Epilog
Setelah menjenguk
Sayaka, aku berakhir sendirian di tepian Sungai Tama. Aku duduk di tanggul, membiarkan angin
berembus menerpaku. Aku melirik ke sekeliling. Tidak ada siapa-siapa. Ya, wajar
saja.
Aku
melihat jam tangan. Pukul
empat pagi. Tanpa sadar, aku tertidur di sini. Kenapa aku bisa tertidur? Mana
kutahu. Aku mengantuk, itu saja.
Begitu matahari
terbenam, suhu udara merosot tajam, tapi bagi tubuhku yang sudah ditempa
habis-habisan, ini bukan masalah besar.
Di sampingku ada
kantong kertas berisi penuh alkohol dan makanan yang kubeli di supermarket
dalam perjalanan menuju rumah sakit. Aku mencungkil tutup botol bir dengan ibu
jari, lalu menenggak isinya sekaligus.
Bir yang sudah
menghangat ini memang kurang menyegarkan, tapi rasanya tetap kuat.
Dalam sekejap
satu botol tandas, dan aku lanjut ke botol berikutnya. Ini wiski buatan Jepang.
Aku memotong leher botolnya dengan tebasan tangan, lalu mendekatkan hidung
untuk menghirup aromanya. Tak tertahankan.
Sambil meminumnya
sedikit demi sedikit, aku menatap langit. Pagi masih terasa jauh.
Sambil perlahan
mengunyah keripik kentang dan kacang mentega dari dalam kantong, aku memandang
ke arah sungai. Bintang-bintang di langit malam yang berkilauan terpantul di
permukaan air. Dan aku mulai merenungkan tentang Rinka serta Haruka dengan
perasaan kacau.
Jadi begini
akhirnya. Entah ini keberuntungan atau kemalangan, tapi identitas ayah Haruka
masih misterius. Tidak mungkin dia muncul secara alami, dan seumur hidup aku
tidak sudi tahu siapa pejantan itu.
Atau, mungkin ada
kemungkinan lain. Sihir di dunia lain itu tak terbatas. Untuk saat ini, biarlah
aku memikirkan hal itu saja.
Informasi yang
kudapat dari Sayaka memiliki kredibilitas tinggi. Lagipula, jika diselidiki
sedikit saja, cerita tentang Rinka yang kabur dengan pria lain itu bohong
belaka. Kabar yang
benar adalah dia menghilang ke dalam Dungeon demi mengejarku.
Meski aku
terus memikirkannya, aku bisa memahami mengapa Kakak atau Shogen tidak sanggup
mengatakan yang sebenarnya. Jika benar dua puluh tahun telah berlalu sejak aku
menghilang, kemungkinan Rinka masih hidup sangatlah kecil.
Namun,
fakta dan perasaan adalah dua hal yang berbeda. Meski begitu, peluangku
menemukan Rinka akan mendekati nol jika aku nekat menerjang masuk ke Dungeon
sekarang secara membabi buta. Jika aku bertindak egois, aku hanya akan
merepotkan Kakak dan yang lainnya.
Tapi,
bukan berarti aku menyerah.
Selain itu, ada
hal lain yang mengganjal pikiranku. Yaitu tentang monster-monster yang meluap dari kereta bawah tanah tadi.
Rasanya sulit dipercaya kalau mereka menyerbu permukaan dengan semangat dan
jumlah sebanyak itu di saat seperti sekarang.
Jika
hanya sekali, mungkin bisa dibilang kebetulan. Namun jika hal seperti itu
terjadi dua atau tiga kali lagi, aku tidak bisa menganggapnya sebagai kebetulan
semata. Aku menerima jika ada yang berbeda pendapat, sih.
Raja
Iblis jatuh ke dasar bumi bersamaku. Karena itulah aku tahu. Aku berhipotesis
bahwa ada eksistensi yang lebih tinggi dari Raja Iblis yang sedang menarik tali
dalam kekacauan ini. Aku tidak punya petunjuk siapa sosok itu.
Jika
benar begitu, ini masalah. Ya, masalah besar. Aku harus bersiap. Kekuatanku
sendiri mungkin tidak cukup untuk mengalahkan Raja Iblis yang sebenarnya. Aku
butuh rekan.
Bukan
orang-orang lama. Tapi kekuatan baru yang masih muda. Rekan-rekan yang belum
pernah kulihat sebelumnya, yang memiliki potensi tersembunyi yang tidak kalah
dari Kakak, Shogen, Yorimitsu, atau Rinka—merekalah yang dibutuhkan untuk
mengalahkan Raja Iblis sejati.
Yah, akan
lebih baik kalau hal seperti itu tidak perlu terjadi, sih. Tapi ini demi
prinsip 'Selalu Siap Sedia'.
"Rinka.
Kau belum mati, kan? Pasti begitu. Tunggulah sebentar lagi. Aku pasti akan
datang menjemputmu."
Aku
melemparkan botol wiski yang sudah kosong ke arah Sungai Tama. Minuman yang
enak. Membuang sampah sembarangan memang tidak baik, tapi membawanya pulang itu
merepotkan. Membuang sampah itu perbuatan buruk. Tapi tidak apa-apa. Karena aku
adalah penjahat.
