NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Danjon de Tatakai Tsudzukete Nijuu-nen no Doutei Yuusha ⁓ Chijou ni Modottara Danjo-hi 1:1000 no Sekai datta Volume 1 Chapter 3

Chapter 3

Masa Lalu, Masa Depan, dan Diriku yang Sekarang


"Terus?"

"Terus... apa maksudmu?"

Genma Shogen tidak langsung menjawab. Dia tetap diam, menatap pemandangan kota Tokyo yang terbentang luas di balik jendela kaca.

"Biar aku perjelas saja. Ini soal Rinka. Apa kabarnya sekarang?"

"Kau tidak menanyakan kabar Yorimitsu, ya."

Shogen menyebut nama Satake Yorimitsu, mantan rekan mereka yang dulunya seorang prajurit berat. Namun, berita yang paling ingin Ryuto ketahui saat ini adalah kabar tentang Rinka.

Ryuto berdiri dari sofa, lalu berkata kepada Shogen yang masih memunggunginya.

"Yorimitsu-chan sehat? Jadi, Rinka bagaimana?"

"Tanyanya buru-buru sekali, seperti cuma basa-basi saja."

"Berisik. Dia bukan tipe yang gampang mampus. Sama seperti kau."

"Benar juga, sih. Tapi kau ini keterlaluan sekali."

"Kumohon. Beritahu aku tentang Rinka."

Shogen berbalik. Ekspresinya tidak berubah, pikirannya sama sekali tidak terbaca. Sebagai orang yang lahir di kuil dan memiliki ayah seorang biksu Zen, tidak ada yang bisa mengalahkan ekspresi datar Shogen di saat-saat genting.

Namun, ketika Ryuto menatap matanya dengan tajam, Shogen sedikit menurunkan pandangannya.

"Dia sudah pergi."

"Hah?"

"Entah pergi ke mana."

"Hoee..."

Wajah Ryuto seketika menjadi kaku, terlihat kosong seperti patung tanah liat Haniwa.

"Maaf. Kau pasti mengharapkan reuni yang mengharukan. Ryuto... Rinka menghilang delapan belas tahun yang lalu, dan sampai sekarang keberadaannya tidak diketahui."

"K-Kenapaaa?"

"Mungkin, karena pria."

"Pria!? Bohong!"

Mata Ryuto berkedip-kedip, seolah-olah ada kilat yang menyambar tepat di depan wajahnya. Hampir di saat yang bersamaan, dia merasa pening yang hebat, hingga lututnya lemas dan dia jatuh tersungkur ke atas karpet.

Tepat saat wajahnya hampir mencium lantai, kedua bahunya ditangkap oleh Shogen.

"I-itu... mungkinkah?"

"Jangan menyalahkannya. Rinka sudah menunggumu selama dua tahun. Kami pun tidak berani mencarinya. Soal itu... ya, kumohon mengertilah."

Pandangan Ryuto tampak kosong, matanya bergerak liar tak tentu arah. Senyum Rinka yang ada dalam ingatannya kini perlahan tertutup kabut putih dan menghilang.

Ryuto menepis tangan Shogen lalu berdiri. Sambil tetap membelakangi temannya, dia mengepalkan tinju kanan dan tubuhnya gemetar hebat.

"Ryuto..."

"Kalau begitu, aku cari wanita baru saja."

"Hei!"

"Bercanda, kok."

Ryuto berbalik menghadap Shogen dan memaksakan senyum. Penyesalan mendalam dan rasa hampa menyerangnya secara bertubi-tubi, namun apa boleh buat. Waktu adalah satu-satunya hal yang tidak bisa diputar kembali.

Beban dua puluh tahun terasa sangat berat menghimpitnya. Masa kekosongan itu benar-benar fatal.

"Kau tidak apa-apa?"

"Yah. Sejujurnya ini cukup menyakitkan."

"Hei, Ryuto."

"Maaf. Bisa tinggalkan aku sendiri sebentar? Aku ingin menjernihkan pikiranku."

"Ah, tentu saja."

Shogen melangkah keluar ruangan dengan kesedihan mendalam yang terpancar di wajahnya.

Begitu pintu tertutup, Ryuto menutupi wajahnya dengan kedua tangan, lalu bahunya bergetar dalam diam. Tubuhnya mulai menggigil.

Suara geraman seperti binatang buas keluar begitu saja dari tenggorokannya. Dia pikir dia akan menangis, namun tidak ada setetes pun air mata yang jatuh ke telapak tangannya.

Dia tahu itu. Ini bukan salah siapa-siapa.

Jika ditinggalkan selama dua puluh tahun, tentu saja hal seperti ini akan terjadi. Namun, tetap saja dia tidak bisa menerimanya begitu saja.

"Tenanglah, tenanglah," sisi lain dari dirinya berbisik dalam hati seperti sebuah mantra.

"Sialan."

Di saat yang sama, ingatan tentang Rinka yang takkan pernah bisa diraihnya lagi terus bermunculan dan menghilang di benaknya. Wajahnya yang cantik, dadanya yang besar dan berbentuk indah, pinggangnya yang ramping, bokong mungilnya yang lucu, hingga pahanya yang kencang.

Sial, memikirkan tubuh itu telah dinikmati sesuka hati oleh pria lain selain dirinya, membuat gigi Ryuto bergemeletuk karena terkatup rapat.

"Dada Rinka..."

Sangat menyedihkan, tapi nafsu seksualnya ternyata lebih besar daripada rasa kasih sayang. Membayangkan pria lain menindih tubuh itu dan menjamahnya sesuka hati dari belakang, membuat api menyambar hingga membakar sirkuit otaknya. Api cemburu yang membara.

Ryuto duduk kembali di sofa dan mengambil napas dalam-dalam. Menarik dan mengembuskannya dengan kuat. Dia mengulanginya dua kali.

—Bagaimana cara menyembuhkan kesedihan ini?

Ryuto mengacak-acak rambutnya yang berantakan, lalu mengalihkan pandangannya ke arah televisi model terbaru yang terpasang di dinding.

"Aku mengacaukannya."

Begitu sampai di koridor hotel, Genma Shogen memegang tengkuknya dengan wajah yang masam. Secara refleks, dia memasukkan tangan ke saku dada, mengeluarkan korek api Dunhill, lalu menyipitkan mata kanannya. Padahal, dia tahu tidak ada tempat untuk merokok di sini.




Kini, para perokok dibenci oleh kaum wanita bagaikan melihat ular atau kalajengking. Shogen pun tak terkecuali; istrinya selalu menegurnya tanpa ampun setiap kali dia ketahuan merokok.

Di hotel kelas satu zaman sekarang, sangat sulit menemukan area merokok.

Demi melayani segelintir tamu pria, Hotel Teio memang menyediakan ruang merokok, namun Shogen harus berpindah cukup jauh dari posisinya saat ini.

Tapi itu mustahil. Shogen, yang dikenal sebagai sosok yang sangat kaku dan setia kawan, tidak mungkin meninggalkan Ryuto yang saat ini sedang mengalami syok berat sendirian.

—Ini memang tugas yang kuambil sendiri, tapi rasanya berat juga.

Apa yang dikatakan Shogen kepada Ryuto adalah campuran antara kebenaran dan kebohongan.

Rinka memang benar-benar menghilang, tapi bukan karena dia mencari pria lain dan meninggalkan Ryuto.

Kenyataan sebenarnya adalah, Rinka menghilang ke dalam dungeon demi mengejar Ryuto.

Rinka telah menghilang sebanyak dua kali dari hadapan Shogen dan yang lainnya.

Pertama, tepat setelah status kepulangan Ryuto dinyatakan mustahil. Kedua, saat dia membawa bayi yang baru lahir dan menitipkannya kepada Shogen dan Kazumi.

Bagi Shogen, Ryuto adalah sahabat karibnya.

"Ya, dia sangat berharga. Tentu saja."

Shogen sama sekali tidak ingin menyakitinya atau berbohong padanya.

Namun, Shogen memutuskan untuk mengatakan bahwa Rinka hidup dan melarikan diri bersama pria lain.

Dia berpikir, jika Ryuto percaya Rinka masih hidup dan berada di suatu tempat di permukaan bumi, maka si bodoh yang nekat itu tidak akan berpikiran macam-macam, apalagi sampai masuk kembali ke dungeon untuk mencarinya.

Jika ditanya kenapa dia melakukan itu, alasannya hanya satu.

—Jika Ryuto menghilang lagi, Kazumi akan sangat sedih.

Jika dia jujur bahwa Rinka menghilang ke dalam dungeon demi mengejar Ryuto, maka kali ini Ryuto pasti tidak akan pernah kembali ke permukaan sampai dia berhasil menemukannya. Ryuto memang sebodoh dan sejujur itu.

Shogen memilih untuk berbohong. Sejak Ryuto menghilang ke dasar jurang demi memberikan penyelesaian akhir pada Raja Iblis, hati Kazumi telah terluka sangat dalam. Salah satu alasan Kazumi menerima lamaran Shogen adalah karena dia telah kehilangan adik satu-satunya.

Jika bukan karena kejadian itu, Shogen mungkin tidak akan pernah bisa mendapatkan Kazumi sebagai istrinya. Meski harus menipu dan membohongi Ryuto, Shogen tidak ingin membuat Kazumi—satu-satunya orang yang paling berharga baginya—merasa sedih lagi.

Delapan belas tahun yang lalu—

Ini adalah kisah tepat sebelum Rinka menghilang.

