Penerjemah: Flykitty
Proffreader: Flykitty
Chapter 1
Hari Keempat
Hal pertama yang kusadari saat terbangun adalah aroma seperti lemon.
Kemudian, sensasi sesuatu yang lembut menyentuh bibirku.
"Ciu… mmm… lero… fuh, nchuu…"
Shion sedang menindihku, melahap bibirku. Semua kancing seragamnya telah terlepas, dan setelah pakaian dalamnya disingkirkan, dadanya yang penuh terekspos, bergesekan dengan dadaku yang telanjang.
Sensasi itu terasa menggelitik, hangat, dan nyaman. Saat mata kami bertemu dari jarak sangat dekat, dia tersenyum dengan ekspresi menggoda.
Tanpa menjauh, dia pun melibatkan lidahnya, dan aku membalasnya sambil melingkarkan tangan di pinggangnya.
Bunyi kecupan tiap kali kami berciuman, napas panas, bibir yang kenyal, dan lembutnya dua bukit yang menekan dadaku.
Kulitnya yang halus seperti sutra. Suhu tubuhnya, matanya yang sayu. Bahkan ujung hidung kami yang sesekali bersentuhan—semuanya.
Segala hal tentang dirinya yang kurasakan terus membangkitkan gairahku sejak bangun tidur.
Ciuman kami makin lama makin intens, kami saling menggerakkan tubuh untuk semakin merapatkan diri.
Tindakan saling menginginkan satu sama lain itu berlangsung cukup lama, sampai—
Brak!
Suara keras membuat kami berdua membeku. Sepertinya seseorang keluar dari sebuah kamar ke lorong.
Terdengar keributan langkah kaki sebentar, tapi orang itu tidak datang ke kamarku.
"A-apa itu?"
"Hehe, aku juga nggak tahu… selamat pagi, Sousuke-kun."
"Ah, selamat pagi."
Dengan ekspresi enggan berpisah, Shion menempelkan bibirnya sekali lagi sambil berkata "chu", lalu bangkit.
"Bangun pagi dan orang yang kita cintai ada di sebelah kita… rasanya menyenangkan, ya."
Dengan wajah memerah dan senyum malu-malu seperti itu, jantungku langsung berdebar.
"Sejujurnya, ini juga jadi bangun pagi terbaik buatku."
"Ahaha. Kalau begitu, boleh kita lanjut lagi?"
"Tentu saja. Malah kumohon."
"Permintaan diterima."
Jantungku kembali berdegup melihat Shion menjawab dengan gembira, lalu aku turun dari tempat tidur dan membuka jendela.
Angin sejuk masuk bersama cahaya matahari pagi. Kamarku berada di sebelah kamar Shouko, jadi dari jendela ini juga terlihat kandang Fenrir.
Serigala raksasa legendaris berbulu putih bersih. Jantan, bernama Mashiro… seharusnya begitu.
"Hm… Mashiro nggak ada ya."
"Lagi jalan-jalan…? Atau patroli, mungkin?"
"Entahlah…"
"Eh, Sousuke-kun. Boleh sebentar?"
Shion yang duduk di tepi tempat tidur memanggilku. Gerakannya menyelimuti tubuhnya dengan selimut terlihat anehnya menggoda.
"Tentu. Ada apa?"
Masalah Mashiro memang sedikit menggangguku, tapi kemampuan tempurnya asli, jadi tak perlu terlalu khawatir.
"Ini soal mimpi."
Ekspresinya serius, membuatku ikut menyimak dengan sungguh-sungguh.
"Soal event itu, kan?"
"Iya. Kita juga ikut menantangnya, ya?"
"Aku berniat membahasnya nanti dengan yang lain, tapi aku memang ingin ikut. Dari yang kudengar, ‘hak kembali’ itu lebih baik diamankan."
Aku tak ingin memikirkannya, tapi belum tentu ada ‘hak kembali’ untuk seluruh kelas.
"Aku setuju. Tapi… aku punya permintaan."
"Permintaan?"
Shion merapatkan kedua tangannya seperti sedang berdoa.
"Aku… aku benar-benar nggak mau melupakan semua yang terjadi di sini. Jadi, sampai aku bisa membawa pulang ‘ingatan’ ini, aku ingin kamu menunda pulang."
Oh, cuma itu. Keseriusannya tersampaikan, tapi syukurlah bukan masalah berat. Aku tersenyum seolah tak masalah.
"Ya jelas. Bukankah kita sudah pernah membicarakannya?"
Shouko ingin membawa Mashiro pulang, dan yang lain juga pasti ingin membawa pulang kemampuan dan ingatan mereka.
"Memang sih… tapi berteman dengan semua orang, dan bertemu seseorang yang benar-benar bisa kupercaya seperti Sousuke-kun… aku nggak mau melupakannya. Perasaan itu makin lama makin kuat."
Melihat wajahnya yang cemas, aku sadar betapa takutnya dia kehilangan ingatan. Aku duduk di sampingnya.
"Aku juga nggak mau melupakan kedekatanku dengan Shion. Kita belum tahu syaratnya, tapi ayo kita bekerja sama dan pasti menyelesaikannya. Dengan semua ingatan utuh, dan siapa pun yang mau, membawa pulang kemampuan juga, lalu kita kembali ke Jepang."
Dengan mata berkaca-kaca, Shion menatapku lalu tersenyum bahagia.
"Iya. Pasti."
Lalu dia memelukku. Aku membalas pelukannya dengan lembut—tapi ini gawat.
Baru kuingat, Shion sekarang tidak memakai bra. Selimut yang melilitnya sudah jatuh, dan sensasi lembut di dadaku, aroma tubuhnya, serta kenangan kemarin membuat darah terkumpul di bawah sana.
Dia sudah membuka hati dengan serius… tenanglah, tenang…!
Percuma berharap—ditambah kondisi baru bangun tidur, aku ingin menutup wajahku sendiri. Dan sayangnya, Shion menyadarinya.
"Hehe, padahal kemarin keluar banyak sekali, tapi sekarang sudah besar lagi."
"M-maaf. Di tengah pembicaraan penting begini."
"Kenapa minta maaf? Pembicaraan sudah selesai… dan reaksimu itu jujur bikin aku senang."
Cahaya menggoda muncul di matanya, dan tangannya mulai membelai pahaku perlahan.
"Aku harus masak buat sarapan… jadi cuma bisa sekali. Nggak apa-apa kan?"
"Kemarin kita sudah bikin semua orang repot… aku harus menahan diri—"
"Nggak apa-apa, sekali saja. Kalau masih kurang, panggil aku lagi setelah sarapan, ya?"
Mengatakan itu, Shion kembali berbaring telentang di ranjang, membuka belahan dadanya dengan kedua tangan, seolah menyambutku.
Dua bukit putih kenyal itu membentuk celah yang menggoda.
"Cairan hangat yang kamu buat semalaman… aku mau kamu tuangkan banyak-banyak."
Tak mungkin aku menolak ajakan seperti itu. Aku langsung menindih Shion.
"Ah…"
◇
Setelahnya.
Agar tidak mengulangi kesalahan kemarin pagi, aku berhasil mengakhirinya hanya sekali. Tapi seperti katanya, sepertinya aku perlu meluangkan waktu lagi setelah sarapan.
"Shion, nggak apa-apa nggak mandi?"
Aku memang sempat mengelap tubuh dengan handuk dari inventori. Kemampuan ‘Craft’ yang memungkinkan penyimpanan dan penataan kapan saja memang praktis.
"Hmm. Kita sarapan dulu saja. Kalau minta Chiyu-chan memakai sihir ‘Pemurnian’, secara kebersihan harusnya aman. Lagipula, Sousuke-kun… kamu pasti masih belum puas, kan? Jadi nanti mandi bareng saja? Sampai benar-benar lega ya?"
"Ugh…"
Dia benar-benar tahu. Dan justru menerima keinginanku itu, membuat dadaku terasa hangat.
"Hehe. Ayo turun ke lantai satu."
"Ya," jawabku sambil berdiri, dan Shion dengan santai menggenggam tanganku.
"…Nggak boleh?"
"Boleh kok."
"Syukurlah. Aku dengar dari Minori-chan dan jadi pengen juga."
"Oh, begitu."
Kemarin aku pulang sambil bergandengan tangan dengan Minori. Kami pun turun ke lantai satu menuju ruang tamu.
"Aku dulu bertanya-tanya kenapa semua orang bergandengan tangan dengan pacarnya, tapi sekarang aku mengerti. Rasanya menyenangkan sekali, orang yang kita suka ada tepat di sebelah kita."
Shion tersenyum malu, memancarkan pesona gadis biasa yang berbeda dari sisi menggoda di atas ranjang, membuat wajahku ikut panas.
"O-oh begitu… eh, aku bisa bantu apa?"
Aku mengalihkan topik untuk menutupi rasa maluku. Shion menatapku seperti melihat hewan kecil yang lucu, lalu menggelengkan kepala.
"Nggak usah, serahkan padaku."
"Kalau begitu, aku titipkan. Oh ya, kita cari Chiyu dulu ya?"
"Hehe, iya."
Saat kami masuk ke ruang tamu, Minori sudah ada di sana lebih dulu.
Minori menyadari kehadiran kami, lalu membeku sesaat ketika melihat tangan kami yang saling terikat, sebelum akhirnya membuka mulut.
"Ah… selamat pagi, Sousuke-san, Shion-san."
"Selamat pagi, Minori-chan. Soalnya kelihatan menyenangkan, jadi aku menirunya."
Setelah berkata begitu, Shion melepaskan genggaman tangannya.
"Lagipula Sousuke-san bukan hanya milikku sendiri, jadi tidak perlu dipikirkan."
"Minori-chan juga bisa kok minta lagi kapan pun."
"E-eh, iya. Benar juga… tentu saja, kalau Sousuke-san tidak keberatan."
Melihat wajah Minori yang tampak benar-benar mempertimbangkan kemungkinan ditolak, aku tersenyum untuk menenangkannya.
"Mana mungkin keberatan."
"K-kalau begitu… sepertinya aku akan minta lagi nanti."
Minori menunduk, wajahnya memerah seperti apel.
"Ah, malah aku yang akan minta."
Kulihat di meja makan hanya ada Minori. Dia sedang meminum air dari gelas. Air itu kami buat dari kaca bersama teko air, lalu diletakkan agar siapa pun bisa meminumnya.
"Minori-chan sendirian ya?"
Shion menuangkan air dari teko ke gelasku, lalu mengisi gelasnya sendiri.
"Iya. Tadi aku memang mendengar suara-suara, tapi…"
"Aku juga dengar. Ngomong-ngomong, Mashiro juga tidak kelihatan. Apa dia pergi jalan-jalan dengan Shouko?"
"Fenrir juga perlu jalan-jalan ya? Tapi tetap saja, keberadaan Chiyu-san masih misterius."
Saat kami mengobrol begitu, dari luar terdengar suara, "Kukuruyuk!"
"…Dengan itu saja aku langsung paham."
.
"Iya, aku juga."
"Walau belum lama bergaul, kurasa aku juga sudah bisa membaca gerak-gerik Chiyu-san."
Kami saling memandang dan mengangguk bersamaan.
"Capek banget… Sousuke~, Chiyu manggil dari luar…"
Shouko masuk ke ruang tamu lalu menjatuhkan diri tengkurap di atas karpet.
"O-oh. Kurang lebih sudah bisa ditebak. Terima kasih atas kerjanya ya."
Setelah mengapresiasi Shouko, aku menuju pintu masuk, memakai sepatu, lalu keluar.
Aku disambut sinar matahari pagi dan sahabat masa kecilku. Di belakangnya, Mashiro berjalan lewat sambil menguap.
"Pagi, Sou-kun. Buatin kandang ayam dong."
"Sudah kuduga."
Di luar ada dua keranjang anyaman dari sulur tanaman, dan terdengar suara dari dalamnya. Sepertinya dia membawa keluar barang-barang dari gudang.
"Lengkap nih, ada lima ekor. Katanya ayam bertelur satu butir sehari."
Kelihatannya dia keluar sejak pagi hanya demi membuatkan hidangan telur untukku.
"Terima kasih, Chiyu."
"Kamu boleh jatuh cinta lagi sama kasih sayang sahabat masa kecilmu, lho."
Aku mengangguk jujur, dan Chiyu tersenyum tipis dengan wajah sedikit malu.
"…Hehe."
Aku berjalan sedikit, lalu membuat kandang ayam. Aku membayangkan kandang anjing yang agak besar, tapi atapnya ditopang tiang, bukan papan. Dalam bayanganku, kandang ayam memang seperti berjaring.
Untuk jaringnya, aku memakai serat yang dibuat dari sulur tanaman, lalu langsung menempatkan kandang itu.
"Ooh. Keren, Sou-kun."
Chiyu membawa satu keranjang, aku membawa yang satunya, lalu kami memasukkan ayam-ayam itu ke dalam kandang.
Di tengah jalan satu ekor sempat kabur, jadi kami mengejarnya, tapi akhirnya berhasil memasukkan kelimanya.
"Ayam kira-kira makan apa ya?"
"Biji-bijian…? Serangga?"
"Kita nggak punya… nanti tanya Minori saja deh. Untuk sementara, telurnya besok aja ya."
"Sou-kun."
Saat aku menoleh ke arah Chiyu, di telapak tangannya ada—sebutir telur.
"Kuketemukan di dekat tempat ayam-ayam itu. Ada untuk semua orang."
Sisanya tampaknya disimpan di saku seragamnya.
"Semangat sekali kamu, ya."
"Perut Sou-kun itu milikku."
"Perutku milikku sendiri."
Aku tersenyum kecut sambil kembali masuk ke rumah bersama sahabat masa kecilku.
"Aku menantikannya, Chiyu."
"Siap-siap pipimu copot karena enaknya."
Chiyu menggunakan ‘Pemurnian’ pada dirinya sendiri, lalu bergabung dengan Shion dan menuju dapur.
Sebelum masuk dapur, Shion sempat berkata, "Aku juga boleh minta, kan?" lalu meminta Chiyu memurnikannya. Sebagai penyebab utama kekotoran itu, aku merasa sedikit bersalah.
Tak lama kemudian, waktu sarapan tiba.
Sarapan hari ini terdiri dari segelas susu domba, daging iga babi hutan yang dipanggang renyah ala bacon, sup jamur, salad tanaman liar, dan—telur mata sapi.
"Zuun…"
Chiyu terlihat murung.
Kalau membuat telur dadar dengan satu telur per orang, porsinya jadi terlalu sedikit. Menyadari itu di dapur, Chiyu terpaksa mengurungkan niat membuat telur dadar dan memilih telur mata sapi. Katanya, tampilan masakan juga penting, jadi dia tak bisa berkompromi.
"Ahaha… sebenarnya aku bilang porsi punyaku boleh dipakai untuk Sousuke-kun."
"Itu tidak boleh. Kalau pembagian makanan jadi tidak seimbang, bisa menimbulkan ketidakrukunan."
Kami memang tidak kekurangan makanan, dan boleh menambah porsi, tapi aku paham maksudnya soal jumlah yang disajikan sejak awal.
"Telur mata sapi juga enak kok. Masakan Chiyu memang bikin tenang."
Hari ini aku memakannya dengan garam, tapi yang pakai kecap juga kusukai.
"Hmm. Sejak kecil aku yang masakin, jadi lidah Sou-kun sudah terlatih oleh masakanku."
Chiyu yang langsung kembali bersemangat berkata begitu. Mengingat dia mulai membantu masak sejak masih TK, berarti aku sudah lebih dari sepuluh tahun makan masakan Chiyu.
Keluarga kami memang dekat, jadi sering saling makan malam di rumah masing-masing.
"H-hehe. Mulai sekarang, kamu juga bakal sering makan masakanku, jadi nanti cepat jadi ‘rasa yang menenangkan’ juga," kata Shion sambil tersenyum.
"Kalau soal telur, aku yang akan turun tangan, jadi jaraknya tidak akan menyempit."
Keduanya saling memercikkan api, tapi suasananya sama sekali tidak tegang, jadi aku memutuskan tidak ikut campur.
"Susu dombanya kental ya…!"
"Iya. Rasanya pekat. Nggak bisa minum banyak-banyak, tapi enak."
Shouko dan Minori juga menikmati makanannya tanpa reaksi berlebihan.
"Yang ala bacon ini juga enak."
Kalau ada waktu, mungkin aku bisa mencoba membuat bacon sungguhan. Nanti akan kutanyakan secara halus ke Minori—dia penanggung jawab pengetahuan di kelompok kami.
Bagaimanapun, sarapan pagi ini sangat memuaskan. Dibandingkan hari pertama yang cuma jamur bakar pakai garam, makanan sekarang jelas jauh lebih memuaskan.
Setelah makan, kami menggosok gigi lalu bersiap membahas soal event.
