NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Danjjo Yuujo ga Seiritsu (Iya Shinai?) Volume 12 Chapter 3

 Penerjemah: Nobu

Proffreader: Nobu


Chapter 3

“Si Penakut”

♣♣♣

     Liburan musim dingin telah usai, dan kami pun memasuki periode akhir kehidupan SMA.

     Para siswa kelas tiga yang fokus pada ujian masuk perguruan tinggi menjalani simulasi ujian hampir setiap hari. Aku sendiri terus-menerus mengerjakan soal-soal tahun sebelumnya, bertekad untuk lulus dan masuk ke universitas yang sama dengan Tenma-kun.

     Suatu waktu saat istirahat makan siang.

     Aku sedang diajari belajar oleh Enomoto-san, sambil melihat hasil simulasi ujianku.

     "Ini. Yuu-kun, kamu tersangkut di sini lagi."

     "Ah, seriusan..."

     "Sekilas memang terlihat seperti rumus yang berbeda, padahal isinya sama, lho."

     "Umm. Aku benar-benar tidak mengerti yang ini..."

     Bukankah terlalu tidak masuk akal jika pelajaran Matematika menuntut kemampuan memahami bacaan?

     Saat aku sedang kebingungan, Shiroyama-san, yang sedang menyirami penanam LED di seberang sana, menyemangatiku.

     ​"Semangat, Yuu-senpai!"

     "Terima kasih."

     Sungguh anak yang baik....

     Dengan otak yang kelelahan karena persiapan ujian, hanya dengan ini saja Shiroyama-san sudah terlihat seperti seorang dewi bagiku.

     Kemudian, pintu ruang Sains terbuka dan Mera-san kembali. Rupanya, dia baru saja selesai mengurus petak bunga di luar.

     Sambil menggosok-gosok tangan dan bergegas menuju ke bawah pemanas ruangan, dia langsung berteriak begitu membuka mulut.

     "Aduh, dingin! Menyuruhku menyiram di luar pada hari sedingin ini sungguh kejam, tahu! Belum lagi kamu memberi perintah tentang suhu air juga!"

     "Terima kasih, Mera-san."

     "Senpai, sungguh! Kamu sama sekali tidak punya rasa hormat kepadaku, ya!?"

     "Mana mungkin ada hal seperti itu sejak awal...."

     Ugh.

     Aku bersyukur pekerjaannya selalu dilakukan dengan cermat, tapi mendengarkan keluhan seperti ini setiap kali dia selesai bekerja sungguh melelahkan mental. Saku-neesan memang hebat karena bisa mengendalikan Mera-san. Meskipun urusan asmaranya agak kacau, sebagai manajer, dia luar biasa. Yah, aku sendiri juga tak berhak menghakimi...

     Mera-san, yang baru saja menerima penghangat saku dari Shiroyama-san, berkata dengan bangga,

     "Lagi pula, kamu mengerti posisiku, kan? Masa depan bunga-bunga kesayangan Senpai bisa berakhir tragis hanya karena satu keputusanku, lho? Kamu sadar akan hal itu?"

     ".............."

     Ancaman terselubung dalam kata-katanya itu.

     Memang benar, saat ini nasibku bisa dibilang ada di tangannya. Masa depanku bisa dengan mudah hancur, tergantung mood Mera-san.

     ...Dengan mempertimbangkan hal itu, aku dan Shiroyama-san saling pandang.

     "Tidak, Mera-san tidak akan melakukannya."

     "Kaako-senpai tidak akan melakukan itu."

     Ketika kami berdua mengangguk setuju, wajah Mera-san langsung memerah padam dan ia berteriak.

     "Kenapa tidak!? Aku benar-benar bisa melakukannya, tahu!?"

     "Tapi, 'kan, gaji untuk mengurus bunga ini dibayar oleh Saku-neesan. Seandainya kamu melakukan hal seperti itu, kami harus menyampaikannya ke telinga Saku-neesan, 'kan?"

     Mera-san adalah... tangan dan kaki Saku-neesan yang paling loyal di tempat kami.

     Lebih dari itu, dia mengincar 'jalur cepat menjadi pekerja kantoran' untuk menjadi karyawan tetap di minimarket kami setelah lulus, jadi dia tidak boleh sampai merusak kepercayaan Saku-neesan. ...Yah, meskipun setelah benar-benar bekerja di sana akan menjadi neraka dunia, sih. Tapi tenang saja, tunjangan kesejahteraannya cukup memadai.

     Merasa ucapanku tepat sasaran, Mera-san pun tersentak.

     "Ugh...!"

     Yah, pada dasarnya Mera-san memang bukan tipe yang memulai perkelahian.

     Hubungan kami yang kacau sejak awal hanya membuatnya terus mempertahankan ketegangan itu. Aku sadar akan hal itu, dan kesalahpahaman juga sudah terurai dalam pertarungan melawan Makishima tempo hari, jadi aku juga berpikir harus mengubah sikap.

     Tapi, ada rasa canggung 'masa iya baru sekarang?' yang membuatku tidak bisa bersikap jujur. Sikap tsundere-ku ini memangnya dibutuhkan siapa, sih....

     ​"Tidak, tapi aku tetap berterima kasih. Kalau bukan karena Mera-san yang mau mengambil alih, pasti sulit bagiku untuk menyeimbangkan dengan persiapan ujian. Itu sebabnya aku juga meminta Saku-neesan untuk memberikan imbalan yang sedikit lebih besar."

     Namun, Shiroyama-san menggelengkan jarinya, membuat bunyi cit-cit-cit. Kemudian, dengan wajah yang amat menyebalkan, dia memberiku nasihat tentang apa yang disebut sebagai 'hati seorang gadis'.

     "Yuu-senpai. Meskipun begitu, perempuan itu ingin dipuji dengan kata-kata yang terucap! Kaako-senpai tempo hari mengeluh banyak sekali karena Yuu-senpai tidak pernah bilang 'terima kasih' padanya!"

     "~~~~~~!"

     Mera-san sekali lagi tertusuk oleh pengungkapan Shiroyama-san yang tidak berperasaan itu.

     "Kenapa, sih, kamu selalu bilang hal-hal seperti itu!?"

     "Gyaah! Kalau mau diucapkan terima kasih, meminta secara langsung adalah cara yang paling ampuh!"

     "Aku bilang, aku tidak butuh hal semacam itu!"

     ...Sungguh damai.

     Saat aku sedang menikmati ketenangan sesaat, Enomoto-san dari samping menarik wajahku kembali menghadap buku pelajaran.

     ​"Yuu-kun. Rumus matematika di sini juga sama. Kamu tersangkut di tempat yang sama seperti sebelumnya."

     "Ah, benar juga..."

     Entah kenapa, aku selalu tersangkut di bagian ini.

     Persiapan ujian masuk itu, pada dasarnya, jika tidak terbiasa belajar, hasilnya tidak akan efisien dan sulit terserap di kepala. Aku yang baru mendadak belajar setahun terakhir ini, sering kali tidak bisa mengingat semuanya dalam sekali coba.

     Tiba-tiba, Mera-san berteriak.

     "Jangan abaikan aku dan malah belajar!"

     "Kenapa kamu mengatakan hal seperti itu pada siswa yang sedang mengikuti ujian masuk..."

     Malah, baru kali ini aku disuruh "jangan belajar." Biasanya aku akan dengan senang hati menurutinya, tetapi saat ini, aku akan tetap fokus pada buku pelajaran dengan semangat baja!

     Mera-san, yang masih merengut, terus menggerutu.

     "Lagi pula, kamu menanam banyak sekali jenis bunga, tapi yang mana yang akan kamu gunakan untuk pertarungan itu? Kalau tidak kamu katakan, aku juga bingung, lho."

     ​".............."

     Begitu.

     Pendapat Mera-san ada benarnya. Sejujurnya, aku memang belum menentukan tema pastinya... tetapi ada satu hal yang sudah kuputuskan.

     "Semuanya, akan kugunakan untuk pertarungan kali ini."

     Apa pun yang sedang kubudidayakan di petak bunga sekolah.

     Apa pun yang kubudidayakan di penanam (planter) ruang sains ini.

     Dan juga bunga-bunga yang kutanam di rumahku.

     Meskipun ukurannya kecil satu per satu, jika dihitung jumlahnya akan sangat banyak.

     —Semua itu, akan kugunakan untuk mempercantik satu model.

     Mera-san membelalakkan matanya dan meminta konfirmasi.

     ​"Eh? Semua itu? Kamu akan membuat aksesoris sebanyak itu?"

     "Yah, begitulah. Lagipula, Murakami-kun, lawan kita kali ini, bukanlah seorang kreator aksesoris, melainkan seorang desainer."

     "Maksudnya?"

     "Eee... anu..."

     Aku hendak mengambil ponselku untuk menjelaskan.

     ...Namun, tanganku langsung ditepuk keras oleh Enomoto-san.

     "Yuu-kun harus belajar."

     "Siap..."

     Sepertinya aku tidak punya pilihan selain lulus dengan metode super ketat dari pacarku ini....

     "Shiroyama-san. Bisakah kamu coba cari 'Murakami Jun' di internet?"

     ​"Baik!"

     Saat aku kembali fokus pada soal berikutnya, Shiroyama-san mencari informasi melalui ponselnya.

     Dan seperti yang kuduga, kedua gadis itu berseru kaget.

     "Wah! Keren sekali!"

     "Eh. Kamu serius mau bertarung melawan orang ini? Mana mungkin bisa..."

     Aku sangat mengerti perasaan mereka berdua.

     Bahkan aku sendiri pun masih merasa sulit memercayainya.

     Saat mencari nama Murakami Jun, yang pertama muncul adalah karya-karyanya dari kontes internasional yang terkenal itu.

     Model-model wanita yang diselimuti aksesoris bunga nan indah, tampak seperti peri bunga.

     Gaya artistiknya yang liar dan fantastis, mematahkan citra lembut kreator Jepang, diterima dengan sangat baik oleh pengguna di luar negeri.

     Aku menyelesaikan soal Matematika terakhir dan meregangkan badan.

     "Lagi pula, kali ini modelnya bukan Himari. Aku masih belum sepenuhnya memahami kekuatan Kirishima-san sebagai model. Karena itu, aku sengaja menyiapkan lebih banyak bunga."

     "Oh, begitu ya..."

     Mera-san menghela napas... lalu, dia menatapku dengan sorot mata yang sangat curiga.

     "...Eh? Jadi, sekarang ini aku disuruh menanam bunga untuk pertarungan yang akan kamu kalahkan? Aku jadi hilang semangat, nih."

     "Uuuhhnnn...!"

     Dasar kamu, pandai sekali memilih kata-kata.

     Aku merasa ini pelajaran sebelum ujian. Aku harus lebih berhati-hati dalam memilih kata saat wawancara!

     "Eh~? Senpai memang bisa menang, ya~? Benarkah~?"

