NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Naze ka S-kyuu Bijotachi no Wadai ni Ore ga Agaru Ken V1 Chapter 3

 Penerjemah: Miru-chan

Proffreader: Miru-chan


Chapter 3

Sesuai Kehendak Sara

Keesokan harinya, sejak pagi langit tertutup sepenuhnya oleh warna kelabu kusam. Seperti biasa, Haruya berangkat ke sekolah dan berpura-pura tidur di bangkunya, seolah ingin menutupi suara hujan yang terus mengguyur di luar.


Sambil begitu, ia memasang telinga… dan menajamkan kesadarannya agar bisa mendengar percakapan para S-Class Beauty. Ia tak bisa menahan diri untuk tidak memikirkan gerak-gerik Sara.


Kemarin, identitasnya memang sudah ketahuan oleh Sara, dan ia terus memikirkan tindakan apa yang akan diambil gadis itu mulai hari ini. Meski berusaha untuk tidak memikirkannya… tetap saja, Haruya tak bisa berhenti merasa penasaran. Ia memang sudah berkali-kali memastikan Sara agar tidak membocorkan identitasnya, tapi sejujurnya, itu bukan sesuatu yang bisa benar-benar ia percayai.


Karena itu, dengan hati yang gelisah dan perasaan tertekan, Haruya mengamati tingkah laku para S-Class Beauty.


"──Sarachin, kenapa? Kamu kelihatan nggak bersemangat."


"Iya juga… wajahmu kelihatan pucat. Ada sesuatu yang terjadi kemarin?"


"Rin-san, Yuna-san, mohon jangan khawatir… aku baik-baik saja kok."


Melihat Sara yang jelas-jelas tidak tampak baik-baik saja, baik dari raut wajah maupun nada suaranya, Rin dan Yuna pun menunjukkan ekspresi kebingungan. Mereka berdua ingin membantu, namun dari aura yang terpancar dari Sara, mereka bisa merasakan penolakan yang jelas.


Meski sebenarnya itu hanyalah aura yang tanpa sadar dikeluarkan oleh Sara sendiri, dan hanya segelintir orang yang mampu merasakannya…


──Siapa pun pasti punya satu atau dua hal yang tak ingin disentuh oleh orang lain.


Terlebih lagi, para S-Class Beauty yang kerap diperlakukan secara istimewa karena kecantikan luar biasa mereka, sangat mahir membaca suasana di sekitar. Karena itu, mereka menjaga apa yang disebut jarak… yakni menarik garis yang jelas tentang batas yang tidak boleh dilangkahi satu sama lain, demi tetap berteman.


Biasanya, Rin akan melanjutkan obrolan soal cinta tanpa sungkan. Namun melihat Sara yang akhir-akhir ini justru terlihat murung—padahal sebelumnya sangat antusias membicarakan hal itu—Rin menyadari bahwa topik tersebut kini sepenuhnya menjadi hal tabu. Ia pun berkata, "Maaf ya," lalu mulai mengangkat topik yang aman dan tak menyinggung apa pun.


"Ne, nee nee, ngomong-ngomong! Produk baru dari toko depan stasiun yang kemarin rilis itu, enak banget lho."


"Ah, toko itu… memang enak, ya."


Sambil berbincang seperti itu, Rin dan Yuna sesekali mengamati reaksi Sara dengan hati-hati. Namun Sara terlihat seperti tidak benar-benar hadir di tempat itu; baru setelah menyadari tatapan mereka, ia buru-buru memasang senyum.


"…Karena kita teman, kan."


Tiba-tiba, Rin bergumam pelan.


"Kalau ada hal yang menyulitkanmu, bilang saja ya, Sarachin. Aku bakal bantu."


"Iya… aku juga mau bantu."


Yuna mengangguk kecil, menyatakan persetujuannya dengan Rin.


Mendengar itu, mata Sara sempat bergetar sesaat. Ia mengatupkan bibirnya rapat, lalu menundukkan kepala.


"Terima kasih banyak. Tapi maaf… ini masalahku sendiri."


Dengan nada sungkan, namun tegas, Sara mengatakannya. Sepertinya Rin dan Yuna pun menyadari bahwa tak ada lagi yang bisa mereka lakukan.


Berusaha menutup suasana, mereka pun mengalihkan pembicaraan ke topik lain dan berjuang sekuat tenaga agar suasana tetap cair.


(…Himekawa-san, apa dia baik-baik saja?)

(Jelas banget wajahnya pucat…)

(Padahal akhir-akhir ini dia selalu tersenyum, kenapa tiba-tiba begini…)


Para murid sekelas pun melontarkan suara-suara kekhawatiran melihat perubahan Sara.


Nah, sementara itu, Haruya yang mendengarkan semua interaksi para S-Class Beauty itu, bergumam dalam hati──


(…Hah? Sebenarnya ini kenapa?)


Bukan hanya karena Sara terlihat tak bersemangat, tapi yang paling membuat Haruya bingung adalah fakta bahwa Sara sama sekali tidak menunjukkan ketertarikan pada obrolan cinta. Padahal sampai kemarin, dia membicarakan dirinya dengan begitu ceria… bahkan seperti sedang memainkan mainan, itulah sebabnya Haruya tak bisa berhenti memikirkannya.


(…Jangan-jangan, dia kecewa setelah tahu kalau identitasku cuma laki-laki culun dengan poni panjang kayak gini?)


Ia hampir saja menafsirkan semuanya secara menguntungkan diri sendiri. Meski begitu, pemikiran itu tetap membuat hatinya terasa perih.


(…Kalau ada satu hal yang pasti, kondisi mentalnya jelas nggak stabil.)


Kemarin, Sara masih memperlihatkan senyum yang begitu cerah dan memesona. Namun hari ini, ia berubah menjadi seperti orang yang pikirannya melayang entah ke mana—jelas sesuatu telah terjadi. Melihat kondisi mental Sara yang tidak stabil, Haruya pun dilanda rasa gelisah.


(Kapan saja dia bisa membocorkan identitasku… sungguh.)


Haruya memang orang yang mudah khawatir. Tapi masalah ini menuntut kehati-hatian ekstra—ini soal hidup dan mati baginya.


Meski ada janji bahwa identitasnya tidak akan dibocorkan, itu hanya janji yang diucapkan Sara ketika kondisi mentalnya stabil.


Tetap saja, Haruya tidak bisa merasa tenang. Apalagi kalau emosi dan mental Sara terus tidak stabil, itu benar-benar tak tertahankan.


(…Aku jadi makin gelisah. Tapi dalam situasi begini, mungkin aku harus minta saran dari dia.)


Haruya pun memutuskan untuk meminta nasihat dari seseorang.


***


Sore hari itu, ketika waktu telah melewati pukul enam. Langit perlahan berubah menjadi biru nila, dan ketika keluar rumah, cahaya lampu-lampu rumah serta lampu jalan mulai tampak menonjol.


Haruya, dengan penampilan “sisi belakang layar”-nya yang sudah dirapikan, mengunjungi kafe langganannya.


