NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Munou to Iware Tsuzuketa Madoushi, Jitsu wa Sekai Saikyou Nanoni Yuuhei Sareteita node Jikaku Nashi V4 Chapter 5

 Penerjemah: Nels

Proffreader: Nels


Chapter 5

Mimpi

Ada bayangan yang berlari menembus celah pepohonan yang tak terhitung jumlahnya.


Bukan hanya satu.


Dua, tiga, empat, dan perlahan bayangan itu bertambah banyak.


Keringanan tubuh mereka bagaikan binatang buas, sosok mereka yang memacu di atas tanah bagaikan monster.


"Lost Land"——Area Tinggi Distrik 32.


Yang berlari dengan kecepatan luar biasa menembus pepohonan adalah anggota "Guild Villeut" yang dipimpin Karen.


"Kau yakin rute ini benar, kan!?"


Karen menusuk monster yang muncul di depan mata dengan tombak, lalu menendang tanah dan kembali berlari seolah melompat agar tidak mengurangi kecepatan.


『Y, ya! Jika para Lehrer kembali, mereka pasti memilih rute ini yang monsternya sedikit.』


Yang menjawab adalah Acacia dari "Guild Blowbadger".


Mengikuti panduannya, mereka menelusuri kembali jalan yang kemungkinan akan dilewati Legi dan Shigi.


Namun, hal tak terduga terjadi pada Karen dan yang lainnya.


Sudah sekitar tiga jam sejak berangkat dari "Kota Iblis" di Distrik 30, tapi Karen dan yang lainnya masih terus berlari di Distrik 32.


Seharusnya tidak aneh jika mereka sudah sampai sekitar Distrik 34, namun karena kawanan monster yang menghalangi jalan, kemajuan mereka tidak secepat yang diperkirakan.


"Aah, menyebalkan! Kenapa monster yang muncul sebanyak ini sih!?"


『Saat kami melarikan diri, monsternya tidak sebanyak ini padahal...』


"Di rute kami menuju Kota Iblis pun terjadi kemunculan monster yang tidak normal, tapi ini jauh lebih banyak."


Monster terus mendekat dari segala arah tanpa henti.


Padahal ada Ars dan Yulia, tapi jumlah monster sama sekali tidak terlihat berkurang.


Meski begitu, memang benar mereka terus maju dengan mantap berkat kerja sama semua orang.


Akan tetapi, jika memikirkan Legi dan Shigi, rasa cemas kian memuncak.


Sudah lebih dari setengah hari berlalu sejak Legi dan Shigi mulai menahan White Wolf Fenrir.


Meskipun mereka secara ajaib berhasil lolos, dengan kemunculan monster sebanyak ini, tidak diketahui apakah mereka bisa bertahan hidup atau tidak.


Namun, itu hanya berlaku jika mereka orang biasa atau penyihir tanpa kemampuan.


Jika mereka hanya gadis biasa tanpa kekuatan, Karen mungkin sudah menyerah, tapi dengan kemampuan Legi dan Shigi, mereka pasti bisa bertahan hidup dengan selamat.


"Dalam situasi ini... memencar untuk mencari Legi dan Shigi terlalu berbahaya."


"Benar. Dalam situasi yang dipenuhi monster sebanyak ini, memecah kekuatan tempur hanya akan menambah korban sia-sia dan tidak ada artinya."


Yang menanggapi gumaman Karen adalah Elsa.


Dia datang menghampiri Karen sambil membantai monster dengan terampil menggunakan busurnya.


Dia tidak mengharapkan jawaban, tapi karena sudah dijawab, Karen memutuskan untuk menanyakan pendapatnya.


"Kalau begitu, apa lebih baik kita menerobos satu titik langsung sampai Distrik 33?"


"Diam di tempat pun tidak ada gunanya, jadi saya rasa cara itu akan meningkatkan kemungkinan menemukan mereka. Selain itu, meski menerobos satu titik, daya tembus kita tidak bisa diremehkan. Jika mereka masih hidup, kita bisa bergabung lebih cepat dan meningkatkan tingkat kelangsungan hidup mereka."


"Sepertinya hanya itu caranya."


Karen menyiapkan senjatanya, lalu menatap tajam ke depan yang dipenuhi monster.


"Aku akan membuka jalan, jadi instruksi pada para Schuler kuserahkan pada Elsa."


"Bagaimana dengan Ars-san dan yang lainnya?"


"Simpan tenaga, simpan tenaga. Onee-sama dan Shion juga. Meski kita bisa membasmi musuh di sini dengan baik, di depan sana pasti masih banyak monster, dan yang terpenting, target utama yaitu White Wolf Fenrir belum muncul."


"Baik. Akan saya sampaikan seperti itu pada Ars-san dan yang lainnya."


"Ya. Tolong ya. Aku akan mencoba menggunakan sihir untuk memberitahu lokasi kita pada Legi dan Shigi."


Sihir Gift [Flame] milik Karen banyak yang mencolok.


Bisa dibilang itu adalah Gift yang paling tepat untuk dijadikan penanda dalam situasi tanpa alat komunikasi.


"Itu ide bagus. Meski sepertinya monster juga akan mendekat, jika memikirkan soal bergabung dengan Legi-san dan yang lainnya, saya rasa itu cara terbaik."


"Kalau begitu, aku mulai!"


Sambil menyapu monster di depan, Karen mulai merapalkan mantra.


"Sebaran serbuk api, teratai merah, berputar dan berkelilinglah, gelang besi membara, memerah saat panas, membiru saat dingin, ke mana ujung tombak memimpin, ujung neraka api."


Karen berniat menghabiskan kekuatan sihirnya.


Karena ada Ars dan yang lainnya yang menunggu giliran di belakang, dia memutuskan tidak perlu berhemat.


Dia menyelesaikan rapalan sihirnya dengan hanya memikirkan cara menemukan Legi dan Shigi.


"Bakarlah hingga berserakan——'Bunga Api Pembakaran Mutlak, Heltonion'."


Lingkaran sihir merah muncul di langit, dan saat gelombang panas menguapkan ruang, gumpalan api turun bagaikan hujan menimpa para monster.


Sambil mengeluarkan suara yang tak bisa dibedakan antara jeritan atau auman, para monster itu terbakar musnah.


Lalu, melihat jalan lurus tercipta di ujung pandangannya, Karen berlari.


Agar monster baru tidak menghalangi jalan, para Schuler menyerang monster di sekitar, termasuk sebagai pengalihan.


Di belakang yang menunjukkan kerja sama luar biasa itu, Elsa juga mengeraskan suara memberikan instruksi kepada para Schuler.


"Regu 1 terus lanjutkan perlindungan pada Karen-sama. Regu 2 waspadai sekitar, Regu 3 habisi monster yang lolos dari Regu 1——!?"


Di tengah memberikan instruksi, tiba-tiba seekor monster melompat dari samping.


Namun, Elsa tidak panik. Mengetahui tidak ada waktu untuk memasang anak panah di busur, dia langsung menusukkan anak panah itu ke tenggorokan monster hingga tewas.


Kemudian seolah tidak terjadi apa-apa, Elsa melanjutkan instruksi tadi.


"Sisanya standby sampai ada instruksi. Meski ini penyelamatan nyawa, tidak perlu terlalu membebani diri. Saya perintahkan dengan tegas untuk menahan penggunaan sihir seperti biasa, dan hanya gunakan saat mundur atau darurat."


Para Schuler mematuhi instruksi Elsa dengan setia, dan tidak membiarkan monster mendekat sedikit pun ke jalan yang dibuka Karen.


Berbeda dengan sebelumnya, dengan tambahan daya serang api Karen, rombongan itu menerjang Distrik 32 dengan kecepatan luar biasa.


Para monster pun mungkin secara naluri sadar bahwa Karen berbahaya, sehingga monster yang menghalangi di depannya jelas berkurang.


Sebagai gantinya, serangan dari samping jadi lebih sering dan beban para Schuler bertambah, namun bagi mereka yang bersemangat melihat sosok Karen bertarung, itu bukanlah beban yang berarti.


"Sudah hampir Distrik 33 ya?"


Pepohonan yang menghalangi pandangan Karen mulai jarang.


Itu menandakan jalan keluar sudah dekat.


Di "Lost Land", bekas luka pertarungan yang ditinggalkan para dewa dan Magic Emperor——miasma, masih tersisa pekat.


Gara-gara itu cuaca tidak bisa diprediksi, perbedaan suhu sangat ekstrem, dan topografinya juga bisa berubah drastis, misalnya dari padang salju menjadi tanah gersang, pemandangan yang berubah total juga merupakan ciri khas "Lost Land".


Karena itu, momen pergantian distrik——garis perbatasan, bisa terlihat dengan jelas.


Karena dunia berubah begitu melangkahkan kaki, siapa pun bisa menyadari bahwa distrik telah berganti.


"Sepertinya begitu."


Saat Elsa merespons perkataan Karen, mereka menyadari bahwa mereka sudah keluar dari hutan.


Padang rumput terbentang di depan mata.


Padahal tadi sinar matahari terasa samar karena terhalang dahan pohon-pohon tinggi, tapi saat menengadah ke langit, tidak ada yang menghalangi pandangan, dan langit biru tanpa awan terbentang luas.


Tak peduli seberapa lama bertualang di "Lost Land", perubahan drastis ini adalah hal yang tak pernah bisa dibiasakan.


Siapa pun pasti akan teralihkan kesadarannya sesaat oleh pemandangan baru itu.


Saat itu, emosi yang terpancar di wajah semua orang beragam.


Ada yang lega karena berhasil melewati kesulitan, ada yang tampak murung karena pertarungan yang tak jelas ujungnya, ada yang senang merasakan pertumbuhan diri sendiri, dan untuk sesaat, semua orang lupa bahwa mereka datang untuk menyelamatkan nyawa. Begitu drastisnya perubahan pemandangan hingga emosi mereka tidak bisa mengejarnya.


Tak lama kemudian saat mulai tenang, mereka yang teringat tujuan awal mulai mewaspadai sekitar.


"Karen-sama, bagaimana dengan kekuatan sihir Anda?"


"Hmm, sedikit lagi bakal kosong melompong kayaknya."


Dia terus menggunakan sihir tanpa memikirkan konsekuensinya, tapi tidak ada penyesalan sedikit pun.


Hanya saja jika kekuatan sihir habis total dia akan kehilangan kesadaran, jadi dia harus menyisakan kekuatan sihir seminimal mungkin agar tidak merepotkan orang lain.


"Tapi, sisa manaku masih cukup untuk melawan 'itu', kok."


Di arah pandangan Karen, debu pasir dalam jumlah besar membumbung tinggi ke langit.


Di kaki debu pasir itu, bayangan hitam yang menggeliat membentuk barisan——mendekat sambil mewarnai cakrawala menjadi hitam layaknya gelombang yang menerjang.


"Tidak, tidak, sepertinya mustahil deh, bukannya itu terlalu banyak?"


Karena jarak semakin dekat, barulah bisa dipahami.


Kawanan monster yang menutupi cakrawala, suara langkah kaki mereka menjadi gemuruh bumi yang menggetarkan udara, dan mengguncang gendang telinga Karen serta yang lainnya dengan hebat meski jaraknya masih jauh.


"Benar juga. Agak berbahaya jika langsung masuk pertempuran dalam kondisi begini."


Elsa menoleh ke belakang melewati bahunya dan memeriksa keadaan para Schuler.


Dia menyadari konsentrasi Regu 1 sampai Regu 3 yang bertarung tadi sudah terputus.


Rasa pencapaian karena sampai di Distrik 33 dan terputusnya pertarungan tampaknya telah merenggut ketegangan dari mereka.


"Mulai dari sini mari kita tukar regu. Regu 1 pindah ke belakang, Regu 2 ganti ke dukungan, Regu 3 di barisan paling belakang untuk waspada, monster mungkin datang dari Distrik 32. Lalu Regu 4 gantikan Regu 1 dan bersiap menghadapi monster yang mendekat dari depan. Regu 5 ambil alih peran Regu 2. Dan, saya akan buat Regu 6 yang baru."


Di tengah memberikan instruksi, Elsa melihat sekeliling dan menatap seorang wanita.


"Bayern, maju ke depan."


『Ba, baik!』


"Saya serahkan posisi ketua Regu 6 padamu. Kumpulkan mereka yang memiliki Gift tipe Penciptaan."


『Dimengerti. Setelah itu apa yang harus kami lakukan?』


"Mohon tunggu di belakang sampai ada instruksi. Mundurlah sampai ke tempat Ars-san dan yang lainnya berada. Selain itu, sebisa mungkin hematlah kekuatan sihir."


『Baik!』


Kenapa, bagaimana, pertanyaan seperti itu ada, tapi para Schuler mematuhi instruksi Elsa dalam diam.


Itu adalah bukti bahwa selama ini dia tidak pernah memberikan instruksi yang salah, dan karena tidak ada seorang pun yang meragukan keputusannya.


"Dan Acacia-san."


Terakhir Elsa memanggil Acacia dari "Guild Blowbadger" yang telah menjadi pemandu jalan.


『Ada apa?』


"Kemungkinan besar akan terjadi pertempuran dengan monster. Mengingat kondisi kalian saat ini, bertarung dengan monster sangatlah berbahaya. Jadi, tolong tunggu di belakang."


『............Saya mengerti.』


Dia memasang ekspresi seperti tidak terima, tapi mungkin dia memahami situasi dan posisi mereka sendiri. Acacia menundukkan kepala tanpa mengeluh, lalu membawa para Schuler "Guild Blowbadger" pindah ke belakang.


Setelah mengantar kepergian mereka dan selesai memberikan semua instruksi, Elsa menyiapkan busurnya.


"Karen-sama, serahkan sini pada saya. Mumpung monsternya datang bergerombol, akan saya habiskan sekaligus dengan sihir saya."


"Oke."


Setelah mendengar jawaban persetujuan, Elsa memasang anak panah dan menarik busurnya ke arah langit.


Namun, ditunggu berapa lama pun, tidak ada rapalan mantra yang terucap dari mulutnya.


"Elsa? Ada apa?"


Melihat Elsa yang bahkan melepaskan kuda-kudanya, Karen bertanya dengan heran.


Lalu, Elsa menatap lekat-lekat kawanan monster itu sambil menyipitkan mata.


"Karen-sama, soal kawanan monster itu——bukankah terlihat ada bayangan orang kecil di paling depannya?"


Diberitahu oleh Elsa, Karen menempelkan tangan di dahi dan menatap tajam ke depan.


"Hmm~?"


Tidak terlihat jelas, tapi dia melihat bayangan orang kecil yang berlari menjauh dari kawanan monster.


Namun, monster berbentuk manusia bukanlah hal yang langka di "Lost Land".


Malah ada makhluk berbahaya yang menyamar menjadi manusia untuk membuat lengah lalu menyerang.


Namun, jika memikirkan target penyelamatan, tidak mungkin mereka bisa menyerang membabi buta dalam keadaan identitas bayangan itu belum diketahui. Mungkin karena situasi khusus itulah, Elsa tampaknya membatalkan serangan karena tidak bisa memastikannya.


"Eh... kalau dilihat-lihat... sepertinya kecil sekali... tapi, bayangannya cuma satu, monster berkaki cepat? Tidak, jangan-jangan..."


Karen juga tampaknya tidak bisa membedakan, dia memasang wajah susah lalu menopang dagu dan terus bergumam.


"Benar. Karena bayangannya cuma satu, saya pikir itu monster, tapi memikirkan kemungkinan lain, saya tidak bisa melancarkan serangan."


"Salah satu dari Legi atau Shigi, kau memikirkan kemungkinan itu, kan."


"Ya, sihir saya tidak cukup praktis untuk menargetkan individu... jika digunakan pada jarak segini pasti akan kena imbasnya."


"Sihirku juga mirip dengan Elsa, jadi kita tidak bisa tukar peran."


Gift Karen dan Elsa adalah [Flame] dan [Ice], keduanya kebanyakan sihir pemusnahan area luas.


Selain itu, karena jarak antara bayangan orang yang lari di depan dan kawanan monster di belakang sangat dekat, sudah pasti akan kena imbasnya. Tentu saja dia tidak ingin membuat temannya gosong atau jadi patung es.


"Kita hanya bisa berjuang sampai jarak di mana kita bisa membedakannya——"


Saat Karen berkata begitu, bola merah ditembakkan ke langit.


"Itu... 'Fire Bullet' ?"


Karen tahu betul karena dia bekerja sama dengan Shigi untuk memasukkan sihir itu ke batu sihir.


Awalnya Karen heran kenapa sihir itu ditembakkan ke langit, tapi perlahan dia mengerti.