Tiba-tiba dia muncul di hadapan Shogen dan Kazumi, menitipkan bayi perempuan bernama Haruka yang baru lahir, lalu pergi menuju bagian terdalam dungeon yang belum terjamah manusia.

Kala itu, Shogen dan Kazumi yang baru saja menikah belum memiliki anak. Haruka kemudian didaftarkan sebagai anak telantar sesuai dengan Undang-Undang Hukum Perdata Pasal 57, dan mendapatkan marga Shimomura yang merupakan marga dari walikota saat itu.

Sejak saat itu, gadis yang tidak diketahui asal-usulnya ini dikenal sebagai Shimomura Haruka.

Belum bisa dipastikan apakah Haruka adalah anak kandung Rinka atau bukan. Jika benar, itu akan menjadi pukulan ganda yang telak bagi Ryuto. Karena itulah, Shogen maupun Kazumi tidak menceritakan hal ini kepada siapa pun kecuali sahabat mereka, Yorimitsu.

Kini, itu hanyalah masa lalu. Lagi pula, Shogen sama sekali tidak mengira Ryuto masih hidup.

Faktanya, pencarian Sakazaki Ryuto telah resmi dihentikan lima belas tahun yang lalu. Di antara Shogen dan Kazumi, nama Ryuto tidak pernah dibahas lagi kecuali pada hari peringatan kematiannya—hari perpisahan terakhir mereka.

Namun, dunia memiliki pandangan yang berbeda.

Di antara Kelompok Penyelamat Dunia yang berjasa besar membasmi Raja Iblis, Ryuto dihormati oleh masyarakat sebagai sosok "Pahlawan" sejati yang mempertaruhkan nyawanya hingga akhir. Dia adalah pengecualian. Shogen, Kazumi, dan Yorimitsu pun dianggap sebagai pahlawan di Jepang.

Bahkan ada agama baru yang mendewakan Ryuto setelah pertarungan satu lawan satu melawan Raja Iblis.

Perkumpulan ajaran yang memuja Pahlawan Ryuto ini, yang dikenal sebagai "Agama Pahlawan," memiliki lebih dari lima juta pengikut di seluruh negeri. Organisasi ini menjadi lumbung suara yang sangat penting bagi Partai Minsei, tempat Shogen dan Kazumi bernaung.

—Tapi, kali ini aku datang sebagai teman Ryuto, terlepas dari segala kepentingan politik yang kotor itu.

Dua puluh tahun yang lalu, Shogen dan Ryuto berada di usia yang sama dan merupakan sahabat yang paling dekat.

Alasannya berbohong tentang Rinka murni berasal dari keinginannya untuk meredakan ketakutan istrinya tercinta, Kazumi. Dia takut jika Ryuto yang baru saja kembali ini mengetahui kebenaran, dia akan membuang segalanya dan kembali ke dungeon, lalu takkan pernah pulang lagi.

"Dia butuh waktu."

Bahkan di mata Shogen, Ryuto dan Rinka jelas saling mencintai.

Jika Rinka ada di sini, dia pasti akan membuang segalanya demi bertemu Ryuto.

Saat ini, Ryuto seperti Urashima Taro yang tersesat di zaman modern.

Namun, cepat atau lambat kebenaran pasti akan terungkap. Kisah tentang apa yang terjadi pada Rinka bukanlah rahasia negara.

—Apa yang bisa kulakukan untuknya?

Saat sedang merenung, sebuah teriakan melengking terdengar dari dalam kamar. Shogen merasa ngeri, takut jika Ryuto melakukan hal yang nekat karena terlalu terpukul. Dengan panik, dia membuka kunci pintu dan bergegas masuk.

"Oi, Shogen! Televisi ini aneh! Aku tidak bisa menonton saluran dewasa!"

"Kau ini..."

Ryuto langsung merasa goyah saat melihat wajah Shogen yang tampak lelah dan lesu.

"Oi, jangan-jangan... itu, ya!? Uang!? Apa butuh biaya tambahan?"

"Bukan begitu. Pokoknya, Ryuto, duduklah dulu."

"O-oh. Ngomong-ngomong, Shogen. Dulu soal DVD dewasa, kau kan ahlinya yang tidak tertandingi! Beritahu aku trik rahasianya!"

"Pertama-tama... aku ini sudah lama menikah, dan aku sudah bukan di usia untuk meributkan hal-hal seperti itu lagi. Bukan! Jangan pasang wajah begitu! Jangan menjauh! Jangan memeluk tubuhmu sendiri! Aku tidak tertarik padamu! Dengar, ya? Entah kau sadar atau tidak, jumlah pria di dunia ini sangat sedikit. Jumlah wanita jauh lebih banyak."

"Why?"

"Secara konkret, rasio jenis kelamin di dunia sangatlah timpang. Karena itulah, video dewasa semacam itu sudah hampir punah dari dunia sejak lama. Alasannya banyak, tapi intinya bisnis itu sudah mati. Kau tidak terima? Ya sudahlah. Pokoknya... ah, sial, waktunya sudah tiba. Ryuto, maaf, ada panggilan mendadak. Kita bicara lagi saat makan malam. Yorimitsu juga akan datang dari Kyushu nanti, kita bisa bicara santai saat itu."

"Apa? Kau sibuk sekali ya? Apa pekerjaanmu?"

"Yah, bisa dibilang aku ini tukang bersih-bersih urusan dunia."

"Kerja paruh waktu di minimarket?"

"Mana mungkin! Sama seperti Kazumi, aku ini anggota parlemen—seorang politisi."

"Haha!"

"Kau sama sekali tidak percaya, ya."

"Tidak juga, kok."

"Dasar, kau tidak berubah ya."

"Di usia segini masih kerja paruh waktu, berat juga ya. Padahal kau punya anak."

"Kubilang bukan begitu!"

Shogen pergi sambil berpesan, "Istirahatlah di kamar." Begitu dia pergi, Ryuto menyeringai sambil memainkan dompet kulit yang berhasil dicurinya dari Shogen dalam sekejap mata.

—Dengan ini, dana operasional sudah cukup.

"Si Shogen itu. Apa maksudnya melarangku keluar hotel? Aku baru saja menghirup udara bebas setelah sekian lama, tahu. Mana mungkin aku tahan tidak menghirup udara luar."

Ryuto tidak mengerti, tapi Shogen sudah mewanti-wanti bahwa segala kebutuhan akan dikirimkan ke kamarnya, jadi dia dilarang keluar hari ini.

Tentu saja, Ryuto yang merupakan gumpalan sifat pemberontak tidak mungkin menuruti perintah itu begitu saja.

"Nah, sekarang bagaimana ya."

Shogen tadi bilang jumlah pria di dunia ini jauh lebih sedikit dibandingkan wanita. Memang, kalau dipikir-pikir, para petualang yang datang menyelamatkannya di dungeon maupun orang-orang asosiasi, tidak ada satu pun pria. Tapi Ryuto hanya menganggap itu sebagai kebetulan belaka.

"Pokoknya aku ingin keluar dan makan sesuatu. Sesuatu yang benar-benar berminyak."

Ryuto sangat merindukan makanan sampah alias junk food.

Makan malam mewah yang disajikan hotel tadi malam memang enak, tapi itu hanyalah rasa makanan untuk acara formal.

Dua puluh tahun yang lalu, setiap kali ada waktu luang di sela-sela penjelajahan, Ryuto akan menggunakan uang sakunya yang pas-pasan untuk melahap junk food seolah tidak ada hari esok. Masa muda dan perut yang kuat memungkinkan hal itu.

Dan setelah dua puluh tahun...

Ryuto yang kembali ke permukaan dengan kondisi waktu yang seolah terhenti bagi tubuhnya, sangat mendambakan makanan cepat saji itu.

"Ah, rindunya."

Sekarang setelah dia bebas, dia ingin makan ramen dan burger yang selama ini hanya bisa dia impikan di kegelapan sampai perutnya pecah.

Padahal saat sarapan tadi dia sudah melahap porsi untuk sepuluh orang dengan mudah, tapi semua itu sudah mulai dicerna di perutnya.

Apa yang dia makan segera disalurkan ke seluruh tubuh dan diubah menjadi energi. Agar tidak kalah oleh lingkungan yang kejam, tubuh Ryuto telah berubah menjadi sangat tangguh, melebihi binatang buas dengan efisiensi energi yang luar biasa.

"Kalau begitu, ayo kabur."

Dia sudah memastikan bahwa di depan pintu masuk kamar ada lebih dari sepuluh penjaga yang ditempatkan oleh Kazumi.

Semua penjaga itu adalah wanita muda berusia dua puluhan di mata Ryuto. Sihir dan Skill yang diberikan oleh Bijak Agung Sirius memang tidak bisa digunakan di luar dungeon.

Namun, bagi Ryuto yang terbiasa bertarung di dungeon yang menuntut kemampuan memanjat tebing terjal setinggi ratusan meter, turun dari jendela gedung bertingkat bukanlah perkara sulit, meski tanpa teknik khusus.

Dia keluar ke balkon. Di bawahnya, kota tampak dipenuhi oleh hiruk-pikuk suasana pagi.

"Gampang."

Sambil bersenandung kecil, Ryuto mulai menuruni dinding vertikal yang sangat tinggi itu. Sesekali angin gedung membelai pipinya. Dengan kekuatan lengan yang jauh melampaui simpanse dan kekuatan cengkeraman ujung jari yang luar biasa, dia merayap turun ke bagian belakang hotel. Dia menghirup dalam-dalam udara kota yang kotor itu ke dalam paru-parunya.