Untuk gosok gigi, kami membuat "kayu gigi" dari ranting atau akar yang diurai, karena resep itu sudah terbuka. Untuk pasta gigi, kalsium karbonat dari cangkang bisa dipakai sebagai bahan penggosok, jadi kami membuat versi sederhana. Soal busa dan aroma, rencananya akan disesuaikan nanti kalau bahan bertambah.
Sebenarnya kebersihan bisa diatasi dengan ‘Pemurnian’ milik Chiyu, tapi kami ingin sebisa mungkin mandi dan gosok gigi sendiri.
Setelah selesai, kami kembali ke ruang tamu dan duduk di meja.
"Untuk sementara, aku ingin menyamakan pendapat. Kalian semua berniat ikut, kan?"
"Mm."
"Tentu."
"Iya."
"Ya."
Keempatnya mengangguk.
"Syukurlah. Aku juga. Aku tidak mengira ada yang akan bertindak sendiri, dan kalau pun itu terjadi, aku tidak keberatan. Kalau ada satu anggota yang bisa pulang, itu tetap hal yang baik."
"Kami tidak mungkin pulang meninggalkanmu, Sou-kun."
Mendengar suara Chiyu yang terdengar tidak puas, aku tersenyum kecut.
"Aku tahu kok. Yang ingin kukatakan adalah, siapa pun dari anggota ini boleh mengamankan bola cahaya."
"Mm. Aku setuju."
"Kita memang belum tahu aturan detailnya, tapi berdasarkan informasi yang sudah kita punya sekarang, kita perlu menyusun strategi dengan mempertimbangkan berbagai kemungkinan."
Minori dengan tenang menyampaikan pendapatnya, seperti yang diharapkan darinya.
"Untuk sementara, kita semua naik di punggung Mashiro buat berpindah tempat ya?"
Aku mengangguk.
"Awalnya itu pilihan terbaik. Setelah tahu kecepatan gerak bola cahaya, baru kita sesuaikan langkah berikutnya."
"Kalau masih bisa dikejar dengan kaki manusia, lebih baik mengepung. Tapi kalau terlalu cepat, lebih efektif membidik dari punggung Mashiro gitu."
"Benar. Kalau masing-masing bisa mengamankannya dengan kemampuan sendiri, soal timing kita serahkan ke tiap orang."
"Kalau begitu, aku ingin hari ini melakukan latihan sihir dengan target yang bergerak."
Ucapannya sangat mencerminkan dirinya yang rajin.
"Ya. Mashiro bakal membawa kita semua, jadi sekalian saja kita berburu bersama sebagai latihan."
Kami memang sempat berlima menungganginya saat pulang setelah bertemu Minori, tapi waktunya singkat. Hari ini aku ingin mengetahui batas kemampuan Mashiro dan mobilitasnya saat membawa lima orang.
Memang akan merepotkannya sedikit, tapi membawa empat gadis cantik di punggungnya pasti bukan hal yang dia benci. Lagipula, dengan perawatan ‘Penyembuhan Tingkat Awal’ dari Chiyu, rasa lelahnya tak akan terbawa sampai besok.
"Ehm."
Shion mengangkat tangan. Setelah semua mata tertuju padanya, dia melanjutkan.
"Aku sih tidak berniat bermalas-malasan, tapi… apa aku nggak jadi beban?"
Kemampuan ‘mendeteksi kebohongan’-nya memang tidak bisa dipakai untuk mengamankan bola cahaya secara langsung.
"Ada beberapa alasan kenapa aku ingin kamu ikut. Pertama, jumlah orang bisa jadi keuntungan di situasi tertentu. Kedua, aku khawatir kalau kamu tinggal sendirian, jadi lebih aman bergerak bersama. Dan terakhir—mungkin kami akan sangat mengandalkanmu di hal lain."
"Eh?"
Shion tampak terkejut, seolah tak menyangka alasan terakhir itu.
"Kita tidak tahu kapan dan di mana bola cahaya akan muncul. Sebelum seseorang mengamankannya, mungkin saja kita bertemu siswa kelas lain. Mereka bisa jadi sekutu di pulau ini… atau sebaliknya."
"Ah… jadi untuk menilai itu, kemampuanku bisa berguna?"
"Benar. Kalau ada yang menawarkan kerja sama tapi berbohong, kamu bisa langsung tahu dan kita tak perlu mempercayainya."
"Iya…! Benar juga. Kita mungkin akan bertemu para transmigran lain. Kalau berhadapan dengan orang lain, kekuatanku bisa berguna…!"
Wajah Shion langsung berseri penuh kegembiraan. Dia pasti paham bahwa ucapanku bukan sekadar penghiburan.
Setelah suasana menghangat, pembahasan kembali ke topik bola cahaya.
"Aku sempat berpikir untuk menjatuhkan jaring raksasa dengan kemampuan‘Penempatan’-mu, Sousuke-san, tapi…"
"Aku juga kepikiran itu, tapi jarak penempatan ada batasnya."
Kalau seluas ruang kelas masih bisa dari ujung ke ujung, tapi kalau seukuran gedung olahraga, itu sudah sulit. Batas saat ini ada di kisaran tengah-tengahnya—mungkin akan berkembang ke depannya.
"Jadi tetap naik Mashiro, mendekat dulu, lalu… begitu?" kata Shouko.
Aku mengangguk.
"Ya. Aku akan mengandalkan itu. Ada ide lain?"
"Ada. Aku belajar sihir baru."
Chiyu mengangkat tangan.
"—Oh iya! Kadang sihir bertambah seiring meningkatnya tingkat kemahiran!"
Aku spontan bersemangat. Dalam game pun, dapat sihir baru selalu menyenangkan. Apalagi untuk kehidupan di pulau tak berpenghuni.
"Mm. ‘Penyembuhan Tingkat Menengah’ dan ‘Penguatan Otot’."
Sesuai namanya, versi lebih kuat dari sihir penyembuhan dan sihir peningkat fisik. Benar-benar khas penyihir putih—tambahan yang sangat bagus.
"Dan… ‘Penguatan Vitalitas’."
Keheningan turun di meja makan. Tak lama kemudian, para gadis menelan ludah.
Lalu mereka melirik ke arahku—barangkali masing-masing membayangkan pengalaman mereka denganku, dan apa yang akan terjadi kalau ‘Penguatan Vitalitas’ diterapkan.
"Aku terlalu sering menembakkan ‘Penyembuhan Tingkat Awal’ ke kontolnya Sou-kun supaya pulih… kayaknya itu sebabnya aku mempelajarinya. Agak memalukan sih."
Chiyu tetap tanpa ekspresi, menempelkan kedua tangan ke pipinya.
"Malahan aku yang malu…".
Bagaimanapun, bertambah tiga sihir adalah hal baik. Terutama dua yang pertama—pasti sangat berguna.…Meski rasanya, yang terakhir justru bakal paling sering dipakai.
"Kalau laporan, aku juga punya. Sepertinya ukuran yang bisa kupanggil bertambah. Dulu selain Mashiro cuma bisa dua ekor domba, sekarang rasanya sampai empat ekor pun bisa!"
"Itu juga hebat! Jangan-jangan nanti bisa memanggil Fenrir kedua?"
"Bisa jadi! Istri Mashiro, gitu?"
Kalau makhluk hasil panggilan punya anak, apa yang terjadi? Misteri.
"Maaf… sepertinya sihirku belum bertambah," lapor Minori dengan wajah sungkan.
"Tak perlu minta maaf. Chiyu sering memakai ‘Penyembuhan Tingkat Awal’ dan ‘Pemurnian’ ke semua orang, dan Shouko terus mempertahankan Mashiro. Mungkin selain tingkat kemahiran, jumlah penggunaan dan durasi aktif juga berpengaruh."
"B-benar juga. Aku akan terus berusaha menggunakan sihir lebih sering supaya bisa mempelajari yang baru."
"Ya. Aku mengandalkanmu."
Setelah diskusi selesai, kami pun bersiap berangkat.
"Maaf ya, semuanya. Sebelum pergi, boleh aku membersihkan keringat sebentar?"
Sepertinya semua paham maksud Shion, karena tak ada yang menentang. Shouko dan Minori tampak sedikit memerah.
"…Sousuke-kun juga, sebaiknya cuci badan ringan dulu, kan?"
"I-iya."
Mungkin agak canggung, tapi kemarin pagi aku juga mandi dengan Chiyu—sepertinya semua sudah bisa menebak.
"Tidak masalah. Shoko-chan, sebelum berburu aku ingin menambah ayam. Tolong bantu dengan Mashiro."
"S-si-siapp! Masakan telur tadi enak, kalau bisa dua butir sehari aku ikut bantu!"
"K-kalau begitu aku akan latihan sihir di luar sambil menunggu."
Yang tetap tenang hanya Chiyu; Shouko dan Minori tampak kebingungan. Kami pun berpisah sementara, dan hanya aku serta Shion yang menuju ruang ganti.
"Bukan bohong sih… tapi kita menyembunyikan sesuatu, ya."
Shion tersenyum nakal. Wajahnya tampak manis sekaligus menggoda.
Begitu masuk ruang ganti, Shion melepaskan pakaiannya dengan malu-malu di bawah tatapanku. Pipinya memerah, tapi dia tidak berusaha menutupi tubuhnya, malah mendekat perlahan.
"Aku juga akan melepas baju Sousuke-kun, ya?"
Baru saat itu aku sadar bahwa aku berdiri kaku, terpaku oleh pemandangan dirinya. Rasa malu menyerbu, tapi Shion tetap tersenyum lembut sambil membantu melepaskan pakaianku.
"M-maaf. Terima kasih."
"Hehe. Nggak apa-apa kok. Kamu terpesona begitu ya… itu membuatku sangat senang."
Saat kami sama-sama telanjang, rasa canggung justru bertambah. Shion menggenggam tanganku pelan dan berkata, "Ayo," menuntunku ke pemandian.
"Wah… memang agak dingin ya kalau telanjang."
"Aku siapkan air mandinya sekarang."
Aku menempatkan air panas ke dalam bak batu. Uap pun langsung mengepul.
"Ooh… tiap kali lihat tetap saja mengagumkan."
Shion bertepuk tangan kecil, tidak berlebihan.
"Hahaha. Baiklah, kita cuci badan dulu ya."
Aku menempatkan dua ember dan dua bangku mandi di atas lantai batu.
"Iya. Oh, ngomong-ngomong, Sousuke-kun… katanya kamu dan Chiyu-chan saling mencucikan badan, ya?"
…Ternyata informasi itu juga sudah tersebar.
Shion merapat, dadanya yang besar menekan dadaku.
"Aku juga ingin mencobanya… bolehkan?"
"…Boleh kok."
Gerak-gerik Chiyu dan Shion yang dengan sadar berusaha mewujudkan impian para pria benar-benar tak bisa kutolak.
Begitu wajahnya langsung cerah melihat jawabanku, Shion dengan sigap mulai menimba air panas menggunakan gayung mandi.
"Ayo, silahkan, Sousuke-kun. Aku akan membasuh punggungmu."
"A-ah, iya. Kalau begitu, tolong bantuannya."
Mengikuti arahannya, aku duduk di kursi mandi. Tak lama kemudian, air hangat perlahan disiramkan ke tubuhku.
"Chiyu-chan membasuhmu seperti ini juga, ya?"
Shion membasahi sabun, lalu mengoleskannya ke dadanya. Ia meremas dadanya sendiri untuk menyebarkan busa sabun ke seluruh bagian itu, kemudian berpindah ke belakangku dan menggosokkan dadanya ke punggungku.
Shion sangat peka terhadap bagaimana kata-kata dan tindakannya akan diterima orang lain. Dengan memanfaatkan kemampuannya itu, dia jelas memikirkan bagaimana harus bergerak agar aku terangsang dan senang.
Dan aku pun—benar-benar jatuh ke dalam jebakannya.
Dia lebih dulu menggugah ekspektasi lewat penglihatan, lalu memanjakan lewat sentuhan, dan akhirnya meningkatkan gairah lewat suara. Memperlihatkan tubuh yang dilumuri sabun, kemudian benar-benar menggesekkan tubuhnya, disertai suara lengket penuh busa dan erangan manja—seperti itulah caranya.
"Hehehe, berikutnya aku cuci bagian depan, ya."
Sambil berkata begitu, Shion berpindah ke depanku dan berlutut. Di hadapanku terbentang wajah Shion yang memerah dan dadanya yang besar.
"Kita saling mencuci, boleh?"
Shion kembali mengambil sabun dan menggenggamkannya ke tanganku juga. Dengan satu sabun yang sama, tangan kami berdua menjadi licin. Lalu tangan Shion meraih ke kontolku. Batang yang sudah siap tempur itu melonjak saat disentuh tangannya yang lembut.
Pengalaman seksualku dan Shion seharusnya tidak jauh berbeda—bahkan mungkin hampir sama. Bisa dibilang aku sedikit lebih berpengalaman karena sudah melakukan berbagai hal dengan gadis-gadis lain. Tapi tetap saja, aura "veteran" yang ia miliki itu luar biasa.
Tak enak rasanya terus pasif, jadi aku pun mulai bergerak. Melepaskan sabun, aku meraih kulitnya yang seputih porselen. Bersamaan dengan suara erotis, "nnn," tubuhnya bergetar, dan dua bukit dadanya ikut berguncang.
Yang kurasakan di tanganku adalah bobot dengan kesan "plop" yang seolah bisa terdengar. Bahkan bukan pertama kali, tapi aku tetap terharu—ternyata ada berat yang bisa memberikan kebahagiaan sebesar ini.
Bukan hanya beratnya; kekenyalan dan kelembutannya pun sungguh mengejutkan.
Begitu mulai meremas, tanganku tak mau berhenti. Setiap kali itu terjadi, dari bibir Shion keluar suara-suara seperti "ah," "ya," atau "nn," yang justru membuatku semakin tak bisa berhenti.
"Su-Sousuke-kun… bagian sini juga, lihatlah aku…"
Saat aku mengangkat pandangan, Shion menatapku dengan mata yang berkaca-kaca, pipinya memerah.
Wajah kami pun mendekat secara alami. Setelah beberapa kali berciuman ringan hingga bibir saling bersentuhan, seolah pembuka sudah cukup, gerakan kami menjadi semakin intens.
Sambil saling mengaitkan lidah, tangan kami terus bergerak. Napas kami kian memburu, dan batas kemampuanku pun mendekat.
"Shion…"
"Chu… mm… nggak apa-apa… keluarkan semuanya… banyak-banyak…"
Begitu berkata, Shion mengisap bibirku dengan lebih kuat.
Pada saat yang sama, cairan putih keruh menyembur dari kontolku. Bersamaan dengan kenikmatan yang luar biasa, penglihatanku seakan berkedip-kedip. Pinggangku bergetar hebat, dan batang itu berdenyut-denyut.
Itu berlangsung lama—sangat lama—dan sampai getarannya mereda, tangan Shion tidak berhenti bergerak.
"Huu… huu… he-hehe. Hebat. Padahal ini sudah yang kedua hari ini, tapi kamu masih mengeluarkan banyak sekali."
Sperma itu tak hanya mengotori tangan Shion, tapi juga perutnya dengan deras, mengalir seperti tetesan hujan di dinding hingga masuk ke pusarnya. Saat hampir mengalir lebih ke bawah, Shion menahannya dengan tangan.
"Sayang sih, tapi kita bilas saja, ya?"
Aku baru teringat—kami berdua memang masih penuh sabun. Untuk memenuhi tujuan awal, kami pun membilas tubuh masing-masing. Namun, bagian bawahku masih tampak membesar. Melihat itu, Shion tersenyum manis.
"Sepertinya masih ada yang belum bersih, ya? Boleh aku bantu?"
Ia kembali berlutut di depanku dan mengangkat dadanya seolah memamerkannya.
"…Tolong."
"Hehe, serahkan padaku."
◇
Setelah membilas tubuh hingga bersih bersama Shion dan kembali rapi, kami segera bersiap dan keluar.
Jumlah penghuni kandang ayam bertambah dari lima menjadi sepuluh ekor. Lima telur yang berhasil diamankan Chiyu saat itu kusimpan ke dalam ‘Inventory’-ku.
"Maaf ya, semuanya. Jadi lama."
"Benar-benar minta maaf…"
"Tidak apa-apa. Lagipula, tidak lama juga kok."
Chiyu menanggapi permintaan maaf Shion. Dua orang lainnya juga tampaknya tidak marah. Bagiku, waktunya setara dengan berendam lama, tapi bagi para gadis mungkin tidak terlalu perlu dipermasalahkan.
Atau mungkin karena aku bersama Shion, mereka sudah bisa menebak dan sengaja bersikap pengertian.
"…Eh, kalau kita dapat telur—berarti kita bisa bikin mayones, kan?"
Ucapanku yang bertujuan mengalihkan topik membuat semua orang bereaksi.
"Rasanya makin kayak cerita isekai," kata Chiyu, membuatku tersenyum kecut.
"Bahan utamanya minyak, cuka, dan telur, jadi memang bisa. Tinggal garam dan rempah-rempah."
Aku mengangguk-angguk. Demi membuka resep, nanti aku akan bertanya lebih detail.