Pasti itu tanda bahwa itu adalah teman.


Dan, dia juga sangat paham bahwa itu permintaan untuk segera ditolong.


"Kemungkinan itu jebakan monster cerdas juga tidak bisa dibilang tidak ada."


Mendengar perkataan Elsa, Karen tersenyum pahit.


"Maksudmu monster itu sengaja membiarkan salah satu dari Legi atau Shigi hidup dan kabur untuk memancing kita, padahal aku tidak tahu bayangan itu siapa? Sebenarnya aku ingin bilang tidak mungkin... tapi di 'Lost Land' tidak aneh kalau ada monster seperti itu, ya."


"Tidak, itu terlalu berlebihan. Kalau sampai begitu, itu bukan monster lagi tapi iblis."


"Benar juga. Lagipula, hal seperti itu pikirkan nanti saja kalau ternyata benar jebakan. Sekarang pikirkan bagaimana cara menolongnya."


Kekhawatiran terbesar sudah hilang itu bagus, tapi jaraknya terlalu jauh sehingga mereka tidak bisa menolong meski ingin.


"Kalau saja dia agak jauhan sedikit dari kawanan monster, aku bisa menyerang tanpa khawatir. Mau bagaimana lagi, ayo kita persempit jarak dari sini dan bergabung."


"Baik. Saya akan gunakan sihir begitu kita mendekat sampai jarak aman yang tidak akan mengenainya."


"Ya. Kalau aku yang pakai takutnya dia kena luka bakar akibat gelombang panas, jadi kuserahkan padamu."


"Saya tidak tahu bayangan itu Legi-san atau Shigi-san... tapi setelah bergabung, tolong Karen-sama bersihkan monster-monster itu dengan sihir Anda."


"Siaaap, kalau begitu ayo kita tolong!"


Saat Karen berlari menuju bayangan itu, para Schuler juga mengikutinya.


Jarak antara kedua pihak menyusut dengan cepat.


Tak lama kemudian, Elsa menghentikan langkah sambil mengepulkan debu tanah.


"Saya lepaskan sihirnya."


Tiga anak panah dilepaskan ke arah langit, terbang membentuk parabola.


Anak panah itu menghilang ke dalam kawanan monster di seberang bayangan orang itu sambil menjaga jarak yang tepat.


"Pembekuan, Kaltherz."


Sesaat setelah nama sihir dirapalkan——asap putih membumbung dari tempat anak panah menghilang.


Kecepatan kawanan monster yang mengejar bayangan orang itu terlihat jelas menurun.


Namun, Elsa tidak tenggelam dalam kepuasan akan keberhasilannya.


Dia segera menendang tanah menyusul Karen dan membuka mulut.


"Karen-sama, sisanya saya serahkan pada Anda."


"Ya, karena sudah dipastikan bayangan itu Shigi... sisanya serahkan padaku."


Meski ekspresi bayangan itu tidak terlihat, postur tubuh dan lainnya bisa dikenali meski dilihat dari jauh.


Kacamata pelindung besar yang terpasang di kepala itu juga merupakan ciri khas Shigi.


Karen merasa cemas karena tidak melihat sosok Legi, namun ia memprioritaskan penyelamatan Shigi terlebih dahulu.


Karen yang mulai berlari dengan kencang, memegang tombak andalannya seolah hendak memanggulnya di punggung.


Lalu, ia memangkas jarak hingga ke titik di mana penggunaan sihir tidak akan menyeret Shigi.


Setelah menilai jaraknya aman secara visual, Karen menghentikan gerakannya sambil mengepulkan tanah dalam jumlah besar, lalu memanfaatkan momentum itu untuk memutar pinggang sekuat tenaga dan melemparkan tombaknya.


Membelah udara dan terbang lurus——tombak itu melesat sambil mengeluarkan suara yang dahsyat.


Saat tombak itu melewati sisi Shigi dengan kecepatan tinggi, Karen membuka mulutnya lebar-lebar.


"Fire Wall!"


Sihir yang dirapalkan tanpa mantra itu melukis lingkaran sihir merah di tanah dan aktif seketika.


Tanah meledak, disusul pilar api raksasa yang menjulang menusuk langit, membakar musnah para monster.


Dinding api berdiri menghalangi jalan di antara Shigi dan monster.


"Ugh, hyaa!?"


Terhempas oleh angin ledakan, Shigi menggelinding hingga ke dekat kaki Karen.


Ada satu lagi——yang mengejutkan, di sisinya juga terdapat sosok Legi.


Sepertinya dia digendong oleh Shigi. Itulah sebabnya bayangan mereka terlihat hanya satu.


"Tunggu! Karen! Kau berniat membunuhku, kan!?"


Shigi melayangkan protes sambil melompat-lompat pyon pyon. Bersamaan dengan itu, kotoran ringan yang menempel di bajunya berhamburan bercampur udara dan lenyap.


Karena sempat membayangkan kemungkinan terburuk, Karen merasa lega sekaligus lemas melihat kondisinya yang jauh lebih sehat dari perkiraan.


"Aku tidak bermaksud begitu kok. Aku menggunakan sihir karena yakin jaraknya aman dari luka bakar. Hanya saja aku tidak memperhitungkan angin ledakannya."


"Makasih! Untuk itu aku berterima kasih! Tapi, baju ini sudah harus dibuang, tahu."


'Padahal ini favoritku,' tambah Shigi di akhir kalimat sambil memanyunkan bibir.


Tidak tampak seperti orang yang baru saja dikejar kawanan monster.


Tidak bisa dipungkiri kemungkinan dia bersikap ceria agar tidak membuat khawatir, namun bagaimanapun juga, Karen hanya bisa tersenyum pahit.


"Aku lega Shigi terlihat cukup sehat sampai bisa mengkhawatirkan baju."


"Yah begitulah~, tidak ada luka yang berarti sih. Cuma baju saja yang luka parah sampai tidak bisa diperbaiki."


"Lalu bagaimana dengan Legi? Sepertinya tadi Shigi menggendongnya..."


Karen menunduk menatap Legi yang tergeletak telungkup tak bergerak di sebelahnya.


"Aah~, tidak usah dipikirkan."


Kata Shigi sambil mengibaskan satu tangan dengan santai.


Mungkin karena diperlakukan terlalu kejam, Legi bangkit seolah memprotes.


"Uee~, aku makan tanah lagi tahu. Shigi-chan payah banget sih bawanya."


Sambil mengeluarkan suara tidak puas, Legi mulai menepuk-nepuk baju dengan tangan untuk menjatuhkan kotoran.


Melihat sosok kakaknya itu, Shigi mengerutkan alis.


"Tunggu sebentar, Onee-chan, bukannya kakimu terkilir sampai sakit sekali dan tidak bisa berdiri?"


"Ah, benar juga! Onee-chan lupa. Sepertinya pergelangan kaki kananku terkilir, sakit lho."


"Apaan tuh 'Ah'. Itu pasti tidak sakit, kan. Lagipula, seingatku tadi kaki kiri deh?"


"...Shigi-chan, jangan mempedulikan hal-hal kecil. Kita kan sudah selamat, harusnya senang dong!"


"Tidak tidak, itu bukan hal kecil! Kalau Onee-chan mau lari, seharusnya kita bisa kabur dengan lebih mudah, kan!? Kita bahkan tidak perlu merasakan bahaya nyawa, tahu!?"


"Shigi-chan yang melindungi Onee-chan terlihat keren lho!"


"Fufun, kau boleh memujiku lebih banyak lagi, lho. Prinsipku adalah menerima pujian dengan jujur. Onee-chan harus berterima kasih, ya."


"Ya, ya. Sasuga Shigi-chan, yo, Penyihir Enchanter Jenius!"


"Uhehe... dibilang fakta seperti itu aku tidak senang kok."


Sambil melihat interaksi keduanya, Karen merasa heran karena mereka tidak punya rasa tegang sedikit pun seperti biasa.


"Karen-sama, interaksi mereka berdua memang manis... tapi sekarang kita tidak punya waktu luang untuk menontonnya, lho?"


Ditegur oleh Elsa, Karen teringat kembali akan situasi saat ini.


Melihat ke garis depan, terlihat sosok monster yang menerobos "Fire Wall" yang momentumnya mulai melemah.


Namun, Regu 4 yang menerima instruksi Elsa sudah menunggu.


Di belakang mereka, Regu 5 dan seterusnya bersiap siaga untuk situasi tak terduga.


Karena sebagian besar monster berada di sisi lain Dinding Api, Fire Wall akibat sihir Karen, monster kroco yang berhasil tembus tidak akan bisa menembus jaring pertahanan para Schuler.


"Berkat sihir Karen-sama, sekarang tidak sulit untuk mundur. Pertama-tama, mari kita kirim Regu 6 dengan pengawalan untuk kembali lebih dulu ke Distrik 32."


"Jangan-jangan, kau menyuruh Regu 6 membuat markas?"


"Ya, karena tidak ada waktu, meski hanya tipe sederhana... saya akan instruksikan untuk membuat dinding yang setidaknya bisa menahan benturan monster sampai batas tertentu. Apakah Anda setuju?"


"Ya, kuserahkan soal itu padamu."


Setelah mengangguk, Karen memiringkan kepala.


"Jangan-jangan, kau menyusun Regu 6 dengan pemilik Gift tipe Penciptaan demi saat seperti ini?"


"Benar. Karena saya pikir itu akan diperlukan saat mundur."


"Penilaian yang luar biasa. Instruksi yang efektif, seperti yang diharapkan dari Elsa."


Saat Karen memberikan pujian, Elsa memalingkan wajah.


Kulit putihnya yang sedikit memerah menandakan dia malu karena dipuji.


"Kalau begitu, karena tidak ada waktu, saya akan berikan instruksi."


Elsa menjauh seolah menyembunyikan rasa malunya.


"Bayern. Kemarilah. Ada yang ingin saya minta Regu 6 lakukan."


Sementara Elsa memberikan instruksi, Karen yang tidak melakukan apa-apa teringat hal yang ingin ditanyakan pada saudari kembar Dwarf itu.


"Ah benar, ada yang ingin kutanyakan pada Legi atau Shigi."


"Eh, apaa?"


Shigi yang sedang menenggak air yang diberikan Schuler memiringkan kepala.


Di sebelahnya, kakaknya Legi meminum air dengan tenang sambil mendengus pelan, berbeda dengan adiknya.


Keduanya imut seperti hewan kecil.


Karen mati-matian menahan dorongan untuk memeluk mereka.


"Ugh... enak, enak banget. Mulutku masih kerasa pasirnya tapi enak. Aah... aku bahagia bisa lihat langit seindah ini lagi."


Karena Legi menengadah ke langit dengan ekspresi terbuai dan mulai bergumam sendiri, Karen menyerah bertanya padanya dan hanya menatap Shigi.


"Aku penasaran karena tidak melihat sosok White Wolf Fenrir... tapi pertama-tama, bisakah kau jelaskan bagaimana situasinya?"


Karen melirik garis depan sekilas.


Jika garis depan hancur dia perlu memberikan bantuan, tapi tampaknya karena pengaruh Dinding Api, Fire Wall masih tersisa, mereka bisa bertarung dengan cukup baik tanpa Karen dan yang lain.


Untuk saat ini kawanan monster bisa diatasi. Kalau begitu, yang jadi masalah adalah White Wolf Fenrir.


Kawanan monster bisa dipastikan di padang rumput yang terbuka ini, tapi dia tidak bisa menemukan tubuh raksasa White Wolf Fenrir.


"Dibilang situasi pun, aku sendiri tidak begitu paham untuk bisa menjelaskannya, tahu."


Shigi mengangkat bahu dan memasang ekspresi pahit seolah kebingungan.


Bersamaan dengan munculnya kawanan monster, tiba-tiba White Wolf Fenrir muncul di depan mata.


Sisanya mereka hanya berpikir untuk lari.


Meski disuruh menjelaskan detailnya, White Wolf Fenrir muncul jadi mereka lari.


Dia hanya bisa menjelaskan sebatas itu, tidak lebih tidak kurang.


"Ah, tapi, tidak salah lagi White Wolf Fenrir-lah yang memicu 'Parade Monster'. Rasanya dia seperti sedang bermain-main, jadi sepertinya dia menggiring monster ke arah sini."


"Aa, benar dugaanku? Aku memang merasa belakangan ini kemunculan monster di Area Tinggi tidak normal."


Saat Karen mengangguk setuju, Shigi memajukan bibir bawahnya.


"Benar-benar sial tahu. Soalnya batu sihir yang diberi sihir sudah kupakai semua. Jadi ekspedisi kali ini rugi besar... haa..."


"Shigi-chan, tidak apa-apa kok. Kalau bisa pulang dengan selamat, Onee-chan akan berusaha membuat banyak senjata ya... apalagi kalau Shigi-chan yang memberikan Enchantment, pasti laku keras."


"Onee-chan itu padahal suram tapi optimis ya... biasanya kebalikannya sih, tapi yah, kalau bersamamu rasanya jadi lega, jadi baguslah."


"Onee-chan akan berusaha. Ah, permisiii, aku bosan minum air, minta minuman lain dooong?"


Legi melupakan situasi saat ini, bertingkah seolah-olah sedang berada di kafe.


Orang yang sedang berjaga di dekat situ menatap Karen. Dari tatapan Schuler itu terlihat jelas kebingungan.


"Legi, istirahatnya nanti saja. Situasinya belum aman, tahu."


"...Karen-chan galak seperti biasa pada Onee-chan ya. Padahal kami baru saja lolos dari maut, dimanjakan sedikit kan tidak apa-apaa."


"Kalau memanjakan kalian berdua, tidak akan ada hal baik yang terjadi."


Karen tersenyum pahit sambil mengacak-acak rambut Legi yang memajukan bibir memprotes.


Lalu terdengar suara langkah terburu-buru dari belakang.


『Lehrer!』


Yang berlari menghampiri saudari kembar Dwarf itu adalah wanita manusia——Acacia dari "Guild Blowbadger". Dia melompat ke arah keduanya, memeluk mereka erat-erat, dan mulai menangis.


『A, apakah ada yang terluka? Kalau ada bagian yang sakit tolong katakan!』


"Acacia, kenapa kau ada di sini. Bukannya tadi sudah kabur? Terus, kami tidak apa-apa jadi lepaskan, sesak tahu!"


"Karena Shigi-chan melindungiku, tidak ada luka kok~. Tapi Acacia-chan khawatir berlebihan seperti biasa ya."


Shigi tersenyum pahit, sementara Legi menanggapi sambil tertawa kecil karena merasa agak lucu.


Karen melihat reuni yang mengharukan itu, tapi dia sampai pada satu pertanyaan.


"Lho... bukannya Acacia harusnya standby di belakang?"


"Saya yang membawanya."


Saat menoleh ke arah suara, Elsa sedang berdiri di sana.


"Padahal dia pasti kelelahan, aku ingin mereka reunian nanti saja sih..."


"Mohon maaf. Karena dia sangat khawatir, begitu saya sampaikan bahwa mereka berdua selamat, dia langsung berlari tanpa sempat saya hentikan."


Di belakang Elsa ada Ars dan Yulia.


"Kalau begitu mau bagaimana lagi... Ars dan yang lain juga datang ya. Lho, Shion mana?"


Belakangan ini di mana ada Ars pasti ada Shion.


Bukan karena jatuh cinta lalu jadi gadis remaja, atau karena terlalu khawatir dan protektif, tapi karena dia telah tunduk pada Ars, dia tidak bisa jauh-jauh karena butuh pasokan sihir secara berkala.


"Kalau Shion-san, katanya kekuatan sihirnya masih cukup, jadi saya serahkan tugas pengawalan Regu 6 padanya. Ars-san dan yang lainnya saya minta pindah dari belakang ke garis depan untuk berjaga-jaga jika terjadi keadaan darurat."


"Begitu, aku mengerti. Kalau begitu, mari kita mundur sambil mengalahkan monster."


Karen mengangguk pada Elsa, lalu melihat si kembar yang masih dipeluk Acacia.


"Legi, Shigi, kalian cepatlah mundur bersama Acacia."


"Inginnya sih bilang siap laksanakan. Tapi 'Parade Monster' bagaimana?"


"Sekarang aku menyuruh mereka membuat markas di Distrik 32, aku berniat menunggu di sana sementara sampai badai berlalu."


"Setelah itu bagaimana?"


Menerima tatapan Shigi, Karen juga memiringkan kepala sambil menatap Elsa, bingung harus bagaimana.


"Karen-sama adalah Lehrer yang memimpin guild, jadi tolong diingat dong..."


