NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Munou to Iware Tsuzuketa Madoushi, Jitsu wa Sekai Saikyou Nanoni Yuuhei Sareteita node Jikaku Nashi V5 Chapter 5

 Penerjemah: Nels

Proffreader: Nels


Chapter 5

Menuju ke Depan

"Bocah kurang ajar."


『Antitesis Buangan No. III』 Huningnir tidak memiliki kesan lain selain itu setelah melihat sikap bocah berpakaian hitam tersebut.

Memang, entah karena sudah terbiasa dengan medan tempur, dia memiliki aura yang tenang untuk seusianya.


Namun, entah kenapa aku tidak merasa dia kuat.


Saat mengukur kekuatan sihirnya pun hanya setengah atau sepertiga dari milikku.


"Dengan kemampuan segitu kau mengaku sebagai 『Essence of Magic, Mimir』?"


Itu adalah penyihir yang dianggap terkuat di dunia. Nama yang bahkan diketahui oleh 『Antitesis Buangan』.


Mungkin bahkan jika bertanya di desa di ujung dunia sekalipun, jika menyebut nama 『Essence of Magic, Mimir』, semua orang pasti mengenali keberadaan itu.


Bisa dibilang dia adalah legenda hidup.


Memang jika hanya bicara soal sikap Ars, mungkin setara dengan yang terkuat di dunia, tapi saat ini Huningnir tidak merasakan intimidasi maupun aura keberadaan sebesar itu.


Meski begitu, tidak salah lagi bocah di hadapannyalah yang tadi menghempaskannya dengan pukulan dahsyat. Namun, dia sama sekali tidak merasakan kekuatan dari Ars, sampai-sampai dia berpikir kejadian itu mungkin hanya ilusi.


"......Bocah aneh."


Terlalu tenang.


Perawakannya yang seolah memanifestasikan ketenangan diri itu tampak seperti pertapa yang telah menjalani latihan selama bertahun-tahun lamanya.


"Yah, dipikirkan juga percuma."


Pertama-tama serangan percobaan, Huningnir melancarkan tendangan.


Namun, Huningnir terkejut karena serangan itu dihindari dengan mudah.


Akan tetapi, cara menghindarnya seperti amatir, tidak terasa adanya hasil latihan di sana.


Memang aneh, ada perasaan tidak enak seolah dia melewatkan sesuatu yang penting.


Dipikirkan bagaimanapun gerakannya seperti amatir, tapi tidak bisa ditangkap. Rasanya seperti sedang disihir.


"......Gift ya?"


Ada Gift yang mengacaukan panca indra.


Kalau itu, situasi saat ini bisa dijelaskan, tapi rasa janggal ini tidak bisa hilang.


"Tidak, Gift-ku bukan sesuatu yang mengacaukan panca indra kok."


"Kalau begitu, kenapa seranganku tidak kena——Gah!?"


Darah menyembur dari dada Huningnir yang ditebas belati setelah pukulannya dihindari.


"......Apa maksudnya ini?"


『Antitesis Buangan No. III』 kebingungan.


Aneh, semuanya aneh.


Dia tidak mengerti kenapa dirinya terluka.


Seharusnya itu sudah pasti ditahan oleh 『Dinding Sihir』.


Seharusnya dinding itu memiliki ketebalan yang tak bisa ditembus oleh sihir selevel Ars, tapi tahu-tahu darah sudah menyembur. Semua serangan dari sini dinetralisir, sedangkan serangan dari sana mengenai sasaran dengan mudahnya.


"Sebenarnya apa yang terjadi!? Sebenarnya apa Gift-mu itu!?"


Penyebabnya pasti hanya Gift.


Dia tidak percaya ini adalah perbedaan kemampuan.


Huningnir telah lolos dari berbagai medan pembantaian dan memukul mundur banyak penantang.


Hasilnya, dia menjaga harga dirinya sebagai 『Antitesis Buangan』, dan mempertahankan angka "III" dengan kekuatan itu.


Huningnir sudah mencapai ranah ahli, jadi serangan amatir tidak mungkin mengenainya.


"[Hearing]——Gift yang cuma telinganya tajam saja."


"Agah!?"


Saat mengetahui nama Gift yang belum pernah didengarnya itu, dia diserang guncangan yang menembus organ dalamnya.


Saat menunduk mencari tahu apa itu, terlihat tinju yang menghujam ulu hatinya.


Kekuatan yang tak terpikirkan dimiliki manusia.


Bocah itu memiliki tenaga fisik yang terlalu tidak masuk akal.


Apakah dia serius atau hanya bermain-main, bahkan itu pun tak bisa dipahami.


Apa sebenarnya yang sedang dia hadapi, 『Antitesis Buangan No. III』 hanya bisa merasa bingung.


"Sebenarnya apa kau ini. Apa kau benar-benar manusia?"


"Manusia kok."


"......Begitu ya, kalau begitu aku harus mengubah pandanganku."


Tadi, bocah itu mengatakannya. Dengan senang dia menyebut dirinya sebagai 『Essence of Magic, Mimir』.


Dia pernah mendengarnya. Hanya saja belum pernah melihatnya.


Legenda 『Essence of Magic, Mimir』 adalah keberadaan yang diragukan apakah benar-benar nyata atau tidak.


Tidak ada cara memastikan itu benar atau bohong.


Apakah perkataan bocah itu benar? Namun, jika meragukannya, alasan di balik kekuatan di luar nalar itu akan hilang.


"Penyihir terkuat di dunia ya... Hah, sepertinya aku benar-benar dapat sial."


Kedalaman kekuatan bocah itu tak bisa diukur.


Semakin diladeni, semakin dia merasa mustahil untuk menandinginya. Kecemasan kian membesar.


Namun, saat berhadapan, dia merasakan kekuatan sihir bocah itu yang hampir nol, membuat pikirannya kacau bertanya-tanya apakah ini cuma salah paham dirinya saja.


Satu hal yang pasti, dia adalah monster.


Yang ada di hadapannya bukan sekadar bocah biasa, bukan pula penyihir terkuat di dunia.


Melainkan sesuatu yang berbalut kulit manusia.


"Sialan, dasar 『Antitesis Buangan No. I』. Apanya yang pekerjaan mudah."


Mengumpat pun tidak akan memutar kembali waktu.


Intinya dia bodoh karena mau-mau saja menerima nasib sial ini.


Karena itu——,


"Mau tak mau harus serius, ya..."


Kalau terus meladeninya begini, dia bakal dibunuh.


"Maaf ya. Izinkan aku minta maaf karena sudah meremehkanmu."


Aliran deras sihir dahsyat yang terpancar dari Huningnir menyebar seolah menutupi langit. Kekuatan sihir itu mengamuk bagaikan badai, membelah udara di sekitar, memancarkan kekuatan mutlak seolah mendominasi segalanya.


Besarnya kekuatan sihir yang menyebar di langit memunculkan suasana mengerikan seolah badai sedang mendekat. Aliran sihir itu berlanjut tanpa ujung, terasa meluas hingga ke seberang cakrawala.


"Gift-ku adalah [Storm]. Mulai sekarang dunia akan mengamuk."


Huningnir mulai merapalkan mantra dengan lantang.


"Meledaklah, segala ciptaan darah dan daging. Binatang buas yang jatuh dalam kegelapan. Keputusasaan dan ketiadaan harapan. Dosa berulang. Lenyaplah dalam kehampaan."


Tiap kali Huningnir melontarkan kata-kata dengan kuat, sihir meledak.


Keberadaannya menempatkan segala sesuatu di sekitarnya di bawah pengaruhnya, menciptakan ilusi seolah dunia itu sendiri berada di bawah kendalinya.


"『Heavenly Domain』——Enril."



『Antitesis Buangan No. III』 Huningnir itu kuat.


Itulah kesan jujur Ars.


Meski menerima serangan dari sini, dia terus melancarkan serangan balasan tanpa henti.


Entah karena kurang konsentrasi, dia berkali-kali melontarkan ucapan lemah, tapi sifatnya yang santai itu diwarnai kekecewaan yang tak disembunyikan.


Pada dasarnya, serangan Ars ditangkis dengan baik berkat gerakan Huningnir yang matang dan pemikirannya yang unggul.


Ars sudah berkali-kali mendaratkan serangan, tapi tetap saja tidak bisa memberinya luka fatal.


Serangan pertama, dia mengayunkan belati dengan kekuatan untuk memutus lengan.


Serangan kedua, dia melancarkan tusukan dahsyat dengan niat menembus jantung.


Serangan ketiga, dia bermaksud menghantamkan tebasan kekuatan penuh agar tak menyisakan jejak apa pun.


Namun, Huningnir tetap sehat walafiat meski dihujani serangan sebanyak apa pun.


Ketangguhan tubuhnya secara nyata menunjukkan hakikat mereka sebagai Iblis.


Meski memiliki 『Dinding Sihir』, daya tahan Huningnir benar-benar mencengangkan.


Hingga kini, tak banyak yang mampu menahan serangan kekuatan penuh Ars.


Bukan, lebih tepatnya, harus dibilang kebanyakan lawan tidak meladeninya bertarung dengan serius.


Awalnya siapa pun akan lengah saat melihat sosok Ars.


Wajar saja.


Penampilan Ars itu ramping, sama sekali tidak terlihat melatih tubuhnya, dan mungkin akibat pernah dikurung, aura rapuhlah yang terpancar kuat darinya.


Karena itu, banyak yang terkecoh oleh penampilan luarnya, dan mereka yang baru pertama bertemu akan meremehkan Ars.


Sikapnya yang tak kenal takut hanya terlihat seperti sok jago, dan tingkahnya yang angkuh hanya membuat orang tertawa sinis, tanpa ada yang meladeninya dengan serius.


Karena itulah, jika hanya melihat dari permukaan, mereka salah menilai kekuatannya.


Orang-orang yang Ars hadapi selama ini, karena kelengahan mereka sendiri, menghadapinya tanpa memahami kemampuan asli Ars.


Namun, akhir yang mendatangi mereka yang meremehkan Ars akan menghancurkan mereka.


Sebab tubuh Ars, berbanding terbalik dengan penampilannya yang tampak rapuh, kokoh bagaikan baja.


Teknik, wawasan, serta tubuhnya yang terlatih, menghalangi serangan musuh tanpa ampun.


Di saat itulah, lawan akan mengetahui sosok asli Ars.


Dan, 『Antitesis Buangan No. III』 Huningnir kali ini pun bukan pengecualian.


Meski begitu, Huningnir memiliki satu perbedaan dibanding lawan-lawan sebelumnya.


"......Akhirnya, muncul juga pengguna selain diriku."


Di hadapan Ars yang bergumam, kenyataan dan ilusi bersilangan, dan kekacauan itu menyelimuti sekelilingnya.


Awan hitam pekat menutupi seluruh angkasa, dan dari kegelapan itu guruh menggelegar di kejauhan.


Suara itu bagaikan jeritan orang mati, atau memancarkan gema neraka, mengguncang cakrawala.


Menghadapi pemandangan bagaikan neraka itu——secara mengejutkan mata Ars justru berbinar, dan dia menyerahkan dirinya pada aliran deras sihir yang mencoba mencabik-cabiknya.


Di tengah situasi itu, secara perlahan di sekitar Ars, kenyataan dan khayalan mulai bercampur. Di dalam kekacauan itu, meski terpapar kesendirian, dia mempertahankan jati dirinya dengan kuat dan hawa keberadaannya semakin meningkat.


"Ya. Tidak salah lagi."


Ini berbeda dengan Albert dari 『Five Imperial Swords』 yang dilawannya saat menyelamatkan Yulia dulu.


Berbeda dengan barang tiruan semacam itu.


Niat membunuh yang menusuk kulit, tekanan yang seolah meremukkan organ dalam, dan yang terpenting, hawa keberadaan yang dahsyat.


"Haha, hebat."


Mata Ars berbinar.


Melihat sihir satu-satunya yang mengubah dunia dengan kecepatan dahsyat, dia kembali menjadi seperti anak kecil.


Inilah yang disebut——,


——『Heavenly Domain』.


Puncak sihir yang disebut-sebut sebagai titik akhir para penyihir.


Sihir pamungkas di mana mereka yang menguasainya tanpa terkecuali namanya akan terukir dalam sejarah.


Menarik kekuatan Gift secara maksimal, dan menyusun ulang dunia dengan sihirnya sendiri.


"Bagus, perlihatkan padaku dunia macam apa yang akan kau ciptakan."


Jika ini bukan Ars, orang pasti sudah pasrah akan kematian.