"Aduh, jadi pengin onigiri tuna mayo… sama takoyaki dan okonomiyaki juga."
"Gyaru juga makan begituan, ya."
Pipi Shouko langsung menggembung.
"Ya makan dong! Emangnya menurutmu gyaru itu apa?"
"Kupikir cuma hidup dari hal-hal berkilau yang viral di media sosial."
"Kehidupan yang nggak diunggah ke medsos justru lebih banyak, tau."
"Di Bumi, aku nggak kebayang hidup tanpa ponsel, tapi setelah kehilangannya, ternyata baik-baik saja."
"Ngerti-ngerti. Meski ya, ada sih beberapa orang yang pengen kuhubungi."
Dengan banyaknya teman, wajar kalau ada yang Shouko khawatirkan.
"…Aku juga tidak terlalu kesulitan. Kalau harus menyebutkan satu hal, mungkin aku ingin alat belajar."
"Hahaha, khas Minori banget. Hmm, kertas bisa dibuat, pena… mungkin bulu pena bisa. Tinta juga, yang penting hitam—apa bisa dibuat dari jelaga?"
Mata Minori langsung berbinar.
"B-bolehkah aku memintanya…! Soal cara pembuatannya, nanti akan kujelaskan…!"
Melihatnya mendekat begitu antusias, aku benar-benar terkesan betapa ia ingin belajar. Dan jujur saja, aku juga sempat berdebar melihat mata berbinar dan dadanya yang bergoyang besar.
"Tentu. Meski buku pelajaran dan referensi belum bisa kubuat."
Aku bercanda agar kegugupanku tak ketahuan. Minori tersenyum kecil.
"Itu sudah lebih dari cukup. Terima kasih ya, Sousuke-san."
Kalau dipikir-pikir, belajar memang ide bagus. Kami diberi tahu bahwa saat kembali, waktu akan dikembalikan ke sebelum perpindahan. Karena kami dipanggil lewat mimpi setelah tidur, mungkin kami akan bangun keesokan paginya. Artinya, tanpa waktu berlalu, kami tetap bisa mengumpulkan ‘pengalaman’.
Memang ada syarat untuk membawa pulang ingatan, tapi kami juga mengincarnya.
Dengan kata lain, semakin lama kami bertahan di pulau ini, semakin banyak yang bisa dipelajari. Pengetahuan yang didapat di sini mungkin juga berguna di masa depan. Meski awalnya kaget terdampar di pulau tak berpenghuni, kalau kehidupan sudah stabil, ternyata tidak semuanya buruk.
Tentu saja, dengan asumsi papan tulis misterius itu benar-benar akan memulangkan kami.
"Baiklah, ayo berangkat. Oh iya, Chiyu, aku mau minta sihir penguatan."
"Penguatan Vitalitas?"
"Yang ‘Penguatan Kekuatan Otot’! Kamu sengaja tanya, kan?"
"Candaan teman masa kecil."
Benar-benar lelucon khas sahabat masa kecilku.
"Aku ingin tahu seberapa besar penguatannya, jadi para cewek naik Mashiro dulu, aku akan mengejarnya sambil berlari."
"Pengabdian dengan sukarela jadi kelinci percobaan—hebat sekali, Sou-kun."
Setelah para gadis naik ke Mashiro, Chiyu memberiku penguatan. Seketika, cahaya putih menyelimutiku. Berbeda dengan ‘Penyembuhan Tingkat Awal’, cahaya ini membungkus tubuhku seperti selaput dan tidak langsung menghilang.
"…Selama masih bercahaya berarti efeknya aktif, ya? Jelas juga."
Sejauh ini, kondisi tubuhku belum terasa berubah drastis, tapi…
"Yosh—Mashiro, berangkat!"
Dengan teriakan Shouko, Mashiro pun mulai berlari, dan aku segera mengikutinya.
Begitu mulai berlari, aku langsung menyadari betapa luar biasanya sihir penguatan itu. Saking cepatnya, aku sendiri sampai terkejut.
Soalnya—aku bisa berlari sejajar dengan Mashiro si Fenrir.
"Eh!? Sousuke-kun, cepat sekali…!"
"L-luar biasa. Bisa berlari secepat Mashiro-san yang merupakan makhluk fantasi…"
"Hebat sih, tapi aku nggak mau kalah! Mashiro, lari lebih cepat lagi!"
Dengan seruan Shouko, Mashiro mengerahkan tenaga penuh. Kali ini aku benar-benar tak bisa mengejarnya. Tak lama kemudian batas staminaku tercapai; kecepatanku menurun, lalu aku berhenti. Melihat itu, Mashiro pun berbalik dan kembali ke arahku.
"Maaf, Sousuke!"
"Tidak apa-apa. Aku memang ingin tahu batas kemampuanku, jadi ini pas saja."
Aku menjawab Shouko yang tampak bersalah itu sambil terengah-engah, berusaha tersenyum.
"…Sou-kun, kamu nggak apa-apa? Penyembuhan Tingkat Menengah."
Menyadari kondisiku, Chiyu segera merapal sihir penyembuhan.
Memang pantas disebut sihir tingkat menengah—rasa lelahku surut jauh lebih cepat dibandingkan penyembuhan tingkat awal. Jumlah pemulihan juga pasti meningkat.
"…Haah. Eksperimen itu penting. Ini sebenarnya hal yang sudah jelas kalau dipikir-pikir—stamina tidak ikut bertambah."
Semua orang memasang ekspresi "oooh", seolah baru sadar setelah dijelaskan.
"Kalau begitu, berarti ketahanan tubuh dan sejenisnya juga tidak ikut diperkuat."
Kurasa pendapat Minori memang benar.
"Jadi naiknya cuma ‘kekuatan serang’ dan ‘kecepatan’, tapi ‘HP’ dan ‘pertahanan’ tetap sama, gitu?"
Perumpamaan ala game dari Shouko terdengar tepat sasaran.
"Berarti nggak berguna?"
Melihat wajah Chiyu sedikit muram, aku langsung menggeleng.
"Bukan begitu. Ini tetap berguna—cuma harus dipikirkan kapan memakainya. Aku sebenarnya nggak mau mikir sejauh itu, tapi kalau misalnya para cewek diserang cowok lain, dengan ini aku bisa menepis mereka dan kabur, kan? Kalau dipikir ke depan, ini kekuatan yang bisa diandalkan."
"Iya, benar. Aku sendiri tidak punya kekuatan untuk bertarung, dan bertemu laki-laki selain Sousuke-kun juga agak menakutkan. Kalau Chiyu-chan ada di dekat kita, rasanya lebih aman."
"Cahayanya belum hilang… oh, sekarang hilang. Berarti durasinya sekitar lima menit, ya?"
Kalau diibaratkan game, ini seperti sihir penguatan yang bertahan beberapa giliran. Hanya dengan bisa dipakai saja, variasi strategi bertarung jadi bertambah.
"Menguasai cara menggerakkan tubuh saat diperkuat mungkin tidak mudah, tapi ini sihir yang luar biasa."
"Benar. Entah besok bisa dipakai atau tidak, tapi aku ingin membiasakan diri. Chiyu, bisakah kamu bergantian memberi pemulihan dan penguatan supaya efek penguatanku terus aktif?"
"Mm, siap."
"Kita biarkan Mashiro terus mencari mangsa. Ini juga latihan sihir untuk Minori. Lagipula, kita juga butuh daging selain babi hutan."
"Serahkan pada Mashiro~"
"Aku akan berusaha sebaik mungkin agar bisa menunjukkan hasil latihan sihir bersama Sousuke-san."
Jawab Minori dengan semangat. Setelah itu, kami berhasil menaklukkan dua ekor rusa dan satu ekor beruang.
Rasa aman berkat keberadaan Mashiro memang besar, tapi sihir Minori juga sangat berjasa. Dengan tenang ia memegang tongkat yang pernah kuberikan, mengamati gerak mangsa dengan saksama, lalu menembakkan sihir lebih dulu ke titik pergerakan yang diperkirakan, atau membidik momen perlambatan seperti saat target berbelok atau berhenti mendadak—ia benar-benar fokus pada "mengenai target dengan sihir".
Hebat sekali Minori. Ia belajar dari kegagalan masa lalu, memanfaatkan latihan, dan bahkan memikirkan cara-cara untuk mencapai tujuan.
"Luar biasa! Kamu sudah jadi kekuatan tempur yang andal."
Saat kupuji dengan jujur, Minori tersenyum lebar seperti anak kecil yang mendapat nilai sempurna.
"Terima kasih…! Semua ini berkat Sousuke-san yang mau menemaniku berlatih."
Senyumnya begitu menawan sampai aku tanpa sadar terpaku menatapnya.
"Keren banget, beneran terasa kayak penyihir, Minorin. Hmm, kira-kira kalau lawan Mashiro gimana ya?"
"Se-sepertinya itu berat sekali. Terlepas dari aku tak ingin menyerang Mashiro-san, bahkan aku tak tahu apakah sihir tingkat awal akan berpengaruh."
"Hm? Kenapa, Mashiro? ‘Maaf ya Minorin, tapi dari awal pun serangannya nggak bakal kena,’ begitu?"
Mashiro mendengus bangga. Rupanya dia juga punya harga diri sebagai Fenrir.
"Begitu ya… Kalau memikirkan kemungkinan munculnya makhluk fantasi yang bersifat musuh di masa depan, bukan hanya tingkat kemahiran, tapi juga peningkatan daya hancur akan dibutuhkan."
Minori berpikir serius—sikap yang sangat khas dirinya.
"Karena dapat daging rusa, mungkin enak juga kalau dibuat panggang dengan saus ala-ala wine dari anggur gunung. Untuk pendampingnya bagaimana ya… hmm, aku pengin kentang atau gandum."
Shion, sang kepala koki, memikirkan menu. Dengan kemampuanku, daging hasil buruan tidak akan busuk, jadi berburu banyak pun tidak akan sia-sia.
"Kita uji sedikit lagi ya, lalu kembali ke markas untuk makan siang."
Strategi pengamanan bola cahaya menggunakan fungsi Penempatan, kalau digabung dengan penguatan dari Chiyu, rasanya punya peluang bagus.
Lagipula, fungsi Penempatan bukan cuma berguna untuk mengamankan bola cahaya—ada kegunaan lain yang bisa dibayangkan.
Kalau bisa, aku ingin tidak perlu menggunakannya… tapi ya.
◇
Setelah kembali ke markas, atas permintaan Shion, kami membuat dan menempatkan tungku batu di dapur.
Asapnya diatur agar keluar lewat cerobong ke luar.
Baru kepikiran sekarang, tapi sejauh ini belum pernah ada orang yang mendekat karena melihat asap. Sebaliknya, kami juga belum pernah melihat asap dari kelompok lain. Entah kebetulan atau ada alasannya.
Bagaimanapun, waktunya makan siang. Menu hari ini adalah daging rusa panggang.
"Gila… ini enak banget…!"
Shouko berseru dengan mata berbinar, satu tangannya menopang pipi seolah takut meleleh.
Daging rusa yang permukaannya dipanggang dengan mentega susu domba lalu dimasak perlahan hingga ke dalam oleh tungku batu, berubah menjadi hidangan yang harum, lembut, dan sangat juicy.
Saus berbahan dasar wine anggur gunungnya juga luar biasa lezat. Tanganku tak berhenti menyuap daging.
"Bahkan saat masih di Bumi, aku tidak pernah makan masakan seperti ini di rumah."
Minori terlihat kagum.
Memang benar—daging buruan segar seperti ini jelas bukan makanan sehari-hari siswa SMA biasa. Meski sebaliknya, di pulau ini juga tak ada babi atau sapi biasa…
Tapi sampai-sampai hal itu tak terasa penting, keahlian memasak Shion memang pantas dipuji.
"Masakannya seenak ini, rasanya sayang kalau nanti pulang ke Jepang dan nggak bisa makan masakan Shion lagi."
Kata-kataku yang terlepas begitu saja membuat Shion bereaksi.
"…! K-kalau Sousuke-kun mau, nanti setelah kembali ke Jepang, aku bisa masak juga, kok?"
Shion berkata sambil tersenyum malu.
"Sou-kun, nanti di Jepang, teman masa kecilmu ini yang akan membuatkan bekal."
Chiyu juga ikut, mungkin karena rasa saing pada Shion.
"Hehe. Kalau begitu, Chiyu-chan, bagaimana kalau kita bergiliran bikin bekal tiap hari?"
Shion tak mau kalah.
"Enak ya kamu, Sousuke. Bekal buatan Chiyu-chan, aku rela bayar buat makan itu."
"Benar. Itu memang sepadan Sousuke-san."
"Ka-kalian kebanyakan muji… Kalau begitu, sesekali aku buatkan untuk semuanya, lalu kita makan bareng."
"Jadi Sousuke dapat tiap dua hari sekali, sementara kita cuma sesekali? Sedih ya, Minorin?"
"Iya, Shouko-san. Persahabatan sesama perempuan memang rapuh."
"Eh, eeh…?"
Di saat Shion tampak bingung, Shouko dan Minori tertawa kecil. Rupanya cuma bercanda. Meski di sini ada teman-teman lama, keakraban para gadis memang semakin cepat terjalin.
Setelah makan siang yang meriah selesai, aku membereskan semuanya dengan penyimpanan dan penataan ulang milikku. Lalu sahabat masa kecilku yang berdiri dari tempat duduk mendekat kepadaku.
"Sou-kun, beri aku rumput liar dan sisa sayuran."
"Hm? Oh, buat pakan ayam, ya."
Ayam tampaknya menyukai biji-bijian, kacang, dan serangga, tapi sayangnya kami tidak punya itu. Namun Minori bilang ayam juga mau makan rumput dan daun-daunan.
Di atas keranjang anyaman dari sulur, aku menempatkan rumput liar dan sisa sayuran dari proses memasak.
"Mau kubantu?"
"Boleh? Padahal aku yang nangkap ayamnya."
"Telurnya kan dimakan bersama."
Karena pagi tadi kami sudah banyak beraktivitas dan baru saja selesai makan siang, kami memutuskan untuk beristirahat sejenak.
Memberi makan cukup dilakukan dua orang, jadi yang lain kubiarkan melakukan hal yang mereka suka.
"Kalau begitu aku akan mencatat semua yang terjadi sejauh ini dengan kertas dan pena bulu yang diberikan Sousuke-san…!"
Dengan langkah gelisah penuh semangat, Minori menuju kamarnya.
Sambil menunggu makan siang tadi, aku memang sudah membuat kertas, pena bulu ayam, serta tinta dari jelaga dan lem hewan.
"Aku mungkin menyusun menu."
"Kalau aku—eh, apa ya—oh iya! Aku mau mikirin makhluk berbulu halus selain Mashiro!"
"Itu ide bagus. Kalau makhluk nyata, Minori bisa bantu. Kalau makhluk fantasi, aku dan Chiyu bisa ikut berdiskusi."
Setelah percakapan itu berakhir, aku pun keluar bersama Chiyu.
Kami menuju kandang ayam dan memberi mereka pakan. Mungkin karena lapar, mereka langsung makan dengan lahap.
"Aku akan memberi kalian makan kalau nanti dapat kacang dan biji-bijian, jadi tunggu ya."
"Iya. Lagipula itu juga barang yang kita inginkan."
Kalau bisa mendapatkan beras, gandum, atau kedelai, pola makan kami pasti akan jauh membaik. Bahkan bisa dibilang hampir tanpa keluhan.
Kalau menuruti keinginan, masih banyak hal lain yang ingin dimiliki, seperti rempah-rempah—lada dan semacamnya—buah-buahan, juga sayuran.
"Sou-kun, ke sini."
Kami sempat memperhatikan ayam-ayam yang sedang makan, tapi tiba-tiba Chiyu menarik tanganku.
Tanpa melawan, aku mengikuti dia. Tempat yang dia tuju adalah area dekat tembok batu yang mengelilingi pemandian.
Kalau ada orang keluar dari pintu depan pun, mereka tidak akan langsung terlihat, dan karena markas ini dikelilingi tembok batu yang tinggi, dari hutan pun tidak akan terlihat.
Alasan dia memilih tempat seperti ini adalah—
"Chiyu…? Jangan-jangan—"
"Penguatan Vitalitas."
"Sudah kuduga!"
Sihir penguat milik Chiyu diarahkan ke selangkanganku.
Sesaat selangkanganku bercahaya—pemandangan yang benar-benar konyol—tapi untungnya segera menghilang.
Syukurlah… kalau benda itu terus menyala selama efek aktif, pasti bukan cuma lucu, tapi juga bikin gairah mati total.
Bukan, tunggu dulu. Bukan itu masalahnya.
"Karena ini sihirku, aku punya hak untuk mencobanya pertama."
"Mencoba maksudmu—ah!"
Chiyu dengan cepat menurunkan celanaku, lalu dengan gerakan yang sama cepatnya melepas bagian atas seragam dan bra-nya.
