Chapter 4
Melupakan Kesedihan dengan Kesenangan
Tsukimi Sayaka
adalah seorang Male Guardian (Pengawal Pria).
Jika harus
dijelaskan secara singkat, Male Guardian adalah profesi baru yang sangat
penting dan paling populer di kalangan wanita, yang dibentuk oleh negara untuk
melindungi fisik, nyawa, dan harta benda pria yang kini telah menjadi spesies
langka.
Secara status,
mereka termasuk dalam militer, namun tugasnya lebih mirip dengan petugas
kepolisian. Mereka memiliki hak penyelidikan dan penangkapan secara mandiri.
Bahkan, demi
melindungi pria yang menjadi tanggung jawabnya, tindakan mereka yang melanggar
hukum sekalipun dapat dibebaskan melalui tindakan eksekutif di luar hukum.
Untuk menduduki
jabatan ini, seorang Male Guardian dituntut memiliki kecerdasan,
kekuatan fisik, dan mental di level tertinggi, namun imbalannya pun sangat
besar.
Gaji tahunan
mereka termasuk kelas tertinggi di antara pegawai negeri sipil, sebuah daya
tarik yang luar biasa.
Namun, profesi
ini ibarat pedang bermata dua.
Meski berhasil
menjadi Male Guardian, sebagian besar dari mereka hanya akan berakhir
dalam status "menunggu tugas".
Kalaupun mereka
beruntung mendapatkan tugas, mayoritas akan dipecat dalam waktu tiga bulan,
atau mengundurkan diri dalam waktu setengah tahun.
Alasannya,
seorang Male Guardian harus hidup mendampingi pria yang mereka jaga
selama dua puluh empat jam penuh. Jika tidak cocok, mereka akan segera didepak.
Namun jika cocok,
mereka sering kali berakhir menjadi "simpanan", dan secara de facto
hidup sebagai istri atau selir.
Dalam
kasus ini, probabilitas sang pengawal untuk hamil sangatlah tinggi.
Fakta
bahwa mereka telah berbagi kasih adalah sesuatu yang berat; secara mendasar,
pria tidak bisa memutuskan hubungan kecuali jika sang wanita memiliki cacat
karakter yang sangat fatal.
Tiga
tahun setelah masuk militer, Tsukimi Sayaka baru menjalani pelatihan sebagai
pengawal selama lima bulan.
Dia
dipuja-puji sebagai gadis keberuntungan di kalangan militer karena langsung
mendapatkan tugas, namun sebenarnya kehidupannya tidaklah seindah itu.
Asal-usulnya
sendiri tidaklah buruk. Keluarga Sayaka mengelola sebuah kuil kuno di Joshu,
dan ibu kandungnya adalah putri tunggal di sana.
Namun,
beberapa tahun sebelum Virus Satan—yang disebut sebagai "napas terakhir
sang Raja Iblis" karena secara khusus memusnahkan pria dewasa—mulai
merajalela, ibunya jatuh cinta pada seorang petualang pria kulit putih yang
datang dari luar negeri untuk menaklukkan dungeon. Hasilnya, Sayaka
dikandung.
Saat
Sayaka lahir, pria itu sudah tewas saat melakukan penjelajahan di dungeon.
Akibatnya, Sayaka ditinggalkan di keluarga terpandang Tsukimi tanpa diketahui
siapa ayahnya.
Setelah
melahirkan Sayaka, ibu kandungnya segera mengambil suami dari garis keturunan
yang sama dan melahirkan seorang adik perempuan, seolah-olah "cinta
abadinya" dan peristiwa kawin lari itu tidak pernah terjadi.
Hal ini
membuat Sayaka dikucilkan oleh ibu kandung maupun kakek-neneknya.
Kesimpulan
seluruh kerabat adalah: sang adiklah yang lebih pantas menjaga kuil sebagai
pendeta, bukan Sayaka. Masa kecil Sayaka pun penuh dengan kesengsaraan.
"Ibu,
lihat. Aku dapat medali emas di pameran, lho."
"Nenek,
aku dapat nilai seratus lagi di ujian."
"Kakek,
aku menang di kompetisi piano."
"Ibu,
hei, Ibu..."
Keluarga
besarnya benar-benar bersikap acuh tak acuh padanya. Kepribadian Sayaka yang
aslinya ceria dan polos pun perlahan memudar.
Tak butuh
waktu lama baginya untuk berubah menjadi sosok yang dingin dan tanpa ekspresi,
layaknya boneka porselen yang cantik namun mati.
Seiring
pertumbuhan Sayaka, ancaman Raja Iblis pun sirna. Adik perempuan Sayaka, sang
gadis kuil keluarga Tsukimi, menerima nubuat dan berhasil menguasai Skill
serta sihir tingkat tinggi. Dia pun berkontribusi bagi wilayahnya sebagai
petualang yang menantang dungeon.
Sang adik yang
dua tahun lebih muda itu aktif sebagai petualang menjanjikan yang ahli dalam
kekuatan kutukan. Di usia tiga belas tahun, peringkatnya sudah mencapai Rank
B.
Di Jepang, jumlah
petualang melebihi tiga juta orang, dan pemilik Rank B tidak sampai
sepuluh ribu orang. Itu sudah lebih dari cukup untuk membuktikan betapa
berbakatnya dia.
Sebaliknya,
Sayaka tidak menonjol sebagai petualang. Dia tidak memiliki perlindungan sihir,
dan Skill yang dia dapatkan hanyalah kemampuan biasa yang medioker.
Meski sudah berusaha keras selama tiga tahun, dia tetap tidak bisa beranjak
dari Rank C.
Sebenarnya,
mencapai Rank C di usia lima belas tahun tanpa pendidikan di sekolah
khusus petualang sudah berada di atas rata-rata. Namun, orang tua dan
kerabatnya tentu tidak akan mengakui sang kakak yang jelas-jelas kalah jauh
dari adiknya.
—Aku
adalah sosok yang transparan.
Merasa
tidak nyaman tinggal di rumah, wajar saja jika dia memilih melanjutkan ke
sekolah militer berasrama setelah lulus SMP.
Namun
ironisnya, bakat Sayaka justru mekar di sekolah militer. Skill dan sihir
yang digunakan di dalam dungeon tidak bisa dimanifestasikan di permukaan
bumi.
Sebagai
gantinya, misi utama militer adalah membasmi monster dunia lain yang merangkak
naik ke permukaan. Di dunia
nyata di mana senjata berat berjaya, militer dan kepolisian adalah garda
terdepan pertahanan negara.
Sayaka, yang
memiliki kesabaran tinggi, insting tajam, dan kecerdasan luar biasa, menyerap
kurikulum pendidikan militer layaknya spons yang menghisap air.
Sayaka memang
tidak cocok dengan dunia fantasi, namun dalam teknologi pertempuran di
permukaan, dia adalah yang terbaik. Terutama dalam penggunaan senjata api,
pertarungan tangan kosong, operasi senyap, hingga kemampuan deteksi
musuh—semuanya sangat memukau. Bakatnya benar-benar cocok untuk pasukan operasi
khusus.
Setelah melewati
pelatihan keras di bawah arahan atasannya, Sayaka berdiri di persimpangan
jalan. Apakah dia akan tetap di militer dan meniti karier sebagai prajurit,
atau memilih jalan sebagai pengawal pria demi peluang meraih kebahagiaan
sebagai seorang wanita?
Sayaka merasa
bingung saat atasannya menawarkan pilihan sebagai pengawal pria. Di militer
pun, itu adalah posisi yang membuat semua orang iri. Lagipula, meski
diinginkan, seseorang harus mendapatkan rekomendasi kuat dari atasan dan lulus
ujian yang dikenal sangat sulit.
"Anu, Mayor.
Pekerjaan sebagai pengawal pria ini sepertinya sama sekali tidak cocok untuk
saya."
Dirinya yang kaku
dan tidak pernah dicintai oleh siapa pun harus mendampingi seorang pria dan
hidup bersama? Baginya, itu hanyalah sebuah mimpi yang bahkan tidak berani dia
bayangkan.
"Tidak
apa-apa. Lagipula, kau itu sangat manis, lho."
"Hah?"
Ada jalan seperti
itu. Dia pernah mendengarnya, namun menganggap itu tidak ada hubungannya dengan
dirinya.
Sayaka menaruh
kepercayaan yang lebih besar daripada kepada keluarga kandungnya sendiri kepada
atasannya itu, yang tidak hanya tegas tapi juga memperlakukannya layaknya adik
sendiri.
Jika itu yang
diinginkan sang atasan, dia akan menjalani jalan apa pun. Sejak saat itu, dia
digembleng mulai dari dasar-dasar riasan, tata krama, mode terkini, hingga
pengetahuan umum agar tidak mempermalukan diri sendiri.
Meski begitu,
Sayaka sebenarnya menikmati semua itu. Jika ada seseorang yang membutuhkannya,
dia bertekad untuk mengabdi dengan sepenuh hati dan menjadi berguna bagi orang
tersebut. Dia bersumpah tidak akan gentar di depan pedang musuh mana pun, dan
siap mengorbankan nyawa demi orang yang menginginkannya.
Namun, impian
Sayaka hancur saat pertama kali bertugas menjaga seorang pemuda di usia
sembilan belas tahun. Probabilitas seorang pengawal pria mendapatkan tugas
dikatakan sekecil kemungkinan tertimpa meteor saat sedang berjalan kaki.
Faktanya, saat
terpilih, Sayaka menerima kecemburuan dan intimidasi yang sangat kuat dari
rekan-rekan seangkatannya. Namun, Sayaka merasa bangga.
Dia dipenuhi
kegembiraan, berpikir bahwa dia akhirnya bisa membuktikan sesuatu kepada
keluarganya yang selama ini menganggapnya tidak ada.
Pengawal
yang ditugaskan akan tinggal bersama pria yang dijaga. Sayaka yang bersemangat
mencoba melakukan pendekatan secara proaktif, namun masa "bulan madu"
yang manis itu tidak bertahan bahkan sampai tiga hari.
"Dada
besarmu itu menjijikkan."
Itu
adalah sebuah syok yang luar biasa. Sayaka diam-diam merasa percaya diri dengan
penampilan dan proporsinya. Namun, saat pemuda berwajah manis yang dia jaga itu
mencaci-makinya dengan kata-kata penuh kebencian, dia kehilangan kepercayaan
diri dan mengutuk dirinya sendiri.
Sebenarnya,
standar estetika pemuda itu bukannya menyimpang. Di masyarakat di mana jumlah
pria berkurang dan wanita menjadi dominan, tipe kecantikan klasik—yaitu tubuh
montok dengan dada besar, pinggang ramping, dan pinggul lebar—justru menjadi
objek ketakutan.
Para pria
yang lemah secara tidak sadar mengubah standar kecantikan mereka sebagai bentuk
perlawanan terhadap masyarakat yang didominasi wanita. Mereka lebih menyukai
bentuk tubuh gadis yang belum matang, tanpa dada maupun pinggul, yang tampak
rapuh seperti boneka yang akan hancur jika dipeluk.
Dalam kehidupan
nyata, pria selalu ditekan oleh wanita secara sosial, ekonomi, politik, maupun
militer.
Oleh karena itu,
simbol-simbol keibuan seperti dada dan pinggul yang besar mulai tidak disukai.
Tampaknya umat
manusia yang mengalami mutasi demi reproduksi pun tidak bisa mengatasi hal ini.
Benar-benar sebuah ironi.
—Apakah
keberadaanku sendiri... menjijikkan?
Tiga hari
kemudian, setelah didepak dari tugasnya, Sayaka kembali ke asrama.
Sambil mandi air
panas, dia meremas payudaranya yang lebih besar dari ukuran rata-rata itu
dengan kedua tangannya sambil menangis.
Meski dia menekan
sekuat tenaga dengan kelima jarinya, payudara yang menonjol itu tidak akan
mengecil.