Elsa menghela napas heran.


"Eh, memangnya sudah dijelaskan?"


"Saya sudah membicarakannya beberapa kali... tapi karena situasinya begitu, mungkin tidak terdengar oleh Anda, ya."


"Habisnya aku panik harus menolong Legi dan Shigi, jadi mungkin aku tidak mendengarkan dengan serius."


"Jika demikian——"


Elsa hendak menjelaskan ulang pada Karen, namun dia menutup mulut saat melihat sosok Schuler yang mendekat.


『Elsa-san, Fire Wall milik Karen-sama telah menghilang dan monster-monster mulai bergerak serentak.』


"Saya mengerti."


"Maaf ya. Itu gara-gara kami mengobrol panjang lebar."


Meskipun Karen meminta maaf, Elsa menggelengkan kepala.


"Saya sudah tahu hal itu, jadi tidak masalah. Selain itu, saya juga perlu melakukan persiapan untuk mundur ke Distrik 32, jadi permintaan maaf tidak diperlukan."


Meski sulit diketahui dari wajah datarnya yang dingin, Elsa adalah wanita yang sangat baik.


Seburuk apa pun kesalahan pihak sini, dia tidak pernah menyalahkan, melainkan menasihati dengan lembut.


"Umm, Elsa-san baik seperti biasanya ya. Mau tidak pindah ke tempat kami?"


Yang mengatakannya dengan santai adalah Shigi.


"Tidak boleh! Kalau Elsa tidak ada, aku tidak bisa melakukan apa-apa tahu!"


"...Itu bukan sesuatu yang pantas diucapkan dengan membusungkan dada lho."


Saat Karen mengucapkan hal yang menyedihkan dengan bangga, Shigi menatapnya dengan pandangan heran.


Elsa bertepuk tangan seolah menengahi mereka berdua.


"Cukup sampai di situ. Kita benar-benar tidak punya waktu, jadi silakan mengobrol sambil mundur."


"Be, benar. Pertama-tama mari bergegas mundur sampai Distrik 32. Legi dan Shigi, serahkan sisanya pada kami dan pergilah duluan bersama Acacia."


"Aku juga akan ikut bertarung lho."


"Ya, ya. Energiku masih penuh kok. Onee-chan akan berusaha."


Saat Shigi mengatakannya, Legi juga melontarkan ucapan yang tidak seperti gumpalan kemalasan.


Ras Dwarf adalah ras yang keras kepala. Sekali bilang A, mereka akan terus mempertahankannya tanpa bengkok sedikit pun.


Legi dan Shigi pun tidak terkecuali. Tidak——mungkin darah keras kepala mereka lebih kental dari biasanya.


Karen sudah sangat memahaminya karena sudah lama mengenal mereka.


Jadi, saat seperti itu sebaiknya serahkan penanganannya pada orang yang satu guild dengan mereka.


Karen memelototi wanita yang menempel pada saudari kembar Dwarf itu——yang sedang menggesekkan pipinya.


"Tunggu Acacia, Lehrer di tempatmu bicara hal nekat, sebagai Schuler hentikan dong."


『Jika itu keputusan para Lehrer, saya akan patuh. Tidak perlu khawatir. Jika saatnya tiba, Acacia ini akan mempertaruhkan nyawa menjadi dinding dan kembali ke tanah.』


Saudari kembar Dwarf itu diperlakukan layaknya idola di "Guild Blowbadger".


Memang mereka memiliki penampilan yang imut, tapi untuk ukuran itu, guild ini memiliki banyak penganut fanatik——Schuler yang bisa dibilang tidak normal.


Karen heran bagaimana mereka bisa menjadikan dua idola itu umpan dan kabur, tapi bagi mereka, keberadaan saudari Dwarf itu adalah segalanya. Karena itu, ucapan mereka setara dengan wahyu Tuhan sehingga tidak bisa dibantah.


Singkatnya, Acacia yang ada di depan mata Karen juga merupakan penganut fanatik——seperti pemimpin sektenya, jadi jika disuruh mati oleh saudari Dwarf, dia pasti akan dengan senang hati menuju tempat kematian.


Karena latar belakang itulah semua orang memanjakan mereka, sehingga Karen terpaksa mengambil sikap agak tegas seperti tadi.


"Mau bagaimana lagi. Pokoknya, jangan memaksakan diri ya."


"Serahkan pada Shigi-chan ini!"


Shigi menyiapkan senjata andalannya, morning star, seolah berkata siap bertarung kapan saja.


Ditambah dengan postur tubuhnya, dia terlihat seperti anak kecil yang sok dewasa sehingga kesan menggelikan lebih mendominasi.


Itu adalah pemandangan yang membuat hati hangat tanpa sadar, namun tiba-tiba Shigi menyunggingkan senyum jahat.


"Fufun, Onee-chan, dengar, dengar, kita manfaatkan guild Karen untuk menutupi kerugian besar entah bagaimana caranya. Apalagi ada 'Parade Monster' yang terbaik di depan mata. Kita bisa balik modal dengan cepat. Ayo kita mundur sambil diam-diam memungut material monster. Kalau melewatkan ini, kita harus berhenti jadi Dwarf lho."


"Shigi-chan, Shigi-chan, suaramu keras, dan niat aslimu terlalu jelas sampai Onee-chan ilfeel lho."


『Fufuh, imut sekali. Sasuga Lehrer, keimutan yang penuh perhitungan tanpa celah.』


"Yah, biarkan saja tiga orang ini sesuka hati, ayo kita bergerak... meladeni mereka juga bikin capek."


Mengabaikan saudari kembar pelawak yang tidak punya rasa tegang itu, Karen melihat sekeliling dan menyadari ada yang janggal.


Namun, perubahan kecil itu tampaknya baru Karen saja yang menyadarinya saat ini.


Elsa tetap tanpa ekspresi seperti biasa, kakaknya Yulia memandangi saudari kembar Dwarf dengan penuh minat, dan para Schuler menunjukkan ketenangan sambil bersiap untuk bertarung.


"——Lho, mana Ars?"


Benar, identitas kejanggalan itu——anak paling bermasalah tidak terlihat.


Dia tidak menyadarinya karena Ars tidak bicara sejak tadi.


Saat berpikir dia lebih diam dari biasanya... tahu-tahu dia sudah menghilang.


Ke mana dia pergi? Karen buru-buru mengedarkan pandangannya——,


"Bohong, kan."


Ditemukan dengan mudah. Di arah pandangan Karen, ada seorang pemuda berpakaian hitam yang berlari sendirian di atas tanah.


Dia sudah hampir kontak dengan barisan depan kawanan monster. Meski jaraknya sudah cukup jauh dari Karen dan yang lain, dia langsung paham bahwa itu adalah Ars.


Lagipula, serangan nekat berlari menuju cakrawala yang dipenuhi ratusan, ribuan, bahkan puluhan ribu monster itu hanya bisa dilakukan oleh Ars.


Inilah yang ditakutkan.


Karena itulah Elsa dan Karen khawatir Ars akan mengamuk, jadi mereka menjauhkannya dari garis depan dan menempatkannya di belakang dengan alasan menghemat tenaga. Namun, kali ini mungkin karena Elsa merasa kekuatan Ars diperlukan, dia membawanya kembali ke garis depan.


Inilah hasilnya.


Padahal, sekarang setelah berhasil bergabung dengan Legi dan Shigi, mulai dari sini adalah pertempuran mundur.


Tapi, dia tidak mengerti kenapa Ars malah menerjang ke dalam kawanan monster.


Biasanya, tujuannya adalah bergabung dengan Regu 6 yang sedang membangun markas di Distrik 32 sambil meladeni monster yang mendekat.


"Tunggu, tunggu, Ars! Tidak perlu bertarung serius, tahu!?"


Meski berpikir suaranya tidak akan sampai, Karen tetap berteriak.


Dari punggung Ars yang berlari di atas tanah, hanya emosi riang gembira yang tersampaikan.


Itu sudah tidak tertolong. Karena tidak bisa dihentikan, biarkan saja.


"Elsa! Kita tidak punya pilihan selain memanfaatkan Ars!"


"Saya mengerti, tapi... bagaimana dengan Ars-san?"


Elsa yang biasanya tenang pun menunjukkan kegoyahan di balik wajah datarnya dan memasang ekspresi khawatir.


Karena dia selalu memanjakan Ars, mungkin penilaiannya jadi tumpul dan dia ingin pergi memberikan bantuan. Tapi berkat pengendalian dirinya yang bekerja, dia tidak bergerak.


Jadi, orang yang paling harus dihentikan Karen sekarang adalah Onee-sama tercinta.


"Onee-sama! Aku tidak akan membiarkanmu pergi!"


Karen melompat menerjang Yulia yang sudah memutar tubuh ke arah Ars.


"Karen! Le, lepaskan aku! Ars pergi sendirian ke tempat seperti itu lho. Kalau begitu dia akan segera dikepung monster... kalau tidak ditolong dia akan mati!"


"Meski begitu Onee-sama tidak boleh ikut pergi!"


"Uwaa... hei kalian berdua, daripada ribut melulu, coba lihat itu dengan benar?"


Tanpa disadari Shigi sudah terjepit di antara mereka berdua.


Dia mencoba menghentikan mereka yang saling dorong, tapi bagaimanapun juga Dwarf adalah ras yang disebut orang kerdil. Perbedaan tinggi badan tidak bisa dibalik, Shigi yang postur tubuhnya berbeda terjepit di antara dua orang itu dan tidak bisa berbuat apa-apa.


Namun, Shigi yang terjepit di antara kakak beradik cantik itu berkata, "Baunya enak yaa," sambil mengarahkan pandangan mereka berdua dengan jarinya.


"Dia itu benar-benar di luar nalar, atau lebih tepatnya terlalu kacau sampai aku kehabisan kata-kata, tapi seperti biasa... dia hebat ya. Baru kali ini aku lihat monster sebanyak itu terbang di angkasa."


Di tempat yang ditunjuk Shigi, bayangan hitam——Ars sedang mengamuk seolah menari.


Saat dia menoleh ke kanan, puluhan monster terhempas, saat dia menoleh ke kiri, monster yang menutupi pandangan hancur berkeping-keping entah karena ditebas.


Menggunakan sihir sambil menebas dengan belati, sosoknya yang menginjak-injak monster tanpa henti hanya bisa digambarkan dengan satu kata: menakjubkan.


Dalam situasi di mana orang biasa pasti sudah mati, sosoknya yang membantai monster dengan ekspresi riang gembira itu memancarkan keberanian seolah pahlawan mitos telah mewujud nyata.


Karena itu, wajar jika semua orang terperangah.


Karena itu, wajar jika semua orang terpesona.


Karena itu, wajar jika semua orang menaruh rasa hormat dan takut.


Itu adalah hak istimewa yang hanya diizinkan bagi mereka yang berdiri di puncak dunia.


Sebuah pemandangan yang hanya bisa dipersembahkan oleh mereka yang telah mencapai puncak.


"Haa... justru karena itulah aku ingin menyimpannya demi saat White Wolf Fenrir muncul."


Karen menghela napas.


Orang yang bisa menghadapi White Wolf Fenrir saat dia muncul sangatlah terbatas.


Lawannya adalah individu spesial yang tidak bisa ditaklukkan umat manusia, yang disebut Monster Istimewa.


Kekuatannya dikatakan setara dewa, dan Monster Istimewa No. 3 "White Wolf Fenrir" disebut-sebut memiliki kekuatan setara Magic Emperor yang ada seribu tahun lalu.


Karen yang hebat sekalipun tidak bisa menghadapi monster seperti itu.


Dia pasti akan terbunuh bahkan tanpa bisa menahan satu serangan cakarnya.


Namun, jika ada satu-satunya orang yang bisa melawan monster seperti itu, itu hanyalah Ars.


Mungkin ada satu orang lagi yang sepertinya bisa melawan White Wolf Fenrir, tapi... mencoba kemampuan melawan monster itu sama saja dengan bunuh diri, jadi mustahil dilakukan.


"Pertama-tama, berkat Ars, personel untuk menahan musuh tidak terlalu dibutuhkan lagi."


"Ya. Saya rasa cukup saya dan Karen-sama saja."


Elsa menambahkan perkataan Karen.


"Eh, kami juga mau ikut tarung lho?"


Shigi memprotes, tapi Elsa menggelengkan kepala.


"Pertarungan masih akan berlanjut. Langkah terbaik adalah pindah ke Distrik 32 dulu, lalu bertarung di markas. Selain itu, dengan begitu akan lebih mudah mengumpulkan material monster, jadi bukankah lebih baik menghemat stamina di sini?"


"Mu, kalau dibilang begitu mungkin benar juga."


Setelah menopang dagu dan berpikir beberapa detik, Shigi mengangkat wajahnya lagi.


"Yosh, Onee-chan, Acacia, serahkan pada Karen dan yang lain, kita lari ke Distrik 32!"


"Eeh... lari lagi? Acacia-chan, gendong dong?"


『Ba, baik! Silakan, punggung ini telah saya latih hingga hari ini demi Legi-sama!』


Setelah dibujuk Elsa, Shigi mulai berlari, dan Acacia yang menggendong Legi pun mengejar di belakangnya.


"Benar-benar gadis yang perhitungan ya..."


Biasanya itu situasi yang memancing amarah, tapi karena penampilan mereka yang imut, rasa gemas lebih dulu muncul daripada amarah. Dilihat sebaik apa pun, mereka hanya terlihat seperti anak kecil yang merengek. Mungkin karena itulah mereka diperlakukan seperti idola di guild, dan akibat dimanjakan oleh banyak orang seperti Acacia, lahirlah dua orang itu.


"Dunia sudah gila karena mereka itu lebih tua dariku."


"Legi-san sepertinya suka dimanjakan, tapi ada kemungkinan Shigi-san sebenarnya agak tidak suka."


Karena lebih tua dari Karen, usia mental Legi dan Shigi pun seharusnya sesuai usia mereka.


Namun, berbeda dengan Legi yang pemalas dan benci hal merepotkan, Shigi ingin bersikap seperti kakak perempuan yang diandalkan orang sekitar. Keinginan seperti itu kadang terlihat dari setiap ucapan dan tindakannya, tapi sayangnya penampilannya tidak mendukung.


"Waktu itu dia pernah ditembak oleh bocah laki-laki umur delapan tahunan yang memberinya permen, lho. Bilangnya 'aku bakal menikahimu di masa depan'. Mungkin karena merasa tidak dewasa kalau marah, dia menerimanya sambil pipinya berkedut."


"Itu pemandangan yang kadang terlihat ya. Isinya sih begitu tapi luarnya imut... selain itu kalau mau lewat Gerbang Teleportasi, kabarnya dia sering dicegat petualang lain dan disuruh pergi sama ibunya."


"Padahal penampilannya terlihat bisa melakukan apa saja sesuka hati, tapi ternyata tidak bebas, berat juga ya."


Sambil membantai monster yang lolos dari Ars, Karen dan Elsa mengejar punggung Shigi dan yang lainnya yang menjauh dengan kecepatan penuh.


"Soal monster bisa kita serahkan sepenuhnya pada Ars, tapi kalau lihat ke depan Shigi dan yang lainnya kabur sambil ribut... padahal sekarang harusnya situasi gawat, tapi rasanya kurang tegang, ya."


"Bukankah ini justru khas kita?"


Elsa mengatakannya dengan wajah datar seperti biasa.


Akan tetapi, di bibirnya terukir senyum tipis.



Di "Lost Land" Area Tinggi Distrik 34, White Wolf Fenrir berusaha menahan uapnya.


Sambil menatap ke depan dengan bosan, sesekali dia menyipitkan matanya yang tajam dan menggerak-gerakkan hidungnya yang lembap. Ada seseorang yang mendekati serigala bertubuh raksasa itu.


Hanya mulutnya yang terlihat karena wajahnya tertutup tudung.


Menghadapi sosok misterius itu, White Wolf Fenrir tidak menunjukkan kepanikan, dan setelah mengendus beberapa kali, dia mengembalikan kepalanya ke posisi semula seolah sudah paham.


"Tuan White Wolf Fenrir, saya datang menemui Anda lagi."


"Seingatku kita baru bertemu beberapa hari lalu... apa Ratu sedang menganggur?"


"Dalam seratus tahun terakhir 'Kota Iblis' sudah tenang. Tidak ada masalah yang berarti. Kesibukan saya saat ini hanya bergerak jika ada kasus yang tidak bisa diputuskan oleh bawahan."


"Begitu ya, sama sepertiku kalau begitu."


