NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Mugen no Majutsu Shi Maryoku Nashi de Heimin no Ko to Hakugai Sareta Ore ⁓ Jitsuha Mugen no Maryoku Mochi Volume 1 Chapter 6

Chapter 6

Ujian Masuk Akademi Kerajaan


Setelah itu, Rest terus-menerus dijejali berbagai permintaan mustahil oleh Irish... Namun, pada dasarnya dia adalah seorang peserta ujian.

Selama satu tahun setelahnya, ia menjalani pelatihan keras sambil tetap tekun belajar untuk ujian masuk. Ia berulang kali melahap buku referensi, bertanya pada kakak beradik Rosemarie jika ada bagian yang tidak dimengerti, atau mencarinya di perpustakaan.

Ia juga terus melanjutkan latihan tanding dengan Dieble. Meski teknik bertarung jarak dekatnya masih belum bisa menandingi sang mentor, dalam hal kemahiran sihir murni, Rest sudah melampauinya.

"Dengan kemampuan Tuan Rest yang sekarang, melewati ujian masuk bukanlah masalah. Namun... ingatlah, di saat segalanya terasa lancar, iblis sering kali mengintai. Jangan pernah lengah justru saat kamu merasa di atas angin."

"...Meskipun lawannya terlihat sangat lemah, aku tidak boleh lengah, 'kan? Guru Dieble."

"GAAAAAAAAAAAAAAA!"

Sebuah teriakan melengking membahana, menelan gumaman Rest.

Di ujung pandangannya, dari dalam hutan, bermunculan sosok-sosok humanoid aneh yang berlari ke arahnya.

Kulit mereka berwarna cokelat abu-abu dengan kepala plontos tanpa sehelai rambut pun. Tubuh mereka yang buncit tampak menggelembung seperti balon, namun permukaannya dilapisi otot tebal yang keras layaknya baju zirah.

Mereka bukan manusia. Mereka adalah monster yang disebut Ogre.

Satu per satu Ogre muncul dari hutan sambil meraung garang, menyerbu ke arah Rest yang sudah bersiap menunggu.

Hari ini pun, Rest bertarung melawan monster. Misinya hari ini adalah membasmi sekelompok Ogre—salah satu tugas yang diberikan oleh Irish.

"Ayo, kita mulai."

Persiapan sudah matang. Musuh pun sudah penuh nafsu membunuh.

Tidak ada alasan untuk menunggu. Rest mengaktifkan sihirnya dan melesat menendang tanah.

"Physical Up, Accelerator!"

Menggunakan sihir paralel Duo, ia berlari secepat kilat hingga tak tertangkap mata, langsung menerjang Ogre yang berada di baris terdepan.

"Gugya!?"

"Wind Cutter!"

Bilah angin yang dilepaskan dari jarak nol itu menebas leher sang Ogre hingga kepalanya melayang di udara.

Melihat rekannya tewas, Ogre lain mengayunkan gada kayu besarnya ke arah Rest.

"Gaa!"

"Earth Wall!"

Tanpa rasa panik sedikit pun, ia merapalkan sihir.

Dinding tanah muncul dari permukaan, menahan hantaman gada Ogre tersebut dengan kokoh.

"Earth Thorn!"

"Gyan!"

Rest menyentuhkan tangannya ke dinding tanah yang melindunginya, lalu mengaktifkan sihir berikutnya.

Pasak tajam mencuat dari sisi luar dinding, menusuk tembus Ogre yang baru saja menyerangnya.

"Fire Bolt, Ice Bolt, Thunder Bolt!"

Untuk Ogre yang berada di kejauhan, ia menyerang dengan sihir jarak jauh tingkat menengah.

Kilatan cahaya merah, biru, dan kuning melesat bergantian, melubangi tubuh para Ogre satu per satu.

"GAAAAAAAAAAAAAAA!"

Sadar tidak bisa menang secara individu, beberapa Ogre melompat bersamaan. Mereka berniat menindih Rest dengan berat tubuh mereka yang luar biasa.

"Smoke Screen."

Asap putih pekat muncul berpusat dari posisi Rest, menyembunyikan sosoknya seketika.

"Gaa!?"

Para Ogre yang ikut terperangkap dalam asap pun mulai berteriak kebingungan.

Mereka mengayunkan gada secara membabi buta, hingga akhirnya malah saling pukul dengan sesama rekan mereka sendiri.

"Hut!"

Di tengah kekacauan itu, Rest berlari rendah.

Berkat Life Search, ia bisa mengetahui posisi musuh dengan jelas meski di dalam asap pekat.

Sambil menghindari tinju dan gada Ogre, ia melepaskan sihir untuk menghabisi mereka satu per satu dengan pasti.

"Ini yang terakhir... ah, sepertinya belum."

"GUUGYAAAAAAAAAAAAAA!"

Teriakan yang jauh lebih keras mengguncang hutan.

Sesosok Ogre yang ukurannya dua kali lipat lebih besar dari yang baru saja ia kalahkan muncul sambil merobohkan pepohonan di jalurnya.

Ogre berkulit merah itu kemungkinan adalah varian mutan, monster yang dikenal dengan sebutan 'Ogre General'.

(Monster yang tingkatannya lebih tinggi dari White Fenrir. Kalau muncul di pemukiman manusia, satu atau dua desa pasti akan musnah dengan mudah.)

Jika itu Rest yang baru saja dipungut oleh keluarga Marquis, mungkin ia tidak akan menang.

Namun... Rest yang sekarang berbeda dengan dirinya yang dulu. Tanpa menunjukkan rasa cemas, ia mengolah kekuatan sihirnya dengan tenang.

"Physical Up, Strength Up."

Sihir untuk memperkuat fisik dan kekuatan lengan.

"Earth Wear."

Sihir untuk melapisi tubuh dengan elemen tanah.

Ia menyelimuti lengan kanannya mulai dari siku hingga ke ujung tangan dengan tanah, membentuk sarung tangan raksasa. Ujung sarung tangan tanah itu dilengkapi duri tajam untuk meningkatkan daya rusaknya.

"Accelerator!"

Dan sebagai puncaknya, sihir untuk meningkatkan kecepatan.

Dalam sekejap, Rest sudah masuk ke dalam jangkauan Ogre General dan mengayunkan lengan kanannya. Sarung tangan berduri itu menghantam telak tubuh tebal sang monster, diiringi suara mengerikan dari daging yang robek dan tulang yang hancur.

"GUUGYAAAAAAAAAAAA!?"

Ogre General menjerit kesakitan.

Ia pasti tidak paham apa yang terjadi—Rest yang tadinya berada di kejauhan tiba-tiba sudah berada di depannya dalam sekejap mata.

(Masih punya tenaga untuk berteriak, ya...!)

"Fire Bolt."

Ia melepaskan sihir Accelerator dan mengaktifkan sihir penyelesaian.

Dari ujung kepalan tangan yang masih tertanam di tubuh musuh, ia memuntahkan sihir api.

"!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!"

Api menyembur keluar dari mulut, hidung, hingga bola mata Ogre General.

Jeritan tanpa suara tertahan di tenggorokan. Dengan tubuh yang terpanggang dari dalam, Ogre General pun tumbang telentang.

"...Aku menang."

Untuk memastikan, ia mengecek sekeliling dengan sihir Life Search.

Hanya ada satu hawa keberadaan yang tersisa di tempat ini selain dirinya sendiri.

Semua Ogre dipastikan telah mati.

"Luar biasa."

Suara tepuk tangan terdengar, dan sesosok orang yang bersembunyi di balik bayangan pohon menampakkan diri.

"Gaya bertarung yang sangat hebat. Kamu sudah menjadi jauh lebih kuat dalam satu tahun ini."

"Terima kasih, Guru Dieble."

Pria yang muncul mengenakan pakaian pelayan (butler). Dialah Dieble, mentor bertarung bagi Rest.

Meski kawanan Ogre itu muncul dari dalam hutan... yang menggiring mereka keluar tidak lain adalah Dieble sendiri.

"Tadinya aku berniat membantumu jika keadaan mendesak... tapi ternyata tidak perlu, ya."

Dieble tersenyum puas sambil terus bertepuk tangan.

"Sudah tidak ada lagi yang bisa kuajarkan padamu. Aku senang memiliki murid yang berbakat sepertimu."

"Akulah yang seharusnya berterima kasih, Guru. Aku sungguh beruntung bisa belajar darimu..."

Rest menahan air mata yang hampir menetes dan menghirup napas dalam-dalam.

Semenjak datang ke kediaman Marquis Rosemary, ia terus dipertemukan dengan orang-orang baik.

