NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Mugen no Majutsu Shi Maryoku Nashi de Heimin no Ko to Hakugai Sareta Ore ⁓ Jitsuha Mugen no Maryoku Mochi Volume 1 Chapter 1

Chapter 1

Keluargaku adalah Keluarga “Beracun”


"Hihn!"

"Bruhihihi!"

"............ Cuma mimpi, ya."

Suara ringkikan kuda bergema tepat di telinga. Embusan napas rendah yang menerpa wajah menyentak Rest dari dunia mimpi kembali ke realitas.

Tempat Rest tertidur adalah sebuah bangunan kecil di halaman kediaman—sebuah kandang kuda.

Seekor kuda menjulurkan leher dari balik pagar, menggigit dan menarik rambut Rest yang tertimbun tumpukan jerami pakan.

"Iya, aku tahu. Aku akan segera ambilkan air, tunggu sebentar."

Rest bangkit sambil menahan kantuk dan menepuk-nepuk jerami yang menempel di tubuhnya.

Tidur di kandang kuda, dibangunkan oleh kuda, lalu merawat kuda... Itulah rutinitas harian yang biasa dia jalani.

Dengan gerakan terampil, Rest mengganti pakan dan air, lalu membersihkan bagian dalam kandang dengan teliti. Saat dia mulai menyikat bulu-bulu kuda itu, mereka mengeluarkan ringkikan yang terdengar nyaman.

"Hihn."

"Sekarang sudah bersih dan terasa enak, kan, Jenny? Lucy?"

"Hin hin."

"Ah, aku juga merasa senang. Sudah lama aku tidak memimpikan Ibu."

Mengingat senyum lembut ibunya, Rest tersenyum tipis.

Sudah tepat dua tahun sejak ibunya berpulang ke haribaan Tuhan. Penyebabnya adalah wabah penyakit. Rest telah berusaha mati-matian mengumpulkan uang untuk membeli obat, namun sayangnya tidak sempat.

Bisa pergi dengan tenang tanpa merasakan sakit yang berkepanjangan mungkin adalah satu-satunya keberuntungan di tengah kemalangan tersebut.

Usia Rest sekarang dua belas tahun. Dia datang ke kediaman ini pada usia sepuluh tahun setelah kehilangan ibunya.

Usia dewasa di negara ini adalah lima belas tahun. Sebelum mencapai usia itu, seseorang tidak bisa mendapatkan pekerjaan yang layak. Karena itulah, Rest harus mengikuti hukum negara dan diasuh oleh kerabat sedarahnya... yaitu ayahnya, pria yang telah membuang dirinya dan ibunya.

(Yah, ayahku itu pasti sebenarnya tidak mau menampungku...)

Sambil meratakan jerami dengan alat tani, Rest menyipitkan matanya dengan dingin.

Belakangan dia baru mengetahui kalau ayahnya, yang merupakan seorang penyihir istana, memiliki musuh politik dan mereka saling menjatuhkan di istana kerajaan.

Raja yang memimpin negara ini dikenal sebagai sosok yang bijaksana. Jika ayahnya ketahuan menelantarkan anak yang kehilangan orang tua, itu bisa mengundang ketidaksenangan raja.

Demi tidak memberikan celah bagi musuh politiknya, dia terpaksa menampung Rest meski dengan berat hati.

(Tetap saja... membiarkanku tinggal di kandang kuda menunjukkan betapa buruknya sifat pria itu. Yah, mungkin ini juga karena kejahatan istrinya.)

"Aah... sudah waktunya, ya. Aku pergi dulu."

"Buhihin."

Dengan wajah jemu, Rest mengusap kepala kuda-kudanya... lalu mengaktifkan sihir sebagai sentuhan akhir.

"Clean."

Udara segar mengalir ke dalam kandang kuda, melenyapkan kuman dan bau yang tersisa.

(Kalau dia tahu aku sebenarnya bisa sihir, wajah seperti apa yang akan dia buat, ya... Ah, tapi itu tidak penting.)

Rest mengedikkan bahu dan keluar dari kandang kuda.

Rutinitas pagi merawat kuda sudah selesai... namun masih ada satu pekerjaan yang paling menjijikkan. Saatnya menjilat ayah, ibu tiri, dan kakak tiri yang selalu memandang rendah dirinya.

Ayah Rest, Lucas Evern, yang menyandang gelar Viscount Kehormatan, adalah generasi kedua dari keluarga bangsawan baru.

