NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Munou to Iware Tsuzuketa Madoushi, Jitsu wa Sekai Saikyou Nanoni Yuuhei Sareteita node Jikaku Nashi V5 Chapter 2

 Penerjemah: Nels

Proffreader: Nels


Chapter 2

Ratu

Waktu di mana matahari mulai condong ke barat.


Di Distrik 23 Area Tinggi 『Lost Land』, pemandangan neraka terbentang.


Kematian.


Sejauh mata memandang, sejumlah besar monster tergeletak tenggelam di tanah.


Pepohonan yang tumbang tersapu, tanah yang ambles, dan udara yang kotor oleh debu pasir.


Di tengah kematian yang menutupi pandangan dan udara yang berbau busuk, ada satu makhluk hidup yang menginjak tanah yang terwarnai merah hitam.


Dua tanduk tumbuh dari dahi orang itu.


Pria bertubuh kekar dengan otot baja itu memiliki kulit berwarna ungu. Mata kirinya tertutup rambut, tapi angin yang bertiup tiba-tiba menyingkap bagian yang tersembunyi itu.


Rongga kosong——pria itu tidak memiliki mata yang seharusnya ada di sana.


Sebagai gantinya, ada luka besar——angka V terukir di sana.


Entah karena bagian angkanya gatal, pria itu menggaruknya dengan ujung jari sambil memutar leher seolah mengamati keadaan sekitar.


"Fuuh... sudah lama tidak ke 『Lost Land』, sepertinya aku terlalu menikmatinya, ya."


Meski menurunkan alis seolah bingung, tidak ada penyesalan di wajahnya.


"Kalau begini apakah Ratu bakal sadar... tidak, memang itu tujuannya, kan."


『Hei, kamu, tidak apa-apa?』


Tiba-tiba disapa, Iblis itu menoleh.


Di ujung pandangannya berdiri lima pria dan wanita.


Dari kondisi perlengkapan yang lengkap, terlihat mereka terbiasa bertarung. Selain itu, meski menyapa pria itu, mereka tidak lengah mengawasi sekitar dan celahnya sedikit, jadi mereka pasti petualang ahli.


Hanya satu yang disayangkan, mereka belum pernah bertemu ras Iblis.


"Selamat tinggal. Kalian tidak dibutuhkan."


『Ha? Bicara apa k——!?』


Tanpa menyelesaikan kalimatnya, kepala pria itu melayang ke udara.


Melihat kepala temannya terbang, para petualang sempat tercengang sejenak, tapi segera bersiaga.


Melihat mereka yang panik namun segera mengambil posisi tempur, pria Iblis itu memperdalam senyumnya.


"Benar dugaanku, 『Lost Land』 memang luar biasa. Meski masih kurang memuaskan, tapi orang yang lumayan ahli mudah ditemukan begini, dibandingkan ini 'Wilayah Luar' sangat membosankan, lho."


Pria Iblis itu memandang para petualang dengan senang, tapi mereka tidak bergerak satu langkah pun dengan senjata terhunus——tidak, mereka tidak bisa bergerak. Akibat tekanan berat yang dipancarkan pria Iblis itu, mereka bahkan tidak bisa bergerak sedikit pun seolah kaki mereka dipaku ke tanah.


"Mohon maaf. Saya telat memperkenalkan diri."


Pria itu menyisir rambutnya ke atas, memperlihatkan angka di mata kirinya ke dunia luar.


"Aku『Antitesis Buangan No. V』. Sebenarnya aku punya nama, tapi tidak semurah itu untuk diberitahukan pada kalian, jadi tidak usah dipikirkan. Lagipula mulai sekarang kalian akan kubunuh, jadi percuma juga diberitahu."


Mendengar deklarasi 『Antitesis Buangan No. V』, para petualang tampak jelas kebingungan.


Mungkin karena merasakan kematian yang mendekat, mereka serempak mundur.


『Bohong kan! Woy, kenapa 'Antitesis Buangan' ada di 『Lost Land』!?』


『Daripada itu, mundur!』


『Mustahil bisa menang! Makanya kan kubilang jangan disapa tadi!』


『Antitesis Buangan No. V』 menatap dengan heran para petualang yang mulai putus asa sendiri. Dia menghela napas kecewa melihat sosok mereka yang memperlihatkan sikap sangat memalukan.


"Hmm... kupikir kalian lumayan bisa bertarung, tapi semakin buka mulut, kalian semakin mengecewakan ya. Apa karena tadi diam, atau karena penampilan kalian jadi terlihat agak kuat... ternyata menilai dari penampilan saja itu berbahaya."


Saat 『Antitesis Buangan No. V』 mengayunkan lengan, dengan mudah kepala tiga orang yang ribut tadi terbang.


"Mengganggu pemandangan."


Setelah berkata pada kepala petualang yang menggelinding di tanah, 『Antitesis Buangan No. V』 mengalihkan pandangan pada petualang wanita yang tersisa terakhir.


『Ah... ah... bo, hong... ke, napa?』


Entah karena tidak bisa menghadapi kenyataan, matanya bergerak liar dengan cepat, dia jatuh terduduk di tanah karena lemas. Lalu dia mengarahkan mata ketakutan pada 『Antitesis Buangan No. V』. Di matanya yang basah karena sedih atas kematian rekannya, terkandung keinginan yang memohon mati-matian agar tidak dibunuh.


Entah karena hasrat sadisnya terpancing, 『Antitesis Buangan No. V』 menyeringai senang, tapi segera menggelengkan kepala seolah mendinginkan kepala, lalu meletakkan tangan di atas kepala wanita itu.


"Yah, sudahlah. Kamu akan kubiarkan hidup."


『Antitesis Buangan No. V』 berbicara dengan lembut, tapi karena tidak ada balasan dari wanita itu, dia memiringkan kepala.


"Oya-oya, karena inilah umat manusia itu bodohnya minta ampun. Benar-benar bikin sakit mata."


Entah karena mengompol, tanah tempat petualang wanita itu duduk menjadi basah menghitam.


Seolah menunjukkan rasa jijik, 『Antitesis Buangan No. V』 memenyonyongkan bibir dan menutup mata.


Lalu seolah mendesak, dia menendang paha petualang wanita itu dengan ujung kaki.


"Ayo, mana rasa terima kasihnya? Karena sudah dibiarkan hidup, kamu paham apa yang harus diucapkan, kan? Kalau tidak diucapkan tidak akan tersampaikan, lho? Jangan-jangan, kata-kataku tidak nyambung ya?"


Kata-kata yang mengandung sedikit kekesalan dimuntahkan berturut-turut.


Petualang wanita itu seketika menundukkan kepala di tempat.


『Te, terima kasih. Saya berterima kasih karena dibiarkan hidup!』


『Antitesis Buangan No. V』 menatap puas wanita yang menempelkan dahi ke tanah itu.


"Begitu dong. Tapi, makhluk rendah yang lemah bicara dengan pandangan lebih tinggi dari kaki kami itu tidak sopan, kan."


『Antitesis Buangan No. V』 menginjak kepala wanita itu.


『Agu...!?』


"Ingat baik-baik kata-kata yang akan kusampaikan ini. Lalu, sampaikan pada banyak makhluk rendah lainnya."


『Ba, baik!』


"Kami tidak mengharapkan apa pun. Jika ingin hidup, bersembunyilah; jika ingin mati, tampakkan dirimu. Yang kami cari hanya satu, 『Kemungkinan』."


Datar bagaikan mesin, tanpa menyiratkan warna emosi, kata-kata dingin itu jatuh begitu saja.


Tapi, tekanan beratnya tidak sebanding.


Sihir pekat menekan seolah hendak meremukkan wanita petualang itu seperti pemberat.


Sensasi seolah pisau dihunuskan ke leher, seolah es melewati tenggorokan, wanita petualang itu diserang ketegangan ekstrem.


Sambil berkeringat deras, wanita petualang itu bernapas pendek, berusaha mati-matian mempertahankan kesadaran. Sebab jika konsentrasinya buyar, dia akan pingsan.


Jika itu terjadi, Iblis yang kakinya ada di atas kepalanya pasti akan merenggut nyawanya tanpa ragu.


"Paham?"


『Sa, saya paham!』


"Kalau begitu, pergilah. Sampaikan pada sebanyak mungkin makhluk rendah, ya."


Wanita yang kepalanya dibebaskan dari injakan kaki itu berlari tanpa menoleh lagi.


Arah yang dia tuju adalah 『Kota Iblis Helheim』.


Jika memikirkan peluang bertahan hidup, daripada pergi dari Area Tinggi ke Area Menengah, kemungkinan bertahan hidup lebih tinggi jika menyeberangi tujuh area lagi untuk sampai ke 『Kota Iblis Helheim』. Meski terlihat tidak bisa mengontrol emosi karena kehilangan rekan, pengalaman yang dimilikinya tidak sia-sia; walau dalam keadaan bingung dan hampa, sepertinya dia memilih jawaban paling tepat.


"Nah, sudah lama tidak ke 『Lost Land』. Sebelum bekerja, bagaimana kalau bersenang-senang sedikit lagi."


