Epilog
Kami Telah Menjadi Keluarga
Setelah
kejadian itu, seluruh permasalahan pun menemui titik akhirnya. Insiden ini
menjadi penyebab dicabutnya gelar bangsawan keluarga Viscount Kehormatan Evern.
Ayah
Rest, Lucas Evern, sebelumnya dipercaya sebagai penyihir istana untuk mengelola
benda-benda sihir berbahaya.
Karena
salah satu benda yang ia kelola, yaitu Tongkat Iblis, dicuri dan disalahgunakan
oleh putranya sendiri, Cedric, maka secara otomatis ia harus memikul tanggung
jawab atas kelalaian tersebut.
Lucas
dicopot dari jabatannya sebagai penyihir istana. Ia kehilangan gelar bangsawan
yang melekat pada posisinya dan jatuh menjadi rakyat jelata.
Seluruh
hartanya pun disita habis sebagai uang ganti rugi bagi Rest—selaku korban
penyerangan Cedric—hingga ia kehilangan segalanya dan terancam luntang-lantung
di jalanan.
Setelah
kehilangan status, jabatan, harta, bahkan putra kesayangannya, entah apa yang
ada di pikiran Lucas hingga ia mencoba datang menangis memohon bantuan kepada
Rest.
Ia
meminta Rest untuk membujuk Marquis Rosemary, meminta agar mereka diurus,
bahkan meminta belas kasihan berupa uang. Mengingat betapa kejamnya ia menyiksa
putranya dulu, tindakannya yang kini mencoba bergantung tanpa tahu malu ini
benar-benar sebuah puncak kebebalan.
"Jika
Anda menampakkan wajah lagi di hadapan Tuan Rest, saya sendiri yang akan
memastikan Anda dikirim ke pertambangan sebagai kriminal. Atau mungkin, Anda
tidak keberatan menjadi bahan percobaan untuk ramuan sihir jenis baru?
Bagaimana menurut Anda?"
Mendengar
ancaman dari Dieble, sang kepala pelayan yang melayani mereka, Lucas dan
istrinya, Liza, segera menghilang ke arah gang sempit dengan penampilan
compang-camping seperti pengemis.
Liza
mungkin pengecualian, namun Lucas adalah seorang penyihir. Selama ia tidak
pilih-pilih pekerjaan, sebenarnya masih ada kesempatan baginya untuk bangkit.
Tentu
saja, itu hanya jika ia mau membuang gengsi sebagai mantan bangsawan dan
memulai hidup dari nol sebagai rakyat jelata biasa.
Bagaimanapun
juga, hubungan antara keluarga Viscount Kehormatan Evern dan Rest telah
terputus sepenuhnya. Seluruh ikatan buruk itu kini telah mencapai babak akhir.
◇
Di luar
urusan itu, ada hal yang jauh lebih penting bagi Rest daripada nasib akhir
keluarganya.
Setelah
mengalahkan Cedric yang berubah menjadi iblis, Rest kembali ke kediaman Marquis
Rosemary. Di sana, dua orang telah menunggunya berdiri di depan pintu masuk.
Gadis-gadis
yang menunggu sambil menangkupkan tangan seolah sedang berdoa—Viola dan
Primula—seketika memancarkan binar di mata mereka saat menyadari sosok Rest.
"Ah, Rest-kun!"
"Tuan Rest!"
"Eh? Kalian berdua menungguku?"
Melihat Viola dan Primula yang menunggu di bawah sinar
matahari senja yang hampir tenggelam, Rest tak kuasa menahan rasa terkejutnya.
Padahal ia tidak
memberi tahu kapan akan pulang, sudah berapa lama mereka menunggu di sana?
"A-ah, um...
kami merasa khawatir. Soalnya kau pergi ke tempat itu, kan?"
"Hanya
kereta kudanya yang pulang lebih dulu, jadi kami pikir telah terjadi sesuatu
padamu!"
Viola berbicara dengan nada canggung, sementara Primula
terdengar sedikit marah.
