaikan sebuah pesan SOS, yang dikirimkan melalui pesawat kertas dari lautan debu bintang.

Halo, aku di sini. Halo, apakah ada orang di luar sana?

Itu adalah sudut sunyi di antara hari ini dan esok. Terkadang, aku merasa begitu sendirian. Aku ingin menjangkau ke luar untuk memastikan bahwa orang lain masih ada di sana.

Aku ingin mendengar suara orang-orang yang melintas, yang sama-sama sedang terombang-ambing. Maka di saat-saat seperti itu, aku mendengarkan dengan saksama.

Aku menulis surat tanpa alamat pada selembar kertas catatan yang disobek. Penerima? Kamu. Alamat? Tidak diketahui. Cap pos? Belum ditentukan.

Di bagian bawah, aku menulis "Asuka", lalu melipatnya hati-hati dan menerbangkannya ke udara. Surat itu menabrak dinding dan langsung kembali padaku.

Perasaan-perasaan yang tak tersampaikan itu membentuk tumpukan, cukup banyak untuk memenuhi sebuah map dokumen. Apakah aku hanya merasa kesepian? Ataukah kaulah yang kurindukan?

Satu lagi malam di mana aku mencoba menemukan frekuensi yang tepat. Halo, aku di sini. Halo, apakah ada orang di luar sana?

Isi pensil mekanikku patah, dan aku mendongak dari buku teks. Bersandar pada kursi sambil meregangkan tubuh, aku mendengar suara gemeletuk dari sekitar bahuku.

Saat aku memeriksa jam dinding, aku melihat kedua jarumnya bertumpang tindih tepat di tengah. Aku pasti sudah berkonsentrasi lebih lama dari yang kukira.

Bagaimana kau menghabiskan musim panas di tahun ketiga SMA akan berdampak besar pada apakah kau lulus ujian masuk atau tidak. Setidaknya begitulah yang terus dikatakan para guru.

Entah itu benar atau tidak, aku akan merasa sangat buruk jika gagal ujian setelah sesumbar di depan ayahku. Jadi akhir-akhir ini, aku belajar sampai larut malam.

Pada akhirnya, satu-satunya kenangan yang kumiliki tentang liburan musim panas adalah waktu yang kuhabiskan bersamamu, temanku.

Kencan kita di Ichijodani. Perjalanan belajar musim panas. Mengunjungi rumah Nenek. Lalu, festival terakhir di musim panas.

"... Lagu berikutnya adalah..."

Radio retro bekas milikku yang bertengger di sudut meja menyemburkan derau statis yang kacau. Meski baru saja berfungsi dengan baik beberapa saat lalu, suaranya sering kali terdistorsi secara tiba-tiba.

Saat itu terjadi, aku dengan hati-hati memutar tombol dial dan menyesuaikan posisi antena. Kau bisa mendengarkan radio menggunakan aplikasi di ponsel, tapi entah kenapa, aku tidak suka melewati langkah tambahan itu.

Lagi pula, bukan aliran informasi yang samar itu yang kusukai. Apa yang kucari adalah kemampuan untuk menangkap suara seseorang dengan usahaku sendiri.

Kualitas suaranya memang tidak sebagus jika menggunakan pengeras suara atau headphone berteknologi tinggi terbaru. Namun, ini adalah suara yang bernuansa nostalgia dan menenangkan.

Itu membuatku merasa hangat di dalam, seolah-olah aku sedang duduk di sebuah kedai kopi, bermandikan obrolan orang-orang asing. Seperti inilah seharusnya mendengarkan radio, pikirku.

Biasanya, saat sedang belajar, aku tidak memutar apa pun sama sekali—atau jika pun melakukannya, itu hanya lagu-lagu yang sudah biasa kudengar agar tidak mengganggu konsentrasiku. Namun di larut malam, tiba-tiba aku merindukan suara radio.

Meski aku sudah bertekad bulat, belajar dalam waktu lama setiap hari tetap saja melelahkan. Kedua orang tuaku adalah guru, dan kecuali jika mereka sedang sangat sibuk dengan pekerjaan, mereka berdua biasanya sudah tidur jauh sebelum tengah malam.

Malam-malam di pedesaan begitu tenang dan damai sehingga terkadang aku merasa hanya aku satu-satunya orang yang masih terjaga. Kurasa itulah sebabnya aku ingin menyalakan radio.

Suara-suara penyiar radio, para pendengar yang menelepon—mereka semua membuatku menyadari bahwa di luar sana, orang lain juga sedang bekerja atau belajar keras dan ikut mendengarkan. Hal itu membuatku merasa seolah kami semua terhubung di dalam malam.

Sambil merenungkannya, aku mengambil cangkirku. Kopinya masih panas saat kutuang tadi, tapi sekarang sudah suam-suam kuku, dan rasanya membuatku meringis.

Aku menyentuh layar ponselku yang tergeletak sedang diisi daya di meja, tapi tidak ada notifikasi baru. Aku menghela napas dengan seringai yang setengah pasrah.

Seandainya saja aku adalah teman sekelasmu. Aku mungkin bisa mengirimimu pesan lewat LINE, alih-alih menulis surat tanpa alamat.

Mungkin aku akan bisa meneleponnya, alih-alih mengandalkan radio untuk menemaniku.

"Saku, kau masih bangun belajar?"

"Masih di depan meja. Kau sendiri, Asuka?"

"Cuma istirahat sebentar."

"Mau mengobrol sebentar? Mungkin bisa membuatmu sedikit segar."

 "... Tentu saja!"




Heh. Kurang lebih seperti itu.

Aku bertanya-tanya apakah dia masih bangun.

Dia bilang dia adalah tipe orang yang suka begadang. Aku membayangkannya sedang membaca novel atau mendengarkan musik.

Oh, benar juga. Dia mulai mendengarkan lagu J-pop lama karenaku, tapi aku sendiri mulai mendengarkan radio karena dia.

Bagaimana jika aku tiba-tiba meneleponnya?

Kalau dia masih bangun, aku yakin dia akan mengangkatnya.

Aku akan memberitahunya bahwa aku sudah belajar seharian, dari pagi sampai sekarang. Dia pasti akan berkata, "Wah, kamu benar-benar bekerja keras." Meski merasa mengantuk, dia akan tetap terjaga untuk mengobrol denganku sampai aku merasa tenang.

Namun, kenyataannya tidak seperti itu.

Meski aku mencoba mencari kenyamanan darinya, meski dia memanjakanku, aku tetap tidak bisa benar-benar berbagi momen saat ini bersamanya. Ini adalah jam-jam tengah malam yang sepi di tahun ketiga SMA-ku, akhir dari liburan musim panas terakhirku, selagi aku menghadapi kenyataan pahit ujian masuk dan kelulusan yang tak terelakkan.

Rasanya begitu... sedih, pikirku.

Bahkan jika dia meneleponku saat masa-masa neraka belajar ujiannya sendiri tahun depan, aku sudah lama melewati titik itu.

Aku bisa menoleh ke belakang dan berempati padanya berdasarkan pengalamanku sendiri, tapi... itu tidak akan menjadi koneksi yang sama.

Lalu, saat aku mendengarkan radio dengan melamun...

Tok, tok.

Terdengar ketukan pintu yang pelan dan diredam.

"Masuk saja."

Pintu terbuka dengan sedikit keraguan.

"Masih lanjut?" Ayah mengintip dari celah pintu dan mengatakan hal yang sama seperti yang dia katakan setiap malam belakangan ini. Maksudku, dia tahu betul aku masih belajar.

"Iya. Aku mau belajar sebentar lagi."

Ayah mengernyitkan alisnya—dia tampak agak khawatir, tapi juga terlihat senang.

"Jangan berlebihan. Itu bisa berbalik buruk padamu."

"Tidak apa-apa. Aku tidak akan jatuh sakit dan membuat Ayah khawatir atau semacamnya."

"Yah, baiklah, tapi—"

"Iya, iya, 'Pastikan kamu jangan lupa makan.' Aku tahu."

Ayah masuk ke kamar dengan malu-malu, seperti anak kecil yang tertangkap basah melakukan sesuatu.

Seketika, aroma yang menggugah selera menyebar di udara di dalam kamar.

"Pastikan kamu makan."

Dia menyodorkan nampan berisi dua bola nasi, dua iris acar lobak daikon, semangkuk sup miso instan, dan segelas teh gandum.

"Ayah, aku tidak bisa makan dua bola nasi utuh tengah malam begini."

"Yang isi plum asinan itu punyamu, dan yang isi Mentaiko itu punyamu."

"Ayah bisa kena penyakit asam urat kalau terus makan seperti ini, tahu."

"Apa-apaan ini? Apa putri remajaku akhirnya mulai memberontak?"

"Tidak."

Ayah memang seperti ini belakangan ini.

Biasanya, dia sudah di tempat tidur jam segini. Tapi baru-baru ini, sekitar tengah malam, dia membuat bola nasi untuk camilan dan mengantarkannya padaku.

Dia biasanya hanya membuat ramen instan dan mi goreng, jadi awalnya aku sempat terkejut. Lalu aku hampir menangis, menyadari betapa keras usahanya untuk mendukungku.

"Jadi," kataku dengan sedikit senyum, "Ayah tidak perlu membuatkanku makanan setiap malam. Aku ini gadis SMA, tahu. Kalau ini berlanjut, aku akan mulai mengkhawatirkan bentuk tubuhku."

"...Jadi laki-laki itu lebih peduli pada bentuk tubuhmu daripada kesehatanmu, ya?"

"Tidak ada yang bilang begitu."

Kebetulan, percakapan semacam ini juga sudah menjadi kejadian umum.

Ayah sepertinya selalu ingin membicarakan Saku. Malah, kurasa dia sebenarnya menyukai laki-laki itu.

Tentu saja aku senang mendapat restu dari ayahku, tapi rasanya canggung saat dia terus-menerus bertanya, "Jadi bagaimana kabar pacarmu?" setiap waktu.

Aku mengambil bola nasi Umeboshi dari Ayah.

Bentuknya aneh, tidak segitiga maupun tabung, dan saat aku meremasnya sedikit, bentuknya mulai hancur.

Tetap saja, aku menggigitnya.

"...Enak."

Terlepas dari bentuknya yang aneh, ini adalah rasa dari sesuatu yang Ayah buatkan khusus untukku.

Aku menggigit acar daikon dan menyeruput sup miso-nya.

Aku mulai menantikan momen-momen kecil seperti ini.

"Ini selalu menjadi impianku." Sambil duduk bersila di lantai, Ayah berbicara dengan mulut penuh bola nasi. "Membuatkan camilan tengah malam untuk putriku saat dia sedang belajar untuk ujian masuk."

Sejak aku kecil, aku selalu menganggap ayahku agak kaku.

Sampai baru-baru ini, dia tidak pernah membagikan pemikiran pribadi seperti itu.

Tapi semuanya berubah hari itu. Akhir-akhir ini, aku merasa seperti telah melakukan pembicaraan seumur hidup dengan Ayah dalam waktu singkat.

Bukan hanya aku yang berubah. Terima kasih padamu, teman.

Ayah melanjutkan dengan wajah canggung. "Ibumu marah-marah. Katanya aku terlalu mengganggumu."

"Kalau Ayah mau makan bersamaku setiap malam, kenapa tidak isi punyamu dengan sesuatu yang lebih sehat, seperti rumput laut Konbu atau serutan ikan kering? Dan bukannya aku tidak bersyukur, tapi Ayah bisa sedikit mengurangi garamnya."

"Sudah dengar semua itu dari dia juga."

Aku terkekeh.

Aku tidak pernah membayangkan hari itu akan tiba ketika aku mendapati tindakan Ayah terasa imut.

"Ah, radio," gumam Ayah. "Kamu benar-benar mendengarkannya?"

"Iya, biasanya setelah aku makan bola nasi."

"Ayah bisa belikan yang baru. Kalau itu membantu belajarmu."

"Aku suka yang ini."

"Ayah selalu berpikir ketekunanmu hanyalah salah satu kekuatanmu, tapi kamu melakukannya dengan cara yang sedikit berbeda dari kebanyakan orang."

"Ini cuma radio. Jangan membuatnya terdengar seperti masalah besar. Dan Ayah benar-benar terdengar seperti ayah yang memanjakan anaknya sekarang."

Rupanya, Ayah membeli radio ini saat dia masih muda hanya karena harganya murah.

Dengan desain serat kayu klasiknya, benda ini seperti sesuatu yang akan kau lihat di film hitam-putih Amerika.

Katanya dia merasa terikat padanya karena suatu alasan dan tidak bisa membuangnya. Lalu saat aku menemukannya berdebu di pojokan, aku memohon padanya untuk memberikannya padaku.

"Ngomong-ngomong, Asuka..." Ayah menghabiskan bola nasinya lalu berdeham demi mencoba tampak santai. "Apa kamu tertarik bertemu dengan seorang editor?"

"Hah...?"

Ayah melanjutkan sementara aku mencoba mencerna apa yang sedang dia bicarakan sekarang. "Kamu tahu URALA, kan?"

"Um, tentu saja."

URALA adalah majalah berita lokal bulanan.

Hampir semua orang yang tinggal di Fukui pernah mendengarnya. Majalah itu meliput berbagai topik: tokoh-tokoh penting, restoran enak, budaya, pendidikan, perusahaan, semuanya lokal di Fukui.

Aku tidak pernah benar-benar mencarinya, tapi dugaanku nama "URALA" berasal dari dialek Fukui "urara," yang berarti "kita."

Model sampulnya terutama adalah gadis-gadis yang lahir, besar, atau saat ini tinggal di Fukui, dan bukan hal aneh mendengar orang menyebut teman mereka yang akhirnya muncul di sampulnya.

Entah kenapa, Ayah tampak canggung.

"Ayah menghubungi pemimpin redaksinya melalui rekan kerja. Kalau mau, kamu bisa berkeliling perusahaan penerbitannya dan berbicara dengan bagian redaksi."

"Apa?!"

Aku tiba-tiba berdiri, membuat kursiku berdentang ke belakang.

Ayah melambaikan tangan di depan wajahnya, gugup. "Nah, jangan salah paham dulu! Ayah belum berubah pikiran soal kuliah atau bekerja di Fukui. Dan ini bukan rumah penerbitan novel fiksi, tapi Ayah pikir berbicara dengan editor sungguhan mungkin bisa memberimu motivasi tambahan untuk belajar ujian. Mungkin itu berlebihan, tapi..."

Saat Ayah berbicara, suaranya mengecil dan makin bergumam. Aku tertawa terbahak-bahak.

"Ayah, Ayah gugup sekali sekarang. Jangan khawatir, aku mengerti." Aku menunduk menatap piring bola nasi.

Sekarang aku tahu Ayah benar-benar menghargai keputusanku.

Dia pasti sudah memikirkannya matang-matang sebelum dia berani melakukan ini untukku.

Tiba-tiba, aku teringat percakapan yang kulihat antara para editor di Tokyo itu.

Aku bahkan tidak perlu waktu sedetik pun untuk memikirkannya.

"Kalau Ayah tidak keberatan, aku mau pergi," kataku segera.

Ayah berdiri, sudut mulutnya melengkung seolah dia merasa senang dalam diam.

"Yah, lebih baik dilakukan selama liburan musim panas. Tentu saja tinggal beberapa hari lagi, tapi berikan beberapa pilihan tanggal dan waktu luangmu. Kalau bisa besok. Juga..."

Ayah berhenti sejenak lalu berdeham dengan sengaja.

"Mereka bilang tidak apa-apa jika kamu membawa teman juga. Kalau mau, kamu bisa mengajak laki-laki itu."

"...Ah-ha-ha."

Aku tahu Ayah mencoba untuk perhatian, tapi ini benar-benar lucu.

"Kenapa kamu tertawa? Apa pemuda itu benar-benar mau membiarkanmu pergi ke tempat asing sendirian?"

"Maksudku, dia bahkan tidak tahu soal ini. Ayah-lah yang mengaturnya, Yah..."

"Kalau perlu, Ayah sendiri yang akan bicara padanya..."

"Kurasa sudah waktunya Ayah mundur. Kecuali Ayah mau menerima tatapan tajam dari putrimu ini."

"...Kalau begitu kita selesai di sini."

Dan dengan itu, Ayah segera keluar dari kamar.

Wah gawat, pikirku, sambil menyentuh telinga kiriku tanpa sadar.

Aku sudah berniat pergi sendiri, tapi karena Ayah mengungkitnya... Sekarang aku tidak tahu harus bagaimana.

