NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Mugen no Majutsu Shi Maryoku Nashi de Heimin no Ko to Hakugai Sareta Ore ⁓ Jitsuha Mugen no Maryoku Mochi Volume 1 Short Story

Bonus E-book: Cerita Pendek Tambahan

Hadiah Itu Seekor Naga


"Sudah hampir ulang tahun mereka yang ke-15, ya... Kalau bisa, aku ingin memberi hadiah yang istimewa..."

Di rumah kota milik keluarga Marquis Rosemary yang terletak di ibu kota.

Rest bergumam sendu sambil berbaring di tempat tidur kamarnya. Ia mengerang pelan sembari menatap langit-langit. Penyebab kegalauannya tidak lain adalah hadiah ulang tahun untuk Viola dan Primula, si kembar Rosemary.

Beberapa tahun lalu, Rest datang ke kediaman Marquis ini setelah dipungut oleh saudari Rosemary.

Ia berhasil melarikan diri dari penganiayaan orang tua beracun dan kekejaman kakak tirinya, hingga akhirnya bisa menjalani kehidupan yang tenang.

Baru-baru ini, setelah lulus ujian masuk akademi, Rest juga telah ditetapkan secara tidak resmi sebagai tunangan kedua gadis itu.

(Ulang tahun ke-15 untuk Viola dan Primula yang juga tunanganku. Karena ini momen berharga, aku ingin memberikan hadiah yang luar biasa...)

Sejak tinggal bersama, mereka memang sering bertukar kado di hari peringatan. Namun, karena sekarang sudah resmi menjadi tunangan, wajar saja jika ia ingin memberikan sesuatu yang spesial dan berkesan.

(Kalau hadiah untuk tunangan, biasanya cincin, ya? Tapi... apa tidak terlalu cepat untuk memberikan cincin tunangan...?)

Lagipula, Rest tidak punya banyak uang. Meski ia menerima gaji sebagai pelayan keluarga Marquis Rosemary, jumlahnya tidak akan cukup untuk membelikan cincin tunangan bagi dua orang putri Marquis.

Terlebih lagi... majikan Rest adalah ayah dari saudari tersebut. Memberikan cincin kepada tunangannya dengan uang yang didapat dari calon ayah mertuanya terasa agak kurang sreg di hati.

"Tidak bisa... dipikirkan bagaimanapun tidak akan ada habisnya."

Rest menghela napas, lalu bangkit menggunakan pegas tempat tidurnya. Berpikir sendirian sepertinya tidak akan membuahkan ide cemerlang. Sebaiknya ia meminta saran dari senior yang lebih berpengalaman.

"Aku akan berkonsultasi dengan Tuan Dieble... Beliau pasti punya ide bagus."

Rest berdiri dan segera menuju tempat Dieble, sosok yang merupakan guru sihir sekaligus atasannya sebagai pelayan.

"Begitu rupanya... Kalau begitu, bagaimana jika Anda memberikan 'Sisik Naga'?"

"Sisik Naga... maksudnya sisik dari seekor naga?"

"Benar sekali."

Menanggapi pertanyaan Rest, Dieble memberikan penjelasan dengan saksama.

"Ini adalah adat kuno yang diwariskan di kalangan bangsawan negeri ini. Ada kepercayaan bahwa memberikan pajangan yang terbuat dari sisik naga kepada pasangan nikah akan membuat keluarga makmur dan dikaruniai banyak anak."

"Jadi semacam jimat keberuntungan, ya."

Di Jepang pun ada budaya Yuunou, yaitu memberikan hantaran kepada keluarga pasangan. Hadiahnya beragam, misalnya abalon kering yang melambangkan panjang umur, atau kipas lipat yang bermakna kemakmuran keluarga yang terus meluas.

"Naga adalah monster yang hidup selama ribuan tahun. Konon memakan daging dan darahnya bisa memperpanjang usia, dan memajang sisiknya di rumah dapat menjauhkan segala malapetaka. Karena itulah, naga menjadi simbol kemakmuran bagi bangsawan. Berburu naga sendiri lalu menjadikannya hadiah untuk pasangan... itu adalah sejenis ritual."