Di sisi lain,
rekan-rekan seprofesinya sangat baik kepada Sayaka setelah mengetahui alasan
dia dipulangkan.
Hampir semua
gadis yang mengalami perubahan fisik akibat mutasi memiliki tubuh yang sama
montoknya dengan Sayaka.
Merendahkan
Sayaka sama saja dengan meludahi wajah mereka sendiri.
"Selamat,
Letnan Dua Tsukimi. Anda terpilih kembali sebagai pengawal pria."
Tiga tahun
kemudian, saat Sayaka mengetahui bahwa dia terpilih kembali setelah mengalahkan
persaingan yang sangat sengit, rasa takut jauh lebih mendominasi daripada rasa
senang.
"Jangan
hanya melamun, Letnan Dua Tsukimi. Ini adalah proyek yang setara dengan rahasia
negara."
Dia memasukkan
sandi untuk membuka data yang diberikan. Perlindungan datanya berlapis-lapis,
dan aksesnya pun dilakukan di ruang rahasia di bawah pengawasan tiga petugas.
Awalnya, Sayaka
membaca data pria yang akan dia jaga, lalu wajahnya yang cantik itu berubah
tegang dengan aneh. Nama pria itu adalah Sakazaki Ryuto. Itu adalah nama
pahlawan paling agung di muka bumi yang telah menaklukkan Raja Iblis—nama yang
sudah tertanam dalam benak setiap prajurit sejak hari pertama mereka masuk
militer.
"Petugas,
data ini..."
"Baca dulu
semuanya sampai selesai. Pertanyaan akan dijawab sekaligus di akhir."
Di sana terdapat
informasi detail yang tidak mungkin diketahui tanpa kerja sama dari kakak
kandungnya, Sakazaki—sekarang Genma—Kazumi, politisi partai penguasa.
Informasinya persis dengan data pahlawan Sakazaki Ryuto yang dikenal Sayaka,
bahkan jauh lebih mendalam.
Alur cerita
dasarnya dilewati, namun tertulis di sana bahwa Sakazaki Ryuto mengorbankan
diri demi menyelamatkan rekan-rekannya di Savior Party. Dia menjatuhkan
diri ke lantai terdalam tempat Raja Iblis bersemayam, dan kemarin, dia secara
ajaib kembali dari dungeon.
Tangan kanan
Sayaka yang menggerakkan tetikus basah oleh keringat. Legenda bernama Sakazaki
Ryuto, yang dijuluki penyihir jenius dan pahlawan, adalah tumpuan mental Sayaka
sekaligus pangeran cinta pertamanya.
Faktanya,
Sakazaki Ryuto yang menyelamatkan dunia dari kehancuran telah didewakan oleh
berbagai organisasi keagamaan baru. Kekuatan dan pesonanya terus digelembungkan
secara liar.
Setiap tahun,
pada hari peringatan hilangnya Ryuto di dungeon, berbagai acara diadakan
di seluruh Jepang. Popularitasnya begitu luar biasa hingga ada puluhan orang
yang rela mati demi mengikuti jejak sang pahlawan setiap tahunnya.
Foto potret
pemuda dalam lampiran itu menunjukkan rambut panjang yang mencapai pinggang.
Ekspresinya begitu penuh vitalitas, persis seperti sosok pahlawan dalam media
atau buku pelajaran, meski gambar di sana biasanya tidak jelas.
—Ah, jadi
Ryuto-sama terlihat seperti ini.
"Tenang
dan dengarkan baik-baik. Atas permintaan kuat dari pemerintah dan Anggota Dewan
Genma yang merupakan kerabatnya, Anda terpilih dari ribuan pengawal yang ada. Pikirkan baik-baik makna dari hal ini
sebelum menjalankan misi. Sungguh, kau mungkin merasa dirimu tidak beruntung,
tapi itu sama sekali salah. Bagi kami, kau adalah gadis keberuntungan yang
lahir di bawah bintang paling mujur di Jepang."
"Tidak
mungkin..."
Sayaka mengangkat
wajahnya dari monitor mendengar perkataan para petugas. Mereka mengirimkan
tatapan iri yang tampak menyakitkan kepada Sayaka.
—Aku, menjadi
petugas yang bertanggung jawab atas Ryuto-sama? Artinya, kami akan makan dan
tidur di tempat yang sama? Kalau begitu, meski terdengar mustahil, tapi tetap
ada peluang... aku bisa menjadi miliknya?
Ini adalah kali
kedua Sayaka ditugaskan sebagai pengawal. Tentu saja, pemeriksaan keperawanan
adalah yang utama di rumah sakit, diikuti oleh pemeriksaan fisik yang sangat
mendalam. Militer dan pemerintah telah memberikan jaminan penuh padanya.
Persiapan
dilakukan dengan terburu-buru. Sayaka dikirim dengan mobil sewaan ke Hotel
Emperor hanya dengan membawa badan.
Saat itu, dia
diberi kamar khusus untuk tidur selama lima jam agar kondisi tubuhnya fit,
namun Sayaka tidak bisa tidur sekejap pun.
Ukuran tubuhnya
diambil dalam waktu singkat, seragam militer yang pas dengan tubuhnya
disiapkan, dan dia segera memakainya. Pemeriksaan rambut, kulit, kuku, hingga
bulu tubuh juga dilakukan secara teliti oleh para profesional. Dalam arti
tertentu, ini membuktikan bahwa Sayaka adalah persembahan yang akan diserahkan
kepada dewa.
—Tuhan, wahai
Tuhan. Tidak, Sayaka. Ryuto-sama adalah otoritas yang melebihi Tuhan dan
keberadaan yang mulia di dunia ini. Jangan pernah lupakan itu.
"Aku
Sakazaki Ryuto."
Dewanya sedang
tersenyum. Bukan senyum mengejek atau merendahkan, melainkan senyum yang alami.
Meski usianya tiga puluh delapan tahun, wajahnya masih memiliki sisa-sisa masa
remaja seperti di foto potret terbaru, tak jauh beda dari Sayaka yang berusia
sekitar dua puluh tahun.
Senyum Ryuto
terasa seperti sinar matahari yang hangat dan menenangkan siapa pun yang
melihatnya.
Gawat.
Seorang dewa tersenyum pada orang sepertiku. Betapa beruntungnya aku. Ryuto mengatakan sesuatu,
tapi kata-katanya tidak masuk ke kepala Sayaka sama sekali.
Tiba-tiba, Ryuto
mengulurkan tangan kanannya. Hanya dengan itu, Sayaka tidak bisa menahan detak
jantungnya yang semakin kencang.
Dia menyambut
tangan sang dewa dengan kedua tangannya, seolah memeluknya. Besar. Tidak hanya
itu, tangannya tebal, dan setiap jarinya terasa kokoh.
Kulitnya terasa
kasar dan tebal. Bahkan melalui sarung tangan putihnya, dia bisa merasakan
bekas luka lama yang ada di telapak tangan itu. Hal itu dengan fasih
menceritakan bahwa sosok di depannya adalah Sakazaki Ryuto yang asli.
Sayaka merasa
ingin menangis karena terharu. Jika dia tidak dilatih untuk mengendalikan
emosi, dia pasti sudah meneteskan air mata dengan memalukan di sana.
Mengingat bahwa
tangan kanan yang kuat ini telah menyelamatkan umat manusia dari tangan Raja
Iblis, Sayaka merasa tangan itu begitu mulia. Dia merasa ingin berlutut dan mengusap pipinya
ke tangan tersebut. Ah, aku sedang berhadapan dengan sosok yang setara dewa,
bahkan lebih!
"Pokoknya
mohon bantuannya ya, eh, Tsukimi-san."
Aku akan mengabdi
pada orang ini seumur hidupku! Sayaka menanamkan tekad itu dalam hatinya. Dia
bersumpah pada langit bahwa dia siap melakukan apa pun demi Ryuto.
"Hah,
pokoknya begini Ryuto. Maaf mendadak, tapi karena berbagai alasan, kau harus
pindah tempat tinggal sekarang. Kalau tetap di hotel yang sama, informasinya
bisa bocor. Aku sudah menyiapkan apartemen dengan keamanan super ketat, jadi
pasti aman. Aku dan suamiku harus pergi bekerja jadi tidak bisa menemani,
sisanya kuserahkan padamu ya, Tsukimi-san."
Kazumi pergi
setelah mengatakan hal itu. Ryuto dan Sayaka dimasukkan ke dalam mobil
Mercedes-Benz hitam yang sudah menunggu di hotel dan segera pindah.
"O-oh. Jadi
ini istanaku mulai hari ini...?"
Ryuto bergumam
penuh haru saat diantar ke sebuah apartemen menara di kawasan mewah tertentu,
sambil memandang pemandangan malam Tokyo yang berkilauan dari kamarnya.
"Ryuto-sama.
Untuk saat ini, semua keperluan sudah tersedia. Jika ada yang kurang, silakan
katakan pada saya. Saya akan segera menghubungi pihak terkait untuk
menyiapkannya."
"O-oh?"
Di sana, Sayaka
yang sudah berganti pakaian dari seragam militer ke setelan jas celana yang
elegan sedang membawakan minuman ke sofa.
"Nuho!"
"Apakah ada
masalah?"
"Tidak,
tidak ada apa-apa."
—Pemandangan yang
indah!
Kancing tunggal
pada jas yang dikenakan Sayaka dibiarkan terbuka, sehingga memperlihatkan
dadanya yang tampak hampir tumpah. Ryuto tidak bisa menahan diri untuk tidak
tersenyum senang.
—Tunggu, dia
membuka kancingnya supaya lebih mudah mencabut pistol, ya.
Ryuto merasa
sedikit kurang bersemangat saat melihat sarung pistol kulit hitam yang
tergantung di pinggang Sayaka.
Sepanjang jalan
di dalam mobil, Sayaka telah menjelaskan secara mendalam tentang makna dan
pentingnya seorang Male Guardian.
Alasan mengapa
seorang pria di dunia ini harus didampingi pengawal khusus yang terlatih
adalah, pertama-tama, karena sangat berbahaya bagi mereka untuk bergerak
sendirian.
Memang benar,
Ryuto adalah pemilik sihir dan Skill yang mampu memberikan serangan
terakhir pada Raja Iblis di dalam dungeon. Namun, itu semua adalah
kemampuan terbatas yang hanya efektif di dalam dungeon.
Kekuatan
perlindungan roh yang diberikan oleh Penyihir Agung Sirius kepada para
petualang seperti Ryuto untuk melindungi diri dari monster hanya berfungsi di
dalam dungeon.
Artinya, meski
kemampuan bertarung Ryuto saat berada di permukaan bumi tetap luar biasa, namun
kemampuan tersebut masih dalam batas kewajaran.
Jika penyerang
memiliki senjata api yang kuat, dia tidak akan bisa melawan sama sekali.
Tanpa kekuatan
sihir, kemampuan fisik Ryuto memang luar biasa, namun tetap dalam kategori
manusia biasa yang bisa kalah dengan mudah jika ditodong senjata api.
Itulah sebabnya
negara memberikan izin khusus bagi para Male Guardian untuk membawa
pistol atau senjata tajam sejenisnya.
—Aku mengerti.
Meskipun pahlawan, begitu keluar ke permukaan, dia cuma manusia biasa.
"Maaf ya
kalau merepotkanmu untuk urusan sepele seperti ini, Tsukimi-san."
"Tidak,
Ryuto-sama. Silakan perintahkan saya untuk hal-hal seperti ini. Dan
juga..."
"Ada
apa?"
"Anu, tolong
panggil saya Sayaka saja. Dipanggil dengan nama keluarga 'Tsukimi' seperti
orang asing membuat saya merasa tidak nyaman."
Sayaka yang
berwajah tegas itu mengirimkan tatapan yang tampak kurang percaya diri. Ryuto
meletakkan gelas yang sedari tadi dimainkannya ke atas meja kaca, lalu bergumam
pelan sambil memijat pelipisnya.