Kohinata, yang bekerja paruh waktu sebagai pelayan, masih mengenakan seragam mirip baju maid. Ia sudah mendapat izin dari sang manajer, lalu memanfaatkan waktu istirahatnya untuk mengobrol dengan Haruya yang diperlakukan layaknya pelanggan tetap.


"──Onii-san, ada apa? Kelihatannya kakak mau curhat ke aku."


"Iya. Justru karena itu aku mau nanya sesuatu ke Kohinata-san."


"Ada yang mau ditanyakan ke aku…? Apa itu? Jangan-jangan soal cinta?"


Mendengar pertanyaan Kohinata yang agak terlalu antusias, Haruya menggelengkan kepala. Lalu ia menatapnya dengan sorot mata serius.


"…Kohinata-san itu, apa ya… orang yang sangat mementingkan hubungan saling percaya, kan?"


"Iya… benar."


Gadis itu adalah tipe yang paling mencintai dirinya sendiri dan tidak mudah mempercayai orang lain. Karena itu, ia cenderung pasif dalam mencari teman. Namun Haruya ingat pernah mendengar bahwa ia memiliki beberapa teman yang benar-benar ia percaya dari lubuk hatinya. Alasan Kohinata—yang jarang mempercayai orang lain—masih bisa punya teman adalah karena ia membangun hubungan saling percaya yang kokoh dengan mereka.


Justru karena itulah, Haruya ingin meminta saran darinya: seseorang yang telah membangun ikatan kepercayaan yang tak tergoyahkan, demi mendapatkan kepastian bahwa Sara tidak akan pernah membocorkan identitasnya.


Setelah menceritakan garis besar masalahnya tanpa masuk ke detail, dan bertanya bagaimana cara membangun hubungan saling percaya yang kuat, Kohinata pun menjawab dengan suara dingin yang meluncur begitu saja.


"Itu gampang kok… beri orang itu utang budi yang mutlak."


Nada suaranya yang lebih dingin dari yang Haruya bayangkan membuat punggungnya meremang.


"Utang budi yang mutlak?"


"Iya. Dari ceritamu, orang yang kamu maksud itu kelihatannya punya sifat yang sangat bertanggung jawab, bukan?"


"Ya… kurasa begitu. Dia memang tipe yang sangat bertanggung jawab."


"Kalau begitu, selama kamu membuatnya berutang budi, hubungan saling percaya akan terbentuk dengan sendirinya."


"Membuat orang berutang budi… ya."


"Iya. Cara tercepatnya, tentu saja, adalah menolong orang itu ketika dia sedang mengalami kesulitan. Walaupun, kalau kesulitannya kelihatan jelas, tentu saja hidup jadi terlalu mudah."


Sambil berkata begitu, Kohinata memperlihatkan senyum pahit. Namun Haruya tiba-tiba membuka matanya lebar-lebar, seperti baru menyadari sesuatu. 


Melihat reaksinya, Kohinata pun terkejut dan bertanya,


"Eh, jangan-jangan sekarang orang itu memang sedang dalam masalah…?"


"Iya… anehnya begitu."


Mereka saling menatap dan mengangguk. Kohinata lalu berkata, "Kalau begitu," sambil mengacungkan jari telunjuknya lurus ke arah Haruya.


"Aku rasa, kunci utamanya adalah membantu menyelesaikan masalah orang itu."


"Masuk akal."


Mendengar penjelasan Kohinata, Haruya mengangguk setuju.


"Ngomong-ngomong, orang yang bertanggung jawab dan sekarang sedang punya masalah, ya…"


Seolah ia juga punya gambaran sendiri, Kohinata menjawab sambil berpikir.


"…Kamu kepikiran sesuatu?"


Tanya Haruya balik. Ia mengangguk pelan di tempat.


"Iya. Sebenarnya, di antara sedikit teman yang aku punya, ada juga orang seperti itu…"


Dengan ekspresi seakan menelan rasa tak berdaya, Kohinata menoleh ke arah Haruya.


"Aku sempat berpikir ingin membantu… tapi kelihatannya tidak berhasil."


"Begitu, ya…"


Melihat wajahnya yang dipenuhi rasa pasrah dan sedikit ejekan terhadap diri sendiri, Haruya tak tahu harus berkata apa. Ia hanya bisa mengangguk. Namun mungkin karena menyadari perasaannya, Kohinata menggelengkan kepala dan menambahkan, "Tapi—"


"Masalah temanku itu memang sesuatu yang benar-benar tidak bisa aku apa-apakan… tapi kalau ‘orang itu’, aku yakin dia bisa menjadi pangeran berkuda putih."


Melihat senyum lembut di wajahnya, Haruya hampir saja memiringkan kepalanya kebingungan.


(‘Orang itu’? Entahlah, tapi mata Kohinata-san… penuh dengan harapan.)


Meski tidak begitu mengerti, Haruya tetap mengangguk dan menyesuaikan diri dengan pembicaraan.


"Semoga dia bisa berjuang dengan baik."


"Iya. Aku benar-benar ingin orang itu berusaha sekuat tenaga."


(Entah kenapa, tapi semangatlah, orang itu…!)


Begitulah Haruya menyemangati dalam hati, seolah itu sama sekali bukan urusannya sendiri. Namun saat itu, ia belum menyadari satu hal. Bahwa “orang itu” yang dimaksud—tak lain dan tak bukan—adalah Haruya sendiri.


***


Di luar, tirai malam telah sepenuhnya turun. Menatap langit malam yang kini diselimuti kegelapan pekat melalui celah tirai jendela, Sara terus menyalahkan dirinya sendiri.


(…Sebenarnya apa yang sedang kulakukan…)


Di sekolah hari ini, Rin dan Yuna jelas menyadari bahwa dirinya tidak dalam kondisi normal. Padahal mereka mengkhawatirkannya, namun ia justru menanggapi dengan cara yang terasa menjauhkan. Memikirkan itu saja sudah membuatnya muak pada dirinya sendiri.


(Lagi pula, hari ini hujan, jadi aku tidak bisa ke atap sekolah… tapi kalau saja hari ini kami bertemu…)


Bukankah dia mungkin akan kembali merepotkannya?


Memikirkan hal itu membuat dada Sara terasa tercekik.


(Aku ini putri keluarga Himekawa… jadi ini memang tidak bisa dihindari.)


Dengan wajah pasrah, ia menghela napas pelan.


(Bukan berarti aku sama sekali tidak percaya diri, sih…)


Faktanya, Haruya selalu mengatakan bekalnya enak sambil melahapnya dengan lahap, dan saat mereka berkencan pun, menurut perasaannya sendiri, ia terlihat benar-benar menikmatinya. Namun, sambil berkata, “Sudah terlambat sekarang…”, Sara kembali menenangkan dirinya dengan ekspresi pasrah.


(Aku memang tidak diperbolehkan menjalin cinta yang ditentukan oleh takdir… karena itulah, sejak aku mengalami pertemuan yang terasa seperti takdir dengan Akasaki-san hari itu, rasanya pandanganku jadi terdistorsi.)


