Penerjemah: Miru-chan
Proffreader: Miru-chan
Chapter 2
Kebahagiaan Sara
Keesokan harinya setelah Sara bertukar kontak dengan Haruya. Hari ini suhu udara cukup tinggi, dan cuacanya cerah sempurna hingga terasa menyegarkan.
Bagi Haruya yang sudah terbiasa tidak lagi peduli dengan urusan kelas, hari ini pun tak berbeda—para S-Class Beauty kembali meramaikan kelas dengan obrolan cinta mereka.
"──Ehhhh, setelah itu kalian langsung bisa tukar kontak!?"
"Wah, itu benar-benar terasa seperti takdir ya, Sara……"
Isi cerita yang Sara sampaikan pada S-Class Beauty lainnya sebenarnya sederhana dan singkat.
Ia menyembunyikan soal atap sekolah dan fakta bahwa Haruya adalah siswa dari SMA yang sama, lalu hanya menyampaikan kenyataan bahwa mereka bertukar kontak. Namun tentu saja, setelah mengatakan itu……
"Eh, sebenarnya ada apa? Gimana ceritanya sampai bisa tukar kontak?"
Pertanyaan soal prosesnya pun tak terhindarkan. Rin yang memang suka obrolan cinta mendesak Sara, tapi Sara berkata dengan ragu-ragu namun tegas.
"……Itu r-rahasia."
“"……!"”
Yuna dan Rin membelalakkan mata dan membeku bersamaan.
Sara menunduk tanpa berani menatap mereka berdua, sikapnya yang begitu pemalu dengan pipi sedikit memerah.
Mungkin karena tingkah Sara terlalu menggemaskan. Tanpa mengulik lebih jauh, Rin langsung memeluk Sara.
"Sarachin, kamu barusan imut banget, tahu. Oke deh, aku nggak bakal nanya prosesnya! ……Tapi kenapa harus rahasia?"
Dengan senyum usil, Rin bertanya demikian, dan Sara menjawab sambil memalingkan wajahnya dengan malu.
"Itu karena…… entahlah, rasanya hati aku jadi nggak tenang. Rin-san dan Yuna-san kan orang-orang yang luar biasa, jadi aku jadi kepikiran kalau hal ini terlalu diketahui……"
Mendengar itu, Yuna dan Rin saling bertatapan lalu tersenyum.
Ucapan itu pada dasarnya seperti pengakuan terang-terangan bahwa ia menyukai orang tersebut, namun Sara sendiri belum menyadarinya.
"Begitu ya~ Kalau begitu, detailnya memang nggak bisa ditanya."
Kata Rin sambil mengangguk-angguk puas. Yuna pun ikut tersenyum bahagia, sudut bibirnya melunak.
Sara belum menyadari perasaannya pada Haruya, tapi sebenarnya ia takut. Takut jika Yuna dan Rin tahu bahwa Haruya adalah siswa dari SMA yang sama, lalu mereka berdua juga tertarik padanya……
Namun di saat yang sama, ia sangat ingin menceritakan soal dirinya dan Haruya. Karena selama ini, ia tak pernah bisa ikut dalam pembicaraan soal lawan jenis dan selalu merasa terasing sendirian.
Seolah memahami perasaan Sara, Yuna menepuk kepala Sara dengan lembut.
"Aku—tidak, aku dan Rin, kamu nggak perlu sungkan sama kami. Ceritakan saja apa yang ingin kamu ceritakan…… Kalau Rin sampai kelewat batas karena rasa penasarannya—"
Sambil berkata begitu, Yuna menoleh ke arah Rin lalu mencubit hidungnya.
"Aku bakal menghukumnya kayak gini."
"……A-aduh, sakiiit. Sakit tau…… Yunarin."
Setelah Yuna melepaskan tangannya, Rin sempat menahan hidungnya beberapa saat, lalu mengangguk dengan mata berkaca-kaca.
"Benar juga. Kita kan teman, jadi kamu nggak perlu terlalu jaga jarak, Sarachin. Kalau mau bahas topik begitu, lempar saja kapan pun. Malah, aku selalu welcome kok."
Mendengar kata-kata Rin dan Yuna, Sara tersenyum lembut.
"……Terima kasih banyak!"
"Ya, kalau begitu kita balik ke topiknya—kalian bertukar kontak, kan?"
"Iya, memang begitu, tapi……"
"Terus setelah tukar kontak, kamu bingung harus ngapain…… kurang lebih begitu, kan?"
Yuna menanyakan itu seolah sudah menebak segalanya.
Sara membelalakkan mata, dan kali ini Rin malah memeluk Yuna.
"Eh, dari sikap Sarachin kelihatan banget itu kena tepat sasaran…… hebat banget, Yunarin!"
"……Hei, jangan tiba-tiba meluk aku dong."
"Ehehe, Yunarin, wangi banget~"
"Hei, jangan mengendus-endus."
Mendengar sebagian interaksi itu, para murid sekelas pun berpikir:
(Ini surga, ya……)
(Gemas banget)
(……Aku malah jadi malu sendiri lihatnya)
Setelah bersusah payah melepaskan Rin, Yuna menegur dengan wajah jengkel. Lalu Rin seperti baru ingat sesuatu dan berkata "Ah!" sebelum menyampaikan pada Sara.
"Sarachin juga, tentu saja, wanginya enak kok!"
"E-eh, a-anu……"
"Lihat kan, Sara jadi bingung. Kamu ini selalu gampang banget melenceng dari topik," kata Yuna sambil menegur Rin.
Setelah itu, mereka kembali ke pokok pembicaraan.
"Jadi, kamu bertukar kontak tapi bingung harus bagaimana setelahnya, kan?"
"……I-iya."
──Dan sejak saat itu, para S-Class Beauty mulai membahas soal "apa yang harus dilakukan setelah bertukar kontak".
Sementara itu, Haruya yang pura-pura tidur sebenarnya sengaja mendengarkan pembicaraan mereka hari ini, dan dalam hatinya ia ingin berteriak.
(Hah? Nggak aneh, ya? Dari situasinya, rasa suka itu sama sekali nggak turun……)
Bahkan, justru terlihat seperti meningkat.
(……Kalau gini, waktu istirahat siang nanti aku harus lebih serius menurunkan tingkat kesukaannya.)
──Apa yang harus dilakukan setelah bertukar kontak?
Sara menanyakannya pada gadis-gadis cantik lainnya, namun jika ditarik sedikit ke waktu sebelumnya—sebenarnya tadi malam, Sara sudah mengirim satu pesan pada Haruya.
『Kalau besok waktu istirahat siang tidak keberatan…… maukah datang ke atap sekolah?』
Itulah isi pesannya.
Karena itulah, untuk memastikan apakah pilihannya sudah benar, Sara pun menanyakan hal ini pada S-Class Beauty lainnya.
"──Ngomong-ngomong, kalian pernah dengar nama Asai Yuu nggak?"
Tanpa sengaja memasang telinga pada obrolan para S-Class Beauty, ucapan Sara itu sampai ke telinga Haruya.
"Asai Yuu… bukannya itu nama tokoh utama Shoujo Manga? Memangnya kenapa?"
"Tidak, cuma ada kenalan yang bilang orang itu keren sekali…… jadi itu nama karakter Shoujo Manga ya……"
"Eh, Yunarin!? Kamu baca Shoujo Manga? Padahal kelihatannya nggak mungkin banget."
"……B-bukan! Aku cuma sering dengar karena sepupu dan adik perempuanku suka baca."
"Iya juga sih~ memang nggak kebayang Yunarin baca Shoujo Manga."
"Ya jelas lah……"
Mendengar rangkaian percakapan para S-Class Beauty itu, tubuh Haruya langsung menegang.
(……Himekawa-san, cepat banget mau mengidentifikasi…… ah, ngeri ngeri)
Syukurlah aku pakai nama palsu, begitu pikirnya sambil mengembuskan napas lega.
(Tapi, kayaknya aku bakal cocok banget sama sepupunya itu.)
Shoujo Manga yang menampilkan karakter bernama Asai Yuu tergolong sangat minor. Kalau bisa langsung tahu itu "karakter Shoujo Manga", berarti pasti penggemar berat.
Saat Haruya diam-diam merasa akrab dengan seseorang yang bahkan tak dikenalnya, tiba-tiba ada yang menepuk bahunya dari belakang.
"──Ada apa? Kamu kok malah tertarik sama obrolan para S-Class Beauty?"
Sambil menyeringai senang, penghuni bangku belakang—Kazamiya—bertanya padanya. Sepertinya, meski ia berusaha tak ketahuan, Kazamiya sudah menyadari bahwa Haruya mendengarkan pembicaraan mereka.
Haruya mengangkat tubuhnya yang terasa berat dan menoleh dengan wajah malas.
"Maaf…… aku cuma heran si Akasaki itu tertarik sama S-Class Beauty, jadi kepancing nyaut."
"Yah, ada macam-macam hal lah."
"Hee~ Tapi aku ngerti kok? Himekawa-san…… dia punya orang yang disukai sekarang, dan yang seru itu kan melihat apa yang bakal dia lakukan selanjutnya."
"Aku nggak nanya soal itu."
"Jangan dingin gitu dong~ Soalnya topik kayak gini tuh, teman atau kenalanku jarang banget mau diajak serius ngomong."
(Dibilang teman sih oke…… tapi aku bahkan bukan kenalan?)
Sambil menyingkirkan celetukan itu dalam hati, Haruya mulai menunjukkan ketertarikan pada Sara. Namun, Kazamiya mengibaskan tangannya di depan wajah Haruya.
"……Mending jangan."
"Aku nggak ngomong soal suka atau pengakuan kok."
"Kalau gitu, kenapa tiba-tiba ngomongin Himekawa-san?"
"Aku cuma mau nurut sama nasihatmu yang kemarin aja."
Nasihat kemarin itu adalah bahwa dengan mengenal para S-Class Beauty, lingkaran pergaulan bisa meluas. Meski tampak agak ragu, Kazamiya tetap menjelaskan dengan wajah curiga.
"Yah, dia kan terkenal di kelas…… Himekawa-san itu. Lagipula, katanya akhir-akhir ini dia lagi tertarik sama seseorang, latar keluarganya juga bagus, dan dia tipe yang susah didekati. Makanya, laki-laki yang berani nembak juga nggak banyak."
Jantung Haruya melonjak hebat. Karena sekarang ia tahu bahwa "orang yang sedang dia sukai" itu mengarah padanya, Haruya pun tersenyum kecut.
Sambil berpura-pura tenang dan menyuruhnya lanjut, Kazamiya melanjutkan.
"Nilainya bagus, jago olahraga. Wajahnya juga cantik, dan dibesarkan dengan baik. Jujur aja, nyaris nggak ada celah."
Katanya, Sara itu perfeksionis dan memang tipe yang selalu membuktikan diri lewat hasil nyata. Mungkin karena nyaris tanpa cela, sejak awal masuk sekolah pun sudah banyak siswa laki-laki yang terpikat. Namun, Haruya sama sekali tidak tahu soal itu…….
"Yah, tapi karena Himekawa-san kelihatannya sudah punya orang yang disukai sekarang, ya jelas susah. Tapi tetap, semangat ya."
"Bukan begitu juga."
Setelah menepis tangan Kazamiya yang menepuk pundaknya, Haruya kembali menghadap ke depan.
***
Pelajaran pagi pun berakhir, dan tibalah waktu istirahat siang.
Haruya merapikan rambutnya di tempat yang sepi, melepas kacamata, lalu menuju atap sekolah.
Saat ia membuka pintu atap sambil membawa sandwich untuk makan siang, hamparan langit yang begitu jernih dan angin sepoi-sepoi yang nyaman menyambutnya.
Biasanya, hanya dengan menginjakkan kaki di atap sekolah saja suasana hatinya akan terasa lebih ringan, namun hari ini perasaan sesaknya tak juga menghilang. Alasannya jelas—karena Sara ada di sana, rambutnya yang berkilau tergerai tertiup angin.
"Ah, Asai-san. Terima kasih sudah datang."
"Ya… Himekawa-san."
Sepertinya Sara memanggil Haruya hanya dengan alasan untuk makan siang bersama.
Haruya sengaja duduk agak menjauh darinya, tapi Sara malah repot-repot berpindah dan duduk tepat di sebelahnya. Haruya tersenyum kecut, sementara Sara membalasnya dengan senyum lembut.
"…Tidak perlu tegang begitu. Lagipula, memanggilku dengan nama Sara saja juga tidak apa-apa."
(Tidak, ini murni pelecehan mental ☆)
Kalau saja ia bisa mengatakannya terang-terangan, pasti jauh lebih mudah… tapi mungkin karena dirinya pengecut, ia tak bisa bersikap tegas.
(…Menyedihkan sekali aku ini.)
Ia juga tak sanggup memanggilnya dengan nama depan karena rasa malu yang tiba-tiba menyerangnya.
Sambil merasakan betapa tak bergunanya dirinya, Haruya membuka bungkus sandwich.
"…Itadakimasu."
Setelah merapatkan tangan dan mengucap salam sebelum makan, Haruya menggigit sandwichnya.
"Itu dari minimarket ya…"
"Kurang lebih."
"Memang biasanya makan dari minimarket?"
"Aku tinggal sendiri, dan masak itu merepotkan… jadi ya begitu."
"…Oh, begitu ya. Aku juga tinggal sendiri, jadi aku bisa mengerti sih."
Sara berkata begitu sambil tersenyum kecut, tapi wajahnya tampak menegang.
(Apa dia kecewa karena tahu aku orang yang hidupnya berantakan?)
Dari reaksinya, Haruya merasakan “hasil” yang nyata. Seperti dapat hadiah dari langit.
"Biasanya aku juga malas bersih-bersih, dan makan pun seadanya… aku memang orangnya begitu."