Minuman
yang sangat enak. Benar-benar lezat dan meresap ke dalam jiwa. Rinka pasti akan
marah, tapi suatu saat nanti, aku ingin minum berdua dengannya di sini sambil
menatap bulan dan bintang sampai pagi. Tanpa ada yang mengganggu.
Ya. Mari
minum lagi. Aku menemukan satu lagi alasan untuk hidup. Karena itu, merangkak
sedikit lagi di dalam labirin bawah tanah itu tidaklah buruk.
◆◇◆
Hanya
perlu membantai segalanya sampai habis.
Itu adalah sosok
pria raksasa. Ia
sedang duduk di atas singgasana. Tinggi duduknya saja sudah melebihi tiga puluh
meter. Pria itu berada di bagian terdalam dari Dungeon.
Ekspresi
wajahnya tidak terlihat. Itu karena wajahnya tertutupi oleh topeng yang sangat
mirip dengan penggambaran Tezcatlipoca, dewa utama dalam mitologi Aztec.
Sepasang obsidian besar tertanam di bagian matanya, sementara tulang hidungnya
terbuat dari zamrud yang memancarkan cahaya aneh.
Satu hal
yang membedakan topeng ini dengan yang ada di British Museum adalah adanya dua
tanduk raksasa yang tumbuh di kepalanya. Tanduk itu berwarna merah kehitaman,
dipenuhi kejahatan yang seolah bisa membuat daging membusuk dan melepuh hanya
dengan menyentuhnya.
Si
raksasa menutupi tubuhnya dengan jubah yang biasa dikenakan pendeta, namun aura
mengerikan yang terpancar dari sekujur tubuhnya tidak bisa disembunyikan.
Sambil
duduk di singgasana yang terletak di gua raksasa tersebut, si raksasa menatap
cermin besar yang ada di hadapannya.
Si
raksasa menjulurkan lengannya yang hitam pekat dari balik lengan baju, lalu
mencengkeram seekor naga api yang berada di dekat kakinya.
Ukuran naga api
itu mencapai lima meter. Namun bagi si raksasa, makhluk itu tak lebih dari
seekor anak kucing.
Naga api itu
meronta-ronta di dalam genggaman si raksasa sambil menyemburkan api neraka,
namun tak lama kemudian ia mengeluarkan jeritan kematian dan berhenti bergerak
setelah dicengkeram dengan kuat.
Naga api adalah
monster buas yang bisa meluluhlantakkan ratusan Explorer sendirian, namun di
hadapan si raksasa, ia hanyalah makhluk yang malang.
Cermin yang
diletakkan di depannya memperlihatkan pemandangan di permukaan. Di sana
terpantul momen saat monster-monster yang dikirimnya sedang memburu manusia.
Namun tak lama
kemudian, monster-monster itu ditarik kembali ke bawah tanah oleh seorang pria
yang muncul dan menghilang begitu saja.
Memang
harus seperti itu, kalau tidak, tidak akan seru. Si raksasa tertawa dengan
suara menggelegar yang menggetarkan seluruh labirin bawah tanah.
—Mana
mungkin aku lupa.
Tentang
pria yang telah mengalahkan ayahku. Pria yang menumbangkan ayahku yang
merupakan Raja Iblis. Bagi si raksasa, dia adalah musuh bebuyutan sekaligus
objek yang dikagumi.
Setelah
dua puluh tahun berlalu, sang raksasa akhirnya mencapai kedewasaan. Dengan
dirinya yang sekarang, ia bisa bermain secara seimbang dengan pria itu.
Namun,
rival terkuatnya itu sudah meninggalkan bawah tanah dan berada di permukaan.
Alih-alih merasa kesal, ia justru merasa kesepian. Rasanya seperti seorang anak
kecil yang mainan berharganya direbut darinya.
Sebagai
pewaris takhta Raja Iblis, si raksasa menggigit putus kepala naga api di
tangannya, lalu tertawa kegirangan dengan suara geh-geh.
Tidak
seru jika langsung dihancurkan begitu saja.
Pewaris
Raja Iblis itu menancapkan taring tajamnya ke tubuh naga api sambil menatap
cermin ajaib yang menampilkan pemandangan di permukaan.
Daging
naga api itu tercabik, dan cairan tubuh merah pekat mengalir deras dari sudut
mulut sang pewaris Raja Iblis.
Setelah
mengunyah sisa naga api itu dengan suara bari-bari yang berisik, sang
pewaris Raja Iblis membenarkan posisi topengnya dan bersandar pada singgasana.
Seolah-olah sedang duduk di sofa sambil menonton televisi.
Darah
merah kehitaman menodai jari-jemari sang pewaris Raja Iblis. Ia menjilat darah
naga tersebut, lalu tertawa rendah dengan mata yang memerah.
Kemudian,
dalam balutan rasa ekstasi, ujung jarinya bergetar karena kegirangan menyambut
permainan yang akan segera dimulai.
Mari kita bermain, budakku.



Post a Comment