Karena cinta yang bebas tidak diizinkan, justru itulah ia mendambakannya. Menginginkannya. Perasaan semacam itu, menurut Sara, muncul ke permukaan setelah ia bertemu Haruya dalam pertemuan yang terasa begitu takdir.


(Aku pasti hanya sedang mengaguminya… takdir cinta yang—tidak, sebenarnya aku hanya mendambakan cinta yang biasa, yang manis dan sedikit asam.)


Setelah menganalisis dirinya sendiri seperti itu, Sara menyadari bahwa hatinya terasa sedikit lebih ringan.


(Kalau begitu, sebelum pertemuan jodoh, kalau aku bisa menikmati cinta yang “normal”, perasaan ini pasti akan mereda, kan…)


Dengan kilasan ide seolah menemukan solusi jenius, Sara mulai menyebutkan satu per satu hal romantis yang ingin ia lakukan.


(Pulang bersama diam-diam sepulang sekolah, belajar bersama, ah—aku juga ingin ke laut.)


Ia mulai membuat daftar hal-hal yang ingin ia lakukan dalam hubungan yang “normal”. Namun karena terlalu banyak, ia pun mempersempitnya dan menetapkan batas yang realistis.

…Karena Sara merasa, waktu yang tersisa sudah tidak banyak.


(Pulang sekolah, belajar, laut… ya.)


Ia menilai kandidat yang pertama muncul adalah yang paling realistis.

Berbelanja di luar sulit untuk dibatasi, jadi ia membatasi semuanya di lingkungan sekolah… dan laut ia pilih karena terasa sedikit lebih istimewa.


Setelah memastikan pilihannya beberapa kali, Sara pun segera mengirim pesan kepada Haruya.


『Maaf mengganggu di malam hari. Besok saat jam istirahat siang, bisakah Anda datang ke atap sekolah? Ada permintaan terakhir yang ingin saya sampaikan.』


Ia tahu itu terdengar egois. Tapi karena ini yang terakhir… Sara meyakinkan dirinya sendiri.


(…Akasaki-san.)


Dengan perasaan sendu, Sara menyebut nama orang yang ia cintai dalam hatinya.


***


Keesokan harinya saat jam istirahat siang. Haruya melangkah menuju atap sekolah dengan senyum licik terukir di wajahnya. Alasannya sederhana: semalam, ia menerima pesan dari Sara.


Isinya menyebutkan, “ada permintaan terakhir”.


Ia belum diberi tahu apa permintaan itu. Mungkin akan dijelaskan setelah ini. Namun meski yang menantinya adalah sebuah permintaan, suasana hati Haruya justru sedang sangat baik. Ia teringat nasihat Kohinata: kalau ia memberi “utang budi”, maka ia bisa mendapatkan kepastian bahwa identitasnya tidak akan dibocorkan.


Terus terang, melihat kondisi mental Sara saat ini, Haruya merasa kapan saja gadis itu bisa saja keceplosan. Karena itu, setelah mendengarkan “permintaan terakhir” Sara, lalu meminta imbalan agar identitasnya tidak dibocorkan, Haruya yakin semuanya akan berjalan lancar.


(…Permintaan apa pun, silakan saja. Aku juga punya agenda sendiri…)


Menyembunyikan perasaan yang ia simpan dalam hati, Haruya pun tiba di atap sekolah. Dan di sanalah ia mendengar permintaan Sara───.


"Um… bolehkah kamu mendengarkan permintaanku?"


"Jadi intinya, kamu ingin melakukan tiga hal yang mirip seperti hubungan cinta biasa… kan?"


"Iya, betul."


"Begitu rupanya."


Di daftar yang disodorkan, tertulis: pulang sekolah bersama, belajar bersama, dan pergi ke laut.


Hanya tiga hal itu.


Permintaan tersebut ternyata begitu tak terduga hingga membuat Haruya tertegun. Ia sudah bersiap untuk dimintai hal yang jauh lebih berat. Ia sempat berpikir untuk meminta janji agar identitasnya tidak dibocorkan sebagai gantinya, tetapi ia menahan diri. Meminta hal seperti itu di akhir rasanya akan lebih efektif.


Melihat mata Sara yang dipenuhi kecemasan, Haruya hanya menjawab singkat, “Baik.” Wajah Sara langsung bersinar, dan ia pun mengucapkan terima kasih dengan penuh rasa syukur.


(Segini saja bukan apa-apa… sebagai harga agar identitasku tidak terbongkar.)


Sara memasang senyum yang terkesan dibuat-buat, lalu membungkuk dengan sopan.


"Kalau begitu, bolehkah kita langsung mulai sepulang sekolah hari ini?"


"Boleh. Tapi aku nggak suka jadi pusat perhatian. Gimana kalau kita pulang setelah teman-teman lain agak sepi?"


"Iya, tidak masalah sama sekali. Aku juga memang berniat begitu."


Dengan begitu, Haruya dan Sara pun memutuskan untuk pulang bersama sepulang sekolah.


***


Lalu, sepulang sekolah.


Setelah menunggu sampai jumlah siswa yang pulang mulai berkurang, Haruya pergi ke depan gerbang sekolah dan menunggu di sana. Sara belum terlihat, tetapi setelah sekitar lima menit, akhirnya ia muncul.


"Maaf, sudah membuatmu menunggu…"


"Nggak, aku sama sekali nggak nunggu lama, kok."


Sambil bertukar basa-basi yang sudah sangat umum itu, keduanya sama-sama gelisah dan melirik ke sekitar. Karena identitas aslinya sudah diketahui Sara, saat ini Haruya tampil dengan “wajah luar”-nya, yaitu penampilannya yang suram dan tidak mencolok.


"Fufu. Rasanya sulit percaya kalian orang yang sama. Rambutmu kepanjangan, tahu? Menurutku sih, lebih baik dipotong."


"Sering dibilang begitu, tapi yang ini lebih bikin aku tenang."


Menjawab sambil tersenyum pahit, Sara pun bergumam pelan dalam hati.


(Ya, fakta bahwa Cuma aku yang tahu juga… nggak buruk sih.)


Dengan sedikit menjaga jarak dari Sara, Haruya mulai berjalan lebih dulu.


"…Ngomong-ngomong, rumahku ke arah kanan. Kalau Himekawa-san?"


"Ah, aku juga ke arah yang sama, jadi jangan dipikirkan."


Haruya mengangguk, lalu mereka pun berjalan pulang bersama. Meski hanya berjalan pulang bersama, berada di samping Sara tetap membuatnya menonjol. Tidak sampai ditatap terang-terangan, tetapi Haruya bisa melihat siswa dari sekolah lain yang mengamati mereka dari kejauhan. Padahal hanya pulang sekolah, tapi membawa serta seorang gadis cantik saja sudah membuat ketegangan terasa sangat berbeda.


Sara menatap punggung Haruya yang berjalan sambil terus waspada ke depan, dengan jantung yang berdebar kencang.


(Rasanya seperti dia sedang melindungiku… yang seperti ini ternyata tidak buruk juga.)