     "B-berisik. Untuk yang kali ini, aku akan melakukannya dengan niat serius untuk menang."

     Saat kami sedang saling beradu mulut seperti itu...

     "Belajar."

     "Guwaah!?"

     Tebasan tanpa ampun dari Enomoto-san menyerangku!

     Hei, ini bukan salahku, kan!?

     "Meskipun mulut berbicara, tangan harus terus bergerak. Setiap menit dan detik itu berharga."

     "Baik..."

     Mau tak mau, aku menunduk ke buku pelajaran tanpa bisa membantah.

     Ketika aku sedang memikirkan rumus untuk soal berikutnya, Enomoto-san menghela napas.

     "Tapi, yah, tidak apa-apa, kok. Pertarungan antara Hii-chan melawan Murakami-kun itu."

     Satu bulan lalu.

     Enomoto-san mengucapkan hal yang sama persis seperti saat Kureha-san mengajukan syarat pertarungan.

     "Karena Hii-chan, 'kan, tidak punya mimpi yang ingin dia wujudkan sampai harus menyingkirkan Yuu-kun."

     Menyingkirkan.

     Entah mengapa kata-kata itu terasa begitu gamblang, sehingga tanpa sadar aku menghentikan gerakan tanganku yang memegang pensil mekanik.

     "Tidak, mana mungkin begitu. Himari sudah memutuskan untuk berusaha keras sebagai model..."

     Menanggapi sanggahanku yang lemah, Enomoto-san mengulanginya dengan santai.

     "Tidak ada, kok. Bukankah keinginan Hii-chan untuk berusaha keras sebagai model itu memang demi aksesoris Yuu-kun? Kalau karena itu Yuu-kun sampai tidak bisa menerima modal dari Kakakku, kan jadi tidak ada artinya."

     ".............."

     Alasan mengapa Himari ingin menjadi model.

     Mungkin aku tahu, dia berusaha keras menepati janji kami. Bahkan, menurut apa yang dikatakan Kureha-san, tidak ada penalti untuk Himari jika aku yang menang.

     Himari itu pintar.

     Justru karena dia pintar, dia adalah tipe orang yang bisa memprioritaskan untung-rugi dalam situasi seperti ini.

     Tapi...

     Saat liburan musim panas.

     Dia gagal dalam pekerjaan model pertamanya di Tokyo, dan dia menangis sejadi-jadinya.

     Aku belum pernah melihat Himari seperti itu.

     Meskipun akhirnya dia berhasil bangkit... saat itu, sejujurnya, aku sedikit takut.

     Aku merasa Himari akan pergi menjauh.

     Waktu itu, aku hanya berpikir harus menghibur Himari bagaimanapun caranya.

     Namun, ketika aku mengingatnya lagi... perasaanku menjadi rumit.

     Aku ini egois.

     Padahal selama ini aku selalu ditolong, tetapi saat Himari hendak melebarkan sayapnya, aku menyadari rasa kesepianku sendiri.

     Meskipun dia sudah memutuskan untuk serius mengejar impian sebagai model, aku juga mengharapkan masa depan di mana kami masih bisa melakukannya bersama seperti biasa.

     Aku tahu masa depan yang seenak itu tidak akan ada... dan aku merasa jijik karena diriku sedikit lega mendengar kata-kata Enomoto-san tadi.

     (Apakah aku benar-benar mendukung Himari dengan segenap hati...?)

     Apakah pantas aku menyebut diriku sebagai mitra takdir Himari, sementara aku masih bimbang memikirkan hal seperti ini?

     ...Saat aku tenggelam dalam pikiran itu, pintu ruang sains terbuka.

     "Yo! Kalian belajar dengan benar, ya!"

     "Ah, Himari..."

     Bicara soal orangnya, orangnya datang juga.

     Himari dengan santai duduk di hadapanku, melirik sekilas buku pelajaranku. Kemudian, dia tertawa kecil, seolah menahan tawa. Tolong, hentikan kebiasaan mengambil keuntungan dengan menyindir tentang kelulusan universitas, sungguh....

     "Ada apa? Bukankah tadi kamu dipanggil guru?"

     "Ah, itu sudah selesai, jadi tidak masalah. Tapi, dengar ini!"

     Himari menunjukkan layar ponselnya—aplikasi Line—sambil berkata seolah hendak menyampaikan pengumuman penting.

     "Katanya Yumechin dan Murakami-kun akan datang ke sini akhir pekan ini."

     "Eh? Benarkah!?"

     "Katanya mereka akan datang untuk beberapa kali pertemuan sebelum ujianmu. Kira-kira dua minggu sekali."

     "Begitu, ya. Kalau begitu..."

     Sebelum itu, aku juga harus memikirkan tentang ujian masuknya Kureha-san.

     Meskipun tema pertarungan belum diumumkan, bunga-bunga yang kubudidayakan sudah ada. Aku harus mempertimbangkan arah pengerjaan itu, serta citra Kirishima-san sebagai model...

     Saat aku sedang berpikir keras, Himari menimpali dengan senyum lebar.

     "Kalau begitu, kita harus semangat memikirkan tempat-tempat yang asyik untuk dikunjungi, dong!"

     "Keteganganmu Hilang!"

     Dia benar-benar menganggap ini seperti acara wisata.

     Yah, aku mengerti, sih. Karena teman-temannya datang ke kota ini, wajar kalau dia merasa harus mengantar mereka berkeliling.

     Murakami-kun juga akan datang, jadi ini bukan urusan orang lain bagiku.

     "Baiklah. Kalau begitu, aku juga akan ikut akhir pekan ini..."

     Tepat setelah aku mengatakan itu.

     Enomoto-san di sebelahku tersenyum manis. Di tangannya, buku pelajaran tebal berkibar-kibar.

     ​"Yuu-kun? Kamu tidak melupakan apa yang seharusnya kamu lakukan, kan?"

     "Uh..."

     Di balik senyum itu, aku merasakan tekanan yang tak terlukiskan.

     ...Benar. Dia benar.

     Pada dasarnya, aku baru berada di batas aman kelulusan. Jika aku lengah di sini dan gagal, itu benar-benar akan menjadi bencana besar. Aku baru tahu setelah mengalaminya, ujian masuk perguruan tinggi itu sulit....

     "A-aku hanya akan muncul saat jam pertemuan saja. Biarkan Himari dan Rion yang mengantar mereka berdua berkeliling..."

     "Ahaha. Siap."

     Himari tertawa masam sambil bergeser duduk di samping Enomoto-san.

     Mereka pun mulai berbisik-bisik membahas tempat mana yang akan mereka kunjungi untuk mengantar Murakami-kun dan yang lainnya.

     "Hei, Enocchi. Kita makan siang di mana?"

     ​"Umm. Keduanya waktu itu langsung pulang dengan Onee-chan, ya. Jadi, ini praktis seperti kunjungan pertama, bukankah lebih baik memilih tempat yang mudah dikenali?"

     "Kalau begitu, mungkin restoran Chicken Nanban yang terkenal sampai di sana. Kita pilih 'Nao-chan' atau 'Ogura'?"

     "Umm. Aku sih lebih suka 'Nao-chan', tapi karena mereka orang dari Kanto, bukankah mereka akan lebih senang kalau ada saus tartar di atasnya?"


     ...Entah kenapa, mereka terlihat senang.

     Ini pasti seperti merencanakan perjalanan wisata, membuat suasana jadi bersemangat.

     (Aduh, aku benar-benar ingin ikut serta sedikit saja. Belajar juga butuh istirahat, kan...)

     Saat aku hampir dirasuki pikiran-pikiran nakal, Shiroyama-san, yang entah sejak kapan sudah mendekat ke hadapanku, menatapku lekat-lekat.

     Ketika mata kami bertemu, dia tersenyum lebar dan mengepalkan kedua tangannya, memberikan pose penyemangat.

     "Yuu-senpai! Semangat!"

     "...Aku mengerti."

     Pikiran-pikiran burukku langsung dimurnikan dalam sekejap oleh aura penangkal kejahatan yang berkilauan dari adik kelasku.

     Serius, anak ini terlalu cocok untuk membimbing orang ke jalan yang benar. Aku berharap dia mau menemaniku belajar sampai ujian masuk selesai....

♣♣♣

     Dan hari Sabtu pun tiba.

     Sejak pagi, aku sudah fokus belajar di ruang keluarga keluarga Inuzuka. Hibari-san, yang mengenakan turtle neck versi akhir pekan, berkata sambil melihat lembar hasil simulasi ujianku tempo hari.

     "Akhir-akhir ini, hasilnya stabil di peringkat B, ya."

     "Iya. Entah bagaimana..."

     Menurut Sasaki-sensei, jika aku bisa mengeluarkan kemampuan ini saat ujian yang sebenarnya, kemungkinan besar aku akan lulus.

     Hanya saja, banyak kasus di mana siswa tidak bisa mengeluarkan kemampuan aslinya karena kondisi fisik yang kurang fit atau terlalu gugup pada hari-H. Sekarang sudah pertengahan Januari... kurang dari sebulan menuju ujian, jadi aku belum bisa lengah.

     Hibari-san tersenyum dengan lembut sambil berkata,

     "Yah, karena Yuu-kun sudah beberapa kali pergi ke Tokyo, kamu pasti sudah cukup mengerti keadaan di sana. Kurasa kamu tidak akan merasa cemas dan menjadi ciut."

     "Itu benar. Lagipula, Tenma-kun juga bersedia menemaniku pada hari-H."

     Rasanya benar-benar dilayani dan dipenuhi segala kebutuhannya.

     Tunggu, kalau ditemani Tenma-kun, bukankah justru akan menimbulkan kekacauan besar... Yah, karena itu adalah universitas yang biasa dia datangi, mungkin dia tidak akan ketahuan dan dikerubungi oleh para penggemar. Mungkin. Pasti. Barangkali... Eh? Aman, kan?

     Seolah ingin menenangkanku, Hibari-san dengan sengaja mengangkat bahunya.

     "Hah. Cita-cita besarku untuk memasukkan Yuu-kun ke universitas enam besar itu..."

     "Tolong wujudkan di kehidupan berikutnya saja..."

     Entah kenapa, ada firasat kuat bahwa jika aku berkata seperti itu, dia benar-benar akan bereinkarnasi sampai kami bertemu lagi, dan itu mengerikan....

     Saat makan siang, aku menikmati udon rebus buatan Ikuyo-san, beristirahat sebentar, lalu kembali ke sesi belajar sore. Sup miso yang lembut meresap ke dalam otak yang lelah karena belajar dan cuaca dingin....

     Lalu, menjelang sore.

     Terdengar suara pintu masuk rumah Inuzuka terbuka, diikuti suara ceria yang melompat masuk.

     "Yaahoo! Yuu, aku, pacarmu, datang!"

     Suara Himari itu terpotong oleh jeritan "Mogyaaah~!" yang menyakitkan.