Sambil menengadah ke langit, 『Antitesis Buangan No. V』 menatap jalur awan yang membentang di angkasa, lalu menyunggingkan senyum menyiksa diri.


"Soalnya mungkin tidak ada kesempatan berikutnya lagi, ya."



『Lapor!』


Suara bergema di Ruang Takhta yang berada di istana tempat tinggal Ratu 『Kota Iblis Helheim』——『Istana Kecantikan, Semprema』.


Seorang utusan berlari terburu-buru di atas karpet merah yang membingkai bagian tengah.


Tak lama kemudian, saat mendekati takhta, dia menghentikan langkahnya, lalu berlutut dengan satu kaki dan menundukkan kepala di tempat.


Di hadapannya, sosok yang mereka hormati sebagai Ratu sedang duduk di takhta, menatap utusan itu dengan penuh wibawa.


Namun, area matanya tertutup tudung, dan sayangnya wajah cantik yang dirumorkan masyarakat tidak bisa dilihat, membuat utusan itu menunjukkan sedikit kekecewaan di wajahnya.


Meski begitu, sang utusan sepertinya segera mengubah emosinya, dia membuka mulut lebar-lebar dan menyampaikan pesan.


『Sepertinya ada korban akibat 『Antitesis Buangan』 di Distrik 23 Area Tinggi.』


Mendengar ucapan utusan itu, atmosfer para Iblis yang berjaga di sekitar Ratu bergetar.


"Kenapa 『Antitesis Buangan』 ada di Area Tinggi?"


"Lagipula, kenapa kita tidak bisa mendeteksi kemunculan mereka sampai ke Distrik 23?"


"Diamlah. Laporannya belum selesai, kan."


Saat Ratu menegur dengan nada bercampur heran, Ruang Takhta seketika diselimuti keheningan.


Ratu Hel memandang sekeliling seolah mengintimidasi, lalu kembali menatap utusan itu.


"Jadi, korban berasal dari mana?"


『Sepertinya petualang milik Kekaisaran. Satu tim lima orang, empat tewas. Satu orang sepertinya sengaja dibiarkan hidup dan membawa pesan pulang.』


"Apa pesannya?"


『Kami tidak mengharapkan apa pun——yang biasa.』


"Begitu ya, terima kasih atas laporannya. Mundurlah."


『Ha, permisi!』


Setelah menunduk dalam-dalam, utusan itu pergi meninggalkan Ruang Takhta.


Seseorang yang berada di sisi Ratu yang mengantar kepergian utusan itu dengan matanya, mulai bergerak.


"Yang Mulia Ratu, apa yang akan Anda lakukan?"


Sebas——asisten sekaligus tangan kanan Ratu, menjabat sebagai Perdana Menteri di 『Kota Iblis Helheim』, tapi orangnya sendiri tanpa ragu menyebut itu hanya sambilan dari tugas pengasuh.


"Apa mau menggerakkan 『Six Desire Heavens, Schtern』? Kebetulan mereka sedang lengkap di sini."


Pandangan Sebas tertuju pada enam pria dan wanita yang berdiri mengapit karpet merah.


Para Iblis itu berbaris rapi di Ruang Takhta, memamerkan dua tanduk di dahi mereka.


Postur itu memanifestasikan kebanggaan seorang pendekar, tubuh yang terlatih menunjukkan kewibawaan dan ketangguhan.


Ekspresi mereka tenang dan bermartabat, dengan tekad tak tergoyahkan bersemayam di mata mereka.


Masing-masing adalah orang kuat kelas satu——mereka yang merajai puncak bahkan di 『Kota Iblis Helheim』.


Meski ada perbedaan individu, kekuatan mereka setara dengan Demon Lord atau Sacred Heaven.


Tentu saja, Asosiasi Sihir dan Gereja Hukum Suci tidak akan pernah mengakuinya.


Namun, jika pihak ketiga melihat mereka yang menyelimuti diri dengan atmosfer tenang dan ekspresi penuh percaya diri di Ruang Takhta, mereka pasti merasa itu tidak sepenuhnya salah.


Mereka yang juga merupakan Pengawal Kerajaan Ratu, menatap Ratu dengan pandangan seolah berkata "kami menantikannya", menunggu perintah turun.


"Maaf saat kalian semua sedang berharap, tapi untuk sementara biarkan saja, tidak apa-apa."


Saat Ratu mengatakannya dengan tenang, di antara para Iblis ada yang tidak menyembunyikan ekspresi tidak puas. Di wajah mereka terlihat ekspresi seolah menyimpan pemikiran mendalam atau keraguan. Di antaranya mungkin ada yang memancarkan ketidakpercayaan atau pertanyaan terhadap ucapan Ratu.


Baik atau buruk, ras Iblis adalah ras dengan ego yang kuat.


Dan, sebagian dari mereka mencoba menyuarakan pemikiran mereka tanpa menyembunyikannya, tapi Sebas menghalangi pandangan mereka. Lalu, dia mewakili bertanya pada Ratu.


"Apa Anda yakin? Ada kekhawatiran kerusakannya akan meluas..."


Ratu mengangguk dengan takzim pada konfirmasi Sebas.


"Ya, karena ada yang ingin aku coba sedikit, bocorkan informasinya pada Demon Lord Grimm. Dengan begitu, dia akan membasminya sendiri tanpa perlu diminta."


"......Yang Mulia Ratu, tanpa perlu meminjam tangan manusia asing——makhluk rendah itu, jika Anda memerintahkan saya, saya akan mempersembahkan kepala 『Antitesis Buangan』 kepada Anda tanpa membuang waktu."


Yang menyuarakan ketidakpuasan adalah salah satu dari 『Six Desire Heavens, Schtern』——Nirmana, yang menduduki posisi 『Kerakuten, Seku』.


Fisiknya ramping, tapi terlihat bahwa tubuh yang terlatih tersembunyi di balik pakaiannya. Cara berpakaiannya berkelas, kain yang dikenakannya sedikit bergoyang mengikuti gerakannya, menceritakan keberadaan otot di baliknya. Ekspresi gagahnya memancarkan kepercayaan diri. Tatapannya tajam, menangkap situasi sekitar dengan sensitif agar tidak ada yang terlewat.


"Diamlah."


Meski kata-katanya begitu kuat hingga membuat orang lain bersujud, Ratu memasang ekspresi tenang dan menyunggingkan senyum yang begitu manis hingga rasanya bisa membuat lutut lemas. Suara lembutnya memberikan kehangatan pada sekeliling bagaikan sinar matahari musim semi, membuat orang merasakan ketenangan yang nyaman. Di saat bersamaan, terkandung pula daya tarik seksual yang kuat yang mengguncang hati dengan hebat.


"Fufu, bukan meminjam tangan, tapi memanfaatkannya, lho."


Sambil menegur Nirmana dengan lembut, Ratu mendengus geli dengan riang.


"Tidak perlu terpaku pada Demon Lord Grimm. Masih ada banyak bidak lain yang tersedia."


Kebetulan sekali, tiga guild yang memukul mundur 『Parade Monster』 sedang tinggal di 『Kota Iblis Helheim』.


『Guild Marizia』, 『Guild Blowbadger』, 『Guild Villeut』.

Terlebih lagi ada Demon Lord Grimm yang menaruh dendam kesumat pada ras Iblis——『Antitesis Buangan』.


"Mari kita bergerak setelah mereka gagal melakukan penaklukan. Entah gagal atau berhasil, tidak ada kerugian di pihak kita."


Nirmana mendengarkan perkataan Ratu dalam diam, tapi wajahnya menunjukkan ekspresi seolah ada sesuatu yang mengganjal di lubuk hatinya.


"Ditolong sampai dua kali itu akan menyangkut harga diri 『Kota Iblis Helheim』."


Pendapat Nirmana bisa dimengerti.


Meski menyadari ancaman 『Parade Monster』, semua ras Iblis mengurung diri di "Kota Iblis".


Fakta ini sudah tersebar luas ke negara lain.


Padahal ada permohonan darurat berkali-kali dari guild tertentu, 『Kota Iblis Helheim』 tidak bergerak. Fakta ini juga sudah diketahui umum, menjadi santapan empuk negara lain dan sasaran kecaman. Selain itu, negara-negara lain yang merasa keberadaan 『Kota Iblis Helheim』 mengganggu, menyuarakan kecaman ditambah rasa tidak senang selama ini, dan sampai sekarang belum terlihat tanda-tanda akan mereda.


Karena pesta perayaan diadakan dalam situasi seperti itu, bagi negara lain, ini pasti terasa seperti ganti rugi.


Mereka pasti berpikir ini usaha mengharukan untuk mengurangi suara kecaman meski sedikit.


Itulah sebabnya, ras Iblis yang bersumpah setia pada Ratu, dengan Nirmana sebagai pemimpinnya, sama sekali tidak bisa menerima cemoohan dari negara lain ini.


"Jika seandainya penaklukan 『Antitesis Buangan』 berhasil, apakah kita harus mengadakan pesta perayaan dua kali untuk ras lain? Kalau begitu kita tidak bisa memberi contoh pada negara lain."


"Meski 『Antitesis Buangan』 berhasil ditaklukkan, pesta perayaannya cukup sekali saja, lho. Kita tinggal memperpanjang periode penyelenggaraan sampai hasilnya keluar, entah sukses atau gagal."


