Prolog
Tidak
mungkin salju turun di dalam dungeon. Namun, aku benar-benar melihatnya dengan
mata kepalaku sendiri.
Haruka Shimomura
menghela napas pendek sembari merasakan permukaan batu yang keras menusuk
punggungnya. Ia mencoba menggerakkan ujung jarinya perlahan.
Rasanya seperti
ulat yang hampir mati. Tenaganya benar-benar sudah lenyap.
Rasa lelah dan luka yang ia dapatkan hingga sampai ke titik
ini membuat sekujur tubuhnya terasa berat bagaikan lumpur. Tidak berguna.
Tubuhnya tidak mau menuruti perintahnya lagi.
Haruka memaksakan kelopak matanya yang berat untuk terbuka
dan menatap ke arah langit-langit.
—Ah, cahaya biru pucat.
Dengan siapa ia melihat cahaya itu dulu? Saat masih kecil, seseorang menggandeng
tangannya dan menatap langit malam bersama.
Kenangan
itu membara di lubuk hatinya, berkedip-kedip seperti sisa api unggun yang
hampir padam.
Haruka
akhirnya menyadari bahwa cahaya yang terpantul di matanya hanyalah sejenis
lumut bercahaya yang langka di lantai atas. Senyum getir pun tersungging di
pipinya.
"Ahaha,
bodohnya aku..."
Di dalam
dungeon yang merupakan sarang monster, kecerobohan sekecil apa pun akan
langsung berujung pada kematian.
Ia
menyentuh pinggangnya. Rasanya hangat dan licin, seperti air panas yang kental.
Bau darah yang menyengat langsung menusuk hidungnya.
Kini,
rasa takut maupun cemas sudah tidak ada lagi. Sarafnya telah mati rasa demi melindungi jiwanya.
Sambil bernapas
tersengal-sengal, Haruka mengenang kembali apa yang terjadi pada dirinya dalam
beberapa menit terakhir ini.
Seorang
Penjelajah Rank E berusia delapan belas tahun. Itulah dirinya saat ini. Tidak
lebih, dan tidak kurang.
◆◇◆
Jauh sebelum
Haruka lahir, dunia telah luluh lantak oleh kemunculan dungeon yang tiba-tiba
dan gerombolan monster yang muncul tanpa henti.
Labirin bawah
tanah tempat senjata modern tidak bisa digunakan. Satu-satunya yang memberikan
sarana bagi umat manusia untuk melawan adalah Sang Petapa Agung, Sirius, yang
datang dari dunia lain.
Sirius mendirikan
kuil-kuil besar di seluruh dunia dan memberikan anugerah roh kepada
orang-orang.
Berkat hal itu,
mereka yang mendapatkan sihir dan Skill yang hanya bisa digunakan di
dalam dungeon mulai membasmi ras iblis. Mereka akhirnya berhasil mengalahkan
Raja Iblis yang menghasut kaum tersebut.
Meski Raja Iblis
telah musnah, dungeon yang melahirkan monster tetap tersisa di berbagai belahan
dunia. Orang-orang yang menantang tempat itu, mengalahkan monster, dan mencari
harta karun tersembunyi disebut sebagai Penjelajah.
"Aduh,
ini benar-benar berat..."
Haruka
merasa dirinya tidak pernah berhenti berusaha agar tidak mempermalukan nama
ibunya yang merupakan seorang pahlawan.
Nama ibu Haruka
adalah Rinka. Dia adalah salah satu anggota tim penyelamat yang mengalahkan
Raja Iblis dari dunia lain yang pernah meneror dunia.
Rinka adalah
pahlawan yang menguasai segala jenis sihir. Namun, Haruka terpisah dari ibunya
sejak kecil dan bahkan tidak ingat seperti apa wajahnya.
Foto ibunya pun
hanya tersisa sedikit dari potongan media massa. Ia tidak tahu raut wajah
aslinya, tidak juga suaranya.