"Yah, kalau
dipanggil nama keluarga memang terasa seperti orang asing, sih. Tapi aku kan
belum mengenalmu dengan baik, Sayaka-san. Lagipula masih terlalu pagi untuk
tidur. Ayo ngobrol sebentar."
"Eh...!
A-ah, baik."
Sayaka berdiri di
depan Ryuto dengan wajah tegang sambil memegang wadah es dan penjepitnya,
tampak bingung harus melakukan apa. Secara tidak sadar dia membunyikan penjepit
es di tangannya.
Kekakuan yang dia
rasakan saat pertama kali bertemu sudah hilang; Ryuto berpikir bahwa inilah
sifat asli Sayaka.
Tentu saja,
sebagai perjaka, Ryuto juga tidak mahir menghadapi wanita, namun setidaknya dia
pernah bergaul dengan teman sekolah perempuan dulu, jadi dia merasa sedikit
lebih baik daripada Sayaka.
"Yah,
silakan duduk dulu. Oke?"
"Baik."
"Sayaka-san."
"..."
"Kau
ternyata tipe yang perasaannya jauh lebih terlihat daripada yang kukira,
ya."
"Benarkah
begitu?"
"Kau seperti
anjing yang sedang mencium bau yang tidak disukai. Seperti ini."
Saat Ryuto
membuat wajah cemberut yang berlebihan seperti aktor Kabuki, hal itu sepertinya
lucu bagi Sayaka hingga untuk pertama kalinya dia tersenyum kecil.
"Nah, itu
dia."
"Eh?"
"Kau lebih
manis kalau tersenyum. Jauh lebih baik begitu."
Seketika, telinga
Sayaka memerah dan dia menunduk. Ryuto hanya bisa bengong melihatnya. Dia sengaja mengucapkan kalimat
gombal yang norak ala gigolo dan sudah siap jika akan dihujat, namun
reaksi Sayaka ternyata sangat polos.
"—Anu...
hubungan saya dengan keluarga kandung kurang baik, jadi jika boleh, saya ingin
Anda memanggil saya dengan nama depan."
"Hmm."
"Nama ini
adalah satu-satunya harta karun pemberian mendiang ayah saya."
"Begitu ya.
Kalau begitu, aku akan memanggilmu Sayaka tanpa ragu."
"Silakan
panggil sesuka Anda."
"Kaku
sekali, sih."
Saat Ryuto
tersenyum santai, Sayaka pun meski tidak sampai tertawa, ekspresinya tampak
sedikit melunak.
—Awalnya aku
kaget saat disuruh tinggal bersama wanita, tapi kalau dengannya, sepertinya aku
bisa menjalaninya.
"Tapi
akhirnya aku hidup sendiri juga ya. Eh, sebenarnya karena aku tinggal bersama
Sayaka jadi bukan hidup sendiri, sih. Rasanya sangat mengharukan. Sayaka dulu
tinggal di mana?"
"Saya selalu
tinggal di asrama sejak masuk militer. Setelah terpilih menjadi pengawal, saya
tinggal di asrama khusus."
"Begitu ya.
Aku belum pernah hidup sendiri, lho. Ah, ini bukan bercanda. Hidup mandiri di dalam dungeon rasanya
berbeda. Ngomong-ngomong, apartemen ini selain tiga kamar tidur masih ada
banyak ruangan lain, ya? Bagus sih mewah, tapi terlalu luas. Sepertinya bakal
capek kalau bersih-bersih."
"Urusan
bersih-bersih dan makanan, serahkan semuanya pada saya. Tujuan Ryuto-sama berada di sini adalah untuk
bersantai dan mengistirahatkan tubuh."
"Wah!
Syukurlah. Kalau setiap hari makan nasi kotak minimarket atau makan di luar,
pasti bakal bosan. Sayaka bisa masak? Aku juga bisa kok kalau cuma menggoreng,
merebus, atau mengupas kulit, jadi kalau ada apa-apa jangan sungkan bilang
ya."
"Perhatian
seperti itu tidak perlu. Namun, kebaikan hati Anda sudah sampai ke perasaan
saya."
"Begitu ya.
Sayaka ternyata bisa apa saja. Ini lantai empat puluh, kan?"
"Bukan, ini
lantai empat puluh empat, lantai paling atas. Keamanannya menggunakan kunci
otomatis dan dilengkapi kamera pengawas. Jika terjadi sesuatu, polisi akan tiba
dalam tiga menit dari kantor polisi terdekat. Di fasilitas umum tersedia kotak
paket khusus belanja daring, ruang tamu, ruang santai, ruang teater, pusat
kebugaran, perpustakaan, berbagai klinik, minimarket, hingga toko perlengkapan
rumah kecil dan toko serba seribu Yen. Jika Ryuto-sama menginginkannya, Anda
bisa hidup dengan nyaman tanpa harus keluar dari apartemen ini."
"Waaa. Hebat
sekali. Apa aku sanggup bayar sewa rumahnya, ya? Berapa harganya? Sekitar tujuh
puluh ribu sebulan?"
Nilai mata uang
dalam pikiran Ryuto belum diperbarui sejak dia masih SMA. Mendengar ucapannya,
Sayaka menaikkan sudut bibirnya sedikit, menatap Ryuto seperti menatap anak
kecil yang lucu.
"Sewa di
sini relatif murah, kok. Hanya sekitar satu juta lima ratus dua puluh ribu Yen
per bulan."
"S-seratus lima puluh dua ribu!? Kau bercanda, kan? Itu sudah selevel anggaran
negara! Bisa buat beli negara
baru!"
"Ryuto-sama,
Anda lucu sekali."
Sayaka
menyentuhkan telapak tangan ke pipinya, ekspresinya sedikit melunak.
"Tapi
uang sebanyak itu datang dari mana? Apa mungkin Kakak yang bayar... tapi kalau
begitu, dia dan Shogen harus melarikan diri karena tidak sanggup bayar."
"Anda
tidak perlu khawatir soal biaya hidup, Ryuto-sama. Semuanya ditanggung oleh
pemerintah."
"Serius?
Hebat juga pemerintah...! Tapi kenapa mereka mau berbaik hati begitu?"
Saat
Ryuto bertanya dengan heran, Sayaka menatapnya dengan pandangan iba.
"Apa
yang Anda katakan, Ryuto-sama? Negara ini dan dunia ini bisa bertahan karena
Anda telah mengalahkan Raja Iblis. Fasilitas seperti ini bukan hanya wajar,
tapi bahkan belum sebanding dengan jasa Anda...! Seharusnya tidak ada satu pun
hal di negara ini yang tidak bisa didapatkan oleh Ryuto-sama! Begitu besarnya
jasa Anda bagi kami!"
"O-oke.
Aku mengerti. Cukup. Berhentiii! Aku mengerti, Sayaka. Ayo tenang dulu.
Lagipula sudah malam."
"A-asal
Anda mengerti, itu sudah cukup. Asal Anda mengerti...!"
—Serius
deh. Kupikir dia cuma wanita cantik tipe militer yang keren, tapi ternyata dia
punya perasaan yang sangat membara di lubuk hatinya. Aku jadi naksir!
Pundak
Sayaka naik turun karena napasnya yang memburu. Mungkin karena terlalu
bersemangat, mata birunya berkilauan seperti permukaan danau yang terkena sinar
matahari yang terik.
Ryuto
yang tadi bersandar di sofa memberikan gelas berisi air, lalu Sayaka meminumnya
sekali teguk hingga tenggorokannya berbunyi.
Rambutnya
yang rapi menjadi sedikit berantakan. Gerakan Sayaka saat merapikan rambut di
dekat telinga dengan ujung jarinya tampak sangat seksi, membuat Ryuto menelan
ludah.
Mungkin karena
adrenalin yang keluar, feromon yang dipancarkan Sayaka terasa semakin kuat.
Mencium bau badan khas wanita muda yang manis tepat di depan hidungnya membuat
perut bagian bawah Ryuto tiba-tiba terasa panas, dan telapak kakinya yang
berada di atas karpet berbulu tebal mulai sedikit berkeringat.
"M-maafkan
saya. Tadi saya sampai lupa diri."
"Yah, tidak
apa-apa. Terkadang meledakkan emosi itu bagus untuk kesehatan mental,
kan?"
Tiba-tiba, perut
Ryuto berbunyi nyaring. Padahal dia baru saja makan malam sepuasnya di hotel
tadi, tapi dia sudah merasa lapar lagi. Wajah Sayaka kembali datar seperti
biasa, namun atmosfer di sekitarnya terasa sedikit lebih lembut.
"Maaf ya.
Aku ini memang boros energi."
"Saya akan
segera menyiapkan sesuatu yang sederhana. Ngomong-ngomong, apakah Anda punya
permintaan khusus?"
"Nasi
goreng."
Meski
permintaannya sama sekali tidak ringan, Sayaka membungkuk dengan anggun dan
berkata "Mohon tunggu sebentar", lalu beranjak menuju dapur. Ryuto
menunggu sambil melamun sejenak, namun belum sampai tiga menit dia sudah
berjalan menyusul ke arah Sayaka pergi.
"Wah."
Di sana ada
Sayaka yang sudah mengenakan celemek putih dan sedang menata bahan makanan di
dapur.
"Akan segera
siap."
"Boleh aku
menonton di sini?"
"Anda aneh
ya. Tidak ada hal yang menarik untuk dilihat, kok."
Sayaka memanaskan
wajan hingga berasap, lalu menuangkan minyak secukupnya.
Dia mengambil
sendok sayur besar, meratakan minyak ke seluruh permukaan wajan dengan bagian
punggung sendok, lalu memasukkan telur.
Dengan gerakan
lincah, Sayaka meratakan telur di wajan, memanaskannya, lalu memasukkan nasi.
Agar telur dan
nasi tercampur rata, Sayaka mengaduknya dengan sendok sayur besar sambil
menaburkan garam dan lada.
"Wooo!"
Sayaka
mengguncang wajan dengan kuat hingga nasi terlempar ke udara. Sepertinya dapur
ini dibuat khusus dengan kekuatan api yang jauh melebihi kompor rumah tangga
biasa.
Nasi yang
terlempar ke udara terpanggang api sehingga kadar air yang tidak perlu
menghilang. Ryuto teringat pernah membaca hal seperti itu di komik. Namun jika
disuruh melakukannya sendiri, itu hampir mustahil.
"Baunya
enak."
Sayaka yang
menoleh sedikit tampak menaikkan sudut bibirnya. Lalu dia memasukkan potongan
daging babi panggang dan udang ke wajan, memanaskannya secukupnya.
Irisan
daun bawang ditaburkan dengan rata. Kemudian Sayaka menuangkan kecap asin
dengan gerakan melingkar di pinggiran wajan.
Suara
desisan dari wajan merangsang perut Ryuto. Bau kecap yang terpanggang dan aroma
yang keluar dari setiap bahan makanan sudah cukup untuk dibayangkan tanpa harus
mencicipinya. Ini pasti
sangat lezat.
"Nah, akan
segera saya sajikan."
—Masakan buatan
wanita memang luar biasa, ya.
Ryuto menunggu
dengan napas memburu seperti orang kelaparan, memegang garpu dan sendok di
kedua tangannya, tidak sabar menantikan nasi goreng spesial itu datang.
"Garuuuu!"
"Ya, ini
pesanannya. Selamat menikmati."
Ryuto melahap
nasi goreng buatan Sayaka dengan rakus. Tak butuh waktu lama, nasi sebanyak
satu gantang pun tandas tak bersisa ke dalam perutnya.
"Nafsu makan
yang luar biasa."
Sambil mandi di
bawah guyuran shower, Sayaka terus memikirkan pemandangan Ryuto yang
menghabiskan nasi goreng dengan kecepatan kilat tadi.