"Tuan White Wolf Fenrir kan lebih tidak bergerak lagi daripada itu, karena Anda tiba-tiba bergerak, seluruh dunia jadi heboh membicarakan pertanda bencana alam lho."


"Bencana alam ya, istilah yang tepat."


White Wolf Fenrir mendengus senang sambil membelokkan moncongnya. Lalu menghembuskan napas kasar dari hidung.


"Jadi, kau tidak ke sini cuma buat ngobrol basa-basi, kan. Ada urusan apa denganku?"


"Saya penasaran apa yang sedang Anda lakukan, jadi saya datang."


"Fumu... tidak berubah dari sebelumnya. Aku sedang mencoba menemukan Gift yang 'itu'."


"Di tempat seperti ini?"


Saat Ratu melihat sekeliling, banyak bangkai monster bergelimpangan.


Semuanya adalah Penguasa Wilayah dengan Tingkat Kesulitan Penaklukan Lv. 8 ke atas.


Bagi petualang biasa ini ancaman, tapi bagi White Wolf Fenrir yang hidup sejak zaman kuno, mungkin setara bayi. Namun, melihat White Wolf Fenrir dikelilingi mayat monster tampaknya bukan pemandangan yang ingin dilihat Ratu, sehingga kata-katanya menyiratkan rasa jijik.


"Tidak bisa dibilang selera yang bagus... tapi apa yang akan Tuan White Wolf Fenrir lakukan di sini?"


"Tujuanmu dan tujuanku sama. Kalau begitu, kau harusnya tahu... butuh jawaban?"


"Tujuan menemukan Gift 'itu' memang sama, tapi caranya sedikit berbeda dari prediksi saya, jadi saya bingung. Bagaimana situasinya sekarang?"


"Fufuh, segalanya menarik justru karena ada keragaman. Meski menggunakan cara yang diprediksi Ratu, kalau tidak menyenangkan tidak ada artinya. Hidup lama begini, lho. Aku makin sering berpikir begitu."


"Begitu ya... jadi, apakah sekarang Tuan White Wolf Fenrir sedang bersenang-senang?"


"Beberapa guild tak bernama yang kuhancurkan juga begitu. Aku memojokkan mereka dengan berbagai variasi. Pemandangan mereka mati dengan ekspresi yang tak satu pun sama itu tidak pernah membosankan untuk dilihat."


"Lalu dikelilingi mayat monster juga merupakan salah satu variasi kesenangan, benarkah begitu?"


"Tentu saja. Di Area Tinggi banyak monster yang berkelompok. Jika membunuh pemimpinnya, para monster akan lepas kendali dan mengamuk. Lama-kelamaan kawanan yang kehilangan ketertiban itu bergabung dengan kawanan lain dan bertambah secara eksplosif."


"Lalu menjadi 'Parade Monster', dan itu menghibur Anda, begitu."


"Bukan cuma itu. Jika memicu 'Parade Monster', berbagai guild akan terseret. Aku menilai tidak sulit untuk memancing keluar Gift yang menjadi target."


"Tapi, 'Parade Monster' sudah mendekati Distrik 33——sekarang Distrik 32. Lewat Distrik 31 sudah 'Kota Iblis'... jangan-jangan, Anda berniat memusuhi kami juga?"


"Lelucon yang menarik. Aku tidak berpikir 'Kota Iblis' akan hancur cuma karena level segitu, dan aku berniat menghentikan 'Parade Monster' pasti di Distrik 31. Tujuanku adalah memancing keluar Gift, jadi aku tidak berniat mencari gara-gara dengan Ratu."


"Anda percaya diri sekali. Apa yang sedang Anda rencanakan?"


Menanggapi pertanyaan Ratu, White Wolf Fenrir menggetarkan tenggorokannya dengan senang lalu membuka mulut.


"Tidak diragukan lagi Gift yang menjadi tujuan dimiliki oleh manusia. Makanya kau tahu kan aku menyerang guild Kota Sihir yang kemungkinan besar berkumpul penyihir hebat."


"Ya, karena menurut informasi di sana kemungkinannya lebih tinggi... ——aa, begitu rupanya, jadi karena itu?"


"Akhirnya sadar juga..."


Setelah menghembuskan napas kasar dari hidung, White Wolf Fenrir membelokkan mulutnya.


"Artinya, alasan Anda mengincar guild Kota Sihir sejak awal adalah untuk membebankan tanggung jawab atas 'Parade Monster' yang sedang terjadi sekarang kepada mereka, benar begitu?"


"Benar. Jika aku yang turun gunung setelah ratusan tahun hanya mengincar guild Kota Sihir, seluruh dunia pasti mengira mereka telah melakukan sesuatu yang membuatku marah. Ditambah lagi jika 'Parade Monster' terjadi dan mendekati Kota Iblis, menurutmu apa yang akan terjadi?"


"Jika menyeret Kota Iblis, tanggung jawab mungkin akan dituntut. Jadi mereka harus menahannya di Distrik 31 ke atas... Sisanya, meskipun kita mengabaikan permintaan bantuan, tidak akan ada masalah jika kita melimpahkan tanggung jawab dengan mengatakan Kota Sihir-lah yang salah, begitu ya."


"Benar. Aku sudah mempertimbangkan posisimu juga, jadi berterima kasihlah. Selain itu, ini tepat sekali untuk memancing keluar Gift yang ada di Kota Sihir itu. Berkat itu, aku bisa semakin dekat dengan tujuan."


"Jangan-jangan, Anda sudah menemukannya?"


"Tidak, aku belum menemukannya——tapi sepertinya aku menemukan orang yang kenal dengannya."


"Hou... bagaimana Anda bisa tahu kalau dia kenalannya?"


"Sepertinya orang itu punya Gift [Enchantment]."


"Tidak mungkin..."


"Benar. Dia menggunakan batu sihir untuk kabur dariku."


Dengan tampak bersemangat, White Wolf Fenrir menghantamkan ekornya ke tanah, membuat debu pasir membumbung tinggi.


"——Aku melihat lingkaran sihir hitam itu dengan mata kepalaku sendiri."


"Luar biasa. Sasuga Tuan White Wolf Fenrir. Lalu, apa yang Anda lakukan pada orang itu?"


Ratu melontarkan pujian, namun suaranya terdengar antusias dan tampak bersemangat.


"Aku sudah susah payah menemukan orang yang punya koneksi. Sayang kalau dibunuh, jadi kulepaskan. Siapa tahu dia akan datang menolong mereka. Makanya, sisanya aku hanya memicu kawanan monster sekadar agar mereka tidak mati."


"...Begitu ya, saya jadi paham berbagai hal termasuk situasi saat ini."


Setelah Ratu paham, White Wolf Fenrir mengerahkan kekuatan pada keempat kakinya lalu berdiri.


Hanya dengan itu saja sudah memberikan tekanan yang luar biasa.


Hutan bergemuruh, pepohonan bergoyang, dan bunga-bunga berguguran.


Tekanan itu begitu kuat hingga memaksa rasa tegang yang mengerikan meski pada teman sendiri.


Itu wajar saja.


Di masa lalu dia dipuji sebagai yang terkuat di antara Monster Istimewa, bahkan disebut setara dewa.


Monster tertua yang dulu pernah menjatuhkan dewa dan membantai banyak Demon Lord.


Enam Monster Besar, White Wolf Fenrir.


Ratu secara alami menundukkan kepala pada sosok gagah serigala purba yang agung itu.


"Apakah Anda akan pergi?"


"Ya, sebentar lagi gerombolan kroco mulai berkumpul. Siapa tahu pemilik Gift yang jadi tujuan ada di antara mereka."


"Kalau begitu, saya juga akan bantu sedikit di sini. Saya akan menekan orang-orang Kota Sihir yang ada di Kota Iblis dan mengarahkan mereka agar menuju ke sini."


"Apa bawahanmu tidak curiga kalau kau ikut campur sampai segitu? Bukannya kita seharusnya menjalin perjanjian non-agresi dan dianggap tidak saling berinteraksi...?"


"Padahal dekat dengan sarang Tuan White Wolf Fenrir, tapi 'Kota Iblis' belum pernah diserang sekalipun lho. Mereka pasti samar-samar sadar ada hubungan tertentu. Lagipula, meski curiga mereka tidak akan melakukan apa-apa. Saya sudah mendidik bawahan dengan benar."


"Kalau begitu, baguslah."


White Wolf Fenrir menyunggingkan senyum kurang ajar.


Melihat temannya yang menunjukkan ekspresi kaya layaknya manusia, Ratu tertawa gersang karena merasa itu hal yang hebat.


"Sekarang lihat saja. Aku pasti akan menemukan Gift yang menjadi tujuan itu."


"Tolong ya. Karena kita butuh Gift yang 'itu', saya menaruh harapan pada Tuan White Wolf Fenrir lho."


Sikap Ratu yang menegaskan itu memang sedikit akrab.


Namun, White Wolf Fenrir tidak tampak tersinggung, malah hanya mendengus senang.


"Fufuh, tentu saja."


Tak lama kemudian, saat tawanya lenyap, White Wolf Fenrir menatap Ratu dengan tatapan serius.


"Nantikan saja. Demi hasrat terdalam kita."


"Ya, demi hasrat terdalam kita."


Ratu juga menjawab dengan tegas tanpa gentar menghadapi White Wolf Fenrir yang atmosfernya tiba-tiba berubah.



Area Tinggi Distrik 32. Di tengah hutan yang rimbun dan lebat, terdapat area terbuka berbentuk lingkaran buatan.


Sebuah benteng yang kokoh telah dibangun, namun di hadapan kawanan monster yang mendesak dari segala arah, teriakan-teriakan membahana dari dalam benteng——dari atas tembok pertahanan. Suara benturan pedang bercampur dengan jeritan memuakkan membubung ke angkasa.


Mendengar auman bernada rendah yang bergema hingga ke dasar perut, tubuh orang-orang menegang karena tegang.


Meski begitu, melihat jumlah monster yang luar biasa banyak mendesak dari bawah, mereka membangkitkan keberanian dan menyambut serangan sambil berteriak lantang.


Orang-orang yang berdiri di tembok pertahanan dengan senjata siap, dan monster yang merayap naik ke dinding. Tepat sebelum keduanya bentrok, seberkas garis merah menyapu bersih monster yang memanjat dinding.


"Tidak perlu takut! Dindingnya berfungsi dengan baik, dan belum ada satu monster pun yang masuk ke dalam! Jangan kalah semangat! Dorong balik mereka!"


Sambil rambut merahnya berkibar, Karen mengangkat satu tangan untuk membakar semangat para Schuler.


Lalu dia melangkah lebar menuju wanita cantik berambut biru——Elsa yang mengamuk dengan busur di tangan.


"Elsa! Setelah ini bagaimana? Kalau berniat mundur sampai Kota Iblis harus cepat, kita harus kabur sebelum markas dikepung monster!"


"Mohon maaf. Saya sudah meminta bantuan pasukan atau perlindungan dari Kota Iblis, tapi ditolak."


Elsa memasang ekspresi masam.


Dia telah mengirim salah satu Schuler sebagai pembawa pesan, tapi pembawa pesan yang menerima jawaban dari Kota Iblis baru saja kembali. Jawabannya bukanlah yang diharapkan, Kota Iblis menyatakan tidak akan campur tangan dalam 'Parade Monster' kali ini.


"Hah? Kalau di sini ditembus, selanjutnya Kota Iblis yang diincar lho?"


"Memang begitu, tapi kabarnya Kota Iblis sudah menutup gerbang, dan katanya mereka tidak akan menerima kita meski kita mengungsi ke sana."


"...Singkatnya, gerombolan Kota Iblis itu menyuruh kita mati di sini, begitu?"


Jika mencoba melarikan diri dari markas saat ini dan mengungsi ke Kota Iblis pun tidak akan diterima, maka mereka harus terus bertahan dari serangan monster yang entah kapan akan berakhir di markas darurat ini.


"Logistik seperti makanan sudah disiapkan untuk ekspedisi jadi persediaan cukup banyak, tetapi meski begitu, saya tidak tahu sampai kapan kita bisa bertahan."


Distrik 32 adalah hutan dengan pepohonan rapat——singkatnya merupakan benteng alami.


Berkat itulah para monster tidak bisa memanfaatkan keunggulan jumlah mereka sepenuhnya, dan kenyataannya, pihak mereka yang kalah jumlah entah bagaimana bisa bertahan.


"Mempertahankan moral dalam situasi tanpa harapan bala bantuan juga pasti berat... bagaimana kalau begini saja, kita giring 'Parade Monster' ke Kota Iblis lalu kita kabur sampai ke Area Tengah?"


"Secara perasaan saya ingin melakukan itu, tapi itu akan menjadi masalah internasional. Salah langkah sedikit bisa memicu perang antara Kota Iblis dan Kota Sihir. Kita yang menjadi penyebabnya, nasib paling baik adalah diusir, tapi paling buruk kita akan dilenyapkan karena dianggap membawa pertikaian yang tidak perlu."


"Hah... kenapa mereka tidak terima kita ya. Dinding Kota Iblis itu tinggi dan disiapkan untuk serangan monster kan. Kalau di sana, bertahan sebulan atau dua bulan pun mudah. Apalagi ada banyak iblis tingkat tinggi, jadi kemungkinannya lebih tinggi mereka bisa memukul balik musuh."


"Lost Land" adalah sarang monster, daerah berbahaya di mana iblis bisa lahir dari miasma.


Ini juga tanah kejam di mana orang biasa tidak akan pernah kembali jika melangkahkan kaki ke dalamnya.


Bahkan goblin yang memiliki daya reproduksi luar biasa pun tidak bisa bertahan hidup dan tidak menghuni tempat ini.


Monster Istimewa No. 6, "Ratu", begitu kuat hingga bisa mendirikan negara di tempat seperti itu.


Memulai dari desa kecil hingga membangun kota benteng adalah pencapaian yang luar biasa.


Itu adalah hal yang tidak bisa dicapai oleh umat manusia.


Perebutan kembali "Lost Land" adalah hasrat terdalam tidak hanya bagi Asosiasi Sihir, tapi juga Gereja Hukum Suci dan negara-negara di seluruh dunia.


Sang Ratu telah mewujudkan hal itu seorang diri, meski hanya sebagian.


Dengan menundukkan iblis dan monster, dia membangun kekuatan yang bahkan sebanding dengan Asosiasi Sihir.


"Fakta bahwa gerombolan seperti itu menolak pengungsian, sepertinya tidak salah lagi ada sesuatu di baliknya. Atau mungkinkah hal serupa pernah terjadi di masa lalu?"


"Tidak ada kok. Bagi Kota Iblis kita ini keberadaan kecil, tapi tetap saja pelanggan berharga yang membelanjakan uang. Menolak pengungsian dan semacamnya bukannya baru pertama kali ini terjadi?"


Yang menjawab pertanyaan Karen adalah Shigi. Dia menyeka keringat di dahinya, menyandarkan punggung ke tembok pertahanan, membetulkan posisi kacamata pelindungnya, lalu mulai minum air.


Kepada gadis itu, Karen bertanya sambil memiringkan kepala.


"Hmm, kalau begitu, menurut Shigi apa alasan penolakan bala bantuan itu?"


"Puhaa~, meski ditanya apa alasannya, kalaupun tahu sepertinya bukan masalah yang bisa kita atasi. Jadi, kita hanya bisa bertahan dengan jujur di sini, kan? Kau juga sudah pergi menyampaikan permintaan tolong ke Asosiasi Sihir, kan?"


Saat Shigi menatap Elsa, wanita itu mengangguk.


"Ya. Tetapi, jika bentuknya berupa permintaan misi, saya rasa kita tidak bisa mengharapkan bala bantuan."


"Aah... ya iyalah, sulit ya."


Shigi tersenyum pahit. Jika "Parade Monster" menuju ke Kota Sihir, bala bantuan pasti akan segera dikirim. Namun, di sini hanyalah "Lost Land" di mana terdapat "Kota Iblis" yang diperintah oleh kaum iblis yang dibenci. Terlebih lagi, jika tugasnya bukan hanya memadamkan "Parade Monster" tapi juga ada bonus White Wolf Fenrir yang ikut serta, tidak akan ada orang yang dengan sukarela datang menolong.


Oleh karena itu, meskipun meminta bantuan pada Asosiasi Sihir, kemungkinan besar keputusan mereka hanyalah menempelkan permintaan bantuan di papan pengumuman.


"Jika markas ini hancur dan 'Parade Monster' menuju Kota Iblis, akibatnya bukan sekadar keluhan biasa, tapi para petinggi Asosiasi Sihir tidak mengerti hal itu. Sampai benar-benar menjadi masalah, mereka sibuk dengan perebutan kekuasaan sendiri sehingga tidak akan mendengarkan permohonan orang bawah."