"Tapi, naga itu kan monster legendaris? Aku rasa mustahil untuk bisa memburunya."

Pertama-tama, menemukannya saja sudah sangat sulit. Naga tinggal di pegunungan terpencil, wilayah asing, laut dalam, atau kota kuno yang hanya ada dalam legenda. Terlepas dari masalah apakah Rest bisa menang atau tidak, ia tidak bisa berburu jika tidak menemukan sasarannya.

"Tentu saja, memberikan sisik naga yang asli hampir mustahil dilakukan. Biasanya, orang-orang menggantinya dengan monster lain yang serupa dengan naga."

Hanya pahlawan dalam legenda yang mampu memburu naga asli. Bangsawan pada umumnya berburu monster lain yang mirip naga untuk dijadikan hantaran.

"Misalnya, monster apa yang bagus?"

"Sisik dari monster ular atau kadal sering digunakan... Ah, kebetulan sekali ada laporan penampakan yang baru masuk. Sepertinya seekor Stone Basilisk muncul di hutan sebelah selatan ibu kota."

"Stone Basilisk... monster kadal, ya."

Basilisk adalah monster kadal yang memiliki racun. Di antara mereka, Stone Basilisk adalah jenis yang menyemburkan racun yang dapat membuat tubuh korbannya mengeras seperti batu jika terhirup.

"Beberapa penebang pohon yang masuk ke hutan telah diserang dan jatuh korban. Pasukan pembasmi akan segera dikirim, tapi... jika Tuan Rest bisa mengalahkannya sebelum itu, akan sangat membantu."

"Pucuk dicinta ulam pun tiba... Serahkan padaku!"

Lawan yang berbahaya. Meski begitu, jika ini demi Viola dan Primula, Rest tidak akan merasa keberatan sedikit pun.

"Saya akan mengatur persiapan untuk pengolahan sisiknya. Harap berhati-hati..."

"Baik, mohon bantuannya."

Dilepas oleh Dieble, Rest pun berangkat menuju hutan selatan.

"Nah... pertama-tama aku harus mencari Stone Basilisk itu."

Setibanya di hutan, Rest mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Hutan ini adalah tempat pengambilan kayu, dan para penebang pohon biasanya rutin keluar-masuk di sini. Tadinya tidak ada monster kuat yang tinggal di sini, tapi belak

angan ini, Stone Basilisk tampaknya berpindah ke wilayah ini.

Laporannya menyebutkan beberapa penebang telah diserang, bahkan ada yang tewas.

(Tanpa memikirkan soal hadiah pun, aku harus segera membasminya sebelum korbannya bertambah...)

Rest melangkahkan kaki masuk ke dalam hutan. Berjajar pohon yang tak terhitung jumlahnya, serta beberapa tunggul pohon sisa penebangan. Banyak juga pohon muda yang sedang tumbuh, menandakan ini adalah hutan produksi yang dikelola manusia.

Jarak antar pohon cukup lebar sehingga suasana terasa terang dan jarak pandang cukup luas.

Namun, sosok monster belum terlihat.

"Life Search."

Rest segera mengaktifkan sihirnya. Ia menyebarkan jaringan indra pendeteksi mana, hingga akhirnya menemukan hawa keberadaan besar sekitar seratus meter di depan.

"Itu dia...!"

Rest memperkuat fisiknya dengan sihir dan melesat menembus hutan. Pemandangan di sekelilingnya bergerak cepat ke belakang, hingga akhirnya matanya menangkap sosok monster itu.

"Ketemu...!"

Makhluk itu adalah kadal raksasa sepanjang tiga meter yang berdiri dan berjalan dengan dua kaki seperti kadal berleher rumbai. Warna tubuhnya hijau dengan pola bercak cokelat di sana-sini. Dari jauh, ia tampak menyatu dengan pemandangan hutan layaknya pakaian kamuflase.

