NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Munou to Iware Tsuzuketa Madoushi, Jitsu wa Sekai Saikyou Nanoni Yuuhei Sareteita node Jikaku Nashi V5 Chapter 3

 Penerjemah: Nels

Proffreader: Nels


Chapter 3

Mimpi Buruk

『Lost Land』——Distrik 27 Area Tinggi adalah tanah tandus.


Angin bertiup seolah membelai padang rumput yang layu, napas dangkal bumi terdengar dari kejauhan. Saat debu pasir beterbangan, bayangan pohon mati ikut menari bersamanya.


Matahari bersinar tanpa ampun, cahayanya menjadi panas membara seolah hendak menghanguskan tanah.


Di tanah tandus sejauh mata memandang, tersisa jejak kota yang dulunya pernah mencapai puncak kemakmuran.


Kini hanya puing-puing dan semak belukar yang menyiratkan sisa-sisanya, bangkai bangunan yang hangus telah lapuk dan terkubur di dalam pasir. Sosok batu kapur yang menjulang menceritakan kejayaan dan kehancuran peradaban kuno.


Jejak kehidupan di tanah tandus ini sangat jarang, hanya keheningan mencekam yang berkuasa.


Setiap kali angin bertiup sesekali, itu berubah menjadi suara seperti jeritan yang bergema di seluruh dunia.


Bayangan pepohonan yang kering kerontang diselimuti atmosfer menyeramkan, dan tanaman hijau yang dulu mungkin memenuhi permukaan tanah telah kehilangan warnanya dan layu mati.


Mereka yang menginjakkan kaki di tanah ini mungkin akan merasa seolah kehancuran alam dan hembusan napas kematian sedang memanggil mereka.


"...Jangan lengah."


Grimm bergumam pelan sambil menerjang melintasi tanah tandus.

Setelah mendapatkan informasi dari utusan Ratu bahwa 『Antitesis Buangan No. I』 muncul, Grimm sampai di Distrik 27 dengan tujuan menuju Distrik 23.


Yang mengikutinya adalah Kirisha, Nomie, dan Garm, tiga orang elit terpilih.


Tiba-tiba bayangan orang melintas di depan mereka yang sedang bergerak sambil mewaspadai sekeliling.


"Oya, ini langka sekali... saya tidak menyangka ada orang kuat di tempat seperti ini."


Yang muncul adalah Iblis Tingkat Tinggi bertanduk dua dengan mata kiri tertutup.


"Jumlah sihir itu, sepertinya Anda cukup ahli."


Saat pria Iblis Tingkat Tinggi itu bergumam santai, para Iblis berkumpul di sekitarnya.


Lima Iblis Tingkat Menengah bertanduk satu di dahi mengikutinya.

Ini adalah Area Tinggi di mana 『Kota Iblis Helheim』 berada di dalam 『Lost Land』, tidak aneh jika ada Iblis di sini.


Saat berburu monster, meski jarang, kadang mereka bertemu Iblis seperti ini.


Tapi, bagi umat manusia, monster maupun Iblis tidak ada bedanya.


Karena itu sering kali terjadi pertarungan.


Namun, kalau di wilayah lain mungkin beda cerita, tapi di Area Tinggi ini sama saja dengan pekarangan 『Kota Iblis Helheim』.


Kemungkinan besar mereka adalah orang yang berhubungan dengan Ratu.


Karena akan merepotkan jika Ratu sampai turun tangan, Grimm memutuskan untuk bertanya sekadar jaga-jaga.


"Aah, sekadar tanya saja... kau dari afiliasi mana?"


Meski Grimm bertanya, tidak ada jawaban dari Iblis itu.


Dia hanya memperdalam senyum provokatif.


Akhirnya, perlahan, seolah ingin memancing emosi, pria Iblis itu membuka mulut.


"Fufu, penasaran? Ingin saya beri tahu?"


Dia mendengus mengejek, lalu tertawa bersama rekannya dengan gerakan tangan yang berlebihan.


"Oi! Master bertanya, kenapa kalian malah ketawa!"


Garm yang wajahnya memerah karena marah hendak menerjang, tapi Grimm mengulurkan tangan menahannya sebelum itu terjadi.


"Garm, tenanglah."


"Tapi, Master!"


"Sudahlah, jangan terpancing provokasi murahan."


Saat Grimm menepuk bahu Garm dan memelototinya, dia mundur dengan patuh.


Lalu, Grimm kembali mengarahkan mata pada Iblis itu.


"Tidak seru, ya. Padahal menurut rumor katanya orangnya sumbu pendek... atau jangan-jangan karena bawahannya ribut duluan, malah jadi tenang ya."


"Kenapa aku harus marah demi menyenangkan orang sepertimu. Lagipula, aku ingin tahu dari mana kau dengar tentangku... apa kau tidak berniat menjawab dari afiliasi mana?"


"Fufu, permisi. Saya minta maaf karena sudah bercanda. Soalnya saya tidak menyangka bisa bertemu Demon Lord... jadi, sebagai ganti permintaan maaf, saya akan memberitahu identitas saya juga."


Pria Iblis itu merendahkan pinggul seolah-olah memasang kuda-kuda.


"Saya 『Nomor Pembuangan, Antitesis Buangan No. V』. Salam kenal——bersama dengan rasa sakit, ya."


Kedua lengan Iblis itu menjadi kabur.


Kejadian itu berlangsung sekejap mata, yang dilemparkan adalah pisau lempar.


Grimm mendengus dan menangkis jatuh pisau lempar mengerikan yang terbang membelah udara.


Grimm memutar sabit raksasa yang merupakan senjata andalannya dengan enteng.


"Hah, kau berani juga ya, kalau ingin mati bilang saja dari awal!"


"Saya akan meladenimu bertarung sesuai keinginan. Ayo, kalian juga bertarunglah."


Saat 『Nomor Pembuangan, Antitesis Buangan No. V』 mendesak Iblis di sekitarnya, mereka juga berlari menuju Kirisha dan yang lainnya.


"Kirisha! Aku serahkan sebelah sana padamu!"


Grimm berseru, dan Kirisha menjawab dengan senyum biasanya.


"Ya, yaa~! Serahkan padaku!"


"Tunggu, Submaster, itu Iblis lho. Ada lima orang la——aduh!?"


Garm berkata dengan panik, tapi ada seseorang yang memukul kepala bagian belakangnya.


"Kamu tenanglah. Semuanya bertanduk satu, kan, kalau Iblis Tingkat Menengah kamu juga pernah melawannya, kan."


Nomie menatap adiknya, Garm, dengan ekspresi heran.


"Bukan begitu, Kak. Lawannya ada lima orang lho. Apalagi, mereka itu Iblis, tahu?"


"...Berisik ah."


Saat Nomie mengangkat lengan hendak memukul adiknya sekali lagi, suara polos dan ceria menyela.


"Ya ya, kalian berdua berdebatnya nanti saja ya. Garu-chan, tidak apa-apa kok. Kirisha akan menangani tiga orang."


"Hebat, Submaster!"


"Nona Kirisha... jangan terlalu memanjakan dia. Nanti dia tidak tambah kuat sama sekali lho."


Nomie menghela napas, Kirisha membalas senyum lebar, dan Garm bersujud di tanah seolah memujanya. Lima Iblis Tingkat Menengah yang diabaikan oleh tiga orang dengan tingkah berbeda itu, menyerang mereka bertiga dengan wajah memancarkan kemarahan.


『Gerombolan konyol! Jangan terlalu meremehkan kami. Meski Tingkat Menengah——』


Pria Iblis yang menerjang paling awal tidak bisa menyelesaikan kalimatnya sampai akhir.


Karena,


"Ah, aku belum bilang ya, hati-hati karena ada 『Serigala Fantasi, Skoll』 milik Kirisha yang imut lho."


『Serigala Fantasi, Skoll』 yang persis seperti White Wolf Fenrir, yang diciptakan oleh Gift [Phantom Beast] milik Kirisha, menggigit putus leher salah satu Iblis, lalu berdiri menghalangi di depan untuk melindungi Kirisha.


『...White Wolf Fenrir? Kenapa ada di tempat seperti ini...』


Para Iblis Tingkat Menengah yang terkejut melihat hewan fantasi yang diciptakan itu pun mundur.


"Ah... bukan asli kok. Itu hewan fantasi yang diciptakan dengan Gift Kirisha."


『Mustahil. Tidak mungkin, "Hewan Fantasi" itu——!?』


Satu lagi Iblis Tingkat Menengah yang memandang dengan ternganga, dipenggal kepalanya oleh 『Serigala Fantasi, Skoll』.


"Sekarang jadi tiga lawan tiga, ya. Aku bagi mangsanya untuk Nomi-chan dan Garu-chan juga ya!"


"Tidak, kalau sudah begini bukannya Submaster sendirian saja sudah cukup?"


Garm yang memandang pertarungan sepihak itu bergumam dengan ekspresi tidak puas.


"Kalian sudah lama tidak melawan Iblis, jadi bunuhlah setidaknya satu orang untuk mengembalikan insting."


Grimm merasa lega saat melirik ruang aneh di mana kekejaman dan kesantaian bercampur aduk itu.


Entah karena menyadari emosinya yang bergejolak itu, 『Nomor Pembuangan, Antitesis Buangan No. V』 menyunggingkan senyum.


"Oya, Anda khawatir dengan teman Anda?"


"Hah? Aku tidak khawatir kok."


Melihat Grimm yang meludah seolah menutupi rasa malu, 『Nomor Pembuangan, Antitesis Buangan No. V』 mengerutkan alis.


"Apa Anda benar-benar Demon Lord Grimm?"


"Memangnya aku terlihat seperti apa lagi?"


"Saya jadi bingung karena kelihatannya sangat berbeda dengan rumor. Anda bukan penipu atau prajurit bayangan, kan?"


"Jangan bicara omong kosong. Daripada itu, apa tidak masalah?"


"Apanya?"


"Aku tanya apa tidak masalah kalau tidak menolong mereka. Saat kamu bicara santai begini, bawahanmu mati lho?"


Kirisha menghabisi tiga Iblis Tingkat Menengah dengan mudah. Sekarang dia mengawasi pertarungan Garm dan Nomie. Dua sisanya pun tidak kesulitan dan sedang mendesak lawan, jadi meraih kemenangan hanya masalah waktu.


"Tidak masalah. Malahan, sepertinya mereka memahami peran mereka dengan baik."


"Padahal temanmu mati tapi kamu malah cengar-cengir, dasar bajingan menjijikkan."


Grimm tidak bisa memahaminya.


Meski rekan-rekannya dibunuh satu per satu di depan mata, ekspresi 『Antitesis Buangan No. V』 tenang dan dingin bagaikan es. Matanya memancarkan cahaya dingin, dan sama sekali tidak terlihat perubahan emosi di wajahnya.


Tidak goyah, tidak bingung, dia tidak panik dan hanya menerima hasilnya dengan khidmat.


"Kalau begitu, mari kita bertarung juga."


Ribuan pisau lempar menyerang Demon Lord Grimm dari segala arah. Jumlahnya bagaikan badai hujan, menghujani tanpa ampun seolah hendak membungkusnya.


Namun, di tengah badai itu pun, Grimm menghadapinya dengan tenang.