"Kalau begitu, kita harus bersiap untuk kemungkinan terburuk."


Saat Karen mengatakannya dengan lelah, Shigi mengangguk berkali-kali.


"Ya, ya. Selain itu, sudah berapa jam berlalu sejak kita sampai di markas ini dan mulai bertarung?"


Menanggapi pertanyaan Shigi, Elsa mengeluarkan jam sakunya.


"Sekitar tiga jam. Saya rasa jumlah monster yang dikalahkan sudah melebihi seribu."


"Jumlah penaklukan yang cukup banyak padahal waktunya singkat ya."


Saat Karen berkata dengan nada kagum, Shigi melihat ke bawah dari tembok pertahanan dan memanyunkan bibirnya.


"Ya iyalah... dengan monster sebanyak ini, tembak sihir ke arah mana pun pasti kena."


Monster-monster menggeliat seolah menempel di dinding benteng.


Tanah bahkan tidak terlihat saking padatnya monster, mereka menumpuk di tepi dinding hingga menggelembung seperti gunung dan hendak melampaui ketinggian benteng.


Di sanalah para penyihir melepaskan sihir area untuk memusnahkan monster.


Seseorang tampaknya baru saja melepaskan sihir berukuran ekstra besar, lalu tumbang di atas tembok pertahanan dan diangkut ke ruang medis.


"Hei, yang barusan itu Schuler dari tempat Shigi, kan? Bukan cuma dia, rasanya banyak yang tumbang karena kehabisan kekuatan sihir, apa tidak apa-apa?"


Saat menjatuhkan monster yang berlari naik ke dinding, di sudut pandangan Karen terlintas sosok beberapa penyihir yang tumbang.


Semuanya adalah Schuler dari "Guild Blowbadger".


Karen bingung karena tidak bisa memahami apa yang sebenarnya terjadi, namun karena terlalu sibuk, dia menunda untuk memeriksanya.


"Benar~. Kami kan sudah terus bertarung lebih dari setengah hari kalau dihitung dari waktu kabur dari White Wolf Fenrir. Jadi stamina dan kekuatan sihir para Schuler juga tinggal sedikit. Makanya, di situ aku perintahkan: daripada istirahat atau jadi beban, lebih baik habiskan dulu kekuatan sihir sampai kering baru tidur."


Mendengar Shigi melontarkan hal yang keterlaluan sambil tersenyum, sudut mulut Karen berkedut.


"Kau... memberikan perintah yang keterlaluan ya."


Berbeda dengan penyakit kekurangan sihir, jika hanya kehilangan kekuatan sihir sementara, tidak ada bahaya nyawa.


Namun, bukan berarti tidak ada masalah.


Ingatan bisa menjadi kacau, atau karena kesadaran hilang, bisa gawat jika kepala terbentur saat tumbang. Selain itu karena butuh waktu sampai sadar kembali, biasanya orang menyisakan kekuatan sihir sekadar untuk menjaga kesadaran.


"Habisnya, anak-anak itu ikut Karen dan yang lain meski tahu begitu, kan? Karena sudah merepotkan, setidaknya harus berguna sedikit dong."


Shigi memiringkan kepalanya dengan imut, tapi Karen merinding mendengar kata-katanya yang pedas.


"Padahal Shigi biasanya dimanjakan para Schuler... tapi kau bersikap keras pada Schuler begitu, bagaimana ceritanya?"


"Eeeh~... aku juga berpikir begitu sih. Tapi entah kenapa mereka lebih senang kalau dikerasi. Dulu waktu kumanjakan, mereka malah menangis bertanya apa mereka melakukan kesalahan."


"Aah... mesum——bukan, bagian yang sensitif ya. Maaf. Itu bukan ranah yang boleh disentuh sembarangan."


Jika Shigi mulai memperbaiki diri karena teguran Karen, bisa-bisa Karen malah dibenci secara aneh.


Karen bersumpah dalam hati untuk tidak pernah menyinggung kebijakan guild mereka lagi.


Ada bermacam-macam guild. Karen memutuskan untuk berpikir demikian.


"Meski begitu... sepertinya kelelahan mulai muncul ya."


"Saya sudah merotasi mereka sebisa mungkin, tetapi karena monster menyerang tanpa henti, selain secara fisik, karena tidak ada waktu untuk menenangkan pikiran, mungkin kelelahan mental juga terus menumpuk."


"Bagaimana kalau menambah regu lagi untuk memperpanjang waktu pergantian?"


"Kalau begitu pertahanan akan menipis dan kita tidak bisa menjaga dinding di empat penjuru. Jika jumlah orang lebih sedikit dari sekarang, pertahanan pasti akan runtuh, jadi saya tolak."


"Sayang sekali, padahal kalau bisa menambah waktu istirahat sedikit saja... tapi sekarang sepertinya mustahil."


"Jika situasi membaik mungkin bisa diatur, mari berdoa agar ada perubahan."


"Tapi menurutku ini masih tergolong sisi yang santai, lho."


Yang menyela pembicaraan mereka berdua adalah Shigi.


Dia menunjuk ke Utara, Barat, dan Timur secara berurutan lalu kembali membuka mulut.


"Sisi Utara hampir semuanya ditangani Ars, sisi Barat juga Shion berjuang keras, jadi menurutku beban para Schuler jauh lebih ringan. Kalau tidak ada mereka berdua, monster pasti sudah menghancurkan dinding sejak lama, dan markas ini pasti sudah hilang tanpa bekas."


Yang dijaga Karen dan kawan-kawan adalah dinding sisi Selatan.


Karena sisa kekuatan sihirnya tinggal sedikit, dia ditugaskan di sisi Selatan bersama Elsa.


Di sana Shigi juga ditambahkan.


Kakaknya, Legi, bertugas sebagai unit gerilya dan seharusnya sekarang sedang mengamuk di tempat Shion di sisi Barat.


"Selain itu, karena markasnya sempit, bagusnya kita bisa segera pergi membantu ke tempat berbahaya."


Markas itu sendiri tidak terlalu luas.


Di alun-alun tengah yang bisa memuat sekitar seratus orang, hanya ada tenda yang disebut ruang medis.


Karena itu, kondisi dinding di setiap sisi dibuat agar bisa terlihat dari mana saja, dan entah apakah memprioritaskan ketinggian dinding membuahkan hasil, sejauh ini mereka berhasil menangani monster dengan baik.


Tentu saja, seperti kata Shigi, situasi saat ini ada berkat bantuan besar dari Ars dan Shion.


"Tapi, yang paling hebat pasti sisi Timur. Di sana satu regu saja cukup, menurutku. Tidak, sungguh sulit dipercaya sih, tapi menambah jumlah orang malah cuma bakal jadi beban, kan."


Wajar jika Shigi mengatakannya dengan ekspresi heran.


Yang ditugaskan di sisi Timur adalah Yulia, namun tempat itu anehnya sunyi.


Hanya suara membelah angin yang bergema tanpa henti.


Para Schuler "Guild Villeut" yang bertugas menjaga sisi Timur bersamanya hanya bisa bengong menonton.


Alasannya karena, meski mereka berniat membantu Yulia, dalam sekejap, benar-benar sekejap, saat garis perak terlihat di pandangan, monster itu sudah mati.


"Kakakmu itu, benar-benar tidak normal ya. Dari Gift-nya saja sudah mustahil."


Shigi bergumam sambil menatap sisi Timur.


Di sana Yulia bertarung dengan memanfaatkan Gift-nya.


Bagi orang selain dia, dia terlihat hanya berdiri tegak di atas dinding, namun kenyataannya dia turun ke tanah dalam sekejap mata dan membantai para monster.


Entah karena insting membuat mereka takut, rasanya banyak monster yang malah menghindari sisi Timur.


"Ara, tumben sekali penyihir 'Enchanter' sepertinya berkomentar begitu. Kupikir kalau tahu sihir Gift [Light] milik Onee-sama, kau bakal minta izinkan memasukkannya ke batu sihir."


"Enggak deh, hari ini aku baru pertama kali lihat sihir Yulia, tapi rasanya itu tidak bisa dimasukkan ke batu sihir."


"Begitukah? Bahkan kamu?"


Meski penampilannya seperti anak kecil, Shigi adalah orang kuat yang dikatakan masuk lima besar di antara penyihir pemilik Gift [Enchantment]. Tentu saja, dengan kekuatan istimewa seperti itu, dia pasti menjadi incaran. Kabarnya dia direkrut oleh Demon Lord dan 24 Council Keryukeion yang menginginkan kemampuannya, namun karena menolak semuanya, dia mengalami gangguan di Kota Sihir.


Karena dia Dwarf yang keras kepala, dia tidak menyerah sampai akhir, dan akhirnya melarikan diri dengan pindah ke Kota Naga.


Sangat jarang bagi dia yang memiliki kemampuan "Enchantment" hingga diincar Demon Lord untuk menyerah hanya dengan sekali melihat sihir.


"Yang bisa pakai itu cuma orang tertentu, tahu. Coba saja orang biasa pakai 'Lightspeed, Eclair'. Tubuhnya tidak akan bisa mengikuti dan hancur berkeping-keping."


"Tapi, sebelumnya Ars pernah pakai 'Lightspeed, Eclair' milik Onee-sama lho. Rasanya dia bilang ada syaratnya, jadi mungkin tidak sama persis sih."


"Kalau Yulia itu tidak normal, Ars itu abnormal. Keberadaan anak itu sendiri terlalu tidak masuk akal sampai bikin kepala sakit, jadi aku tidak mau memikirkannya."


Shigi mengatakannya sambil memegangi dahi, tapi setelah itu dia bertepuk tangan dan melompat bangun.


"Benar juga! Ada hal yang harus kukatakan pada si Ars itu!"


"Ada apa tiba-tiba? Bukannya belum waktunya gantian sama Legi? Santai saja dulu kenapa?"


"Aku ingat aku mengalami hal mengerikan gara-gara batu sihir yang dimasukkan sihir Ars!"


"Hee... tapi, bukannya kamu yang memohon pada Ars?"


"Biarpun begitu! Kalau salah sedikit aku bisa mati, jadi aku ingin protes setidaknya sekali!"


"Sebenarnya sihir apa yang kau masukkan sih."


Saat Karen memasang ekspresi heran, Shigi buru-buru pergi seolah tak bisa diam saja di situ. Kakinya melangkah ke sisi Utara——yaitu tempat Ars sedang bertarung.


"Tunggu, bukannya sebentar lagi waktunya gantian sama Legi!?"


"Perpanjang waktunya!"


"Tidak... mustahil kan. Ngomong apa sih kamu."


"Sepertinya dia tidak berubah, ya."


Yang muncul di belakang Karen adalah Elsa.


"Ara, istirahat kah?"


"Ya. Saya rasa istirahat Karen-sama agak terlalu lama..."


"Aku baru saja mau menggerakkan badan kok. Daripada itu, bagaimana situasinya?"


"Bisa dibilang tidak baik tapi juga tidak buruk, di mana-mana stabil... tapi, saya rasa markas ini akan runtuh dalam dua atau tiga hari."


"Alasannya?"


"Semata-mata karena monster yang terus bermunculan tanpa habisnya. Kemungkinan besar kita harus terus bertarung saat malam juga. Meski bergantian, kita tidak bisa mendapatkan istirahat yang panjang. Jika waktu tidur tidak bisa didapat... paling bertahan dua atau tiga hari."


"Kalau begitu kita harus memikirkan jalan terakhir ya."


Perlu memaksa untuk menyeret "Kota Iblis" ke dalam masalah ini.


Akibatnya mungkin akan memicu konflik antara Kota Sihir dan Kota Iblis, tapi dia tidak bisa membiarkan tempat ini menjadi kuburan bagi para Schuler.


"Ayo kita limpahkan tanggung jawab dengan santai. Bilang saja 'Kota Iblis' yang tidak mau bekerja sama yang salah."


Saat Karen mengangkat bahu dan bercanda, Elsa membuka mulut dengan datar.


"Mohon yang minta maaf Karen-sama saja. Saya akan bersikeras tidak tahu-menahu."


"Eeeh... minta maaf bareng dong."


Saat Karen memanyunkan bibir, Elsa menghela napas.


"Bercanda kok. Saat itu tiba, entah minta maaf, melawan, atau masa bodoh, mari kita buat pilihan tanpa penyesalan bersama-sama."


"Benar juga ya... kalau begitu, ayo berjuang sedikit lagi."


Karen menggenggam erat senjatanya lalu berlari di atas tembok pertahanan.


Dia menghancurkan kepala monster yang memanjat dinding, lalu menendang mangsa berikutnya hingga terbang.


Terkadang punggungnya hampir diserang, tapi dia diselamatkan oleh panah Elsa.


"Hei, Elsa. Kalau ada aku dan kamu, jangan-jangan di luar dugaan kita bisa memusnahkan mereka dalam dua atau tiga hari, kan?"


Ucapan santai Karen sebenarnya harus ditegur, tapi Elsa menilai itu hanyalah bualan ringan agar tidak membuat para Schuler cemas di tengah situasi yang memutus asa ini.


"Atau mungkin dalam hari ini juga."


"Ara, boleh juga ucapanmu."


Karen terkejut Elsa menanggapi candaannya, tapi saat pandangan mereka bertemu, mereka pun tersenyum.



"Arsssss!!"


Menghadapi benda yang mendekat dari belakang, Ars menghentikan langkah dan menoleh.


Monster-monster yang menutupi pandangan pun berhenti menyerang, memusatkan perhatian pada gadis kecil yang mendekat sambil berteriak keras.


"...Shigi kah?"


Ars memiringkan kepala, heran apakah terjadi sesuatu karena kemunculan kenalan yang seharusnya menjaga tempat lain.


Pertemuannya dengan gadis itu berkat perkenalan Karen.


Mendengar Gift Ars hanya "telinga yang bagus", Shigi yang tertarik memohon mati-matian agar diizinkan memberikan [Enchantment] pada batu sihir, dan sejak itu mereka menjadi akrab.


Katanya dia lebih tua, tapi karena penampilannya yang terlalu muda, Ars tidak bisa menganggapnya begitu, dan karena sifatnya pun terbawa seperti anak kecil, dia adalah gadis yang secara mental pun tidak terasa lebih tua.


"Tempat yang kau jaga beda kan?"


"Memang, tapi aku datang karena ingin protes pada Ars!"


"...Kenapa aku harus diprotes?"


"Gara-gara batu sihir yang kau berikan sihir waktu itu aku nyaris mati, jadi ini protes soal itu!"


"Bukan, itu kan karena Shigi bilang mau, makanya aku bantu berikan sihir."


"Tetapi saja! Aku tidak menyangka kekuatannya bakal segila itu kan!"


Sambil melihat Shigi yang menghentak-hentakkan kaki karena kesal dengan wajah susah, Ars menusukkan belati ke kepala monster yang memanjat dinding. Setelah melirik monster yang menabrak tanah sambil menjerit, dia membuka mulut pada Shigi.



"Apa maksudmu?"


"Aku melempar batu sihir yang diberi sihir 'Suara Kematian, Death Flüstern ' untuk kabur dari White Wolf Fenrir, tapi radius satu kilometer terhempas lho, itu aneh kan."


"Tidak mungkin... 'Death Flüstern' adalah sihir yang efeknya hanya mengacaukan suara di dalam tubuh. Itu bukan sihir yang kekuatannya sampai menghempaskan radius satu kilometer, tahu."


"Ada informasi yang agak bikin penasaran sih... tapi simpan dulu sekarang. Tapi, kenyataannya sedikit lagi Onee-chan juga hampir mati terseret lho?"


"Tidak, tidak mungkin begitu... Jangan-jangan, itu batu sihir yang diberi sihir Karen?"


"Aku tidak seceroboh itu, tahu. Lagipula, kalau sampai salah mengenali batu sihir yang kuberi sihir sendiri, kalau melakukan itu aku gagal sebagai Penyihir Enchanter, kan."


Ars tidak punya ide, dan jika Shigi menyangkalnya, penyebabnya mengerucut pada satu hal.


"Kalau begitu, kemungkinannya lebih tinggi White Wolf Fenrir melakukan sesuatu, kan."


Ars menopang dagu dengan senang lalu menyunggingkan senyum berani.


"Aku ingin melihatnya. Ada kemungkinan itu sihir yang tidak kuketahui."


"Haa... kau ini seperti biasa ya... Tidak bisakah sekali-sekali memikirkan hal selain sihir?"


"Karena hobiku adalah mengetahui sihir yang tidak kuketahui."