Namun, ibunya
adalah seorang pahlawan. Dia adalah kebanggaannya. Haruka ingin menjadi sosok
yang tidak memalukan dan diakui oleh dunia.
Tapi, lihatlah
kenyataannya sekarang. Ia terpisah dari rekan-rekannya saat sedang melakukan live
streaming penjelajahan dungeon.
Kini ia
sendirian. Terpojok, terluka, dan hitung mundur menuju ajalnya telah dimulai.
Terlebih lagi, ia
akan kehilangan nyawa akibat serangan monster kuat yang seharusnya tidak muncul
di lantai atas yang dekat dengan permukaan.
Haruka teringat
kembali. Yang menyerangnya tadi adalah Minotaur, manusia setengah banteng yang
ganas.
Monster itu
memiliki Strength dan stamina yang melampaui akal sehat manusia. Ia
mengayunkan kapak perang raksasa sebesar tubuh manusia seolah-olah itu hanya
ranting kecil.
Tingkat
ancamannya adalah Rank B. Untuk membasminya, dibutuhkan personel dalam jumlah
tertentu.
Bagi Haruka yang
bertarung solo—terlebih dengan pengalaman dan teknik pedangnya saat
ini—Minotaur bukanlah lawan yang bisa ia hadapi.
Seandainya
staminanya masih penuh di awal penjelajahan, seandainya ada teman, seandainya
ada waktu untuk memasang jebakan, atau setidaknya jika ia bisa menemukan lawan
lebih dulu untuk melakukan serangan kejutan—.
Dalam
pertarungan, tidak ada kata "seandainya". Di dalam dungeon ini, hanya
ada satu aturan: sesulit apa pun situasinya, kau harus memberikan hasil terbaik
jika ingin bertahan hidup.
—Harusnya, aku
makan makanan enak yang lebih banyak lagi ya.
Rambut halus
Haruka kini kusam karena keringat dan lumpur, tak lagi bersisa keindahannya.
Paras cantiknya yang sempat dikira peri pun kini kehilangan gairah, wajahnya
pucat pasi bagaikan kertas.
Kesadarannya
mulai kabur. Kenangan saat ia berkelana di dungeon demi mencari ibunya
terlintas di benak, membuatnya sadar betapa rapuh nyawanya.
Kenangan tentang
hari-hari di mana ia menyisihkan waktu untuk masuk ke dungeon sendirian pun
muncul tanpa bisa dicegah.
Ia meninggalkan
rumah asuhnya pada usia lima belas tahun untuk hidup mandiri. Apartemen
pertamanya terasa sepi dan dingin.
Meski tubuh dan
jiwanya terkuras oleh kerja sambilan dan pendidikan, ia tetap terus berlatih.
Ia mungkin tidak akan bertahan jika tidak ada teman dan rekan.
Menjelajahi
dungeon sendirian tanpa rekan memberikan beban fisik dan mental yang luar biasa
bagi Haruka.
Itu adalah
masalah pribadi. Ia hanya tidak ingin merepotkan orang lain sebisa mungkin.
Sudah menjadi hal
biasa baginya untuk pulang tanpa hasil. Rekan-rekannya selalu memberi
peringatan setiap kali Haruka terluka. Namun, Haruka punya harga diri yang
kuat.
—Padahal kalian
semua sudah menyerah.
Di suatu tempat
di dalam dungeon ini, ibunya masih hidup. Ibunya pasti sedang menunggu bantuan.
Haruka percaya akan hal itu.
Rasa sakit dan
ketakutan selalu menyiksa Haruka. Namun, ia tetap melanjutkan penjelajahan
karena ada harapan di sana.
—Aku ingin
bertemu Ibu.
Penjelajahan
labirin itu dengan cepat menelan uang berharga yang dikumpulkan Haruka di sela
waktu luangnya. Uang dan waktu terus mencair. Terus melenyap.