Mendengar kelanjutan ucapan Haruya, Sara menundukkan wajahnya dan mengepalkan tangan kecilnya.
Wajah cerahnya kini tampak kaku.
(Respon bagus. Ini bukti jelas kalau penilaianku di matanya turun…!)
Haruya bersorak dalam hati, namun seolah telah mengambil keputusan, Sara menoleh ke arahnya.
"──Kalau tidak keberatan, maukah kamu makan bekalku?"
"…Eh?"
Haruya tanpa sadar mengeluarkan suara bodoh.
Kenapa?—itulah pertanyaan pertama yang langsung muncul di kepalanya.
Melihat Haruya yang kebingungan, Sara tampaknya sadar penjelasannya kurang, lalu mulai berbicara.
"Sebenarnya, memang itu tujuanku memanggil Asai-san ke sini. Aku merasa… aku belum benar-benar mengucapkan terima kasih dengan layak, jadi aku berpikir apakah ada sesuatu yang bisa kulakukan sebagai bentuk terima kasih."
"Ah, tidak perlu repot-repot begitu."
"──Tidak bisa begitu. Asai-san bukan hanya menyelamatkanku dari godaan orang asing, tapi juga sangat perhatian. Bahkan akhir pekan lalu, kamu bersikap begitu sopan dan gentleman. Aku tidak mungkin tidak mengucapkan terima kasih."
Semuanya sebenarnya salah paham. Dan soal akhir pekan lalu—Haruya tanpa sengaja menginjak ranjau emosional Sara, merasa bersalah, lalu berusaha bersikap sebaik mungkin: membawakan barangnya, lebih perhatian, dan sebagainya.
Jadi sebenarnya tidak ada alasan baginya untuk sampai berterima kasih seperti ini…
Saat Haruya hendak menyangkal, Sara lebih dulu menutup kemungkinan itu.
"Asai-san bertindak karena memikirkan aku, kan? …Apa aku salah?"
Dengan wajah penuh keyakinan, Sara menatapnya.
Haruya tak sanggup menyangkal perasaan tulus yang terpancar di matanya, dan hanya bisa memalingkan wajah sambil mengaburkan jawaban.
(…Bahkan kalau mau bilang ‘bukan begitu’, ini rasanya seperti siksaan.)
Menjelaskan di hadapannya betapa tidak becusnya dirinya sendiri,
mengaku satu per satu hal buruk tentang diri sendiri—tak ada yang lebih menyakitkan dari itu.
Menganggap diamnya Haruya sebagai persetujuan, Sara tersenyum lembut dan menyodorkan kotak bekalnya.
"Begitulah. Jadi, silakan terima rasa terima kasihku."
"Terus… kenapa harus bekal?"
"Soalnya Asai-san bilang tadi sering makan seadanya dari minimarket. Aku pikir keseimbangan gizi itu penting, jadi—"
Tampaknya ini murni karena ia mengkhawatirkan kesehatan Haruya.
Ekspresi Sara yang sempat menegang pun sepertinya karena gugup, tak punya cukup keberanian untuk mengatakan ingin bekalnya dimakan.
"Kalau begitu… benar-benar boleh kumakan?"
"Iya, silakan…"
Sambil berkata begitu, Sara menyerahkan sepasang sumpit cadangan padanya. Melirik Sara yang wajahnya tampak tegang karena gugup, Haruya mulai menyantap bekal yang penuh dengan lauk berwarna-warni itu.
Telur dadar. Ayam goreng. Salad, dan lain-lain. Sejujurnya, semuanya begitu enak sampai ia tak bisa menahan decak kagum. Ia tak bisa berbohong soal makanan enak—atau lebih tepatnya, kata "enak!" lolos begitu saja secara refleks.
Padahal ia berniat mengatakan tidak enak agar penilaian Sara terhadapnya turun, tapi rencananya gagal total. Sebagai rencana berikutnya, Haruya mencoba taktik baru…
Ia mulai memonopoli bekal Sara.
Dengan kata lain, ia makan sebanyak mungkin tanpa memikirkan Sara, mengurangi porsi yang seharusnya bisa dimakan Sara—sebuah strategi yang benar-benar menyebalkan.
Ia terus makan dalam diam, dan setiap kali menyuapkan masakan yang dibuat dengan penuh usaha itu ke mulutnya, lidahnya terus dimanjakan.
(…Rasa bersalahnya besar sih, tapi dengan ini pasti penilaianku jatuh.)
Sambil meyakini hal itu, Haruya menghela napas lega dalam hati. Namun, bertolak belakang dengan harapannya, Sara justru menatap profil wajah Haruya dengan ekspresi puas.
(…Aku senang sekali dia memakan bekalku dengan lahap begini!)
Jantung Sara berdebar, dan dengan suara sedikit bergetar namun mata berbinar, ia berkata,
"A-anu… kalau tidak keberatan, aku akan senang sekali kalau mulai sekarang kita bisa makan siang bersama di sini."
Di dalam hati, Haruya hanya bisa merasa ini merepotkan.
Setiap kali datang ke sini, ia harus memperhatikan pandangan orang, menata rambut, dan sebagainya…namun demi menurunkan penilaiannya di mata Sara, hubungan ke depan seperti ini tidak bisa dihindari.
"…E-ehm."
Meski Haruya sempat ragu, Sara langsung menyambung,
"Kalau begitu, besok aku juga akan menunggu di sini!"
Dihadapkan pada senyum secerah cahaya matahari yang menembus dedaunan, Haruya hanya bisa tersenyum kecut dan mengangguk.
"…Baiklah. Aku akan datang lagi."
Dengan demikian, Haruya pun menjadikan kebiasaan berbagi waktu rahasia bersama Sara di atap sekolah sebagai rutinitas hariannya.
…Namun, izinkan aku mengatakan satu hal saja.
(Himekawa-san? Kamu sih tersenyum seolah tak bersalah, tapi kamu juga sudah ikut-ikutan memanfaatkan atap sekolah, kan…)
Ke mana perginya citra siswa teladan itu, pikir Haruya sambil mengeluh dalam hati.
***
Sesaat sebelum pulang sekolah, di waktu sebelum homeroom kepulangan. Setelah menyelesaikan pelajaran yang membosankan dan sebelum wali kelas datang, ruang kelas dipenuhi obrolan santai para siswa. Suara ramai bercampur gaduh menyelimuti kelas.
Di tengah itu semua, Haruya sendirian menelungkupkan wajah di atas meja dengan perasaan yang cukup tenang… namun—
"──Rasanya itu benar-benar menyenangkan, ya, kalau bekal yang kita buat sendiri dimakan dengan lahap oleh orang lain!"
"Aku ngerti banget~ Apalagi kalau yang makan itu orang yang kita ingin dia makan, terus kelihatan senang, rasanya bahagia banget."
"Iya ya… aku sendiri belum pernah mengalaminya, tapi perasaannya bisa kebayang."
Topik pembicaraan para S-Class Beauty itu tanpa sengaja masuk ke telinga Haruya.
"Apa nih apa nih, jangan-jangan Sarachin. Kamu tadi siang nggak ada itu karena hal seperti itu?"
"…Iya, aku juga kepikiran."
"B-bukan begitu sih, tapi waktu membayangkannya, aku jadi merasa sangat bersemangat."
Sara bergumam dengan senyum selebar-lebarnya, dan di dalam hati Haruya hanya bisa terdiam sambil berpikir, nggak mungkin…
Fakta bahwa tindakannya justru ditafsirkan secara positif, bertolak belakang dengan niatnya, membuat Haruya frustrasi setengah mati.
(Enggak masuk akal… dibilang senang karena dimakan? Aku makannya sampai level nyebelin, lho…)
Saat ia memikirkannya, seolah untuk menjawab itu, Sara menambahkan penjelasan kepada gadis-S-Class Beauty lainnya.
"…Awalnya, meskipun dibilang enak, aku suka curiga itu cuma basa-basi. Tapi kalau dimakan banyak dan kelihatan benar-benar menikmati, aku jadi merasa itu dari hati. Lagipula, sebenarnya aku nggak terlalu percaya diri soal masakan…"
"Iya ya, kalau dimakan banyak berarti bukan basa-basi…"
"Benar benar, porsi yang dihabiskan itu berubah jadi rasa percaya~"
Saat Rin mengangguk sambil berkata begitu, Sara langsung mengangguk besar seolah sangat setuju.
"Iya, benar sekali!"
(Atau jangan-jangan… Asai-san juga sudah menyadari hal itu…)
Saat memikirkan kemungkinan tersebut, dada Sara berdebar pelan.
Kalau pria yang ia temui secara takdir sampai bisa melihat inti dirinya—itu membuatnya merasa sangat malu. Rasa panas yang naik dari dalam dadanya membuat wajahnya memerah, dan Sara berusaha mati-matian menahannya.
Melihat reaksi Sara, Rin malah menambahkan serangan terakhir.
"Semoga suatu hari nanti, orang itu mau makan bekalmu banyak-banyak ya!"
"Iya, aku juga dukung kok."
Menyusul ucapan Yuna, Sara tersenyum sambil mengangkat salah satu alisnya.
Sambil menyembunyikan ekspresinya agar tak terbaca, perasaan di dalam dadanya semakin membesar.
(…Yuna-san dan Rin-san sampai terlihat iri…… Ini pertama kalinya aku merasa sebahagia ini. Fufu.)
Sara mati-matian menahan diri agar tidak menyeringai bodoh.
Sementara itu, Haruya yang duduk tak jauh dari sana dan mendengar semuanya, dalam hati memegangi kepalanya sambil menjerit.
(Itu nggak mungkin arahnya ke situ, kan…? Atau jangan-jangan perasaan suka itu malah naik…?)
Dengan menurunkan tingkat kesukaan Sara padanya, membuat Sara kehilangan ketertarikan, dan pada akhirnya tidak mengangkat namanya dalam topik para S-Class Beauty—hasil akhirnya, Haruya akan kembali tak menonjol. Itulah rute yang ingin ia capai lewat tindakannya. Namun sejauh ini, semuanya terasa seperti berbalik arah dan menjadi bumerang.
Satu-satunya hal yang masih aman hanyalah fakta bahwa identitas aslinya belum terbongkar. Setidaknya itu saja yang harus benar-benar ia lindungi.
Merasa ada bahaya yang mengancam setelah kejadian ini, Haruya pun menghubungi seseorang untuk meminta nasihat.
『…Nayu-san, malam ini bisa ketemu buat off-kai?』
『…Bisa kok』
Namun saat ia mengirim pesan itu, Haruya tak menyadari bahwa salah satu S-Class Beauty, Yuna—
"Eh, Yunarin? Dari siapa tuh pesannya?"
"…T-tidak, bukan apa-apa."
"Eh—kenapa disembunyiin gitu?"
"Sudah kubilang bukan apa-apa, serius…"
—sedang mati-matian mengelak saat didesak oleh Rin.
***
Waktu menunjukkan sedikit lewat pukul tujuh malam. Langit sudah mulai meredup, dan bulan tampak mengintip di angkasa.
Haruya, dengan rambut yang ditata menggunakan wax, mengenakan kemeja putih yang dilapisi kardigan hitam, berdiri sendirian di stasiun tempat mereka janjian sambil menunggu kedatangan seseorang.
Meski sudah musim semi, udara malam tetap terasa agak dingin. Ia tiba sedikit lebih awal dari waktu yang dijanjikan dan baru saja terpikir untuk masuk ke dalam gedung demi menghindari dingin, ketika—
"……Haru-san, maaf sudah menunggu."
Suara yang jernih dan tegas terdengar di telinganya dari belakang.
Saat ia menoleh, tampak seorang perempuan yang terlihat agak dewasa berdiri dengan sikap sedikit gelisah. Pakaiannya berupa hoodie yang ukurannya agak kebesaran dipadukan dengan celana jeans—gaya yang sangat kasual. Namun, dari balik pakaian santai itu terpancar aura sensual khas perempuan dewasa.
Itu tentu saja karena ia berdiri dengan tenang dan memang seorang wanita cantik. Meski begitu, karena ia selalu memakai kacamata hitam, Haruya belum pernah sekalipun melihat wajah aslinya……
"……Maaf. Aku bikin kamu menunggu?"
"Enggak, aku juga baru sampai."
"Oh ya? Kalau begitu syukurlah."
Sambil bertukar percakapan klise yang sering dilakukan pasangan, Haruya menoleh ke sekeliling, dan seketika rasa canggung menyerangnya.
(Kalau diperhatikan…… di sekeliling banyak pasangan ya.)
Tempat ini adalah depan air mancur yang cukup terkenal di dalam area stasiun. Biasanya memang sering dijadikan tempat janjian, tapi entah kenapa hari ini terlihat sangat banyak pasangan muda. Kalau hari libur mungkin masih wajar, tapi untuk hari kerja ini cukup jarang.
Saat Haruya memikirkan itu, tampaknya Nayu juga merasakan hal yang sama dan ikut berkomentar.
"Hari ini kelihatannya memang banyak pasangan ya."
"Iya, sepertinya begitu."
Di arah pandang mereka, terlihat beberapa pasangan pria dan wanita berjalan sambil saling mengaitkan lengan.
"……Kalau dipikir-pikir, kita juga mungkin kelihatan seperti pasangan dari luar."
Tolong jangan mengatakannya dengan suara yang menggoda dan berkilau seperti itu. Jantung Haruya langsung melonjak hebat.
(……Nayu-san nggak malu ya ngomong begitu?)
Begitulah yang terlintas di benak Haruya, namun entah karena kedewasaan atau ketenangannya, sama sekali tak terlihat tanda-tanda Nayu merasa gugup.
Sambil menahan rasa kikuk, Haruya melirik ke arahnya, dan Nayu mengutak-atik rambutnya dengan jari sambil bergumam penuh rasa bersalah.