"Hobi yang aneh... sungguh, aku tidak paham."


Saat Shigi berkata dengan nada heran, Ars tersenyum pahit.


"Aku sering dibilang begitu kok. Disuruh cari hobi lain juga. Tapi tetap saja aku pilih sihir."


Sejak ibunya meninggal, Ars hanya memiliki sihir.


Terus mendengarkan sihir yang dirapalkan penyihir di seluruh dunia.


Hanya itulah satu-satunya cara menjaga kedamaian hati di dunia yang busuk itu.


Makanya dia terus mencari.


Sihir yang lebih lagi.


Kebijaksanaan yang lebih lagi.


Demi mengalahkan penyihir terkuat di dunia, "Essence of Magic, Mimir".


Dan, merebut pengetahuan sihir seluruh dunia yang terus dikumpulkan orang itu.


Jika dilakukan, suatu saat dia akan sampai.


Titik pencapaian tertinggi umat manusia——


——Magic Emperor.


Julukan tiada duanya.


Julukan penguasa mutlak.


Julukan yang hanya boleh disandang oleh mereka yang telah menguasai sihir.


"Lalu, apa tidak ada informasi tentang White Wolf Fenrir?"


Ars bertanya, tapi di saat yang sama dia menyadari atmosfer berubah.


Shigi menatap satu titik.


Apa yang dilihatnya, apa yang memikat matanya, apa yang ditakutinya hingga gemetar.


Tidak perlu bertanya pun tahu.


Tanpa bertanya pun mengerti.


Sosok yang terpantul di matanya itu dipenuhi wibawa.


Ars perlahan mengarahkan pandangannya ke tempat yang dilihat Shigi.


Serigala putih yang memimpin kawanan monster sedang mendekati markas dengan langkah agung.


Pemandangan itu bagaikan pawai seorang raja.


Ars merasakan jantungnya berdegup kencang.


Instingnya berteriak bahwa makhluk yang muncul di depan mata itu kuat.


"Bohong, kan............ kenapa muncul di saat seperti ini."


Entah karena putus asa, ekspresi Shigi menjadi pucat pasi.


Memang jika memikirkan situasi saat ini, bisa dibilang ini keputusasaan.


Markas dikepung kawanan monster, tidak tahu kapan dan dinding mana yang akan runtuh, mereka hanya menghabiskan waktu untuk bertahan.


Jika White Wolf Fenrir yang memiliki kekuatan luar biasa muncul di sana, keseimbangan saat ini akan hancur dalam sekejap.


Kalau begitu... Ars bermaksud melawan White Wolf Fenrir, namun ia tidak bisa bergerak.


Sebab "Parade Monster" menjadi semakin aktif akibat kemunculan White Wolf Fenrir.


Lebih buas dari sebelumnya, para monster yang mengaum itu dikuasai oleh ketakutan.


Penularan emosi yang terjadi karena takut akan kekuatan sihir pekat White Wolf Fenrir. Perasaan yang dirasakan teman terefleksi pada diri sendiri, ini adalah salah satu fenomena yang sering terlihat pada kawanan monster.


Monster dalam jumlah besar jatuh dalam kepanikan dan mulai memanjat dinding dengan putus asa untuk melompatinya.


Sambil memenggal kepala monster yang mengamuk, Ars berpikir apa yang harus dilakukan.


"Yah... kalau aku meninggalkan tempat ini, pertahanan pasti runtuh."


Meski ada Schuler yang dikirim Karen, jika Ars meninggalkan tempat ini, mereka akan langsung tertelan oleh monster yang mengamuk.


"Ars, serahkan sini padaku dan pergilah——seandainya saja aku bisa bilang begitu, ya."


Shigi melontarkan kata-kata penuh kekecewaan yang tidak biasa dan menjatuhkan bahunya. Kata-kata itu mungkin berasal dari kekecewaan pada dirinya sendiri yang tidak bisa bertarung menggantikan Ars.


Kekuatannya terletak pada kepemilikan batu sihir dalam jumlah banyak.


Namun, saat ini dia sudah kehabisan batu sihir yang diisi sihir untuk kabur dari White Wolf Fenrir.


Sisanya hanya mengayunkan senjata morning star, tapi itu saja tidak akan bisa menggantikan Ars.


"Tempat lain juga mulai gawat ya."


Mendengar perkataan Shigi, Ars mengedarkan pandangan.


Memang benar pertempuran di berbagai tempat semakin sengit.


Belum ada tempat yang berbahaya akan runtuh, tapi sudah pasti itu hanya masalah waktu.


"Apa 'Parade Monster' akan berakhir kalau aku hajar White Wolf Fenrir sekarang juga?"


"Cara yang tidak realistis. Yah, untuk menjawabnya, bisa dibilang iya, bisa juga dibilang tidak."


"Maksudnya?"


"Kalau kau mengalahkan White Wolf Fenrir, tidak akan ada monster baru yang ditambahkan, tapi bukan berarti monster yang berkumpul di sini sekarang akan menghilang."


"Jadi solusi terbaiknya adalah menghajar White Wolf Fenrir sambil menahan monster di sini, begitu?"


"Kalau bisa begitu sih tidak susah, tapi dalam kondisi sekarang mustahil, kan? Kalau Ars keluar dari pertahanan sisi Utara, pertahanan akan langsung runtuh, dan tempat lain juga tidak ada yang cukup luang untuk mengirim bantuan."


Sampai kapan harus terus bertarung, sampai kapan harus bertahan hingga dibebaskan.


Belum sampai terpojok hingga hati patah, tapi mungkin sudah mulai ada yang tubuhnya menjerit.


"Bagi yang di luar nalar seperti Ars dan kawan-kawan sih tidak masalah, tapi bagi penyihir yang tidak begitu, situasi ini tidak jauh beda dengan neraka lho."


Saat ini belum benar-benar terpojok. Masih bisa bertarung dengan sedikit kelonggaran.


Namun, rasa putus asa mulai menyelimuti para Schuler yang bertarung di berbagai tempat.


Kenapa? Karena baik atau buruk, para Schuler adalah orang-orang yang memahami kemampuan mereka sendiri.


Karena tahu batas kemampuan mereka sampai mana, mereka mengerti bahwa suatu saat tenaga mereka akan habis. Meski keberadaan mutlak seperti Ars dan Yulia sempat membuat mereka melupakan mimpi buruk itu, kemunculan White Wolf Fenrir membuat keputusasaan mengalahkan harapan.


Selain itu, seolah ingin menyadarkan akan kenyataan, serangan turunan dari monster yang tak ada habisnya terus berlanjut dengan jumlah yang tak sebanding. Akibat menjerit melihat kemunculan White Wolf Fenrir dan perbedaan jumlah yang tak ada habisnya——semangat para Schuler pun patah.


Mungkin melihat kelemahan itu, saat ini White Wolf Fenrir memelototi dari belakang kawanan monster, menggiring monster sambil memberikan pukulan tambahan pada mental para Schuler.


"Serigala itu sifatnya buruk sekali. Waktu mengejarku juga begitu, dia menyerang mental sedikit demi sedikit. Jelas-jelas dia punya kecerdasan setara manusia."


"Makhluk purba yang diciptakan para dewa punya kecerdasan, kan?"


"Sepertinya mereka hanya memberikan kebijaksanaan kepada makhluk yang mereka sukai. Yah, gara-gara itu mereka dikhianati oleh White Wolf Fenrir, jadi rasanya tidak perlu dikasihani ya~"


Shigi mendengus mengejek para dewa, lalu melanjutkan ucapannya.


"Selain itu yang terkenal mungkin Naga Purba yang memerintah Kota Naga... tapi, karena jarang muncul ke permukaan, sampai sekarang aku belum pernah lihat sosoknya, apalagi suaranya."


"Suatu saat aku ingin bertemu Naga Purba juga... tapi sekarang White Wolf Fenrir dan 'Parade Monster' dulu."


Jumlah monster yang memanjat tembok pertahanan bertambah. Tempat lain juga sepertinya sama, situasinya jelas memburuk dibandingkan sebelumnya.


"...Gawat kalau tidak memikirkan sesuatu."


Saat Shigi bergumam dengan serius,


"...Mau bagaimana lagi. Harus dilakukan ya."


Ars memutuskan untuk menggunakan "Heavenly Domain".


Sihir pamungkas yang hanya bisa digunakan oleh tiga orang di dunia.


Sebisa mungkin dia ingin menyimpannya sebelum melawan White Wolf Fenrir, tapi selagi dia berhemat, markas sepertinya akan mencapai batasnya lebih dulu.


Ars berdiri di tepi tembok pertahanan sambil memelototi White Wolf Fenrir,


"Imper——"


"Yo, ganggu bentar."


Rapalan mantra Ars tiba-tiba dipotong oleh suara arogan.


Saat Ars menoleh ke arah suara yang pernah didengarnya itu,


"Kelihatannya lagi seru-seruan nih."


Rambut putih tanpa noda, mata yang tampak buas, penampilan liar, aura kasar, mulutnya menyeringai rendah bagaikan ular berbisa, namun memancarkan pesona aneh yang memikat orang layaknya singa.


Bertakhta di puncak Kota Sihir, Mahkota Kedelapan dari Demon Lord yang hanya ada dua belas orang.


——"Ogre Eater" Grimm.


Bilah sabit besar bagaikan malaikat maut memancarkan cahaya redup, menyinari senyumnya yang kurang ajar.


"Kenapa Demon Lord Grimm ada di sini!?"


Saat Shigi berteriak kaget,


"Ah, Shigi-chan. Yahhoo!"


Yang menyembulkan kepala dari punggung Demon Lord Grimm adalah Kirisha.


Dia melambaikan tangan pada Shigi dengan senyum polos ceria seperti biasa.


"Eh, hm? Wah, Kirisha. Yahhoo!"


Shigi refleks melambaikan tangan balik, tapi segera kembali sadar.


"Makanya, kenapa Demon Lord Grimm ada di sini!?"


"Berisik, dari tadi teriak-teriak mulu..."


Grimm menunduk menatap Shigi yang bingung lalu memiringkan kepala.


"Cih, oi, Kirisha, kau kenal sama bocah berisik ini?"


"Ya. Shigi-chan itu jago bikin pernak-pernik imut lho. Dia favorit Kirisha."


Kata-kata meluncur bagai peluru dari Kirisha yang ditanya Grimm.


"Selain itu meski agak sombong, dia anak baik yang suka kasih hadiah hiasan rambut ke anak-anak panti asuhan lho! Jadi jangan dimarahi!"


Sambil memukul kepala bagian belakang Grimm, Kirisha membuat Grimm memasang wajah kesal karena merasa terganggu.


"Oke, oke, makanya berhenti mukul."


Setelah menangkap tangan Kirisha untuk mencegah pukulan, Grimm menundukkan pandangan penuh rasa ingin tahu pada Shigi.


"Tapi tetap saja... heee~, begitu ya, oi, bocah."


"A, apa..."


Mungkin mengira dia telah membuat Grimm marah, Shigi buru-buru bersembunyi di punggung Ars.


"Jangan maju mendahuluiku."


"Hah?"


Shigi memasang tanda tanya karena tidak mengerti maksudnya, tapi Grimm mengabaikannya dan memelototi Ars sambil menggaruk kepala bagian belakang.


"Oi, Ars. Di sini biar aku yang hancurkan. Aku mengalah padamu, jadi cepatlah pergi lawan White Wolf Fenrir. Kalau kelihatannya tidak bisa menang, aku akan bantu."


Sikap arogannya itu tidak berpikir akan ditolak. Seolah hal yang wajar, dia mengatakannya dengan nada seolah memberi budi. Namun, jika isi perkataannya ditelaah, semuanya demi membantu Ars.


"Benar tuh~. Di sini serahkan pada Kirisha dan yang lain, Ars-chan lakukan saja sesukamu!"


Berbeda dengan Grimm yang tidak jujur, Kirisha polos seperti biasa.


"Aku tertolong. Terimakasih."


Bersamaan dengan Ars mengucapkan terima kasih, dia merasakan perubahan atmosfer di berbagai tempat melalui kulitnya.


"Tidak perlu khawatirkan tempat lain. Sekarang anak-anak buahku pasti sedang membantu."


Grimm memberitahu sambil mendengus layaknya anak kecil yang berhasil melakukan kenakalan.


Lalu suara keras bergema di berbagai tempat. Pasti, seperti kata Grimm, anggota "Guild Marizia" yang dipimpinnya muncul untuk memberikan bantuan di berbagai tempat.


"Hei... Ars. Kau ingin bertarung dengan White Wolf Fenrir, kan?"


Kepada Grimm yang bertanya, Ars mengangguk jujur.


"Aa, aku ingin bertarung dengan 'itu' dan mengetahui sihir yang tidak kuketahui."


"Kukuku, kalau begitu, demi si gila sihir sepertimu, akan kubukakan jalan."


Grimm berdiri di atas tembok pertahanan dan menatap tajam monster yang berlari naik ke dinding dari bawah.


"Kirisha tetap di sini, mengerti?"


"Haaai. Aku akan jaga rumah bareng Shigi-chan dengan akur~"


"Yosh, ayo pergi! Oi, Ars ikut aku!"


Grimm melompat turun dari tembok pertahanan, menebas monster sambil mendarat di tanah.


Ars pun menyusul di belakangnya. Kirisha dan yang lainnya melambaikan tangan mengantar kepergian punggung mereka.


"Ars! Kau jangan bertarung. Hemat kekuatan sihirmu, biar kubiarkan kau bertarung dalam kondisi prima."


Grimm mendeklarasikan itu lalu mulai mengamuk di tanah yang dipenuhi monster.


Hanya dengan satu ayunan, monster tak terhitung jumlahnya terpotong-potong dan mati.


Grimm maju dengan lancar, tapi,


"Cih, Paia ya, kulit mereka keras dan ada perbedaan tinggi badan jadi merepotkan tahu."


Meski berkata seolah merepotkan, suara Grimm menyiratkan kegembiraan.


Yang menghalangi jalannya adalah monster bernama Paia.


Tubuhnya pipih seolah merayap di tanah. Panjang tubuhnya dengan mudah melebihi tiga meter, monster yang hidup di lahan basah dan terutama tinggal di tepi air.


Sisik cokelat tua, ekor panjang dan ramping, dan mulut raksasanya menyembunyikan gigi dan rahang yang mengerikan.


Mata dinginnya yang telah membuang segala emosi memancarkan cahaya kejam, menatap Grimm seolah-olah merekalah penguasa daratan.


Paia merepotkan sebagian karena perbedaan tinggi badan, tapi juga karena kulitnya yang keras membuat serangan sulit tembus.


Selain itu gerakannya gesit, dan jika lengah sedikit saja, rahang kuatnya akan mencabik tubuh bagian bawah dalam sekejap.


Seharusnya monster ini hidup di Area Tinggi Distrik 40 ke bawah, tapi mungkin Paia juga takut pada White Wolf Fenrir dan bergabung dengan "Parade Monster".


"Mau kubantu?"


Saat Ars bertanya dari belakang, Grimm menyiapkan sabit besar bagaikan malaikat maut.


"Tidak butuh. Daripada itu aku akan buka jalan depan, lari sana."


Grimm mengayunkan bilah sabit besarnya ke kepala Paia yang mendekat dan mematikannya.


Grimm menaruh kaki di atas sabit besar yang menancap di kepala Paia yang menyemburkan darah, lalu melihat sekeliling.


"Hah, meladeni dengan serius itu merepotkan."


Kawanan Paia sedang mencari kesempatan emas untuk menggigit Grimm dengan penuh ambisi.


"Illusion."


Efek sihir tanpa rapalan itu segera muncul.


Saat angin tiba-tiba bertiup, mata para Paia berubah menjadi keruh putih.


Lalu, para Paia membuka mulut lebar-lebar dan mulai menggigit teman sendiri.


Kanibalisme dimulai di sekitar mereka.


Bau darah, suara tulang remuk, potongan daging berhamburan, dan mayat bertambah dalam sekejap mata.


"Hahahaha!"


Sambil tertawa terbahak-bahak, Grimm menerjang dengan sabit besar di tangan.


Menebas, menebas, dan menebas, Grimm terus maju sambil bermandi cipratan darah.


Sosoknya bagaikan iblis jahat, ekspresinya bagaikan Raksasa Rakshasa, dan cara bertarungnya benar-benar seperti Asura.


Grimm membuka jalan menuju White Wolf Fenrir dengan kekuatan penuh demi Ars.


"Yossh, segini cukup kan. Ars, pergi!"


Saat Grimm berteriak dengan puas, sebuah bayangan melewatinya dengan kecepatan luar biasa.