"Hmm. Terasa seperti di kota besar ya."

Rasa asing itu sangat kuat.

Apakah dia sengaja mengabaikannya selama ini? Kenyataannya, dia tidak bisa terus mengabaikannya.

Semua orang yang berjalan di kota adalah wanita, wanita, dan wanita.

Petugas kurir dengan logo kucing hitam yang dia kenal, pekerja konstruksi, pengatur lalu lintas, hingga tukang pipa, semuanya adalah wanita.

Seorang wanita yang sedang mengoperasikan mesin perata jalan di proyek perbaikan jalan menatapnya dengan mata terbelalak.

Dari balik kaus dalam yang ketat, dadanya yang membusung tampak menonjol, membuat Ryuto secara refleks langsung membuang muka.

Belum lagi, mbak-mbak pekerja itu memiliki bentuk tubuh yang menawan seperti model majalah dan wajah cantik khas wanita Jepang. Benar-benar tidak seimbang.

Dulu, dia mungkin akan bersiul atau melontarkan satu-dua godaan verbal seperti pelajar nakal, tapi melihat situasi seperti ini, dia malah merasa malu sendiri.

—Uugh, apa ini cuma perasaanku, tapi kenapa semua orang melihat ke arahku?

Ada keanehan lain juga. Pokoknya, dia hanya melihat wanita muda.

Apalagi, bahkan tanpa standar longgar milik Ryuto pun, semuanya terlihat cantik seolah-olah mereka adalah idola atau model.

—Apa-apaan ini? Apa selagi aku tidak ada, Bumi sudah dijajah oleh alien cantik?

Intinya, ada kejanggalan luar biasa seolah-olah seluruh wanita Jepang telah digantikan dengan orang lain sejak ingatan terakhir Ryuto.

Biasanya, pasti ada orang yang wajahnya biasa saja atau kurang menarik dalam jumlah tertentu. Itu bukan kritik, melainkan kewajaran. Kenyataan memang pahit.

Termasuk para ibu-ibu atau bapak-bapak yang sudah berumur hingga sulit dibedakan jenis kelaminnya. Dunia itu berisi macam-macam orang; yang menyeramkan, yang keren, semuanya ada. Tapi, ke mana pun dia memandang, hanya ada wanita cantik. Kepala Ryuto terasa pusing.

—Rasanya canggung. Pokoknya, aku harus mengungsi dulu sementara.

Ryuto bergegas masuk ke dalam gedung judi Pachinko di depan stasiun untuk bersembunyi.

Namun, saat dia dihujani pandangan serentak dari sekumpulan gadis yang duduk di depan mesin-mesin judi yang berjajar luas, dia seketika mematung, lalu langsung berbalik dan melarikan diri.

Ryuto tidak menyadari bahwa saat itu, para betina di dalam toko yang mencium aroma pejantan yang kuat langsung berdiri dan berteriak kegirangan secara bersamaan.

"P-pokoknya, makan ramen dulu saja."

Ryuto menaruh harapannya pada ramen.

"Pokoknya sekarang aku ingin makan ramen."

Sup kental berminyak dengan potongan Chashu yang tebal, ditambah telur dan rumput laut. Dia akan memasukkan banyak bawang putih juga. Huh, lagipula tidak akan ada yang peduli. Pandangan lawan jenis? Seumur hidup dia tidak pernah peduli soal itu. Lagi pula, itu cuma mitos urban, kan?

◆◇◆

Sayama Akari, seorang staf administrasi di Perusahaan Dekoboko, adalah wanita yang diakui kecantikannya oleh semua orang.

Wajahnya proporsional dengan mata yang tajam dan indah. Akari, yang memiliki tinggi badan semampai dan jelas memiliki darah keturunan Eropa Utara, memiliki dada besar dan bokong yang sangat menonjol.

Di zaman di mana kecantikan bukanlah hal langka, dia tetap terlihat sangat istimewa. Rambut hitamnya yang mencapai pinggang terawat sempurna hingga bisa memantulkan pemandangan sekitar seperti cermin.

Akari, yang kesempurnaannya bisa membuat orang mengira dia adalah titisan Aphrodite—sang dewi cinta dan kecantikan—sedang dalam suasana hati yang buruk sejak pagi.

Alasannya hanya satu. Tadi malam, dia gagal dalam undian bank sperma yang disubsidi pemerintah, atau yang sering disebut sebagai "Data Bank Pembuahan."

Dia tidak meminta banyak. Dia tidak punya keinginan muluk untuk mendapatkan pria yang seumuran.

Usia lima puluhan, enam puluhan, atau bahkan tujuh puluhan pun tidak masalah baginya. Dia hanya ingin dipasangkan dengan seorang pria dan dipeluk meski hanya satu malam, agar dia merasa hidupnya ada artinya.

"Tapi malah gagal. Haaaah."

Dia sudah mempertaruhkan seluruh bonus musim panasnya untuk taruhan hidup dan mati ini, tapi Akari tidak terpilih dalam undian tadi malam.

Apalagi, jadwal undian berikutnya belum ditentukan. Hal ini membuat Akari terpaksa menenggak anggur koleksinya dengan perasaan kalut, yang berujung pada mood yang hancur total pagi ini.

Ditambah lagi, dia berkali-kali melakukan kesalahan sepele yang tidak biasa di kantor, membuat Akari merasa seperti mayat hidup saat ini. Jadi, jika dia tidak makan ramen yang kental dan berminyak untuk makan siang demi memulihkan stamina, dia tidak punya kepercayaan diri untuk terus hidup.

—Hmph. Ah, benar juga. Aku akan pesan nasi goreng juga.

Itu adalah tindakan yang luar biasa nekat. Saat Akari masuk ke kedai dengan suara tumit sepatu yang mantap, seorang wanita berambut sangat panjang tampak sedang berpikir keras di depan mesin tiket. Akari merasa sangat kesal, tapi karena tidak mungkin menendangnya, dia pun menunggu dengan tidak sabar.

—Dasar amatir. Cepat tentukan pilihanmu. Aku ingin segera melahap karbohidrat, tahu.

"Hmm, aku bingung mau pilih yang mana ya."

Akari bergumam dalam hati, "Oh." Sepertinya orang di depannya ini sedang mengikuti tren hobi berbusana pria atau crossdressing. Bahkan suaranya pun dibuat-buat hingga terdengar rendah.

Dari belakang hampir tidak terlihat, tapi Akari yang sedang kesal membatin jika wajahnya ternyata tipe imut seperti binatang kecil, dia akan tertawa mengejek.

Bagaimanapun, seorang wanita yang berpenampilan pria tetap membutuhkan aura liar sampai batas tertentu.

Namun, karena Akari pada dasarnya orang baik, dia pun memberikan bantuan karena melihat orang di depannya terus-menerus kebingungan.

"Anu, di sini menu yang paling direkomendasikan adalah Tonkotsu daripada menu hidangan laut."

"Oh, maaf ya, Mbak. Sangat membantu."

Orang yang bingung itu berbalik. Seketika, Akari terbelalak dan merasa seperti tidak bisa bernapas karena terkejut.

—I-ini, serius cuma berpenampilan pria? Kualitasnya benar-benar seperti teknik special effect kelas Hollywood, kan?

Alis yang tegas dengan pancaran mata yang penuh kekuatan. Hanya dengan melihat bekas luka lama di wajahnya yang memberikan kesan garang, Akari merasakan sensasi aneh yang berdenyut di bagian pribadinya.

—G-g-gawat. Sepertinya aku akan membangkitkan hobi yang aneh.

Sambil menyembunyikan kegugupannya, Akari mencoba bicara.

"A-anu, apa Anda sedang berpenampilan pria, Mbak? I-itu? Terlihat sangat nyata lho. Yahaha. Luar biasa ya. Aku sampai sempat merasa deg-degan tadi. Eh, ah, eh? Suaranya juga hebat ya. Rendah banget, benar-benar seperti pria asli. Aku belum pernah dengar ada orang yang menjiwai perannya sampai ke suara. Ah, benar juga! Apa suara asli Mbak memang rendah—"

"Apa yang kau bicarakan? Aku tidak sedang berpenampilan seperti siapa-siapa. Tapi, panas sekali ya. Apa sekarang benar-benar sudah bulan Oktober? Apa musim gugur memang sepanas ini?"

Sebuah aroma unik mulai tercium.

Akari merasa pusing, dia hampir pingsan karena mencium aroma feromon pria yang begitu menyengat.

Pria! Tidak salah lagi. Akari terpaku saat melihat jakun yang jelas terlihat ketika pria itu menarik kemejanya untuk mencari kesegaran udara. Pamannya yang meninggal di usia lima puluh empat tahun memiliki benda yang sama di tenggorokannya.

—Persis seperti yang diajarkan di pelajaran sekolah. Benar, ini adalah pria asli.

"Hei, kau juga berpikir begitu, kan?"

"Ha, ha-i..."

Karena terlalu panik, hanya suara konyol itu yang keluar dari mulut Akari. Pria itu menatapnya dengan heran seolah sedang memperhatikan sesuatu, namun tiba-tiba dia berbalik kembali ke arah mesin tiket.

Setelah tahu dia adalah seorang pria, perbedaannya terlihat sangat jelas dari punggungnya. Bahunya lebar. Meski di awal Oktober yang udaranya lembap, pria itu hanya mengenakan satu lapis kemeja putih.

