NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Danjon de Tatakai Tsudzukete Nijuu-nen no Doutei Yuusha ⁓ Chijou ni Modottara Danjo-hi 1:1000 no Sekai datta Volume 1 Bonus Story

Bonus E-book: Cerita Pendek Tambahan

Bintang Milik Sayaka


Sayaka, Papa sudah jadi bintang di langit malam.

Papa sudah jadi salah satu dari sekian banyak bintang yang terapung di langit malam.

Kalau kamu merasa sedih, coba tengadah dan tataplah langit.

Papa akan selalu menjagamu dari atas sana.

Tiba-tiba, Sayaka teringat sebait kalimat dari buku cerita yang pernah ia baca di suatu tempat, lalu mengganti subjeknya dengan namanya sendiri.

—Tidak mungkin Ayah mengatakan hal seperti itu.

Semuanya hanya khayalan. Sebab, Sayaka tidak pernah bertemu dengan ayahnya. Karena sang ayah sudah lama meninggal dunia.

Di dalam keremangan yang pekat, Sayaka perlahan terbangun. Kamar Sayaka yang saat itu berusia sembilan tahun, singkatnya, memiliki lingkungan yang buruk. Itu adalah ruangan paling suram di kediaman keluarga Yamanashi, tempat yang paling jarang tersentuh sinar matahari.

Ia melirik jam beker. Waktu menunjukkan pukul tiga pagi lewat sedikit. Tenggorokannya terasa sangat kering. Ia ingin minum air. Namun, rasanya enggan pergi sendirian ke bangunan utama tempat dapur berada. Yang terpenting, ia takut bertemu dengan orang-orang di rumah ini.

Setelah beberapa saat, matanya mulai terbiasa dengan kegelapan. Hanya ada sedikit furnitur di kamar itu. Untuk ukuran kamar putri sulung keluarga Yamanashi yang merupakan klan terpandang di daerah tersebut, kamar ini terlalu sederhana. Ada semacam maksud tertentu yang tersirat di sana.

Tentu saja, bukan maksud yang baik. Ada niat jahat, penghinaan, dan kebencian yang nyata.

Meski baru menginjak usia sembilan tahun, Sayaka paham bahwa seluruh anggota keluarga—termasuk ibu kandungnya—sangat membenci keberadaannya. Alasannya hanya satu. Terletak pada asal-usulnya.

Adiknya lahir dari orang tua yang sama-sama orang Jepang. Sedangkan dirinya sendiri lahir dari seorang pria berkebangsaan asing yang entah siapa dan di mana keberadaannya.

Penampilan Sayaka yang tidak terlihat seperti orang Jepang memang tidak bisa dihindari. Namun, klan itu tidak mau menerimanya.

Keluarga Yamanashi yang secara turun-temurun menjabat sebagai pendeta di kuil bersejarah, tidak mungkin mengakui keberadaan dirinya. Pewaris kepala keluarga berikutnya sekaligus Sang Gadis Suci (Miko) sudah diputuskan jatuh kepada adiknya.

Begitu adiknya lahir, eksistensi Sayaka yang memang sudah tipis pun menjadi benar-benar transparan. Aku adalah anak yang tidak dibutuhkan di rumah ini.

Sayaka bangkit dari tempat tidur dan menyalakan lampu meja belajar. Di atas meja itu, piagam-piagam penghargaan dari kompetisi melukis hingga piano tergeletak menggulung berantakan.

Semua itu menunjukkan kemampuan luar biasa Sayaka, seperti kemenangan di tingkat nasional. Di antara tumpukan itu, terselip lembar jawaban ujiannya. Prestasi akademik Sayaka benar-benar sangat unggul. Mendapat nilai sempurna adalah hal biasa baginya.

Namun, tidak ada satu pun orang di rumah ini yang memuji atau merasa senang atas pencapaiannya itu. Sayaka merasa sangat kesepian.

—Apa yang akan terjadi padaku setelah ini?