Dengan sabit besar di tangan, dia menangkis jatuh pisau lempar yang menyerang dengan setiap ayunan. Gerakan itu anggun bagaikan tarian, namun di saat bersamaan menyimpan kekuatan yang mengerikan.


Satu per satu pisau lempar ditepis oleh sabit besarnya, suara logam yang bergema di sekitarnya menyelimuti medan perang. Lalu, pisau lempar terakhir terbang ke arahnya. Setelah menahannya, Grimm memiringkan leher sedikit.


"Oi, apa kau benar-benar berpikir bisa menang dengan ini? Kau pikir bisa membunuhku hanya dengan pisau lempar tanpa menggunakan sihir?"


"Ya. Saya rasa bisa menang, lho? Menurut cerita yang saya dengar baru-baru ini, bukannya Anda kalah dari penyihir tanpa nama entah dari mana? Demon Lord Grimm yang kejam dan sadis——sosok aslinya adalah Demon Lord lembek yang menyayangi teman, banyak omong, dan menunjukkan kebaikan dengan memedulikan lawan bertarung——kalau lawannya hanya selevel itu, saya memutuskan cukup dengan melemparkan pisau lempar saja."


Itu adalah provokasi yang terang-terangan, dan juga tampak seperti jebakan untuk membuat lawan panik.


Namun, Grimm sengaja menanggapi provokasi itu.


"...Haa, memang aku kalah sih. Aku tidak menyangkalnya. Meski begitu, aku masih mengaku sebagai Demon Lord lho."


Grimm menendang tanah dan mendekati 『Antitesis Buangan No. V』.


"Bukan kau yang mengalahkanku, kan? Itu tidak bisa jadi alasan kau lebih kuat dariku——"


Grimm mengayunkan sabit besar dengan kuat.


"Kalau bawahan terlalu meremehkan, akan kubunuh kau!"


"Gah!?"


『Antitesis Buangan No. V』 berhasil menghindari serangan sabit besar. Tapi, Grimm yang sudah memprediksinya mendaratkan tendangan dari arah berlawanan ke bagian samping kepala 『Antitesis Buangan No. V』.


『Antitesis Buangan No. V』 terpental sambil memantul di tanah. Sambil melihat keadaan itu, Grimm mengalihkan pandangan melihat Kirisha dan yang lain.


Sepertinya penaklukan Iblis Tingkat Menengah sudah selesai.


Karena lawannya bawahan 『Antitesis Buangan』, meski dibunuh pun tidak akan ada komplain dari 『Kota Iblis Helheim』.


Berpikir tinggal dia sendiri yang membereskan 『Antitesis Buangan』, Grimm kembali mengarahkan pandangan pada 『Antitesis Buangan No. V』, tapi lawannya yang bangkit dari tanah masih menyunggingkan senyum yang sama.


"Kalau kau tidak menggunakan sihir, ya sudah. Aku tinggal menghancurkanmu habis-habisan."


"...Hebat, Demon Lord Grimm. Serangan barusan lumayan juga."


『Antitesis Buangan No. V』 mengangkat sudut bibir sambil mengelus bagian samping kepalanya. Dahinya pecah dan darah mengalir deras, tapi dia tidak terlihat memedulikannya.


"Begitu ya, aku sudah bosan mendengar ocehanmu."


Grimm berlari lurus menuju 『Antitesis Buangan No. V』.


Terhadap serangan yang masih saja hanya menggunakan pisau lempar, Grimm menangkisnya sambil menampakkan kekecewaan.


"Matilah kau di sini."


"Kalau begitu, bisakah Anda tunjukkan kemampuan yang cukup untuk membunuh saya?"


"Boleh juga. Akan kubuat kau sadar sepenuhnya akan kekuatanku, dan kubunuh kau secara mewah dengan sihir."


Sama seperti tadi, provokasi murahan. Meski Grimm memahaminya, karena kesabarannya sudah mencapai batas, dia meludah dengan ekspresi tidak senang.


"『Halusinasi, Halsna』"


Grimm membuang rapalan manteranya.


『Antitesis Buangan No. V』 memasang kuda-kuda, tapi tidak ada efek yang terlihat.


Sepertinya ini perkembangan di luar dugaan, mata 『Antitesis Buangan No. V』 membelalak.


Bukannya sihirnya gagal karena dirapal sambil marah.


Kenyataannya, tidak ada tanda-tanda panik di wajah Grimm sang pelaku, dia melihat 『Antitesis Buangan No. V』 yang bingung dengan senyum puas sambil melepaskan langkah berikutnya.


"Hei, jangan kaget begitu. Aku akan menendang dari kanan lho."


Pada Grimm yang sengaja mendeklarasikan serangan, 『Antitesis Buangan No. V』 mengangkat lengan kiri mengambil kuda-kuda bertahan. Ekspresinya diwarnai kebingungan, tapi Grimm tidak memberinya waktu untuk mendapat jawaban. Dan, entah kenapa 『Antitesis Buangan No. V』 menerima tendangan Grimm dengan telak di wajahnya. Darah menyembur dari hidung, dan beberapa gumpalan putih terlempar dari mulutnya.


"Ah, gah!? Hah?"


『Antitesis Buangan No. V』 berusaha memahami apa yang terjadi pada tubuhnya sambil menahan sakit. Dia menyentuh bagian yang terluka dengan tangan, memastikan darah mengalir dari hidung, ekspresinya dipenuhi keterkejutkan dan kebingungan.


"Padahal harusnya sudah saya tangkis... apa yang sebenarnya terjadi?"


"Kalau diberitahu segampang itu jadi tidak seru, kan."


Mungkin ini balas dendam yang tadi. Grimm mendengus mengejek, lalu mengibaskan tangan kirinya seolah pamer.


"Selanjutnya aku akan menonjok wajah dari kiri. Coba tangkis sana."


Mendengar deklarasi lagi, 『Antitesis Buangan No. V』 mengangkat lengan kanan bersiap, tapi begitu sadar, lehernya sudah tersentak ke belakang akibat benturan.


"...Gah, hah... Ternyata, yang tadi itu... sihir ya..."


『Antitesis Buangan No. V』 yang jatuh telentang di tanah bergumam sambil menatap langit.


Akhirnya 『Antitesis Buangan No. V』 bangkit bertumpu pada tangan, menyeka darah di mulut sambil terus memutar lidahnya.


"Kalau tidak salah 『Halusinasi』 ya, kalau diartikan secara harfiah... berarti kata-kata Anda selama ini bohong, dan saya mencoba menangkis serangan yang tidak ada, lalu menerima serangan dari arah sebaliknya, begitu ya."


Mungkin dia menganalisis dari situasi tadi. Melihat dia sampai pada inti masalah hanya dalam dua kali serangan, Grimm mengelus dagu dengan kagum.


"Yah, bisa dibilang benar sih... tapi kebalikannya. 『Halusinasi』 itu punya efek mengacaukan tindakan lawan, kata-kataku tidak ada yang bohong."


"Artinya..."


"Kau selama ini hanya berniat menangkis seranganku——ya, kau dibuat berpikir begitu oleh 『Halusinasi』, padahal kenyataannya kau belum melakukan tindakan apa pun."


"Haha, jadi begitu, saya cuma terus-terusan menerima serangan tanpa pertahanan sama sekali ya..."


Meski dugaannya mendekati tapi meleset, entah karena merasa malu, 『Antitesis Buangan No. V』 tersenyum pahit untuk menutupinya.


"Tapi, sihir sehebat itu dilakukan dengan membuang rapalan... saya harus bilang, hebat sekali Demon Lord."


"Ya, kau sudah lihat barang bagus, kan? Makanya, bawalah sebagai oleh-oleh ke akhirat."


Setelah berkata begitu, Grimm menendang tanah.


Dia mendekat hingga jarak dekat, lalu mengayunkan sabit besar tanpa ampun.


Serangan kasar dan penuh celah, seolah diayunkan anak kecil, di situ ditambahkan kekuatan fisik Demon Lord, tapi kalau bukan amatir pasti mudah menghindarinya.


Apalagi, bagi Iblis dengan kemampuan fisik unggul, harusnya mudah menghindarinya.


Tapi, kaki 『Antitesis Buangan No. V』 tidak bergerak.


Itu karena dia ragu dan tidak bisa menilai, apakah sihir 『Halusinasi』 milik Grimm sedang aktif, atau sudah nonaktif.


Karena itu, serangan yang setara dengan mainan anak kecil itu masuk dengan mudah.


"Jadi... dari awal jalannya untuk menang sudah dibuat, ya..."


Sambil menyemburkan darah dari tubuh, 『Antitesis Buangan No. V』 ambruk ke tanah.


"Aku tidak tahu apa yang kau rencanakan, tapi meski lawan meremehkan, aku tidak akan lengah. Soalnya aku pernah kena batunya sekali gara-gara itu."


Grimm menginjak kepala 『Antitesis Buangan No. V』 dan menatap ke bawah dengan mata dingin.


"Pertarungan yang membosankan."


"Benarkah?"


Meski terpojok, sikap 『Antitesis Buangan No. V』 tidak berubah dari awal.


"Saya pikir Anda menikmatinya, lho. Anda pasti memutar otak memikirkan apa yang orang ini rencanakan, apa maunya. Bukankah Anda menekan kecemasan dengan mempertahankan sikap agresif?"


"Mungkin saja. Tapi, yang sekarang terkapar adalah kau, dan yang hampir mati juga kau."


Tanpa mempedulikan provokasi, Grimm bertukar pandang dengan 『Antitesis Buangan No. V』 yang memelototi dari bawah.


"Ngomong-ngomong, kutanya dulu, di mana bajingan 『Antitesis Buangan No. I』 itu berada?"


"............Apa Anda pikir saya akan mengatakannya dengan jujur?"


Yang kembali adalah tertawaan sinis.


Grimm tidak bisa menghapus rasa janggal pada sikap 『Antitesis Buangan No. V』.


Dari tadi dia cuma mengulang ucapan provokatif, tapi tidak menunjukkan kekuatannya.


Tidak salah lagi dia merencanakan sesuatu, tapi rasanya tidak mungkin dia punya strategi untuk membalikkan keadaan dari sini.


"Di sana sepertinya sudah selesai total. Kalau begitu, di sini juga akan kuakhiri."


Pertarungan Kirisha dan yang lain sudah selesai. Tapi, mereka tidak mendekat. Karena ada kemungkinan ditangkap musuh dan dijadikan sandera. Demi menghindari bahaya itu, mereka menahan diri.


"...Begini saja level V ya, terlalu lemah untuk angkanya."


Untuk mencabut nyawanya, Grimm mendekatkan mata pisau ke 『Antitesis Buangan No. V』.


Tapi, meski berdiri di jurang kematian, ekspresi 『Antitesis Buangan No. V』 tidak berubah.


"Angka di bawah V itu sama saja seperti tidak ada. Pergantiannya cepat, dan kadang bertambah tanpa disadari."


"Kalian diberi angka oleh Ratu saat diusir, kan?"


Iblis yang diusir dari 『Kota Iblis Helheim』 dibuang ke luar 『Lost Land』——Wilayah Manusia.