Sambil tetap tersenyum pada Nirmana yang terlihat belum mau mundur, Ratu melanjutkan kata-katanya.


"Sepertinya banyak juga pendapat yang tidak setuju dengan diadakannya pesta perayaan, jadi jika penaklukan 『Antitesis Buangan』 gagal, kita mungkin bisa mencari-cari alasan untuk membatalkan penyelenggaraannya. Mungkin itu akan menjadi akhir yang lebih memuaskan bagi kalian semua, ya."


"......Kalau begitu saya rasa tidak apa-apa, apa boleh saya menjelaskan hal yang sama pada bawahan?"


"Ya, kalau ada yang tidak puas, tolong jelaskan hal yang sama. Tapi bukan berarti boleh mengganggu penaklukan, itu tidak boleh sama sekali, lho."


"Segalanya sesuai kehendak Yang Mulia Ratu."


Saat Nirmana menundukkan kepala, ketidakpuasan memang masih terlihat pada lima orang lainnya, tapi mungkin karena dialog tadi cukup meyakinkan, mereka tidak mengajukan keberatan.


"Baiklah, karena agenda sudah habis, rapat di hadapan Ratu saya akhiri. Mungkin rapat akan diadakan lagi secara mendadak, jadi harap berkumpul tanpa mengganggu pekerjaan masing-masing."


Setelah Sebas menutup rapat, para eksekutif yang disebut 『Six Desire Heavens, Schtern』 menunduk dalam-dalam sekali lagi lalu undur diri.


Yang tersisa hanya Sebas, dia mengangguk ringan pada Ratu.


Entah karena sudah membaca apa yang ingin dikatakan Sebas hanya dari gestur itu, Ratu tanpa ragu melepas tudung yang selama ini menyembunyikan wajah aslinya.


"Terus-terusan memakai tudung itu menyesakkan juga, ya."


Nada bicaranya berubah total dari sebelumnya.


Sekarang dia memperlihatkan wajah Lilith sebagai Demon Lord.


"Karena Anda sendiri yang memilih jalan itu, mau tidak mau harus tahan, kan."


"Ara, aku sakit hati lho kalau Sebas yang bilang begitu."


Lilith memonyongkan bibir pada Sebas yang tersenyum lembut.


Di antara bawahan, hanya Sebas yang tahu bahwa Ratu Hel adalah 12 Supreme Mage Kings——Mahkota Kedua.


"Lagipula, utusan itu datang di saat yang sangat pas, ya?"


"Hebat sekali Yang Mulia Ratu. Anda menyadarinya?"


"Ara, bukankah selain aku, beberapa anggota 『Six Desire Heavens, Schtern』 juga menyadarinya?"


Utusan muncul tepat saat 『Six Desire Heavens, Schtern』 sedang berkumpul.


Waktunya memang terasa seperti sudah diatur sebelumnya.


Ada dua alasan kenapa Lilith menyadari bahwa kemunculan utusan di waktu yang tepat itu adalah ulah Sebas.


Pertama, karena utusan tidak menyebutkan nomor 『Antitesis Buangan』, dan kedua, karena sebelumnya dia sudah menerima laporan dari Sebas bahwa 『Antitesis Buangan』 muncul di 『Lost Land』.


"Mereka juga para eksekutif. Saya akan repot kalau mereka tidak menyadari tipuan sederhana seperti itu."


Singkatnya, ini semacam ujian dadakan dari Sebas.


Pria tua ini secara berkala menyajikan masalah.


Namun, dia tidak akan memberikan jawaban apakah itu benar atau salah kecuali ditanya.


Karena tidak bisa menilai apakah itu rahasia atau boleh dipublikasikan, kebanyakan orang akan mendatangi Sebas nanti saat dia sendirian untuk menanyakan apa maksud masalah tadi. Pasti begitu keluar dari Ruang Takhta, Sebas akan ditangkap oleh seseorang.


"Lalu, bagaimana reaksi Demon Lord Grimm?"


"Saya sudah menyampaikan informasi bohong bahwa yang muncul adalah 『Antitesis Buangan No. I』."


Latar belakang Demon Lord Grimm itu terkenal.


Tidak hanya di Kota Iblis, negara mana pun yang memiliki badan intelijen pasti mengetahui detailnya.


Terlebih lagi, takdir buruk antara Demon Lord Grimm dan 『Antitesis Buangan』 sudah diketahui bahkan oleh orang awam.


Dan kali ini, Sebas memanfaatkan masa lalu Demon Lord Grimm untuk memanipulasi tindakannya.


"Bagaimana reaksinya?"


"Sangat bagus. Dia percaya tanpa ragu sedikit pun. Sepertinya dendamnya memang dalam."


Sebas memperdalam senyumnya sambil mengelus janggut putihnya.


"Begitu, ya. Makanya kamu tidak menyebutkan nomor 『Antitesis Buangan』 di hadapan 『Six Desire Heavens, Schtern』, kan?"


"Ya. Karena kita tidak tahu di mana ada telinga yang menguping. Jika kebohongan itu terbongkar, ada kemungkinan Demon Lord Grimm tidak akan bergerak jika nomornya besar... meski melihat reaksi itu, rasanya jujur pun tidak masalah, tapi ini cuma jaga-jaga."


"Aku tidak tahu tindakan apa yang akan diambil Demon Lord Grimm, tapi biarkan saja dan serahkan pada 『Antitesis Buangan No. V』. Sampaikan pada utusan yang dikirim kepadanya untuk menyamakan suara bahwa itu adalah 『Antitesis Buangan No. I』. Bagaimanapun hasilnya, itu tidak akan merugikan kita."


"Baik. Saya akan mengalirkan informasi pada Demon Lord Grimm untuk mengarahkannya tanpa membuatnya curiga."


"Baguslah. Lalu apa yang sedang dilakukan 'Essence of Magic, Mimir' sekarang?"


"Saya pikir sudah batasnya mengurung dia di Kota Iblis, jadi saya izinkan dia keluar. Saya rasa dia akan bersikap tenang sampai pesta perayaan."


"Begitu, ya. Artinya rencana berjalan lancar."


"Bagaimana dengan pihak Kota Sihir?"


Mendengar pertanyaan Sebas, Lilith menumpukan siku di sandaran tangan dan menopang dagunya.


"Itu juga tidak masalah. Protes bahwa guild milik Kota Sihir memicu 『Parade Monster』——begitu diberi sebagian tanggung jawab, mereka jadi diam. Lagipula, karena satu kursi 『24 Council Keryukeion』 kosong, mereka sedang berebut dengan sengit tentang bawahan siapa yang akan mengisi posisi itu."


"Menyedihkan sekali... tak kusangka Asosiasi Sihir itu jatuh sampai sedemikian rupa, sepertinya orang-orang yang dipengaruhi Gereja Hukum Suci juga sudah menyusup, kejayaan masa lalu tinggallah kenangan, ya."


"Sejak 200 tahun lalu kekuatan Asosiasi Sihir terus menurun. Demon Lord terlena dengan posisinya, dan 『24 Council Keryukeion』 bahkan melupakan peran mereka sendiri. Sekarang mereka hanya bertarung demi kepentingan pribadi."


"Pemulihan kekuasaan Gereja Hukum Suci, kebangkitan Kota Iblis, tekanan dari negara-negara sekitar——siasat yang memakan waktu 200 tahun, sepertinya Asosiasi Sihir pun tidak sanggup menahannya."


"Fufu, tapi bertahan selama 200 tahun itu hebat juga, lho. Butuh waktu selama itu sampai kekuatan Asosiasi Sihir menurun. Tapi, mereka masih menyisakan kekuatan. Meski melemah, mereka masih bisa bersaing dengan Gereja Hukum Suci dan kita."


Meski Kota Iblis mengerahkan seluruh kekuatan, belum tentu bisa menang melawan Asosiasi Sihir.


Di Asosiasi Sihir, ada banyak orang yang tidak suka menonjol dan belum muncul ke permukaan, dengan "Essence of Magic, Mimir" sebagai perwakilan utamanya. Sosok perwakilan itu pun belakangan ini berhenti bersembunyi, tiba-tiba muncul ke permukaan, dan sepertinya mengamuk sambil mengumumkan identitas aslinya.


Negara-negara tetangga juga menyadarinya, tapi karena dia menggembar-gemborkannya dengan mencolok, sedikit negara yang menanggapinya dengan serius. Sepertinya mereka menempatkan pengawasan, tapi prioritasnya mungkin sangat rendah.


"Karena saya tahu sendiri bahwa 200 tahun lalu mereka memiliki kekuatan tempur yang cukup untuk menghadapi dunia sebagai musuh, Asosiasi Sihir yang sekarang ini rasanya agak mengecewakan, ya."


"Fufu, tidak perlu merendahkan sampai segitu, kan. Mereka bukan lawan yang boleh diremehkan, lho. Ada Mahkota Pertama, Schlaht, yang bisa dibilang puncak tertinggi sepanjang masa."


"Sekarang dia sedang dikirim ekspedisi ke Area Dalam, ya."