Ia punya
kepercayaan diri pada fisiknya. Namun, menantang kegelapan tanpa siapa pun
selama berhari-hari membuat batas kemampuannya datang dengan sendirinya.
Asosiasi
Penjelajah sudah berkali-kali menceramahinya agar berhenti melakukan
penjelajahan berbahaya. Namun, Haruka tidak menyerah untuk menantang kedalaman
bawah tanah yang membentang tanpa batas di depan matanya.
—Karena akulah
yang akan menyelamatkan Ibu.
"Sakit..."
Ia dipaksa
kembali dari lamunannya. Pendarahannya parah. Persediaan Potion miliknya
pun sudah habis.
Bahkan sekadar
menggerakkan tangan kanan—tangan dominannya—adalah usaha maksimal yang bisa ia
lakukan saat ini. Dengan kondisi begini, pilihan untuk lari pun sudah tertutup.
Tepat di
depannya, ada sedikit cahaya. Ponsel yang terpasang pada tongsis memancarkan
cahaya terang sebagai bukti bahwa ia "masih hidup".
Perlahan ia
menjulurkan jari, menggenggam tongsis itu, dan entah bagaimana berhasil menarik
ponselnya mendekat.
Di sana, berkat
keajaiban sinyal yang belum terputus, komentar dari para penonton mengalir
tanpa henti.
: Gawat banget
ini!
: Eh, ini serius?
: Tunggu sebentar. Bukannya ini biasanya live streaming
santai?
: Lapor ke pihak resmi!
: Oy, Haru-chin, itu darahnya...
: Boong,
kan?!
: Nggak
mau, nggak mau! Po-polisi, ambulans? Yang mana dulu!
: Kecelakaan di
lantai atas begini?
"Semuanya...
maaf ya. Petualangan Haru... mungkin sampai di sini saja."
Hanya itu yang
sanggup ia sampaikan. Ponsel model lama yang ia jaga dengan baik itu terlepas
dari tangan Haruka, jatuh ke tanah dengan bunyi yang berat.
—Ah, layarnya
pecah. Aku tidak punya uang untuk beli yang baru.
Padahal kalau
bisa, ia ingin terus melakukan streaming dan lulus dari sekolah
penjelajah. Haruka punya impian.
Meraih prestasi
gemilang dan naik menjadi Penjelajah Rank A. Lalu, mencari ibunya yang
menghilang di dalam dungeon.
Haruka yang
berusia delapan belas tahun telah berusaha keras demi impian ganda itu, tetapi
ia benar-benar tidak beruntung.
"Mungkin...
tidak bisa ya."
Setelah menemukan
ibunya, ia ingin menabung uang dari hasil streaming dan membuka toko
kecil. Jenis usahanya apa saja boleh. Kafe, toko bunga, atau toko
pernak-pernik.
Ia ingin
menjalankan toko itu bersama ibunya. Ia ingin bermanja-manja sepuasnya untuk
mengganti waktu mereka yang hilang.
"Pergi
belanja bareng, makan bersama, lalu, lalu..."
Dan jika
diizinkan, ia ingin mengenal pria yang baik dan membangun keluarga yang
hangat—.
"Nggak
boleh, ya..."
Dari
kejauhan, terdengar raungan binatang dan getaran tanah yang membekukan darah.
Minotaur itu tidak akan butuh waktu lama untuk menemukannya.
Apa yang
terjadi setelah ini sudah jelas terlihat. Ketakutan itu semakin mendekat.
Giginya bergemeletuk. Ia tidak bisa menahan getaran tubuhnya.
Sejak ia
memutuskan untuk menempuh jalan sebagai penjelajah, ia seharusnya sudah siap
menghadapi akhir seperti ini.
"Nggak...
mau."
Namun, yang tersisa di dasar kesadaran Haruka adalah keinginan primitif yang tidak bisa dilawan oleh siapa pun: ia tidak ingin mati.



Post a Comment