Ia bertekad dalam hati untuk membalas budi mereka semua seumur hidupnya.

"Kalau begitu, mari kita pulang. Nona muda sudah menunggu."

"Seharusnya ujian mereka sudah selesai sekarang. Saat kita sampai di rumah, mereka berdua pasti sudah kembali."

Hari ini, ujian masuk jalur bangsawan sedang dilaksanakan di Akademi Kerajaan.

Viola dan Primula pergi ke akademi sejak pagi untuk mengikuti ujian tersebut.

"Mereka berdua pasti baik-baik saja... tapi aku tetap khawatir, ayo cepat pulang."

"Baiklah. Bagaimana kalau kita balapan, siapa yang sampai di kediaman lebih dulu?"

"Siapa takut!"

Rest dan Dieble memperkuat kecepatan mereka dengan sihir, lalu melesat kencang menuju ibu kota.

Di depan hutan, tumpukan bangkai Ogre berserakan... yang nantinya akan dibersihkan oleh para pelayan dari keluarga Marquis.

Saat Rest sampai di rumah, ia berpapasan dengan Viola dan Primula tepat di pintu masuk.

"Aku pulang. Bagaimana ujian kalian berdua?"

"Selamat datang kembali! Tentu saja lancar jaya!"

"Aku juga merasa semuanya baik-baik saja."

"Syukurlah kalau begitu."

Akademi Kerajaan terbagi menjadi lima departemen: 'Sihir', 'Ksatria', 'Sipil', 'Pendeta', dan 'Seni'. Kakak beradik itu mengambil Departemen Sihir. Rest juga berencana mengambil departemen yang sama.

"Berikutnya giliranmu, Rest-kun! Aku tidak akan memaafkanmu kalau sampai tidak lulus!"

"Tentu saja. Aku pasti akan lulus."

Rest mengangguk mantap menanggapi peringatan Viola.

Satu minggu lagi adalah ujian untuk jalur rakyat jelata. Tentu saja, ia tidak berniat untuk gagal.

Ini adalah ujian yang akan menjadi titik balik dalam hidupnya... ia harus lulus apa pun yang terjadi.

"Sepertinya materi ujiannya sama seperti tahun lalu. Pertama ada ujian tertulis yang diikuti semua departemen, lalu ujian praktik sesuai departemen masing-masing. Praktiknya adalah 'Menembak Target' seperti tahun-tahun sebelumnya," Primula menjelaskan detail ujiannya.

'Menembak Target' adalah metode umum untuk mengukur kapasitas seorang penyihir. Peserta menembakkan sihir ke arah target, lalu alat sihir khusus akan mengukur daya hancurnya.

"Ngomong-ngomong... aku melihat kakakmu di lokasi ujian."

"Cedric?"

"Iya, dia terlihat seperti ingin menyapa kami, jadi kami abaikan saja."

"Haha... dia benar-benar tidak kapok, ya."

(Sudah setahun sejak terakhir kali bertemu. Setelah kegagalan besar itu, kuharap dia sedikit merenung dan tumbuh secara mental...)

"Sepertinya hasil ujian praktiknya payah. Dia membuat keributan dengan berteriak 'Ini curang!' atau 'Aku menuntut ujian ulang!'"

"Dia juga bilang 'Ini konspirasi untuk menjatuhkan diriku yang genius'. Benar-benar pemandangan yang memalukan," tambah Primula.

"...Sepertinya dia tidak berkembang sama sekali. Yah, jujur saja, sudah kuduga sih."

Rest hanya bisa tersenyum pahit melihat ekspresi jijik di wajah kedua kakak beradik itu.

Tampaknya Cedric membuat masalah di lokasi ujian karena hasil praktiknya yang buruk. Namun, ini sedikit di luar dugaan Rest.

"Kalau tertulis mungkin masih masuk akal, tapi dia gagal di praktik...? Padahal itu Cedric."

Meski kepribadiannya bermasalah, bakat sihir Cedric termasuk kelas atas di usianya. Kecuali menghadapi orang abnormal dengan kekuatan sihir tak terbatas seperti Rest, dia seharusnya tidak kalah.

Bahkan Marquis Rosemary pun mengakui bakatnya. Karena itulah beliau sempat meluangkan waktu untuk mempertemukannya dengan Viola dan Primula.

"Aku melihat saat dia menembakkan sihirnya... dia menggunakan sihir Thunder Storm."

"Apa...? Thunder Storm? Untuk menembak target?"

Rest meragukan pendengarannya sendiri saat mendengar kata-kata Viola.

Thunder Storm jelas merupakan sihir tingkat tinggi. Hanya segelintir orang yang bisa menggunakannya.

Namun... sihir itu sangat tidak cocok untuk ujian menembak target. Dia benar-benar salah memilih sihir.

( Thunder Storm adalah sihir serangan area. Memang bisa menyerang cakupan luas sekaligus, tapi sebagai gantinya, daya rusaknya tidak begitu kuat. Menggunakannya untuk menembak target tunggal yang mengutamakan kekuatan adalah langkah yang sangat bodoh...)

"Skor ujian praktiknya hanya berada di level rata-rata. Tergantung hasil ujian tertulisnya, dia bisa saja tidak lulus."

"............Begitu ya."

Kalau dipikir-pikir... Cedric memang selalu begitu sejak dulu.

Hanya meniru permukaannya saja, lalu salah paham merasa sudah memahami segalanya hingga ke akar. Dia hanya sibuk memperbanyak koleksi sihirnya tanpa mau memahami lebih dalam karakteristik dari sihir-sihir tersebut.

(Mungkin... dia pikir 'Sihir tingkat tinggi pasti lebih unggul daripada tingkat rendah atau menengah. Lihatlah betapa hebatnya aku yang bisa memakai sihir keren ini. Pujilah aku semuanya'... Dia menggunakan Thunder Storm hanya karena rasa haus akan pengakuan.)

Benar-benar... pria yang sangat menyedihkan.

Jika Cedric tidak lulus, tujuannya untuk menjadi penyihir istana akan pupus.

Kecuali ada alasan yang sangat mendesak, pihak istana hampir tidak pernah merekrut orang yang bukan lulusan Akademi Kerajaan.

(Kalau begitu, impian keluarga Viscount Kehormatan Evern untuk menjadi Viscount resmi juga akan gagal total... Ayah pasti akan mengamuk gila-gilaan.)

Keluarga Evern sudah memegang gelar Viscount Kehormatan selama dua generasi. Jika Cedric menjadi penyihir istana, mereka seharusnya bisa menjadi Viscount resmi.

Bayangkan saja, putra yang mereka yakini pasti jadi penyihir istana, Cedric si 'genius' yang diagung-agungkan, ternyata tidak lulus. Ayahnya pasti akan meledak karena amarah yang luar biasa.

(Dan jika aku—yang mereka anggap barang cacat tanpa kekuatan sihir—malah lulus ujian akademi, bayangkan betapa sakit hatinya mereka nanti... Gawat, aku jadi sedikit ingin melihat ekspresi itu.)

"Tiba-tiba aku jadi sangat bersemangat. Alasanku untuk lulus bertambah satu lagi."

Rest mengepalkan tangannya, memantapkan tekadnya sekali lagi untuk lulus apa pun yang terjadi.

Akhirnya... hari ujian masuk jalur rakyat jelata pun tiba.

Bisa atau tidaknya ia masuk ke Akademi Kerajaan akan sangat memengaruhi rencana hidupnya ke depan.

Tanpa berlebihan... ini adalah hari yang akan menentukan apakah hidup Rest akan berakhir sebagai pemenang atau tidak.

"Rest-kun, berjuanglah! Aku percaya padamu!"

"Tuan Rest pasti bisa lulus! Semangat ya!"

Viola dan Primula keluar sampai ke pintu masuk untuk memberinya semangat.

Bukan sekadar kata-kata, mereka bahkan memeluknya. Tatapan hangat dari para pelayan di sekitar membuat Rest merasa agak salah tingkah.

"Terima kasih... demi kalian berdua juga, aku pasti akan lulus!"

Mereka berdua telah membawanya keluar dari keluarga Viscount Kehormatan Evern.

Memberinya materi belajar, mengajarinya ilmu pengetahuan, bahkan memberinya mentor sihir dan pertarungan.

Demi menjawab ekspektasi mereka yang telah memberikan lingkungan belajar terbaik, ia harus lulus.

"Baiklah... berangkat!"

Rest menyandang tas yang sudah ia periksa isinya berkali-kali.