Bukannya menikmati situasi yang bisa disebut krisis ini, orang itu pasti hanya akan disiksa oleh keputusasaan.


Namun, dari Ars yang tertawa dari lubuk hati dengan nakal, rasa tragis semacam itu sama sekali tidak terasa.


"Aku menaruh harapan padamu, lho."


Aku ingin kamu memperlihatkan lebih banyak lagi.


Sihir yang tidak kuketahui, sihir yang hanya bisa digunakan oleh Iblis tangguh.


"......Bocah, rasa takutmu menipis karena kau punya kekuatan setengah-setengah. Sungguh menggelikan kau bahkan tak sadar sedang dalam situasi genting."


Yang muncul dari dalam tornado raksasa adalah Huningnir.


Wujudnya telah berubah drastis.


Tubuh berotot, di punggungnya tumbuh sayap kokoh seolah mengekspresikan keanggunan dan kekuatan sekaligus, bulunya berwarna-warni nan indah. Kulit ungunya tertutup sisik, bersinar memantulkan cahaya. Dua tanduk panjang mencuat dari dahi, matanya tajam bagai pisau, di mulutnya terdapat taring runcing, dan senyuman penuh kepuasan terukir di sana.


"Kalau pakai 『Heavenly Domain』, mau tak mau wujudku tercampur dengan wujud saat masih jadi monster sih. Tapi, berbahagialah. Aku menggunakan 『Heavenly Domain』 ini, artinya aku pasti akan membunuh lawanku."


Huningnir yang merentangkan kedua tangan menatap ke bawah dengan suara bernada mengejek.


Alasannya bisa dimengerti.


Tidak ada yang berpikir akan kalah setelah menggunakan sihir dahsyat bernama 『Heavenly Domain』.


Ras, bakat, tubuh, wajar saja berpikir Huningnir unggul dalam segala hal.


Namun, itu hanya berlaku jika Ars adalah orang biasa.


"Berarti aku boleh menganggap kamu bakal meladeniku dengan serius, kan?"


Sambil memandangi Huningnir yang berdiri di pusat dunia yang berubah, Ars tanpa sadar bergumam.


Lawan-lawannya selama ini tidak mengeluarkan kemampuan sesungguhnya. Begitulah yang dipikirkan Ars sendiri.


Itu disebabkan oleh berbagai kesalahpahaman dan perselisihan.


Tubuhnya ramping dan tidak terlihat terlatih, cara bertarungnya seperti amatir, dan kekuatan sihirnya secara tidak sadar disembunyikan akibat pengaruh masa kurungannya.


Karena itu, kemampuan Ars tidak akan diketahui sebelum bertarung dengannya.


Dan, meski akhirnya lawan memahami kekuatannya yang di luar nalar dan mulai serius, Ars sendiri memiliki ingatan diremehkan, jadi dia tidak menganggapnya serius.


Makanya, setelah pertarungan berakhir, Ars cenderung merasa kesal karena mengira lawan menahan diri, dan keliru menilai kekuatan lawan terlalu tinggi.


"Sikap kurang ajar itu tidak berubah meski dalam situasi begini ya... kalau sebodoh itu aku malah jadi kagum."


Huningnir yang tadi memasang ekspresi curiga, tampaknya menyerah lalu menjatuhkan bahu dan menghela napas.


"Yah, tidak dewasa rasanya pakai 『Heavenly Domain』 buat lawan bocah, tapi anggap saja aku serius."


"Begitu ya, kalau begitu, aku akan menikmatinya."


Melihat Ars yang masih saja terlihat senang, Huningnir jadi bengong.


Namun, ekspresi itu perlahan berubah menjadi kemarahan.


"Dasar brengsek. Melihat duniaku ini, kenapa kau tidak putus asa!"


Sepertinya dia kesal karena reaksinya berbeda dari bayangan.


Namun, orang yang dimarahi hanya bisa bengong.


Soalnya dia tidak tahu di mana unsur keputusasaannya.


Mulai sekarang dia mungkin akan diperlihatkan sihir yang tidak diketahuinya.


Dia mungkin bisa mendapatkan pengetahuan yang tidak diketahuinya, dan mencapai tingkatan yang lebih tinggi.


Dia bisa saja berharap dengan penuh semangat, tapi tenggelam dalam keputusasaan adalah hal yang mustahil.


"Aku kurang paham sih... tapi aku menaruh harapan padamu lho."


Saat dia tanpa sadar tersenyum karena senang, Huningnir mungkin menganggapnya sebagai provokasi, urat-urat muncul di dahinya.


"Kubunuh kau!"


Huningnir menghilang dari pandangan Ars disertai teriakan marah.


"Guh!?"


Berikutnya pandangan Ars berguncang hebat.


Tak mampu menahan guncangan di kepala bagian samping, Ars berguling-guling di tanah berkali-kali.


Saat pandangannya akhirnya normal, ketika Ars mencoba bangkit dengan bertumpu pada tangan, bentakan mengguncang gendang telinganya.


"Belum, baru mulai tahu!"


Saat menengadah merespons suara itu, Huningnir dengan wajah iblis mengayunkan tinjunya ke bawah.


Ars menyilangkan kedua lengan mencoba melindungi wajah, tapi kedua tangannya terhempas oleh guncangan dan terdorong ke atas.


"Hahaha, mana mungkin kau bisa menahannya dengan kemampuan segitu!"


Huningnir tertawa terbahak-bahak sambil meninju pipi Ars dan kembali menghempaskannya ke tanah.


Selanjutnya tendangan dilancarkan ke perut, lalu tumit dijatuhkan ke kepalanya.


Tanpa sempat berteriak, Ars terus menerima serangan itu secara sepihak.


"Bagaimana? Tidakkah menurutmu 『Heavenly Domain』 itu tidak masuk akal?"


Seberapa pun perbedaan kekuatannya, seberapa kuat pun orangnya, jika lawan bisa menggunakan 『Heavenly Domain』, situasi akan berbalik dalam sekejap.


Sihir yang tidak masuk akal, itulah 『Heavenly Domain』.


"Ke mana perginya semangatmu yang tadi! Ke mana perginya ketenanganmu tadi!"


Dia pasti sangat tidak menyukai sikap Ars. Memanfaatkan kesempatan ini, Huningnir melancarkan serangan verbal juga.


"Jangan-jangan... sudah mati?"


Melihat Ars yang disiksa secara sepihak tanpa mengerang sedikit pun, Huningnir yang memperkirakan kemungkinan tak terduga mencengkeram kerahnya, menghempaskannya ke tanah, lalu melemparnya ke tempat yang jauh.


"......Membosankan, sudah berakhir ya."


Melihat Ars yang tidak bergerak sedikit pun, Huningnir bahkan tidak menyembunyikan kekecewaannya.


"Padahal sudah bicara besar, tapi saat dicoba, ternyata mati seketika cuma karena pukulan fisik."


Huningnir melontarkan ucapan provokatif, tapi sesaat kemudian wajahnya terdistorsi.


"Ah?"


Itu karena Ars bangkit berdiri.


Seolah tidak terjadi apa-apa, Ars berdiri sambil menepuk-nepuk debu di pakaiannya.


Lalu dia menatap Huningnir dan memiringkan kepala.


"......Padahal aku ingin kamu memperlihatkan sihirmu. Serangan fisik sih tidak perlu."


Ars menerima serangan itu begitu saja hanya karena dia sedang menunggu.


Dia hanya ingin merasakan momen saat Huningnir menggunakan sihir, merasakan dahsyatnya kekuatan sihir dari penggunaan 『Heavenly Domain』 dengan tubuhnya sendiri, tapi karena cuma serangan fisik melulu, Ars jadi merasa heran.


"Aa... apa karena aku tidak menggunakan sihir duluan ya... jangan-jangan, kamu menunggunya?"


"Kau bicara apa sih. Lagipula, kenapa kau tidak terluka sama sekali?"


Huningnir kebingungan melihat Ars yang melontarkan ucapan tak masuk akal di situasi yang tidak bisa dipahaminya.


"Kalau begitu, baiklah."


Ars yang tampaknya menyimpulkan sendiri, mengarahkan ujung jari ke Huningnir.


"[Impact, Wegblasen]"


Sihir yang dilepaskan tanpa mantra itu dengan mudah menghantam Huningnir.


Huningnir sama sekali tidak lengah.


Akan tetapi, meski dengan serangan pasti menang, kemenangan yang sudah terjamin, Ars bangkit berdiri dengan tenang.


Wajar saja jika dia terperangah.


Karenanya, di situasi yang sangat tidak bisa dipahami ini, memintanya untuk terus waspada maksimal adalah hal yang mustahil.


Huningnir terhempas, tapi begitu segera bangkit, ekspresinya lebih didominasi kebingungan daripada kemarahan.


"Kalau begitu, selanjutnya mari bertarung menggunakan sihir."


Ars yang memancarkan sihir dari seluruh tubuhnya mengangkat sudut mulutnya dengan riang.


"[Impact, Wegblasen]"


"Mana mungkin aku kena sihir yang sama dua kali!"


Huningnir mendeteksi sihir yang mendekat dan mengayunkan tangannya ke atas.


"[Gale, Rettoone]"


Sihir yang dirapal tanpa mantra seolah hal yang wajar itu menimbulkan angin dahsyat.


Sihir Ars terhempas lenyap.


Akibat bentrokan dua sihir itu, gelombang kejut dahsyat menyapu bumi.


Namun, tanpa mengalihkan pandangan, keduanya melepaskan serangan berikutnya.


"[Dragon Roar, Fafnir]"


"[Tornado]"


Dua naga yang tercipta dari angin bertabrakan lalu lenyap.


Karena serangan mereka kembali seimbang, senyum Ars semakin lebar.


"...Bagus. Teruslah keluarkan sihir-sihir yang tidak kuketahui!"


Sebaliknya, wajah Huningnir justru semakin muram.


"Apa-apaan itu..."


Kata-kata yang terucap tanpa sadar itu menolak untuk memahami.


Seluruh dunia berpihak pada Huningnir.


Dengan dukungan cuaca, kekuatan sihirnya meningkat, bumi membuat pijakan Ars menjadi buruk, dan udara juga merenggut oksigen darinya serta memberikan tekanan berat pada tubuhnya.


Namun, hasilnya adalah sihir mereka saling meniadakan.


"[Mist, Nebel]"


Asap putih menyelimuti sekitarnya dan merenggut penglihatan Ars.


Namun, Huningnir sebagai penggunanya mengetahui posisi Ars dengan sangat jelas.


Demi memastikan nyawanya terenggut, Huningnir menghilangkan suara langkah kaki dan mengambil posisi di belakang Ars.


"[Thunder, Reinemear]"


Serangan petir ditembakkan bersamaan dengan gemuruh yang mengguncang bumi.


Ars menerimanya telak di punggung, dan langsung terhempas dengan kuat.


Serangan dahsyat itu sudah pasti akan merenggut nyawa.


Akan tetapi——,


"Yang benar saja."


Melihat Ars bangkit dengan ekspresi santai, keguncangan hebat terpancar di wajah Huningnir.


"Seperti dugaan, kekuatan sihir tidak keluar sesuai keinginan ya... di situasi ini aku kekurangan serangan penentu."


Ars menghela napas seolah menyerah, lalu menatap Huningnir dengan tampang sedikit bingung.


Meski saling menggunakan sihir, hasilnya saling meniadakan.


Selama berada di dalam wilayah 『Heavenly Domain』 milik Huningnir, Ars tidak bisa mengeluarkan kekuatan maksimalnya.


Jika terus bertarung begini pun hanya akan maju-mundur dan membuang waktu percuma.


"Sudah jelas, kan. Bahwa 『Heavenly Domain』 hanya bisa dilawan dengan 『Heavenly Domain』."


Saat Ars mengatakannya, Huningnir mengerutkan alis dengan curiga.


"Apa... caramu bicara seolah-olah kau sudah mencapai 『Heavenly Domain』 saja."


"Memang itu yang kubilang."


Sambil menggaruk kepala belakangnya, Ars tertawa seolah merasa repot.


"Memang benar untuk ukuran manusia kau itu kuat... tapi, apa kau paham, 『Heavenly Domain』 itu tidak bisa dicapai hanya dengan bakat."


Di laut, di gunung, menempatkan diri di berbagai lingkungan buruk, memperdalam pemahaman Gift selama bertahun-tahun, meski ratusan, ribuan, puluhan ribu penyihir mengorbankan hidup mereka, mereka tidak bisa mencapai kebangkitan Gift. Bakat, usaha, keberuntungan, menjadikan semua itu miliknya, lalu mengintip ke dalam jurang Gift, hanya mereka yang menguasainya hingga puncak yang bisa mencapai sihir pamungkas itu.