Mereka yang punya kekuatan berlebih, bersama dengan kemarahan karena diusir, menyerang desa dan kota hingga menimbulkan kerusakan besar, sehingga ditakuti orang-orang. Karena itu, Iblis juga terkenal sebagai ras yang tidak dilindungi di wilayah manusia, seperti tidak dianggap dosa meski dibunuh begitu ditemukan.


Saat Grimm yang tertarik bertanya, 『Antitesis Buangan No. V』 mengangguk dengan jujur.


"Ya, kami diberi nomor yang kosong lalu diusir. Di tubuh diukir angka sebagai bukti pendosa——kalau saya seperti angka V di mata kiri ini."


Setelah jeda sejenak, 『Antitesis Buangan No. V』 melanjutkan bicara.


"Tapi, soal angka yang lebih tinggi tingkatannya dari V——beliau-beliau yang memiliki kekuatan beda dimensi itu mengukir sendiri angka di tubuh mereka."


"Hee... baru dengar tuh."


"Tentu saja. Bukan cerita yang perlu repot-repot disampaikan dari pihak Iblis, kan."


Menjawab jika ditanya——nada bicara 『Antitesis Buangan No. V』 seperti itu, tapi kenyataannya ini harusnya salah satu informasi rahasia.


Kenapa dia mengungkapkannya di situasi ini, selagi Grimm berpikir, cerita 『Antitesis Buangan No. V』 berlanjut.


"Jajaran tingkat atas itu bahkan membuat Ratu kewalahan, lho. Tidak mungkin mereka mau diukir angkanya dengan patuh. Mereka pergi sendiri dari 『Lost Land』, membunuh pendahulunya, merebut angka itu, lalu mengukir angka itu di bagian tubuhnya."


"Hmm... apa maksudnya kau memberitahu itu padaku?"


"Apa butuh alasan?"


"Kamu itu mencurigakan sejak kita bertemu. Tiba-tiba memberitahu arti angka 『Antitesis Buangan』 segala, rasanya menjijikkan sekali sampai mau muntah."


"Saya ingin Anda mengetahuinya. Saya ingin menyampaikan bahwa beliau-beliau di tingkat atas tidak bisa dikalahkan dengan kemampuan selevel Anda."


"Hah, terima kasih sarannya. Aku akan membunuhmu sebelum air mata keluar."


Meski menginterogasi alasan kenapa dia tiba-tiba bersikap akrab, 『Antitesis Buangan No. V』 tidak akan buka mulut. Meski tujuannya mengulur waktu, tingkah lakunya terlalu menyeramkan, jadi Grimm memutuskan lebih aman membereskannya di sini.


Karena itu, Grimm mengangkat sabit besar untuk menghabisi 『Antitesis Buangan No. V』.


"Oi oi, Nomor Lima, kau dihajar habis-habisan, ya."


Semua pandangan tersedot ke arah suara yang menyela secara tiba-tiba itu.


Lalu, di sana berdiri Iblis Tingkat Tinggi dengan sikap angkuh dan tidak sopan.


Dua tanduk tumbuh dari dahinya, dan warna kulitnya agak gelap entah karena terbakar matahari.


Namun, keberadaannya hanya dengan berdiri di sana saja, membuat orang merasakan atmosfer yang aneh.


Kehadiran yang kuat, hanya dengan berdiri diam dia memberikan tekanan pada sekeliling, membuat orang merasa seolah ada benda berat diletakkan di dasar perut.


Udara terasa berat, angin terasa menyakitkan, ruang ini sepenuhnya dikuasai oleh Iblis yang muncul tiba-tiba itu.


"Kau Demon Lord Grimm, ya? Kau pasti ingin membunuhnya dengan heboh, tapi bisakah kau melepaskannya?"


Sambil menunjuk 『Antitesis Buangan No. V』 yang diinjak Grimm, Iblis baru yang muncul tiba-tiba itu berkata sambil cengar-cengir tanpa ketegangan sedikit pun.


"Hah? Mana mungkin kulepaskan, jangan bicara seenaknya."


"Benar juga. Aku juga bakal begitu. Kalau begitu, ada tawaran nih, bagaimana kalau aku menyelamatkan dia sebagai ganti aku tidak membunuhmu?"


"Jangan bercanda."


Tanpa gentar pada Iblis yang baru muncul, Grimm menolak tawaran itu mentah-mentah.


"Begitu ya, kalau begitu, aku tidak akan sungkan lho?"


Saat Iblis itu bergumam, sosoknya menghilang.


Grimm mengalihkan pandangan dalam sekejap, tapi tiba-tiba pandangannya menjadi gelap.


"Apa...!"


Saat sadar, dia sudah jatuh terduduk di tanah.


Tidak dipukul. Tidak ditendang.


Dia sama sekali tidak menerima serangan, kakinya hanya disapu di tempat dan dijatuhkan.


"Ingatlah. 『Antitesis Buangan No. III, Huningnir』. Nama pria baik hati yang akan menyiksamu mulai sekarang lalu membunuhmu dengan heboh. Aku akan berterima kasih kalau kau mati dalam penderitaan sambil memanggil namaku."


Di sela ucapan yang memperlihatkan kekejamannya, angka III terukir di pangkal lehernya.


"Hei, Demon Lord Grimm, jangan bengong!"


Saat Huningnir melepaskan tendangan dengan kekuatan mengerikan, Grimm menyilangkan kedua lengan untuk menahannya.


Namun, dia tidak bisa meredam guncangannya dan terpental.


Saat Grimm berhenti sambil menimbulkan debu tanah yang dahsyat, Huningnir sedang meminjamkan tangan membantu 『Antitesis Buangan No. V』 berdiri.


"Waduh, Nomor Lima, kau dihajar habis-habisan ya. Bertahanlah."


"Terima kasih sudah menolong."


"Tidak apa-apa? Darahmu keluar dengan heboh tuh. Tidak akan mati, kan?"


"Saya tidak akan mati hanya karena ini. Kalau begitu sepertinya tugas sudah terlaksana, ya."


"Ya, sudah cukup. Karena dia 'Punya Nama', aku berusaha bertindak hati-hati, tapi ternyata tidak sehebat itu."


"Kemampuannya memang nyata, tapi sepertinya dia belum bisa ‘Mencapai’ tahap itu, ya."


"『Antitesis Buangan No. I』 terlalu heboh mengkhawatirkannya sih. Yah, pekerjaan Nomor Lima sudah selesai, jadi istirahatlah sana, menjauhlah supaya tidak terluka. Kalau bosan tidur saja juga boleh."


"Kalau begitu, saya akan menerima tawaran itu."


『Antitesis Buangan No. V』 menunduk dan mundur sekitar dua langkah. Setelah memastikannya, tatapan Huningnir mencari-cari Grimm. Lalu dia menemukan Grimm yang terpental sampai ke tempat Kirisha dan kawan-kawan.


Saat itu juga, senyum kejam tersungging di bibir Huningnir.


"Maaf membuatmu menunggu, Demon Lord Grimm, ayo kita lanjutkan!"


Sihir Huningnir yang merentangkan kedua lengan membengkak.


"Kalian berempat majulah sekaligus, akan kubunuh kalian secara heboh."


Bersamaan dengan ucapan itu, sosok Huningnir menghilang.


"Cih."


Grimm berdecak lidah mencari sosok Huningnir, tapi yang terlihat di pandangannya adalah sosok bawahannya, Garm, yang terpental.


"Garu-chan!"


Bereaksi terhadap suara Kirisha, Grimm menendang tanah.


Saat berpindah ke depan Nomie, Grimm menghentikan tangan Huningnir yang tiba-tiba muncul di depan mata tepat pada waktunya.


"Anjing, habisi dia!"


『White Wolf Fenrir』 ciptaan Kirisha menyerang Huningnir.


"Lambat sekali sampai bikin menguap."


Huningnir meremas hancur kepala 『White Wolf Fenrir』 dengan satu tangan semudah membalikkan telapak tangan.


"Rapuh ya... rasanya tidak sopan kalau dibandingkan dengan yang asli. Tekanannya saja sudah beda jauh sih," gumamnya, tapi saat berikutnya——dia memangkas jarak dengan Kirisha, melepaskan tendangan mengincar ulu hati gadis itu. Namun, itu bertabrakan dengan kaki Grimm yang sudah menghadang lebih dulu dan saling menetralkan.


"Hee~... Demon Lord Grimm, lumayan cepat juga."


"Aku tidak senang dipuji olehmu."


Selagi mengobrol, Grimm mencengkeram kerah leher Kirisha lalu melemparkannya ke arah Nomie.


"Nomie! Pungut Garm juga dan larilah sampai ke 『Kota Iblis Helheim』!"


Tanpa menanyakan alasannya, Nomie mengangguk kuat, menangkap Kirisha, lalu mencengkeram leher Garm dan mulai berlari.


"Apa kau pikir bisa kabur dengan kecepatan segitu?"


Huningnir yang berdiri di sebelah bertanya, tapi Grimm melirik tajam ke arahnya.


"Entahlah, kalau kau punya hobi mengejar orang yang kabur, mungkin mustahil, ya."


"Kuku, ada sih, tapi sekarang aku tertarik pada Demon Lord Grimm jadi akan kulepaskan dengan sukarela."


"Hah, apa aku harus berterima kasih?"


"Tidak perlu. Lagipula, bukankah kau merasa sayang? Padahal itu kesempatan bagus untuk setidaknya memberiku luka gores, lho?"


"Mana mungkin, kesempatan seperti itu tidak pernah ada selama mereka masih di sini."


"Hmm."


Melihat Grimm yang bersikap tangguh, Huningnir menyipitkan mata dengan tertarik.


"Aku akui. Kau kuat. Makanya, aku akan mengerahkan seluruh tenaga untuk membunuhmu."


Grimm memperlihatkan senyum ganas, menampakkan insting bertarungnya.


"Akan kuberitahu satu hal. Aku membiarkan mereka kabur agar tidak terseret."


Sihir yang membengkak dari tubuh Grimm mulai mendistorsi ruang di sekitarnya.


Jumlah sihir yang sangat besar itu benar-benar menunjukkan kewibawaan sebagai Demon Lord, dan Huningnir bereaksi terhadap kedahsyatan kekuatan itu.


"Bagus sekali! Haha, kerahkan kekuatan penuh dari awal dong! Hei, Demon Lord Grimm!"


"Berisik!"


Setelah berkata begitu, entah karena memikirkan hal yang menarik, Grimm mengangkat sudut bibirnya.


"Kalau meminjam kata-katamu——"


Grimm memasang kuda-kuda sabit besar lalu menghentakkan kaki ke tanah.


"Matilah dengan heboh."


Melihat Grimm yang menerjang lurus, Huningnir menyunggingkan senyum riang.


"Begitu dong semangatnya. Hibur aku dengan heboh!"


Saat keduanya berbenturan, gelombang kejut yang dahsyat tercipta, membuat tanah seolah terkeruk.


Akibat benturan hebat itu, sekeliling diselimuti debu pasir, dan dunia tertutup dengan kasar.



Di halaman tengah 『Istana Kecantikan, Semprema』 terbentang kebun bunga yang indah.


Berbagai jenis bunga berwarna-warni yang dipilih dengan cermat oleh Ratu bergoyang tertiup angin, aromanya menyebar ke seluruh taman.