Ia meninggalkan kediaman pada waktu yang sangat longgar, lalu berlari kecil menuju Akademi Kerajaan.

Keluarga Marquis menawarkan kereta kuda, tapi Rest menolaknya dan memilih pergi dengan berjalan kaki.

(Bagaimanapun statusku adalah pelayan, tidak pantas memakai kereta dengan lambang keluarga Marquis. Lagipula... berlari dengan kaki sendiri jauh lebih cepat.)

Jarak dari kediaman Marquis di kawasan bangsawan menuju akademi sekitar satu jam berjalan kaki.

Dengan memperkuat kecepatannya menggunakan sihir, ia bisa sampai dalam waktu kurang dari sepuluh menit.

"Hut... hut... hut..."

Ia mengatur napas dengan ritme konstan, menggerakkan kaki dan tangannya, mengubah pemandangan sekitar menjadi sapuan angin sambil terus berlari menuju akademi tujuan.

Ia tidak akan melakukan kesalahan konyol seperti tersesat. Ia sudah mensurvei lokasi akademi sebelumnya, dan rutenya sudah tertanam jelas di kepalanya.

(Ujian tertulis tidak masalah. Aku bisa mengerjakan soal-soal tahun lalu dengan nilai memuaskan. Guru Dieble bahkan menjamin kalau aku 'sudah bisa jadi penyihir istana sekarang juga'. Aku juga sudah berdoa di kuil. Semalam juga sudah istirahat cukup... Tenang, semuanya akan baik-baik saja!)

Tidak masalah. Tidak mungkin gagal. Aku pasti bisa lulus... ia memiliki keyakinan itu.

(Tapi... aneh ya. Sebanyak apa pun aku belajar, rasa cemas ini tidak hilang. Jadi teringat ujian masuk SMA dulu.)

Di kehidupan sebelumnya, Rest yang tidak beruntung dalam lingkungan keluarga mengikuti ujian SMA yang memiliki sistem beasiswa penuh. Ia belajar mati-matian, berusaha sekeras mungkin hingga hampir kelelahan luar biasa.

Meski sudah berusaha mempertaruhkan nyawa, pada hari ujian rasa cemas tetap tidak bisa hilang. Persis seperti momen saat ini.

(Karena aku sudah berjuang, karena aku sudah berusaha keras... itulah kenapa aku jadi khawatir apakah bisa memberikan hasil yang sebanding.)

Merasa cemas itu wajar. Meski begitu, ia akan tetap memberikan hasil yang terbaik.

Saat ujian SMA dulu pun berhasil... kali ini pun, ia pasti bisa lulus.

"Usaha tidak akan mengkhianati... aku bisa, aku pasti bisa...!"

Sambil menyemangati diri sendiri, Rest terus melaju menuju akademi. Namun, di sana terjadi situasi yang tak terduga.

"KYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!"

"............Eh?"

Sebuah jeritan melengking membelah udara pagi.

Secara refleks, Rest mendongak ke arah suara tersebut.

"Seseorang, toloooooooooooooooong!"

"...Apa yang sedang dilakukan orang itu?"

Mata Rest menangkap sosok seorang gadis yang jatuh terjun bebas dari menara jam ibu kota.

Yuri Katreia. Gadis yang ia temui di Gunung Errors beberapa bulan lalu, kini sedang meluncur deras menuju tanah.

Rest teringat kejadian waktu itu, segera mengaktifkan sihirnya, dan menciptakan sebuah bola air raksasa.

"Blubuk blubuk... phuuaah!?"

"Aku tidak menyangka akan bertemu di tempat seperti ini... Yuri."

Rest menangkap tubuh Yuri yang hantamannya sudah diredam oleh air.

Begitu sihir dihentikan, muncullah Yuri yang basah kuyup seperti waktu itu.

"Kamu... bukankah kamu Rest! Apa yang kamu lakukan di sini!?"

"Itu dua ratus persen kalimatku. Kenapa kamu selalu jatuh dari langit?"

Rest bertanya dengan penuh keheranan sambil mengeringkan pakaian gadis itu.

"Sebenarnya ada tempat yang ingin kutuju, tapi aku tersesat. Kupikir kalau melihat dari tempat tinggi seperti sebelumnya, aku bisa menemukan tempat tujuanku, jadi aku memanjat ke sana."

'Ke sana' yang dimaksud pastilah Menara Jam yang menjadi simbol ibu kota.

Biasanya menara itu dibuka sebagai tempat wisata, tapi karena ini masih sangat pagi, seharusnya menara itu masih tertutup.

"Aku memanjat dari luar. Agak sedikit sulit sih."

"Memanjat...? Jangan-jangan, kamu merayap di dindingnya!?"

"Iya, kupikir karena banyak bagian yang bisa dipegang aku bakal berhasil, tapi begitu sampai di puncak, tanganku tidak sengaja terpeleset. Hampir saja aku terluka."

Yuri tertawa riang, padahal secara normal, jatuh dari puncak Menara Jam tidak akan berakhir hanya dengan sekadar 'luka'.

Lagipula, jika bicara soal 'normal', tidak ada orang yang bisa memanjat menara setinggi itu dari sisi luar.

"Begitu ya... maaf, tapi aku sedang terburu-buru, jadi aku pergi dulu."

Meski sedikit penasaran ke mana Yuri ingin pergi, Rest juga sedang diburu waktu. Memang masih ada waktu luang, tapi bukan berarti ia bisa mengobrol selamanya.

"Kalau tersesat, pergilah ke pos penjaga di jalan lurus ini, atau tanya orang yang lewat. Tapi, jangan ikut dengan orang yang mencurigakan."

Rest meninggalkan pesan itu dan segera beranjak pergi.

"Ah! Tunggu dulu!"

Namun... Yuri berlari mengejar dan menyejajarkan posisinya di samping Rest.

Padahal ia tidak terlihat menggunakan sihir, tapi ia bisa berlari dengan kecepatan yang sama dengan Rest yang sedang memperkuat fungsi tubuhnya.

"Aku ditolong lagi. Bolehkah aku memberikan sesuatu sebagai tanda terima kasih?"

"Tidak usah, tidak apa-apa. Jangan dipikirkan."

"Jangan bicara begitu. Ini kan takdir pertemuan kita. Rasanya sedih kalau berpisah begitu saja."

Yuri tersenyum lebar. Tampaknya ia tulus ingin berterima kasih tanpa maksud terselubung.

Rest menghargai niatnya, tapi ia benar-benar ingin segera sampai.

Tanpa memperlambat kecepatan, ia terus berlari di jalan utama.

"Maaf... tapi setelah ini aku ada ujian penting. Kalau mau berterima kasih, lakukan saja saat kita bertemu lagi nanti, oke?"

"Ujian? Kalau ujian, jangan-jangan ujian masuk Akademi Kerajaan?"

"Benar... ah, sudah sampai."

Sambil mengobrol, mereka terus berlari hingga akhirnya tiba di gerbang Akademi Kerajaan.

Di depan gerbang, terdapat konter pendaftaran di mana banyak peserta ujian sedang mengantre.

"Ah! Ternyata, aku ditolong oleh Rest lagi!"

"Hm?"

"Aku juga ingin ke sini! Tentu saja tujuanku adalah ikut ujian!"

Yuri mengatakannya dengan lantang sambil memamerkan senyum secerah bunga matahari.

"Kalau kita berdua lulus, mulai tahun depan kita teman sekelas ya! Aku akan sangat senang kalau bisa bersama Rest!"

"............Serius?"

Rest bergumam dengan wajah datar.

Tampaknya, ada ikatan aneh antara dirinya dan gadis bernama Yuri Katreia ini.

(Kuharap ini bukan nasib buruk atau semacamnya... aku jadi merasa agak takut...)

Rest merasakan hawa dingin di punggungnya sambil mengeluarkan kartu ujian dari tasnya.

Setelah menyelesaikan pendaftaran, Rest masuk ke ruang kelas yang sudah ditentukan sesuai nomor ujiannya. Ia duduk di kursi yang telah ditetapkan.

Ngomong-ngomong... ia berada di kelas yang berbeda dengan Yuri, mereka berpisah di koridor.

(Tapi tetap saja... apa alasan putri dari keluarga Marquis Katreia ikut ujian jalur rakyat jelata? Ah, bukan saatnya memikirkan hal yang tidak perlu...)

Latar belakang Yuri memang menarik, tapi sekarang ia harus fokus pada ujian.

Hal pertama yang dilakukan adalah ujian tertulis. Inilah saatnya menunjukkan hasil belajarnya bersama Viola dan Primula.