Benar-benar
seorang pahlawan. Akhir-akhir ini pria tipe herbivora semakin banyak. Sayaka
yang kurang gaul sekalipun tahu kalau mereka biasanya memiliki porsi makan yang
sedikit.
Seandainya Sayaka
tidak mendengar informasi dari Kazumi—kakak Ryuto sekaligus orang yang
merekomendasikannya sebagai pengawal khusus—bahwa "Adikku itu makannya
banyak", dia pasti sudah kecolongan.
Gerakan bertenaga
Ryuto saat mengosongkan piring nasi goreng porsi besar itu membuat debar
jantung Sayaka bertambah cepat. Dia jatuh ke dalam kondisi sedikit bergairah.
Kalau
dipikir-pikir, hampir tidak ada kenangan makan bersama keluarga sejak dia masih
kecil. Meski terkadang hadir dalam pertemuan formal, posisi pusat perhatian
orang tua dan kakek-neneknya selalu tertuju pada adiknya. Tidak ada tempat
baginya di sana.
Sayaka menatap
kosong tetesan air yang jatuh dari rambut basahnya, lalu segera mengembalikan
kesadarannya yang sempat melayang.
—Aku selalu
begini.
Seorang rekan
pernah menegurnya dulu. Katanya, wajah Sayaka sering terlihat menyeramkan
seperti hantu.
Saat tanpa sadar
mengingat kenangan pahit masa lalu, Sayaka secara alami masuk ke dalam kondisi
"mati" demi melindungi dirinya sendiri. Dia keluar dari kamar mandi dan berdiri di
depan cermin.
Jika dia
menunjukkan wajah seperti monster, Ryuto sang tuan rumah pasti akan ketakutan. Dia harus memeriksa diri.
Sambil
mengeringkan rambut dengan pengering, dia memeriksa tubuhnya. Berkat latihan
harian, tubuhnya tampak kencang. Tidak ada lemak berlebih sedikit pun di sana.
Tidak ada
bekas memar atau gigitan serangga. Sayaka pernah mendengar bahwa dalam urusan
fisik, pria adalah makhluk sensitif yang mudah kehilangan minat jika melihat
sesuatu yang tidak beres. Untuk
saat ini, dia memberi nilai "oke" pada dirinya sendiri.
—Apakah
Ryuto-sama akan tertarik pada tubuhku?
Setelah hanya
mengenakan pakaian dalam, Sayaka melangkah menuju kamar pribadi Ryuto sambil
merasakan jantungnya yang berdegup kencang.
—Bagaimana jika
aku ditolak lagi seperti waktu itu?
"Ryuto-sama?
Apakah Anda masih bangun?"
Entah ini
keberuntungan atau kemalangan, pintu kamar itu tidak dikunci. Hal ini
menghilangkan alasannya untuk melarikan diri.
Tidak ada cahaya
yang merembes dari celah pintu. Bukti bahwa lampu sudah dimatikan.
Malam ini, dia
berniat menyerahkan diri untuk dipeluk oleh pria itu. Sayaka menelan ludahnya
dengan susah payah. Dadanya berdenyut hingga terasa sesak.
Jika Ryuto
memiliki selera yang sama dengan pemuda yang dia jaga sebelumnya—tipe yang
hanya menyukai gadis mungil—maka ceritanya akan berakhir di sini. Jika itu
terjadi, dia akan berhenti menjadi Male Guardian dan kembali ke militer.
Dia akan
menghabiskan sisa hidupnya tanpa berhubungan dekat dengan siapa pun, sambil
menghabisi monster-monster yang muncul dari dungeon dengan senjata
berat.
Dengan pemikiran
itu, Sayaka membuka pintu kamar. Matanya langsung menangkap sosok Ryuto di atas
tempat tidur, terbungkus selimut hingga ke kepala sambil menatap tajam ke
arahnya.
"Ryuto-sama?"
Ryuto yang duduk
dengan satu lutut di atas kasur tidak mengendurkan haus darah yang mencekam
sedikit pun, meski menyadari bahwa penyusup itu adalah Sayaka.
Begitu mata
mereka bertemu, Sayaka merasakan tekanan kuat seolah-olah ada sesuatu yang
dijejalkan ke tenggorokannya. Mata Ryuto bersinar terang dalam kegelapan,
persis seperti mata binatang buas.
Sayaka telah
menjalani latihan militer yang sangat keras hingga muntah darah dan siklus
menstruasinya berhenti. Namun, saat melihat pria di depannya, segala harga diri
itu lenyap seketika.
"Maaf.
Kadang kalau teringat hal-hal aneh, aku jadi susah tidur nyenyak."
"A-ah,
i-iya."
"Ini sudah
jadi kebiasaan. Meski tahu sudah aman, sarafku tetap saja tegang. Terutama di
malam seperti ini."
Dia masih bisa
diajak bicara. Kekuatan di lutut Sayaka rasanya seperti menguap; dia hanya
sanggup berdiri dengan susah payah. Dia tidak boleh takut sekarang.
"Bolehkah
saya mendekat?"
"Ah,
silakan."
Izin diberikan.
Dengan tubuh gemetar, Sayaka naik ke atas tempat tidur dan bergerak mendekati
sisi Ryuto secara natural. Begitu sudah sangat dekat, dia baru menyadari
sesuatu.
Tubuh Ryuto panas
seperti api. Meski musim dingin hampir tiba, hawa panasnya seolah membakar
kulit. Sayaka tersentak menyadari satu hal: Ryuto sedang gemetar.
"Ryuto-sama,
apakah Anda merasa kurang sehat—?"
"Tidak, aku
ingin tidur, tapi rasanya tidak tenang. Di dalam dungeon, aku hampir tidak
pernah bisa tidur nyenyak, sih."
Sayaka
menahan napas. Saat dia berusaha mengendalikan kegugupannya, Ryuto yang ada di
sampingnya menyandarkan tubuh.
Tanpa
sadar, wajah Sayaka sudah bersimbah keringat. Ketegangan yang berbeda dari
latihan tempur ini membuatnya merasa seolah napasnya terhenti.
Dia
merasa sudah mempelajari tata krama di atas ranjang dengan versinya sendiri,
tapi dia tidak yakin bisa melakukannya dengan baik.
Ah, sudahlah!
Terjadi maka terjadilah!
"Ryuto-sama,
aku—"
"Khuuuu—"
"Hah?"
Tiba-tiba, tubuh
Ryuto terkulai jatuh ke pangkuan Sayaka. Secara refleks, Sayaka menangkapnya.
Tanpa sengaja, posisinya kini adalah Sayaka yang memeluk Ryuto.
Beban berat itu
nyata. Entah sudah berapa lama mereka dalam posisi seperti itu. Akhirnya Sayaka
memantapkan hati, menjulurkan tangan kanan, dan menyalakan lampu kecil di
samping tempat tidur.
"Dia
tidur."
Ryuto tertidur
dengan ekspresi damai, seperti seorang anak kecil yang bermanja pada ibunya.
Sayaka mengangkat kepala Ryuto perlahan, lalu mengaturnya agar bersandar dengan
nyaman di atas kedua lututnya.
Setelah itu, rasa
malu menyerangnya. Betapa bodohnya dirinya.
Dia sama sekali
tidak pernah benar-benar memikirkan perasaan Ryuto yang telah tersesat selama
dua puluh tahun di dalam dungeon. Dia hanya menganggapnya sebagai
pahlawan.
Dia secara
sepihak menyimpulkan bahwa seorang pahlawan pasti kuat, teguh, dan tidak akan
pernah terluka hatinya.
Padahal, wajah
Ryuto yang sedang tertidur di pangkuannya ini tampak begitu tenang dan rapuh.
Setelah itu,
Sayaka merenungkan perjuangan neraka yang dialami Ryuto selama dua puluh tahun.
Binatang berahi.
Dirinya hanya
merasakan nafsu sepihak pada Ryuto dan bertindak tanpa memikirkan perasaan pria
itu.
Mengapa dia bisa
melakukan hal itu dengan begitu santainya?
Padahal, dia
hanya ingin sedikit saja merasa dekat dengannya. Ryuto secara insting mengenali
bahwa Sayaka bukanlah musuh, dan memercayakan tubuhnya kepadanya.
—Sepertinya, Kamu
mulai sedikit memercayaiku.
Begitu pikiran
itu terlintas, perasaan kasih sayang yang kuat—berbeda dengan nafsu—melonjak
dalam dada Sayaka. Dia tidak menyangka memiliki sifat keibuan seperti ini di
dalam dirinya. Sayaka memeluk Ryuto dengan erat, lalu menyisirkan jemarinya
pada rambut panjang pria itu yang terurai di tempat tidur.
"Ugh...
nngh..."
Bulu matanya yang
panjang tumbuh dari kelopak mata yang terpejam. Jika diperhatikan baik-baik,
ada bekas luka lama yang halus di bawah mata kanan dan keningnya.
Sayaka mencoba mencubit pelan ujung hidung Ryuto. Ryuto mengerutkan dahi dan
memajukan bibirnya seperti anak kecil.
"Fufu,
wajah yang lucu."
—Aku akan
melindungimu.
Sayaka
kini bisa membusungkan dada dan berkata bahwa dia hidup sampai hari ini memang
untuk tujuan itu. Meskipun Ryuto tak terkalahkan di dalam dungeon, dia
tidak tahu kesulitan apa yang akan menyerangnya di permukaan bumi.
Sayaka memutuskan
untuk bertarung demi Ryuto. Sambil terkekeh pelan di bawah cahaya
remang-remang, Sayaka terus menatap wajah tuannya yang tertidur lelap tanpa
rasa bosan.
◆◇◆
"Nah, karena
tiga cewek sudah kumpul, ayo kita mulai! Yey! Turnamen Penentuan Siapa yang
Punya Nasib Cinta Paling Sial ke-34!"
Kuonji Kyoka
berseru sambil membuka kaleng bir dengan bunyi pfft. Rion menatapnya
dengan pandangan dingin sambil menyesap grape sour-nya.
"Enggak,
kita enggak bakal melakukan itu."
"Ah, Rion.
Aku mau bawa pancinya, bisa tolong bersihkan mejanya?"
Shimomura Haruka
mengundang teman-teman petualangnya, Nanami Rion dan Kuonji Kyoka, ke kamarnya
untuk mengadakan pesta sukiyaki.
"Eeeh,
kalian enggak asyik, sih. Kalau cewek-cewek lagi kumpul minum, camilan paling
pas itu ya saling pamer siapa yang pernah diperlakukan paling parah sama
cowok."
"Maaf ya,
kami warga ibu kota tidak paham adat istiadat daerah seperti itu."
"Tunggu,
tunggu, tunggu dulu! Aku juga asal Jakarta tahu! Cuma karena sepuluh tahun
tinggal di Jawa Timur, logatku jadi aneh begini."
"Pantas
saja semua omonganmu terdengar seperti barang KW."
"Siapa
yang barang KW, hah!?"
"Duh,
Kyoka. Jangan berisik di ruangan sempit begini."
Kamar
Haruka memang cukup sederhana. Meja diletakkan tepat di samping tempat tidur, dan area itulah yang menjadi
lokasi pesta minum mereka. Kamar dan mejanya sudah terasa penuh sesak hanya
dengan diduduki empat orang.
"Tapi ya,
aku tahu kondisi keuangan kita masing-masing, tapi Haruka, apa kamu enggak mau
pindah ke tempat yang lebih bagus? Meskipun pekerjaan utamamu cuma paruh waktu
dan penghasilan sebagai petualang masih minim, ini bukan tempat yang pantas
ditinggali gadis delapan belas tahun."
Seperti yang
dikatakan Kyoka, apartemen Haruka sudah termasuk kategori cukup tua. Meski
jaraknya lumayan dekat dari stasiun, tidak ada kesan modis sedikit pun. Suasana
lingkungannya yang terasa seperti pemukiman kumuh dari era jadul memberikan
kesan kehidupan yang aneh. Rion mengangguk-angguk setuju sambil mengunyah cumi
kering.