Kemunculan payudara dengan daya hancur luar biasa itu membuat batangku langsung berdiri tanpa bisa dicegah.
"Besar sekali…"
Chiyu menghela napas kagum. Tapi itu bukan reaksinya terhadap dadanya sendiri.
"Apa… apa ini…?"
Aku sendiri tak bisa menyembunyikan keterkejutanku.
Bagian ujung kontol membesar seperti jamur yang hampir mekar, bukan hanya menjadi lebih tebal satu ukuran—
Panjangnya juga luar biasa. Dalam posisi menegak ke atas sampai pak! menyentuh perut, ukurannya sampai menutupi pusar.
Bagian tubuh yang seharusnya sudah sangat kukenal itu berubah seolah-olah baru saja mengalami modifikasi tubuh instan.
"Sou-kun makin lama makin mirip tokoh utama di buku-buku yang kamu sembunyikan di kamar."
"Ini salah siapa coba, salah siapa…!"
Peningkatan jumlah tembakan jelas karena sihir Penyembuhan Dasar milik Chiyu, dan pembesaran ini pasti efek Penguatan Vitalitas.
"Karena salahku, aku akan bertanggung jawab."
Chiyu menggesekkan payudaranya yang luar biasa besar ke tubuhku. Setelah mengulanginya beberapa kali, dia membuka dadanya lebar-lebar, seperti—isian hamburger.
Dengan munyuu, kontolku terjepit di antaranya.
"Guh…"
Pemandangan macam apa ini. Bukan hanya lembutnya, efek visualnya luar biasa.
Kontol yang telah diperkuat bahkan tidak bisa sepenuhnya tertutup oleh dua bukit besar Chiyu, ujungnya menyembul dari celah dadanya.
"…Ini hebat."
Chiyu bergumam dengan wajah terpana. Dibuat sebesar ini memang serangan mendadak, tapi aku juga jadi tahu—reaksi perempuan seperti ini membangkitkan rasa superior yang luar biasa. Apa ini juga karena Chiyu?
"Chi, Chiyu…"
"Aku tahu. Aku akan bergerak, ya."
Melakukan hal terlarang di bawah langit biru bersama teman masa kecil. Rasa bersalah ini justru menaikkan gairah satu tingkat lagi.
"Mm…"
Chiyu menahan air liur di mulutnya, lalu meneteskan cairan manis itu tanpa sisa ke celah dadanya.
Hanya dengan kelembutan payudaranya saja rasanya sudah hampir meledak, tapi setelah licin itu bertambah dan mulai berfungsi sebagai pelumas, kenikmatannya jadi berlipat ganda.
Tanpa sadar pinggulku terangkat, dan aku harus menahan diri sekuat tenaga agar tidak berakhir memalukan. Kalau hanya pasrah menikmati kenikmatan ini, aku pasti tidak akan bertahan lebih dari beberapa detik.
Tanpa peduli bajunya kotor, dia berlutut di tanah, tubuh bagian atas telanjang, dan terus melayaniku.
Menjepit kontol, meremas payudara, menggerakkannya naik turun. Kulitnya yang seperti sutra perlahan memerah, keringat membentuk butiran dan memercik. Seiring gerakannya, sensasi dan tekanan di dalam berubah-ubah, dan kenikmatan yang tak terkatakan menjalar dari perut bawah hingga ke otak.
"Mm… mm, mm. Sou-kun, kontolmu mengeras sekali di dalam payudaraku."
Teman masa kecil yang memahami fetishku dengan sempurna itu juga sangat tahu kata-kata yang membuat pria senang. Namun, kalimat tadi jelas juga merupakan perasaan jujurnya.
Sebegitu dahsyatnya efek Penguatan Vitalitas.
Meski begitu, tanpa faktor yang memicu gairah, aku pasti tidak akan ereksi sejauh ini.
"Karena dada Chiyu terlalu erotis."
"Kalau Sou-kun senang, aku bisa jadi se-erotis apa pun."
Sambil menatapku dengan mata biru seperti permata, Chiyu berkata demikian. Lalu dia menunduk menatap ujung yang menyembul dari celah dadanya.
"Eh, tunggu, Chiyu, jangan-jangan…"
"Anak laki-laki suka yang beginian kan."
Dia langsung menempelkan bibirnya ke ujung itu—chu.
"Guuh…!"
Lalu dia membuka mulut kecilnya semaksimal mungkin—
"Dengan ukuran Sou-kun sekarang, ini bisa dilakukan. Nn… mm."
Ujung kontol itu pun masuk ke dalam mulutnya. Sekejap kemudian, bersama sensasi licin, ujungnya terbungkus sesuatu yang hangat.
"———!?"
Kenikmatan yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata membuat pinggulku terangkat. Padahal ini bukan tempat yang seharusnya bisa menerima, tapi rasanya seolah-olah memang diciptakan untuk itu.
Perpaduan rasa bersalah dan kenikmatan begitu dahsyat hingga pandanganku mulai berkelip.
"Chu, lero… jururu… jupu… nmu… jupu… jupu."
Mungkin sengaja, Chiyu mulai melakukan seks oral dengan suara basah yang dilebih-lebihkan.
Batang terbungkus dadanya, ujungnya dijilat. Entah pantas atau tidak mengatakannya seperti ini, tapi sungguh kemewahan yang luar biasa. Tanpa henti sedetik pun, Chiyu melayaniku dengan penuh pengabdian.
Cinta yang begitu besar, seolah yang penting hanyalah aku merasakan kenikmatan tertinggi. Bukan hanya dari tindakannya, tapi juga dari perasaan di balik dadanya. Semua itu berubah menjadi gairah, dan cairan putih yang menunggu waktu untuk dilepaskan mulai diproduksi dengan cepat. Tak mungkin ini bisa bertahan lama.
"Chiyu… sudah waktunya…!"
"Jupu… jupu… jubo, jururu… Mm, keluarkan. Akan kuterima di dalam mulut… semuanya, biar semua milik aku."
Gerakannya semakin intens, seolah ingin memeras habis, dan batas kesabaranku pun langsung tercapai.
"Guh…!"
Dengan mengerahkan tenaga di pinggul, aku menembakkan spermaku sesuai dorongan nafsu.
"Mnng…!? Mm, mm, mm, mm."
Setiap kali kontolku berdenyut, Chiyu bereaksi kecil. Jumlahnya jauh dari normal, dan kenikmatan saat ejakulasi terasa dua atau tiga kali lipat dari biasanya.
Artinya, jumlah yang keluar pun luar biasa, tapi dia tidak melepaskannya sampai akhir, menampung semuanya di dalam mulut. Bahkan seolah meminta tetes terakhir pun keluar, dia menjilat ujungnya dengan ujung lidah, membuat kontolku berkedut-kedut hingga tetesan terakhir pun terperas.
Padahal aku hanya berdiri di sana, tapi berkat pengabdian teman masa kecilku, aku mengalami pengalaman terbaik—diperas sepenuhnya secara otomatis.
Setelah semuanya keluar, dia perlahan melepaskan mulutnya dan menghadapku.
"Nggaa…"
Di dalam mulutnya, cairan putih yang bercampur air liurnya memenuhi sampai hampir tumpah.
Melihat betapa banyak yang keluar dan betapa semuanya dia terima, gairahku kembali tersulut. Chiyu menutup mulutnya—dan mulai menelan dengan bunyi guk guk.
"Apa—Chiyu!?"
Memang ini impian banyak pria, tapi jelas bukan sesuatu yang enak diminum.
Aku bilang dia tak perlu memaksakan diri, tapi sambil terus menatap wajahku, dia menelannya perlahan—hingga habis. Karena jumlahnya banyak, dia menelan beberapa kali, butuh hampir sepuluh detik.
Setelah semuanya tertelan, Chiyu kembali membuka mulut ke arahku.
Tidak ada yang tersisa di dalamnya—semuanya sudah masuk ke perutnya.
"Uhuk, uhuk. Semuanya… berhasil diminum. …Kamu tidak senang?"
Melihat wajahnya yang tampak cemas, aku pun panik.
"B-bukan, jujur aku senang banget dan terangsang sih… tapi rasanya pasti tidak enak, kan?"
Kontolku sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan melemas—bahkan tanpa jeda sedikit pun, kekerasannya terus terjaga. Bukan hanya karena efek sihir, tapi juga karena tindakan Chiyu yang terus memancing gairahku.
"Mm. Rasanya super tidak enak. Tapi… kalau Sou-kun senang, aku mau melakukan apa saja."
"Chiyu…!"
Mendengar kata-katanya, kontolku bergetar pelan. Teman masa kecilku itu tidak melewatkannya.
"Syukurlah, yang ini juga kelihatan senang. Mau aku jepit lagi? Atau mau coba yang mulut saja?"
Chiyu meraih kontolku seolah itu hal biasa, menggosoknya dengan gerakan shush-shush sambil bertanya.
Malam pertama memang dia sudah melakukannya dengan tangan, tapi hari ini baru hari keempat hidup di pulau tak berpenghuni. Namun, kecepatan adaptasinya luar biasa. Perkembangannya pun mencengangkan.
Teman masa kecil yang sebelumnya polos itu, hanya dalam beberapa hari, mulai memiliki aura erotis yang bahkan menyaingi succubus.
"Aku ingin mengabdikan seluruh diriku untuk Sou-kun. Jadi, jadilah milikku sepenuhnya."
Milik… atau semacam itu.
"Aku sudah jadi milik Chiyu, kok…"
"——!"
Mendengar ucapanku, Chiyu terlihat terkejut, lalu dengan jelas tersenyum bahagia.
Senyumnya polos, seperti saat kami masih kecil.
"Aku senang. Kalau begitu, aku akan membuatmu semakin terikat."
Namun sesaat kemudian, ekspresinya berubah menjadi menggoda.
Menjulurkan lidahnya, Chiyu menjilat ujung kontolku dengan gerakan perlahan dan sensual.
"Pilih, Sou-kun. Kamu mau diapakan?"
"…Kalau begitu, sekali lagi, pakai dada…"
"…Kamu terlalu suka payudara."
Nada suaranya datar, tapi jelas terasa dia agak kewalahan.
"Maaf…"
"Tidak. Semuanya salahku. Maaf karena punya dada sebesar ini sampai merusak selera seksual teman masa kecil."
Sepertinya dia bercanda.
"…Iya juga sih, ini salah Chiyu."
Saat aku tertawa, dia pun ikut tersenyum.
"Mm. Aku akan bertanggung jawab dengan benar. Lagipula aku sudah memasang sihir penguat."
"…Hei, ini sama sekali tidak kelihatan mau habis efeknya. Sampai kapan besarnya begini?"
Chiyu mengalihkan pandangan.
"…Ada masalah dengan besar seperti ini?"
"Kamu juga tidak tahu, ya…!"
"Kalau banyak dikeluarkan, mungkin akan normal lagi… semoga saja."
"Itu cuma harapan sepihak…!"
"Kalau begitu, mau berhenti?"
Pertanyaan itu licik.
"…Tidak, tolong lanjutkan."
"Dimengerti."
Setelah itu, dalam waktu singkat aku diperas lagi sekitar tiga kali oleh Chiyu, tapi efek Penguatan Vitalitas sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan hilang.
"Ini tidak bisa dikalahkan olehku sendirian. Kita harus meminjam kekuatan semua orang."
"Jangan ngomong seolah-olah muncul bos kuat…"
Bukan berarti aku tidak senang ukurannya membesar, tapi karena vitalitasku terus diperkuat, rangsangan sekecil apa pun langsung membuatku siap tempur—itulah masalahnya.
"Di saat seperti ini, inilah gunanya harem."
"Kamu pasti tidak membayangkan kejadian seperti ini, kan?"
Mungkin nanti efeknya akan hilang, tapi… bagaimana dengan sore nanti?
Setelah itu, aku sendiri kaget karena meski sudah empat kali berturut-turut, kontol ini masih belum melemah. Namun setelah Chiyu kembali mengenakan pakaian dan aku menarik napas dalam-dalam beberapa saat untuk menenangkan pikiran, ereksinya akhirnya mereda.
Meski begitu, kalau lengah dan memikirkan hal mesum sedikit saja, ukurannya langsung membesar seolah akan menembus celana, jadi tetap harus waspada.
"Kalau kita jelaskan ke yang lain dan minta bantuan, apa tidak apa-apa?"
Apa aku harus bilang, "Aku tidak bisa berhenti ereksi, jadi tolong bantu keluarkan…"? Padahal besok ada acara penting.
Tapi mungkin pria yang tidak bisa menolak godaan teman masa kecilnya dalam situasi seperti itu memang tidak punya hak untuk berkomentar.
"Kalaupun kita melakukan itu, kita susun dulu jadwal sore, selesaikan tugas masing-masing."
"Ooh, Sou-kun, mental baja. Keren… glek."
Chiyu menelan kecil. Keempat kalinya jumlahnya juga banyak, dan semuanya masuk ke perutnya.
"…Kamu tidak merasa mual?"
"Tidak apa-apa. Kalau dipikir-pikir, rasanya masih agak lengket di tenggorokan."
"Karena bukan luka, Penyembuhan Dasar juga sepertinya tidak mempan…"
"Pemurnian… mm, sudah agak mendingan."
"Serbaguna sekali ya, Pemurnian."
"Nanti kalau semua orang kerepotan dengan sesuatu yang keluar dari kontolnya Sou-kun, aku pakai ini."
Komentar yang sulit ditanggapi. Sambil bercakap-cakap seperti itu, kami kembali ke dalam rumah dan menuju ruang tamu. Di sana, tiga orang lainnya sudah berkumpul.
"Selamat datang kembali, kalian berdua. Bagaimana keadaan ayam-ayamnya?"
Shion berkata sambil tersenyum ramah. Karena waktu memberi makan terasa terlalu lama, dia mungkin sudah menebak banyak hal.
"Maaf, kami membuat kalian menunggu?"
"Tidak kok, tidak apa-apa."
"Sousuke, Sousuke~ Aku juga sudah diskusi dengan Minorin, tapi belum kepikiran kandidat hewan berbulu berikutnya~."
"Shouko sepertinya ingin memanggil makhluk yang bisa terbang berikutnya, tapi katanya lebih baik kalau bisa dinaiki manusia."
"Itu sulit, ya."
Saat aku dan Chiyu duduk di meja makan, Shion berdiri dan berkata, "Aku siapkan teh untuk kalian berdua ya," lalu menuju dapur. Setelah mengucapkan terima kasih, aku mengalihkan pandangan ke Minori.
"Kalau dari kamu, usulnya apa?"
"Terlepas dari bisa dinaiki atau tidak, dari segi ukuran, mungkin naga bersayap mendekati."
"Pteranodon?"
"Iya. Katanya mereka tidak punya kekuatan seperti di film yang bisa mencengkeram manusia dan terbang."
"Serius… baru tahu aku."
"Pteranodon itu tidak berbulu, kan…?"
Shouko menatap jauh, mungkin lelah berpikir.
"Aku merasa tidak terlalu bisa membantu, jadi aku menunggu Sousuke."
"Hmm. Makhluk berbulu yang bisa terbang, ya… Dalam karya fiksi ada juga naga dengan bulu lebat."
"Eh!? Benarkah!? Seperti apa!?"
Antusiasme Shouko langsung melonjak.
"Ada macam-macam sih… yang menurutku paling keren itu naga timur yang berbulu."
"Naga timur itu yang tubuhnya seperti ular, ada kumis dan tanduk, kan?"
Shouko memiringkan kepala.
"Betul. Nah, ditambah bulu halus dan mengembang seperti Fenrir."
"Hm hm… itu mungkin bagus?"
Kalau sudah bisa memanggil makhluk fantasi, mungkin makhluk tanpa sumber asli pun bisa dipanggil asalkan imajinasinya jelas.
"Seperti dugaan, Sousuke memang hebat."
"Mm. Pengetahuan hasil baca manga kadang berguna juga."
Pengalaman yang jarang, tapi kalau bisa membantu, aku senang. Tepat saat itu, Shion kembali.
Dia membawa teh herbal untukku dan Chiyu, sekaligus menuangkan tambahan untuk yang lain.
Mencium aromanya, aku sempat berpikir ini bau Shion… tapi segera menggelengkan kepala. Eh, terbalik. Karena sabunnya dicampur serai, aromanya sama saja. Bukan teh yang berbau Shion, tapi Shion yang berbau seperti teh ini. Seolah membaca pikiranku, Shion tersenyum.
"Hmm. Sousuke, boleh aku minta kertas dan pena juga? Aku ingin mematangkan imajinasinya."
"Tentu. Kalau kita dapat teman yang bisa terbang, itu akan luar biasa."
Sekalian saja, aku menyiapkan alat tulis untuk semuanya.
"Mungkin rasanya tidak sama seperti yang kita pakai di Jepang, tapi pakailah untuk apa pun."
"Makasih, Sousuke! Benar-benar hebat!"
"Terima kasih, aku akan memakainya untuk mencatat resep…!"
"Aku sudah mendapatkannya sebelumnya, tapi aku akan minta sedikit kertas tambahan. Ini benar-benar membantu."