Itulah 『Heavenly Domain』.


Meski Iblis yang secara biologis mengungguli yang lain, jarang ada yang bisa menguasai 『Heavenly Domain』.


Karena itu, bagi manusia yang paling rapuh di antara semua ras, meski mengumpulkan ratusan, ribuan, puluhan ribu orang pun, mereka belum bisa menguasai Gift sampai puncak.


Buktinya, orang yang bisa menguasai Gift hingga puncak dan mempelajari 『Heavenly Domain』, yang terkonfirmasi hanya ada tiga orang.


"Apalagi, kudengar manusianya cuma satu orang... dan kabarnya dia adalah Demon Lord, jadi dilihat dari mana pun sudah pasti itu bukan kau, kan."


Huningnir menatap Ars dengan pandangan curiga.


Karena itu, Ars menjawab sambil tertawa.


"Sepertinya lebih cepat kalau diperlihatkan langsung, ya."


Ars melepaskan seluruh kekuatan sihir yang selama ini ditekannya.


Seketika——,


——Terdengar suara dunia berderit.


Sihir dalam jumlah besar yang mulai meluap dari tubuh Ars menyebar ke segala arah.


Cahaya merah mulai bocor dari mata kirinya.


"Akan kuperlihatkan duniaku."


Huningnir kaku akibat tekanan yang terlalu berat dari Ars yang tertawa sambil merentangkan kedua tangannya.


Saat Huningnir melihat sekeliling, dia menyadari bahwa dunianya sendiri sedang terinvasi.


Sedang ditimpa, dunia itu hendak diubah ulang dengan kecepatan yang dahsyat.


"Masa, benarkah... kau bisa menggunakan Heavenly Domain?"


"Ya, lihatlah baik-baik."


Ars yang menyerahkan dirinya pada sihir yang meluap itu menyunggingkan senyum penuh keberanian.


Meremas hancur segala pikiran yang mengganggu dan berkonsentrasi sepenuh jiwa. Memecahkan cangkang yang selama ini menekan dirinya.


Saat pikirannya menjadi jernih, tubuhnya menjadi ringan, dan panca indranya semakin tajam.


Kesadarannya melebur dan meresap ke dalam dunia tak berwarna.


Meski begitu keberadaannya tidak lenyap. Meski begitu jiwanya tidak lenyap.


Jiwa itu menjadi cahaya terang yang dahsyat dan terbang ke angkasa.


"Inilah Heavenly Domain-ku."


Mata kiri Ars——pupil merah itu, memancarkan cahaya yang kuat, menyilaukan, dan dahsyat.


Bocah itu mengepakkan sayap sihir satu-satunya.


"Imperial demesne expansion——"


(Heavenly Domain——)


"——Awaken Woden——"


(——"Dewa Kaisar Odin"——)


Warna yang merembes di konjungtiva bercampur, kornea berkilauan dengan warna-warni kutub.


Anting di telinga kiri yang berubah bentuk——salib terbalik bersinar cemerlang terkena semangat yang meluap-luap.


Tiang pelangi melesat ke angkasa dengan Ars sebagai pusatnya.


Langit kelabu terbelah, awan buyar, dan sihir yang membesar menjadi naga yang melahap langit.


Dunia sedang diubah ulang. Alam memainkan musik, langit bernyanyi, angin bertiup, dan bumi bersenandung.


Dunia lama dihancurkan, dan dunia baru terlahir.


Itu adalah penciptaan langit dan bumi——dunia oleh Ars, dari Ars, dan hanya untuk Ars telah bermanifestasi.


"Heavenly Domain... tanpa mantra katanya... apa kau bercanda?"


Huningnir membelalakkan mata, namun segera memasang ekspresi murka dan memelototi Ars.


"Heavenly Domain adalah keajaiban yang memanifestasikan wilayah Dewa yang memberikan Gift ke dunia ini. Melakukannya tanpa mantra... kalau itu benar aku ingin memberikan pujian dengan jujur, tapi aku tidak percaya itu benar-benar mungkin. Lagipula, membuang doa yang dianugerahkan para dewa lalu menggunakan Heavenly Domain itu hampir sama dengan penistaan."


Kata-kata tak terduga sampai ke telinganya membuat mata Ars membulat, tapi dia segera mengangguk seolah paham.


"......Kalau dipikir-pikir, apakah Iblis itu mudah terpengaruh ya?"


Jika mendengar kata Iblis, siapa pun akan membayangkan keberadaan yang kasar dan biadab.


Namun, mereka berevolusi dari monster, memperoleh kecerdasan, dan memiliki akal budi.


Meski begitu, naluri binatang tampaknya masih hidup di dalam diri mereka, dan sensibilitas mereka cenderung lebih dalam dan kuat dibanding ras lain. Karena itu, hati mereka bisa berubah drastis tergantung situasi dan lingkungan setelah berubah dari monster menjadi Iblis.


"Aku juga tidak bisa bilang orang lain sih."


Dulu saat dikurung, dunia sempit adalah segalanya bagi Ars.


Tidak tahu akal sehat, tidak punya pengetahuan umum, dan setelah keluar dalam keadaan putih bersih, dia sangat terpengaruh oleh Yulia dan yang lain.


Jika berkaca pada dirinya sendiri yang seperti itu, wajar jika Huningnir yang juga berevolusi dari monster terpengaruh oleh seseorang.


Karena itu, tidak aneh jika Iblis pun memuja para dewa, dan seperti Huningnir, mungkin Iblis juga menempuh jalan iman karena pengaruh naluri yang bersemayam dalam diri atau lingkungan mereka.


"Lagipula, Iblis terlahir akibat pengaruh miasma yang ditinggalkan para dewa, jadi mungkin wajar jika ada yang memuja mereka——ah, maaf. Ngomong-ngomong, tadi soal penggunaan tanpa mantra, ya."


Ars menyadari pembicaraan telah melenceng, dan mengucapkan permintaan maaf tanpa terlihat menyesal sedikit pun.


"Hal pertama yang kurasakan adalah kejanggalan. Aku merasa ragu pada anggapan bahwa Heavenly Domain adalah titik akhir bagi seorang penyihir."


Penyihir yang telah menguasai Gift akan diundang ke wilayah kekuasaan dewa yang memberikannya.


Di sana, dengan berdialog bersama dewa, mereka bisa dianugerahi Heavenly Domain.


"Ragu, katamu? Tidak perlu merasakan hal semacam itu, kan. Aku tidak tahu dari dewa mana Gift-mu dianugerahkan, tapi Heavenly Domain adalah sihir pamungkas yang belum tentu bisa dikuasai meski mempertaruhkan seluruh hidup. Taruhlah itu memang meragukan, tapi apa hubungannya dengan penggunaan tanpa mantra?"


"Hei, menurutmu kenapa para dewa menghilang sejak seribu tahun yang lalu?"


Jawaban yang tidak jelas terlontar dari Ars.


Namun, Huningnir menahan kekesalannya dan menjawab pertanyaan itu.


"......Kudengar itu akibat pertarungan melawan Magic Emperor. Lebih dari separuh Benua Tengah telah 'hilang'. Mereka seharusnya menghilang karena pertimbangan bahwa lebih dari ini akan berisiko menghancurkan dunia."


Setelah pertarungan melawan Magic Emperor seribu tahun lalu berakhir, para dewa tiba-tiba menghilang.


Teori Huningnir adalah salah satu alasannya, ada juga teori lain seperti mereka sedang memulihkan luka akibat pertarungan melawan Magic Emperor, atau para dewa mempercayakan sisanya pada umat manusia, atau mungkin mereka masih mengawasi dari suatu tempat; berbagai teori diajukan, tapi bahkan setelah seribu tahun berlalu, alasan sebenarnya belum terungkap.


"Itulah poinnya. Alasan terlahirnya 『Lost Land』, pertarungan antara Magic Emperor dan para dewa. Selalu dilihat dari sudut pandang para dewa, tapi jika dilihat dari sudut pandang lain——sudut pandang Magic Emperor yang tak pernah diceritakan, akan terlihat fakta bahwa seorang manusia berhasil memojokkan banyak dewa."


Dikatakan bahwa ras Magic Emperor adalah manusia, tapi itu tidak pasti.


Konon awalnya dia memikul tugas membimbing umat manusia sebagai Sacred Emperor Zeus dari Gereja Hukum Suci, namun entah sejak kapan dia mulai menentang para dewa, memimpin sepertiga penyihir untuk mendirikan Asosiasi Sihir, dan setelah menjadi Magic Emperor, dia terjun ke dalam pertarungan melawan para dewa.


Jika melihat kembali dari sudut pandang Magic Emperor, sepertiga penyihir memang menjadi sekutunya, tapi tetap saja dari segi jumlah mereka kalah.


Artinya, Magic Emperor seharusnya memiliki peluang menang dalam pertarungan melawan para dewa.


Sayangnya sepertinya dia tidak bisa meraih kemenangan, tapi Ars menduga dia tetap memberikan pukulan telak hingga para dewa terpaksa menghilang dari panggung utama.


Apakah dia memahami apa yang ingin disampaikan Ars, ekspresi Huningnir jelas berubah.


"Apakah kau paham? Magic Emperor memiliki kekuatan yang membuat para dewa berpikir mereka tidak bisa menang jika tidak bersatu padu. Makhluk rapuh ciptaan dewa mengalahkan sang pencipta... aku memikirkan bagaimana cara mewujudkan keajaiban semacam itu."


"Apakah kau bilang itu adalah penggunaan tanpa mantra?"


"Ya, aku rasa aku sudah berdiri di pintu gerbangnya. Hanya dengan Gift yang diberikan dewa tidak akan mencapai yang terkuat. Karena itu, titik akhirnya bukanlah Heavenly Domain, melainkan masih ada kekuatan tak dikenal yang didapatkan Magic Emperor di ujung sana."


Ini adalah kesimpulan yang dicapainya setelah mendapatkan berbagai informasi saat masih dikurung.


Kekuatan dahsyat di mana Magic Emperor pernah bertarung setara dengan para dewa——meski jalan untuk mencapainya berbeda, Ars berpikir pemikirannya sendiri tidaklah terlalu salah.


"Itulah tujuan penggunaan tanpa mantra. Aku beranggapan bahwa itu adalah pintu gerbang untuk melampaui dewa."


Dia tidak tahu apa yang ingin dicapai sosok bernama Magic Emperor itu.


Namun, sisa-sisa kekuatannya tertinggal sebagai miasma di bagian utara Benua Tengah——『Lost Land』.


Kekuatan yang meninggalkan dampak kerusakan bahkan setelah seribu tahun berlalu, fakta bahwa yang melakukannya 'hanya' sekelas manusia, seorang penyihir tunggal yang menghadapi para dewa, sangat mengguncang hati Ars.


"Setelah mengetahui... apa yang ada di ujung sana, apa yang akan kau lakukan?"


"Jika ada sihir yang tidak kuketahui, aku hanya ingin mendapatkannya."


Jika orang lain mendengarnya, mereka mungkin akan menertawakannya sebagai mimpi kecil, mimpi seperti anak-anak.


Namun, jika didengar oleh mereka yang telah menyentuh misteri bernama sihir, jika ada orang yang mendambakan intisari sihir walau hanya secuil, kata-kata Ars pasti terdengar sangat sombong.


Meskipun ada batasan bernama Gift, Ars mendeklarasikan akan mendapatkan semua sihir.


Benar-benar sebuah dongeng. Namun, bagi mereka yang mengenal Ars, mereka pasti tidak akan tertawa.


Justru, mereka pasti akan menjadi gila karena cemburu. Karena bocah di hadapan mereka memiliki kekuatan untuk mengubah mimpi yang begitu menyilaukan menjadi kenyataan.


"Apa akhirnya kau berniat menguasai dunia juga?"


"Tidak, aku sama sekali tidak tertarik dengan hal semacam itu. Kalau sudah mengetahui semua sihir, sisanya tinggal menciptakan sihir baru, kan."


Karena Ars menyangkalnya dengan begitu enteng, mata Huningnir terbelalak kaget.


Ars tidak sedang memikirkan hal muluk-muluk seperti ingin menaklukkan dunia.


Jika memang diperlukan untuk mendapatkan pengetahuan yang tidak diketahui, dia akan memikirkannya, tapi jika bisa diselesaikan dengan cara damai seperti mendirikan guild yang disarankan oleh 『White Wolf, Fenrir』 beberapa waktu lalu, itu jauh lebih baik.