     Sepertinya hukuman dari Enomoto-san telah dijatuhkan. Tingkat keahlianku yang bisa memahami situasi tanpa harus melihatnya sungguh bukan hal yang patut dibanggakan....

     Beberapa langkah kaki terdengar berjalan di koridor.

     Tak lama kemudian, pintu geser terbuka, dan terlihatlah wajah-wajah yang sudah kuduga.

     Himari dan Enomoto-san.

     Serta Murakami-kun dan Kirishima-san.

     ...Namun, Murakami-kun dan Kirishima-san terlihat sangat canggung.

     "Ah, Natsume Yuu. Emm, sudah seratus tahun sejak kita bertemu di sini..."

     "...Ya."

     ...Benar-benar terasa aneh melihat mereka berdua di rumah Himari.

     Terlebih lagi, keduanya terlihat sedikit tegang, entah kenapa suasana hati mereka sedikit menurun. Yah, meski Murakami-kun sepertinya tidak terlalu berbeda dari biasanya.

     Dan menyambut kedatangan dua wajah baru, Hibari-san memasang senyum emas yang begitu cemerlang. Entah kenapa, aku merasa pencahayaan di ruangan ini sedikit bertambah terang. Mereka tidak menyalakan lampu tambahan, kan???

     "Ya, selamat datang. Murakami-kun, kita pernah bertemu di Tokyo pada musim semi, bukan? Dan Kirishima-kun, aku sudah mendengar banyak dirimu dari Himari."

     Kemudian, dengan gerakan yang elegan, dia menyisir poni ke belakang, memamerkan gigi putihnya yang berkilau kinclong.

     "Aku kakak Himari, dan kepala keluarga, Hibari."

     Dia baru saja mengatakan 'kepala keluarga', kan?

     Aku yakin itu bukan salah dengar. Orang ini, memanfaatkan fakta bahwa Gorozaemon-san sedang sakit pinggang dan dirawat di rumah sakit, dengan santai merebut posisi puncak?

     Mendadak dihadapkan dengan kehadiran pria tampan yang lebih tua dan memancarkan aura 'orang besar', Kirishima-san dan Murakami-kun langsung terkejut dan bersiaga.

     "S-salam kenal. Sudah seratus tahun sejak kita bertemu di sini!"

     "Kirishima-san. Bukankah sapaan itu kurang tepat pada saat seperti ini..."

     "B-berisik! Itu gayaku, jadi biarkan saja, dong!"

     ​"Tidak, kita 'kan tidak tahu apakah lelucon itu akan dimengerti oleh mereka..."

     Ooh. Entah kenapa, pemandangan Murakami-kun melontarkan koreksi terasa segar....

     Kemudian, Hibari-san, yang baru saja menerima deklarasi perang secara halus, tertawa dan menoleh ke arahku.

     "Yuu-kun. Aku akan bekerja di ruang kerja sebentar. Setelah pertemuan selesai, tolong panggil aku lagi."

     "Ah, ya. Terima kasih."

     Setelah menyingkirkan buku pelajaran ke sudut meja, Hibari-san meninggalkan ruang keluarga.

     ...Begitu dia pergi, Murakami-kun dan Kirishima-san langsung lemas seolah tali ketegangan mereka terputus. Mereka menatap ke arah Hibari-san pergi sambil bercucuran keringat dingin.

     "A-ada apa dengan orang itu? Dia memancarkan aura orang yang tidak biasa..."

     "Aku memang pernah bertemu dengannya di agensi saat musim semi, tapi suasananya terlalu berbeda, sampai aku ketakutan..."

     Eh? Begitukah kesannya?

     Aku tanpa sengaja memiringkan kepala. Aku sama sekali tidak merasakan aura seperti itu dari Hibari-san hari ini.

     "Himari. Hibari-san memancarkan tekanan seperti itu?"

     Himari menjawab sambil tersenyum masam.

     "Tentu saja dia memancarkannya. Onii-chan itu bisa mengatur arah auranya, lho. Mungkin tidak menusuk ke arahmu, Yuu."

     "Mengatur arah aura itu apa maksudnya? Tolong jangan tiba-tiba mengeluarkan istilah dari komik pertarungan di dunia nyata tanpa penjelasan awal, itu membuat otakku error..."

     Dia sudah seperti guru tua bijak yang mengajarkan cara bertarung kepada para tokoh utama saja. Tidak ada bagian latihan spiritual di dunia nyata!

     Aku menyodorkan teh jelai dingin yang kubawa dari dapur kepada Kirishima-san dan yang lainnya yang tampak kelelahan. Setelah meminumnya, tampaknya vitalitas mereka sudah cukup pulih.

     Kemudian, sambil mengamati sekeliling, termasuk halaman yang luas di luar jendela, mereka berseru kebingungan.

     "Tunggu, jadi rumah Himari benar-benar sekaya ini, ya..."

     "Luasnya sampai bikin sedikit bingung..."

     Reaksi mereka sungguh menyegarkan.

     Aku dan Enomoto-san sudah terlampau terbiasa. Kami harus secara teratur mengisi kembali asupan 'kewajaran' seperti ini, jika tidak, sudut pandang kami akan melenceng....

     Pada saat itu, barulah aku menyapa mereka berdua.

     "Kalian berdua, lama tidak bertemu... meskipun, baru sekitar sebulan sejak pertemuan terakhir?"

     "Iya. Oh, aku dititipkan oleh Ito-san untuk memberikan oleh-oleh."

     "Benarkah? Maaf sudah merepotkan..."

     Itu adalah kotak berkilauan, seolah dijual di department store.

     Begitu aku membuka tutupnya, deretan makanan ringan semi-transparan tersusun rapi. Apa ini? Sungguh terlihat seperti kotak perhiasan. Bagi orang biasa sepertiku, aku bahkan tidak bisa membedakan apakah ini kue barat atau kue tradisional Jepang. Kakak mantan idola itu memang luar biasa, tingkat oleh-olehnya terlalu tinggi....

     Saat aku sedang terkesima dengan oleh-oleh dari Tenma-kun, Kirishima-san melanjutkan.

     "Lalu, ada pesan dari Kureha-san."

     ​"Dari Kureha-san?"

     Himari, yang tampaknya sudah tahu, menyeringai.

     "Katanya aturan detail pertarungan dan jadwalnya sudah diputuskan."

     "Aturan detail?"

     "Tempo hari, 'kan, Yuu juga bilang ke Mei-chan dan yang lain kalau metode penilaian dan temanya belum tahu."

     "Ah, benar juga."

     Terakhir kali, yang kudengar hanya isi pertarungan secara garis besar saja.

     Kirishima-san melipat kedua tangan di dada, lalu melanjutkan dengan nada yang berlagak penting.

     "Pertama, pertarungan kali ini adalah 'Fotografi'. Kreator dan model berpasangan untuk menghasilkan karya foto terbaik."

     Sampai sini, aku sudah tahu.

     Pasangan itu adalah aku dan Kirishima-san.

     Dan yang akan kami hadapi adalah pasangan Himari dan Murakami-kun.

     ...Awalnya, aku mengira aku akan berpasangan dengan Himari, jadi kombinasi ini cukup mengejutkan.

     "Lalu, apa aturan detailnya?"

     Kirishima-san membacakan pesan dari Kureha-san yang ada di ponselnya.

     (1) Pengambilan foto akan dilakukan pada hari-H, oleh fotografer yang disiapkan oleh Kouyou-san.

     (2) Foto yang diambil akan dicetak di tempat, dan poin akan diberikan melalui pemungutan suara mayoritas dari beberapa juri.

     (3) Proses ini akan diulang hingga tiga sesi (maksimal tiga foto per pasangan), dan pasangan yang lebih dulu meraih dua poin akan dinyatakan sebagai pemenang.

     (4) Bunga akan dipilih secara terpisah untuk setiap dari tiga tema, namun tidak masalah jika menggunakan beberapa jenis bunga dalam satu tema. Tetapi, bunga yang sudah digunakan pada satu tema tidak boleh digunakan pada tema lain.

     "...Begitu, ya. Semacam 'Tiga Ronde Pertarungan Fotografi'?"

     ​"Kalau dibayangkan seperti itu, mungkin akan lebih mudah dipahami."

     Aku memikirkan isi ujian tersebut.

     Tiga sesi fotografi untuk setiap tema.

     Dan aturan tidak boleh menggunakan bunga yang sama.

     Ini adalah ujian yang menggabungkan aspek pengujian kemampuan ekspresi dan aspek komersial, yaitu apakah kami bisa memproduksi karya dalam jumlah tertentu.

     Sesuai aturan, pasangan yang berhasil merebut total dua tema akan menjadi pemenang, tetapi...

     "Ngomong-ngomong, siapa jurinya?"

     Murakami-kun menjawab pertanyaanku.

     "Ito-san, Sanae-san, dan... mungkin Shiiba-san. Orang itu punya mata yang tajam dalam menilai karya."

     "Ah, benar juga..."

     Liburan musim panas saat aku masih kelas dua SMA.

     Aku pernah mendapat saran dari Yataro-san saat ikut serta dalam pameran solo Tenma-kun. Aku terkejut karena sarannya sangat tepat... tapi, aku lebih terkejut lagi saat tahu ternyata dia punya hubungan dekat dengan Saku-neesan.

     "Jangan-jangan, mereka semua akan datang ke sini?"

     "Yah, karena ini adalah ujian masuk anggota yang akan bekerja sama dengan kita di masa depan. Mungkin maksudnya agar kita menilainya sendiri."

     Aku menghargai niat baik itu, tetapi bukankah ini sedikit terlalu berlebihan?

     Tidak, daripada penilaian sepihak dan penuh prasangka dari Kureha-san seperti sebelumnya, cara ini memang lebih jelas.

     "Tapi, kalau begitu ada yang aneh..."

     Mendengar perkataanku, Enomoto-san mengangguk.

     "Ah, kamu juga berpikiran begitu, ya?"

     Himari memiringkan kepalanya menanggapi percakapan kami.

     ​"Ada apa?"

     "Tidak, maksudku, ini jelas-jelas berlebihan..."

     Dari Tokyo ke kota ini, dibutuhkan waktu setengah hari dengan berganti-ganti kereta dan pesawat.

     Sekalipun Tenma-kun adalah mahasiswa dan Yataro-san punya kelonggaran waktu, datang jauh-jauh hanya untuk menjadi juri itu tidak masuk akal. Para kreator yang didanai Kureha-san pasti punya kegiatan masing-masing. Apalagi Sanae-san, ini seharusnya waktu dia lulus kuliah.

     Melihat semua itu, ada satu aturan yang terasa janggal.

     (2) Foto yang diambil akan dicetak di tempat, dan poin akan diberikan melalui pemungutan suara mayoritas dari beberapa juri.

     Aturan inilah yang jelas-jelas terasa ganjil.

