Bonus E-book:
Cerita Pendek Tambahan
Hadiah Itu Seekor
Naga
"Sudah hampir ulang tahun mereka yang ke-15, ya...
Kalau bisa, aku ingin memberi hadiah yang istimewa..."
Di rumah kota milik keluarga Marquis Rosemary yang terletak
di ibu kota.
Rest
bergumam sendu sambil berbaring di tempat tidur kamarnya. Ia mengerang pelan
sembari menatap langit-langit. Penyebab kegalauannya tidak lain adalah hadiah
ulang tahun untuk Viola dan Primula, si kembar Rosemary.
Beberapa
tahun lalu, Rest datang ke kediaman Marquis ini setelah dipungut oleh saudari
Rosemary.
Ia
berhasil melarikan diri dari penganiayaan orang tua beracun dan kekejaman kakak
tirinya, hingga akhirnya bisa menjalani kehidupan yang tenang.
Baru-baru
ini, setelah lulus ujian masuk akademi, Rest juga telah ditetapkan secara tidak
resmi sebagai tunangan kedua gadis itu.
(Ulang
tahun ke-15 untuk Viola dan Primula yang juga tunanganku. Karena ini momen
berharga, aku ingin memberikan hadiah yang luar biasa...)
Sejak
tinggal bersama, mereka memang sering bertukar kado di hari peringatan. Namun,
karena sekarang sudah resmi menjadi tunangan, wajar saja jika ia ingin
memberikan sesuatu yang spesial dan berkesan.
(Kalau
hadiah untuk tunangan, biasanya cincin, ya? Tapi... apa tidak terlalu cepat
untuk memberikan cincin tunangan...?)
Lagipula,
Rest tidak punya banyak uang. Meski ia menerima gaji sebagai pelayan keluarga
Marquis Rosemary, jumlahnya tidak akan cukup untuk membelikan cincin tunangan
bagi dua orang putri Marquis.
Terlebih
lagi... majikan Rest adalah ayah dari saudari tersebut. Memberikan cincin
kepada tunangannya dengan uang yang didapat dari calon ayah mertuanya terasa
agak kurang sreg di hati.
"Tidak
bisa... dipikirkan bagaimanapun tidak akan ada habisnya."
Rest menghela
napas, lalu bangkit menggunakan pegas tempat tidurnya. Berpikir sendirian
sepertinya tidak akan membuahkan ide cemerlang. Sebaiknya ia meminta saran dari
senior yang lebih berpengalaman.
"Aku
akan berkonsultasi dengan Tuan Dieble... Beliau pasti punya ide bagus."
Rest berdiri dan
segera menuju tempat Dieble, sosok yang merupakan guru sihir sekaligus
atasannya sebagai pelayan.
◇
"Begitu
rupanya... Kalau begitu, bagaimana jika Anda memberikan 'Sisik Naga'?"
"Sisik Naga... maksudnya sisik dari seekor naga?"
"Benar sekali."
Menanggapi pertanyaan Rest, Dieble memberikan penjelasan
dengan saksama.
"Ini
adalah adat kuno yang diwariskan di kalangan bangsawan negeri ini. Ada
kepercayaan bahwa memberikan pajangan yang terbuat dari sisik naga kepada
pasangan nikah akan membuat keluarga makmur dan dikaruniai banyak anak."
"Jadi
semacam jimat keberuntungan, ya."
Di Jepang pun ada
budaya Yuunou, yaitu memberikan hantaran kepada keluarga pasangan.
Hadiahnya beragam, misalnya abalon kering yang melambangkan panjang umur, atau
kipas lipat yang bermakna kemakmuran keluarga yang terus meluas.
"Naga adalah
monster yang hidup selama ribuan tahun. Konon memakan daging dan darahnya bisa
memperpanjang usia, dan memajang sisiknya di rumah dapat menjauhkan segala
malapetaka. Karena itulah, naga menjadi simbol kemakmuran bagi bangsawan.
Berburu naga sendiri lalu menjadikannya hadiah untuk pasangan... itu adalah
sejenis ritual."