"Ya, Demon Lord yang merepotkan dikirim ke pedalaman 『Lost Land』. Dengan begitu Demon Lord yang tersisa tidak bersatu, dan 『24 Council Keryukeion』 bergerak diam-diam mengincar celah. Berkat itu kita juga bisa berbuat sesuka hati, tapi rasanya terlalu lancar sampai menakutkan, lho."


Semuanya diatur oleh Ratu.


Dia bahkan memanfaatkan 『24 Council Keryukeion』 yang kepentingannya selaras.


Bukan berarti bekerja sama. Tidak pernah berdiskusi juga.


Hanya saja niat masing-masing selaras tanpa disadari.


Itulah sebabnya 『Permintaan Paksa』 bisa diterbitkan secara serentak kepada 12 Demon Lord.


Sekarang beberapa Demon Lord sudah menyelesaikan permintaan dan kembali ke Kota Sihir, tapi masih ada beberapa orang yang masih ekspedisi ke Area Dalam.


"Bidak yang diperlukan sudah cukup berkumpul di Kota Iblis. Sisanya kita harus mengincar pelemahan Asosiasi Sihir lebih lanjut selagi mereka tidak ada di Kota Sihir, ya."


Menutup mulut dengan tangan, dia menyunggingkan senyum seolah berkata ini menyenangkan.


Lalu, tawa Lilith yang tak tertahankan lagi bergema di Ruang Takhta.



Dalam tidurnya, Grimm terperangkap dalam mimpi buruk yang kelam.


Kenapa dia sadar itu mimpi, karena itu persis sama dengan pemandangan yang dia lihat di masa lalu.


"Ah... sialan... ini lagi."


Sejak hari itu, tragedi yang tak terhentikan terus berulang.


Nyawa orang tua direnggut oleh tangan tak berbelas kasih, rekan dan teman-teman pun tumbang satu per satu oleh takdir yang tak terelakkan.


Benar-benar mimpi buruk.


『Hentikan! Apa salah kami!?』


Di saat sekeliling tenggelam dalam jurang kematian, hanya Grimm masa kecil yang terus berteriak seolah merobek tenggorokan sambil diselimuti kesedihan dan keputusasaan.


Yang memandang situasi itu dari sudut pandang atas adalah Grimm masa muda——Grimm dewasa saat ini.


"Menyedihkan sekali. Karena aku tidak bisa menyelamatkan satu orang pun."


Bagi dirinya yang polos dan memimpikan masa depan, situasi itu sungguh tak tertolong.


Dunia penuh dengan kekerasan tak masuk akal dan ketidakberdayaan, dirinya yang dulu rapuh, tidak bisa melawan, dan hanya bisa hanyut terbawa arus.


Sosok masa kecil yang menyedihkan yang muncul di depan mata itu benar-benar mengusik emosi Grimm.


Kemarahan karena dirinya yang dulu hanyalah orang lemah, dan rasa tidak berdaya karena tidak bisa menyelamatkan siapa pun, mencengkeram hatinya.


Meski begitu mimpi buruk tidak mau berakhir.


Seolah ingin menyadarkan akan kenyataan, seolah mengingatkan masa lalu, memori itu digali kembali dengan jelas.


Dan, yang terbentang di depan mata adalah——,


——Kematian.


Darah berhamburan, suara organ dalam yang pecah bergema, suara jeritan dan daging yang hancur bercampur aduk, kacau balau hingga tak bisa dibedakan. Pemandangan mengerikan seolah muncul dari dasar neraka terbentang di depan mata Grimm masa kecil.


Dan, saat sadar, bunga kematian bermekaran sejauh mata memandang di sekelilingnya.


Yang dikelilingi bunga kematian itu adalah Iblis dengan angka "I" di punggungnya.


『Sialan, cuma kau yang takkan pernah kumaafkan! Pasti akan kubunuh! Pasti!』


Grimm masa kecil terus berteriak seperti kutukan sambil memuntahkan darah.


Sambil meneteskan air mata darah dia bilang takkan pernah memaafkannya... Namun, Iblis itu pergi tanpa meliriknya sedikit pun.


Kenapa cuma Grimm yang dibiarkan hidup, dia tidak tahu.


Apakah karena terlalu lemah hingga kehilangan minat, atau dianggap tidak berharga untuk dibunuh.


Yang manapun itu, Grimm tidak dibiarkan memilih untuk bertarung atau mati.


Grimm hanya diizinkan meratapi kematian orang tua dan rekannya, terus memuntahkan kebencian pada Iblis, dan meneteskan air mata darah.


"Tunggu saja. Akhirnya, sepertinya aku bisa menemukanmu, bajingan."


Melalui punggung dirinya di masa kecil, Grimm yang sudah dewasa juga terus memelototi punggung biang kerok yang menciptakan neraka itu.


Meski mengulurkan tangan tidak akan sampai. Makanya dia hanya bisa menunjukkan niatnya dengan memelototi.


Bagaimanapun juga ini cuma mimpi.


Mimpi buruk yang takkan berubah, dan hukuman yang akan terus menyiksa Grimm selamanya.


Dan, mimpi buruk itu pun berakhir.


Bocah yang kehilangan segalanya——,


——Terakhir, sosok Grimm yang menggendong bayi.


Grimm membuka kelopak mata perlahan.


"Sialan!"


Grimm yang terbangun dengan melampiaskan kemarahan, teringat di mana dia berada karena sensasi lembut di bawah kakinya.


Yang terlihat dari jendela adalah puncak raksasa——Gunung Kembar.


Dari situ saja dia paham sedang berada di 『Lost Land』.


Dan, melihat ruangan yang tertata rapi, dia teringat ini adalah penginapan tempatnya menginap.


Karena kepalanya belum berfungsi dengan jelas, Grimm duduk bersila di atas kasur sambil merasakan sensasi selimut yang lembut.


"Cih, benar-benar mimpi yang bikin muak."


Dia menggaruk kepala bagian belakang dengan kasar.


Mimpi yang sudah lama tidak dilihatnya.


Karena dipaksa melihat masa-masa lemahnya, Grimm berdecak lidah menampakkan ketidaksenangan.


"Aah~... haus nih."


Dia harus mengeluarkan kata-kata, apa pun itu, kalau tidak kemarahannya bisa menghancurkan kamar.


Penginapan tempat Grimm menginap adalah fasilitas yang digunakan ras selain Iblis, karyawannya pun campuran manusia dan ras binatang. Namun, karena penginapan itu dikelola oleh 『Kota Iblis Helheim』, kalau merusak perabotan, pasukan keamanan Iblis pasti akan segera datang.


Demon Lord ditangkap karena perusakan properti itu memalukan sekali.


Untuk mengubah suasana hati, Grimm beranjak dari kasur, duduk di sofa, mengambil teko air di meja dan menuangkannya ke gelas.


Meski tidak dingin, rasa haus cukup terobati.


"Giri-chan, sudah bangun~?"


Pintu kamar terbuka, dan Kirisha menjulurkan kepala dari celahnya.


Denah kamar tempat Grimm menginap memiliki satu ruangan besar di tengah, dikelilingi empat kamar terpisah.


Yang menggunakannya adalah kakak-beradik Nomie dan Garm, serta Grimm dan Kirisha, total empat orang.


"Ya, bangun tidur yang paling buruk."


Grimm yang menjawab Kirisha sambil berdiri, keluar dari kamarnya dan duduk di sofa di ruangan tengah.


Di kursi dekat situ ada kakak-beradik Nomie dan Garm yang menatap Grimm dengan cemas.


Mungkin suara igauannya terdengar sampai sini.


Grimm mengangkat bahu dengan canggung lalu membenamkan diri dalam-dalam ke sofa.


"Mimpi buruk ya~... Beneran gak apa-apa? Giri-chan mukamu pucat lho."


Ini, air dingin, kata Kirisha sambil menyodorkan gelas.


"Mungkin gara-gara datang ke 『Kota Iblis Helheim』 ini. Kalau sudah agak lama juga bakal sembuh."


Grimm yang mendengus tidak puas dan mengerutkan wajah, meminum airnya sekaligus.


Bersamaan dengan itu pintu kamar diketuk.


"Ya, yaa~"


Kirisha berlari riang menuju pintu seperti biasa.


『Permisi. Saya membawa pesan dari Yang Mulia Ratu untuk Demon Lord Grimm-sama.』


"Hoe~... Ada urusan apa Ratu?"


『Apakah Grimm-sama tidak ada?』


"Enggak kok, ada~"


Terdengar percakapan antara Kirisha dan utusan yang dikirim Ratu dari ujung lorong.


"Kirisha, biarkan utusannya masuk, aku akan mendengarkan."


Saat dia mengatakannya dengan suara agak keras, utusan itu menampakkan diri dan di belakangnya ada Kirisha.


Grimm mengarahkan pandangan ke utusan dari Ratu dan menggerakkan dagu mendesaknya bicara.


『’Antitesis Buangan No. I’ telah muncul di Distrik 23 Area Tinggi.』


Haus darah meluap dari Grimm yang bereaksi terhadap kata-kata sang utusan.


Mungkin karena habis bermimpi masa lalu, dia tidak bisa menahannya.