Kediaman yang ia tempati tidak bisa dibilang besar untuk ukuran bangsawan. Meski begitu, jika dibandingkan dengan kandang kuda, perbedaannya bagai langit dan bumi. Rumah itu terawat dengan baik dan tampak megah dari luar.

Pelayan yang bekerja di sana berjumlah sekitar sepuluh orang. Biasanya, kediaman bangsawan besar akan mempekerjakan anak-anak dari keluarga bangsawan lain, namun karena mereka adalah keluarga bangsawan baru, semua pelayannya berasal dari rakyat jelata.

"Selamat pagi."

"...Pagi. Apa hari ini kau akan melakukan 'itu' lagi?"

"Ya, begitulah."

"Begitu ya... Semangatlah. Jangan menyerah."

Seorang pelayan muda menepuk bahu Rest dengan tatapan penuh simpati.

Setelah masuk ke rumah dan menyapa para pelayan yang berpapasan dengannya, Rest menuju ruang makan. Begitu dia mengetuk pintu, izin masuk segera diberikan. Rest mengembuskan napas panjang sebelum membuka pintu.

"Permisi. Semuanya, selamat pa—"

"Hiat!"

"Aduh...!"

Begitu pintu terbuka, sesuatu yang keras melayang ke arahnya. Benda itu tepat mengenai dahi Rest lalu jatuh ke lantai—sebuah batu seukuran telapak tangan.

"Ahahaha, kena! Berhasil!"

Sambil bertepuk tangan gembira, kakak tirinya, Cedric Evern, bersorak. Duduk di meja makan, kakaknya itu tertawa terbahak-bahak melihat Rest yang dahinya mulai berdarah.

Meskipun disebut kakak, selisih umur Rest dan Cedric hanya setengah tahun. Rest lahir dari pelayan yang dihamili ayahnya saat sang istri sah sedang mengandung Cedric.

(Tapi... meski umurnya sama, perlakuannya jauh berbeda.)

Rest mengeluarkan kain lusuh seperti gombal dan menyeka darah yang mengalir dari dahinya.

Di dalam ruangan itu ada tiga orang: sang pemilik rumah beserta istri dan anaknya. Meja makan sudah dipenuhi makanan, dan mereka bertiga sedang menikmati sarapan.

"...Selamat pagi. Tuan, Nyonya, Tuan Muda Cedric."

"............ Cih."

Tanpa mengungkit soal lukanya sedikit pun, Rest menundukkan kepala menyapa mereka.

Lucas, ayah Rest sekaligus pemilik rumah, sama sekali tidak menegur anak sulungnya yang melakukan perundungan berlebihan itu. Dia hanya mendengus bosan.

"Aduh, hari ini kau kotor sekali, ya. Melihatmu saja rasanya kemiskinanmu bisa menular ke sini."

Suara sinis itu datang dari Liza Evern, istri Lucas sekaligus ibu Cedric. Sang nyonya Viscount Kehormatan itu menatap Rest seperti melihat tumpukan sampah. Sambil menunjuk ke arah lantai dengan jarinya yang dicat kuku, dia mulai mengoceh.

"Anak rendah yang lahir dari rahim kotor memang paling cocok makan seperti anjing! Cepat makan pakanmu hari ini!"

"Benar, benar! Cepat makan sana, dasar darah kotor!"

Sambil tertawa cekikikan, Cedric yang duduk di depan ibunya menghentak-hentakkan kakinya ke lantai berkali-kali. Itu adalah perilaku yang sangat tidak sopan saat makan... namun kedua orang tuanya tidak menegurnya.

"............"

Rest menundukkan pandangannya ke lantai. Di sana, ada sebuah piring berisi sesuatu yang berwarna cokelat. Ini adalah rutinitas setiap pagi. Mereka bertiga memerintahkan Rest untuk merangkak seperti anjing saat makan.

"...Aku makan sekarang."

Sambil menahan penghinaan itu, Rest merangkak dengan kedua tangan dan kakinya lalu mulai memakan makanannya. Dia tidak diizinkan menggunakan pisau atau garpu. Jika dia tidak makan seperti anjing, punggungnya akan dicambuk.

"Ya ampun! Betapa menjijikkannya! Begitu rakusnya dia ingin makan. Benar saja, kalau ibunya rendah, anaknya pun ikut rendah! Memang benar-benar anak yang lahir dari kucing pencuri!"