Jika diperhatikan dengan saksama, otot-otot yang berkembang tampak menonjol di balik kain tipis itu seolah-olah pakaiannya kekecilan.

Ah, apa ini. Kenapa dadaku berdebar kencang sekali. Nnghaaa. Sesuatu akan datang. Rasanya, hanya dengan melihatnya saja aku bisa mencapai puncak. Gawat, ah. Aku sampai. Sepertinya aku akan sampai. Sesuatu akan datang, datang, datang!

"Hing!"

"?"

Pria itu menoleh sebentar, lalu berbalik lagi ke mesin tiket. Akari merasakan gairah yang penuh rasa bersalah, bahkan melebihi saat pertama kali dia mencuri biskuit telur di toko permen waktu masih kecil.

"Hmm. Hidangan laut, ya hidangan laut. Rasanya kurang pas. Memang babi lebih mantap daripada ikan. Tonkotsu, ya Tonkotsu. Aku pilih itu saja. Ah, apa-apaan ini!?"

"Eh?"

"Apa-apaan ini, mainan? Si Shogen sialan, dia memberiku uang palsu! Beraninya dia memberiku barang konyol begini. Kalau aku pakai ini, kasihan orang tokonya, kan. Padahal aku sudah susah payah mengambilnya diam-diam."

Pria itu tampak sangat panik melihat uang kertas yang dia simpan begitu saja di sakunya.

Memang, jika dilihat sekilas, uang kertas yang baru diganti tahun lalu itu menggunakan angka Arab alih-alih angka kanji, jadi bisa membingungkan, tapi itu pun sudah lama berlalu.

Sebagai informasi, Ryuto memang sudah berencana kabur dari hotel sejak awal, jadi dia mencuri dompet Shogen secara utuh. Sebuah pemikiran yang sangat tidak pantas bagi seorang Pahlawan; dia pikir tinggal mengembalikannya saja nanti.

Mencuri itu tidak baik.

"A-anu. Itu bukan mainan kok. Uang kertasnya kan memang baru saja diganti tahun lalu."

"Hah? Bukannya uang sepuluh ribu itu Fukuzawa Yukichi, dan uang seribu itu Natsume Soseki?"

"Bukan lho. Fufu, Anda bicara soal zaman kapan sih?"

Sejauh pengetahuan Akari, uang-uang itu digunakan saat dia masih balita.

Pria itu sepertinya masih tidak terima, tapi setidaknya dia sudah menentukan apa yang ingin dia beli, dan mesin tiket terus mengeluarkan tiket pesanan satu demi satu.

—Wah, wah, wah, pesanannya banyak sekali ya.

"Hm? Kau bukannya mau pesan Tonkotsu juga?"

"T-tidak. Anu, sepertinya aku sedang ingin makan yang segar-segar saja," jawab Akari.

"Ooh."

—Dia bicara denganku. Aku bisa mengobrol normal dengan seorang pria! Hebat banget!

Pria itu segera duduk di kursi konter dan memberikan setumpuk tiket pesanan kepada pelayan.

"A-anu, apa benar pesanan sebanyak ini tidak apa-apa?"

"Tentu saja tidak masalah. Aku agak lapar. Aku sanggup menghabiskannya."

"Eh, ah, eh, anu, apakah Anda mungkin seorang...?"

"Pokoknya, cepat bawakan makanannya."

"B-baik, mengerti!"

—Nafsu makan pria itu sungguh luar biasa.

Pertama, dia melahap habis dua porsi besar ramen Tonkotsu dalam sekejap, lalu menyantap Nasi Goreng Porsi Maksimal (diperkirakan seberat tiga kilogram) bersamaan dengan lima porsi Gyoza (dua puluh lima buah).

"Oh, beri aku tulang muda goreng, lalu Nasi Chashu Spesial ini, dan Nasi Babi Daun Bawang. Lalu berikan aku masing-masing lima porsi untuk menu Tsukemen dan Mazesoba. Ah, kalau pakai tiket ribet, apa boleh aku bayar tunai saja dari sini?"

Melihat nafsu makannya saja sudah terasa memuaskan.

Bukan hanya Akari, para wanita pekerja yang sedang makan siang di dalam kedai pun mulai menyadari keanehan ini dan suasana menjadi gaduh. Siapa pun pasti akan terbelalak jika melihat peserta lomba makan di televisi sedang beraksi tepat di depan mata.

"Garuru!"

Pria itu mengerang sambil melahap nasi mangkuk, dan saking semangatnya, dia sampai mematahkan sumpit kayu yang dia pegang.

"A-anu, ini."

"Oh, terima kasih."

Secara alami Akari memberikan sumpit baru. Seolah itu hal yang wajar, pria itu menerimanya sambil menunjukkan senyum yang sangat lembut.

—Ya ampun, apa-apaan ini. Jantungku berdebar-debar sekali...

Kepalanya terasa pening. Di dalam pikirannya menjadi panas membara. Akari tidak bisa memikirkan hal lain selain pria di depannya.

Dia merasa ingin menyerahkan segalanya. Dia yakin jika disentuh dengan lembut di bagian tubuh mana pun, dia pasti akan mencapai puncak kenikmatan.

Akari sebenarnya berkepribadian keras. Dia selalu mengutarakan apa yang dia pikirkan, dan lebih memilih bicara jujur daripada pusing memikirkan hubungan antarmanusia. Dia punya sisi maskulin yang kuat; jika dibenci karena kejujurannya, dia tidak keberatan.

Bahkan saat masih sekolah dulu, dia sudah terbiasa dipuja oleh adik-adik kelasnya (yang tentu saja semuanya wanita) dan sering dianggap sebagai sosok "pangeran."

Tapi itu terasa hampa. Pada akhirnya, para wanita itu hanya menjadikan Akari sebagai sosok pengganti pria, memintanya untuk selalu berada di garis depan, dan melimpahkan semua keputusan penting kepadanya. Itulah kenyataannya.

Namun, saat berhadapan dengan orang di depannya ini, dia menyadari ada sisi masokis dalam dirinya yang ingin tunduk secara alami, dan itu malah terasa seperti sebuah kebahagiaan.

Dia adalah wanita. Dia akhirnya merasa yakin bahwa dirinya adalah seorang wanita.

"Daaaah. Enak sekali. Aku kenyang. Puuh."

Karena efek panas setelah makan, pria itu berkeringat deras dan secara sembarangan melepas kemejanya.

Tentu saja, suasana di dalam kedai langsung dipenuhi dengan teriakan dan suara kegirangan dari para wanita.

"A-ada apa?"

Tubuh bagian atas pria itu sungguh luar biasa. Tubuhnya yang terlatih tanpa lemak sedikit pun dipenuhi dengan bekas luka lama yang tak terhitung jumlahnya, yang mana hal itu saja sudah cukup untuk mengintimidasi siapa pun yang melihatnya.

Semua orang di sana berpikir hal yang sama. Bahwa inilah wujud nyata dari tubuh seorang pria.

Lengan yang terlihat setelah kemejanya dilepas sangatlah tebal, dengan otot-otot yang berkembang layaknya kumpulan kabel logam.

Otot dadanya pun sangat mengagumkan. Sebagai mantan petualang, Akari menyadari bahwa tubuh pria itu bukan hasil bentukan gym yang tidak alami, melainkan tubuh seorang pejuang yang telah melewati berbagai pertempuran sengit.

Aroma yang tak terlukiskan terpancar dari butiran-butiran keringat yang tak terhitung jumlahnya.

Akari yang berada tepat di sampingnya langsung menghirup feromon itu, dan tanpa sadar dia merasa mabuk kepayang hingga secara refleks mencapai puncak.

—Ah, tidak, bohong. Masa aku mencapai puncak di depan banyak orang seperti ini.

Seluruh tubuhnya bergetar dan jari-jari kakinya menegang. Tak perlu dikatakan lagi, bagian pribadinya langsung basah kuyup dalam sekejap.

"Pria!?"

"Bohong!"

"Kenapa ada pria di kedai ramen pinggiran begini!?"

"Apa salahnya dengan kedai ramen pinggiran, hah!?"

"Aku tidak menyangka akan ada hari di mana aku merasa bersyukur sudah sering datang ke kedai ini."

"Tunggu, bohong. Pria? Kenapa!? Hing!"

"Tuhan, terima kasih sudah memberkatiku karena tidak ikut makan siang di kafe mewah bersama rekan kerjaku."

"Uwoh. Apa-apaan ini!?"

Tentu saja, beberapa detik kemudian pria yang dikelilingi oleh para wanita itu langsung dikerubungi secara brutal. Jika Akari terlambat beberapa detik saja untuk bertindak, upaya penyelamatan pasti akan sangat sulit.

"Dariyaaaaa!"

Mengandalkan tubuhnya yang setinggi seratus tujuh puluh enam sentimeter, Akari merunduk dan memberikan terjangan atau tackle kepada para wanita itu.

Dia menyilangkan kedua lengannya untuk melakukan dorongan yang tepat.

"Kyaaa!"

"Yaah!"

"Hing!"

Kekuatan terobosannya memiliki energi yang lebih dari cukup untuk mengusir para wanita pekerja kantoran biasa dari tempat itu.

Rahasia di balik kekuatannya adalah, Sayama Akari yang akan genap berusia dua puluh dua tahun di bulan Oktober ini, merupakan mantan petualang aktif Rank B yang hingga dua tahun lalu masih giat berburu monster di dalam dungeon.