"Tapi,
naga itu kan monster legendaris? Aku rasa mustahil untuk bisa memburunya."
Pertama-tama,
menemukannya saja sudah sangat sulit. Naga tinggal di pegunungan terpencil,
wilayah asing, laut dalam, atau kota kuno yang hanya ada dalam legenda.
Terlepas dari masalah apakah Rest bisa menang atau tidak, ia tidak bisa berburu
jika tidak menemukan sasarannya.
"Tentu saja,
memberikan sisik naga yang asli hampir mustahil dilakukan. Biasanya,
orang-orang menggantinya dengan monster lain yang serupa dengan naga."
Hanya pahlawan
dalam legenda yang mampu memburu naga asli. Bangsawan pada umumnya berburu
monster lain yang mirip naga untuk dijadikan hantaran.
"Misalnya,
monster apa yang bagus?"
"Sisik
dari monster ular atau kadal sering digunakan... Ah, kebetulan sekali ada laporan penampakan yang
baru masuk. Sepertinya seekor Stone Basilisk muncul di hutan sebelah selatan
ibu kota."
"Stone
Basilisk... monster kadal, ya."
Basilisk
adalah monster kadal yang memiliki racun. Di antara mereka, Stone Basilisk
adalah jenis yang menyemburkan racun yang dapat membuat tubuh korbannya
mengeras seperti batu jika terhirup.
"Beberapa
penebang pohon yang masuk ke hutan telah diserang dan jatuh korban. Pasukan
pembasmi akan segera dikirim, tapi... jika Tuan Rest bisa mengalahkannya
sebelum itu, akan sangat membantu."
"Pucuk
dicinta ulam pun tiba... Serahkan padaku!"
Lawan yang
berbahaya. Meski begitu, jika ini demi Viola dan Primula, Rest tidak akan
merasa keberatan sedikit pun.
"Saya akan
mengatur persiapan untuk pengolahan sisiknya. Harap berhati-hati..."
"Baik, mohon
bantuannya."
Dilepas oleh
Dieble, Rest pun berangkat menuju hutan selatan.
◇
"Nah...
pertama-tama aku harus mencari Stone Basilisk itu."
Setibanya
di hutan, Rest mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Hutan ini adalah tempat pengambilan kayu, dan para
penebang pohon biasanya rutin keluar-masuk di sini. Tadinya tidak ada monster kuat yang tinggal di
sini, tapi belak
angan
ini, Stone Basilisk tampaknya berpindah ke wilayah ini.
Laporannya
menyebutkan beberapa penebang telah diserang, bahkan ada yang tewas.
(Tanpa
memikirkan soal hadiah pun, aku harus segera membasminya sebelum korbannya
bertambah...)
Rest
melangkahkan kaki masuk ke dalam hutan. Berjajar pohon yang tak terhitung
jumlahnya, serta beberapa tunggul pohon sisa penebangan. Banyak juga pohon muda
yang sedang tumbuh, menandakan ini adalah hutan produksi yang dikelola manusia.
Jarak
antar pohon cukup lebar sehingga suasana terasa terang dan jarak pandang cukup
luas.
Namun,
sosok monster belum terlihat.
"Life Search."
Rest segera mengaktifkan sihirnya. Ia menyebarkan jaringan
indra pendeteksi mana, hingga akhirnya menemukan hawa keberadaan besar sekitar
seratus meter di depan.
"Itu
dia...!"
Rest
memperkuat fisiknya dengan sihir dan melesat menembus hutan. Pemandangan di
sekelilingnya bergerak cepat ke belakang, hingga akhirnya matanya menangkap
sosok monster itu.
"Ketemu...!"
Makhluk
itu adalah kadal raksasa sepanjang tiga meter yang berdiri dan berjalan dengan
dua kaki seperti kadal berleher rumbai. Warna tubuhnya hijau dengan pola bercak
cokelat di sana-sini. Dari jauh, ia tampak menyatu dengan pemandangan hutan
layaknya pakaian kamuflase.
"Gugyuu!?"
"Serangan
pertama menentukan kemenangan!"