Di sudut halaman tengah itu, kursi dan meja elegan ditata, dan agar bisa menghabiskan waktu mewah di sana, pot bunga dengan warna-warna cerah dihias, dan teh kelas atas disajikan. Yang memonopoli waktu anggun itu sambil duduk di kursi adalah Ratu 『Kota Iblis Helheim』.


"Hari ini banyak angin jahil ya."


Menerima angin segar, Ratu menahan rambut sampingnya dan tersenyum geli.


"Sepertinya ada beberapa yang muncul secara mendadak. Jika mengganggu, apakah perlu saya singkirkan?"


Sebas yang bersiaga di dekat situ meladeni obrolan ringan Ratu.


Ratu saat ini tidak memakai tudung dan tidak menyembunyikan sosoknya.


Sosok sebagai Demon Lord Lilith ada di sana.


Namun, di taman Ratu ini, tidak ada yang boleh mendekat kecuali atas perintah Lilith.


Satu-satunya pengecualian yang diizinkan keluar masuk dengan bebas hanyalah Sebas.


"Tidak perlu. Sepertinya Demon Lord Grimm sudah menghentikan si Nomor Lima."


"Individu spesial ya. Demon Lord Grimm-sama juga pasti bingung dengan tingkah lakunya, kan, dia membuat orang ragu untuk membunuh. Sepertinya dia jadi penasaran karena dia selalu menggunakan kata-kata yang seolah bermakna."


"Ya, Gift-nya tidak cocok untuk bertarung, dan sepertinya dia mulai bertingkah laku seperti itu demi bertahan hidup."


Lilith meletakkan kelopak bunga yang jatuh di meja ke telapak tangan, lalu meniupnya pelan hingga terbang.


"Aku sempat was-was karena Nomor Lima hampir dibunuh Grimm, tapi sepertinya Nomor Tiga yang menyela menyelamatkannya."


"Itu bagus. Kalau dia mati, berbagai rencana akan terganggu."


"Ya, tapi bagi 『Antitesis Buangan』 pun, Nomor Lima itu penting. Aku yakin mereka pasti akan datang menolong... tapi Nomor Tiga itu di luar dugaan."


Bulu mata Lilith bergetar pilu seolah menunjukkan penderitaan, matanya terpejam.


"Hmm, kalau angka tingkat atas yang datang... kemampuan mereka itu beda kelas. Apa Demon Lord Grimm-sama bisa menang?"


"Tidak bisa menang."


Lilith menarik senyum yang tadi, dan menegaskan dengan ekspresi serius.


"Grimm-san yang sekarang, walau menggunakan cara licik seperti apa pun, tidak ada jalan menuju kemenangan."


"Kalau begitu, apa yang akan Anda lakukan? Pilihan untuk membiarkannya mati——tidak, kalau diserahkan begitu saja pada Nomor Tiga, kebetulan sekali satu kursi Demon Lord akan kosong, ya."


Sebas bergumam tertarik, lalu lewat tatapan mata bertanya pada Lilith apa yang akan dia lakukan.


Namun, tanpa membuka mulut, Lilith mengenakan tudungnya.


Karena tertutup bayangan dalam, wajah cantiknya tidak terlihat lagi, hanya bibir yang terkatup rapat yang samar-samar terlihat.


Tak lama kemudian, Lilith bertepuk tangan.


Dia mengenakan tudung bukan untuk menghindari tatapan Sebas.


Dia hanya menyembunyikan wajah untuk memanggil seseorang yang muncul tanpa suara di hadapannya.


"Yang Mulia Ratu, Anda memanggil?"


Yang muncul adalah salah satu dari 『Six Desire Heavens, Schtern』——Shatou.


"Ya, Shatou, ada yang ingin aku minta darimu."


Ekspresinya tenang, suaranya pun lembut, sampai rasanya seperti orang yang berbeda dari tadi. Dengan perubahan ini, tidak ada yang akan curiga bahwa dia orang yang sama dengan Lilith barusan. Suaranya memiliki kenyamanan aneh, dan dengan tingkah lakunya yang bisa berubah-ubah, sepertinya dia bisa mengecoh siapa pun lawannya.


"Perintahkan apa saja. Karena kami 『Six Desire Heavens, Schtern』 ada demi Yang Mulia Ratu."


Shatou bertugas terutama sebagai utusan dan pembawa pesan Ratu.


Pekerjaannya banyak di balik layar dan sering dianggap tidak mencolok, namun karena terkadang menangani informasi penting, kemampuannya mendapat penilaian tinggi baik dari diri sendiri maupun orang lain.


"Kamu pergilah ke kediaman 『Ninth Apostle Teisa』 di Distrik Khusus Elf."


"Baik."


"Sampaikan pada 『Ninth Apostle Teisa』 bahwa yang muncul adalah 『Antitesis Buangan No. III』. Itu saja keperluannya. Pergilah."


"Ha, kalau begitu, saya permisi."


Tanpa bertanya, 『Oushuuten, Shatou』 menghilang untuk menjalankan tugasnya sebagai utusan dengan setia.


Sebas yang mengantar kepergiannya, melontarkan pertanyaan lewat tatapan mata pada Ratu.


"Sepertinya Anda sengaja menyembunyikan yang Nomor Lima... apa karena tidak ingin dia terseret?"


"Dia memiliki Gift yang sangat berharga, lho."


Karena hanya tinggal berdua dengan Sebas, Lilith menampakkan sifat aslinya tanpa ditutup-tutupi.


Dia melepas tudung dengan malas, menikmati aroma teh yang diseduh Sebas lalu meminumnya.


Setelah tersenyum puas, dia melanjutkan ucapannya tadi.


"Aku tidak terobsesi padanya, tapi bukan berarti boleh diperlakukan kasar dan hilang begitu saja, kan."


Verg, sang 『Ninth Apostle Teisa』 milik Gereja Hukum Suci adalah pria yang cerdas.


Dia pasti akan segera menyadari alasan kenapa hanya informasi 『Antitesis Buangan No. III』 yang diberikan.


Gereja Hukum Suci juga pasti punya jaringan informasi sendiri, dan harusnya sudah menangkap informasi tentang 『Antitesis Buangan No. V』. Jadi jika dia tahu keberadaannya tidak ada dalam laporan Lilith, dia akan sadar secara tersirat bahwa Nomor Lima harus dibiarkan.


"Kalau disalahartikan ya apa boleh buat, tapi ada alasan lain juga kenapa aku memberikan informasi 『Antitesis Buangan』."


"Di sana ada Saint, ya. Ada indikasi mereka memata-matai pergerakan kita melalui Verg-sama, jadi dengan mengalirkan informasi, tujuannya adalah untuk mengetahui langkah mereka, begitu ya."


Sebas menunggu penilaian Lilith sambil mengelus janggut putih di dagunya.


Terhadap Sebas, Lilith memonyongkan bibir dengan sedikit kesal.


"Bisa dibilang 95 poin——ya, yah, Kakek akhirnya mencapai usia itu dan mulai bisa mendekati pemikiranku, ya."


Lilith yang berbicara sangat cepat, sepertinya sudah agak tenang, dia berdehem satu kali lalu mengucapkan kata-kata untuk menutupi rasa malunya. Selama itu, ekspresinya berubah sedikit, memperlihatkan sekilas konflik batin dan cara dia menangani situasi.


"Lagipula aku sudah sadar kalau 『Saint』 memata-matai kita, jadi mengalirkan informasi bisa menjadi gertakan, sekaligus bisa menanam budi, kan."


Meski Sebas tidak tahu, Lilith memiliki janji dengan White Wolf Fenrir.


Yaitu, melakukan penyelidikan tentang seseorang bernama Yulia.


Dia adalah satu-satunya keberadaan di dunia, pemilik Gift [Light].


Informasi ini merupakan sebagian alasan kenapa White Wolf Fenrir turun ke dunia bawah, tapi saat ini, sang klien White Wolf Fenrir sedang dalam masa penyembuhan untuk mengobati luka akibat pertarungan dengan Ars.


"Selain itu, 『Saint』 sepertinya dekat dengan 『Essence of Magic, Mimir』, jadi mungkin saja kalau diberi informasi, dia akan bergerak."


Mereka sendiri sepertinya berniat menyembunyikannya, tapi berkat White Wolf Fenrir, bukti bahwa Yulia adalah 『Saint』 dari Gereja Hukum Suci sudah didapatkan. Pihak sana tidak menyadari bahwa identitas asli Ratu Hel adalah Demon Lord Lilith. Sudah pasti pihak ini yang lebih unggul, tinggal bagaimana mengarahkan Ars sang 『Essence of Magic, Mimir』 dengan baik.


"Ngomong-ngomong soal Ars-sama yang merupakan identitas asli 『Essence of Magic, Mimir』, beliau orang yang seperti apa?"


Lilith yang sempat hanyut dalam lautan pikiran, seketika kembali ke permukaan berkat kata-kata Sebas dan tersenyum.


"Kalau diungkapkan dengan satu kata, mungkin 'tak terduga', ya."


"...Karena dia orang yang aneh?"


"Lihat, kesan tentang 『Essence of Magic, Mimir』 yang beredar di masyarakat kan kebanyakan bilang dia orang yang suram dan licik. Jadi, aku juga membayangkan sosok seperti itu, tapi jika dibandingkan dengan itu, tak disangka dia adalah pemuda yang lebih cocok disebut riang."


"Begitu ya, lalu bagaimana dengan kemampuannya?"


Kata Sebas sambil mengganti teh yang sudah dingin dan menyiapkan kue baru.


Keahliannya benar-benar bisa dikatakan luar biasa.


Lilith yang melihat keahlian terampil itu mengucapkan terima kasih dengan puas, lalu mengambil satu kue kering buatan tangan Sebas dan menggigitnya sedikit.


"Aku hampir muntah, lho."


Sambil memasang ekspresi pahit, dengan mata yang seolah menatap jauh, Lilith mengingat saat dia bertemu Ars. Sebenarnya dia hanya berniat melihat dari jauh, dan tidak berniat melakukan kontak.


Tapi, dia tidak bisa membunuh rasa penasarannya, dan setelah melihat mereka menyentuh 『Ball Bomb, Meebo』, dia memutuskan pergi lebih dulu ke sungai kecil. Sekalian karena masih ada waktu sampai Ars dan temannya datang, dia buru-buru membersihkan sekitar sungai agar tidak diganggu monster, tapi malah terkena cipratan darah, dan saat sedang membasuhnya di sungai, akhirnya malah bertemu Ars dalam keadaan telanjang bulat. Itulah inti ceritanya.


"Saat itu aku mencoba mengukur seberapa besar sihir yang dimilikinya... tapi di hadapan sihir yang begitu pekat, rasanya aku mau muntah."


"Sampai segitunya?"


"Itu sihir murni——sesuatu yang mirip Miasma, ya."


Miasma yang tersebar di 『Lost Land』 adalah sesuatu yang tercipta akibat pertarungan para Dewa dan Magic Emperor.


Ada berbagai dampak seperti evolusi monster, perubahan lingkungan sekitar, dan lain-lain.


Manusia juga jika terpapar Miasma dalam waktu lama kondisi fisiknya akan memburuk, dan jika tidak hati-hati bisa berujung kematian.