Mungkin aku bisa bertanya padanya dan melihat apakah dia tertarik sama sekali.

Tapi kalau begitu... Jika aku pergi dan mengungkitnya, dia mungkin akan kesulitan menolak. Seperti, dia akan merasa wajib ikut. Aku tidak ingin merepotkannya saat dia hanya mencoba menikmati beberapa hari terakhir liburan musim panas...

Aku menggeliat gelisah, mencoba merapikan perasaan dan pikiranku.

Sepanjang waktu itu, aku mendengarkan suara malam yang larut.

◆◇◆

Dua hari kemudian, sekitar pukul setengah empat sore, aku duduk di kursi penumpang mobil Ayah, dalam perjalanan menuju URALA Communications, perusahaan yang menerbitkan majalah tersebut.

Aku tidak bisa tidur nyenyak malam sebelumnya.

Aku telah membaca edisi terbaru URALA dari sampul ke sampul, dan semakin aku membaca serta berpikir tentang pertemuan dengan orang-orang yang membuatnya, aku menjadi semakin bersemangat.

Pertanyaan apa yang harus kuajukan? Bagaimana jika orang-orang menganggapku hanya anak kecil yang naif? Bagaimana jika orang yang menjawab pertanyaanku sangat galak dan menakutkan?

Kalau ini saja cukup membuatku gugup... Wah, perjalananku masih panjang sebelum bisa menjadi seorang editor, pikirku kecut.

Novel fiksi dan majalah memang berbeda, tentu saja, tapi dalam keduanya, kau perlu bertemu dengan penulis dan menghadapi orang-orang dengan berbagai kepribadian yang berbeda.

Ini adalah kesempatan yang luar biasa. Aku tidak perlu berpikir terlalu jauh. Aku hanya perlu menanyakan semua pertanyaanku dan mencari tahu apa yang kubisa.

Ayah berhenti di lampu merah dan melirik ke arahku.

"Yakin tidak mau menjemput laki-laki itu?"

"Iya. Aku tidak ingin memaksanya."

"Masih ada waktu. Kenapa kita tidak mampir sekarang saja?"

"Sudah kubilang, tidak apa-apa."

"...Baiklah."

Saat kami berbicara, hidungku masih tertancap di majalah untuk tinjauan terakhir. Sebelum aku menyadarinya, kami sudah sampai di tujuan.

Saat aku turun dari mobil, meski sudah akhir Agustus, awan di atas sana benar-benar tampak menandakan akhir musim panas.

Kicauan tonggeret terdengar tidak sabar dan gusar, seolah-olah mereka memprotes pergantian musim yang akan datang.

Aku mengipasi leherku.

Aku memilih setelan jaket tipis dan rok agar terlihat agak serius, tapi rasanya agak gerah. Mungkin seharusnya aku memakai seragam sekolah musim panas saja.

Aku merapikan pakaianku dan berdiri tegak.

Gedung URALA memiliki namanya di bagian samping, dengan warna yang agak kusam. Gedungnya tidak panjang dan sempit seperti menara pengawas bandara, tapi entah bagaimana nuansanya seperti itu. Di tempat parkir di seberang jalan, ada deretan mobil dengan nama URALA di sampingnya. Aku menyadari betapa banyak orang yang pasti bekerja di gedung itu.

Ayah turun dari mobil dan menoleh padaku, ada kecemasan dalam suaranya.

"Kamu yakin tidak mau Ayah masuk bersamamu saja?"

Aku menggelengkan kepala. "Tidak. Aku akan melakukannya sendiri. Ini sebuah pengalaman, kan?"

Jika aku bertemu dengan kenalan langsung Ayah, akan lebih baik jika dia masuk bersamaku. Tapi tidak, jadi aku harus menemui orang-orang yang terlibat sendiri.

Aku melirik jam tanganku.

Lima belas menit sebelum waktu pertemuan yang ditentukan.

Aku harus menunggu sedikit lebih lama. Tidak sopan jika datang terlalu awal.

Selagi aku memikirkan hal itu...

"Asuka."

...Aku mendengar suara memanggilku dari dekat.

Aku menoleh dan melihat seorang laki-laki di sana, melambai dengan canggung padaku.

"Halo. Sepertinya kamu sampai lebih dulu."

Setelah banyak perdebatan, aku memutuskan untuk menyerahkan keputusan itu pada Saku.

Dengan kata lain, aku memutuskan untuk beroperasi dengan asumsi bahwa aku akan pergi ke URALA sendirian, tapi aku memberi tahu Saku bahwa aku akan berkeliling URALA dan bertemu dengan editornya.

Pemikiranku adalah jika reaksinya acuh tak acuh, aku akan lanjut pergi sendiri. Tapi jika dia mengatakan sesuatu seperti, "Wah, aku iri," atau "Seandainya aku bisa ikut juga," maka aku akan mengajaknya.

Dan sekarang di sinilah kami.

"Apa kamu perlu, semacam, memesan slot, atau siapa pun boleh pergi?"

"Tidak perlu slot. Sebenarnya, aku diberi tahu bahwa aku bisa mengajak seorang teman. Tapi aku tidak ingin mengungkitnya dan membuatmu merasa tertekan untuk pergi, jadi bagian itu aku lewatkan."

"...Yah, apa aku boleh ikut? Secara pribadi, aku agak tertarik."

Saku selalu menyukai buku, terlepas dari jalur karier dan impianku. Tapi aku terkejut betapa antusiasnya dia untuk ikut.

Seharusnya aku tanya saja dia langsung, alih-alih berputar-putar.

Selagi aku memikirkan itu, Ayah dengan cepat melangkah di antara aku dan Saku, yang sedang berjalan mendekat dengan ransel tersampir di satu bahu.

"Halo, anak muda. Bagaimana kabarmu?"

Bahkan saat dia berbicara, mata Ayah tidak tersenyum sama sekali.

Kami bertiga belum berbicara lagi sejak pertemuan di sekolah itu.

Saku mengerutkan kening. "Halo, Pak. Terima kasih telah mengizinkan saya berpartisipasi hari ini."

"Bukan saya yang memberi izin. Itu adalah kebijaksanaan perusahaan."

Ayah bersikap dingin, padahal dialah yang menyarankan untuk mengajak Saku sejak awal.

Aku sempat bertanya pada Saku apakah dia ingin menumpang bersama kami, tapi dia menjawab dengan terbata-bata, "T-tidak apa-apa, aku, um, naik sepeda saja."

"Sekadar informasi saja..." Ayah merengut. "Ini bukan berarti saya merestui hubungan dengan putri saya."

"Sudahlah, Yah," aku menimpali dengan cemas. "Dia tahu apa yang Ayah pikirkan."

Ayah memalukan sekali!

Saku menyeringai miring. "Sepertinya Anda tidak berubah."

Rengutan Ayah makin dalam, dan suaranya terdengar makin kasar.

"Saya harap kamu membawanya pulang segera setelah makan malam."

"Oh, saya boleh mengajaknya makan malam?"

"Saya sudah memberi Asuka uang yang cukup untuk makan yang layak berdua. Pastikan kalian makan sesuatu yang bukan makanan sampah."

"Te-terima kasih...?"

"Juga..."

"Ya-aaah!" Aku merasa dia akan terus berlanjut tanpa henti jika aku tidak menghentikannya, jadi aku memotong. "Sudah hampir waktunya. Kami harus pergi."

"Tapi Ayah perlu memastikan dia sadar akan peraturan rumah kita—"

"Sudah cukup, Yah, kecuali Ayah ingin putrimu benar-benar memarahimu!"

"...Baiklah. Pastikan kamu mempelajari sesuatu," kata Ayah, akhirnya kembali masuk ke dalam mobil.

Dengan satu tatapan cemas terakhir padaku, dia pun pergi.

"Aku minta maaf soal dia..."

Saku menghela napas panjang, bahunya merosot. "Wah, orang itu benar-benar ayah yang memanjakan anaknya, ya?"

"Ah-ha-ha... Dia memang seperti itu setiap saat belakangan ini."

"Aku bersyukur dia tidak membawa garpu rumput. Atau pistol."

"Ayah sebenarnya memberiku cukup banyak uang. Dia memerah dan bilang, 'Laki-laki itu tinggal sendiri, kan? Pastikan dia makan sesuatu yang bergizi.'"

"Aku menghargai perhatiannya. Tapi aku bisa melihat masa depan. Dia pasti akan bersikap seperti, 'Aku tidak akan menyerahkan putriku pada bajingan sepertimu!' Tapi lalu saat hari pernikahan tiba, dia akan menangis di seluruh jas-ku dan terisak, 'Tolong, jaga putriku baik-baik!' Dia pasti tipe laki-laki seperti itu."

"Hah...?"

Sebuah kata tak terduga tertentu menyangkut di benakku.

Saku menatapku, alisnya terangkat. "Tidak... Maksudku..."

Wah gawat, pikirku, sambil mengatupkan bibir rapat-rapat.

"Tidak, tidak apa-apa. Maaf reaksiku aneh."

"Maksudku, itu tadi lebih ke hipotesis. Seperti skenario bercanda untuk menekankan poin saja."

"Tolong, jangan mencoba menjelaskannya. Aku ingin masuk ke lubang di tanah sekarang juga."

"...Er, maaf, Asuka."

"Jangan minta maaf juga!"

Aku harus menutupi wajahku dengan tangan.

Itu benar-benar salahku barusan.

Ayah selalu mengatakan hal-hal aneh, dan kurasa pikiranku langsung terbawa ke arah itu.

Maksudku, lihat hari ini saja. Saku ada di sini hanya karena dia benar-benar tertarik mengunjungi markas URALA. Kenapa aku membiarkan pikiranku melantur dan membayangkan hal macam-macam? Betapa memalukannya!

Tapi kemudian seluruh situasi ini mulai tampak konyol, dan aku terkekeh.

Katakanlah kami benar-benar menikah suatu hari nanti... Ayah dan Saku akan rukun dengan cara yang mengejutkan, bukan?

Mereka akan kaku dan canggung pada awalnya, tapi mereka akan terbuka satu sama lain sambil minum-minum.

Aku bisa dengan mudah membayangkan sebuah adegan di Tahun Baru: Ayahku mabuk dan menyayangi Saku, Saku bingung dan hanya mencoba bertahan menghadapinya...

Aku menampar pipiku ringan untuk membawa diriku kembali ke dunia nyata.

Baiklah, cukup berfantasi untuk hari ini.

Ini adalah kesempatan emas yang menghampiriku.

Aku perlu belajar sebanyak yang kubisa, demi masa depanku.

"Bisa kita masuk?"

Saku mengangguk dan menyeringai, berkata, "Ya."

Aku memutuskan untuk meninggalkan kota ini karenamu.

Tapi kamu juga alasan kenapa aku begitu berat untuk pergi.

...Aku punya waktu tujuh bulan lagi.

Aku mengambil satu lagi tiket tersisaku—tiket-tiket yang aku tidak yakin akan bisa kuhabiskan sepenuhnya—dan menyobeknya menjadi konfeti di udara.

◆◇◆

Kami menyebutkan nama kami melalui interkom di samping pintu masuk, dan mereka bilang bahwa pemimpin redaksi akan langsung menemui kami.

Aku berdiri tegak, merasa sangat gugup sekarang.

Aku melirik Saku diam-diam. Dia tampak begitu tenang. Aku iri pada keberaniannya.

Setelah kami menunggu beberapa menit, pintu otomatis yang bening itu berdesing terbuka.

"Selamat datang. Asuka, benar?"

Pria yang menyapaku itu, um— Oh, bagaimana aku harus mengatakannya?

Sederhananya, dia punya wajah yang sangat sangar.

"Ah. Iya... Iya, benar," jawabku ragu-ragu dan melakukan kontak mata dengan Saku.

"Asuka, kamu tidak salah membawa kita ke kantor bos mafia, kan?"

Aku menggelengkan kepala kuat-kuat, menatap pria itu lagi.

Dia memiliki rambut cepak hampir gundul dan jenggot kambing. Kacamata yang dikenakannya memiliki semburat ungu tipis, dan sebuah kalung emas mengintip dari balik kemejanya yang kancing ketiganya dibiarkan terbuka.

Paling banter, dia terlihat seperti salah satu pria paruh baya yang pesolek, tapi paling buruk...

"Ah-ha-ha!"

Melihat kami membeku, pria itu tertawa terbahak-bahak. "Tidak apa-apa. Aku tidak seseram itu. Aku Terahata, pemimpin redaksi URALA Monthly, dan kalian bebas bertanya apa saja padaku hari ini."

Dia menepuk bahuku sambil berbicara. Senyum lebarnya yang memperlihatkan deretan gigi membuat segalanya terasa jauh lebih tidak menakutkan dalam sekejap, dan aku merasa diriku mulai rileks.

"Terima kasih banyak atas kesempatan ini. Aku Asuka Nishino, siswi kelas tiga di SMA Fuji." Aku menundukkan kepala.

"Terima kasih juga sudah mengizinkan aku ikut serta. Aku Saku Chitose, siswa kelas dua di SMA Fuji." Saku mengikuti perkenalan diriku dengan perkenalannya sendiri.

"Ah! Senang bertemu kalian berdua!" ujar sang pemimpin redaksi, lalu dia mulai berjalan. "Jarang sekali ada orang seusia kalian yang tertarik pada bidang pekerjaan ini. Dan ini kesempatan bagus bagiku untuk berbicara dengan siswa SMA zaman sekarang dan mendapatkan perspektif tentang kaum muda saat ini."

Sambil mengikutinya, aku melihat ke sekeliling. Aku sempat mengira perusahaan penerbitan akan menjadi tempat yang kacau dengan poster di mana-mana, tapi tempat ini ternyata lebih rapi dari yang kubayangkan.

Gedungnya tampak seperti bangunan kantor biasa yang terorganisasi dengan baik.

"Sebagai permulaan, mari kita lihat departemen editorial."

Dia memandu kami melewati kantor besar dengan konsep ruang terbuka. Ada meja-meja dan komputer yang berjejer dalam barisan, sedikit mirip dengan ruang guru di sekolah.

Tentu saja, tempat ini terasa sedikit lebih trendi dan modern.

Mungkin agar karyawan bisa berkonsentrasi pada pekerjaan mereka, meja-meja individu dikelilingi oleh sekat yang tingginya pas untuk tetap bisa melihat wajah satu sama lain.

Beberapa meja memiliki tumpukan dokumen, ada selimut pangkuan yang tersampir di sandaran kursi, dan aku bisa melihat sandal rumah di bawah meja. Detail-detail kecil itu membawa tempat ini lebih dekat ke departemen editorial yang selama ini aku bayangkan.

Saku berbisik pelan padaku. "Mereka semua bekerja dengan pakaian kasual."

"Iya. Aku agak iri soal itu."

"Tapi tetap saja lebih formal daripada sang pemimpin redaksi."

"Ssst! Jangan katakan itu!"

Selagi kami berbisik-bisik, sang pemimpin redaksi menunjuk ke sebuah meja besar di dekat pintu masuk.

"Saat ini, departemen editorial sedang mengadakan rapat. Rapat hari ini adalah rapat sederhana, tapi pada rapat perencanaan bulanan kami, setiap staf editorial mempresentasikan berbagai ide, dan kami melakukan curah pendapat bersama untuk memutuskan fitur khusus dan apa yang akan dibahas dalam edisi bulan itu."

"Jadi, bahkan anggota baru pun bisa mengajukan ide dan ide itu bisa dimasukkan?" tanyaku.

"Tentu saja," jawabnya. "Selama itu menarik. Sebelum kalian mengetahui seluk-beluk penyuntingan, kalian akan belajar dengan mengamati senior kalian bekerja. Tetap saja, dibandingkan dengan perusahaan lain, kalian akan bisa langsung terjun dan menimba pengalaman sejak tahap awal. Bisa dibilang belajar sambil praktik."

Sang pemimpin redaksi menyeringai bangga.

"Tanggung jawabnya besar, tapi pastinya sangat memuaskan. Lagi pula, majalah tidak akan terbit kecuali semua orang menyelesaikan halaman mereka. Selain itu, kalian akan bertanggung jawab atas orang-orang yang kalian wawancarai, berkoordinasi dengan berbagai instansi, dan sebagainya. Apakah kita bisa menyajikan sesuatu kepada pembaca dengan cara yang memunculkan pesona dan daya tariknya—yah, itu semua tergantung pada kontributor kami."