Meski ujian baru akan dimulai dua puluh menit lagi, hampir semua kursi di kelas sudah terisi.

(Satu kelas sekitar tiga puluh orang. Berarti total peserta ada sekitar tiga ratus orang...)

Menurut informasi yang ia dapat sebelumnya, jumlah kelulusan jalur rakyat jelata berubah-ubah setiap tahunnya.

Ujian jalur bangsawan dilakukan lebih dulu, dan para bangsawan yang mencapai standar tertentu semuanya dinyatakan lulus.

Kemudian, sisa kuota yang tersedia barulah diberikan kepada peserta jalur rakyat jelata.

(Peserta jalur rakyat jelata ada tiga ratus orang, seperti tahun-tahun biasanya. Kudengar tingkat kelulusannya hanya sekitar dua puluh persen...)

Banyak rakyat jelata yang direkomendasikan untuk ikut ujian, namun sebagian besar akan gagal.

Rendahnya tingkat kelulusan ini disebabkan karena beberapa bangsawan memberikan surat rekomendasi secara sembarangan kepada pelayan muda mereka agar bisa menemani mereka di dalam akademi.

Bangsawan kelas atas biasanya memiliki pelayan berkualitas tinggi yang pasti lulus, tapi bangsawan kelas bawah tidak begitu. Mereka hanya asal coba-coba.

Rest mengeluarkan alat tulis termasuk cadangannya ke atas meja, lalu menarik napas dalam-kali berkali-kali untuk menenangkan hati.

Saat ia sedang menajamkan konsentrasinya, pintu depan kelas terbuka dan seorang wanita yang tampaknya adalah pengajar muncul.

"Dengan ini, ujian masuk Akademi Kerajaan jalur rakyat jelata resmi dimulai."

Ujian telah tiba. Rest menegakkan punggungnya karena tegang.

"Pertama adalah ujian tertulis. Materi ujian tertulis sama untuk semua departemen dengan durasi tiga jam. Siapa pun yang melakukan kecurangan akan langsung dinyatakan tidak lulus tanpa pengecualian dan diminta meninggalkan ruangan."

Lembar jawaban yang dibalik dibagikan kepada seluruh peserta.

Ketegangan menyelimuti ruangan. Suara napas yang tertahan entah milik Rest sendiri atau peserta lain.

"Kalau begitu... ujian dimulai! Silakan balik lembar jawaban dan mulai kerjakan!"

Seluruh peserta serentak membalik kertas mereka.

Rest memegang alat tulis dan mulai mengerjakan soal.

(Pertama soal sejarah... 'Sebutkan nama Lima Jenderal Naga yang berjasa dalam pendirian Kerajaan Aiwood'.)

Ini bagian yang sudah ia pelajari. Ia segera menuliskan jawabannya.

Soal berikutnya, dan berikutnya lagi, semua bisa ia kerjakan dengan mudah. Semua soal yang berderet di lembar jawaban adalah pengetahuan yang ia dapatkan saat belajar bersama Rosemarie bersaudara.

(Aku benar-benar berterima kasih pada mereka berdua... oh, ini soal sejarah sihir. 'Sebutkan seluruh anggota dari dua belas orang bijak di Dewan Bijak yang telah menjabat selama lebih dari seratus tahun'. Jawabannya adalah Leonardo Gascoigne, Van Walley, Nuada Kedis, dan Kanehira Ichijo.)

Ini adalah bidang keahliannya. Meski termasuk soal yang cukup sulit, ia menuliskannya dengan lancar.

Setelah dua jam berlalu, ia sudah menyelesaikan sembilan puluh persen soal, meski ia tidak berani menjamin benar semua.

'Rest-kun! Kalau sudah selesai, pastikan diperiksa lagi!'

'Tuan Rest, pastikan juga kolom jawabannya tidak bergeser. Jangan pernah lengah!'

Kata-kata Viola dan Primula kemarin terngiang kembali di kepalanya.

Rest tersenyum kecil sambil bergumam "Siap" dalam hati, lalu mulai memeriksa ulang pekerjaannya.

Di waktu yang tersisa, ia memeriksa seluruh lembar jawaban dengan teliti, termasuk memastikan nama dan nomor ujiannya sudah benar.

"Waktu habis. Ujian selesai!"

Akhirnya waktu yang ditentukan tiba, dan Rest menghela napas panjang untuk melepaskan beban mentalnya.

Ia melihat pengawas mengumpulkan lembar jawaban dengan tatapan seolah itu urusan orang lain.

"Tu-tunggu! Sedikit lagi, tinggal sedikit lagi...!"

"Ayo, cepat kumpulkan!"

Sama seperti ujian di kehidupan sebelumnya, selalu ada orang yang tetap keras kepala menulis sampai detik terakhir.

Beberapa peserta bahkan dibentak, "Kalau tidak cepat dikumpulkan, akan kuanggap tidak lulus!"

(Rasanya cukup memuaskan... aku sudah melakukan yang terbaik...)

"Aaa! Aku lupa menulis nama! Tu... kembalikan kertaskuuuuuuuu!"

Teriakan malang terdengar dari sudut kelas... tapi Rest tidak memedulikannya dan memilih memijat matanya dari atas kelopak mata.

Setelah ujian tertulis selesai dan istirahat sejenak, berikutnya adalah ujian praktik.

Ujian praktik dilakukan terpisah berdasarkan departemen masing-masing. Rest mengikuti ujian Departemen Sihir.

Sesuai instruksi pengawas, mereka pindah ke lapangan terbuka.

"Ho ho ho. Baiklah, sekarang kita akan melaksanakan ujian praktik Departemen Sihir."

Sekitar seratus peserta yang pindah ke lapangan disambut oleh seorang pria tua mengenakan jubah megah.

Ia memiliki janggut putih panjang dan membawa tongkat besar setinggi tubuhnya.

Usianya pasti sudah di atas tujuh puluh tahun, tapi punggungnya tegak lurus dan ia tampak sangat bugar.

"Namaku Velroid Hahn. Yah, bisa dibilang aku adalah kepala sekolah di akademi ini."

"Velroid Hahn!? Kenapa orang bijak sekaligus kepala sekolah ada di sini...!"

Salah satu peserta berseru tanpa sadar.

Velroid Hahn.

Rest pun mengenal nama itu. Nama tersebut tertulis di buku yang ia baca saat belajar untuk ujian.

Anggota 'Dewan Bijak' yang merupakan organisasi penyihir terbaik di dunia, sekaligus penyihir terkuat di negeri ini.

Meski berasal dari kalangan rakyat jelata, ia memiliki pengaruh besar bukan hanya terhadap petinggi dalam negeri, tapi juga keluarga kerajaan negara lain.

Ia bahkan dianugerahi gelar 'Duke Kehormatan', menjadikannya salah satu pemegang kekuasaan tertinggi di luar keluarga kerajaan.

"Seharusnya pengajar lain yang menjadi pengawas ujian... tapi orang itu ada urusan mendadak dan sedang meninggalkan ibu kota. Jadi, aku yang akan menggantikannya sebagai penguji."

Sambil mengelus janggutnya, sang kepala sekolah tertawa riang.

Di sisi lain, para peserta tidak bisa tertawa. Kehadiran sang kepala sekolah—salah satu penyihir terbaik dunia—membuat beberapa orang membeku karena tegang.

"Siapa pun pengujinya, apa yang harus kalian lakukan tidak berubah. Aku akan menjelaskan materi ujian praktiknya."

Kepala sekolah menunjukkan tempat yang agak jauh dengan tongkatnya.

Di permukaan lapangan terdapat garis putih, dan sekitar sepuluh meter di depannya berdiri target berbentuk lingkaran.

"Sekarang, kalian akan berdiri di garis itu dan menyerang target menggunakan sihir. Target itu memiliki fungsi untuk mengukur daya hancur dalam bentuk angka, dan angka yang muncul akan langsung menjadi skor kalian."

Materi ujiannya tidak berubah dari apa yang ia dengar sebelumnya. Sama dengan ujian jalur bangsawan.

"Kalian hanya boleh menyerang satu kali, tapi kalian bebas menggunakan sihir berkali-kali. Pikirkan baik-baik sihir apa yang akan kalian gunakan."

Penjelasan kepala sekolah membuat sebagian besar peserta memiringkan kepala bingung.

Boleh memakai sihir berkali-kali, tapi hanya boleh menyerang satu kali... itu penjelasan yang sulit dimengerti.

(Ah... begitu ya.)

Di sisi lain, Rest memahami maksud di balik kata-kata tersebut.

(Artinya, boleh mengombinasikan beberapa sihir untuk satu serangan.)