Akibat intimidasi yang mengerikan, utusan itu berlutut satu kaki dengan keringat dingin bercucuran. Keringat dalam jumlah banyak jatuh dan meresap ke karpet lantai.


"Lalu? Kau jauh-jauh datang bukan cuma untuk bilang itu, kan?"


Bukannya utusan itu melakukan sesuatu pada Grimm.


Grimm pun paham bahwa dia melampiaskan amarah yang tidak masuk akal.


Meski begitu, hanya dengan adanya Iblis di depan mata, niat membunuh meluap-luap, dan dia berusaha sekuat tenaga menahan dorongan untuk membunuh.


『Y, ya. Yang Mulia Ratu akan mengirim pasukan penakluk, tapi beliau bilang tidak keberatan jika Anda mau menghabisinya secara pribadi selama tidak mengganggu.』


"Hee~... Iblis yang punya harga diri tinggi mau mengalah ya, tumben sekali."


"Giri-chan——..."


Kirisha menarik lengan baju Grimm.


Namun, Grimm tersenyum pahit lalu mengacak-acak rambut Kirisha.


"Kirisha, aku tahu ini tujuan Ratu kok. Dia pasti berencana membiarkanku melawannya untuk menghemat kekuatan tempur mereka sendiri."


"Ka, kalau begitu, bukannya lebih baik lihat situasi dulu sebentar?"


Dari fakta dia tidak bilang 'jangan lakukan', Kirisha pun tahu seberapa dalam dendam Grimm. Ini bukan lagi tahap di mana dia bisa dihentikan dengan alasan bahaya.


Maka, mungkin dia mencoba mengarahkannya ke arah yang seaman mungkin, tapi Grimm menghela napas panjang seolah menolak.


"Kau tahu kan... aku tidak berniat menyerahkan 『Antitesis Buangan No. I』 pada siapa pun. Cuma dia yang harus kubunuh dengan tanganku sendiri."


『Saya sudah menyampaikan pesan Yang Mulia Ratu dengan jelas, jadi saya permisi.』


Entah karena tidak kuat menahan gelombang niat membunuh yang dipancarkan Grimm lebih lama lagi, utusan itu mundur dengan wajah pahit. Grimm yang mengantar kepergiannya hanya dengan tatapan mata, bangkit dari sofa.


"Kirisha, ayo ke Distrik 23 Area Tinggi."


Sosok Grimm yang menjilat bibir sambil menyunggingkan senyum ganas,


"Sudah lama tidak berburu Iblis."


Sosok itu memancarkan aura ganas yang pantas untuk julukan "Pemangsa Iblis".



Distrik Khusus Elf yang dibangun di dalam 『Kota Iblis Helheim』 adalah tempat yang rimbun.


Di distrik itu ditanami berbagai tanaman besar dan kecil, membentangkan pemandangan yang indah.


Namun, tanaman-tanaman ini bukan tumbuh alami begitu saja, melainkan benih dan bibit pilihan yang dibawa dari 『Great Forest』, dan dirawat dengan sepenuh hati oleh para pengrajin.


Terutama, tanaman yang disukai Elf ditanam sebagai prioritas, keindahan dan hijaunya yang rimbun berperan membantu menyembuhkan hati para Elf, memberi mereka kedamaian dan penghiburan.


Di dalam distrik itu juga ada sungai kecil dan kolam, air jernih membasahi akar tanaman.


Selain itu, ada juga alun-alun tempat Elf melakukan ritual dan acara, berfungsi sebagai tempat untuk mewariskan budaya dan tradisi mereka.


Daun ini benar-benar barang langka.


Bahkan di hutan luas yang disebut 『Great Forest』, sangat sulit menemukan daun ini.


Karenanya, menentukan waktu panennya saja sudah sulit, apalagi rasanya bisa berubah drastis tergantung waktunya, konon daun ini sangat rewel.


Verg membuka tutup wadah itu perlahan.


Saat itu juga, aroma harum yang menguar dari tutupnya menyebar ke seluruh ruangan.


Aroma manis dan segar menggelitik lubang hidungnya, memberikan rangsangan yang nyaman.


Aroma itu mengingatkan pada hembusan napas kehidupan dan keindahan alam.


"Luar biasa, alam terkondensasi di sini. Di mana Anda mendapatkannya?"


『Saya memanennya saat menjelajahi Distrik 23 Area Tinggi. Di sana, saya juga memungut barang yang agak aneh.』


"Hmm? Barang aneh, ya..."


『Ini dia. Ini jamur yang diambil dari monster yang hidup di tempat yang sangat langka, tapi karena beracun, sering kali ‘dibuang’.』


Jamur yang disodorkan pedagang itu berwarna ungu cerah.


Dari penampilannya jelas terlihat beracun, tapi dia memikirkan alasan kenapa pedagang membawa barang semacam ini.


Verg menghubungkan segala informasi, seperti teh langka yang dipanen di Distrik 23 Area Tinggi dan jamur dari monster di tempat langka.


Dia mencoba memahami kenapa jamur beracun yang 〝dibuang〟 disajikan sebagai barang dagangan oleh pedagang. Dan, akhirnya dia sampai pada jawabannya.


Begitu memahami alasannya, Verg menyunggingkan senyum penuh arti.


"Begitu ya, tunggu sebentar. Saya ingin mendengar cerita itu lebih detail."


Pada pedagang yang menyampaikan lewat kode, Verg mencari hawa keberadaan di sekitar apakah ada yang menguping.


Menilai tidak ada masalah, Verg menghela napas lega, lalu kembali menatap pedagang.


"...Langka sekali 『Antitesis Buangan』 muncul di Area Tinggi."


『Boleh saya sebut nama produknya?』


"Ya, kedap suara ruangan ini sempurna, suara tidak akan sampai ke pelayan. Sebelum itu, saya sudah menutup seluruh area sekitar dengan sihir saya, jadi tidak masalah."


Karena Yulia sering muncul tiba-tiba, Verg punya kebiasaan selalu memasang 『Barrier』 di area sekitar. Hari ini pun dia memasang 『Barrier』 di sekeliling agar siap jika dia muncul kapan saja. Dengan begini, pembicaraan rahasia tidak akan ketahuan, dan jika 『Barrier』 diterobos, Verg bisa segera sadar.


『Kalau begitu saya lanjutkan ceritanya. Entah bohong atau benar, saya menangkap informasi bahwa 『Antitesis Buangan No. I』 muncul di Distrik 23 Area Tinggi.』


"Hmm... kalau begitu, 『Istana Kecantikan, Semprema』 terlalu sepi."


Verg mau tidak mau memiringkan kepala.


『Parade Monster』 kemarin memang insiden besar, tapi kemunculan 『Antitesis Buangan No. I』 di Area Tinggi adalah insiden raksasa. Wajar kalau seluruh Kota Iblis diberlakukan darurat militer.


Ras Iblis menyebut tanah tempat tinggal manusia sebagai "Wilayah Luar", dan jika mendaftar kerusakan akibat 『Antitesis Buangan No. I』 di sana, takkan ada habisnya. Tidak ada negara yang tidak kena dampaknya, banyak kota hancur, dan banyak guild Asosiasi Sihir yang pergi menaklukkan malah dibantai habis.


Gereja Hukum Suci saat itu hanya mengamati, jadi kerusakannya tidak seberapa, tapi tetap saja ada beberapa desa yang hancur.


Ada masa di mana Demon Lord dan Sacred Heaven juga bergerak, tapi penaklukan tidak berhasil.


Meski begitu belakangan ini nama 『Antitesis Buangan No. I』 jarang terdengar, paling cuma ada rumor bentrok dengan Demon Lord Schlaht baru-baru ini.


Lebih dari itu, meski tidak ada korban manusia, negara-negara sibuk menanggapi "Essence of Magic, Mimir", jadi situasinya bukan saatnya mengurusi 『Antitesis Buangan No. I』.


『Informasi yang simpang siur mungkin jadi alasan kenapa sepi. Di ‘Istana Kecantikan, Semprema’ Ratu, informasinya cuma ‘Antitesis Buangan’ yang muncul, tapi entah kenapa, di luar informasinya jadi ‘Antitesis Buangan No. I’ yang muncul.』


"Ketidakcocokan informasi——itu pasti disengaja. Saya tidak tahu apa tujuannya..."


Tujuannya mungkin penaklukan 『Antitesis Buangan』, tapi jika memikirkan keuntungan apa yang didapat dari memanipulasi angka seperti itu, jawabannya muncul dengan sendirinya.


"Ah... di 『Kota Iblis Helheim』 saat ini ada Demon Lord Grimm ya."


Kemungkinan besar tujuannya adalah pelemahan Kota Sihir yang mencakup pembunuhan Demon Lord Grimm.


Tapi, itu hanya jika yang muncul di Distrik 23 Area Tinggi benar-benar 『Antitesis Buangan No. I』, kalau angkanya lebih rendah, masih meragukan apakah bisa menang melawan Grimm.


Mungkin mereka berpikir kalau bisa membuatnya terluka sedikit saja itu sudah untung.


Masa lalu Demon Lord Grimm terkenal.


Kalau memberitahu orang seperti dia tentang kemunculan 『Antitesis Buangan No. I』, dia pasti akan langsung melesat pergi.