Akari, seorang Heavy Warrior yang dulunya aktif sebagai tameng dalam party, sekilas memang tampak seperti model cantik semampai. Namun, jika bicara soal pertarungan, dia tidak akan pernah kalah dari orang-orang biasa di permukaan.

"Berdiri! Kita lari!"

"A-ah, oke."

Akari menyambar lengan pria itu dan menariknya berdiri. Dia melemparkan tumpukan uang sepuluh ribu Yen beserta kartu namanya kepada manajer kedai ramen (seorang pria tampan berusia 27 tahun) yang hanya bisa melongo.

"Kalau kurang, tagih ke perusahaan di kartu itu nanti!" teriaknya.

Dari arah belakang, suara geraman penuh dendam dari para "anjing kelaparan" menggema, tapi Akari tidak peduli.

Namun, saking paniknya melarikan diri, Akari tidak sadar untuk beberapa saat. Pria itu bertelanjang dada. Coba bayangkan. Di pusat kota yang ramai, seorang pria—makhluk yang selangka burung ibis atau macan dahan—mana mungkin tidak menarik perhatian.

Saat itu tepat jam istirahat makan siang. Sosok pria muda berotot yang berlari di tengah keramaian warga kota adalah pemandangan yang mustahil, seolah-olah mereka melihat hantu. Orang-orang membeku sejenak seperti melihat ular putih melintas, lalu seketika jeritan pecah.

"A-ada apa dengan keributan ini?"

"Lewat sini!"

Seolah tidak mengerti situasi, pria itu hanya berdiri bengong melihat para wanita di sekitarnya yang mulai menggila.

—Duh, apa dia tidak tahu apa yang akan terjadi kalau diam saja di sini!?

Sebagai mantan petualang, insting Akari kembali tajam dalam sekejap. Untungnya, saat ini orang-orang masih sebatas menodongkan ponsel untuk memotret atau berteriak heboh, tapi entah kapan itu akan berubah menjadi tindakan anarkis. Massa itu menakutkan.

"He-hei. Jangan-jangan ini syuting film dewasa?"

"Kalau begitu, boleh dong aku sentuh sedikit?"

"A-a-aku ingin lihat 'anu'-nya pria asli."

"Benar banget!"

"Boleh tidak ya kalau aku jilat-jilat?"

"Boleh bangetlah!"

"Kalau aku tunggangi sedikit, tidak apa-apa kan?"

"Rodeo! Ayo rodeo! Aku akan gunakan teknik yang sudah kulatih di mesin rodeo dewasa!"

—Jangan bercanda!

Jika dibiarkan, hanya masalah waktu sebelum pria polos ini dijadikan tumbal nafsu para binatang buas itu. Keputusan Akari sangat cepat.

"Mohon maaf, ini bukan syuting! Ini evakuasi darurat medis! Tolong beri jalan!"

Suara Akari yang terlatih di dalam dungeon menggema dalam radius ratusan meter. Ini adalah Vocal Skill khas petualang yang diasah agar instruksi tetap terdengar jelas di dalam gua yang luas.

"Eh, bukan syuting?"

"Terus jilat-jilatnya gimana?"

Wanita-wanita bodoh yang sudah melepas jaket dan memamerkan dada yang hampir tumpah dari bra mereka itu tampak bengong.

Tanpa membuang waktu, Akari menarik tangan pria itu dan melesat pergi.

◆◇◆

Akari meminta pria itu menunggu di gang sepi yang jarang dilewati orang, lalu dia kembali setelah membeli sebuah hoodie dari toko pakaian terdekat.

—Ah, dia masih ada. Syukurlah. Dia masih di sini... pria asli masih ada di hadapanku. Ini bukan mimpi atau ilusi.

"Anu, tolong pakai ini. Meski ini baju wanita, tapi karena ukurannya XL dan modelnya longgar, kurasa akan muat."

"Ah, apa ini? Kau sengaja membelikannya untukku ya. Makasih. Sangat membantu."

"T-tidak, bukan apa-apa. Ehehe."

Pria itu menyeringai, memperlihatkan deretan gigi putihnya yang kuat. Dia mengedipkan sebelah matanya—mungkin itu kebiasaan—memberikan kesan jujur dan menyegarkan yang tak terlukiskan. Akari tersenyum bodoh, merasa jantungnya tertembak. Dia secara alami mulai bertingkah genit.

—Kyuuun. Apa ini, apa!? Dia imut sekali. Duh, perasaan apa ini. Kepalaku jadi kacau. Berapa ya umurnya? Masih remaja kan? Dilihat dari mana pun, dia lebih muda dariku... ya kan?

Kemudian Akari menyadari situasi mereka saat ini, dan pipinya langsung memerah hebat. Berduaan dengan seorang pria di gang sepi adalah pemandangan yang sangat sering muncul di video dewasa yang ditonton Akari tadi malam.

Setelah Virus Satan merajalela, jumlah pria merosot tajam sementara jumlah aktris meningkat drastis. Akibatnya, aktor pria menghilang dan industri film dewasa hampir punah.

Jadi, bagi wanita sehat yang merindukan pria, gang sepi seperti ini adalah salah satu "utopia" yang bisa membuat dada berdebar kencang.

—D-di video yang kulihat kemarin, mungkin karena durasi, si aktris melakukan 'anu' ke si aktor dengan gerakan yang sangat alami...! P-hap. Jluuurb. B-bodoh! Apa yang kupikirkan!

"Anu, itu... apakah ada 'bolon'-nya...?"

"Aku tidak begitu mengerti maksudmu? Ah, maaf, aku sedang tidak bawa uang. Semuanya sudah habis di kedai ramen tadi. Tahaha. Oh, benar juga. Entah kenapa, sepertinya kau sudah menolongku. Aku Sakazaki Ryuto."

"He? A-aaaa, iya. Ryuto-san ya. N-nama saya Sayama Akari. Dua puluh dua tahun, masih lajang. Masih perawan! Tentu saja tidak punya suami, pacar, apalagi anak!"

"O-oh. Begitu ya? Padahal kau cantik begini tapi tidak punya pacar, dunia ini benar-benar tidak bisa dimengerti ya!"

—Benar sekali! Tapi Ryuto-sama sudah menemukanku. Akari tidak sendirian lagi. T-terima kasih Tuhan. Tuhan ternyata benar-benar ada di langit dan menjaga Akari, namu-namu. Hari ini Tuhan memberiku bonus karena sudah menjadi anak baik.

"Entahlah, aku ingin membalas budi dan mengganti uang hoodie-nya, tapi melihat situasi ini sepertinya kita tidak bisa santai-santai di suatu tempat ya."

"Kenapa!?"

Mungkin karena wajah Akari terlihat sangat putus asa, dia baru sadar kalau Ryuto tampak agak risi. Telinganya langsung merah karena malu.

—Bodoh, bodoh, bodoh! Kenapa aku malah memutus benang harapanku sendiri! Aku benar-benar tolol. Aku ingin membunuh diriku sendiri yang lima menit lalu tidak menyusun strategi percakapan dengan matang!

Akari mencubit pipinya sendiri dengan kuat. Matanya berkaca-kaca. Tidak, aku hanya sedang menghukum diriku yang bodoh ini, Tuhan. Jangan ambil keberuntunganku, serius deh.

"Yah, di jalanan sana pasti heboh sekali. Aku akan kabur lewat jalan lain. Oh, benar juga. Kontrak—"

"Tolong tukaran kontak LISO!"

Menganggap ini adalah kesempatan terakhir, Akari menggenggam kedua tangan Ryuto dengan erat dan menatap matanya dalam-dalam. Ah, kalau dipikir-pikir, semuanya berjalan terlalu lancar.

Di dunia dengan rasio pria dan wanita 1:1000, pertemuan kebetulan antara lawan jenis yang berujung perkenalan adalah hal yang mustahil.

Jika naskah seperti ini ditulis dalam komik atau drama zaman sekarang, bukan hanya akan memicu kecaman di internet, tapi para wanita jomlo mungkin akan membakar kantor penerbit atau stasiun televisi karena dianggap terlalu mengada-ada.

"Tidak... boleh ya?"

Ryuto sempat membelalakkan mata sejenak, lalu dia tersenyum malu-malu.

"Boleh saja."

Dia menyerahkan ponselnya kepada Akari.

Akari menerima ponsel itu dengan tangan gemetar. Itu adalah ponsel model terbaru yang baru rilis awal bulan ini.

"Tapi memalukan sekali, aku tidak tahu cara pakai benda ini. Kalau tidak keberatan, bisakah kau ajarkan padaku, Akari-chan?"

—Tuhan, Ibu, dan Ayah biologis yang belum pernah kutemui. Baru saja, untuk pertama kalinya dalam hidup, aku dipanggil 'Akari-chan' oleh seorang pria. Aku tidak punya penyesalan lagi. Selamat tinggal dunia!

Akari merasa jiwanya hampir melayang ke surga.

◆◇◆

"Dah!"

Dengan suara aneh, Shimomura Haruka mendadak terbangun.

—Ini di mana?

Insting petualangnya membuat dia secara refleks ingin bangkit, namun seluruh tubuhnya terasa kaku.

"Ugh."

Suara yang tidak feminin keluar dari mulutnya. Betisnya kram. Rasa sakit yang hebat membuatnya menyesal sejenak karena sudah terbangun.

Perlahan, dia menyadari bahwa dia tidak berada di gua, melainkan di sebuah ruangan di permukaan. Dia merasa lega. Di sekitarnya terdengar suara orang dan percakapan.