"Soal itu
aku setuju dengan Kyoka. Hei Haruka, bagaimana kalau kamu pikirkan lagi soal
rencana roomshare kita? Kalau uang kita digabung, kita bisa dapat tempat
yang lebih layak."
"Duh,
kalian berdua jahat banget, sih. Aku suka di sini, jadi tidak apa-apa. Lagipula, tempat ini sudah pas
untukku yang sekarang. Kalau peringkatku sudah naik, aku pasti pindah ke tempat
yang leeeebih bagus, kok. Tenang saja."
"Tapi ya,
untuk ukuran satu kamar, harga sewanya lumayan murah, sih. Hidup bukan cuma
soal kemewahan. Aku paham."
"Cih, dasar
anak orang kaya. Padahal kamu sendiri tinggal di apartemen mewah yang pakai auto-lock
karena dibiayai orang tuamu."
"Biarin, apa
salahnya. Huuu."
"Sudah,
sudah, kalian berdua. Aku benar-benar suka di sini, kok."
"Nah,
sebelum pancinya mendidih, ayo ceritakan kisah lucu kalian."
"Si
bodoh ini sudah minum kaleng kedua."
"Aduh, Kyoka
tidak sabaran sekali, ya. Padahal tadinya aku mau tunggu orang itu datang dulu
baru bersulang, tapi dia bilang bakal telat banget. Ya sudah, ayo."
"Bersulang!"
Ketiga gadis itu mengadu gelas masing-masing sambil tertawa
ceria.
"Fuuuh, mantap! Rasa lelah setelah kerja dan hawa panas
di ruangan ini membuat alkoholnya meresap ke seluruh tubuhku!"
Kyoka
berkata dengan senyum lebar dan busa bir menempel di sudut bibirnya.
"Fuuuh,
enak."
"Hmm.
Sudah lama tidak minum, tapi minum bareng kalian memang yang paling enak."
"Hahaha, ya
kan? Kita ini sahabat sehidup semati. Kalau sampai secara ajaib kalian dapat
cowok, jangan lupa kenalkan padaku, ya."
"Mustahil,
deh."
"Rion,
sst."
"Eh,
dengerin dong! Aku kena PHP lagi, tahu!"
"Wah,
tiba-tiba banget."
"Si bodoh
ini ujung-ujungnya cuma mau curhat, ya."
"Aku ditipu
lagi di aplikasi kencan. Jahat banget. Padahal aku sudah nunggu lama di Stasiun
Senayan. Sudah dandan cantik-cantik, tapi kenapa nasibku begini?"
"Lho. Jadi
yang waktu itu berdiri di depan patung adalah Kyoka?"
"Rion, kamu
melihatnya? Kebetulan sekali."
"Kyoka, kamu
masih main aplikasi itu? Padahal aku sudah peringatkan kalau isinya cuma penipu
atau AI. Kenapa kamu tetap nekat?"
"Habisnya,
habisnya, kami sudah akrab banget tahu! Pagi malam saling chat LISO,
saling tukar kata cinta, terus! Terus ya! Hobi kami juga cocok banget, wajar
dong kalau aku yakin. Ini kan namanya takdir?"
"Coba
perlihatkan riwayat chat-mu."
"Ah,
jangan—"
"Aku juga
mau lihat."
"......"
"Apa-apaan,
ini kan BOT."
"Bahkan
aku tidak menyangka bakal separah ini."
"Bukan! Itu
bukan BOT! Itu Mas Pacarku! Dia pria asli yang punya daging dan darah!"
"Duh, aku
tahu kamu bodoh, tapi ini benar-benar keterlaluan."
Rion segera
menjauh dari Kyoka.
"Aku
juga tidak bisa membela yang satu ini."
"Enggak mau!
Mau mesin juga enggak apa-apa! Bukan, itu salah! Aku sudah nunggu dua puluh jam
karena kupikir bakal bisa 'ehem' dengan penuh gairah, tapi yang nyamperin cuma
polisi!"
"Wahahaha!
Aduh, Kyoka, terima kasih atas hiburannya. Aku sangat puas."
"......Kalian
berani ngomong begitu karena merasa di atas angin, ya? Rion-san, bukannya kamu
juga sama gilanya denganku?"
Deg-degan.
"—Jangan
konyol. Aku tidak akan melakukan kesalahan konyol seperti Kyoka."
"Aku tahu
lho. Bulan lalu ada masa di mana Rion terus-terusan cek ponsel, terus setelah
hari tertentu, kamu jadi super down."
"Ayo ngaku!
Hmm? Ngaku saja biar perasaanmu lega."
"......Sebenarnya
soal media sosial, aku juga..."
"Sudah
cukup. Haruka diam saja. Nah, Rion. Siapa pun bisa salah. Lagipula, di dunia
yang kekurangan pria begini, wajar kalau kita tertipu saat mencari cinta."
"Sebenarnya,
akhir bulan lalu aku janjian ketemuan sama cowok yang kukenal di medsos."
"Terus? Kamu
kena PHP juga kayak aku?"
"Enggak,
orangnya datang ke tempat janji, sih."
"Cih."
"Jangan
berdecak begitu, Kyoka."
"Terus
bagaimana?"
"Hmm.
Aku sudah kirim fotoku sebelumnya, tapi karena foto profil dia itu ikon anime,
ya, aku tidak terlalu berharap banyak, tidak terlalu—"
"Ternyata
berharap banget, ya."
"Kyoka, kamu
kelihatan senang sekali, ya."
"Terus
bagaimana? Apa tampang dia seperti monster?"
"Kelihatannya
seperti om-om kurus kering yang dibesarkan di pinggir kali sampai umur tiga
tahun."
"Wuhyahyahyahya!"
"Kyo-Kyoka—upfftt."
"Cih.
Tertawalah sesuka kalian. Obrolan
kami sama sekali tidak nyambung, aku tersiksa sekali. Bayangkan betapa syoknya
aku, sudah dandan maksimal, tapi yang muncul malah om-om usia lima puluhan yang
tampangnya kayak bawa sial."
"Nyahahahaha!
Aduh, jangan bikin ketawa terus! Rion, kamu mau membunuhku dengan tawa,
ya!"
"Tapi yang
lebih bikin syok adalah, saat kami bicara beberapa lama, ada bagian dari diriku
yang berpikir, 'Mungkin sama om-om ini juga boleh deh' ♡."
"—Pffft!
—Ugh!"
"Hei, Kyoka,
ketawamu kelewatan. Berisik
tahu."
"Tapi
tragedinya tidak berhenti di situ. Saat obrolan mulai serius, om-om itu malah
mengajakku masuk sekte 'Agama Monster Mi Ayam Terbang'."
"A-apaan itu! 'Agama Monster Mi Ayam Terbang'!? Belum pernah dengar! Aduh perutku
melilit! Rion, jangan, jangan bunuh aku dengan ini!"
"Huh,
tertawalah. Tertawakan aku yang kesepian dan haus cinta ini."
"Sudah ya,
Rion. Jangan terlalu menyalahkan diri sendiri."
"Apa-apaan
itu 'sudah ya'. Haruka, kamu salah besar kalau mikir bisa mengakhiri pertemuan
ini tanpa luka! Aku tahu lho, Haruka menyembunyikan rahasia besar dari
kami!"
"Oh,
penipuan asmara internasional?"
"Lho, Rion
sudah tahu!?"
"Aha,
ahahaha!"
"Yah,
soalnya semua langsung kelihatan di wajah Haruka. Kyoka saja yang terlalu lemot
sampai tidak sadar."
"He-hei.
Bisa kita stop bahas ini? Lagipula kuahnya sudah mau menyusut, lho."
"Tenang
saja. Aku sudah antisipasi dan cuma baru masukin tahu. Terus? Rion, kayak
gimana penipuan asmara internasional yang menjerat Haruka?"
"Yah,
klasik. Sama kayak kamu, dia chat intens dengan penipu siber, terus si
penipu bilang enggak punya uang buat ke Jepang lah, keluarganya sakit lah, ini
itu lah buat narik uang."
"Tapi, tapi
tapi tapi. Dia kelihatan benar-benar dalam kesulitan tahu!"
"Ya ampun,
menyedihkan sekali. Terus, habis berapa?"
"Tiga ratus
ribu rupiah..."
"Nah, malam
ini ayo kita minum sepuasnya!"
"Setuju."
"Eeeh. Tiga
ratus ribu itu uang banyak tahu!"
"Hei Rion.
Kalau dipikir-pikir dari segi tenaga, penipunya malah rugi bandar, kan?"
"Jangan
dibilang begitu, dia kan lagi syok."
"Ya,
ya sudahlah. Haruka, ayo minum juga. Ngomong-ngomong, kenapa ya ada tiga cewek
cantik kumpul begini, tapi enggak ada satu pun cowok di sini."
"Ah, makanya
hari ini aku panggil tamu kejutan—"
"Kyoka,
abaikan saja dia."
"Enggak
apa-apa, enggak apa-apa. Hari ini kan perayaan Haruka keluar dari rumah sakit!
Lagipula, kamu sudah dapat akun baru buat streaming dungeon, ayo gas
sampai pagi!"
"Aku tidak
bohong, lho—"
Tiba-tiba, bel
pintu berbunyi.
"Oh, ada
yang datang."
"Haruka,
kamu pesan paket?"
"Jangan-jangan,
itu alat bantu malam biar tidak kesepian kalau tidur?"
"Ka-kan
sudah kubilang bukan! Eh! Kyoka, kamu sudah habis sebanyak itu?"
"Oke!
Biar aku yang cek 'peralatan malam' Haruka!"
"Berisik
malam-malam itu mengganggu orang."
"Kalau
begitu cegah dia!"
Belum
sempat Haruka mencegahnya, Kyoka yang sudah cukup mabuk berlari menuju pintu
depan.
Sebenarnya jarak
dari ruangan tempat mereka makan ke pintu depan tidaklah jauh. Rion membuka
kaleng chu-hi baru, pipinya sedikit memerah dan ekspresinya melunak.
"Sabar ya,
Mas Paket! Pakai cap jempol saja ya gantinya tanda tangan? Tapi jempolku yang
bagian atas ini ukurannya jumbo, lho. Ahahaha—ha."
Kyoka yang
menyangka kurir paketnya adalah wanita muda langsung menaikkan sweternya, namun
dia membeku seketika saat melihat sosok di hadapannya.
"Eh, ah,
anu. Benar ini rumahnya Shimomura Haruka-san, kan?"
Di sana, seorang
pria muda mengenakan setelan jas biru cerah sambil memeluk buket mawar berdiri
sambil tersenyum malu-malu.
"Duh Kyoka!
Apa-apaan sih kamu! Ah, Ryuto-san. Silakan masuk! Maaf ya, anak ini agak kurang
waras otaknya. Ayo, kamarku memang sempit dan memalukan, tapi silakan ke
dalam—"
—Apa yang
sebenarnya terjadi?
Namun, lebih
cepat dari otaknya bisa memproses, Kyoka menutup pintu dengan kekuatan dahsyat.
Rion yang tadinya duduk bersantai di depan meja langsung berdiri secepat kilat
seperti baru saja menemukan monster. Dia menarik kerah baju Haruka dan
melemparkannya ke belakang.
"Kyuu!"
"Anu, ada
apa ya?"
"E-eh, tidak
ada apa-apa. Ohohoho!
Bisa tolong tunggu se-sebentar saja?"
Deg! Suara pria itu menusuk tepat ke dada. Kyoka yang tadinya sudah
menghabiskan lima kaleng bir berukuran 500ml langsung sadar seketika.
Rasanya seperti diguyur seember air es di kepala. Setelah
bertukar pandang dengan Rion, Kyoka mencengkeram tengkuk Haruka dan
menyudutkannya ke dinding.