Tidak masalah jika Demon Lord Grimm mati, tapi bagi Verg, yang jadi pikiran adalah tindakan apa yang akan diambil Ars dan kawan-kawan akibat hal itu.


Apakah sebaiknya mengumpulkan kekuatan tempur untuk memberikan bantuan? Berbeda dengan Kota Sihir, di Kota Iblis ada banyak Elf. Kalau mau dikumpulkan pasti bisa. Tapi, kalau memberi dukungan terang-terangan begitu, Ratu akan sadar.


Untuk menghindarinya, mungkin harus membuat pasukan elit kecil terpilih.


Atau, apakah harus melobi Ratu agar posisi mereka di Kota Iblis tidak memburuk, atau sebaiknya diam saja mengamati tanpa melakukan hal yang tidak perlu.


Yang manapun itu, ada satu kekhawatiran.


Ars mengaku sebagai "Essence of Magic, Mimir".


Rumor bahwa Ratu menaruh dendam pada "Essence of Magic, Mimir" sudah terkenal.


Jika membela Ars dan hubungan Gereja Hukum Suci dengan Kota Iblis memburuk, dia pasti akan dimarahi Saint karena melakukan hal yang tidak perlu.


Jika mau bergerak, mungkin sebaiknya minta keputusan Yulia dulu sebelumnya.


"Haa... merepotkan ya. Kali ini rasanya percuma dipikirkan. Karena terlalu banyak faktor tak pasti, rasanya lebih bijak tidak ikut campur."


Setelah berpikir dalam, Verg memutuskan untuk membiarkan masalah kali ini.


Tidak perlu panik. Cukup dipikirkan setelah Ars terlibat.


Verg memutuskan untuk fokus mengumpulkan informasi dengan santai.


"Ada kemungkinan niat membaca langkah lawan malah salah perkiraan——lanjutkan awasi sekitar Ratu, dan kumpulkan informasinya saja."


『Baik. Serahkan pada saya.』


"Tidak perlu masuk terlalu dalam. Gawat kalau sampai memancing masalah yang tidak perlu."


Lebih baik membiarkan Demon Lord Grimm berenang sesukanya, dan fokus mengawasi pergerakan Ratu.


Dia adalah pemimpin berpengalaman yang bertentangan dengan Asosiasi Sihir selama dua ratus tahun, tindakannya perlu kewaspadaan penuh.


Gereja Hukum Suci juga tidak beraliansi langsung dengan Ratu, tapi menjaga hubungan melalui perantara White Wolf Fenrir, menghindari bahaya permusuhan. Karena itu, memahami niat dan pergerakan Ratu dianggap lebih penting daripada Demon Lord Grimm.


"Padahal pekerjaan menumpuk... kenapa masalah terus-terusan muncul begini ya."


Dia juga harus meningkatkan kesukaan Saint padanya.


Yang paling dia utamakan adalah Ars, meski sepertinya dia juga memedulikan Gereja Hukum Suci, tindakan Yulia cenderung memprioritaskan Ars. Oleh karena itu, Verg memutuskan untuk mengawasi pergerakan Ratu yang mungkin sedang merencanakan sesuatu, daripada Demon Lord Grimm yang tidak menjadi ancaman. Tapi sebelum itu, dia perlu melaporkan situasinya pada Yulia sekadar jaga-jaga.


"Saya ingin minta tolong satu hal, boleh?"


『Ya, apa saja.』


"Jika Saint datang berbelanja ke tokomu dalam waktu dekat, tolong rekomendasikan daun Darjeeling dan berikan informasi kali ini. Kalau dia, pasti langsung paham hanya dengan itu."


『Baik. Kalau begitu, terima kasih untuk hari ini.』


"Ya, saya akan terbantu kalau Anda membawakan barang langka lagi lain kali."


『Akan saya usahakan. Kalau begitu, saya permisi dulu.』


Begitu pedagang Elf keluar, Verg menghela napas sekali lalu menyandarkan punggung ke sofa.


Penanganan terhadap Yulia cukup begini saja.


"...Padahal sudah susah payah meninggalkan Kota Sihir, kalau begini sepertinya aku akan sibuk setengah mati dengan pekerjaan, ya."


Dia mengarahkan wadah berisi daun Darjeeling ke sinar matahari yang masuk dari jendela.


"Yah, anggap saja bagus karena ada hasil yang didapat."


Verg merasa terpulihkan sembari memanjakan mata dengan perubahan warna daun teh itu.



『Lost Land』——Distrik 36 Area Tinggi.


Padang rumput——lautan hijau yang luas terbentang.


Pemandangan indah seolah karpet alami digelar di sana.


Angin membelai lembut ujung rumput, dan guncangannya yang seperti ombak membuat padang rumput itu seolah bernapas. Di ujung cakrawala terlihat sosok kawanan monster sedang memakan rumput.


Sesekali, kicauan monster tipe burung yang terbang tinggi di langit terdengar terbawa angin.


Matahari bersinar di langit biru, menerangi seluruh padang rumput dengan cerah.


Jika menunduk melihat tanah, sosok bunga-bunga kecil yang bergoyang tertiup angin sepoi-sepoi terlihat seolah permata warna-warni yang ditaburkan.


Kupu-kupu menari di sekitar bunga, seluruh padang rumput dipenuhi hembusan napas kehidupan.


Sesekali, guntur bergemuruh di Gunung Kembar yang jauh, kekuatan dan keindahan alam berpadu menciptakan pemandangan fantasi yang menakjubkan. Di tanah ini, terbentang pemandangan yang membuat hati berdebar, menandakan kemungkinan tak terbatas dan petualangan yang menanti.


"Hmm, tempat berburu yang kelihatannya lumayan bagus, ya."


Gumam Ars dengan puas.


Mata Iblis Merah Hitam, Odd Eye yang berbeda di kiri dan kanan, ekspresinya tampan namun masih menyisakan kekanak-kanakan, seolah berada di antara masa kanak-kanak dan remaja.


"Haa... sampai juga di sini..."


Di samping Ars yang berwajah cerah, Shion terlihat lelah dengan bahu merosot.


"Shion, ayo semangat demi oleh-oleh buat Karen dan yang lain."


Ars yang mendapat izin keluar dari petinggi Kota Iblis segera melesat keluar dari 『Kota Iblis Helheim』.


"Aku iri sekali mereka semua punya urusan di saat yang pas begini."


Ars mengajak Karen dan yang lain berburu, tapi sayangnya ditolak.


Karena itu, Shion yang tidak punya urusan apa pun dipaksa ikut oleh Ars.


Makanya, sejak tadi dia memasang ekspresi tidak puas.


"Berburu lebih seru, kan. Kalau menemani Shigi mengisi sihir, bisa sampai matahari terbenam lho."


"Memang sih, tapi rasanya secara mental dan fisik lebih santai di sana."


Karena Sigi menghabiskan semua batu sihir yang diisi sihir saat 『Parade Monster』, Karen tidak ikut berburu demi menyumbangkan sihir Gift [Flame]-nya.


Kakaknya, Regi, tinggal untuk memperbaiki peralatan rekan-rekan 『Guild Villeut』 dan 『Guild Blowbadger』 yang rusak saat 『Parade Monster』, sementara Yulia dan Elsa awalnya berencana ikut, tapi sepertinya ada urusan mendadak di tengah jalan sehingga tidak bisa berpartisipasi.


Karena itulah, Ars akhirnya datang berburu berdua saja dengan Shion.


"Semangat sih boleh saja... tapi Ars, kita tidak bisa bawa banyak material, jadi tolong berburulah dengan pertimbangan. Terus karena ini perjalanan pulang-pergi sehari, aku ingin kamu memikirkan waktu sampai kapan kita berburu."


"Siap. Nah, karena ini perburuan setelah sekian lama. Mari kita santai saja."


Kata Ars sambil berlari menuju kawanan monster.


"...Ya. Sudah kuduga."


Shion sudah ada di tahap pasrah.


Dalam hal berburu, Ars selalu berbohong; meski bilang akan santai, kenyataannya dia sering memilih jalan yang paling sulit.


Sepertinya dia sendiri sungguh-sungguh berpikir begitu, dan mereka pernah beberapa kali berdiskusi sengit tentang perbedaan itu dan makna kata-katanya. Namun, meski terlihat sedikit perbaikan dalam tindakannya, meragukan apakah ada perbaikan mendasar yang terlihat.


"Sepertinya aku harus minta bantuan Yulia dan yang lain lagi untuk menjelaskan pada Ars."


Saat ini Shion tidak bertarung, tapi dia ketar-ketir kapan akan dipaksa melakukan hal yang mustahil.


Di belakang Ars yang menerjang dengan kekuatan luar biasa, Shion memunguti batu sihir dan material.


"Tapi, memang dibandingkan profesional, pengumpulan materialku lambat, ya."


Shion berpikir, kalau memang mau mendirikan guild, dia ingin anggota yang punya Gift tipe "Storage".


Sambil mengambil material dari monster, Shion menatap punggung Ars yang terus maju ke depan.


"Sudah bisa mengalahkan monster Distrik 36 Area Tinggi bahkan tanpa sihir, ya..."