Miasma semakin bertambah jika semakin mendekati Area Dalam.


Area Dalam adalah zona berbahaya tempat tinggal banyak Iblis bertanduk satu yang tidak berakal.


"Sulit dipercaya, ya. Bukankah dia manusia?"


"Ya, menarik kan. Justru karena itulah aku sadar bahwa dia adalah 『Essence of Magic, Mimir』... yah, kalau aku bukan Iblis, mungkin aku tidak akan sadar sih."


Iblis yang terlahir dari Miasma sangat ahli dalam mengukur sihir lawan.


Bukan berarti angkanya terlihat oleh mata.


Hanya saja, entah karena naluri sebagai Iblis, mereka secara alami bisa memperkirakan sihir lawan.


Itu juga rahasia bertahan hidup di 『Lost Land』.


Karena bisa mengukur sihir, itu menjadi bahan pertimbangan untuk tidak mendekati lawan yang berbahaya.


"Wah wah, pantas saja suasana hati Yang Mulia Ratu sangat bagus saat pulang."


"Fufu, kalau terlihat begitu berarti memang begitu, ya. Tapi, mau bagaimana lagi."


Lilith tertawa riang.


"Aku sudah lama menantikannya... seratus tahun, dua ratus tahun, aku terus menunggu selama waktu yang membuat pusing itu, jadi wajar saja kalau senang, kan."


"Memang benar... demi mengabulkan hasrat Yang Mulia Ratu, kekuatan 『Essence of Magic, Mimir』 pasti diperlukan, ya."


"Ya, karena itulah aku mengalirkan informasi 『Antitesis Buangan』 pada para Elf. Aku ingin 『Essence of Magic, Mimir』 membuat satu keributan lagi. Makanya, aku hanya berdoa semoga itu sampai ke telinga 『Saint』, tersampaikan padanya, dan dia jadi tertarik."


Jika gagal mengarahkan Ars pun tidak ada ruginya.


Kalau informasi masuk ke telinganya sebelum Demon Lord Grimm mati, itu bagus. Kalau terlambat dan Grimm mati pun, satu kursi Demon Lord akan kosong. Yang manapun jadinya, itu bisa dinikmati.


Bagi Ratu, ini hanyalah tontonan dari tempat tinggi.


"Aa, ngomong-ngomong, bawahan Demon Lord Grimm berhasil kabur dengan baik, ya. Ada kemungkinan informasi tersampaikan dari sana juga sih..."


"Perlu saya habisi?"


"Tidak, jangan."


Lilith menggelengkan kepala menolak usulan berbahaya Sebas.


Meski informasi tersampaikan dari bawahan Grimm, itu tidak akan mengganggu rencana.


"Lagipula 『Saint』 sepertinya punya banyak rahasia, jadi kurasa semakin banyak sumber informasi dia akan semakin senang. Kalau begitu, informasinya bisa tersampaikan pada 『Essence of Magic, Mimir』 tanpa dicurigai."


Seolah berpikir itu ide cemerlang, Lilith bertepuk tangan dengan riang.


Sebas memandangi sosoknya sambil menyunggingkan senyum kakek yang baik hati.


"Nona——bukan, syukurlah Yang Mulia Ratu terlihat senang."



Langit yang terwarnai merah senja terbentang luas.


Matahari terbenam di balik cakrawala barat, dan langit hendak terwarnai merah pekat.


Pemandangan itu sunyi senyap, dan terasa seolah waktu mengalir perlahan.


Saat matahari terbenam, momen tenang sebelum senja datang telah tiba.


"Aku pulang."


Ars telah kembali ke kamar yang disewanya di penginapan.


Saat dia membuka pintu dengan semangat, yang menyambut Ars adalah Yulia dan yang lainnya.


"Ars, selamat datang kembali."


Langkah kaki ringan bergema, dan Yulia berlari menghampiri Ars.


Di balik punggungnya, meja panjang dan kursi tertata di tengah ruangan, terbentang ruang di mana sekitar sepuluh orang bisa makan.


Di dekat dinding ada sofa dan meja rendah, dan di sana terlihat sosok Karen yang sedang bersantai.


Dia menyadari Ars yang pulang, melambaikan tangan, dan menyambutnya dengan senyuman.


"Ars, selamat dataang~. Memang agak telat sih... tidak, kalau buat Ars apa ini termasuk cepat, ya?"


"Sepertinya dia tidak lupa waktu saat berburu, bukankah ini termasuk cepat? Soalnya belum malam juga, kan."


Yang bicara setelah Karen adalah Elsa yang sedang menatap ke luar jendela.


Sampai sini adalah orang-orang yang biasa, tapi hari ini selain mereka, ada juga orang-orang yang jarang terlihat sedang duduk di kursi.


"Eh, bohong kan. Cerita macam apa itu, seperti anak kecil yang keasyikan main sampai tidak pulang-pulang... Ars itu berburu dengan sepolos itu?"


Yang bereaksi dengan suara satu oktaf lebih tinggi adalah Shigi, salah satu dari si kembar Dwarf.


Di sebelahnya duduk kakak perempuan Dwarf, Legi, yang bagaikan satu tubuh satu jiwa, dua orang satu kesatuan, dan memiliki cinta saudari yang kuat.


"Daripada itu, Onee-chan rasa lebih baik kamu perhatikan orang di belakangnya."


Yang ditunjuk Regi dengan sedikit sungkan adalah Shion yang muncul dari belakang Ars.


Rambutnya berantakan, bajunya penuh lumpur, wajahnya pun menunjukkan kelelahan yang pekat. Benar-benar menyisakan jejak pertarungan yang keras.


"Shi, Shion!? Ke, kenapa!?"


Karen meninggalkan sofa dengan panik dan berlari menghampiri Shion.


"...Ah, Karen ya?"


"I, iya... sebenarnya apa yang terjadi?"


"Fuh... Syukurlah. Kesadaranku sempat putus, tapi sepertinya aku berhasil pulang dengan selamat."


Dengan tegar, Shion menyunggingkan senyum agar tidak membuat khawatir, berusaha untuk tidak memperlihatkan rasa lelahnya. Namun, tiba-tiba tenaganya hilang dari tubuh dan dia hampir ambruk ke lantai.


Yang buru-buru memeluk dan menopangnya adalah Karen.


"Tu, tunggu, sadarlah! E, Elsa! Shion!"


Karen buru-buru memanggil sosok kakak perempuan yang bisa diandalkan itu, tapi entah karena sudah merasakan ketidakberesan, Elsa sudah datang mendekat, dan segera berlutut satu kaki lalu mulai memeriksa Shion.


"Tenanglah. Ini penilaian amatir, tapi dia tidak apa-apa kok. Dia memang kehilangan kesadaran, tapi berkat Karen-sama menopangnya, kepalanya tidak terbentur, napasnya juga tidak kacau dan stabil. Mungkin karena berhasil pulang dengan selamat, ketegangannya jadi lepas."


Penampilannya memang parah, tapi sepertinya tidak ada luka, jadi kalau dibaringkan dia akan segera pulih.


"Sekadar jaga-jaga nanti saya akan panggil Schuler yang bisa melakukan pengobatan. Sekarang ayo kita angkat ke tempat tidur dan baringkan dia."


"Begitu ya, kelelahan gara-gara Ars seperti biasa. Kalau begitu, aku akan membaringkan Shion di kamarnya, ya."


Ars dan yang lain menyewa satu ruangan, tapi ada kamar pribadi sebagai tempat tidur masing-masing.


Sementara ruang hidup masing-masing terjamin dengan rapi, di ruangan tengah yang luas ini mereka bisa makan, mengobrol, dan menikmati interaksi dengan teman-teman, sehingga menjadi ruangan dengan suasana yang nyaman.


"Kelelahan gara-gara Ars... aku sudah dengar rumornya sih, tapi sepertinya lebih parah dari bayangan, ya."


"Shigi-chan, Onee-chan sama sekali tidak mau pergi berburu dengan Ars-kun."


Legi dan Shigi wajahnya menegang melihat betapa lelahnya Shion.


"Ada Legi dan Shigi juga ya, jarang sekali kalian keluar dari kamar kalian."


Saudari Dwarf lebih sering mengurung diri di dalam daripada keluar.


Bahkan Shigi yang terlihat aktif pun tidak terlalu suka keluar.


Shigi pernah bilang ini bukan masalah kepribadian, tapi ada karakteristik rasial.


Apalagi, belakangan ini mereka pergi belanja ke kota mencari material langka, jadi Ars mengira mulai hari ini, setelah mendapatkan sebagian besar barang incaran, mereka pasti langsung mengurung diri di kamar untuk menggunakannya.


"Karena mereka melakukan eksperimen enchant dan sebagainya di kamar tanpa menyalakan lampu batu sihir, Karen-sama memaksa membawa mereka keluar untuk makan."


Elsa-lah yang menjelaskannya.


"Yah~, soalnya tadi pagi dapat material langka, jadi tadinya aku tidak berniat makan hari ini, tapi Karen malah melakukan hal yang tidak perlu."


Kalau sudah menyangkut enchant atau penempaan, mereka jadi mengabaikan hal lain, sepertinya itulah ras Dwarf. Melihat mereka merasa kesal karena dihentikan paksa, Ars jadi kembali berpikir bahwa Legi dan Shigi memanglah Dwarf.


Selain itu, karena mereka juga ras yang ahli dalam mempertahankan konsentrasi, hidup tanpa makan tidak hanya berakhir satu atau dua hari, tapi berlanjut sampai pingsan bagaikan puasa, jadi orang-orang di sekitar——orang yang pandai mengurus orang lain seperti Karen pasti sangat cemas. Jadinya mereka dipaksa dibawa keluar dan disuruh makan begini.


Karena itu dilakukan pada hari pertama kerja, mungkin kemarahan Shigi itu wajar.


Setidaknya bagi Dwarf——sebab, Legi kakaknya yang jarang begitu, mengangguk dalam seolah setuju.


"Ya ya, padahal kemungkinan baru mungkin terbuka. Penempaan Onee-chan mungkin bisa berkembang lebih jauh."


Ars yang tertarik dengan apa yang sebenarnya mereka lakukan ingin bertanya eksperimen macam apa itu, tapi,


"Daripada itu, Onee-chan rasa lebih baik kamu perhatikan orang di belakangnya."


Legi menunjuk dengan sedikit sungkan.


"Lalu, dari tadi aku penasaran, Yulia lagi ngapain?"


Yang bicara duluan adalah Shigi, dan Legi juga melihat Yulia dengan tatapan tertarik.


"Ada apa? Apa Onee-chan perlu bantu juga?"


"Aku sedang memeriksa apakah ada luka pada Ars. Legi-san, aku sendiri saja tidak apa-apa."


Yulia menjawab pertanyaan Shigi dan Legi dengan datar.


Sebenarnya sejak masuk kamar, Ars belum bisa bergerak selangkah pun.


Itu karena Yulia memeriksa tubuh Ars dalam diam untuk melihat apakah ada luka.


Dengan ekspresi serius seolah takkan melewatkan goresan sedikit pun, dia memeriksa tubuh Ars dengan tatapan menyelidik, sesekali menyentuhnya lalu mengerang seolah sedang berpikir keras, Yulia benar-benar memastikannya dengan teliti.