Sara mati-matian menahan senyum yang hampir mengembang di wajahnya. Sementara itu, Haruya merasa lega karena untungnya mereka tidak bertemu siswa dari sekolah yang sama. Ia pun menghela napas lega.


Setelah berjalan sambil waspada selama sekitar sepuluh menit, dan tepat saat ia merasa akhirnya bisa sedikit mengendurkan kewaspadaan—langkah Sara tiba-tiba terhenti.


Mengikuti arah pandangannya, Haruya menyadari ada sebuah gerobak penjual crêpe yang sedang mangkal di sana.


(Dia pengin mampir, ya…)


Terus terang, Haruya ingin segera pulang. Tapi memberi “utang budi” tidak ada ruginya.


"…Mau makan crêpe dulu?"


Mendengar tawaran penuh perhatian itu, Sara sedikit terlambat namun mengangguk dengan semangat.


"Kalau begitu, ke sini."


Sambil berkata begitu, mereka berjalan menuju gerobak crêpe—


"Enak banget ya, Yunarin!"


"Iya. Tempat ini ternyata lumayan juga…"


"Andai Sarachin bisa ikut ke sini juga."


"Iya… tapi belakangan ini, Sara kelihatannya nggak ingin terlalu diganggu."


Suara-suara yang sangat familiar itu sampai ke telinga Sara. Terlepas dari isi pembicaraan, begitu Haruya melihat seragam yang sama dengan sekolah mereka, wajahnya langsung berubah masam. Perasaan keduanya pada saat itu sama persis:


“Gawat, harus kabur.”


Mereka berdua buru-buru mencoba meninggalkan tempat itu—


"Eh? Hah? Itu… bukannya Sarachin?"


"Bener… kenapa Sara malah kayak mau kabur?"


"Dan laki-laki itu… siapa!?"


"Eh, aku juga nggak tahu…"


Sepertinya mereka terlambat menyadarinya.


Haruya dan Sara saling berpandangan.


(…Gimana ini? Mereka itu teman-temanku…)


(Kalau kabur sekarang, Himekawa-san bakal kesulitan juga… mau nggak mau harus mengarang alasan.)


Setelah saling bertukar isyarat mata dan memahami niat masing-masing, keduanya pun pasrah dan melangkah menuju para S-Class Beauty—Yuna dan Rin.


"Laki-laki itu sebenarnya siapa sih, Sarachin!?"


"Iya, aku juga penasaran…"


Tatapan penuh rasa ingin tahu yang sangat kuat kini tertuju pada Haruya.


(Bukan siapa-siapa… aku ini teman sekelas kalian juga, tahu.)


Sambil kembali tersentuh oleh betapa tidak mencoloknya dirinya, Haruya menggerutu dalam hati. Namun lebih dari itu—ia merasa suara Rin dan Yuna terdengar akrab.


(Ngomong-ngomong, suara dua orang ini kayaknya pernah kudengar…)


Seorang pegawai paruh waktu di kafe langganannya tempat ia sering berbincang soal manga shoujo. Ia merasa suara mereka sangat mirip dengan dua orang itu.


…Tapi karena ada pepatah bahwa di dunia ini ada tiga orang yang mirip dengan diri kita, Haruya pun tidak terlalu memikirkannya.


Melihat Sara yang kebingungan memikirkan cara menjelaskan pada teman-temannya, Haruya menggaruk belakang kepalanya lalu menjawab.


"Uh, jadi begini…"


“”"………"””


Tatapan Sara dan para S-Class Beauty serempak tertuju hanya padanya.


"Kami kebetulan ketemu pas mau beli crêpe…"


Dengan nada tegang, Haruya berkata begitu. Namun di luar dugaan, Yuna dan Rin justru mengangguk seolah menerima penjelasan itu.


(Syukurlah… kali ini masih bisa ditutup-tutupi.)


Nah, karena rasanya tidak enak kalau hanya menyuruh satu orang pulang padahal mereka satu sekolah, Haruya akhirnya ikut makan crêpe bersama para S-Class Beauty.


Situasi yang pasti membuat semua murid laki-laki iri—namun sejujurnya, bagi Haruya, suasananya benar-benar tidak nyaman.


"Sarachin… sekarang kamu sudah kelihatan lebih baik?"


"Iya. Kemarin sudah bikin kalian khawatir, tapi sekarang aku baik-baik saja."


"Syukurlah. Benar-benar lega dengarnya, Sara."


Setelah obrolan antar para S-Class Beauty itu selesai, perhatian mereka pun beralih ke Haruya.


"Ngomong-ngomong, rambutmu panjang banget, ya. Menurutku sih, kamu pasti bakal kelihatan lebih bagus kalau dipotong… kan, Yunarin?"


"…Eh, ya, aku ngerti maksud Rin… aku sih nggak menentang."


Menanggapi Rin yang berbicara dengan penuh semangat, Yuna mengangguk samar sambil ikut menyetujui.


"……A-akan aku pertimbangkan."


"Hahaha, iya, dipikirkan saja."


"Kalau aku sih, menurutku dua-duanya nggak masalah, ya… sekadar pendapat."


Topik yang dibicarakan para S-Class Beauty dengan Haruya hanya sebatas itu. Setelahnya, pembicaraan kembali ke Sara, dan mungkin karena Sara sudah terlihat lebih ceria, topiknya pun bergeser ke obrolan cinta.


"Hei, kamu juga dengar ceritanya, kan? Tentang Sarachin. Menurutmu ini bukan pertemuan takdir?"


Saat pembicaraan tentang kisah cinta Sara dimulai, Rin melontarkan pertanyaan itu kepada Haruya.


"…A-anu. T-tolong hentikan."


Sara langsung memerah dan menundukkan kepala.


Wajar saja—dibicarakan soal “pertemuan takdir” tepat di depan orangnya sendiri.


Haruya pun tak kalah memerah, rasanya seperti sedang menjalani hukuman rasa malu. Pasalnya—


"Keren banget, ya, orang itu… cuma dari ceritanya saja sudah terasa betapa kerennya dia…"


"Aku juga penasaran ingin melihat langsung orang itu…"


Rin dan Yuna memuji “orang itu” secara terang-terangan.


"(Hei, ini penyiksaan macam apa sih…!)"


"(Uuuh… ini sudah terlalu memalukan.)"


Keduanya sama-sama memerah, tenggelam dalam rasa malu.



Dalam perjalanan pulang hari itu. Sepanjang jalan dari gerobak crêpe, mereka berdua sama-sama terdiam. Dengan Rin dan Yuna ikut bersama, jelas mereka tak bisa membicarakan hal-hal pribadi.


"Ah, kalau begitu aku ke arah sini dulu."


Saat tiba di persimpangan dengan arah jalan yang berbeda dari para S-Class Beauty, Haruya pun berpisah dengan mereka.


Tanpa diketahui dua temannya, Sara melambaikan tangan kecil ke arah Haruya. Haruya membalasnya dengan anggukan ringan, lalu berbalik dan mulai berjalan. Di tengah perjalanan pulang sendirian, ponselnya bergetar pelan. Saat melihat notifikasi, ternyata pesan dari Sara.