"……Ngomong-ngomong, maaf ya hari ini aku nggak terlalu dandan. Padahal Haru-san kelihatan rapi banget."
"Ah, nggak apa-apa kok. Lagipula aku nggak terlalu ngerti kenapa kamu harus minta maaf."
"……Soalnya, kalau lawan kita sudah dandan rapi tapi kita datang tanpa bersiap, rasanya agak nggak sopan, kan? Makanya maaf. Aku malah datang dengan pakaian santai begini."
Bagi Haruya yang memang sengaja berdandan, itu bukan hal yang perlu dipermasalahkan.
Namun, bagi Nayu, rupanya itu berbeda. Meski ia berkata datang dengan pakaian santai, nyatanya gaya berpakaian Nayu hari ini juga sangat cocok dengannya. Memang terlihat kasual, tapi pesona alaminya tetap menonjol.
"……Rasanya aku hari ini sama sekali nggak berhias."
"Menurutku cocok kok…… gaya yang agak boyish."
Pakaian longgar dengan kesan santai.
Melihat seorang wanita cantik mengenakan gaya seperti itu terasa segar dan menarik di mata Haruya. Meski begitu, kata-kata seperti “imut” atau “cantik” tentu tak sanggup ia ucapkan langsung……
Dengan rasa sedikit malu, Haruya menggaruk pipinya dan menyampaikan pendapat jujurnya.
"……Eh. B-benarkah? Jadi Haru-san ternyata suka yang begini."
Nada suaranya terdengar sedikit usil.
Setelah membuka mata indahnya, dari bibir yang berkilau oleh lipstik, ia melanjutkan kata-katanya. Pipinya sedikit memerah, dengan ekspresi lembut di wajahnya.
"Terima kasih. Haru-san juga, seperti biasa, kelihatan cocok kok……"
Kata “seperti biasa” mungkin karena gaya berpakaian Haruya yang selalu didominasi warna hitam dan putih. Dipujinya sendiri tidak terasa buruk, tapi karena di sekitar banyak pasangan, perasaan Haruya jadi aneh.
Untuk menutupi rasa kikuk itu, ia bertanya pada Nayu.
"Ada tempat makan yang pengin kamu datangi?"
"Yang kemarin kan kita ke family restaurant…… tapi belakangan ini ada kafe yang lagi bagus reputasinya, dekat stasiun."
Sesaat, terlintas di benak Haruya kafe langganannya.
Dadanya sempat berdebar, berpikir mungkin Nayu juga pelanggan tetap di tempat yang sama. Namun begitu mendengar kata “dekat stasiun”, ia langsung menyadari itu bukan kafe tersebut, dan mengangkat bahu kecil.
"Katanya dessert-nya enak. Jadi kalau mau, kita ke sana saja? Kalau kamu pengin ke tempat lain, aku juga nggak masalah."
Kalau soal kafe, bagi Haruya tak ada yang bisa mengalahkan tempat langganannya.
Begitulah yang sempat dipikirkan Haruya, namun begitu mendengar bahwa tempat itu punya reputasi bagus, rasa penasarannya langsung terpancing.
"Kalau begitu, ke sana saja."
"……Kalau begitu, ayo."
Seolah hendak memandu, Nayu melangkah lebih dulu. Haruya pun mengikutinya dari belakang dan mulai berjalan menuju kafe itu.
***
Yang dimaksud dengan off-kai adalah pertemuan langsung di dunia nyata antara orang-orang yang saling mengenal lewat internet atau media sosial dan memiliki hobi yang sama. Namun, antara Haruya dan Nayu, ada aturan kecil yang ditetapkan untuk “off-kai” mereka.
Pertama, mereka saling berbagi rekomendasi Manga Shoujo dan menyampaikan pendapat masing-masing.
Kedua, mereka tidak boleh mengorek-ngorek urusan pribadi satu sama lain.
Hanya dua aturan itu.
Karena itulah, seperti biasa, setelah memesan makanan di kafe, Haruya dan Nayu mulai saling berbagi kesan tentang Manga Shoujo, lalu Haruya pun menyampaikan rekomendasi Manga Shoujo versinya pada Nayu.
Mereka larut dalam pembicaraan tentang Manga Shoujo, dan sekitar dua puluh menit pun berlalu… hingga topik itu terhenti sejenak.
"Ngomong-ngomong, Haru-san itu tim kopi hitam, ya."
Sambil menyesap kopi yang baru datang, Nayu tiba-tiba melontarkan hal itu.
Memang, setiap kali ke kafe, Haruya selalu memesan kopi hitam untuk menikmati aromanya, kekentalannya, dan rasanya. Saat ini pun, ia sedang menikmati aroma kopi tersebut.
"Nayu-san bukan tim kopi hitam?"
Dari kesan dewasanya, Haruya sempat mengira Nayu juga tipe yang menikmati kopi tanpa gula, tapi…
"Aku kurang suka yang pahit-pahit."
Sambil berkata demikian dengan nada sedikit menyindir diri sendiri, Nayu hendak menambahkan susu dan gula yang ada di ujung meja ke dalam kopinya. Namun, di saat itu, Haruya refleks menghentikannya.
"Sebetulnya kopi hitam di sini nggak sepahit itu. Mau coba satu teguk dulu?"
Menurut Haruya, kopi hitam di kafe ini cukup mudah diminum.
Awalnya Nayu mengernyitkan dahi mendengar ucapan santai itu, tetapi seolah sudah membulatkan tekad, ia mengembuskan napas pelan lalu membuka mulut.
"…Kalau Haru-san yang bilang, aku coba percaya deh. Pertama nikmati aromanya… minum kopi itu kan harusnya begini, ya?"
Dengan sengaja ia menyilangkan kaki dan memasang wajah sok keren. Meski tertutup kacamata hitam, jelas terasa matanya menyipit tajam. Seolah berkata, anak gaul itu kan harusnya ‘weh weh’ begitu, prasangkanya terasa kental.
Dengan kaki tersilang dan satu siku bertumpu, Nayu menatap ke arah jendela dengan ekspresi bosan. Sedikit berlebihan, tapi penampilannya tetap terlihat pas. Aura wanita karier yang cakap terasa begitu kuat darinya.
"…Tapi, mungkin pakaianku gagal ya."
Sambil mencubit ujung hoodie longgarnya, Nayu bergumam pelan, lalu melirik ke arah Haruya seolah berkata, tapi kira-kira begini, kan?
Kemudian, dengan sikap dingin, ia membawa cangkir kopi ke bibirnya—
"…Eh, ternyata lumayan— uuhhh."
Matanya mendadak membelalak, wajahnya memelintir dalam ekspresi kepahitan. Keningnya berkerut, dan sikap cool yang tadi ia pertahankan langsung runtuh seketika. Tak tersisa lagi sosok “wanita dewasa” yang penuh ketenangan. Dengan sedikit menjulurkan lidah, ia menatap Haruya dengan pandangan sebal.
"…Pa, pahit. Haru-san, kamu pembohong."
"Enggak, aku beneran ngerasa kopi hitam di sini gampang diminum kok…"
"Jangan ketawa dong… ini memalukan."
Melihat Yuna yang tampak malu seperti itu, Haruya tanpa sadar tertawa kecil. Wanita yang tadi terlihat dewasa mendadak jadi kekanak-kanakan, membuatnya refleks merasa itu… lucu.
Agar arah kekesalannya tidak semakin tertuju padanya, Haruya buru-buru mengganti topik. Namun, sebenarnya—hari ini, inilah topik utamanya.
"Mendadak sih… tapi aku ada hal yang mau dibicarakan. Mau dengar?"
"…Boleh nolak nggak?"
"Bukan hal aneh kok."
Meski Haruya langsung menjawab, Nayu tetap menunjukkan ekspresi enggan dengan terang-terangan. Namun, tak lama kemudian ia menghela napas pendek.
"Haah… ya sudah."
Sambil diam, ia memberi isyarat agar Haruya melanjutkan. Setidaknya, ia bersedia mendengarkan.
"Sebenarnya—"
Haruya pun menceritakan garis besarnya pada Nayu tanpa masuk terlalu detail. Tentang keinginannya untuk memperbaiki keadaan di mana dirinya dinilai terlalu berlebihan.
Setelah mendengarkan ceritanya, Nayu mengangkat telunjuk dan menunjuk ke arah Haruya.
"Itu mah gampang. Kalau kamu ngerasa dinilai berlebihan… sekalian saja kencan sama anak itu."
"K-kencan?"
Haruya bersuara dengan nada keheranan.
"Kalau kalian menghabiskan waktu bersama secara alami, sifat aslinya pasti kelihatan kok. Soal penilaian berlebihan itu, menurutku waktu bakal menyelesaikannya…"
Tak perlu trik aneh-aneh, katanya tegas.
"Begitu ya…"
"Kalau bicara soal pria dan wanita yang berbagi waktu bersama, ya kencan itu."
Namun, seolah menyadari sesuatu yang sebenarnya tak perlu ia singgung, Nayu segera menggelengkan kepala.
"Oh, tapi ini bukan kencan ya. Ini off-kai."
"Iya, aku tahu."
Begitu Haruya menjawab cepat, entah kenapa Nayu malah mengerutkan alis dengan kesal.
Melihat reaksinya, Haruya memiringkan kepala, dan Nayu pun berdeham untuk menutupi suasana.
"…Ya, ya, sudahlah. Intinya, saran yang bisa aku kasih ke Haru-san ya… kencan biasa aja."
"…K-kencan ya. Hmm…"
Sejujurnya, ia tidak terlalu bersemangat, tetapi pendapat Nayu cukup masuk akal.
"Makasih, Nayu-san. Sangat membantu."
"Ah, enggak juga…"
Dengan itu, topik pembicaraan pun berakhir, dan setelahnya mereka kembali mengobrol soal Manga Shoujo hingga akhirnya berpisah.
***
Waktu istirahat makan siang keesokan harinya.
Sara dan Haruya pun kembali ke atap sekolah, lalu duduk berdampingan seperti kemarin sambil menyantap makan siang.
Sebenarnya, demi menurunkan tingkat kesukaan Sara padanya, Haruya berniat kali ini sengaja tidak memakan bekal buatan Sara, namun…
"Ah, terima kasih sudah datang lagi hari ini."
—Dia terlalu sopan.
"Sebenarnya aku nggak terlalu percaya diri dengan masakanku, tapi kemarin kamu terlihat senang, jadi… hari ini juga bolehkah kamu memakannya?"
—Kalau sudah direndahkan seperti ini…
Haruya sama sekali tak sanggup mengatakan, “aku nggak bisa makan.”
(Sialan, dasar aku pengecut… ah, tapi serius, nasinya enak.)
Entah kenapa ia justru merasa kesal, dan sambil menangis dalam hati, Haruya pun melahap bekal Sara. Karena makanan tidak bersalah, Haruya tak bisa berbohong dengan mengatakan “nggak enak”…
"…Ba, bagaimana rasanya?"
Terhadap pertanyaan Sara yang terdengar cemas itu—
"Enak. Enak banget."
Haruya hanya bisa memberikan pendapat jujurnya. Namun di dalam hati, sambil mengumpat, “Dasar aku bodoh!”, ia mengutuk ketidakberdayaan dirinya sendiri. Karena kesal pada dirinya, Haruya mengepalkan tinjunya kuat-kuat hingga kuku meninggalkan bekas di telapak tangan.
Melihat sikap Haruya seperti itu, Sara malah salah paham dan mengira bahwa Haruya benar-benar sangat terharu dengan masakan buatannya, lalu tersenyum puas.
(Hal-hal yang menurutku akan membuatku senang… Asai-san benar-benar melakukannya untukku, ya…)
Di tengah kesalahpahaman itu, Haruya pun panik dan memutuskan untuk mengajukan ajakan kencan.
Soalnya, demi memperbaiki penilaian berlebihan terhadap dirinya, berbagi waktu lebih banyak lewat kencan adalah cara paling pasti—itulah yang diajarkan Nayu kemarin, sesama pecinta Manga Shoujo.
Karena strategi bekal telah gagal, Haruya menunggu momen yang tepat lalu bertanya pada Sara.
"—E-eh, anu… aku ingin mengenal Himekawa-san lebih jauh. Jadi… kalau berkenan, maukah kamu berkencan denganku akhir pekan ini?"
Tanpa sadar, Haruya mengatakannya dengan suara tegang.
Sara membelalakkan mata karena ajakan Haruya yang sama sekali tak terduga.
"Eh…"
Matanya terbuka lebar, dan setelah mencerna arti kata-kata Haruya, wajah Sara langsung memerah. Ia menyadari jantungnya berdegup kencang dan tubuhnya terasa panas.
"Kalau… kalau aku nggak masalah… m-mohon kerjasamanya."
"Iya, sama-sama."
Sempat terlintas di benaknya kekhawatiran akan ditolak, namun karena Sara menerimanya dengan senang hati, Haruya menghela napas lega.
(Ngapain sih sampai setegang ini cuma buat ngajak kencan.)
Mengingat dirinya yang tak bisa mengajak dengan mulus dan malah terbata-bata, tubuh Haruya pun ikut memanas.
—Bagaimanapun juga, dengan demikian, kencan antara Haruya dan Sara pun resmi diputuskan.
***
Hari yang ditunggu, hari kencan pun tiba.
Cuaca hari ini cerah sempurna. Langit begitu jernih sejauh mata memandang—bisa dibilang hari yang ideal untuk sebuah kencan. Bukan dengan penampilan murung seperti di sekolah, melainkan dengan gaya berpakaian yang rapi dan modis, Haruya bergegas menuju tempat janji temu agar tidak terlambat. Namun, justru di saat seperti itulah sesuatu terjadi.
“Mamaaaa di manaaa?”
Di tengah perjalanan menuju tempat bertemu, saat ia melintasi sebuah taman yang berada di jalur tersebut, suara kecil seorang anak perempuan yang meminta tolong terdengar di telinganya.