Di sekolah, ia memiliki tempat untuk bernaung. Sayaka adalah gadis yang ceria dan populer di antara teman-sekebatannya. Ia punya banyak teman. Mungkin karena label mentereng sebagai keluarga terpandang di daerah itu, tidak ada orang di sekolah yang berani merundung Sayaka.

Hanya saja, begitu ia pulang ke rumah, ia hanyalah seorang manusia transparan. Ibu kandungnya, kakek, maupun neneknya, sama sekali tidak mau bicara dengannya.

Mereka memang memenuhi kebutuhan dasarnya secara minimal. Namun, kasih sayang keluarga yang dicari Sayaka tidak ada di sana. Belakangan ini, makanan pun dibawakan ke kamarnya oleh pelayan.

Ini adalah paviliun terpisah. Pada dasarnya, Sayaka tinggal di sini sendirian. Hal itulah yang perlahan mulai menghancurkan hati Sayaka.

"Pada akhirnya, apakah semuanya akan terus begini selamanya?"

Ia mengerti bahwa keluarganya adalah salah satu orang terkaya di daerah itu. Setelah lulus sekolah nanti, apa yang akan terjadi padanya?

Ia tidak akan bisa tinggal di rumah ini. Disuruh tinggal pun ia pasti menolak mentah-mentah. Ia tidak mau ada di sini. Rasanya menyakitkan. Jika begitu, satu-satunya yang terpikirkan adalah pernikahan.

"Hmm."

Ia tidak bisa membayangkannya dengan baik. Sayaka hampir tidak pernah melihat sosok pria secara dekat.

Adiknya adalah satu-satunya orang di rumah ini yang mau mengajaknya bicara. Namun, dalam satu sisi, Sayaka paling membenci adiknya ini. Sebab, sang adik memandangnya sebagai sosok yang malang.

Setiap kali Sayaka mendapat perlakuan buruk dari ibu atau kakek-neneknya, sang adik pasti akan bersikap lembut padanya. Benar-benar seperti sosok anak baik di dalam buku dongeng. Hal itu justru terasa seperti sedang dikasihani, dan membuat Sayaka merasa jauh lebih menyedihkan.

Suatu saat nanti, ia ingin pergi dari keluarganya, pergi dari rumah ini. Namun ia tidak tahu caranya.

—Kesepian.

Tiba-tiba, Sayaka teringat tentang kelompok Juru Selamat yang ia dengar saat pelajaran di sekolah. Para anggota yang kembali setelah mengalahkan Raja Iblis tampak begitu bersinar. Bahkan ada teman sekelasnya yang secara terang-terangan bermimpi untuk menjadi istri mereka.

Namun, hanya ada satu sosok yang benar-benar menarik perhatian Sayaka. Sang Pahlawan yang telah menjadi bintang di langit, sosok bernama Sakazaki Ryuto.

Dunia memujanya dengan anggapan bahwa ia telah menjadi pahlawan yang gugur. Sayaka merasakan ada kemiripan antara dirinya dengan pria itu. Hal itu terasa sangat, sangat menyedihkan baginya.

Karena itu, ia memutuskan untuk berdoa. Demi sang pahlawan yang bernasib malang.

Ia membuka jendela dan menatap ke luar. Angin awal musim dingin yang menusuk mulai terasa. Di langit malam musim dingin yang jernih, bintang-bintang bertaburan dan berkilauan lebih terang dari biasanya.

—Mungkin, tidak apa-apa jika semuanya hanyalah cerita bohong belaka.

Sayaka berdoa. Ia berdoa pada bintang ayahnya. Berdoa agar pria itu baik-baik saja di sana.

Beberapa tahun kemudian, doa itu pun terbukti di hadapan seluruh dunia. Langit telah mendengar dan mengabulkan permohonan tulus dari sang Miko yang suci.




Previous Chapter | ToC | End V1

1 comment

1 comment

  • Agus Dedi Prasetya
    Agus Dedi Prasetya
    15/3/26 11:09
    Jejak vol 1 bonus story
    Reply
close