"He-he-he-hei! Siapa cowok ganteng itu! Apa itu? Haruka, apa dia tamu kejutan yang kamu
maksud? Jangan-jangan, itu l-l-l-layanan prostitusi ilegal yang kamu dapat dari
koneksi rahasia?"
Kyoka berkata
dengan lidah yang masih agak kelu. Di dunia di mana pria sangat langka,
mustahil seorang pria muncul di pesta minum kecil-kecilan sesama wanita seperti
ini.
Maka, secara
probabilitas, besar kemungkinan orang yang dilihatnya sekilas tadi adalah pria
sewaan yang berdandan seperti itu.
"Berapa?
Aku harus bayar berapa? Pakai uang tunai, kan? Tidak bisa pakai kartu atau
dompet digital, kan? Maaf,
ini pertama kalinya buatku jadi aku tidak tahu prosedurnya."
Rion yang
panik mengeluarkan semua lembaran uang dari dompetnya. Hanya dengan mendengar
kata "pria muda", nafsu yang terpendam meledak, dan itu adalah hal
yang wajar bagi gadis muda.
"Tenang
dulu! Meskipun dia cuma cowok sewaan, kualitasnya kalau dilihat sekilas tadi
sangat tinggi. Mungkin dia
juga hasil operasi plastik. Kalau begitu harganya pasti mahal. Kita harus
pikirkan matang-matang supaya biayanya efisien, kita bertiga harus pikirkan
gaya main yang paling memuaskan—"
"Aduh,
kan sudah kubilang dari tadi! Orang itu namanya Sakazaki Ryuto-san, orang yang
menyelamatkanku di dungeon! Waktu kubilang kami mau pesta sukiyaki,
beliau malah menyempatkan diri datang, tapi kalian malah—"
"Tunggu,
jadi dia benar-benar cowok asli!?"
"Iya,
sudah kubilang kan!"
"Bukannya
Ryuto itu cuma pacar khayalanmu?"
"Bukan,
tahu!"
"Eh,
tunggu. Kalau begitu... gawat. Duh, kesan pertamaku buruk banget!"
Lutut
Kyoka gemetar hingga dia hampir terduduk di lantai. Mana ada pria yang punya
kesan baik pada wanita yang memamerkan dada (meski tertutup pakaian dalam) pada
pertemuan pertama? Tidak mungkin ada.
"Tahu
ada cowok mau datang, aku pasti pakai baju yang lebih bener! Haruka, kamu
menjebakku ya! Aku maunya dijebak 'yang lain'!"
"Ngomong
apa sih? Kamu bodoh ya? Eh, tunggu sebentar. Kyoka masih mending, lho!
Lihat aku! Aku pakai celana training waktu SMP!"
Rion mengenakan celana training berwarna merah tua yang
kusam dengan logo "SMPN 5 Saitama", sebuah pakaian rumah yang sangat
tidak modis. Sudah melar pula. Rion menarik ujung celananya sambil hampir
menangis. Ini adalah pilihan pakaian terburuk yang bisa dibayangkan.
"Tenang saja, Ryuto-san bukan tipe orang yang suka
mempermasalahkan hal kecil, kok."
Haruka
tersenyum manis sambil menangkupkan tangan di pipi. Namun, Kyoka tidak sebodoh
itu sampai tidak menyadari maksud tersembunyi di balik senyum itu.
—Kami
dijebak.
Seharusnya
dia sadar sejak masuk ke kamar ini. Padahal cuma pesta minum sesama teman, tapi Haruka memakai pakaian feminin
yang lebih cantik dari biasanya. Kyoka sempat berpikir "tumben dandan niat
banget", tapi dia seharusnya lebih memercayai instingnya sejak awal.
"Po-pokoknya
begini. Aku sama Rion mau ganti baju dulu di dalam. Haruka, kamu... anu,
persilakan Ryuto-san masuk dan jamu dia! Ah, jangan sampai dia pulang dulu di
depan pintu! Kalau kami balik dan dia sudah tidak ada, aku bakal dendam seumur
hidup! Gigit saja kalau perlu, jangan sampai lepas!"
"Duh, aku
bukan kura-kura pemarah, tahu."
Sembari mereka
bicara, Rion sudah lari secepat kilat menuju ruang ganti di dalam. Sepertinya
dia tidak punya keberanian maupun mental untuk tetap memakai celana training
SMP yang super jadul itu di depan lawan jenis. Kyoka pun ikut berlari dalam
diam.
Terdengar suara
pintu dibuka dan Haruka yang berbicara dengan ceria bersama pria itu.
Kyoka diliputi
rasa gelisah yang hebat.
Dan meskipun
belum sempat berbincang, dia sudah merasakan kecemburuan yang luar biasa
terhadap Haruka.
—Padahal aku yang
jatuh cinta duluan...!
Benar-benar
tidak masuk akal.
Apakah
cinta bisa melampaui ruang dan waktu?
Dilihatnya
Rion—yang sepertinya memang berencana menginap—sudah berganti dari celana
training ke pakaian luar yang lebih mendingan.
Dia
berniat memperbaiki riasan wajahnya, tapi dalam kondisi ini dia tetap tidak
menguntungkan.
Karena
sweter yang dipakai Kyoka hanyalah barang murah dari toko grosir. Ugh, apalagi
sudah agak melar. Rion meliriknya sambil menahan tawa. Apa-apaan itu, kamu
merasa menang hanya dengan begitu?
Kalau
sudah begini, satu-satunya cara adalah nekat. Kyoka melepas sweternya dan
tersenyum licik. Rion menatapnya dengan tatapan "Anak ini waras tidak,
sih?".
Ada satu
hal di mana Kyoka menang telak atas Rion dan Haruka. Dia mengambil pakaian
dalam dari tasnya, berganti pakaian, dan menyemprotkan sedikit parfum.
Nah, dari sini
pertarungan dimulai!
"Selamat
datang. Salam kenal, aku sahabat Haruka, namanya Kuonji Kyoka. Mohon
bantuannya, ya."
"Bukan, aku
teman sejati Haruka yang bernama Nanami Rion. Dan juga teman masa kecilnya.
Umurku tujuh belas tahun, zodiak Virgo. Gadis murni seratus persen. Hewan air
favoritku adalah platipus karena mereka mamalia tapi bertelur. Kamu tahu?
Platipus jantan punya taji beracun. Nanti kasih tahu aku secara rahasia ya,
racun apa yang kamu punya."
"A-ahaha.
Aku Sakazaki Ryuto. Salam kenal ya, kalian berdua."
"Ah, curang! Ryuto-san, aku, aku umurnya delapan belas
tahun. Ryuto-san umurnya juga segitu kan. Kita harus akrab ya ♡."
Ryuto merasa sedikit bingung. Saat dia bertukar kontak
dengan Shimomura Haruka yang diselamatkannya di dungeon, dia diundang ke
pesta sukiyaki di rumahnya.
Sampai di situ masih normal, tapi kenapa sekarang dia malah
diapit oleh dua gadis cantik yang hanya memakai pakaian dalam di depan panci
yang mendidih?
Ryuto harus menahan sekuat tenaga agar bagian bawahnya tidak
bereaksi, karena terus ditekan oleh dua orang yang tanpa ragu menonjolkan daya
tarik seksual mereka meski baru pertama kali bertemu.
Kyoka melepas jaket Ryuto secara natural dan menggantungnya.
Atas
desakan Rion, Ryuto duduk di depan meja.
—Nuuuoooooh,
apa-apaan ini! Surga? Apa ini surga? Apa tanpa sadar aku sudah dapat tiket
sekali jalan ke akhirat? Ayah, Ibu, terima kasih. Malam ini aku akan menjadi
pria dewasa.
Tsukimi Sayaka
yang menjadi pengawalnya sejak kemarin memang cantik luar biasa, tapi dua orang
ini juga tidak kalah hebat.
Kyoka yang
berlogat daerah punya tubuh tinggi dan bentuk tubuh yang sangat ideal. Begitu
juga dengan Rion yang merupakan kecantikan tipe klasik Jepang dengan rambut
hitam lurus berponi, kualitasnya tidak kalah saing.
Ryuto tanpa sadar
mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan, jangan-jangan dia masuk ke dunia film
dewasa. Untungnya tidak ada kamera. Syukurlah, dia selamat dari debut sebagai
aktor film biru. Dia tidak mau menanggung malu lebih banyak lagi di dunia ini.
"Tunggu dulu
deh. Kenapa kalian bilang mau ganti baju tapi malah muncul pakai baju tidur
begitu?"
Haruka rasanya
ingin berteriak. Entah kenapa Kyoka dan Rion muncul hanya dengan memakai baby
doll hitam transparan dan kamisol merah muda. Ini hampir seperti pakaian
wanita penghibur.
Ryuto teringat
film dewasa yang dia tonton sejak masih di bawah umur, dan sesaat berpikir, apa
ini pakaian formal standar wanita saat menjamu tamu? Namun karena Haruka
berpakaian normal, dia masih bisa mempertahankan akal sehatnya di dunia nyata.
"Ryuto-san,
mau kubuatkan minuman? Ah, yang agak encer saja ya?"
"Ah,
Ryuto-san. Aku juga boleh minta minum?"
"Hentikan!"
"Jangan kaku
begitu dong, Haruka. Ah, Ryuto-san, kalau mau 'tegang' di sini juga aku tidak
keberatan kok ♡."
"Aku
juga suka yang tegang. Tegang
apa, itu rahasia ♡."
"Bodoh!"
—Tapi ya,
punyanya besar juga ya, anak ini.
Pandangan Ryuto
terpaku pada dada Kyoka.
Haruka dan Rion
bukannya kecil.
Mereka termasuk
kategori dada besar, tapi punya Kyoka ukurannya benar-benar di luar nalar.
"Maaf ya
Ryuto-san. Mereka berdua ini sepertinya salah paham. Kalau merasa terganggu,
mungkin lain kali saja—"
"Tunggu
dulu! Kalau pulang sekarang, itu namanya menggantung perasaanku! Maafkan
kami!"
"Ryuto-san
tidak perlu dengarkan Haruka. Kalau perlu, biar kami saja yang menjamunya,
Haruka silakan cari kesibukan di taman sampai besok pagi."
"Ini
kan rumahku!?"
"Enggak
boleh pulang!"
"Jangan
pulang, dong!"
Kyoka dan
Rion menggunakan tubuh mereka untuk menahan Ryuto agar tidak pergi.
Ryuto
merasa akal sehatnya akan hancur karena dipeluk dari kiri dan kanan oleh dua
gadis cantik berpakaian minim.
"Mm,
mm, yah... karena sudah telanjur datang, sepertinya aku akan ikut bertamu
sebentar. Ahahaha. Tentu saja, selama tidak merepotkan."
"Duh!
Ampun, deh! Kamu benar-benar ganteng banget! Jangan cuma sebentar,
Ryuto-san harus menginap sampai pagi, ya? Nanti aku yang temani semalaman."
"Ryuto-san,
si bodoh ini biarkan saja pulang, jangan dipedulikan. Lebih baik
bersenang-senanglah di sini."
"A-ah,
iya."
Pesta minum yang
penuh gejolak pun dimulai.
"Jadiii,
Ryuto-san sekarang kerjanya apa?"
"Eh?
Aku sedang minum alkohol, kan?"
Ryuto
menjawab sambil meneguk habis minuman encer yang dituangkan Kyoka.
"Uwah! Kamu
seru juga ya. Ryuto-san,
aku senang banget kamu mau ikut bercanda."
Kyoka
tertawa lebar sambil menyentuh bahu Ryuto dengan santai. Keakraban yang tidak
terasa seperti baru pertama kali bertemu itu tercipta berkat aura unik yang
dimiliki Kyoka.
Ryuto
berpura-pura bingung, padahal matanya terpaku pada belahan dada Kyoka. Rasanya seolah dia akan tersedot masuk ke
sana. Bukan, dia pasti akan tertelan.