Responnya cukup bagus—aku senang.
Di pulau tak berpenghuni tanpa ponsel dan komputer, sarana untuk mencatat dan meninggalkan sesuatu sangat terbatas. Kertas dan tinta pun langsung menjadi barang berharga.
"Mm. Aku akan menuliskan kata-kata dan permainan yang disukai Sou-kun supaya tidak lupa."
Mendengar ucapan Chiyu, para perempuan lain pun mengambil beberapa lembar kertas tambahan dari atas meja.
…Jangan-jangan mereka semua berniat mencatat seleraku secara detail tanpa melewatkan satu pun. Kalau dengan anggota kelompok ini sih tidak masalah, tapi setidaknya harus hati-hati agar tidak bocor ke luar.
"Baik! Aku akan merangkum ide sambil membelai Mashiro!"
Bagi Shouko, itu memang prioritas utamanya. Mashiro saja sudah kuat, dan sekarang ada kemungkinan wyvern akan bergabung juga.
"Aku akan memperbanyak penggunaan sihir sebisa mungkin. Untuk sementara, aku akan berkeliling rumah memasang Pemurnian. Lalu aku juga akan memberi sihir pemulihan ke semua orang."
Mungkin karena jumlah jenis sihir yang bisa dipakai benar-benar bertambah, Chiyu jadi semakin bersemangat mencari sihir baru. Ini juga demi semua orang, jadi tentu saja aku setuju.
"Oh, aku juga ingin banyak berlatih sihir. Aku akan melakukannya di luar rumah supaya tidak mengganggu siapa pun."
Untuk saat ini Minori hanya punya sihir tingkat dasar, tapi ke depannya dia berpotensi menjadi kekuatan tempur yang lebih besar. Tentu saja tidak ada yang keberatan.
"Kalau begitu aku akan—"
"Shion-chan dan Sou-kun, ada hal yang ingin aku minta kalian lakukan."
Tiba-tiba Chiyu menyebut aku dan Shion secara khusus. Shouko dan Minori tampak bingung, tapi tetap keluar rumah seperti diminta.
"Chiyu-chan, apa yang ingin kamu minta?"
"…Sebenarnya, saat ini sedang terjadi sesuatu yang gawat pada Sou-kun."
Chiyu berkata dengan wajah tanpa ekspresi, tapi nadanya serius.
"Kelihatannya memang benar. Bisa ceritakan lebih rinci?"
Kemampuan Shion untuk mengetahui kebohongan rupanya juga menilai ini sebagai kebenaran, karena ekspresinya berubah menjadi sungguh-sungguh.
"Oi, Chiyu, jangan bilang…"
"Aku secara impulsif memasang Penguatan Vitalitas pada kontolnya Sou-kun, dan hasilnya jadi keterlaluan."
"Chiyu-chan…"
"Lebih panjang, lebih tebal, lebih keras, dan jumlah tembakannya tak terbatas."
Tidak sampai tak terbatas juga, sih.
"…Tunggu. Yang penting bukan itu. Maksudmu, meskipun Chiyu-chan sudah menanganinya, Sousuke-kun masih belum puas, begitu?"
Chiyu mengangguk pelan.
"Begitu ya… itu memang masalah besar."
Shion mendekat dan dengan lembut menggenggam tanganku.
"Serahkan padaku, Sousuke-kun. Aku akan berusaha membantu sebaik mungkin."
Dengan perasaan yang mirip rasa tanggung jawab, Shion berkata tegas.
"…Tolong ya."
Sejujurnya aku sendiri juga bingung harus bagaimana, jadi Shion yang bersedia membantu sangat melegakan.
"Mm!"
Dia menarik tanganku dengan lembut, mengajakku menuju lantai dua.
Saat aku menoleh ke bawah, Chiyu mengacungkan jempol dengan mantap. Entah perasaan apa yang sedang dia rasakan.
"Oh iya. Kita pakai kamarku saja ya."
Kami menaiki tangga dan masuk ke kamar tidurnya. Begitu masuk, meski jenis dan penataan perabotnya sama, entah kenapa jantungku berdebar. Mungkin karena ini kamar perempuan, atau karena ada aroma dirinya.
Para gadis tampaknya menyimpan sabun, lilin, dan pakaian ganti yang kuberikan di kamar masing-masing.
"Hehe, sepertinya tidak ada barang aneh, kan?"
Shion tertawa, menyadari arah pandanganku.
"Awalnya memang semuanya ditata dengan standar yang sama dan hanya barang penting saja, tapi kalau dipikir-pikir, pasti masing-masing punya selera. Kalau ada yang ingin kubuatkan, bilang saja kapan pun."
Aku bisa menyimpan dan menata ulang barang, dan bagiku kamar hanya perlu untuk tidur, tapi bagi perempuan tentu berbeda.
Dengan kembali melihatnya sebagai "kamar perempuan", aku baru menyadari betapa sederhana ruangan itu.
"…Terima kasih. Tapi sekarang, ada hal yang lebih penting daripada interior kamar."
Mengatakan itu, Shion melepaskan tanganku, naik ke atas ranjang dan duduk berlutut.
"Sousuke-kun, kemari."
Aku pun naik ke ranjang dan duduk menghadapnya. Tanpa aba-aba, kami saling menyentuhkan bibir dan melilitkan lidah. Fakta bahwa hal seperti ini sudah terasa wajar justru membuatku semakin terangsang.
"Mm, fu… chu, rero… chu."
Mata Shion mulai berair dan memancarkan cahaya erotis. Saat bibir kami terpisah, air liur entah milik siapa membentuk benang tipis, yang semakin memicu gairah.
"Sousuke-kun. Kamu melakukan apa saja dengan Chiyu-chan?"
Aku tahu nanti para perempuan pasti akan saling berbagi informasi, tapi mengatakannya sendiri tetap terasa memalukan. Namun kebohongan tidak akan berhasil dengannya, jadi aku pun menceritakan dengan jujur.
"Begitu ya. Kalau begitu, memang lebih tepat dilakukan di dalam ruangan."
Setelah mendengar ceritaku, Shion menepuk pahanya sendiri dengan ringan.
"Sousuke-kun, lepas celanamu dan letakkan kepalamu di sini, ya?"
Aku bisa membayangkan apa yang akan terjadi. Melepaskan tekanan di perut bawah yang penuh harapan, aku melepaskan celana dan melemparkannya ke lantai.
"Wah…! He-hebat… benar-benar… besar."
Shion terbelalak. Memang, meski di buku mesum ukuran seperti ini terasa biasa, melihatnya langsung di dunia nyata tetap mengejutkan.
Namun kalau bicara soal kejutan, dada Shion juga tak kalah. Saat aku berbaring dengan kepalaku di pahanya, memang belum sampai langit-langit tak terlihat, tapi sebagian besar pandanganku tertutup oleh dadanya.
"Hehe, tunggu sebentar ya."
Shion melepas bagian atas seragamnya dan membuka bra. Dua bukit itu bergoyang lembut, membuat batang di selangkanganku bereaksi keras. Apakah pantas berbaring telentang sambil menatap benda seputih dan selembut ini?
"Hehe, reaksimu luar biasa… kelihatannya kamu senang ya, aku jadi ikut senang."
Lalu Shion, dengan gerakan tangannya yang selalu lembut, memegang kontol itu dengan hati-hati.
"Sousuke-kun, kamu sangat suka dada, tapi mungkin karena sungkan… kamu tidak pernah menjilatnya, ya."
Padahal sudah sering diremas, ditindih, dan dijepit. Memang benar, aku belum pernah memasukkannya ke dalam mulut.
"Kamu… tidak tertarik?"
"B-bukan begitu…!"
Aku menjawab dengan cepat, dan Shion tertawa kecil dengan lembut. Wajahnya tidak terlihat karena terhalang dadanya.
"Syukurlah. Karena kalau melakukan hal yang sama persis seperti dengan Chiyu-chan, mungkin tidak akan terlalu berkesan, jadi aku ingin melakukan sesuatu yang berbeda."
Kemudian Shion sedikit membungkuk ke depan. Seketika, aku tenggelam. Seluruh wajahku terbenam dalam dadanya, tercekik oleh kelembutan itu.
Ah, jadi begitu… dalam cerita kriminal kadang ada adegan mencekik orang hanya dengan bantal. Ternyata, payudara besar pun bisa membuat orang kehabisan napas.
Sempat terlintas pikiran bodoh bahwa mati seperti ini pun tidak apa-apa, tapi perlahan napasku benar-benar mulai sesak.
"Ah, maaf. Sakit ya?"
Menyadarinya, Shion sedikit menyesuaikan posisinya.
"Tidak, ini penderitaan yang membahagiakan."
"Ahaha, kamu serius sekali… tapi aku tidak mau Sousuke-kun sampai kehabisan napas, jadi segini saja, ya."
Dia menggerakkan dadanya sehingga bagian ujungnya tepat berada di depan mulutku.
"Silakan, Sousuke-kun. Kamu boleh menjilatnya pelan-pelan."
Aku tak sanggup menahannya lagi, lalu memasukkan tonjolan itu ke dalam mulutku.
Seketika, kebahagiaan yang seakan membuat otakku meledak menguasai seluruh tubuhku. Di dalam mulut, terasa kenyal bergetar seperti puding yang terus menegaskan elastisitasnya, kelembutan lengket yang bahkan melampaui mochi yang baru ditumbuk, dan tonjolan yang terasa paling cocok untuk diminumi susunya dibandingkan sedotan mana pun di dunia ini. Naluri pria yang terukir sejak purba—hasrat paling dasar—dan pencapaiannya membuat jiwaku bersorak gembira.
"Ah, nngh……"
Suara Shion yang meninggi membuat gairahku semakin memuncak, dan aku mulai menggulingkan tonjolan itu di atas lidahku.
"Sousuke-kun…… a-ah, seperti bayi saja. Baik-baik, silakan hisap sepuasnya."
Sambil berkata begitu, Shion mengusap kontolku dengan tangan kanannya. Kekuatan genggamannya dan ritme gerakan naik-turunnya sangat terampil, menghadirkan kenikmatan yang stabil dan menenangkan yang merambat naik dari perut bawahku. Menyusul Chiyu—pengabdian macam apa ini.
Hanya dengan dipangku dan mengisap payudara, gelombang kenikmatan tak ada habisnya menyerbu.
"Ah…… nngh. Benar-benar, jadi besar sekali ya. Ibu jari dan telunjukku nyaris tidak cukup."
Shion berkata sambil mengusap kontolku. Saat membentuk lingkaran dengan ibu jari dan telunjuk—bahkan dengan mempertimbangkan tangan perempuan yang lebih kecil dibandingkan laki-laki—biasanya masih akan tersisa ruang.
Namun kontolku sekarang memiliki ketebalan sedemikian rupa hingga di tangan Shion, membuat lingkaran itu nyaris pas tanpa sisa.
"Hmm, heh…… hmm, heh…… bagaimana? Enak?"
Aku hanya bisa mengangguk-angguk sebagai jawaban. Aku sama sekali tak ingin berpisah sedetik pun dari benda yang sedang ada di mulutku.
"Hehe…… senang sekali kamu menyukainya. Baik-baik, baik-baik, Sousuke-kun. Terima kasih selalu ya. Sudah membuatkan banyak hal, selalu memikirkan kami, dan dengan inisiatifmu memikirkan banyak hal untuk kami. Di pulau seperti ini, aku bisa fokus memikirkan masakan hanya karena Sousuke-kun—aku tahu itu."
Sambil menggosok batangku dengan tangan kanannya dan memberiku payudara, Shion mulai mengelus kepalaku dengan tangan kirinya.
Dibelai dari atas dan bawah—sebuah "disusui sambil diremas" dengan penerimaan sepenuhnya. Ditambah rangsangan dari hisapan pada tonjolan itu, disertai desahan terputus-putus.
"Nggh…… ah. A-aneh…… rasanya jadi, eh, agak aneh."
Meski tubuhnya bergetar kecil, Shion tak menghentikan gerakan tangannya. Di pihakku, otakku sudah dipenuhi euforia, dan batasnya kian mendekat.
"Ah, hehe, aku tahu. Sudah mulai berdenyut-denyut. Sebentar lagi, mau keluar kan? ……ah."
Shion berhenti sejenak, seolah menyadari sesuatu. Detik berikutnya, dengan nada suara yang berubah, ia mengulanginya begini:
"—Mau keluar, dechu ka?"
"――――!?"
—Bahasa bayi, ya……!?
Bahasa bayi dengan kadar manis 100% yang keluar dari seorang gadis cantik tipe rapi—dalam seratus kali hidup pun, belum tentu bisa mengalaminya sekali. Guncangan dan kebahagiaan itu membuat kontolku bereaksi tanpa bisa ditahan.
"Eh, m-masih makin besar lagi……? ……gulp. Be-berarti kamu suka banget, ya? Kalau begitu…… Sou-chan? Enak, dechu~?"
Shion dengan sadar mulai menggunakan nada suara yang sangat "keibuan".
"Yochi, yochi. Anak baik, anak baik~. Hisap banyak-banyak susunya ya. Sampai yang putihnya bisa ‘pyu~ pyu~’, aku bakal kocokin terus, dechu."
Adaptasinya sungguh luar biasa. Pasti ada rasa malu, tapi ia mengesampingkannya dan memerankan semuanya demi kebahagiaanku—sebuah jiwa pengabdian.
Godaan untuk melihat wajahnya muncul, namun aku tak ingin mengangkat kepala. Pengabdian Chiyu adalah jenis yang memeras habis, itu juga sangat luar biasa. Sementara pengabdian Shion terasa seperti menuntun hingga pelepasan—manis-manis yang terfokus.
"Ah, ah, sebentar lagi keluar, dechu ya. Aku tahu se-mu-a tentang Sou-chan kok~. Boleh, keluar kok. Sampai terakhir."
Seluruh tubuhku menikmati kenikmatan yang dibawa Shion, dan akhirnya aku mencapai puncak. Pinggulku bergetar hebat, dan seiring itu cairan putih keruh menyembur dengan kekuatan seperti letusan.
"Kyaa……! Eh, s-sepertinya hampir sampai ke langit-langit…… a, eh… keluar deras, dechu…… lu-luar biasa, dechu……."
Di saat penyemburan, aku menyadari telah mengisap payudaranya dengan kuat; hampir bersamaan dengan berhentinya denyutan, aku perlahan melepaskannya dari mulutku. Bersama bunyi chu, air liur membentuk benang.
"Haa…… haa…… haa……"
Begitu payudaranya sedikit menjauh, pemandangan mengerikan itu masuk ke pandanganku.
Ucapan Shion tentang hampir menyentuh langit-langit rupanya bukan berlebihan.
Setengah bagian kaki tempat tidur dipenuhi percikan cairan putih keruh hingga becek. Benar-benar seperti area yang tertelan magma akibat letusan gunung berapi. Bahkan tangan kanan Shion begitu kotor hingga sulit mencari bagian yang bersih, dengan dampaknya mencapai dekat siku.
Mengerikan, sihir Penguatan Vitalitas.
Mengerikan juga, permainan memanjakan ala Shion.
"Shion, maaf. Dan terima kasih…… itu luar biasa."
"Eh, i-iya. Kalau begitu, syukurlah…… eh—Sou-chan?"
"Hmm?"
"M-masih, keras sekali, dechu…… masih mau keluar kan?"
"…………"
Tanpa menjawab, aku kembali mengisap puting Shion—kali ini sisi yang berlawanan dari sebelumnya.
"Ah…… sudah deh, Sou-chan pintar sekali merengek. Yochi-yochi, keluarkan semua yang putih, sampai Sou-chan lega, aku bakal kocokin terus, dechu."
Tanpa menghiraukan sperma di tangannya, Shion melanjutkan gerakan tangannya.
"Hehe…… biasanya keren, tapi…… saat seperti ini, benar-benar imut ya."
Dalam suara manis Shion, terselip nada kegembiraan. Waktu manis-manis itu pun berlanjut cukup lama.
"Ah…… hehe. Akhirnya lega, sudah baikan?"
Entah berapa lama waktu berlalu. Pemandangan di hadapanku sulit dipercaya bahkan oleh diriku sendiri.
Seperti lautan putih. Kalau biasanya, alas futon pasti sudah tak bisa dipakai lagi. Begitu parahnya kotoran itu. Untung ada fitur penataan ulang penyimpanan.
Shion sempat terkejut dengan jumlah semburan, tapi tampaknya cepat beradaptasi dan menerima bahwa memang begitu adanya; aksinya tak berhenti. Puhaa, aku melepaskan mulut dari payudaranya dan terengah-engah.
Entah berapa banyak yang keluar. Akhirnya…… akhirnya ukurannya kembali ke normal.
"Hmm…… mungkin bukan soal waktu, tapi jumlah ya? Bagian ini perlu diuji, sepertinya."
Nada bicara Shion kembali normal.
"Hehe, tanganku capek. Dan…… putingku juga agak sakit."