Sihir komposit melalui aktivasi ganda. Itu adalah teknik sihir tingkat tinggi yang bahkan banyak penyihir istana pun tidak bisa melakukannya.

Pada dasarnya, aktivasi ganda saja sudah sulit. Mengombinasikan sihir yang diaktifkan bersamaan jelas jauh lebih sulit lagi.

(Tapi... Guru Dieble juga pernah bilang kalau sihir tingkat rendah pun, jika dikombinasikan, bisa menghasilkan daya hancur yang melampaui sihir tingkat tinggi. Menguasai dasar hingga ke puncaknya adalah jalan menuju teknik rahasia, ya.)

"Kalau begitu, kita mulai sesuai urutan nomor ujian. Pertama, nomor ujian 2001, Jack-kun."

"I-iya!"

Seorang pemuda yang tampak lugu maju ke depan garis. Setelah menarik napas panjang, ia mengaktifkan sihirnya.

"Wind Cutter!"

Sihir tingkat rendah elemen angin dilepaskan. Bilah angin melesat lurus ke arah target dan mengenainya.

"Umu, 57 poin."

Angka putih muncul di atas target. Tulisan itu muncul di udara kosong, kemungkinan hasil aplikasi dari sihir ilusi elemen cahaya.

"Berikutnya, nomor 2002, Sergio-kun."

"Baik..."

Peserta yang dipanggil oleh kepala sekolah maju bergantian dan melepaskan sihir mereka.

Melihat skor dari separuh peserta, rata-ratanya berada di angka 60.

Kebanyakan menggunakan sihir tingkat rendah... meski ada beberapa orang yang berhasil mengaktifkan sihir tingkat menengah.

"Selanjutnya... nomor 2069, Nona Yuri Katreia."

"Baik!"

Dengan jawaban yang sangat bersemangat, gadis berambut merah yang ia temui sebelum ujian—Yuri—maju ke depan.

(Eh... dia ikut ujian Departemen Sihir? Mengingat kemampuan fisiknya yang luar biasa dan dia putri ksatria komandan, kukira dia akan mengambil Departemen Ksatria...?)

"Hei, Katreia itu..."

"Kenapa dia di Departemen Sihir... bukan, kenapa dia ikut jalur rakyat jelata...?"

Bisik-bisik mulai terdengar di antara peserta.

Sekali lagi, jika dia memang ingin menyembunyikan identitasnya, seharusnya dia tidak menyebutkan nama keluarganya.

"Baiklah, aku mulai! Stone Bullet!"

Yuri menjulurkan tangannya dan mengaktifkan sihir. Itu adalah sihir tingkat rendah untuk melemparkan kerikil ke arah lawan.

"HAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!"

Yuri mengerahkan kekuatannya dalam waktu yang cukup lama... dan perlahan, sangat perlahan, sebuah batu mulai tercipta di udara. Butuh waktu lebih dari lima menit hanya untuk menciptakan kerikil seukuran telapak tangan.

"............Serius nih?"

Rest tanpa sadar bergumam.

Jelas sekali kekuatan sihirnya tidak mencukupi.

Hanya untuk membuat kerikil sekecil itu, Yuri harus memeras seluruh energi sihir dari tubuhnya.

Bukan hanya kapasitas sihirnya saja, tapi kecepatan aktivasi dan daya keluarnya pun di bawah rata-rata.

(Dengan keadaan seperti ini, meski kasihan, sepertinya tidak mungkin dia lulus...)

Rest menggelengkan kepalanya dengan iba.

Namun... tepat setelah itu, terjadi sesuatu yang tidak disangka-sangka oleh siapa pun.

"Oke... Hiaaa!"

"Eeeh!? Bo-bohong, 'kan!?"

Melihat pemandangan yang mustahil di depan matanya, suara Rest sampai melengking saking kagetnya.

Yuri menangkap kerikil yang tercipta di udara dengan tangannya, lalu melemparkannya sekuat tenaga.

Batu yang dilempar itu mengeluarkan suara siulan angin yang tajam—gyuinnn!—dan menghantam target dengan telak. Target yang sedari tadi tidak hancur meski dihujani berbagai sihir itu kini tampak retak besar.

Angka yang muncul di atas target adalah 175. Sepertinya batas maksimal skornya bukan seratus poin.

(K-kekuatan fisik macam apa itu... Ini bukannya ujian sihir, ya...?)

"Yeeay! Skor tertinggi!"

Meninggalkan semua orang yang terpaku tak percaya, Yuri melompat-lompat kegirangan merayakan kemenangannya.

'Mana boleh begitu!' batin seluruh peserta ujian seolah menjadi satu.

(Ini... bukannya jelas-jelas pelanggaran? Harusnya dia didiskualifikasi, 'kan...?)

"Ho ho ho, begitu ya. Aku tidak terpikir ide seperti itu sama sekali."

Namun... kepala sekolah yang bertindak sebagai pengawas malah tertawa hingga bahunya berguncang geli.

"Umu. Tidak ada dalam aturan yang melarang melempar batu yang diciptakan dengan sihir. Kamu boleh kembali ke barisan."

"Baik! Terima kasih banyak!"

Tampaknya, Yuri tidak dianggap melanggar aturan.

Yuri kembali sambil tersenyum lebar, sementara target yang retak diganti dengan yang baru.

"Berikutnya... nomor ujian 2124. Seloric Brute-kun."

"Ya."

"Aduh!"

Ujian pun berlanjut... namun tiba-tiba, punggung Rest didorong dengan kasar.

"Minggir. Beri jalan, dasar rakyat jelata!"

Yang mendorong Rest adalah seorang pemuda berpakaian sangat rapi untuk ukuran rakyat jelata.

Mengingat nama keluarganya dipanggil secara lengkap, mungkinkah dia seorang bangsawan?

"Aku ini dari keluarga cabang Count Brute, tahu! Jangan menghalangi jalanku!"

(Keluarga cabang... ah, artinya dia tetap rakyat jelata, 'kan.)

Di kalangan bangsawan lama, ada silsilah yang memiliki keluarga cabang dari keluarga utama.

Meskipun menyandang nama keluarga yang sama, keluarga cabang sering kali berstatus rakyat jelata karena tidak memiliki gelar bangsawan maupun wilayah kekuasaan.

(Pasti orang ini juga begitu... Padahal sesama rakyat jelata, tapi sombong sekali. Namanya juga mirip dengan 'si itu', sepertinya dia tipe orang yang bermasalah...)

Sambil merasa jengah pada pemuda bernama Seloric yang namanya mirip dengan kakaknya itu, Rest menyingkir dengan tenang.

Ia tidak berniat mencari masalah di tengah-tengah ujian.

"Hmph!"

Pemuda Seloric itu mendengus remeh, lalu maju ke depan garis.

"Lihat ini, wahai rakyat jelata! Inilah sihir agung milikku yang mewarisi darah keluarga Count Brute!"

Seloric memasang kuda-kuda dengan kedua tangannya... lalu melepaskan serangan api yang kuat.

"Fire Bolt!"

Sihir yang dilepaskan Seloric adalah sihir elemen api tingkat menengah. Api yang berkobar hebat itu menghantam target.

Sesuai dengan kesombongannya, sihir itu memang cukup kuat.

Skor yang tertera di atas target adalah 102. Itu adalah skor tertinggi jika tidak menghitung Yuri.

"Hmph! Hal sepele kalau aku yang melakukannya!"

Seloric tertawa angkuh dan membusungkan dadanya tinggi-tinggi.

Dengan gaya berjalan yang sok berkuasa, ia kembali ke barisan peserta.

"Berikutnya... nomor ujian 2125, Rest-kun."

"Ya."

Akhirnya, giliran Rest tiba.

Ia melangkah menuju garis... namun dari belakang terdengar tawa ejekan yang menyebalkan.

"Haha! Rakyat jelata berpakaian kumal seperti itu bisa apa, sih!"

"............"

Pemilik suara itu adalah pemuda Seloric. Entah apa yang tidak ia sukai dari Rest sampai-sampai ia sengaja memprovokasi.

(Apa orang ini klon-nya Cedric? Mulutnya pedas sekali...)

Meskipun sedikit kesal... Rest tidak membiarkan hatinya goyah. Ia menarik napas dalam-dalam.

"Aku mulai...!"

Setelah menyatakan kesiapannya dengan jelas, Rest mengaktifkan sihir yang sudah ia tentukan sebelumnya.

"Fire Ball."

Sebuah bola api tercipta di depan Rest. Itu adalah sihir serangan elemen api tingkat paling rendah yang sudah sangat umum.