Menargetkan posisi Magic Emperor yang merupakan puncak Asosiasi Sihir juga merupakan bagian dari itu, dan menjadikan tujuan mengalahkan 『Essence of Magic, Mimir』 juga salah satu caranya. Jika dia mendapatkan dua posisi itu, tidak akan ada lagi yang meragukan kemampuan Ars, baik dirinya sendiri maupun orang lain.


Jika begitu, berbagai informasi dari seluruh dunia akan didapatkan, dan orang-orang akan berkumpul, baik atau buruk, sehingga dia bisa melihat sihir-sihir langka.


Dia tidak bisa menahan diri terhadap keberadaan sihir yang tidak diketahuinya.


Hanya satu poin itulah yang tidak bisa ditoleransi oleh Ars.


"Selebihnya... ya. Sekalian aku ingin tahu apa yang ada di ujung mimpi yang dilihat Magic Emperor. Apa yang dia cari di balik mengalahkan para dewa."


"Begitu ya... bukan untuk memamerkan kekuatan sendiri, tapi hanya demi memuaskan hasrat sendiri, aku kagum, ambisi yang luar biasa. Meski itu dunia yang sama sekali tak bisa kupahami."


Seolah menyesali pertanyaannya, atau seolah teringat akan sesuatu yang telah dia lupakan, ekspresi Huningnir terdistorsi rumit oleh penderitaan dan konflik batin.


Tak lama, Huningnir menengadah ke langit seolah menyadari sesuatu.


Dunia ilusi yang diciptakan Ars dan dunia ilusi Huningnir saling berhadapan dan bersaing seolah dipisahkan oleh satu dinding.


Saat Huningnir menurunkan pandangan dan kembali menatap Ars, bocah itu sedang memandangi dunia yang saling jalin-menjalin rumit itu dengan riang.


"Hei, ayo segera kita akhiri. Mari kita bandingkan dunia mana yang lebih kuat."


Ars tersenyum dengan angkuh.


Topik untuk diperbincangkan sudah habis. Tanya jawab lebih dari ini tidak diperlukan lagi.


"Terima kasih sudah mendengarkan cerita panjangku. Tapi, pasti membosankan, kan? Kudengar Iblis menemukan kesenangan dalam bertarung, jadi maaf ya."


"Tidak, bisa bertemu manusia yang unik adalah hal yang menggembirakan."


Secara mengejutkan Huningnir tidak marah.


Lalu dia mengarahkan pandangannya pada 『Antitesis Buangan No. V』.


Entah terseret, tersesat, atau diundang, 『Antitesis Buangan No. V』 mengamati pertarungan mereka berdua dari dekat.


Namun, yang berada di dalam dunia ilusi ciptaan Ars dan Huningnir bukan hanya 『Antitesis Buangan No. V』 saja. Di tempat yang agak jauh dari Iblis itu, ada sosok Grimm yang dibaringkan dan Kirisha yang sedang mengobati lukanya.


Sambil menerima pengobatan, Grimm melihat ke arah Ars dan Huningnir seolah mengawasi perkembangannya, sedangkan 『Antitesis Buangan No. V』 mematikan emosinya seperti topeng Noh dan hanya menatap lurus ke arah Ars.


Ars sepertinya merasakan tatapan aneh itu, tapi karena sekarang ada lawan yang harus dihadapi, keberadaan 『Antitesis Buangan No. V』 segera tergeser ke sudut benaknya.


"Kalau begitu, mari kita sama-sama menikmatinya."


Inisiatif diambil oleh Ars.


Menendang tanah, Ars mendekat ke Huningnir dengan kecepatan dahsyat.


"Cih——Gah!?"


Setelah meninju rahang Iblis yang terdistorsi karena kaget, Ars melancarkan tendangan lagi, tapi itu ditahan oleh kedua tangan Huningnir.


Tendangan memutar datang sebagai balasan, tapi Ars menghindarinya seujung hidung, lalu melampaui kecepatan reaksi Huningnir, dia menangkap kaki itu dan menghempaskannya ke tanah dengan kekuatan penuh.


"...Cih."


Tampaknya tidak merasa terlalu sakit, Huningnir segera bangkit, dan sambil menyeka darah yang menetes dari sudut mulutnya, dia berdecak lidah.


"Apa maksudmu. Kupikir kau akan menyerang pakai sihir, ternyata adu fisik?"


"Pemanasan kok."


Kekuatan 『Heavenly Domain』 bergantung pada kemampuan penggunanya.


Jika sihirnya banyak, dunia ilusi bisa dipertahankan lama, dan bisa menikmati berbagai keuntungan seperti peningkatan kemampuan fisik.


Namun, jika pengguna baru saja menguasai 『Heavenly Domain』, atau melalaikan latihan, meski disebut sihir pamungkas sekalipun, kekuatannya jelas akan menurun.


Karena itu, ada catatan kekalahan di masa lalu di mana orang yang menguasai 『Heavenly Domain』 terlalu percaya diri dan melalaikan usaha, akibatnya tidak bisa mempertahankannya dalam waktu lama.


Ada kemungkinan Huningnir juga salah satu dari mereka, jadi Ars melancarkan pertarungan fisik termasuk sebagai pemanasan untuk mengujinya.


"Kau ini... benar-benar jenius dalam membuatku kesal, ya."


Ucapan dan tindakan yang jelas-jelas memandang rendah, Huningnir menganggapnya sebagai penghinaan. Namun, Ars sama sekali tidak bermaksud demikian.


"Salah paham itu. Aku justru merasa senang karena akhirnya bisa bertarung dengan lawan yang setara."


Selama ini semua lawannya selalu berada di level yang lebih tinggi, dan Ars merasakan bahwa mereka bertarung sambil menahan diri.


Entah kenapa lawan akhirnya memberikan kemenangan padanya, tapi sulit dikatakan bahwa Ars sendiri yang meraih kemenangan itu. Setidaknya dalam diri Ars sendiri, satu-satunya kemenangan sejatinya hanyalah saat melawan Albert dari 『Five Imperial Swords』.


Menghadapi lawan bicara yang komunikasinya tidak nyambung itu, suara Huningnir yang meninggi jadi terdengar sumbang.


"Hah? Bicara apa kau ini. Jangan keterlaluan kalau meremehkan orang!"


Mungkin karena terlalu marah hingga tak bisa menahan emosi, intonasi suaranya jadi kacau.


"[Storm Thunder]"


Meski dikuasai amarah, kekuatan sihirnya tidak mengamuk tak terkendali, memang pantas disebut Iblis tingkat tinggi.


Tanpa jeda sedikit pun, sosok Huningnir yang menyelimuti dirinya dengan petir yang menyambar dari langit menghilang.


Kilat menyambar, halilintar membelah angkasa, badai menyerang, dan angin kencang bertiup liar.


Dan, yang tersisa setelah petir berlalu hanyalah bau tanah hangus dan asap putih yang menutupi pandangan.


Tanpa terkecoh oleh situasi di depan mata itu, Ars pun bersenandung seolah sedang bernyanyi.


"[Sonic Speed, Klangfarbe]"


Ars juga menghilang seolah mengejarnya.


Suara dan petir bersilangan.


Suara hantaman keras mengacaukan udara dengan kasar.


Setelah berkali-kali bentrokan dan gelombang kejut mengguncang dunia, yang pertama kali menampakkan diri adalah Ars.


Ars dihempaskan ke tanah, dan yang muncul dengan senyum pemenang adalah Huningnir.


"Mana mungkin suara lebih cepat daripada petir!"


Huningnir meraung.


Mungkin rasa minder terhadap Ars tadi mempengaruhinya.


Ekspresinya dipenuhi kegembiraan seiring rasa percaya dirinya yang perlahan kembali.


"[Lightning Strike, Spark]"


Bersamaan dengan nama sihir, guntur yang menggelegar menyapu angkasa.


Raungan itu memecah kesunyian, menggetarkan ruang dan mengguncang bumi.


Kedatangan halilintar.


Beberapa berkas cahaya menembus langit dan jatuh.


Targetnya hanya satu orang——terfokus pada bocah berpakaian hitam, Ars.


Petir menyambar ke sana kemari, intensitas cahaya yang dahsyat berkedip-kedip seolah memancing ketakutan.


Tanpa sempat bereaksi, Ars menghilang seketika ke dalam cahaya yang ganas itu.


Berikutnya, tanah meledak disertai suara dentuman, tanah dan pasir dalam jumlah besar beterbangan ke angkasa, dan kepulan debu membumbung menutupi langit.


"Hah, aku sempat terkecoh oleh sikap kurang ajarmu, tapi ternyata meski menggunakan 『Heavenly Domain』 pun kau tidak sekuat itu ya..."


Merasa dirinya unggul, Huningnir merentangkan kedua tangannya dengan ekspresi penuh percaya diri dan menegaskan posisinya.


"Apanya yang 『Essence of Magic, Mimir』. Orang lemah sepertimu——manusia rendahan sepertimu tidak mungkin bisa menjadi yang terkuat di dunia. Biarpun bisa menggunakan 『Heavenly Domain』, hasilnya begini kan."


Sosoknya yang meraung mati-matian tampak seperti gertakan belaka, namun mungkin karena menggunakan 『Heavenly Domain』, naluri monsternya kembali sebanding dengan perubahan penampilannya, Huningnir tampak dalam kondisi kegembiraan yang ekstrem. Namun, kepala panasnya itu akan menjadi dingin dalam sekejap.


Itu karena saat debu pasir menghilang, Ars berdiri dengan tenang.


"Benar juga... seperti katamu, manusia mungkin tidak bisa menjadi yang terkuat di dunia."


Cahaya yang bocor dari topeng yang menutupi separuh kiri wajahnya bersinar lebih kuat dari sebelumnya.


Kekuatan sihirnya juga melonjak ke tingkat yang berbeda, kepadatannya begitu tinggi hingga mendistorsi ruang di sekitar Ars.


"Tapi, jika kau berpikir Iblis bisa berdiri di puncak, izinkan aku mengatakan bahwa itu juga salah. Tidak hanya manusia, makhluk hidup itu berkembang. Jika hal itu saja kau lupa, tidak ada satu pun faktor yang membuatku kalah darimu."


"Apa-apaan itu."


Kata-kata Ars sama sekali tidak masuk ke telinga Huningnir yang terpana.


Itu karena kekuatan sihir yang begitu pekat bagaikan uap memancar dari Ars dan mengguncang ruangan.


Huningnir mengira kekuatan sihir Ars setara dengan dirinya.


Setidaknya sampai tadi seharusnya setara, atau jumlah sihirnya di bawah Huningnir.


Namun bagaimana dengan sekarang, kekuatan sihir yang sangat besar hingga tak terukur oleh Huningnir meluap keluar dari Ars.


Terlebih lagi, 『Heavenly Domain』 juga seimbang——dan, Huningnir yang menyadari kejanggalan itu menengadah ke atas kepala.


"Mustahil!?"


Langit yang mendung telah berubah menjadi langit berwarna pelangi. Saat menurunkan pandangan ke kaki, tanah tandus telah ditumbuhi rerumputan, dan bunga-bunga bergoyang nyaman tertiup angin. Tanah gersang yang tadi ada telah lenyap, dan padang rumput yang indah membentang hingga ujung cakrawala.


"Oi oi... masa, dunia ilusiku... apa hal semacam itu mungkin?"


Huningnir bergumam sambil terus menengadah ke langit dengan bengong, seolah sedang bermimpi.


Namun, betapapun dia tidak bisa menerima kenyataan, berkat 『Heavenly Domain』, kemampuan berpikir Huningnir menjadi puluhan kali lebih tajam dari biasanya, sehingga dia sudah mendapatkan jawaban atas situasi ini dan memahaminya.


Karena itu, penjelasannya sederhana.


Simpel dan jelas, dunia ilusi Ars telah menimpa dan menutupi dunia Huningnir.


Dengan kecepatan dahsyat yang tak disadari Huningnir, Ars menggunakan sihirnya yang sangat besar untuk melahap habis dunia ilusi Huningnir dan menempatkannya di bawah kendalinya.


Meski begitu, ini belum pernah terjadi sebelumnya. Saling menggunakan 『Heavenly Domain』, lalu dunia ilusi salah satu pihak tertelan sepenuhnya, setidaknya fenomena seperti itu tidak ada dalam pengetahuan Huningnir.