"Maaf……"
"Tidak. Seperti yang pernah kubilang, saat Sousuke-kun mengeluarkan semuanya, aku merasa berguna, dan itu membuatku senang. Hari ini, kita juga menemukan permainan favoritmu, dan kamu mengeluarkan begitu banyak…… jujur saja, aku jadi agak terangsang."
Mendengar itu, aku terkejut dan lumayan membangkitkan hasratku.
"Bagaimanapun, ini kebanyakan…… jumlah segini bukan yang bisa dikeluarkan manusia."
"A-ahaha…… luar biasa ya…… di mana tubuh menyimpan sebanyak ini, ya?"
Mungkin setiap kali dikeluarkan, tubuh memproduksinya dengan cepat—itulah sebabnya rasa lelahnya luar biasa. Untungnya, lelah ini mirip kelelahan menyenangkan setelah olahraga.
Shion memainkan cairan putih keruh yang menempel di tangannya. Lengket seperti lem cair, menempel-nempel di tangannya.
"Kita harus cepat beres-beres."
"Ah……"
"Shion?"
"Ehm…… mungkin tunggu sebentar. Sayang kalau langsung dibersihkan…… bukan. Eh, maksudku…… bukan trofi sih, tapi rasa pencapaian? Bukti kalau aku sudah membuatmu sangat nyaman? Karena bisa merasakan itu, aku ingin belum dihapus dulu…… mungkin……"
Shion memerah malu, sepertinya dia sendiri bingung dengan ucapannya. Namun, ketika orang yang mengeluarkannya tidak menganggapnya kotor, bahkan meminta untuk membiarkannya sebentar, aku pun jadi gelisah.
"Kalau begitu, kita bersihkan nanti saja. Tapi, aku ingin cuci badan dulu……."
"Ah, aku juga. Kalau begitu, Sousuke-kun masuk duluan ya? Aku menyusul nanti."
Kalau mandi bersama, bisa jadi membesar lagi, jadi aku setuju berpisah.
Dengan berkali-kali menata ulang air, ember, dan handuk dari penyimpanan, aku mengelap bagian bawah tubuhku yang terkena. Kalau tidak dilap sedikit, aku bahkan tak bisa memakai celana.
"Aku taruh juga punyamu ya…… yang terlihat paling kotor cuma tangan kanan, jadi ember dan handuk satu saja cukup?"
"Iya. Aku lap kasar dulu, nanti di kamar mandi dibersihkan lagi."
"Baik. Aku pergi dulu ya."
Aku menuju pintu.
"Sousuke-kun, terima kasih sudah mengeluarkan banyak."
Selain melayaniku, Shion bahkan mengucapkan terima kasih.
"……Aku juga berterima kasih, Shion. Kau sangat menolong."
"Nanti kapan pun, aku bisa, dechu?"
Shion berkata sambil tersenyum usil.
"Ahaha……"
—Bagaimana kalau ini jadi kebiasaan?
Dengan kegelisahan itu, aku keluar ruangan, turun ke lantai satu dan langsung menuju kamar mandi, menyiapkannya dengan cepat.
Aku mencuci tubuh dengan sabun dan keluar tanpa berendam.
Kembali ke ruang ganti, Chiyu ada di sana. Sepertinya dia sedang memberikan sihir Pemurnian pada ruang ganti. Dia memang bilang akan memberi Pemurnian ke seluruh rumah.
"Sou-kun…… ah, sudah kembali ke ukuran semula, ya."
Pandangan teman masa kecilku tertuju ke kontolku.
"Capek sekali, tahu……"
"Kerja bagus. Penyembuhan Dasar."
Cahaya putih menyelimuti seluruh tubuhku, dan rasa lelah menghilang perlahan.
"……Terima kasih. Capeknya hilang. Nanti tolong lakukan juga pada Shion."
"Siap. Jadi, bagaimana?"
Aku tahu apa yang ingin dia tanyakan.
"Mungkin soal jumlah. Ada kemungkinan waktu juga, tapi……"
Rasanya, setelah sepuluh kali pun seharusnya sudah tenang—jumlah yang tak masuk akal.
"Begitu ya. Tambahan Penguatan Vitalitas."
Cahaya putih menyelimuti kontolku lalu menghilang.
"Hei……! Apa yang kau lakukan!"
"Sou-kun. Untuk menjaga harem yang sehat, diperlukan cinta yang setara. Awalnya memang dari keisenganku, tapi hari ini hanya aku dan Shion-chan yang terlalu banyak dicintai."
Karena nada suara teman masa kecilku terdengar serius, aku pun mencoba memikirkannya dengan sungguh-sungguh.
"……A-apa memang seperti itu ya?"
"Memang begitu. Lagipula, coba pikirkan. Para perempuan itu saling berbagi informasi."
"……Ah, sepertinya memang begitu."
"Dan giliran malam ini adalah Shouko-chan."
"……Ah, iya sih."
Tampaknya setiap malam sudah ditentukan giliran satu orang yang tidur bersamaku.
"Kalau begitu, hari ini Minori-chan saja yang akan berakhir tersisih."
"——!"
"Minori-chan itu, bagaimanapun juga, anggota yang terakhir bergabung. Dia sudah berusaha keras untuk menyesuaikan diri, dan juga berusaha membantu Sou-kun sebaik mungkin. Dalam kondisi seperti itu, bagaimana kalau dia merasa dirinya saja yang dikecualikan?"
Mengingat Minori, meskipun di luar dia terlihat biasa saja, di dalam hati dia mungkin akan sangat terpukul. Kalau dia memang tidak mau dan menolak, itu tak masalah. Namun mengakhiri hari dengan situasi di mana hanya tiga orang yang melakukan hal itu sementara dirinya bahkan tidak diajak bicara, rasanya tidak baik. Aku bisa memahami apa yang ingin disampaikan Chiyu.
"……Baiklah. Kebetulan aku juga ada sesuatu yang ingin kumintakan pada Minori, jadi aku akan keluar sebentar."
Lagipula, menurutku Minori juga gadis yang sama menariknya dengan ketiga yang lain.
Rasanya sedih kalau perasaanku itu tidak sampai padanya, jadi aku setuju untuk bertindak agar hal itu tersampaikan.
"Mm. Selain itu, dengan ini kita juga bisa tahu apakah metode pelepasannya berdasarkan waktu atau jumlah."
"Chiyu, kalau bukan aku, orang lain bisa salah paham dan mengira kamu orang gila, tahu."
Walaupun ada sihir penyembuh saat keadaan darurat, tolong jangan melakukan eksperimen di selangkangan sahabat masa kecilmu.
Meski eksperimen itu justru memberiku pengalaman yang menyenangkan, jadi aku tidak bisa bersikap terlalu keras—itulah yang menyedihkan.
"Kalau kupikir berbahaya, aku tidak akan menggunakannya pada Sou-kun."
"……Ya, aku tahu. Oh ya, Chiyu."
"Apa?"
"Aku mau pakai baju, jadi keluarlah ke lorong."
Aku sedang telanjang bulat.
Setelah entah bagaimana caranya mengusir Chiyu yang terus bertahan di sana, aku mengenakan seragam yang sudah bersih berkat penataan ulang penyimpanan, lalu keluar rumah.
Di sana, terlihat Minori yang terus menembakkan bola api ke arah langit. Dengan tongkat diarahkan ke angkasa, dia melepaskan sihir berulang-ulang.
"Minori, kerja bagus."
"……Ah, Sousuke-san. Ada apa?"
Mungkin karena kelelahan, keringat terlihat di dahinya.
"Maaf, kalau terasa berat kamu boleh menolak, tapi aku ingin sedikit tambahan ‘bahan batu’. Bisakah kamu meruntuhkan tebing yang ada agak jauh berjalan kaki dari sini?"
Seketika, mata Minori berbinar.
"Tentu saja aku akan membantu…! Supaya kita bisa kembali sebelum gelap, ayo kita berangkat sekarang!"
"A-ah, iya."
Kami keluar dari pagar yang dibuat di pangkalan dan berjalan bersama Minori untuk sementara waktu.
"Sousuke-san, kira-kira berapa banyak ‘bahan batu’ yang dibutuhkan?"
"Batu dan kayu itu bahan yang sangat berguna, jadi sebanyak apa pun tidak masalah, tapi… untuk sementara, aku ingin jumlah yang mungkin dipakai besok."
"Besok?"
Aku menjelaskan kepada Minori bagaimana bahan batu itu akan digunakan.
"……Begitu ya, itu mungkin cara yang efektif. Kalau ada yang perlu dikhawatirkan… mungkin Sousuke-san akan dibenci oleh siswa lain."
Dia menatapku dengan pandangan khawatir.
"Kita ini saling memperebutkan satu-satunya ‘hak kembali’, jadi mau tak mau suasana di antara para peserta pasti memburuk. Kalau begitu, lebih baik mengurangi jumlah bentrokan."
"Itu mungkin benar, tapi……"
"Tidak, aku senang kamu mengkhawatirkanku, dan aku juga berniat menyiapkan langkah pencegahan."
"……Benar juga. Kalau identitasnya bisa disembunyikan, yang dibenci bukan Sousuke-san secara pribadi, melainkan hanya ‘sosok misterius’."
"Iya. Kalau begitu, itu hasil terbaik."
Dalam event game, terkadang nama pemain dipublikasikan, jadi aku hanya bisa berharap hal itu tidak diterapkan pada event kali ini. Kalau sampai diumumkan ‘Pemenangnya adalah Kuno Sousuke’, apa pun yang kulakukan, kebencian para peserta pasti tertuju padaku.
Kalau aku sendiri yang mendapatkannya, masih tak apa. Aku ingin menghindari agar teman-temanku mengalami hal seperti itu.
"Sousuke-san, apa kamu ingin pulang secepat mungkin?"
"Hm? Tidak juga. Sejujurnya, kehidupan sekarang ini juga tidak buruk."
Tentu saja aku memikirkan keluarga dan kehidupan di Bumi. Namun jika penjelasan dari papan tulis misterius itu benar, tidak ada aliran waktu. Jika kami kembali, kami akan terbangun di pagi hari setelah sebelum dipindahkan.
Sejak tahu itu, perasaanku jadi jauh lebih ringan. Mungkin bagi papan tulis misterius yang ingin mengamati kehidupan kami di pulau tak berpenghuni, itulah tujuannya.
"Begitu ya. Sebenarnya, aku juga sama. Semua ini berkat semua orang, dan terutama Sousuke-san."
"Kami juga banyak terbantu berkat Minori."
"Terima kasih, aku senang mendengarnya."
Suasana Minori menjadi jauh lebih lembut. Sebelum dipindahkan, dia terlalu menonjolkan sisi kerasnya karena berusaha mematuhi aturan sekolah dan memaksa semua orang melakukan hal yang sama. Tapi bukan berarti dia ingin bersikap keras. Mungkin Minori yang sekarang inilah dirinya yang sebenarnya.
"……Baiklah, di sekitar sini saja ya."
Entah ini disebut dataran tinggi atau apa, tampaknya ada ruang luas juga di atas tebing, tapi kali ini kami akan mengikis sedikit bagian tepinya saja. Tentu saja kami menjaga jarak agar tidak terkena dampak jika terjadi runtuhan batu.
Dengan jarak sejauh ini, kalaupun terjadi sesuatu, penyimpanan lewat inventory masih akan sempat.
"Dengan kekuatan bilah angin, akan terkikis sedikit demi sedikit, apa itu tidak masalah?"
"Ya, tidak masalah. Aku memang belum memikirkannya secara mendalam, tapi proses ‘itemisasi’ yang Minori sebutkan itu tampaknya inti dari kemampuan ini. Misalnya, kalau kita mengumpulkan ribuan kerikil, kita bahkan bisa membentuknya menjadi ‘batu besar’."
Tak peduli ukurannya sebesar apa, nanti tetap bisa diubah ke bentuk ideal.
"……Itu benar-benar luar biasa. Kalau begitu, setelah membuat ‘kayu bakar’, kamu juga bisa mengembalikannya menjadi ‘kayu bangunan’, dan dari ‘garam’, ‘air’, serta ‘nigari’, kamu bisa membuat ‘air laut’, ya?"
"Karena melewati kemampuan ini, mungkin tidak akan persis sama dengan sebelum diurai, tapi itu bisa dilakukan."
Tepatnya, bukan ‘mengembalikan ke bentuk semula’, melainkan ‘menciptakan ulang’. Ini murni adalah ‘kemampuan crafting’.
"Kalau begitu, aku tidak perlu lagi memikirkan ukuran bahan. Aku akan merobohkannya satu per satu."
"Ya, tolong."
Beberapa hari ini, meskipun kami menebang banyak pohon, tak ada seorang pun yang mendekat karena suara. Meski begitu, kami tidak boleh lengah. Namun di pangkalan ada Mashiro, dan di sini ada Minori, jadi apa pun yang terjadi masih bisa ditangani.
Kami membiarkan batu-batu runtuh dari tepi tebing untuk sementara waktu, lalu aku terus memasukkannya ke dalam inventory.
"……Luar biasa. Semuanya masuk. Benar-benar kemampuan yang tidak masuk akal."
"Ya. Tapi dari sudut pandangku, sihir Chiyu dan Minori yang tidak punya batasan jumlah pemakaian juga sama hebatnya."
"Tidak adanya konsep kehabisan mana memang benar begitu."
"Benar. Kalau di game, di awal biasanya kita kesulitan mengatur MP—jumlah mana—jadi ini terasa cukup mengejutkan."
Di game, kesulitan itu kadang menyenangkan, tapi di dunia nyata, kalau ada kehabisan mana, itu sama sekali tidak menyenangkan, jadi jujur saja aku sangat bersyukur.
"Kalau begitu, kita kembali saja ya? Atau masih perlu lagi?"
"……Ah, tidak, sudah cukup. Hanya saja, itu……"
"Sousuke-san?"
Aku tak bisa menghentikan jantungku yang berdegup kencang. Kalau dipikir-pikir, mungkin ini pertama kalinya aku mengajak dari pihakku sendiri. Selama ini, biasanya suasananya terbentuk dengan sendirinya, atau para perempuanlah yang lebih aktif bergerak. Tapi kalau dibiarkan begitu saja, rasanya tidak baik. Aku sendiri harus melangkah.
"Mi, Minori……!"
Aku memeluk Minori dari belakang. Dari tubuhnya tercium aroma sabun—atau mungkin aroma herbal—yang terasa segar dan menenangkan.
"Hya…… So, Sousuke-san……"
"Itu… kamu pernah bilang, kan. Ka-kalau sedang ingin, aku boleh memanggilmu kapan saja"
Terdengar suara Minori menelan ludah dengan gugup.
"I, iya…… a, aku memang bilang begitu."
"Kalau aku memintanya sekarang…… apa tidak boleh?"
"Bu, bukan tidak boleh. Malah… aku senang."
"Be, benarkah? Soalnya aku yang meminta, tapi tolong jangan memaksakan diri ya."
Minori membelai lenganku yang melingkari perutnya dengan penuh kasih.
"Tidak. Aku benar-benar senang. Soalnya… aku sempat khawatir, mungkin aku sudah tidak akan dipanggil lagi."
Kekhawatiran Chiyu ternyata tepat sasaran.
"Tidak, kan sudah pernah kukatakan. Menurutku Minori itu gadis yang menarik."
"Sousuke-san memang bilang begitu, tapi kata-kata ya tetap kata-kata."
Kata-kata dan tindakan, keduanya sama-sama penting. Tapi mungkin, hanya salah satunya saja tidak cukup. Seperti dua roda, jika salah satunya kurang, hubungan antarmanusia mungkin tidak akan berjalan dengan baik.
"Kalau begitu… berarti bertindak sekarang itu keputusan yang benar ya."
"Iya…… dadaku berdebar kencang, tubuhku terasa melayang…… da, dan juga……"
"Apa?"
"Punya Sousuke-san…… itu, menyentuh pantatku……"
"……a, aku jadi terangsang karena Minori"
"B, begitu ya. Karena ini janji… ma, maukah aku membantu ejakulasimu?"
"Terima kasih. Lalu, aku… ada permintaan untuk Minori."
"Iya, silakan katakan apa saja."
"Bisa tolong bertumpu pada pohon itu?"
Minori terdiam sejenak.
"Eh? ……So, Sousuke-san? Itu… anu, setidaknya hal seperti itu sebaiknya setelah kita punya alat kontrasepsi…… maksudku, setelah bisa mendapatkan lateks dari pohon karet…… kalau begitu, dengan ‘kemampuan craft’ Sousuke-san, kan bisa dibuat……"
Dari kata-kata Minori, aku sadar bahwa aku telah membuatnya salah paham.
—Atau lebih tepatnya, kalau bisa dibuat, berarti dia tidak akan menolak…? Hasratku hampir meluap, tapi aku berusaha menenangkan diri dan berbicara padanya.
"Ti, tidak, bukan begitu. Maaf sudah mengejutkanmu. Maksudku memang dari belakang, tapi… yang kuminta itu… aku ingin dijepit."