Sikap overprotektif Yulia bukan baru mulai sekarang.


Karena itu, meski bagi Legi dan Shigi ini pemandangan langka, Ars sudah terbiasa dan berpikir 'mulai lagi deh', Elsa pun mengangguk seolah itu hal yang wajar. Bahkan jika Karen atau Shion ada di sini, mereka tidak akan mempedulikannya.


Kalau ditunjukkan orang lain rasanya memang tidak normal, tapi kalau tidak, itu hanyalah keseharian biasa.


Dan, saat Ars sedang bingung sambil tersenyum pahit memikirkan bagaimana cara menghentikannya, pintu kamar diketuk.


『Saya membawakan makanan.』


"Saya lupa kalau sudah memesan makanan. Yulia-sama, pemeriksaan bisa dilakukan sambil duduk, jadi silakan duduk dulu. Legi-san dan Shigi-san juga silakan."


Yang bereaksi adalah Elsa.


Dia segera memberi instruksi lalu mendekat ke pintu dan membukanya lebar-lebar.


Pegawai penginapan masuk sambil mendorong kotak besi tiga tingkat——kereta dorong.


Di atas kereta dorong itu, berbagai masakan tersaji memenuhi tempat.


"Apa pesan bagianku juga?"


Tanya Ars yang didudukkan di kursi setelah dituntun Yulia.


"Tidak, tidak pesan kok. Lagipula, kalau tahu Ars dan temanmu pulang, jumlah segini tidak akan cukup, kan."


Yang menyangkal adalah Karen yang baru kembali setelah selesai membaringkan Shion di kamar.


"Benar juga, karena ada Shion, segini saja kurang ya..."


"Sekarang Shion sedang istirahat, jadi meski bertambah satu orang, makanannya tidak akan kurang kok."


Ars bukan orang yang makannya banyak seperti Shion.


Jumlah makanan di kereta dorong yang dibawa pegawai penginapan tadi, rasanya cukup banyak meski Ars ikut makan.


"Kalau begitu, silakan ambil piring kecil dan nikmati hidangan yang disukai masing-masing."


Tanpa disadari Elsa sudah memindahkan makanan dari kereta dorong ke meja.


Sepertinya ini model prasmanan, bukan menu course yang sudah ditentukan.


"Shion lebih memilih istirahat daripada makan itu lumayan langka, ya. Ars, sebenarnya kalian berburu seperti apa sih?"


Karen yang duduk di depan Ars bertanya sambil mengambil makanan yang ingin dia makan ke piring kecil.


"Biasa saja sih. Cuma gara-gara menyentuh monster bernama 'Ball Bomb, Meebo', jadinya gawat."


"Aah... yang darahnya memancing monster itu ya. Aku belum pernah ketemu sih. Katanya monster merepotkan, apa kau kesulitan?"


"Tidak... rasanya tidak terlalu kesulitan. Setelah kena cipratan darah, kami segera pergi ke sungai kecil untuk membersihkannya, sampai saat itu harusnya Shion juga biasa saja."


"Aah... begitu ya, Ars memang orang yang seperti itu ya. Sepertinya aku benar-benar lupa... bahwa bertanya padamu pun jawaban yang kembali pasti melenceng."


Sejak 『Parade Monster』 dimulai, Karen dan yang lain menghabiskan waktu dengan santai.


Meski berada di 『Lost Land』 yang kejam, mereka bisa menghabiskan waktu damai yang berharga di 『Kota Iblis Helheim』. Justru karena itulah sepertinya Karen terlalu menikmatinya sampai lupa.


Pergi berburu dengan Ars, hasil macam apa yang akan ditimbulkannya.


Karen yang diingatkan kembali tentang akal sehat Ars soal berburu, tersenyum manis pada Ars.


"Aku sudah tahu alasannya, jadi sudahlah."


Karen sepertinya yakin bahwa dia pasti melakukan hal yang gila seperti biasa.


Kesan Ars yang bilang 'menyenangkan' atau 'biasa saja' sering kali merupakan siksaan bagi orang lain, itu bukan hal langka. Karena itu, dalam hal itu perasaan mereka tidak akan pernah bisa sejalan.


"Ya ya, anggap saja pembicaraan tadi tidak pernah ada, ayo makan mumpung belum dingin."


Sepertinya naluri Karen menyadari bahwa dia tidak boleh mengulik masalah ini lebih dalam.


Mengejar lebih jauh berarti akan terseret. Dari pengalaman selama ini, Karen ingat bahwa jika salah bicara, besok bisa jadi gilirannya.


Ars yang pembicaraannya dipotong paksa merasa heran, tapi keraguannya terdorong ke sudut otak oleh tangan yang terulur dari samping.


"Ars-san, permisi."


Elsa yang duduk di sebelah kiri, menata piring kecil berisi makanan yang sudah diambilkan di depan Ars.


Lebih tepatnya, piring-piring itu agak condong ke arah Yulia yang duduk di sebelah kanan Ars. Terlebih lagi, saat Ars ingin mulai makan, dia mencari-cari tapi tidak menemukan alat makan seperti garpu atau pisau dalam jangkauan tangannya.


Sementara itu, Karen yang duduk di depan, serta Legi dan Shigi sedang menyantap makanan kesukaan mereka masing-masing.


"Silakan, Yulia-sama, ini alat makan Ars-san."


"Terima kasih."


Elsa menyerahkan garpu dan pisau kepada Yulia yang duduk di sebelah kanan Ars.


Ars tidak bisa memahami situasinya, dia hanya membolak-balikkan pandangannya di antara mereka berdua.


"Aa~... maaf. Boleh aku tanya apa yang sedang kalian lakukan?"


Ars jarang merasa goyah, tapi kejadian aneh ini sepertinya memaksanya untuk kebingungan. Karen, Legi, dan Shigi juga menatap ke arah kelompok Ars dengan heran, menandakan bahwa mereka pun tidak mengerti apa yang sedang terjadi.


Menanggapi kebingungan Ars dan yang lainnya, Yulia memiringkan kepalanya dengan imut.


"Anu, tentu saja makan, lho. Seharusnya Elsa sudah memilihkan makanan kesukaan Ars semua... apa ada makanan yang tidak kamu suka?"


"Yulia-sama, Ars-san memang punya makanan kesukaan, tapi tidak ada yang tidak dia sukai, kok. Sejak bertemu sampai hari ini, saya sudah menelitinya dengan membiarkan beliau memakan berbagai masakan. Terlebih lagi, karena saya yang mengatakannya, tidak mungkin salah."


Terhadap Yulia yang bertanya seolah mengintip reaksi Ars, Elsa menyangkal seolah-olah itu tuduhan yang tak masuk akal. Fakta bahwa dia bisa memastikan padahal bukan orang yang bersangkutan, itu adalah momen di mana bisa dipahami betapa Elsa mengurus Ars setiap hari.


"Bukan, bukannya ada makanan yang tidak kusuka sih... hanya saja, aku penasaran kenapa pisau dan garpuku dipegang Yulia."


"Karena aku yang akan menyuapimu, lho?"


Hanya Elsa yang mengangguk pada kata-kata Yulia yang diucapkan seolah itu hal yang wajar.


"Tidak, tidak perlu, kan?"


Belakangan ini dia sudah terbiasa menggunakan alat makan, dan dibandingkan beberapa bulan lalu saat diajari Yulia, kemampuannya seharusnya sudah jauh meningkat. Karena itu, tidak perlu meminta Yulia menyuapinya lagi, lagipula di sini hanya ada kenalan, jadi kalaupun gagal secara etika makan tidak akan jadi masalah.


"Atau jangan-jangan, yang dipegang Yulia itu hanya terlihat seperti pisau dan garpu, tapi sebenarnya benda lain?"


Dia pikir karena ini 『Kota Iblis Helheim』 mungkin ada alat makan yang unik, tapi Yulia segera menggelengkan kepala menyangkalnya.


"Tidak, ini pisau dan garpu biasa, kok."


"Kalau begitu, tidak masalah. Aku juga sudah berkembang. Aku sudah ingat cara pakainya."


Dia mengulurkan tangan untuk meyakinkan, tapi Yulia tidak melepaskan pisau dan garpu itu.


"Tidak boleh. Ars sedang terluka, jadi hari ini biar aku yang suapi, ya."


"Tidak, aku tidak terluka."


"Saat aku periksa tadi, ada luka di jari telunjuk tangan kananmu, lho."


Ditegur Yulia, Ars mencoba melihat tangannya sendiri.


Lalu, menemukan luka yang dia ingat penyebabnya, Ars tersenyum pahit.


Sesuai perkataan Yulia, hanya selembar kulit tipis——bukan luka yang sampai berdarah, dan sama sekali tidak sakit, luka kecil yang sepele ada di ujung jarinya.


Namun, menyebut ini sebagai "luka" itu terlalu berlebihan.


Jika mengklaim hal seperti itu, bahkan orang suci pun akan tertawa mengejek.


Terlebih lagi, itu bukan luka akibat bertarung dengan monster, melainkan tergores saat menyentuh mata pisau dari senjata sendiri——belati yang dialiri sihir.


"Tapi hebat juga kamu bisa menemukan luka seperti ini."


"Tentu saja. Karena aku memperhatikan Ars setiap hari, aku tidak akan melewatkan perubahan sekecil apa pun termasuk kondisi fisikmu. Selain itu bukan hanya aku, Elsa juga menyadarinya, lho."


Pada Yulia yang membusungkan dada dengan wajah bangga, Elsa mengangguk seolah berkata "memang hebat".


Melihat kedua orang itu, Karen dan yang lainnya yang duduk di seberang menatap dengan wajah kaku.


"Hei, Karen... kakakmu itu aneh tidak sih? Terus, apa Elsa-san juga memang begitu? Rasanya dulu dia lebih dewasa... anggun dan seperti sosok panutan, deh."


Saat Shigi menyuarakan perasaannya dengan jujur, Karen tersenyum pahit karena sepertinya dia tidak bisa menyangkalnya.


"Hmm... memang Onee-sama mungkin sedikit terlalu protektif, ya. Lalu Elsa yang dimaksud Shigi mungkin Elsa yang berbeda. Soalnya, Elsa yang aku tahu selalu seperti itu."


"Eeh... sudah melihat itu tapi pemahamannya cuma segitu. Apalagi, Elsa-san yang begitu itu dianggap normal, ya."


"Aku tidak begitu paham bagian 'yang begitu itu', tapi kalau Onee-sama dan yang lain memang selalu seperti itu lho?"


"Aa... begitu ya... kalau begitu sepertinya lebih baik dibiarkan saja ya."


Shigi kembali menatap ke arah Ars dan yang lain, tapi mereka masih berdebat soal luka di tangan.


"Ini bukan sesuatu yang bisa disebut luka kan."


"Tidak boleh. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi, jadi untuk jaga-jaga hari ini jangan memaksakan diri."


Tak lama, mungkin karena merasakan tekad Yulia yang keras, Ars menghela napas sekali lalu mengangkat bahu.


"Baiklah. Kalau begitu, hari ini biar aku disuapi Yulia."


Bukan berarti dia malu.