"Selain itu... bagaimana kau bisa selamat dari [Lightning Strike, Spark]-ku?"


Tidak ada celah atau waktu untuk melarikan diri.


Terlebih lagi, kekuatan sihir yang digunakan di dalam 『Heavenly Domain』——wilayah kekuasaannya sendiri——sangatlah dahsyat, dan seharusnya bukan serangan yang bisa ditahan dengan tubuh fisik.


"Mudah kok. Aku menggunakan sihir yang sama dan saling meniadakannya."


Saat Ars membeberkan triknya dengan enteng, Huningnir bereaksi.


"Hah? Sihir yang sama?"


"Aa, omong-omong aku belum memberitahumu kemampuan [Awaken Woden]-ku, ya."


Dengan latar belakang langit berwarna pelangi, Ars menyatakannya seolah itu hal sepele.


"Menciptakan dunia ilusi yang mengurai segala sihir, dan memungkinkan penggunaan segala jenis sihir."


"......Mana mungkin, Gift konyol seperti itu ada——!"


Huningnir hendak menyangkal kata-kata Ars, namun tiba-tiba, ekspresi skeptisnya berubah drastis dan dia berdecak lidah dengan keras.


"Begitu rupanya! Jadi karena itu, aku ada di sini!?"


Huningnir terus menendang tanah dengan ujung kakinya penuh kegeraman, kemarahan, dan kebencian.


Setelah mengulanginya berkali-kali, akhirnya dia menghembuskan napas panjang dan menjatuhkan bahunya.


"Bodoh sekali. Tak kusangka, ternyata akulah orangnya."


Begitu melontarkan kata-kata aneh itu, Huningnir mengarahkan pandangannya kepada 『Antitesis Buangan No. V』 yang mengawasi dari dekat.


"Aku juga sudah paham alasan kenapa si brengsek 『V』 itu ditempelkan padaku. Cih, benar-benar dapat sial ya... yah, percuma juga mengeluh sekarang."


Huningnir menggaruk-garuk belakang kepalanya beberapa kali, lalu ekspresinya berubah drastis dari wajah pahit menjadi wajah yang bercampur antara kepasrahan dan tekad saat menatap Ars.


"Cerita yang menyedihkan, tapi sepertinya aku diberi peran yang bahkan tidak aku ketahui sendiri."


Oleh siapa——pertanyaan semacam itu pun tidak akan mendapat jawaban.


Lagipula, Huningnir yang merendahkan pinggangnya dan memasang kuda-kuda memancarkan suasana yang tidak menerima dialog lagi.


"Mulai sekarang aku akan menyerang dengan kekuatan penuh. Kau juga hadapilah dengan kekuatan penuh."


Huningnir menendang bumi bagaikan binatang buas, tanpa menyembunyikan sisi liarnya, mengikuti nalurinya.


Setiap langkah yang dipijaknya, akselerasi yang mencengangkan bertambah, dan atmosfer bergemuruh hebat.


"『Storm Thunder Strike』"


Seberkas petir yang memancar dari Huningnir melesat ke arah Ars.


"『Storm Thunder Strike, Schlag』"


Ars mencurinya dengan tenang, dan begitu menggumamkan nama sihir itu dengan datar, seketika serangan Huningnir ternetralisir. Namun, Huningnir tidak berhenti meski sihirnya dinetralisir.


"『Storm Hail, Turm』"


Saat sihir badai hujan es itu aktif, langit seketika terwarnai kelabu, dan udara yang sunyi terbungkus ketegangan. Seolah alam sedang mengumpulkan kekuatannya, awan menebal dengan cepat, dan angin kencang mulai bertiup. Lalu, tiba-tiba hujan es mulai turun, awalnya butiran es kecil mulai menari, lalu perlahan ukurannya membesar.


Tak lama kemudian bongkahan es menghantam tanah dengan keras, dan suara gemuruh mulai terdengar seolah bumi sedang meratap kesakitan.


Huningnir menendang tanah dan melompat, bersamaan dengan itu hujan es raksasa terbentuk di udara.


Langit menjadi keruh memutih, dan angin menjadi bilah es yang bertiup dingin ke kulit.


Akhirnya, hujan es raksasa itu jatuh mengarah ke Ars.


"『Tornado』"


Ars merapalkan salah satu sihir yang tadi digunakan Huningnir.


Tiba-tiba, tekanan udara menjadi berat menutupi tanah, dan angin yang mengamuk ditembakkan ke langit disertai suara gemuruh. Yang muncul bersama atmosfer mengerikan adalah pusaran raksasa yang menggulung debu dan tanah.


Tornado itu menggulung hujan es yang turun, menangkis dan menerbangkannya.


"......Masa, kau bisa menghafalnya hanya dengan memastikan sihir itu sekali saja?"


Huningnir bergumam dengan bengong. Dia tampak heran karena Ars menggunakan sihir Gift [Storm] secara mandiri.


"Benar. Soalnya telingaku tajam. Biasanya aku langsung hafal setelah mendengarnya sekali."


Seperti yang dikatakan Ars tadi, dunia ilusi yang diciptakan oleh 『Heavenly Domain』 milik [Awaken Woden] menguraikan segala sihir dan membongkar segala pengetahuan.


Itu tidak terkecuali bagi penyihir di seluruh dunia——bahkan para dewa di surga, mengabaikan hukum yang menjadi logika dunia, dan memungkinkannya menggunakan sihir yang telah didengar dan diingat oleh [Hearing] selama ini.


"......Yang benar saja. Tak kusangka ada Gift tidak masuk akal sampai segitu."


Huningnir bergumam seolah tak habis pikir lalu berhenti.


"Kenapa? Perdengarkan lagi sihir lainnya padaku."


Saat Ars mendesaknya, Huningnir tersenyum pahit.


"Tidak, kalau begini terus aku cuma bakal habis perlahan."


Saat Huningnir menengadah ke atas, yang terbentang di pandangannya hanyalah langit pelangi ciptaan 『Heavenly Domain』 Ars, dan pengaruh 『Heavenly Domain』 Huningnir sudah pasti menghilang.


Jika sudah tertimpa sepenuhnya, hilangnya kekuatan 『Heavenly Domain』 miliknya tinggal masalah waktu.


"Hee~, ternyata benar ya, kalau wilayah kekuasaan direbut lawan, khasiat 『Heavenly Domain』 akan hilang."


Ars hanya pernah mendengarnya dalam cerita, tapi ini pertama kalinya dia mengalaminya secara langsung.


Karena itu, matanya berbinar seolah baru mendengar pendapat berharga, tapi dia segera memperbaiki ekspresinya saat melihat sosok Huningnir.


Dari ucapannya tadi dia mengira Huningnir sudah menyerah untuk menang, tapi semangat juang sama sekali belum hilang dari mata Huningnir. Hasrat bertarung yang bangkit dari tubuhnya pun masih sangat besar.


"Aa, makanya, aku berniat menyelesaikannya selagi 『Heavenly Domain』 ini masih bisa dipertahankan."


Rasa percaya diri tersampaikan dari setiap kata-katanya. Benar saja, Huningnir tidak berniat membuang pertarungan, dan tampaknya tidak berpikir sedikit pun bahwa dia akan kalah.


"Karena itu, bocah kurang ajar. Akan kuajarkan arti kekalahan padamu."


"Ya, kumohon. Aku menaruh harapan padamu."


Terhadap Huningnir yang bersikap mengintimidasi, Ars juga merespons dengan senyum penuh keberanian.


"Sihir yang tidak aku ketahui——"


Seolah tak tertahankan lagi, bocah itu mengangkat sudut mulutnya dengan ganas.


——Perdengarkanlah sihir itu padaku.


"Kalau begitu, cobalah tahan ini, jika kau memang 『Essence of Magic, Mimir』!"


Kekuatan sihir meledak dari Huningnir bagaikan api yang mengamuk.


"Badai seribu petir. Tubuh awan yang merekah. Mata langit yang membelah."


Tiap kali mantra meluncur dari mulutnya, kekuatan sihir dahsyat yang padat dan seolah mencemari atmosfer, yang pantas bagi Iblis tingkat tinggi, terpancar ke sekeliling.


"Badai yang memancarkan api. Hujan es yang memancarkan air. Angin yang memancarkan petir. Berkumpullah dalam tubuhku. Wahai awan, berkumpullah di tanganku."


Angin, petir, awan, hujan es, semuanya menyatu menjadi badai dan menutupi seluruh tubuh Huningnir.


"Cabik dan hancurkanlah——『Storm Emperor, Aegir』"


Gumpalan badai melesat lurus bagaikan peluru menuju Ars.


Melihat gumpalan badai yang mendekat sambil mengorek tanah, Ars juga mulai merapal mantra.


"Jatuhlah. Wahai penembus ruang-waktu kegelapan, wahai peleleh kebenaran dengan panas."


Dia melantunkan mantra yang pernah didengarnya dahulu.


"Kilatan neraka, panas yang membakar habis kegelapan, jiwa yang menghancurkan cahaya."


Itu adalah mantra yang didengarnya pada akhir dari sebuah insiden yang terjadi di tempat jauh saat dia masih dikurung.


Meski hanya satu kali pertarungan, sihir saat itu terpatri dalam telinganya.


Penyihir tak dikenal itu adalah pemilik Gift garis keturunan [Thunder].


"Persembahkanlah pada cawan sukacitaku——『Thunder Emperor, Thor』"


Bersamaan dengan munculnya lingkaran sihir tak terhitung jumlahnya di belakang Ars, serangan petir dilepaskan dengan kuat bagaikan peluru meriam.


Sekejap——badai dan petir berbenturan.


Cahaya yang menyilaukan mata, sinar yang entah mengapa terasa agung menutupi seluruh dunia.


Berikutnya, gelombang kejut dahsyat tercipta akibat gemuruh petir, membalikkan tanah dan pasir di seluruh area sekitar.


Padang rumput yang tadinya terhampar hijau dengan indahnya, dalam sekejap tertutup sepenuhnya oleh api dan puing-puing.


Berbanding terbalik dengan pemandangan bagaikan lukisan neraka itu, angin lembut bertiup, dan dunia pelangi kembali.


Namun, hanya bentuk tanah yang telah hancur lebur sajalah yang tidak kembali seperti semula.


Ars mengarahkan pandangan ke suatu tempat.


"......Bagaimana, mau lanjut?"


Huningnir berdiri dengan kondisi kehilangan separuh kepalanya.


Dia mungkin terhindar dari kematian instan berkat daya hidupnya yang tangguh, tapi seharusnya dia sedang diserang rasa sakit luar biasa yang wajar jika membuatnya menjerit.


Ars mendekat sambil memegang belati.


"Mari kita akhiri."


"......Ya."


Mendengar perkataan Ars, Huningnir jatuh terduduk di tanah seolah lututnya lemas.


"Tapi ngomong-ngomong... di saat terakhir malah [Thunder] ya... sial banget."


"Kau tahu?"


Sebenarnya, Ars mengira sosok pemilik Gift [Thunder] itulah 『Essence of Magic, Mimir』, namun dia mengubah pemikirannya setelah bertemu dengan orang yang memiliki Gift yang sama.


Orang itu adalah Albert, salah satu 『Five Imperial Swords』 yang dibantai Ars.


Albert pernah bilang [Thunder] adalah Gift garis keturunan.


Kalau begitu, jika lawan bicara yang didengar Ars menggunakan sihir 『Thunder Emperor』 adalah kerabat Albert, kemungkinan besar dia adalah penyihir Kekaisaran, dan Ars sampai pada kesimpulan bahwa dia berbeda dengan 『Essence of Magic, Mimir』 yang sedang ramai diperbincangkan.


"......Aku pernah melihat pertarungannya sekali. Orang yang kuatnya tidak masuk akal."


Entah karena sakit atau senang, Huningnir yang mengangkat sudut mulutnya mengeluarkan suara serak.


"『Kursi Pertama』 Five Imperial Swords, satu dari tiga orang yang dipastikan bisa menggunakan Heavenly Domain."


"Begitu ya..."


Kalau dibilang dialah orang yang menangkap Yulia, ada rasa yakin yang aneh.


Jika bukan pengguna Heavenly Domain, menangkap Yulia pasti akan sangat sulit.


Namun, sayangnya sepertinya Ars tidak akan bertarung melawan 『Kursi Pertama』.


Kemungkinan besar, Yulia ingin menyelesaikannya dengan tangannya sendiri, jadi yang bisa dilakukan Ars hanyalah mengawasinya.


"Yah... sepertinya aku harus menyerah."