Saat melawan White Wolf Fenrir pun begitu, tapi rasanya Ars jadi semakin kuat.


Shion hanya menonton saja, dalam arti tertentu ini seperti berburu sendirian.


Hanya orang tingkat tinggi yang bisa berburu semudah itu.


Saat sedang memikirkan berbagai hal, Shion sadar Ars berhenti.


"Ada apa?"


"Tidak, aku cuma penasaran monster langka apa ini."


Saat mengikuti pandangan Ars, ada bola merah bulat di sana.


Shion merasa pernah melihatnya di suatu tempat dan mencoba menarik informasi dari sudut ingatannya, tapi...


"Padahal ada monster sebanyak itu, tapi mereka sama sekali tidak mendekati makhluk ini. Lagipula, monster yang sendirian itu langka di Area Tinggi, kan."


Monster Area Tinggi 『Lost Land』 terutama bergerak dalam kawanan.


Yang bergerak sendiri paling hanya Penguasa Wilayah.


Makanya, seperti kata Ars, monster yang bisa bergerak sendiri dengan gerakan lamban tanpa diserang monster sekitar itu langka.


"Atau jangan-jangan dia ini Penguasa Wilayah?"


"Kupikir bukan... Penguasa Wilayah punya tekanan khas. Dari monster bola di depan mata ini sama sekali tidak terasa ketakutan semacam itu. Malahan, ini beneran monster?"


Shion mendekatkan wajahnya, tapi di sebelahnya Ars mengulurkan lengan dan menyentuh tubuh monster aneh itu.


"...Oi, Ars, jangan sembarangan disentuh, bahaya——!?"


Tiba-tiba monster bola merah itu meledak.


Kekuatannya tidak seberapa. Guncangannya cuma seperti pipi dibelai angin.


Hanya saja yang merepotkan adalah karena terlalu dekat, seluruh tubuhnya bermandi cipratan darah.


"...Jadi begini ya."


"Maaf, ya."


Ars menepuk bahu Shion yang tertunduk lesu sambil tersenyum pahit.


Shion menunjukkan ekspresi tidak senang atas perlakuan itu. Dia tampak kesal dengan sikap Ars, dan di saat bersamaan, rasa tidak puasnya semakin menumpuk karena Ars terlihat sama sekali tidak menyesal.


Namun, meski Ars adalah biang keroknya, fakta bahwa tidak ada kotoran sedikit pun di tubuhnya semakin menambah kemarahan Shion.


"Soalnya aku refleks pakai 'Dinding Sihir, Unmut'. Kalau itu darah biasa aku pasti sudah jadi hijau juga, tapi karena bisa ditahan 'Dinding Sihir, Anmut', sepertinya itu sihir bunuh diri atau sejenis serangan, ya."


"...Aku ingat. Monster itu 'Bom Bola, Meebo'. Kalau disentuh dia meledak dan menyebarkan darahnya ke sekitar."


"Apa ada efeknya?"


"Ya, memancing monster."


Shion memegangi dahi seolah sakit kepala.


Dan, Ars dan Shion mulai dikepung oleh kawanan monster yang terpancing bau darah 'Bom Bola, Meebo'.


"Lagipula... selama darah ini tidak dicuci, kita akan terus diincar. Makanya monster pun menghindarinya. Soalnya bakal diincar sesama jenis juga."


Ars mendengarkan penjelasan Shion dengan senang, tapi tiba-tiba dia menjatuhkan bahu dan terlihat murung.


"Kupikir seru juga kalau terus bertarung, tapi karena tidak ada waktu, kita cuci badan di sungai dulu baru pulang, yuk."


"Sepertinya memang harus begitu."


Shion tidak punya pilihan selain setuju. Tidak mungkin mereka pulang ke 『Kota Iblis Helheim』 sambil membawa gerombolan monster.


Salah-salah mereka bisa ditangkap karena dituduh memicu 『Parade Monster』.


"Kalau begitu, ikuti aku."


Dengan nada ringan, Ars menyiapkan belati dan membunuh monster di sekitarnya dalam sekejap.


Selama itu juga, dia terus berjalan tanpa berhenti dengan mengandalkan suara sungai.


"Sebelah sini."


Di tengah jalan mereka juga diserang monster, tapi Ars membereskannya.


Tak lama kemudian, tempat yang mereka tuju adalah sebuah sungai kecil.


Airnya jernih, bayangan kerikil di dasar sungai dan ikan terpantul di permukaan air yang transparan.


Rerumputan hijau menutupi tepi sungai, bunga-bunga bergoyang lembut setiap kali angin bertiup, dan aliran sungai pun bergerak dengan tenang. Di sisinya bermekaran bunga-bunga yang berbeda, kupu-kupu yang terpancing aroma manis terbang dengan riang. Sesekali, kicauan burung kecil yang turun ke tanah menyentuh gendang telinga dengan lembut, memainkan alunan yang nyaman.


Di tepi sungai itu ada batang kayu yang bisa diduduki, tapi di sana sudah ada tamu lebih dulu.


"...Hah?"


Shion ternganga melihat wanita yang sedang mengelap tubuh dalam keadaan tanpa benang sehelai pun.


Wanita itu juga sepertinya menyadari kehadiran mereka, dia mengarahkan Gold-Black Odd Eye ke arah sini dan menyipitkannya dengan senang.


"Ara... jarang sekali ada orang muncul di tempat seperti ini, ya."


Sinar matahari membuat rambut emasnya yang lebat berkilau, cahaya pudar menyinari kulit putihnya.


Matanya menyimpan daya tarik dan misteri yang dalam, menyelimuti diri dengan keindahan fantasi bagaikan roh. Permukaan air sungai yang tenang memantulkan sosoknya yang seperti peri.


Sosok itu bagaikan ilusi, tak pernah pudar, mengapung layaknya karya seni.


Dia tersenyum tenang dan menutupi dadanya. Gerakannya yang gemulai memancarkan daya tarik menggoda, benar-benar melepaskan pesonanya secara maksimal.


"Maaf saya memperlihatkan sesuatu yang tak pantas dilihat."


"Aku tidak merasa itu tak pantas kok. Kulitmu indah, lagipula Elsa bilang punya dada besar itu sesuatu yang bisa dibanggakan."


Saat Ars menjawab sambil mengangkat bahu, wanita itu membelalakkan mata karena terkejut.


"Ara... bagaimana ya, kamu terbiasa ya? Mulutmu juga manis, tapi biarpun saya, kalau ditatap sampai segitu jadi malu juga..."


"Aah, katanya ada juga orang yang malu kalau dilihat. Daripada itu Shion, ayo cuci darahnya sebelum monster datang."


Ars menarik Shion yang masih kaku mendekat, lalu dengan cepat melucuti pakaiannya.


Karena sudah sering mandi bareng, melepas pakaian adalah hal yang biasa baginya.


Shion baru sadar saat pakaian dalamnya dilepas, tapi bukannya malu sekarang, entah kenapa dia menepuk bahu Ars dengan antusias.


"A, Ars, ini bukan saatnya menelanjangi bajuku. Apa kau tahu siapa wanita di depan kita ini!?"


"Tidak, kalau tidak dilepas monster akan menyerang tanpa henti, lho? Lagipula aku tidak tahu siapa dia. Kalau pernah bertemu sekali, aku rasa aku tidak akan lupa..."


Kalau dilihat lagi, dia memiliki rupa wanita cantik tiada tara.


Orang yang memiliki kecantikan setara dengannya hanya bisa dihitung jari yang pernah dia temui.


Wanita itu membelalakkan mata melihat interaksi Ars dan Shion.


"Kalian terlihat terbiasa, apa kalian sepasang kekasih?"


"Bukan, kok."


Saat Ars menyangkal, Shion juga mengangguk dengan mudah.


"Ya, bukan. Kalau harus dibilang, Tuan dan Pelayan, mungkin."


"Be, begitu ya... apakah anak muda zaman sekarang tidak punya rasa malu..."


Mengabaikan wanita yang bicara dengan gaya agak kuno itu, Ars membuka mulut.


"Ngomong-ngomong, belum perkenalan ya. Aku Ars, salam kenal."


"...Shion."


Saat Ars menyapa singkat seperti biasa, Shion menyebutkan nama dengan sikap waspada terhadap wanita itu.


"Saya melewatkan kesempatan untuk menyapa."


Wanita cantik berambut emas itu menghentikan sikap sopannya tadi, lalu dengan percaya diri meletakkan kedua tangan di pinggang dan membusungkan dada.


Dia sangat berbeda dengan rasa malu dan kerendahan hati yang ditunjukkan sebelumnya, sosoknya yang gagah itu membuat tak percaya bahwa dia orang yang sama dengan yang tadi malu karena memperlihatkan sesuatu yang tak pantas.


Sambil menyunggingkan senyum yang memikat, dia menepis rambut samping yang jatuh di bahunya.


"Aku adalah——Lilith," sambil tersenyum berani dia mendeklarasikan.


"Salah satu dari 12 Supreme Mage Kings, Mahkota Kedua."


"Hee~... kamu Demon Lord ya, kenapa ada di tempat seperti ini?"


"Bagus kau berta——tunggu, reaksimu itu bukannya aneh?"


"Eh? Kenapa?"