Menyadari tatapan
Rion, Ryuto buru-buru membuang muka ke arah lain. Semoga tidak ketahuan. Aku
harus bersikap senatural mungkin.
Biasanya, seorang
perjaka tidak akan sadar kalau lirikan mesumnya sebenarnya sudah ketahuan.
"Ryuto-san.
Anak ini membosankan dari ujung rambut sampai kaki, jadi abaikan saja."
"Apa
katamu!"
"Anu, namamu
Rion-san, kan?"
"Jangan kaku
begitu. Panggil Rion saja. Aku tujuh belas tahun, Ryuto-san seumuran?"
Rion
mendekatkan wajahnya sambil tersenyum manis. Ryuto merasa pening karena aroma
parfum yang lembut, tapi dia berusaha tetap tenang.
Dada Rion
juga ternyata cukup besar. Tanpa perlu membungkuk pun, pakaian dalamnya tampak
terisi penuh hingga membentuk belahan yang dalam.
—Gawat! Aku bisa
tersedot ke sisi ini juga!
Ukurannya pas
sekali. Secara realistis, sepertinya bisa dijepit. Sebenarnya, sejak masuk ke
ruangan ini, sembilan puluh sembilan persen konsentrasi Ryuto hanya terpusat
untuk melihat dada mereka.
"Ih,
Ryuto-san, dari tadi cuma lihat dadaku saja. Mesum, deh."
"Eh, a-ah, eh?"
Ryuto kehilangan
arah pandang dan menatap Haruka seolah meminta bantuan. Haruka hanya membalas
dengan senyuman cerah.
Ketiga gadis itu
melemparkan kasih sayang mereka dengan kekuatan penuh ke arah Ryuto. Seumur
hidupnya, dia tidak pernah sepopuler ini. Mungkin, ini tidak akan terjadi lagi
di masa depan.
—Berarti, ini
adalah puncak kejayaan dalam hidupku.
"Jangan
bercanda. Dasar tidak senonoh. Mana mungkin Ryuto-san sudi melihat dada ampasmu itu."
Rion menarik
Ryuto mendekat seolah ingin melindunginya dari Kyoka. Ryuto merasakan langsung
gundukan kembar di lengannya. Kesadarannya hampir saja melayang ke awang-awang.
"Hah? Bilang
saja kamu sirik! Ukuranku ini H, tahu! Rion cuma E, kan!"
"E itu artinya Eros. Bisa diremas, dijepit,
diisap—serbaguna."
"Siapa
yang lebih tidak sopan sekarang!?"
—Dua
wanita cantik memperebutkan diriku. Rasanya seperti di dunia lain.
Ryuto
merenung sejenak sambil menggoyangkan gelasnya hingga es di dalamnya
berdenting.
"Hei,
Ryuto-saaan. Apakah Ryuto-san lebih tua dariku?"
Rion mengeluarkan
suara manja yang sedikit sengau. Ryuto belum pernah mendengar suara wanita
semacam itu. Dia merenung, bahkan Rinka yang dia pikir memiliki kemajuan paling
pesat dengannya pun tidak pernah bermanja-manja seperti ini saat berduaan.
"Hmm, soal
umur ya. Umurku... agak sulit dijelaskan, ya. Bagaimana bilangnya..."
"Ah, dua
puluh! Ryuto-san itu dua puluh tahun. Dia sedikit lebih tua dari kita! Iya,
kan?"
Haruka yang
merasa kasihan mencoba menolong.
—Dia melindungiku
agar suasana tidak mendingin jika aku menyebutkan umur asliku?
Benar-benar gadis
yang baik. Kyoka dan Rion menatap Ryuto dengan mata berbinar seolah ingin
melubangi wajahnya. Ryuto pun berbisik pelan pada Haruka.
"Terima
kasih ya, Haruka."
"He-hei,
tidak boleh bisik-bisik, lho. Daripada itu, aku ingin tahu lebiih, leeeebih
detail tentang Ryuto-san. Boleh aku tanya-tanya?"
"Ah, boleh
saja."
"Ryuto-san.
Kyoka pasti cuma mau tanya soal hal mesum, jadi jangan diladeni."
"Dasar
boneka kayu berhati busuk. Aku juga bisa menyediakan topik obrolan yang sesuai
dengan suasana, tahu. Acara kencan seperti ini biasanya kan tanya soal hobi.
Apa hobi Ryuto-san?"
—Hobiku adalah mengagumi dada wanita.
Tentu saja dia
tidak bisa mengatakannya.
"Eh!
Tiba-tiba aku? Hmm, begini ya. Dulu, sebagian besar hidupku habis untuk
eksplorasi. Hobiku... aku bahkan tidak sempat ikut kegiatan klub. Kalau bicara
soal hobi, mungkin menonton film. Ahahaha."
Tentu saja,
maksudnya menonton video porno. Dulu, setiap hari libur, Ryuto selalu mengajak
sahabat setianya, Shogen, berkeliling mencari DVD porno ke berbagai tempat.
"Wah, kalau begitu—"
"Ryuto-san. Pas sekali. Sebenarnya aku juga suka sekali film. Bisa dibilang aku ini maniak."
Mata Rion
berbinar-binar saat dia meraih tangan Ryuto dan menggenggamnya dengan kedua
tangan. Sambil menariknya perlahan, dia menempelkan tangan itu ke dadanya.
Ryuto
hampir berteriak kegirangan merasakan keempukan yang pas itu, tapi dia berhasil
menahannya.
"Dia ini spesialis film horor cabul, lho."
"Rion memang
suka sekali film, ya. Ah, aku juga lumayan sering menonton berbagai
genre."
"Zaman
sekarang sudah banyak layanan streaming, sih. Aku juga sering menonton
film, kok."
"Kyoka cuma
menonton opera sabun luar negeri yang sampah."
Rion mendengus
menghina.
"Hah, dasar cewek sok paling nyeni. Kamu sendiri cuma
nonton film splatter atau slasher aneh. Ryuto-san, belakangan ini
Rion kerjanya cuma nonton horor cabul gila yang isinya badut pembunuh
berdarah-darah. Aku tidak sanggup ikut nonton."
"Kenapa Kyoka benci Art the Clown? Terrifier itu
mahakarya. Dia adalah sosok badut pembunuh paling sempurna di era Reiwa. Orang
yang tidak paham mending nonton horor Jepang yang lembek saja."
"A-ahahaha.
Begitu ya. Nanti kalau ada kesempatan aku coba tonton."
"Ah, kalau
begitu, mau tidak nonton film denganku berdua saja? Bukan yang menjijikkan
seperti kata Rion, tapi yang bikin jantung berdebar!"
"O-oh."
"Ah, curang
kamu, Kyoka. Aku juga mau pergi jalan-jalan dengan Ryuto-san."
"Tunggu.
Yang pertama kali mengangkat topik film adalah aku, Rion. Jadi, siapapun bisa
melihat kalau hak prioritas untuk pergi berdua dengan Ryuto-san ada
padaku."
"Hah!
Ryuto-san sudah janji denganku, tahu! Iya, kan? Ryuto-san... mau kan
ja-ja-jalan denganku...?"
"Ah, kalau
pasangannya secantik ini, aku selalu menyambutnya dengan senang hati."
"—Kyuuu."
"Ah,
Kyoka-chan pingsan!"
Kyoka tiba-tiba
jatuh telentang hingga kepalanya membentur tempat tidur. Jika dilihat
baik-baik, sepertinya dia mabuk karena minum terlalu cepat. Ryuto menggendong
Kyoka dan membaringkannya di tempat tidur Haruka. Haruka dan Rion hampir tidak
bereaksi, sepertinya ini sudah jadi hal biasa.
"A-apakah dia tidak apa-apa?"
"Ah, tenang saja. Dia bakal bangun dengan segar sebentar lagi."
Rion
membuatkan segelas soju encer dan menyodorkannya pada Ryuto.
Saat diminum,
rasanya cukup keras. Mata besar Rion tampak sayu dan lembap karena alkohol.
Ryuto mulai merasa gelisah. Tentu saja, termasuk bagian selangkangannya.
"Ngobrol
memang seru, tapi Ryuto-san makanlah yang banyak. Aku dapat jatah daging ayam
yang enak, lho. Ayo, ayo, aku ambilkan."
"Wah, memang
musim seperti ini paling pas makan sukiyaki, ya. Sudah lama aku tidak makan
bareng orang lain seperti ini."
"Ryuto-san,
pakai saus ponzu ini. Aku membuatnya sendiri."
"Oh, terima
kasih. Hafu-hafu... enak banget."
"Ah, aku
senang kamu menyukainya."
"Tapi,
rambut Ryuto-san panjang sekali, ya. Halus banget."
Kyoka yang entah
kapan sudah sadar kembali, memeluk punggung Ryuto dan mengelus rambutnya.
Karena Ryuto
tidak memotong rambut selama dua puluh tahun, rambutnya memang tumbuh luar
biasa panjang. Rion tidak mau kalah, dia memeluk pinggang Ryuto dan menempelkan
wajahnya ke rambut pria itu.
"Ufufu.
Panjaaaang."
"Di sebelah
sini juga?"
"Hei, Kyoka!
Jangan nakal. Ryuto-san, abaikan saja mereka. Sebentar lagi mereka juga bakal tidur.
Sebenarnya mereka tidak kuat minum alkohol."
"Funyaa."
Kyoka
kembali tergeletak dan memejamkan mata sambil mendengkur halus. Karena
bersandar di tempat tidur, dadanya yang besar tampak tertarik gravitasi ke kiri
dan ke kanan.
—Dada
yang seperti di komik saja.
Rion
sepertinya juga sudah mulai mabuk, dia mulai mengantuk di samping Ryuto. Melihatnya memejamkan mata sambil
menyandarkan kepala di bahu Ryuto terasa sangat manis.
"Ah, Rion juga sudah tidur. Sepertinya untuk hari ini sudah selesai, ya?"
"……Tidak
juga. Ryuto-san, aku punya permintaan."
Rion
berkata dengan mata yang terlihat sangat serius.
"Apa
itu?"
"Tanding
denganku. Kalau aku menang, anu, e-e-e-emmm, aku mau kamu pergi nonton film
denganku."
Dia
menyodorkan gelasnya. Sepertinya tantangan minum. Ryuto melonggarkan dasinya
lalu berkata.
"Tidak perlu
sampai begitu. Kalau minum dipaksakan, nanti malah tidak seru. Nonton film atau
apa pun akan kutemani. Lagipula sekarang aku sedang pengangguran."
"Benarkah!?
Ah, tapi kalau lapor ke pemerintah, sepertinya pria tidak akan kesulitan
uang."
"Sepertinya
begitu. Tapi aku bukan hewan peliharaan. Aku ingin berkontribusi dengan sesuatu
yang bisa kulakukan. Tapi karena aku terus-terusan berada di dungeon...
entah ada pekerjaan yang cocok untukku atau tidak."
"——Meski
begitu, Ryuto-san. Kalau kesulitan, bicaralah pada kami. Aku, Kyoka, dan Rion
selalu ada di pihakmu."
"Malah kalau
perlu, aku yang akan menafkahimu."
"Ahaha, Rion
ada-ada saja. Kamu
kan baru bertemu Ryuto-san. Tidak perlu berlebihan begitu."
"Ini
tidak berlebihan. Pertemuanku
dengan Ryuto-san adalah tuntunan bintang. Artinya, kita adalah belahan jiwa.
Soalnya... soalnya, baru pertama kali ini seumur hidupku aku diperlakukan
selembut ini oleh laki-laki."
"Pakai
'soalnya' segala. Ah, Rion juga sudah tidur."
"Zzz..."
"Tidur
nyenyak sekali."
"Yah, dia
sudah minum dan makan cukup banyak, sih. Maaf ya Haruka, sudah membuatmu repot
jadi tuan rumah. Kita jadi tidak bisa banyak mengobrol, kan?"