Dia sedikit tertarik, tapi begitu tahu tidak bisa melawannya, Ars langsung kehilangan minat.


Karena itu, dia memutuskan untuk menanyakan hal yang membuatnya penasaran sejak tadi.


"Kenapa di saat-saat terakhir kau malah melindunginya?"


Ars menunjuk 『Antitesis Buangan No. V』 dengan ibu jarinya.


Padahal dari tadi dia hanya menonton tanpa membantu Huningnir.


Dan, saat bentrokan terakhir antara 『Thunder Emperor』 dan 『Storm Emperor』, seharusnya dia terkena dampaknya tanpa sempat lari, tapi entah kenapa Huningnir berdiri menghalangi seolah melindunginya.


Kenapa Huningnir yang merupakan 『Antitesis Buangan No. III』 repot-repot melindungi 『Antitesis Buangan No. V』 yang merupakan bawahan, hal itu sangat membingungkan bagi Ars.


"Kalau tidak melindunginya, kau tidak akan kehilangan separuh kepalamu, kan."


"......Dengarkan saranku. Biarkanlah 『V』 pergi, kalau kau memikirkan masa depan."


"Apa ada untungnya buatku? Kalau nanti menyesal, aku ingin membereskannya di sini saja."


Kalau nanti masalah itu berputar kembali padanya dan dia bisa menerimanya sebagai risiko, itu tidak masalah.


Tetapi, Ars ingin menghindari jika dia membiarkan musuh pergi, lalu orang lain yang malah terseret masalah.


"Jangan khawatir. Kemampuan tempur 『V』 tidak tinggi. Di Kota Sihir, dia cuma sekuat Penyihir Tingkat Empat. Lagipula keinginannya lemah. Tidak ada nilainya untuk dibunuh secara khusus."


"Apa kau mau menolongnya... karena rasa sesama teman, atau aku salah?"


"Hah...... mana mungkin. Kami 『Antitesis Buangan』 itu sebatang kara sejak lahir."


Dengan ekspresi yang agak sedih namun pasrah seolah tak ada pilihan lain, Huningnir terus bergumam.


"Teman itu tidak ada. Sejak awal yang ada hanyalah musuh. Hanya ada masa depan untuk mematuhi penguasa mutlak yang tak bisa dilawan."


Iblis awalnya adalah "Monster", dan sangat jarang berevolusi menjadi "Iblis" setelah terpapar "Miasma" di 『Lost Land』. Tentu saja mereka tidak memiliki orang tua, teman pun tidak ada. Iblis adalah ras yang ditakdirkan sebatang kara sejak lahir.


Sejak 『Kota Iblis Helheim』 lahir, para "Iblis" mulai dilindungi, dan kabarnya anak-anak pun mulai lahir, tapi karena takut penculikan dan sebagainya, Ratu membuat distrik khusus dan membesarkan mereka secara berkelompok.


"Selain itu, kalau kau ingin mengetahui sihir baru, jangan pikir macam-macam dan biarkan V pergi. Menurutku kebahagiaan akan datang belakangan."


"......Demi sihir, ya."


"Yah, aku sudah memperingatkanmu. Sisanya mau kau biarkan hidup atau kau bunuh, terserah padamu. Pilihlah agar kau tidak menyesal."


Tanpa perlu Ars melancarkan serangan terakhir, tubuh Huningnir mulai runtuh.


"A~ah... benar-benar sial ya."


Huningnir menghela napas sambil menengadah ke langit yang terwarnai pelangi dengan silau.


"Akan kuberikan satu informasi terakhir. Membosankan juga kalau cuma dihajar terus sampai akhir, kan."


Tanpa mempedulikan tubuhnya yang runtuh, Huningnir tersenyum senang.


"Ada sosok yang akan memuaskanmu. Dia akan segera muncul. Berhati-hatilah."


"......Siapa?"


"『Antitesis Buangan No. I』. Dia dalang kali ini. Astaga, aku benar-benar dipermainkan seenaknya oleh bajingan itu."


"Apa boleh memberitahuku informasi sepenting itu?"


"Tidak masalah. Lagipula kalau mau mati, setidaknya di akhir aku ingin membalasnya sedikit, kan. Dia sudah memanfaatkanku habis-habisan."


"Begitu ya... pokoknya, aku berterima kasih."


Meski tanpa info itu pun Ars tidak akan kesulitan.


Jika musuh datang sendiri, itu adalah hal yang patut disambut.


Bukan berarti dia ingin repot-repot mencari musuh untuk bertarung.


Lagipula, yang sangat ingin mengalahkan 『Antitesis Buangan No. I』 adalah Grimm.


Kalau Grimm mengeluh lemah, Ars boleh saja menggantikannya, tapi masa depan seperti itu mungkin takkan datang, jadi Ars merasa itu bukan lawan yang harus dia hadapi sendiri.


"Kalau kau bertemu dengannya, tolong sampaikan."


Huningnir yang tubuhnya telah hilang dan tinggal kepala saja, menyeringai memamerkan giginya di saat terakhir.


"Bahwa aku menunggunya untuk diadili bersama di bawah para dewa."


Dengan kalimat itu sebagai penutup, 『Antitesis Buangan No. III』 menjadi abu sepenuhnya dan lenyap bersama angin.


Seolah mengantar kepergian Huningnir yang telah menjadi debu, saat Ars menengadah, langit yang terwarnai pelangi itu perlahan kembali menjadi langit biru yang biasa.


"Aku bisa menguji apa yang terjadi jika saling menggunakan 『Heavenly Domain』. Aku juga bisa menghafal beberapa sihir. Aku benar-benar berterima kasih."


Hal yang ingin dicobanya sudah berhasil dicoba.


Bisa memahami seberapa besar pengaruhnya saat 『Heavenly Domain』 dalam keadaan seimbang adalah hal yang besar.


Ke depannya, pertarungan melawan orang-orang yang menguasai 『Heavenly Domain』 pasti akan bertambah.


Siapapun lawan berikutnya, dia tidak boleh kalah.


"Lalu, apa yang akan kau lakukan?"


Ars menyapa 『Antitesis Buangan No. V』 yang sedari tadi terus mengamati pertarungan sebagai ucapan terakhirnya di tempat itu.


Dia menundukkan kepala dalam-dalam.


"Izinkan saya undur diri. Saya tidak berniat memusuhi Anda."


"Begitu ya... kalau begitu pergilah. Aku tidak hobi membunuh orang yang tak berniat bertarung."


"Terima kasih. Kalau begitu, sampai jumpa lagi di suatu tempat."


Setelah menunduk sekali lagi, 『Antitesis Buangan No. V』 pun pergi.


Sampai detik terakhir dia tidak tahu apa yang dipikirkannya, tapi fakta bahwa dia terus melihat pertarungan Ars berarti sudah pasti dia mengumpulkan semacam informasi.


"Berikutnya mendirikan guild, lalu tantangan kepada Demon Lord."


Daripada memikirkan masa depan tak pasti tentang kapan akan diserang, ada jalan pasti yang harus ditempuh, jadi untuk saat ini informasi tentang 『Antitesis Buangan No. I』 sebaiknya disimpan di sudut kepala saja.


"Padahal 『Area Tinggi』 saja belum selesai dijelajahi."


Yang harus dilakukan ada banyak.


Pertama mendirikan guild, lalu menargetkan tantangan pada Demon Lord.


Berbeda dengan saat dikurung dulu.


Sekarang setelah mendapatkan kebebasan, dia bisa menggunakan waktu sesuka hati.


"Tidak perlu terburu-buru. Mari kita nikmati saja."



"Kirisha... inilah dunia yang ingin kudapatkan."


Demon Lord Grimm yang telentang di padang rumput memandangi langit pelangi yang mulai runtuh.


Pemandangan yang indah.


Pemandangan yang hanya bisa didapatkan oleh orang-orang terpilih.


Hanya padang rumput tak berujung yang terhampar luas.


Dunia indah di mana angin lembut bertiup sejauh mata memandang.


"Ya! Kalau Gri-chan pasti bisa mendapatkannya!"


Kirisha yang duduk di sebelah Grimm yang berbaring menyatakannya dengan senyuman.


"Pasti akan kudapatkan. Kalau 『Antitesis Buangan No. I』 bergerak, sebentar lagi dia pasti menampakkan diri."


Grimm mengangkat tubuh bagian atasnya lalu meringis karena sakit lukanya.


Kirisha menopang punggungnya, tapi Grimm menepuk kepala Kirisha pelan dua kali.


"Tidak perlu dibantu kok. Daripada itu, begitu luka sembuh, kita pergi ke 『Area Dalam』."


"Eh... bahaya kan?"


"Kali ini isinya cuma introspeksi. Kalau tidak ada Ars kita pasti sudah dibunuh."


"Jadi latihan di 『Area Dalam』?"


"Meningkatkan kekuatan tempur anggota guild juga tujuannya, tapi lebih dari itu demi diriku sendiri. Di 『Area Dalam』 seharusnya ada Schlaht. Dia pasti tahu sesuatu tentang 『Heavenly Domain』."


"Kalau begitu, tidak bisakah tanya pada Aru-chan?"


Ditegur Kirisha, Grimm memasang ekspresi rumit.


Bukannya Grimm tidak terpikir untuk menundukkan kepala dan meminta ajaran pada Ars.


Namun, menundukkan kepala pada Ars kemungkinan besar akan menghancurkan harga dirinya.


Ada alasan lain juga.


"Dia itu tipe jenius murni, jadi pasti payah banget kalau mengajari orang lain, kan."


"Aah~... mungkin benar juga sih."


Sambil melirik Kirisha yang sangat setuju, Grimm menatap Ars yang sudah menonaktifkan 『Heavenly Domain』.


"Lingkungan tempat dia tumbuh terlalu unik. Kita tidak bisa menirunya, dan melakukannya sekarang pun tidak ada artinya. Kalau begitu, lebih baik menundukkan kepala pada si brengsek Sclaht dan minta ajarannya."


Setelah mengelus kepala Kirisha dengan kasar, Grimm berdiri menggunakan senjatanya sebagai pengganti tongkat.


"Duh, Gri-chan! Kamu bikin rambut Kirisha berantakan lagi!"


Saat Kirisha marah-marah, Grimm tertawa sambil menengadah ke langit.


Dunia ilusi itu sudah lenyap, tapi masih terpatri di kelopak matanya.


Jika menutup mata, sosok jelasnya muncul kembali.


Itu tempat yang harus dituju Grimm, tapi itu bukan titik akhir.


"Di luar 『Heavenly Domain』——apa si brengsek Sclaht tahu soal itu? Atau itu informasi yang cuma diketahui Ars... sepertinya perlu diselidiki sedikit."


Dia tidak merasa Ars sedang membual tentang dongeng.


Ucapan itu pasti karena dia melihat sesuatu——dipenuhi kepercayaan diri yang hanya dimiliki oleh orang yang telah mendapatkan kepastian.


Lagipula Ars adalah 『Essence of Magic, Mimir』.


Grimm berpikir kepastian informasinya setara atau bahkan melebihi Asosiasi Sihir atau Gereja Hukum Suci.


"Aku juga pernah disebut jenius atau anak ajaib, tapi setelah melihat yang asli, aku jadi malu untuk mengakuinya."


Grimm juga pernah dipuja sebagai anak ajaib, dan dia menduduki takhta Demon Lord sebagai yang termuda dalam sejarah.


Tapi, jika melihat Ars, rekor itu mungkin akan terpecahkan, dan otaknya yang entah memandang sampai sejauh mana itu, benar-benar pantas disebut anak ajaib.


"Buktinya dia mengalahkan 『Antitesis Buangan No. III』 dengan mudah."


"Kekuatan Aru-chan itu tidak terukur ya. Jangan-jangan dia sendiri juga tidak memahaminya."


"Soalnya sepertinya dia tidak pernah kesulitan dalam pertarungan."


Manusia terkadang menyadari batasannya sendiri.


Batasan ini bervariasi, bisa fisik, mental, hingga emosional.


Misalnya, saat menghadapi tantangan berat atau situasi sulit, seseorang bisa mendekati batas kemungkinan dirinya sendiri.


Namun, dalam kasus Ars, belum terlihat tanda-tanda dia menghadapi kesulitan.


Bahkan terlihat gelagat bahwa kekuatannya masih bersisa banyak.


Karena itu, Ars tidak menyadari kekuatannya sendiri, jadi meski menang, dia terkadang menunjukkan reaksi aneh yang seolah merendahkan penilaian dirinya sendiri.