(—Pasti orang-orang di sekitar akan menanganinya…)
Berpikir begitu jelas bukan pilihan yang baik.
Nyatanya, mungkin itulah reaksi kebanyakan orang—beberapa hanya berpura-pura tidak melihat, sebagian lagi mengamati dari kejauhan.
Tanpa ragu sedikit pun, Haruya mendekati anak perempuan itu. Ia lalu berjongkok agar sejajar dengan pandangan sang anak.
“—E-eh, Onii-chan… siapa?”
Dilihat dari penampilannya, anak itu kira-kira berusia empat atau lima tahun. Yang paling penting, dia tidak langsung menangis atau berteriak, membuat Haruya menghela napas lega.
“Aku Akasaki Haruya. Eh… Haruya. Kalau kamu, namamu siapa?”
“Aku Miyu.”
“Oh begitu, Miyu-chan ya.”
“Iya, Miyu. Onii-chan itu—Haruya.”
Meski sedang tersesat, anak itu cukup ceria, dan itu sangat membantu. Namun, Haruya sama sekali tidak tahu bagaimana harus menangani anak kecil. Setidaknya, dia terlihat baik-baik saja—itu sudah cukup melegakan.
Saat Haruya hendak menanyakan tentang orang tuanya—seorang polisi kebetulan datang.
“Ah, selebihnya saya serahkan pada pihak polisi… mohon bantuannya.”
Karena waktu sudah mepet, Haruya berkata demikian, tetapi—
“Maaf, kami ingin menanyakan beberapa hal, jadi bisa ikut sebentar?”
Dengan nada ramah, polisi itu meminta Haruya untuk ikut.
(Iya, iya… sudah kuduga.)
Dengan ini, Haruya dipastikan akan terlambat untuk kencan.
(…Yah, memang bisa menurunkan tingkat kesukaan Himekawa-san, tapi ini soal kemanusiaan.)
Terlambat pada dasarnya adalah hal yang tidak boleh dilakukan. Meski berniat menurunkan ketertarikan Sara padanya, Haruya tetap menetapkan batasan pada dirinya sendiri tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Dan tentu saja, terlambat termasuk hal yang tidak boleh.
“Haruya— Haruya—”
Satu-satunya hal yang patut disyukuri adalah… anak ini tidak menangis, malah tampak senang hanya dengan memanggil nama orang.
Dia tidak merepotkan, dan di kantor polisi pun bersikap tenang, yang sangat membantu Haruya.
—Dan sebagai hasilnya.
“Maaf sekali, Akasaki-san. Kami sudah merepotkan Anda.”
Haruya pun harus tertahan sampai orang tua Miyu datang menjemputnya.
Haruya memang sempat memberi tahu Sara bahwa ia akan terlambat, tetapi ketika akhirnya tiba di tempat janji temu, seperti yang bisa diduga, Sara sudah ada di sana.
Pakaian bernuansa hitam dipadukan dengan rok kotak-kotak merah dan hitam. Kontras dengan kulitnya yang putih, penampilannya begitu menarik hingga secara alami memikat pandangan. Di lehernya, sebuah kalung kecil yang elegan berkilau, semakin menonjolkan pesona Sara. Riasan tipis yang bisa disebut natural membuat garis wajahnya tampak lebih dewasa dan memancarkan daya tarik yang menggoda.
Meski dari kejauhan, berkat auranya yang menonjol, Haruya langsung bisa menemukan sosok Sara begitu ia menoleh ke sekeliling.
“…Maaf, aku terlambat.”
“…Tidak terjadi sesuatu, kan?”
Alih-alih menyalahkan atau menunjukkan ketidaksenangan, Sara justru lebih dulu mengkhawatirkannya.
“Tidak… maaf. Aku memang terlambat saja.”
Tidak ada alasan khusus yang ia sampaikan.
Haruya memutuskan untuk tidak menceritakan soal gadis kecil yang tersesat itu. Selain karena ribet untuk dijelaskan, ia juga merasa alasan yang terlalu ‘sempurna’ justru bisa membuatnya dicurigai berbohong—dan itu terasa tidak enak.
“Be-begitu ya……”
Sara sempat mengernyitkan alis dengan wajah curiga, namun itu hanya sesaat. Ia segera mengganti suasana dan melanjutkan dengan suara ceria.
“……Asai-san, pakaian kamu hari ini cocok sekali.”
“Terima kasih.”
Begitu Haruya menjawab, Sara menatapnya lekat-lekat, seolah ada sesuatu yang ingin ia sampaikan lewat matanya. Haruya, kebingungan, memiringkan kepala, tetapi mata bulatnya itu sama sekali tidak terlihat akan berpaling darinya.
Tak lama kemudian, Sara menatapnya dari bawah dengan ragu-ragu. Entah kenapa, pipinya sedikit menggembung.
“E-em… pakaian aku hari ini aneh nggak?”
Tatapannya jelas berkata, tolong komentari.
Tanpa sadar, Haruya reflek menjawab apa adanya.
“Eh, cocok banget kok.”
“……Terima kasih!”
Begitu melihat ekspresi cemas Sara berubah cerah, Haruya langsung menegur dirinya sendiri dalam hati.
(Oi, harusnya kamu bilang nggak cocok dong. Kenapa malah jujur gitu sih! Aku ini…)
Tujuan kencan hari ini bukan untuk bersenang-senang. Tujuannya adalah membuat Sara meninjau ulang penilaian berlebihan—bahkan bisa dibilang hasil khayalannya—tentang dirinya, dan menghilangkan ketertarikannya.
Merasa kurang fokus, Haruya menggelengkan kepala kuat-kuat, mencoba mengubah pola pikirnya.
“……Rencana hari ini sudah ditentukan?”
Sara berdiri di sampingnya, menatap dengan mata penuh harap.
“Iya, sudah. Serahkan saja padaku.”
“Baik! Mohon bimbingannya……”
Saat Haruya memberinya senyum segar, Sara mengangguk kecil dan membalas dengan senyum lembut.
(……Kalau aku yang memimpin kencan, tinggal menunggu waktu saja. Maaf ya, Himekawa-san…… tapi hari ini, penilaianku pasti turun.)
Dengan senyum jahat di dalam hati, Haruya dan Sara berjalan berdampingan menuju tujuan.
“──Himekawa-san, kamu belum makan, kan?”
Saat itu waktu sudah lewat pukul satu siang. Waktu yang pas untuk makan siang.
“Iya, belum.”
“Oke. Kalau begitu kita makan dulu.”
“Kebetulan aku juga sudah lapar, jadi sangat terbantu.”
──Dan begitulah, mereka langsung menuju makan siang terlebih dahulu.
Dalam perjalanan, mungkin karena hari libur, jumlah orang yang berlalu-lalang terasa banyak. Terutama di jalan yang dipenuhi kafe-kafe bergaya, pasangan terlihat di mana-mana.
“……Ba-banyak pasangan, ya.”
Sara bergumam pelan.
“Ya, mungkin karena akhir pekan.”
“Iya…… Kalau dari luar, apa kita juga kelihatan seperti pasangan?”
“Entahlah.”
Sejujurnya, menurut Haruya sih tidak.
Soalnya, jarak antara dirinya dan Sara jelas terasa. Tidak bergandengan tangan, tidak merangkul bahu—tidak ada satu pun hal yang terasa seperti pasangan. Mereka hanya… berjalan berdampingan dengan jarak.
Di depan mereka, sepasang pelajar berjalan sambil berpegangan tangan, jaraknya begitu dekat sampai bahu mereka hampir bersentuhan.
(Ya, kalau dibilang pasangan, jaraknya memang segitu.)
Saat Haruya tersenyum kecut sambil mengikuti pandangan itu, Sara ragu-ragu membuka mulut.
“……Apa pasangan memang sedekat itu?”
Wajah Sara memerah karena bingung dan malu.
“Ya, setidaknya kalau segitu sih kelihatan seperti pasangan.”
Begitu Haruya mengatakan itu tanpa pikir panjang, Sara melangkah mendekat—hanya satu langkah. Aroma segar jeruk menyentuh hidung Haruya. Jarak di mana tangan mereka bisa saja saling bersentuhan saat berjalan. Tanpa sadar Haruya menoleh, dan Sara berkata dengan wajah sedikit malu,
“Kalau sedekat itu aku malu, jadi… se-segini saja.”
Sambil mempertemukan ujung jarinya, Sara tersenyum kecil dengan sikap menahan diri.
(Eh… makhluk imut apaan ini.)
Pipi yang memerah dan gerak-gerik yang manis.
Setiap sikapnya begitu menggemaskan sampai membuat Haruya ingin menggumamkan “imut”. Namun ia segera menegur dirinya sendiri dalam hati.
(Bukan, itu bukan tujuanmu, bodoh!)
Tujuan kencan hari ini adalah menurunkan tingkat kesukaan Sara. Kalau sampai menganggapnya lucu, itu justru berbalik arah. Ia harus berusaha sebisa mungkin untuk tidak berpikir begitu.
Menyembunyikan kegugupannya dan berpura-pura tenang, Haruya bertanya,
“……T-tapi kenapa harus pakai jarak pasangan?”
“Aku sempat memperhatikan sekitar, tapi tidak ada satu pun pasangan lawan jenis yang jaraknya sejauh kita…… jadi, um, aku ingin menyatu dengan suasana sekitar.”
‘Tidak boleh?’ Tatapan sendu itu diarahkan kepadanya.
Haruya merasakan wajahnya semakin panas, tetapi mengatakan “tidak boleh” terasa sulit.
(Kalau bilang tidak, nanti kelihatannya aku cuma malu aja…)
Takut justru jadi bumerang, Haruya akhirnya hanya bisa mengangguk.
“……Terima kasih!”
Melihat Sara tersenyum lebar memperlihatkan giginya, Haruya merasa kesal tanpa alasan yang jelas. Rasanya seperti semuanya berjalan sesuai keinginannya.
(Sialan, dasar gadis cantik. Yang berikutnya, aku nggak bakal nurut begitu saja.)
Dengan sumpah itu di dalam hati, Haruya mempercepat langkahnya, bergegas menuju tujuan mereka.
***
“Di sini──”
“Ini Sukiya, kita makan siang di sini saja.”
Dengan perasaan agak canggung, setelah berjalan sekitar lima belas menit, keduanya tiba di sebuah jaringan restoran gyudon besar, Sukiya.
Sukiya dikenal dengan menu utama gyudon murah, dan pelanggan utamanya biasanya para pegawai kantoran atau pelajar—dengan kata lain, mayoritas adalah laki-laki.
Karena harganya yang terjangkau, memilih Sukiya sebagai tempat makan siang pada kencan pertama jelas akan dianggap tidak punya selera. Sebagai pilihan makan siang untuk kencan, Sukiya adalah jawaban yang kebanyakan orang akan bilang “jelas tidak”.
Justru karena itu, Haruya sengaja memilih Sukiya demi menurunkan penilaian Sara terhadap dirinya. Haruya yakin sepenuh hati bahwa Sara pasti akan kecewa padanya, tapi──
“……M-mari kita masuk!”
Entah kenapa, wajah Sara tampak agak tegang, namun di saat yang sama semangatnya justru terlihat meningkat di mata Haruya.
“O-oh.”
Agak tertekan oleh reaksi Sara, keduanya pun masuk ke dalam Sukiya.
Setelah dipersilakan ke meja, Sara mulai menoleh ke sana kemari, menatap interior toko dengan mata seolah melihat sesuatu yang asing. Ia tampak gelisah dan tidak tenang.
Merasa heran, Haruya menatapnya, dan ketika Sara menyadari pandangan itu, ia pun menjawab sambil sedikit menggeliat canggung.
“……Maaf, aku baru pertama kali datang ke tempat ini.”
“……Eh, oh, begitu.”
“Iya, jadi sekarang aku agak gugup. ……Maaf.”
“Tapi jarang juga ya, belum pernah ke Sukiya.”
“E-eto… mungkin iya. Keluargaku cukup ketat, dan… termasuk keluarga berada, jadi aku jarang datang ke tempat seperti ini……”
“Lho, tapi sebelumnya kamu──”
Haruya hampir berkata tapi kamu tahu restoran keluarga, namun Sara langsung menjawab lebih dulu.
“Kalau restoran keluarga, aku kadang pergi bersama keluarga, jadi aku tahu. Tapi tempat-tempat seperti ini, aku hampir tidak pernah punya kesempatan untuk datang.”
Sambil tersenyum getir, Sara sempat menundukkan wajahnya sekali, lalu mengangkatnya kembali dengan senyum paling cerah──
“Aku sebenarnya sudah lama ingin mencoba datang ke restoran gyudon, tapi kalau sendirian sebagai perempuan rasanya agak sulit…… Jadi berkat usulan Asai-san, akhirnya aku bisa datang. Terima kasih banyak.”
“……!”
Menerima senyum polos Sara, Haruya tanpa sadar mengeluarkan keringat dingin.
(…T-tidak, tidak, tidak! Ini aneh banget, kan!? Kenapa bisa kena tepat sasaran begini!?)
Tujuannya jelas untuk menurunkan penilaian, tapi justru malah menaikkan poin kesukaannya.
Menyadari kenyataan itu, Haruya memegangi kepalanya dalam hati. Awalnya ia mencoba meyakinkan diri bahwa Sara hanya sedang bersikap sopan, namun melihat ekspresi puas di wajahnya, Haruya tak bisa menyangkal bahwa ia benar-benar merasa berterima kasih.
(Tanpa perlu berkata apa-apa, Asai-san memahami aku… mungkin dia benar-benar orang yang ditakdirkan untukku……)
Sementara Sara berdebar-debar penuh perasaan, Haruya pun berpikir, kalau begitu tinggal satu cara: membuatnya kecewa lewat rasa. Namun──
“Asai-san, ini enak sekali.”