Melihat Rest yang makan seperti anjing melahap hidangan sampah yang tidak jelas bentuknya, Liza berujar penuh kebencian.

"Baik wanita itu maupun anak ini... benar-benar memuakkan. Aku tidak tahan ada orang rendahan seperti ini di ruangan yang sama denganku!"

Meski berkata tidak tahan, Liza tidak pernah absen memanggil Rest ke ruang makan setiap pagi. Liza belum memaafkan perselingkuhan suaminya hingga sekarang.

Dia membenci Rest yang merupakan hasil dari perselingkuhan itu dan melampiaskan amarahnya dengan menginjak-injak harga diri Rest seperti ini.

(Kecemburuan wanita memang mengerikan... Kalau mau protes, harusnya dia bilang saja pada suaminya yang selingkuh itu.)

Sambil mematikan perasaannya saat makan, Rest dalam hati merasa jengah pada wanita yang merupakan ibu tirinya tersebut.

Lucas menghamili ibu Rest dengan paksa saat ibunya bekerja sebagai pelayan. Ibunya adalah korban sepenuhnya dan tidak seharusnya dibenci.

"Terima kasih atas makanannya! Nah, sekarang saatnya latihan sihir!"

Tampaknya dia sudah selesai makan lebih dulu, Cedric pun berdiri. Saat hendak keluar dari ruang makan, dia sengaja menginjak Rest yang masih merangkak.

"Ugh...!"

"Oi, hari ini jadilah lawan latihanku lagi! Aku mau ganti baju dulu, tunggu di halaman!"

"...Baik. Tuan Muda Cedric."

Setelah Rest menjawab dengan rintihan, Cedric tertawa "Ahahahaha!" dengan riang dan keluar dari ruang makan.

"Mohon maaf, Tuan, Nyonya. Meskipun Anda berdua masih makan... karena ada latihan Tuan Muda Cedric, saya mohon izin undur diri."

"...Terserah kau."

"Mau bagaimana lagi... Awas saja kalau kau berani melawan anakku!"

"Tentu saja tidak. Permisi."

Rest segera keluar dari ruang makan. Sejujurnya, dia berterima kasih pada Cedric karena bisa melarikan diri dari suasana sarapan yang tidak nyaman itu.

(...Benar-benar orang-orang yang sombong. Apa asyiknya melakukan hal seperti itu?)

"Heal."

Rest menyentuh luka di dahinya dan mengaktifkan sihir. Luka yang tadinya mengeluarkan darah menghilang dalam sekejap. Dia menggunakan sihir penyembuhan.

"Untuk berjaga-jaga, sebaiknya aku lilitkan handuk..."

Agar kesembuhan lukanya tidak ketahuan, dia melilitkan kain di kepalanya. Orang-orang di rumah ini tidak peduli padanya, jadi dengan cara ini saja sudah cukup untuk mengelabui mereka.

Meski sudah tinggal bersama selama dua tahun, tidak ada satu pun dari mereka yang menyadari kalau Rest bisa menggunakan sihir.

"Nah... ayo jalan."

Rest mengembuskan napas lelah sembari berjalan menyusuri lorong menuju halaman rumah untuk meladeni latihan Cedric.

Lucas Evern, ayah dari Rest dan Cedric, adalah seorang penyihir istana. Meskipun tugas penyihir istana sangat luas, pekerjaan Lucas adalah mengelola barang-barang sihir.

Dia menyimpan dan mengelola peralatan sihir berbahaya yang tidak bisa ditaruh di istana di kediamannya sendiri, dan dia selalu membanggakan hal itu sebagai bukti kepercayaan dari Raja.

Meski memiliki kepribadian sombong dan haus akan kehormatan, Lucas bukan sekadar omong kosong; dia adalah salah satu pengguna sihir terbaik di negeri ini.

Bakat luar biasanya itu diwarisi oleh Cedric, satu-satunya anak yang diakui oleh Lucas.

Namun... bukan hanya bakatnya yang diwarisi, sifat buruk dan kepribadiannya yang menyimpang pun ikut diturunkan sepenuhnya.

"Ahahahahaha! Ayo, lari, lari!"

"Kh...!"

Cedric menembakkan sihir satu demi satu. Bola api berukuran kepalan tangan, Fireball, mengejar Rest yang berlari menghindar, membakar pakaian dan kulitnya.

"Ayo, ada apa! Kalau kau berhenti, kau akan kena. Ahahahahaha!"