"Haha! Bukannya itu sihir tingkat paling bawah? Benar-benar sihir sampah yang cocok untuk rakyat jelata!"

Terdengar suara cemoohan dari kerumunan peserta.

Tanpa perlu memastikan siapa pelakunya, Rest yang sedang fokus memilih untuk mengabaikannya.

(Tertawalah selagi bisa... karena sebentar lagi aku akan membuatmu terdiam.)

"Amplification."

Rest mengaktifkan sihir penguat secara paralel untuk memperbesar daya hancurnya.

Bola api itu pun membesar, hingga akhirnya mencapai ukuran yang melebihi tinggi badan manusia.

"Apa...!"

"Hebat, besar sekali!"

Peserta lain berseru kaget.

Rest tidak melihatnya, tapi ia yakin pemuda Seloric itu pun pasti sedang ternganga.

(Tapi... ini belum selesai.)

"Compression."

Ia mengompres bola api raksasa itu hingga menjadi kecil kembali.

Mayoritas peserta mungkin tidak paham apa yang sedang terjadi... namun dengan memadatkan api tersebut, suhu dan daya ledaknya meningkat drastis.

(Sudah terbukti bahwa sihir ini sangat efektif untuk Fire Ball. Dan sebagai puncaknya...!)

"Accelerator."

Sihir untuk meningkatkan kecepatan suatu objek. Biasanya digunakan untuk meningkatkan kecepatan diri sendiri, namun Rest menerapkannya pada serangan sihirnya.




Ia melepaskan satu serangan yang telah diperkuat hingga batas maksimal menggunakan sihir paralel Quartet.

"Tembak...!"

Bola api yang telah dikompresi hingga densitasnya meningkat pesat itu melesat secepat peluru.

Sihir itu meluncur dengan kecepatan mendekati ultrasonik, menghantam tepat di tengah target sesuai sasaran, dan memicu ledakan dahsyat.

"Apa...!"

"Hebat... daya hancur macam apa itu...!"

"Bo-bohong, 'kan... rakyat jelata seperti dia bisa..."

Setelah kobaran api menghilang, yang tersisa di sana hanyalah kepingan-kepingan target yang hancur berkeping-keping.

Meski targetnya telah musnah total... angka yang menunjukkan kekuatan serangan tetap terpampang di sana.

Skornya adalah 387. Tanpa perlu diperdebatkan lagi, itu adalah skor tertinggi dalam ujian kali ini.

"Sepertinya Accelerator tadi tidak terlalu perlu... tanpa tambahan kecepatan pun, poin ini sudah lebih dari cukup untuk lulus."

"Bohong! Tidak mungkin sihir tingkat rendah bisa punya daya hancur seperti itu! Kamu pasti berbuat curang!"

Belum sempat Rest menikmati kemenangannya, sebuah suara protes membahana. Tentu saja, pelakunya adalah si pemuda Seloric.

"Ini curang! Batalkan hasilnya! Mana mungkin aku kalah dari rakyat jelata sepertimu!"

"Diam, anak muda."

Kepala sekolah menegur keras pemuda Seloric yang terus memprotes.

"Sihir akan menjadi semakin kuat jika dikompresi. Meskipun itu sihir tingkat rendah, jika diperkuat dengan sihir lain, ia bisa menghasilkan daya hancur yang melampaui sihir tingkat tinggi. Terlebih lagi, ia mengaktifkan sihir secara Quartet... di jajaran penyihir istana pun, bahkan tidak ada lima orang yang bisa melakukannya. Sebuah pemandangan yang luar biasa."

"A... u..."

"Daripada merendahkan orang lain yang lebih hebat darimu, sebaiknya contohlah dan jadikan itu pelajaran. Itu akan jauh lebih bermanfaat bagi dirimu sendiri."

"............"

Mendapat teguran halus namun telak itu, si pemuda Seloric terdiam dengan wajah kesal... ia lalu menatap Rest dengan penuh kebencian.

(Aku berhasil... Guru Dieble.)

Rest hanya melirik sekilas ke arah pemuda itu, lalu mengepalkan tangannya puas melihat hasil ujiannya yang sempurna.

Setelah ujian praktik berakhir, para peserta ujian Departemen Sihir berpindah dari lapangan menuju aula. Mereka sedang menunggu giliran untuk sesi wawancara singkat.

"Hei... anak itu..."

"Iya, gila sekali. Bisa dapat skor lebih dari 300..."

"Mungkinkah dia sebenarnya bangsawan? Anak haram dari penyihir ternama, mungkin?"

(Sepertinya aku terlalu menonjol... yah, aku memang tidak berniat menahan diri sih.)

Topik pembicaraan para peserta di aula tidak jauh dari Rest, sang peraih skor tertinggi.

Saat rata-rata peserta lain hanya mendapat 60 poin, Rest meraih 387 poin. Ia mendapatkan skor enam kali lipat lebih besar dari rata-rata.

Karena telah menunjukkan perbedaan level yang begitu mencolok, ia pun menjadi pusat perhatian.

"Sial... kenapa aku... aku yang mewarisi darah agung keluarga Count Brute, bisa kalah dari rakyat jelata kumal sepertinya...!"

Di saat banyak peserta menatap Rest dengan rasa kagum atau penasaran, hanya pemuda Seloric yang memandangnya dengan mata penuh dendam.

Tampaknya rasa kalahnya begitu besar hingga ia terlihat seperti ingin membunuh Rest hanya lewat tatapan matanya.

(Lagipula, pakaianku tidak seburuk itu sampai dibilang kumal. Sifat iri dan tidak mau kalahnya benar-benar mirip dengan si kakak bodoh itu. Apa kalau namanya mirip, sifat buruknya juga tertular...?)

Mungkin ramalan berdasarkan nama memang ada benarnya. Rest bertekad dalam hati, jika suatu saat nanti ia punya anak, ia akan memikirkan namanya baik-baik.

"Yang tadi itu keren sekali! Bagaimana caranya agar Fire Ball bisa sekuat itu?"

Di saat orang lain menjaga jarak, Yuri datang duduk di sampingnya dan menyapa dengan akrab.

"Sepertinya kamu mengaktifkan beberapa sihir sekaligus... apa ada rahasia di baliknya?"

"Ah, iya. Itu disebut sihir ganda atau sihir komposit."

"Hmm, hmm. Aku sudah tahu kalau Rest itu hebat sejak pertama kali kita bertemu! Mataku memang tidak pernah salah!"

"Kamu sendiri juga hebat tadi... sejujurnya, aku sangat terkejut."

Ia tidak pernah menyangka ada orang yang akan melempar batu hasil sihir.

Aksi fisik itu pasti membuat seluruh peserta terpana. Memanfaatkan celah dalam aturan; ide yang masuk akal, namun Rest yakin tidak akan ada yang bisa menirunya.

"Maaf kalau ini terkesan lancang... tapi kenapa Yuri mengambil ujian Departemen Sihir? Sejujurnya, aku merasa kamu lebih cocok di Departemen Ksatria...?"

Rest sudah memikirkan ini sejak ujian praktik tadi. Yuri memiliki kemampuan fisik yang luar biasa, sementara kekuatan sihirnya hampir tidak ada.

Ia berani menjamin bahwa Yuri pasti jauh lebih cocok di Departemen Ksatria.

"Ah... itu karena di Departemen Ksatria banyak alumni ksatria istana..."

Senyum Yuri memudar. Wajahnya yang biasanya ceria kini tampak muram.

"Jika pengujinya adalah mantan bawahan ayahku, aku tidak akan pernah bisa lulus. Padahal aku sudah susah payah ikut ujian atas rekomendasi bibiku, aku tidak mau diseret pulang ke rumah lagi."

"Bawahan ayahmu... diseret pulang...?"

"E-eh, bukan! Maksudku bukan begitu!"

Yuri melambaikan tangannya dengan panik.

"Aku bukan putri ksatria komandan, lho! Aku juga tidak kabur dari rumah untuk ikut ujian, ya!"

"Sudahlah... aku mengerti."

Gadis ini benar-benar tidak bisa berbohong.

Dia adalah putri ksatria komandan yang sedang kabur dari rumah, dan mengikuti ujian jalur rakyat jelata lewat rekomendasi bibinya. Karena statusnya yang sedang kabur, ia mungkin tidak bisa mengikuti ujian lewat jalur bangsawan.

"Masalah keluarga memang merepotkan, ya... kita berdua sama-sama berjuang."

"Iya... kamu benar."

Mendengar kata-kata Rest, Yuri mengangguk dengan wajah serius.