『Hari ini maaf sudah merepotkan banyak hal. Tapi pulang bersama itu rasanya seperti hubungan cinta yang normal, dan menyenangkan. Meski ada sedikit kejadian tak terduga sih…』


Setelah membaca pesannya, Haruya tersenyum kecut lalu membalas.


『Benar… tapi aku juga menikmatinya, jadi nggak apa-apa. Selanjutnya, pulang bersama sudah cukup sampai di sini, ya?』


『Iya. Kalau sampai kejadian seperti hari ini lagi… ya, repot. Selanjutnya mohon bantuanku soal belajar.』


『Siap.』


Setelah bertukar pesan singkat itu, Haruya menyimpan kembali ponselnya.


(Tidak tahu apakah ini benar-benar keputusan yang tepat… tapi tinggal dua lagi. Setelah itu, akhirnya aku bisa merasa tenang…!)


Dalam hati, Haruya terkekeh pelan.


***


"──Ini memang soal bilangan bulat yang tergolong klasik, tapi perlu sedikit penerapan."


"Oh begitu ya. Aku sama sekali nggak ngerti."


Suatu hari sepulang sekolah. Haruya, yang diminta untuk belajar bersama, sedang belajar berdua dengan Sara di atap sekolah.


Saat itu, Sara sedang menjelaskan dengan teliti dan mudah dipahami bagian soal yang tidak dimengerti Haruya. Penjelasannya memang mudah dimengerti, tapi ada satu hal yang mengusik pikiran Haruya.


(Himekawa-san… dia ternyata cukup memperhatikan sekitar, ya )


Haruya sebenarnya tidak secara khusus menunjukkan kalau ia tidak paham soal ini. Ia hanya berhenti menulis dan terlihat berpikir, lalu Sara dengan sendirinya menjelaskan dari samping.


"Himekawa-san itu tipe yang cukup memperhatikan sekitar, ya."


"…Eh? Kok tiba-tiba?"


"Nggak, aku cuma kagum aja."


"Ah, terima kasih."


Ia mengangguk polos, lalu tersenyum tipis dengan malu-malu.


Mereka pun kembali melanjutkan belajar, dan setelah sampai di titik yang pas, keduanya memutuskan untuk istirahat sejenak.


"──Eh, itu Tetris?"


"Eh, iya. Biasanya aku main pas waktu luang buat istirahat…"


Saat Haruya menyalakan aplikasi Tetris dan mulai bermain, Sara menyapanya.


(Ah… itu harusnya T-spin…)


Melihat permainan Haruya, rasa gemas mulai berputar di dada Sara.


Sara adalah pemain Tetris berpengalaman—bahkan bisa dibilang termasuk pemain papan atas.


"Ah… kalah."


Haruya dikalahkan oleh lawannya dalam pertandingan online. Melihat itu, Sara menggigit bibir bawahnya, seolah ingin mengatakan sesuatu.


"Jangan-jangan, Himekawa-san… mau coba main Tetris?"


"…I-iya. Aku bisa kok, mainnya."


"Pemula biasanya bilang gitu, tapi ini lumayan susah, lho…"


"Serahkan saja padaku…"


Karena Sara berbicara dengan penuh percaya diri, Haruya sempat ragu. Namun, ia juga penasaran ingin melihat kemampuan Sara yang sesumbar itu, jadi ia membiarkannya bermain.


──Dan hasilnya.


"Ini… ngeri banget──"


Haruya terdiam melihat kecepatan tangan Sara saat bermain Tetris.


(Apa-apaan itu… cepetnya nggak masuk akal. Rasanya aku nggak bakal bisa menang seumur hidup.)


Saat ia masih terkejut dengan kecepatan itu, tanpa sadar Sara sudah berada di peringkat pertama. Tanpa berkata apa-apa, Sara membuat pose peace sign dan sedikit menaikkan sudut bibirnya.


(…Maaf, aku salah besar sudah sok ngomong)


Saat Haruya meminta maaf dalam hati, Sara dengan rajin justru mulai menjelaskan tips bermain Tetris.


"Kalau sudah hafal kontrol dasarnya, tinggal latihan saja. Pola dasarnya sudah ada, jadi awalnya fokuslah sampai benar-benar bisa menjalankan pola-pola itu dengan sempurna──"


Penjelasan Sara mungkin memang sangat benar, tapi di mata Haruya…


(Ini jawaban khas pemain hardcore, kan…)


Begitulah kesan yang muncul di benaknya.


Setelah itu, Tetris ditutup sementara, dan kali ini Haruya membuka aplikasi game race kart yang menilai peringkat. Dengan memiringkan ponsel ke kiri dan kanan, kart bisa berbelok, tapi itu ternyata cukup sulit.


Saat Haruya berjuang mengendalikan kart, Sara—berbeda dari saat Tetris—menatap layar dengan penuh ketertarikan.


"Mau coba juga?"


Saat ditanya, Sara mengangguk sambil berkata, "Tentu." 

Wajahnya terlihat tegang, jadi kemungkinan besar ini pertama kalinya ia memainkan game ini.


Haruya menyerahkan ponselnya, dan saat Sara mulai bermain──bukan hanya tangannya, tapi seluruh tubuhnya ikut bergerak. 


Saat ingin belok kanan, tubuhnya ikut miring ke kanan. Saat ingin belok kiri, tubuhnya ikut condong ke kiri. Setiap kali itu terjadi, aroma harum samar menyentuh hidung Haruya.


(…Reaksinya itu, lucu banget sih)


Tanpa sadar, Haruya berpikir demikian.


Saat ia mulai teralihkan oleh tingkah Sara, gadis itu tiba-tiba mengembungkan pipinya dan bertanya dengan kesal.


"Akasaki-san… ini susah. Boleh coba sekali lagi?"


"Iya, nggak apa-apa."


Dan dimulailah permainan kart versi Sara.


Percobaan pertama: saat belok kiri, tubuh ikut bergerak dan mobil rusak.

Percobaan kedua: kali ini saat belok kanan, tubuh ikut bergerak dan mobil hancur total.

Bersamaan dengan tulisan “GAME OVER”, muncul animasi badut karakter orisinal yang tertawa mengejek di layar.


"Aduh—apa-apaan sih karakter ini…!"


"…Iya, badut itu emang tingkat ngejeknya tinggi."


Salah satu alasan game ini disebut game sampah adalah karena tingkat kesulitannya tinggi, ditambah karakter badut ini selalu mengejek setiap kali kalah.


"Akasaki-san, aku masih kesal… boleh sekali lagi?"


"Sebentar lagi kita harus mulai belajar lagi—"


"Ini yang terakhir, ya…!"


"Eh…"


Sebenarnya Haruya ingin berkata, “Bisa nggak agak menjauh?”

Karena cara Sara bermain dengan menggerakkan seluruh tubuhnya membuatnya sama sekali tak bisa fokus belajar.


…Namun, Sara malah mencengkeram ujung baju Haruya dengan pelan, dan entah sadar atau tidak, ia menatapnya dengan mata memohon.