Mungkin situasinya mirip dengan gadis bangsawan yang pertama kali makan mi instan lalu terharu.
Sara memandang gyudon dengan mata berbinar, menyuapkannya ke mulut, lalu mengunyah dengan wajah yang benar-benar menikmati.
“Mm, enak… enak banget.”
“Fufufu, Asai-san, cara bicaramu jadi kaku banget.”
Sara tertawa geli, namun bagi Haruya ini sama sekali bukan bahan tertawaan. Kalau penilaian berlebihan ini terus naik, topik tentang dirinya akan makin menyebar di kalangan para S-Class beauty, dan kehidupannya di sekolah akan jadi mimpi buruk.
(Ini… aku harus menurunkan penilaiannya di langkah berikutnya! Ayo, aku, jangan menyerah!)
Saat ini, hanya itu satu-satunya hal yang bisa dilakukan Haruya sambil memaksakan keyakinan pada dirinya sendiri.
***
Setelah meninggalkan jaringan restoran gyudon besar, Sukiya, tempat yang Haruya usulkan dan tuju berikutnya adalah……
“Di lantai dua sini. Katanya bisa melakukan berbagai macam olahraga dan permainan, bahkan karaoke juga.”
“Wah, sepertinya banyak hal yang bisa dilakukan dan kelihatannya seru ya.”
Ternyata tempat itu adalah semacam fasilitas hiburan besar.
Alasan Haruya mengusulkan tempat ini adalah karena ia berencana bertanding dengan Sara dalam berbagai olahraga dan permainan, lalu menang telak tanpa ampun—dengan begitu, penilaian Sara terhadap dirinya pasti akan turun.
(Biasanya kan, dalam kencan seperti ini, pihak laki-laki sengaja mengalah supaya pasangannya senang…… tapi aku tidak akan menahan diri.)
Saat ia sedang memutar rencana licik di dalam hati, Sara yang berdiri di sampingnya tiba-tiba bertanya,
“Asai-san… ini pertama kalinya ke sini juga?”
“Iya, pertama kali. Sepertinya kita harus melakukan pendaftaran di lantai dua.”
“Kalau begitu, mari kita urus pendaftarannya dulu.”
Begitulah, setelah naik ke lantai dua, keduanya langsung melakukan proses pendaftaran. Karena mesin tiket menyediakan diskon pelajar, mereka pun memakainya. Namun saat layar berikutnya muncul, Haruya sampai membelalakkan mata.
“……Oh, jadi sistemnya seperti ini.”
“Ada apa?”
“Selain diskon pelajar, kalau datang sebagai pasangan, ada diskon tambahan.”
Saat mengintip layar mesin tiket dan mendengar penjelasan Haruya, pipi Sara sedikit merona.
“……Ternyata ada banyak promo ya, bahkan u-untuk pasangan juga.”
“Gimana?” tanya Haruya.
Sara pun mengangguk.
“Yang lebih murah jelas lebih baik.”
Setelah menoleh ke sekitar dan memastikan tidak banyak orang, mereka membeli tiket pasangan. Bagi Haruya sendiri, yang lebih murah tentu sangat membantu secara finansial.
Saat menyerahkan tiket itu kepada petugas di pintu masuk, Haruya bertanya pada Sara,
“Kita mulai dari mana dulu…… ada tempat yang ingin kamu coba?”
“Hmm…… ah, aku ingin mencoba yang itu.”
Setelah menatap papan petunjuk sejenak, Sara menunjuk arena skating yang berada di tengah gedung.
“……Aku belum pernah mencobanya sama sekali, jadi kupikir ingin merasakannya sebagai pengalaman. Boleh, ya?”
“Aku juga terakhir kali waktu masih SD. Roller skate, ya. Oke, kita coba.”
Karena sama-sama tidak terbiasa, rasa cemas pun tetap ada, tetapi mereka segera mengenakan pelindung. Haruya sempat berpikir orang biasanya akan memilih olahraga yang sudah dikuasai, namun ternyata Sara cukup berjiwa petualang.
Setelah persiapan selesai, keduanya pun menuju arena skating.
“Kalau begitu, kita mulai meluncur.”
“I-iya──”
Baru saja Haruya mencoba mengelilingi lintasan sekali, ia menyadari sesuatu. Kaki Sara gemetar, dan ia sama sekali belum bisa mulai meluncur. Dilihat lebih dekat, Sara menempelkan tubuhnya ke dinding.
“……Kamu tidak apa-apa, Himekawa-san?”
“Maaf, ternyata ini lebih menakutkan dari yang kukira.”
“Kalau pertama kali, wajar kok.”
“Kata Asai-san terakhir kali waktu SD, tapi…… kamu jago ya.”
Sepertinya terkejut melihat Haruya bisa meluncur lebih baik dari dugaan, mata Sara pun membelalak.
“Aku sendiri juga kaget, tapi sepertinya tubuhku masih ingat sensasinya.”
“……Kalau boleh, bisa ajari aku triknya?”
“Mungkin jangan terlalu takut. Rasanya kamu jadi tidak bisa bergerak karena terlalu waspada.”
Faktanya, anak-anak kecil justru meluncur dengan lancar, jauh lebih baik daripada orang dewasa.
Anak-anak tidak terlalu memikirkan soal jatuh, sementara orang dewasa yang sudah matang selalu mempertimbangkan risiko cedera. Itu wajar, tetapi dalam skating, meluncur lebih cepat justru sering kali lebih aman daripada bergerak terlalu pelan.
“──Jadi begitu. Karena itu, menurutku lebih baik berani saja. Aku boleh meluncur duluan?”
Haruya mengusulkan itu untuk memberi contoh, namun Sara malah menggeleng kecil.
“T-tidak boleh.”
“…………”
Sepertinya ia takut ditinggal sendirian, tapi kalau begitu, Haruya pun jadi tidak bisa bergerak.
Saat ia sedang bingung, Sara meraih ujung pakaian Haruya, seolah menemukan ide cemerlang.
“Itu… karena aku ingin terbiasa dulu, bolehkah Asai-san memimpinku?”
Artinya, karena sendirian ia terlalu takut untuk meluncur, ia ingin berpegangan pada Haruya terlebih dulu sampai terbiasa. Itulah…
niat Sara yang sebenarnya.
“Yah, aku juga tidak bisa dibilang sudah terbiasa. Lagipula, meskipun pakai pelindung, bukankah itu berbahaya?”
“Lewat dinding juga tidak apa-apa…… tolong.”
Dengan suara pelan namun penuh kesungguhan, Sara memohon.
Sejujurnya, Haruya tidak begitu mengerti kenapa Sara sampai segigih itu ingin meluncur. Mungkin karena rasa ingin tahu, tapi sebagai alasan untuk menantang sesuatu yang menakutkan, rasanya masih kurang kuat.
Karena penasaran, Haruya pun bertanya,
“……Aku sih tidak masalah, tapi apa ada alasan khusus sampai kamu mau berusaha sejauh ini?”
“K-karena anak-anak itu meluncur dengan sangat senang. Kupikir, kalau sudah terbiasa, pasti menyenangkan juga.”
“……Begitu.”
Saat melihat sekeliling, memang terlihat anak-anak meluncur dengan penuh kegembiraan. “Dan lagi,” tambah Sara, sambil mengerutkan alis dan mengatupkan bibir kuat-kuat.
“Masa iya, hal yang bisa dilakukan anak-anak dibiarkan begitu saja tanpa bisa kulakukan juga……!”
Mungkin karena sifatnya yang tidak mau kalah, pipi Sara sempat mengembung sesaat.
Tak lama kemudian, ia kembali ke ekspresi ramah yang biasa ia pasang.
“……Pfft.”
Melihat sisi tak terduga dari Sara, Haruya tanpa sadar tersenyum kecil.
“J-jangan tertawa begitu dong……”
“Maaf, maaf.”
Sara yang ternyata lebih kekanak-kanakan dari dugaannya masih mengembungkan pipinya dengan kesal, namun tak lama kemudian ia menunduk sedikit dan meraih ujung pakaian Haruya.
“……Kalau begitu, permisi.”
“Kalau begitu, kita meluncur pelan-pelan sambil menyusuri dinding.”
“……I-iya.”
Melihat Sara yang tampak sedikit tegang, entah kenapa Haruya pun ikut merasa kikuk. Akhirnya, latihan roller skate Sara pun dimulai.
(Kalau dia sama sekali tidak bisa meluncur, pertandingannya tidak akan jadi…… ya sudahlah, terpaksa, terpaksa.)
──Gorogoro, gorogoro.
Di lintasan, terlihat sosok gadis cantik berambut pirang kecokelatan yang meluncur mulus dengan rambutnya berkibar.
Karena arena skating berada di dalam ruangan, ia pun mudah menarik perhatian. Sebagian besar pengunjung tak bisa mengalihkan pandangan dari kecantikannya dan gerakan luncurnya yang anggun.
“Aku bisa meluncur! Bisa meluncur! Ini menyenangkan, Asai-san!”
“Kamu cepat sekali menangkapnya……”
Belum sampai dua puluh menit sejak latihan dimulai. Sara, yang telah menghilangkan rasa takutnya, kini sudah bisa meluncur sepenuhnya tanpa bantuan Haruya.
(……Bukankah kecepatan belajarnya agak gila? Tapi ya, justru itu sangat menolong sih……)
Sambil memperhatikan Sara yang meluncur dengan stabil, Haruya tiba-tiba teringat kembali saat ia tadi meluncur bersama Sara. Tentang Sara yang sebelumnya berpegangan erat pada ujung pakaiannya. Sekarang memang Sara sudah meluncur dengan anggun, tetapi beberapa saat lalu ia bahkan sampai mencengkeram lengannya erat-erat, bukan hanya ujung bajunya. Kadang-kadang, dada Sara yang penuh sempat menyentuh lengannya, membuat Haruya merasa aneh.
Munyu, munyu.
Sesekali Sara menempel sangat dekat padanya, hingga Haruya bisa merasakan sentuhan lembut di punggungnya, membuat jantungnya berdebar kencang dan sulit untuk tetap tenang.
Saat momen itu berakhir, Haruya pun menghela napas lega dalam hati.
(……Sentuhan itu benar-benar berbahaya.)
Karena itu, ia justru bersyukur Sara cepat menangkap triknya.
Saat ia masih tenggelam dalam pikirannya, Sara kembali menghampiri Haruya yang berdiri di dekat dinding.
“Asai-san, ayo kita meluncur juga!”
Dengan wajah ceria, Sara berkata begitu. Kalau saja Sara punya ekor, pasti sekarang ekor itu sedang bergoyang-goyang dengan riang.
“Baiklah, kalau begitu bagaimana kalau kita bertanding?”
“Pe-pertandingan?”
Mendadak mata Sara membelalak.
“Siapa yang lebih dulu menyelesaikan dua putaran, dia yang menang.”
Mendengar itu, Sara menampilkan senyum menantang dan menjawab,
“Dengan senang hati!”
(……Akhirnya, saat ini juga tiba. Waktunya penilaianku dijatuhkan dengan adil.)
Haruya mengangkat sudut bibirnya dengan senyum licik dalam hati.
(Aku akan menang tanpa ampun……!)
***
Setelah berkeliling lintasan beberapa putaran dan bertanding, tampaknya mereka berdua sudah cukup puas, sehingga memutuskan berhenti bermain roller skate.
Setelah itu, mereka juga menikmati berbagai wahana di fasilitas hiburan besar itu dengan saling bertanding dalam banyak olahraga, seperti batting machine, bulu tangkis, tenis meja, dan golf.
Haruya berkali-kali menantang Sara untuk bertanding, tetapi hasil akhirnya adalah kekalahan total di pihak Haruya. Padahal ia sama sekali tidak menahan diri dan selalu bertanding dengan sepenuh tenaga, namun tetap saja tidak mampu melawan.
(……Menyedihkan sekali, aku ini.)
Haruya pun terpuruk oleh hasil yang terlalu mengenaskan itu. Meski begitu, tujuan Haruya sebenarnya adalah membuat Sara menyadari bahwa dirinya bukanlah pria sehebat yang ia bayangkan, jadi secara garis besar rencananya berjalan sesuai harapan…… namun tetap saja.
(Tapi, terlalu lemah sampai dinilai “tidak bisa apa-apa” itu rasanya menyakitkan juga.)
Rasa frustrasi dan ketidakberdayaan terhadap dirinya sendiri bercampur menjadi satu dan berputar di dadanya.
“Bagaimanapun juga, Himekawa-san memang punya kemampuan atletik yang bagus ya……”
Sambil mencari tempat untuk beristirahat, Haruya menyampaikan kekagumannya pada Sara. Mendengar itu, sudut mata Sara melembut dan bibirnya sedikit naik membentuk senyum tipis.
“Aku ini putri dari keluarga Himekawa, lho.”
Entah sadar atau tidak, ia memasang ekspresi bangga seolah berkata bahwa hal seperti ini wajar saja baginya. Namun, ucapan Sara tampaknya membuat Haruya tersangkut pada satu hal.
“……Apa itu benar-benar ada hubungannya dengan latar belakang keluarga?”
Dengan wajah polos, Haruya berkata demikian, membuat langkah Sara terhenti mendadak.
“………Eh?”
“Rasanya kemampuan olahraga Himekawa-san dan asal-usul keluargamu itu tidak ada hubungannya.”
Saat Haruya melanjutkan ucapannya pada Sara yang terdiam kaku, ia pun terdiam sejenak, lalu mengatupkan bibirnya rapat-rapat.
“K-keluargaku itu konservatif dan ketat, keluarga tradisional…… jadi, um, baik belajar maupun olahraga, semuanya dianggap harus bisa.”
“Mungkin memang tidak sepenuhnya tidak ada kaitannya. Maaf, soal itu aku tarik ucapanku.”