"Kalau
begitu, Ryuto-san. Sebagai gantinya, maukah menemaniku minum segelas
saja?"
"Di taman,
ya. Di sini memang tenang."
"Kalau
begitu, sekali lagi. Bersulang!"
"Oke."
"Sebenarnya
hari ini, kalau bertemu Ryuto-san, ada banyak hal yang ingin kubicarakan."
"Haha, tapi
kita malah dikacaukan oleh mereka berdua, ya."
"Bagaimana
menurutmu? Biasanya mereka berdua lebih tenang, tapi sepertinya mereka
kegirangan melihat Ryuto-san."
"Haha. Aku
tidak menyangka bakal ada hari di mana aku dipuji oleh gadis imut seperti
kalian. Bagi diriku yang dulu, ini hal yang mustahil."
"Benarkah?
Ryuto-san kan keren, pasti populer di mana-mana, kan?"
"Mana ada.
Haruka, Kyoka, dan Rion itu cantik sekali. Waktu SMP atau SMA dulu pun, tidak
ada gadis secantik kalian. Yah, kakakku memang sangat populer, sih."
"Kalau
begitu Ryuto-san juga pasti begitu!"
"Aku ini
mirip ayahku, bukan ibuku. Lihat, wajahku kan biasa saja kalau dibanding
kakakku."
"Tidak juga.
Wajahmu tegas dan matamu indah, a-aku... suka wajahmu."
"Ahahaha,
meski bercanda, terima kasih ya. Tapi dulu di SMA atau SMP, banyak orang yang
wajahnya lebih populer dariku. Tapi menjelang akhir, kebanyakan sudah mati
karena perang atau eksplorasi. Shogen dan Yorimitsu memang gigih jadi bisa
selamat, tapi teman sekelasku yang lain sepertinya sudah meninggal semua."
"Zaman
yang berat, ya. Sulit dibayangkan sekarang."
"Habisnya,
monster terlalu banyak. Kalau dibiarkan, mereka bakal muncul dari mana-mana,
dan di darat tentara terus berperang. Kami jadi terlalu terbiasa dengan
kematian. Lebih sering daripada kecelakaan lalu lintas, berita kematian ratusan
orang mengalir setiap hari di berita. Sambil sarapan, kami cuma bilang, 'Wah,
korban di Jakarta hari ini tiga digit ya', begitulah."
"Keras
sekali, ya."
"Waktu aku
SMP, aku pertama kali menerima berkah di Kuil Besar. Pekerjaanku ternyata
penyihir. Tentu saja aku jadi gila. Generasiku tumbuh besar dengan game dan
komik. Aku pikir aku akan menyelamatkan dunia dengan sihirku! Semangatku waktu
itu meluap-luap. Orang dewasa pun terus menghasut anak-anak. Anak-anak yang
tidak tahu apa-apa tentang dunia dengan senang hati turun ke bawah tanah untuk
membunuhi monster. Tapi
orang tua mereka pasti sangat menderita.
Pemerintah
dan publik mengangkat anak-anak pemilik skill sebagai pahlawan.
Kelelahan militer juga luar biasa. Laki-laki muda berumur enam belas tahun
terus dikirim jadi tentara dan mati di medan perang.
Bagiku
itu biasa, tapi bagi paman dan bibi yang hidup di era damai, itu pasti sulit
diterima. Ngomong-ngomong,
benarkah sekarang laki-laki sesedikit itu?"
"Iya. Itu
sudah pasti. Aku juga... meski bukan teman seumuran, ini pertama kalinya aku
bisa sedekat ini dengan pria muda. Mungkin kalau hidup normal, kebanyakan
generasi muda akan mengakhiri hidup tanpa pernah melihat pria secara langsung.
Aku pernah melihatnya di video, tapi berinteraksi seperti ini... mungkin ini
akan jadi yang pertama dan terakhir dalam hidupku."
"Wah."
"Ryuto-san,
boleh aku pindah ke sebelahmu?"
"Ah, boleh
saja."
"Hangat."
"……Iya,
ya."
"Ternyata
laki-laki sehangat ini, ya. Seperti matahari. Hanya dengan bersentuhan begini, dadaku jadi
berdebar. Kamu bisa
merasakannya?"
"A-ah, iya.
Haruka ternyata dadanya besar, ya."
"Ryuto-san.
Kalau kamu bicara begitu, aku jadi berharap lebih, lho?"
"Uwoh,
serius? Dulu kalau bicara begini ke wanita, jangankan diputusin seketika,
mungkin aku sudah dituntut."
"Kusu.
Orang-orang itu pasti tidak paham kebaikan Ryuto-san. Aku selalu berterima
kasih pada Ryuto-san setiap hari, tahu? Meski bukan cuma itu alasannya."
"Hei,
bukannya tadi ada yang mau dibicarakan?"
"Ah, iya
benar. Aku ini petualang peringkat E. Sebenarnya ini peringkat yang biasa saja.
Kenyataannya, gaji bulanan peringkat E tidak jauh beda dengan bekerja di
minimarket dengan libur dua hari seminggu. Tapi, aku ingin mengejar peringkat D
bulan ini. Jadi, kalau aku berhasil naik ke peringkat D bulan ini... maukah
kamu membentuk party dengan kami?"
"Boleh."
"Eh? Semudah
itu?"
"Entahlah.
Hmm, boleh beri aku waktu sedikit untuk memikirkannya? Sejujurnya aku juga
belum terlalu memikirkan bagaimana cara hidup ke depannya. Ah, tapi terlepas
dari itu, minggu depan ayo kita nonton film bareng anggota hari ini. Ini janji,
ya."
"Iya."
"Kalau
begitu, ayo janji kelingking."
"Ufu.
Ryuto-san ternyata imut, ya. Aku jadi makin suka!"
"……Hah.
Dasar kucing kecil yang merepotkan."
"Ah, lalu,
bisakah kamu menghadap ke sana sebentar?"
"Ada apa?
Apa badut pembunuh muncul di taman yang tenang ini?"
Cup.
Haruka mengecup pipi Ryuto dengan lembut.
"U…… Uwooooooh!"
"Kyaa!"
Ryuto melolong ke arah bulan.
"Duh, kenapa dia sudah tidak ada, sih?"
"Anu,
maksudmu Ryuto-san? Dia langsung pulang setelah itu. Hmm, kalau tidak salah
bersama pengawal pria bernama Yamanami-san. Ah, orangnya cantik banget
lho! Cantiknya selevel sama Kyoka!"
"Bodoh. Harusnya dalam situasi begini, meski cuma
basa-basi kamu bilang, 'Masih cantikan Kyoka-san, dong!'. Begitu tahu. Jadi
Ryuto-san sudah dilahap habis sama si Yamanami itu, ya. Uuu."
"A-ah, kurasa tidak begitu, kok. Ahaha. Kyoka kan
cantik, jadi percaya diri sedikit, dong. ——Eh, kamu beneran nangis?"
"U-uuuuugh."
"Pagi-pagi sudah berisik."
"Duh,
apa-apaan sih kalian!"
"Berisik.
Aku kurang tidur dan kebanyakan minum, kondisi kulitku jadi buruk tahu."
"Aah,
aku benci anak ini. Hei Haruka, dadaku beneran sesak. Tiap kali memikirkan Ryuto-san, di sini... di sini
rasanya nyut-nyutan."
"Gejala
serangan jantung?"
"Bukan!
Cinta! Ini yang namanya cinta sejati!"
"Cuma nafsu,
kan."
"Rion,
jangan bicara blak-blakan begitu, dong."
"Atau
aritmia. Jaga kesehatanmu sana."
"Berisik
banget sih kamu. Aah, kenapa kemarin aku tidak bisa memanfaatkan kesempatan
emas itu dengan sempurna, sih. Bodoh, bodoh. Aku ini memang gadis bodoh."
"Kalau itu
sih kami sudah tahu."
"Sudahlah,
kalian berdua berhenti bertengkar tidak berguna begitu. Lagipula, kalian
minumnya terlalu cepat sih. Padahal aku ingin kita mengobrol soal eksplorasi
bareng Ryuto-san juga."
"Eksplorasi?"
"Apa itu?
Enak tidak?"
"Anu, kalian
berdua. Tolong jangan lupa kalau pekerjaan utama kita ini petualang, ya."
"Uu, tidak
bisa. Aku sudah kangen berat sama Ryuto-san. Haruka, kamu tahu kan rumah
Ryuto-san di mana. Kasih tahu, dong."
"Eh, eh, eh.
Ini masih jam lima pagi, tahu. Itu namanya sangat mengganggu orang lain."
"Berisik
ah. Aku mau cepat-cepat ketemu Ryuto-san, terus mau 'nge-gas'... maksudku mau
ciuman yang banyak."
"Eh,
barusan kamu baru saja ngomong sesuatu yang sangat berbahaya, kan? Kamu mau
bilang 'nge-we' (nge-ewe), kan? Kenapa malah dipaksa ganti jadi kata yang
kedengarannya imut begitu?"
"Benar,
Haruka. Anak ini terlalu berbahaya, jadi jangan bocorkan informasi pribadi
Ryuto-san. Paling ringan dia bakal jadi penguntit, paling parah dia bakal
menculik dan menyekapnya, atau yang terburuk dia bakal memutilasi Ryuto-san dan
menenggelamkan bagian tubuhnya ke lima danau di kaki Gunung Fuji."
"Rion, kamu
kebanyakan nonton horor sadis, sih. Aku cuma mau ketemu Ryuto-san. Haruka pasti
mengerti perasaanku, kan?"
"Tapi aku
menolak."
"Kenapaaa!"
"Ya iyalah,
mana mungkin kukasih tahu sembarangan."
"Dengar ya.
Lagipula, aku dan Ryuto-san itu pasangan yang sudah ditakdirkan. Kemarin itu
aku memperkenalkannya karena hubungan kami bakal panjang ke depannya. Lihat
kan, biasanya pacar itu diperkenalkan ke teman-teman, kan?"
"Eh,
perasaan kemarin situasinya sama sekali tidak terasa seperti itu, deh."
"Gawat,
Haruka ternyata tipe anak yang begini. Tipe yang kalau sudah berasumsi kuat
sekali."
"Apaan
sih—"
"Tidak,
Haruka harus sadar diri."
"Ah, benar juga! Ryuto-san setuju untuk bergabung ke
party kita dengan satu syarat!"
"Apa katamu!"
"Kerja bagus! ……Lalu, apa syaratnya?"
"Anu, syaratnya aku harus naik peringkat dari petualang
E menjadi petualang D dalam bulan ini."
Kyoka dan
Rion langsung berdiri dari tempatnya dan mulai berganti pakaian dalam diam.
Kyoka
memakai sport bra dan legging, sementara Rion tetap setia dengan
celana training SMP-nya yang kumal.
"Kalian berdua mau apa—"
"Jangan bengong saja! Cepat ganti baju! Waktunya lari pagi!"
"Tubuh
adalah modal utama petualang. Mulai sekarang kita akan lari untuk membakar
lemak dan membentuk tubuh demi bertarung."
"Biasanya
kalian tidak pernah latihan begitu, kan? Kyoka, bukannya dulu kamu bilang
pertarungan sungguhan adalah latihan terbaik?"
"Jangan
bicara bodoh. Semangatku sedang membara sekarang. Haruka, aku akan melatihmu
habis-habisan mulai sekarang, dan akan menjadikanmu mesin tempur sempurna
sebelum pertemuan berikutnya dengan Ryuto-san!"
"Akan kubuat
kamu tidak bisa menangis atau tertawa lagi."
"Ta-takut,
ih. Tenang dulu, yuk?"
"Pertama,
lari empat puluh kilometer! Kita lari sampai Sungai Tama!"
"Eeeh!
Beneran?"
"Aku
serius."
"Serius."
Sejak
saat itu, Haruka akan menjalani perombakan fisik secara total melalui latihan
ekstrem dari kedua temannya tersebut.



Post a Comment