Jantungku berdegup kencang di dada. Benar, pikirku. Majalah mungkin sama dengan novel dalam hal menggali cerita.

"Ha-ha," sang pemimpin redaksi tertawa. "Hei! Hirayama!"

Salah satu wanita yang duduk di meja berdiri. Dia dengan cepat merapikan dokumen-dokumen yang berserakan di depannya dan menghampiri kami. "Oh, inikah para siswa SMA itu? Senang bertemu kalian. Nama saya Hirayama. Saya editor kepala."

Dia tampak berusia akhir dua puluhan. Dia memiliki senyum yang lembut dan pembawaan yang canggih.

Meskipun dia mengenakan pakaian tipe bisnis kasual yang rapi, ada sesuatu yang terasa akrab darinya. Seperti dia adalah seorang mahasiswi, atau kakak perempuan seseorang.

Setelah aku dan Saku memperkenalkan diri, sang pemimpin redaksi berbicara lagi.

"Kupikir akan lebih mudah bagi Asuka untuk berbicara dengan sesama wanita, seseorang yang usianya sedekat mungkin dengannya."

Hirayama tersenyum hangat—mungkin dia sedang mengingat masa-masa remajanya sendiri. "Kalian tahu, saya juga lulusan SMA Fuji. Sudah sekitar sepuluh tahun sejak saya lulus, tapi saya penasaran apakah mereka masih mengadakan acara seperti 'Selamat Datang Kembali, Alumni'?"

"Serius?! Iya! Kami mengadakannya lagi tahun ini!" Aku memekik sedikit, terkejut oleh momen koneksi ini.

Acara yang dibicarakan Hirayama adalah semacam kelas khusus yang diadakan setiap tahun di mana puluhan lulusan SMA Fuji dari seluruh prefektur kembali untuk berbicara kepada siswa saat ini tentang berbagai profesi dan karier mereka.

SMA lain mungkin memiliki acara serupa, tetapi di Fuji, ada organisasi alumni yang kuat bernama "Shinmeikai", jadi acara tersebut cenderung sangat bermanfaat dan mencerahkan.

Hirayama tersenyum. "Begitu ya. Kalau begitu, silakan tanya apa saja yang kalian suka, dan mari kita anggap ini sebagai acara kita sendiri."

"Tentu! Terima kasih banyak." Saku dan aku membungkuk sopan bersama-sama.

◆◇◆

Hirayama dan sang pemimpin redaksi memandu kami ke sebuah ruangan yang terasa relatif formal, lebih mirip ruang tamu daripada ruang konferensi. Sebagian besar ruangan diisi oleh meja persegi panjang besar yang bisa dengan mudah menampung lebih dari sepuluh orang.

Mungkin aneh membandingkannya dengan sekolah, tapi rasanya lebih seperti aku sedang dipanggil ke ruang kepala sekolah. Menyadari keraguanku...

"Silakan duduk." Hirayama menarik kursi untuk kami di dekat pintu.

""Terima kasih.""

Saku dan aku duduk berdampingan di sisi pendek meja persegi tersebut. Hirayama duduk berjarak satu kursi di sisi panjang, membentuk sudut 90 derajat terhadap kami.

Mungkin dia pikir lebih baik duduk berdekatan karena mejanya sangat besar. Tapi posisi menyamping ini terasa tidak terlalu menyerupai sebuah interogasi. Rasanya lebih nyaman, seperti sedang mengobrol dengan teman. Kupikir, tergantung pada situasinya, ini bisa menjadi semacam teknik wawancara tertentu.

Di sisi lain, sang pemimpin redaksi duduk di ujung ruangan, di sisi pendek yang berlawanan dengan kami. Mungkin dia berencana menyerahkan sebagian besar pembicaraan kepada Hirayama dan hanya mengamati.

Rasanya seperti dia adalah pengawas ujian yang sedang mengevaluasi. Itu membuatku merasa sedikit gelisah.

Aku mengeluarkan buku catatan, pena, dan ponselku, lalu meletakkannya di atas meja. Kemudian aku menatap Hirayama dan menyadari sesuatu.

"Anu, apakah tidak apa-apa jika aku merekam ini di ponselku?"

Aku sadar bahwa diriku sedang gugup. Aku mengerahkan seluruh kemampuanku hanya agar pertanyaan-pertanyaanku terdengar cerdas. Tapi jika aku tidak menyerap apa pun yang dikatakan Hirayama, pertemuan ini tidak akan ada gunanya sama sekali.

Hirayama tersenyum hingga matanya menyipit. "Ya, tentu saja boleh."

"Oh, terima kasih." Aku mengetuk layar ponselku.

Sebuah pertanyaan langsung terlintas di benakku. "Apakah editor dan penulis juga merekam wawancara?"

"Hmm," Hirayama bergumam sambil memikirkannya sejenak. "Setiap orang punya metodenya sendiri. Ada yang merekam semuanya lalu menyalinnya dari rekaman sebelum menyusun artikel mereka. Ada yang hanya mencatat lalu menulis dari catatan itu. Ada juga yang merekam wawancara hanya untuk jaga-jaga, tapi cenderung lebih mengandalkan catatan mereka. Bahkan ada yang menulis hanya dari ingatan tanpa mencatat atau merekam apa pun sama sekali."

"Benarkah? Padahal terkadang wawancara bisa memakan waktu satu jam atau lebih, kan?"

"Ya," ujar Hirayama ragu-ragu. "Yah, itu tergantung. Terkadang direkam bisa membuat narasumber merasa gugup atau terlalu waspada. Selain itu, jika kau tahu kau bisa mendengarkan rekamannya nanti, kau mungkin terjebak dalam jebakan menjadi pendengar yang pasif. Beberapa orang percaya bahwa hanya mengandalkan ingatan membuat poin-poin paling penting dari wawancara tetap melekat di benak mereka, menyaring informasi yang tidak perlu."

"Begitu ya..."

Penjelasan itu masuk akal. Aku melirik ponselku, sekarang khawatir tentang permintaanku untuk merekam. Hirayama sepertinya menyadari hal itu.

"Namun, dalam pengalamanku, menurutku lebih baik merekam jika kau bisa, atau setidaknya mencatat. Saat kau mendengarkan rekaman itu nanti, kau sering kali bisa menemukan butiran harta karun kecil yang terlewatkan selama wawancara berlangsung. Semuanya kembali pada apa yang paling cocok untukmu," katanya menenangkan. "Pada akhirnya, itu tergantung pada masing-masing orang, tapi bagiku pribadi, merekam memungkinkanku untuk berkonsentrasi pada percakapan tanpa khawatir tentang hal-hal seperti, Oh, aku harus mencatat poin itu. Selain itu, ada risiko kita mungkin hanya fokus pada pengamatan subjektif kita sendiri jika kita tidak memiliki rekaman yang objektif. Jika kau sudah punya ide yang terbentuk sebelumnya tentang sudut pandang artikel yang akan kau ambil, itu bisa berakhir sangat mewarnai kesanmu terhadap wawancara tersebut."

Bahkan penjelasan singkat ini sudah cukup untuk menunjukkan padaku betapa seriusnya Hirayama menanggapi kata-kata narasumbernya. Aku senang datang hari ini. Ini adalah jenis hal yang hanya bisa dipelajari dari seseorang yang benar-benar bekerja di bidang tersebut.

"Ini hanya pertanyaan dasar, tapi..."

Tiba-tiba, Saku mengangkat tangannya di sampingku. "Apakah editor menulis teksnya sendiri?"

Oh, iya juga. Jika kau adalah editor novel, tentu saja sang penulislah yang menulis teks aslinya. Aku bertanya-tanya apakah hal itu berbeda jika menyangkut artikel majalah.

Hirayama mengangguk. "Terkadang kami menerima pekerjaan dari penulis lepas, tetapi dalam kasus majalah kami, kami biasanya melakukan riset dan menulis artikelnya sendiri."

"Maaf memotong, tapi apa perbedaan antara penulis dan editor?"

Wah, Saku sangat berani dengan pertanyaan-pertanyaannya. Kedengarannya seperti jenis hal yang merupakan pengetahuan dasar, tapi kalau dipikir-pikir, jika kau memintaku menjelaskan perbedaannya, aku tidak yakin bisa melakukannya.

Aku bisa belajar banyak dari pendekatan langsung Saku.

"Mari kita lihat," kata Hirayama, mengangguk lagi.

"Penulis artikel pada dasarnya adalah penulis profesional yang melakukan wawancara lalu menulis artikel. Sementara kami para editor mengajukan rencana, membuat janji temu dengan narasumber, menyewa penulis dan fotografer, serta merencanakan tampilan halaman. Kemudian kami membuat sesuatu seperti cetak biru kasar, meminta desainer membuat tata letak, memeriksa naskah dan foto yang masuk... Ada banyak tugas mendetail lainnya, tapi ini benar-benar tentang mengawasi kualitas total halaman. Anggaplah pekerjaan editor sebagai pengawas seluruh proses pembuatan artikel dari awal sampai akhir."

"... Bukankah itu pekerjaan yang sangat banyak?" Saku terdengar ngeri, bukannya terkejut.

"Kau benar-benar harus menjadi serbabisa sekaligus pengawas, ya. Jika kami harus pergi ke lokasi untuk melakukan wawancara, kami perlu mengatur tiket Shinkansen, terkadang tiket pesawat, akomodasi, dan terkadang memesan dokumen tertentu serta materi pelengkap. Terkadang kami harus mengejar-ngejar penulis soal tenggat waktu, terkadang kami harus banyak lembur... Dari sudut pandang tertentu, industri ini semacam penggiling daging..."

"Hei! Perhatikan bicaramu di depan anak-anak SMA yang idealis ini!"

Sang pemimpin redaksi menyela, meskipun Hirayama tampak seperti sedang bercanda.

"Tapi, Bos, saya benar-benar perlu menjelaskan realitas pekerjaan ini."

"Kalau begitu beri tahu mereka realitasnya, bukan hal-hal gila seperti itu! Lihat aku; dengan peringatan mengerikan darimu, anak-anak ini akan pergi sambil mengira ini semacam perusahaan yang mencurigakan!"

Aku ragu sejenak, bertanya-tanya apakah aku seharusnya tertawa. Tapi kemudian Hirayama dan sang pemimpin redaksi mulai terkekeh. Oke, jadi itu hanya lelucon... Semacam usaha untuk mencairkan suasana?

"Maaf, maaf," kata Hirayama. "Saya melantur, tapi kenyataannya, penulis terkadang mengajukan rencana dan membuat draf kasar, dan dalam beberapa kasus, mereka dipercaya dengan tugas-toko yang mirip dengan penyuntingan. Apa yang baru saja saya jelaskan lebih merupakan pembagian peran dasar. Ini bukan industri yang sangat melelahkan atau tidak adil, tetapi memang pekerjaan yang cukup sulit di departemen editorial mana pun. Kau mungkin harus menyadari hal itu."

"Terima kasih," kata Saku sambil sedikit menundukkan kepalanya. Saku tampak puas dengan jawabannya, jadi aku mengambil kesempatan dan berdeham.

"Maaf, aku ingin mulai dengan menanyakan ini, tapi bersediakah Anda memberi tahu kami tentang bagaimana Anda memulai karier di industri ini?"

Hirayama menggaruk pipinya, tampak sedikit malu.

"Ya, tentu saja. Ya ampun, rasanya aneh menjadi narasumber untuk sekali-kali."

Aku membuka mulut untuk memulai pertanyaan-pertanyaanku, tapi kemudian...

"Sebenarnya, aku suka ide itu." Sang pemimpin redaksi menjentikkan jarinya.

Saku dan Hirayama berkedip.

"Mari kita buat ini menjadi wawancara sungguhan." Sang pemimpin redaksi menyilangkan tangannya sambil melanjutkan, menyeringai agak nakal.

"Ini bukan benar-benar magang, tapi mari kita buat ini seperti pengalaman kerja. Asuka, Chitose, kenapa kalian tidak mewawancarai Hirayama seolah-olah kalian adalah penulis sungguhan? Apa temanya? Mari kita lihat... Kehidupan sebagai editor Fukui. Kalian bisa menanyakan semua pertanyaan yang awalnya ingin kalian tanyakan."

Aku melirik Saku.

"Kurasa aku ingin mencobanya," katanya, dan aku segera mengangguk.

"Aku juga! Ini kesempatan langka."

"Baiklah kalau begitu," kata sang pemimpin redaksi. "Aku beri waktu lima belas menit untuk persiapan. Agak singkat untuk wawancara sungguhan, tapi biarlah. Buatlah daftar semua pertanyaan kalian."

""Baik!""

Aku menyambar pena dan menarik buku catatanku mendekat. Saku bersandar dan menatap langit-langit, meja di depannya masih kosong.

◆◇◆

... Lima belas menit kemudian, sang pemimpin redaksi dan Hirayama berjalan kembali ke ruangan. Mereka membawakan air minum kemasan untuk kami. Aku mengucapkan terima kasih singkat lalu meminumnya seteguk besar.

Sang pemimpin redaksi duduk di bagian belakang ruangan, seperti sebelumnya. "Oke, apakah kalian siap?" katanya.

Saku dan aku mengangguk.

"Oke, kalau begitu siapa yang mau mulai?"

Tanpa ragu, aku mengangkat tangan. "Mungkin perbedaannya tidak seberapa, tapi aku memutuskan untuk mengunjungi URALA terlebih dahulu, jadi kupikir aku punya lebih banyak waktu untuk menyiapkan pertanyaanku. Jadi, bolehkah aku yang pertama?"

Itu khas dirimu sekali, Saku seolah berkata melalui senyum kecutnya.

"Tetapkan standar yang tinggi untuk dikalahkan," katanya.

"Tentu. Lihat saja nanti."

Dengan cara ini, aku bisa memberi Saku sedikit lebih banyak waktu. Ya, itu adalah bagian dari alasannya. Tapi aku juga merasa cukup percaya diri.

Berbeda dengan Saku yang datang ke sini lebih seperti karya wisata karena ketertarikan pada buku, aku telah memikirkan dan meriset hal ini dengan sangat matang. Aku terkadang membeli URALA—tidak setiap bulan, tapi sering—dan aku membacanya dari sampul ke sampul. Buku catatanku penuh dengan pertanyaan yang ingin kuajukan.

Aku yakin ada perbedaan antara novel dan majalah, dan pengaturan wawancara yang tampak formal ini pasti membuatku gemetar. Tapi aku yakin aku akan melakukannya dengan cukup baik.

Ketika kedua orang dewasa itu mengangguk memberi isyarat setuju, aku mengatur ponselku untuk merekam.

"Baiklah, terima kasih banyak telah bersedia berbicara dengan saya hari ini."

Sambil berbicara, aku melihat catatanku, pada bagian yang digarisbawahi dan bagian yang dicoret. Aku memutuskan untuk mulai dengan pertanyaan standar terlebih dahulu. "Ibu Hirayama, apa yang membuat Anda memutuskan untuk menjadi seorang editor?"

Hirayama mulai berbicara, seolah dia baru saja menunggu aba-abaku.

"Setelah lulus dari SMA Fuji, saya masuk ke jurusan sains di sebuah universitas di Nagoya. Saya kemudian menjadi insinyur di sebuah produsen mesin di sana, tetapi sejujurnya, saya tidak benar-benar menikmatinya. Saya ingin melakukan sesuatu yang lebih menarik."

"Begitu ya. Kedengarannya menjadi seorang editor adalah sesuatu yang sama sekali berbeda. Apakah Anda menyukai majalah sejak usia muda, atau...?"

"Oh ya, tepat sekali. Saat saya sedang bingung harus berbuat apa, tiba-tiba saya teringat akan kecintaan saya pada majalah."

Bagus. Aku mulai menyentuh inti dari dorongan Hirayama.

"Begitu. Lalu mengapa Anda memilih untuk bekerja di URALA di sini, di Fukui? Mengenai pekerjaan penerbitan, saya memiliki kesan bahwa sebagian besar terkonsentrasi di Tokyo?"

Ini adalah salah satu pertanyaanku yang paling membuat penasaran. Aku telah memutuskan berkarier di dunia penerbitan dengan bayangan tentang Tokyo. Jadi aku ingin tahu seperti apa rasanya bekerja di majalah berita dan budaya regional tepat di sini, di Fukui.

"Hmm, mari kita lihat..." Tapi Hirayama terdiam.

Mungkin itu bukan pertanyaan yang tepat untuk diajukan. Aku berdeham untuk mencoba memperbaikinya.

