NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Danjon de Tatakai Tsudzukete Nijuu-nen no Doutei Yuusha ⁓ Chijou ni Modottara Danjo-hi 1:1000 no Sekai datta Volume 1 Prolog

Prolog


Tidak mungkin salju turun di dalam dungeon. Namun, aku benar-benar melihatnya dengan mata kepalaku sendiri.

Haruka Shimomura menghela napas pendek sembari merasakan permukaan batu yang keras menusuk punggungnya. Ia mencoba menggerakkan ujung jarinya perlahan.

Rasanya seperti ulat yang hampir mati. Tenaganya benar-benar sudah lenyap.

Rasa lelah dan luka yang ia dapatkan hingga sampai ke titik ini membuat sekujur tubuhnya terasa berat bagaikan lumpur. Tidak berguna. Tubuhnya tidak mau menuruti perintahnya lagi.

Haruka memaksakan kelopak matanya yang berat untuk terbuka dan menatap ke arah langit-langit.

—Ah, cahaya biru pucat.

Dengan siapa ia melihat cahaya itu dulu? Saat masih kecil, seseorang menggandeng tangannya dan menatap langit malam bersama.

Kenangan itu membara di lubuk hatinya, berkedip-kedip seperti sisa api unggun yang hampir padam.

Haruka akhirnya menyadari bahwa cahaya yang terpantul di matanya hanyalah sejenis lumut bercahaya yang langka di lantai atas. Senyum getir pun tersungging di pipinya.

"Ahaha, bodohnya aku..."

Di dalam dungeon yang merupakan sarang monster, kecerobohan sekecil apa pun akan langsung berujung pada kematian.

Ia menyentuh pinggangnya. Rasanya hangat dan licin, seperti air panas yang kental. Bau darah yang menyengat langsung menusuk hidungnya.

Kini, rasa takut maupun cemas sudah tidak ada lagi. Sarafnya telah mati rasa demi melindungi jiwanya.

Sambil bernapas tersengal-sengal, Haruka mengenang kembali apa yang terjadi pada dirinya dalam beberapa menit terakhir ini.

Seorang Penjelajah Rank E berusia delapan belas tahun. Itulah dirinya saat ini. Tidak lebih, dan tidak kurang.

◆◇◆

Jauh sebelum Haruka lahir, dunia telah luluh lantak oleh kemunculan dungeon yang tiba-tiba dan gerombolan monster yang muncul tanpa henti.

Labirin bawah tanah tempat senjata modern tidak bisa digunakan. Satu-satunya yang memberikan sarana bagi umat manusia untuk melawan adalah Sang Petapa Agung, Sirius, yang datang dari dunia lain.

Sirius mendirikan kuil-kuil besar di seluruh dunia dan memberikan anugerah roh kepada orang-orang.

Berkat hal itu, mereka yang mendapatkan sihir dan Skill yang hanya bisa digunakan di dalam dungeon mulai membasmi ras iblis. Mereka akhirnya berhasil mengalahkan Raja Iblis yang menghasut kaum tersebut.

Meski Raja Iblis telah musnah, dungeon yang melahirkan monster tetap tersisa di berbagai belahan dunia. Orang-orang yang menantang tempat itu, mengalahkan monster, dan mencari harta karun tersembunyi disebut sebagai Penjelajah.

"Aduh, ini benar-benar berat..."

Haruka merasa dirinya tidak pernah berhenti berusaha agar tidak mempermalukan nama ibunya yang merupakan seorang pahlawan.

Nama ibu Haruka adalah Rinka. Dia adalah salah satu anggota tim penyelamat yang mengalahkan Raja Iblis dari dunia lain yang pernah meneror dunia.

Rinka adalah pahlawan yang menguasai segala jenis sihir. Namun, Haruka terpisah dari ibunya sejak kecil dan bahkan tidak ingat seperti apa wajahnya.

Foto ibunya pun hanya tersisa sedikit dari potongan media massa. Ia tidak tahu raut wajah aslinya, tidak juga suaranya.

Namun, ibunya adalah seorang pahlawan. Dia adalah kebanggaannya. Haruka ingin menjadi sosok yang tidak memalukan dan diakui oleh dunia.

Tapi, lihatlah kenyataannya sekarang. Ia terpisah dari rekan-rekannya saat sedang melakukan live streaming penjelajahan dungeon.

Kini ia sendirian. Terpojok, terluka, dan hitung mundur menuju ajalnya telah dimulai.

Terlebih lagi, ia akan kehilangan nyawa akibat serangan monster kuat yang seharusnya tidak muncul di lantai atas yang dekat dengan permukaan.

Haruka teringat kembali. Yang menyerangnya tadi adalah Minotaur, manusia setengah banteng yang ganas.

Monster itu memiliki Strength dan stamina yang melampaui akal sehat manusia. Ia mengayunkan kapak perang raksasa sebesar tubuh manusia seolah-olah itu hanya ranting kecil.

Tingkat ancamannya adalah Rank B. Untuk membasminya, dibutuhkan personel dalam jumlah tertentu.

Bagi Haruka yang bertarung solo—terlebih dengan pengalaman dan teknik pedangnya saat ini—Minotaur bukanlah lawan yang bisa ia hadapi.

Seandainya staminanya masih penuh di awal penjelajahan, seandainya ada teman, seandainya ada waktu untuk memasang jebakan, atau setidaknya jika ia bisa menemukan lawan lebih dulu untuk melakukan serangan kejutan—.

Dalam pertarungan, tidak ada kata "seandainya". Di dalam dungeon ini, hanya ada satu aturan: sesulit apa pun situasinya, kau harus memberikan hasil terbaik jika ingin bertahan hidup.

—Harusnya, aku makan makanan enak yang lebih banyak lagi ya.