     Jika dipikir secara logis, cukup staf fotografi saja yang datang, dan tiga foto yang diambil bisa dikirim sebagai data ke Tokyo. Penilaian bisa dilakukan di mana saja. Aura kota ini pun tidak akan memengaruhi penilaian.

     Namun, Himari tampaknya kurang menangkap maksudku.

     "Umm. Aku sih biasa saja..."

     ​"Yah, kamu kan setiap bulan bepergian ke Tokyo. Kalau sudah terbiasa dengan itu, mungkin kamu jadi tidak merasa ada yang janggal."

     Lagi pula, ada anggota tim yang memang sudah terbiasa bepergian jauh untuk urusan pekerjaan, seperti Murakami-kun dan Kirishima-san.

     Jika dikatakan, 'ya memang begitulah gaya tim Kureha-san', masalah akan selesai.

     (Yah, mungkin aku terlalu banyak berpikir...)

     Aku jadi punya kebiasaan melihat segala sesuatu dengan kecurigaan, karena berpikir, "Ah, ini pasti ulah Kureha-san...".

     Lebih dari itu, saat ini aku punya hal yang harus diprioritaskan.

     "Kirishima-san. Aku ingin segera mendiskusikan arah karya kita."

     "Tentu. Mari kita selesaikan ini secepatnya."

     Kirishima-san bertepuk tangan.

     Entah kenapa, gerakannya sedikit mengingatkanku pada Kureha-san. Mungkin dia terinspirasi oleh kebiasaan orang itu yang selalu bertepuk tangan. ...Semoga saja dia tidak meniru kegemaran Kureha-san dalam merencanakan kejahatan kecil.

     ​"Mulai sekarang, kita akan dibagi menjadi dua tim untuk meeting. Himari dan Murakami-kun, bisakah kalian pindah ke ruangan lain?"

     "Eh? Kita tidak melakukannya bersama di sini?"

     "...Kamu ini. Apa gunanya membeberkan strategi kepada lawan yang akan kamu hadapi nanti."

     Benar juga....

     Sungguh bodoh apa yang baru saja kukatakan. Aku masih belum bisa melepaskan perasaan bahwa kami selalu melakukan segalanya bersama.

     Maka dari itu, Himari dan yang lain menuju ke kamar sebelah. Dasar keluarga Inuzuka, ruangan kosong benar-benar berlimpah.

     Saat hendak berpindah ruangan, Murakami-kun menoleh.

     "Natsume-san."

     "Ya. Ada apa?"

     ".............."

     Murakami-kun menatapku lekat-lekat dengan pandangan serius.

     "Aku akan bertarung dengan sungguh-sungguh."

     Mendengar kata-kata itu, aku mengangguk santai.

     "Ah, iya. Tentu saja begitu... Justru aku yang berterima kasih karena kamu mau menemaniku dalam ujian ini. Sebaliknya, aku yang mohon bimbingan darimu."

     Aku membungkuk dalam-dalam.

     Pertarungan ini tidak memberikan keuntungan apa pun bagi Murakami-kun. Meskipun begitu, dia bersedia menerimanya... Padahal aku berada di posisi yang seharusnya tidak bisa menantangnya, dan aku sangat berterima kasih. Yah, di sisi lain, hal itu juga membuat kelulusanku semakin sulit diraih....

     Aku akan menggunakan semua ini sebagai bekal untuk maju, dan aku juga harus berjuang dengan segenap tenaga.

     ...Namun.

     "..............?"

     Entah kenapa, Murakami-kun menatapku dengan ekspresi yang sangat canggung.

     Eh?

     Apa aku mengatakan sesuatu yang aneh? Jangan-jangan aku tanpa sadar berbicara menggunakan dialek sehingga maknanya tidak tersampaikan... Tidak, seharusnya dialek di daerahku tidak terlalu kental.

     Murakami-kun mengangguk, tampak pasrah.

     "Ya. Mohon bantuannya..."

     ".............."

     Entah mengapa, dia terlihat sangat kecewa....

     Apa aku benar-benar mengatakan hal yang aneh? Saat aku memiringkan kepala kebingungan, Kirishima-san entah kenapa menghela napas.

♣♣♣

     Setelah itu, aku kembali memulai pertemuan dengan Kirishima-san.

     Yang tersisa di ruangan ini hanyalah aku, Kirishima-san, dan Enomoto-san.

     ...Aku masih merasa sedikit tegang. Meskipun saat liburan musim panas di Tokyo kami pernah menghadapi atraksi imersif bersama, saat itu kami melakukannya tanpa berpikir panjang.

     Ngomong-ngomong, kenapa Enomoto-san terus-menerus menatap tajam sejak tadi? Apa urusan pertemuan pertamaku dengan Kirishima-san saat liburan musim panas itu masih membekas? Kalau begitu, gaya interaksiku sangat penting di sini....

     "K-Kirishima-san. Bagaimana perjalanan kereta tadi?"

     "Yah. Aku bisa duduk, jadi tidak ada kesulitan berarti, tapi..."

     Dia melanjutkan sambil benar-benar memilih kata-katanya dengan hati-hati.

     "Ini pertama kalinya aku bepergian berdua dengan Murakami-kun, jadi terasa sedikit canggung."

     "O-oh, begitu ya..."

     Entah kenapa, aku bisa membayangkannya.

     Murakami-kun pada dasarnya memiliki reaksi yang datar, sementara Kirishima-san terlihat lebih bersemangat saat berhadapan dengan lawan bicara yang reaksinya besar, seperti Himari. Aku mudah membayangkan adegan Kirishima-san yang berbicara secara sepihak di kereta ekspres saat menuju ke sini....

     "Lalu, apa tiga tema untuk pertarungan itu?"

     "Ah, soal itu..."

     Kirishima-san melihat ponselnya.

     "Emm... temanya adalah: 'Alam Semesta', 'Bumi (Tanah)', dan 'Manusia'."

     "Astaga, sungguh abstrak!"

     Tema yang datang jauh lebih ambigu dari yang kuduga.

     Karena kudengar ini adalah pertarungan untuk menghias model dengan karyaku, aku pikir arahnya akan lebih berfokus pada kedua model. Apakah ini berarti tugasnya harus dipahami sebagai 'model juga merupakan bagian dari karya' alih-alih 'menghias model dengan karya'?

     Jika begitu, sepertinya aku perlu menggali lebih dalam tentang isi pertarungan, yaitu 'Fotografi' itu sendiri.

     "Gawat. Selama ini, mulai dari pemotretan hingga mengunggahnya ke situs penjualan aksesoris kami, semuanya kuserahkan pada Himari..."

     Artinya, pemahamanku terhadap karya fotografi lebih rendah daripada Himari.

     Terlebih lagi, selama setahun terakhir ini Himari secara aktif terlibat dalam kegiatan Instagram atas arahan Kureha-san. Jujur saja, tingkat penguasaannya sangat berbeda.

     Selain itu, tema ini...

     "Tema ini, kalau boleh dibilang, lebih condong ke arah Murakami-kun."

     "Tentu saja begitu..."

     Yah, itu memang wajar.

     Karena ini adalah ujian masuk untuk mengukur kemampuanku, justru aneh jika temanya menguntungkan diriku.

     Kalah dalam pemahaman fotografi, dan tema pun tidak menguntungkan.

     Kureha-san benar-benar datang untuk mengujiku dengan serius....

     Saat kami sedang berpikir keras, Enomoto-san memiringkan kepalanya.

     ​"Apa tema ini sebegitu berbedanya?"

     "Karena ini adalah tema yang imajinasinya berbeda-beda bagi setiap penerima—dalam hal ini, para juri. Meskipun aku berpendapat karyaku sudah sesuai tema, jika juri tidak setuju, aku tidak akan mendapatkan suara..."

     Jika aku memberikan contoh yang mudah dipahami oleh Enomoto-san...

     "Misalnya kalau temanya 'Suka, Duka, Marah, Sedih', bukankah Rion akan lebih mudah membayangkan?"

     "Maksudnya, diminta untuk mengekspresikan 'Suka, Duka, Marah, Sedih' dengan bunga, kan?"

     "Tepat sekali."

     Enomoto-san berpikir sebentar...

     "Kalau 'Suka', mungkin dengan bunga-bunga cerah yang dipadukan dengan senyum menghadap kamera... begitu?"

     "Ah, itu benar. Bunga berwarna cerah dengan makna bahagia, dipadukan dengan senyum model. Juri mungkin akan setuju. Barulah setelah itu kita bisa beralih ke kriteria penilaian berikutnya, yaitu 'apakah itu menarik sebagai karya seni'..."

     Contohnya seperti bunga kuchinashi (Gardenia).

     Makna bunga itu adalah 'pembawa kegembiraan', dan bunganya sendiri memiliki citra suci berwarna putih. Meskipun mungkin tidak cukup hanya itu, sebagai elemen utama, tidak ada yang salah. Aku juga bisa mengharapkan efek kontras dengan kesan Kirishima-san yang aktif.

     Namun, tema kali ini tampaknya tidak sesederhana itu.

     "Bagaimana caranya mengekspresikan 'Alam Semesta' menggunakan bunga, ya..."

     "Tugas untuk memikirkan hal itu, kan, pekerjaan seorang kreator?"

     "Memang, sih..."

     Kirishima-san ini sungguh spartan sekali....

     "Bagaimanapun, pertarungan tinggal kurang dari dua bulan, dan di antara itu ada ujian masuk universitas. Mengingat waktu pengerjaan, aku ingin memantapkan konsep dalam waktu satu minggu."

     Aku membuka aplikasi kamera di ponselku.

     "Kirishima-san, boleh aku mengambil beberapa fotomu? Kali ini, ini lebih tentang menjadikanmu bagian dari karya, bukan hanya menonjolkanmu. Aku ingin menjadikannya referensi untuk mematangkan konsep."

     "Tentu saja. Ambil sebanyak yang kamu mau."

     Tanpa ragu sedikit pun, dia langsung memasang pose terbaiknya di tempat.

     ...Aku sudah merasakannya sejak pertunjukan panggung di musim panas, tapi anak ini benar-benar berubah suasana ketika dia berada dalam mode model. Ada semacam aura ketegasan, mirip dengan Kureha-san atau Hibari-san, yang terpancar darinya. Ketika mata tajam itu menatapku, aku merasa sedikit berdebar.

     Mungkin inilah karisma seorang model besar. ...Yah, karena aku merasakan aura yang pekat dan gelap dari Enomoto-san di belakangku, aku sama sekali tidak boleh menunjukkannya di wajah. Pacarku memang pencemburu dan menggemaskan.

     Aku terus mengambil beberapa foto.

     Karena dia tahu aku amatir dalam fotografi, Kirishima-san mengubah pose dan ekspresinya tanpa menunggu instruksiku. Dan itu bukanlah pose sesukanya, melainkan semua yang mungkin kubutuhkan untuk mempertimbangkan tema.