"Misalnya, mungkin Anda terikat dengan kampung halaman, mungkin Anda sedikit lelah tinggal di kota besar, atau mungkin Anda kebetulan menemukan tawaran pekerjaan yang tepat...?"

"Ah," kata Hirayama, nadanya hangat karena nostalgia. "Mungkin itu semua. Saya lelah bekerja di Nagoya dan ingin kembali ke Fukui. Dan URALA sedang merekrut pekerja berpengalaman di tengah karier (mid-career). Belum lagi fakta bahwa mereka menyambut orang-orang tanpa pengalaman."

Aku menangkap apa yang dia katakan dan mencoba mengembangkannya.

"Anda bilang Anda mulai tanpa pengalaman, tetapi apakah Anda mengalami kesulitan sejak menjadi editor? Mungkin kesulitan memikirkan rencana artikel, hambatan menulis (writer's block), atau ketidaksepahaman dengan penulis lepas atau fotografer? Kurasa—semacam tantangan masa awal, kalau boleh memakai istilah itu? Atau mungkin semua hal itu terjadi di satu waktu atau waktu lainnya?"

"Semuanya, persis seperti yang kau katakan. Pada awalnya, saya agak kesulitan mencoba memahami segalanya. Itu benar-benar cukup sulit."

Hirayama tersenyum kecut, dan aku merasakan semangatku bangkit. Kami benar-benar berkomunikasi! Mungkin itu karena aku mampu membayangkan, dengan caraku sendiri, mentalitas staf URALA dan perasaan macam apa yang mereka curahkan untuk membuat majalah tersebut.

Aku ingin menjaga momentum ini saat beralih ke pertanyaan berikutnya.

"Lalu, apakah ada semacam momen spesifik ketika Anda merasa senang bekerja di URALA, atau apakah ada hal tertentu yang membuat Anda merasa sangat bangga bekerja untuk majalah berita dan budaya regional?"

"Regional, ya... Yah..." Hirayama terdiam lagi.

Bahkan editor yang biasa mewawancarai orang lain untuk pekerjaan mereka pun bisa kesulitan, kurasa. Jika menyangkut wawancara orang biasa, terkadang pewawancara perlu memberikan sedikit dorongan. Aku mencari-cari sesuatu untuk dikatakan yang akan membantunya mengungkapkan perasaannya.

"Kesan pribadiku adalah bahwa daya tarik majalah lokal berasal dari cara mereka meliput informasi lokal yang tidak diliput oleh penerbit besar di Tokyo, hal-hal yang tidak diketahui di tingkat nasional. Perusahaan-perusahaan yang aktif bekerja di komunitas lokal, toko kue kecil di lingkungan sekitar, dan sebagainya. Saat aku sedang meriset, aku terus menemukan berbagai tempat menarik di Fukui."

"Ya, itu benar." Hirayama terdengar lebih bersemangat sekarang. "Meskipun saya sudah melakukan pekerjaan ini selama bertahun-tahun, masih banyak yang tidak saya ketahui tentang daerah lokal kami..."

"Jadi, bisa dibilang, Fukui punya pesona yang menyaingi Tokyo, kan?"

"Ya. Saya benar-benar percaya itu."

"Secara spesifik, menurut Anda apa daya tarik sejati dari Fukui? Apakah kehangatan orang-orangnya?"

"Yah, setiap orang yang saya wawancarai memang baik hati."

Setelah itu, percakapan berlanjut dengan lancar, dan suasananya tetap santai sepanjang waktu. Aku akan mengajukan pertanyaan, lalu Hirayama akan menjawab.

"...?"

"...!"

"..., ...?"

"..."

"..., ..., ...?"

"..."

Kami benar-benar masuk ke dalam irama itu, dan aku akhirnya berbicara jauh lebih banyak daripada yang biasanya kulakukan. Aku benar-benar menikmati ini! pikirku, hampir menertawakan diri sendiri. Aku merasa seperti benar-benar seorang editor. Aku sudah ketularan virus editor!

◆◇◆

Sekitar satu jam berlalu, tapi rasanya seperti baru beberapa menit.

"Terima kasih banyak telah bersedia berbicara dengan saya hari ini." Aku membungkuk kepada Hirayama.

Meskipun itu adalah pengalaman peliputan pertamaku, kurasa aman untuk mengatakan bahwa itu sukses besar. Tentu saja ada perbedaan antara menjadi editor novel dan editor majalah, tapi aku merasa sedikit lebih percaya diri dengan kemampuanku untuk berbicara secara produktif dengan penulis.

Hirayama tersenyum. "Terima kasih, saya menikmati berbicara denganmu."

Saku yang mendengarkan di sampingku, bertepuk tangan dengan nakal. "Kerja bagus, Asuka. Luar biasa. Kau mengekspresikan dirimu dengan sangat baik."

"Terima kasih! Kurasa aku melakukannya dengan cukup baik juga."

Sang pemimpin redaksi akhirnya angkat bicara saat itu. "Oke, Chitose, giliranmu berikutnya."

Tidak ada komentar tentang wawancaraku. Sedikit mengecewakan, tapi mungkin dia menyimpannya untuk bagian akhir. Bagaimanapun, aku merasa jauh lebih ringan sekarang.

Pasti pekerjaan yang berat, menghadapi ketegangan seperti ini setiap hari. Aku mencuri pandang ke arah sang pemimpin redaksi. Melihat tatapan tajam dan serius di wajahnya, aku duduk lebih tegak.

"Baiklah," kata Saku, dan aku memastikan untuk kembali fokus. "Aku juga ingin mengajukan beberapa pertanyaan padamu."

"Tentu. Kurasa Nishino dan saya sudah berbicara cukup banyak. Kau mungkin kesulitan melanjutkan setelah itu."

Ya, kau bisa melihatnya seperti itu... Kupikir wawancara mendalamku adalah hal yang baik, tapi itu mungkin berdampak negatif pada giliran Saku... Aku sudah menanyakan begitu banyak pertanyaan, mungkin aku tidak menyisakan cukup banyak untuknya.

"Tidak, kurasa tidak apa-apa." Saku mengangkat bahu, lalu melanjutkan. "Nah, lalu kenapa Anda tetap bertahan bekerja sebagai editor majalah? Dari apa yang Anda katakan sebelumnya, kedengarannya ini pekerjaan yang sangat menuntut."

Aku terkejut dia mengajukan pertanyaan yang begitu berani. Kedengarannya hampir seperti dia bertanya kenapa dia tidak berhenti saja.

"Hmm, kenapa saya tetap bertahan? Itu pertanyaan yang sulit dijawab." Hirayama merenungkan hal itu sejenak.

Aku sempat bisa memancingnya di saat-saat seperti ini, tapi... Tapi Saku hanya mengamati dengan tenang, tampak rileks. Setelah sekitar sepuluh atau dua puluh detik, aku mulai merasa keheningan itu menyakitkan.

Apa yang harus kulakukan? Haruskah aku menyela dan membantu? Selagi aku gelisah dan menimbang-nimbang...

"... Ini tentang mempromosikan hal-hal yang saya yakini...", kata Hirayama pelan, terdengar terkejut dengan apa yang dia katakan. Kemudian kepalanya mendongak, matanya berbinar.

"Kalian tahu, kurasa itulah jawabannya! Pekerjaan ini adalah yang terbaik untuk mengarahkan orang-orang pada hal-hal yang penting bagi saya!"

Dia menepukkan tangannya ke meja dan mencondongkan tubuh ke depan.

"Kalian tahu kan bagaimana orang-orang menjadi sangat bersemangat dengan minat mereka, dan pada dasarnya terus-menerus mempostingnya di internet? Nah, pada dasarnya itulah yang kami lakukan! Dan saat kau bekerja sebagai editor untuk majalah seperti URALA, kau selalu menemukan hal-hal baru yang keren dan jatuh cinta pada hal-hal yang tidak diketahui kebanyakan orang. Aku bisa menyebarkan kabar tentang hal-hal yang membuatku bersemangat!"

Saku mulai tertawa. "Kedengarannya seperti Anda mencampuradukkan pekerjaan dan kesenangan."

"Ya! Tepat sekali!!!" Hirayama melanjutkan, suaranya dipenuhi kegembiraan. Dia telah menjadi orang yang berbeda. "Dan bukankah luar biasa bahwa ini benar-benar pekerjaan sungguhan?! Aku dibayar untuk pergi makan sesuatu yang luar biasa di restoran lalu memberi tahu semua orang: 'Hei! Makanan di sini enak sekali!' Dan rasanya seolah-olah semua keluhan Bos tidak pernah terjadi!"

"Aku akan mencoretmu dari artikel restoran karena fitnah," kata sang pemimpin redaksi, tapi dia terdengar geli.

"Yah, kalau Bos bersikap seperti itu, aku tidak akan membawakan Bos oleh-oleh lagi saat aku bepergian."

"Perusahaan kan sudah membayar untuk itu!"

"Baiklah kalau begitu," kata Saku, menahan tawa. "Apakah Anda punya anekdot menarik tentang mengunjungi restoran?"

"Hmm... Saya yakin saya punya, tapi sulit untuk memikirkannya saat ditanya mendadak."

Nada bicara Hirayama sudah benar-benar menjadi kasual sekarang. Selama wawancaraku, dia berbicara padaku dengan kaku, dalam perannya sebagai staf departemen editorial URALA. Tapi kepada Saku, dia mengobrol seolah dia adalah adik kelas di SMA yang sama.

Dan Saku terus mengamati Hirayama dengan tenang saat wanita itu mencoba menemukan kata-kata yang tepat. Untuk beberapa alasan, aku merasa aneh. Seolah aku telah menekan tombol yang salah. Sebelum aku bisa merapikan pikiranku, Hirayama berbicara lagi.

"Aku tidak punya anekdot khusus, tapi... saat aku meliput restoran di Fukui sini, aku sering ditraktir makan gratis. Maksudku, aku sudah mencoba membayar, tapi mereka selalu bilang, 'Tidak apa-apa, tidak apa-apa.' Jadi terkadang aku tidak perlu membayar sama sekali."

"Apakah hal seperti itu langka di industri ini?"

"Yah, kalau di Tokyo, aku dengar setelah foto diambil dan wawancara selesai, para editor akan langsung menyingkirkan piring mereka dan membayar tagihannya. Maksudku, pihak restoran sudah meluangkan waktu mereka untuk berbicara dengan editor. Mereka layak dibayar. Tapi di Fukui, mereka akan menawarkan hal-hal yang sama sekali tidak ada dalam jadwal wawancara. Mereka menyajikan apa pun yang menurut mereka akan kusukai. Dan jika makanannya dingin selama wawancara, mereka akan kembali ke dapur dan membuatkan yang baru!"

"Jadi, apa Kakak pernah meminta tambahan makanan atau layanan semacam itu?"

"Tidak, tidak pernah! Maksudku, mungkin mereka sekali atau dua kali memergokiku sedang meneteskan air liur melihat menu. Tapi aku tidak pernah, benar-benar tidak pernah memintanya!"

Semua orang pun tertawa bersama.

Suasananya begitu santai, penuh obrolan, dan menyenangkan... Sama sekali berbeda dengan sesi wawancaraku.

Saku, yang masih tertawa, bicara lagi. "Boleh aku bertanya hal yang serius sekarang?"

"Kita bahkan belum masuk ke bagian yang serius?!"

Hirayama ternyata adalah orang yang cukup ekspresif.

Saku dengan santai mengajukan pertanyaan berikutnya.

"Apa yang Kak Hirayama hargai saat menulis artikel untuk majalah? Atau menurut Kakak, apa yang membuat seorang penulis fitur dianggap baik?"

"Hmm... itu pertanyaan yang cukup tajam. Benar-benar bervariasi dari satu orang ke orang lain, seperti yang kukatakan tadi... Kurasa aku tidak bisa membuat pernyataan umum."

"Hanya pendapat Kakak saja sudah cukup."

"Kalau begitu, aku butuh waktu sebentar untuk berpikir."

Aku merasakan denyutan tajam di dadaku.

Hirayama kembali tenggelam dalam perenungan, sementara Saku menunggu dalam diam.

Kira-kira begini struktur organisasinya:

Tadi aku mengira wawancaraku mengalir begitu lancar, tapi yang ini benar-benar berbeda...

Dalam wawancara ini, ada jeda keheningan, dan terkadang percakapan seolah tersendat, tapi saat suasana mulai seru...

Hei, tolong beri tahu aku.

Kenapa tenggorokanku terasa terbakar? Kenapa dadaku terasa sesak?

"Begini," ucap Hirayama, sepertinya telah mengumpulkan pikirannya. "Untuk menjawab pertanyaan itu, kurasa sebaiknya kita bicara dulu tentang majalah seperti apa yang ingin dicapai URALA saat ini. Bos, tidak apa-apa?"

"Boleh saja."

Pemimpin redaksi terdengar seolah sudah menduga hal ini.

"Chitose," kata Hirayama, "saat kamu ingin mencari restoran atau pakaian tertentu atau buku atau semacamnya, apa yang kamu lakukan?"

"...Yah, kurasa aku akan mencarinya secara daring. Mungkin lewat ponsel saja."

"Dan bagaimana denganmu, Asuka?"

"Kurasa aku akan melakukan hal yang sama."

Aku tidak lantas memercayai semua yang kubaca di internet, tapi jika ingin mendapatkan informasi cepat, itulah cara tercepat untuk melakukannya.

"Benar," kata si pemimpin redaksi. "Mungkin sulit bagi kalian anak muda untuk membayangkannya, tapi dulu, kita tidak semua punya komputer di rumah. Kita tidak punya tablet, dan tidak semua orang punya ponsel di saku mereka. Majalah adalah cara terbaik dan tercepat untuk mendapatkan informasi."

Saku menimpali. "Kita juga tidak bisa sekadar melakukan pencarian cepat."

"Tepat. Jadi majalah adalah rujukan utama untuk informasi. Majalah fesyen untuk mereka yang ingin bergaya, majalah memasak untuk yang suka masak, pendakian gunung untuk tipe orang luar ruangan. Dan bagi mereka yang ingin tahu apa yang terjadi di Fukui, ada URALA. Jika kalian ingin mendapatkan info tentang sesuatu yang kalian minati, majalah adalah cara termudah."

Ya... Sulit membayangkan dunia tanpa internet...

Memang ada TV dan radio. Tapi kau harus menunggu hal yang kau minati itu diliput. Dan kecuali itu adalah fitur khusus, informasi yang bisa didapat mungkin akan sangat mendasar.

"Tapi saat ini, bahkan remaja SMA seperti kalian yang khusus datang untuk belajar tentang pekerjaan editor... kalian tetap melakukan pencarian internet dulu, kan? Itulah era tempat kita hidup sekarang. Kami punya situs web, Daily URALA, dan kami juga ada di media sosial. Kami ada di YouTube, kami tampil di situs ulasan dan blog... Sekarang ada ledakan informasi. Berbagi informasi pun jadi sangat mudah. Media cetak sering kali tertinggal jauh karena betapa cepatnya siklus media bekerja saat ini. Tentu saja, sebagai profesional, kami terus melakukan yang terbaik untuk menyediakan konten yang andal dan berkualitas tinggi, tapi banyak orang di luar sana sekarang berpendapat bahwa internet adalah satu-satunya yang kita butuhkan."

Ada kesedihan dalam suaranya, dan dalam benakku, aku melihat sebuah balon yang terlepas dan melayang tertiup angin.

"Tapi kembali ke poin awal. Di zaman modern ini, tujuan URALA adalah untuk menjadi evergreen. Informasi di internet diperbarui dengan cepat, jadi jika kami hanya fokus pada memperbarui informasi orang-orang, info kami akan kedaluwarsa dalam waktu singkat, bukan?"

"Jadi, kalau bicara soal majalah cetak...," pemimpin redaksi melanjutkan.

"...Kami bertujuan untuk tidak hanya menjadi kumpulan informasi yang berguna, tapi juga kumpulan bahan bacaan yang menarik."

Berbeda dari sebelumnya, matanya kini berbinar dengan semacam emosi saat dia berbicara.

Itu bukan sentimen nostalgia untuk era yang telah berlalu, melainkan kilatan tekad untuk berkontribusi pada masa kini.

"Seperti novel, seperti manga, seperti buku bergambar, seperti kumpulan puisi. Jika kalian menyukainya, kalian akan menaruhnya di rak buku dan menjaganya baik-baik. Lalu mungkin satu atau dua dekade kemudian, kalian mungkin tiba-tiba ingin mencari sesuatu dan membukanya lagi. Kami ingin menjadi majalah semacam itu."