Rambut halus Haruka kini kusam karena keringat dan lumpur, tak lagi bersisa keindahannya. Paras cantiknya yang sempat dikira peri pun kini kehilangan gairah, wajahnya pucat pasi bagaikan kertas.

Kesadarannya mulai kabur. Kenangan saat ia berkelana di dungeon demi mencari ibunya terlintas di benak, membuatnya sadar betapa rapuh nyawanya.

Kenangan tentang hari-hari di mana ia menyisihkan waktu untuk masuk ke dungeon sendirian pun muncul tanpa bisa dicegah.

Ia meninggalkan rumah asuhnya pada usia lima belas tahun untuk hidup mandiri. Apartemen pertamanya terasa sepi dan dingin.

Meski tubuh dan jiwanya terkuras oleh kerja sambilan dan pendidikan, ia tetap terus berlatih. Ia mungkin tidak akan bertahan jika tidak ada teman dan rekan.

Menjelajahi dungeon sendirian tanpa rekan memberikan beban fisik dan mental yang luar biasa bagi Haruka.

Itu adalah masalah pribadi. Ia hanya tidak ingin merepotkan orang lain sebisa mungkin.

Sudah menjadi hal biasa baginya untuk pulang tanpa hasil. Rekan-rekannya selalu memberi peringatan setiap kali Haruka terluka. Namun, Haruka punya harga diri yang kuat.

—Padahal kalian semua sudah menyerah.

Di suatu tempat di dalam dungeon ini, ibunya masih hidup. Ibunya pasti sedang menunggu bantuan. Haruka percaya akan hal itu.

Rasa sakit dan ketakutan selalu menyiksa Haruka. Namun, ia tetap melanjutkan penjelajahan karena ada harapan di sana.

—Aku ingin bertemu Ibu.

Penjelajahan labirin itu dengan cepat menelan uang berharga yang dikumpulkan Haruka di sela waktu luangnya. Uang dan waktu terus mencair. Terus melenyap.

Ia punya kepercayaan diri pada fisiknya. Namun, menantang kegelapan tanpa siapa pun selama berhari-hari membuat batas kemampuannya datang dengan sendirinya.

Asosiasi Penjelajah sudah berkali-kali menceramahinya agar berhenti melakukan penjelajahan berbahaya. Namun, Haruka tidak menyerah untuk menantang kedalaman bawah tanah yang membentang tanpa batas di depan matanya.

—Karena akulah yang akan menyelamatkan Ibu.

"Sakit..."

Ia dipaksa kembali dari lamunannya. Pendarahannya parah. Persediaan Potion miliknya pun sudah habis.

Bahkan sekadar menggerakkan tangan kanan—tangan dominannya—adalah usaha maksimal yang bisa ia lakukan saat ini. Dengan kondisi begini, pilihan untuk lari pun sudah tertutup.

Tepat di depannya, ada sedikit cahaya. Ponsel yang terpasang pada tongsis memancarkan cahaya terang sebagai bukti bahwa ia "masih hidup".

Perlahan ia menjulurkan jari, menggenggam tongsis itu, dan entah bagaimana berhasil menarik ponselnya mendekat.

Di sana, berkat keajaiban sinyal yang belum terputus, komentar dari para penonton mengalir tanpa henti.

: Gawat banget ini!

: Eh, ini serius?

: Tunggu sebentar. Bukannya ini biasanya live streaming santai?

: Lapor ke pihak resmi!

: Oy, Haru-chin, itu darahnya...

: Boong, kan?!

: Nggak mau, nggak mau! Po-polisi, ambulans? Yang mana dulu!

: Kecelakaan di lantai atas begini?

"Semuanya... maaf ya. Petualangan Haru... mungkin sampai di sini saja."

Hanya itu yang sanggup ia sampaikan. Ponsel model lama yang ia jaga dengan baik itu terlepas dari tangan Haruka, jatuh ke tanah dengan bunyi yang berat.

—Ah, layarnya pecah. Aku tidak punya uang untuk beli yang baru.

Padahal kalau bisa, ia ingin terus melakukan streaming dan lulus dari sekolah penjelajah. Haruka punya impian.

Meraih prestasi gemilang dan naik menjadi Penjelajah Rank A. Lalu, mencari ibunya yang menghilang di dalam dungeon.

Haruka yang berusia delapan belas tahun telah berusaha keras demi impian ganda itu, tetapi ia benar-benar tidak beruntung.

"Mungkin... tidak bisa ya."

Setelah menemukan ibunya, ia ingin menabung uang dari hasil streaming dan membuka toko kecil. Jenis usahanya apa saja boleh. Kafe, toko bunga, atau toko pernak-pernik.

Ia ingin menjalankan toko itu bersama ibunya. Ia ingin bermanja-manja sepuasnya untuk mengganti waktu mereka yang hilang.

"Pergi belanja bareng, makan bersama, lalu, lalu..."

Dan jika diizinkan, ia ingin mengenal pria yang baik dan membangun keluarga yang hangat—.

"Nggak boleh, ya..."

Dari kejauhan, terdengar raungan binatang dan getaran tanah yang membekukan darah. Minotaur itu tidak akan butuh waktu lama untuk menemukannya.

Apa yang terjadi setelah ini sudah jelas terlihat. Ketakutan itu semakin mendekat. Giginya bergemeletuk. Ia tidak bisa menahan getaran tubuhnya.

Sejak ia memutuskan untuk menempuh jalan sebagai penjelajah, ia seharusnya sudah siap menghadapi akhir seperti ini.

"Nggak... mau."

Namun, yang tersisa di dasar kesadaran Haruka adalah keinginan primitif yang tidak bisa dilawan oleh siapa pun: ia tidak ingin mati.




Illustrasi | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close