"Eh?"


Sambil berhadapan, Ars dan Lilith memiringkan kepala secara bersamaan.


Shion yang sedang mencuci badan di sungai kecil tersenyum pahit ke arah mereka berdua.


"Ya~... Demon Lord Lilith, akal sehat semacam itu tidak mempan pada Ars. Nyalinya tidak sekecil itu untuk terkejut hanya karena Demon Lord muncul. Lagipula, dengan penampilan begitu wibawanya agak kurang, kan. Lihat, katanya kan tidak ada raja yang telanjang."


"...Memang benar Demon Lord telanjang itu tidak ada wibawanya ya."


Entah karena baru sadar penampilannya setelah ditunjukkan Shion, wajah Lilith memerah karena malu dan dia menutupi tubuhnya.


"Ngomong-ngomong, kenapa Demon Lord Lilith telanjang bulat begitu?"


Menanggapi pertanyaan Shion, Lilith menyunggingkan senyum mengejek diri sendiri sambil mengenakan pakaian dalam.


"Karena tidak sengaja menyentuh 'Ball Bomb, Meebo', aku membersihkan kotoran di sini."


"Ternyata senasib ya..."


Entah karena merasa dekat, Shion menatapnya dengan pandangan hangat.


"Namamu Shion ya... hentikan tatapan itu."


Setelah berkata dengan tidak senang, Lilith mulai berganti pakaian yang diletakkan di dekatnya.


Lalu, setelah selesai berganti pakaian, dia duduk di batang kayu dan mengarahkan pandangan pada Ars yang duduk di tepi sungai.


"Kalian berdua datang sendiri sampai ke sini?"


"Begitulah."


Saat Ars mengangguk, entah apa yang menyenangkan, Lilith bertepuk tangan dengan gembira.


"Wah wah, kalian berdua kuat ya."


"Kau send——"


"Jangan panggil 'kau', panggil Lilith."


"Aa... maaf. Lilith juga datang sendiri sampai ke sini, kan?"


"Ya, tapi aku sudah terbiasa, lagipula, aku ini Demon Lord, lho."


Sikap angkuhnya jelas mencolok, tapi dipadukan dengan senyum penuh percaya diri itu, rasanya sangat cocok dan anehnya selaras dengan sosoknya.


Karena itu, termasuk nada bicaranya juga, tidak terasa menyebalkan, justru sikap angkuhnya terlihat sangat menawan.


"Kalau begitu, mungkin aku juga harus bilang 'karena aku Essence of Magic, Mimir' kali ya."


Saat Ars mengatakannya dengan nada ringan, keheningan melanda.


Shion yang sedang mandi di sungai menengadah ke langit, dan Demon Lord Lilith menyipitkan mata dengan tertarik.


"Entah itu kebenaran atau kebohongan, apa kamu tahu kalau mengaku-ngaku nama itu akan diincar banyak pembunuh?"


"Ya, makanya aku mengaku begitu."


Demi pertumbuhannya sendiri, Ars berusaha menarik orang-orang kuat, dan memanfaatkan semuanya sebagai bekal pertumbuhannya. Karena itu, dia terus menyebut dirinya sebagai "Essence of Magic, Mimir".


"Tapi, sayangnya aku belum pernah diserang pembunuh tuh."


Sudah cukup lama sejak dia seenaknya mengaku sebagai "Essence of Magic, Mimir", tapi belum pernah sekalipun mendapat serangan. Dia berharap akan disergap dalam gelap atau semacamnya, tapi nyatanya memang antiklimaks.


"Itu wajar saja, kan. Menyerang dalam situasi di mana tidak bisa dipastikan asli atau palsu itu cuma bisa dibilang bodoh. Terlebih lagi jika lawannya adalah 'Essence of Magic, Mimir', wajar kalau mereka sangat berhati-hati."


"Essence of Magic, Mimir" dikatakan telah mencuri teknik rahasia sambil menertawakan negara-negara di seluruh dunia.


Namun, kekuatannya dikatakan tak terukur karena tidak ada orang di dunia yang pernah berhadapan dengannya. Kekacauan yang ditimbulkannya meramaikan dunia, tapi identitas dan kekuatan sejatinya masih terbungkus misteri hingga sekarang.


Namun, fakta bahwa "Essence of Magic, Mimir" telah menguasai sihir dari berbagai institusi di seluruh dunia adalah nyata, karena itu tidak ada yang meragukan bahwa dia adalah penyihir terkuat di dunia.


"Kalau begitu, sepertinya aku cuma bisa menunggu dengan sabar, ya."


Setelah menguap satu kali, Ars berbaring di tempat itu.


"Aku belum pernah mendengar ada orang yang menunggu pembunuh dengan sabar, lho. Kamu sepertinya agak aneh, ya."


Sambil melemparkan pandangan heran, Lilith bangkit dari batang kayu.


"Kotorannya sudah hilang, jadi sudah saatnya aku pamit."


"Begitu ya, senang bisa bertemu denganmu. Sampai jumpa lagi di suatu tempat."


"Ya, Ars-san, Shion-san, mari bertemu lagi di suatu tempat."


Sambil melontarkan suara riang, dia berbalik dan pergi tanpa menyiratkan rasa enggan berpisah.


"Demon Lord yang benar-benar sulit ditebak, ya."


Kata Shion sambil naik ke tepian sembari mengenakan pakaian.


Pandangan Ars tercuri sesaat oleh wanita itu, dan saat dia mengembalikannya ke tempat semula, sosok Lilith sudah tidak ada.


"Dia itu kuat."


"Hoh... bahkan Ars pun sadar ya... tidak, wajar saja kalau sadar, Demon Lord Lilith itu Mahkota Kedua kan."


Shion melemparkan pandangan curiga pada Ars, sambil mengangguk berkali-kali dengan ekspresi bingung.


Reaksi dia yang agak aneh itu sangat wajar.


Ars mengukur kekuatan lawan secara kasar, jadi dia cenderung berpikir sebagian besar penyihir lebih kuat darinya. Mungkin karena pengaruh pernah dikurung, dia kurang peka dalam merasakan sihir lawan.


Sebenarnya, orang akan secara alami belajar cara membaca sihir dengan berinteraksi dengan orang lain sejak kecil, tapi dalam kasus Ars, saat dikurung dia tidak pernah berinteraksi dengan orang lain.


Karena alasan itulah, kata "kuat" dari Ars sering kali tidak bisa dijadikan acuan.


"Mahkota Kedua ya... lawan yang suatu saat harus kulampaui."


"Hmm... itu syarat menjadi 'Magic Emperor' yang kau bicarakan dengan Demon Lord Grimm sebelumnya, ya."


Sambil berkata begitu, Shion duduk diam di samping Ars yang sedang berbaring.


Keberadaan "Magic Emperor" adalah peristiwa masa lampau yang sangat jauh, dan sampai sekarang belum ada satu orang pun yang menduduki posisi yang sama.


Karena itu, bahkan Grimm yang merupakan Demon Lord saat ini pun tidak tahu syarat menjadi "Magic Emperor".


Pada dasarnya, Asosiasi Sihir menganut meritokrasi, dan untuk menjadi Demon Lord pun harus menunjukkan kekuatan.


Maka, pandangan Demon Lord Grimm adalah jika ingin menjadi "Magic Emperor", kalahkan semua Demon Lord dan buktikan kekuatan sendiri, maka tidak akan ada lagi yang membantah.


"Ya, sepertinya tidak bisa jadi 'Magic Emperor' kalau tidak mengalahkan semua Demon Lord."


"Pemikirannya terlalu dangkal sampai aku cuma bisa geleng-geleng kepala, tapi tidak ada informasi valid selain itu sih."


Tidak diragukan lagi untuk menjadi Magic Emperor harus membuat semua Demon Lord tunduk. Tapi meski begitu, tidak mungkin orang-orang yang bisa jadi Demon Lord akan tunduk dengan mudah hanya karena kalah sekali lalu bilang "baik, saya mengerti". Apa yang terjadi jika mereka tetap tidak mau ikut meski kekuatan sudah ditunjukkan, itu benar-benar wilayah yang tidak diketahui dan masalah yang bikin sakit kepala.


"Bagaimanapun juga, kalau mengincar Magic Emperor, pasti akan bentrok dengan para Demon Lord di suatu tempat. Menurutku ini cuma masalah cepat atau lambat."


Perkataan Ars memang masuk akal. Jika mengincar Magic Emperor, pasti akan bentrok dengan Demon Lord.


Isinya orang-orang dengan ego tinggi semua, bukan lawan enteng yang bisa diajak diskusi.


"Sekarang dipikirkan sekeras apa pun tidak ada gunanya. Suatu saat gilirannya akan datang juga."


Shion memiringkan kepala melihat profil wajah Ars yang menatap jauh.


"Gaya bicaramu seolah-olah sudah berpengalaman."


"Ya, cuma dengar dari orang lain sih. Tapi, berkat terus menunggu, memang ada yang kudapatkan."


"Begitu ya... boleh kutanya jawaban apa yang kau dapatkan?"


Ars yang memperdalam senyum atas pertanyaan Shion, mengulurkan tangan ke langit.


"——Kebebasan."


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close