     Contohnya, rentang ekspresi saja, mulai dari kegembiraan hingga kesedihan, tampilan polos sehari-hari, hingga ekspresi yang mengandung kekosongan mendalam. Sejujurnya, jika aku yang memberikan arahan, aku tidak akan bisa mendapatkan ekspresi seperti ini.

     Benar-benar kemampuan akting alami yang diakui oleh Tenma-kun dan yang lainnya.

     Rupanya dia sudah beberapa kali mendapat pengalaman di lapangan sejak saat itu, dan pemahamannya terhadap apa yang dibutuhkan pasti meningkat. Kalau dipikir-pikir, berpasangan dengan Kirishima-san mungkin adalah keberuntungan bagiku.

     Namun, ini agak...

     "Kirishima-san, kamu terlihat sangat bersemangat..."

     Mendengar itu, Kirishima-san menyisir rambutnya dengan ekspresi bangga.

     "Tentu saja! Dalam pertarungan kali ini, aku berjanji akan mendapatkan pekerjaan besar kalau aku menang!"

     "Eh? Berjanji dengan Kureha-san?"

     "Benar. Lagipula, lawan kita adalah Himari. Aku tidak bisa kalah dalam konfrontasi melawan perempuan itu. Bahkan kalau itu adalah pertarungan pribadi seperti kali ini."

     Dia melipat kedua tangan di dada dengan penuh percaya diri dan menyatakan dengan jelas.

     "Aku adalah wanita yang akan menjadi model nomor satu di dunia. Aku harus selalu berada di depan Himari dan menjadi tembok yang menghalanginya agar terlihat keren!"

     ".............."

     Deklarasi rivalitas yang berwibawa. Aku terintimidasi oleh mata yang tidak menunjukkan keraguan sedikit pun itu.

     ...Aku tidak bisa lagi beralasan bahwa kami adalah pasangan dadakan.

     "Baik. Aku tidak tahu apakah aku bisa mengalahkan Murakami-kun dalam hal kualitas aksesoris, tetapi aku akan membuat aksesoris yang akan membuat Kirishima-san bersinar dengan segenap kemampuanku."

     Ketika aku tersenyum, entah kenapa aku dibalas dengan ekspresi yang canggung.

     ".............."

     "Eh? Kenapa?"

     Apa aku mengatakan hal yang aneh?

     Kirishima-san, dengan wajah yang terlihat keberatan, menoleh ke arah Enomoto-san.

     "Hei, Rion. Orang ini selalu bersikap seperti ini, ya...?"

     "Y-ya, memang begitu, tapi ada apa?"

     Enomoto-san pun bertanya balik dengan keheranan.

     Kirishima-san, entah mengapa, menatap sikap kami dengan tatapan penuh rasa kasihan.

     "…Yah, sudahlah. Mari kita ambil lebih banyak foto."

     ​"Y-ya..."

     Meskipun ada beberapa hal yang terasa mengganjal, pertemuan kami tetap berjalan lancar.

♢♢♢

     Setelah memasuki sesi pertemuan per pasangan, aku dan Murakami-kun pun pindah ke ruangan terpisah.

     Ini adalah ruang keluarga kedua. Konon, dulunya tempat ini digunakan oleh murid-murid Kakek untuk menginap. Sekarang, tempat ini menjadi ruangan serbaguna.

     Di sana, aku menanyakan tiga tema untuk pertarungan kali ini.

     "Begitu, ya. 'Alam Semesta', 'Bumi (Tanah)', dan 'Manusia', ya. Dengan tiga tema itu, sepertinya Murakami-kun yang lebih diuntungkan."

     "...Begitulah." 

     Murakami-kun mengangguk dengan tenang.

     ...Umm. Anak ini, perbedaan mood-nya dengan Yumechin terlalu jauh, jadi agak canggung, ya. Meskipun begitu, saat aku melihatnya berbicara dengan Ten-ten dan yang lain, dia juga bukan tipe penyendiri yang berkata, "Aku lebih suka sendirian." Jarang sekali aku, si wanita memesona Inuzuka Himari, kehabisan topik pembicaraan.

     Tidak! Aku adalah wanita memesona, Inuzuka Himari! Meskipun ini hanya pasangan dadakan, aku, sebagai Oneesan, akan memanaskan suasana ini!

     "Baiklah~! Kita akan menang dalam satu kali gebrak saja~!"

     Aku mengulurkan kedua tangan, mengajak high five!

     ​...Aku berniat melakukannya, tapi Murakami-kun sama sekali tidak bereaksi. Sebaliknya, dia mengalihkan pandangan seolah merasa terganggu.

     "Lagipula, Natsume-san sedang mempersiapkan ujian masuk sambil menyiapkan ini, kan. Kalau kita sampai kalah padahal sudah diberikan keuntungan sebanyak ini, kita akan jadi bahan tertawaan yang empuk."

     Lalu, dia berkata seolah meludah.

     "Lagi pula, pertarungan ini tidak seimbang sejak awal."

     Hiy.

     ...Eh, ada apa? Kenapa suasananya mendadak sangat dingin? Kenapa? Apakah ada hal yang membuatnya kesal dari percakapan tadi? Jangan-jangan Murakami-kun sebenarnya tidak bersemangat untuk pertarungan ini, ya?

     (Y-yah, Murakami-kun, tidak seperti Yuu, dia sudah memiliki pengakuan publik. Mungkin harga dirinya tidak mengizinkannya dijadikan umpan dalam audisi anggota baru seperti Yuu... begitu?)

     Saat aku benar-benar membeku, Murakami-kun, yang sepertinya menyadari keadaanku, mulai mencari-cari kata sambil panik.

     "Eh? Ah, tidak..."

     Kemudian, dia menundukkan pandangan dan menatap kedua tangannya.

     Kalau tidak salah, Miko-chan pernah berkata, "Murakami-kun itu tipe yang mengira sudah berbicara padahal baru diucapkan dalam hati, lho." Benar-benar seorang kreator, mungkin dia memang canggung.

     Kemudian, Murakami-kun menghela napas panjang, seolah dia baru saja menyimpulkan sesuatu yang mendalam.

     "Ah, begitu rupanya. Aku sudah lama merasa samar-samar, tapi... aku juga merasa obrolan kita barusan tidak nyambung..."

     "?????"

     Kenapa dia terlihat begitu hampa sambil menunduk, ya?

     Jangan-jangan aku sedang salah paham tentang sesuatu?

     "Anu, Inuzuka-san. Lebih baik aku katakan dengan jelas saja..."

     Dia mengangkat pandangannya, menatapku dengan tatapan penuh rasa kasihan.

     "Pertarungan ini, kita akan kalah."

     ".............."

     Aku mencerna kata-kata itu baik-baik di dalam benakku.

     "Begitu, ya..."

     Kata-kata Murakami-kun.

     Tentu saja maksudnya adalah, pasangan Yuu dan Yumechin yang akan memenangkan pertarungan ini.

     Aku tahu betul.

     Murakami-kun adalah orang yang tenang, tetapi sangat bersemangat terhadap karyanya. Di atas semua itu, dia memiliki prestasi dan harga diri yang tinggi.

     Fakta bahwa Murakami-kun, dengan segala yang dimilikinya, bisa menyatakan hal itu dengan begitu jelas bahkan sebelum pertarungan dimulai, berarti...

     Aku membelalakkan mata dan menepuk bahunya dengan keras!

     "Ada apa, sih!? Kamu ini terlalu sayang pada Yuu juga, ya!? Mengatakan hal-hal tadi, padahal kamu sudah berniat melonggarkan upaya! Benar, kan? Kamu bilang ingin bekerja sama dengan Yuu mulai tahun depan! Kalau begitu, kenapa tidak bilang dari tadi..."

     ".............."

     Ah, gawat.

     Aku tahu Murakami-kun sedang kesal dengan cukup serius. Begitu, ya. Anak ini tipenya begini, ya. Artinya, aku harus membaca aura di sekitarnya alih-alih ekspresinya, kalau tidak, aku akan menginjak ranjau!

     (E-eeh. Jadi, tebakanku salah total, ya...?)

     Aku duduk bersimpuh dan menghadap Murakami-kun.

     "E-ehm. Jadi, maksudmu apa?"

     Murakami-kun, yang benar-benar kehabisan kata-kata... entahlah. Dia seharusnya setahun lebih muda dariku, ya. Tapi kenapa aku yang justru terlihat seperti anak kecil. Aku harus menahan diri.

     "Um. Sulit sekali menjelaskan ini agar Inuzuka-san mengerti, tapi..."

     Kemudian, dengan ekspresi serius, dia menyatakan dengan tegas.

     "Pertarungan kali ini. Sebagai premis, pasangan kita yang lebih lemah."

     "Eh?"

     Aku memikirkan maknanya.

     Isi pertarungan kali ini adalah 'Fotografi'.

     Pertarungan untuk menciptakan karya foto terbaik, dengan kreator dan model berpasangan.

     Yang harus diperhatikan mungkin adalah kombinasinya.

     Aku berpasangan dengan Murakami-kun.

     Dan Yuu berpasangan dengan Yumechin, yang berada di atasku.

     Aku rasa, tujuan Kureha-san adalah menguji seberapa jauh Yuu bisa melangkah sendirian, dengan menanggalkan chemistry kami yang sudah terjalin.

     "Yah, aku mengerti. Sekalipun Murakami-kun punya banyak kemenangan, yang menjadi pemeran utama dalam 'Fotografi' ini, kan, model. Karena pengalamanku masih kalah jauh dari Yumechin, makanya kita jadi tidak diuntungkan, 'kan?"

     "Ah, tidak, makanya, bukan itu..."

     Oh?

     Mendengar jawabanku, Murakami-kun masih terlihat bingung. Dia menggigit kukunya dengan gelisah, lalu bergumam dengan sedikit kesal.

     "Kenapa orang-orang di sini mengira levelku lebih tinggi daripada Natsume-san...?"

     ...Maksudnya apa?

     Justru aku yang merasa ingin bertanya, "Kamu bicara apa, sih?"

     "Tapi, 'kan, Murakami-kun lebih banyak mendapat pengakuan. Tentu saja, secara pribadi aku lebih menyukai aksesoris buatan Yuu, tapi..."

     "Tidak. Justru itu jawaban yang benar..."

     Murakami-kun berbicara seolah dia sudah sangat lelah.

     Sikapnya tidak menunjukkan adanya kebohongan. Aku, yang ahli dalam membaca perasaan orang lain, tahu itu. Namun, kata-katanya tetap tidak bisa dimengerti.

     (...Eh. Jangan-jangan Murakami-kun serius, ya?)

     Saat aku mulai menyadari kemungkinan itu, Murakami-kun berkata dengan nada muak.

     ​"Kamu belum pernah melihat karyaku dari dekat, kan?"

     "Belum..."