"Begitu ya... Maaf, sepertinya aku sudah membuat kalian
khawatir."
Sambil
meminta maaf, Rest merasakan ketenangan yang menjalar di dadanya. Sepanjang
perjalanan pulang, perasaannya sempat muram karena terpaksa harus membunuh
kakak kandungnya sendiri.
Namun,
hanya dengan melihat wajah kakak beradik itu, perasaan kalutnya seketika sirna
dan digantikan oleh emosi yang hangat.
(Tempat untuk pulang... Benar, di sinilah rumahku yang
sebenarnya.)
Dirinya
diterima. Ada orang yang mencemaskannya. Rest sempat melupakan perasaan ini sejak kehilangan ibunya. Ternyata,
memiliki seseorang yang menunggu kepulangan kita adalah sebuah kebahagiaan yang
luar biasa.
"Maaf sudah
membuat khawatir. Tapi... berkat itu, aku berhasil menyelesaikan segalanya
dengan benar," ujar Rest sambil tersenyum.
Sebenarnya ia
harus segera melapor kepada Albert selaku atasan penyihir istana tentang
kejadian tadi, namun ada hal yang lebih penting yang harus ia sampaikan kepada
mereka berdua.
Ia sudah membuat
mereka menunggu terlalu lama. Ia tidak berniat menundanya lagi, meski hanya
sedetik pun.
"Viola,
Primula."
Rest merasakan
jantungnya berdegup kencang saat ia berlutut di tempat itu. Ia mengulurkan
kedua tangannya kepada mereka berdua, lalu mengucapkan kata-kata pengakuan itu.
"Menikahlah denganku... Tolong, jadilah
keluargaku...!"
““............!””
Mendengar kata-kata itu, kedua bersaudari tersebut
membelalakkan mata dengan ekspresi terkejut yang persis sama.
Setelah sempat mematung sejenak, mereka saling bertukar
pandang, dan tak lama kemudian senyum mereka merekah seindah bunga yang
bermekaran.
"Dengan senang hati!"
"Wah!"
Viola dan Primula menyambar tangan yang terulur itu dan
langsung memeluk Rest dengan semangat.
"Aku tidak
akan membiarkanmu menarik kata-katamu, ya! Kau harus benar-benar menjadi
suamiku!"
"Aku juga
akan melahirkan anak-anakmu! Aku dan Kakak akan memberimu sepuluh anak, jadi
bersiaplah!"
"Hahaha...
itu memang yang kuharapkan."
Sambil sedikit
terhimpit oleh beban lembut mereka berdua, Rest tertawa kecil. Suhu tubuh yang
hangat dan menenangkan menyelimutinya.
Tanpa perlu
dikatakan pun, ia tidak akan pernah melepaskan kehangatan ini untuk kedua
kalinya.
"Kalian
berdua, mohon bantuannya mulai sekarang."
"Baik!"
Sambil jatuh telentang di atas tanah, Rest menatap wajah kedua bersaudari yang kini dipenuhi air mata kebahagiaan.
Orang-orang
yang telah bersedia menjadi tunanganku. Mereka adalah keluarga sejati tempat
hatiku bernaung, yang pertama kali kudapatkan sejak kehilangan ibuku.
(Aku
harus benar-benar membuat mereka bahagia....)
Beban
tanggung jawab kini terasa nyata, seiring dengan berat tubuh mereka berdua yang
bersandar padaku.
Tanggung
jawab ini begitu berat. Rasanya hampir membuatku hancur.
Namun...
aku sama sekali tidak berniat untuk kalah.
Ke
depannya, berbagai kesulitan mungkin akan menyerangku dan Rosemary bersaudara.
Meski begitu, aku akan menepis semuanya tanpa sisa.
(Aku
tidak akan membiarkan siapa pun merampas keluarga berhargaku lagi.... Tidak
apa-apa, aku punya Infinite Magic Power!)
Kisah penyihir yang kelak akan dijuluki sebagai "Penyihir Tak Terbatas" ini, sebenarnya baru saja dimulai.



Post a Comment