Dia berhenti sejenak. Saat dia berbicara lagi, suaranya terdengar hampir seperti sedang menyatakan semacam sumpah pribadi.

"Kurasa akan luar biasa jika kita bisa mengabadikan potret urara... tentang kita. Tentang sejarah kita, budaya kita, kota-kota kita, dan orang-orang di Fukui sini, lalu mewariskan semuanya kepada generasi mendatang."

Jantungku berdegup kencang, dug, dug, dug.

Para editor ini...

Apakah mereka semua begitu bersemangat soal kata-kata dan cerita?

Apakah aku akan mampu bergabung dengan mereka dan menyamai tingkat dedikasi mereka?

"...Hah, bukankah aku terdengar keren?"

Pemimpin redaksi tersenyum sedikit canggung.

Cara bicaranya yang menggoda mengingatkanku pada seseorang. Aku tidak bisa menahan senyum kecil.

Hirayama juga menyeringai menggoda. "Pemimpin redaksi, apa Anda mabuk?"

"Hei, apa maksudmu?"

"Berpidato panjang lebar hanya karena ada gadis SMA yang manis di sini."

"Oh, diamlah. Sudah menjadi tugas orang tua untuk memberi ceramah pada kaum muda."

Dari percakapan antara keduanya, aku merasa seolah telah menangkap sekilas rasa percaya yang telah mereka bangun.

Hirayama mungkin bercanda, tapi dia sepertinya merasa puas bekerja di bawah pria ini.

Sejujurnya, aku juga sedikit iri.

Hirayama melanjutkan percakapan dengan kembali ke pembahasan tentang menulis.

"Seperti yang dikatakan pemimpin redaksi, URALA masa kini berfokus pada nilainya sebagai bahan bacaan. Meski begitu, majalah ini tetap dimaksudkan untuk bersifat informatif. Majalah, sebagai media, harus menyampaikan informasi sebanyak mungkin, dengan tulisan yang ringkas, akurat, dan mudah dimengerti. Ungkapan liris dan metafora, jenis yang digunakan dalam novel, tidak terlalu diapresiasi di sini. Tentu saja, beberapa penulis memang mengembangkan gaya pribadi yang banyak dicari. Beberapa editor mungkin berkata, 'Kami benar-benar butuh tulisan si A di halaman ini.' Tapi itu bicara secara umum."

"Hah," kata Saku. "Tapi itu terdengar bertolak belakang dengan apa yang bisa membuat sesuatu menarik untuk dibaca. Apa Kakak tidak khawatir artikel-artikelnya akan berakhir hambar?"

"Pertanyaan bagus." Hirayama mengangguk. "Kita perlu melihat artikel-artikel tersebut secara keseluruhan. Banyak penulis mampu menulis karya yang memikat dengan menjaga prosa mereka tetap tajam dan langsung pada poinnya, berfokus pada penyampaian info tersebut, sambil juga menciptakan citra yang hidup di kepala pembaca. Tapi itu adalah keterampilan yang cukup tingkat lanjut dan tidak mudah ditiru. Baiklah, mari kita pinggirkan itu untuk sekarang."

Setelah menyesap air, dia melanjutkan bicara.

"Kalau begitu, tulisan seperti apa yang bisa mengubah artikel informatif menjadi bahan bacaan yang menarik? Aku bisa memberimu pendapatku, dan jika kamu bertanya pada orang lain, mereka mungkin akan memberimu jawaban yang berbeda... Ngomong-ngomong, Chitose, menurutmu bagaimana?"

Mendapati pertanyaannya dipantulkan kembali padanya, Chitose berpikir sejenak. "Bagaimana dengan kedalaman informasinya? Hal-hal yang tidak bisa ditemukan melalui pencarian internet. Misalnya, jika meliput restoran ramen, Kakak bisa menulis tentang menunya, tapi Kakak juga bisa meliput persiapan dan metodologi memasak mereka."

"Yah, itu salah satu jawaban yang benar. Namun, saat ini, bahkan para YouTuber pun membahasnya dengan cukup mendetail. Dan itu lebih ke arah pencarian informasi, bukan membaca untuk nilai hiburan. Bagaimana menurutmu, Nishino?"

Aku mencoba mengungkapkan beberapa pemikiran yang muncul saat aku mendengarkan percakapan mereka tadi.

"Kurasa itu adalah upaya simbiosis bersama fotografi dan desain... Seorang desainer profesional menyusun halaman di sekitar foto-foto yang diambil oleh fotografer profesional, dan kemudian teks penulis dapat dibuat menarik secara visual berdasarkan fon dan tata letaknya. Itulah majalah— Oh."

Sambil berbicara, aku menyadari kesalahanku.

"Tidak apa-apa," Hirayama menenangkanku, tersenyum lembut. "Ya, hal-hal itu pasti sangat penting dalam membuat majalah kami menjadi bacaan yang menggembirakan. Bahkan kami para editor pun senang melihat halaman yang estetis dengan foto-foto yang hebat. Tapi seperti yang tampaknya kamu sadari sendiri, Nishino, konten aktual dari artikel tertulis adalah masalah yang agak berbeda."

Merasa malu, aku menunduk menatap meja.

Aku begitu terpaku pada ide tentang pengalaman membaca yang menarik sampai-sampai aku melupakan inti dari pertanyaan aslinya.

"Sedangkan untuk pendapatku," Hirayama melanjutkan.

"...Kurasa visi penulislah yang membedakannya."

Aku mengulanginya dalam benakku. Visi penulis.

Kata-kata itu samar-samar masuk akal, tapi aku tidak yakin aku memahaminya dengan baik.

Saku tetap diam, menunggu kelanjutannya.

"Seperti, pandangan individu mereka terhadap subjek tersebut, interpretasi mereka. Misalnya, bahkan jika kalian berdua pergi ke tempat yang sama untuk meliput artikel, mendengar hal yang sama persis dari orang yang sama... Kalian mungkin akan pulang dengan kesan yang berbeda, bukan? Kalian akan punya sudut pandang yang berbeda. Ada yang bilang pelaporan harus berupaya menghapus bias pribadi dan bertujuan untuk objektivitas total. Namun..." Pandangan Hirayama tidak goyah.

"Ambil contoh saat aku mengunjungi bengkel kerajinan kulit kecil setempat. Aku harus memutuskan apakah akan menyertakan deskripsi para perajin yang sedang menjahit kulit, apakah akan mengekspresikan dedikasi mereka pada keahlian mereka dan kerja tangan yang melelahkan—atau apakah akan mengabaikan hal-hal itu sebagai detail dan fokus pada hal lain untuk artikel itu sendiri."

"Dan ini contoh lainnya. Katakanlah aku meliput restoran ramen yang selalu tutup lebih awal dari jam operasional resminya. Bagaimana aku menyajikannya? Apakah aku bilang, 'Ini adalah pemilik restoran yang hanya percaya pada menyajikan mangkuk sebanyak yang bisa dia sajikan dengan kualitas sempurna'? Atau aku bilang, 'Siapa cepat, dia dapat, jadi pastikan kalian antre lebih awal!'?"

"Atau mungkin aku menyajikan destinasi wisata yang hanya bisa diakses dengan bus yang datang tiga jam sekali. Apakah aku menulis sesuatu tentang bagaimana akses ke lokasi tersebut sangat terbatas dan tidak nyaman? Atau apakah aku menekankan bagaimana hal itu menjaga tempat tersebut tetap tersembunyi, bagaimana kalian bisa melupakan kehidupan yang sibuk dan bersantai tanpa khawatir harus cepat sampai ke suatu tempat?"

"Adalah praktik umum untuk mengakhiri artikel dengan 'Silakan coba sendiri' atau 'Sangat direkomendasikan.' Tapi bagaimana jika kamu mengakhirinya dengan sudut pandangmu sendiri?"

Cara dia berbicara, seolah-olah inilah raison d’être-nya.

"Kurasa sudut pandang penulislah yang memperkaya majalah dan menjadikannya bahan bacaan yang sangat penting bagi orang-orang."

Kata-katanya meninggalkan kesan mendalam padaku.

Aku berharap bisa duduk tenang sejenak meresapi kata-kata itu.

"Terima kasih, itu sangat mencerahkan." Saku tersenyum.

"Kuharap itu jawaban yang berguna?" Bahu Hirayama berguncang sedikit, seolah dia merasa terhibur.

Dan akhirnya, aku memahami rasa sesak di dadaku itu.

Setelah itu, mereka berdua mendiskusikan berbagai hal.

Saku akan mengajukan pertanyaan, dan Hirayama akan menjawab.

"...?"

"...!"

"..., ...?"

"..."

"..., ..., ...?"

"..."

Seperti irama staccato.

Aku ragu aku akan bisa melupakan musim panas ini.

◆◇◆

"Yah, kerja bagus hari ini, kalian berdua."

Setelah wawancara Saku selesai, kami mengambil napas sejenak, dan pemimpin redaksi tersenyum.

"Kalian melakukannya dengan cukup baik untuk anak SMA yang melakukan wawancara pertama. Aku beri kalian nilai sempurna."

Kata-katanya terasa menyengat seperti jarum.

Gugup, aku menunduk menatap tanganku sendiri.

Seolah tidak menyadari, pemimpin redaksi melanjutkan.

"Tapi ini adalah pengalaman kerja kalian. Aku harus memberi tahu kalian bahwa tidak peduli seberapa puas kalian dengan halaman kalian sebagai editor, itu tidak akan dicetak sampai Pemred memberikan persetujuan. Aku tahu ini masih tahap awal bagi kalian berdua, tapi aku ingin kalian mengingat hal itu."

Itu... agak menyebalkan, pikirku, sambil mengertakkan gigi.

Tapi hasilnya berbicara sendiri.

Inilah dunia tempat Hirayama dan editor lainnya tinggal.

Tidak peduli seberapa besar kebanggaan yang mereka ambil dari pekerjaan mereka, tidak ada jaminan kata-kata mereka akan sampai ke mata pembaca.

Pemimpin redaksi menatap lurus ke arahku, pandangannya tajam. Ekspresinya tidak lagi setenang atau sejahil sebelumnya.

"Sekarang biarkan aku bertanya padamu, Asuka."

"...Iya?"

"Menurutmu mana yang lebih baik, wawancaramu atau wawancara Chitose?"

"..."

Meski aku sudah menduga dia akan bertanya, itu tetap menyakitkan.

Napasku menjadi dangkal, dan aku merasakan penyesalan yang pahit di perutku.

Di sampingku, Saku tiba-tiba tampak terkejut.

"Asuka... Maksudku, wawancara Nishino tadi..."

"Tunggu dulu. Aku bertanya pada Asuka." Pemimpin redaksi segera memotongnya.

Aku mengatupkan gigi rapat-rapat. "Tidak apa-apa, aku bisa menjawabnya."

Tiba-tiba, tenggorokanku terasa kering.

Tanganku gemetar saat memegang botol air plastik, dan aku mengepalkan tangan, mencoba menghentikannya.

Setidaknya, aku ingin menunjukkan integritas dan mengakui kesalahanku.

"Wawancara Chitose lebih baik."

Aku mengatakannya dengan gamblang.

Pemimpin redaksi tampak agak lega. "Dan bagaimana kamu sampai pada kesimpulan itu?"

"A-aku rasa Kak Hirayama tampak lebih antusias selama wawancara Chitose. Kurasa dia berhasil memancing lebih banyak hal darinya."

Itu adalah sesuatu yang samar-samar kusedari sebelum dia selesai.

Wawancaraku penuh dengan jawaban yang sopan, tapi percakapan dengan Saku menghasilkan jauh lebih banyak kepribadian.

Pemimpin redaksi mengerutkan kening tapi melanjutkan. "Dan apakah kamu tahu kenapa?"

Aku menggelengkan kepala, takut akan apa yang mungkin keluar jika aku bicara.

Aku telah memperhatikan tanya-jawab antara Hirayama dan Saku dari samping.

Aku menyadari ada yang berbeda.

Di tengah jalan, aku menjadi yakin bahwa aku telah gagal.

Tapi aku tidak bisa memastikan di bagian mana.

Aku telah menyiapkan pertanyaan-pertanyaanku dengan cermat. Mungkin riset-ku kurang, tapi aku tahu aku menghabiskan lebih banyak waktu untuk itu daripada Saku.

Aku merasa wawancaraku lebih lancar, lebih rapi entah bagaimana.

Aku sudah menjadi sombong... Aku seharusnya menjadi kakak kelas yang keren, kan? Mungkin itu tidak berjalan lancar karena aku seorang perempuan?

Mungkin Hirayama menyukai Saku, sebagai lawan jenis, dan itulah sebabnya dia lebih terbuka?

Aku ingin mengalihkan kesalahan dari ketidakmampuanku sendiri. Aku menginginkan alasan yang mudah. Jadi pikiran-pikiran buruk seperti itu mulai terlintas di benakku.

"Menurutmu bagaimana, Chitose?"

Bagus sekali. Orang terakhir yang aku ingin pemimpin redaksi tanyai.

"Asuka..." Saku menatapku, wajahnya berkerut pedih.

Kamu begitu baik dan luar biasa; teganya aku membuatmu memasang ekspresi seperti itu?

Si kakak kelas yang keren tidak punya pilihan selain berkata: "Iya, aku ingin tahu pendapatmu?"

Saku menatap bergantian antara aku dan pemimpin redaksi, lalu perlahan mulai bicara.

"Rasanya seolah kamulah yang lebih banyak bicara, Nishino. Bukan Kak Hirayama."

"Oh..."

Dan saat itulah kenyataan menghantamku.

"..."

Semuanya tiba-tiba masuk akal.

Benar... Ya, tentu saja.

Iya, tapi... Aku menggigit bibir.

Mendengar itu darinya...

Rasanya sakit.

"Tepat sekali." Pemimpin redaksi berbicara dengan tenang. "Ini mungkin terdengar agak kasar, tapi aku ingin kamu mendengarkan. Jika kamu adalah salah satu editor kami, Asuka, wawancara yang baru saja kamu lakukan itu akan ditolak. Aku akan memintamu melakukannya lagi. Dan jika kamu membantah, aku akan menggantimu dengan orang lain."

"...B-benar." Aku mengangguk, mati-matian menahan emosi yang bergejolak di dalam diriku.

"Aku ingin kamu memikirkan kembali pilihan-pilihanmu. Jika kamu menulis artikel berdasarkan wawancara itu, apa yang akan kamu tulis? Apakah sosok Kak Hirayama akan benar-benar menonjol?"

Aku tidak punya jawaban untuk diberikan, jadi aku hanya menunggu kelanjutannya.

"Setiap kali Kak Hirayama berhenti untuk berpikir, kamu menyela untuk membantunya, Asuka. 'Bagaimana kalau ini?' 'Ini yang kupikirkan.' 'Bukankah ini yang ingin Kakak katakan?' Kak Hirayama hanya mengikuti ke mana kamu membimbingnya. Tapi tahu tidak...

"...Itu bukan kata-kata Kak Hirayama."

Aku tiba-tiba teringat apa yang dikatakan Kak Hirayama.

"Ada risiko bahwa kita mungkin hanya fokus pada pengamatan kita sendiri yang bias."

Itu dalam konteks mencoba menulis dari ingatan tanpa merekam wawancara, tapi hasilnya sama dengan apa yang kulakukan.

Aku mampu memprediksi perasaan Kak Hirayama dan membimbingnya ke arah yang akan membuat wawancara berjalan lancar, pada dasarnya menyuapinya dialog yang kuinginkan agar sesuai dengan gambaran wawancara dalam kepalaku.

"Terima kasih! Kurasa aku melakukannya dengan cukup baik juga."

Aku begitu malu sampai ingin menghilang saat itu juga.

Aku sudah bertindak jauh, jauh melampaui batas.

Di bawah meja, aku mencengkeram rokku begitu erat hingga membuatnya kusut.

"Aku tidak menyalahkanmu untuk apa pun," kata si pemimpin redaksi dengan suara yang lebih lembut. "Itu adalah kesalahan yang cenderung dilakukan oleh editor baru, terutama mereka yang serius dan penuh gairah. Jelas sekali kamu sudah membaca URALA dari sampul ke sampul dan menyiapkan pertanyaanmu dengan cermat. Aku benar-benar bisa merasakan dedikasimu."

Aku mengangguk.