Haruya tidak tahu secara pasti seperti apa keluarga Himekawa, tetapi dari bayangan yang muncul, ia bisa menebaknya. Mendengar keluarga yang konservatif dan ketat, terlintas gambaran didikan keras dengan tuntutan seperti, “Jangan mencoreng nama keluarga.” Namun, meskipun begitu……
“Kalau aku sih, mungkin sudah kabur atau memberontak sejak lama. Meski dibilang itu kebijakan keluarga, tetap saja itu bukan hal yang mudah dijalani.”
Seberapa pun orang di sekitar memberi semangat atau menyediakan lingkungan yang baik, pada akhirnya yang berusaha adalah diri sendiri. Tentu saja lingkungan itu penting, tetapi ada kalanya seseorang ingin lari dari ekspektasi yang dibebankan padanya.
Haruya benar-benar merasa bahwa orang yang mampu bertahan dan menjalani semuanya itulah yang pantas disebut hebat.
(……Lagipula, mengatakan aku kalah telak hanya karena dia putri keluarga Himekawa juga rasanya tidak terima.)
Singkatnya……
“Jadi bukan karena kamu putri keluarga Himekawa, tapi karena kamu memang Himekawa-san sendiri yang hebat…… setidaknya, aku berpikir begitu.”
Haruya mengatakannya dengan tegas.
Mendengar itu, Sara membelalakkan mata, lalu menunjukkan ekspresi seolah tersadar, dan segera mengalihkan topik pembicaraan.
Seolah benar-benar sedang menutupi rasa malunya……
“Terima kasih……”
Bisikan Sara dengan suara yang nyaris tak terdengar, sambil menundukkan pandangan. Lalu ia melanjutkan,
“……Ah, bagaimana kalau kita coba yang itu?”
Menyadari betapa canggungnya ucapannya barusan karena Sara jelas-jelas mengalihkan topik, Haruya mengikuti arah yang ia tunjuk. Tanpa sadar, ia menyipitkan mata.
“……Kamu yakin? Itu kelihatannya cukup menyeramkan.”
Yang Sara tunjuk adalah sebuah game tembak-tembakan dengan nuansa horor yang kental. Haruya belum pernah memainkannya, tapi dari tampilan luar mesinnya saja sudah jelas kelihatan menakutkan.
“Kamu nggak tahan yang seram-seram ya?”
“Aku sih bisa, tapi kamu yakin, Himekawa-san? Biasanya perempuan kurang suka yang beginian, kan?”
“Aku belum pernah main game seperti itu, jadi ingin coba.”
Sambil berkata begitu, Sara mengepal ujung pakaiannya di depan dada. Dari gerakannya, jelas terlihat ia sedang tegang. Wajahnya pun kaku, napasnya tertahan. Seperti saat roller skate tadi, Haruya kembali merasa bahwa Sara ternyata cukup berjiwa petualang.
“Kamu benar-benar nggak apa-apa?”
“Nggak apa-apa……”
Setelah memastikan sekali lagi, Haruya pun masuk bersama Sara ke dalam bilik mesin berbentuk kotak itu.
Duduk di kursi dan mengutak-atik layar sebentar, Sara mengambil pistol yang diletakkan di depannya. Ia menatapnya dengan penuh rasa ingin tahu, lalu mengangguk sendiri.
“……Oh, jadi pakainya begini ya. Tinggal menembak zombie.”
Meski suaranya terdengar sedikit bergetar, mata Sara justru berbinar penuh rasa penasaran.
“……Oh, game ini ternyata ngukur detak jantung.”
“Artinya, kita bisa tahu siapa yang lebih takut, ya.”
Dengan mata yang tampak cemas, Sara menoleh ke arah Haruya.
Kalau detak jantungnya ditampilkan, sekuat apa pun berpura-pura berani, rasa takutnya pasti ketahuan. Rupanya game ini memang dirancang untuk membongkar siapa yang penakut.
“Kalau begitu…… kita sekalian tanding?”
“Tentu. Yang detak jantungnya lebih tinggi, kalah.”
“Iya!”
“Sejauh ini aku selalu kalah, jadi kali ini aku mau menang.”
“Dengan senang hati.”
Akhirnya, keduanya pun mulai memainkan game tembak-tembakan itu.
Kesan Haruya setelah memainkannya adalah: game ini lebih fokus bikin kaget ketimbang membangun suasana horor. Ia memang tidak sampai berteriak, tapi ketika zombie tiba-tiba muncul tepat di depan, mesin itu ikut bergetar, membuat tubuhnya refleks tersentak.
Apalagi saat banyak zombie menyerbu, wajah mereka ditampilkan dari jarak sangat dekat di layar, membuat unsur horornya terasa cukup kuat.
Kalau sendirian, ia pasti sudah kabur sejak tadi…… tapi—
『……Hii, a-aku nggak dengar kalau mesinnya bakal goyang!』
『Asai-san, zombinya…… zombinya nggak bisa aku kalahin!』
『Aduh…… aku nggak mau lihat layar lagi…… aku merem!』
Reaksi Sara yang satu per satu terasa begitu menggemaskan, sampai-sampai rasa takut Haruya jadi tertutupi.
Setelah satu kali permainan selesai, hasil detak jantung mereka ditampilkan di layar. Melihat hasilnya, Haruya mengepalkan tangan kecil sambil berseru,
“Himekawa-san, sepertinya aku menang.”
(Menang… aku menang…… lewat game horor.)
Ia sempat tersenyum puas dalam hati, tapi akhirnya hanya bisa menghela napas panjang.
“……Hahhh.”
Rasa tidak bergunanya diri sendiri kembali menusuk hatinya.
“……Eh? Himekawa-san?”
“……A-aku nggak apa-apa…… kok.”
Mulutnya memang berkata begitu, tapi dari raut wajahnya jelas ia sama sekali tidak baik-baik saja. Wajahnya pucat, bibirnya bergetar.
Begitu keluar dari mesin, Sara langsung memeluk lututnya dan meringkuk kecil di tempat. Melihat tubuhnya yang gemetar halus, jelas sekali betapa takutnya ia tadi.
Haruya sempat berpikir untuk tidak menyapanya, karena itu jelas akan menaikkan penilaiannya di mata Sara. Namun entah kenapa, rasa bersalahnya menang, dan secara refleks ia berkata,
“Ehm…… mau aku bantu pegang tanganmu?”
Dalam hati ia menyesal, Makanya tadi jangan sok-sokan ikut. Tapi mungkin, orang yang paling menyadari hal itu adalah Sara sendiri.
Saat Haruya mengulurkan tangan, Sara menggenggamnya erat. Tangannya terasa dingin. Haruya membalas genggamannya dan menariknya perlahan untuk membantunya berdiri.
……Namun.
“Himekawa-san, tangannya…?”
Meski ia sudah berdiri dan Haruya melepaskan tenaga tarikannya, Sara tak menunjukkan tanda-tanda akan melepas tangan Haruya. Saat ia menegur, Sara menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
“Ma, maaf…… bolehkah aku tetap menggenggam tanganmu sebentar saja?”
Dengan tangan masih digenggam begitu, rasanya sulit menolak. Haruya tersenyum kecut, namun melihat Sara yang ketakutan dengan mata berair, ia benar-benar tak sanggup menolaknya. Sambil menggaruk belakang kepalanya, ia bergumam kecil,
“……Ya sudah, mau bagaimana lagi.”
Sebenarnya, kalau ia memaksa melepaskan tangannya, penilaian Sara padanya pasti akan turun. Tapi sampai bertindak sejauh itu—bersikap terang-terangan agar dibenci—itu bukan yang ia inginkan.
(Hah… aku ini memang maunya nggak dibenci, tapi juga pengin dia berhenti tertarik padaku.)
Saat Haruya menghela napas, muak dengan sikap setengah-setengahnya sendiri—itulah saat ia berpapasan dengan seorang gadis kecil yang pernah ia temui sebelumnya.
“Ah, itu Haruya! Haruya!”
“Hey, Miyu. Jangan jalan sendiri begitu saja…!”
Di arah pandangan Haruya dan Sara, sebuah pasangan ibu dan anak sedang mendekat ke arah mereka. Mereka adalah ibu dan anak perempuan kecil yang tadi siang sempat ditemui Haruya—si gadis kecil yang tersesat.
“E-eh… anak itu… kenalanmu?”
“Bukan, nggak usah dipikirin, Himekawa-san.”
Sambil melihat Sara yang memiringkan kepala dengan heran, kegelisahan mulai berputar-putar di dada Haruya.
Alasan Haruya panik adalah satu hal—teriakan polos Miyu yang memanggil, “Haruyaaa.” Artinya, ibu dan anak itu sudah tahu nama aslinya. Yang bisa Haruya lakukan sekarang hanyalah satu: jangan sampai jati dirinya terbongkar di depan Sara.
Saat keringat dingin mulai mengalir, Miyu—yang jelas tak mungkin memahami situasi—mendekat begitu saja. Tepat di saat itu, ponsel ibu Miyu berdering, dan untuk sementara ia harus mengurus panggilan tersebut.
“Mama, Haruya lagi pegangan tangan, lho? Eh, Mama lagi nelepon.”
Dengan sikap polosnya, Miyu berbicara tanpa beban, membuat Haruya hanya bisa tersenyum kecut.
Saat disadari bahwa orang lain melihat mereka berpegangan tangan, Sara buru-buru melepaskan tangan Haruya. Sepertinya, ia masih merasa canggung jika hal itu dilihat oleh orang lain.
“Haruya, kakak ini istrinya Haruya?”
“Bukan istri sih…”
“Eh? Kalau gitu temannya?”
Sebenarnya, Haruya secara sepihak menganggap hubungannya dengan Sara sebagai “lawan takdir”, tapi tentu saja istilah itu tak akan dipahami anak kecil. Karena itu, Haruya mengangguk saja menanggapi pertanyaan Miyu. Namun—
“Eh, Onee-chan itu… mukanya merah.”
Sara ditunjuk langsung oleh Miyu.
Haruya tak tahu kenapa Sara memerah hanya karena disebut “teman”, tapi di dalam hati Sara sendiri—
(Teman… aku dan Asai-san itu teman, ya…!)
Ia terlihat tidak keberatan sama sekali.
Setelah beberapa saat tenggelam dalam perasaan itu, Sara seolah menyadari sesuatu dan bertanya pada Haruya.
“Ngomong-ngomong, Asai-san… ‘Haruya’ itu apa?”
“—Suuuh…”
Haruya refleks berkeringat dingin.
(Nggak usah sadar, nggak usah sadar…)
Berusaha tetap tenang, Haruya menenangkan dirinya sendiri.
“Itu… maksudnya, aku kan orangnya ceria. Jadi dipanggil ‘haru’ dari ‘orang yang cerah’, makanya dipanggil ‘Haruya~’ gitu.”
“Oh, begitu ya. Kukira Asai Yuu itu sebenarnya nama palsu…”
“…!”
Itu memang fakta. Namun, yang bisa dilakukan Haruya hanyalah berusaha mati-matian menutupinya. Ia tidak boleh sampai namanya yang asli diketahui, karena kalau itu terjadi, jati dirinya akan terbongkar……
"T-tidak, mana mungkin begitu, kan… iya… benar-benar bukan begitu kok."
Sendirian, Haruya berkali-kali mengangguk-angguk di tempat sambil bergumam, "Iya, iya."
"──Sudah hampir waktunya. Himekawa-san, ayo kita pergi."
Masih bisa ditutup-tutupi.
Saat baru saja berpikir begitu dan hendak cepat-cepat mengundurkan diri──ibu dari Miyu yang baru kembali dari menelepon malah melontarkan satu kalimat yang tidak perlu.
"Maaf ya. Soal kejadian anak saya tersesat siang tadi, dan juga karena sejak tadi Anda menemani putri saya… Akasaki-san, terima kasih banyak."
"…………"
Mendengar ucapan ibu Miyu itu, kepala Haruya langsung kosong. Melihat Haruya yang seperti itu, Sara tidak menanyainya lebih jauh, hanya bergumam pelan berulang kali di tempat, seolah memastikan,
"Akasaki? …Akasaki?"
(…Tamat. Ini sudah jelas nggak bisa ditutup-tutupi lagi…)
Kalau cuma ucapan Miyu yang masih balita, mungkin masih bisa diakali. Tapi kalau ibunya ikut turun tangan, ceritanya jadi lain. Lawan bicara ini orang dewasa.
Begitu tahu dia memakai nama palsu, pasti akan timbul rasa curiga. Karena itu, dalam situasi seperti sekarang, hanya ada satu hal yang bisa dilakukan Haruya: jangan sampai kebohongan lain terbongkar. Hanya itu.
"Himekawa-san, sudah waktunya. Kita pindah dulu…"
Ia meraih tangan Sara yang kelihatannya tak berniat bergerak dan mencoba menariknya pergi, tapi Sara sama sekali tidak bergeming.
"Haruya— jangan kasar sama Onee-san itu."
Di saat itulah Miyu melontarkan teguran yang sangat wajar. Haruya menurunkan pandangan dan menjawab, "Maaf ya," namun ucapan Miyu inilah yang justru menjadi salah satu penyebab tragedi bagi Haruya.
"Hei, Miyu. Panggilnya Haruya Onii-chan, dong."
Ibu Miyu menegur dengan kata-kata yang tepat sebagai orang tua.
"Iyaaa, Haruya Onii-chan."
Panggilan "Onii-chan" yang terdengar agak cemberut itu biasanya akan membuat hatinya terenyuh, tapi Haruya sama sekali tidak punya waktu untuk memikirkan hal semacam itu sekarang.
Dalam hati, Haruya memegangi kepalanya, berulang kali mengeluarkan jeritan putus asa.
(…Ini harus gimana… ini benar-benar nggak mungkin lagi…)
Yang terlintas kembali di benak Haruya adalah alasan seadanya yang tadi ia karang.