Sambil tertawa terbahak-bahak yang memekakkan telinga, Cedric menghujamkan bola api ke arah Rest yang berlari di halaman.

Cedric, yang bercita-cita menjadi penyihir istana seperti ayahnya, menggunakan Rest sebagai sasaran sihir untuk latihannya. Anak-anak tumbuh dengan melihat orang tuanya.

Melihat ayahnya meremehkan Rest dan ibunya menyiksa Rest... Cedric pun menemukan kesenangan yang sama dalam merundung adik tirinya.

Karena tidak ada yang menghentikannya, latihan yang sudah seperti percobaan pembunuhan ini terus meningkat intensitasnya.

"Ampun... kumohon, berikan belas kasihan...!"

(Benar-benar tidak ada bosannya... Memang buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Dia pasti tidak akan tumbuh menjadi orang dewasa yang benar.)

Sambil memohon ampun dengan suara menyedihkan dan lari menghindar, Rest melontarkan kata-kata hinaan di dalam benaknya.

(Keluarga Viscount Kehormatan Evern ini memang tidak ada yang benar... Mulai dari ayah yang memperkosa ibuku, hingga ibu tiri yang menyiksaku karena cemburu, tempat ini benar-benar sarang sampah.)

"Baiklah, ini serangan terakhir! Rasakan sihir baruku ini... Thunder Ball!"

"Uwaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!"

Dengan suara berderak-derak, bola petir yang memancarkan kilat ungu menghantam punggung Rest. Arus listrik yang terasa seperti cabikan menyerang seluruh tubuhnya, membuat Rest jatuh tersungkur dan tidak bergerak.

"Apa, sudah selesai? Memang dasar anak rakyat jelata tanpa sihir, tidak berguna!"

Cedric membusungkan dada dengan puas lalu menendang tubuh Rest yang terkapar dengan ujung kakinya.

"Bersihkan halaman ini, ya. Kalau kau malas-malasan, rasakan akibatnya!"

"............"

"Haha, benar-benar seperti sampah! Sulit dipercaya kalau orang seperti ini adalah adikku!"

Setelah melontarkan hinaan terakhir, Cedric melangkah pergi meninggalkan halaman.

"Ya ampun... akhirnya selesai juga."

Rest berpura-pura pingsan sejenak, namun setelah merasa hawa keberadaan kakaknya menghilang, dia bangkit berdiri.

"Hup..."

Begitu berdiri, dia langsung mengaktifkan sihir. Dia menyembuhkan luka-lukanya dengan sihir, lalu melenyapkan pasir dan lumpur yang menempel di tubuhnya hingga bersih tanpa sisa.

Terlihat seolah dia dihujani sihir tanpa perlawanan... padahal sebenarnya dia tidak menerima kerusakan apa pun. Dia telah melindungi tubuhnya dengan sihir Physical Up dan sengaja lari berlebihan sambil berpura-pura kesakitan.

"Sekarang sihir petir, ya... Dia cukup mahir juga."

Setiap kali Cedric menguasai sihir baru, dia pasti akan menjadikan Rest sebagai kelinci percobaan. Terlepas dari kepribadiannya, bakat sihir Cedric memang nyata. Dia sudah menguasai sihir yang cukup beragam.

(Aku tidak tahu penyihir lain yang seumuran dengannya, tapi... dia pasti termasuk hebat.)

Seandainya sifatnya baik, Rest pasti bisa menghormatinya sebagai kakak dengan tulus.

Ada pepatah yang mengatakan Tuhan tidak memberikan dua berkah sekaligus... tampaknya Dewi hanya memberikan Cedric bakat sihir, tanpa memberinya kebaikan hati untuk menggunakan sihir itu dengan benar.

"Thunder Ball."

Rest mengolah sihirnya dan mengeluarkannya ke luar tubuh. Di telapak tangannya, muncul bola petir yang berderak-derak. Itu adalah sihir yang sama persis dengan yang digunakan Cedric tadi.

"Seperti biasa, dia selalu memamerkan sihir baru yang dipelajarinya, jadi ini sangat membantu untuk belajar."

Itulah alasan mengapa Rest meladeni latihan Cedric tanpa melarikan diri. Ini juga mungkin bagian dari berkah reinkarnasi... Rest memiliki kapasitas sihir yang tak terbatas, dan terlebih lagi, dia bisa meniru sihir yang pernah dilihatnya sekali saja dengan mudah.