     Kemudian Murakami-kun menyampaikan fakta yang mengejutkan.

     "Bunga-bungaku, sekitar separuhnya, adalah gagal. Lebih tepatnya, aku belum pernah menyelesaikannya dengan tingkat kepuasan yang aku inginkan. Jadi, aku menyamarkannya dengan volume."

     "Eh...?"

     Aku terperangah mendengar pengakuan itu.

     "Sedangkan Natsume-san, dia tidak pernah gagal. Dia menyelesaikannya dengan gradasi yang benar-benar sempurna. Seandainya dia menganggapnya gagal, mungkin kualitasnya tetap lebih tinggi dari karya suksesku..."

     Murakami-kun menatap telapak tangannya dengan ekspresi menyesal, lalu melanjutkan.

     "Terutama bunga Karasuuri yang diawetkan preserved flower yang dibuatnya pada musim semi lalu... Saat melihatnya, aku benar-benar bingung. Mustahil mengolah bunga sekecil itu, bagaimana pun caranya. Kalau mau diolah, biasanya buahnya yang dijadikan bunga kering, kan? Namun, dia melakukannya dengan tingkat akurasi yang sempurna... Ya, begitulah. Kalau ada orang di depan mata yang bisa membuat hal seperti itu dengan mudahnya, wajar kalau persepsi orang-orang di sini menjadi aneh."

     Dia mengepalkan tangan, menggaruk kepalanya dengan kasar, dan menghela napas panjang.

     ​"Jujur saja, dia itu monster. Konsentrasi macam apa yang dibutuhkan untuk melakukan pekerjaan sesempurna itu? Aku tidak merasakan sedikit pun kelengahan dalam aksesoris buatannya. Dan dia bilang dia melakukannya karena 'suka'. Dia benar-benar tak tertandingi."

     "T-tapi tahun lalu, Kureha-san bilang, kan? Kalau aksesoris Yuu itu, kamu bisa menemukan banyak yang serupa di internet..."

     Itu terjadi saat liburan musim panas di tahun kedua SMA.

     Ketika Kureha-san datang untuk membawaku ke agensi hiburan. Memang, saat itu Kureha-san mengatakan itu dengan sungguh-sungguh.

     Namun, Murakami-kun menatapku dengan pandangan yang entah mengapa terlihat tercengang.

     "Kureha-san punya mata yang jeli dalam menilai manusia. Dia bisa melihat sifat penting seorang kreator, atau mentalitas disiplin diri... Jarang sekali dia salah menilai orang lain."

     Lalu, dia mengubah tatapannya menjadi tajam dan berkata.

     "Tapi, Kureha-san bukan ahli bunga. Aksesoris bunga, di matanya, mungkin semuanya terlihat sama saja."

     "...!"

     Aku akhirnya mulai memahami maknanya.

     Murakami-kun memancarkan tekad kuat di matanya, mengepalkan tinjunya erat-erat.

     "Kali ini, aku akan sungguh-sungguh berusaha untuk menang melawan Natsume-san. Tetapi sejujurnya, kurasa aku tidak akan bisa mencapainya. Ini bukan selisih level yang bisa dikejar dalam waktu sebulan atau lebih. Oleh karena itu..."

     Katanya, sambil menatapku lekat-lekat.

     "Agar kita bisa menang, hanya ada satu cara: Inuzuka-san harus menang."

     Kata-kata itu tiba-tiba menusukku.

     Jawaban atas hal itu secara alami meluncur keluar dari mulutku.

     "M-mana mungkin..."

     Meskipun bingung, aku menjawab tanpa ragu.

     Sebab, aku ini 'kan hanyalah model yang bertugas menonjolkan aksesoris Yuu.

     Saat liburan musim panas, aku kalah dari Yumechin dan harus melarikan diri dengan begitu menyedihkan...

     Mana mungkin aku bisa menang.

     Menanggapi jawaban ketakutanku itu—

     "...Aku mengerti." 

     Murakami-kun mengatakan itu tanpa mengubah ekspresinya sedikit pun.

     "Pertarungan kali ini, aku akan menang seorang diri. Inuzuka-san, kamu hanya perlu mengikuti instruksi."

     Setelah mengatakan itu, dia keluar menuju ruangan meeting tempat Yuu dan yang lain berada.

     ...Aku yang ditinggalkan, hanya bisa berdiri terpaku di tempat.

     Detak jantungku terasa sangat bising.

     Kepalaku terasa akan hancur berantakan.

     Aku mengalahkan Yuu?

     Padahal, sejak awal aku bahkan tidak berniat untuk bertarung?

     Dihadapkan pada kata-kata yang tidak pernah terpikirkan, aku tidak tahu apa yang harus kulakukan.

♣♣♣

     Pertengahan Februari.

     Tokyo.

     Aku meninggalkan tempat ujian setelah menyelesaikan jadwal hari terakhir ujian masuk.

     Saat aku berjalan menyusuri kampus yang tertiup angin musim dingin dengan wajah lesu, Tenma-kun berlari menghampiriku dari arah kafe.

     "Yuu-kun! Kamu pasti lelah!"

     "Ah, terima kasih. Entah bagaimana, akhirnya selesai..."

     "Bagaimana tingkat kepercayaan dirimu?"

     "Semua mata pelajaran kuselesaikan dengan cukup waktu luang, dan kurasa tidak ada kesalahan penulisan, tapi..."

     Entah kenapa, setelah selesai, rasanya cukup ringan.

     Aku tidak berani mengatakan 'hanya segini', tetapi aku bahkan merasa seolah-olah simulasi ujian biasa justru lebih sulit. Aku harus berterima kasih pada Hibari-san dan Sasaki-sensei. Aku akan memberinya oleh-oleh yang mahal.

     Tapi, tentu saja, aku juga merasa cemas....

     "Hanya saja, wawancaranya..."

     "Ahaha. Yuu-kun mengkhawatirkannya terus, ya."

     "Alasan memilih jurusan itu, apa sudah baik? Tentu saja aku tidak bisa mengatakan, 'karena ingin kuliah di universitas yang sama dengan teman'..."

     "Kalau isi yang kudengar darimu kemarin, kurasa tidak masalah."

     "Tapi aku gugup dan mungkin terlihat sedikit kaku. Penguji 'kan sudah berpengalaman berat, jadi aku takut mereka bisa melihat kalau aku berbohong karena dibuat-buat..."

     "Berbohong itu berlebihan, ah. Kamu hanya memilih salah satu dari sekian banyak motivasi, bukan? Lagipula, Yuu-kun sepertinya tipe yang tangguh di hari-H, jadi tidak apa-apa, kok. Universitas lain juga baik-baik saja, kan?"

     "Bagaimana kalau semua cadangan pun aku gagal..."

     "Yuu-kun..."

     Tenma-kun tertawa masam melihatku yang begitu ketakutan.

     Saat kami berdua berjalan menuju gerbang utama, angin kencang yang dingin berembus. Aku merapatkan mantelku dan merintih, "Ugh."

     "Musim dingin di Tokyo...terlalu dingin..."

     "Katanya sedang ada gelombang dingin, ya. Waktu yang buruk."

     "Kenapa ujian masuk selalu diadakan saat cuaca paling dingin seperti ini, ya? Padahal bisa memengaruhi transportasi juga, menurutku tidak efisien."

     "Ada benarnya juga, tapi mengeluh pun tidak akan mengubah masalahnya."

     Saat kami sedang berbicara, sebuah pesan masuk ke ponselku.

     Ah, dari Himari dan Enomoto-san. Isinya 'Bagaimana ujiannya?'. Hmm, aku balas di group chat saja, 'Memohon takdir terbaik'...

     "Yuu-kun. Kamu pulang besok siang, kan?"

     "Ya. Setelah check-out dari hotel, aku akan langsung ke bandara."

     Perjalanan ujian masuk kali ini berakhir di universitas utama ini.

     Aku memilih universitas pilihan kedua dan ketiga yang bisa diujikan lebih awal agar aku terbiasa dengan suasana ujian. Ini juga merupakan saran dari Hibari-san dan Sasaki-sensei.

     "Kalau begitu, malam ini Sanae-san juga sepertinya senggang, bagaimana kalau kita makan malam bersama? Ada yang ingin kamu makan?"

     "Benarkah? Wah, aku mau makan apa, ya..."

     Aku merasa lega seketika.

     Yah, ujian masuk tim Kureha-san memang masih tersisa. Tapi terlepas dari itu, beban di pundakku terasa terangkat, meskipun itu jika aku berhasil lulus nanti.

     "Sampai kemarin aku tidak nafsu makan, jadi hari ini aku ingin yang mengenyangkan..."

     "Oke, kita makan yakiniku."

     Setelah beristirahat sebentar di kafe dekat universitas, aku bertemu dengan Sanae-san menjelang sore.

     Kami pun menuju restoran yakiniku berantai yang letaknya dekat dengan hotel tempatku menginap. Itu adalah restoran yang sering dibicarakan di SNS.

     "Aku baru pertama kali ke toko ini..."

     ​"Ah. Katanya restoran ini jarang ada di Kyushu, ya."

     Kami duduk di meja untuk empat orang.

     Tenma-kun dan Sanae-san duduk berhadapan denganku. Tenma-kun memegang tablet dan segera mulai memesan.

     "Yuu-kun, kamu mau karubi (iga pendek) atau rosu (daging lulur)..."

     "Karubi!"

     "Kalau begini, kamu langsung memutuskan, ya."

     Sambil menunggu makanan, Sanae-san memberikan ucapan selamat.

     "Natsume-kun. Selamat atas selesainya ujian. Semoga kamu lulus, ya."

     "Ya. Kalau sampai gagal, aku akan dimarahi oleh Kakakku..."

     Meskipun biaya perjalanan kali ini ditanggung oleh Ayah dan yang lain, aku dibilang harus bayar ganti rugi kalau harus mengambil ujian gelombang berikutnya. Padahal dia memang tidak pernah berharap apa-apa, dasar Kakak yang tidak berperasaan....

     Tepat saat itu, gelombang daging pertama tiba.

     Saat aku meletakkan karubi di atas panggangan dengan penjepit, terdengar suara juaaaah yang harum. Ah, ini dia. Suara ini saja sudah cukup membuatku bersemangat. Bukankah suara daging yang sedang dipanggang itu punya efek relaksasi? Kenapa tidak ada orang pintar yang membuktikannya?

     Saat aku memikirkan hal bodoh itu, Tenma-kun berkata sambil tertawa.

     "Ngomong-ngomong, saat Tahun Baru, Shishou pulang ke kampung halaman, ya. Aku pikir itu aneh karena dia belum pernah mudik sebelumnya... Tapi aku tidak menyangka dia pergi menemui Kakakmu, Yuu-kun."

     "Ah, soal itu.... Aku juga kaget tiba-tiba ada Yataro-san..."

     Sanae-san memiringkan kepalanya.

     "Maksudnya bagaimana?"