"Ini, ya… soalnya aku orangnya ceria, kan? Jadi dari julukan ‘pria pembawa cerah’, makanya dipanggil ‘Haruya—’."
Alasan asal-asalan itu runtuh seketika ketika panggilan berubah menjadi "Haruya Onii-chan", yang berarti jelas itu bukan sekadar panggilan julukan.
Meski begitu, pihak yang paling pantas disebut biang kerok sebenarnya adalah ibu Miyu…tapi tentu saja, ia tak bisa menyalahkannya. Mana mungkin.
Gawat, bahaya— kata itu berulang kali memenuhi kepalanya. Lalu, di tengah kekacauan itu—
"Ah, sepertinya kami sudah tidak punya banyak waktu, jadi kami pamit duluan ya."
"Bye-bye, Haruya— eh, maksudnya Haruya Onii-chan."
Setelah mengecek waktu, mungkin karena ada urusan mendesak, ibu Miyu dan Miyu pun segera meninggalkan tempat itu.
──Yang tersisa hanyalah Haruya dan Sara berdua.
(Dengan begini, hari ini sudah seru, pulang yuk!)
Sambil memaksakan diri berpikir begitu, Haruya mulai melangkah, ketika ujung bajunya tiba-tiba dicubit pelan.
"Tu-tunggu dulu… Asai-san. Eh, maksudku Akasaki-san."
"………"
Suasana canggung langsung menyelimuti sekitar. Karena nama aslinya ketahuan. Dan sekaligus, kebohongan tentang nama palsunya pun terbongkar.
Pasti ada banyak hal yang ingin ditanyakan, tapi yang pertama disentuh Sara justru soal keterlambatan.
"Um… setelah mendengar ceritanya, aku jadi berpikir… keterlambatan hari ini bukan karena disengaja, tapi karena kamu menolong Miyu-chan yang tersesat, ya?"
"Hah? Oh, iya… kurang lebih begitu."
"Kalau begitu bilang saja dari awal…"
Setelah memastikan hal itu, Sara tersenyum puas lalu berjalan lebih dulu ke depan.
"…Hah?"
Haruya tanpa sadar mengeluarkan suara bengong. Ia mengira akan ditanyai lebih banyak lagi.
"Itu memang hasil yang tak terduga, tapi aku tidak marah kok soal kamu memakai nama palsu, jadi tenang saja."
"…Maaf, aku memang punya banyak alasan."
Ia tak ingin menonjol di kelas. Ia tak ingin ada masalah yang berhubungan dengan sekolah. Perasaan itulah yang menguasai Haruya.
"Iya, aku mengerti, jadi tenang saja…"
Sambil berkata begitu, Sara memperlihatkan senyum hangat yang penuh rasa kemanusiaan. Sebaliknya, Haruya sama sekali tak bisa merasa tenang. Bagaimanapun juga, ini menyangkut kehidupan sekolahnya ke depan.
Kalau ada satu hal saja yang bisa ia lakukan… itu hanyalah berdoa agar tidak ada kesempatan baginya untuk berinteraksi dengan Sara di sekolah.
(…Hah, sungguh kumohon, Tuhan.)
Haruya tak bisa berbuat apa-apa selain berdoa dalam hati.
***
Keesokan paginya.
Haruya menyambut pagi tanpa bisa tidur nyenyak sama sekali. Dengan kantuk yang jauh lebih berat dari biasanya, ia pun berangkat ke SMA.
Setelah pulang dari kencan kemarin, Haruya sudah berkali-kali memohon pada Sara lewat pesan, “Walaupun kamu tahu jati diriku, tolong jangan pernah menyebarkannya! Tolong!” dan ia mendapat balasan, “Aku paham kok, hehe.”
Namun, masalah ini jelas bukan sesuatu yang bisa membuatnya tenang hanya dengan jawaban seperti itu.
Sesampainya di sekolah, Haruya duduk di bangkunya dan—lebih dari biasanya—tanpa sadar menyimak pembicaraan para S-Class Beauty. Dari yang terdengar, Sara tampaknya tidak secara khusus membicarakan jati diri Haruya.
…Namun, topiknya sepertinya tentang gambaran pria ideal, dan para S-Class Beauty itu saling bertukar pendapat.
“—Kalau menurutmu, Sara, tipe lawan jenis ideal itu seperti apa?”
Yang melontarkan pertanyaan itu adalah Yuna, dengan nada yang sedikit terdengar bosan.
“Aku rasa orang yang keren itu adalah yang tidak menjadikan menolong orang sebagai alasan keterlambatan, sih…”
“Hm, Sarachin. Misalnya itu situasi seperti apa?”
Rin memiringkan kepalanya dengan imut.
Mengingat kembali waktu yang dihabiskannya bersama Haruya kemarin, Sara pun membuka mulut.
“Misalnya ada anak perempuan kecil yang tersesat, lalu dia menolong anak itu, dan gara-gara itu jadi terlambat, kan? Tapi dia tidak menjadikannya alasan keterlambatan dan malah menyembunyikannya.”
“…Kok detail banget ya.”
“Tapi justru yang kayak gitu tuh terasa seperti dilakukan secara alami. Soalnya tidak ditunjukkan ke orang lain.”
Mendengar ucapan Yuna yang mengibaskan rambut hitamnya, Sara mengangguk kuat.
“Iya, iya, benar banget!”
“Kebaikan yang dilakukan diam-diam, ya. Hmm, memang terdengar keren sih. Terus apa lagi?”
“Mungkin orang yang selalu melakukan segalanya dengan sepenuh tenaga? Orang yang agak kekanak-kanakan juga menurutku keren.”
Itu mengingatkan Sara pada saat Haruya mengajaknya bertanding di fasilitas hiburan besar. Haruya menantangnya dengan serius dan berusaha membuat suasana jadi seru. Begitulah, di mata Sara, tindakan Haruya terlihat seperti itu. Mendengar jawaban Sara, Yuna tampak berpikir sambil menyentuh dagunya.
“Melakukan segalanya dengan sepenuh tenaga, ya. Memang rasanya jadi ingin mendukung. Maksudnya itu termasuk belajar atau olahraga?”
“Belajar juga, tentu saja, tapi kalau dibandingkan, olahraga mungkin lebih baik. Soalnya dengan berkeringat, usaha orang itu jadi kelihatan…”
Saat Sara berbicara sambil mengingat sosok Haruya, Rin menyipitkan mata dan tersenyum geli.
“Heeh, Sarachin. Ini detail banget dan kelihatannya kamu senang, ya? Itu pengalaman nyata? Tentang orang itu?”
“…Rahasia.”
“Eh—rahasia, ya.”
“…Sara, kelihatannya kamu benar-benar bahagia.”
“Iya, sekarang aku benar-benar sangat bahagia.”
Begitulah para S-Class Beauty itu mengembangkan topik pembicaraan mereka, namun—di tengah semua itu—Haruya mati-matian berusaha agar wajahnya tidak memerah karena malu. Mendengar dirinya sendiri dipuji secara berlebihan tepat di hadapannya—ini tidak bisa disebut apa pun selain “penyiksaan rasa malu”.
Haruya pun teringat kembali pembicaraan tentang pria ideal versi Sara.
『Orang yang tidak menjadikan menolong orang sebagai alasan keterlambatan itu keren. Misalnya ada anak gadis kecil yang tersesat, lalu dia menolongnya dan akibatnya jadi terlambat, tapi dia tidak menjadikannya alasan dan malah menyembunyikannya.』
(Itu kan aku… dan soal itu bukan rekayasa, tapi fakta, jadi aku juga tidak bisa menyangkalnya.)
『Selain itu, orang yang melakukan segalanya dengan sepenuh tenaga. Orang yang agak kekanak-kanakan juga menurutku keren.』
(Aku harap ini bukan cuma perasaan kepedean… tapi dia pasti sedang membicarakan soal aku yang tiap kali menantang pertandingan. Soalnya aku memang mengerjakannya dengan serius, sampai berkeringat juga…)
Saat Haruya semakin yakin bahwa itu semua membicarakan dirinya, ia menyadari wajahnya mulai terasa panas karena malu.
—Pada saat itu.
Pintu kelas terbuka dengan suara keras, diikuti suara lantang.
“Kalian semua—duduk di tempat!”
Yang muncul adalah wali kelas mereka, Tokoyami Meika.
Seorang guru perempuan mata pelajaran bahasa Jepang, usia pertengahan dua puluhan. Dengan tinggi 165 cm—cukup tinggi untuk seorang perempuan—dan setelan jas yang sangat cocok dengannya.
Padahal masih sepuluh menit sebelum homeroom biasanya dimulai, Meika sudah berdiri di depan meja guru dan menyuruh para murid yang sedang mengobrol untuk duduk.
“Hari ini, di jam pelajaran terakhir akan ada acara pertukaran dengan kelas lain. Aku akan jelaskan dulu.”
Mungkin karena penjelasan tentang acara itulah homeroom hari ini dimulai lebih awal.
(Oi oi… baru dengar ini…)
(Pertukaran dengan kelas lain… kedengarannya seru banget.)
(Jarang-jarang ada kesempatan buat berinteraksi dengan kelas lain, jadi aku menantikannya…)
Tatapan para siswa yang penuh harap pun tertuju pada Meika.
Sementara para murid menunjukkan ketertarikan, Haruya hanya setengah mendengarkan penjelasan guru. Namun, jika dirangkum, poin utama acara pertukaran antar kelas itu hanya ada tiga.
Berkumpul di aula olahraga tepat waktu
Empat kali rotasi untuk berinteraksi dengan siswa kelas lain (※namun bisa saja bertemu siswa dari kelas yang sama)
Selama 3 menit, berkomunikasi dengan baik
Itulah gambaran besarnya.
Para siswa tetap ramai dan antusias dengan acara tersebut, tetapi Haruya sama sekali tidak tertarik. Ia merasa acara seperti ini tidak ada hubungannya dengannya.
(Dibanding acara begituan… aku malah tidak bisa berhenti memikirkan pergerakan Himekawa-san…)
Haruya pun melirik Sara yang duduk di dekatnya, lalu menghela napas dalam hati.
***
Setelah pelajaran pagi berakhir, tibalah waktu istirahat makan siang.
Setelah memastikan tidak ada orang, Haruya merapikan penampilannya di kamar mandi lalu melangkah menuju atap sekolah. Pergi ke atap saat jam makan siang seperti ini sudah menjadi kebiasaan baginya.
Begitu pintu dibuka, udara segar langsung menyambut dan biasanya membuat perasaan jadi lebih cerah. Namun, kondisi batin Haruya saat ini justru dipenuhi kegelisahan dan keputusasaan—hanya emosi negatif semacam itu.
“Ah, Asai-san… eh, maksudku Akasaki-san.”
Begitu melangkah ke atap dengan kaki yang terasa berat, sosok Sara langsung terlihat. Ia menoleh dengan senyum cerah, lalu melambaikan tangan dengan riang sambil berkata, “Di sini! Di sini!”
“……”
Haruya menahan napas, lalu dengan ragu-ragu melangkah mendekatinya.
Apakah identitasnya benar-benar terbongkar atau belum memang belum jelas, tapi karena nama aslinya sudah ketahuan… tinggal menunggu waktu saja.
Sampai sekarang, Haruya sengaja tidak duduk di samping Sara dan malah memilih duduk agak menjauh. Namun, sekarang bukan saatnya menurunkan penilaiannya di mata Sara dan membuatnya kehilangan minat. Jadi kali ini, Haruya dengan inisiatif sendiri duduk di sebelahnya.
Apa yang harus ia lakukan sekarang. Agar bisa menjalani kehidupan sekolah dengan tenang, satu-satunya hal yang bisa dilakukan Haruya adalah mencegah rumor menyebar.
…Dengan kata lain, meminta Sara untuk tutup mulut. Hanya itu pilihannya. Karena itu, dengan sikap serius, Haruya menoleh ke arah Sara dan—
“…Tolong, jangan ceritakan soal aku ke siapa pun. Aku mohon.”
Ia memohon dengan ekspresi sungguh-sungguh. Namun Sara malah mengangguk dengan wajah santai.
“Seperti yang sudah aku bilang lewat pesan kemarin, aku nggak akan melakukan hal seperti itu kok.”
“…Iya, tapi—”
Dalam hati ia ingin berkata, ‘Tapi di kelas kamu tetap ngomongin aku, cuma namanya aja nggak disebut…’ namun Haruya menahannya dan menunduk. Lalu ia mengajukan pertanyaan sederhana yang sejak tadi mengganjal.
“Tapi kenapa kamu nggak penasaran, padahal kamu tahu aku pakai nama palsu?”
“Karena kelihatannya Akasaki-san memang nggak ingin diusut.”
Lalu Sara menambahkan penjelasannya.
“Dan juga… aku pikir, daripada aku menyelidiki sendiri sampai tahu identitas Akasaki-san, rasanya lebih indah kalau aku tahu secara kebetulan, seperti kejadian kemarin…”
Sara benar-benar seperti gadis yang sedang bermimpi.
Di dalam hatinya, ia merindukan pertemuan dan cinta yang terasa takdir. Bukan berarti ia menolak usaha dari dirinya sendiri, tapi baginya, merasakan ‘takdir’ justru berarti mengetahui sesuatu tanpa sengaja, tanpa harus memaksakan diri untuk mencari. Karena itulah, Sara memilih untuk tidak menyelidiki identitas Haruya, dan percaya bahwa suatu hari nanti ia akan tahu dengan sendirinya.
Meski masih ada sedikit kecurigaan terhadap Sara, Haruya memutuskan untuk sementara menerima penjelasan itu. Faktanya, nama aslinya memang belum pernah keluar dari mulut Sara di kelas. Bahkan meski mereka sekelas, banyak yang tampaknya belum mengingat namanya—cukup untuk menunjukkan betapa tipisnya keberadaan Haruya. Kini, justru “ketidakmenonjolan” dirinya itulah yang menyelamatkannya.