"Nggak boleh?"


"…Baiklah."


Kalau mengikuti perasaannya, Haruya ingin langsung menjawab, “Nggak boleh.” Tapi sayangnya, tujuan kali ini adalah untuk berbuat baik pada Sara. Ia ingin mendapatkan jaminan bahwa identitas aslinya tidak akan dibocorkan. 


Karena itu, saat ini di mata Haruya, Sara bukan sekadar Sara—melainkan Sara Ojou-sama. Ia siap menuruti keinginan apa pun.


──Dan hasil akhirnya.


"Ugh—badut ini bener-bener bikin emosi…!"


Sara yang semakin kesal hampir saja melempar ponsel ke lantai—


"Itu ponselku!"


Dan entah kenapa, Haruya malah menguras tenaga ekstra.


Pada akhirnya, sesi “belajar” yang merupakan permintaan kedua Sara hanyalah nama belaka…dan berubah total menjadi sesi bermain game.


──Kemudian, lewat pesan setelahnya.


『Maaf sekali lagi. Bukannya jadi belajar, malah jadi main game…』


『Kalau kamu senang, ya sudah.』


『Badut itu nggak bisa dimaafkan…!』


Sara lalu mengirim stiker kelinci yang sedang marah-marah.


“Kalau sesi belajarnya sudah selesai, selanjutnya…”


『Ke laut, ya.』


Dan begitulah, untuk permintaan terakhir Sara—pergi ke laut—

keduanya pun akan berangkat bersama.


***


Suatu hari sepulang sekolah.


Untuk menuntaskan tugas berupa permintaan terakhir Sara—pergi ke laut—Haruya dan Sara menaiki kereta dari stasiun, berguncang-guncang di dalam gerbong menuju laut.


Sebagai catatan, penampilan Haruya saat ini adalah wajah “ latar belakang”, yakni penampilan rapi dan modis yang ia tunjukkan saat bepergian. Itu karena Sara memintanya untuk berdandan dengan rapi.


Saat ini, Haruya merasa dirinya seperti seorang pelayan Sara, jadi ia berusaha untuk tidak membantah apa pun.


Sambil berguncang di dalam kereta, Sara berbisik pelan kepada Haruya.


“……Pergi dengan penampilan seperti ini bikin deg-degan.”


“Oh, soal seragam ya……”


Saat ini, Haruya dan Sara sama-sama mengenakan seragam SMA Eiga. Katanya, kalau ke laut, seragam itu wajib satu paket. Haruya sendiri tidak begitu paham alasannya, tapi bagi Sara, begitulah aturannya. Itulah sebabnya ia sengaja memilih pergi ke laut sepulang sekolah, bukan di hari libur. Selain itu, laut saat matahari terbenam terlihat lebih indah kalau dipadukan dengan seragam. Soal itu, Haruya juga setuju. 


Setelah sekitar tiga puluh menit naik kereta dan berjalan sedikit dari stasiun tujuan, mereka pun tiba di laut. Laut terbentang sejauh mata memandang, dan angin laut terasa sangat menyegarkan.


“……Wah, indah sekali.”


Sara bergumam kagum. Permukaan laut memantulkan cahaya matahari senja, membentuk garis batas yang indah dan seolah tak berujung. Haruya pun terpikat oleh pemandangan itu, hingga tanpa sadar sudut bibirnya melunak. Lalu Sara berjalan lebih dulu ke pantai berpasir dan menoleh ke arah Haruya.


“Akasaki-saaaan, mataharinya cantik banget!”


“Iya, benar-benar indah.”


Menanggapi teriakan Sara, Haruya pun membalas dengan suara keras.


“Akasaki-san juga ke sini, dong! Rasanya enak banget!”


Tanpa sadar, Sara sudah melepas sepatu dan kaus kakinya… lalu menancapkan ujung kakinya ke pasir yang lembap. Karena saat ini Sara adalah “Sara Ojou-sama”, Haruya menuruti perkataannya dan berjalan ke arah laut.


Saat jarak mereka cukup dekat hingga saling berhadapan, Haruya merasakan tekanan tanpa kata dari Sara. Mengikuti Sara, Haruya pun melepas sepatu dan kaus kakinya, menancapkan kakinya ke pasir, lalu merendamkannya ke air laut.


“Oh, iya… memang enak rasanya.”


Sensasi dingin menyebar ke seluruh kakinya.


Dengan cuaca musim semi yang hangat, rasanya sudah senyaman ini—Haruya pun berpikir, kalau datang di musim panas pasti akan terasa lebih menyenangkan lagi.


──Zaa… zaa….


Saat mereka menikmati suara ombak dan pemandangan laut, Sara bergerak gelisah, lalu dengan wajah malu-malu bertanya pada Haruya.


“……A, anu…”


Mendengar suaranya, Haruya menoleh dan menatapnya.


Menyambut tatapan itu, Sara mengepalkan tangan di depan dadanya dan memohon dengan sungguh-sungguh.


“Aku pernah bilang, kan… kalau aku ingin melakukan hal-hal yang terasa seperti cinta biasa…?”


Haruya tidak berkata apa-apa, hanya mengangguk kecil, memintanya untuk melanjutkan.


“……J-jadi, aku ingin main ciprat-cipratan air, atau kejar-kejaran… boleh?”


Dengan wajah memohon, Sara menyampaikan keinginannya.


Haruya mengangguk tanpa suara, meski di dalam hati berpikir, Ini memalukan banget…


Untungnya, mungkin karena hari kerja di musim semi, pantai itu sepi tanpa orang lain—itulah satu-satunya hal yang menyelamatkan situasi. 


Karena tidak tahu bagaimana memulainya, Sara dengan gerakan canggung menyiramkan air ke arah Haruya sambil berkata, “Ei, ei!” Melihat ketidakbiasaan itu, Haruya tersenyum geli dan berkata, “Kena, ya,” lalu membalas menyiram Sara.


──Paca, paca, paca.


Saling menyiram air sambil tertawa riang. Tentu saja, di dalam hati Haruya penuh dengan rasa malu hingga ingin berteriak, “Tolong, bunuh aku saja,” tapi ia tetap berpura-pura tenang……


Jika dilihat dari luar, mereka tampak seperti dua orang yang sedang menikmati masa muda sepenuhnya.


Setelah selesai main air, mereka berlanjut ke kejar-kejaran di pasir sambil berteriak, “Tungguu~!”


Haruya menekan rasa malunya agar tidak terlihat dibuat-buat, dan dari ekspresi puas Sara, ia menilai bahwa gadis itu benar-benar menikmatinya.


Setelah cukup bersenang-senang, Haruya dan Sara akhirnya tenang sambil menikmati pemandangan sekitar. Namun……


“Akasaki-san, terima kasih banyak untuk semuanya sampai sekarang.”


Tiba-tiba Sara berkata demikian, sambil menampilkan senyum tenang. Namun di mata Haruya, di dalam tatapan Sara bercampur berbagai emosi. Kecemasan, ketakutan, ejekan pada diri sendiri…… semuanya adalah emosi negatif.