—Ini, rumah sakit?

Tenggorokannya terasa gatal karena sudah lama tidak sadarkan diri. Tubuhnya terasa jauh lebih ringan. Sepertinya saat diselamatkan dari dungeon, semua perlengkapannya dilepas dan pakaiannya diganti. Dia mengenakan pakaian rumah sakit yang tipis dan membosankan. Tiba-tiba, ingatannya kembali dengan jelas.

Ah, benar. Dia bertemu pangeran di dalam dungeon. Seorang pria muda dan gagah. Dia memiliki kehadiran yang kuat dan unik, dengan energi yang seolah bisa meledak jika disentuh.

—Benar, Kerberos. Aku diselamatkan oleh Ryuto-san, lalu setelah itu...

"Woi! Haruka, kau sudah sadar!? Bilang-bilang dong!"

"Berisik, Kyoka. Kau mengganggu orang lain."

Tirai putih pembatas dibuka, dan dua orang wanita muncul.

"Rion, Kyoka. Kalian masih hidup ya."

"Heh, kurang ajar! Tentu saja kami selamat. Kau sendiri, tidak apa-apa?"

"Haruka, setelah itu kami langsung bertemu party petualang lain dan diselamatkan. Syukurlah kau tidak luka parah."

Wanita tinggi dengan logat Kansai itu adalah Kujonji Kyoka. Sedangkan yang berponi rata ala gadis Jepang adalah Nanami Rion. Keduanya adalah rekan party Haruka dalam melakukan siaran langsung dungeon.

Kyoka memiliki tinggi 172 cm, sementara Rion bertubuh mungil dengan tinggi 153 cm. Haruka menyandarkan tubuhnya di tempat tidur, merasa lega bisa bertemu kembali dengan rekan-rekannya.

"Iya, sepertinya aku sedang beruntung."

"Maaf ya, Haruka. Padahal aku bersamamu. Tapi bisa bertemu lagi dalam keadaan hidup seperti ini adalah kehendak Tuhan. Syukurlah aku rajin berdoa pada leluhur setiap pagi."

Kyoka menepukkan kedua tangannya seolah sedang menyembah Haruka. Rion bergumam dengan tatapan dingin.

"Jangan campur adukkan Tuhan dan leluhur."

"Apa-apaan kau ini, dari tadi cerewet sekali. Aku kan sedang meresapi reuni mengharukan ini. Apa kau tidak senang, Rion?"

Kyoka menggosok-gosokkan pipinya ke wajah Haruka.

"Kyoka, cukup. Geli tahu."

"Kau tidak senang ya, si muka datar ini. Ayo, tunjukkan ekspresimu secara jujur sepertiku!"

"......"

"Aduhdudu! Jangan tarik rambutku tanpa suara! Kuncir kudaku yang jadi poin kecantikanku bisa lepas nanti!"

"Biar kulepaskan sekalian."

"Anu, kalian berdua, ini di rumah sakit. Tolong tenang ya?"

"Pintu keluar lewat sana."

Rion menunjuk ke arah pintu.

"Aku baru saja sampai tahu! Ah! Terlepas dari itu, ada masalah besar! Akun kita kena Banned! Kenapa ya!?"

Mereka bertiga hidup dengan menyiarkan adegan penjelajahan dungeon dan membagi imbalan yang didapat. Akun yang dihapus biasanya berarti kiamat bagi karier mereka, tapi Kyoka tampaknya tidak terlalu ambil pusing.

"Gara-gara ada 'objek asusila berjalan' yang masuk dalam kamera."

"Heh, Rion. Kau meremehkanku ya. Perlu kuberi pelajaran? Hah?"

"Kau itu petualang, tapi bajumu terlalu terbuka, Kyoka."

"Ugh!"

Seperti yang dikatakan Rion, Kyoka memang suka mengenakan pakaian yang sangat terbuka bahkan saat keluar rumah. Terutama pakaian yang menonjolkan dada besarnya yang membanggakan itu. Dia benar-benar bermain di batas tipis agar tidak terlihat murahan.

"Lagipula, pemeran utamanya kan Haruka, kita cuma kru."

"Tidak apa-apa kan! Siapa tahu ada pria yang menonton siaran kita. Di saat itulah, kalau tubuh seksi milikku ini terlihat sedikit saja, mungkin akan berlanjut ke kencan, penyatuan, pembuahan, hingga pernikahan, kan!"

Kyoka menggeliat sambil mendesah dengan suara yang menggoda.

"Tidak mungkin."

"Khayalanmu terlalu parah, Kyoka."

"Jahat! Bukan cuma si kokeishi ini, tapi sahabat sejatiku Haruka pun jahat! Biarkanlah aku bermimpi sedikit!"

"Kyoka. Kalau kau mengincar dokter pria di sini, itu mustahil. Semua dokter yang bekerja di rumah sakit milik Asosiasi Petualang adalah wanita. Sebagian besar dokter pria hanya ada di lembaga penelitian milik negara, peluang orang biasa untuk bertemu mereka adalah nol."

"Cih. Peluang sekecil itu pun tidak berpihak padaku ya."

Kyoka berdecak kesal sambil bergumam. Haruka tidak berkomentar karena dia mengerti perasaan yang ingin mencari jodoh dalam situasi seperti ini.

Rion duduk di kursi samping tempat tidur, meletakkan kantong berisi bingkisan makanan, lalu menatap Haruka dengan serius.

"Haruka. Aku juga menonton siarannya meski terputus-putus. Bagaimana kau bisa selamat dari Minotaur dan Kerberos? Aku benar-benar tidak mengerti. Apa tim penyelamat Asosiasi sampai tepat waktu?"

"A-anu, bukan. Bukan begitu. Mungkin ini sulit dipercaya, tapi maukah kalian mendengarkanku?"

"Iya, cerita saja."

"Oke, aku dengarkan."

"Begini, di dalam dungeon, aku bertemu seorang pangeran."

"......Oke, ayo bubar."

"Kerja bagus hari ini."

Keduanya bergerak cepat menuju pintu keluar sambil melambaikan tangan.

"Tunggu duluuuuu! Ini cerita beneran tahu! Aku benar-benar diselamatkan oleh petualang pria di dalam dungeon!"

"Haruka, kau cuma kelelahan."

"Haha, Haruka sudah pintar melucu ya. Lucu sih, tapi kurang nendang. Paling nilainya tiga puluh poin. Lagipula, mana ada pangeran yang datang menolong di saat genting seperti itu, naskah drama basi pun sudah tidak pakai cerita begitu. Kalau ada yang menyiarkannya, aku pasti sudah menelepon stasiun TV untuk protes."

"Tapi ini sungguhan!"

"Dengar, Haruka. Bukannya kami ingin tidak percaya. Tapi 'pangeran'? Kau mengatakannya dengan mata melotot begitu. Ya kan?"

"Kali ini aku setuju dengan si muka datar. Oh iya, ini ada barang-barangmu yang dititipkan dari Asosiasi. Satu, dua, tiga..."

Saat Kyoka menyerahkan ponselnya, wajah Haruka langsung cerah.

"Ah, benar! Ponsel! Mungkin di ponsel ada foto Ryuto-san atau semacamnya!"

"Ryuto-san?"

Rion mengerjapkan matanya yang besar mendengar nama yang asing itu.

"Hah, Haruka-chin masih kekanak-kanakan ya. Tidak perlu sampai mengarang cerita 'pacar imajiner' karena kesepian tidur sendiri. Membuat pacar imajiner itu tidak normal lho. Ngomong-ngomong, baru kemarin aku mengandung anak ketiga belas dari 'suami imajiner' kesayanganku. Traktir aku ya."

"Kau juga sudah sakit parah."

"H-hmph! Pokoknya kalau aku periksa pasti segera—eeeeh! Apa-apaan ini!?"

"Ada apa? Wah!"

"Apa si—buset! Ngeri banget. Apa-apaan jumlah notifikasi LISO ini. Sudah mentok!"

"He-hei. Rion, Kyoka. Banyak sekali notifikasi dari orang tidak dikenal!"

"Mungkin ponselmu kena virus."

"Hmm. Duh. Semuanya wanita. Lagipula, berani-beraninya mereka mengirim foto diri yang sangat vulgar begini. Lihat deh. Areola wanita ini besarnya sudah seperti tutup poci. Aku jadi jijik dan tidak nafsu makan malam nanti. Haruka, sepertinya kau sedang diincar kawanan lesbian misterius. Turut berduka ya."

Kyoka melambaikan saputangannya seolah sedang berpamitan.

"Aku tidak tahu! Orang-orang ini menakutkan!"

"Blokir saja?"

"Matikan saja notifikasinya dulu."

"Iya, seram sekali, aku matikan saja."

Haruka tidak mengerti. Ini adalah tragedi yang terjadi karena Ryuto menggunakan ponsel Haruka untuk bertukar LISO dengan tim penyelamat wanita...

"Jadi, Ryuto-san itu benar ada?"

"I-iya. Kupikir ada videonya, tapi ternyata sudah hilang."

"Tapi di internet ada rumor kalau terdengar suara pria di tengah siaran."

"Paling cuma kabar burung."

"Entahlah."

Haruka mulai ragu dengan ingatannya sendiri, dia memegang dahi sambil merenung.

"Sudahlah, Haruka jangan terlalu dipikirkan. Nanti pasti ada hal baik yang terjadi!"