     "Katanya, Shishou dan Kakak Yuu-kun adalah pasangan yang sudah berjanji sehidup semati."

     Berjanji sehidup semati... ya.

     Siapa yang menceritakan situasinya seperti itu, ya? Padahal, yang terjadi adalah sujud sambil bersujud dan ditendang-tendang, hubungan mereka jelas didominasi oleh Kakakku. ...Pasti Himari atau Enomoto-san pelakunya.

     Meskipun isinya adalah kisah yang dilebih-lebihkan menjadi manis, Sanae-san mendengarkannya dengan gembira.

     "Oh. Ternyata orang itu punya pasangan seperti itu, ya."

     "Aku juga tidak tahu. Cukup banyak gadis penggemar Shishou di grup kami, jadi akan jadi masalah besar kalau informasi ini tersebar."

     "Fufu. Yataro-san itu selalu terlihat merepotkan, padahal dia sangat perhatian, lho."

     Tenma-kun bereaksi sedikit terhadap penilaian positif yang tak terduga itu. Tanpa menghilangkan senyum tenangnya, dia bertanya dengan hati-hati.

     "...Sanae-san tidak termasuk, kan?"

     "Tentu saja tidak. Aku lebih menyukai pria yang bisa diandalkan." 

     Potong Sanae-san dengan tegas, lalu menyesap oolong high (oolong tea dengan alkohol).

     Rupanya hari ini dia sedang ingin minum. ...Entah kenapa, meskipun Saku-neesan melakukan hal yang sama, aku sama sekali tidak peduli, tapi kenapa aku jadi merasa berdebar-debar saat Sanae-san minum di meja yang sama denganku?

     Dengan sedikit ceria karena alkohol, Sanae-san bertanya.

     ​"Natsume-kun, apakah kamu akan langsung mempersiapkan ujian masuk tim Kureha-san?"

     "Ah, iya. Yah, itu kalau aku lulus universitas dengan selamat, sih..."

     "Aku dengar. Kamu berpasangan dengan Yume-san dan bertarung melawan Murakami-kun, kan?"

     "Ya. Meskipun rasanya seperti pertarungan yang sangat nekat..."

     Ah, benar juga.

     Dalam pertarungan itu, aku akan dibantu oleh Tenma-kun dan Sanae-san.

     "Ngomong-ngomong, Sanae-san dan Tenma-kun juga bersedia menjadi juri, ya. Terima kasih banyak di tengah kesibukan kalian."

     "Tidak, tidak. Skripsiku juga sudah selesai, jadi anggap saja ini liburan kelulusan yang datang lebih awal. Biaya perjalanan juga ditanggung Kureha-san, jadi ini malah keberuntungan."

     "Setelah lulus, apa yang akan kamu lakukan?"

     "Hmm..."

     Lalu, suasana langsung berubah.

     Suasana ceria yang menyenangkan sebelumnya menghilang. Entah mengapa, Sanae-san menghela napas dengan nada muram dan menjawab dengan suara yang suram.

     "Pada akhirnya, aku memutuskan untuk tetap berada di grup dan membantu Kureha-san. Pekerjaan di belakang layar yang sama seperti Yataro-san..."

     "Ah, begitu, ya..."

     Entah kenapa, itu terdengar sangat tidak menyenangkan.

     Yah, aku mengerti perasaannya. Jujur saja, melihat bagaimana Yataro-san diperlakukan, entahlah. Pasti sangat merepotkan. ...Ini adalah ungkapan yang sangat halus, lho.

     "Eh? Tapi bukankah sebelumnya kamu bilang ada agensi yang menghubungimu?"

     "Agensi itu, baru-baru ini, kabarnya direkturnya menghilang membawa kabur semua uang..."

     "Aduh..."

     Sungguh ketidakkekalan dunia yang menyedihkan.

     Dasar dunia hiburan. Apa hal seperti itu sering terjadi, ya? Aku memang mendengarnya di berita... Tidak, tidak mungkin hal seperti itu terjadi semudah itu.

     "Yah, Kureha-san itu murah hati soal uang. Sisi baiknya, maupun sisi buruknya..."

     "B-benar juga..."

     Saat aku bingung harus berkata apa, tiba-tiba Sanae-san terlihat 'berpikir keras'. Dia sepertinya mendapat ide, tapi aku punya firasat buruk tentang ini.

     Benar saja, Sanae-san langsung meneguk oolong high-nya.

     Lalu, dia berdiri dan dengan cepat pindah ke sampingku. Tiba-tiba dia mendekatkan tubuhnya, dan berkata dengan napas yang agak hangat.

     "Kalau Natsume-kun mau jadi suami permanenku, mungkin urusannya akan lebih cepat selesai, ya...?"

     "A-anu...! Sekarang ada Rion...!"

     Tolong hentikan godaan mendadak yang menguji batas rasionalitasku ini~~~!

     Kemudian, Tenma-kun yang merasa tidak tega, mengangkat bahu dan menegur, "Sanae-san." Sanae-san tertawa kecil sambil kembali ke tempat duduknya semula.


     "Sayang sekali."

     "Jantungku bisa copot..."

     Dasar Oneesan yang senang sekali menggoda.

     Sejujurnya, aku lebih suka godaan seperti ini daripada godaan Kureha-san. Meskipun apa yang dilakukannya tidak jauh berbeda dengan Himari, karena dia adalah mahasiswi yang lebih tua, entah kenapa godaannya terasa lebih sensual dan itu merepotkan....

     Untuk menenangkan diri, aku menyantap daging yang sudah matang.

     Mmm, dagingnya enak sekali.... Belakangan ini aku kurang nafsu makan karena ketegangan ujian, dan lemak yang sudah lama tak kurasakan ini terasa menyebar ke seluruh tubuhku.

     Saat itu, sambil memesan oolong high kedua... tunggu? Kedua, ya? Kenapa sudah ada sekitar lima gelas kosong berjajar di meja?

     Yah, bagaimanapun, Sanae-san berkata sambil tersenyum lebar.

     "Natsume-kun, apakah pembuatan karya untuk ujian masukmu sudah berjalan? Karena isi pertarungannya cukup besar, persiapan bunganya pasti merepotkan, ya?"

     "Ah, iya. Bunga-bunganya dibantu oleh adik kelasku di kampung halaman, jadi jumlahnya sepertinya akan cukup. Aku juga sempat memantau, tapi tetap saja, belajar harus jadi prioritas. Pekerjaan mereka juga teliti, tanpa bantuan mereka berdua, aku terpaksa harus membelinya di toko bunga."

     ​"Syukurlah. Bagaimana dengan Yume-san?"

     "Kami sudah bertemu dua kali dan kurasa arah konsepnya sudah cukup tergambar. Sisanya tinggal memfinalisasi desain dan membuatnya sekaligus... semoga saja begitu."

     Yah, itu tergantung hasil ujian masuk kali ini.

     Jika buruk, aku harus melakukannya bersamaan dengan persiapan ujian gelombang berikutnya.

     "...Ternyata cukup kacau, ya. Aku kira kamu akan punya lebih banyak waktu luang."

     "Fufu. Kenyataannya, bekerja sebagai pekerja lepas saat sudah terjun ke dunia profesional memang akan jadi seperti itu. Ini ujian yang khas dari Kureha-san."

     "Ya, benar. Selain itu, entah bagaimana... isi tugasnya cukup sulit dipahami."

     "Oh? Bukankah 'Fotografi'?"

     "Memang, tapi temanya itu..."

     Tiga ronde pertarungan yang dimaksud.

     Temanya adalah 'Alam Semesta', 'Bumi', dan 'Manusia'.

     Aku sudah memikirkan beberapa desain, tetapi sejujurnya, rasa khawatir tentang apakah itu benar-benar konsep yang bagus jauh lebih besar.

     "Begitu, ya. Proses coba-coba seperti ini memang akan selalu menyertai seorang kreator. Karena tidak ada jawaban yang pasti, ini tentang seberapa baik kamu bisa membuatnya terlihat sesuai, ya."

     "Terlihat sesuai?"

     "Ya. Intinya, kalau kamu bisa meyakinkan bahwa 'Ini adalah hal yang bagus', maka kamu menang."

     "Eeh... boleh begitu saja...?"

     Bukankah itu berarti, yang menang adalah yang lebih pandai berpromosi daripada yang memiliki substansi?

     Tidak, aku tidak berpikir itu bisa menutupi perbedaan kualitas yang mutlak, tapi... artinya, dalam pertarungan yang sengit, yang lebih menonjol yang akan menang.

     "Yah, bagi tipe orang seperti Natsume-kun, kamu mungkin sulit menerimanya. Tapi kalau pertarungan ini adalah negosiasi bisnis yang sesungguhnya, maka yang paling laris, itulah pemenangnya."

     "...Memang, benar juga, ya."

     Lagipula, ujian masuk kali ini adalah untuk menilai 'seberapa besar imbal hasil yang bisa kubuktikan sebagai seorang kreator'.

     Jika begitu, perkataan Sanae-san adalah hal yang sangat wajar.

     "...Tapi, apakah tidak apa-apa memberitahuku hal seperti itu?"

     Sanae-san adalah juri dalam pertarungan ini.

     Rasanya kurang adil memberikan kriteria penilaian di awal....

     "Fufu. Kalau kita bicara soal keadilan, pengalaman komersial Murakami-kun sudah jauh berbeda sejak awal. Justru kalau aku tidak memberikan saran sebesar ini, itu malah akan menjadi unfair."

     "A-apakah memang begitu seharusnya...?"

     Standar semacam ini, Sanae-san dan yang lain jauh lebih berpengalaman daripadaku.

     Aku yakin itu yang benar, tetapi... hmmm, entah kenapa rasanya ada yang mengganjal....

     (Namun, mungkin inilah kenyataannya...)

     Artinya, standarnya berbeda dengan jika aku menjalankannya hanya sebagai perpanjangan dari hobi.

     Selama ini dilakukan dalam ranah komersial, pada akhirnya kebenaran agung yang ada adalah omzet. Sebelum mempertanyakan benar atau tidaknya teori itu, aku hanya perlu berusaha agar bisa beradaptasi.

     "Baik. Dalam pertemuan dengan Kirishima-san selanjutnya, aku akan membicarakan poin itu juga."

     "Ya. Semangat, ya."

     Lalu, Sanae-san menyadari sesuatu tentang Tenma-kun.

     Sejak tadi, Tenma-kun tersenyum sambil terus memanggang daging. Sambil mendengarkan percakapan kami, dia menumpuk daging yang sudah matang di piring kecil.

     ...Eh?

     Ada yang aneh dengan dia?

     Tidak, dia terlihat seperti Tenma-kun yang biasanya ramah. Dia juga bukan tipe yang banyak bicara, dan memang dia selalu mengambil peran seperti ini saat makan bersama, seperti orang yang bekerja di belakang layar.