"Kalau ada kesempatan, mari kita bicara dari hati ke hati. Saat itu, aku ingin kamu memberitahu rahasia kekuatanmu."

"...Tentu. Jika ada kesempatan."

"Berikutnya, Nona Yuri Katreia. Silakan menuju ruang di dalam."

"Ah, giliranku. Sampai jumpa di upacara penerimaan siswa baru kalau kita lulus!"

"Iya, sampai jumpa."

Yuri melambaikan tangan dengan ceria dan meninggalkan aula. Dia adalah gadis yang tampak sederhana namun memiliki kerumitan tersendiri.

Berada di dekatnya sepertinya akan melelahkan, tapi entah kenapa Rest tidak bisa membencinya.

(Sampai jumpa di upacara penerimaan, ya... kita berdua harus lulus dulu agar itu jadi kenyataan.)

"Berikutnya, Rest-kun."

Saat sedang merenung, namanya dipanggil. Kini gilirannya.

Rest keluar dari aula dan mengikuti instruksi pengawas menuju ruang terpisah.

Di ruangan berukuran sekitar sepuluh tikar tatami itu, terdapat sebuah kursi di tengah. Di meja depan duduk kepala sekolah yang ia temui tadi, Velroid Hahn, dengan senyum ramah.

Di atas meja ada sebuah bola kristal seperti milik peramal, apakah itu hanya pajangan?

"Silakan duduk."

"............Baik."

Rest mengira akan ada dua atau tiga penguji, namun ternyata hanya ada kepala sekolah seorang diri.

(Satu lawan satu... ini malah membuatku makin tegang. Aku sudah belajar etiket di kediaman Marquis, aku harus pastikan tidak berbuat tidak sopan...)

"Tidak perlu kaku begitu. Ini memang disebut wawancara, tapi tujuanku hanya ingin mengobrol sebagai referensi saja," ujar kepala sekolah dengan ramah, seolah bisa membaca ketegangan Rest.

"Hasil wawancara ini tidak akan membuatmu tidak lulus, jadi tenanglah. Lemaskan bahumu dan jawablah dengan santai."

"Baik..."

"Kalau begitu, pertanyaan pertama. Mengapa kamu ingin masuk ke Akademi Kerajaan?"

"............"

Jika ini wawancara biasa, ia seharusnya menjawab hal-hal normatif seperti 'ingin meningkatkan kemampuan' atau 'ingin mengabdi pada masyarakat'.

(Tapi... entah kenapa, aku merasa jika aku berbohong, dia akan langsung tahu.)

Tatapan kepala sekolah memang tidak tajam, namun Rest merasa seolah jiwanya sedang dipindai hingga ke dasar.

(Lebih baik jujur saja...)

"...Aku ingin bahagia. Aku ingin menjadi seseorang yang bisa disebut sebagai orang sukses."

Setelah menarik napas panjang, Rest mengutarakan isi hatinya.

"Hm? Apa maksudnya itu?"

"Aku adalah anak haram dari seorang penyihir istana bernama Lucas Evern. Ibuku yang rakyat jelata meninggal saat aku berusia sepuluh tahun, lalu aku dibawa ke rumah ayahku dan diperlakukan dengan sangat buruk di sana."

"............"

"Melalui sebuah pertemuan tak terduga, aku diambil oleh keluarga Marquis Rosemary... tapi perasaan rendah diri karena tidak dicintai orang tua dan ditindas oleh orang-orang yang seharusnya menjadi keluarga, belum hilang sampai sekarang."

"Jadi kamu ingin membuktikan diri pada ayahmu?"

"Iya, itu adalah separuh alasannya."

Rest mengangguk, lalu mengungkapkan bagian yang jauh lebih dalam di hatinya.

"Alasan lainnya adalah... aku sangat menginginkan sebuah keluarga yang nyata."

"Keluarga...?"

"Iya... keluarga yang bisa saling memikirkan, keluarga yang bisa saling mencintai. Meskipun ada pertengkaran, tidak ada penindasan sepihak. Sebuah keluarga yang hatinya benar-benar terhubung... aku menginginkan keluarga seperti itu. Sebanyak mungkin...!"

Ia ingin keluarga.

Dan... ia ingin kekuatan untuk melindungi keluarga itu.

Agar tidak ada yang bisa merebutnya lagi... Ia ingin mendapatkan kekuatan absolut agar tidak lagi ditindas oleh ketidakadilan, seperti ayahnya di kehidupan sebelumnya yang ia bunuh, atau keluarga Viscount Kehormatan Evern di dunia ini.

"Aku ingin kekuatan untuk melindungi keluarga... Aku ingin kekuatan terkuat yang bisa menghancurkan segala bentuk ketidakadilan yang mengancam diriku dan orang-orang berhargaku...!"

Setelah mengatakannya, Rest tersentak.

(Apakah... ini yang sebenarnya kupikirkan...?)

Itu adalah keinginan bawah sadar yang bahkan tidak disadari oleh Rest sendiri. Kata-kata itu meluncur begitu saja saat ia menjelaskan motivasinya di depan kepala sekolah.

"Begitu ya, jadi itulah inti dari dirimu sebagai manusia."

Setelah mendengar cerita Rest, kepala sekolah mengangguk paham.

"Tadinya aku ingin menanyakan beberapa hal lagi... tapi dari kata-katamu barusan, aku sudah bisa memahami pribadimu. Meski agak cepat, mari kita akhiri wawancara ini."

"Baik... terima kasih banyak."

Rest merasa telah mengatakan hal yang tidak perlu, tapi melihat reaksi kepala sekolah yang tidak buruk, ia merasa lega.

"Terakhir... maukah kamu menyentuh kristal ini?"

Kepala sekolah mengayunkan tangan kanannya, dan bola kristal di meja melayang menuju hadapan Rest.

"Ini...?"

"Sentuh saja, nanti kamu akan tahu."

"............"

Meski merasa heran, Rest tidak merasakan aura berbahaya dari bola kristal itu.

Begitu ujung jarinya menyentuh permukaan kristal... cahaya yang sangat menyilaukan terpancar keluar.

"Uwaa!"

"Ooh!?"

Saat ia menarik jarinya karena kaget, cahaya itu langsung padam.

"Ke-Kepala Sekolah!? Apa ini tadi...?"

"Ah, kristal ini adalah benda sihir untuk mengukur 'kemungkinan masa depan' seseorang. Ia bisa mengukur seberapa besar potensi pertumbuhan seseorang... dan aku benar-benar terkejut."

"Potensi...?"

"Umu. Kamu sudah menunjukkan skor sehebat itu di ujian praktik, ditambah lagi cahaya tadi... artinya kamu bukanlah tipe orang yang bakatnya cepat habis, melainkan masih memiliki ruang pertumbuhan yang sangat besar. Sungguh luar biasa."

Bola kristal itu kembali ke atas meja.

Saat kepala sekolah meletakkan tangannya di kristal tersebut, cahaya yang muncul sangat redup hingga seolah menyatu dengan udara.

"Seperti yang kau lihat, potensiku yang sudah tua ini sudah lemah. Tapi... masa depanmu masih penuh dengan kemungkinan. Kembangkanlah dengan baik."

"...Baik. Terima kasih banyak."

Rest membungkuk hormat.

Meski tidak terlalu paham, sepertinya ia telah melewati sesi wawancara dengan aman.

Setelah mendapat izin, Rest pun keluar dari ruangan.

Ujian selesai setelah wawancara berakhir. Para peserta pun diperbolehkan pulang.

Saat Rest keluar dari akademi, matahari sudah hampir terbenam.

Ia berjalan di sepanjang jalan ibu kota menuju rumah. Karena nomor ujiannya berada di urutan belakang, ia pulang cukup terlambat.

(Viola dan Primula pasti khawatir, aku harus segera pulang tanpa mampir ke mana pun... tapi sepertinya tidak bisa.)

"...Apa ada urusan denganku?"

"...Kau menyadarinya ya, dasar rakyat jelata dekil."

Semenjak keluar dari area akademi, Rest merasakan hawa keberadaan yang mengikutinya.

Saat ia berbalik... dari balik bayangan bangunan, seorang pemuda muncul.

"Kamu tadi..."

Cedric... bukan, namanya Seloric, 'kan.

Pemuda Seloric menatap Rest dengan mata penuh kebencian, seolah Rest adalah pembunuh orang tuanya.

"Berani sekali kamu mempermalukanku tadi! Jangan harap kamu bisa lolos begitu saja setelah menghina keturunan keluarga Count Brute!"

"Uwa, ini benar-benar dendam yang salah sasaran..."