Kadang dia diminta agar mau disuapi Yulia, jadi dia sudah terbiasa.


Namun, dalam akal sehat yang diajarkan Elsa, saling menyuapi itu memakan waktu, jadi dia diajari untuk memilih waktu agar tidak merepotkan siapa pun.


Karena itu, mungkin perlu izin sekadar formalitas, jadi Ars menatap Elsa.


"Yang pertama tentu saja menggunakan daging monster Area Dalam——apakah Eisbein, atau mungkin Schnitzel... atau apakah German Potato lebih mudah dimakan?"


Mungkin Yulia dan Elsa akan bergantian menyuapinya.


Elsa sudah sedang memilih masakan apa yang akan disuapkan ke Ars.


Ngomong-ngomong, sepertinya para wanita senang memikirkan apa yang ingin dimakan Ars, jadi dari pengalaman selama ini dia paham bahwa saat seperti ini sebaiknya diam mengawasi tanpa mengganggu.


Bicara yang tidak perlu hanya akan merusak suasana hati, jadi Ars cukup diam dan disuapi saja.


Tapi, karena senggang sampai mereka memutuskan mau menyuapi apa, Ars teringat hal yang diminta Shion, jadi dia memutuskan untuk menyampaikannya.


"Karen, sebentar, aku titip pesan dari Shion."


Saat pulang tadi Shion mungkin sadar kesadarannya mulai kabur.


Makanya, sebelumnya——saat masih sehat, dia menitipkan pesan pada Ars.


"Umm, apa ya...?"


Sambil menyobek roti, Karen menatap dengan cemas.


"Lanjutan cerita tadi, ingat bagian kami pergi ke sungai kecil?"


"Yang kena cipratan darah gara-gara menyentuh 'Ball Bomb, Meebo' itu kan. Memangnya kenapa?"


"Lalu kami pergi ke sungai kecil di dekat situ, tapi di sana ada Mahkota Kedua dari 12 Supreme Mage Kings, Lilith."


Seketika udara membeku.


Keheningan yang seolah memicu sakit kepala, udara tegang yang memancing kecemasan.


Hanya dengan menyebut nama satu Demon Lord, makan tenang itu seketika dikuasai suasana mencekam. Yulia di sebelah kanan juga meletakkan alat makan di meja dan memasang ekspresi serius, Elsa di sebelah kiri juga jarang-jarang wajahnya berkerut masam.


Shigi memegangi kepala seolah tak ingin dengar, dan kakaknya, Legi, mematung dengan mulut terbuka dan wajah bengong.


"......Kalian bertemu Demon Lord Lilith?"


Karen yang pertama kali sadar kembali, meletakkan roti yang sudah disobek ke piringnya tanpa memakannya, dan menatap Ars dengan ekspresi serius.


"Ya, sepertinya dia menyentuh 'Ball Bomb, Meebo'. Sepertinya kami bertemu saat dia sedang membersihkan cipratan darah di sungai kecil."


"Masa Mahkota Kedua ada sendirian? Pengawalnya?"


"Sendirian tuh. Kamu tahu kan telingaku tajam? Aku sudah memeriksa sekitar tapi tidak ada pengawal."


"...Aku tidak paham kenapa Demon Lord Lilith ada sendirian di tempat seperti itu, tapi kalian tidak bertengkar atau semacamnya kan?"


"Sejauh yang kulihat dari ekspresinya sih aku tidak merasa dia marah atau semacamnya. Yah, bisa dibilang dia bersahabat kok."


"Mungkin saja kita akan bertemu Demon Lord Lilith tiba-tiba di Kota Iblis. Mungkin Shion-san meminta Ars-san menyampaikan pesan agar kita tidak terkejut."


Elsa menambahkan kata-kata Ars.


"Benar juga. Meski bertemu di kota rasanya dia tidak akan melakukan apa-apa, tapi kalau tahu sebelumnya bahwa dia tinggal di Kota Iblis, kita bisa menghindari kesalahan fatal."


"Kalau percaya rumor, harusnya tidak apa-apa, kan? Kudengar untuk ukuran Demon Lord, dia pemilik hati yang toleran. Lalu rumor yang sering kudengar itu dia Demon Lord tertua dan wanita cantik yang umurnya tidak diketahui."


Saat Shigi bereaksi terhadap kata-kata Karen, Yulia yang diam dari tadi menempelkan jari telunjuk di dagu dan angkat bicara.


"Seharusnya dia berpartisipasi dalam pertemuan Demon Lord yang diadakan beberapa hari lalu... karena dia juga harusnya sudah menyelesaikan permintaan paksa, bukankah tidak wajar dia muncul di Kota Iblis dalam waktu sesingkat ini?"


"Demon Lord itu kan kumpulan ketidakwajaran, jadi tidak bisa dibilang begitu juga kali ya... Ngomong-ngomong soal pertemuan Demon Lord, sepertinya Demon Lord Grimm tidak ikut, tapi Kirisha-chan menggantikannya, dan sekarang dia ada di Kota Iblis, kan. Demon Lord itu timbul tenggelam tak terduga, ini sudah pengetahuan umum lho."


Seperti kata Shigi, Demon Lord itu cuma gerombolan orang egois.


Meski dibilang tiba-tiba muncul pun rasanya tidak aneh, tapi Yulia sepertinya belum yakin meski mendengar penjelasan Shigi, dia memasang ekspresi masam.


"Ah, omong-omong, bicara soal Demon Lord Grimm, anggota guild-nya datang membawa pesan, katanya waktu Ratu Hel sudah bisa dipastikan, jadi pesta perayaan diputuskan akan diadakan empat hari lagi lho."


"Grimm tidak datang?"


"Katanya sih 『Antitesis Buangan』 muncul di Area Tinggi. Sepertinya dia pergi menaklukkannya hanya dengan membawa para petinggi."


"Hee... ternyata terjadi hal yang kelihatannya seru saat aku pergi berburu ya."


"Hei hei, jangan bilang Ars juga mau mencarinya lho."


"Tidak boleh?"


"Tentu saja, aku berani jamin kalau Ars pergi mencari 『Antitesis Buangan』 atau semacamnya, kamu tidak akan pernah pulang lagi."


"...Tidak, aku tidak berniat mencarinya sampai segila itu kok."


Ars terpaksa tersenyum pahit melihat penolakan para wanita yang dipimpin Karen saat dia bilang mau pergi berburu. Meski tidak diucapkan, tekanan dari kiri dan kanan Ars terasa sangat dahsyat.


Kalau dia bilang mau pergi menaklukkan 『Antitesis Buangan』——dia bisa merasakan tekad kuat bahwa mereka akan mencegahnya dengan paksa.


"Hentikan saja. Demon Lord Grimm itu terkenal dengan cerita bahwa dia tidak akan menyerahkan mangsanya pada siapa pun——terutama 『Antitesis Buangan』 di antara para Iblis."


Bahkan terhadap 『Antitesis Buangan』 yang muncul di negara lain pun, Grimm menaruh dendam sampai-sampai dia datang langsung untuk menaklukkannya.


Itu salah satu cerita terkenal di Kota Sihir.


Dulu ada satu guild yang membanggakan kekuatan besar di Kota Sihir.


Namun, mereka yang membanggakan kejayaan itu dihancurkan dengan mudah oleh tangan 『Antitesis Buangan』.


Korbannya adalah Grimm dan Kirisha, dan merekalah satu-satunya yang selamat.


Kirisha yang masih kecil katanya tidak ingat tragedi itu, tapi Grimm yang sudah mengerti keadaan dikatakan menyaksikan orang tua dan saudaranya dibunuh.


Guild yang bersaing di peringkat satu atau dua di Kota Sihir hancur——guncangan itu menggetarkan seluruh dunia, dan merupakan insiden yang membuat banyak orang menyadari kembali bahayanya 『Antitesis Buangan』.


"Kalau begitu, sepertinya tidak ada giliran buatku, ya."


Bukan berarti dia ingin bertarung dengan 『Antitesis Buangan』 sampai harus merebutnya dari Grimm.


Bagi Ars, dia cukup mendengar kesan pertarungan nanti——apakah mereka menggunakan sihir yang tidak diketahui atau tidak.


"Serahkan saja pada Grimm. Dulu bahkan sempat ada masa dia berkeliling dunia bilang mau membabat habis 『Antitesis Buangan』."


Memang tindakan Grimm setelah naik ke takhta Demon Lord tiga tahun lalu itu mudah dibayangkan.


Pertama, dengan latar belakang kekuasaan mutlak sebagai Demon Lord, Grimm mulai membasmi 『Antitesis Buangan』 yang tersebar di seluruh dunia. Namun, karena takut akan kedatangan Grimm, banyak negara tidak menyambut kedatangannya.


Meski begitu, berkat dukungan 『24 Council Keryukeion』 dan pengaturan cerdik dari ajudannya, Christof, Grimm bisa menginjakkan kaki secara paksa ke negara lain.


Akhirnya, banyak 『Antitesis Buangan』 yang berhasil ditaklukkan oleh tangannya, tapi dampak pertarungan itu membawa kerusakan besar pada kota dan desa di sekitarnya.


Namun, secara tak terduga, kekuasaan Grimm yang memicu situasi ini justru semakin meningkat.


Karena 『Antitesis Buangan』 yang selama ini dibiarkan telah dimusnahkan, kemampuan Grimm sebagai Demon Lord menjadi tak terbantahkan.


Pengalaman sukses itu dan obsesi terhadap 『Antitesis Buangan』 semakin memperbesar bayangan gelap yang menyelimuti Christof, ajudan Grimm, memicu tragedi eksperimen 『Tiga Taboo Terbesar』, dan berakhir mencekik leher Grimm sendiri, sungguh ironis.


"Benar kata Karen. Ars, kali ini biarkan saja kita serahkan pada Grimm."


Karen juga begitu, tapi Yulia juga tidak menggunakan honorifik untuk Grimm.


Secara kepribadian Karen tidak terasa aneh, tapi dalam kasus Yulia yang tidak pernah lupa menggunakan bahasa sopan pada siapa pun, ketidakwajaran itu sangat menonjol.


Wajar saja, karena Yulia menyimpan dendam kesumat pada Grimm.


Insiden perebutan Shion dengan Demon Lord Grimm masih segar dalam ingatan.


Karen bertindak sendirian untuk menyelamatkan Shion, tapi saat itu dia dipukul dalam pertarungan melawan Grimm. Meski tidak meninggalkan bekas, Ars ingat pipinya bengkak menyakitkan.


Artinya, Yulia masih belum memaafkan kejadian saat Karen dilukai.


"Ngomong-ngomong, apa pihak Kota Iblis tidak akan kesulitan kalau Grimm mengalahkan 『Antitesis Buangan』?"


Terjadinya 『Parade Monster』 beberapa hari lalu. Kejadian itu dikatakan dihentikan oleh Demon Lord Grimm——Asosiasi Sihir. Sebaliknya, Kota Iblis tidak mengirim satu penyihir pun, mengurung diri di dalam tembok raksasa, dan hanya menonton kejadian dari tempat aman.


Ada banyak suara kritik terhadap sikap pengecut itu, dan demi meredam suara masyarakat tersebut, Kota Iblis mengumumkan akan mengadakan pesta perayaan.