"Haruka, kalau tidak ada kejanggalan, kau bisa pulang hari ini kan. Soal siaran itu juga, nanti kita kumpul dan minum-minum di rumah."

"Oh, ide bagus! Sudah lama ya. Aku akan masak untuk kalian."

"I-iya. Meski ada yang belum bisa kuterima, tapi terima kasih ya, kalian berdua."

"Persahabatan kita abadi!"

Saat mata Haruka mulai berkaca-kaca karena semangat dan persahabatan mereka, tiba-tiba ponselnya bergetar ada panggilan masuk. Dia sempat ragu, tapi Kyoka dan Rion memberi isyarat agar dia mengangkatnya. Dengan ragu, Haruka menempelkan ponsel ke telinganya.

"Halo, dengan Shimomura di sini—"

"Ryuto. Aku kan sudah bilang untuk diam saja di hotel. Gara-gara kau keluar sembarangan, jadi heboh begini kan!"

"Jangan marah-marah sampai urat lehermu keluar begitu dong. Aduh!"

Setibanya di hotel, Ryuto langsung dipukul kepalanya menggunakan sandal oleh Kazumi sampai jatuh dari kursi. Ryuto berguling di lantai, kepalanya membentur kulkas, dan dia malah kentut dengan keras.

Seketika, wajah Kazumi memerah sampai ke telinga karena marah.

"A-aku tidak bermaksud melucu, Kak."

"Kau sedang menghinaku ya!"

Sifat pemarahnya benar-benar tidak berubah—pikir Ryuto.

"Sudah, sudah."

"Yorimitsu, jangan membelanya. Ryuto kalau sekali dimaafkan bakal makin melunjak."

Yang menengahi Ryuto dan Kazumi adalah Satake Yorimitsu, mantan Heavy Warrior dari party penyelamat yang baru saja tiba di hotel.

Pria yang dijuluki "Beruang Lembut" ini bertubuh sangat besar.

"Hanya Yorimitsu yang memihakku ya."

Mendengar ucapan Ryuto, Yorimitsu hanya tersenyum tipis di balik janggutnya yang lebat.

Raksasa ramah setinggi 220 cm dan berat 180 kg ini mengenakan setelan jas gelap berukuran khusus, berdiri tegak seperti dinding di antara mereka berdua.

"Hei, Kazumi-san. Jangan terlalu galak pada adikmu, nanti hantu Ayah dan Ibu bisa muncul lho."

Ryuto memprovokasi Kazumi sambil bersembunyi di balik tubuh besar Yorimitsu.

"Kau ini! Mau kupukul sekali lagi baru sadar, ya?"

"Tolak kekerasan!"

"Grrr!"

"Hii! Aku diserang binatang buas!"

Kazumi menyambar sandalnya, bergerak cepat memutar, lalu memukul kepala Ryuto. Shogen tertawa lebar sambil memegang dagunya.

"Hahaha."

"Jangan tertawa!"

"E-eeh? Ma-maaf."

Kazumi membentak Shogen yang tertawa di sampingnya. Shogen yang sama sekali tidak berkutik di depan istrinya itu langsung terlihat ketakutan dan mencoba menenangkan.

"Dahaha!"

Ryuto tertawa lepas melihat interaksi mereka berdua.

"Apa yang lucu?"

"Enggak, cuma merasa suasana seperti ini tidak berubah dari dulu."

"Ryuto."

Kazumi menatap Ryuto dengan tatapan yang seolah ingin menangis. Shogen dan Yorimitsu pun tampak mengenang masa lalu dengan tatapan jauh.

"Yah, meski Kakak dan yang lain sudah jadi tua sekali, sih!"

"Oke, aku pukul sekali lagi ya."

"Jangan bilang gitu setelah memukul!"

"Ya ampun, menurutmu gara-gara siapa obrolan kita jadi melantur? Makan malam kita jadi telat kan!"

"Ini semua salahmu, tahu!"

"Berani sekali kau memanggil kakakmu dengan sebutan 'kau'!"

"A-aduh! Jangan tarik pipikuuu!"

Di ruang VIP hotel tersebut, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, keempat anggota party penyelamat duduk bersama dan menikmati hidangan.

Kecuali Ryuto, ketiga orang lainnya kini adalah politisi penting yang memegang peran krusial di partai penguasa.

—Mereka semua jadi politisi ya...

Ryuto mengerti bahwa meski mereka sangat sibuk, mereka sengaja meluangkan waktu berharga demi dirinya.

Untuk hal itu—

Dia hanya bisa merasa bersyukur.

Laporan mengenai keadaan saat ini disampaikan secara singkat untuk mengisi kekosongan selama dua puluh tahun terakhir. Dengan mendengar sejarah mereka masing-masing, Ryuto merasa lega karena kebaikan teman-temannya tidak pernah berubah.

"Begitu ya, kalian semua sekarang sudah jadi politisi."

"Ryuto."

Kazumi menatap adiknya dengan tatapan melankolis, memikirkan perasaan adiknya itu.

"Padahal sama sekali tidak cocok lho! Uhaha!"

"Kau ini..."

"Apa kalian bagi-bagi kupon makan hasil korupsi?"

"......Mau coba mati sekali lagi?"

"Tenanglah, Kazumi. Dia sengaja menggodamu."

"Ngomong-ngomong, Kak. Apa Haruka, anak yang kuselamatkan itu, baik-baik saja? Dia masih dirawat di rumah sakit, kan?"

"Oh, kalau anak itu—"

Tsukikage Yurina, sekretaris Kazumi yang sedari tadi berdiri diam di depan pintu ruang VIP, mendekat tanpa suara. Yurina membisikkan sesuatu ke telinga Kazumi, lalu kembali ke posisinya semula.

Saat itu, mata Yurina dan Ryuto sempat bertemu, dan sang sekretaris memberikan kerlingan mata tipis. Kazumi sempat menunjukkan ekspresi sedikit terkejut melihat tingkah sekretarisnya, namun dia tidak mengomentarinya lebih jauh.

"Ya. Suruh dia masuk."

Yurina membuka pintu perlahan. Di sana, Shimomura Haruka—yang seharusnya sudah berpisah di dungeon—berdiri dengan wajah penuh kejutan.

"Kazumi-san? Ah, Paman Shogen, dan Paman Yorimitsu. Ah—! Ryuto-san! Kenapa Anda bisa ada di sini—?"

Haruka mengenakan setelan jas warna navy, namun aura canggung karena tidak terbiasa memakai pakaian formal terpancar jelas darinya.

Penampilannya benar-benar terlihat seperti mahasiswa yang sedang mencari kerja.

Haruka melangkah cepat menghampiri Ryuto, menggenggam kedua tangannya dengan pipi yang memerah.

"Tidak menyangka bisa bertemu di tempat seperti ini—! Ah, Ryuto-san tidak terluka, kan? Aku baru saja keluar dari rumah sakit, lho! Tapi, tapi... lihat, aku baik-baik saja. Sehat walafiat!"

"Haruka—Haruka-chan? Maaf memotong kegembiraanmu, tapi bisakah biarkan Tante menjelaskan situasinya dulu?"

"Eh, e-eeeeh. Ah, maaf, maafkan aku! Aku malah tidak tahu tempat begini, maafkan aku."

"Ha, haha. Yorimitsu, kita hampir tidak pernah melihat Haruka-chan seantusias ini, ya."

Mendengar kata-kata Shogen, Yorimitsu mengangguk pelan dengan tatapan lembut di matanya yang bulat seperti kacang.

"Kak, ini sebenarnya ada apa, sih?"

"Hmm. Singkatnya, aku dan Shogen adalah orang tua asuh Haruka. Dia kami besarkan di rumah sampai akhirnya masuk ke Sekolah Petualang Nasional. Bisa dibilang dia sudah seperti putri kami sendiri. Jadi kalau menurutmu hubungannya adalah... ya, anggap saja dia seperti adik perempuanmu."

"Ryuto-san... jadi kakakku?"

Haruka menatap Ryuto dengan mata berbinar-binar.

"Mulai sekarang, bolehkah aku memanggilmu Kakak Ryuto?"

"Enggak, aku menolak."

"Kenapa!"

"Singkat saja, itu bukan gayaku."

"Su..."

"Su?"

"Sempurna! Ryuto-san yang bisa menolak dengan tegas juga sangat sempurna!"

Mata Haruka tampak membentuk simbol hati, dan dia terlihat seperti akan memeluk Ryuto kapan saja.

"Yah, terima kasih kalau begitu."

"Anu... bolehkah aku minta waktu sebentar saja untuk bicara? Begitu."

Setelah mendengar penjelasan Kazumi tentang latar belakang Ryuto, Haruka mencerna semuanya, lalu meminum teh yang sudah disediakan hingga habis.

"Begitulah ceritanya. Ryuto baru saja diselamatkan setelah tersesat di dalam dungeon selama dua puluh tahun."

"Tapi tetap saja, ini sulit dipercaya. Si Ryuto ini benar-benar tidak berubah sedikit pun sejak dua puluh tahun lalu."

Shogen bergumam sambil menggoyang-goyangkan gelas berisi scotch.

"Soal itu, ada penjelasan sementaranya. Ini baru diketahui belakangan, tapi ternyata waktu terhenti di dalam dungeon."

"Hah?"

"Itu baru pertama kali kudengar."

Yorimitsu juga mengangguk-angguk dengan mata membulat heran.