"Gugyuu!?"

"Serangan pertama menentukan kemenangan!"

Stone Basilisk itu menyadari keberadaan Rest, namun Rest langsung melancarkan serangan.

"Earth Bind!"

"Gyut...!"

Hal pertama yang ia lakukan adalah mengikat mulut monster itu dengan sihir tanah. Tali dari tanah melonjak dari permukaan, mengikat rahang Stone Basilisk dan memaksanya menutup mulut.

(Dengan begini dia tidak bisa menyemburkan racun...!)

"Selesai... Wind Blade!"

Selama racun pembatu itu bisa dicegah, ia hanyalah kadal besar biasa. Rest melepaskan bilah angin dan memenggal leher Stone Basilisk itu. Tanpa sempat berteriak, monster itu tumbang, mengeluarkan banyak darah, dan tewas.

"Fuu... Sudah kalah, ya. 'Gekirin'-nya juga aman."

Rest berjongkok untuk memeriksa bangkai Stone Basilisk. Gekirin adalah sebutan untuk satu keping sisik yang tumbuh terbalik di bawah rahang naga.

Basilisk dan beberapa monster lain memiliki sisik serupa karena konon mereka adalah keturunan jauh dari naga.

Saat memeriksa bagian bawah rahang Stone Basilisk, ia menemukan seeping sisik terbalik yang memancarkan cahaya seperti batu safir.

"Ini yang namanya Gekirin... Begitu ya, indah sekali."

Sihir yang dilepaskan Rest tadi berhasil menghindari Gekirin dengan sempurna saat memenggal lehernya. Menurut cerita Dieble, Gekirin ini adalah sisik yang paling indah dan paling mahal di antara semua sisik.

"Masalahnya... ini cuma ada satu."

Setelah mengambil Gekirin tersebut, Rest menjatuhkan bahunya dengan lesu. Meski ada banyak sisik lainnya, Gekirin hanya ada satu. Sisik-sisik lain tidak memiliki kilauan sehebat sisik terbalik ini.

Viola dan Primula... kepada siapa ia harus memberikan Gekirin ini?

(Dalam kalangan bangsawan, anak sulung biasanya diprioritaskan. Normalnya pasti untuk Viola, tapi mereka kan kembar. Memberikan perbedaan pada mereka rasanya kasihan sekali...)

Lagipula, Primula punya rasa rendah diri terhadap kakaknya. Jika dalam hadiah dari tunangan pun ia dibedakan, ia pasti akan merasa sakit hati.

"Repot juga... lebih baik aku batalkan saja niat memberi Gekirin ini—!?"

Saat sedang termenung galau, Life Search miliknya kembali bereaksi. Sesuatu sedang berlari ke arahnya dengan kecepatan tinggi. Lurus dan tepat menuju posisi Rest.

"Apa itu...!?"

"GGYAAAAOOOOOOOOOOOOOO!"

Sebuah teriakan menggelegar. Saat ia menoleh, seekor Stone Basilisk baru muncul dari jarak puluhan meter.

Stone Basilisk kedua ini berukuran satu tingkat lebih besar dari yang pertama, dengan mata merah membara yang menatap tajam ke arahnya.

"GGYAAAAAAAAAAAAAAA!"

Bersamaan dengan Rest yang bersiap siaga, Stone Basilisk itu menyemburkan nafas berwarna kuning kecokelatan.

"Wind Wall!"

Rest segera membangun dinding pertahanan. Nafas beracun itu terhalang oleh angin, namun pepohonan di sekitarnya seketika berubah menjadi abu-abu dan mengeras seperti batu.

"Nafas pembatu, ya...!"

"Ggyao!"

"!"

Selanjutnya, Stone Basilisk itu melompat tinggi.

Ia memangkas jarak belasan meter dalam sekejap dan menerjang ke arah Rest. Rest mengaktifkan sihir Physical Up dan Haste secara bersamaan. Ia memacu kecepatannya untuk menghindari serangan, lalu berputar ke belakang punggung monster tersebut.