Sebagai anak rakyat jelata yang didiskriminasi, Rest tidak diberi kesempatan untuk membaca buku atau belajar dari guru privat untuk mempelajari sihir. Namun... berkat Cedric yang menjadikannya sasaran percobaan sihir, dia bisa mempelajari banyak sihir seperti ini.

(Kalau dia tahu dia berkontribusi pada pertumbuhan adik yang diremehkannya ini, wajah seperti apa yang akan dibuat oleh kakak bodoh itu, ya.)

Cedric mungkin adalah jenius sihir. Namun... Rest yakin bahwa dalam hal bakat murni, dirinyalah yang jauh lebih unggul.

Jika dia menunjukkan bakat ini kepada ayahnya, perlakuannya mungkin akan berubah... tapi Rest sama sekali tidak ingin diakui oleh ayahnya.

"Belum... masih terlalu dini untuk menunjukkan taring. Aku harus bersabar sampai dewasa..."

Rest mengepalkan tangannya, meyakinkan dirinya sendiri. Usia Rest baru dua belas tahun. Usia dewasa di negara ini adalah lima belas tahun, jadi masih ada tiga tahun lagi.

Sehebat apa pun sihir yang dia miliki, sebagai anak di bawah umur, dia tidak akan bisa mendapatkan pekerjaan yang layak.

Karena itu, dia belum akan menunjukkan taringnya sekarang. Sekarang adalah saatnya untuk tetap mengasah kemampuan sihir dan mengumpulkan kekuatan sambil membiarkan dirinya ditindas.

(Suatu saat aku pasti akan melampaui mereka. Aku akan naik ke tempat yang lebih tinggi dari ayah maupun Cedric...!)

Uang, status, kekuasaan... dia akan mengungguli mereka dalam segala hal. Dia akan mencapai posisi di mana dia bisa memandang rendah dan menginjak-injak orang-orang dari keluarga Viscount Kehormatan Evern ini.

(Demi hal itu, meskipun aku harus jadi kelinci percobaan sihir atau diperlakukan seperti anjing, aku akan bertahan.)

Waktu untuk bersabar. Menahan diri demi masa depan.

Waktu untuk bersabar tidur di kandang kuda yang dingin oleh angin yang masuk melalui celah-celah, dan makan sisa makanan seperti anjing.

Dengan tekad yang kuat, Rest mengepalkan tangannya dan mulai membersihkan halaman.

"Aku pulang..."

"Hihn!"

Setelah selesai membersihkan halaman, Rest kembali ke kandang kuda dan disambut oleh ringkikan kedua kudanya. Sambil mengelus kepala kuda yang mendekat padanya, dia mengamati sekeliling kandang.

"Ah... hari ini ada kiriman lagi, ya. Aku jadi merasa tidak enak."

Di sudut kandang kuda, terdapat sebuah bungkusan kain yang diletakkan agar tidak mencolok. Saat dibuka, isinya adalah roti, daging kering, dan salep obat luka. Ini adalah kiriman rahasia dari salah satu pelayan yang bekerja di kediaman tersebut.

Di antara pelayan lama yang bekerja di sini, ada beberapa yang mengenal ibu Rest. Mereka merasa iba dengan nasib Rest dan selalu berusaha mempedulikannya.

Mereka tidak bisa membela Rest secara terang-terangan di depan majikan... jadi mereka memberikan makanan secara sembunyi-sembunyi seperti ini.

(Ibu memiliki rekan kerja yang baik, ya. Meskipun majikannya tidak begitu.)

"Enak..."

Rest memakan rotinya dan menggigit daging keringnya. Meski rasanya sederhana, perbedaannya sangat jauh jika dibandingkan dengan makanan sisa yang diberikan di meja sarapan tadi.

"............"

Sambil makan, dia tanpa sengaja menatap ke arah jendela kandang kuda.

Di seberang sana terlihat gedung utama kediaman Viscount Kehormatan Evern, dengan cahaya oranye dari perapian yang mengintip ke luar. Terlihat sangat hangat.

Berbeda jauh dengan kandang kuda yang selalu diterpa angin dingin dari celah-celah bangunan.

(Orang-orang itu pasti tidak peduli meski aku kedinginan di sini...)

Liza sang ibu tiri yang cemburu atau Cedric si kakak tiri mungkin masih bisa dimaklumi, tapi kenapa Lucas sang ayah bisa memperlakukan Rest sedingin ini?