"Tapi, ke depannya mungkin akan penuh dengan pertarungan yang membuatnya menyadari kekuatannya sendiri."


Tidak ada yang akan membiarkannya. Tandanya sudah ada.


Cerita pertarungan kali ini pun pasti akan bocor dari suatu tempat.


Setidaknya Ratu Hel dari 『Kota Iblis Helheim』, entah dengan cara apa, pasti akan mengetahui hilangnya 『Antitesis Buangan』.


Di sekitar Ars pasti akan menjadi ribut.


Setelah kembali ke Kota Sihir pun akan repot.


Penaklukan 『Antitesis Buangan』, pencegahan 『Parade Monster』, karena pulang membawa berbagai topik itu, dia akan terpapar tatapan penuh iri, dengki, dan rasa ingin tahu.


Jika mendirikan guild dalam situasi begitu, kemungkinan dipancing konflik oleh guild lain sangat tinggi.


Orang-orang licik yang berpikir untuk menghancurkan mereka selagi anggotanya belum lengkap itu ada di mana-mana.


Aku rasa 『24 Council Keryukeion』 yang pengecut tidak akan bergerak terang-terangan, tapi mereka pasti akan memerintahkan guild bawahan untuk melakukan pekerjaan kotor di balik layar.


"Yah, karena ini Ars, mungkin hal itu pun akan dinikmatinya."


Kalau dia mengalami hal tak masuk akal, boleh saja dibantu, tapi dalam kasus Ars, kalau melakukan hal yang tidak perlu malah bisa dianggap mengganggu, jadi harus dilihat baik-baik.


"Cih, merepotkan saja, utang budi malah makin bertambah. Kirisha, untuk sementara alirkan informasi soal 『24 Council Keryukeion』 dan semacamnya ke mereka."


"Ya!"


Setelah mendengar jawaban Kirisha, Grimm menuju ke tempat Ars.


"Hah, aku harus memaksakan balas budi untuk melunasi utangku nih."


Berbanding terbalik dengan kata-katanya yang kasar, suara Grimm terdengar riang, dan Kirisha menyadari kegembiraan terpancar darinya.



"Sudah berakhir ya."


Melepaskan tangan yang menyentuh 『White Wolf, Fenrir』, Ratu Hel——Demon Lord Lilith mengambil jarak agar lebih mudah berbicara.


"Pertarungan yang luar biasa. 『Black Star, Flaven Earth』——bukan, 『Essence of Magic, Mimir』 tampaknya sudah cukup memenuhi kualifikasi."


Lilith, yang menyaksikan seluruh jalannya pertarungan bersama 『White Wolf, Fenrir』, mengangguk puas.


"Ya, tapi bukankah Mel-sama juga sudah memastikan kualifikasinya dengan bertarung langsung?"


"Konfirmasi ulang. Kami baru bertarung sekali, tapi 『Essence of Magic, Mimir』 terlalu mahir menyembunyikan sihirnya. Selain itu, karena jangkauannya yang luas, sulit untuk benar-benar merasakan kekuatannya secara nyata."


Sejak kecil dia berada di lingkungan khusus——mungkin situasi di mana jika dia sembarangan melepaskan sihir, dia akan dibunuh. Setidaknya, tak diragukan lagi dia berada di lingkungan di mana keamanannya terjamin jika dia menekan kekuatan sihirnya sepenuhnya. Jadi, entah dia melakukannya dengan sadar atau tidak, karena Ars menyembunyikan sihirnya dengan begitu mahir, pasti banyak orang yang salah menilai dan memandangnya rendah.


"『Antitesis Buangan No. III』 itu orang yang cukup bisa bertarung, kan?"


"Tentu saja. Jika harus mengirim orang dari pihak kita yang bisa menang melawannya, kita pasti harus mengirimkan 『Six Desire Heavens, Schtern』."


"Fakta bahwa dia bahkan tidak bisa memberikan satu goresan pun pada 『Essence of Magic, Mimir』, apakah itu berarti tingkat penguasaan 『Heavenly Domain』 milik 『Antitesis Buangan No. III』 itu rendah?"


"Bukan begitu. Itu semata-mata berarti 『Essence of Magic, Mimir』 unggul dalam segala hal."


"Pantaslah sebagai pemilik Gift 『Primal』."


"『Essence of Magic, Mimir』 telah mempertunjukkan 『Heavenly Domain』 yang sungguh indah, agung, dan memukau."


"Jadi bisa dibilang 『Antitesis Buangan No. III』 yang berhasil memancing keluar kemampuan asli 『Essence of Magic, Mimir』 telah menjalankan tugasnya dengan baik, ya."


"Ya, kita berhasil mendapatkan informasi yang cukup."


"Tapi, jika dia memiliki kemampuan sehebat itu, bukankah sayang menjadikan 『Antitesis Buangan No. III』 sebagai bidak koraban?"


"Memang mungkin sayang, tapi... karena kita bisa mengetahui apa yang dituju oleh 『Essence of Magic, Mimir』, menurut saya itu sudah cukup impas."


"Apa tidak ada masalah dengan 『Antitesis Buangan No. I』? Bagaimanapun juga dia itu bawahannya, kan."


"Rasa setia kawan 『Antitesis Buangan』 itu tipis, jadi meski nomornya berkurang, saya rasa dia tidak akan berpikir macam-macam... Justru karena dia sepertinya juga melihat pemandangan tadi, kekhawatiran saya hanyalah apakah dia akan menyerang 『Essence of Magic, Mimir』 dengan membabi buta atau tidak."


"Jika ada alasan seperti itu, tidak masalah."


Kepada 『White Wolf, Fenrir』 yang mengangguk dalam tanda mengerti, Demon Lord Lilith mengalihkan pembicaraan ke topik lain.


"Lalu, menurut saksi hidup dari seribu tahun yang lalu, seberapa besar kredibilitas ucapan 『Essence of Magic, Mimir』——mengenai 『Heavenly Domain』 itu?"


"Bisa kubilang cukup besar. Untuk seusianya dia terlalu cerdas——tidak, mungkin rasa ingin tahunya yang terlalu kuat."


Di masa lalu hanya ada satu orang yang menempuh jalan yang sama, namun Ars jelas mencoba memilih jalan yang lebih berat dari itu.


"Padahal itu Gift 『Primal』 yang berharga. Kehilangan dia di sini akan menyakitkan. Jalan yang diterobos 『Essence of Magic, Mimir』 itu berbahaya... apa tidak apa-apa membiarkannya begitu saja?"


Menanggapi pertanyaan 『White Wolf, Fenrir』 yang cemas itu, Demon Lord Lilith meletakkan jari telunjuknya yang putih bak porselen di dagunya yang lancip, lalu tersenyum menggoda.


"Hmm... sepertinya tetap dibiarkan saja deh."


"Boleh kutanya alasannya?"


Tentu, berikut adalah revisi bagian tersebut dengan mengganti "Saintess" menjadi "Saint" dan "Gift 'Awal'" menjadi "Gift 'Primal'":


"Kalau sekadar menggiring pemikiran sih boleh saja, tapi kalau sampai mengintervensi pengambilan keputusan, itu berisiko memancing situasi yang sangat merepotkan. Lagipula, Gift 『Primal』 itu mekar justru karena rasa ingin tahu itu, kalau keaktifan itu direnggut, saya rasa antusiasmenya akan lenyap dalam sekejap."


"Memang dia terlihat menunjukkan obsesi yang tidak wajar terhadap sihir."


"Ya, karena itu tidak ada cara lain selain memancing semangatnya sambil memberikan apa yang diinginkannya secara berkala. Agar rencana saya berhasil, gawat kalau dia sampai hancur."


"Aku berdoa rencanamu berhasil. Sepertinya sempat hampir gagal ya."


"Benar sekali. 『Antitesis Buangan No. III』 itu tidak boleh bermulut ember. Saya tidak menyangka dia akan membocorkan keberadaan 『Antitesis Buangan No. I』."


"Bukannya itu tidak benar-benar disembunyikan? Lagipula, kau harusnya bersyukur namamu tidak terungkap."


"Soalnya saya tidak khawatir. Hanya saja saya lega karena 『Essence of Magic, Mimir』 bukan orang nekat yang akan mencari 『Antitesis Buangan No. I』."


"Seperti yang kubilang tadi, anak itu cerdas. Ada pepatah 'senjata makan tuan', berhati-hatilah agar kakimu tidak dijegal."


"Fufufu, karena Mel-sama sudah repot-repot mengkhawatirkan saya, mulai sekarang saya akan bertindak hati-hati."


Setelah bertepuk tangan sekali dengan gembira, senyum merekah di wajah Lilith bagaikan bunga yang bermekaran.


"Bukankah di pihak Mel-sama juga lancar? Apakah Gadis Putih itu memuaskan?"


"Kalau cuma selevel 『Antitesis Buangan No. VI』 sih kurang memuaskan, tapi meski begitu aku bisa melihat sebagian kekuatannya. Daripada itu, apakah tidak masalah para Iblis tingkat menengah itu bahkan tidak menjadi penghambat?"


"Begitu juga dengan 『Antitesis Buangan No. VI』, peran mereka adalah mengulur waktu agar tidak ada gangguan yang tidak perlu, dan mereka sudah menjalankan tugasnya dengan baik, jadi tidak masalah."


Menerima penjelasan Lilith, 『White Wolf, Fenrir』 mengangguk, lalu kembali mengarahkan pandangan pada Lilith.


"......Lalu, apa rencanamu ke depannya?"


"Yah, apa yang sebaiknya dilakukan mulai sekarang ya... pertanyaan sulit. Memang benar masih banyak hal yang ingin saya coba."


"Apa yang kau rencanakan?"


Lilith menyunggingkan senyum menggoda.


Semakin dia bersemangat, semakin dia berpikir, daya tariknya semakin bertambah.


"Dengan 『Antitesis Buangan No. III』, tidak mungkin memancing keluar seluruh kemampuan asli 『Essence of Magic, Mimir』. Saya hanya berpikir sepertinya seru kalau membenturkan orang yang memiliki kekuatan setara, atau bahkan di atasnya, sekali lagi."


"Kau mau menggerakkan 『Antitesis Buangan』 lagi?"


"Kalau cara yang sama terus pasti akan membosankan, jadi kalau panggung berikutnya di Kota Sihir, sepertinya kita bisa merajut kisah yang indah."


"Katanya dia mau mendirikan guild. Kalau kau mengintervensi saat itu, kau juga akan lebih mudah melakukannya, kan."


Lilith mengangguk kecil pada saran 『White Wolf, Fenrir』. Itu adalah salah satu hal yang sudah dipikirkannya.


Begitu juga dengan Kota Iblis, Kota Sihir juga merupakan halamannya.


Biasanya Lilith menyembunyikan sosoknya sebagai Ratu Kota Iblis, jadi banyak tindakannya yang dibatasi. Namun, jika panggungnya menjadi Kota Sihir, dia bisa memanfaatkan kekuasaannya sebagai Mahkota Kedua secara maksimal, dan bisa bergerak besar-besaran tanpa menyembunyikan sosoknya.


"Gadis Putih yang Mel-sama minati——『Saint』 dari Gereja Hukum Suci juga ada di Kota Sihir, jadi saya bisa memberikan informasinya lho."


Dengan menggunakan 『Essence of Magic, Mimir』, masih banyak hal yang bisa dinikmati.


『White Wolf, Fenrir』 juga sepertinya tergila-gila pada Gadis Putih, jadi tidak apa-apa kalau melibatkannya.


"Tapi, apakah Mel-sama tidak keberatan?"


"Apanya?"


『White Wolf, Fenrir』 menatap Lilith dengan mata membulat bengong. Terhadap tingkah laku yang manis dan berlawanan dengan penampilannya itu, Lilith tersenyum kecil lalu membuka mulut.


"Bahwa 『Saint』 masa kini berada di sisi 『Black Star, Flaven Earth』 lho."


"Kupikir itu ikatan yang ajaib, tapi mungkin itu juga takdir. Aku ingin menghindari benang kusut karena melakukan hal yang tidak perlu. Sebaiknya kita awasi saja begini."


"Kalau Mel-sama berniat begitu, saya sama sekali tidak berniat ikut campur. Kalau berubah pikiran dan butuh kerja sama, bilang saja ya. Saya akan selalu berada di pihakmu."


"Saat itu mohon ban——!?"


『White Wolf, Fenrir』 menutup mulutnya di tengah kalimat dan berdiri dengan panik.


Merasakan hawa yang tidak biasa itu, Lilith juga melihat sekeliling dengan waspada.