"Grimm, terimakasih."


Mengirimkan rasa terima kasih lewat angin, Ars berlari di atas tanah.


Mata Iblis Merah Hitam, Odd Eye miliknya hanya menatap lurus ke depan.


Yang tak pernah lepas dari pandangan Ars adalah monster putih itu.


Sosoknya yang menunggu tanpa bergerak sedikit pun adalah postur yang pantas bagi seorang raja.


Menunggu dengan gagah berani seolah menyatakan bahwa Ars adalah penantang.


Enam Monster Besar, Monster Istimewa, Monster Kuno.


White Wolf Fenrir yang agung dengan berbagai julukan.


Tapi,


——Bukan.


Bukan, bukan, bukan, bukan, Ars menyangkal.


Sebab, White Wolf Fenrir sudah berada dalam jarak jangkauan Ars.


Bukan lagi monster yang hanya didengar lewat cerita.


Dia hanyalah makhluk hidup yang berada dalam jarak jangkauan tangan.


Tidak perlu takut. Tidak perlu memuja. Tidak perlu menghormati.


Karena itu——Ars menyangkal.


"Kau adalah——"


Menggenggam erat dua bilah belati, sambil membiarkan ujung pakaian hitamnya berkibar, kekuatan sihir menyembur dari seluruh tubuhnya.


"Mangsaku."


Dengan senyum berani, pemuda bernama Ars melompat.



"...Hah?"


Awalnya, White Wolf Fenrir tidak bisa mengerti.


Dia hanya bisa bengong menatap makhluk berani yang melompat menerjangnya.


Sebab itu adalah pengalaman pertamanya.


Selama ini, siapa pun yang bertemu White Wolf Fenrir hanya akan lari panik karena ketakutan.


Tentu saja, ada juga yang memilih jalan bertarung, tapi semua itu karena putus asa, dan tidak ada satu pun yang menyerang tanpa ragu seperti pemuda ini.


Di tengah kebingungan White Wolf Fenrir, pemuda itu mengayunkan belati di depan mata White Wolf Fenrir.


Gerakannya seperti amatir, terlalu lambat.


Bagi White Wolf Fenrir yang berpengalaman melawan banyak orang yang disebut ahli, itu adalah teknik pedang yang sangat mentah hingga terasa menyedihkan.


Apakah memberi harapan lalu membunuhnya dengan gigitan taring, atau menenggelamkannya ke dasar keputusasaan lalu menusuknya dengan cakar.


White Wolf Fenrir menilai dia bisa menghabisinya dengan cara apa pun, karena perbedaan kemampuan mereka sangat jauh dan tidak ada masalah.


Tapi——,


"..................Apa?"


Tanpa sadar, White Wolf Fenrir melompat mundur cukup jauh.


White Wolf Fenrir tidak bisa mengerti.


Kenapa dirinya menjauh dari pemuda berpakaian hitam itu.


Padahal tadi mereka berada dalam jarak yang bisa bersentuhan, tapi sekarang jarak mereka sudah begitu jauh hingga orang biasa tidak akan bisa melihat ekspresi pemuda itu.


"..................Kenapa?"


Dia bertanya pada dirinya sendiri sambil menatap pemuda berpakaian hitam yang menghilang seolah tertelan kawanan monster.


Kemudian, mata White Wolf Fenrir menangkap pemandangan monster yang terhempas dengan mengenaskan.


Potongan daging terlempar ke atas, dan kabut darah mewarnai langit menjadi merah layaknya senja.


Yang berdiri di tempat terbuka itu adalah pemuda berpakaian hitam.


Dia tidak tahu apa yang dilakukannya. Dia hanya merasakan sedikit ledakan sihir.


"Jangan-jangan.................. aku merasa takut?"


Saat White Wolf Fenrir sampai pada jawaban itu, pemuda berpakaian hitam itu sudah mulai berlari di atas tanah.


Setiap jarak menyusut, ekspresi pemuda itu terlihat semakin jelas.


Apa yang lucu, apa yang menarik, apa yang menyenangkan.


Pemuda yang mendekat itu mengangkat sudut mulutnya.


Dia akui pemuda itu aneh dan tak bisa dimengerti.


Namun, dia tidak bisa menemukan alasan kenapa dia merasa takut pada pemuda seperti itu.


"Akan kupastikan——!?"


White Wolf Fenrir melontarkan hawa membunuh yang kuat pada pemuda itu, tapi niat membunuh dikembalikan dari arah yang tak terduga.


Dengan panik White Wolf Fenrir mengarahkan pandangan ke tempat asal niat membunuh itu.


Seorang gadis berambut perak berdiri di sana.


Meski dikelilingi oleh bangkai monster dalam jumlah mengerikan, dia tampak suci dan memikat layaknya roh yang mengapung di permukaan air.


Murni dan bersih tanpa noda.


Senyum yang luar biasa, tidak terkena cipratan darah, tidak ada kotoran sedikit pun.


Kemunculan gadis yang hanya terasa janggal di tengah dunia neraka itu juga merenggut kesadaran White Wolf Fenrir.


Karena itulah, dia tidak menyadari bahwa pemuda berpakaian hitam itu sudah mendekat sampai di bawah kakinya.



"Maaf. Membuatmu menunggu."


Saat Ars mendongak, ada serigala berbulu putih yang indah.


Bulunya sehalus dan seindah salju, dan saat disinari matahari, bulu putih itu berkilau bagaikan tenunan perak.


Fisik megah yang memamerkan keanggunan dan kekuatan, tubuhnya tangguh namun lentur, dan lekuk indah yang terbalut bulu putih terlihat jelas.


Dia diselimuti atmosfer yang sangat berbeda dari monster biasa.


Keberadaannya yang luar biasa itu benar-benar pantas menyandang nama monster.


Atau mungkin, disebut "Binatang Dewa" pun tidak berlebihan.


White Wolf Fenrir memancarkan atmosfer yang membuat orang berpikir bahwa menyamakannya dengan monster adalah suatu penghinaan.


Namun, White Wolf Fenrir yang juga disebut Monster Istimewa No. 3 itu entah kenapa tidak melihat ke arah Ars.


"Apa yang kau lihat?"


Karena heran, Ars memiringkan kepala dan mengikuti arah pandangan White Wolf Fenrir.


Yulia sedang bertarung.


Dengan kecepatan luar biasa, memanfaatkan Gift-nya, dia memusnahkan monster dalam sekejap.


Di antara sihir yang diingatnya, tidak ada sihir pemusnahan area luas.


Setidaknya, tidak ada sejauh yang diketahui Ars.


Oleh karena itu, gunung mayat yang menumpuk di sekitarnya hanyalah hasil dari perburuan monster terus-menerus dengan kecepatan luar biasa.


Dibandingkan Karen dan yang lainnya pun, jumlah penaklukan monsternya jauh lebih banyak.


Benar-benar dunia yang terlihat olehnya berbeda dengan mereka.


"Yulia hebat, kan? Tidak ada yang bisa mengikuti kecepatannya. Dunia perak itu hanya miliknya."


Ars tidak terlalu mengharapkan jawaban.


Dia hanya ingin menjelaskan kekuatan Yulia.


Hanya gumaman sendiri, tapi White Wolf Fenrir menatap Ars dengan penuh minat.


"...Bocah, apa yang kau cari?"


Pertanyaan mendadak, tapi Ars tidak goyah.


Dan, jawaban untuk saat seperti ini sudah ditentukan sejak awal, selalu sama.


"Sihir yang tidak kuketahui."


Sejak mulai mengerti dunia, dia mendambakan dunia luar, dan sejak kehilangan ibunya, dia terpesona oleh keberadaan sihir.


Mengenal penyihir, menyelidiki puncaknya, dan sampai pada esensinya.


Perasaan yang tak berubah.


"Aku ingin mendapatkan semua sihir yang ada di dunia ini."


Dengan lurus, memancarkan cahaya polos di matanya, Ars mengungkapkannya dengan jujur.


Ucapan yang bisa dianggap sombong, bahkan tidak aneh jika dimaki lancang.


Namun, White Wolf Fenrir tidak tertawa, dia menerima perasaan itu apa adanya.


"Serakah sekali. Kalau begitu, aku juga akan mengajarkan satu sihir padamu."


White Wolf Fenrir membuat kerutan di moncongnya dengan senang dan menyunggingkan senyum provokatif.


"Tapi, aku akan mengajukan syarat."


Jika bisa mengetahui sihir baru, dia siap menerima syarat apa pun.


Namun, Ars tidak mengatakannya dan hanya mendesak kelanjutannya tanpa kata.


"Pancinglah sihir itu keluar dariku. Jika kau benar-benar penyihir——tunjukkanlah kekuatan yang cukup untuk membuatku menggunakan sihir."


Tekanan yang dipancarkan White Wolf Fenrir meningkat.


Intimidasi kuat yang membuat ingin bersujud itu juga mempengaruhi "Parade Monster" yang jauh di sana.


Kawanan monster yang kehilangan kewarasan karena saking takutnya mulai menabrakkan diri ke dinding markas dan mengakhiri hidup mereka sendiri. Jika melukai diri sendiri dimulai, itu akan beralih ke kanibalisme, dan monster yang rasionalitasnya tipis sejak awal menemui akhir yang menyedihkan akibat perilaku abnormal tanpa sadar.


Jika itu manusia, tidak bisa diprediksi seberapa besar dampaknya.


Ars sempat mengkhawatirkan mereka yang mempertahankan markas, tapi segera menghapusnya dari kepala.


Selain karena teringat lawannya adalah Serigala Putih, lebih dari itu, bayangan dirinya yang dimarahi semua orang agar jangan mengkhawatirkan hal yang tidak perlu melintas di benaknya.


"Ya, akan kupancing keluar kekuatanmu."


White Wolf Fenrir disebut sebagai monster tertua, orang kuat sejati yang juga dihitung sebagai Monster Istimewa dan Enam Monster Besar.


Lawan yang sepadan. Malahan, ada kemungkinan bagi White Wolf Fenrir, Ars hanyalah setara kroco.


Ars belum pernah melihat sosok White Wolf Fenrir bertarung serius, jadi kemampuannya tidak diketahui.


"Bocah, aku maju!"


Tanda dimulainya pertempuran adalah auman White Wolf Fenrir.


Ars terhempas oleh gelombang kejut yang tercipta.


Namun, bagi Ars, serangan level segitu masih dalam dugaan. Meski berguling-guling di tanah berkali-kali, dia menyeimbangkan tubuh dan segera bangkit.


Akan tetapi, sosok White Wolf Fenrir sudah ada tepat di depan mata, dan mulut besar menyambutnya.


"Cih, cepat sekali."


Menghadapi taring tajam yang mendekat, Ars melancarkan satu tebasan kilat.


Bunga api memercik sesaat, dan belati itu terpental dengan mudah.


"Gigi yang keras."


"Kau juga pakai belati yang kuat ya. Melihatnya bisa menahan taringku, apa itu Platinum?"


"Bukan, Perunggu."


"Hah?"


Mungkin jawaban Ars di luar dugaan, White Wolf Fenrir menghentikan gerakannya.


Sosok yang cukup menggelikan.


Meski berpikir ekspresi White Wolf Fenrir sangat kaya, Ars mengayunkan kedua belati di tangannya secara bersamaan.


White Wolf Fenrir berhasil menghindar, tapi beberapa helai bulunya terbang terbawa angin.


"...Perunggu kau bilang? Kau mau bilang kau memotong buluku yang setara besi karena diperkuat sihir dengan itu?"


"Aku membalutkan sihirku sendiri ke bilahnya, sih. Aku sedang berlatih agar bisa memotong apa pun dengan belati perunggu ini."


Ars menggenggam ulang kedua belatinya dengan erat lalu memasang kuda-kuda.


"Aku berterima kasih. Kau kelihatannya tangguh. Kelinci percobaan yang pas."


"Kukuku, jika kau bisa memenggal leherku dengan perunggu, pedang suci dan semacamnya akan kehilangan makna keberadaannya. Namamu akan dibicarakan selamanya di masa depan."


Ars menghindari ekor yang mendekat dengan kuat bagaikan pohon raksasa, dan tanah yang dihantam tak kuat menahan dampaknya hingga ambles besar.


"Hou, kau bisa mengikuti gerakanku... kalau begitu, bagaimana dengan ini?"


Disertai tawa berani, cakar tajam menghantam perut Ars secara langsung.


Mengabaikan gravitasi, Ars terhempas kencang ke samping, mematahkan beberapa pohon, tubuh berbalut pakaian hitam itu terlempar ke udara, dan akhirnya menabrak tanah.


Namun, seolah tidak terjadi apa-apa, Ars bangkit sambil menepuk debu di bajunya.


"...Kena serangan tadi telak begitu masih bisa bangun?"


"Bukan hal yang sulit kok. Aku memadatkan sihir di bagian yang terkena cakar. Tapi aku memang tidak bisa mematikan dampaknya sih."


"'Dinding Sihir, Unmut', ya..."


"Kau tahu?"


"Tentu saja tahu, seperti yang kubilang tadi, aku mengalirkan sihir ke buluku——melindungi seluruh tubuh dengan 'Dinding Sihir'. Terlebih lagi, akulah yang mengajarkannya pada ras Beast yang tertindas sekitar tiga ratus tahun yang lalu."


Karena sudah ratusan tahun tidak turun ke dunia bawah, dia pikir serigala itu naif akan dunia luar, tapi ternyata White Wolf Fenrir-lah yang menyebarkan "Dinding Sihir".


"Fumu, padahal itu sulit dikuasai manusia... tapi dengan kekuatan sihir dahsyat yang tersembunyi di dalam dirimu itu, hal itu mudah saja ya."


"Ternyata banyak juga manusia yang bisa pakai kok. Tapi tetap saja aku terkejut. Tadi aku tidak bisa mengikuti kecepatanmu."


"Aku juga bakal repot kalau kau bisa mengikutinya dengan mudah. Begini-begini aku punya kebanggaan sebagai si 'Putih'."


"Aku kesal juga, sih. Jadi aku putuskan pakai sihir."


"Apa?"


Karena Ars menyunggingkan senyum berani, White Wolf Fenrir mengerahkan kekuatan pada keempat kakinya, mungkin karena kewaspadaannya meningkat.


Akibatnya tanah ambles dan debu pasir membumbung, namun segera tersapu angin.


Bersamaan dengan hilangnya debu pasir,


"——‘Sonic Speed, Klangfarbe'."


Ars juga menghilang.


"...Mustahil, menghilang? Tidak, ini——"


Sesaat setelah White Wolf Fenrir membelalakkan mata, darah menyembur dari kulit yang tertutup bulu putih sekeras baja.


"Ap——!?"


White Wolf Fenrir terperangah. Matanya menyiratkan kegoyahan yang jelas, dan tubuh raksasanya juga terhuyung akibat dampaknya.


"Jangan kaget cuma karena segitu. Cuma tergores dangkal kan."


Ars menatap White Wolf Fenrir dengan ekspresi heran.


Nadanya tidak sombong, dia hanya benar-benar tidak mengerti kenapa White Wolf Fenrir terkejut.


"Mustahil... benar-benar memotong kulitku dengan perunggu... melampaui kekuatan sihirku...?"


Mungkin karena tidak percaya tubuhnya terluka, White Wolf Fenrir hanyut dalam gelombang pikiran.


Namun, begitu Ars maju selangkah, White Wolf Fenrir segera bereaksi dengan merendahkan kepala, memamerkan gigi, dan mengancam.


"Kalau diperiksa nanti juga tahu."


Entah sudah berdamai dengan pikirannya sendiri, White Wolf Fenrir melancarkan serangan bertubi-tubi dengan momentum yang dahsyat.


Mengkilaulkan taring tajam, menusukkan cakar yang berlumuran niat membunuh, dan mengibaskan ekor yang lebih keras dari besi.


Serangan tanpa celah, namun tidak ada yang mengenai Ars yang menggunakan "Sonic Speed, Klangfarbe".


"...Sihir yang mirip tapi tak sama dengan 'Lightspeed, Eclair' ya, hebat kau bisa menemukannya."


White Wolf Fenrir melontarkan pujian, tapi Ars menjawab dengan mengangkat bahu.


"Meski begitu, aku tidak bisa melampaui 'Lightspeed, Eclair', sih."


"Sudah cukup. Dengan kecepatan segitu, sebagian besar orang tidak akan bisa mengikuti."


Lalu, White Wolf Fenrir mengerahkan kekuatan pada keempat kakinya dan menghilang, hanya menyisakan debu tanah.


"Sayangnya bagimu, Bocah, aku termasuk dalam minoritas itu."