Rest merasa tidak pernah berniat mempermalukannya.

Ia hanya kebetulan mendapatkan skor yang lebih tinggi tepat setelah Seloric menyombongkan skornya.

"Justru itu yang membuatku malu! Berengsek...!"

"...Lalu? Kamu sengaja menungguku hanya untuk mengeluh?"

Bisa dibilang, orang ini benar-benar terlihat bodoh.

Rest rasanya ingin menyuruhnya belajar atau bekerja daripada membuang-buang waktu seperti ini.

(Dia seperti versi KW dari Cedric... saking payahnya, aku malah merasa kagum...)

"Rasakan ini!"

"............!"

Sambil berteriak, Seloric melemparkan sesuatu.

Rest sempat bersiap-siap, namun benda itu ternyata hanyalah sebuah sarung tangan.

"Duel! Aku akan membunuhmu!"

"Pendek sekali sumbumu... duel hanya karena masalah sepele begini?"

Lagipula, duel adalah hak istimewa para bangsawan.

Meskipun dia berasal dari keluarga cabang seorang Count, apa yang dipikirkan pria yang sebenarnya hanya rakyat jelata ini?

"Berisik! Kalau aku bilang duel, ya duel! Mati kau!"

Bahkan sebelum Rest menyetujui, Seloric sudah mengarahkan telapak tangannya dan melepaskan sihir.

Dengan sigap, Rest mengaktifkan sihir pertahanan.

"Fire Bolt!"

"Earth Wall!"

Dinding tanah muncul dari permukaan, menahan serangan api Seloric.

"Gumpalan tanah begitu akan langsung kuhancurkan!"

Seloric berteriak sambil melepaskan api lagi.

Sihir kedua itu menghancurkan dinding tanah hingga berkeping-keping... namun Rest sudah tidak ada di baliknya.

"Apa!?"

"Kemampuan sihirmu tidak buruk, tapi seranganmu kasar dan kurang presisi... sifat itu juga sangat mirip dengan kakak bodohku."

"Gah...!?"

Rest menggunakan dinding tanah untuk mengalihkan perhatian, lalu dengan cepat menyelinap ke belakang Seloric.

Ia melakukan sapuan kaki yang tajam sambil mencengkeram kepala Seloric dan menekannya ke tanah.

"Guu, uuuuu...!"

"Ya, permainan berakhir. Tidak masalah 'kan kalau kuanggap aku pemenang duel ini?"

"Mana mungkin... aku yang berdarah bangsawan, kalah dari rakyat jelata sepertimu...!"

"Kamu juga rakyat jelata, tahu. Benar-benar membuatku jengah..."

Rest menghela napas sambil terus menahan Seloric di tanah.

Kenapa orang-orang yang merasa dirinya bangsawan ini begitu terobsesi dengan status dan silsilah?

Padahal bangsawan murni seperti Viola, Primula, bahkan Yuri pun memiliki sifat yang sangat murah hati kepada orang di bawah mereka.

"...Membayangkan mungkin akan menjadi teman sekelasmu membuatku cemas akan masa depanku di akademi."

"Sial... kamu pikir bisa lolos begitu saja setelah melakukan ini padaku...!?"

"Hm?"

"Aku punya hubungan dengan keluarga Count! Jika aku mengadu pada pelindungku, Count Brute, kamu akan hancur seketika...!"

Sambil terjerembap di tanah, Seloric menggonggong seperti anjing kecil yang berisik.

"Kamu, keluargamu, bahkan kekasihmu tidak akan aman! Kalian semua akan kumasukkan ke penjara karena menghina bangsawan!"

"Wah, Rest-kun. Ternyata kamu di sini."

Di tengah sumpah serapah Seloric, sebuah suara pihak ketiga menyela.

Sebuah kereta kuda berhenti di jalan, dan seorang gadis menjulurkan kepalanya dari sana.

"Kami tidak berpapasan denganmu di jalan, jadi kupikir kita saling melewatkan satu sama lain."

"Viola? Kenapa ada di sini?"

Kereta yang berhenti di dekat mereka adalah kereta dengan lambang keluarga Marquis Rosemary.

Viola menampakkan wajahnya dari jendela kereta dan menyapa Rest dengan senyum.

"Hari ini kami memutuskan untuk makan malam di restoran. Tentu saja bersama Primula dan Ayah juga. Kami mencarimu karena berniat menjemputmu di jalan."

Semenjak beberapa waktu lalu, Rest mulai sering makan bersama keluarga Marquis.

Meskipun tidak lazim bagi pelayan rakyat jelata, hal ini dilakukan karena Viola dan Primula menolak duduk di meja makan bersama orang tua mereka jika Rest tidak ikut.

"Tuan Rest, bagaimana ujiannya?"

Primula mengintip dari balik bahu Viola dengan wajah cemas.

"Ah, lancar jaya."

"Syukurlah... aku lega mendengarnya."

"Kalau Rest-kun, sudah pasti begitu 'kan... Omong-omong, siapa anak laki-laki itu?"

Viola mengalihkan pandangannya pada Seloric yang sedang ditahan oleh Rest.

"La-lambang keluarga Marquis Rosemary...!?"

Wajah Seloric menjadi pucat pasi, giginya bergemeletuk ketakutan.

Baru saja ia menyombongkan silsilah keluarganya yang hanya dari keluarga cabang seorang Count, namun kini ia gemetar saat berhadapan dengan keluarga Marquis yang memiliki kedudukan jauh lebih tinggi.

"Cuma orang asing yang kutemui di ujian. Dia menantangku duel, jadi aku melumpuhkannya."

"Hoo, duel ya? Kedengarannya cukup serius."

"Tuan Besar..."

Kedua kakak beradik itu menyingkir, digantikan oleh Albert, sang kepala keluarga Marquis.

"Nak. Karena kamu menyebut soal duel, berarti kamu dari keluarga bangsawan, 'kan? Sebutkan dari keluarga mana kamu berasal."

"He... a... itu..."

"...Cepat katakan! Jangan buang-buang waktuku!"

"I-iiya! Saya dari keluarga Count Brute!"

Karena dibentak, Seloric buru-buru menjawab.

Rest melepaskan kunciannya pada Seloric... dan pemuda itu pun segera bangkit lalu bersujud (dogeza) di hadapan kereta kuda dengan gemetar.

"Hm, putra Count Brute? Seingatku keluarga itu tidak punya putra seusiamu..."

"I-tidak... itu... maksud saya, saya bukan dari keluarga utama, melainkan dari keluarga cabang..."

"Oho, lalu apa gelar bangsawan keluargamu?"

"...Tidak ada."

"Artinya kamu adalah rakyat jelata? Mengapa rakyat jelata bisa-bisanya bicara soal duel?"

Menunjukkan kebenaran melalui hasil duel adalah hak istimewa bangsawan.

Aturan tidak tertulisnya adalah pihak yang ditantang juga harus seorang bangsawan; mereka boleh menunjuk perwakilan, namun tidak boleh menolak tantangan tersebut.

"Rakyat jelata yang bukan bangsawan memaksa anggota keluargaku untuk berduel, itu artinya kamu tertangkap basah melakukan percobaan penganiayaan."

"Ti-tidak, tapi... saya punya darah Count, dan saya diizinkan menyandang nama Brute..."

"Tetap saja kamu adalah rakyat jelata, bukan? Apakah aku salah?"

"Ugu..."

Seloric terdiam seribu bahasa.

Kata-kata Albert sepenuhnya benar secara hukum dan logika, sehingga ia tidak bisa membantah.

"............"

"...Ya sudahlah. Aku akan mengajukan protes secara langsung kepada Count Brute mengenai masalah ini."

"Ja-jangan begitu..."

"Aku mau makan malam bersama keluargaku... aku tidak mau diganggu oleh hal sepele lebih lama lagi. Rest-kun, cepat naik ke kereta."

"Baik."

Rest memberikan tatapan iba sekilas pada Seloric yang tertunduk lesu, lalu segera naik ke kereta.

Di dalam kereta, pasangan Marquis Rosemary duduk berdampingan, sementara Viola dan Primula duduk di hadapan mereka.

"Rest-kun."

"Silakan duduk di sini."

Kedua kakak beradik itu menepuk kursi kosong di antara mereka sambil tersenyum. Rest pun duduk di tengah-tengah mereka tanpa perlawanan.

"Jalan."

"Baik, Tuan Besar."

Albert memberi perintah pada kusir, dan kereta pun mulai melaju.

Kereta itu pergi tanpa ampun, meninggalkan Seloric yang masih tersungkur lemas di atas tanah.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close