Suasana yang tadinya santai seketika menjadi tegang dalam sekejap.


"......Mel-sama, sebenarnya ada apa?"


Sosok 『White Wolf, Fenrir』 yang panik itu sangat langka.


Dari situ, Lilith menyadari bahwa ini situasi berbahaya.


Dia memanggil 『White Wolf, Fenrir』 tanpa melengahkan kewaspadaan sekitar, tapi tidak ada jawaban.


Tak lama, 『White Wolf, Fenrir』 membuka mulut perlahan dengan sikap tegang.


"......Ketahuan oleh 『Saint』."


Lilith butuh waktu lama untuk mencerna makna kata-kata itu.


"Hah?"


Meski begitu, kata yang terlontar bukanlah penyangkalan, bukan pula pembenaran, hanya suara bodoh seperti hembusan napas.


"......Sentuh aku, atau cobalah mengintip seperti biasa."


"Izinkan saya menyentuh tubuh Anda."


Lilith yang memiliki firasat buruk mengulurkan tangan ke 『White Wolf, Fenrir』, menyentuhnya seolah membelai bulu peraknya yang halus.


Saat menutup kelopak mata, dia disinari cahaya putih, dan anehnya pandangannya menjadi terbuka.


Sambil dikuasai sensasi seolah jiwanya terlepas, Lilith mengetahui alasan kenapa 『White Wolf, Fenrir』 tegang.


"Apa kau sudah paham alasan aku terkejut?"


"......Ya, saya mengerti."


Di dalam pandangan yang terbuka itu, gadis berambut perak sedang menginjak 『Antitesis Buangan No. V』.


Terlebih lagi, yang mengejutkan adalah tatapan matanya bersilangan dengan Lilith.


"Dia sadar bahwa kita sedang menonton di sisi lain."


"Apa maksudnya ini? Apakah Gift [Light] punya kemampuan seperti itu?"


Masa sih dia bisa melihat. Lilith ingin menyangkalnya, tapi jelas sekali tatapan gadis berambut perak itu tertuju seolah menangkap sosok Lilith dan 『White Wolf, Fenrir』.


"Lagipula sepertinya 『Antitesis Buangan No. V』 juga tertangkap. Meski tampaknya tidak dibunuh..."


Namun entah kenapa, dia tidak menatap 『Antitesis Buangan』 yang ditangkapnya, melainkan menatap ke arah sini.


"......Apa dari sana, dia bisa melihat kita?"


"Tidak mungkin. Aku rasa dia hanya merasakan hawa keberadaan kita... tapi Gift [Light] itu spesial. Dikatakan bahwa para dewa pun tidak memahaminya sepenuhnya."


"Artinya, tidak aneh jika ada kemampuan untuk melihat sosok kita?"


"Sepertinya sih tidak, tapi tidak bisa disangkal sepenuhnya juga."


"......Sepertinya kita perlu mengubah pandangan terhadapnya."


Selain karena Gift [Light], ada juga kelengahan karena merasa sudah tahu identitas asli 『Saint』.


Niatnya memegang rahasia lawan, tapi,


"Fufufu, ada kemungkinan justru kita yang sedang dibiarkan berenang bebas, ya. Ngomong-ngomong, untunglah saya tidak mengintip secara langsung."


Mungkin aku bermain terlalu berlebihan.


Mulai dari 『Parade Monster』 beberapa hari lalu hingga serangan 『Antitesis Buangan』 kali ini, rentetan kejadian ini telah direkayasa agar hanya mereka yang menyadari jejak yang ditinggalkan Lilith yang bisa sampai pada jawabannya.


"Kemungkinan besar dia sudah sampai pada identitas asli saya——sebaiknya kita anggap kemungkinan itu tinggi."


"Mungkin kita terlalu meremehkan Gereja Hukum Suci."


Lilith tersenyum pahit mendengar perkataan 『White Wolf, Fenrir』.


Karena faktanya dia memang memandang rendah mereka, dia tidak bisa membantah.


Dia tahu sedang diawasi, dan tahu mereka sedang menyelidiki sekitarnya.


Namun, Lilith membiarkan Gereja Hukum Suci karena menganggap mereka tidak penting.


Jika hasilnya mengundang situasi saat ini, itu disebabkan oleh keangkuhannya sendiri.


"Dia pasti belum menyadari identitas asli saya sampai sejauh itu, dan kalaupun sadar, kita juga memegang rahasianya."


"Jangan berlebihan. Jika kau memusuhinya, kau tahu akibatnya, kan?"


Merasakan tekanan yang dipancarkan 『White Wolf, Fenrir』, Lilith tersenyum pahit lalu mengangguk.


"Hanya sekadar bermain-main sedikit, saya tidak akan pernah melukainya kok."


Meski begitu, Lilith membelai leher 『White Wolf, Fenrir』 yang menatapnya dengan mata cemas sekali, lalu menjauhkan tubuhnya.


"Tidak perlu memasang wajah seperti itu, tidak apa-apa kok. Tenang saja. Karena itu, mari Mel-sama ikut menikmatinya juga."


Nah, sepertinya akan menjadi jauh lebih menyenangkan, pikir Lilith sambil berputar di tempat.



"Yulia-sama, ada apa?"


Disapa oleh Elsa, Yulia menurunkan pandangannya dari langit ke tanah.


"Tidak, hanya saja aku merasakan hawa aneh seolah sedang diawasi..."


Mendengar perkataan Yulia, Elsa melihat ke arah mana pandangan Yulia tadi tertuju.


"Arah di mana 『Kota Iblis Helheim』 berada ya. Mungkin Ars-san dan yang lain sudah sampai saat ini."


Setelah menangkap Iblis, Yulia yang bergabung dengan Elsa telah menyuruh Ars dan yang lain pulang lebih dulu.


"Benar juga. Meski aku agak khawatir apakah mereka berburu monster di tengah jalan."


Karena ada Grimm yang sedang terluka bersama mereka, dia ingin berpikir mereka tidak akan berbuat nekat.


Namun, Grimm sendiri juga ada sekrup di kepalanya yang longgar, jadi kalau salah sedikit kemungkinan mengamuknya tinggi. Harapan satu-satunya adalah Kirisha, tapi gadis itu juga agak nekat, jadi sepertinya tidak bisa diandalkan.


"Apa sebaiknya tadi aku memanggil Karen dan yang lain juga ya?"


Setelah pertarungan dengan para 『Antitesis Buangan』 berakhir, mereka mengirim surat yang menyatakan bahwa bala bantuan tidak diperlukan menggunakan burung ilusi Munin yang dipanggil oleh Gift [Phantom Beast] milik Kirisha. Namun, hanya Elsa yang berangkat lebih dulu daripada Karen dan yang lain, jadi mereka berselisih jalan dan akhirnya bergabung dengan Yulia.


"Tidak, justru sebaliknya. Kalau Karen-sama dan yang lain ikut bergabung, mengingat sifat Ars-san, dia pasti akan pulang sambil berburu monster."


"Mungkin juga. Nah, mari kita pikirkan bagaimana menangani orang ini."


Yang tergeletak di kaki Yulia adalah 『Antitesis Buangan No. V』.


Agar dia tidak kabur, Yulia menekan lehernya dengan kekuatan kakinya.


Sambil memandangi 『Antitesis Buangan No. V』 yang pingsan dengan wajah terdistorsi kesakitan, Yulia melirik Elsa.


"Lalu bagaimana dengan para Iblis tingkat menengah itu?"


"Sudah saya tangkap hidup-hidup. Seharusnya nanti akan ada yang menjemput."


"Begitu ya, kalau begitu, tolong sampaikan pada Verg-san untuk mengangkut orang ini juga."


"Baik. Tapi, sepertinya Ars-san melepaskan 『Antitesis Buangan No. V』 ini, apakah tidak apa-apa?"


"Makanya, sebenarnya dilepaskan juga tidak apa-apa, tapi karena perasaanku tidak enak... Katanya mereka akan memasang benda itu, jadi tolong sampaikan untuk melepaskannya setelah itu selesai."


"Apakah Yulia-sama benar-benar berpikir Ratu Hel dan Demon Lord Lilith adalah orang yang sama?"


"Tidak ada bukti, tapi aku yakin mereka orang yang sama."


"Kenapa Anda berpikir begitu?"


Elsa tampak heran. Dia mungkin tidak mengerti kenapa Yulia bisa seyakin itu.


"Ada beberapa alasan, tapi yang utama mungkin kemiripan antara 『Parade Monster』 tempo hari dengan serangan 『Antitesis Buangan』 kali ini."


Keduanya dirumorkan bergerak dengan target 『Kota Iblis Helheim』.


Untuk penyelesaian masalah, 『Kota Iblis Helheim』 sama sekali tidak mengeluarkan pasukan, dan yang menaklukkan keduanya adalah orang luar, yaitu pihak Ars.


"Selain itu, dengan dalih mengadakan pesta perayaan, kita jadi tidak bisa keluar dari Kota Iblis, dan yang bisa melakukan itu hanyalah penguasa Kota Iblis, Ratu Hel."


Begitu izin keluar akhirnya turun dan Ars pergi berburu, yang muncul adalah Demon Lord Lilith. Memang para Demon Lord itu sulit diprediksi kemunculannya, tapi waktunya terlalu pas.


"Saya sudah minta tolong 『Faksi Holy Knight』 untuk menyelidiki, katanya ada Iblis yang sedang memata-matai kita."


Namun, di Kota Iblis, hukum lebih memprioritaskan Iblis dibanding ras lain. Karena itu, meski ditangkap pun mereka harus segera dilepaskan. Menyadari hal itu hanya membuang waktu, Verg dan yang lain memutuskan untuk berhenti mengawasi.


"Jadi begitu, karena itulah kalian menangkap 『Antitesis Buangan』, ya. Kalau mereka, pihak Kota Iblis tidak bisa bersikeras meminta pembebasan."


『Antitesis Buangan』 adalah mereka yang diasingkan dari Kota Iblis, diberi nomor tahanan, dan dibuang ke luar kota.


Selain itu, jika mereka kembali ke 『Lost Land』 tanpa izin, mereka akan menjadi terpidana mati.


Dan, hak untuk menentukan hidup atau mati mereka diberikan kepada mereka yang paling berjasa di antara yang berpartisipasi dalam penaklukan 『Antitesis Buangan』.


"Ya, pilihannya tinggal dua: bernegosiasi dengan Kota Iblis agar mereka membeli tawanan itu, atau mengusir mereka dari 『Lost Land』 ke wilayah manusia. Namun, sepertinya Gereja Hukum Suci telah menciptakan pilihan ketiga."


Meski dia belum mendengar detail mengenai 'benda itu' dari Verg, itu pasti bukan sesuatu yang baik.


Elf pada dasarnya cenderung menolak ras lain. Mereka tidak mengakui ras selain diri mereka sendiri. Maka, mudah untuk membayangkan apa yang akan mereka lakukan pada Iblis yang bahkan tidak mereka akui.


"Tapi, jika Kota Iblis sedang menyelidiki area sekitar, mungkin sebaiknya Yulia-sama tidak terlalu mendekat ke Distrik Khusus."


"Tidak, kudengar Ratu Hel adalah wanita yang cerdas. Aku yakin dia sudah memegang bukti bahwa aku adalah 『Saint』."


"Apakah itu tidak berbahaya?"


"Karena sudah susah payah memegang kelemahanku, dia tidak akan menyia-nyiakannya dengan menyebarkannya ke negara-negara tetangga. Dia pasti akan mencoba mengontak di suatu tempat."


"......Itu berarti kita perlu memegang kelemahan Ratu Hel sebelum saat itu tiba, ya."


"Kalau ada sih bagus. Tapi, tidak perlu terlalu pesimis, kok."


"Apakah Anda punya rencana?"


Pada Elsa yang bertanya dengan cemas, Yulia melemparkan senyum untuk menenangkannya.


"Kartu As itu memiliki tanggal kedaluwarsa, lho. Jika lawan menyadari hal itu, aku rasa kita bisa mengatasinya dengan cara apa pun."


Yulia mengangguk menanggapi perkataan Elsa.


Di saat yang sama, dari sudut pandangnya dia melihat sekelompok Elf sedang menuju ke arah sini.


"Aku jadi menantikan pesta perayaan nanti. Karena Ratu Hel pasti akan mengontak kita..."


Ini akan menjadi ajang saling menyelidiki niat masing-masing.


Yulia tersenyum, seolah mengatakan dia sangat menantikan dengan sikap seperti apa sang Ratu akan muncul nanti.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close