Padahal Rest adalah anak kandungnya sendiri, anak yang lahir dari perbuatannya yang memaksakan kehendak, tapi dia sama sekali tidak mau bertanggung jawab.

(Memangnya bangsawan baru sehebat itu? Padahal cuma Viscount 'Kehormatan' yang bahkan tidak punya wilayah kekuasaan. Sombong sekali padahal tidak jauh berbeda dengan rakyat jelata.)

Rest mengumpat dalam hati... namun jika dia berani mengucapkan kata-kata ini di depan ayahnya, ayahnya pasti akan meledak marah dan menghajarnya habis-habisan.

Meskipun keluarga Evern adalah bangsawan, gelar mereka tidak bisa diwariskan secara turun-temurun.

Bangsawan Kehormatan adalah gelar sementara yang melekat pada jabatan tertentu, dan jika jabatan itu dilepaskan, gelar tersebut akan dicabut dan orang tersebut kembali menjadi rakyat jelata.

Lucas adalah penyihir istana yang berada langsung di bawah perintah Raja, dan karena jabatan inilah dia diberikan status "Viscount Kehormatan".

Padahal mereka berlagak sombong seolah-olah bangsawan sejati, kenyataannya mereka tidak jauh berbeda dengan rakyat jelata.

(Tapi, kalau Cedric mendapatkan gelar Viscount Kehormatan, mereka akan diakui sebagai keluarga bangsawan resmi...)

Meskipun Bangsawan Kehormatan adalah gelar sementara... jika tiga generasi berturut-turut bisa mendapatkan gelar yang sama, mereka akan diakui sebagai bangsawan turun-temurun yang resmi. Begitulah hukum yang berlaku.

Dalam kasus keluarga Evern, kakek dan ayah mereka telah menjadi penyihir istana selama dua generasi berturut-turut dan menerima gelar Viscount Kehormatan.

Jika Cedric sebagai generasi ketiga bisa melakukan hal yang sama, dia akan diberikan gelar "Viscount" yang bisa diwariskan dan menjadi bangsawan secara resmi baik dalam nama maupun kenyataan.

(Karena itulah... mereka sangat memuja Cedric yang lahir dengan bakat sihir tinggi dan membiarkannya bersikap semena-mena. Benar-benar konyol sekali.)

Jika memang menganggapnya pewaris penting, seharusnya mereka mendidiknya agar memiliki budi pekerti yang baik.

 Jika nanti menjadi Viscount resmi, kesempatan untuk masuk ke pergaulan kelas atas akan semakin sering, dan jika tata kramanya buruk, bukankah itu hanya akan mempermalukan diri sendiri?

(...Yah, itu bukan urusanku. Aku tidak peduli meskipun Cedric mengundang kebencian orang-orang penting di mana-mana. Lebih baik aku fokus mengasah kemampuan sihirku saja.)

Begitu mencapai usia dewasa lima belas tahun, dia akan pergi dari rumah ini dan berjuang untuk meraih kesuksesan.

Sebelum saat itu tiba, dia akan mengasah kemampuan sihirnya agar menjadi lebih kuat meskipun hanya sedikit.

"...Malam ini aku akan pergi ke hutan lagi."

Setelah memasukkan potongan terakhir daging kering ke mulutnya, Rest bergumam.

Kediaman keluarga Evern berada di pinggiran ibu kota, dan di dekat sana terdapat hutan yang dihuni oleh monster. Rest rutin pergi ke sana untuk melatih sihirnya dengan berburu monster.

Tengah malam. Setelah memastikan semua orang di rumah telah terlelap, Rest keluar dari kandang kuda.

Langkah kakinya hanya diterangi oleh cahaya dari tiga bulan berwarna merah, biru, dan kuning yang menggantung di langit malam. Menatap ketiga bulan itu, Rest kembali menyadari bahwa dia berada di dunia lain.

"Night Scope."

Begitu mengaktifkan sihir, pandangannya seketika menjadi terang. Berkat efek sihir yang bisa menembus kegelapan malam, pemandangan di sekitarnya terlihat sejelas di siang hari. Sihir ini bukan diajari oleh Cedric.

Sebagian besar sihir yang dia kuasai—terutama sihir serangan—didapat dengan meniru sihir Cedric saat menjadikannya kelinci percobaan, tapi selain itu dia juga menguasai beberapa sihir lain.

Night Scope diajari oleh seorang pria paruh baya yang sering duduk minum di gang belakang saat Rest masih tinggal berdua dengan ibunya.