Stone Basilisk
itu menyadari keberadaan Rest, namun Rest langsung melancarkan serangan.
"Earth
Bind!"
"Gyut...!"
Hal pertama yang
ia lakukan adalah mengikat mulut monster itu dengan sihir tanah. Tali dari
tanah melonjak dari permukaan, mengikat rahang Stone Basilisk dan memaksanya
menutup mulut.
(Dengan
begini dia tidak bisa menyemburkan racun...!)
"Selesai... Wind Blade!"
Selama racun pembatu itu bisa dicegah, ia hanyalah kadal
besar biasa. Rest melepaskan bilah angin dan memenggal leher Stone Basilisk
itu. Tanpa sempat berteriak, monster itu tumbang, mengeluarkan banyak darah,
dan tewas.
"Fuu... Sudah kalah, ya. 'Gekirin'-nya juga aman."
Rest berjongkok untuk memeriksa bangkai Stone Basilisk. Gekirin
adalah sebutan untuk satu keping sisik yang tumbuh terbalik di bawah rahang
naga.
Basilisk dan
beberapa monster lain memiliki sisik serupa karena konon mereka adalah
keturunan jauh dari naga.
Saat memeriksa
bagian bawah rahang Stone Basilisk, ia menemukan seeping sisik terbalik yang
memancarkan cahaya seperti batu safir.
"Ini yang namanya Gekirin... Begitu ya, indah
sekali."
Sihir yang dilepaskan Rest tadi berhasil menghindari Gekirin
dengan sempurna saat memenggal lehernya. Menurut cerita Dieble, Gekirin
ini adalah sisik yang paling indah dan paling mahal di antara semua sisik.
"Masalahnya...
ini cuma ada satu."
Setelah mengambil
Gekirin tersebut, Rest menjatuhkan bahunya dengan lesu. Meski ada banyak
sisik lainnya, Gekirin hanya ada satu. Sisik-sisik lain tidak memiliki
kilauan sehebat sisik terbalik ini.
Viola dan
Primula... kepada siapa ia harus memberikan Gekirin ini?
(Dalam
kalangan bangsawan, anak sulung biasanya diprioritaskan. Normalnya pasti untuk Viola, tapi mereka kan
kembar. Memberikan perbedaan pada mereka rasanya kasihan sekali...)
Lagipula, Primula
punya rasa rendah diri terhadap kakaknya. Jika dalam hadiah dari tunangan pun
ia dibedakan, ia pasti akan merasa sakit hati.
"Repot
juga... lebih baik aku batalkan saja niat memberi Gekirin ini—!?"
Saat sedang termenung galau, Life Search miliknya
kembali bereaksi. Sesuatu sedang berlari ke arahnya dengan kecepatan tinggi.
Lurus dan tepat menuju posisi Rest.
"Apa itu...!?"
"GGYAAAAOOOOOOOOOOOOOO!"
Sebuah teriakan menggelegar. Saat ia menoleh, seekor Stone
Basilisk baru muncul dari jarak puluhan meter.
Stone Basilisk kedua ini berukuran satu tingkat lebih besar
dari yang pertama, dengan mata merah membara yang menatap tajam ke arahnya.
"GGYAAAAAAAAAAAAAAA!"
Bersamaan dengan Rest yang bersiap siaga, Stone Basilisk itu
menyemburkan nafas berwarna kuning kecokelatan.
"Wind Wall!"
Rest segera membangun dinding pertahanan. Nafas beracun itu
terhalang oleh angin, namun pepohonan di sekitarnya seketika berubah menjadi
abu-abu dan mengeras seperti batu.
"Nafas pembatu, ya...!"
"Ggyao!"
"!"
Selanjutnya, Stone Basilisk itu melompat tinggi.
Ia
memangkas jarak belasan meter dalam sekejap dan menerjang ke arah Rest. Rest
mengaktifkan sihir Physical Up dan Haste secara bersamaan. Ia
memacu kecepatannya untuk menghindari serangan, lalu berputar ke belakang
punggung monster tersebut.
"Thunderbolt!"