"Di, dijepit?"
Aku menjelaskan bahwa aku ingin dia menjepit kontolku di antara pahanya, dengan posisi seperti dari belakang. Wajar saja kalau Minori tidak langsung memahaminya.
"……Oh, begitu. Dengan menjepitnya di paha, tekanan yang dihasilkan memberi kenikmatan—hubungan seksual semu, ya."
"I, iya."
"Baiklah. Maaf, tadi aku salah paham."
"Tidak, aku juga minta maaf sudah membuatmu cemas."
Minori mendekati pohon di dekatnya, menumpukan tangan, dan mendorong pantatnya ke arahku. Aku mengangkat rok panjangnya dan menyampirkannya di pinggang. Mungkin karena rasa malu, tubuh Minori bergetar.
"……Kuuh. Po, posisi ini rasanya sangat tidak tahu malu."
"Menurutku… ini sangat erotis."
Aku juga menurunkan pakaianku, memegang kontolku yang telah menegang, lalu menempelkannya di batas antara paha Minori dan celananya.
"Eh? So, Sousuke-san. Entah kenapa, rasanya lebih besar dari kemarin……"
"Ah… barusan Chiyu memberiku Penguatan Vitalitas."
"O, oh… begitu"
"Jadi… mungkin tidak akan cukup hanya sekali"
"—I, iya. Serahkan padaku. Tapi… aku malu, jadi jangan terlalu melihat pantatku"
Aku sebenarnya sudah menyadarinya, tapi sengaja tidak menyentuh topik itu.
Chiyu yang bertubuh agak kecil tapi memiliki dada terbesar. Shion yang ramping tapi berisi, tipe favorit para pria. Shouko dengan tubuh yang sempurna. Dan Minori—yang biasanya tersembunyi oleh rok—memiliki pantat yang sangat besar.
"Tidak, malah aku suka."
"……Be, benarkah? Jangan cuma bersikap perhatian begitu."
"Tidak, sungguhan. Bahkan tanpa sihir vitalitas pun, aku sangat terangsang."
"Ka, kalau begitu… anu, silakan lihat sesukamu."
Tak tahan dengan suaranya yang malu-malu, aku mendorong kontolku masuk.
"Ah…… punyanya Sousuke-san…… masuk……"
Minori mengeluarkan suara lirih yang terdengar pilu. Seperti yang kukatakan sebelumnya, ini hanya menjepit kontol di paha. Namun, kulitnya yang lembut dan tekanan dari pahanya yang tertutup terasa sangat nyaman.
Dia juga dengan baik hati menyesuaikan tenaga agar tidak terlalu licin, itu sangat membantu. Untuk beberapa saat, aku mengulang gerakan masuk dan keluar dengan perlahan.
Kontol besar itu, saat didorong hingga dalam, sesekali keluar dari area pahanya sehingga ujungnya terkena udara dan terasa dingin. Tapi saat ditarik kembali dan dihangatkan oleh pahanya lagi, rasanya sangat menyenangkan.
Setelah berkali-kali mengulanginya, cairan pra-ejakulasi membasahi sela pahanya dan berfungsi sebagai pelumas. Begitu menyadarinya, aku langsung meningkatkan kecepatannya.
"Nn…… fu…… ah, ah…… Sousuke-san, gerakannya, kasar……"
"Kalau sakit bilang ya…!"
"Ti, tidak apa-apa. Lakukan sesukamu. A, lakukan dengan cara yang paling membuatmu terangsang."
Dalam kebersamaanku dengan Minori, fakta bahwa dia yang begitu serius di sekolah mau mengizinkan diriku melakukan hal seperti ini juga semakin membangkitkan gairahku.
Saat kugenggam pantat Minori yang besar, lembut, dan kencang, dagingnya tenggelam mengikuti bentuk jariku. Itu terlalu erotis hingga tanpa sadar aku mengerahkan tenaga lebih besar pada pinggangku.
Seakan meresponsnya, aku juga merasakan kelembapan di antara pahanya semakin meningkat.
Dengan kepala yang hampir tak berpikir jernih, aku menunduk samar-samar dan melihat noda seperti bercak yang melebar di celana dalam Minori.
Apakah itu karena cairanku… atau mungkin…
"Hah, hah, hah…… nn, ah, Sousuke-san…… kuat…… kuat…… lebih… lebih fokuslah padaku…… buat aku lebih berguna…… lakukan sesukamu……"
"Minori……!"
Dia sendiri pun tampak bersemangat, suaranya mulai tersengal-sengal.
"Ah, su, suka... suka, Sousuke-san...! Suka, aku suka...!"
Minori yang berkali-kali menyampaikan perasaannya dengan suara tinggi itu terasa sangat manis dan menyentuh.
Karena suaranya, kegembiraanku mencapai puncaknya, dan kurasakan saatnya akan tiba, sesuatu yang deras akan segera keluar.
Jumlah yang luar biasa banyak telah tercipta di selangkanganku, menandakan bahwa persiapan untuk meledak sudah selesai.
"Minori...! Aku akan keluar...!"
"Ah, nnh, ya. Ke, keluarkan di mana saja yang kau suka...!"
Aku hampir saja menarik kontolku keluar, lalu menyemprotkan cairan keruh putih dalam jumlah besar ke pantatnya yang masih mengenakan pakaian dalam.
"Ah... panas... byururu, byururu, byururu, byut, begitu banyak..."
Setiap kali cairan keruh putih itu menimpanya, Minori dengan patuh terus berseru "byut". Itu mungkin melebihi sepuluh, bahkan mencapai dua puluh. Sifat patuhnya itu, dalam tindakan seperti ini, justru terhubung dengan daya tarik erotis.
Meskipun pikiranku melayang karena kenikmatan yang seolah-olah telah mengeluarkan seluruh kemampuan berpikir, setelah semuanya keluar, kesadaranku mulai menjadi jelas.
"He, hebat... Kemarin juga hebat, tapi hari ini luar biasa ya..."
Kontolku sama sekali tidak layu melihat pantat besarnya yang telah kukotori dengan cairan yang meleleh.
"Minori, maaf... sekali lagi kumohon."
Mendengar ucapanku, tubuh Minori bergetar hebat. Sebentar kukira dia kedinginan, tapi di mata gadis yang hanya menolehkan wajahnya itu, bersinar cahaya penuh nafsu.
"Sampai Sousuke-san puas, kita boleh melakukan banyak hal mesum, lho"
Tentu saja, aku memutuskan untuk memanfaatkan kata-katanya.
Dan aku pun akan terus menggerakkan pinggangku sampai dia berseru "Aku sudah tidak bisa berdiri lagi".
◇
Makan malam adalah sup bakso daging babi hutan. Adonan telur dan daging, tergantung jenisnya, dicampur dengan sayuran atau jamur cincang, sehingga setiap kali masuk ke mulut, terasa perbedaan rasa dan tekstur yang menyenangkan. Supnya mengeluarkan kaldu dari rumput laut kombu, jamur, dan daging, meski rasanya ringan, juga enak.
"Besok akhirnya kita akan berangkat, ya."
Ucap Shion dengan penuh perasaan.
"Nhnn. Iya ya-"
Shouko sudah meminta tambah, berusaha mengisi mangkuknya dengan sup bakso dari panci di atas meja.
"Aku tidak keberatan dengan strategi Sou-kun. Tinggal detail aturannya yang ingin kita ketahui."
Chiyu memulai pembicaraan, dan Minori mengangguk.
"Betul. Nanti malam, kita coba tanyakan."
Tapi Minori itu, apakah bukan hanya perasaanku saja jika dia tampak lebih lahap dari biasanya? Mungkin karena dia habis mengeluarkan energi saat "olahraga" tadi.
Saat aku akhirnya sadar setelah menggempurnya sampai kakinya tidak bisa berdiri, pantatnya sudah berwarna putih, dan dari antara pahanya juga meluap cairan putih keruh seperti air bah. Bahkan pada tembakan terakhir, dia sampai terjatuh dari posisi berlutut.
Aku tegaskan sekali lagi, kami hanya melakukan gesekan paha. Setelah membereskan segalanya, aku menggendongnya pulang.
Kami berdua minta Chiyu memberikan 'Penyembuhan Tingkat Menengah' pada kami. Rasa lelahnya hilang, tapi status nutrisi tidak termasuk dalam pemulihan.
Semakin banyak bergerak, semakin lapar. Aku juga makan lebih lahap dari biasanya. Ini mungkin lebih karena konsumsi energi dari tiga "pertarungan" berturut-turut setelah makan siang, daripada karena satu "pertarungan" dengan Minori.
Sepertinya penyebabnya adalah karena aku terlibat dalam aktivitas seperti itu berturut-turut dengan Chiyu, Shion, dan Minori.
Ketika pandanganku bertemu dengan Minori, dia menunjukkan wajah yang malu-malu, namun juga agak bangga.
Sepertinya dimintai olehku memberikan dampak positif baginya. Tentu saja, bagiku juga, bisa menjadi dekat dalam berbagai arti dengan gadis menarik seperti Minori adalah hal yang sangat menggembirakan.
Setelah membalas senyumannya, aku melihat ke sekeliling semua orang.
"Mari kita review strategi kita. Pertama, kita akan bergerak dengan menyembunyikan identitas. Jika kita mengenakan jubah linen di atas seragam, tidak akan ketahuan kecuali dilihat dari jarak sangat dekat."
Hampir tidak ada orang yang mengingat ucapan semua orang di mimpi pertama. Meski ada risiko identitas terbongkar hanya dari kemampuan, itu lebih baik daripada menampakkan wajah asli. Untuk Shion dan Minori, karena mereka tidak mengungkapkan kemampuan mereka di kelas, jika wajah mereka tersembunyi, identitas mereka juga tidak akan terbongkar dari kemampuan mereka. Karena bisa disembunyikan, tidak ada alasan untuk tidak melakukannya.
"Nn. Sou-kun akan diperkuat dengan sihirku untuk berlari. Fokus pada mobilitas."
Bahkan dengan mempertimbangkan penanganan terhadap siswa lain, aku menilai lebih baik aku berlari sendiri karena lebih lincah.
"Kami akan bergerak dengan menunggangi Mashiro. Saat penguatan untuk Sousuke habis, Chiyucchi akan memasangnya lagi, begitu seterusnya, kan?"
Selanjutnya, berdasarkan penilaian Chiyu atau aku, penguatan pada teman juga akan diberikan sewaktu-waktu.
"Jika bertemu teman sekelas, aku yang akan mendengarkan pembicaraan mereka dan dengan cepat menilai apakah mereka berbahaya atau tidak. Ini bukan hanya untuk acara ini, tapi juga informasi yang berguna untuk hubungan kita ke depan, jadi akan kukerahkan yang terbaik."
Kemampuan Shion 'Mendeteksi Kebohongan' benar-benar menunjukkan nilainya dalam interaksi antar manusia. Jika ada yang menawarkan kerjasama setelah melihat kekuatan kami, sekalipun mereka menutupi niat tersembunyinya dengan kata-kata manis, Shion akan mengetahuinya.
Sebaliknya, jika ada yang benar-benar mengutarakan keinginan untuk bekerjasama dari lubuk hati, mungkin kita bisa akrab dengan orang itu bahkan setelah acara ini.
Dalam permainan di mana hanya satu orang yang bisa menang, mereka yang bisa bekerjasama dengan pemahaman itu layak dipercaya.
"Siswa yang melakukan tindakan permusuhan atau berbohong untuk menipu kita, akan ditangani oleh Sousuke-san. Dalam batas yang tidak melanggar aturan, kita akan menghambat mereka dan mengurangi jumlah pesaing."
――[Jika memilih mati sendiri, membunuh orang lain, atau tindakan lain yang mengakhiri aktivitas bertahan hidup pemain, akan kehilangan "1825" poin.]
Meski aturan ini tidak ada, tidak ada niat untuk melakukan pembunuhan, tapi kita harus berhati-hati untuk mencegah kemungkinan terburuk.
"Oke, sepertinya semua orang sudah siap."
Review strategi selesai, dan waktu makan malam pun berlalu dengan tenang. Semua orang mengucapkan terima kasih atas makanannya, dan selanjutnya adalah waktu mandi.
Aku mandi duluan, dan sementara para wanita mandi, aku menyelesaikan berbagai urusan membereskan. Seperti kamar Shion yang sudah kotor, menyimpan dan merapikan barang-barang di dapur, serta menata ulang agar rapi.
Ngomong-ngomong, selagi aku dan Minori mengumpulkan batu, Shouko memanggil domba, dan bertiga mereka mencukur bulu serta memerah susu. Ini karena jika memanggil naga halus, akan mencapai batas panggilan dan untuk sementara tidak bisa memanggil makhluk lain.
Susu, kulit, dan berbagai hal lain yang didapat dari domba sangat berguna, jadi perhatian ini sangat berharga. Sementara semua orang bekerja, Minori yang asyik dengan aktivitas mesum bersamaku, setelah melihat itu, sempat terlihat bersalah.
Mungkin dia akan merasa lebih lega jika tahu bahwa semua orang melakukan hal yang serupa berkat berbagi informasi antar para wanita.
Sambil memikirkan hal itu, aku menatap lilin di dalam kamar.
"...Ah, bagaimana kalau membuat lentera?"
Dengan memasukkannya ke dalam wadah kaca, mungkin cahayanya bisa lebih terang. Saat aku memikirkan berbagai hal, resepnya terbuka, jadi segera kubuat dan kumasukkan lilin.
"Ooh, sepertinya jauh lebih baik."
Selain itu, dengan ini kan jadi lebih mudah dibawa-bawa. Rumah ini juga terbuat dari kayu, dan membawa lilin telanjang meski di atas penyangga lilin juga berbahaya.
"So, Sousuke-?"
Suara malu-malu Shouko terdengar dari balik pintu.
"A, aah, masuklah."
Begitu mendengar suara Shouko, aku teringat apa yang akan kami lakukan selanjutnya, dan menjadi tegang.
"Un... Aduh, kok jadi agak terang ya?"
Shouko masuk ke kamar sambil membawa penyangga lilin yang memiliki pegangan, dan mengeluarkan suara terkejut.
"Aku coba buat lentera. Tentu, nanti aku buatkan untuk semua orang juga."
"Ooh. Hebat sekali, Sousuke. Kehidupan kita jadi semakin mudah."
"Jujur, menyenangkan ya kalau bisa membuat kerajinan yang bertambah."
"Aku paham. Aku juga senang memikirkan hewan halus apa yang bisa kupanggil. Sebenarnya, mungkin ini bukan situasi untuk mengatakan hal seperti itu."
"Aah. ...Tapi Shouko—kenapa pakai seragam?"
Ya, Shouko mengenakan seragam. Selagi para wanita mandi, seragam dan pakaian dalam juga disimpan dan ditata ulang agar bersih. Jadi kalau dikatakan tidak masalah memang tidak masalah, tapi biasanya dia pasti sudah berganti piyama. Selain itu, melalui kemejanya, terlihat samar-samar tonjolan berwarna pink.
"Nn—"
Shouko meniup lilin miliknya, meletakkannya di atas mejaku, lalu berbalik menghadapku.
"Karena ini paling cocok untuk apa yang akan kita lakukan, ya kan, Sousuke?"
Berkata demikian, Shouko meletakkan tangannya pada kancing. Tapi, bukan dari atas atau bawah, dia hanya membuka kancing-kancing di sekitar garis yang menghubungkan kedua tonjolan.
"Atau lebih tepatnya, Sousuke, hari ini kan giliranku, tapi dari pagi sepertinya kamu sudah bolak-balik ngasihin ke semua orang. Apa kamu masih bisa ereksi untukku?"
Shouko naik ke tempat tidurku sambil berkata seperti orang kesal.
"Tidak, bukan begitu."
"Beneran—?"
"Beneran. Lagipula, habis mandi aku dikasih Penguatan Vitalitas..."
"Eh, aku nggak dengar... O, oh gitu. Yang itu... yang nggak berhenti kalau nggak keluar sepuluh kali?"
"Itu dia."
"A, agak bahaya—. Ta, tapi, kalau masih ereksi, ya udah gapapa."
Shouko tetap di atas tempat tidur, duduk menyandarkan punggung ke dinding, lalu menatapku.
Kemudian dengan jarinya, dia membuka celah seragamnya. Tsuu, dia membuka bagian antara dadanya dan memperlihatkannya padaku.
"Di sini dalamnya, mau masukkan?"
Aku merasakan sesuatu yang menggembung mulai muncul.
Shouko yang membuka sebagian seragamnya tanpa bra, mendorong agar kontolku dimasukkan.
Situasi seperti keluar dari buku mesum ini membuat dadaku berdebar-debar tak tertahankan.
"Pakai yang licin, ya."
Mungkin maksudnya losion. Apakah dia mendengarnya dari Shion atau yang lain? Aku melepas celanaku dan berlutut tepat di depan Shouko. Melihat sesuatu di pinggangku, matanya melotot.