Rest tidak tahu siapa pria itu sebenarnya, yang mengajarinya sihir sebagai ganti sepotong roti.

Namun, dia sangat berterima kasih karena berkat pria itu dia bisa mempelajari sihir seperti Night Scope, Unlock, dan Life Search.

(Mungkin sebaiknya aku tidak usah memikirkan apa pekerjaan orang itu dulu... Melihat jenis sihir yang dia ajarkan, dia pasti bukan orang baik-baik...)

Sambil mengenang masa lalu, Rest sampai di pintu masuk hutan. Pepohonan yang tumbuh rimbun menutupi cahaya bulan, membuat bagian dalam hutan tampak gelap gulita seperti bagian dalam mulut monster.

Jika tidak menggunakan sihir, dia tidak akan bisa melihat apa pun meski hanya sejauh satu meter di depannya.

"Life Search."

Menggunakan sihir untuk mendeteksi keberadaan makhluk hidup, dia mencari monster.

Kebetulan ada tanda keberadaan tiga monster di dekat pintu masuk hutan.

Saat mendekat tanpa suara semaksimal mungkin... di sana terlihat tiga ekor serigala bermata tiga dengan bola mata di dahi mereka, sedang rakus melahap sepotong daging.

(Yang dimakan itu............ uwek, Goblin, ya.)

Yang sedang dimakan oleh ketiga serigala itu adalah makhluk seperti kera dengan kulit hijau. Itu adalah monster yang biasa disebut 'Goblin'.

Di dunia fantasi memang monster yang umum, tapi melihat makhluk berbentuk manusia dilahap hingga tulang dan organ dalamnya terburai bukanlah pemandangan yang menyenangkan.

"Gru?"

Salah satu serigala yang tadi asyik memakan daging Goblin mendongak dan mulai mengendus-endus sekeliling. Tampaknya dia menyadari keberadaan Rest dari bau atau hawa kehadirannya.

(Menyerang lebih dulu adalah kunci kemenangan... Ayo!)

"Thunder Ball!"

Rest melompat keluar dari bayangan pohon dan melepaskan sihir yang baru saja dia pelajari. Bola petir yang berderak-derak ungu menghantam salah satu serigala, membuat tubuhnya kejang-kejang hebat.

"Gruuuuuuuuuu!?"

"Gau!"

"Gaa!"

Melihat rekannya diserang, dua serigala lainnya menerjang ke arah Rest.

"Thunder Ball!"

"Gyan!"

Rest tidak panik dan dengan tenang melepaskan tembakan kedua. Bola petir kedua juga mengenai serigala tersebut. Dia hendak melepaskan tembakan ketiga... namun serigala terakhir sudah lebih dulu menerjang.

"Gaaaaaaaaaaaaa!"

"Kh...!"

Refleks dia melompat ke samping untuk menghindari serangan, namun cakaran monster itu sempat menyambar lengannya, meninggalkan goresan merah. Meski rasa sakit sempat membuat wajahnya meringis... jika dia panik di sini, itu hanya akan menguntungkan lawan.

(Jika hati kacau, sihir pun akan kacau. Tenang, tenang...)

"Thunder Ball!"

"Gaa!?"

Petir yang dilepaskan setelah menenangkan diri itu mengenai serigala terakhir hingga ia tumbang. Rest mengembuskan napas lega dan memeriksa ketiga serigala yang tergeletak di tanah.

"Gru... lu..."

"Ah... ternyata kalian masih hidup, ya."

Mungkin karena dia belum sepenuhnya menguasai sihir yang baru dipelajarinya itu. Ketiga serigala itu lumpuh karena tersengat listrik dan tidak bisa bergerak, tapi mereka semua masih bernapas.

"Aku akan menghabisi kalian... Wind Cutter!"

Dia melepaskan bilah angin dan memutus leher ketiga serigala tersebut. Darah segar dalam jumlah banyak mengalir dari leher mereka dan membasahi tanah.

(Thunder Ball adalah sihir yang lebih mementingkan kecepatan daripada daya hancur, ya. Sepertinya bisa digunakan untuk mengecoh lawan dengan membuatnya lumpuh.)

"Gii! Gii!"

"Oops... sekarang giliran kalian, ya."

Dari balik semak-semak muncul monster lain. Makhluk berbentuk manusia dengan ukuran tubuh setara anak-anak... Goblin. Entah mereka datang untuk menolong kawan mereka yang dimangsa serigala, atau terpancing oleh bau darah. Goblin-goblin yang menggenggam pisau berkarat itu menatap Rest dengan tajam.