Lalu...
sihir serangan tingkat menengah dari jarak dekat. Stone Basilisk kedua itu
tersambar petir yang dahsyat.
"Gya...
o..."
Stone
Basilisk itu tumbang dan tidak bergerak lagi. Untuk memastikan, Rest
memeriksanya dengan Life Search, dan hawa keberadaannya telah
benar-benar padam.
Ia
memperluas jangkauan sensornya, namun tidak ada hawa keberadaan Stone Basilisk
lain. Sepertinya hanya ada
dua ekor di hutan ini.
"Pasangan...
tidak, keduanya sepertinya jantan, apa mereka bersaudara?"
Menatap dua
bangkai Stone Basilisk itu, Rest memasang ekspresi sedikit sedih. Stone
Basilisk adalah karnivora yang sudah mencicipi rasa daging manusia. Jika mereka
dibiarkan hidup, lebih banyak orang yang akan terbunuh. Ia tidak bisa
memberikan simpati.
"Aku tidak
bersimpati, tapi aku sangat berterima kasih. Berkat kalian, aku bisa memberikan
hadiah yang luar biasa untuk dua orang penting bagiku."
Rest mengambil Gekirin
yang kedua. Warnanya sama dengan yang pertama. Kilauannya pun sama. Dengan ini,
ia bisa memberikan hadiah kepada Viola dan Primula secara adil.
"Istirahatlah
dengan tenang... lain kali lahirlah sebagai manusia, bukan monster. Dan semoga
kalian bisa menjadi saudara lagi."
Rest membungkus
kedua Gekirin itu dengan sapu tangan dan menyimpannya dengan hati-hati
di saku dadanya, lalu mengambil beberapa sisik lainnya secara ringkas.
Ia memutuskan
untuk meninggalkan bangkai yang tersisa agar diambil oleh orang lain nanti,
lalu Rest pun beranjak meninggalkan hutan.
◇
Pengerajin yang
disiapkan oleh Dieble melakukan pekerjaannya dengan sangat baik. Sisik Stone
Basilisk yang dibawa Rest diolah menjadi pajangan berbentuk seperti telur.
Ukurannya
sebesar telapak tangan dan berbentuk oval. Permukaannya ditempeli sisik Stone
Basilisk tanpa celah sedikit pun, dan di bagian tengahnya, Gekirin itu
bersinar terang.
Telur
berwarna hijau itu sangat cerah dan indah, benar-benar menunjukkan kehebatan
keahlian sang pengerajin.
"Rest-kun...
terima kasih, aku senang sekali!"
"Tuan
Rest... terima kasih atas hadiah yang luar biasa ini!"
Menerima hadiah
keberuntungan di ulang tahun ke-15, Viola dan Primula menangis terharu karena
gembira.
"Aku tidak
menyangka kamu akan memberikan hadiah yang seistimewa ini... Aku benar-benar
menerima perasaanmu, Rest-kun!"
"Telur Sisik
Naga... ini adalah hadiah untuk meminta seorang wanita agar 'melahirkan anakku'
dan 'menjaga rumah dengan baik', kan?"
"Hah...?"
Melihat reaksi
kedua saudari yang melebihi perkiraannya, Rest hanya bisa melongo.
(E-Eh? Apa benda
ini punya arti seperti itu? Aku memang sempat bingung kenapa bentuknya telur, tapi...?)
Tampaknya,
hadiah itu memiliki makna yang mendalam. Itulah penyebab mengapa mereka berdua
merasa sangat tersentuh secara berlebihan.
"Ayo segera
menikah setelah lulus akademi! Aku akan melahirkan banyak anak!"
"Ah, aku
jadi tidak sabar menunggu saat lulus akademi nanti...!"
"Ha,
hahaha..."
Rest tidak tahu
harus menjawab apa, ia hanya bisa tertawa dengan wajah kaku. Meski bukan itu
niat awalnya, tampaknya ikatan dengan kedua saudari itu menjadi semakin dalam.
Hadiahnya memang sukses besar, namun entah mengapa Rest merasa perasaannya
sedikit campur aduk.
Previous Chapter | ToC | Next Chapter



Post a Comment