"Berdasarkan hasil penelitian terbaru, ada pasien kanker stadium akhir yang sisa umurnya tinggal beberapa bulan lagi, tapi kankernya tidak berkembang sama sekali selama lebih dari setahun saat dia berada di dalam dungeon. Begitu dia keluar atas keinginannya sendiri setelah menyelesaikan urusannya, kankernya langsung memburuk dan dia meninggal tak lama kemudian. Mempertimbangkan hal itu dan beberapa hasil eksperimen lainnya, waktu di dalam dungeon—setelah kedalaman tertentu—mengalir berbeda dengan di permukaan."

"Sepertinya itu benar."

"Hampir mustahil bagi orang biasa untuk tinggal di lantai yang dalam. Masalah sandang, pangan, dan papan adalah satu hal, tapi tidak ada petualang—bahkan yang kelas atas sekalipun—yang bisa bertahan lama di sarang monster kuat yang bisa muncul kapan saja. Dalam hal ini, Ryuto adalah pengecualian. Fakta bahwa dia membuktikan teori para peneliti labirin dengan tubuhnya sendiri benar-benar patut dikagumi."

"Ehehe."

"Dan fakta bahwa kau benar-benar mengalahkan Raja Iblis... Ryuto, sebagai kakak, aku bangga padamu."

"Apaan sih, jangan memujiku berlebihan begitu. Jadi geli, tahu."

Ryuto merasa malu dipuji oleh kakaknya yang biasanya jarang memuji orang, lalu mengusap bawah hidungnya dengan telunjuk seperti anak kecil.

"Su..."

"Su?" Ryuto bertanya balik secara refleks.

"Sungguh luar biasa! Ryuto-san adalah Pahlawan yang mengalahkan Raja Iblis itu! Orang sehebat itu ternyata adik dari Kazumi-san, dan bahkan menyelamatkanku saat aku dalam bahaya...! Apa ini bukan lagi kebetulan, melainkan takdir?"

Dengan mata yang seolah memancarkan hujan meteor, Haruka menangkupkan kedua tangannya di depan wajah, mengirimkan tatapan yang jauh lebih membara ke arah Ryuto.

"O-oi. Apa anak ini memang punya karakter sekuat ini?"

"Yah, aku tahu dia memang tipe yang punya imajinasi liar. Pokoknya, berusahalah untuk tidak menghancurkan imej Haruka tentangmu."

"Bisa enggak, ya."

"Dengar, Haruka. Bahwa Ryuto mengalahkan Raja Iblis dua puluh tahun lalu adalah fakta, dan dia memang seorang Pahlawan dalam arti yang sebenarnya. Tapi untuk sementara, aku berniat merahasiakan hal ini."

"Kenapa? Kita harus segera memberitahu dunia tentang jasa Ryuto-san dan menyebarkan kehebatannya ke seluruh dunia—"

"Hmm. Konferensi pers akan dilakukan secara resmi nanti. Tapi, setidaknya untuk waktu yang singkat ini, aku ingin membiarkan Ryuto menikmati waktu yang tenang dan damai."

"Kak..."

"Hampir semua orang, termasuk aku, sudah mulai melupakan kejadian dua puluh tahun lalu dan menikmati kedamaian dunia. Tapi Ryuto, yang terus bertarung di dalam dungeon, tidak pernah merasakan masa muda untuk menikmati hal semacam itu. Siaran langsung saat kau diselamatkan memang sudah dihapus dengan kekuatan pemerintah, tapi berita kepulangan Ryuto dari dungeon pasti akan segera tersebar. Karena sudah banyak orang yang melihat sosoknya, tidak peduli seberapa ketat perintah tutup mulut dijalankan, rahasia tidak akan bisa disimpan selamanya. Cepat atau lambat akan ketahuan. Sebelum itu terjadi, aku ingin membebaskan Ryuto selama sebulan, atau setidaknya satu minggu saja. Kau mau membantu, kan?"

"Iya, tentu saja! Aku juga ingin membantu Ryuto-san mendapatkan kembali masa mudanya yang hilang!"

"Hei, aku ini masih di puncak masa muda, lho..."

"Diamlah, kau itu sudah tiga puluh delapan tahun, sama denganku."

"Berisik banget, Shogen!"

"Heh. Dengar, Haruka-chan. Ryuto ini om-om seusiaku, lho. Dia dua puluh tahun lebih tua darimu. Aku tidak bermaksud buruk, tapi lebih baik jangan terlalu dekat dengannya."

"Jangan bicara yang aneh-aneh!"

"Kenapa? Aku tidak peduli soal perbedaan usia. Lagipula, Ryuto-san terasa seperti pria dewasa yang sangat mengayomi."

"Wah, sudah tidak tertolong lagi."

Shogen menutupi wajahnya dengan telapak tangan sambil menjulurkan lidah. Dilihat dari sudut mana pun, Haruka jelas-jelas sedang jatuh cinta pada Ryuto. Namun, Ryuto yang merupakan perjaka dan sangat tidak peka sepertinya belum menyadari perasaan Haruka yang menggebu-gebu itu.

"Aku akan membantu, Ryuto-san. Untuk itu, aku akan melakukan apa saja!"

"Hah?"

"Dengar ya, Haruka. Tolong jangan lupakan kalau aku adalah kakaknya."

◆◇◆

Shogen dan Yorimitsu yang masih memiliki tugas pemerintah segera meninggalkan hotel dengan mobil mewah berwarna hitam.

"Dalam waktu dekat, pasti. Pasti ya!"

"O-oh. Aku pasti akan mampir nanti."

Ryuto dipaksa bertukar kontak LISO dan nomor telepon dengan Haruka. Kazumi menatap interaksi mereka dengan ekspresi yang sulit dijelaskan, namun tidak mengatakan apa pun.

"Apaan sih, Kak. Kalau ada yang mau diomongkan, bilang saja."

"Entahlah. Rasanya sedikit rumit melihat adik kandungku dan putri yang kubesarkan sendiri mulai menjalin hubungan."

"B-b-bodoh ya? Aku kan cuma tukaran kontak dengan Haruka-chan!"

"Meskipun adikku sendiri, tapi reaksimu benar-benar seperti anak SMP. Kalau begini terus, kau benar-benar akan tetap perjaka sampai mati."

"A-a-aku bukan perjaka, tahu!"

Ryuto menuangkan air dari teko di sofa ke dalam gelas, lalu meminumnya sekali teguk.

"Jadi, Kak. Kau menyuruh yang lain pulang dan sengaja tetap di sini, pasti ada hal lain yang ingin kau bicarakan denganku, kan?"

"Iya. Sebenarnya ada orang yang ingin kuperkenalkan pada Ryuto. Masuklah."

Mendengar kata-kata Kazumi, Yurina sang sekretaris membuka pintu dan mempersilakan seorang wanita masuk. Ryuto ternganga dan tanpa sadar langsung berdiri.

Betapa tidak, kecantikan wanita itu memancarkan keanggunan dan daya tarik yang jauh lebih luar biasa dibandingkan wanita mana pun yang pernah Ryuto temui selama ini.

"Dia adalah Tsukimi Sayaka. Mulai hari ini, dia akan menjadi pengawal pribadimu."

"Baru saja diperkenalkan oleh Anggota Dewan Genma, saya Tsukimi dari Divisi Intelijen Khusus Pasukan Pertahanan Nasional. Mulai hari ini, saya akan mendampingi Ryuto-sama dan bertekad melindungi keselamatan Anda sebagai pengawal pria khusus dengan segenap jiwa dan raga saya."




"Namaku Sakazaki Ryuto! Umurku katanya sekitar tiga puluh delapan tahun. Hobiku membantai monster di dungeon. Jenis anjing Shiba kesukaanku adalah yang bulunya empuk!

...Yah, kira-kira begitu. Mohon bantuannya."

Kazumi memalingkan wajah sambil menahan tawa. Yurina pun tampak tersenyum kecut.

"Saya masih kurang berpengalaman, namun mohon bimbingannya."

Mungkin itu hanya perasaan Ryuto saja, tapi ketakutan di mata yang mengintip dari balik topi seragam itu tampak sedikit mereda. Sebagai orang Jepang, Ryuto tidak punya kebiasaan berjabat tangan, namun dia tidak melewatkan gerakan kecil dari tangan kanan Sayaka yang berkedut.

—Hmm, karena dia blasteran, apa ini soal adat budayanya?

"Pokoknya mohon bantuannya ya, eh, Tsukimi-san."

Begitu Ryuto mengulurkan tangan kanannya, kali ini terlihat reaksi yang jelas pada ekspresi Sayaka. Dia tampak terkejut. Ryuto sempat berpikir, apa aku terlalu menjijikkan sampai dia menolak bersalaman?

Namun sebelum pikiran itu selesai, Sayaka langsung menyelimuti tangan kanan Ryuto dengan kedua tangannya.

"Ehehe, salaman, salaman. Tanganmu lembut, ya."

"Ryuto, kau menjijikkan."

Ucap Kazumi yang sedari tadi bersedekap dengan nada jengah.

"Uuuh."

"Tidak, bukan begitu..."

"Lihat! Dia bilang aku tidak menjijikkan! Tidak apa-apa, ini kan tanda kalau kami sudah akrab. Ngomong-ngomong, Kak. Apa maksudnya Pengawal Pria Khusus?"

"Ah, sepertinya aku harus menjelaskan dari bagian itu, ya..."

Kazumi meletakkan jari telunjuk di bibirnya yang berbentuk indah, lalu mulai berbicara perlahan.





Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close