"Gigii! Gigii!"

"Bukan aku yang menghabisi kawan kalian. Jangan menatapku seperti itu."

"Gi!"

"Lagipula... serangan kejutan kalian sudah ketahuan!"

Rest melompat ke samping dengan lincah. Sesaat kemudian, seekor Goblin lain yang melompat dari belakang mengayunkan gada ke tempat Rest berdiri tadi.

"Gii!?"

"Hampir saja kalau aku tidak punya Life Search. Ini balasan dariku!"

Menggunakan sihir Physical Up, dia menendang Goblin yang melakukan serangan kejutan tadi hingga terpental. Sepertinya Goblin pertama tadi hanyalah umpan, agar Goblin lainnya bisa memukulnya sampai mati dengan gada. Namun berkat Life Search yang dimiliki Rest, serangan kejutan itu gagal total.

"Gi!"

"Water Cutter."

Dia melepaskan bilah air ke arah Goblin pertama. Goblin yang mencoba lari setelah melihat kawannya dikalahkan itu pun tumbang dengan punggung tersayat.

"Nah... sekarang giliranmu."

"Gi... i..."

Goblin yang tadi ditendang terpental menabrak pohon dan masih bernapas. Dalam kondisi tubuh yang diperkuat sihir, Rest menginjak kepalanya hingga hancur. Tengkoraknya remuk, dan kepala Goblin itu menjadi hancur berantakan seperti telur yang jatuh.

"Wah, jadi berantakan... tapi aku sudah terbiasa."

Ini bukan pertama kalinya Rest datang memburu monster. Pemandangan seperti ini sudah menjadi hal biasa baginya.

Setelah memastikan pertarungan berakhir, dia memeriksa sekeliling dengan sihir deteksi.

Tidak ada tanda-tanda monster lain di dekat sana. Rest memutuskan untuk mengobati luka di lengannya yang terkena cakaran serigala tadi.

"Heal."

Diselimuti cahaya putih redup, luka itu pun tertutup. Orang yang mengajarinya sihir penyembuhan bukanlah Cedric, melainkan pendeta yang dulu memeriksa sihir Rest saat masih bayi dan memberikan diagnosis No Magic.

Pendeta itu terus mempedulikan Rest dan ibunya, dan dialah yang menemani Rest saat saat-saat terakhir ibunya.

'Ada penyakit yang tidak bisa disembuhkan dengan sihir. Ibumu telah dipanggil ke haribaan Dewi.'

Rest ingat saat pendeta itu tahu bahwa dirinya yang seharusnya No Magic ternyata bisa menggunakan sihir, beliau tidak merasa heran dan menganggapnya sebagai kehendak Dewi.

'Seberat apa pun cobaan yang kau hadapi, Dewi akan selalu menjagamu. Hiduplah dengan benar dan jangan sampai salah melangkah.'

(Jika aku tidak bertemu dengannya, mungkin aku sudah menggunakan kekuatan ini dengan cara yang lebih gegabah...)

Mungkin dia akan mencabik-cabik ibu tiri atau Cedric dalam amarahnya. Mungkin dia akan membakar ayahnya yang telah menyakiti dan membuang ibunya dalam kebencian.

(Mungkin aku bisa balas dendam jika aku mau. Dengan sihir ini, pasti...)

Meski sudah menghabisi lima ekor monster dengan sihir, Rest sama sekali tidak merasa kapasitas sihirnya berkurang. Rest memiliki sihir yang tak terbatas. Sebuah kekuatan yang bisa disalahgunakan sepuasnya jika dia mau.

(Tapi... jika aku balas dendam, mungkin Ibu atau Pak Pendeta akan sedih. Aku tidak boleh melakukan sesuatu yang membuat mereka sedih.)

Di kehidupan sebelumnya ada yang pernah berkata... balas dendam terbaik adalah dengan menjadi bahagia.

Dia tidak berniat membalas dendam pada mereka dengan cara kekerasan. Dia hanya akan... mengincar posisi puncak. Dia akan mendapatkan kekuatan dan status yang melampaui Lucas dan Cedric.

(Untuk itu... aku harus mengasah kemampuan sihirku lebih dalam lagi dan menjadi lebih kuat!)

Rest kembali mencari keberadaan monster dengan sihirnya di tengah hutan malam itu.




Prrolog | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close