"Benar-benar... J, jadi begini rupanya...? Sousuke, tidak sakit kah?"
"Tidak sakit sih... tapi rasanya hasratku lebih besar dari biasanya."
"H, huuun? A, artinya, kamu ingin menyemprotkan banyak-banyak?"
"I, iya."
Shouko menatapku dengan wajah penuh harap sekaligus nakal, dari bawah ke atas.
"Boleh kok? Semau kamu, keluarkan saja sebanyak yang kamu mau."
"Guh... a, aa."
Ekspresinya yang terlalu memikat membuat kontolku berkedut naik.
Meski Shouko yang polos dulu tidak sepenuhnya hilang, dia dengan cepat mulai terbiasa dengan tindakan-tindakan seksual. Fakta bahwa itu adalah pengaruh dariku membawa kegembiraan yang tak terkatakan.
Aku menempatkan losion dalam wadah kecil di dekatku dan meneteskannya ke kontolku. Kontol yang diterangi cahaya lentera mulai berkilau licin dengan aura yang menggoda.
Payudara Shouko, yang dikencangkan oleh kancing seragamnya, terlihat memiliki tekanan yang tepat. Aku menempatkan kontolku di celah yang terbuka sebagai pintu masuk, lubang di mana kulit lembutnya terlihat, dan mendorongnya sekaligus.
Seolah-olah memang diciptakan untuk itu, payudara Shouko menyambut kontolku.
"Ahh..."
Dia menggoyangkan bahunya.
Aku terkejut, lalu segera mengerti. Bahkan dengan payudara besar Chiyu pun tidak bisa menutupi sepenuhnya, apalagi batang yang sedang dikuatkan. Wajar jika hal yang sama terjadi pada Shouko.
Artinya, ujungnya menusuk jauh ke dalam dada Shouko, hingga ke ujung lembahnya, sementara pangkal batang masih terlihat. Terlalu besar hingga tidak muat sepenuhnya.
"Maaf, apa sakit?"
"Ga, gapapa. Cuma, cuma kaget aja... Gawat nih Sousuke, ini nggak muat semuanya."
"Be, benar juga..."
"De, dengan begini, apa masih enak?"
Shouko dengan wajah cemas.
"Tentu saja. Bahkan, ini sangat enak."
"O, oh gitu. Ya udah, silakan gerakkan sesuka kamu."
Di dalam payudara yang hangat dan licin. Tekstur dan tekanannya pun pas, begitu nyaman hingga ingin selamanya terbenam di dalamnya. Dengan izin Shouko, aku mulai membenturkan pinggangku dengan suara 'pachyu pachyu'.
Payudara lembut yang bergoyang setiap kali ditusuk. Wajah Shouko yang memerah jika dilihat dari atas. Pengulangan sederhana menarik dan mendorong memberikan kenikmatan yang manis.
"Nn, nn, kontol Sousuke, lagi mesum sama dada aku... a, ahaha."
Entah losion atau cairan pra-ejakulasi, perlahan noda mulai melebar di seragam Shouko, kainnya menempel pada kulit di bawahnya dan menjadi transparan. Itu semakin merangsang nafsuku tak tertahankan, dan pinggangku semakin cepat.
"So, Sousuke. Ce, cepat. Itu juga keras... bentuk payudaraku bisa berubah lho."
"Maaf Shouko, kalau tidak suka akan aku hentikan, tapi kau terlalu menggoda hingga aku tidak bisa berhenti..."
"?! Ng, nggak apa sih, a, aku, mau kamu terlalu tergila-gila sama aku..."
Melihat wajahnya yang tampak senang di suatu sisi, aku menyimpulkan dia tidak keberatan. Aku terus melanjutkan gerakan maju mundur pinggangku dengan suara 'panpan pachyu pachyu'.
Meski terasa seperti tindakan yang cukup menyimpang, ada juga bagian yang tidak bisa dihindari.
Di pulau ini, alat kontrasepsi tidak tersedia. Selama ini, aku hanya menikmati apa yang diizinkan oleh para gadis, tapi mungkin saja bahkan itu sudah menjadi kesepakatan di antara mereka. Seperti berusaha menahan diri untuk tidak melakukan hubungan yang sebenarnya.
Dan Minori juga pernah berkata. Kalau menemukan pohon karet... Memang dengan 'kemampuan crafting' ini, mungkin bisa membuat kondom dari lateks. Jika itu terwujud...
Bagaimana jadinya hubunganku dengan para gadis yang sudah dengan penuh pengabdian memenuhi keinginanku? Mungkin, akan lebih ekstrem dari sekarang—?
"Shouko...!"
"Eh, wah, fu, membesar. Aha, mau keluar ya? Sudah mencapai batas dengan dadaku? ... Boleh kok, Sousuke. Semprotkan saja, sepuasnya."
"Guh...!"
Aku mengikuti hasratku dan menyemburkan ke dalam dada Shouko. Saat itu juga, hal mengejutkan terjadi.
"Sini~"
Tujuan Shouko ada di sini. Karena memakai seragam, tidak perlu lagi meremas dengan tangan untuk menambah tekanan. Lalu apa yang dilakukan dengan tangan yang kosong?
Saat ejakulasi, dia memeluk pinggangku dengan erat penuh kasih sayang, seperti seorang gadis kecil memeluk boneka kesayangannya. Ditambah kekuatan dorong pinggangku, pelukannya meningkatkan keintiman hingga batas tertinggi. Hampir pingsan karena kenikmatan tertinggi, hanya pinggangku yang masih bergerak dengan penuh semangat.
"Ah, eh? Gawat masih lanjut? Ah, mulai meluap juga."
Dari lembah payudara Shouko, sperma mengalir deras seperti mata air, menyebar ke seluruh kemejanya. Suara manisnya sampai ke pusarku, terasa geli di suatu tempat.
"... Gimana, Sousuke, enak?"
"... Luar biasa."
"Hore. Yeey. Aku juga... tidak ingin kalah dengan yang lain."
"Kalah...?"
"... Ju, jujur aja masih malu, memperlihatkan tubuh telanjang atau semacamnya, belum bisa mudah melakukannya... tapi perasaan suka sama Sousuke, aku tidak akan kalah."
"... Shouko."
Dengan pikiran yang mulai dingin, aku berpikir dan teringat.
Shouko memang malu memperlihatkan tubuh telanjangnya. Saat pertama kali dia masturbasi untukku dengan tangan, dia melepas bagian atas bikininya, tapi menyembunyikan dadanya dengan menempelkannya di punggungku. Kali ini juga konten permainannya luar biasa, tapi kalau dipikir-pikir, dari segi eksposur itu minimal. Apakah dia memikirkan hal itu?
"Aku akan berusaha sesuai caraku. Jadi, mau menunggu sebentar lagi...?"
"Tidak, menunggu apanya..."
Karena keluguannya, kontolku menjadi ereksi dan keras.
"... So, Sousuke. Ngomong-ngomong, kontolmu masih keras. Oh iya, karena sihir Chiyu..."
"Itu juga, tapi karena Shouko imut."
"Apaan sih...! Kamu ngomong gitu sambil nyelipin kontol di dada?"
"Ma, maaf..."
"Su, sudahlah... Katakan juga saat tidak sedang melakukan hal mesum."
"A, aah. Tentu saja."
"Ya udah bagus. Itu... pakai dada Shouko-chan yang imut ini ya, sampai puas, oke?"
Ke dalam dada Shouko yang masih becek, aku mulai membenturkan pinggangku dengan penuh semangat lagi.
"Ahh... fufu."
Shouko setiap kali mengeluarkan melakukan 'gyuu~' seperti tadi, dan aku bisa mengeluarkan semuanya dengan nyaman sampai akhir.
◇
[Hari keempat telah berakhir]
Ruangan putih yang sudah mulai terasa familiar.
Beberapa saat setelah mimpi dimulai, tulisan kembali muncul di papan tulis hitam—seperti biasanya.
[Kami akan menjelaskan detail Event Khusus Start Dash]
[・Mengenai aturan Event Khusus Start Dash
Setelah hari kelima dimulai, seluruh peserta akan bangun pukul lima pagi.
Waktu persiapan selama sepuluh menit akan diberikan. Setelah waktu persiapan berakhir, seluruh peserta akan ditransfer ke lokasi acak berdasarkan masing-masing party. Setelah transfer selesai, sebuah bola cahaya akan muncul dan dapat dilihat oleh seluruh peserta.
Jika hingga akhir hari kelima ada peserta yang berhasil memperoleh bola cahaya tersebut, orang itu akan mendapatkan ‘Hak Kembali’.
Jika hingga akhir hari kelima tidak ada peserta yang berhasil memperoleh bola cahaya, maka tidak akan ada hadiah yang diberikan]
Tidak banyak hal baru yang terungkap, tetapi ini adalah informasi penting.
Kami akan dibangunkan serempak pukul lima pagi dan harus menyelesaikan persiapan hanya dalam sepuluh menit.
Karena akan dipindahkan secara paksa ke suatu tempat di pulau ini, sebaiknya rumah dan barang-barang penting disimpan terlebih dahulu.
Jika tidak ada yang berhasil mendapatkannya, maka tidak ada hadiah—itu masih bisa dimengerti.
Hal yang membuat penasaran adalah…
"Maaf, apa yang dimaksud dengan party?"
Minori bertanya. Pertanyaannya masuk akal, karena istilah itu baru muncul pertama kali di pulau ini.
[・Mengenai fitur party
Jumlah anggota minimum dalam sebuah party adalah satu orang.
Setiap party harus memiliki seorang pemimpin.
Peserta yang ingin bergabung harus mendapatkan persetujuan dari pemimpin party.
Peserta yang ingin keluar harus mendapatkan persetujuan mayoritas anggota party.
Fitur party yang saat ini tersedia hanyalah: ‘dipindahkan ke koordinat yang sama saat event’ dan ‘mengetahui lokasi anggota party’.]
Begitu rupanya. Papan tulis misterius itu tentu sudah mengetahui bahwa ada kelompok-kelompok yang terbentuk. Mereka memberi pilihan: bergerak terpisah atau bertindak bersama.
"Kita bakal satu party, kan?"
"Iya. Bisa ditransfer bersama dan saling mengetahui posisi itu menguntungkan buat kita."
Aku langsung menjawab perkataan Shouko. Semua mengangguk dengan ekspresi lega—kecuali Chiyu, yang tetap tanpa ekspresi.
[・Hal yang perlu diperhatikan saat mencoba mendapatkan bola cahaya
Bola cahaya adalah objek terbang seukuran bola sepak.
Ia memiliki penglihatan dan akan bergerak untuk menghindari para pengejar.
Bola cahaya selalu berada di posisi yang bisa dilihat oleh setidaknya satu peserta.
Peserta yang melakukan tindakan yang melukai orang lain saat mencoba menangkap bola cahaya akan kehilangan 100 poin.]
Pengurangan poin sebagai penalti berarti satu poin setara dengan satu hari.
Jika seseorang kembali ke Bumi dengan poin nol dan memiliki minus 365 poin, maka setelah kembali ia akan koma selama satu tahun. Dari aturan sebelumnya, hal itu bisa dipahami.
"Kalau peserta bersaing langsung dengan tubuh mereka sendiri, bentrokan dan adu strategi pasti terjadi. Dari mana batasannya sampai dianggap ‘melukai’?"
[Definisi ‘tindakan yang melukai orang lain’ adalah ‘melukai dengan sengaja’.
Membujuk dengan kata-kata agar seseorang menyerah dari partisipasi aktif dalam event, menghalangi secara sengaja tanpa menyebabkan cedera, atau cedera yang terjadi tanpa unsur kesengajaan—semua itu tidak dikenai penalti.
Namun, penilaian apakah suatu tindakan disengaja atau tidak akan kami tentukan sendiri.]
"Berarti mereka punya kemampuan untuk mengetahuinya ya…"
Shion bergumam. Mereka bahkan memberikan Shion kemampuan untuk mengetahui kebohongan. Jadi tidak aneh jika papan tulis misterius itu punya kemampuan serupa atau bahkan lebih tinggi, termasuk membaca isi hati.
Tidak akan ada pengadilan atau kesempatan membela diri—keputusan akan langsung dijatuhkan.
Alasan seperti "tidak sengaja" tidak akan berlaku jika itu bohong. Kalau kebohongan terbaca, langsung gagal.
Namun, mengetahui bahwa menghalangi itu sendiri bukan pelanggaran adalah keuntungan besar. Tentu saja, itu juga berarti kami harus waspada terhadap gangguan dari peserta lain.
Mengenai kecepatan spesifik bola cahaya, jawabannya adalah "tidak dapat kami ungkapkan".
Namun dipastikan bola itu tidak akan terbang ke ketinggian yang mustahil dicapai dan juga tidak akan menyelam ke dalam air.
Artinya, mereka memang berniat agar bola itu bisa ditangkap.
Kalau event ini mustahil, semangat peserta justru akan hilang—itu bertentangan dengan tujuan mereka.
"Aku penasaran, apakah nama orang yang mendapatkan bola cahaya akan diumumkan ke peserta lain?"
Pertanyaan yang juga kupikirkan diajukan oleh Chiyu.
[Kami tidak akan mengumumkan siapa yang memperoleh bola cahaya. Namun, karena sifat event ini, ada kemungkinan momen perolehannya disaksikan oleh peserta lain.]
Kalau begitu, tidak bisa dihindari.
Setidaknya pihak papan tulis tidak akan mengumumkannya secara resmi. Setelah susah payah mendapatkan Hak Kembali, dibenci oleh seluruh peserta lain jelas akan merepotkan.
[Pertanyaan: Apa yang dibutuhkan untuk kehidupan selanjutnya?]
—Pertanyaan ini muncul lagi hari ini.
[Padi / Gandum]
"—Datang juga! …Tapi timing-nya begini amat."
"Dua pilihan ini kejam banget, ya…"
"Roti atau nasi? Mana bisa milih!?"
"Kalau padi: nasi, bubur, dango, mochi, senbei."
"Kalau gandum: roti, kue, makanan panggang, olahan tepung, mie, adonan gorengan…"
Aku, Shion, Shouko, Chiyu, dan Minori bereaksi satu per satu. Apa pun pilihannya, dengan kemampuan craft dan keahlian memasak Shion, semuanya bisa dimanfaatkan dalam berbagai bentuk.
Hal-hal yang disebut Chiyu dan Minori pun seharusnya bisa dibuat seiring waktu.
"Kita pilih saja berdasarkan apa yang ingin dimakan. Supaya tidak ribut, semua pilih dalam hati. Harusnya bisa tersampaikan."
Setelah berpikir keras, aku memilih padi.
Gandum memang sangat serbaguna, tapi sebagai orang Jepang, aku tidak bisa menahan keinginan untuk makan nasi putih setiap hari.
Sebagai laki-laki, makanan berbahan tepung, mie, dan gorengan juga menggoda. Sementara bagi perempuan, mungkin kue dan makanan manis lebih menarik.
Gandum mencakup selera banyak orang, tanpa memandang usia atau gender. Namun tetap saja, aku juga suka wagashi berbahan beras, dan yang paling ingin kumakan setiap hari adalah nasi.
Karena setiap orang punya pertimbangan masing-masing, waktu pemungutan suara kali ini paling lama sejauh ini.
"Beras? Gandum? Kira-kira yang mana ya…"
Shion menatap papan tulis dengan wajah tegang. Awalnya padi unggul, tapi perlahan suara gandum menyusul.
Ketegangan berlanjut, dan akhirnya—
[Karena telah melewati mayoritas, pemungutan suara ditutup.]
[Mulai hari kelima, ‘gandum’ akan ditambahkan ke lingkungan.]
"Jalur roti, ya~"
Shouko bersuara dengan nada antara senang dan kecewa.
Gandum memang bahan yang menyenangkan untuk ditambahkan, tapi tetap saja sayang karena padi menjauh.
Dan karena pemungutan suara sudah selesai…
"Oh iya. Setelah event selesai, apa yang terjadi pada para peserta? Dibubarkan di tempat atau dikembalikan ke lokasi awal itu beda besar, lho."
[Seluruh peserta yang masih hidup saat event berakhir akan segera ditransfer kembali ke koordinat sebelum penempatan.]
Pendapat orang mungkin berbeda-beda, tapi bagiku ini kabar baik. Karena dipindahkan kembali secara paksa, tidak perlu khawatir dikejar siapa pun. Kalau dibubarkan di tempat, meskipun ada Mashiro, tetap ada kecemasan tersisa.
Kalau menemukan orang yang bisa jadi sekutu, aku bisa meminta Mashiro mengingat aromanya lalu mencarinya nanti.
Atau kalau mereka bergabung ke party saat event, apakah kami akan kembali bersama setelahnya?
Aku hendak menanyakan hal itu, tetapi pandanganku mulai tertutup cahaya putih.
[Hari kelima dimulai.]
Sebuah event di mana satu orang bisa mendapatkan hak untuk kembali ke Jepang—akhirnya dimulai.





Post a Comment