Pemimpin redaksi melanjutkan dengan tenang. "Jangan salah paham, bukannya pertanyaan dan gaya wawancara si muda Chitose ini jauh lebih baik darimu, Asuka."

Oh tidak.

Aku mungkin akan merasa lebih baik jika dia memberiku ceramah sederhana saja.

Tapi cara dia mencoba menenangkan ego bocah SMA malang yang datang untuk melihat mereka bekerja—itu membuatku merasa sepuluh kali lipat lebih buruk.

"Jadi pada akhirnya," kata pemimpin redaksi, memecah kabut pikiranku.

"...Jangan takut pada keheningan."

"Hah...?"

"Sama saja baik saat kamu mewawancarai seseorang atau bertemu dengan penulis. Momen-momen hening itu adalah saat pihak lain sedang mencari kata-kata yang tepat dalam diri mereka sendiri. Chitose menunggu. Itulah satu-satunya perbedaan, tapi itu adalah perbedaan yang sangat besar."

Hirayama terdiam lagi.

Bahkan editor yang mewawancarai orang untuk pekerjaan mereka pun mungkin kesulitan, kurasa.

Dalam hal mewawancarai masyarakat umum, terkadang pewawancara mungkin perlu memberi sedikit dorongan.

Aku mencari-cari sesuatu untuk dikatakan yang akan membantunya mengungkapkan perasaannya.

Benar. Itulah tepatnya yang kulakukan.

Alih-alih membantunya menemukan kata-kata yang tepat, aku malah menghalanginya.

Pemimpin redaksi menatap mataku lagi.

"Tidak peduli seberapa banyak kita bersiap sebelumnya, hal terbaik yang bisa kita lakukan adalah menahan diri dan menunggu terkadang. Mungkin sulit untuk dilakukan, tapi cobalah untuk menghargai momen-momen perenungan dalam diam itu. Pikirkan tentang jenis cerita yang akan muncul, jenis artikel yang akan kamu serahkan, umpan balik yang akan kamu dapatkan dari pembaca."

Dia berbicara padaku seperti seorang teman. Seperti ini hanyalah nasihat tetangga yang ramah.

"Begitulah cara kita harus melakukannya. Tugas kita adalah meneruskan kata-kata dan cerita yang jujur dari orang-orang."

Sentimen yang diarahkan padaku terasa jujur, hangat, dan baik.

"Terima kasih. Permisi, saya ingin ke kamar mandi sebentar."

Dan aku praktis melarikan diri dari ruangan itu.

◆◇◆

Dengan pelan dan hati-hati, kututup pintu ruangan itu. Lalu aku...

...Aku berlari.

Aku berlari dan berlari dan berlari.

Tahan. Jangan biarkan air mata jatuh.

Sedikit lagi, sedikit lagi, tahan, gertakkan gigi, belum saatnya, belum saatnya...

Aku berlari ke dalam bilik toilet yang tertutup dan mengunci pintunya.

"..."

Aku menutupi mulut dengan kedua tangan dan terisak.

"Guh... Gah..."

Betapa naifnya aku.

"Buku-buku yang kubaca sejauh ini, kata-katanya adalah segala hal yang digali seseorang dengan susah payah dari jiwa mereka dalam upaya untuk berbagi visi mereka dengan orang lain. Jika ada dunia di luar sana yang hanya bisa kutemukan dan kuungkapkan, maka aku merasa aku harus melakukannya."

Aku teringat kata-kata yang pernah kuucapkan pada Ayah.

Aku bicara besar sekali, padahal aku tidak tahu apa-apa soal itu.

Aku terus bicara soal menggali kata-kata. Menggali cerita. Berbagi visi seseorang.

Aku tidak tahu seberapa jauh perjalananku yang masih tersisa.

Aku tersandung tepat di ambang pintu. Tapi aku terlalu sombong bahkan untuk menyadari bahwa aku telah tersandung.

Ini adalah impianku. Apa aku benar-benar menganggapnya sesepele itu?

Apa aku sudah mempelajari sesuatu dari semua buku berharga yang menyelamatkan jiwaku?

Selama ini aku hanya menumpuk sekumpulan frasa yang indah, hal-hal di permukaan saja, tapi halaman-halaman di dalamnya semuanya kosong.

Aku... aku tidak berguna dalam hal ini.

Meski aku mencoba menahan isak tangisku, suaraku tetap keluar dengan serak.

Aku menyedot ingusku, air mata menetes di sela-sela jariku.

Gack. Ack. Aku terbatuk seolah sedang tercekik, dadaku terasa panas.

Aku tadinya percaya aku mampu melakukan yang lebih baik. Aku pikir aku telah melakukannya dengan baik, tapi aku salah.

"Kamu melakukannya dengan sangat baik, mengingat kamu masih di bangku SMA."

Itulah jenis kata-kata yang dengan mimpian kuharapkan.




Pemimpin redaksi itu mengatakan hal-hal baik tentang semangatku terhadap pekerjaan ini, tapi itu sama sekali tidak memberiku ketenangan saat ini.

Karena kamu... laki-laki yang kupuja... Laki-laki yang bilang dia ingin menjadi cahaya yang menerangi jalan di depan... Kamu tahu apa yang harus dilakukan tanpa perlu diajarkan.

Dia tahu cara menghindari jebakan yang menjeratku. ...Rasanya sangat menyebalkan. Aku benar-benar merasa sangat frustrasi!!!

Jika aku tidak mengajakmu ikut... Apakah aku akan merasa seburuk ini sekarang? Tidak. Aku tahu dengan kepastian mutlak bahwa itu tidak benar.

Rasa sakit ini tidak datang dari rasa malu karena telah mempermalukan diri sendiri di depanmu, atau dari kekhawatiran akan mengecewakanmu. Rasa sakit ini... membuatku menyadari betapa seriusnya aku sebenarnya menghadapi semua ini.

Aku sedang dihadapkan pada jurang lebar antara impianku dan tingkat kemampuanku saat ini. Ini mungkin pertama kalinya aku merasa begitu frustrasi atas sesuatu yang sangat berarti bagiku.

Aku sudah pandai belajar sejak kecil. Aku tidak pernah menjadi yang terbaik dalam olahraga, tapi aku selalu bisa menerima kekalahan yang adil. Aku tidak ikut klub olahraga apa pun di sekolah.

Jadi, aku belum pernah merasakan hal ini sebelumnya. Aku belum pernah merasa begitu kewalahan, dihadapkan oleh ketidakdewasaanku sendiri, benar-benar tersesat di jalan menuju masa depan yang kuinginkan. Mempertaruhkan segalanya untuk sesuatu yang tidak bisa kulepaskan begitu saja.

Aku takut. Aku memeluk diriku sendiri dan meremas lengan atasku erat-erat.

Sekarang aku mengerti mengapa Ayah begitu khawatir. Tak diragukan lagi, Ayah telah melihat begitu banyak orang mengejar mimpi mereka dan gagal—hati mereka hancur di tengah perjalanan, kecewa oleh kegagalan dan penyesalan yang berulang.

Bahkan jika aku berhasil menjadi editor... Mungkin buku-buku yang kukirimkan ke dunia dengan penuh percaya diri tidak akan laku sama sekali.

Mungkin aku akan diputus oleh penulis favoritku karena aku kurang berkemampuan. Mungkin aku akan berakhir merusak karier penulis yang brilian karena aku tidak mampu membimbing mereka dengan benar...

Selama aku terus melangkah di jalan ini... tidak akan ada tempat untuk lari dan bersembunyi.

Kudengar pintu terbuka lebar. Akhirnya, terdengar ketukan di pintu bilik toilet.

"Aku terkesan kau berhasil menahan diri untuk tidak menangis sampai kau meninggalkan ruangan. Aku sendiri tidak pernah bisa melakukannya."

Suara lembut yang menembus pintu bilik itu adalah milik Hirayama-san.

"Kau boleh tetap diam jika mau, tapi maukah kau membiarkanku bicara sebentar?"

Jika aku membuka mulut sedikit saja, itu akan berubah menjadi isakan. Tok, tok. Aku mengetukkan balasanku pada pintu.

"Terima kasih. Kau tahu, Nishino-san, aku benar-benar menghormatimu."

Pelukanku pada diriku sendiri mengendur. Itu bukan hal yang kuharap akan kudengar.

"Kau frustrasi dengan dirimu sendiri. Malu. Kau merasa menyedihkan. Dan kau merasa seolah tubuhmu akan hancur karena kau melakukan kesalahan. Benar, kan?"

Tok, aku merespons.

"Kurasa sekitar setahun setelah aku bergabung dengan perusahaan, aku merasa tertelan oleh perasaan-perasaan itu untuk pertama kalinya. Bahkan sebelum titik itu, segalanya terkadang terasa berat. Bosku saat itu sangatlah keras. Naskah-naskahku ditolak berulang kali. Aku harus menginap di departemen editorial, menulis dan menulis ulang semuanya sambil hampir menangis, tapi..."

Tok.

"Sejujurnya, dulu aku sering membuat alasan untuk diriku sendiri, berpikir bahwa aku tidak bisa berbuat apa-apa karena tidak punya pengalaman. Aku sudah mencoba yang terbaik dengan caraku sendiri, jadi orang-orang setidaknya harus menghargai itu, pikirku. Aku minum-minum, mengeluh kepada teman-temanku, dan berusaha melewati setiap hari."

Tok.

"Tapi kemudian suatu hari, aku mendapat kesempatan untuk meliput toko roti yang secara pribadi selalu ingin kutulis. Toko itu ada di lingkunganku, dijalankan oleh pasangan tua yang manis. Aku menyukai roti katsu babi mereka, roti ham dan telur mereka, roti kroket mereka, dan roti gulung mereka. Saat aku biasa mampir sebagai siswa SD, mereka sering menyelipkan beberapa roti yang tidak terjual hari itu untukku. Selama liburan musim panas, ibuku akan menyuruhku ke sana untuk membeli sarapan. Aku akan pergi tepat setelah melakukan senam pagi, dan aku benar-benar mulai menantikan senam itu karenanya."

Tok.

"Pada saat wawancara, mereka sudah pensiun, dan putra mereka telah mengambil alih toko, tapi aku sangat ingin menulis artikel yang bagus sebagai cara membalas semua kebaikan mereka. Ini agak menyedihkan untuk diakui, tapi kurasa itu adalah pertama kalinya sejak aku menjadi editor, aku benar-benar bersemangat menulis sebuah artikel. Selama wawancara, aku begitu terbawa suasana sampai aku bicara hingga mempermalukan diri sendiri. Aku menghabiskan waktu berjam-jam memilih foto, meminta desainer melakukan revisi berkali-kali, dan aku sangat rewel pada setiap kata. Aku percaya aku telah menciptakan artikel terbaik yang mungkin dibuat."

Tok.

"Setelah aku mengirimkan draf kasar untuk persetujuan mereka, putra pemilik toko menelepon Pemred. Beliau menyuruhku kembali ke toko roti bersamanya. Aku ingat dia tampak cukup tegas. Aku pergi mengenakan setelan rapi yang biasanya tidak kupakai. Ketika kami sampai di sana, sang putra sangat marah, dan dia menghardikku."

Tok.

"Dia bertanya padaku, 'Apakah toko ayahku yang kau maksudkan untuk ditulis ini?'"

...

"Visiku dikaburkan oleh ingatanku sendiri dan ikatan emosional sentimentalku. Aku fokus pada roti katsu babi, roti ham dan telur... Tapi itu semua adalah peninggalan masa lalu. Sang putra telah mengerahkan banyak upaya pada menu modern dan desain toko agar menarik bagi anak muda zaman sekarang. Semangat di balik toko roti itu telah diwariskan kepada sang putra, tapi itu telah berevolusi menjadi bentuk yang baru. Bahkan selama kunjunganku, aku tidak menyadari semua itu."

...

"Aku menangis tersedu-sedu di tempat, dan aku tidak bisa bicara. Pemred harus membungkuk dan meminta maaf atas namaku. Pada akhirnya, mereka memang mengizinkan kami memuat artikel tentang mereka, tapi hanya selama orang lain yang ditugaskan untuk meliputnya, dan artikel itu ditulis ulang sepenuhnya."

Tok.

"Aku masih sesekali bermimpi buruk tentang hal itu. Ini adalah pekerjaan di mana kau bisa dengan mudah berakhir menginjak-injak hal-hal yang kau cintai."

Tok.

"...Tetap saja. Justru karena penyesalan yang kurasakan hari itu, aku berhasil melangkah sejauh ini. Karena aku tidak bisa membiarkannya berakhir begitu saja. Suatu hari nanti, aku akan memperkenalkan toko roti favoritku lagi dengan cara yang terbaik. Aku akan menyebarkan kabarnya ke seluruh Fukui, mungkin ke seluruh dunia."

Tok, tok.

"Frustrasi memberi kita makan dalam pekerjaan ini. Tentu saja kita harus bangga dengan halaman dan artikel kita. Kita harus selalu memberikan segalanya. Tapi kita harus selalu berusaha untuk perbaikan. Selalu berpikir tentang apa yang bisa kita lakukan dengan lebih baik. Menit saat kau berhenti memedulikan hal-hal itu... kariermu sebagai editor akan mati di tengah jalan."

"Jadi," kata Hirayama-san.

"Aku menghormatimu, Nishino-san. Kau bahkan belum lulus SMA, apalagi mendapatkan pekerjaan, dan kau menangis seperti itu dan mencoba untuk tidak menunjukkannya kepada siapa pun. Kau punya penyesalan, dan kau merasakannya secara mendalam. Mungkin bukan tempatku untuk mengatakan ini, tapi menurutku kau mencapainya sepuluh tahun lebih cepat dariku. Selama kau mengingat air mata hari ini, kau pasti akan menjadi editor yang hebat."

Kata-katanya, kebaikannya, membuka aliran baru air mata yang hangat. Aku diberkati.

Dia tidak memiliki hubungan nyata dengan siswa SMA ini, tapi dia telah mengakui padaku bagian dari masa lalunya, sesuatu yang begitu berarti baginya, yang tidak pernah bisa dia lupakan. Bahkan pemimpin redaksi pun bisa saja menghaluskan segalanya dan menghindari masalah tersebut.

Aku tidak akan pernah melupakan ini, pikirku, sambil meletakkan tangan di atas jantungku. Aku menyeka air mataku, mencoba menjaga suaraku agar tidak gemetar, dan berkata:

"Baiklah!"

Tekad itu adalah untuk diriku di masa depan.

"Kami akan menunggu," kata Hirayama-san, dan aku mendengar langkah kakinya menjauh. Setelah memastikan aku sendirian, aku menarik napas dalam-dalam lagi.

"Aghhh!!!"

Aku menangis sampai suaraku pecah, dan hujan akhirnya berhenti.

◆◇◆

Setelah menenangkan diri, aku meninggalkan bilik, membasuh wajahku, dan keluar dari kamar mandi.

Sebagai hadiah kenang-kenangan, mereka menawari kami edisi lama majalah URALA, jadi aku memilih edisi khusus tentang novel, dan Saku memilih edisi khusus tentang ramen.

Pemimpin redaksi dan Ibu Hirayama datang untuk mengantar kami di depan pintu masuk.

Aku membungkukkan kepalaku lagi. "Terima kasih banyak untuk hari ini. Itu adalah pengalaman yang mencerahkan."

Suaraku serak karena menangis, tapi tidak ada yang menyebutkannya, yang justru terasa lebih memalukan. Di sampingku, Saku berkata, "Aku belajar banyak."

Pemimpin redaksi tersenyum hangat. Sikap tajam yang dia tunjukkan saat menunjukkan kesalahanku sudah hilang. "Asuka, kau berpikir untuk pergi ke Tokyo untuk kuliah dan mencari kerja, kan?"

"Benar!"

"Aku mungkin terdengar kasar, tapi aku punya kepercayaan diri pada kemampuanku menilai orang. Jika kau bisa terus melangkah dengan semangat yang kau miliki sekarang, kau akan baik-baik saja. Namun, aku ingin memintamu melakukan satu hal..."

Dia melanjutkan, tampak sedikit ragu.

"Aku tidak tahu apa yang akan terjadi dalam hidupmu mulai sekarang. Kau mungkin bisa mencapai impianmu dengan mudah, atau kau mungkin mengalami banyak kegagalan. Kau bahkan mungkin merasa sulit tinggal di Tokyo."

Dengan tepukan, pemimpin redaksi meletakkan satu tangan di bahuku dan satu lagi di bahu Saku.