Sambil berkata begitu, dia melancarkan serangan menyapu. Ars menyilangkan dua belatinya untuk menahan.


Memercikkan bunga api yang hebat, Ars kalah tenaga dan mundur sekitar tiga langkah.


"Kenapa tidak pakai sihir?"


"Aku sudah pakai 'Sonic Speed, Klangfarbe', kan."


"Cuma satu. Jangan remehkan aku. Kau pikir bisa menang melawanku cuma dengan itu?"


"Tidak kok. Hanya saja, aku harus menjadi lebih kuat lagi."


"...?"


Justru karena itu, bukankah sebaiknya menggunakan sihir untuk meraih kemenangan dan bertahan hidup?


Seolah ingin berkata begitu, White Wolf Fenrir menatap Ars dengan ekspresi skeptis, namun Ars membalas tatapan itu dengan ekspresi penuh tekad.


"Ada yang ingin kulindungi. Makanya, aku harus mendapatkan kekuatan yang tidak kalah dari siapa pun."


Ars menunduk menatap dua belati di tangannya.


Bertarung dengan senjata perunggu pun adalah pilihan yang dia ambil sendiri demi mendapatkan kekuatan. Sama sekali bukan main-main, dia sangat serius dan hanya berusaha melengkapi apa yang kurang dari dirinya.


"Makanya, aku bukan meremehkanmu. Aku ingin tahu di posisi mana aku berada sekarang."


"Lalu, apa kau sudah tahu?"


"Tidak, aku hanya tahu bahwa dunia ini luas. Aku masih jauh dari cukup."


"Begitu ya, kau tidak sadar rupanya... kalau menurutku sih kau sudah sempurna."


"Tidak mungkin. 'Essence of Magic, Mimir' pasti bisa mengalahkanmu tanpa sihir sekalipun."


"Fumu... apa manusia zaman sekarang sudah sekuat itu... lagipula, aku pernah dengar nama itu. Pria yang juga dicari Ratu. Jadi, dia adalah targetmu?"


"Bukan, cuma titik lewat. Batu loncatan untuk mencapai tempat yang jauh lebih tinggi."


Ars menengadah ke langit.


Dalam, dalam, dalam, dia menghembuskan napas sekali saja.


Kekuatan sihir yang sangat besar dan pekat mulai meluap dari tubuhnya.


Kekuatan sihir yang membuat White Wolf Fenrir tanpa sadar mundur.


Saat mata Ars kembali menangkap White Wolf Fenrir, kilatan mata di sana bersinar lebih terang dari apa pun.


"Suatu saat, akan kurebut semua pengetahuan orang itu."


Kekuatan sihir membentuk pusaran, menderu, dan melilit tubuh Ars.


Hanya dengan satu langkahnya, rumput dan bunga hancur berkeping-keping karena tak kuat menahan tekanan kekuatan sihir.

Ruang berderit, udara mulai menjerit, tapi langkah pemuda itu tidak berhenti.


"Aku akan berdiri."


Ars menendang hancur tanah dengan kekuatan kaki yang luar biasa.


Peluru berpakaian hitam yang melesat dengan kecepatan dahsyat meninggalkan pemandangan di belakangnya.


"Di puncak dunia, titik pencapaian tertinggi umat manusia."


Menyusup ke pertahanan White Wolf Fenrir, Ars mengayunkan dua bilah belatinya.


Badai yang mengandung ketajaman mengerikan tercipta, dan dalam sekejap mewarnai tubuh White Wolf Fenrir menjadi merah padam.


"——Akulah yang akan menjadi Magic Emperor, dan mendapatkan semua sihir."


"Guh, bocah!"


White Wolf Fenrir pun membalas tak mau kalah.


Demi meraih kemenangan, demi tidak melewatkan peluang menang, tebasan sekuat tenaga saling beradu berkali-kali.


Saking banyaknya hingga bodoh jika dihitung, mereka saling tebas, saling pukul, dan saling bentrok berkali-kali.


Meski begitu belum ada keputusan, bahkan, keduanya tidak terluka.


Sebab, keduanya menghindari semua serangan lawan.


"Tidak ada habisnya."


Kecepatan seimbang berkat "Sonic Speed, Klangfarbe", adu tenaga pun Ars sedikit kalah.


Meski memberikan banyak luka tebas, tidak ada yang fatal, dan White Wolf Fenrir menghentikan pendarahan dengan penyembuhan alami dalam waktu singkat.


Terus bertarung begini hanya buang waktu. Demi markas juga, dia harus segera mengalahkan White Wolf Fenrir.


"Sungguh menyebalkan, tapi akan kugunakan."


Menjulurkan kedua tangan yang memegang belati dengan lemas, padahal sedang di tengah pertarungan, Ars melepaskan kuda-kudanya.


Api hati padam, hawa membunuh lenyap, dan niat membunuh juga hilang.


Yang tersisa hanyalah pemuda berpakaian hitam yang mewujudkan ketenangan sempurna.


Dengan sangat alami, kata-kata terucap dengan lembut.


"Imperial demesne expansion——"


(Heavenly Domain——)


"——Awaken Woden——"


(——"Penguasa Surga Taishaku, Odin"——)


Dunia berubah.


Berubah sesuai keinginan Ars, dunia baru miliknya seorang sedang dibangun.


Padahal tadinya di dalam hutan, pemandangan di sekitar White Wolf Fenrir berubah total dalam sekejap.


Padang rumput. Muncul padang rumput yang melukiskan cakrawala indah dengan latar belakang langit tujuh warna.


"Hou... 'Heavenly Domain' ya... semakin mendekati jawaban."


Melihat pemuda berpakaian hitam yang muncul dari dalam pilar pelangi, White Wolf Fenrir menyipitkan mata.


Kekuatan sihir yang dahsyat begitu mengerikan hingga seolah membakar kulit, hawa keberadaannya menggetarkan udara, dan eksistensi Ars terukir jelas di dunia.


Seolah memuji, White Wolf Fenrir mengaum ke langit.


"Bocah, luar biasa. Sedikit sekali yang bisa mencapai Heavenly Domain. Kau boleh bangga."


"Aku baru akan membusungkan dada saat aku bisa membuktikan aku yang terkuat."


"Selain itu, topeng itu——fukkukukuku, aku mendapatkan jawabannya!"


Wajah Ars tertutup separuh dari telinga kiri hingga mata kiri.


Di separuh wajah hitam pekat itu terdapat tujuh permata indah, memantulkan sinar matahari saat bermandikan cahayanya.


Dari jurang dalam tempat mata seharusnya mengintip, bocorlah iris berwarna pelangi yang sangat indah.


"Bocah, aku akan serius! Tunjukkan padaku, kemampuanmu!"


"Itu memang niatku. Majulah dengan kekuatan penuh."


Keduanya berlari secara bersamaan.


Bergerak dengan kecepatan tinggi, tepat sebelum berpapasan, keduanya berhenti mendadak.


"——Impact, Wegblasen."


Yang pertama melepaskan sihir adalah Ars.


Sihir itu aktif saat pola geometris hijau yang indah menghilang.


Namun, efeknya tidak terlihat karena diinjak hancur oleh White Wolf Fenrir.


"East-West Shock, Erschüttern."


Yang ditembakkan selanjutnya adalah sihir ganda——sihir gelombang suara yang menggabungkan "Impact, Wegblasen" dan "Voice East, Strike West, Prelude".


Itu adalah sihir mengerikan yang menghancurkan segala makhluk hidup dari dalam, namun White Wolf Fenrir menghancurkannya hanya dengan auman.


"Dragon Roar, Fafnir."


Garis-garis hijau berlarian bebas di udara, melukis lingkaran sempurna dan menjadi pola yang indah.


Yang muncul dari lingkaran sihir adalah kepala naga raksasa yang terbuat dari angin.


Rahang naga dan rahang serigala bersilangan seolah hendak saling meremukkan.


Kemudian benturan terjadi, gelombang kejut dahsyat tercipta, dan di tengah langit yang terbelah dua, taring tajam yang patah dari akarnya terbang di udara.


"Guh... Gaaah!"


White Wolf Fenrir memuntahkan darah dalam jumlah besar.


Jumlah pendarahannya tak masuk akal jika hanya karena taring patah, tapi mungkin itu berarti sihir yang dilepaskan Ars selama ini bukannya tidak mempan. Kerusakan itu tampaknya terakumulasi, dan baru muncul ke permukaan sekarang.


"Bocah, ini belum berakhir!"


Seolah menjawab teriakan White Wolf Fenrir, Ars juga tidak mengendurkan serangannya.


Memeras segala sihir dan kebijaksanaan, Ars terus bertarung melawan White Wolf Fenrir.


Meski beberapa sihir mengenainya secara langsung, White Wolf Fenrir tidak tumbang, dia terus menahan serangan Ars sambil mengucurkan banyak darah. Sosok White Wolf Fenrir yang seperti itu membuat Ars terkejut.


"...Ini pertama kalinya. Di dunia ini, tidak ada yang melawan lebih darimu."


"Itu suatu kehormatan. Tapi, masih banyak yang lebih kuat dariku. 'Essence of Magic, Mimir' yang kau sebut itu mungkin salah satunya."


"Ya, mungkin saja. Dunia ini benar-benar luas dan kesenangannya tak ada habisnya."


Ars mengayunkan belatinya, terus melukai White Wolf Fenrir.


Butiran darah berhamburan, bulu yang ternoda merah terbang bersama potongan daging.


"Astaga... padahal itu perunggu, pedang suci dan pedang iblis pasti menangis."


Sambil bergumam heran, White Wolf Fenrir membalas tak mau kalah dengan cakar tajamnya.


Akhirnya, serangan itu sampai——benar, dia berhasil menyayat pipi Ars.


Namun, ekspresi White Wolf Fenrir tidak cerah.


Tentu saja, serangan barusan adalah satu pukulan yang hanya bisa digambarkan dengan kata dahsyat.


Kekuatannya cukup untuk menghancurkan kepala, jika orang biasa pasti tidak akan bersisa.


Jika itu manusia, atau bahkan Demon Lord, pasti sudah mati seketika.


Namun, Ars berdiri dengan tenang.


Menerima kekuatan penuh White Wolf Fenrir, serangan cakar dahsyat yang bisa mematikan semua makhluk hidup.


Hasilnya adalah——hanya goresan.


"...Darah ya."


Ars mengalami pengalaman berharga, dan sedikit menyiratkan kegembiraan.


Karena ini pertama kalinya. Meski hanya goresan, ini pengalaman pertamanya mengeluarkan darah.


"...Tak kusangka aku berdarah. Mungkin aku terlena karena menggunakan Heavenly Domain."


Mendengar Ars mengucapkan kata-kata introspeksi, White Wolf Fenrir menyipitkan mata dengan curiga.


"Apa perlu seserius itu hanya karena goresan?"


Mungkin karena kekuatan penuhnya hanya menghasilkan goresan, White Wolf Fenrir tampak agak kesal.


"Kalau kenanya pas di tempat vital, leherku bisa putus. Lagipula, kalau aku kotor atau terluka, Yulia bakal khawatir."


Nada bicaranya seolah-olah dia berniat menang tanpa luka sedikit pun.


Padahal tidak sadar akan kekuatannya sendiri, dia memiliki kepercayaan diri yang mengerikan.


Entah itu berasal dari ketidaktahuan, atau semuanya hanyalah akting, White Wolf Fenrir yang berhadapan dengan keberadaan aneh itu menegakkan seluruh bulu di tubuhnya.


"Hah, kalau aku adalah monster... sebenarnya kau ini apa?"


"Penyihir yang 'cuma telinganya yang bagus' kok."


Sambil menjawab White Wolf Fenrir, tatapan Ars tertuju jauh ke depan.


"Mari kita akhiri sekarang."


Tatapan Ars yang merangkai kata dengan perlahan kembali ke White Wolf Fenrir.


"Demikianlah jantung diremukkan, duri samsara yang berulang, otoritas angin kencang yang meleleh."


Ars mulai merapalkan mantra.


Kekuatan sihir dalam jumlah besar yang dipancarkan dari seluruh tubuhnya membubung ke langit.


Di ujung sana, tempat yang ditatap Ars——pola geometris yang memancarkan warna-warni cemerlang.


"Raja kegilaan yang tertawa terbahak-bahak, bersaing dalam keberanian, menangis dan berteriak, memohon ampun, Dewa Langit Biru yang menanti kebangkitan."


Semua demi menggenggam mimpi dan ilusi, mengikuti kehendak hati, menuruti emosi.


"Bakarlah seluruh langit dan bumi——"


——"Heavenly Lord, Indra"


Langit menjerit.


Langit terwarnai merah, dan matahari pun jatuh.


Bintang-bintang berguncang, bumi terbelah, dan badai panas bertiup dari segala arah.


Panas membara yang cukup untuk menghancurkan dunia——semuanya diarahkan pada White Wolf Fenrir.


Segalanya tersapu bersih, bumi hancur, dan dunia dirusak tanpa menyisakan sebatang rumput atau pohon pun.


Serigala putih itu mengaum nyaris seperti jeritan, seolah ini adalah akhirnya.


Matahari dan White Wolf Fenrir bertabrakan.


Ledakan dahsyat yang luar biasa menggelegar, tanah terkelupas dengan hebat, dan hujan tanah serta pasir turun bagaikan batu-batu yang beterbangan.


Terbungkus debu pasir yang pekat, untuk sementara waktu warna tembaga merah menutupi dunia.


Tak lama kemudian, tanah yang dasarnya tertembus itu menampakkan wujudnya, dan di tengahnya White Wolf Fenrir berdiri dengan gagah.


Meski meneteskan darah dalam jumlah besar dari mulut besarnya yang seolah robek, White Wolf Fenrir mendengus puas.


"Kekalahanku, ya."


"Sudah kuduga... kau masih hidup."


Memang itu sihir yang dilepaskan dengan niat meremukkan, tapi Ars tidak menyangka bisa menghabisi White Wolf Fenrir. Sebab White Wolf Fenrir sama sekali tidak kehilangan ketenangannya dari awal hingga akhir, jadi Ars menduga dia punya tujuan lain.


Dan, White Wolf Fenrir yang bulu putihnya berlumuran merah, meski sekilas terlihat terluka parah, mengambil jarak dari Ars dengan gerakan lincah.


Dunia yang diciptakan Heavenly Domain milik Ars sudah runtuh akibat penggunaan "Heavenly Lord, Indra".


Mungkin karena itulah, White Wolf Fenrir yang terbebas segera mengambil jarak dari Ars.


"Pertarungan yang luar biasa. Sudah lama aku tidak menikmati pertarungan seperti ini."


White Wolf Fenrir memutus kata-katanya dengan puas, tapi segera melanjutkan.


"Aku akan menantikan pertarungan ulang. Lain kali aku ingin menunjukkan sihirku juga."


"...Omong-omong, janjinya beda, lho. Bukannya kau mau memperlihatkan sihirmu?"


Benar dugaannya, dia tidak bertarung serius. Pantas disebut Enam Monster Besar, kemampuan aktingnya juga hebat. Karena itu, saat Ars memprotes tanpa menyembunyikan kekecewaannya,


"Maafkan aku. Bukan sebagai ganti permintaan maaf sih, tapi akan kuberikan satu saran."


"Apa itu?"


"Dirikanlah guild. Di ujung jalan itu, pengetahuan sihir yang kau dambakan melimpah ruah."


"...Maksudnya?"


"'Lost Land' itu luas. Kau harus bertahan hidup dalam berbagai kondisi. Salah satunya, ada kalanya kau butuh teman. Area Rendah cenderung banyak monster yang sendirian, tapi di Area Tinggi monster berkelompok——semua itu ada artinya. Di balik itu, pengetahuan tentang sihir yang belum diketahui juga ada."


"Maksudmu itu ada di depan sana?"


"Ya, kalau ingin tahu carilah. Menara Babel Periode Pertama, menara agung yang dibangun oleh pria tiada duanya. Untuk menemukannya, guild juga akan diperlukan. Jangan sekali-kali kau lupakan itu."


Setelah bicara sesuka hati, sosok White Wolf Fenrir menghilang. Secara harfiah lenyap dari depan mata dalam sekejap.


Karena itu Ars pun kehilangan minat, dan memikirkan makna kata-kata yang ditinggalkan White Wolf Fenrir.


"Menara Babel... semua sihir ada di sana, ya."


Saat Ars bergumam, di belakangnya teman-teman yang telah membasmi "Parade Monster" berlari menghampiri.


Dan, setelah memastikan keselamatan Ars yang telah memukul mundur White Wolf Fenrir, mereka bersorak gembira.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close