"Thunderbolt!"

Lalu... sihir serangan tingkat menengah dari jarak dekat. Stone Basilisk kedua itu tersambar petir yang dahsyat.

"Gya... o..."

Stone Basilisk itu tumbang dan tidak bergerak lagi. Untuk memastikan, Rest memeriksanya dengan Life Search, dan hawa keberadaannya telah benar-benar padam.

Ia memperluas jangkauan sensornya, namun tidak ada hawa keberadaan Stone Basilisk lain. Sepertinya hanya ada dua ekor di hutan ini.

"Pasangan... tidak, keduanya sepertinya jantan, apa mereka bersaudara?"

Menatap dua bangkai Stone Basilisk itu, Rest memasang ekspresi sedikit sedih. Stone Basilisk adalah karnivora yang sudah mencicipi rasa daging manusia. Jika mereka dibiarkan hidup, lebih banyak orang yang akan terbunuh. Ia tidak bisa memberikan simpati.

"Aku tidak bersimpati, tapi aku sangat berterima kasih. Berkat kalian, aku bisa memberikan hadiah yang luar biasa untuk dua orang penting bagiku."

Rest mengambil Gekirin yang kedua. Warnanya sama dengan yang pertama. Kilauannya pun sama. Dengan ini, ia bisa memberikan hadiah kepada Viola dan Primula secara adil.

"Istirahatlah dengan tenang... lain kali lahirlah sebagai manusia, bukan monster. Dan semoga kalian bisa menjadi saudara lagi."

Rest membungkus kedua Gekirin itu dengan sapu tangan dan menyimpannya dengan hati-hati di saku dadanya, lalu mengambil beberapa sisik lainnya secara ringkas.

Ia memutuskan untuk meninggalkan bangkai yang tersisa agar diambil oleh orang lain nanti, lalu Rest pun beranjak meninggalkan hutan.

Pengerajin yang disiapkan oleh Dieble melakukan pekerjaannya dengan sangat baik. Sisik Stone Basilisk yang dibawa Rest diolah menjadi pajangan berbentuk seperti telur.

Ukurannya sebesar telapak tangan dan berbentuk oval. Permukaannya ditempeli sisik Stone Basilisk tanpa celah sedikit pun, dan di bagian tengahnya, Gekirin itu bersinar terang.

Telur berwarna hijau itu sangat cerah dan indah, benar-benar menunjukkan kehebatan keahlian sang pengerajin.

"Rest-kun... terima kasih, aku senang sekali!"

"Tuan Rest... terima kasih atas hadiah yang luar biasa ini!"

Menerima hadiah keberuntungan di ulang tahun ke-15, Viola dan Primula menangis terharu karena gembira.

"Aku tidak menyangka kamu akan memberikan hadiah yang seistimewa ini... Aku benar-benar menerima perasaanmu, Rest-kun!"

"Telur Sisik Naga... ini adalah hadiah untuk meminta seorang wanita agar 'melahirkan anakku' dan 'menjaga rumah dengan baik', kan?"

"Hah...?"

Melihat reaksi kedua saudari yang melebihi perkiraannya, Rest hanya bisa melongo.

(E-Eh? Apa benda ini punya arti seperti itu? Aku memang sempat bingung kenapa bentuknya telur, tapi...?)

Tampaknya, hadiah itu memiliki makna yang mendalam. Itulah penyebab mengapa mereka berdua merasa sangat tersentuh secara berlebihan.

"Ayo segera menikah setelah lulus akademi! Aku akan melahirkan banyak anak!"

"Ah, aku jadi tidak sabar menunggu saat lulus akademi nanti...!"

"Ha, hahaha..."

Rest tidak tahu harus menjawab apa, ia hanya bisa tertawa dengan wajah kaku. Meski bukan itu niat awalnya, tampaknya ikatan dengan kedua saudari itu menjadi semakin dalam. Hadiahnya memang sukses besar, namun entah mengapa Rest merasa perasaannya sedikit campur aduk.





Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close