"Di saat-saat seperti itu, jangan lupa bahwa kau selalu punya tempat untuk kembali di sini, di Fukui. Kau mungkin berpikir ini terlalu pedesaan, tapi akhir-akhir ini, semakin banyak anak muda di sini yang bersedia melakukan sesuatu yang berbeda, dan ini adalah tempat di mana kau bisa melakukan itu. Di sini, di URALA, kami tahu ini bukan sekadar kota yang membosankan."

Dia tersenyum dengan senyum kebanggaan kampung halaman yang bernuansa nostalgia.

"Jadi jangan berpikir jika kau gagal di Tokyo, semuanya berakhir. Jika kau merasa seperti menabrak jalan buntu, jangan menderita sendirian. Pulanglah saja. Urara... maksudku, kami akan menunggumu di sini." Pemimpin redaksi menggaruk pipinya dengan seringai tipe "Apakah aku baru saja mencoba terdengar keren tapi gagal?".

Hirayama-san mengangguk. "Jangan mencuri para pemuda itu."

"Mereka berdua terlihat seperti bisa mengungguli kinerjamu, Hirayama."

"Kalau begitu sikap Bos, lupakan saja aku akan menepati tenggat waktu itu."

"Kau harus benar-benar menepati tenggat waktumu sebelum kau bisa melontarkan ancaman itu!"

"Kau tahu, aku sempat berpikir untuk meminta Asuka menjadi model sampul URALA."

"...Hmm, itu bukan ide yang buruk."

"Aha! Sudah kuduga Bos punya motif tersembunyi!"

Menyaksikan pertukaran ini, aku dan Saku gemetar menahan tawa dalam diam. Setelah bercanda sebentar, pemimpin redaksi kembali serius.

"Asuka Nishino." Wajahnya melunak kembali menjadi senyum kekanak-kanakan itu. "Aku menantikan untuk bertemu denganmu sebagai sesama editor suatu hari nanti."

Dan dia mengulurkan tangannya ke arahku. Aku menjabatnya erat-erat dan bersumpah pada diriku sendiri bahwa aku akan berhasil, apa pun yang terjadi.

◆◇◆

Saat kami meninggalkan kantor URALA, kami menemukan langit sedang dihiasi guratan warna merah dan emas. Matahari terbenam itu begitu ajaib, aku merasa seolah akan terhisap ke dalamnya.

Mungkin karena tidak ada gedung tinggi yang menghalangi pandangan. Mungkin karena sawah-sawah di sekeliling kami.

Suara katak yang bersahut-sahutan, bagaikan gema musim panas. Hirayama-san mengantar kami sampai ke bundaran di depan Stasiun Fukui.

Kami menurunkan sepeda Saku dari minivan, menyampaikan rasa terima kasih kami, dan mengucapkan selamat tinggal. Mereka benar-benar menjaga kami sampai akhir.

Setelah kami melambaikan tangan sampai van itu menghilang dari pandangan, Saku menatapku. "Sekarang bagaimana, Asuka?"

Aku tersenyum sedikit saat menjawab. "Bagaimana kalau kita jalan-jalan sebentar?"

"Ide bagus. Badanku terasa kaku."

Kami mulai berjalan di sekitar area stasiun, tanpa tujuan tertentu di pikiran kami. Aku suka waktu seperti ini, saat hari sedang mengambang di ambang malam.

Sedikit demi sedikit, lampu-lampu menyala di distrik perbelanjaan, dan papan-papan reklame yang tertidur di siang hari mulai hidup dengan cahaya neon.

Tapi tidak ada yang bisa menandingi kemegahan Shinjuku yang memusingkan, tempat aku dan Saku juga pernah berjalan-jalan bersama.

Banyak toko di sini tetap tertutup, dan hanya ada beberapa orang di jalanan. Semua orang tampak terburu-buru untuk pulang, daripada menghabiskan waktu di sekitar stasiun.

Tapi aku merasa sentimentil, berpikir bahwa malam Fukui yang mengantuk ini benar-benar menyenangkan. Ada garis pemisah yang jelas antara siang dan malam. Kau bisa merasakan hari yang mulai memudar.

Sinyal penyeberangan berbunyi kicau. Dulu sinyal itu memainkan melodi berjudul "Toryanse". Itu melodi yang akrab, seperti lagu anak-anak. Sesuatu yang kau nyanyikan dengan polos saat masih kecil, tapi saat dewasa, ada sesuatu yang melankolis tentangnya.

Ketika aku mendengarnya di malam hari, dulu aku merasa seolah-olah aku mungkin akan tergelincir ke dunia yang berbeda. Aku dulu selalu terburu-buru ke seberang jalan.

Melihat ke sampingku, aku mendapati Saku tampaknya sedang tenggelam dalam pikirannya tentang sesuatu.

Terlepas dari apa yang dikatakan pemimpin redaksi... Pada saat itu, aku menyadari bahwa aku tidak pernah takut akan keheningan saat bersamamu.

Setelah melewati arkade Galleria Motomachi dan menyusuri gang yang sunyi...

"Asuka, lihat itu." Saku menunjuk ke depan.

Saat kami mendekat, aku melihat sebuah papan nama kecil yang dilukis tangan tergantung di lantai dasar sebuah gedung yang memiliki banyak tanda lampu neon untuk bar murah di lantai atasnya.

Kata "toko buku" tertulis di sebelah kata "HOSHIDO" dengan huruf alfabet, yang mungkin adalah nama tokonya.

Aku menatap Saku. "Apa yang dilakukan toko buku di tempat seperti ini?" Ini adalah distrik dengan semua bar dan tempat hiburan dewasa dan sebagainya.

"Aku juga tidak tahu sama sekali. Tapi aku pernah mendengar tentang kafe di sebelahnya, Kumagoro Cafe. Nanase pernah menyebutkannya sekali."

"...Apa yang harus kita lakukan? Aku agak ingin mampir."

"Ini bukan sepert Kabukicho. Tidak ada yang akan menarik kita di sini."

Aku mengangguk dan masuk ke dalam gedung. Di bagian dalam, tempat itu tampak seperti gedung lama dengan banyak penyewa.

Tempat itu bisa saja menjadi latar film horor, tapi aku sedikit lega saat melihat papan nama toko buku itu tergantung di langit-langit.

Kami melewati lift kuno dan masuk ke pintu toko yang sebenarnya.

"Wah...!"

Rasanya seperti toko barang antik misterius dari dongeng. Tidak terlalu banyak ruang rak horizontal, tapi tempat itu penuh sesak dengan buku, piringan hitam, CD, kaset, dan sebagainya.

Bagian dalamnya cukup redup, dengan hanya sedikit pencahayaan yang menerangi area tertentu, bagaikan titik pandu di dalam gua.

Di tengah toko terdapat konter besar yang membentang di sepanjang toko seperti semacam senja yang mengalir di antara siang dan malam. Dengan deretan kursi merah tua di konter, tempat itu lebih terlihat seperti bar daripada toko buku.

Apakah ini awal dari sebuah novel? Di penghujung liburan musim panasku, aku terperosok ke jalan buntu bersama teman masa kecilku.

Melirik ke belakang, aku melihat pintu masuknya tertutup, dan hanya ada pintu keluar yang terbuka lebar menuju entah ke mana. Kami berdua, bergandengan tangan, melakukan petualangan... Aku membiarkan diriku berfantasi.

Aku memusatkan telingaku dan mendengarkan. Kudengar lagu "Kudaranai Uta (Boring Song)" dari Bump of Chicken diputar dengan volume yang sangat rendah sehingga lebih seperti belaian pada gendang telingaku. Aku menyadari ini adalah tempat yang bagus.

"Selamat malam."

Saat aku sedang melihat-lihat toko, aku disapa oleh seorang wanita yang duduk di kursi dekat pintu masuk sambil membaca buku. Tidak ada pelanggan lain selain kami, jadi dia pasti bekerja di sini.

Rambutnya dipotong pendek sepertiku. Di balik kacamata berbingkai hitamnya, matanya yang sedikit sayu memancarkan aura ramah.

"Selamat malam," kataku. "Toko yang sangat indah."

Wanita itu dengan hati-hati meletakkan bukunya dan berkata, "Senang bertemu kalian. Saya Suzuki, pemilik toko ini."

"Aku tidak tahu ada toko buku di tempat seperti ini."

"Saya menjalankannya dengan laki-laki lain yang bertanggung jawab atas bagian musik, dan biasanya hanya buka sekitar dua hari seminggu. Saya juga biasanya tidak ada di sini pada jam segini. Hari ini pengecualian."

"Wah. Suasananya sangat kental."

"Awalnya, tempat ini adalah bar murah. Bahkan meja konternya pun sisa dari masa-masa itu."

"Oh, benar! Ya, itu masuk akal."

"Maaf," kata pemilik toko itu. "Kalau ada pelanggan masuk, saya selalu langsung mengajak mereka bicara. Apakah kalian ingin mengobrol? Jika ya, silakan melihat-lihat sambil kita bicara."

"Oh, tentu saja."

Tanpa kusadari, Saku sudah dengan cepat pergi ke bagian belakang dan sedang melihat piringan hitam serta kaset dengan rasa ingin tahu. Dia memang selalu menjalani hidup dengan kecepatannya sendiri, ya? pikirku sambil tersenyum kecut.

Saat aku melihat sekeliling toko lagi, aku memperhatikan beberapa novel yang juga kumiliki di rak buku di sisi lain, tapi semua yang ada di atas konter adalah buklet yang memiliki kesan buatan tangan.

Ketertarikanku mungkin terlihat jelas. Pemilik toko itu berseri-seri. "Kami terutama menjual buku bekas, beberapa buku baru, dan barang-barang terkait musik, tapi yang kami miliki di sini adalah apa yang disebut buku 'small press'."

"Small press...?" aku mengulangi, istilah itu asing bagiku.

Saku sepertinya juga tertarik. Dia berhenti melihat-lihat dan kembali ke sini.

"Sederhananya, itu adalah publikasi yang diproduksi secara independen oleh individu atau kelompok kecil. Itu termasuk zine dan dojinshi juga, dan ada juga beberapa novel yang saya edit sendiri secara pribadi."

"Anda mengedit novel?!"

Saat aku menaikkan suaraku, pemilik toko itu memiringkan kepalanya karena terkejut. "Apakah kau tertarik?"

Sambil mengangguk penuh semangat, aku memperkenalkan diriku secara singkat dan memberitahunya bahwa aku berencana pergi ke Tokyo untuk menjadi editor.

"Begitu ya. Nah, kalau kau mau, silakan duduk."

Kemudian pemiliknya, Suzuki-san, menceritakan kepada kami semua tentang bagaimana toko ini terbentuk.

...Rupanya, dia awalnya bekerja di sebuah studio desain. Setelah memiliki anak, dia memutuskan untuk menjadi desainer lepas agar dia bisa tetap bekerja sambil membesarkan anak-anaknya.

Karena itu saja tidak cukup baginya, dia mulai menulis artikel dan akhirnya mulai menangani perencanaan serta penyuntingan.

Sekitar waktu itu, dia mulai menyebut dirinya sebagai "editor yang mencintai buku" dan mengadakan acara yang mempertemukan orang-orang melalui kecintaan yang sama terhadap kata-kata tertulis. Dia memulai toko ini atas kemauannya sendiri, berpikir akan menyenangkan memiliki sesuatu seperti toko buku bekas dan ruang penyuntingan.

Setelah menyelesaikan penjelasan singkatnya, Suzuki tersenyum nostalgia.

"Yang paling mengejutkanku saat aku membuka HOSHIDO adalah tempat ini menjadi titik kumpul tidak hanya bagi orang-orang yang sekadar menyukai buku, tapi juga bagi penulis novel, fotografer, dan seniman."

Di sampingku, Saku angkat bicara dengan rasa ingin tahu. "Maksud Anda, secara profesional?"

Suzuki perlahan menggelengkan kepalanya. "Beberapa melakukannya secara profesional, tapi banyak yang melakukannya sebagai hobi, atau sedang aktif mencoba menjadi profesional.

Bahkan di Fukui, banyak orang memiliki keinginan untuk mengekspresikan diri. Aku ingin memfasilitasi hal itu. Itulah sebabnya aku mulai menyunting karya orang lain."

Aku punya pertanyaan. "Jadi, apakah Anda benar-benar telah menerbitkan novel apa pun?"

Suzuki mengambil sebuah buku tebal berwarna cerah. "Hanya dengan small press saya. Misalnya, ini dibawakan kepada kami oleh seorang penulis yang sudah sangat tua yang mengatakan dia ingin menulis novel di sisa tahun-tahun hidupnya dan meninggalkan sesuatu. Kami berdua melewati revisi demi revisi sampai akhirnya selesai.

"Namun," lanjutnya. "Ini cerita yang agak sedih, tapi saat bukunya akhirnya terbit, penulisnya sudah berada di rumah sakit. Beliau meninggal dunia seminggu setelah saya mengantarkannya."

"Oh..."

Suzuki-san tersenyum lembut melihat reaksiku.

"Tapi aku masih ingat apa yang beliau katakan di ruang rumah sakit itu, sambil memegang novelnya di tangannya. Beliau memiliki kegembiraan kekanak-kanakan itu. 'Selama ini ada di dunia, aku tidak punya penyesalan.' Ketika aku bertemu dengannya nanti, istrinya juga berkata, 'Di akhir hidupnya, dia tidak membicarakan apa pun selain buku ini. Terima kasih padamu, kurasa dia bisa memulai perjalanannya sendiri menuju akhir tanpa penyesalan apa pun.' Istrinya benar-benar bahagia."

Saat aku membayangkan percakapan itu, mataku mulai terasa perih.

Saat aku berbicara berikutnya, itu adalah pendapat jujurku. "Ini mungkin terdengar basi, tapi... menurutku apa yang Anda lakukan itu luar biasa. Sejujurnya, aku berpikir satu-satunya cara untuk menjadi editor adalah pindah ke Tokyo. Tapi bahkan di Fukui, ada orang-orang yang bekerja keras untuk mengeluarkan cerita orang lain ke dunia."

Suzuki tampak agak malu. "Dibandingkan dengan penerbit tradisional, apa yang kami lakukan sangat berskala kecil. Tapi aku percaya bahwa menerbitkan buku bukan hanya tentang menjangkau pembaca. Ini tentang berbagi bagian dari jiwa sang penulis."

"Jiwa sang penulis..."

"Contoh yang baru saja saya berikan relatif ekstrem, tapi sekadar pengalaman membuat buku benar-benar bisa memberimu alasan untuk terus melangkah di masa tuamu. Kau akhirnya bisa mengekspresikan bagian dari dirimu yang kau rasa tidak ada yang mengerti, dan menjadikan rasa sakit serta perjuanganmu menjadi sebuah cerita. Lalu kau akhirnya bisa melepaskannya. Tentu saja, ada juga kemungkinan kau akan menemukan sesuatu yang benar-benar baru dan tidak terduga juga."

Menerbitkan sebuah buku memiliki makna di dalamnya sendiri. Cara berpikir Suzuki-san lambat laun mulai masuk akal. Menenun kehidupan dan jiwa seseorang ke dalam kumpulan kata-kata—mungkin itu juga merupakan bagian dari pekerjaan seorang editor.

Suzuki-san melanjutkan, pandangannya menerawang jauh.

"Selain itu, kehidupan seorang penulis menjadi awet dalam buku-buku yang mereka ciptakan. Bagaimana mereka tumbuh besar, orang-orang seperti apa yang mereka temui, pengalaman yang mereka miliki. Apa yang mereka anggap indah. Apa yang membuat mereka menangis. Warna langit favorit mereka. Musim-musim dan kenangan yang mereka hargai. Orang-orang yang mereka cintai. Bahkan dalam fiksi, terkadang aku sedang membaca, dan aku membalik halaman, dan sebuah kalimat menarik perhatianku, dan aku merasa seperti mendapatkan kilasan kehidupan batin penulis dari balik halaman tersebut. Jadi..."

Suzuki-san mendekap buku karya mendiang penulis itu seolah-olah itu adalah salah satu anaknya sendiri.

"Meskipun sedih, ada juga penghiburan. Kau lihat, dia masih ada di sini."

Dadaku sesak. Aku tidak bisa benar-benar mengatakan sesuatu yang berarti tentang penulis buku yang bahkan belum pernah kubaca, orang yang belum pernah kutemui.

Tapi suatu hari nanti. Aku ingin menciptakan buku seperti ini. Berbagi jiwa. Betapa berharganya hal itu nantinya!