“……Sudah cukup?” 


“Iya, sudah cukup…… aku rasa aku sudah benar-benar bisa menikmati ‘cinta yang biasa’.”


Lalu Sara menyinggung kembali kejadian-kejadian sebelumnya secara singkat.


“Awalnya, Akasaki-san menolongku dari orang yang mencoba menggodaku…… lalu kita bertemu lagi, kemudian tahu kalau kita sekelas……”


Jika dipikir-pikir sekarang, peluang itu terasa mustahil—dan Haruya benar-benar menyadari betapa luar biasanya kebetulan tersebut.


“Aku tertarik pada sesuatu yang disebut pertemuan takdir…… dan justru karena itulah, aku meminta Akasaki-san untuk menemaniku melakukan tiruan cinta yang biasa…… sejauh ini, semuanya benar-benar menyenangkan. Terima kasih banyak.”


Sara menundukkan kepala dengan sopan dan kembali mengucapkan terima kasih. Ia tersenyum, namun entah kenapa ekspresi itu tampak terdistorsi oleh rasa perih.


“……Dan juga, Akasaki-san, aku minta maaf.”


Haruya tidak tahu untuk apa ia meminta maaf, jadi ia hanya diam dan menunggu penjelasan. Lalu, dengan suara yang lemah, Sara melanjutkan.


“Karena aku sudah merepotkanmu untuk menemaniku......”


Dengan nuansa seolah menyalahkan dirinya sendiri, Sara bergumam demikian.


Selama itu, pandangannya tak pernah sekali pun tertuju pada wajah Haruya. Mungkin karena rasa bersalah, Sara tampak gelisah dan tak tenang. Haruya pun memutuskan untuk menyampaikan pendapatnya dengan jujur. Ia merasa, mungkin ada kesalahpahaman di pihak Sara.


“Terima kasih, Himekawa-san…”


Sedikit merasa malu, Haruya mengucapkan terima kasih pada Sara. Karena merasa tak pantas menerima ucapan itu, Sara membelalakkan mata. Namun setelah menatap wajah Haruya dan menyadari bahwa ia tidak bercanda, ia pun terdiam.


Haruya melanjutkan.


“……Aku juga, soal hubungan ini… yah (meski banyak hal terjadi), pada akhirnya cukup menikmatinya.”


Tentu saja ada banyak saat ia ingin kabur dan merasa repot, tapi kalau dipikir sekarang… hari-hari itu juga bukan kenangan yang buruk, pikir Haruya.


Sambil tersenyum lebar, Haruya berkata demikian—dan Sara pun menggigit bibir bawahnya erat-erat. Lalu, seolah menahan sesuatu yang menyakitkan, ia mencengkeram kuat dadanya sendiri.


“……Aku tidak pantas menerima kata-kata seperti itu darimu.”


Dengan suara bergetar, Sara berkata demikian.


Ia tampak ragu, antara ingin mengatakan atau menahannya. Namun di hadapan Haruya yang memiringkan kepala, akhirnya ia memasang ekspresi seolah telah mengambil keputusan.


“Aku… memaksakan kepentingan egoisku sendiri. Aku menipu Akasaki-san dan memaksakannya padamu.”


Hampir menangis, namun Sara mengatakannya dengan tegas.


“Apa maksudmu?” 


“……!”


Sara meringis, menghela napas pelan, lalu menggenggam bahunya sendiri begitu kuat hingga seolah akan meninggalkan bekas kuku.


“Sebenarnya aku sudah tahu. Bahwa pasangan untuk perjodohanku akan segera ditentukan, dan bahwa aku tidak diizinkan menjalani cinta yang bebas. Meski begitu, aku tetap memaksakan keegoisan ini pada Akasaki-san.”


“…………”


Keheningan pun menyelimuti mereka.


Sara mengira Haruya kecewa padanya. Mungkin karena takut akan reaksinya, ia menundukkan kepala. Sementara itu, Haruya tidak menunjukkan simpati berlebihan, juga tidak menyalahkan—ia hanya mendengarkan dengan tenang.


Lalu, setetes air mata mengalir di pipi Sara. Tanpa disadari, tubuhnya bergetar hebat.


“──Karena itu, aku tidak pantas menerima kata-kata hangat darimu.”


Aku orang terburuk.

Aku menjijikkan.

Aku hina.

Karena itu, tolong jangan katakan “terima kasih” padaku—itulah permohonan tulus Sara.


Sambil tetap menunduk, ia menyeka air matanya. Tubuhnya yang semula tampak anggun kini terlihat kecil di mata Haruya.


Meski cukup terkejut dengan pengakuan itu, Haruya sama sekali tak mampu menyalahkan Sara. Setidaknya, karena ia sendiri juga berniat memanfaatkan Sara.


“……Himekawa-san.”


Saat namanya dipanggil, tubuh Sara tersentak, lalu perlahan mengangkat wajahnya. Namun, matanya masih belum berani menatap Haruya.


“……Meski mendengar semua itu, aku tetap tidak bisa menyalahkanmu. Lagipula, aku sendiri juga menipumu dengan memakai nama palsu.”


“T-tapi……!”


Mungkin Sara ingin mengatakan bahwa ada alasan di balik itu semua. Namun hal yang sama juga berlaku baginya.


Haruya menatap Sara yang tampak menderita, lalu berkata:


“Aku tahu Himekawa-san punya alasan. Dan lagi, hidup di keluarga seketat itu sambil menahan diri—itu bukan hal yang mudah dilakukan siapa pun.”


Masa remaja yang sensitif.


Di tengah kehidupan sekolah yang penuh kebebasan, harus menjalani hidup yang terikat—Haruya merasa dirinya sendiri tak akan sanggup menahannya. Yang terbayang hanyalah masa depan di mana ia akan langsung memberontak.


“Bukan berarti kamu sama sekali tidak salah. Tapi yang terjadi hanyalah Himekawa-san sedikit memanjakan diri sendiri. Itu saja. Hal seperti itu tidak masalah bagiku—dan seharusnya memang tidak perlu dipermasalahkan.”


Haruya tidak tahu detail tentang keluarga Sara. Namun hanya dari gambaran keluarga tradisional yang kaku dan konservatif, ia sudah bisa membayangkannya. Sedikit memanjakan diri pun tak apa, pikirnya.


Hanya saja, karena dibesarkan dalam lingkungan yang keras, mungkin Sara tidak tahu bagaimana caranya bergantung pada orang lain. Mungkin karena terlalu menekan dirinya sendiri, kondisi mentalnya tampak sudah sangat terkuras.


“M-mengapa…? Kenapa…?”


“Kalau aku jadi anak keluarga Himekawa-san, aku pasti sudah jadi anak nakal.”


Dengan senyum malu-malu, Haruya berkata seolah itu alasan yang cukup. Bukan pernyataan yang pantas dibanggakan, tapi ia mengatakannya dengan yakin.


Saat itulah, Sara tak sanggup menahannya lagi dan menerjang Haruya. Tak ada lagi sisa keteguhan untuk berpura-pura kuat di wajah gadis di hadapannya.