"Kali ini sepertinya dia pergi atas inisiatif sendiri, dan pihak Kota Iblis juga menunjukkan gelagat sedang mencari 『Antitesis Buangan』... jadi kalaupun Grimm mengalahkan 『Antitesis Buangan』, bagi pihak Kota Iblis mungkin cuma berakhir dengan ucapan terima kasih saja, kan?"


Karen menjawab pertanyaan Yulia.


Lalu, Shigi yang sudah selesai makan dan minum teh dengan wajah bahagia menambahkan kata-kata.


"Kurasa begitu. Lagipula, pihak Kota Iblis mengadakan pesta perayaan saja sudah aneh sih. Selama ini tidak pernah ada hal seperti itu, jadi tiba-tiba bersikap ramah begitu malah terlalu mencurigakan dan menakutkan, ya."


Meski dihujani kritik dari negara-negara seluruh dunia, selama Kota Iblis berada di 『Lost Land』, posisinya tak tergoyahkan. Malahan, karena takut memancing kemarahan, para pemimpin negara besar justru lebih memilih diam.


Namun, Shigi bilang kali ini saja yang aneh.


"Sejak Kota Iblis berdiri lebih dari dua ratus tahun lalu, kejadian serupa pasti sudah sering terjadi. Tapi, cuma kali ini mereka mengadakan pesta perayaan demi kita untuk mengalihkan kritik, bukankah itu aneh? Padahal tinggal abaikan saja dan bilang tidak ada hubungannya dengan kami seperti biasa, tapi malah menanggapi suara kritik yang sedikit itu, angin apa yang sedang bertiup..."


"Apa Shigi-san berpikir Ratu Hel sedang merencanakan sesuatu?"


Shigi mengangguk mantap pada pertanyaan Yulia.


"Pasti ada sesuatu dong, sampai-sampai mengubah kebijakan selama ini demi mengadakan pesta perayaan... Aah... rasanya benar-benar jadi suram memikirkan empat hari lagi. Meski sudah terlambat, apa aku saja tidak bisa absen ya?"


Karen tersenyum pahit pada Shigi yang tampak malas.


"Jelas tidak mungkin lah. Pihak sana sudah menunjuk tiga guild, jadi mana mungkin salah satu pemimpinnya bisa absen."


"Aah~... padahal menurutku Onee-chan saja sudah cukup lho..."


Shigi menatap Legi yang terus makan dalam diam.


Legi sang kakak termasuk lambat makannya.


Makanya, meski Shigi sudah selesai makan, dia tidak ikut mengobrol dan terus makan dalam diam sambil mengunyah dengan mulut bergerak-gerak lucu.


Diperlihatkan sosok seimut itu, Shigi tidak tega menghentikannya untuk diajak bicara, jadi dia menghela napas pasrah lalu menenggak tehnya sampai habis.


"...Yah, lagipula sasarannya bukan kami, jadi tidak apa-apa sih."


Setelah melontarkan ucapan penuh makna itu, Shigi mengarahkan pandangan pada orang yang duduk di seberangnya——Yulia dan Ars.


"Pasti salah satu dari dua orang ini. Soalnya, kalau cuma kami saja tidak pernah ada masalah kok. Sejak bertemu dua orang ini lho. Berbagai hal terjadi, makanya, penyebabnya sudah pasti dua orang ini!"


"Itu.................. aku tidak bisa bilang tidak mungkin, ya."


Karen mencoba menyangkal teguran Shigi, tapi dia merasa itu tidak sepenuhnya salah.


Karena memang benar sejak mereka berdua datang ke Kota Sihir, Karen telah menghabiskan waktu yang terlalu padat.


"Soalnya, Yulia kan pemilik Gift langka [Light]. Apalagi, dia itu pemilik sistem 'Putih'. Makanya, aku pernah dengar rumor kalau dia diincar para Elf. Yah, tapi, itu ada bagian yang tak bisa diapa-apakan juga sih... orangnya sendiri tidak bisa berbuat apa-apa soal itu. Ya, makanya Yulia tidak perlu memikirkannya. Tapi ya——"


Shigi memutus kata-katanya lalu menunjuk Ars.


"Masalahnya itu kamu! Tidak tahu diri banget mengaku sebagai 『Essence of Magic, Mimir』. Itu sama saja seperti berteriak 'saya adalah buronan', tahu. Coba posisikan dirimu sebagai pihak yang terseret masalah dong!"


Raungan amarah Shigi. Argumen telak yang tak terbantahkan itu membuat semua orang terdiam.


Di tengah situasi itu, satu-satunya yang tidak peka suasana hanyalah Legi yang terus makan dengan mulut bergerak-gerak lucu.


Dia melihat sosok adiknya yang marah, matanya seolah ingin berkata 'hari ini pun dia bersemangat'. Dia terus menggerakkan mulut sambil menatap Shigi yang memamerkan berbagai ekspresi wajah dengan tatapan hangat.


"Entah palsu atau asli, penyihir yang identitasnya tidak diketahui tiba-tiba muncul pasti bikin penasaran, kan. Lagipula Kota Iblis juga harusnya pernah jadi korban 『Essence of Magic, Mimir』!"


"Shigi-san, tidak apa-apa kok."


Kata Elsa.


"Kalau mereka benar-benar menganggap Ars-san adalah 『Essence of Magic, Mimir』, Kota Iblis pasti berusaha menangkapnya dengan kekuatan penuh, dan tidak akan bicara santai mau mengadakan pesta perayaan. Selain itu, meski kunjungan kali ini ada hubungannya dengan 『Essence of Magic, Mimir』, jika dilihat dari situasi sekarang, saya rasa mereka baru dalam tahap mencurigai Ars-san."


Melihat Elsa menjelaskan sambil memotongkan masakan untuk disuapkan ke Ars, semangat Shigi sepertinya kendor, dan dia menghela napas pasrah.


"Memang benar sih kata Elsa-san... Haa... Ars, kamu hati-hati dengan ucapan dan tindakanmu. Ini 『Kota Iblis Helheim』, lebih baik anggap semua di sekelilingmu adalah musuh."


Fakta bahwa teknik rahasia 『Kota Iblis Helheim』 dicuri oleh 『Essence of Magic, Mimir』 sudah menjadi rahasia umum, dan kemarahan dahsyat yang ditunjukkan Ratu sudah diketahui luas.


Berkaitan dengan insiden ini, para penganut Ratu——para ajudan yang biasa disebut 『Six Desire Heavens, Schtern』 juga menampakkan kemarahan yang meluap-luap.


Rumornya mereka sangat murka karena Ratu yang menjadi objek pemujaan mereka dinodai, dan demi membalas penghinaan ini, mereka masih sibuk berlarian mencari 『Essence of Magic, Mimir』.


"Orang-orang berbahaya seperti 『Six Desire Heavens, Schtern』 bakal mengincarmu, jadi hati-hati lho. Walau kalau kamu sih kayaknya bakal menyambut serangan mereka dengan senang hati, ya."


Dilihat dari kepribadian Ars, pilihan untuk melarikan diri sulit dibayangkan.


Diprediksi Ars akan menghadapi musuh dari depan dengan sikap gagah berani, bertarung dengan mengerahkan kekuatan dan tekniknya. Dan, jika dia berhasil meraih kemenangan, itu tidak akan menjadi kemenangan terakhir baginya. Malahan akan menjadi langkah pertama yang terhubung ke pertarungan tanpa akhir. Sekali menang, Ars akan terus-menerus dikejar oleh Iblis setiap hari.


"Benar juga. Tidak enak kalau menyeret Shigi, aku akan berhati-hati."


Melihat senyum Ars yang begitu cerah, Shigi memberikan tatapan dingin.


"Dibilang begitu dengan senyum seperti itu, sama sekali tidak meyakinkan tahu..."


"Maaf. Soalnya kalau memikirkan mungkin bisa melihat sihir yang tidak diketahui, aku jadi bersemangat."


Meski menerima tatapan dingin Shigi, ekspresi Ars tidak berubah sedikit pun, justru semakin cerah, suaranya bahkan terdengar riang. Di dalam hatinya, betapapun dingin tatapan yang diarahkan padanya, di balik senyum itu bersemayam kepercayaan diri dan harapan yang tak tergoyahkan.


"Bukan, lawannya itu 『Six Desire Heavens, Schtern』 lho... malah senang, apa kamu waras——eh, aaah! Sudah ah! Konyol sekali mengkhawatirkanmu! Karena ini Ars, ya sudahlah!"


Shigi menggebrak meja dengan kedua tangan sekuat tenaga lalu berdiri.


"Aku capek meladeni kalian, aku mau mandi saja!"


"Kalau begitu, aku juga ikut."


Menyusul Shigi yang bicara dengan nada masa bodoh, Karen juga mengikuti di belakangnya.


"Boleh juga, ayo masuk bareng. Lagipula karena kamarnya sebanyak ini, bak mandinya pasti luas, kan? Tempatku tidak sempit sih, tapi karena kamar berdua jadi tidak terlalu mengejutkan."


"Onee-chan juga ikut, tunggu~"


Legi yang akhirnya selesai makan mengejar mereka berdua.


Rombongan itu menuju kamar mandi dengan berisik, tapi entah kenapa Shigi berbalik badan dengan penuh semangat.


"Ars, kamu tidak boleh masuk seperti waktu itu ya! Aku benar-benar akan marah lain kali!"


Saat baru bertemu Legi dan Shigi, mereka pernah datang menginap di markas besar "Guild Villeut", 〈Villeut Sisters Lampfire〉.


Waktu itu mereka menggunakan kamar mandi, tapi saat Ars menerobos masuk, mereka berteriak, jadi sebagai permintaan maaf dia memberikan pijatan, tapi akhirnya malah ditolak mentah-mentah untuk tidak boleh masuk bersama lagi.


"Beda dengan waktu itu, teknik pijatku sudah berkembang lho. Sekarang harusnya tidak akan bikin tidak puas seperti waktu itu."


"Bukan itu masalahnya! Kenapa sebagai permintaan maaf harus dipijat telanjang! Lagipula, hal mesum itu bukan pijat namanya!"


Sambil menyangkal total dengan wajah merah padam, Shigi menuju ke kamar mandi.


Yang buru-buru mengejar di belakangnya adalah Karen dan Legi.


Setelah mengantar kepergian mereka bertiga, Ars menatap Elsa, sang guru pijat.


"Ars-san. Tidak apa-apa kok. Shigi-san baru merasakannya sekali jadi dia belum sadar bagusnya pijatan itu. Nanti kalau dia keluar dari kamar mandi, tolong pijat dia."


"Tidak... dia menolak dengan sangat keras lho..."


"Tidak, itu pasti karena dia malu dan menutupi perasaannya."


Setelah mengatakan itu, Elsa memperlihatkan garpu dan pisau.


"Daripada itu, mari makan. Kalau semakin dingin nanti jadi tidak enak lho."


"Kalau begitu, silakan makan punyaku dulu."


Seolah berkata sudah menunggu ucapan Elsa, Yulia menyodorkan garpu yang sudah ditusukkan daging.


Sepertinya dia memang tidak bisa makan sendirian, jadi Ars pasrah dan membiarkan Yulia dan Elsa menyuapinya.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close