Entah kenapa, aku tiba-tiba ingin mencurahkan isi hatiku kepada orang ini tentang kejadian hari ini—yah, terus terang saja, tentang rasa frustrasi dan penyesalan yang kualami.

"Anu..."

Aku baru saja akan mulai, tapi kemudian aku terdiam. Aku mendapati diriku melirik... padamu, temanku.

Kamu sudah melihat sisi burukku itu, tapi aku tidak ingin memperlihatkannya lebih jauh lagi. Aku memilin-milin lipatan rokku...

"Asuka."

Kamu menyebut namaku dengan suara lembut, seolah-olah kamu baru saja memahami sesuatu melalui intuisimu.

"Maaf. Apakah kau keberatan jika aku istirahat sebentar dan mencari udara segar?"

"Eh...?"

"Mungkin karena aku sudah duduk seharian, badanku terasa sangat kaku."

Aku mengangguk dengan bodoh, dan Saku dengan sopan pamit sebelum pergi. Saat aku melihatnya pergi, aku merasa malu, seolah Saku baru saja membaca pikiranku.

Suzuki-san, dengan tangan terlipat di pangkuannya, tersenyum kecil.

"Kau punya teman yang sangat baik di sana."

"...Iya. Aku tahu."

Suzuki-san melanjutkan. "Jadi, sepertinya kau punya sesuatu yang ingin kau bicarakan?"

Dengan anggukan kecil, aku pun menceritakan semua hal yang terjadi di URALA kepada Suzuki-san.

...Setelah menumpahkan semuanya, aku menunduk dan berkata pelan:

"Aku merasa agak menyedihkan karena mengira diriku lebih hebat dari kenyataannya."

Aku sudah menerima kegagalanku.

Seperti yang dikatakan Kak Hirayama, aku yakin pengalaman ini akan membantuku suatu hari nanti.

Namun, jarak antara aku dan impian yang kuhadapi mulai tampak kabur, seperti fatamorgana panas yang tak pasti di penghujung musim panas. Impian itu seolah menyelinap dari genggamanku.

Jika aku terus mengejarnya sampai akhir, apakah aku benar-benar akan mencapainya?

Kurasa aku sedang menutup mata terhadap kenyataan, persis seperti yang diperingatkan Ayah padaku.

Saat aku sedang merenung, Bu Suzuki, yang sejak tadi mendengarkanku sambil mengangguk paham, memberikan senyum lembut.

"Jika memang ada yang namanya bakat editor, menurutmu apa itu sebenarnya, Nona Nishino?"

Aku ragu sejenak sebelum menjawab. "Yah, untuk editor novel, kurasa memiliki mata untuk menemukan cerita yang bagus."

"Dan apa itu cerita yang bagus?"

"Hah...?"

Selagi aku duduk dengan bingung, Bu Suzuki melanjutkan dengan binar di matanya.

"Ini mungkin terdengar jelas, tapi apa yang menurutku cerita bagus belum tentu menjadi cerita bagus bagimu, bukan? Buku yang kau rasa telah mengubah hidupmu mungkin hanya memberi sedikit atau bahkan tidak ada dampak bagi orang lain. Bagian mereka, itu mungkin hanya sekumpulan kata di atas kertas."

Itu benar, pikirku.

Sebagai contoh, bukan hal aneh bagi Saku untuk merasa bahwa novel yang kurekomendasikan tidak benar-benar beresonansi dengannya.

Sambil menatap terbitan pers kecil di atas konter, Bu Suzuki berbicara lagi.

"Mungkin tidak ada satu pun cerita yang akan beresonansi secara merata kepada semua orang. Setidaknya, aku belum menemukannya. Lagi pula, apakah kami para editor benar-benar berurusan dengan hal mutlak seperti itu?"

Setelah itu, dia terdiam, tampak malu karena suatu alasan.

"...Ini semua tentang sebuah perspektif tunggal."

Dan dia menatap tepat di mataku.

"Sebuah... perspektif tunggal?"

"'Jika aku tidak membuat cerita ini menjadi buku, ia mungkin akan terkubur.' Atau 'Hanya aku yang menyadari pesona penulis ini dan akulah satu-satunya orang di dunia yang bisa menyampaikannya kepada orang-orang.' Atau 'Aku harus melakukannya. Tidak ada orang lain.'

"Jadi," ucap Bu Suzuki sambil menurunkan pandangannya dengan lembut.

"Jika ada satu bakat yang dibutuhkan seseorang untuk menjadi editor, itu adalah kemampuan untuk memegang teguh perspektif tunggal tersebut."

Rasanya seperti dia sedang menawariku payung di tengah hujan deras.

"Perspektif tunggal yang kau pegang erat itu, Nona Nishino... aku juga bisa merasakannya."

Aku meletakkan tangan di atas dadaku.

Seolah-olah dia memberitahuku... bahwa aku baik-baik saja apa adanya.

Seperti sebuah tepukan di punggung. Sebuah kepastian bahwa cara berpikirku tidak salah.

Aku mengangguk berkali-kali, menahan isakan kecil yang lemah.

◆◇◆

Ketika Saku muncul kembali di saat yang tepat, Bu Suzuki tiba-tiba teringat sesuatu.

"Ngomong-ngomong, kami akan tutup dalam beberapa tahun ke depan."

"Hah...?"

"Ini bagian dari proyek pembangunan kembali di sekitar stasiun. Kurasa beberapa toko lain di sekitar sini juga akan ditutup."

"A... aku mengerti..."

Kurasa kemajuan memang tidak bisa dilawan. Tapi hal itu membuatku makin bersyukur karena kami sempat mampir ke toko ini.

Setiap kata yang terucap di sini diresapi dengan kedamaian buaian, dan aku bisa melihat prinsip yang tak tergoyahkan di balik kebijakannya. Hanya dari percakapan singkat kami, aku benar-benar menghormati Bu Suzuki dan apa yang dia lakukan.

Jadi kelak, saat aku menjadi editor, aku ingin mengunjungi toko ini lagi, dibimbing oleh kenanganku.

Mungkin agak tidak sopan bagiku untuk datang dan menceritakan tentang buku-buku yang kukerjakan padanya seolah dia adalah mentorku, tapi...

Menyadari kekecewaan di wajahku, Bu Suzuki berkata, "Oh, jangan memasang wajah seperti itu.

"Tempat ini hanyalah jenis buku lain yang telah kuedit menjadi satu."

Angin malam berembus melalui pintu yang terbuka, dan halaman-halaman terbitan pers kecil di atas konter pun berkibar.

"Begitu banyak orang mengunjungi toko buku bekas kecil di pedesaan ini dalam waktu singkat ia dibuka, dan meninggalkan berbagai macam cerita tentang hidup mereka. Ada seorang pemuda yang bercita-cita menjadi pemain drum Jepang profesional. Seorang fotografer yang mencoba menangkap kesannya sendiri tentang Fukui. Seorang mantan pegawai negeri yang datang dari luar prefektur dan mulai berlatih sebagai perajin pernis. Seorang gadis yang bercita-cita menjadi editor, dan anak laki-laki yang memperhatikannya dari samping... Tidakkah menurutmu itu seperti sebuah novel? Tempat ini telah menjadi halaman kosong bagiku untuk menuliskan mereka semua.”

“Jadi,” lanjut Suzuki-sensei.

"Aku tidak merasa sedih sama sekali. Aku percaya bahwa pertemuan dan cerita yang lahir di sini akan terus tertulis di hati semua orang bahkan setelah bukunya ditutup."

Kata-katanya meresap ke dalam jiwaku.

Anehnya, aku tiba-tiba merasa ingin menangis tersedu-sedu.

Aku menatap Saku, yang mendengarkan dengan penuh perhatian di sampingku.

Cerita akan terus berlanjut bahkan setelah bukunya ditutup.

Bahkan setelah aku pergi ke Tokyo, kamu akan terus hidup di kota ini.

Ceritamu akan berlanjut. Tapi nama Asuka Nishino akan menghilang dari halaman-halamannya.

"Tidak apa-apa."

Bu Suzuki sepertinya membaca emosiku.

"Aku sedang mengerjakan buku yang benar-benar baru. Sampai jumpa di cerita berikutnya."

Ah. Benar.

Aku meletakkan tangan di dadaku.

Bukan hanya ceritamu yang akan berlanjut.

Aku harus menulis ceritaku sendiri.

Selama sebagian darimu tetap bersamaku.

Cerita kita tidak akan pernah benar-benar berakhir.

Setelah itu, kami bertiga berbincang sejenak.

Lalu kami meninggalkan toko buku tua yang misterius itu.

◆◇◆

Di luar, hari sudah benar-benar gelap.

Ini adalah hari yang memuaskan, antara pengalamanku di URALA dan waktuku di HOSHIDO.

Aku yakin aku akan sering memikirkan keduanya di masa depan.

Saat itu bulan Agustus. Liburan musim panas terakhir bagi siswa kelas tiga SMA.

Di penghujung hari, aku telah bertemu dengan orang-orang hebat dan menemukan cerita-cerita yang akan menetap di hatiku selamanya.

Namun, hampir tanpa sadar, aku mengembuskan napas lega.

...Aku bersyukur hal ini terjadi sekarang.

Bagaimana jika ini terjadi di bulan Juni? Di tengah kebingungan menentukan jalur karier?

Aku mungkin akan dengan mudah berkompromi dengan impian asliku, berpikir bahwa hidup sebagai editor di Fukui ternyata bukan ide yang buruk.

Yah, kata "berkompromi" itu—aku tidak mengatakan bahwa orang-orang yang menjadi editor di Fukui itu berkompromi.

Malah, justru sebaliknya.

Aku tadinya mengira hanya bisa mewujudkan impianku menjadi editor dengan pindah ke Tokyo, tapi ada orang-orang di sini, di tempat aku lahir dan dibesarkan, yang mendekati cerita dengan gairah, keterusterangan, dan ketulusan yang sama besarnya. Cara hidup mereka terasa sangat keren bagiku.

Meskipun impianku seharusnya masih berada di Tokyo, aku terus memikirkan berbagai kemungkinan.

Hanya untuk sesaat, aku mempertimbangkannya.

...Jika aku tetap di Fukui, aku mungkin bisa tetap berada di sisimu sambil tetap mencicipi tepian impianku.

Tapi...

Motivasilu di sana akan benar-benar berbeda dari pemimpin redaksi, dari Kak Hirayama, dan Bu Suzuki, yang memilih Fukui atas kehendak mereka sendiri dan memutuskan untuk hidup di sini sebagai editor.

Aku yakin Ayah akan setuju. Dan aku tidak perlu jauh darimu. Di saat yang sama, aku bisa menjaga impianku tetap hidup dalam beberapa bentuk.

Itu akan menjadi sebuah kompromi yang dicapai setelah berdamai dengan kenyataan tertentu.

Tetapi jika aku membuat keputusan berdasarkan alasan-alasan itu, aku tidak akan bisa menjalani hidupku dan bangga dengan pekerjaan yang kulakukan, seperti orang-orang yang kutemui hari ini.

Jadi, aku bersyukur hari ini terjadi.

Aku meregangkan tubuh, dan saat itulah perutku keroncongan.

Saku, yang berjalan di sampingku, tertawa terbahak-bahak. "Sepertinya kamu lapar. Ayo kita cari sesuatu untuk dimakan?"

Aku menggembungkan pipiku. "Bukankah lebih sopan bagi seorang pria untuk pura-pura tidak mendengar perut seorang gadis keroncongan?"

"Kamu sudah bekerja keras hari ini. Aku tidak terkejut kamu lapar."

"Hah?"

Aku terperangah dengan apa yang dia katakan barusan, tapi Saku melanjutkan dengan santai. "Kuharap kamu tidak salah paham, tapi kamu dan aku hampir tidak saling bicara hari ini, bukan?"

Hmm. Aku mengingat kembali. Ya. Kami memang hampir tidak mengobrol.

"Lihat?" Saku mengedikkan bahu. "Biasanya, kita mengobrol panjang lebar. Tapi hari ini, saat aku melihatmu, aku terus berpikir... 'Wah, aku sama sekali tidak ada di hati Asuka sekarang.'"

"Itu... tidak benar..."

Aku mengingat kembali kapan aku memikirkanmu, sebagai dirimu.

Pertama kali adalah setelah wawancara kami di URALA.

Kedua kalinya adalah setelah aku mendengar bahwa HOSHIDO akhirnya akan menghilang.

Huh, pikirku.

Hanya dalam konteks pekerjaanku sebagai editor.

Padahal belakangan ini, aku memikirkanmu tidak peduli apa pun yang sedang terjadi.

Saku melanjutkan dengan usil.

"Aku tidak bermaksud mengatakannya dengan cara yang sepele. Aku tidak sedang bersikap seperti, 'Oh, hik-hik, Asuka mengabaikanku seharian.' Hanya saja kamu sedang sangat fokus. Mendengarkan, belajar, menyerap semua yang kamu bisa. Sedangkan aku, aku tidak tahu apa yang kuinginkan untuk masa depanku. Hari ini, kamu... berkilau. Benar-benar cantik."

Kata-katanya membuatku sangat malu, dan aku perlu mengalihkan pembicaraan.

"Kamu bercanda? Aku sangat payah dan ceroboh hari ini."

"Itu adalah sisi lain dari gairah. Aku sendiri dalam suasana perjalanan belajar yang santai. Aku tidak menganggapnya serius, dan aku kebetulan menemukan jawaban yang benar. Lain kali, Asuka, kamu akan meninggalkanku jauh lebih jauh lagi di belakang."

"...Boleh aku tanya satu hal?" Aku menyadari nada kerinduan dalam suaranya, dan hal itu membuatku berani. "Kenapa kamu ikut denganku?"

Aku memaksudkannya sebagai pertanyaan santai. Tapi tidak seperti biasanya, wajah Saku memerah, pandangannya melayang, lalu dia menyeringai, seolah ingin mengelak.

"...Sudah kubilang. Aku tertarik, sedikit."

"Hei, jangan menghindar dari subjeknya."

"Kurasa sopan santun bagi seorang wanita adalah tidak mengorek dalam situasi seperti ini, kan?"

"Hah?"

"Tolong, berhenti menatapku."

Aku tidak melakukannya. Saku menghela napas dan bergumam pada dirinya sendiri.

"Larut malam, mendengarkan radio. Menulis surat yang tidak ditujukan kepada siapa pun."

"Maaf...?"

Kata-kata itu—seolah-olah dia telah membaca jiwaku. Jantungku berdetak lebih kencang.

Saku melanjutkan, sepertinya tidak menyadari reaksiku.

"Musim panas ini, segala macam emosi telah mengkristal di dalam diriku. Aku merasa... sedikit kosong. Seperti sebotol Ramune yang sudah kehilangan sodanya. Masih manis, tapi ada sesuatu yang kurang..."

Apakah ini sinyal marabahayamu?

Jika demikian, setidaknya aku ingin menyamakan frekuensiku denganmu.

"Hee-hee, apakah ini saatnya untuk mendiskusikan jalur kariermu lagi? Sudah lama ya."

Tanpa kusadari, aku mengucapkan kata-kata yang mulai terasa familier.

Saku mengacak-acak rambutnya, memalingkan muka.

"Mengganggu sekali rasanya memiliki ruang kosong itu di hatiku. Bagaimana aku mengisinya? Dengan bisbol? Dengan belajar? Cinta dan persahabatan, meski terdengar klise? Atau...?"

"...Atau menulis ceritamu sendiri yang benar-benar baru?"

Aku memutar tombol radio itu dengan hati-hati, dan setelah bunyi statis singkat, suaramu terdengar lantang dan jelas.

"Kamu dramatis sekali, Asuka."

"Yah, kamu sendiri pria yang dramatis."

Kami melangkah setengah langkah lebih dekat satu sama lain dan menatap langit bertabur bintang.

Di mana pesawat kertas milikku sekarang?

Melayang dengan mulus?

Atau berkibar jatuh?

Seandainya permintaanku bisa terkabul, pikirku.

Maka aku berharap orang yang membukanya suatu hari nanti adalah... kamu, sebagai orang dewasa.

Dan aku berharap aku bisa membacanya, sebagai orang dewasa.

...Mungkin, di tengah malam di penghujung musim panas, saat aku rindu mendengar suara seseorang...

Tok. Dua anak SMA akan mengetuk jendela.

Aku berharap... aku berharap cerita kita akan terus berlanjut.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close