“──Kalau begitu, Akasaki-san. Kita kesampingkan dulu soal itu… ayo makan siang.”
“Himekawa-san, kamu jadi jauh lebih ceria ya…”
Entah karena suasana hatinya sedang sangat baik, tapi kesan Sara saat pertama kali bertemu benar-benar berbeda dengan sekarang.
Dulu ia terlihat seperti gadis yang kurang percaya diri. Namun kini, karena terlihat lebih ceria, ia memancarkan rasa percaya diri secara alami. Mungkin karena itulah ia bisa mempercayai sesuatu yang disebut “takdir”.
“Itu juga, kurasa karena aku bisa bertemu dengan Akasaki-san…”
Tatapan penuh keyakinan itu membuat Haruya refleks memalingkan wajah.
(Kalau dipikir-pikir, ini agak berlebihan sih…)
Begitulah pikir Haruya, tapi kalau ia mengatakannya, sudah pasti Sara akan menyangkal. Jadi ia hanya tersenyum kecut untuk menutupinya.
Sambil menyantap bekal Sara yang ditraktirkan kepadanya, topik pembicaraan pun secara alami bergeser ke “acara pertukaran antar kelas”.
“──Di tempat Akasaki-san, ada juga pembicaraan soal acara pertukaran antar kelas?”
Kalau harus menjawab “ada” atau “tidak”, tentu saja jawabannya “ada”.
(Soalnya ya… kita satu kelas sebenarnya.)
Kalau bisa mengatakan itu, hidup pasti jauh lebih mudah. Tapi Haruya pura-pura tidak tahu apa-apa dan menjawab,
“Ada sih, sekilas.”
“Benarkah? Katanya sistemnya pakai rotasi, ya. Kedengarannya segar.”
(Itu mah sistemnya sama persis kayak kencan buta… ya meski aku sendiri nggak tahu kencan buta itu sebenarnya gimana.)
Sambil berpikir begitu, Haruya asal mengatakan bahwa itu “terdengar menyenangkan” untuk menutupinya.
“Katanya sih, dalam rotasi itu kadang bisa dapat orang dari kelas yang sama juga. Kalau sampai begitu, pasti nggak enak ya.”
“Ah—iya, aku paham banget.”
“Fufu, cuma bagian itu saja yang kamu responnya penuh empati, ya.”
Saat Haruya mengangguk kuat-kuat, Sara menutup mulutnya dengan tangan dan tertawa kecil.
(…Bukan soal itu. Aku cuma nggak mau ketemu kamu di situ.)
Begitulah yang dipikirkan Haruya. Sementara itu, Sara di dalam hati—meski merasa kemungkinan itu kecil—tetap menyimpan sedikit harapan.
(…Tapi kalau saja di acara pertukaran antar kelas nanti aku bisa dapat Akasaki-san…)
Sambil menahan senyum lebar agar tetap terlihat anggun, Sara bersikap tenang. Haruya memandangnya dengan tatapan yang entah kenapa terasa sedikit iba.
(…Nggak bakal sesuai harapanmu kok. Pasti.)
Sambil berdoa dalam hati demikian, Haruya terus menyuapkan bekal Sara ke mulutnya.
──Dan saat itu.
“…Ah.”
Haruya tak sengaja menumpahkan bekalnya, meninggalkan noda kecil di seragamnya.
“A-apa tidak apa-apa? Silakan pakai tisu.”
“Maaf, aku ceroboh.”
Sara segera mengambil tisu dari saku roknya dan menyodorkannya kepadanya. Sambil menerimanya, Haruya menghela napas dalam hati, tak bisa menyembunyikan kegelisahannya.
(…Ketahuan nama asliku benar-benar bikin mentalku drop ya.)
Sambil berpikir begitu, Haruya sama sekali tidak memedulikan noda kecil di seragamnya.
***
Baiklah, memasuki penghujung pelajaran sore, akhirnya dimulailah acara “pertukaran dengan kelas lain.”
Di tengah hiruk-pikuk perjalanan menuju gedung olahraga, Kazamiya yang berdiri di samping Haruya mendekat dan berbisik pelan di telinganya.
"…Sial ya. Kelas kita isinya S-Class beauty semua."
"…Aku nggak pernah dengar itu."
"Ya, sih, mungkin di kelas lain juga ada perempuan imut, tapi rasanya nggak sampai level S-Class beauty."
"Tapi katanya karena masalah jumlah, bisa saja dapat orang dari kelas yang sama, kan?"
Begitu Haruya menunjukkannya, Kazamiya mengangkat alis dengan ekspresi tertarik dan tersenyum setengah.
"Oh? Jadi Akasaki ngincar Himekawa-san, ya…"
"Hei, bukannya sudah kubilang bukan begitu? Lagi pula kita sudah mau sampai, mending diam."
"Iya, iya. Kalau dapat perempuan imut, kabarin aku nanti."
Sambil menanggapi Kazamiya dengan setengah asal, rombongan teman sekelas—termasuk Haruya—akhirnya tiba di gedung olahraga. Bagian dalam gedung dipenuhi kegaduhan antara harapan dan kecemasan. Namun, entah kenapa, perasaan Haruya justru terasa cukup tenang.
Tak lama kemudian, ketika keributan mulai mereda dan tidak ada lagi siswa yang keluar-masuk gedung, guru wali tingkat mulai menjelaskan aturan pertukaran antar kelas.
(…Yah, dijalani santai saja. Selama aku tidak dapat Himekawa-san, semuanya aman.)
***
Kalau disimpulkan sejak awal saja—perkiraan Haruya ternyata meleset. Jumlah siswa yang diajak berinteraksi ada empat orang.
Atas, bawah, kiri, kanan… bagaimana tepatnya rotasinya tidak dijelaskan, tapi secara sederhana, artinya dia hanya perlu melewati empat kali “krisis”.
Dengan jumlah siswa yang begitu banyak, kemungkinan bertemu Sara seharusnya sangat kecil. Karena itu, Haruya merasa mustahil dirinya akan bertemu dengannya—namun mari kita lihat hasilnya.
──Orang pertama.
Haruya berpasangan dengan seorang siswa laki-laki dari kelas lain. Katanya hobinya main game FPS. Namanya… Miyai? Miyai… atau apa ya. Yang jelas, Haruya hanya ingat kalau dia terus-terusan membicarakan game secara sepihak.
Mungkin dia seharusnya menyesali daya ingatnya sendiri, tapi saat ini Haruya sama sekali tidak punya kelonggaran untuk hal semacam itu.
──Orang kedua.
Kali ini siswi dari kelas lain. Percakapannya benar-benar tidak berkembang, suasananya mati total—itulah satu-satunya hal yang Haruya ingat.
(Maaf… dapat giliran sama orang sepertiku)
Sambil meminta maaf dalam hati, Haruya menghela napas lega karena setidaknya bukan Sara.
──Orang ketiga.
Lagi-lagi siswi dari kelas lain. Kali ini rambutnya yang panjang dijadikan bahan komentar. Yang Haruya ingat hanyalah dia terus berkata, “Lucu, lucu,” berkali-kali. Dalam hati Haruya berpikir, (Itu cuma asal ngomong, kan).
Dan akhirnya—orang keempat.
Saat giliran terakhir tiba, tragedi bagi Haruya pun datang.
Benar. Gadis yang duduk berhadapan dengannya di rotasi terakhir tidak lain adalah Himekawa Sara.
"Senang berkenalan…! Namaku Himekawa Sara."
"S-senang berkenalan… namaku Akazaki."
Sambil mengutuk Tuhan dalam hati, Haruya menurunkan suaranya dan berusaha agar wajahnya tidak terlalu terlihat. Ia bahkan menyebut namanya sebagai “Akazaki”, bukan “Akasaki”, menambahkan sedikit kamuflase. Meski begitu, tetap saja itu hanyalah upaya putus asa.
"Suaranya agak pelan, tapi… Akazaki-san, ya?"
Sepertinya dia belum menyadarinya.
"Iya, mohon kerja samanya."
"Mohon kerja samanya."
Sebenarnya Haruya ingin sekali kabur saat itu juga, tapi jelas tidak mungkin. Dengan keringat dingin, ia terpaksa melanjutkan interaksi dengan Sara.
"Rambutmu panjang sekali, Akazaki-san… kamu suka rambut panjang?"
"I-iya…"
"Oh, begitu. Tapi kalau rambut panjang, perawatannya pasti cukup merepotkan ya…"
"Iya."
Saat ia berpikir bisa melewati situasi ini dengan basa-basi ringan—
"Noda itu…"
Sara membelalakkan matanya dan membeku.
"A-ah, ini tadi di atap aku menumpahk—ah."
Karena sejak tadi sengaja merendahkan suara, Haruya lengah. Tanpa sadar ia menjawab secara alami, dan seketika wajahnya memucat.
Sementara itu, Sara membulatkan matanya, bibirnya bergetar.
"T-tunggu sebentar… eh, kita satu kelas?"
"…………"
"…………"
Keduanya terdiam.
Haruya kehilangan fokus sepenuhnya, pikirannya kosong sambil merasa, Ini benar-benar tamat…
Di sisi lain, Sara hanya bisa menunduk, wajahnya memerah.
…Namun, sambil mengabaikan detak jantungnya yang semakin kencang, Haruya memaksakan kata-kata keluar.
"B-bukan, aku orang yang berbeda kok… jelas orang yang berbeda."
Sara mengembungkan pipinya, lalu condong ke depan.
"Itu… sudah tidak masuk akal…"
Kali ini, benar-benar tidak bisa ditutupi lagi.
──Sejak saat itu hingga acara pertukaran kelas berakhir, di antara mereka berdua hanya mengalir… keheningan yang canggung.
***
(Serius… ternyata dia teman sekelas. Malunya bukan main…)
Setelah itu. Begitu acara pertukaran antar kelas selesai, karena rasa malu yang tak tertahankan, Sara kabur seolah menghilang begitu saja. Setibanya di rumah, wajahnya memerah, lalu ia menjatuhkan diri ke atas tempat tidur.
(Aku sama sekali nggak menyangka kalau siswa laki-laki yang bahkan tak pernah kusadari keberadaannya itu ternyata Akasaki-san…)
Seakan masih tak percaya, mata Sara membelalak.
…Namun, alasan terbesar Sara tersiksa oleh rasa malu adalah karena ia sudah terlalu sering membicarakan Haruya di kelas. Kalau sampai semua itu terdengar olehnya…
(Itu sudah seperti pengakuan cinta, kan… ahh, memalukan sekali…)
Sara membenamkan wajahnya ke bantal, menendang-nendangkan kakinya di atas ranjang, meluapkan rasa malu yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Rasa malu yang tak punya pelarian itu terus menerus menyerangnya. Namun entah kenapa, perasaan itu tidak sepenuhnya buruk. Justru ada kebahagiaan yang menyelimutinya, dan Sara sendiri menyadari bahwa ia tidak sepenuhnya keberatan. Mungkin karena perasaan “takdir” itu semakin kuat dalam dirinya.
Jika menata ulang semua kejadian sejauh ini, tak aneh bila Sara sampai percaya pada “takdir”. Pria yang menyelamatkannya dari godaan orang asing, penampilannya pun sesuai seleranya. Lalu mereka bertemu lagi, ternyata bersekolah di SMA yang sama. Setelah itu, lewat kencan bersama, rasa suka pun bertambah… dan akhirnya terungkap bahwa mereka bahkan sekelas──.
Sejujurnya, semuanya terasa terlalu sempurna. Karena itulah Sara merasakan “takdir”, dan tanpa sadar hatinya tertarik pada Haruya.
“Haa…”
Menghela napas panas, Sara menyebut namanya.
“…A-Akasaki-san.”
Hanya dengan memanggil namanya saja, wajahnya langsung memerah karena malu, namun Sara juga menyadari bahwa hatinya dipenuhi kebahagiaan.
Tak ada lagi yang perlu diragukan. Kini setelah tahu bahwa dia adalah siswa sekelasnya, Sara dengan jelas menyadari perasaannya terhadap Haruya.
Kalau sampai bisa menjadi sepasang kekasih dengan Haruya…
Jantungnya berdegup kencang, dok-dok-dok, seolah hendak meloncat keluar. Perasaan meluap-luap yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata menyelimutinya.
Jika menjadi berpacaran… bergandengan tangan, saling bersentuhan, berciuman…
Saat khayalan itu berkembang, wajah Sara hampir saja menampilkan ekspresi terlena.
──Namun, kebahagiaan Sara itu berakhir dengan sangat cepat, tak lama setelah ia menyadari perasaannya pada Haruya.
Bzz—ponselnya bergetar.
Begitu melihat notifikasi, perasaan hangat dan malu-malu Sara langsung membeku seketika. Pesan itu datang dari ayahnya. Isinya singkat dan datar.
『Calon pasangan untuk perjodohan sudah ditentukan. Nanti akan kukabari lagi soal waktunya.』
Sara lupa.
…Tidak, ia sengaja tidak mau memikirkannya.
Di tengah kebahagiaan ini, ia lupa bahwa dirinya hanyalah “putri keluarga Himekawa”.
…Bahkan lebih dari itu.
(Aku tetaplah aku… bukankah ini sudah jelas sejak awal?)
Menyadari keburukan sifatnya sendiri, Sara sampai merasa mual. Padahal ia tahu akan ada pernikahan perjodohan, namun tetap berharap pada pertemuan yang terasa seperti takdir…
Padahal pernikahan hasil perjodohan seharusnya demi kebaikan keluarga Himekawa. Sara menampilkan senyum mengejek diri sendiri, sendirian di atas ranjang kamarnya.





Post a Comment