     Padahal, sampai kami tiba di restoran ini, dia masih seperti biasa.

     Tapi entah kenapa, rasanya ada yang janggal... Aku merasa suasananya sedikit berubah setelah dia mendengar percakapanku dengan Sanae-san.

     "T-Tenma-kun?"

     "Hm? Ada apa?"

     "Ah, tidak, kamu sepertinya sedang memikirkan sesuatu?"

     "Eh? Ahaha... Jangan dipikirkan. Ayo, mau pesan yang lain? Ini adalah pesta perayaan untuk Yuu-kun, jadi jangan sungkan. Nah, mau coba pesan menu yang paling mahal ini?"

     ".............."

     Y-ya, memang ada yang aneh.

     Bukan seperti sedang marah... tapi lebih seperti sedang memendam sesuatu. Karena itu, dia terlihat sedikit terlalu bersemangat—begitu, kah?

     Sanae-san, yang memperhatikan tingkahnya, entah kenapa tertawa masam.

     "Tenma-kun, kenapa tidak kamu katakan saja apa yang ingin kamu katakan? Kurasa Kureha-san juga tahu bahwa kamu akan mengatakannya."

     ​".............."

     Ada apa?

     Saat aku memiringkan kepala, Tenma-kun mengangkat bahu. Dia seolah ingin mengatakan, "Aku tidak bisa menang melawan Sanae-san."

     "Aku ragu apakah harus mengatakannya padamu, Yuu-kun..."

     Kemudian, Tenma-kun berbicara dengan nada yang sedikit serius.

     "Ujian masuk kali ini, kemungkinan besar bukan hanya menentukan nasib Yuu-kun, tapi juga nasib Himari-san."

     "...Eh?"

     Apa maksudnya?

     Itu adalah kata-kata yang sama sekali tidak kuduga. Bukankah ujian masuk ini seharusnya untuk menilai apakah aku layak menerima pendanaan dari Kureha-san atau tidak?

     Melihatku yang kebingungan, kini giliran Sanae-san yang memberikan tambahan penjelasan.

     ​"Ini bukan hanya terbatas pada sudut pandang Kureha-san saja, tapi... Natsume-kun dan Himari-san, bagaimanapun, memberikan kesan sebagai pasangan yang tidak terpisahkan."

     "Ya. Yah, aku rasa memang begitu, tapi..."

     Selama ini kami berdua mengejar mimpi bersama.

     Sudah empat tahun... tidak, setelah bersama selama empat tahun, tidak aneh jika ada kesan seperti itu.

     "Jangan-jangan, maksudnya aksesorisku terlalu bias pada citra Himari?"

     Aku pernah dikritik oleh Saku-neesan tentang hal itu, aksesorisku memang cenderung didesain agar cocok untuk Himari.

     Aku sudah mencoba memperbaikinya selama dua tahun ini, tetapi apakah masih belum sempurna? Memang aksesoris itu awalnya dibuat untuknya, dan tidak diragukan lagi dia adalah dasar dari aksesorisku....

     Namun, Tenma-kun menggelengkan kepala mendengar pertanyaanku.

     "Bukan, aksesoris Yuu-kun tidak terlalu menjadi masalah. Desain yang sangat dipengaruhi oleh model bernama Himari-san, sebaliknya bisa disebut sebagai keunikan. Untuk menarik klien, diperlukan semacam trademark, dan Yuu-kun pasti bisa memikirkan desain yang cocok untuk setiap klien. Menilai hal itu juga merupakan salah satu makna dari pertukaran model kali ini."

     "Lalu, apa masalahnya?"

     Tenma-kun menunjukkan sedikit... hanya sedikit, keraguan dalam memilih kata.

     "Saat ini, level Himari-san sebagai model belum mengejar level Yuu-kun sebagai kreator. Kureha-san tampaknya berniat untuk sekaligus menilai prospek Himari-san sebagai model dalam ujian ini."

     "Himari? Tidak, tapi dia sudah berusaha keras dalam latihannya..."

     "Itu hanya soal dasar. Itu hanya cukup untuk berdiri di garis start, tapi tidak cukup untuk berkarier sebagai profesional. Masalah Himari-san adalah, mungkin, mentalitasnya di saat genting..."

     Katanya, lalu melanjutkan dengan ekspresi serius.

     "Aku sudah mendengar cerita tentang kegagalan Himari-san dalam pekerjaan Gou-san saat liburan musim panas. Termasuk bagaimana keadaannya saat itu... karena aku juga punya kenalan di studio itu."

     ".............."

     Kejadian saat liburan musim panas itu.

     Himari kehilangan kesempatan kerja karena tidak bisa menjawab teka-teki dari fotografer yang hampir seperti permintaan yang keterlaluan.

     Aku tidak tahu betapa sulitnya bertahan di dunia hiburan.

     Meskipun begitu, aku bisa menduga bahwa tempat yang Himari putuskan untuk tinggali adalah dunia tempat orang-orang mengasah keterampilan mereka.

     Betapa sulitnya untuk bertahan hidup di sana pun...

     Jika dikatakan bahwa pengalaman yang Himari kumpulkan untuk itu masih belum cukup, memang begitulah adanya.

     Himari kekurangan waktu pengalaman.

     Justru karena itulah, aku pikir dia masih memiliki kelonggaran waktu....

     "Tapi, bukankah Kureha-san bilang, meskipun Himari kalah, keadaannya akan tetap seperti sebelumnya..."

     Itu adalah perkataan Kureha-san di akhir tahun.

     Meskipun dia mencemooh orang lain semudah bernapas, dia tidak pernah berbohong. Namun, jika kuingat-ingat lagi, sepertinya ada makna tersembunyi dalam kata-katanya.

     Jangan-jangan, aku seharusnya tidak menerima kata-kata itu secara harfiah?

     "Benar. Meskipun Himari-san kalah, keadaannya akan tetap seperti sebelumnya."

     Tenma-kun mengiyakan firasat buruk yang mulai tumbuh di hatiku.

     "Maksudnya, enam bulan terakhir saat dia benar-benar diabaikan tanpa diberi pekerjaan—akan tetap seperti sebelumnya."

     "...!"

     Matanya menatapku lurus-lurus.

     Aku merasa seolah aku sedikit disalahkan atas kurangnya pertimbanganku.

     "...Tidak mungkin."

     Aku kehilangan kata-kata.

     Memang benar Himari hanya menjalani hari-hari dengan berlatih terus-menerus.

     Dia tidak pernah diberi pekerjaan seperti saat liburan musim panas... Tapi, bukankah itu karena dia masih pelajar? Bukankah itu adalah pertimbangan untuk menghindari kerepotan bolak-balik antara kampung halaman dan Tokyo, dan hal-hal semacamnya?

     Tidak, sejak awal aku tahu Kureha-san bukanlah orang yang akan memikirkan hal-hal seperti itu.

     Aku menoleh ke arah Sanae-san, tetapi dia hanya menggelengkan kepala dengan ekspresi penuh penyesalan.

     Ini berarti, bagaimana aku harus mengatakannya.

     Atau mungkin, ini adalah kejadian yang tidak terlalu aneh di dalam kelompok Tenma-kun dan yang lainnya.

     "Yuu-kun. Kureha-san tampaknya telah menurunkan ekspektasinya terhadap Himari-san sejak pekerjaan musim panas itu. Seharusnya ada sekitar tiga pekerjaan yang sudah kurencanakan untuknya. Tetapi Kureha-san menilai itu terlalu dini bagi Himari-san, dan semuanya dialihkan ke model lain."

     ".............."

     "Kureha-san memang cenderung mengutamakan emosi, tetapi pada saat-saat penting, dia adalah orang yang bisa membuat keputusan yang tenang. Terutama kalau itu adalah pekerjaan yang melibatkan orang lain. Buktinya, Yume-san mendapatkan banyak pekerjaan selama enam bulan terakhir."

     Aku hanya bisa diam mendengarkan kata-kata Tenma-kun.

     Di dalam kepalaku, percakapan dengan Himari di akhir tahun terus berputar. Himari tertawa dan berkata bahwa lebih baik dia sengaja kalah, karena aku yang lebih penting daripada dirinya.

     Perasaan janggal yang kurasakan pada Kureha-san saat itu, ternyata adalah sesuatu yang tidak seharusnya kulewatkan.

     (Jika aku menang dalam pertarungan kali ini, Himari akan ditinggalkan...)

     Aku teringat akan Himari sepanjang tahun ini.

     Meskipun dia selalu ceroboh seperti biasa... Aku yakin melihat Himari berusaha dengan sungguh-sungguh. Bahkan, dia berusaha lebih keras lagi sejak kejadian liburan musim panas itu....

     (Apa yang harus kulakukan—)

     Pikiranku terasa berantakan.

     Lagipula, pertarungan kali ini, selain harus bersaing dengan Himari, ada dinding besar bernama Murakami-kun. Ditambah mendengar hal seperti ini, apa yang harus kulakukan....

     "Yuu-kun."

     Panggilan Tenma-kun menarik pikiranku kembali ke kenyataan.

     "Ini hanyalah harapan pribadiku. Aku tidak berniat memaksamu, dan aku tidak punya hak untuk itu. Namun, kalau aku boleh menyampaikan satu permintaanku..."

     Lalu, dia menatapku lurus-lurus dari depan dan menyatakan dengan jelas.

     "Aku ingin melihat karyamu, karya yang berpegang teguh pada kemenangan, bahkan jika itu berarti harus menjatuhkan sahabatmu."

     ​".............."

     Aku tidak bisa menjawab.

     Betapa beratnya kata-kata Tenma-kun. Dia adalah kakak yang selalu baik dan memikirkan semua orang. Selama setahun ini, dia pasti melihat Himari berusaha di agensi.

     Meskipun begitu, Tenma-kun mengatakan hal yang begitu kejam kepadaku.

     Pada saat yang sama, aku merasa itu adalah bentuk kepercayaan padaku.

     Apakah aku bisa menjadi mitra kerja yang akan bekerja sama dengannya mulai sekarang? Apakah aku memiliki tekad yang layak menerima kepercayaan itu? ...Atau mungkin, memenuhi ekspektasi Tenma-kun inilah yang akan menjadi kriteria penilaian terpenting dalam ujian masuk tim Kureha-san.

     ".............."

     Aku tetap tidak bisa menjawab.

     Tenma-kun berkata bahwa dia tidak membutuhkan jawaban saat ini.

     Dia juga berkata bahwa dia akan menantikan karya yang kubuat di hari-H.

     Aku bahkan tidak ingat lagi rasa daging setelah itu, dan aku baru benar-benar sadar ketika sudah berada di atas ranjang hotel tempatku menginap.

     Sambil menatap langit-langit putih bersih yang disinari cahaya redup, aku terus bertanya pada diri sendiri berulang kali.

     ...Ujian masuk tim Kureha-san tinggal sebulan lebih sedikit lagi.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close