“……Kenapa? Kenapa kamu berbicara dengan suara sehangat itu padaku?”


Sara memukul-mukul dada Haruya berkali-kali. Namun sama sekali tidak terasa sakit.


Tampaknya, rasa perih di hatinya masih belum hilang. Haruya tidak memeluknya, juga tidak meletakkan tangan di bahunya—ia hanya membiarkannya, menerima semuanya.


“……Kalau kamu berbicara selembut itu… aku harus bagaimana? Seharusnya aku bisa tersenyum dan mengucapkan selamat tinggal… tapi bahkan itu pun tidak bisa kulakukan…”


Dalam waktu dekat, Sara sudah dijadwalkan untuk menjalani perjodohan. Sara ingin berpisah dengan senyuman. Namun karena Haruya berkata dengan begitu lembut, hatinya justru semakin tersiksa.


Ia ingin berpisah, tapi rasanya tak mungkin dilakukan.


Lebih tepatnya, semakin lama ia justru semakin tak ingin berpisah.

Perasaan yang tak tahu harus ke mana itu berulang kali menghantam dada Haruya.


“──Aku benci diriku yang kotor seperti ini. Karena itu, sebenarnya aku tidak pantas menerima kata-kata seperti itu darimu, tapi……”


Dengan mata yang berkaca-kaca, Sara mencengkeram erat bagian dada baju Haruya.


Setelah memastikan Sara agak tenang, Haruya menampilkan senyum lembut dengan alis yang sedikit diturunkan.


“Bukankah itu tidak benar? Soalnya ada juga teman-teman Himekawa-san yang menyukai Himekawa-san.”


Pada senyum Sara yang begitu memesona… Haruya pun tanpa sadar ikut tertarik padanya. Karena itulah, ia menolak ucapan Sara secara langsung.


“……T-tidak seperti itu……”


Pandangan Sara berkelana, namun ketika ia mengangkat wajahnya, matanya dan mata Haruya pun bertemu—dan terpaksa bertemu. Mungkin karena ia merasakan ketulusan dalam kata-kata Haruya, wajah Sara memerah. Ia pun menyembunyikan ekspresinya dengan menenggelamkan wajah ke dada Haruya.


“……Kamu curang, Akasaki-san.”


“Aku bukan pria sehebat itu kok.”


“Benar juga.”


Namun setelah tersenyum kecil, Sara melanjutkan.


“……Kalau begitu, aku yang merasa senang mendengarnya berarti gadis yang lebih buruk lagi.”


Dengan ekspresi muram yang masih tersisa, Sara bergumam. Senyum itu bukanlah senyum yang cerah.


……Masih kurang satu langkah. Untuk menyingkirkan kegundahan di hati Sara, masih dibutuhkan satu langkah lagi. Dan yang menghalangi “satu langkah” itu, tak diragukan lagi, adalah keberadaan perjodohan yang sudah di depan mata.


(Jika justru itu bisa kusingkirkan, aku bisa membuat Himekawa-san berutang budi padaku, dan──)


Risiko identitasku terbongkar akan benar-benar hilang, pikir Haruya sambil diam-diam menaikkan semangatnya.


“Kalau soal perjodohan itu, aku akan datang ke rumah Himekawa-san.”


“……Eh?”


Mendengar ucapan Haruya, Sara mengeluarkan suara linglung—jelas ini sama sekali di luar dugaan.


“Aku akan datang ke rumahmu dan menghentikan perjodohan itu. Meski orang tuamu ketat, kalau mendengar pendapat dari luar, mungkin saja mereka bisa berubah.”


“Ti-tidak mungkin……! Aku bahkan belum pernah membantah Ayah. Mana mungkin tindakan semaunya seperti itu diizinkan?”


Tindakan semaunya memang tak mungkin diizinkan. Itu benar. Namun meski salah… kalau tidak bergerak, tak ada yang akan berubah.


Dengan tatapan serius, Haruya menanyai Sara.


“Himekawa-san sendiri sebenarnya mau bagaimana? Apa kamu benar-benar menginginkan perjodohan itu? Aku sama sekali tidak melihatnya begitu……”


“Perasaanku tidak penting. Aku lahir sebagai anggota keluarga Himekawa.”


Saat Sara mengalihkan pandangan dengan lemah, Haruya tak membiarkannya begitu saja dan melanjutkan.


“Lalu, apa sebenarnya perasaanmu yang sesungguhnya?”


Ia mengulang pertanyaan itu saja. Sara pun mengatupkan bibirnya erat dan mencengkeram dadanya dengan kuat.


“A-aku…… sebenarnya benci perjodohan. Aku ingin cinta yang bebas, cinta yang terasa seperti takdir.”


Setelah meluapkan perasaannya, Sara melanjutkan dengan, “tapi…”


“Kalau sudah di hadapan Ayah, aku jadi tidak bisa melakukan apa-apa. Membantah saja sudah tidak mungkin……!”


Dengan nada sedih, pilu, sambil menekan dadanya seolah kesakitan, ia melanjutkan.


“Tapi… kalau bersama Akasaki-san, mungkin aku bisa melewatinya……”


Dengan mata berkaca-kaca, Sara menatap lurus ke mata Haruya.


“Karena itu…… maukah kamu membantuku……?”


Meski mungkin mustahil, ia tetap ingin percaya. Ia ingin bergantung. Perasaan itu meluap dari dalam diri Sara.


Tanpa ragu sedikit pun, Haruya mengangguk.


“……Mari kita hadapi ini bersama.”


“Y-ya……!”


Haruya memandang Sara yang tersenyum kecil, namun di dalam hatinya ia tersenyum puas.


(Jika ini berhasil diselesaikan, hubungan kepercayaan yang tak tergoyahkan pasti akan terbangun. Dan dengan ini, aku juga benar-benar bisa memastikan identitasku tidak terbongkar.)


Begitulah yang dipikirkan Haruya.……Namun, itu hanyalah salah satu dari isi hatinya yang sebenarnya. Tatapan Sara yang lemah tadi seolah memohon, “tolong aku.”


Haruya memang tak sanggup meninggalkan Sara, yang dalam hatinya berteriak ingin dibebaskan dari belenggu perjodohan itu.


(……Lagi pula, aku ingin Himekawa-san bisa melangkah maju.)


Bagaimanapun, setelah sekian lama berinteraksi dengannya, bagi Haruya, Sara bukan lagi sekadar orang lain—ia tak bisa lagi bersikap dingin dan menjauh. Ia sudah mengenal sisi lembut Sara, juga sisi perhatiannya pada orang lain. Ditambah lagi, senyum Sara begitu menawan, sampai-sampai Haruya sedikit berharap ia bisa terus tersenyum.


(……Mungkin aku juga sedang terbawa suasana.)


Langit yang jernih, laut, dan air mata seorang gadis cantik. Barangkali semua situasi ini ikut membentuk perasaan Haruya saat ini.


Begitulah cara Haruya meyakinkan dirinya sendiri tentang sisi dirinya yang sebenarnya tak biasa ini.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close